Rp 8000

,-

ISSN: 0853-8069

MEDIA KERJA BUDAYA MEDIA KERJA BUDAYA

10
2 0 0 3

http://mkb.kerjabudaya.org

KRISIS TELEVISI

>>>DATA BICARA

TELEVISI:

Televisi sebagai Media Pendidikan Publik ?

Sumber: World Telecommunication Development Report, 2002

Dari 100 program acara televisi Indonesia dengan rating tertinggi antara minggu III Oktober sampai minggu I November 2002

Satu tahun setelah militer AS menyerbu Afghanistan, 83% orang Amerika berusia 18-24 tahun masih belum bisa menemukan Afghanistan di peta dunia.
Sumber: The Guardian, 21 November 2002

74% sinetron, film cerita dan animasi
atas produksi 50% dari jumlah di lain, yaitu India, negeri-negeri

Media Lain:
Sirkulasi 10 kelompok media terbesar di Indonesia menguasai 70% pasar media cetak nasional. Sisanya (30%) dibagi 500 perusahaan media cetak lain. Total jumlah sirkulasi media cetak nasional pada 2000-2001 adalah 15,8 juta eksemplar.

sisanya (

26%) adalah:

Jepang, Taiwan, Korea dan AS

film dokumenter tentang kegiatan polisi (23,1%) laporan investigasi kasus-kasus kriminal (19,3%) obrolan ringan tentang hubungan asmara, kesehatan dan anak-anak (19,3%) berbagai kuis berhadiah (15,3%) pertunjukan musik (11,5%) olah raga (7,7%) berita (3,8%)
Sumber: AC Nielsen, Oktober-November 2002, Tabloid Bintang Indonesia No. 605, November 2002

Dua kelompok media terbesar adalah Kompas dan Tempo/ Jawa Pos dengan total sirkulasi lebih dari 40% berupa harian, 50% majalah. Total jumlah sirkulasi surat kabar pada 2000-2001: 5 juta eksemplar, sedangkan majalah 4,1 juta eksemplar.

Internet:

Cukup Demokratiskah Internet?
94% pengguna Internet tinggal di 40 negara terkaya di dunia Amerika Utara dan Eropa merupakan pemilik internet-hosts utama di dunia dengan 7000 hosts per 100.000 penduduk pada 1997 dibandingkan dengan 16 per 100.000 penduduk di negeri-negeri sedang berkembang. VeriSign, Inc. merupakan pemegang monopoli usaha internet di AS selama hampir 10 tahun dengan aset US$12 milyar. 30% pengguna internet memiliki gelar universitas
Sumber: US Patent and Trademark Office of the Commerce Department, June 2000; Rescue the Net, May 2001

Sumber: Media Indonesia, 24 November 2002

Sumber: Penelitian Ardimas, Jakarta Post, 13 November 2002; Penelitian Amir Effendi Siregar, http://www.fippseoul.or.kr/fipp/down/amir.pdf

Sumber: Statistik Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Mei 2002, http://www.apjii.or.id/

Peter Kuper

60% sirkulasi media cetak di Jakarta, 20% di Jawa, dan 20% di luar Jawa, terutama di kota-kota besar.

Peserta jajak pendapat melalui situs internet sebuah media massa nasional selama 4 hari :

Pada 2002 di Indonesia terdapat kurang lebih 7,8 juta saluran telpon dan 2 juta pengguna komputer. Pengguna internet kurang lebih 4 juta orang, pelanggan internet 580.000 orang.

Jumlah responden 1.596 orang Laki-laki 88,41% Perempuan 11,59% Usia mayoritas 25-55 tahun 87,04% Pendidikan universitas 89% Pengeluaran per bulan antara Rp. 1,5 juta-3,5 juta ke atas 73,87%

>>>SURAT PEMBACA
Surat untuk Surat Pembaca hendaknya dilengkapi dengan nama dan alamat lengkap. Kirimkan surat anda ke alamat redaksi MKB: Jalan Pinang Ranti No. 3, Jakarta 13560 atau e-mail: mkb@kerjabudaya.org. Redaksi tidak mengembalikan surat-surat yang diterima.

Kabar dari Mojokerto don’t you know they’re talking about a revolution/ it sounds like a whisper.......(Tracy Chapman) Yang terhormat rekan-rekan redaksi, apa kabar? Tentang MKB yang sekarang sudah punya edisi online wah selamat ya. Saya sulit mendapatkan MKB di toko-toko buku Surabaya. Sedikit usul bagaimana kalau MKB juga dijual di galeri (di malang sekarang lagi in soal galeri). Dalam MKB edisi 07/2001 dimuat empat puisi karya Husnul Khuluqi. Di Mojokerto baru terbit antologi puisi buruh: Selamat pagi ngoro industri oleh komunitas hulig hulig. Kapan mereka dapat kesempatan dimuat di MKB? Di Mojokerto, Surabaya serta Malang ada beberapa kegiatan

www.ezln.org

Surat dari Ponorogo Aku temukan MKB di internet, ternyata dahsyat sekali perkembangannya dibanding edisi terbitan cetak yang hampir setahun ini saya tidak dikirimi lagi. Saya dengan kawan-kawan YSRK sekarang bekerja di 4 desa di Ponorogo dengan media potensi budaya lokal: jaranan plok, arisan, rembug desa, yasinan, sholawatan, reog, ketoprak, lesungan, mengguna dan seni rupa sebagai media metodologi PRA dan PME. Setahun ini kami dan warga tidak lagi mandi telanjang di sungai. Selamat kerja & ojo lali karo aku kawan. Moelyono, Ponorogo.

seni budaya yang bagus, Sayang sekali MKB jarang memuatnya, misalnya pameran instalasi Arifin Petruk (Surabaya) berjudul: The Year of Living Dangerously. Dan kapan menampilkan profil dan karya Basuki Resobowo? salam , Abdul Malik, Mojokerto, Jawa Timur.

Berita Subcomandante Marcos

Setelah kebisuan setahun lebih, akhirnya Subcomandante Marcos bersuara kembali. Dalam komunike terbarunya yang diedarkan pada 12 November 2002 dan dipublikasikan oleh La Jornada 15 November 2002. Marcos menyangkal bahwa gerakan mereka sudah “tamat”, namun tampaknya ia mengakui ada

keretakan dalam komunitas mereka. Marcos menulis bahwa beberapa simpatisan Zapatista “menegakkan otonomi dan pemberontakan... melawan kami.” Masih dipenuhi humor seperti biasanya (namun kali ini jauh lebih kasar ketimbang surat-suratnya terdahulu: humor seputar kakus, muntah, dan isi perut lainnya), Marcos kembali mengejek politisipolitisi kawakan, dan kali ini bukan Meksiko saja, namun jauh sampai ke Spanyol. Marcos tak menjelaskan mengapa ia berdiam diri begitu lama. Ia cuma menyatakan dengan bercanda —lalu menyangkalnya sendiri—bahwa ia sakit keras. Kepada presiden Vicente Fox ia menegaskan “(Zapatista) bukannya diam, tapi kau yang tidak mendengarkan.” Banyak yang tidak menduga kemunculan terbaru EZLN ini, meski banyak orang memang mengharapkan Marcos bersuara kembali mengomentari kejadian-kejadian besar dunia setahun terakhir ini. Di Chiapas sendiri, aksi kekerasan terhadap desa-desa Zapatista kembali meningkat 5 bulan belakangan (yang tampaknya sejalan dengan kebi-

jakan “perang terhadap terorisme”), yang menyebabkan warga sipil anggota koperasi kopi Mut Vitz tewas terbunuh. Ronny Agustinus, Jakarta.

Surat dari Malaysia Salam.. Tujuan saya mengirimkan mel ini adalah untuk menghulurkan salam perkenalan dengan pihak Media Kerja Budaya. Saya berharap persahabatan ini adalah dalam tujuan yg sihat dan kekal berpanjangan. Di kesempatan ini, saya juga ingin menjemput pihak Media Kerja Budaya supaya melayari webzine yang saya dan rakanrakan hasilkan. Webzine tersebut bernama Risalah OnLine Arah Kiri dan berada di alamat http:// arahkiri.cjb.net . Saya dan rakan-rakan saya mengalu-alukan sebarang perkongsian antara kedua belah pihak baik dari bentuk maklumat mahupun dari segi nasihat dan pendapat. Semoga dengan sumbangan pihak Media Kerja Budaya, akan memantapkan lagi webzine kami ini. Sekian, terima kasih. Sam Ahmad Wakil Grup Redaksi Risalah OnLine Arah Kiri, Malaysia.

M
Segenap Redaksi dan Tata Usaha Media Kerja Budaya mengucapkan:

Selamat Menempuh Hidup Baru
atas pernikahan kawan kami

Nugroho Katjasungkana & Titi Irawati
pada tanggal 8 Desember 2002 di Dili, Timor Leste

3

| Media Kerja Budaya edisi 10/2003

MEDIA :// . BUDAYA KERJA .
HTTP MKB KERJABUDAYA ORG

issn: 0853-8069

EDISI 10 : 2003

Krisis Televisi
DAFTAR isi
2 DATA BICARA 3 SURAT PEMBACA 5 OBITUARI AGAM WISPI 7 EDITORIAL 8-19 POKOK MKB EDISI 10/2003
Alit Ambara

Ilustrasi Sampul: Alit Ambara

8-11 Mengendalikan Televisi, Dari Negara ke YangSatu ini... 12-15 Kemilau Produk Kodian 16-19 Mengendalikan Televisi

M

Media Kerja Budaya adalah terbitan berkala tentang kebudayaan dan masyarakat Indonesia. Media Kerja Budaya mengangkat berbagai persoalan, gagasan dan penciptaan untuk memajukan kehidupan budaya dan intelektual di Indonesia. Redaksi menerima sumbangan berupa tulisan, foto, gambar dan seterusnya yang bisa membantu penerbitan ini. Bagi pembaca yang ingin eksemplar tambahan dapat menghubungi alamat tata usaha kami. Penerbitan ini sangat tergantung pada dukungan pembaca, kami berharap dapat menerima kritik dan saran anda.

20-22 PROFIL
Membaca Buku, Mengukur Peradaban
Andre

39-41 CERITA PENDEK
Perang
Linda Christanty

23 PUISI AGAM WISPI 24-25 ESAI
Iklan! Sihir Industri Kapitalisme
Teuku Kemal Fasya

42-45 LOGIKA KULTURA
Imajinasi
John Roosa

46-47 RESENSI BUKU
Membayang Digul Mengenang Buru
Hersri Setiawan

26-27 PAT GULIPAT 28-30 KRITIK SENI
Major Label dan Independensi Rock
Jeffar Lumban Gaol

NTUK BERLANGGANAN MEDIA KERJA BUDAYA KIRIMKAN DATA LENGKAP ANDA (NAMA, ALAMAT, NO.TEL/FAX, EMAIL) KE BAGIAN TATA USAHA KAMI: JL. PINANG RANTI NO. 3 RT. 015/01 JAKARTA 13560. TEL./FAX: 021.8095474 (MARIATOEN), E-MAIL: TU-MKB@KERJABUDAYA.ORG. BIAYA BERLANGGANAN PER EDISI RP 8000,- (MINIMUM 5 EDISI) DITAMBAH ONGKOS KIRIM MENURUT JARAK PENGIRIMAN. PEMBAYARAN DILAKUKAN MELALUI TRANSFER BANK BCA KCP KRAMAT JATI, REKENING NO. 165600071-7 A.N.: I GUSTI AGUNG AYU RATIH.
Kunjungi situs MKB ONLINE.: http://mkb.kerjabudaya.org

48-50 TOKOH
Winnie Mandela
Agung Putri

31-38 SISIPAN MKB
Siaran Televisi Mesin Produksi Makna Kapitalisme
Purwantari & Pitono Adhi

51 BERITA PUSTAKA

http://arus.kerjabudaya.org

http://dbp.kerjabudaya.org

PEMIMPIN REDAKSI: RAZIF | SIDANG REDAKSI: AGUNG PUTRI, AYU RATIH, HILMAR FARID, IBE KARYANTO, JOHN ROOSA, M. FAUZI, NUGRAHA KATJASUNGKANA, RAZIF, SENTOT SETYOSISWANTO | DESAIN: ALIT AMBARA | DISTRIBUSI: ANDRE | KEUANGAN: O.H.D. | TATA USAHA: MARIATOEN | PEMIMPIN UMUM: FIRMAN ICHSAN | WAKIL PEMIMPIN UMUM: DOLOROSA SINAGA | ALAMAT REDAKSI: JALAN PINANG RANTI NO. 3 RT.015/01 JAKARTA TIMUR 13560 INDONESIA TEL./FAX: 62.21.809.5474 E-MAIL: MKB@KERJABUDAYA.ORG | ALAMAT TATA USAHA: PO. BOX 8921/CW JAKARTA 13089 TEL./FAX: 62.21.809.5474 E-MAIL: TU-MKB@KERJABUDAYA.ORG | SITUS INTERNET: HTTP://MKB.KERJABUDAYA.ORG | PENERBIT: JARINGAN KERJA BUDAYA
MEDIA KERJA BUDAYA, 2003

http://pamflet.kerjabudaya.org

HARGA ECERAN: Rp 8000,-

MEDIA KERJA BUDAYA

>>>OBITUARI

AGAM WISPI, SANG PENYAIR ITUPUN SAMPAI DI UJUNG PERJALANANNYA JJ.Kusni
seeksilan, hal inipun sudah berada dalam perhitungan kesadaran Agam ketika ia menulis tentang arti seorang sahabat baginya: ”ketemu sahabat lama mahabagia daripada di surga mana pun!” (dari:“Dua Sahabat Lama”). Sanjak Agam yang paling sering dibacakan di mana-mana sampai pada 1965 sebelum Tragedi Nasional September 1965 adalah: “Demokrasi”, “Matinya Seorang Petani” dan “Latini” sama populernya dengan sanjak S.W. Koentjahyo: “Aku Anak Tionghoa”,“Tak Seorang Berniat Pulang” karya HR Bandaharo atau “Yang Bertanahair Tapi Tak Bertanah”, karya Sabarsantoso Anantaguna. SELINTAS PERJALANAN HIDUP AGAM WISPI: Agam lahir pada 31 Desember 1930 di Aceh. Memulai kariernya sebagai wartawan dan redaktur kebudayaan di “Harian Kerakyatan” dan “Pendorong” Medan dari 1952 sampai 1957. Sewaktu pindah ke Jakarta pada 1957, Agam menempati kedudukan yang sama sebagai redaktur kebudayaan di “Harian Rakjat” sampai 1962 (terseling antara 1958-1959, Agam belajar jurnalistik terutama masalah percetakan, di Berlin). Sepulang dari Jerman Timur ia menulis kusanjak “Sahabat”. Antara 1962 sampai 1965, Agam Wispi tercatat sebagai perwira Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) sekaligus dikenal sebagai wartawan dan penyair dengan sanjak yang paling banyak dibacakan di mana-mana: “Demokrasi!” yang antara lain berbunyi : ”jenderal telah kupasang bintang-bintang di dada kalian dari rejam tuan tanah dan lintah kutuntut bintangmu: mana tanah!” Pada Mei 1965, Agam Wispi diundang ke Vietnam selama beberapa bulan dan sempat bertemu dengan Ho Chi Minh. Karena terjadinya Tragedi Nasional September 1965, sejak itu sampai Agam mengakhiri perjalanan hidupnya kemarin malam, Agam tak bisa kembali ke Indonesia dan menjadi orang “klayaban”di luar negeri. Dari 1965 sampai Desember 1970, Agam bermukim di Republik Rakyat Tiongkok. Lalu pada 1973 melalui Uni Soviet sampai 1978 Agam bermukim di Leipzig, Jerman Timur. Di kota ini ia menggunakan kesempatan untuk belajar sastra di Institut für Literatur dan bekerja sebagai pustakawan di Deutsche Bucheret. Selama berada di kota ini pula, Agam menulis kusanjaknya Eksil yang belum diterbitkan sampai sekarang dan menyelesaikan terjemahan Faust karya W. Goethe yang sudah diterbitkan di Indonesia. Pada 1988 Agam bermukim di Amsterdam sampai ia meninggal. Atas undangan Goenawan Mohamad, Agam berkesempatan pulang (berkunjung sebentar) ke Indonesia. PERANAN PENYAIR DI MATA AGAM WISPI: Agam memang lebih dikenal sebagai penyair karena karya yang lahir dari tangannya terutama puisi. Waktu di Medan, ia menulis sebuah drama Gerbong yang agaknya merupakan karya drama tunggalnya karena setelah itu Agam memusatkan perhatian pada penulisan puisi. Artikel atau esei sangat sedikit dia tulis untuk tidak mengatakan tidak pernah ia tulis. Pikiran dan perasaannya lebih banyak ia tuangkan melalui puisi. Apa arti puisi dan peranan penyair dalam kehidupan bagi Agam? ”asahan, penyair adalah pendahulu semangat zaman tak ada tokoh politik berani minta maaf kepada mendelstam karena serangkum sajaknya mati disiksa di siberia buangan”

Penyair dan penulis cerita pendek, Soeprijadi Tomodihardjo pada 31 Desember 2002 menyuratiku setelah hampir sepuluh tahun tak saling bertemu dan berkabar. Dalam surat singkatnya itu Suprijadi antara lain menulis: ”Sementara itu saya kemarin mendapat berita tentang Bung Agam. Keadaannya kian parah. Dokter bilang tinggal sedikit sekali harapan sejak kena radang paru akhir-akhir ini. Semoga masih tersisa sejemput mukjijat agar Bung Agam kembali sehat”. Pagi ini (01.01.2003), Suprijadi, yang pernah bersama-sama bekerja di sebuah kantor berita, kembali mengirimku berita yang menyatakan: ”Bung Agam meninggal dunia tadi malam jam 01.00 di verplichthuis — rumah jompo tempat tinggalnya di Amsterdam selama ini”. Berita ini dikonfirmasikan oleh surat Mas Hersri Setiawan yang bersama-sama Bung Sulardjo sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam pengurusan jenazah Agam Wispi. Kak Setiawan mengatakan dalam surat pandaknya bahwa jenazah Bung Agam akan dikremasi — hanya tanggalnya belum bisa mereka tetapkan. Agam Wispi meninggal “pada jam 12.00 tengah malam tadi — justru pada saat ganti tahun”, tulis Hersri (01 Januari 2003). Berita dari kedua kawan ini mengingatkan aku pada katakata Agam Wispi yang dalam pergaulan sehari-hari biasa dipanggil Bung Agam, disingkat Gam atau Wispi, disingkat Wis. Hanya yang paling sering digunakan oleh temantemannya adalah Agam atau Gam. Kata-kata berikut ini ia tulis dalam sebuah sanjak “Ode Untuk Pak Tuo” alias M.Husein seorang sahabat dari Minang yang telah lama meninggal di negeri Belanda: ”bintang-bintang pudar di langit pagi musim panas ah, mari berjalan dan berjalan sampai usia lemas” Agam telah menepati ajakannya“mari berjalan dan berjalan sampai usia lemas” ketika tadi malam pada pergantian tahun, ia yang dalam kata-katanya sendiri: “kau menutup mata mati sederhana begitu saja” (dari “Terzina Maut In Memoriam Yubadi Tarmidi”) Agam“menutup mata/mati/sederhana begitu saja”dengan “badan sebatang di rantau orang”, seperti sudah berada dalam ramalannya beberapa tahun dahulu: ”di mana kau pohonku hijau? dalam puisimu, wahai perantau dalam cintamu jauh di pulau” (dari“Pulang”) Sang penyair itupun sampai sudah di ujung perjalanannya. ”indonesia! hanya tinggal kenangan” (dari “Ode Untuk Pak Tuo”) Jenazah Agam diurus oleh teman-temannya, seperti halnya dengan teman-teman se”eksil”yang telah meninggal di berbagai negeri sebelumnya. Sudah sejak lama Agam lukiskan mati seorang diri sebagai keadaan yang akan ia hadapi: ”dan suatu hari: kau mati dalam sunyi tentu! sendirian: sendiri” (dari “Terzina Maut, In Memoriam Yubadi Tarmidi”). Rasa sendirian ini juga diungkapkan Agam dalam kumpulan sanjaknya“Sahabat” yang ia tulis sepulang dari Republik Demokrasi Djerman, serta dalam sanjaknya “Pulang” yang ia dedikasikan pada Goenawan Mohamad: ”puisi, hanya kaulah lagi tempatku pulang puisi, hanya kaulah lagi pacarku terbang” Kalau sekarang jenazahnya diurus oleh kawan-kawannya

(dari “Kepada Penyair Asahan”). Sebagai “pendahulu semangat zaman”, Agam selalu memperhatikan dan menaruh harapan pada generasi muda sebagai pelanjut dan pelaksana mimpi-mimpi manusiawi yang belum tunai, ”gugur bunga dari tampuknya di musim nanti berkembang lagi” (dari “Gugur Bunga”) Hanya, bunga yang gugur dari tampuknya itu akan bisa berkembang lagi di musim nanti apabila manusia dari generasi yang diharapkan Agam ini mampu: ”menziarahi dirinya sendiri membangkitkan dalam diri apa-apa yang sudah mati” (dari “Ziarah”) Menurut Agam hanya dengan syarat demikianlah kita bisa menjadi satu sosok atau generasi yang selalu menyala bagaikan ”matahari kedinginan di atas salju berkilauan” (dari “Untuk Sitor”) Memang kedinginan karena suasana di luar yang mengitarinya tapi ia tetap matahari yang memancarkan sinar dan ”...................... njalanya tak terpadamkan hingga kini nanti dan kapanpun njalanya panas menempa badja kemerdekaan badja kehidupan ketika kita tidak lagi bertanja pilih njala atau pilih badjanya? dan kita merebut kedua-duanja” (dari “Surabaja”, 1965). Boleh jadi lukisan ini juga menggambarkan wajah jiwa Agam hingga akhir perjalanannya ketika “usianya lemas” dan “menutup mata/mati/dalam sunyi?” Menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengutip apa yang ia tulis di rembang petang usianya melalui sanjak“Ode Untuk Pak Tuo”: ”di musim semi yang akan datang taburkan bunga cinta persahabatan” Sebagai penyair yang digambarkannya sebagai pejalan yang melangkah mendahului zamannya, Wispi lagi-lagi berkata bahwa musim semi akan tiba sekalipun sekarang kita berada di puncak musim dingin. Keyakinan ini didasarkan pada pengamatan betapa banyaknya “bintang-bintang berjatuhan di langit malam/fajar merekah...”, betapa banyaknya “bintang-bintang pudar di langit pagi musim panas”. Karena itu bersama T. S. Eliot yang dikutip Agam dalam sebuah sanjaknya, menawarkan sebuah jalan keluar sesuai peranan penyair “mari berjalan dan berjalan sampai usia lemas”. Untuk menjadi“matahari yang selalu menyala” dan mencapai “fajar merekah” dituntut ketahanan menghadapi dan mengalahkan dingin. Selamat jalan Bung Agam! Tahun Baru 2003 diawali dengan Indonesia kehilangan seorang penyairnya. Cinta kita kepada tanahair dan mimpi manusiawi tidak memerlukan pengakuan resmi. Mereka adalah pilihan dan janji pada diri kita sendiri. Cinta dan mimpi manusiawi ini telah membuat kita jadi“klayaban”dan cinta serta mimpi manusiawi ini seperti “matahari” sekalipun “kedinginan” oleh kilauan salju musim dingin, tetap memancarkan sinar. Kau sudah membuktikannya sampai di ujung perjalananmu yang sepi. Perjalanan 2003. M

OBITUARI | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

http://mkb.kerjabudaya.org

halaman:

5

Alit Ambara

edisi 10/2003

Pemimpin Redaksi

seorang pelatih kegiatan pecinta alam, suatu saat kelabakan menghadapi kekaguman gadis-gadis dari lokasi pelatihan sampai di warteg tempat ia biasa makan.
Tanpa ia sadari rambut lurus setengah gondrong dan wajah Tionghoanya sudah mengingatkan mereka pada anggota kelompok pemuda Taiwan, F4, dalam film seri Meteor Garden.

Andre,

Lucunya, begitu ia cukur habis rambutnya, titipan salam dan panggilan menggoda pun surut. Seakan imajinasi para pengagum ini ikut terpangkas. antara kecepatan gambar dan kekayaan warna dan aya pikat televisi memang luar biasa. Gabungan
bunyi, yang dipoles dengan sentuhan-sentuhan mulus dan berkilau dengan mudah mengikat perhatian pemirsa. Sementara logika sebab-akibat ditampilkan tanpa analisa kelewat berbelit, diikuti pesan-pesan pemulih dengan janji kemujaraban. Setelah penat berhadapan dengan kehidupan nyata, orang berharap televisi akan membantu menata kembali mimpi-mimpinya. Televisi bisa saja menayangkan berita atau film berisi kepedihan dan kekacauan. Namun, telah disiapkan pula sejumlah tayangan manis gemerlap untuk mengalihkan, atau malah meredam, kecemasan. Tak heran jika ada yang berpendapat bahwa selama masih ada acara di televisi — dari mana pun asalnya, apa pun bentuknya — berarti kehidupan masyarakat masih normal. Munculnya beberapa stasiun televisi swasta baru dan perpanjangan jam tayang sampai sehari penuh disambut gembira berbagai kalangan. Konon, inilah pertanda telak era keterbukaan dan kebebasan pers. Bahwa hampir semua stasiun ini berlomba-lomba untuk memperoleh peringkat tinggi agar iklan memadati masa tayang, bahwa acara-acara yang ditawarkan tak jauh berbeda dari stasiun ke stasiun dari segi bentuk pun isi, tak masuk hitungan pengamatan. Dengan remote control di tangan, kita hidup dalam ilusi bahwa publik punya kuasa memilih. Kalau publik lebih memilih menonton Sharukh Khan Live Show ketimbang mendengarkan perbincangan para pengamat tentang prospek demokratisasi di Indonesia, itu kesalahan masyarakat yang kurang terdidik dan “belum mengenal demokrasi”.
Sejak sidang redaksi memutuskan untuk mengangkat tema televisi, tim kerja edisi ini dibuat sibuk menonton TV, mewawancarai narasumber dan membaca berita maupun literatur mengenai pertelevisian. Kawan-kawan yang selama ini hanya menyalakan pesawat TV untuk mengikuti berita terbaru mau tidak mau mengamati beberapa acara yang memperoleh rating tinggi, seperti film India, sinetron Asia, dan investigasi kasus-kasus kriminalitas. Perdebatan hangat mulai muncul ketika kami menyadari bukan saja betapa mudahnya pijar layar gelas itu membuat orang terduduk diam selama berjamjam, tapi juga begitu besarnya potensi TV sebagai institusi pendidikan publik.

D

Lepas dari argumen bahwa penonton tidak bodoh dan mampu melakukan kritik dan seleksi terhadap informasi yang tidak bermutu, dalam kenyataannya acara-acara televisi yang ada justru menuntut loyalitas pemirsa pada acara dan produk tertentu. Sama sekali tidak ada dorongan bagi pemirsa untuk mempertanyakan tayangan yang ada, apalagi mencari tahu dari sumber lain. Di lain sisi, sulit bagi kami mendukung pilihan “Membunuh Televisi” karena persoalannya bukan di pesawat itu sendiri tapi pada sistem pengendali institusi pertelevisian yang dikuasai sekelompok pemodal besar dari manca negara. Jadi, kami sampai pada pertanyaan dasar, “Siapa yang seharusnya mengontrol televisi?” Tidak ada jawaban tunggal bagi pertanyaan tersebut. Melalui rubrik Pokok edisi no. 10 ini kami mencoba memetakan persoalan di balik gemerlap layar televisi. Harapan kami sederhana: pembaca memiliki acuan berbeda dalam menilai televisi dan terpancing untuk paling tidak berpikir tentang sistem penyebaran informasi alternatif yang benar-benar mewakili kepentingan rakyat banyak.

Selamat Tahun Baru 2003!

EDITORIAL | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

http://mkb.kerjabudaya.org

halaman:

7

Mengendalikan Televisi
Dari Negara ke Yang Satu ini...
Seorang eks-tapol (tahanan politik) yang ditahan 14 tahun pada Oktober 1965 pernah menceritakan pengalaman uniknya. Ketika masuk ia ingat televisi masih langka, hanya segelintir petinggi dan tokoh yang memilikinya dan siaran pun masih byar-pet dan kualitasnya pun sangat terbatas. Alangkah takjubnya, setelah keluar penjara ditemuinya televisi dengan gambar berwarna dan acara mulai pagi sampai malam hari. Ia tidak tahu bahwa tiga tahun sebelum dibebaskan, pemerintah Orde Baru meluncurkan satelit Palapa yang memungkinkan orang di berbagai penjuru Nusantara menikmati siaran televisi. Ia hanya ingat beberapa tahun sebelum ditangkap, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV, pemerintah mulai membuka siaran televisi. Hanya setengah persen penduduk saat itu yang dapat mengikuti siaran karena pesawat televisi masih menjadi barang langka yang harus diimpor dengan biaya luar biasa tinggi. Pada 1983 pemerintah meluncurkan satelit Palapa B-2 yang memperluas jangkauannya ke daerah-daerah. Stasiun televisi daerah pun didirikan tapi dengan anggaran sangat terbatas, sehingga umumnya hanya menggunakan sebagian dari jatah siaran yang dimiliki. Pemerintahan Soeharto yang bernapsu menggenggam arus kebudayaan mengontrol siaran televisi dengan ketat. Stasiun televisi daerah praktis hanya menjadi perpanjangan tangan pusat, dan tidak pernah ada pergaulan antar stasiun. Rezeki minyak yang berlimpah memungkinkan pemerintah menaikkan anggaran menjadi tiga kali lipat, menghapus iklan dan mengurus segala keperluannya sendiri. Dengan satelit Palapa di tangan, siaran televisi menjadi alat ampuh bagi Orde Baru untuk menanamkan pikiran dan kebijakannya ke seluruh daerah. Pada akhir 1980-an, melalui kongkalikong antara birokrat, investor dan keluarga presiden, stasiun televisi swasta bisa didirikan. Pada waktu itu Menteri Penerangan Harmoko bersusah payah menjelaskan pembenaran mengapa tiba-tiba pemerintah mengizinkan berdirinya stasiun televisi swasta. Maklum, sebelumnya ia berulangkali menolak tegas proposal semacam itu. Tapi saat keluarga Cendana dan beberapa orang kuat di bidang bisnis mendatanginya, menjadi tugasnya

8

POKOK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

Alit Ambara

untuk menjilat ludahnya kembali dan memberi izin siaran. Pada November 1988 siaran swasta pertama di Indonesia mengudara dan langsung berkembang pesat. Dalam waktu enam bulan saja jam tayangnya sudah mencapai 18 jam per hari. Perusahaan berebut memasang iklan dan konglomerat lain pun mulai melirik kesempatan meraup untung. Menteri Harmoko semakin kendur dan awal 1990an ia memberi izin pada lima stasiun televisi lain, tiga di antaranya dikuasai oleh

an tetap memegang kendali melalui sensor dan perangkat aturan penyiaran. Namun ketika persaingan antar-stasiun semakin meningkat, para pengusaha semakin gerah dengan kontrol semacam itu. Kebijakan Departemen Penerangan pelan-pelan mulai ditentang dan mencapai puncaknya ketika DPR mensahkan RUU Penyiaran yang pertama pada 1996. Tidak kurang dari Jenderal Soeharto, yang mungkin mewakili kepentingan anak-anaknya sebagai pemegang monopoli industri televisi, mengan-

Pemerintahan Soeharto yang bernapsu menggenggam arus kebudayaan mengontrol siaran televisi dengan ketat. Stasiun TV daerah hanya perpanjangan tangan pusat.
anak-anak keluarga Cendana. Sementara kontrol terhadap bisnis mengendur, pengawasan terhadap acara masih sangat ketat. Stasiun swasta dilarang membuat berita sendiri dan harus me-relay siaran berita TVRI. Departemen Penerangjurkan agar RUU itu ditinjau kembali. Awal 1998 Orde Baru dilanda krisis hebat. Pemerintah mengirim tentara dan polisi untuk menembaki mahasiswa dan rakyat di mana-mana. Awak stasiun televisi menghadapi tekanan pemerintah agar

tidak menyiarkan apa yang mereka saksikan di lapangan. Sebagai reaksi mereka membentuk serikat jurnalis televisi yang menolak segala bentuk sensor. “Kami juga menolak lembaga pemberitaan yang tersentralisasi dan menuntut praktek semacam itu dihentikan,” kenang Ira Kusno yang saat itu bekerja pada SCTV. Ia mengaku tekanan tidak hanya datang dari pemerintah tapi juga dari para redaktur dan direktur stasiun televisi sendiri. Saat peristiwa Mei 1998 meletus, ketegangan semakin meningkat. Banyak reporter di lapangan menyaksikan kekejaman yang mengakibatkan lebih dari seribu orang hangus terbakar di pertokoan Jakarta, Solo, Palembang dan Medan. Hanya setelah Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, berita-berita mengenai tindak kekerasan mulai disiarkan secara langsung. Tapi itu pun terbatas pada peristiwa yang berlangsung di Jakarta. Kekerasan yang terus berlangsung di Aceh, Papua dan Timor Lorosae praktis tidak mendapat perhatian. “Kami sudah me-

POKOK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

9

lakukan peliputan di Aceh ketika DOM (Daerah Operasi Militer) dicabut, tapi dapat teguran dari redaksi politik SCTV agar tidak menyiarkan konflik yang berkepanjangan di Aceh,” kata Andi Arsiar dari SCTV. Suasana saat itu belum menentu. Para redaktur dan pemilik sebenarnya ingin memuat “berita-berita panas” yang dapat dijual, tapi masih khawatir dengan ancaman dari pemerintah, terutama militer. “Kami sih berani saja menayangkan hasil liputan di Ambon, Poso atau Aceh. Tapi siapa yang berani menanggung kalau kami kehilangan pekerjaan?” ujar seorang reporter. Saat ini pemberitaan oleh televisi boleh dikatakan lebih bebas. Integrasi ke dalam tatanan ekonomi global semakin mendesak pemerintah pasca-Soeharto bersikap lebih terbuka. Stasiun televisi semakin gencar memberitakan peristiwa di dalam negeri dan mengimpor tayangan dari luar negeri yang tidak dapat dibayangkan beredar di zaman Orde Baru. Namun, kontrol belum sepenuhnya berakhir. Marah Bangun, penanggungjawab siaran olahraga di TPI mengaku pernah dipanggil oleh DPR karena mempertontonkan kekerasan. Begitu pula berita-berita yang sensitif sesekali masih mengundang reaksi pejabat militer dan polisi yang merasa dirugikan. Cara kerja stasiun televisi, di balik seluruh citra gemerlap yang ditangkap orang sehari-hari, tidak banyak bedanya dari industri lain. Siapa kuat, dia menang. Perusahaan besar pemasang iklan sangat menentukan apa yang bisa ditonton oleh publik. Ada jaringan luar biasa kuat yang melibatkan produser, rumah produksi, redaktur siaran, agen iklan, dan perusahaan besar saat ini menguasai industri televisi. Para jurnalis televisi, apalagi reporter lapangan, tidak lebih dari tenaga kerja biasa yang kerjanya mengumpulkan potongan gambar dan informasi yang kemudian dirangkai oleh redaktur untuk dijual kepada pemasang iklan. “Sungguh keliru jika orang berpikir bahwa media menjual berita. Sebenarnya yang dijual adalah jumlah pemirsa dan pembelinya adalah para pemasang iklan,” tulis Noam Chomsky. Betapa tidak, dengan modal Rp. 500 milyar stasiun televisi bisa mengeruk milyaran dolar per tahun. Saat krisis melanda Indonesia menariknya belanja iklan justru meningkat pesat. Pada 1998 jumlahnya mencapai Rp. 3,75 trilyun dan terus melonjak sampai Rp. 9,7 trilyun pada 2001. Dari jumlah itu sekitar 60 persen
10

masuk ke kantong para pemilik stasiun televisi, sementara suratkabar yang menempati urutan kedua mendapat sekitar 25 persen saja. Tidak heran jika perhitungan bisnis kemudian mendominasi alam pikir para pengelola stasiun televisi. TPI yang awalnya mengusung slogan pendidikan sekarang lebih tertarik menjual kekerasan, begitu pula ANTeve yang mengklaim diri sebagai pangkalan anak muda lebih senang mempertontonkan gebuk-gebukan a la Mandarin dan sinteron picisan dari Amerika Latin. Memang awalnya para pengamat menganggap kemunculan televisi swasta semacam ‘subversi’ terhadap kekuasaan Orde Baru karena menyiarkan acara yang kadang bertentangan dengan prinsip keamanan dan ketertiban. Namun saat ini penguasa, termasuk kekuatan Orde Baru yang masih bercokol di jajarannya, bisa menyesuaikan diri dan menjadikan ‘subversi’ itu sebagai bagian dari sistem. Kritik terhadap rezim dimaklumi sejauh itu tidak menggugat sistem secara keseluruhan. Orang boleh mengkritik presiden secara terbuka tapi tidak bisa mengungkap pembunuhan terhadap rakyat yang dilakukan atas restunya. Televisi dalam banyak hal kemudian berfungsi meredam gejolak dengan membuka sebagian katup keresahan

ngan tujuan sama: mencapai integrasi dan konsensus yang diperlukan dalam pemeliharaan sistem. Bebas dan bertanggung jawab. Hal ini nampak dalam kontroversi di sekitar RUU Penyiaran yang telah disahkan oleh DPR .Ada beberapa masalah yang menjadi sumber perdebatan. Misalnya pembentukan Komisi Penyiaran Independen (KPI) yang antara lain memberi rekomendasi pemberian dan pencabutan izin siaran. Kalangan yang menentang RUU itu mengatakan KPI akan menjadi lembaga kontrol baru seperti Departemen Penerangan dengan SIUPP di masa Orde Baru. Bagi mereka media sebaiknya dibiarkan sebebas mungkin, tanpa kontrol dari pemerintah. Dengan kata lain, membiarkan pasar yang mengatur segalanya dan menegaskan prinsip: siapa kuat, dia menang. Masalah lain adalah relay siaran asing. RUU Penyiaran akan memberlakukan pembatasan terhadap siaran yang dilakukan terus-menerus. Kekhawatiran merebak bahwa ini akan membatasi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi dari luar negeri atau menonton siaran langsung sepakbola Liga Inggris dan lainnya. Di satu pihak memang pembatasan itu terasa seperti sensor terhadap siaran asing, tapi di

“Kebebasan informasi” yang diperjuangkan di sini sangat terbatas pada kepentingan pemilik stasiun. Kebebasan berbisnis yang sebenarnya diperjuangkan disini, sementara hak masyarakat atas informasi hanya tempelan belaka.
dan menayangkannya dalam paket siaran di layar kaca. Singkatnya, bebas mengkritik tapi sama-sama mempertahankan sistem yang ada. Jika pada masa Orde Baru negara menggunakan televisi untuk memantapkan posisinya, maka sekarang perusahaan besar berebut menguasai televisi untuk melancarkan arus distribusi barang dagangannya. Jurnalis, tenaga kreatif dan para pekerja di lapangan praktis hanya melaksanakan tugas yang diberikan dari atas. Pada dasarnya tidak ada perubahan mendasar, hanya batas-batas ‘kebebasan’ yang bergeser. Dalam kerangka ini dominasi pemerintah melalui intervensi langsung, budaya telepon dan sejenisnya tidak lagi diperlukan. Televisi ‘bebas’ mengatur dirinya tapi tetap bergerak delain pihak kita juga melihat stasiun televisi sebenarnya hanya mengeruk untung dengan relay siaran asing tanpa memproduksi sendiri sesuatu yang bermutu dan bermanfaat. Artinya ‘kebebasan informasi’ yang diperjuangkan di sini sangat terbatas pada kepentingan pemilik stasiun agar dapat membeli produk unggulan dengan harga murah dan menjualnya kepada pemasang iklan dengan harga tinggi. Kebebasan bisnis yang sebenarnya diperjuangkan di sini, sementara hak masyarakat atas informasi menjadi tempelan belaka untuk menggalang dukungan. Soal ini nampak lebih jelas dalam debat tentang klausa yang mengharuskan pemilik stasiun televisi untuk membuka stasiun lokal jika ingin menjangkau daerah tertentu. Sebagian pemilik stasiun televisi

Tidak ada kesamaan pendapat di antara pemilik stasiun televisi sendiri, dan mencerminkan bahwa yang menjadi panglima adalah kepentingan bisnis, bukan hak-hak masyarakat atas informasi.
yang sudah mapan tidak keberatan karena merasa siap menghadapi tantangan itu. Tapi lain halnya dengan stasiun kecil, baru dan bermodal terbatas. Jika RUU disahkan mereka akan mendapat beban membuka kantor atau bahkan perusahaan baru di daerah, bekerjasama dengan pemerintah setempat. “Syukur kalau kita dapat partner lokal yang bener. Program dan siaran televisinya pasti akan baik juga. Tapi kalau partner lokal tidak tahu apa-apa, maka yang akan terjadi adalah pemerasan pemerintah lokal terhadap stasiun televisi. RUU Penyiaran pada dasarnya memaksa didirikannya stasiun-stasiun baru,” ujar Bambang dari Trans TV. Tidak ada kesamaan pendapat di antara pemilik stasiun televisi sendiri, dan mencerminkan bahwa yang menjadi panglima adalah kepentingan bisnis, bukan hak-hak masyarakat atas informasi. Seandainya stasiun televisi baru juga siap, boleh jadi klausul itu takkan pernah diperdebatkan. Ditengah pro dan kontra akhirnya fraksi-fraksi di DPR secara aklamasi mensahkan RUU itu. Perdebatan dan kompromi menghasilkan titik temu antara kepentingan politik, bisnis dan hiburan yang dapat dirangkum ulang menjadi “ekonomi politik hiburan”. Dorongan bisnis untuk menyiarkan apa saja yang dapat dijual harus berjalan seiring kepentingan negara menjaga keamanan dan ketertiban. Tapi tak ada yang mempersoalkan mengapa kualitas siaran televisi, termasuk sinetron dan film impor semakin merosot. Tak ada juga yang mempedulikan bahwa siaran untuk anak-anak yang bersifat mendidik semakin langka. Apalagi nasib para pekerja televisi yang bergaji rendah dengan jam kerja tak menentu. Semua ini nampaknya ada di luar perdebatan hangat yang ironisnya bertajuk ‘hak masyarakat atas informasi’.

Alit Ambara

POKOK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

11

Kemilau
“Tidak ada diskusi tentang kreativitas mereka peduli hanya duit, duit dan duit,” .... Iklan adalah segalanya dan persoalan lain tinggal mengekor di belakangnya.

Produk Kodian
Bagi banyak orang televisi identik dengan dugem alias dunia gemerlap. Artis berpakaian bagus, naik mobil mewah di bawah sorotan kamera dan pandangan kagum para penggemar. Tak aneh jika banyak orang yang nekat berbuat apa saja agar mendapat tempat di dalamnya. Kisah beberapa perempuan muda peserta casting iklan sabun bersedia telanjang dada di hadapan kamera agar bisa jadi bintang sinetron menjadi salah satu buktinya. Citra lain yang dipancarkan adalah disiplin, tepat waktu, kerja keras dan keterbukaan terhadap segala yang baru. Jurnalis dengan kamera di pundak terlihat berkeliaran siang-malam di tempat-tempat tak terduga. Mereka melatih diri menjadi lebih sigap dari aparat keamanan sekalipun. Tidak ada pamali, sungkan atau malu. Para penyiar dan pembawa acara fasih menyelipkan kata-kata asing dalam setiap kalimatnya. Modern, cepat, efisien, terbuka dan gemerlap sekaligus. “Sungguh indah hidup di televisi,” ujar penyair Wiji Thukul. Tapi jika melangkah sedikit saja ke dalam dunia ini, gambarannya sungguh berbeda. Tidak ada gemerlap, disiplin dan keterbukaan. Justru sebaliknya. Warna suram menghiasi hari-hari dan dan rumah para jurukamera dan penulis naskah yang kadang hanya tidur empat jam sehari untuk mengejar setoran ke tangan produser. “Namanya juga kuli,” kata seorang awak siaran berita. Kotak nasi yang dibagikan penyelenggara seminar di sebuah kampus seperti berkah. “Lumayan, bisa hemat ceban [sepuluh ribu rupiah, red]. Dengan rata-rata pendapatan satu juta per bulan kehidupan awak televisi tidak secemerlang produknya di televisi. Disiplin dan kerja keras memang ada bagi mereka yang bergerak di lapangan, sementara perencanaan dan kerja otak lebih banyak mengandalkan improvisasi dan kegenitan. Kesalahan melafal kata, kemalasan mencari referensi untuk menyampaikan informasi yang benar terlalu sering bersliweran di layar kaca, sampai para pengkritik pun semakin malas mempersoalkannya. Dunia modern yang dipancarkan pun sebatas apa yang menjadi citacita dan imajinasi kelas menengah pengelolanya.

12

Alit Ambara

Sebuah tiruan buruk dari idola mereka di New York, Paris, Hongkong, dan sekarang Rio de Janeiro, Bombay dan Taipei. Apalagi bicara keterbukaan dan demokrasi. Jangan dulu bicara kontrol publik terhadap siaran televisi. Para pengusaha rumah produksi dan tenaga kreatif di sekitar industri itu pun mengeluh melihat watak otoriter pengelola stasiun. “Itu seperti kediktatoran tersendiri,” ujar seorang sutradara muda. “Tidak ada diskusi tentang kreativitas, yang mereka [pengelola stasiun] peduli hanya duit, duit dan duit,” katanya. Iklan adalah segalanya dan persoalan lain tinggal mengekor di belakangnya. Prinsip itu membuat para pengelola program dan agen iklan menjadi luar biasa berkuasa. Di tangan mereka tergenggam air time yang jadi rebutan para pemasang iklan yang hendak membelinya dan produser mata acara yang ingin mendapat bagian dari penjualannya. Tidak ada pertimbangan kreativitas, kecerdasan apalagi kesempatan. Bahkan sebaliknya, pengelola program dan agen iklan punya kekuasaan besar termasuk penggunaan pemain dan
POKOK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

jalan cerita sebuah program. Industri sinetron domestik dalam hal ini paling sering jadi korban. Penulis naskah, sutradara dan pemain boleh saja membanggakan ketrampilan dan bakat. Tapi semuanya gugur ketika berhadapan dengan pengelola program dan agen iklan yang semaunya saja meminta produser mengganti pemain dan mengubah cerita di tengah jalan, atau meminta tambahan potongan gambar yang dianggapnya bagus dan selling. Biasanya hasil survey rating dari perusahaan konsultan yang menjadi dasar argumentasinya. “Sekarang yang lagi laku anak muda yang potongan rambutnya seperti Meteor Garden. Jadi you cari pemain yang begitu, produknya pasti laku,” ujar sutradara muda itu menirukan ucapan seorang pengelola program televisi. Pernah juga kejadian pengelola program meminta alur cerita diubah hanya agar seorang pemain yang diunggulkan bisa tampil lebih sering. “Soal nyambungnya itu urusan kalian, yang satunya mau dibunuh kek, sakit keras, jadi gila kek. Terserah, pokoknya saya mau tokoh yang ini muncul lebih sering,” lanjutnya

menirukan. Alhasil penulis naskah harus kerja keras membongkar-pasang cerita yang disusunnya agar sesuai permintaan pengelola program. Celakanya banyak penulis naskah dan sutradara muda yang merasa semua ini sebagai tantangan dunia televisi. Di kalangan tenaga kreatif kemampuan mempermak cerita sesuai keinginan pengelola program pun dinilai tinggi. Tidak jarang pengambilan gambar terhenti karena naskah tiba-tiba harus diubah. Mereka yang mampu (dan tega) melakukannya sekarang menjadi incaran para produser. Sutradara pun merasa puas kalau bisa menyelipkan beberapa adegan yang dinilainya bagus dari salah satu film Hollywood yang baru selesai ia tonton. Tidak aneh tentunya jika banyak produk yang akhirnya ngawur sejadijadinya. Bagi mereka yang bermodal kuat dan punya program laris masalahnya tentu lain. Seperti kuis Who Wants to be a Millionaire yang dibiayai Bank Mandiri dan perusahaan telepon selular Pro-XL. Pengelola kuis membeli air time dari RCTI dan dengan begitu bebas melakukan apa saja
13

Alit Ambara

selama waktu yang ditentukan, termasuk memperoleh semua pemasukan dari iklan. Perusahaan besar seperti Multivision pun demikian. Dengan jaringan luas sampai ke tingkat direksi stasiun televisi dan modal kuat perusahaan ini bisa ikut menentukan nasib produk lainnya. Dari diskusi dengan beberapa aktor dalam industri ini nampaknya penetapan rating menjadi sangat menentukan. Setiap produk yang mendapat rating tinggi tentu akan mengundang pemasukan besar, dan stasiun televisi tidak segan memutar ulang atau membuat seri lanjutan dari produk yang laku keras. Sebaliknya produk yang rating-nya tidak beranjak naik, harus bersiap dipermak dan diubah sesukanya untuk mendongkrak minat penonton. AC Nielsen Indonesia sekarang adalah lembaga yang paling dipercaya pengelola stasiun televisi untuk mengukur persepsi penonton. Anehnya, lembaga ini hanya menjangkau lima kota besar dan terbatas pada sekitar lima ribu rumah tangga saja. Lembaga ini memasang sejenis alat ukur pada pesawat televisi yang konon dapat

AC Nielsen Indonesia sekarang adalah lembaga yang paling dipercaya pengelola stasiun televisi untuk mengukur persepsi penonton. Anehnya, lembaga ini hanya menjangkau lima kota besar dan terbatas pada sekitar lima ribu rumah tangga saja.
mengukur mata acara yang paling sering ditonton. Metode yang amat meragukan, karena setiap rumah tangga dan bahkan setiap orang dalam rumah tangga yang sama punya kebiasaan menonton yang berbeda. Apalagi jika sample yang digunakan hanya berkisar ribuan orang saja. Tapi toh pemilik stasiun televisi terus mendewakan ‘hasil penelitian’ dan menjadikannya patokan untuk mengelola siarannya. Saat ini misalnya, rating mengatakan cerita misteri sedang naik daun, maka berbondong-bondong rumah produksi membuat film horor dalam bentuk yang paling konyol sekalipun, demi ‘selera penonton’. Hampir semua pembuat program menyempatkan diri membaca laporan dan mendengarkan nasehat lisan dari perusahaan ini mengenai isi, bentuk dan susunan program. “Ibarat orang perang, stasiun televisi berhadapan satu sama lain dengan satu senjata saja,” ujar Bambang dari TransTV. Ilusi ketepatan survey rating antara lain karena penggunaan teknologi yang dianggap tepat. Sebenarnya ada lembaga lain seperti Survey Research Indonesia (SRI), yang produknya dianggap kurang valid karena tidak mengandalkan dukungan teknologi yang sama. Para pengelola stasiun televisi, terutama bagi mereka yang baru mulai, lebih senang membayar mahal dan menjadi bergantung pada lembaga konsultan itu. Pemilik stasiun bermodal besar biasanya lebih berani, membeli-putus produk yang dijual sekalipun tidak akan

14

ditayangkan dengan resiko rugi. Wajar jika persaingan kemudian menjadi semakin absurd. Alih-alih membuat produk yang baik, stasiun televisi lebih senang ‘membajak’ produk atau tokoh

siaran televisi yang semakin lemah. Masyarakat menjadi semakin pasif dan tumpul daya kritisnya menghadapi serbuan citra yang dipancarkan lewat puluhan juta pesawat televisi yang tersebar sampai ke

...yang berlaku adalah prinsip ‘beli murah, jual mahal’. Gencarnya siaran telenovela, sinetron asia, film India atau Mandarin tidak ada kaitannya dengan kesesuaian budaya seperti yang diklaim banyak pengamat. Pertimbangannya semata-mata karena produk semacam itu lebih murah...
unggulan untuk dijual. Seperti kuis Famili 100 yang meniru Family Feud dari AS beralih dari tangan ANTeve ke Indosiar. Produk yang laku keras seperti Meteor Garden pun tidak segan-segan diputar ulang oleh tiga stasiun televisi karena dianggap jauh lebih menjual ketimbang produk sendiri. Siaran rohani pun bernasib sama. Ulama yang dikenal dengan sebutan AA Gym semula tampil di SCTV dan mendapat sambutan hangat menurut lembaga konsultan. TransTV pun bergerak maju, mengeluarkan biaya cukup besar dan menyewa peralatan canggih untuk membuat paket siarannya sendiri. Hasilnya memuaskan, paling tidak menurut ACNielsen: AA Gym berhasil mendongkrak rating dan dengan begitu mendatangkan iklan. Produksi oleh stasiun televisi sendiri semakin jarang dilakukan. Para pengelola lebih senang membeli program dari rumah produksi lokal maupun distributor luar negeri. Di sini pun yang berlaku adalah prinsip ‘beli murah, jual mahal’. Gencarnya siaran telenovela, sinetron Asia, film India atau Mandarin tidak ada kaitannya dengan kesesuaian budaya seperti yang diklaim banyak pengamat. Pertimbangannya semata-mata karena produk semacam itu lebih murah ketimbang produksi Hollywood atau MTV. Bagi anak-anak dan remaja yang dibesarkan 1970-an siaran favorit semasa kecil adalah Little House in the Prairie karena memang itulah satu dari sedikit film yang ditayangkan televisi. Sulit mencari kesesuaian budaya sebuah keluarga frontier di bagian barat Amerika awal abad ke-20 dengan masyarakat perkotaan Dunia Ketiga seperti Indonesia. Begitu pun dengan kisah cinta kelas menengah Brasil atau Taiwan tak ada kaitannya dengan kehidupan buruh garmen yang ‘gemar’ menontonnya. Belakangan ini berbagai pihak mulai mempersoalkan kontrol publik terhadap
POKOK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

kampung-kampung. Belum banyak yang berhasil dilakukan, tapi kadang ada baiknya mengikuti anjuran sederhana: matikan pesawat televisi Anda!

Alit Ambara

15

Televisi adalah pranata sosial mutakhir. Secara bertahap jenis alat komunikasi ini sudah melampaui efektifitas pranata sosial lain, seperti partai politik dan media cetak yang telah memapankan dirinya sejak awal abad ke-20. Melalui televisi, partai politik dan media cetak ide modernisasi tersebar luas. Di Indonesia kehadiran media massa erat kaitannya dengan pembentukan imajinasi gagasan kebangsaan. Maka tak heran jika pada masa Orde Baru dikenal dengan istilah “jurnalisme pejuang,” semacam idealisasi peran wartawan dalam menjembatani pesan dari penguasa politik dan ekonomi dengan rakyat. Kehadiran televisi dalam kaitannya sebagai mediator penyampaian pesan melampaui peran media cetak dalam tiga hal. Pertama, daya jangkau publik yang teramat luas, yang dapat ditunjukkan dengan puluhan juta perangkat TV di rumahrumah. Kedua, kemampuan televisi untuk mendikte “kebenaran”. Dan, ketiga, relativisasi arti dan signifikasi peristiwa-peristiwa sosial lewat keragaman program. Seorang pembuat program acara khusus tentang perempuan menyatakan, ‘setiap program16

www.adbusters.org

Mengendalikan
mer berupaya agar pemirsa menjauhkan alat pengendali jarak jauh (remote control) dari jangkauannya.’ Acapkali pesan semacam ini terungkap dalam kalimat-kalimat manis yang dinyatakan disela program dan tayangan iklan. Pemirsa diajak untuk tidak menggunakan hak prerogatifnya menukar saluran dan menikmati ‘pesan-pesan’ secara utuh. Untuk mencapai maksud semacam itu, perusahaan televisi merekrut para pekerja artistik terampil sehingga mampu mengadopsi dan mengemas narasi kemapanan yang sebelumnya tersusun dengan katakata ke dalam susunan letak latar, gimik, tutur dan pergerakan kamera. Konsekuensinya, televisi berlaku sebagai penerjemah suatu ide dan mengatur tayangan apa pun layaknya pentas drama. Setiap acara wajib merangsang sensasi pemirsa seperti tahap mula kanak-kanak belajar lewat sensasi gambar dan bunyi. Televisi merebut perhatian permisa saat unsur suspens (respon sejenak untuk beralih pikiran) berhasil dikendalikan. Oleh sebab itu televisi disebut kotak ‘sihir’ hitam yang menampilkan gambar dan bunyi. Tanpa sadar,

Televisi
alat ini mengubah cara pemahaman simbolis abjad dan susunan kalimat kembali menjadi gambar dan suara yang tak bisa digugat. Lalu pertanyaanya, adakah alternatif untuk televisi? Ada tiga anjuran untuk itu. Pertama, Kill your television, bunuh saja televisimu. Ini ungkapan yang mentahmentah menolak kehadiran televisi dan menganjurkan agar kembali menghidupkan cara komunikasi tradisional lewat tatap muka dan dialog. Kedua, anjuran kompromistis dengan cara membangun kesadaran pekerja televisi supaya melakukan pengimbangan antara realitas sosial dan kepentingan bisnis televisi dengan cara pembentukan forum pemirsa, pekerja televisi dan pemilik stasiun TV. Ketiga, kontrol langsung publik terhadap televisi. Artinya pemirsa diberikan akses untuk membuat dan menayangkan program mereka. Ide ini melahirkan apa yang dikenal dengan televisi komunitas. Barangkali anjuran pertama terlampau radikal dan sulit diterima oleh kalangan luas yang sudah memiliki perangkat televisi di rumah mereka dan telah menjadikan te-

Alit Ambara

levisi sebagai ritual yang sulit dihilangkan. Kendati tidak sedikit orangtua yang mengganti program TV dengan memasang perangkat compact disc, sehingga bisa mengontrol informasi yang diterima anakanak mereka. Cara ini tentu dapat menghentikan kebiasaan anak-anak memelototi layar kaca, tapi itu hanya satu bentar waktu. Karena ketika anak-anak meningkat remaja mereka mencari bentuk-bentuk komunikasi lain seperti internet, permainan komputer atau entah apalagi yang akan muncul sebagai pengembangan dari bentuk komunikasi sejenis televisi.

Dewan Pemirsa, Pekerja dan Pengusaha Televisi
Sayang memang inisiatif yang sejatinya menggambarkan kerja sama

tripatrit antara pemirsa, pekerja dan pengusaha televisi di Indonesia masih belum menjadi isyu utama dalam upaya-upaya kampanye kebebasan pers dan akses informasi. Sejauh ini telah ada forum dialog antara pekerja televisi — atau lebih luas pekerja pers — dengan pengusaha media. Serikat Penerbit Surat Kabar misalnya, memberikan satu kursi kepada wakil wartawan sebagai partner dialog. Masyarakat Pers dan Pertelevisian Indonesia juga mengambil bentuk kemitraan yang sama. Tujuan utama forum-forum tersebut adalah menekan pemerintah untuk melonggarkan kontrol politik atas media massa. Akibat langsung dari kemitraan tersebut adalah upaya perumusan kode etik dan pengimbangan cara pemberitaan dengan kepentingan

...televisi berlaku sebagai penerjemah suatu ide dan mengatur tayangan apa pun layaknya pentas drama. Setiap acara wajib merangsang sensasi pemirsa...
POKOK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

bisnis. Akan tetapi asumsi yang dipakai serupa saja dengan cara negara memperlakukan rakyat. Pemirsa adalah pemirsa, penerima pesan yang dianggap belum ‘layak’ untuk duduk satu meja. Pemirsa cukup dianggap terwakili aspirasinya dengan kehadiran para pakar komunikasi sosial yang dalam prakteknya duduk baik sebagai penasehat pekerja atau penasehat pengusaha televisi. Pemirsa hanya sekedar kategori yang suaranya ditafsirkan oleh pakar-pakar. Fenomena yang menarik—sekaligus sering dikecam oleh pakar maupun pekerja dan pengusaha televisi—adalah demonstrasi yang menuntut pemberhetian jenis-jenis tayangan tertentu, seperti yang beberapa waktu lalu dilakukan satu kelompok Islam terhadap tayangan iklan “Islam Warna-Warni” di SCTV. Pada dasarnya demonstrasi semacam inilah yang perlu dimediasi dalam forum tripatrit, sehingga tidak tumbuh demonstran bayaran
17

Apa Isi
PERSENTASE*:
L FI M L AS EP LM FI , N LA RO VE ET O IN LEN S E T SE RI , AN U , IS H I R BU

22,3 %

21,1 %

M

U

K SI

,K

18,3 %
SPO

SO

SI

, AL

PO

LI

TI

K

K ,E

O

8,7 %

U IB H TIS IA RI UN LEB D E S

N RA

&

KESEHATAN, KECANTIKAN & SEKSUALITAS

N

O

M

I

M IL O ,F AK S N AS R, G & IT O E N KA L AL U M NA NT KA IA I E U N D UK I H RIM UM NJ DU K OK TU S, D ER SU P HU AK K AN K

L-

EK

,

14,7 %

6,4 % 4,8 %

3,7 %

ACARA:

Film

Hiburan

Berita

Keagamaan Konsultasi

Lain-lain

* Perhitungan dibuat berdasarkan acara selama 5 hari dalam seminggu, termasuk hari Sabtu, di 4 stasiun televisi yaitu TVRI, RCTI, Indosiar dan TransTV.

18

yang membela kepentingan tokoh-tokoh politik atau bisnis tertentu. Cara yang dilakukan kelompok Islam tampaknya belum menjadi perilaku pemirsa secara umum. Misalnya, pemirsa yang berkepentingan dari kelompok sosial lain memilih bungkam ketika peristiwa pemerkosaan warga Tionghoa pada Mei 1998 di Jakarta tidak tampil di televisi. Bahkan tidak tampak perlawanan teroganisir dari pemirsa ataupun pekerja televisi untuk membuat program dokumenter tentang peristiwa tragis semacam itu. Padahal cukup banyak pekerja pers dan masyarakat yang menyimpan rekaman peristiwa keji tersebut. Mau tak mau kita harus merujuk sejumlah pengalaman yang dilakukan stasiun TV BBC di Inggris dan ABC di Australia. Kedua stasiun itu berstatus perusahan publik, yang artinya sebagian pendapatan mereka berasal dari pajak rakyat dan saham publik, maka pihak pengelola stasiun melaksanakan dengar pendapat yang dihadiri oleh pakar, pekerja dan manajemen TV serta mayarakat biasa. Cara semacam ini melahirkan beberapa perubahan kebijakan yang menyangkut jenis-jenis tayangan dan porsi jam tayang. Cara lain yang pernah digunakan di Amerika misalnya dengan membentuk semacam pengadilan adhoc, dimana perwakilan pemirsa dan pengusaha televisi duduk sebagi pihak-pihak yang bertikai dan mengemukan pandangan mereka terhadap kasus yang dipersoalkan. Lalu ada juri yang terdiri dari sejumlah pakar komu-

an televisi komunitas adalah untuk memberikan akses kepada masyarakat dalam pembuatan program dan menayangkannya di televisi yang memiliki jarak jangkau siar sebatas suatu komunitas tertentu. Di Toronto, Canada, UU Siaran menegaskan keberadaan televisi komunitas semacam ini. Dan undang-undang tersebut memaksa stasiun TV negara menyediakan porsi waktu tayang untuk siaran lokal yang diproduksi oleh komunitas yang dijangkau frekuensi stasiun TV itu. Stasiun televisi komunitas semacam ini membuka akses pelatihan, peralatan dan magang bagi siapa saja yang berminat membuat program. Masyarakat anggota komunitas membayar sebagian iuran untuk pendanaan, sebagian lagi diperoleh dari iklan dan dari pemerintah lokal. Karena disebut sebagai televisi komunitas, warga suatu komunitas berhak untuk mengontrol pengelolaan program di TV tersebut. Cara semacam ini menjamin partisipasi demokratis warga komunitas terhadap program televisi. Atau dengan kata lain warga komunitas menerima televisi sebagai pranata sosial dimana mereka berhak atas pembuatan program dan pengelolaannya. Di Indonesia gagasan televisi komunitas muncul di media massa dalam setengah tahun terakhir. Saat para produser televisi, aktifis kebebasan pers marak mengomentari RUU Penyiaran beberapa bulan lalu, isyu televisi komunitas dan televisi publik tampil sebagai sebuah alternatif yang menarik. Enam bulan silam 13 pengelola tele-

Sejatinya gagasan televisi komunitas adalah untuk memberikan akses kepada masyarakat dalam pembuatan program dan menayangkannya di televisi yang memiliki jarak jangkau siar sebatas suatu komunitas tertentu.
nikasi, sosiologi, filsafat dan aktifis Hak Asasi Manusia, yang memutuskan. Pemilihan juri harus memenuhi kriteria independensi dari kepentingan, yang mengikuti prosedur pemilihan juri untuk pengadilan di AS. Pengadilan semacam ini diambil dari model yang dipakai untuk penyelesaian soal publik seperti pencemaran lingkungan hidup. visi lokal dan televisi komunitas sepakat membentuk wadah yang bernama Forum Televisi Komunitas dan Publik Indonesia, yang dideklarasikan di Balikpapan. Cuma tampaknya gagasan tersebut hanya sebatas melahirkan oligarki baru pengusaha stasiun TV. Di belakang stasiun televisi itu berdiri perusahaan multi nasional seperti Newmont di Sulawesi Utara atau PT. Semen Padang di Sumatra Barat yang menjadi penyokong dananya. Contoh lain adalah televisi lokal. Umumnya pendanaan diterima dari Rancangan

Anggaran Pembiayaan Belanja Daerah, sebagai bagian dari UU Otonomi Daerah. Pekerja televisi adalah bagian dari birokrasi. Pemda Tk I Nanggroe Aceh Darussalam misalnya, mendanai siaran lokal TVRI Aceh. Jumlahnya mencapai Rp. 2 milyar per tahun. Tak heran apabila siaran ‘lokal’ acapkali tampil serupa dengan plot kunjungan daerah ala Suharto. Hanya figurnya yang berubah menjadi kunjungan sosial Gubernur Abdullah Puteh, kegiatan kantor dinas bawahannya dan kegiatan Dharma Wanita yang menayangkan kiprah istrinya. Sulit ditemukan wawancara dan kehidupan warga sipil Aceh dalam konflik berdarah. Jangan lagi kita berharap televisi lokal menjadi media bagi korban konflik bersenjata untuk tampil mengemukakan pikirannya. Kalaupun ada adalah ungkapan keprihatinan ‘tokoh-tokoh’ politik, seperti anggota DPR. Jadi televisi lokal bukan untuk membuka jalan dialog antar kelompok sosial. Karena itu tepatlah apa yang diinginkan Garin Nugroho dengan kehadiran televisi komunitas, yaitu menjadikannya sebagai cara untuk ‘menyaring’ isi siaran televisi agar sesuai dengan adat dan kebutuhan daerah. Artinya cara kerjanya serupa saja dengan stasiun yang ada, menjadi mediator yang otoriter. Selain itu, akibat dari kehadiran TV komunitas adalah pembagian pasar iklan yang sampai saat ini didominasi oleh stasiun TV di Jakarta, pindah ke daerah-daerah. Selanjutnya mudah ditebak, persaingan penayangan iklan di Jakarta dipindahkan ke daerah dengan harga yang lebih murah dan tentu saja memboyong konsumerisme. Akhirnya yang bakal lahir —tentunya jika tak ada upaya lain— bukannya televisi komunitas seperti di Maui Hawaii atau Toronto, tapi kroni baru dengan figur-figur lokal sebagai pengelolanya. Yang juga patut diwaspadai adalah representasi ‘lokal’. Apakah televisi komunitas menjadi sarana pembentukan identitas masyarakat setempat dengan perusahaan multinasional? Jika itu terjadi, gagasan televisi komunitas dibajak untuk kepentingan penguasa politik dan ekonomi di daerah. Alih-alih terjadi penyaringan isi siaran, yang paling mungkin hanya mengganti figuran untuk sebuah narasi usang. m

Membajak Televisi Komunitas
Alternatif lain yang sekarang berkembang dengan beragam corak pengelolanya adalah televisi komunitas. Sejatinya gagasPOKOK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

TIM MEDIA KERJA BUDAYA: Arif Rusli, Ayu Ratih, Hilmar Farid, Razif.

19

>>>PROFIL

Membaca Buku, Komunitas Pasar Buku Indonesia— gerakan
Andre

P

erubahan politik 1998 membuahkan euforia dalam banyak hal, salah satunya melanda dunia perbukuan yang sebelumnya terkesan lesu karena banyaknya pelarangan dan sensor oleh rezim Soeharto. Buku-buku baru pun bermunculan, selain karena telah mengendurnya ‘tali kekang’ – juga karena adanya kebutuhan yang semakin besar dari masyarakat akan hadirnya buku-buku bacaan dengan berbagai tema, khususnya yang bertema sosial politik, ekonomi dan budaya. Dunia perbukuan bergairah, percetakan dan distributor baru bermunculan. Buku sebagai indikator kemajuan peradaban suatu bangsa menjadi satu slogan yang menarik. Semakin banyak buku diproduksi dan dikonsumsi, berarti semakin maju pula peradaban suatu bangsa Pertanyaannya, berapa banyak buku yang tercetak dan dibaca oleh masyarakat masuk dalam kategori buku bermutu? Timbulnya antusiasme orang untuk bebas memilih bahan bacaannya disusul pula dengan banjirnya berbagai media cetak baru yang lebih berani untuk melayani ruang lingkup minat pembaca sehingga pilihan yang ada semakin banyak pula. Tema yang diusung oleh media ini pun semakin beragam dan menyoroti ruang-

ruang tertentu yang diminati oleh masyarakat, mulai dari otomotif, komputer dan internet, olah raga, film hingga dunia mistik. Membaca buku belum menjadi kebiasaan di Indonesia. Media informasi seperti radio dan televisi lebih populer dibanding buku. Dalam menyerap informasi, masyarakat kita lebih memilih untuk mendengar dan menonton daripada membaca. Walaupun hal ini tidak sepenuhnya mutlak, karena banyak juga orang yang membaca koran. Tapi apakah hal yang sama berlaku untuk buku? Pernahkah kita mencari tahu berapa banyak buku yang dibaca oleh masyarakat Indonesia dalam sebulan? Atau apakah ada kesadaran di masyarakat kita akan pentingnya buku dan kebiasaan membaca? Dari situ kita akan dapat memetakan berapa banyak orang Indonesia yang sudah melek huruf dan apakah sistem pendidikan yang ada sekarang sudah memadai atau belum? Kebangkitan dunia perbukuan di Indonesia sekarang sebenarnya masih jauh apabila dibandingkan dengan perkembangan produksi dan konsumsi perbukuan di Asia Tenggara . Tahun 2000, perbandingan antara produksi buku dan jumlah penduduk di dua negara yaitu, Indonesia yang berpenduduk 203 juta jiwa de-

ngan produksi buku 2000 judul per tahun dan Malaysia yang berpenduduk 21 juta jiwa dengan produksi buku 15.000 judul per tahun. Untuk Indonesia, dari 2000 judul tersebut yang paling laku keras adalah buku yang berkaitan dengan ekonomi dan komputer, buku yang berkaitan dengan agama Islam – terutama pada bulan Ramadhan, dan komik terjemahan luar negeri untuk anak-anak serta novel bagi orang dewasa. (Kompas, 17 Desember 2000) Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang buku dan kecintaan akan buku, sekitar lima orang mahasiswa yang aktif dalam pers mahasiswa di UI mulai berkumpul untuk memikirkan ide membangun suatu komunitas yang peduli akan dunia perbukuan. Lalu mulailah mereka mencari-cari referensi serta studi kasus di beberapa tempat dan menemukan ide untuk membangun perpustakaan komunitas dan toko buku independen. Sejak itu timbulah gagasan untuk membangun jaringan dan berdirilah satu komunitas yang mereka namakan Komunitas Pasar Buku Indonesia (KPBI). Untuk menyesuaikan dengan kemajuan teknologi masa kini, komunitas ini memanfaatkan Internet sebagai media untuk penyebaran informasi, saling berdiskusi dan
PROFIL | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

20

Suasana pasar buku di Kuba Suasana pasar buku di Kuba

membaca menjadi kebiasaan membaca menjadi kebiasaan

Mengukur Peradaban alternatif di dunia perbukuan
berkomunikasi. Bagaimana duduk soal buku di Indonesia? Menurut komunitas ini buku adalah ibarat suatu ‘Oase’ di mana kita bisa menemukan banyak hal, banyak ide yang bisa membantu pembacanya untuk merumuskan visi mereka ke depan dan melalui buku juga orang bisa mengembangkan metode pendidikan kreatif misalnya memperkenalkan bacaan dengan cara mendongeng bagi anak-anak kecil. Kebiasaan ini selain akan menambah pengetahuan, sistematika berfikir serta kecintaan akan buku juga mulai memupuk kebiasaan untuk membaca. Salah satu obsesi yang ingin dicapai oleh komunitas ini menggerakkan masyarakat dengan menyediakan bahan bacaan yang bisa mendukung kebutuhan hidup yang positip. KPBI membuat dua turunan untuk aktifitas dan program besarnya. Yang pertama adalah program sosial dan komunitas. Program ini mencakup aktifitas seperti taman bacaan, klub buku, diskusi buku online, jaringan minat baca dan akan mulai digencarkan awal tahun 2003 adalah kampanye Indonesia membaca. Turunan yang kedua merupakan program bisnis dan konsultasi mengenai masalah perbukuan dan perpustakaan. Aktifitas di dalam program ini
PROFIL | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

adalah jaringan toko buku independen, konsultasi dan informasi perbukuan, toko buku online dan situs perbukuan, perancangan perpustakaan, pengadaan koleksi, jaringan distribusi, program acara perbukuan, agen bagi pengarang, penterjemah dan penerbit. ‘Berjualan’ di sini punya arti lebih, yaitu menjelaskan kepada teman-teman sesama mahasiswa tentang buku yang mereka bawa serta. buku yang diedarkan pada rezim Soeharto berjaya seperti novel Pramoedya Ananta Toer dan buku Tan Malaka yang keduanya pada waktu itu dilarang terbit. Mereka melanjutkan kegiatan itu untuk tetap survive dengan program bisnis yang berjualan buku dari seminar ke seminar dan acara perbukuan. Intinya, segala hal yang bersinggungan dengan buku mereka jalani. KPBI bisa dibilang suatu gerakan alternatif di bidang perbukuan yang tumbuh sebagai jawaban arogansi jaringan perbukuan yang telah mapan dengan membangun suatu usaha perbukuan yang ingin lebih mendekatkan penulis dan pembacanya dengan didukung oleh jaringan distribusi dan program acara pemasaran. Ketika dimintai pendapat mengenai kenapa harga buku sekarang tergolong cukup mahal? Wien Muldian sebagai salah satu pendiri

KPBI menjawab karena jaringan distribusi buku indonesia atau tata niaga buku yang berantakan. Banyak jaringan toko buku besar yang memiliki lebih dari sepuluh toko dan mereka bebas untuk menentukan berapa keuntungan yang diinginkan. Penulis tetap tidak mempunyai posisi tawar yang kuat, begitu juga dengan usaha penerbitan yang akhirnya hanya bisa menaikkan harga jual bukunya jika ingin dipajang di toko buku yang bersangkutan. Menurut mereka aturan yang berlaku di toko buku independen di bawah jaringan KPBI bentuknya lebih bersahabat. Jaringan KPBI nantinya juga akan merambah tidak hanya di kota besar melainkan sampai ke kota-kota kecil. Ide toko buku independen adalah toko yang menjual buku dengan harga di bawah jaringan toko buku besar yang umumnya tidak memberikan diskon walaupun mereka telah banyak mengambil keuntungan dari para penerbit dan distributor. Alasan mutu dan tingginya biaya produksi seringkali jadi pertimbangan. Tapi apakah barang yang bermutu dengan sendirinya mahal harganya? Dan apakah hal ini berlaku juga pada buku? Buku bermutu tak harus mahal, walaupun berbeda dengan kenyataannya. Bagi sebuah penerbit baru tentunya akan sedikit
21

foto: http://library.thinkquest.org:

kesulitan dalam menentukan posisi tawarnya jika sudah berhadapan dengan toko buku besar – apalagi yang sudah mempunyai jaringan mapan hingga ke berbagai kota. Namun “kerusakan” ini tercipta atas peranan banyak pihak termasuk usaha penerbitan itu sendiri yang terkadang tidak mau repot untuk mengurusi masalah distribusi buku yang mereka terbitkan, dan akhirnya menyerahkan urusan itu kepada distributor dan toko buku besar yang juga memiliki jaringan distribusi sendiri walaupun rabat yang dikenakan cukup besar berkisar dari 40 – 60 % dari harga jual buku, jika demikian sudah barang tentu dari pihak penerbit juga akan menaikkan harga jual bukunya untuk menyesuaikan dengan rabat yang diminta agar biaya produksi dapat kembali dan mereka pun bisa mendapatkan keuntungan. Mengenai masalah biaya produksi, umumnya untuk menerbitkan sebuah buku terdapat beberapa hambatan yang harus dilewati walaupun sifatnya bisa jadi sangat fleksibel dan tidak mutlak. Tantangan itu misalnya seperti; honor dan royalti untuk penulis, honor penterjemah (untuk buku terjemahan), editor, tata letak serta rancang kulit muka, biaya percetakan, biaya distribusi dan biaya administrasi lainnya. Tentunya juga bukan satu hal yang tak mungkin untuk mendirikan penerbitan sendiri. Di sisi lain KPBI juga tetap menjaga hubungan dan mencoba untuk berdampingan dengan jaringan perbukuan besar dan melakukan pendekatan dengan para penerbit yang biasa menumpuk buku di gudang agar mau untuk menjual buku itu kepada masyarakat dengan harga rendah hingga modal yang keluar dapat kembali berputar untuk mencetak buku yang lain dan tak merugi. Namun apakah karena rendahnya minat baca dan mahalnya harga buku menjadi hambatan utama untuk memasyarakatkan buku – kalau boleh meminjam analogi menteri olah raga jaman Orba dulu; memasyarakatkan olah raga, mengolah ragakan masyarakat. Faktor lain seperti sulitnya akses masyarakat terhadap buku dipandang sebagai penyebab lain. Untuk mengatasi hal ini KPBI melalui Kampanye “Indonesia Membaca” coba menawarkan ide kepada siapa saja untuk menyumbangkan waktu, tenaga dan berbagai keahlian untuk menumbuhkan perpustakaan komunitas dan taman bacaan anak yang akan tersebar di berbagai wilayah dengan mengumpulkan sumbangan berupa buku, alat tulis, sarana kreativitas anak dan perlengkapan lain yang mendukung jalannya kampanye ini. Program lain yang melibatkan KPBI adalah program 1001Buku. Program yang berbasiskan relawan dengan latar belakang profesi beragam, kegiatan sosial yang dimotori oleh orang-orang dengan kecintaan akan buku dan perhatian pada dunia anak-anak serta bahan bacaan anak di Indonesia. Ide dasar dari kegiatan 1001Buku ini adalah dengan membantu menyediakan bahan bacaan bagi anakanak, mereka akan tumbuh bersama dengan

mimpi dan kreatifitas akan masa depan. Sampai saat ini telah berkumpul sekitar 100 relawan yang giat mengumpulkan sumbangan buku, pemilahan hingga nanti sampai pada proses pendistribusian ke taman bacaan dan pengelolaan perpustakaan. Di tengah derasnya serbuan komik-komik dari luar Indonesia, masyarakat pembaca buku kita harusnya bisa lebih selektif untuk mengambil kendali dalam mengontrol mana komik yang mempunyai muatan positip dan mendidik, karena sudah tentu target pembacanya adalah anak-anak hingga usia remaja – walau ada pula sejumlah kecil pembaca usia dewasa yang juga menyenangi komik. Apakah komik bisa memberikan sesuatu yang positip bagi dunia perbukuan di Indonesia – khususnya bagi generasi muda kita, karena komik sangatlah dekat dengan dunia anak-anak maka seringkali hanya anak-anaklah yang tahu komik macam apa yang cocok bagi mereka. Dunia komik tidak sepenuhnya bisa dinilai melalui persepsi orang dewasa, walaupun seperti kita tahu sekarang ini banyak komik dari Jepang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia diproduksi untuk konsumsi orang dewasa tetapi seringkali banyak dikonsumsi oleh anak-anak. Perbandingan jumlah penjualan komik Jepang dan komik Indonesia pada tahun 2001 adalah: komik Jepang yang terjual setiap bulan antara 100 sampai 1000 eksemplar, sedangkan komik Indonesia yang terjual setiap bulan antara 15 sampai 100 eksemplar atau secara presentase 9 banding 1.(Kompas, 28 Januari 2001). Dan ironisnya yang mereproduksi dan mengedarkan komik Jepang ini adalah salah satu perusahaan penerbit raksasa di Indonesia. Maka perlu kedekatan dengan anak-anak, agar kita bisa saling membahas dan coba menciptakan suasana untuk mendiskusikan bahan bacaan apa saja yang mereka suka, membantu mereka untuk mencerna sehingga secara tidak langsung kita dapat mengajak anak-anak agar nantinya bisa mandiri dalam menyeleksi bacaannya. Kontrol yang dibuat bukanlah sesuatu yang sifatnya otoriter melainkan lebih bersifat persuasif. Penyadaran bagi penerbit komik juga harus sudah mulai dibangun baik oleh masyarakat juga penerbit melalui proses penyeleksian sehingga mereka juga peduli akan dampak apa saja yang bisa berakibat negatif di samping hanya memikirkan keuntungan semata. Sementara itu, mengenai banyaknya keberadaan buku terjemahan. Buku berbahasa asing yang gencar dihadirkan adalah buku filsafat baik klasik maupun modern serta kajiannya, teori ekonomi, sejarah, sosial politik dan banyak lagi yang lainnya. Lalu berapa banyakkah dari buku berkualitas yang berbahasa asing dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia namun mutunya tetap sama dalam hal kualitas terjemahan bahasa dan penyampaian isi buku atau ide pikiran si penulisnya secara baik?. Sayangnya, buku terje-

mahan tidak disertakan dengan pengantar pada duduk masalah dari buku yang diterjemahkan. Akibatnya pembaca tidak dapat mengikuti konteks apa yang menyebabkan buku itu ditulis. Sebagai contoh buku tentang pemikiran dari seorang tokoh filsafat – sebut saja Filsafat Sejarah Hegel atau teori evolusinya Darwin– yang tidak begitu akrab bagi masyarakat Indonesia, jika disajikan apa adanya tanpa ada tedeng aling mengapa buku ini perlu diterbitkan, tanpa adanya pengantar sejarah dan latar belakang mengenai Hegel dan Darwin misalnya dalam konteks apa Hegel menulis filsafat sejarah, hingga apa yang membuat Hegel berpikir seperti itu dan ide-ide apa saja yang membentuknya. Akan butuh waktu yang lama bagi para pembaca awam dengan latar belakang pengetahuan terbatas untuk mencerna dan memahami intisari dari pemikiran para tokoh tersebut atau bisa saja akan terjadi salah pemahaman jika ditambah lagi dengan kualitas terjemahan bahasa yang kurang baik. Hal ini banyak ditemui dan akan berlanjut terus jika tidak ada niat serta keseriusan dari para penerbit untuk melengkapi kepustakaan dunia perbukuan Indonesia dengan hasil kerja yang baik. Kalau menerbitkan buku terjemahan saja masih kurang baik mutunya lalu bagaimana bisa meningkatkan kualitas peradaban bangsa. Kesemuanya itu adalah akibat dari pihak-pihak yang hanya mementingkan keuntungan jangka pendek dan justru akan berdampak buruk bagi dunia perbukuan Indonesia di masa depan jika mulai dari sekarang tidak ada kemantapan untuk memandang bahwa kesemuanya itu adalah suatu investasi yang bernilai. Hanya sedikit sekali penerbit-penerbit yang bisa dibilang cukup terfokus, serius dan mempunyai cita-cita serta kesungguhan untuk menghadirkan bacaanbacaan bermutu di Indonesia. Agenda pameran perbukuan juga tak lepas dari perhatian mereka. Tetapi pameran perbukuan yang berbondong-bondong diikuti oleh para penerbit dan distributor buku lebih cenderung hanya sebagai ajang jualan. Festival perbukuan menurut komunitas pasar buku adalah label yang lebih sesuai sebab program acara perbukuan ini mempunyai bobot tambahan dengan mengundang para penulis dan orang-orang yang peduli akan masa depan anak Indonesia untuk mengembangkan metode ajar-mengajar bagi anak-anak, bedah buku dan jumpa pengarang sampai bengkel penulisan. Pasar buku sebagai suatu gerakan dari para pembaca buku – dan bukan industri buku – merupakan alternatif jalan terbaik untuk meningkatkan minat baca dan kualitas generasi muda Indonesia di masa mendatang dengan memulainya dari potensi yang ada di sekeliling kita, seperti perpustakaan komunitas dan toko buku yang bisa bertempat di garasi mobil misalnya. Kita semua bisa berperan, tunggu apa lagi? m Andre, aktif di Jaringan Kerja Budaya

22

PROFIL | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

>>>PUISI AGAM WISPI

LATINI LATINI
latini, ah latini gugur sebagai ibu anak ketjil dalam gendongan latini, ah latini gugur diberondong peluru baji mungil dalam kandungan tanah dirampas suami dipendjara tengkulak mana akan beruntung? desa ditumpas traktor meremuk palawidja pembesar mana akan berkabung? gugur latini sedang masjumi berganti baju gugur pak tani dan dadanya diberondong peluru gugur djenderal, mulutnya manis hatinya palsu beri aku air, aku haus dengan lapar tubuh lemas aku datang pada mereka aku pulang padamu sedang tanah kering dikulit kita makan samasama kudian muram latini, ah latini tapi, ah, kaum tani kita yang berkabung akan mebajarnya suatu hari
(Dari antologi:”Matinya Seorang Petani”, Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakjat”, Jakarta ...)

tapi siksa tjuma dapat bangkainja ingatannja kedjaman-muda dan anaknja jang djadi tentera — ah, siapa kasi makan mereka? — isteriku, siangi padi biar mengamuk pada tangkainja kasihi mereka kasihi mereka kawan-kawan kita suram padam dan hitam seperti malam 3. mereka berkata jang berkuasa tapi membunuh rakjatnja mesti turun tahta 4. padi bunting bertahan dalam angin suara loliok disajup gubuk menghirup hidup padi bunting menuai dengan angin ala, wanita berani djalan telandjang di sitjanggang, di sitjanggang dimana tjangkol dan padi dimusnahkan mereka jang berumah apendjara baji digendongan djuga tahu arti siksa mereka berkata jang berkuasa tapi merampas rakjatnja mesti turun tahta sebelum dipaksa djika datang traktor bikin gubuk hantjur tiap pintu kita gedor kita gedor. —————
Keterangan: + Loliok ialah suling dari batang padi dalam sebutan kanak-kanak (Sumber: Antologi Bersama, “Matinya Seorang Petani”).

MATINJA PETANI MATINJA SEORANG PETANI
(buat L. Darman Tambunan) 1. depan kantor tuan bupati tersungkur seorang petani karena tanah karena tanah dalam kantor barisan tani silapar marah karena darah karena darah tanah dan darah memutar sedjarah dari sini njala api dari sini damai abadi 2. dia djatuh rubuh satu peluru dalam kepala ingatannya melajang didakap siksa
PUISI | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

Kedua puisi karya Agam Wispi ini menggambarkan sejarah perlawanan kaum tani dalam mempertahankan tanahnya dari penggusuran. “Latini” mengambil latarbelakang kasus konflik di Kediri sedangkan “Matinja Seorang Petani” berlatarbelakangkan konflik di Tanjung Morawa, Sumatera Utara.

23

Iklan! Sihir
kan sihir iklan untuk fungsi penandaan nilai komoditas. Ini sebuah ciri bahwa kepentingan produksi budaya kapitalisme hanya untuk sebuah politik konsumsi pasif, tidak eksploratif, apalagi kreatif. Williams mencatat bahwa periklanan berusia setua umur masyarakat sendiri. Sejak masa Yunani Kuno pengumuman telah ditulis pada lembaran papirus dan dipancang di dinding kota dengan tujuan promosi ide, misalnya, ketika terjadi perdebatan Socrates di pengadilan (Apologia) sebelum kematiannya. Pada masa Romawi Kuno seruan untuk hadir di suatu acara ditempelkan di tembok-tembok pengumuman kota Roma, seperti undangan melihat pertempuran berdarah para gladiator di coloseum. Pesan-pesan seperti ini menjadi semacam “ritual kecil” yang dapat dengan cepat dikerjakan, dan sangat cepat pula dilupakan. Dari sekedar proses khusus untuk menarik perhatian dan memberi informasi iklan berkembang pesat menjadi sistem penyampaian informasi komersial pun pemberian saran-saran dan harapan yang terlembaga secara baik. Dalam sejarah masyarakat Inggris penyebaran informasi yang lebih terorganisir dimulai pada abad ke 17 sejalan dengan perkembangan buku-buku berita, merkuri, dan surat kabar. Laju pertumbuhan surat kabar dari 1690-an juga membuat volume periklanan bertambah. Sebagian besar masih diklasifikasi menurut jenis dalam seksi reguler koran atau majalah, dan ada pula yang diberi ilustrasi. Bahan-bahan yang diiklankan tergantung pada apa yang dibutuhkan atau ditawarkan ke publik, seperti penjualan komoditi di toko-toko tertentu, pelayanan personal, pengumuman publikasi buku-buku, detil tentang pembantu yang melarikan diri, sampai penjualan kuda atau anjing. Revolusi industri, sekaligus hubungannya dengan revolusi komunikasi, secara fundamental mengubah sifat dasar iklan. Lahirnya perusahaan dengan produksi skala besar membutuhkan strategi penjualan yang berbeda. Hadirnya media massa cetak yang membutuhkan iklan sebagai sumber pemasukan terbesarnya menjadi cukup penting. Perusahaan penerbitan berita umum pun, seperti Times dan News of the World, berkembang pesat, apalagi dengan diberikannya keringanan pajak. Pada 1855 pajak periklanan dan biaya meterai dihapuskan sehingga sirkulasi surat kabar dan produksi iklan meluas. Depresi terbesar dalam dunia periklanan akibat kejatuhan harga barang yang luar biasa terjadi pada periode 1875 hingga 1890-an. Bencana ini menjadi titik tolak baru untuk mereorganisir industri kepemilikan menjadi lebih besar dan mengkombinasikannya dengan keinginan pertumbuhan pangsa yang lebih besar pula. Hal itu dimaksudkan agar dapat mengkontrol pasar jika sewaktu-waktu mengalami depresi dan kegoncangan finansial secara luas. Saat itulah bisnis iklan tidak hanya menjadi bisnis tempelan, namun berubah menjadi bisnis baru yang mengambil tempat cukup penting di bidang produksi dan digunakan setiap pemilik modal untuk meningkatkan rangking produksi. Dalam seratus tahun terakhir, iklan telah berkembang dari sekedar pengumuman pelayanan toko dan seni memikat yang dilakukan pemasok barang pinggiran menjadi organisasi bisnis raksasa para kapitalis. Ia menguasai seluruh lapisan komunikasi di media massa cetak dan elektronik sehingga keduanya tidak dapat hidup tanpa iklan. Iklan telah menjadi sistem jual tanpa batas negara pun jenis-jenis usaha dan penawaran. Ia juga menjadi alat pengaruh di wilayah politik, merembes dan mendikte nilai-nilai yang dianut masyarakat. Iklan mengambil alih seluruh sistem komunikasi masyarakat dan akhirnya hanya tersedia sebuah lorong sempit untuk memahami masyarakat, yaitu lewat iklan! Iklan telah menjadi kegilaan yang tidak relevan lagi di abad modern. Minuman bir tidaklah cukup sebagai sebuah minuman tanpa ada janji bahwa dengan meminum bir kita akan kelihatan lebih jantan, tangguh, dan bersahabat. Sederetan janji-janji yang tidak relevan lagi dengan khasiat dan manfaat barang ditebar. Inilah yang disebut Williams sebagai puncak kegagalan idealitas nilai dan makna yang ada dalam masyarakat. Masyarakat kita sekarang merupakan masyarakat yang tergantung pada barang. Sistem periklanan menjadi sihir yang terorganisir dengan upaya pengaburan fungsi dan penyodoran ilusi kebebasan memilih barang. Seluruh bujuk rayu, cumbuan, dan saran yang disajikan dengan sangat subtil telah mengesankan iklan hanya sebagai alat pena-

nc.

Kehadiran iklan begitu mengguncang sekarang! Ia bukan hanya sekedar promosi sebuah produk, tetapi telah menjadi sebuah sistem ide yang memiliki nilai-nilainya sendiri secara otonom. Iklan menjelma menjadi sebuah ideologi di abad modern. Apa yang kita rasakan sebagai “citra baru” dari produk-produk seperti Coca-Cola, Marlboro, atau Kentucky Fried Chicken tidak dapat dipisahkan dari jasa iklan, yang membangun selera ekstra. Iklan membawa kita pada suatu suasana yang dibangun pada momen tertentu dalam ingatan kita lewat bahasa puitis. Kita boleh menyangkal dengan berbagai pembelaan dan motivasi politis bahwa kita membeli barang tertentu bukan karena iklan. Tetapi apa yang disebut Gadamer dengan tersisipnya “makna ketiga” dalam sistem ingatan seseorang sedikit banyak mesti hadir di saat seseorang menemukan barang yang pernah diiklankan. Rasa bersalah yang timbul setelah kita membeli barang, kalaupun ternyata tidak sesuai dengan “rekayasa imajinasi”, hanya melahirkan sikap sublimasi pada diri sendiri, dan bukan pada barang - apalagi pada “liciknya” pengaruh sihir yang dibangun iklan. Pada era modern seperti sekarang, seseorang tidak mungkin berada dalam vacuum idea saat melihat barang yang akan dibelinya. Iklan memiliki semacam alat sensor, bisa berupa tafsir, dugaan, propaganda liris, ataupun tuduhan terhadap barang tertentu.

Pusar Kajian
Dalam tulisan Advertising as the Magic System Raymond Williams melihat bahwa iklan sebagai fenomena budaya dalam konteks modern harus dipahami ulang karena peranannya sebagai ideologi cukup mencengkeram. Untuk memahami perkembangan periklanan, sekaligus menangkap kekuatan makna yang “bersinar-sinar” seperti terlihat dewasa ini, orang sebaiknya menelusuri sejarah budaya iklan itu sendiri. Lebih lanjut, orang dapat mulai menyesuaikan diri dengan fungsi-fungsi kontemporer yang dihasilkan dengan sangat subtil dan imajinatif oleh iklan sehingga terasa seolah-olah tanpa agresivitas dan paksaan. Williams memperlihatkan bahwa turbulensi kebudayaan yang menjadi corong kepentingan kapitalisme dalam sistem perdagangan barang hanya mengguna24

ESAI | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

Teuku Kemal Fasya

Industri Kapitalisme
waran yang manusiawi dalam mengkomunikasikan kepentingan penawaran, bukan sebagai instrumen represi kebebasan manusia.

Apresiasi
Williams tidak menjelaskan dengan eksplisit kecuali membuat demarkasi, semacam peringatan bagi manusia agar tidak terjebak dalam keadaan genting akibat daya destruksi yang dibangun iklan. Sejarah budaya tersebut memberi pelajaran bagaimana mayoritas masyarakat tidak mampu mengontrol hasil produksi yang hanya dikuasai sekelompok kecil pemilik modal. Ia juga tidak mengulas lebih panjang peran ideologi iklan dalam melahirkan budaya baru, tapi hanya menjelaskan efek-efek yang ditimbulkan dalam budaya ekonomi. Tidak terlihat upaya dekonstruksi – seperti yang diinginkan Derrida misalnya, dalam mencari “titik-titik buta” yang dapat kita pelajari bersama. Mengikuti perspektif Derrida, dengan melihat secara khusus teks-teks yang digunakan dalam iklan misalnya, kita dapat membangun kesimpulan filosofis tentang kedudukan bahasa dalam iklan sebagai ideologi atau sistem gagasan. Bahasa di dalam iklan berdiri sebagai sesuatu yang hanya eksotik dibaca dan didengar. Seolah-olah kata-kata tsb. memberi kita ide dan visi baru yang membuat kita tidak puas dengan cara berfikir lama. Namun kata-kata yang hadir terkesan artifisial dibandingkan dengan yang secara substansial dibutuhkan manusia. Dalam iklan-iklan di Indonesia misalnya, slogan seperti ”Bukan Basa-Basi”, “Pas Susunya”, atau “Selembut kasih ibu” kalau kita keluarkan dari konteksnya menjadi kata-kata hambar makna. Hanya dengan tampilan yang berulang-ulang, terutama secara visual, orang baru tersengat oleh daya sihir kata-kata ini, suka atau tidak suka. Modernisasi di satu sisi melahirkan budaya yang hanya pantas untuk dinikmati sebagai penghiburan, bukan budaya yang memiliki wawasan penalaran. Namun, ini kadang bisa menjadi berkah. Dalam pemikiran Umberto Eco, semangat klasik yang melulu mengharuskan kita takzim dan serius melihat sebuah repertoar teatrikal atau simponi musik klasik tidak selalu tepat bagi masyarakat sekarang. Banyak yang menganggap bahwa budaya iklan adalah budaya rendahan dan kacangan.
ESAI | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

Namun apakah ini bermasalah? Budaya yang selama ini dianggap “tinggi” lebih banyak mengenang kejayaan romantik masa lalu dan kemenangan para aristokrat, atau budaya yang dipelajari di universitas dengan dasar ilmiah yang sangat ketat, sehingga kadang kala sulit untuk memahami dan mempelajarinya. Padahal generasi sekarang sudah mulai jengah dengan “kebenaran” yang terkandung dalam kebudayan tinggi. Generasi muda mulai menantang karakter “antik” dalam budaya massa. Mereka justru menemukan dirinya dalam konser musik rock atau dalam sirkuit olah raga otomotif. Berkaitan dengan iklan - yang dapat dianggap sebagai budaya massa - seharusnya tetap ditempatkan sebagai budaya alternatif, bukan sebagai lawan yang akan mencekik, seolah-olah seluruh kehidupan kita tergadaikan di sana.

Budaya Iklan?!
Ditarik lebih jauh dari apa yang dimaksud dengan budaya iklan, ada pemahaman lain yang tidak seekstrim pernyataan Williams. Dari keseluruhan aspek yang secara intrinsik dimiliki budaya iklan sebenarnya ada sisipan bernilai di sana, yaitu kreativitas konsumen. Kritik dan kekhawatiran akan budaya iklan muncul dengan asumsi konsumen memiliki keterbatasan dalam menilai iklan, sehingga muncul budaya pendangkalan baru, budaya konsumtif yang pasif. Konsumen bukanlah agen tunggal yang tidak kreatif. Konsumen terlibat dalam proses mengkonsumsi iklan, terlibat juga dalam proses penciptaan kreatif dengan tebar gosip atau pernyataan yang termuat di media massa. Dengan kata lain konsumen juga memproduksi signifikansi baru, beraktifitas terus-menerus dalam produksi makna. Makna yang ditangkap konsumen dari promotional culture disebarkan menjadi lebih kompleks, lebih konotatif, lebih retoris bahkan lebih liris daripada ide atau konsep iklan itu sendiri. Memang dalam beberapa hal, kita dapat mengatakan bahwa konsumen tercengkeram oleh upaya peniruan. Namun tiruan ini bukanlah seperti hasil fotokopi dari mesin laser. Iklan menawarkan, konsumen dapat mengapropriasi penawaran tersebut, bahkan membuat penawaran baru. Dalam pemikiran ideal,

sebenarnya setiap orang mesti memanfaatkan ruang yang ada untuk menawarkan sesuatu yang menjadi identitas dirinya. Komoditi yang diiklankan memiliki objek keinginan yang membangun momen imajinasi konsumen. Momen imajinasi inilah yang membuat kita merasa begitu dekat dan bisa membangun komunikasi awal dengan produsen. Alhasil, kita dapat menerima komoditi tersebut tanpa resiko, sekaligus menggamit citra sosial yang diembannya. Prinsip-prinsip rangsangan ini membuat sesuatu seakan-akan begitu hidup. Produsen iklan juga harus melakukan riset mendalam di tengah corak keinginan masyarakat yang menjadi sasaran komoditinya. Iklan harus mampu menggairahkan hidup masyarakat dengan imajinasi yang tepat. Sodoran iklan dewasa ini seolah-olah mengetahui betul apa yang kita maui, dan memberikan apa yang kita impikan. Kontak dengan calon pembeli atau peminat pun dibangun dengan berbagai jalur baik yang humanis maupun mekanis. Perhatikan, misalnya, salah satu iklan rokok yang tampilan visualnya sama sekali tidak memperlihatkan seseorang yang sedang merokok. Iklan itu menggambarkan seorang eksekutif yang duduk di pinggir pantai dengan pakaian formal langsung menceburkan diri dalam laut membantu seorang nelayan yang sedang bermasalah dengan perahunya. Slogan yang diluncurkan pun cukup bermakna: “Menembus Batas”. Maka imej yang tampak adalah sikap setia kawan yang mampu melewati batasbatas status sosial dan rela membantu tanpa pamrih. Dilihat dalam konteks Indonesia sekarang - dengan perbedaan antara kelompok kaya dan miskin - iklan ini menjadi begitu “mulia” oleh pesan ganda yang ditawarkan. Yang perlu disadari dari promotional culture adalah sifat demokratisnya, yang masih menyediakan ruang bagi siapa saja untuk mempertimbangkan penawaran yang dilakukan. Setiap orang bisa menolak dan bisa menerima. Bahkan setiap orang punya kesempatan untuk mengiklankan apa saja yang dapat menjadi objek keinginan bagi orang lain. m Teuku Kemal Fasya, mahasiswa magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma

25

Perpu anti terorisme yang diundangkan Oktober tahun 2002 merupakan rumusan yang mengikis hak-hak sipil Dan Perpu ini belum tentu dapat membantu pemerintah untuk menangkap terorisme, malah setiap orang akan dapat terlibat terorisme. Komentar beberapa pasal krusial dalam Perpu No. 1 dan 2 tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Tindak pidana terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.
Rumusan pasal ini sangat tidak memberikan arti secara definitif tentang terorisme. Seharusnya, pasal ini memberikan definisi yang jelas mengenai arti terorisme, kemudian tindakan-tindakan seperti apa saja yang dikategorikan tindakan terorisme, diturunkan dalam pasal-pasal berikutnya. Bukan terbalik seperti pasal ini, setiap orang (secara tidak langsung) diminta untuk mendefinisikan sendiri arti terorisme berdasarkan rumusan pasal-pasal yang ada.

Pasal 6
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.
Selain unsur-unsurnya sangat luas rumusan pasal ini pun dapat ditafsirkan secara berbeda oleh setiap orang. Sangat memungkinkan setiap perbuatan seseorang atau sekelompok orang dapat dikategorikan sebagai tindakan terorisme. Hal ini dapat dilihat dari rumusan unsur menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas …. Dalam bagian penjelasannya, pasal ini tidak menyebutkan definisi menggunakan kekerasan. Aksi demonstrasi dapat saja dikategorikan sebagai tindakan terorisme jika oleh penguasa demonstrasi tersebut dianggap menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas. Suasana teror seperti apa, rasa takut yang bagaimana, masyarakat luas yang mana? Bagian Penjelasan pasal ini tidak memberi penjelasan lebih lanjut.Setiap pelaku industri, baik industri berat, ringan, maupun rumah tangga atau perorangan, dapat juga dikategorikan melakukan kegiatan terorisme jika melakukan perusakan atau penghancuran terhadap lingkungan hidup. Kesimpulan ini dilansir dari bagian penjelasan pasal ini yang memberi penjelasan bahwa yang termasuk merusak atau menghancurkan adalah dengan sengaja melepaskan atau membuang zat, energi, dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun ke dalam tanah, udara, atau air permukaan yang membahayakan terhadap orang atau barang. Unsur atau dalam rumusan pasal berarti pasal tersebut tidak mengharuskan seseorang harusmemenuhi seluruh unsur yang ada dalam pasal tersebut untuk dikategorikan sebagai teroris. Satu unsur saja yang ada dalam pasal terpenuhi, maka kegiatan seseorang dapat dikategorikan sebagai tindakan teroris. PAT GULIPAT | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

26

Ilustrasi: Alit Ambara

Pasal 26
(1) Untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup, penyidik dapat menggunakan setiap laporan intelijen. (2) Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Negeri.
Badan intelijen sebagai institusi politik yang laporan awalnya bisa dipergunakan oleh polisi dan Ketua dan wakil pengadilan sangat perlu diwaspadai Laporan intelejen dapat memanipulasi polisi dan hakim karena intelejen mempunyai kepentingan politik. Secara eksplisit dan implisit rumusan ini juga tidak memberi ruang bagi pihak kepolisian dan hakim untuk memeriksa silang bukti yang dimiliki oleh badan intelejen. Sangat tidak masuk akal untuk memberikan penilaian apakah laporan intelijen tersebut layak untuk dijadikan bukti permulaan yang cukup atau tidak. Apalagi dijadikan dasar pijakan penyidikan. Dalam KUHAP pasal 17 disebutkan bahwa perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Dalam bagian penjelasannya pasal ini KUHAP jelas mengatur bahwa penangkapan tidak dapat dilakukan dengan sewenang-wenang, tetapi ditujukan kepada mereka yang betul-betul melakukan tindak pidana.

Pasal 36
(1) Setiap korban atau ahli warisnya akibat tindak pidana terorisme berhak mendapatkan kompensasi atau restitusi.
Dalam rumusan ini perlu dipertanyakan apakah pemerintah harus membayar kompensasi terhadap seluruh korban terorisme? Padahal yang melakukan perbuatan ini bukan negara, kenapa negara harus menyediakan anggaran bagi kompensasi atau restitusi? Implikasinya negara harus mempersiapkan anggaran setiap tahun bagi kompensasi tindak pidana terorisme. Pasal ini merupakan formulasi yang bodoh, sementara rumusan mengenai terorisme masih abstrak, setiap orang bisa saja mengaku sebagai korban dari terorisme.

Pasal krusial dalam Tentang pemberlakuan perpu No. 1 tahun 2002 tentang Pemberlakuan Perpu No. 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali tanggal 12 Oktober 2002:

Perpu No. 2 Tahun 2002 Pasal 1

Ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, dinyatakan berlaku terhadap peristiwa peledakan bom yang terjadi di Bali.
Rumusan ini mensahkan Perpu No. 1 tahun 2002 untuk berlaku surut, implikasinya perpu melanggar prinsip non-retroaktif yang terkandung dalam UUD 45 pasal 28 I yakni sesorang tidak dapat dihukum atas perbuatannya sebelum perbuatan tersebut diatur oleh undang-undang. Pelanggaran prinsip non-retroaktif dapat diizinkan jika argumentasi tidak terbantahkan. Contohnya, saat diciptakan pengadilan ad-hoc bagi kejahatan terhadap kemanusiaan di Timor-Timur, merupakan kesepakatan umum, pemerintah tidak mempunyai pilihan untuk melanggar prinsip itu. Dalam kasus ini, bagaimanapun, belum ada alasan jelas untuk melanggar UUD 45. Dalam mengungkapkan kasus bom Bali, polisi tidak menggunakan Perpu. Mereka malah berhasil dengan menggunakan prosedur yang sudah ada. Pemerintah belum membuktikan bahwa seluruh pasal Perpu melanggar UUD 45 dan KUHAP yang mutlak diperlukan berhubungan dengan terorisme.

PAT GULIPAT| Media Kerja Budaya edisi 10/2003

27

>>>KRITIK SENI

MAJOR LABEL I NDEPENDENSI R OCK
Jeffar Lumban Gaol
kesempatan untuk memperkenalkan karya dan mengadu nasibnya di industri itu. Para produser tentu saja menikmati persaingan ini karena ada banyak pilihan, apalagi karena para pemula atau pendatang baru biasanya mau memberikan apa saja asal bisa masuk ke studio rekaman. Pemusik dari kalangan berpunya sedikit lebih diuntungkan tentunya karena punya akses mengikuti trend, membuat demo rekamannya sendiri dan punya peralatan serta fasilitas lainnya. Tapi sebaliknya bagi pemusik bermodal bantingan yang coba mengusung tema sosial, apalagi jika hanya mengandalkan ketrampilan dan kerja keras, akan sangat sulit mendapat tempat dalam jajaran major label. Begitulah industri musik berkembang dari waktu ke waktu. Di Los Angeles tiap hari ada 600 kelompok pemula yang coba masuk ke dunia rekaman. Dari jumlah sebanyak itu nantinya hanya ada satu-dua kelompok saja yang diterima oleh produser. Itupun setelah melalui bermacam kompromi, mulai dari pengaturan kontrak, seleksi lagu dan kompromi lainnya. Tidak ada tempat bagi mereka yang mencoba-coba mengusung prinsip ideal. Di Indonesia keadaannya bahkan lebih buruk lagi. Sebuah kelompok musik rock umumnya memegang kontrak senilai Rp 50 juta dan setiap tahun mereka harus mengeluarkan satu album jika tidak hendak dikenakan sanksi atau denda. Kontrak dalam industri rekaman major label umumnya membebani pemusik dan hanya menguntungkan produser. Sementara para pemain wajib melakukan ini-itu para produser bisa meraup keuntungan. Ambil contoh jika ada album perdana yang sukses di pasaran, kelompok musiknya belum tentu bisa langsung menikmati royalti. Mereka juga tidak tahu berapa keping kaset atau CD yang sesungguhnya laku terjual. Ada banyak kasus manipulasi seperti menaikkan jumlah produksi atau cetak ulang yang tidak dikonsultasikan lebih dulu dengan pemusik. Namun sekalipun tahu, para pemusik umumnya diam saja karena khawatir hubungan manisnya dengan produser dan industri akan terganggu. Di tengah jepitan gurita industri musik beberapa pemusik kemudian memajukan gagasan indy label atau label independen. Artinya musik yang tidak diproduksi oleh industri milik pemodal besar. Awalnya ada semangat di kalangan pemusik untuk mempromosikan indy label ini karena memberi ruang pada pemusik untuk bergerak lebih leluasa. Mereka tak perlu kompromi dalam nada, teks atau urutan seperti yang biasa terjadi di industri major label. Gerakan ini juga coba membentuk komunitas sendiri dan mendekatkan karya kepada pendengarnya. Artinya bukan produk massal yang nasibnya akan ditentukan oleh ‘selera pasar’. Namun, belakangan ini konsep indy label ternyata juga sudah dicaplok oleh produser major label. Industri rekaman bergerak cepat dan menyebutnya ‘alternatif ’ untuk membedakannya dari musik mainstream. Masalahnya di sini adalah kesiapan kelompok musik itu sendiri. Ada yang mulai sebagai kelompok yang mengusung gagasan indy label tapi dalam perjalanannya justru menggunakan kekuatan itu untuk menerobos masuk dan berkecimpung dalam industri seperti kelompok lainnya. Mereka lupa pada gagasan mendobrak keangkuhan industri rekaman dan memilih menjadi bagiannya. Komunitas pendengar yang mereka galang saat bermain di bawah panji indy label ini kemudian
KRITIK SENI | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

A

dalah cita-cita atau bahkan obsesi bagi banyak pemusik di seantero jagad untuk masuk dapur rekaman. Mereka berharap karyanya dipasarkan melalui sistem distribusi yang dikendalikan perusahaan rekaman musik bermodal besar dan mampu mendikte pasar. Memang sejak awal industri berperan mengembangkan trend musik pop atau rock di dunia. Ini bisa kita lihat dari kecenderungan kaum muda yang seringkali memiliki idola, selera dan impian yang sama. Apapun yang menjadi hits di Amerika atau Eropa, dapat dipastikan menjadi hits pula di belahan dunia lainnya. Bukan hanya itu. Cara berpakaian, model rambut dan gaya hidup pun menjadi seragam. Para produser musik di satu sisi memanfaatkan dan turut membentuk kecenderungan atau trend semacam ini. Atas nama ‘selera pasar’ (seolah pasar punya citarasa atau kepribadian sendiri), mereka membentuk dan mendikte para pemusik mengenai karya yang harus mereka hasilkan. Alhasil kebanyakan memproduksi lagu dengan tema cinta picisan atau menjajakan mimpi-mimpi, sementara musik dengan tema sosial tidak dipedulikan karena tidak mewakili ‘selera pasar’ tadi. Dari sini kita melihat bahwa apa yang disebut ‘selera pasar’ sesungguhnya adalah keinginan dari segelintir produser dan pemilik modal yang menguasai industri itu. Tentu saja ditambah ‘selera’ kaum muda yang dibentuk sedemikian rupa oleh saluran media, terutama televisi dan media digital, yang mereka kuasai juga. Namun tumbuhnya industri musik secara massal melahirkan generasi baru pecinta musik yang datang dari beragam kelas sosial. Anak-anak dari kalangan menengah bawah pun mendapat

&

28

mereka jadikan komoditi dalam tawar-menawar dengan para produser. Persis seperti politik dagang sapi, jual-beli suara pendukung untuk keuntungan sendiri. Kelompok yang bergerak dari bawah memang umumnya punya daya hidup yang kuat. Mereka sering menggelar pertunjukan sebagai ajang uji coba dan sekaligus menempa para personelnya agar lebih matang dalam proses, serta menangkap psikologi para pendengar musiknya. Mereka bebas mencipta tanpa tekanan sekaligus membangun lingkaran pendengar yang sekaligus menjadi pendukung. Tapi tidak banyak yang mampu bertahan saat harus berhadapan dengan industri major label. Dalam konteks ini kita perlu melihat pengalaman kelompok Rage Against the Machine yang sering disingkat RAM. Mereka mampu menembus pasar tanpa harus kehilangan identitas atau prinsipnya dalam bermusik. Setelah sukses menembus pasar, vokalis Zack de la Rocha mengundurkan diri dan memutuskan menjadi petani di Meksiko. Mereka juga menyisihkan sebagian royalti yang diperoleh untuk membantu perjuangan petani melalui sebuah lembaga yang memperjuangkan hak-hak mereka. RAM ini hadir tepat saat kelompok death metal seperti Spultura atau trash metal seperti Iron Maiden dan Metallica kehilangan pamornya. Trend yang mengandalkan noise, speed dan napas magic yang dangkal tak bisa bertahan lama. Kelompok Halloween coba bangkit dengan tema sosial tapi juga tak bisa berbuat banyak. RAM memilih cara lain. Bagi mereka teks dalam lagu memainkan peran sentral. Dari segi musik mereka coba memadu hip-hop dengan heavy metal sehingga menjadi hip
KRITIK SENI | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

metal. Di atas musik seperti itu Zack de la Rocha kemudian melafalkan teks-teksnya dan kadang bahkan berpidato menyampaikan pesan-pesan sosial dan politiknya. Cara ini berbeda dari rap yang juga melafalkan pesan. Jika kita mendengar RAM, musik atau bunyi instrumen seringkali hanya berfungsi mengawal unsur dramatik yang sesekali meledak dalam fase yang bisa kita umpamakan sebagai interlude atau coda. Tapi tetap berbeda dari musikalisasi puisi yang coba membuat jembatan harmoni bunyi dengan teks sedemikian rupa. Dalam musik rock seperti RAM perkawinan tema melodi vokal dengan teks atau lirik, bukan lagi soal. Justru di sini sumbangan RAM bagi perkembangan selanjutnya yang diikuti oleh Limpbizkit, Linkinpark dan lainnya. Sekarang ini bahkan ada yang menambahkan seksi portable atau semacam disc-jockey sebagai pelengkap. Gaya dan pengaruh RAM tentunya menjadi wabah bagi sebagian anak muda yang hidup dalam dunia MTV. Dengan sedikit modifikasi mereka terang-terangan meniru warna bunyi dan aksi panggung RAM, sayangnya tanpa pernah mempelajari prinsip bermusik kelompok itu. Akhirnya yang kita lihat hanyalah teks-teks datar dan kosong serta gaya urakan yang tidak mencerminkan perlawanan apa pun. Mereka juga tidak tahu persis apa yang sesungguhnya mereka mainkan dan untuk kepentingan apa. Bagi mereka tampil di panggung, seperti halnya para pemimpi yang mengharapkan belas kasihan industri rekaman, adalah pencapai tersendiri. Berbeda dari RAM yang memilih jalan musik untuk menyampaikan pikiran kritisnya. Ironisnya industri rekaman pun tahu itu dan

memanfaatkannya menjadi barang dagangan baru. Kelompok-kelompok musik akhirnya semakin tidak menyadari bahwa kehadiran mereka di tengah industri musik bukan karena adanya dedikasi yang kuat atau eksplorasi teks dan bunyi sebagai bentuk tanggungjawab sosialnya, melainkan sekadar untuk mengisi kekosongan pasar dalam negeri yang begitu besar. Mereka tidak sadar hanya menjadi sekrup kecil dalam industri musik yang bisa dicampakkan kapan saja ketika ada trend baru yang muncul. Karya mereka umumnya hanya bersandar pada apa yang dihasilkan ‘di sana’ (Barat) dan tidak berpijak pada realitas sosial di negerinya sendiri. Dari segi ini kecenderungan ini tidak banyak bedanya dari kelompok boys band yang manis, imut-imut dan membuat gemas penggemar. Kelompok seperti ini lebih tidak ada hubungannya dengan musik sebagai ekspresi. Kadang anggotanya dipungut dari tempat berbeda-beda, tidak pernah mengenal satu sama lain apalagi berkarya bersama, tapi dipasangkan sebagai ‘kelompok’ karena kesamaan wajah dan gaya. Adalah produser yang mengatur segalanya mulai dari lirik lagu, warna musik, koreografi, pakaian sampai kehidupan publiknya.
TERNATIF L IMITED EDITION, ALTERNATIF BARU?

Di tengah jepitan industri musik masih ada kelompok yang independen dan coba mengandalkan kekuatan sendiri. Di masa mendatang kecenderungan seperti ini nampaknya akan lebih dikenang karena karyakarya mereka diproduksi terbatas dan untuk kalangan sendiri. Mereka punya komunitas pendengar dan pendukung yang benar-benar menghayati pekerjaan mereka dan menge29

Rage Against the Machine

nal kiprahnya dalam bidang lain. Berbeda dari kelompok yang bermain di mainstream yang harus berlomba menyesuaikan diri dengan ‘selera pasar’. Karya mereka dibuat secara jujur dengan pesan yang jelas pada para pendengarnya. Di samping itu apa yang disebut ‘pasar’ ini sebenarnya sudah jenuh pada produk massal yang memperlakukan mereka sekadar konsumen. Banyak orang yang mencari karya yang lain dari apa yang beredar di pasar. Kemudahan teknologi rekaman saat ini memungkinkan kelompok rock untuk tidak lagi bergantung pada produser bermodal besar. Studio rekaman kecil tersebar di mana-mana, bahkan sampai di perkampungan menengah bawah. Para pemusik juga semakin kreatif menciptakan bunyi yang tidak selalu mengandalkan peralatan mahal dan canggih. Tapi adanya komunitas pendengar dan pendukung yang nampaknya membuat kecenderungan seperti ini bisa tumbuh subur. Semua ini menciptakan wawasan baru di kalangan pemusik. ‘Apa perlunya membuat kontrak de-

ngan produser jika kita bisa memproduksi 25.000 keping CD dan menjualnya sendiri?’ Memang dari penjualan tangan-ke-tangan biaya produksi bisa ditutup. Jika gerakan berbasis komunitas pendengar ini meluas – mesti diingat kaum muda Indonesia jumlahnya lebih dari seratus juta jiwa – maka industri rekaman boleh gigit jari. Dengan produksi limited edition (edisi terbatas) seperti ini pemusik punya kontrol lebih kuat terhadap penyebaran karya mereka. Mereka juga tidak perlu menjual hak cipta ke tangan produser dan bisa mendapat penghasilan langsung dari karya mereka, dan tidak terjebak ke dalam kontrak yang menjerat. Pementasan dengan sendirinya juga berbeda. Dalam industri major label mereka sangat bergantung pada promosi di televisi atau tour yang diatur oleh produser. Dalam produksi limited edition mereka akan menggelar pertunjukan sendiri dan mau tidak mau mendekatkan diri pada komunitas pendengar dan pendukungnya. Jaringan televisi yang selama ini diandalkan oleh produser dan kelompok musik major label

memang sangat andal untuk promosi tapi juga punya kekurangan. Unsur bunyi dan teatrikal yang inheren dalam musik rock seringkali tidak terangkat. Dalam televisi bunyi menjadi kering karena sudah dipermak sedemikian rupa untuk keperluan broadcast. Alhasil banyak kelompok yang sukses dalam dunia rekaman atau televisi ternyata tidak mampu berbuat apa-apa ketika harus bermain di pentas karena harus tampil telanjang tanpa dukungan teknologi. Di sinilah batu ujian bagi kelompok musik rock. Penonton akan melihat dengan jelas kelompok mana yang sebenarnya siap untuk bermain. Berdasar pengalaman, kelompok independen yang bergerak dari bawah biasanya lebih siap, karena tidak memerlukan segala trick teknologi studio dan memang tampil jujur serta apa adanya. M

Jeffar Lumban Gaol, pemusik

RAGE AGAINST THE MACHINE
pesan mereka. Musik bagi mereka bukan sekadar rekaman dan pertunjukan tapi memiliki makna politik. Berulangkali mereka melancarkan aksi memprotes ketidakadilan, baik melalui lagu maupun bermacam tingkah di atas panggung. Pada Juni 1993 misalnya ketika tampil di Philadelphia, anggota RAM memprotes sensor dari panitia dengan berdiri telanjang di panggung selama 15 menit dengan mulut ditutup isolasi. Hasil dari pertunjukan mereka seringkali disumbangkan kepada kelompok perjuangan seperti Liga Anti-Nazi di Inggris dan gerakan yang menyokong tahanan politik di Amerika Serikat. Pemberontakan petani dan suku Indian di Chiapas, Meksiko, menggugah perhatian mereka. Zack berulangkali mengunjungi tempat itu dan hasil pertunjukan mereka seringkali disumbangkan untuk mendukung perjuangan rakyat di tempat itu. Mitos bahwa seni tak dapat dipadu dengan politik yang dipegang banyak produser rekaman rontok ketika penjualan album mereka menembus angka satu juta keping pada Agustus 1994. Berturut-turut mereka mendapat penghargaan album emas dan platina karena penjualan yang terus menanjak. Tapi keberhasilan secara finansial tidak membuat mereka lupa diri. Mereka terus rajin mengorganisir pertunjukan amal di berbagai tempat dan hasilnya diserahkan kepada bermacam organisasi termasuk kelompok pendukung Mumia Abu-Jamal, seorang kulit hitam yang dihukum mati karena tuduhan membunuh dan Koalisi Nasional untuk Demokrasi di Meksiko. Penghargaan pun terus meluncur, sekalipun para produser dan establishment seni dan hiburan di Amerika Serikat kadang pusing dengan ulah mereka. Menjelang akhir 1990-an mereka semakin giat mengumandangkan perlawanan dan protes terhadap sistem yang tidak adil. Zack de la Rocha bahkan pernah tampil di hadapan sidang Komisi Tinggi HAM PBB untuk berbicara tentang kasus Mumia Abu-Jamal dan pemberlakuan hukuman mati di Amerika Serikat. Sekembalinya dari sana ia berbicara lagi di hadapan demonstran yang menentang penahanan Mumia. Bagi Zack dan Tom, dua personel yang paling aktif dalam kegiatan politik, “musik adalah jalan kami untuk menyampaikan protes terhadap ketidakadilan.” (fn)

T

idak ada yang istimewa dalam latar belakang pembentukan Rage Against the Machine (RAM). Adalah penyanyi RAM Zack de la Rocha yang menjadikan judul salah satu lagu kelompok lamanya, Inside and Out, sebagai nama kelompok barunya. Sebuah nama sederhana yang sangat bermakna. Pemain gitar Tim Morello menjelaskan bahwa “mesin” yang hendak mereka lawan (rage), “bisa apa pun juga, mulai dari polisi di jalan-jalan Los Angeles yang sering menggebuki pengendara motor sampai mesin kapitalis internasional yang mau membuat manusia menjadi sekrup tak berotak dan tidak pernah berpikir melawan sistem.” Musik mereka adalah perpaduan banyak hal. Zack yang gemar hip-hop dan hardcore bertemu dengan Tim yang sangat terpengaruh hard rock dan punk. Sementara pemain bass Tim Commerford membawa warna

jazz yang dipadu dengan gebukan drum bernuansa hip-hop dan punk dari Brad Wilk. Namun dalam berbagai wawancara Zack selalu mengingatkan bahwa kategorisasi musik mereka tidaklah penting. “Diskusi seperti itu akan mengaburkan tujuan dari musik kami, yakni perlawanan terhadap sistem”. Pertunjukan perdana mereka berlangsung di ruang tamu rumah salah seorang teman Tim Morello di Kalifornia. Mereka memainkan lima setengah lagu yang mereka tulis. Penonton antusias dan meminta mereka memainkannya lagi. Merasa mendapat dukungan mereka merekam 12 lagu di sebuah studio lokal dan ikut pertunjukan di seputaran Los Angeles. Dalam waktu singkat mereka berhasil menjual 5.000 kaset rekaman mereka. Setelah itu nama RAM pelan-pelan mulai dikenal. Mereka ikut dalam tur selama 1993 dan 1994 menyebarkan

30

RAM

KRITIK SENI | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

sisipan
10/2003

M

SIARAN TELEVISI MESIN PRODUKSI MAKNA KAPITALISME
Purwantari & Pitono Adhi

nobodycorp.

S

aat ini setiap pesawat televisi di kota-kota besar hingga pedesaan di Indonesia menjadi media yang dinanti kehadirannya, tak kurang dari 11 stasiun penyelenggara siaran televisi dalam negeri. Termasuk yang paling tua dan kemudian paling banyak ditinggalkan penonton, TVRI. Lima di antaranya muncul dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini, justru di tengah krisis multidimensi yang juga ditengarai dengan menguatnya kembali kekuatan-kekuatan lama anti perubahan. Siaran televisi mampu menyeruak masuk ke ruang-ruang kehidupan masyarakat, sebagai pilihan yang paling mudah dan dianggap alamiah untuk mengisi waktu luang di rumah. Ia menyatu dan senafas dengan aktifitas kebanyakan rumah tangga. Dari yang miskin hingga kaya raya.
31

Pola konsumsi lintas kelas, yang juga sangat disadari oleh pengelola stasiun televisi, sering menjadi basis argumen untuk mengatakan televisi sebagai media komunikasi yang demokratis. Perhatikan misalnya beberapa motto yang diciptakan pengelola siaran televisi, misalnya “RCTI – Kebanggaan Bersama Milik Bangsa” atau “Indosiar – Memang Untuk Anda.” Tapi pesan-pesan seperti apa yang dikonsumsi secara lintas kelas tersebut?

Informasi dan Hiburan: Kerangka Umum bagi Seluruh Mata Acara

T

erdapat dua hal pokok yang pasti dijanjikan oleh setiap siaran televisi yakni informasi dan hiburan. Dalam hal penyajian informasi atau berita, kemasannya bisa bermacam-macam. Mulai dari siaran berita yang isinya bersifat umum, lalu ada juga informasi kekinian (hardnews) tiap 1 jam

Kemasan hiburan pun demikian. Berupa film import berasal dari industri film Hollywood, film India, Mandarin, serta program dokumenter dan beragam show. Padahal kalau kita simak secara baik film India mempunyai problem kompleksitas. Dalam filim India terdapat empat aspek yakini asmara, musik/menari, perkelahian dan humor. Seluruh aspek ini dicangkokkan kedalam film televisi Love in Bombay, dan akhirnya menjadi hiburan yang tidak masuk akal dalam konteks masyarakat Indonesia. Masih dalam kategori import adalah siaran olahraga yang didominasi oleh pertandingan sepakbola, bola basket, tinju, otomotif dan dalam porsi yang paling kecil yakni golf. Produk lokal yang cukup dominan ialah sinetron, kuis (umumnya menjiplak program kuis luar negeri – baca: Amerika) dan acara musik. Juga produk lokal namun dalam porsi yang lebih kecil ialah kemasan hiburan berupa film Indonesia (umumnya komedi dan telah kedaluwarsa serta didominasi oleh kelom-

stasiun televisi. Termasuk TVRI yang telah diijinkan kembali untuk menayangkan iklan. Maka saluran televisi apa pun yang dipilih oleh para penonton, serta merta mereka akan disergap bukan hanya oleh format acara yang seragam tetapi juga oleh tayangan iklan yang hampir sebagian besar sama persis. Secara keseluruhan, sekitar 60% hingga 65% dari total mata acara dalam siaran televisi merupakan mata acara yang berisi hiburan, termasuk siaran olah raga di dalamnya. Prosentase ini jelas bertambah jika kita memasukkan pula durasi waktu yang disediakan untuk tayangan iklan. Mengingat teknik periklanan yang terus berkembang, yang memungkinkan iklan hadir dalam visualisasi yang menakjubkan alias mampu membungkus aktivitas menjajakan barang dan jasa dengan cara halus namun tetap persuasif dan menghibur. Michael Parenti dalam bukunya “MakeBelieve Media The Politics of Entertaintment” mengatakan bahwa media hiburan, ter-

sekali, serta berita dengan tajuk khusus yang didominasi oleh dua tema besar yakni tema kriminalitas dan pasar uang/bursa efek. Ada pula kemasan informasi yang dalam tiap penyajiannya berfokus pada satu tema tertentu. Berganti-ganti dari satu tema ke tema lainnya namun tetap bersumber pada program impor yang disajikan dalam kemasan siaran berita umum. Hampir seluruh kemasan informasi tersebut dimiliki oleh setiap stasiun siaran televisi, sebuah cirikhas dari televisi yangtidak mempunyai karakter.
32

pok Warkop – Dono, Indro, Kasino), siaran sepakbola dan tinju, dunia mode, kehidupan selebritis serta variety show yang juga habis-habisan menjiplak program sejenis milik siaran televisi di Amerika. Sama halnya dengan kemasan informasi yang dimiliki oleh setiap stasiun televisi di sini, kemasan hiburan yang disajikan setiap stasiun televisi di Indonesia pun mencirikan pola yang seragam. Yang tak boleh dilupakan adalah siaran iklan yang sebenarnya menjadi penopang utama terselenggaranya siaran dari setiap

masuk televisi, merupakan media yang mampu membentuk keyakinan kita. Dewasa ini, demikian lanjutnya, keyakinan yang terbentuk itu hanya sedikit yang berasal dari permainan anak-anak, cerita lisan, kisah-kisah rakyat, dan dongengdongeng, lebih sedikit lagi yang berasal dari sandiwara-sandiwara dan mimpi-mimpi dalam tidur kita sendiri. Sebaliknya saat ini terdapat industri film Hollywood dan siaran televisi bernilai jutaan dolar yang menghasilkan berbagai citra dan tema yang telah siap untuk dijejalkan dan dipasang memenuhi benak kita. Namun hal itu tidak cukup dipandang sebagai sebuah kegiatan selingan yang tak berarti. Tetapi sebagai-

nobodycorp.

sisipan M
10/2003

mana diargumentasikan dalam keseluruhan buku tersebut, berbagai citra yang ditampilkan lewat layar kaca televisi sering kali mengandung kepentingan ideologis. Lebih buruk lagi, muatan ideologis tersebut meremehkan kemampuan kritis manusia menghadapi kenyataan yang mengerikan dalam kehidupan manusia dan sistem sosiopolitik kita, dengan cara membenamkan ke dalam benak kita berbagai gambaran yang bersifat sebaliknya, yakni gambaran kehidupan yang dangkal dan serba aman. Bahkan jika ada anggapan yang menyatakan bahwa sebuah industri hiburan tidak membawa kepentingan politis serta ideologis dalam tujuannya, produk hiburan tersebut tetaplah bersifat politis dari segi pengaruh yang ditimbulkannya. Memperkuat argumen tersebut Michael Parenti mengajukan pertanyaan, bagaimana mungkin kita mengatakan film Hollywood dan siaran televisi sungguhsungguh

dari sekolah dasar berlainan. Kompetisi dibagi dalam tiga sesi. Di tiap sesi, kelompok yang mengumpulkan angka tertinggi menjadi pemenang dan mendapat hadiah berupa uang Rp 1 juta. Seluruh hadiah yang disediakan berjumlah Rp 6 juta. Kriteria memperoleh angka tinggi adalah berhasil menjawab pertanyaan secara benar atau menyelesaikan tugas seperti yang diminta dalam waktu yang paling singkat. Para peserta harus menjawab pertanyaan seputar pengetahuan umum seperti “pulau apa yang terkenal dengan danau Toba-nya?, burung apa yang terbang sangat tinggi?”; membuat kata dari balok-balok huruf yang disusun dari balok terbesar ke balok terkecil; menghitung hasil penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, mengambil bendera, membawa kelereng tanpa jatuh, melewati kayu tipis tanpa jatuh, serta berjalan dengan bakiak tandem. Di sesi terakhir, pemenang harus masuk ke semacam arena dimana terdapat berbagai rintangan untuk mencari hadiah dan bonus terbesar dari sponsor utama.

ditujukan bagi anak usia sekolah dasar. Bagi mereka, program ini tampak sebagai acara yang mengasah kemampuan otak sekaligus menghibur. Akan tetapi, penonton dewasa yang kritis akan dengan mudah melihat acara ini sebagai tontonan untuk membujuk anak agar memakai produk yang dijajakan iklan dan sponsor utama kuis. Main Bersama Joshua memberi pesan jelas kepada anak-anak, yaitu kompetisi untuk memenangkan secara rakus seluruh hadiah yang ditawarkan dan membeli seluruh produk yang diiklankan. Ideologi kompetisi yang disebarkan di sini, memberi pemahaman kepada anak-anak bahwa menjadi pemenang kompetisi itulah satusatunya pilihan yang harus mereka raih. Para pemenang kompetisi menjadi contoh orang-orang yang sukses dengan ukuran materi: mendapat sejumlah uang sebagai hadiah. Lewat kuis ini, anak-anak dicekoki dorongan berkompetisi untuk meraih materi di usia yang sangat dini. Di dalam kuis ini memang ditampilkan juga semacam latihan kemampuan akademik menyangkut pengetahuan umum dan berhitung. Akan tetapi, latihan ini menjadi sekedar tujuan sampingan yang bahkan tampak dilakukan secara sambil lalu. Kesan sam-

‘murni’ hanya menghibur, ketika mereka secara teratur mempropagandakan tema politik tertentu sambil secara hatihati menghindari topik lainnya?

Perkenalan Sejak Masa KanakKanak: Ideologi Kompetisi, Perilaku Konsumtif dan Kekerasan

P

rogram yang dirancang untuk anakanak tidak lepas dari tujuan mem bentuk perilaku konsumtif pada anak. Selain iklan –yang menjadi tujuan utama dibuatnya program-program anak— program kuis anak pun sangat gencar mempengaruhi pola konsumsi dan cara berpikir anak. Satu contoh yang bisa dikemukakan di sini adalah kuis Main Bersama Joshua. Program ini menyajikan kompetisi yang dibungkus dengan permainan, antara dua kelompok yang anggotanya berasal
SISIPAN | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

Program ini dipandu oleh Joshua, seorang penyanyi cilik dan model berbagai iklan produk untuk anak maupun bukan untuk anak. Maka sebagian besar iklan di acara ini adalah iklan produk yang memakai Joshua sebagai model: susu Indomilk, pakaian dan asesoris pelengkap merek Cubitus, Larutan Cap Kaki Tiga serta Inaco Jelly. Mata acara ini tidak hanya tampil dalam iklan di tiap jeda acara. Ia juga diucapkan oleh Joshua setiap kali pemenang sebuah sesi mendapatkan hadiah. Ucapan itu berbunyi seperti : “Joshua senang pakai kaos Cubitus”, “kalau mau tidur nyenyak, beli kasur Central Spring Bed”. Selain itu, hampir di sepanjang acara, untuk memotivasi peserta, Joshua mengingatkan bahwa para pemenang akan mendapatkan hadiah. Dilihat dari peserta, isi acara dan waktu tayang (Minggu, jam 15.00), kuis ini

pingan muncul dari jenis pertanyaan yang tidak membutuhkan penalaran khusus, hanya semacam hafalan dan tebaktebakan. Yang lebih penting lagi, seluruh latihan kemampuan akademik ini dimotivasi oleh pencapaian materi dan bukan pemahaman akan persoalan yang sedang diangkat. Hampir sebagian besar anak Indonesia –dan barangkali di seluruh dunia—mengenal televisi sejak usia balita. Kebanyakan anak menonton seluruh program mulai dari film kartun, kuis anak, pentas musik anak, sinetron, berita hingga iklan. Bisa dipastikan bahwa porsi terbesar yang
33

ditonton adalah iklan, karena seluruh program – baik program anak maupun dewasa – diselingi dengan iklan. Dalam bukunya, Parenti mengemukakan bahwa di AS, begitu seorang anak memasuki sekolah taman kanak-kanak, ia sudah akan menonton sekitar 75 ribu iklan televisi dengan durasi 30 detik. Begitu beranjak remaja, rata-rata seribu iklan akan menerpanya setiap minggu. Tingginya frekuensi terpaan iklan, menjadikan televisi sebagai medium yang menanamkan mentalitas konsumtif pada anak-anak sejak usia sangat dini. Produk seperti makanan cepat saji atau camilan sejenis chiki, biskuit oreo, susu, mainan, peralatan sekolah, segera menjadi seolaholah kebutuhan pokok mereka. Anak mengidentifikasi kebutuhan mereka seperti yang ditawarkan iklan. Lebih jauh lagi, iklan juga mengajarkan anak meminta kepada orang tua untuk mengeluarkan uang membeli produk yang diiklankan. Kebiasaan ini sekaligus mempersiapkan orientasi konsumsi mereka saat dewasa dan sudah berpenghasilan nanti, yakni menempatkan iklan sebagai referensi utama dan alamiah dalam memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, hingga pemenuhan simbol status dan gaya hidup. Berkaitan dengan orang tua, iklan ikut mendefinisikan hubungan antara orang tua dan anak. Artinya, hubungan kasih sayang yang menjadi ikatan di antara mereka, bergeser pada sebatas tindakan membelikan barang-barang yang diiklankan. Seperti yang ditampilkan oleh iklan susu , Nutren. Iklan ini menawarkan produk susu yang menggantikan konsumsi nasi dan lauk-pauk yang menjadi makanan pokok anak. Narasi awalnya menampilkan seorang anak sedang makan di meja makan ditemani pengasuh yang sedang asyik nonton televisi. Si anak kelihatan enggan makan dan secara sembunyi-sembunyi memberikan sebagian makanan di piring ke kucing yang ada di bawah meja makan. Tidak lama, sang ibu datang. Si anak lalu pura-pura menyendok makanan di piring. Walau akhirnya mengetahui perilaku anaknya yang membuang makanannya, si ibu hanya tersenyum. Adegan ini diisi dengan suara narator “…….karena ibu paling tahu”. Iklan ini diakhiri dengan adegan si anak minum susu sebagai pengganti nasi dan lauk pauknya. Dua pesan yang hendak disampaikan iklan ini, (1) minum susu sama saja dengan makan nasi. Maka apabila anak tidak mau makan, cukup diberi susu Nutren saja; kata
34

lainnya iklan ini bukan hanya memperkenalkan produk makanan instan, tetapi juga mensosialisasikan cara berpikir dan jalan keluar yang bersifat instan kepada ibu-ibu yang sedang menghadapi persoalan anakanak yang susah makan, (2) susu Nutren merupakan materialisasi kasih sayang dan perhatian seorang ibu terhadap anak. Pesan pertama menunjukkan bahwa iklan telah ikut menentukan menu sehat yang seharusnya tetap dikonsumsi seorang anak terutama ketika si anak sedang mengalami kondisi susah makan, sambil menyingkirkan solusi-solusi lain yang sebenarnya bersifat lebih menetap dan berjangka panjang dalam hal menanamkan kebiasaan makan yang positif kepada anak-anak. Selanjutnya, pesan kedua mendefinisikan bentuk perhatian yang seharusnya diwujudkan seorang ibu kepada anaknya supaya tetap sehat. Inilah proses komodifikasi kasih sayang orang tua kepada anaknya. Salah satu film anak yang diputar di Indosiar mengambil tokoh lokal, Saras Pahlawan Kebajikan & the Milky Man. Film ini mendapat sponsor utama dari produsen susu untuk anak-anak, Dancow. Sebuah episode yang pernah diputar berjudul “Aksi Gang 5”, menceritakan aksi kekerasan berupa penculikan terhadap 3 gadis pelajar SMU – anak-anak para pengusaha kaya – oleh sebuah gank berandalan yang terkenal dengan keahlian mereka bermain sepeda. Alasan penculikan berlatar belakang kecemburuan gank laki-laki tersebut terhadap para pelajar itu yang mereka nilai overacting dalam sikap keseharian. Selama penculikan, tindak kekerasan berlanjut dengan pemaksaan kepada korban untuk menghisap rokok di bawah ancaman senjata pisau. Aksi penculikan ini berakhir dengan datangnya tokoh-tokoh utama dalam film ini yakni Saras dan Milky Man yang membebaskan para korban dengan cara menghajar dan menundukkan para pelaku penculikan lewat cara kekerasan pula. Versi awal film ini hanya menampilkan tokoh Saras dengan sebutan lengkap Saras 008, sekaligus sebagai judul film. Sponsor utamanya adalah perusahaan layanan jasa komunikasi sambungan langsung internasional 008. Dalam perjalanannya, kontrak dengan 008 selesai tanpa ada perpanjangan. Ketika sponsor lain datang, dengan serta merta tokoh baru dihadirkan mendampingi tokoh lama yang diubah namanya begitu saja, menjadi Saras Pahlawan Kebajikan. Pola menyediakan slot waktu tertentu secara total atau sebagaian besar

untuk kepentingan promosi produk, menjadi salah satu ciri utama dalam produksi program lokal siaran televisi. Sehingga orientasi utama dari produk lokal khususnya film cerita, sangat jauh dari upaya menyajikan struktur, karakter serta setting cerita yang logis, apalagi ide cerita yang edukatif. Sebaliknya slot film cerita produk lokal lebih banyak diabdikan bagi kepentingan promosi produk sponsor. Menampilkan sosok pahlawan yang secara individual mampu mengatasi konflik, merupakan pola umum dalam sajian filmfilm cerita. Tindakan kekerasan ditampilkan sebagai pemicu konflik sekaligus jalan keluar mengatasi konflik. Sejak usia dini anak-anak sudah diperkenalkan pada bentuk kekerasan mulai dari baku hantam tangan kosong, hingga penggunaan senjata tajam seperti pisau yang sebelumnya hanya diketahui oleh anak-anak sebagai salah satu perlengkapan memasak di dapur. Lewat film ini – dan di banyak film-film lainnya – pengetahuan anak tentang bentuk dan perlengkapan kekerasan yang lebih canggih seperti senjata api dan mesin perang lainnya menjadi terbuka lebar. Episode “Gank 5” memelihara pengetahuan itu sambil menempatkan tokoh pahlawan di dalam cerita itu sebagai perpanjangan tangan dari aparatus negara sebagai pihak yang paling mempunyai legitimasi dalam menyelesaikan konflik di masyarakat dengan cara kekerasan. Ini tampak ketika di akhir episode itu Saras dan Milky Man menyuruh korban penculikan segera melaporkan persoalan mereka kepada polisi. Ideologi kekerasan tersebar di banyak program televisi baik untuk anak maupun orang dewasa. Film kartun yang narasinya tidak secara hitam putih menampilkan tokoh baik dan tokoh jahat pun tidak luput dari adegan kekerasan. Film jenis ini, seperti serial Walt Disney, menampilkan perilaku kekerasan sebagai unsur tetap dalam narasinya. Pada tahap awal, unsur kekerasan yang ditampilkan memang mampu membuat penonton anak-anak tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi di tingkat yang lebih dalam adegan-adegan tersebut menjadikan kekerasan sebagai sesuatu yang alamiah. Misalnya adegan jatuh dari atas jurang, dipukul dengan palu godam besar, terlindas kereta atau truk yang semuanya tidak mengakibatkan kematian, paling jauh hanya luka-luka yang tidak serius. Program yang secara telanjang menampilkan kekerasan, dalam arti tak memerlukan bungkus alur cerita pun tidak luput dari perhatian anak-anak. Yang paling

sisipan M
10/2003

spektakuler adalah mata acara yang oleh pengelola televisi dikategorikan ke dalam program olah raga (!) “Smack Down.” Di atas arena mirip ring tinju, acara ini menampilkan dua petarung atau lebih yang saling berusaha melumpuhkan lawan dengan diperbolehkan menggunakan segala macam teknik berkelahi tangan kosong. Demikian vulgarnya kekerasan yang ditampilkan, hingga seringkali pertarungan tetap dilanjutkan meskipun para petarung sudah berada di luar ring, bahkan hingga memukul wasit. Begitu populernya acara ini sehingga kerap dipergunakan dalam bahasa dan praktek permainan anak-anak sehari-hari terutama dari kalangan kelas bawah. Program ini memang disiarkan di atas jam 22.00, dengan pertimbangan dari pihak pengelola siaran televisi bahwa acara ini hanya akan ditonton oleh orang dewasa. Bila kita mengamati kenyataan masyarakat yang sedang krisis, akan mengunyah apa saja yang disodorkan oleh televisi tanpa mempunyai penyaring. Keadaan ini menjadikan candu bagi masyarakat, ketagihan akan mata acara televisi bagi anak-anak sudah tidak dapat dikendalikan oleh orang tua dari struktur kelas sosial manapun. Hampir rata-rata orang tua sibuk mengejar setoran dapur, tidak lagi perduli dengan acara apa yang ditonton oleh anak. Sebagaimana Ram Punjabi secara gamblang menegaskan, kita memproduksi acara televisi bagi keluarga yang sudah kelelahan mencari nafkah, hiburan kekerasan apapun akan dilahap bukan untuk menghibur dan mendidik penonton. Sebagai bahan perbandingan, menarik untuk diungkap di sini, kesimpulan yang diajukan Parenti. Pertama, adegan kekerasan di dalam film dapat menjadi pemicu pada tingkah laku anak yang mengarah pada peningkatan agresifitas anak hingga perilaku kekerasan anak. Struktur narasi yang dikembangkan dalam film tersebut, pada akhirnya memberitahu bahwa kekerasan menjadi solusi akhir bagi semua persoalan. Kedua, sangat menarik bahwa film-film tentang kekerasan yang ditampilkan televisi, sejalan pula dengan pemasaran mainan anak-anak dan produk ikutan lainnya yang mengacu pada tokoh-tokoh yg ditampilkan di dalam film-film itu. Ambil contoh misalnya berbagai jenis robot, tokoh Kura-kura Ninja, robot atau boneka He-Man, GI Joe, Superman, Batman & Robin, Spiderman, Man In Black, Power Puff Girl, Donald Duck, Mickey Mouse,
SISIPAN | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

Crayon Sinchan, hingga berbagai mainan mesin perang Amerika Serikat seperti tank, senapan mesin, granat, pesawat tempur, dan boneka prajurit tentara. Pola ini pun terjadi pada program untuk anak yang mengedepankan rangsangan menekuni pelajaran di sekolah seperti Sesame Street dan Teletubbies. Ketiga, menonton televisi terlalu sering dapat menurunkan prestasi akademik, kemampuan membaca, mengikis kekuatan/kemampuan linguistik, mengurangi kemampuan mengabstraksi simbol-simbol, memperpendek waktu anak-anak untuk memperhatikan sesuatu secara mendalam/sulit berkonsentrasi. Ini akibat tontonan berupa gambar yang berganti secara cepat. Jadi televisi mendorong anak bersikap pasif dan memupuk kemampuan resepsi tanpa berpikir panjang terhadap segala yang ditawarkan media ini. Keempat, untuk anak-anak dari keluarga kelas bawah, televisi menjadi sumber informasi utama tentang makanan sehat menurut iklan. Iklan menawarkan banyak makanan dengan aneka zat pewarna/ pemanis buatan yang dapat merusak kesehatan. Padahal dalam kenyataannya, anak-anak dari keluarga kelas bawah tak mempunyai akses kepada pemeriksaan kesehatan secara rutin. Kelima, iklan makanan seringkali menggambarkan anak-anak sebagai mahluk kecil yang rakus sedang melahap segala jenis makanan yang ditawarkan: permen, biskuit, chiki, snack, soft drink, junk-food, mie-instant dengan rasa lapar berlebihan, di bawah persetujuan para ibu, yang seringkali merupakan pendorong anak-anak untuk mengkonsumsi berbagai jenis junk-food dan menganggapnya sebagai cara untuk membuat anak bahagia. Keenam, pengaruh propagandis dan psikologis terhadap orang dewasa, terjangkit pada anak di usia sangat dini: menjadi penonton pasif, isolasi individu, militerisme, superpatriotisme, seksisme dan peran gender yang konvensional, konsumerisme tanpa batas, dan keserakahan terhadap uang; semua ini didapat sepanjang hari dari tontonan di televisi untuk anak dari segala usia.

Subordinasi Perempuan: panggung fashion sampai sinetron
ama halnya dengan anak-anak, pe rempuan menjadi target audience yang penting bagi pengelola program televisi. Mereka menyajikan acara khusus dengan waktu tayangan khusus bagi perempuan. Mata acara ini ditayang35

nobodycorp.

S

kan khususnya pada hari Sabtu pagi dan hampir sepanjang hari Minggu. Tampaknya, terdapat kesesuaian antara hari-hari penayangan program tersebut dengan pola hari kerja wanita karir yang umumnya identik dengan waktu luang mereka. Maka, materi yang ditawarkan berkisar pada pengetahuan seputar merawat anak hingga perawatan kecantikan dan penampilan. Hampir seluruh program ini ditujukan pada perempuan kelas menengah atas. Sangat jarang dibahas masalah menyangkut kondisi kerja dan kehidupan buruh perempuan, baik di sektor rumah tangga, industri maupun pertanian. Satu contoh program untuk perempuan adalah liputan tentang acara Penobatan Cosmo Girl 2002 yang ditayangkan stasiun SCTV. Cosmo Girl merupakan kontes pemilihan wanita berprestasi, diselenggarakan oleh sebuah majalah ibukota dengan nama serupa. Di acara ini, ditampilkan profil 10 gadis usia 14 – 19 tahun yang lolos seleksi sebagai finalis kontes tersebut. Lewat narasi acara tersebut, penonton diajak membedah prestasi yang dimiliki para kontestan. Acara ini terdiri atas penggalan pernyataan para finalis yang dikombinasikan dengan pertunjukkan kebolehan mereka, dan cuplikan demo perawatan wajah menggunakan produk sponsor utama melalui sebuah fragmen pendek. Beberapa finalis misalnya, mengungkapkan jati diri berikut orientasi hidup mereka, seperti “…..saya seorang Cosmo Girl karena punya prinsip serta visi dan misi…” tanpa penjelasan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan prinsip dan visi-misinya. Ada juga yang mengatakan: “…saya mengidolakan Budha Gautama karena ia menganggap materi bukan segalanya. Yang terpenting bagi Budha adalah keselamatan diri…” Peserta lainnya menyatakan: “….remaja sekarang kurang percaya diri sehingga mudah terlibat narkoba…” Ungkapan tersebut sebenarnya tidak menjelaskan kriteria prestasi yang diperlombakan. Namun, penonton digiring untuk menyaksikan sosok fisik para finalis yang semuanya memenuhi kriteria kecantikan dominan dalam industri produk perawatan wajah dan tubuh. Semua peserta bertubuh langsing, wajah halus tanpa jerawat, hidung mancung, rambut hitam terawat, masakini dalam berpakaian, dan mereka semua berasal dari sekolah swasta dan negeri favorit. Sebagai penjelasan atas prestasi mereka, ditampilkanlah unjuk kebolehan masing-masing kontestan. Ada
36

yang mempertunjukkan kemampuannya menembang lirik berbahasa Jawa, berbicara bahasa Inggris dengan fasih selama dua menit, menari, dan bermain piano. Sementara itu, sequence fragmen pendek menyampaikan informasi tentang seluk beluk teknik perawatan wajah agar halus dan putih serta bebas jerawat. Secara kongkrit, fragmen ini mempersuasi penonton untuk menggunakan produk dari sponsor utama dalam merawat wajah. Ilustrasi di atas mengkonstruksi definisi wanita berprestasi yaitu, perempuan yang pandai merawat penampilan, dalam arti mampu membeli produk kosmetik ternama, sukses dalam kompetisi yang pada intinya berbasis pada keunggulan penampilan fisik, serta berasal dari kelas sosial menengah atas yang memberi mereka akses kepada pendidikan dan pengembangan potensi diri. Singkatnya, wanita yang berprestasi adalah mereka yang cantik, kaya dan berpendidikan. Tiga faktor inilah yang juga dianggap sebagai modal memupuk rasa percaya diri. Kontes kecantikan seperti Cosmo Girl 2002 sebenarnya juga merupakan jenjang awal untuk perolehan materi yang lebih banyak. Mereka yang berhasil lolos sebagai finalis, memiliki peluang lebih besar untuk berprofesi sebagai foto model, presenter, bintang iklan, artis, dan posisi-posisi menengah dalam kerja kantoran, di mana industri siaran televisi merupakan media yang menyediakan sebagian besar kemungkinan bagi para perempuan mewujudkan hal tersebut. Acara semacam Cosmo Girl 2002 ini merepresentasikan praktek subordinasi perempuan dengan cara mengungkung dan menundukkan potensi perempuan sebatas kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh industri kosmetik serta industri hiburan termasuk siaran televisi di dalamnya. Perempuan tidak lagi leluasa mendefinisikan apa yang dianggap penting bagi dirinya. Perempuan tidak lagi leluasa melakukan kontrol atas tubuhnya sendiri. Bertubuh gemuk adalah sebuah bencana. Berpenampilan botak adalah mengerikan sekaligus sebuah kemustahilan. Menjadi buruh pabrik atau buruh perkebunan adalah kegagalan hidup, bukannya kekuatan perubahan. Gagasan yang melanggengkan subordinasi perempuan juga tersebar di program lain seperti acara fashion Wanita Gaya, Trend, Gaya, Cantik, Serasi; masakmemasak seperti Sedap Sekejap, Santapan Nusantara, Resep Oke Rudy, Rahasia Dapur

Kita; keluarga seperti Jelita, Ibu, Bayi dan Balita, Rumah Idaman, Buah Hati. Program fashion mempunyai nuansa senada dengan program Cosmo Girl 2002 dalam hal memelihara nilai-nilai ideal kepatutan penampilan yang harus diperhatikan kaum perempuan. Acara masakmemasak menempatkan perempuan sebagai penanggungjawab utama urusan pengelolaan dapur dengan standar gizi, cara pengolahan, hingga perlengkapan memasak milik kelas menengah atas. Sementara itu, program yang menampilkan persoalan seputar anggota keluarga – mulai dari hubungan suami isteri, kesehatan anak hingga kebersihan rumah – dikerangkakan sebagai persoalan yang harus diurus oleh perempuan. Program lain seperti sinetron, film dan telenovela membawa gagasan subordinasi perempuan secara lebih alamiah sehingga mampu mengkonstruksi bangunan gagasan yang lebih kokoh. Salah satu sinetron berjudul Kehormatan, ditayangkan tiap hari Selasa pukul 20.00 di Indosiar. Seperti banyak sinetron lainnya, sinetron ini mengangkat kisah percintaan. Latar belakang tokoh-tokoh cerita berasal dari keluarga kelas menengah atas (baca: pengusaha sukses). Seluruh alur cerita berpusat pada citra perempuan yang bergelut dengan persoalan hubungan dengan laki-laki. Hubungan kekuasaan tersebut dibungkus dengan kisah percintaan di antara tokoh-tokohnya. Tokoh Krisna jatuh cinta pada Tiara, gadis cantik adik kelas di kampusnya. Karena itu Cindy, patah hati kepada Krisna. Kelvin turun tangan membantu Cindy, sang adik. Kinanti, adik Krisna, dihamili oleh Kelvin, sebagai umpan untuk mengikat Krisna agar mengawini Cindy. Lalu Krisna mengawini Cindy, meski terpaksa. Tiara kecewa. Sinetron lainnya berjudul Gadis Penakluk, ditayangkan RCTI tiap Selasa pukul 20.00. Sinetron ini berkisah tentang seorang gadis SMU bernama Agnes, anak sebuah keluarga kaya. Ia tinggal bersama ibunya setelah sang ayah memutuskan untuk kawin lagi dengan alasan ingin mempunyai anak laki-laki. Semasa SMP, Agnes bersama gank-nya terlibat narkoba hingga pernah diperkosa oleh seorang kawan satu gank. Bergulat dengan persoalanpersoalan tersebut, Agnes ditampilkan sebagai gadis pemberani dan tomboy. Sikap ini sebagai bentuk protes atas perilaku sang ayah. Ia juga berupaya balas dendam atas perbuatan teman satu gank-nya.

sisipan M
10/2003

SISIPAN | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

nobodycorp.

Di stasiun lain yaitu SCTV, ditayangkan film televisi berjudul Dia Tersenyum Untukku, yang meraih Penghargaan Program Drama Ngetop Pemirsa SCTV 2002. Sinetron lepas ini berkisah tentang Putri dan Piyu, sepasang remaja satu sekolah dari kelas menengah atas yang saling jatuh cinta. Dalam perjalanannya, mereka menemui kenyataan bahwa orangtua mereka masingmasing pernah terlibat konflik. Ayah Piyu yang sudah almarhum, menjelang puncak karir semasa hidupnya difitnah oleh ayah Putri yang saat itu merupakan teman satu kantor. Akibatnya, ayah Piyu dipecat. Sebelum meninggal, usaha ayah Piyu yang dikelolanya setelah dipecat, bangkrut. Putri melarikan diri dari rumah setelah menyadari ayahnya hendak memisahkan dirinya dari Piyu. Sebagai tuntutan ia menyuruh ayahnya minta maaf kepada keluarga Piyu atas perbuatan di masa lalu. Orangtua Putri mengalah, dan minta maaf kepada ibu Piyu. Hubungan cinta Putri dan Piyu pun berlanjut mulus. Sinetron yang dibuat khusus menyambut Lebaran, salah satunya adalah Mudik Tahun Ini, ditayangkan di SCTV. Sinetron ini menceritakan kisah keluarga menengah bawah yang gagal mudik karena si kepala keluarga, tokoh bernama Ihsan, mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Dalam posisi sebagai kepala tim negosiasi di kantornya, Ihsan mengalami benturan prinsip dengan bosnya dalam cara memenangkan tender. Digambarkan, kantor Ihsan mengalami dampak krisis ekonomi yang membuat jumlah proyek yang ditangani semakin menciut. Sang bos mendesak Ihsan untuk melakukan suap pada pemberi proyek. Alasannya, jika proyek tsb tidak bisa diraih, perusahaan akan gulung tikar. Istri Ihsan, mendukung sepenuhnya sikap Ihsan yang mempertahankan sikap jujur dalam memperoleh penghasilan. Hingga ketika Ihsan mengundurkan diri dari kantor, sang isteri menunjukkan ketabahan sebagai ibu rumah tangga. Ketabahan itu bersandar pada keyakinan bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya. Tentu saja, segala rencana mudik lebaran terpaksa dibatalkan, meskipun kedua anak mereka awalnya kecewa berat. Persoalan citra ideal seorang perempuan tergambar dalam jalinan cerita masingmasing sinetron. Yang terpenting di antaranya adalah tanggungjawab perempuan dalam urusan domestik. Setiap alur sinetron, menampilkan pembagian kerja secara seksual antara laki-laki dan perempuan yang terikat hubungan
37

suami-isteri. Perempuan, baik bekerja apalagi tidak bekerja, mengambil porsi terbesar pada urusan domestik. Mulai dari menyelesaikan pekerjaan rumah tangga hingga menampung keluh kesah anggota keluarga lainnya. Dalam sinetron Mudik Tahun Ini, sang istri digambarkan sebagai sosok ibu rumah tangga ideal. Meski sehari-hari bergelut dengan urusan domestik, tapi tetap bisa dijadikan kawan bicara tentang urusan pekerjaan suaminya. Kesempatan menekuni karir profesional bagi perempuan kelas menengah atas, oleh cerita-cerita dalam sinetron tersebut, selalu disertai dengan gagasan bahwa sudah seharusnyalah perempuan tetap bertanggungjawab pada urusan domestik. Dalam sinetron Dia Tersenyum Untukku, kita memperoleh gambaran ini lewat tokoh ibu Putri, seorang perempuan pengusaha yang tetap tampil sebagai penanggungjawab urusan domestik. Ibu Putrilah yang memperhatikan soal antar jemput anaknya. Sebaliknya, di seluruh sinetron itu, suami atau laki-laki digambarkan menguasai sepenuhnya urusan publik, dan sebagai kepala keluarga. Laki-laki juga digambarkan sebagai penyelamat akhir bagi perempuan. Dalam sinetron Kehormatan, citra tersebut tampil lewat sosok Krisna yang menyelamatkan aib keluarga, dan sosok Kelvin yang menjadi pahlawan bagi adik perempuannya. Di sinetron Gadis Penakluk, sosok ibu Agnes yang sekian lama sudah ditinggal kawin lagi oleh suaminya, tetap meminta ayah Agnes pulang ke rumah untuk memutuskan sebuah persoalan yang dihadapi oleh kakak perempuan Agnes. Seluruh persoalan yang muncul dalam sinetron tersebut dijalin dalam konflik percintaan, konflik suami isteri, konflik orangtua anak, hingga kesulitan ekonomi. Sinetron itu memberi penekanan pada sikap pasrah dan keyakinan pada nasib yang dianggap sebagai kehendak Tuhan. Perempuan digambarkan sebagai penjaga utama nilai-nilai tersebut, termasuk terhadap penindasan yang dialami oleh perempuan sendiri. Sikap perempuan yang bertolak belakang dengan citra dominan ini, digambarkan sebagai perempuan yang berperilaku menyimpang. Contoh paling jelas tergambar dalam sosok Agnes, sang Gadis Penakluk. Ibu Agnes digambarkan sebagai sosok yang tidak pernah protes atau marah kepada suaminya, pun ketika suaminya memutuskan untuk kawin lagi guna mendapatkan keturunan laki-laki. Ibu Agnes pasrah menerima keputusan
38

suaminya itu, karena menganggap persoalan bersumber pada dirinya yang tak mampu lagi memberikan keturunan. Sebaliknya, protes perempuan digambarkan sebagai sesuatu yang tidak wajar yakni berperilaku kelaki-lakian: tomboy, berani, dan bicara blak-blakan, seperti ditampilkan lewat sosok Agnes. Hampir setiap sinetron menyatakan bahwa kisah yang disajikan hanyalah fiksi belaka. Tapi tak terlalu sulit kiranya bagi penonton untuk melihat bahwa konflik yang diangkat dalam cerita tersebut, disadari atau tidak, banyak bersumber pada berbagai peristiwa konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, perceraian, pelecehan seksual, jatuh cinta, hingga pembunuhan, manipulasi dan korupsi, ketidakadilan dalam sistem hukum, penindasan kelas buruh dan sebagainya. Dipandang dari sisi lain, persoalan-persoalan konkrit di masyarakat memang tetap menyelinap dalam jalinan cerita-cerita sinetron. Tak perduli dengan tujuan sang penulis skenario, misalnya, yang secara sadar hendak menciptakan karya fiksi. Namun sinetron bukan semata-mata cermin dari persoalan tersebut. Sinetron bukan pula merupakan realitas kedua setelah apa yang disebut dengan realitas pertama, yakni peristiwa di masyarakat itu sendiri, berlangsung. Sebaliknya, persinggungan jalinan kisah sinetron dengan peristiwa konkrit kehidupan sehari-hari, membuka jalan yang lebih lebar bagi sosialisasi nilai-nilai dominan. Menjadi jelaslah bahwa sinetron bukan bagian dari realitas masyarakat itu sendiri. Yakni ketika kita sadari bahwa langsung atau tidak langsung, sinetron telah ikut membentuk pola pikir masyarakat. Berbagai citra ideal tentang sosok perempuan – bertanggung jawab dalam urusan domestik, pengutamaan sifat keibuan, tawakal dan pasrah pada keadaan, hingga mengakui keunggulan laki-laki sebagai kodrat – seperti diusung oleh alur cerita sinetron tersebut, merupakan turunan dari nilai-nilai patriarki yang mau mengatakan bahwa pada dasarnya dunia ini adalah milik laki-laki. Pada akhirnya, persoalan hubungan buruh dengan majikan seperti tergambar dalam kisah Ihsan pada sinetron Mudik Tahun Ini, mampu ditenggelamkan oleh gagasan untuk tabah berserah diri pada nasib, bukannya tabah dalam memperjuangkan hak-hak buruh menghadapi sikap pemilik modal yang tengah terancam bangkrut. Nilai patriarki menyumbang

banyak bagi upaya melunakkan perlawanan yang mungkin dilakukan oleh para buruh (perempuan). Yakni dengan cara mengeksploitasi sifat tabah yang konon sudah menjadi bagian dari kodrat perempuan, menjadi sikap pasrah menerima nasib. Dua dari empat sinetron di atas adalah sinetron unggulan. Sinetron Kehormatan, hingga saat ditonton sudah mencapai episode 119. Menurut catatan rating Nielsen Media Research 2002, sinetron ini menduduki posisi ke 9 dalam 100 program teratas seluruh stasiun televisi. Sepuluh teratas di antaranya adalah program sinetron yang ditayangkan Indosiar. Sementara itu, sinetron Dia Tersenyum Untukku, meraih penghargaan paling ngetop dari penonton SCTV. Hal ini sama artinya dengan menangguk banyak sekali iklan. Sebagai contoh, selama satu jam penayangan sinetron Dia Tersenyum Untukku, muncul iklan sebanyak 32 kali. Kalau dihitung ratarata satu iklan menghasilkan pemasukan Rp 8 juta, maka pendapatan untuk sinetron ini mencapai Rp 256 juta. Sementara sinetron terpopuler semacam Kehormatan bisa meraup iklan tak kurang 60 spot tiap tayangnya. Demikianlah logika industri hiburan mengolah kisah keseharian yang tidak berpijak pada masyarakat menjadi barang dagangan yang laku keras di pasaran. Logika dan orientasi bisnis ini pula yang memastikan kokohnya gagasan patriarki dalam sinetron, dengan cara menjadikan subordinasi perempuan sebagai sebuah tontonan yang mengasyikkan dan dinantikan banyak penonton televisi pada umumnya. Dengan cara demikian pula reproduksi gagasan subordinasi perempuan terus berlangsung di dalam programprogram televisi. m
Referensi: 1. Michael Parenti,Make Believe Media:The Politics of Entertainment,St.Martin’s Press,Inc.,NewYork, 1992. 2. Raymond Williams,Communications,Pelican Books,Great Britain,1971.

Purwantari, Dosen Akademi Periklanan Universitas Indonesia & Pitono Adhi, penulis lepas.

sisipan M
10/2003

>>>CERITA PENDEK

PERANG

Linda Christanty

K

A M I m e mut u s k a n b er t e mu d i seb ua h p e ng i napa n . Ker et a p enu mpa ng y a ng m em baw a k u t i ba pu ku l s et e ng a h e na m pa g i . L a ng it ma si h b er w a r na a bu -a bu t ua . O ra n g- or a ng d i s t a s iu n t a mp a k b er c a k ap - c a k ap me ng i s i k e b o s a n a n m e n u n g g u . Te t a p i , j a r a n g s ek a l i t er p a nc a r se ma n g a t h i d up da r i t u bu h -t u bu h k er e mp e ng y a n g s ek a r at d iha nt a m t u b er c u l o sa da n honger ud i m it u . Ha r d ika n da la m ba ha sa Jepa ng y a ng k a sa r d i s er t a i t a mpa r a n k er a s d i wa ja h bu k a n p e ma n da ng a n l ua r b ia sa pa g i i n i . K e ny at a a n t ad i ma si h lebi h ba ik da r i t u s u k a n b ayo n et y a n g t a k m e m er lu k a n a la sa n u nt u k me ng h ila ng ka n ny awa o CERITA PENDEK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

r a ng . Pe n der it a a n pu n mi l i k ma si n g ma si ng , t a k pu ny a ke se mp at a n u nt u k d ibag i . R asa s et ia kawa n la r i ber sem bu wo n y i d i t e r o wo ng a n - g e l ap h at i m a n u s ia , m a k i n t e ng g e l a m d i da s a r t e r o wo ng a n s a m p a i l e n y a p d i s a m b u t k e g e l a p a n . Ya n g Ya t er t i ng g a l ha ny a pa nc a r a n ket a k ut a n at au ket i a da a n ha r a pa n seba ga i mi l i k t er a k h i r seb elu m ma ut me ng g a r a ng .
Tergesa-gesa kucapai pelataran stasiun, lalu bergegas naik andong yang berhenti di mukaku sesuai rencana. Aku mempunyai waktu dua setengah jam untuk istirahat. Kami akan bertemu pukul delapan. Lalu lintas pagi yang lengang, tiupan angin, dan rumah-rumah rakyat yang kebanyakan dicat hijau tua membuatku kembali ke masa lalu. Gedung-gedung peninggalan masa kolonial tampak sunyi. Selama dua tahun ini Yogyakarta tak banyak berubah. Tentu saja, ia sudah pindah dari tempat yang lama. Aku dengar dari Gunardi,
39

Alit Ambara.

dia kini tinggal di Jalan Solo. Tidak kuketahui alamatnya yang pasti. Dua tahun bukan waktu yang pendek. Aku dengar dia juga sudah kawin dan istrinya baru melahirkan bayi perempuan. Manusia memang bisa berubah menjadi siapa saja atau apa saja. Kadang-kadang, kita menjadi seseorang yang menyukai apa yang dulu kita benci. Aku senang dia banyak berubah. Sebab hal itu menimbulkan kekaguman dalam diriku. 1943. Tahun yang berat dan sulit. Tentara pendudukan di Indonesia dengan jumlahnya yang terbesar di kawasan Asia Pasifik telah menguasai sampai pedalaman Jawa dan Sumatera. Banyak rakyat dipaksa jadi romusha. Menurut Syarif, di Jawa Barat pengiriman orang-orang untuk menjadi romusha dilaksanakan secara besarbesaran. Selain itu, Nippon juga mendidik pemuda-pemuda Bumiputra dalam PETA untuk memperkuat pertahanan Nippon di Indonesia. Akhirnya, andong berhenti di muka penginapan itu. Aku memesan kamar yang pernah kutempati dua tahun lalu. Sumarti tidak datang menjemputku di ruang tamu. Tawa Sumarti yang nyaring seolah diserap kekusaman dinding. Penghuni-penghuni kamar belum ada yang terjaga. Hanya mimpi indah yang membiarkan orang bertahan hidup dalam situasi gawat zaman ini. Kembali ke kamar tersebut bagaikan menengok rumah yang telah lama diterlantarkan. Tirai-tirai jendela masih belum diganti. Kain seprei sudah memudar. Meja dan kursi kayu jati tetap merapat ke dinding sebelah kiri. Kamar ini sudah usang, namun bersih. Aku segera mengguyur tubuh dengan air dingin, mengusir ketegangan selama perjalanan. Beberapa surat yang harus kuberikan kepadanya kuteliti kembali. Sebenarnya membawa surat merupakan hal yang amat berbahaya, terlebih bila isinya berkaitan dengan arahan-arahan perjuangan. Penangkapan-penangkapan dan tekanan militer yang membabi-buta menyulitkan ruang gerak orang-orang pergerakan. Mental dan fisik rakyat benar-benar dilumpuhkan. Soekarno— bersama Hatta dan Mas Mansyur— memilih bersikap kooperatif. Syahrir, meskipun anti Jepang, kurang populer sebagai pemimpin. Setengah jam lagi ia datang. Surat kabar Djawa Baroe yang kubawa dari
40

Jakarta iseng-iseng kubaca. Ada pengumuman pemenang sayembara menulis cerita pendek. Seni dan sastra mulai memikul beban sebagai media propaganda politik pemerintah. Rakyat seakan diselamatkan dari cengkraman penjajah Belanda, padahal didorong ke jurang penindasan fasis yang lebih mengerikan untuk mewujudkan kejayaan Nippon di Asia. Pengarang tak bisa lagi mengungkapkan kebenaran berdasarkan kenyataan yang dialami sehari-hari. Taruhannya, nyawa. Sebagian kecil dari mereka menulis dengan gaya simbolisme, sedangkan mayoritas berkarya sesuai kebijakan pemerintah. Sesungguhnya, ada juga pemaklumanku terhadap mereka yang hidup mengikuti arus kekuasaan dengan alasan taktis. Walaupun antara tindakan taktis dan sikap pengecut sulit dibedakan. Ketukan di pintu terdengar keras. Dia datang terlalu cepat? “Nyonya … nyonya! Cepat keluar!” Dialek Jawa yang kental terdengar gemetar. “Ada apa?” “Kebakaran!kebakaran!” Aku buru-buru mengemasi barangbarangku, mendorong pintu, dan melesat keluar kamar. Kobaran api melahap ruang tamu. Api hendak menjalar ke arah kamar-kamar. Seorang perempuan berkain sarung menjerit-jerit kalap tengah ditenangkan pasangannya—yang barangkali seorang mata-mata. Pelacur, pikirku spontan. Terbersit dalam benakku untuk menanyakan Sumarti kepada perempuan itu. Sudah lama aku tak menerima berita dari Sumarti. Penghuni-penghuni kamar lari berhamburan, menyelamatkan diri. “Nyonya disuruh ke jalan di belakang penginapan ini. Sebentar lagi Nippon datang.” Lelaki tua pelayan penginapan membawaku berlari lewat lorong sempit di belakang dapur. “Saya sampai di sini saja, Nyonya. Nyonya terus saja ikuti lorong ini.” Lelaki tua itu kemudian tertatih-tatih meninggalkan aku. Bau setanggi menusuk penciuman. Perutku mendadak perih, tetapi kuseret langkahku menyudahi panjang lorong ini. Rumah-rumah penduduk mulai tampak. Di mulut lorong, seorang perempuan muda berkebaya lusuh mendekatiku. “Sulastri?” bisiknya. Aku tersenyum. Kami berjalan

bersisian, menyusuri got besar yang meyebarkan bau busuk bercampur amis. Tikus-tikus berlomba memanjat dinding got. Selain cholera dan disentri, kutu tikus-tikus ini membawa basil pes yang turut membunuh rakyat. “Mas Is sudah cerita banyak soal Mbak Lastri.” “Cerita yang bagaimana?” Kupandangi wajahnya yang lugu, sementara wajahku terasa panas. “Waktu masa gerilya,” tukasnya, menggamit lenganku. “Jeng waktu itu di mana?” “Saya ndak di mana-mana. Di kampung saja,” ujarnya, lirih. “Jeng ini istrinya?” tanyaku. Dia tak punya adik perempuan. Perempuan ini tersenyum. Aku menghadapi rasa kehilangan yang aneh, sehingga pembicaraan terputus begitu saja. Udara pagi yang dingin menyelubungi kebisuan kami yang tengah melewati jalan berliku-liku, kebun-kebun yang tak terurus, dan rumah-rumah berdinding anyaman bambu. Kukayuh kakiku lebih cepat. Kini kusaksikan sendiri sikapnya yang pesimis. Perjalananku kemari untuk mengetahui kebenaran ini, mencegah perpecahan. Aku juga terkejut melihat kedua kakinya lumpuh akibat penyiksaan dalam penjara. Dia jadi lebih emosional. Gunardi tidak pernah bercerita tentang hal tadi. “Berapa lama kita menyiapkan rakyat yang sudah compang-camping semangatnya?” Ia bicara dengan suara pelan, tetapi kata-katanya tajam menusuk. Jumidah menyibukkan diri di dapur, memarut singkong untuk ditanak. Gesekan singkong dengan kaleng seperti irama musik yang tak memikirkan keindahan. “Tugas utama kita adalah mengerahkan massa untuk pelucutan senjata Nippon secara bersamaan di seluruh daerah. Pemberontakanpemberontakan harus disatukan. Terorteror itu tak bisa disalahkan, perlu juga sebagai gertakan terhadap Nippon. Tapi, bukan itu yang utama. Kukira, kamu mengerti yang kumaksud.” Aku menatapnya sungguh-sungguh. Dia tak membantah sepatah kata pun. “Sumarti masih dengan chodanco yang dulu? Nakamura?” tanyaku, teringat pada Sumarti.
CERITA PENDEK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

“Dia mati di tangsi. Ada mata-mata yang melaporkannya.” “Pantas aku tidak melihat dia di penginapan. Marti sudah banyak membantu kita.” Terdengar bayi menangis dari kamar sebelah. Tangisan yang serak. Mungkin ada lendir yang menyumbat tenggorokannya. Makhluk sekecil itu sudah harus mengalami penderitaan perang. “Anakmu menangis,” ujarku, merasa asing terhadap suaraku sendiri. “Anak istriku.” Suaranya seperti tertahan. “Kami bertetangga di kampung. Ketika penyerbuan, dia diperkosa. Keluarganya habis, kecuali dia.” Malam begitu sunyi. Jam malam membuat orang ngeri berkeliaran di jalanan, kecuali yang ingin menyerahkan hidupnya kepada maut. Jangkerik mengerik beramai-ramai di luar rumah. Aku seakan menangkap derap sepatu kempetai mengitari perkampungan. Sulit memejamkan mata di tengah intaian bahaya. Sayup-sayup ayat suci dilafalkan, surat Al-Falaq. Iskandar sedang sholat Isya. Aku berlindung pada Tuhan yang memelihara falaq, dari kejahatan yang dijadikanNya, dan dari kejahatan malam apabila ia gelap …. Dia seorang ayah dan suami sekarang. Akhirnya, ada juga perempuan yang membagi hidup dengannya. Waktulah yang menentukan skenario semacam ini. Banyak teman kami yang berumah tangga dalam kecamuk perang, tetapi aku tak pernah mempunyai rencana apa pun untuk diri sendiri. Perkawinannya di luar dugaanku. Perasaan manusia merupakan rahasia yang tak dapat diukur secara moral. Aku seperti orang yang dikalahkan, sasaran dua perang besar; yang berkobar di dalam diriku dan yang melibatkan pasukan serta senjata musuh. “Bagaimana keadaan ayahmu? Kalau kau bertemu ayah, aku kirim salam,” katanya, sewaktu aku akan meninggalkan Yogyakarta sebelum fajar. “Ayah meninggal sewaktu pesantrenpesantren diserbu. Banyak santri yang meninggal. Mereka menolak seikeire.”
CERITA PENDEK | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

“Aku menyesal tidak bisa memenuhi amanat ayahmu untuk menjaga putrinya.” Ia menyalamiku erat-erat, menunjukkan belasungkawa. Seorang pemuda menjemputku. Kami cepat-cepat meninggalkan rumah itu. Tugasku sudah selesai. 1944. Aku lupa tanggalnya. Sekitar bulan Februari. Supriyadi memimpin pemberontakan PETA di Blitar, karena Nippon tak menepati janji menyerahkan kedaulatan, selalu mengulur-ulur waktu. Pada tahun yang sama Iskandar

puan-perempuan yang bekerja seperti Sumarti yang mengetahuinya. Perang membuat orang memilih menjadi siapa saja atau apa saja. Tak peduli jadi pelacur atau nyonya. Bagiku, keduanya bisa sama-sama terhormat atau sama-sama sial. Pengertian tentang kehormatan hanya menimbulkan kegilaan, sebagaimana wanita Indo yang satu kerangkeng denganku. Ia selalu berteriak, “Heil Hitler! Heil Fuhrer!” dan tak mengurungkan niat serdadu-serdadu itu untuk memperkosanya. Siapa yang bisa

ditangkap kempetai, lalu ditembak mati di penjara Kalisosok, Surabaya. Mayatnya tak pernah ditemukan. Bahkan, aku kehilangan jejak Jumidah dan anak mereka. Sudah berusaha kusuruh orang untuk mencari. Setidaknya, masih tersisa kehidupan yang menghubungkan aku dengan yang mati. Sekalipun menurut ramalan Jayabaya, usia tentara pendudukan yang bermata sipit, berkulit kuning, serta bertubuh kate ini cuma seumur jagung, namun tidak kelihatan tanda-tanda perang akan usai. Aku berhasil lolos dari maut, meski tak pernah luput dari penangkapan dan penyiksaan, yang pada puncaknya membuat rasa sakit terlampaui dan tak mampu menginderai apa-apa lagi. Teman-teman sukar menemukan tempatku ditahan. Perem-

disalahkan? Dalam keadaan perang tak ada istilah salah atau benar, tapi kalah atau menang. Kebenaran atau kesalahan tergantung penilaian pihak yang menang. Aku mendengar Jerman mulai terdesak oleh sekutu di Eropa. Italia sudah lama tidak diperhitungkan. Aku juga mendengar desas-desus kekalahan armada laut Nippon di Coral Sea dan Middle Way dalam pertempuran dengan Sekutu. Perang belum akan usai. Oleh sebab itu, aku meyakinkan diri untuk terus hidup. M 10 Oktober 1996

Linda Christanty, cerpenis dan redaktur majalah PANTAU

41

Alit Ambara.

>>>LOGIKA KULTURA

Imajinasi
John Roosa

P

ejamkan mata anda. Biarkan terpejam selama beberapa menit. Apa yang anda lihat? Hanya kegelapan kah? Atau anda melihat berbagai sosok dan warna? Manusia memiliki kemampuan membayangkan benda-benda yang tak ada di benak mereka. Kemampuan ini sangat penting bagi penciptaan karya seni: pelukis menghadapi kanvas kosong dan membayangkan bentuk dan warna yang akan digambarkan di bidang tersebut. Arsitek berdiri di tengah ruang kosong dan mereka sejumlah struktur untuk dibangun. Kamus merumuskan imajinasi sebagai “perbuatan atau kekuatan membentuk gambaran mental sesuatu yang tak dikenal indera atau tidak pernah sebelumnya dicerap secara keseluruhan dalam realitas.” Kata ini jelas berasal dari “image” dan dengan sendirinya berkaitan dengan daya penglihatan (visual). (Dalam bahasa Yunani, istilah yang digunakan adalah “phantasia”, yang juga berkaitan dengan gagasan tentang cahaya dan penglihatan.) Tetapi, imajinasi lebih dari sekedar gambaran mental. Pemusik mendengar suara di benak mereka dan kemudian mencoba melahirkan bunyi-bunyian itu melalui alat-alat mereka. Penulis mendengar kata-kata dan kemudian menuliskannya di kertas kosong. Imajinasi adalah suatu ranah dimana benda-benda yang berhubungan dengan semua indera bisa diciptakan, bahkan benda-benda, seperti sudah dinyatakan definisi di atas, yang belum pernah dicerap indera sebelumnya. Imajinasi adalah kecakapan mental yang tampaknya merupakan bagian dari kedirian manusia. Akan sulit “membayangkan” manusia yang tak punya imajinasi. Makhluk serupa itu tidak bisa lagi dikenal sebagai manusia. Imajinasi juga bisa dianggap sebagai sesuatu yang menjadi ciri khas manusia: saya tidak percaya bahwa hewan memiliki imajinasi. Orang bisa berkata bahwa ada banyak ciri-ciri manusia yang membedakan kita dengan binatang walaupun dalam kenyataan ada banyak karakter serupa dimiliki manusia dan binatang, terutama pada keluarga mamalia seperti simpanse. Banyak penulis yang menunjuk kemampuan kita berpikir atau menggunakan bahasa sebagai pertanda pembeda. Menurut saya yang paling penting adalah bahwa kita memiliki imajinasi yang memungkinkan kita melahirkan ide-ide baru. Pada saat yang sama, imajinasi lah yang membuat benak kita berbeda dari komputer. Benak kita bukan sekedar mesin penghitung yang bisa melaksanakan operasi logis. Benak bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Mengingat pentingnya imajinasi bagi bekerjanya pikiran, orang akan berharap bahwa filsuf dari segala jaman pasti sudah berpikir panjang dan tekun, serta menulis berjilid-jilid buku tentang hal ini. Anehnya, filsafat, dari masa Yunani kuno hingga sekarang, belum sepenuhnya memberi perhatian atau penghormatan cukup terhadap imajinasi. Ilmu filsafat selama ini berkutat dengan kemampuan manusia membangun penalaran, bukan imajinasi. Penilaian ini mungkin terdengar terlalu luas dan umum tetapi saya kira mendekati akurat. Filsafat modern, yaitu sejak masa Rene Descartes (1569-1650) dan selanjutnya, bertekun

42

LOGIKA KULTURA | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

Imajinasi adalah kecakapan mental yang tampaknya merupakan bagian dari kedirian manusia. Akan sangat sulit “membayangkan” manusia yang tak punya imajinasi. Makhluk serupa itu tidak bisa lagi dikenal sebagai manusia.
dengan upaya menemukan jalan untuk memperoleh pengetahuan yang pasti, mengandung kebenaran, tentang obyekobyek eksternal. Filsafat menjadi apa yang disebut Descartes “pencarian kebenaran”. Bagi para filsuf imajinasi dianggap sebagai hambatan bagi penemuan kebenaran, sebagai sesuatu yang bisa menyebabkan kita salah menangkap realitas dan menciptakan delusi pada diri kita. Imajinasi sementara ini dianggap kekanak-kanakan, permainan konyol, berguna bagi kepentingan seni dan hiburan, tetapi berbahaya apabila dibiarkan menjelajahi dunia dewasa, urusan serius penalaran tentang realitas. Satu-satunya filsuf yang pernah menulis panjang lebar tentang imajinasi, atau lebih tepat lagi sudah menjadikan imajinasi sebagai landasan pokok pemikirannya, adalah Cornelius Castoriadis (19??-1997). Meskipun Castoriadis adalah direktur sebuah perguruan tinggi ternama di Paris (Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales) pada 1980-90an, ia tidak terkenal, apalagi jika dibandingkan dengan filsuf selebritis Paris seperti Foucault dan Derrida. Mungkin pengabaian ini bisa dipahami: Castoriadis adalah pemikir unik, orisinil dan tangguh yang secara militan menentang kecenderungan pemikiran eksistensialisme, strukturalisme dan post-strukturalisme di masa sesudah perang di Prancis. Esai ini akan memaparkan analisis tentang imajinasi yang sebagian besar didasarkan pada tulisantulisan Castoriadis. intelligible. Benak kita melakukan dua hal dasar: ia mencerap dan ia berpikir. Benak kita menghabiskan sebagian waktunya untuk memperhatikan indera dan sebagian lagi untuk berpikir tentang konsep-konsep abstrak. Dengan model benak serupa ini, Aristoteles menghadapi kesulitan menempatkan imajinasi. Dalam pembahasannya tentang imajinasi di Of the Soul (buku 3, bagian 3), ia awalnya menyajikan imajinasi sebagai citra lanjutan (after-image) sebuah obyek yang dicerap. Misalnya, saya melihat mobil yang rusak di jalan. Beberapa saat kemudian, saya masih menyimpan gambaran tentang mobil itu di benak saya. Inilah yang disebut Aristoteles (mengikuti Plato) imajinasi: kenangan bergambar tentang sesuatu yang pernah dicerap, atau dalam bahasa Yunani, phantasm. Dengan demikian, imajinasi bisa digolongkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya merupakan turunan dari persepsi, atau fenomena sekunder setelah persepsi. Tetapi Aristoteles, melampaui Plato, mencatat bahwa kegiatan berpikir tergantung pada gambaran mental (phantasm) tersebut. Ketika kita berpikir tentang benda, kita menggunakan representasi benda tersebut, bukan bendanya sendiri. Jika di dalam rumah saya mulai berpikir tentang sebab dan akibat kerusakan mobil yang disebut di atas, saya berpikir dengan gambaran yang ada di dalam benak saya. Dalam hal ini, imajinasi sama dengan abstraksi. Aristoteles menulis bahwa manusia “tidak pernah berpikir tanpa phantasm.” Phantasm, citra lanjutan, adalah bahan dasar bagi proses berpikir. Aristoteles mulai menyadari bahwa imajinasi tidak sepenuhnya merupakan turunan dari persepsi tapi imajinasi tidak bisa diletakkan di bawah kegiatan berpikir pula. Imajinasi merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia menyimpulkan bahwa “imajinasi berbeda baik dengan mencerap maupun berpikir.” Tapi ia tetap tidak bisa mengatakan apa itu imajinasi. Ia menghabiskan berlembar-lembar untuk menjelaskan apa yang bukan imajinasi. Ia mengerti bahwa benak melakukan pembayangan tetapi ia tidak bisa menempatkan fenomena tersebut dalam model benak yang ia ajukan, yaitu benak yang hanya mencerap dan berpikir. Akhirnya, ia membiarkan persoalan itu menggantung begitu saja dan tidak per-

Phantasm dalam karya Aristoteles
Menurut Castoriadis, “penemuan imajinasi” pertamakali diungkapkan lewat tulisan Aristoteles pada abad ke 4 Sebelum Masehi. (Mungkin saja filsuf sebelumnya menulis tentang tema ini tetapi tulisan Aristoteles lah yang sempat dilestarikan, sebagian karena jasa para filsuf Islam dari periode Abbasid.) Aristoteles, mengikuti Plato dan banyak filsuf-filsuf sebelumnya, menyatakan bahwa pengetahuan manusia terdiri dari dua hal: yang bisa dicerap (the sensible) dan yang bisa dipahami (the intelligible). Kita manusia, melalui kelima indera kita mencerap obyekobyek di luar diri kita sendiri – inilah the sensible. Kita bisa membangun nalar tentang obyek-obyek tersebut dan juga tentang benda-benda abstrak yang tak pernah kita cerap (seperti bidang luas tak terhingga dalam ilmu geometri) – inilah yang disebut the

LOGIKA KULTURA | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

Alit Ambara

43

nah mempertimbangkannya lagi dalam pembahasannya tentang benak. Apa yang tidak ditulis Aristoteles adalah daya kreatif imajinasi. Dalam karyakaryanya, phantasm digambarkan sebagai gaung lemah sensasi awal atau citra yang secara otomatis bisa dihadirkan kembali ketika diperlukan untuk berpikir. Tak pernah dikenal gagasan bahwa manusia dengan sengaja menggunakan imajinasinya untuk menciptakan bentuk-bentuk baru.

Imajinasi produktif dan reproduktif
Adalah filsuf kebangsaan Skotlandia, David Hume (1711-76), yang mengenali daya kreatif imajinasi. Ada baiknya dikutip salah satu bagian karya klasiknya Enquiry Concerning Human Understanding: Pada pandangan awal, tak satu hal pun tampak lebih tak terbatas daripada pikiran manusia, yang bukan saja melampaui kekuatan dan kekuasaan manusia, tetapi juga tak bisa dikendalikan dalam batas-batas alam dan realitas. Tindakan membentuk monster, menggabungkan bentuk dan penampilan yang tidak bersesuaian, membebani imajinasi sama beratnya dengan mencerap obyekobyek yang paling akrab dan alamiah. Dan saat tubuh terikat pada satu planet … pikiran bisa dalam sekejap membawa kita ke wilayah-wilayah semesta terjauh … Apa yang tak pernah terlihat atau terdengar bisa saja dicerap, tak ada sesuatu pun yang melampaui kekuatan berpikir. Setelah melambungkan kekuatan luar biasa imajinasi, Hume segera merendahkannya dan berpendapat bahwa imajinasi ternyata tidak terlalu hebat. Ia menuliskan bahwa imajinasi, “sesungguhnya terkungkung dalam batas-batas yang sangat sempit.” Hume dengan tegas mensubordinasi imajinasi, seperti halnya Plato, di bawah persepsi. Kreatifitas imajinasi hanyalah kiat tukang sulap, tak lebih dari sekedar penggabungan kembali apa yang sudah pernah dicerap, pengocokan kembali tumpukan kartu yang sama: Seluruh kekuatan kreatif benak pada akhirnya tak lebih dari kemampuan mencampurkan, mempertukarkan, memperbesar, atau mengurangi bahan-bahan yang disodorkan pada kita oleh indera dan pengalaman. Contoh yang diajukan Hume adalah citra puitis sebuah gunung emas. Kita telah melihat emas dan kita telah melihat gunung. Dengan menggabungkan kedua citra tersebut di dalam imajinasi, kita belum menciptakan sesuatu yang baru; kita baru menggabungkan kembali benda-benda berbeda yang sudah kita tangkap melalui persepsi. Jadi, Hume memulangkan kita pada posisi Plato, bahwa imajinasi sepenuhnya berada di bawah persepsi. Mungkin filsuf yang paling berpengaruh dan sistematik diantara filsuf modern adalah
44

Immanuel Kant (1724-1804). Karya besarnya, The Critique of Pure Reason, dalam hal tertentu merupakan kritik terhadap Hume. Perhatian Kant di dalam buku ini adalah, seperti yang ia tuliskan, “penyelidikan kritis terhadap kemampuan penalaran.” Tidak seperti Hume yang memahami segala pengetahuan sebagai turunan dari persepsi sensual, Kant menegaskan bahwa benak juga harus memiliki gagasan asali untuk memahami persepsi tersebut. Benak harus memiliki apa yang ia sebut “pengetahuan a priori” yang berkenaan dengan hal-hal seperti waktu dan tempat agar benak bisa memperoleh pengetahuan dari pengalaman. (Dalam bahasa masa kini, kita bisa mengatakan bahwa benak sudah harus memiliki program perangkat lunak supaya bisa mengolah data.) Kant mendekati imajinasi hampir seperti yang dilakukan Aristoteles: ia menyadari bahwa imajinasi tidak sepenuhnya merupakan turunan dari persepsi. Ia menyadari bahwa imajinasi berada di luar persepsi dan penalaran. Tetapi, seperti Aristoteles, ia tidak

nasi produktif ini sebenarnya sanggup menentukan persepsi. Lebih tepat lagi, imajinasi produktif menciptakan pengetahuan a priori, yang pada gilirannya menentukan bagaimana kita mencerap obyek. Ia mendefinisikan imajinasi produktif sebagai “kemampuan menentukan sensibilitas a priori.” Contoh yang diberikan Kant adalah membayangkan garis geometris di benak kita sebelum kita menggambarkannya. Meskipun Kant tidak mengutip Aristoteles, pemikirannya tentang imajinasi sangat mirip dengan pemikiran Aristoteles bahwa abstraksi merupakan hal yang esensial untuk penalaran. Salah satu contohnya, ia menyatakan bahwa imajinasi melahirkan abstraksi dari citra nyata seekor anjing yang kita lihat di depan kita dan “menggambar sosok binatang berkaki empat secara umum.” Gambaran anjing generik itu kemudian memasuki pengetahuan a priori kita sehingga setiap saat kita melihat sebuah obyek benak kita akan menentukan apakah kita mencerapnya sebagai anjing atau tidak. Citra mental dari obyek-obyek generik menentukan bagaimana kita mencerap benda-benda tertentu. Mengikuti Kant, imajinasi menjadi elemen “produktif ” bagi benak untuk memperoleh pengetahuan obyektif tentang obyek-obyek eksternal. Dengan begitu imajinasi dilihat sebagai sejenis komponen dalam mesin besar yang digunakan benak untuk memproduksi pengetahuan. Yang hilang dari pandangan ini adalah daya kreatif imajinasi itu sendiri, di luar peran fungsionalnya dalam proses perolehan pengetahuan. Karena tujuan Kant adalah menetapkan dasar untuk pengetahuan obyektif, sisi kreatif imajinasi dilihat sebagai bahaya untuk kebenaran; imajinasi adalah sesuatu yang yang harus ditindas dan dikalahkan supaya logika dan nalar bisa berfungsi dengan lancar.

Imajinasi sosial
bisa memahami imajinasi sebagai kekuatan kreatif. Kant berpikir ada dua jenis imajinasi. Yang pertama, ia sebut “imajinasi reproduktif ”, sesungguhnya dilahirkan dari persepsi (“sepenuhnya tunduk pada hukum-hukum empiris”). Inilah imajinasi yang dirumuskan oleh citra lanjutan: saya melihat sebuah mobil rusak di jalan. Kemudian saya bisa “mereproduksi” citra mobil rusak itu di kepala saya. Imajinasi jenis ini “termasuk dalam sensibilitas,” yang berarti ia bisa dimengerti sebagai kegiatan mental yang mengikuti tindakan mencerap. Yang kedua disebut “imajinasi produktif ”. Di sini imajinasi tidak mereproduksi sebuah citra dari benda yang sudah dicerap. Kant melihat jenis imajinasi serupa ini mampu melakukan tindakan “spontan” yang tidak ditentukan persepsi. Cukup mencengangkan bahwa Kant menganggap imajiCastoriadis mengajukan imajinasi jenis ketiga: “imajinasi radikal”, yang ia rumuskan sebagai “kapasitas untuk menyodorkan apa yang bukan, melihat pada sesuatu apa yang tidak ada di dalam sesuatu itu.” Imajinasi radikal “menyodorkan bentuk-bentuk baru” sedemikian rupa sehingga “tak ada penjelasan asal-usul, fungsional, atau bahkan rasional yang bisa menjabarkannya.” Ia menyarankan supaya kita bukannya membatasi pemahaman kita tentang imajinasi sematamata pada kegunaannya bagi pengetahuan, tetapi melihatnya secara terpisah, sebagai aktifitas mental yang otonom. Lebih jauh lagi, ia menyarankan bahwa titik berangkat filsafat seharusnya pengakuan terhadap kekuatan kreatif imajinasi manusia: Para filsuf hampir selalu mulai dengan mengatakan: “Aku ingin melihat apa itu mengAda, apa itu kenyataan. Sekarang, ini meja. Apa yang ditunjukkan meja ini sebagai
LOGIKA KULTURA | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

karakter sesuatu yang nyata mengAda?” Tak ada filsuf yang pernah mulai dengan mengatakan: “Aku ingin melihat apa itu mengAda, apa itu kenyataan. Sekarang, ini ingatanku tentang mimpiku semalam. Apa yang ditunjukkan mimpi ini sebagai karakter sesuatu yang nyata mengAda?” Mengapa kita tidak bisa mulai dengan mengajukan mimpi, puisi, simfoni sebagai sebuah paradigma keutuhan mengAda dan dengan melihat dunia fisik sebagai cara mengAda yang mengandung kelemahan, daripada melihat yang imajiner, sebagai cara mengAda nomor dua atau mengandung kelemahan? Yang menonjol dari pemikiran Castoriadis adalah pandangan bahwa imajinasi merupakan proses sosial. Tradisi filsafat selalu melihat imajinasi murni sebagai aktifitas individual, sesuatu yang berlangsung di dalam kepala seseorang, sehingga secara tajam dipisahkan dari realitas dan wacana rasional antar manusia. Castoriadis membalikkan konsepsi ini dengan berpendapat bahwa setiap masyarakat hidup di dalam dunia imajinernya sendiri-sendiri dan menciptakan kenyataannya sendiri. “Imajinasi radikal” relevan bukan saja bagi individual tetapi juga bagi masyarakat. Ada jenis kegiatan berimajinasi yang “anonim, impersonal, dan kolektif.” Argumen Castoriadis dengan baik diungkapkan melalui pepatah lama, yang saya tidak tahu dari mana asalnya, yaitu, “Jika anda bermimipi sendiri, itu hanyalah mimpi, jika anda bermimpi bersama, itulah kenyataan.” Sejak buku Benedict Anderson tentang bangsa, Imagined Communities (1983), menjadi terkenal, sekarang sering diakui bahwa imajinasi memainkan peranan penting dalam pembentukan bangsa-bangsa. Bangsa memang soal bermimpi bersama. Dan mimpi suatu masyarakat menjadi komunitas warga negara, yang masing-masing memiliki hak dan berbagi solidaritas horisontal, bukannya subjek suatu monarki, merupakan contoh jelas ide Castoriadis tentang imajinasi sosial. Bangsa tidak ditemukan satu dua orang saja. Bangsa muncul dari kekuatan-kekuatan kolektif, sosial. Selain itu, bangsa merupakan contoh bagaimana imajinasi sosial menciptakan realitas. Kita menerima keberadaan bangsa sebagai sesuatu yang nyata, bahkan cukup nyata untuk dipertahankan sampai mati. Setiap bangsa dari 190 bangsa yang ada di dunia saat ini memiliki institusi, pejabat yang dibayar, kitab hukumnya sendiri-sendiri – bangsa sangatlah nyata meskipun entitas itu dibangun sepenuhnya dari kesadaran imajiner suatu komunitas. Sepengetahuan saya Anderson tidak pernah mengutip Castoriadis dan tampaknya mengembangkan sendiri gagasan tentang bangsa sebagai “komunitas yang dibayangkan”. Namun, patut dicatat bahwa sebelum karya Anderson diterbitkan, Castoriadis

telah menerbitkan buku (dalam bahasa Prancis) yang berjudul The Imaginary Institution of Society (1975). Seandainya ia berkesempatan menanggapi karya Anderson, ia mungkin akan menyatakan bahwa setiap masyarakat sesungguhnya imajiner, bukan bangsa saja. Anderson seakan berpikir bahwa masyarakat yang dibangun dari komunikasi tatap muka, bukannya dari komunikasi lewat barang cetakan, bisa dikatakan lebih ‘nyata’. Tapi Castoriadis benar: setiap masyarakat dibayangkan, bahkan masyarakat yang dibangun dari hubungan kekerabatan (karena batas-batas kelompok kerabat dan hubungan antar kerabat harus secara arbitrer ditetapkan oleh norma-norma kultural yang dipilih secara arbitrer pula). Castoriadis menyebut entitas seperti bangsa sebagai “Social Imaginary Significations” (SIS). Inilah entitas yang memberikan kategori dengan apa kenyataan dicerap, gagasan tentang sifat asali dunia dan tempat manusia di dalamnya. Agama adalah SIS, mungkin salah satu yang terpenting

yang berkaitan dengan sejarah.

Politik Imajinasi
Pada masa menjelang revolusi Mei 1968 di Paris ada satu slogan terkenal yang sering dituliskan sebagai grafiti di tembok-tembok jalanan: “Seluruh kekuatan bagi imajinasi.” Itulah slogan yang dasar kemunculannya sebagian besar dipersiapkan lewat tulisantulisan Castoriadis. Saat itu tulisan-tulisan Castoriadis diterbitkan di jurnal berbahasa Prancis yang ia pimpin, Socialism or Barbarism. Memang, banyak aktifis muda yang membaca artikel-artikel tersebut. Slogan tersebut boleh dikatakan mengungkapkan strategi politik Castoriadis. Jika kita mengenal dan menghargai kekuatan kreatif imajinasi, masyarakat ideal yang kita harapkan adalah masyarakat yang memberi imajinasi kebebasan untuk terus berubah. Setiap masyarakat dalam menciptakan realitasnya sendiri-sendiri, melahirkan sistem simbol dan makna yang tertutup. Selalu ada kecenderungan untuk mempercayai bahwa sistem tertentu itu mutlak benar, natural dan tak bisa diubah. Castoriadis beranggapan bahwa tugas filsafat adalah terus menerus berupaya untuk mendobrak sistem-sistem yang tertutup ini dan terus menemukan sistem-sistem yang lebih sesuai dengan keinginan masyarakat. Institusi sosial seharusnya mengambil bentuk yang memungkinkan timbulnya pertanyaan dan perubahan terus-menerus. Masyarakat demokratik serupa ini menuntut individu-individu yang mampu berpikir sebagai individu: “Pandangan ini, tentunya, membutuhkan tampilnya tipe baru makhluk bersejarah di tingkat individual, yaitu, individu yang otonom, yang bisa bertanya pada dirinya sendiri – dan juga menyatakan dengan suara keras – “Apakah hukum ini adil?” Tujuan pertama agenda politik demokratis adalah menciptakan institusi-institusi yang “ketika diinternalisasi oleh individu tidak akan membatasi tetapi lebih memperluas kapasitas mereka menjadi otonom.” M
Buku-buku Cornelius Castoriadis dalam terjemahan bahasa Inggris:

sepanjang sejarah manusia. Agama menawarkan makna bagi sebuah dunia yang, kalau kita berani menerimanya, sebenarnya tanpa makna, kacau balau dan sepenuhnya sulit dimengerti. Castoriadis, dalam hal ini mengikuti Heiddeger, yang melihat kemanusiaan ‘terlempar’ ke dunia tanpa memahami bagaimana dunia dimulai, mengapa harus ada sesuatu bukannya ketiadaan, kemana kita pergi setelah kita mati, dst. Agama memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dan dengan begitu membangun struktur, atau menentukan, persepsi banyak masyarakat tentang realitas. Tidak seperti Marx yang melihat agama sebagai “refleksi terbalik dunia nyata,” Castoriadis melihat agama sebagai sesuatu yang menentukan apa yang dipercayai masyarakat sebagai dunia nyata, tidak lebih terbalik dari pada versi lain tentang realitas. SIS ini harus dipahami sebagai sesuatu

The Imaginary Institution of Society (Oxford: Polity Press, 1987). Philosophy, Politics, Autonomy (New York: Oxford University Press, 1991). World in Fragments: Writings on Politics, Society, Psychoanalysis, and the Imagination (Stanford: Stanford University Press, 1997). Castoriadis Reader (Oxford: Blackwell, 1997).
Untuk teks-teks tertentu, informasi biografis, dan link ke informasi lainnya: www.costis.org/x/castoriadis

John Roosa, Sejarawan aktif di Jaringan Kerja Budaya

LOGIKA KULTURA | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

45

>>>RESENSI BUKU
THE GAMELAN DIGUL AND THE PRISON-CAMP MUSICIAN WHO BUILT IT: AN AUSTRALIAN LINK WITH THE INDONESIAN REVOLUTION Penulis: Margaret J. Kartomi Penerbit: Unversity of Rochester Press, 2002 Halaman: 152 hal., 49 ilustrasi

Membayang Digul Mengenang Buru
Hersri Setiawan
Buku ini”, dikatakan di sana, “menceritakan kisah nasib seperangkat gamelan Jawa yang hanya satu-satunya, dibikin di kamp tawanan di Irian Barat dahulu”. Gamelan yang disebut sebagai dibikin tahun 1927 ini, gamelan pertama yang pernah datang di Australia dan kini berada dan dilestarikan di School of Music – Conservatorium, Universitas Monash. Semangat dan isi pesan buku ini menyentuh hati saya. Angan-angan saya pun dibawanya terbang ke “masa” lalu. Pertama pada masa sejarah kemerdekaan Indonesia tiba di titik balik, yaitu pada awal sejarah “orde baru”, ketika makna Indonesia dalam segala seginya memasuki ambang masa kehancurannya. Kedua pada masa sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia tiba di titik puncak, yaitu pada awal sejarah kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia sedang bermula, dengan dukungan segala bangsa yang cinta kemerdekaan. Saya teringat pada Black Armada Rupert Lockwood dan sekaligus Indonesia Calling Joris Ivens. Saya bersyukur, pertama, bahwa tapol Digul adalah tapol pemerintah jajahan Hindia Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal, dan bukan tapol pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Suharto. Andai kata di bawah rezim tersebut akhir itu, niscayalah “Gamelan Digul” tidak pernah mendapat ijin untuk dikapalkan bersama para tapol menuju ke Australia, seperti berperangkat-perangkat “Gamelan Buru” tidak sepotong bilahan saronnya pun tersisa! Kedua, bahwa “Gamelan Digul” diturunkan dan berlabuh bersama para tapolnya di pangkuan “Bumi Aborijin” dan rakyat Australia yang menggelora berseruseru dalam “Indonesia Calling” dan gigih memblokade “Black Armada”! Buku ini berisi kisah tentang gamelan itu sendiri dan Poncopangrawit, si pembikinnya. Kata “pangrawit” merupakan nama jabatan, yang oleh Susuhunan Surakarta diberikan se46

bagai atribut bagi para abdi dalem karawitan. Kedua-duanya kisah yang cenderung dituturkan secara heroik legendaris dan monumental mistis. Poncopangrawit pernah dinyatakan terlibat dalam perjuangan, sehingga dianggap patut menerima ganjaran “exorbitante rechten” Gubernur Jenderal untuk di-Digul-kan pada 1927. Walaupun ia di sana sedia berkooperasi, sehingga segera dikejawakan kembali pada 1932 (hal. 42), bagaimanapun Poncopangrawit diakui sebagai pejuang (hal. 61). Kamp konsentrasi Digul diciptakan pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk tempat pengasingan para tapol pemberontak “komunis” tahun 1926. Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) Pulau Buru diciptakan pemerintah republik “Orba” Indonesia untuk tempat pengasingan, di balik jubah selubung eufemisme “tempat pemanfaatan” (tefaat), para tapol pemberontak “komunis” tahun 1965. Karena itu boleh dibilang “Digul” merupakan inspirasi “Buru”, sebaliknya juga bisa dikatakan “Buru” merupakan duplikat dari “Digul”. “Digul” mulai dihuni serombongan besar tapol pada November 1927. “Buru” mulai dihuni serombongan besar tapol pada Agustus 1969. Pada hemat saya, alasan memilih dua kamp pengasingan itu terutama karena lokasinya yang terisolasi dari “lalu lintas” percaturan politik.

Digul Tempat Pengasingan, Buru Tempat Pemanfaatan
Begitulah nama resmi Pulau Buru sebagai pulau tempat pengasingan tapol. Ia semula bernama resmi “Tefaat” (Tempat Pemanfaatan) Buru, dan baru sekitar 1974 diubah menjadi “Inrehab” (Instalasi Rehabilitasi) Pulau Buru. Di Tefaat Buru, tenaga dan kemampuan tapol diperas habis. Mereka tak lagi diakui dan diperlakukan sebagai “political animal” (zoon politicon) atau makhluk masyarakat, tapi makhluk biologis murni atau “biological animal” yang hanya dibedakan dari binatang

karena kemampuannya berbicara (itupun tak ada keleluasaan bagi mereka untuk menyatakannya). Di depan penguasa rezim Orba tapol “komunis” itu bukan “orang” tapi “manusia” belaka. “Orang” ialah “zoon politicon”, sedangkan “manusia” ialah makhluk sejenis monyet. Karena itu, nama-nama pribadi tak berlaku lagi bagi mereka, dan sebagai penggantinya diberikan “nomor foto” dan “nomor baju” berturut-turut. Tapol Buru ialah makhluk bernama “manusia” yang dimanfaatkan daya dan tenaga kerjanya untuk berproduksi. Tapi bukan untuk mereka sendiri hasil produksi yang tercipta itu, melainkan sebagai semacam pungli untuk andil mereka dalam membangun negara, khususnya di Maluku. Pada prakteknya hasil produksi itu jatuh di tangan para penguasa militer lokal. Adapun bagi tapol, si pencipta nilai, cukup remahremahnya yang tersisa. Tak ada kewajiban, apalagi tanggung jawab, di pihak penguasa atas kesejahteraan hidup tapol. Kehidupan sehari-hari tapol di Buru diatur oleh aba-aba bunyi lonceng dan apel. Tanpa kecuali mereka harus bekerja memproduksi (apa saja yang punya nilai tukar). Tapol Digul, di depan mata rezim kolonial, tetap dipandang sebagai orang-orang yang berpribadi. Hanya, karena pernyataan politik pribadi-pribadi itu ditakuti dan dinyatakan terlarang, maka tanpa proses hukum mereka diasingkan. Sebagai konsekuensi tindakannya, pemerintah tak bisa ingkar dari kewajiban untuk memberi mereka kelangsungan hidup. Poncopangrawit dibebaskan dari Digul dan kembali ke Surakarta tahun 1932, karena ia mau bekerjasama dengan Belanda (hal. 42). Ia tidak termasuk di antara 502 orang, yang ikut menyertai “Gamelan Digul” ciptaannya, dilarikan pemerintah Hindia Belanda ke Australia saat ancaman Jepang di medan perang Pasifik semakin tampak tak terbendung.

RESENSI BUKU | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

Dari Korve Suka Hibur ke Panggung Kesenian
Suka hibur ialah salah satu segi tabiat hidup. Suka hibur bisa ditindas tapi tak bisa ditumpas. Ia akan mencari kesempatan, di kesempitan yang paling sempit sekalipun, untuk mencari jalan pernyataannya. Dari satu sel, misalnya, terdengar suara seorang uro-uro (menyanyikan tembang); dari blok lain seseorang akan mendalang dari dalam selnya, diiringi “gamelan” mulut oleh kawankawannya. Di RTC Salemba Jakarta ternyata A. Rachmad, pelukis dari sanggar “Pelukis Rakjat” Yogyakarta, pernah membikin sebuah gitar. Gitar ini pada wadah suaranya diberinya lukisan, dan batang penyangga dawainya berukir. “Gitar Salemba” pasti cuma satusatunya. Beda dengan RTC Tangerang. Tapol di sini mendapat tugas mengelola proyek sawahladang (masing-masing sekitar 50 dan 20 hektar) Kodam Jakarta Raya di Desa Cikokol peluaran kota. Karena itu syarat-syarat kemungkinan bisa mengrajin aneka barang bagi tapol RTC Tangerang, mirip seperti tapol Nusa Kambangan, jauh lebih besar dibanding dengan sesama tapol di RTC Salemba. Di Unit XIV Bantalareja Buru terdapat mereka yang berpotensi menjadi calon-calon penyangga kegiatan suka-hibur, antara lain: Martin Lapanguli (pemain biola, berpendidikan sekolah musik Yogya), Pardede (pemain gitar), Lie Bok Ho (pemenang hadiah hiburan lomba Bintang Radio jenis seriosa 1965), Go Giok Liong (pemain biola dari orkes kroncong RRI studio Jakarta), Basuki Effendy (sutradara film, penyanyi), Rudios Sutanto (kapten kapal “Pelni”, pemain ukulele), Tohir Yahya (paham tentang aneka kesenian rakyat Betawi), Ahmad Suwali dan Warno Wamin (“pengrawit”), Mohidi (penari Jawa dan pemain ketoprak). Pada setiap Sabtu malam Dan Unit biasanya turun ke Namlea, mencari hiburan seksual di ibukota kecamatan Buru Utara itu. Pardede diperintahkan membawa temannya yang bisa bermain alat musik, dengan membawa alat musik seadanya dari barak, ditambah kesediaan Tonwal yang akan meminjamkan instrumen miliknya. Maka mengalunlah hingga tengah malam berbagai ‘genre’ lagu: pop, dangdut, langgam Jawa dan kroncong. Sekitar waktu itu jugalah band yang lahir dari “korve malam panjang” itu dilembagakan dan diberi nama “Bantala Nada”. Lahirnya band ini diikuti dengan lahirnya kelompok orkes kroncong dan irama padang pasir “Irama Bantala”, kelompok wayang wong dan ketoprak “Krida Bantala”, dipimpin oleh Mohidi, dan kelompok pentas Betawi, dipimpin oleh Tohir Yahya, dengan nama “Lenong Bantala”. Ibarat gayung bersambut, sekitar pada akhir perempat tahun pertama Dan Unit memerintahkan pembangunan “gedung kesenian” (baca barak

berpanggung) di kompleks pagar kawat unit. Sesudah “gedung” berdiri, malam hiburan menjadi acara tetap, setiap satu bulan sekali pada hari akhir minggu. “Seniman-seniman” dan kaum suka hibur Jawa tentu “iri hati”. Apalagi Unit IV Savanajaya memiliki seperangkat gamelan di “gedung kesenian” mereka. Di unit ini tinggal dalang wayang kulit ternama, Tristuti Rachmadi, seorang penari dan penyungging wayang Sudarno As, seorang pengrawit dan pengendang Jokowaluyo, dan beberapa nayaga yang cakap. Pada malam-malam tertentu, atau hari Minggu siang tertentu, bila ada ijin dari Dan Unit, mereka di sana mengadakan pergelaran fragmen wayang kulit, bahkan mengembangkan eksperimen pedalangan berbahasa Indonesia. Diam-diam Warno Wamin memesan kawan yang mendapat tugas korve ke Namlea untuk dioleh-olehi drum bekas. Dengan drum bekas itulah ia mulai membuat gamelan. Ia bekerja bersama tapol Johar, kepala regu kerja pandai besi, dan Ahmad Suwali anggota Barak IX yang setiap usai kerja, menjelang apel, “lari” ke kandangan membantu Warno melaras setiap bilah yang sudah selesai ditempa dan dibentuk.

Penutup
Entah kapan Warno dan kawan-kawannya menyelesaikan tugasnya. Perangkat gamelan Bantalareja baru menjadi lengkap, pelog dan slendro, pada akhir 1973. Dengan demikian gamelan Bantalareja selesai dibuat, sekurangkurangnya oleh tiga orang dan dalam waktu paling sedikit dua belas bulan. Di mana sekarang gamelan Buru itu, juga tidak (belum) seorangpun berpaling ke sana dan mencari tahu. Mengingat kamp Digul baru dibuka November 1927, maka saya memustahilkan kebenaran data di buku ini, yang menyebut “Gamelan Digul” selesai dibuat pada 1927. Buku ini juga menulis dengan rasa prihatin tentang Poncopangrawit yang “tak berpendidikan.” Bagi abdi dalem pada umumnya “dekat pada raja” lebih utama ketimbang “dekat pada gubermen”. Bagi tokoh pangrawit kita ini masih ada “nilai tambah”, yaitu ia berada di tengah-tengah kaum pergerakan terkemuka. Agaknya berita tentang Poncopangrawit yang “tak berpendidikan” sengaja dimaksud sebagai ganjal agar “Gamelan Digul” monumental. Ini menjadi lebih tampak ketika buku ini mempersoalkan tanggal meninggalnya Poncopangrawit. Tercatat dua data di sana. Pertama, potret pusaranya yang mencantumkan 11 Oktober 1975 (hal.61) yang diragukan, dengan tuduhan terjadi pemalsuan saat pusara itu dipugar. Kedua, inilah yang diyakini “Gamelan Digul” sebagai kebenaran, ditulis tanggal 10 November 1965. Bertepatan pada Hari Pahlawan ia meninggal, dengan tambahan keterangan selagi di penjara! Membaca berita ini terbentuk dua suasana:

mitos dan misteri sekaligus. Mitos bahwa Sang Tokoh tutup usia tepat pada Hari Pahlawan, dan misteri penyebab Sang Tokoh tutup usia. Untuk yang pertama saya teringat pada cara penulis babad Jawa, dengan proses kebalikan tapi bertujuan pengagungan yang sama. Dalam hal Poncopangrawit, ia diketahui kapan lahir. Tapi, karena ia telah melahirkan satu karya monumental, orang lalu memproyeksikan kapan ia mati sebagai bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November. Mitos ini lebih dihangatkan lagi dengan pernyataan, bahwa Gamelan Digul “emitted spiritual power” (hal. 83). Adapun misteri itu tersembunyi di balik kisah, bahwa Poncopangrawit mati di penjara. Entah karena sakit, siksaan, didor tanpa proses. “Gamelan Digul” cenderung yang akhir — sekali lagi demi mempertinggi fondasi kebesarannya. Kebenaran berita ini, karenanya, menjadi tidak cukup meyakinkan. Surakarta merupakan “basis” kekuatan PKI Jawa Tengah. Di Jakarta Dewan Revolusi hanya bertahan sampai pukul 3 sore 1 Oktober 1965, di Semarang enam hari, di Yogya sepuluh hari, dan di Solo satu bulan! Pada Hari Pahlawan 1965 Presiden Soekarno masih “bertaring”. Ia terang-terangan mengecam habis-habisan komunisto fobia. Bahkan ia berani sesumbar, dia akan mendirikan “Monumen Digul” di tengah kota Jakarta. Pembunuhan terhadap orang-orang “komunis”, pengebonan tokoh-tokoh mereka dari penjara untuk didor, baru terjadi sesudah kongres luar biasa HMI di Solo Maret 1966. Ketika dan sesudah di kongres ini A.H. Nasution hadir dan mengucapkan pidatonya yang bersayap api dan darah: “fitnah lebih kejam dari pembunuhan!” Malam itu, 12 Maret kalau saya tidak salah, 21 orang sarjana di penjara Wiragunan Yogya dibon dan dibunuh. November 1965 di Solo masih “terlalu pagi” untuk pengebonan dan pembunuhan terhadap tapol. Apalagi terhadap tokoh Poncopangrawit yang selama di Digul berkolaborasi, selama di Solo sekembali dari Digul tidak dikenal aktif, dan selama jaman sesudah “pembangunan kembali” partai (1951) nyaris tidak dikenal baik dalam Lekra maupun PKI. Satu hal lagi demi akurasi data. Tertulis dalam kata pengantar Rahayu Supanggah pemberitaan, bahwa pelukis Joko Pekik pernah diasingkan ke Buru (hal. xvi). Ini tidak benar. Para tapol pelukis di Buru, yang terserak di semua unit, sejak 1974 “dilokalisasi” di barak khusus dekat Markas Komando Inrehab, dan Joko tak ada di antara mereka. M

Hersri Setiawan, eks Tahanan Politik Pulau Buru, 1971-1978.

RESENSI BUKU | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

47

>>>TOKOH

w
Agung Putri
orang demikian bersimpati atas kesetiaannya pada suaminya. Bertahun-tahun ia menyuarakan perlawanan terhadap penahanan suaminya, di tingkat nasional maupun internasional. Bisa dikatakan Nelson Mandela semakin dikenal karena Winnie Mandela. Sementara itu ia seperti ditakdirkan harus mengasuh dua anak perempuannya sendiri, karena sang suami lebih banyak berkunjung ke perkampungan-perkampungan kulit hitam mengkoordinasi gerakan bawah tanah. Hal terberat terutama ketika ia harus melepas Nelson Mandela menjalani penahanan selama 27 tahun di Pulau Buru-nya Afrika Selatan, Robben Island. Sumbangannya bagi penghapusan apartheid Afrika Selatan tidak diragukan lagi. Akan tetapi 10 tahun menjelang ambruknya apartheid, dan terutama sesudahnya, Winnie Mandela menjadi figur yang kontroversial. Sebagian orang memujanya, “Dialah ibu bangsa kami!”, “Winnie Mandela adalah ibu bagi Pan African Congress”. SeTOKOH | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

innie mandela:: innie mandela
INNIE Mandela, perempuan kulit hitam, yang senantiasa tampil menyolok dengan gaun berbunga-bunga, hiasan penutup kepala dan kacamata hitam lebar, mungkin lebih banyak dikenal sebagai istri Nelson Mandela. Tetapi bagi masyarakat kulit hitam Afrika Selatan, Winnie lebih dari sekedar istri pimpinan organisasi perjuangan terbesar ANC (African National Congress). Ia juga pejuang yang menjadi teladan bagi gerakan perlawanan anti apartheid. Keterkenalannya berbanding dengan suaminya, tidak hanya di dalam negeri, ia pun dipuja di kancah internasional. Kegiatan politik dan riwayat hidupnya telah ditulis banyak penulis ternama dan dipublikasikan meluas. Winnie Mandela menggalang gerakan perempuan kulit hitam melawan apartheid melalui organisasi Liga Perempuan ANC (ANC Women’s League). Sehingga ia menjadi teladan bagi anggota ANC atas loyalitasnya terhadap organisasi tersebut. Tidak hanya itu, semua
48

nc.

IBU BANGSA KULIT HITAM DI TENGAH PENGHANCURAN APARTHEID

W

mentara itu sebagian lain membencinya dan menuntut agar ia segera diadili dan dihukum. Winnie Mandela menjadi pokok perdebatan masyarakat Afrika Selatan. Apakah dia pahlawan atau pengkhianat? Pada 1980an Winnie Mandela terseret ke dalam berbagai kontroversi kematian, penangkapan para pemuda. Sebelumnya, ia sempat membuat pernyataan publik yang menggemparkan: bahwa pembebasan masyarakat kulit hitam hanya bisa dicapai dengan menggunakan korek api dan ban mobil. Yang ia maksud adalah metode balas dendam paling terkenal, yaitu mengalungkan ban ke seseorang yang dianggap mengkhianati gerakan, menyiram dengan minyak dan membakarnya. Dalam tahun-tahun itu juga tak diragukan lagi setiap polisi dan agen intelijen pasti memiliki bukti kuat bahwa Winnie sangat terlibat dalam aktivitas gerilyawan bawah tanah, menggalang kekuatan pemuda melawan apartheid, menjadikan rumahnya gudang senjata bagi gerilyawan pembebasan. Namun boleh dikata ia senantiasa lolos dari jerat hukum maupun jebakan intelijen. Ketika Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC) didirikan di Afrika Selatan pada 1996, kesaksian demi kesaksian dari korban, polisi dan intelijen pun meluncur. Reputasi Winnie Mandela semakin goncang. Ini menyayat hati rakyat yang mencintainya. Apa sesungguhnya yang terjadi? “Siapakah Winnie Mandela itu? Pahlawan atau Penjahat?” demikian judul rubrik yang sengaja dibuka oleh Kantor berita BBC untuk memuat berbagai komentar orang tentang Winnie Mandela. Winnie terlahir dengan nama Nomzamo Zaniewe Winnifred Madikizela pada 26 September 1934 di Bizana, Pondoland. Ibunya seorang guru dan ayahnya bekerja di Departemen Pertanian dan Kehutanan Pemerintah Transkei (Transkei sekarang tergabung dalam wilayah Eastern Cape, Cape Town). Ia menamatkan pendidikan dasarnya di Bizana dan Shawbury, kemudian meneruskannya ke sekolah pekerja sosial John Hofmeyr di Johannesburg, Gauteng. Ia menjadi salah satu diantara sedikit orang kulit hitam dan perempuan yang mampu meraih jenjang pendidikan tinggi ketika ia memperoleh gelar BA di bidang hubungan internasional di sebuah universitas terpenting, University of Witwatersrand, Johannesburg. Semangat dan ambisi tinggi sudah tampak sejak ia muda. Ia adalah orang kulit hitam pertama yang menjadi pekerja sosial medis di Rumah Sakit Baragawanath, Soweto. Di tempat ini terhampar jurang lebar antara kemapanan minoritas kulit putih dan kemiskinan luar biasa kulit hitam. Ia menyaksikan buruknya pelayanan kesehatan bagi pasien kulit hitam. Dalam salah satu risetnya di perkampungan Alexandria ia juga menemukan tingkat kematian bayi 10/1000 kelahiran. Suatu kematian yang tidak perlu. “Kesadaran politik saya tumbuh dari sini,” demikian ujarnya dalam salah satu wawancara. Ia kemudian berkenalan dengan beberapa pemuda ANC, dan mulai terlibat dalam kegiatan politik pembebasan nasional. Saat ini pula, 1957, ia bertemu dengan Nelson Mandela. Pada 1958 untuk pertama kalinya ia ditangkap atas keterlibatannya dalam demonstrasi anti peraturan “pass”. Peraturan pass yang dikeluarkan pemerintah pada 1956 menetapkan bahwa semua perempuan non kulit putih harus memiliki pass atau kartu ijin untuk tinggal atau bekerja di daerah tertentu dalam waktu tertentu. Sejak saat itu ia menjadi anggota terpenting ANC, menjadi anggota dewan eksekutif nasional Liga Perempuan ANC, serta pimpinan ANC cabang Orlando. Pada 21 Maret 1960 terjadi demonstrasi besar anti peraturan pass yang memuncak pada pembantaian massal di perkampungan Sharpeville. Setelah itu ANC, PAC (Pan African Congress) dan SACP (South African Communist Party) secara resmi dilarang. ANC kemudian beralih ke gerakan bersenjata dan kaum perempuan direkrut dalam sayap bersenjata ANC, Umkhonto weZiswe, MK (Ujung Tombak Bangsa). Winnie merupakan salah satu orang terpenting dalam gerakan ini. Winnie semakin dikenal agen rahasia pemerintah apartheid. Ketika suaminya ditangkap pada 1962, ia pun menerima perintah

larangan bergerak dan terbatas di Orlando West, Soweto atas dasar Undang-undang Penindasan Komunis. Ia mendapat hukuman larangan bergerak lebih sempit lagi pada 1965-1966, sehingga setidaknya hingga 1975, praktis ia terpenjara di wilayah Soweto, perkampungan kulit hitam terbesar di Afrika Selatan. Dalam masa ini ia sempat ditahan selama 1 tahun karena melanggar larangan itu dengan mengunjungi suaminya di penjara Cape Town. Pada 1969 ia ditahan berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Anti Terorisme dalam suatu ruang isolasi selama 17 bulan. Sepanjang 1970-74 ia berulang kali ditangkap karena melanggar larangan bergerak tersebut. Ketika pada 1975 larangan bergeraknya dicabut, ia kembali aktif secara terbuka. Ia membantu pendirian Federasi Perempuan Kulit Hitam. Setelah terjadi demonstrasi besar di Soweto, 1976, ia membantu pendirian Asosiasi Orang Tua Kulit Hitam yang kegiatannya memberikan pelayanan medis dan hukum bagi para korban tindakan polisi ketika menghentikan demonstrasi tersebut. Tetapi pada tahun itu juga ia kembali ditahan selama 6 bulan. Ia kemudian diharuskan tinggal di perkampungan Phatakahle, Brandfort di negara bagian Orange Free selama 9 tahun dengan terus menghadapi ancaman bunuh, bakar dan intimidasi lainnya. Pada 1985 rumahnya di perkampungan itu dibom polisi, sehingga ia terpaksa melanggar peraturan dengan kembali ke rumah lamanya di Orlando West. Winnie Mandela tidak pernah lepas dari pengawasan, penangkapan, dan kekerasan aparat polisi. Tekanan begitu rupa telah menjadikannya sosok yang kuat, penuh percaya diri dan sangat populer di kalangan orang miskin dan perempuan. Hantaman sekeras apapun dan dari siapapun tampaknya tidak meruntuhkan mentalnya. Bahkan ketika hantaman datang dari organisasinya sendiri, ANC, yang didukung organisasi-organisasi lain, popularitasnya di kalangan perempuan dan rakyat miskin justru semakin kental. Pada 1991 ia terpilih menjadi anggota komite eksekutif nasional ANC. Dua tahun kemudian ia terpilih sebagai presiden Liga Perempuan ANC dan pada saat yang sama terpilih sebagai wakil presiden South African National Civic Organization. Pada pemilu demokratis pertama 1994, Winnie berada di urutan 13 kandidat ANC untuk parlemen. Dengan dukungan massa yang besar, ia berada di urutan ke-5 untuk komite eksekutif ANC. Ia juga ditunjuk menjadi wakil menteri Kesenian, Kebudayaan, Ilmu dan Teknologi, namun Presiden Mandela membatalkan penunjukan dirinya. Pada 1998 ia dinominasikan menjadi wakil presiden ANC tetapi tidak terpilih. Pada pemilu kedua, ia berada di urutan ke-9 kandidat ANC untuk parlemen. Saat ini ia menjadi anggota majelis rakyat. Perubahan cukup penting terjadi selama masa pembuangannya di perkampungan Phatakahle, Brandfort dan sesudahnya. Tidak banyak diketahui mengenai aktifitasnya selama 9 tahun tersebut selain terus-menerus menerima ancaman dalam pembuangan dan dua kali ditangkap karena mencoba masuk ke Johannesburg. Begitu pembatasan atas dirinya dicabut pada 1986, ia mendirikan tim sepak bola yang dinamai Mandela United Football Club, MUFC dengan maksud menolong anak-anak muda yang menjadi korban kekerasan. Inisiatif inilah yang membuatnya menjadi sosok kontroversial karena klub itu tidak pernah menjadi sebuah kelompok yang bonafid, dan lebih mirip sebuah gank anak muda pembuat onar, suka berkelahi dan melakukan kekerasan. Pada Juni 1988 rumah Winnie di Soweto dibakar sekelompok anak sekolah karena mereka geram terhadap kelakuan anggota klub yang menganiaya dan memperkosa warga setempat. Klub ini dianggap orang lebih seperti ‘kumis’ Winnie Mandela. Salah satu peristiwa penting yang menyeret Winnie ke dalam kontroversi panjang adalah ketika terjadi penangkapan dan penganiayaan atas empat orang remaja belia dari rumah Misi Methodis di rumah Winnie pada Januari 1989. Bahkan salah seorang dari mereka, Stompie Moeketse Seipei, 14 tahun, ditemukan sudah terbujur menjadi mayat. Ia membantah terlibat dalam penganiayaan itu dengan alibi bahwa ketika peristiwa tersebut terjadi ia berada

TOKOH | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

49

di Brandfort. Dua orang terdekatnya, Jerry Richardson dan Xoliswa Falati mendukung alibinya, sekalipun kedua orang ini dihukum penjara seumur hidup atas pembunuhan Stompie. Kelak, di hadapan TRC, Jerry Richardson mengakui bahwa semua tindakan itu atas perintah Winnie Mandela. Keterlibatan MUFC dalam kekerasan berulang kali selalu dibantah, atau kalaupun diakui, mereka yang terlibat dinyatakan sebagai informan atau agen. Dalam kenyataannya tim sepak bola ini telah menjadi satu kelompok pemuda yang ditakuti kalangan masyarakat kulit hitam karena kekuatan dan kemampuannya menghukum dengan membunuh, menangkap, menyiksa dsb. Apalagi ketika mulai terjadi berbagai pembunuhan terhadap orang-orang yang masih diragukan kolaborasinya dengan intel pemerintah apartheid. Ini membuat ANC perlu memperingatkan Winnie agar lebih berhatihati. ANC dan beberapa organisasi pembebasan lain mulai melihat bahwa kelompok ini telah diinfiltrasi polisi. Para pemimpin ANC termasuk Nelson Mandela, dari balik jeruji, lalu meminta Winnie membubarkan kelompok ini atau mencabut keanggotannya dari klub itu karena terlalu berbahaya bagi perjuangan. Tetapi Winnie bersikeras mempertahankan kelompok itu. Akhirnya pada 16 Februari 1989, Front Demokratik Bersatu, UDF dan Kongres Serikat Buruh Afrika Selatan, Cosatu mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak ada hubungan dengan Winnie dan menyalahkan Winnie atas keonaran yang ditimbulkan MUFC. ANC berupaya mengatasi kerusakan dengan meminta Winnie kembali mengikuti displin dalam gerakan pembebasan nasional. Masyarakat perkampungan di Soweto pun mulai khawatir dan bahkan curiga. Menurut mereka tidak masuk akal aparat intelijen tidak mengetahui aktivitas Winnie. Contohnya adalah peristiwa berdarah di Januari 1987. Salah seorang gerilyawan MK, Oupa Seheri, yang juga anggota MUFC dan berpacaran dengan anak Winnie, Zinzi, terlibat perkelahian yang menewaskan Xola Mokahula di rumah Winnie. Polisi berhasil menemukan pistol AK-47 yang digunakan untuk membunuh di bawah tempat tidur Zinzi. Anehnya, Winnie sama sekali tidak dimintai keterangan meskipun rumahnya telah digunakan untuk menyembunyikan senjata semi otomatis kegemaran gerilyawan MK dan mobilnya digunakan untuk mengejar sasaran. Juga dalam penyelidikan TRC di kemudian hari, Winnie mengakui bahwa ia pelaksana MK atas perintah Chris Hani, seorang kepala staf Umkhonto weZiswe. Polisi sudah pasti sadar akan hubungan Winnie dengan MK. Mereka menaruh alat penyadap telepon di sekitar jam dinding dan rumahnya ketat diawasi. Bahkan dalam dengar pendapat di komisi tersebut, terungkap pula bahwa sejumlah informan telah disusupkan ke dalam MUFC. Tapi ia tetap imun dari interogasi apalagi penangkapan dan penghukuman Kecurigaan dan kekhawatiran meningkat ketika polisi menggerebek rumah pelatih MUFC Jerry Richardson pada 11 November 1988. Di sini dua gerilyawan Sipho dan Tebogo tewas. Tapi sungguh aneh, Richardson hanya ditahan semalam dan dilepas keesokan harinya padahal ia menyembunyikan gerilyawan. Dalam dengar pendapat di TRC, setelah dicecar pertanyaan tajam, Richardson akhirnya mengakui bahwa ia sudah menjadi informan sejak 1988. Sebenarnya ketika ia ditahan semalam di kantor polisi ia mengaku bahwa Winnie Mandela lah yang membawa dua gerilyawan itu ke rumahnya dan memintanya merawat kedua orang tersebut. Tetapi Winnie sama sekali tidak disentuh. Ia kemudian dianggap sebagai pejuang yang sangat gegabah dan kurang menjaga keselamatan berbagai operasi ANC menjelang berakhirnya perjuangan bersenjata, atau lebih buruk lagi, ia membuat dirinya dapat digunakan polisi untuk melancarkan manuver melawan ANC. Sikap Winnie yang menolak disiplin organisasi dan membuat langkahnya sendiri dianggap sebagai sikap yang mau menunjukkan bahwa dirinya berada di atas semua gerakan. Kesaksian demi kesaksian menunjukkan bahwa semua orang

terdekatnya agen militer. Apakah Winnie naif? Ada beberapa kemungkinan, ia bermanfaat bagi polisi untuk mempertahankan ANC sebagai organisasi melawan hukum dan untuk mendiskreditkan organisasi ini. Atau, kemungkinan yang paling aneh, dia memang bekerja sama dengan salah satu dari mereka. Dalam salah satu kesaksiannya Richardson menyatakan Winnie memiliki hubungan gelap dengan Paul Erasmus, orang kunci di Unit Stratcom Cabang Witwatersrand — satu unit kepolisian yang mengkhususkan pada operasi pengacau informasi dan perang psiko politik. Richardson mengatakan ia pernah melihat Erasmus meninggalkan ruang tidur Winnie di pagi hari. Benarkah ini? Di hadapan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi semua kesaksian tergelar. Orang terpana betapa sang ibu ternyata memiliki masa lalu yang gelap. Tetapi kesaksian setajam apapun, senantiasa diakhiri dengan ucapan yang sangat terhormat, seperti misalnya yang disampaikan Azar Chacalia, salah seorang bekas bendahara UDF pro ANC: “Saya ingin menyampaikan pada Ibu Mandela bahwa saya mengenalmu bertahun-tahun. Saya sungguh mengagumi dan menghormati anda. Keluarga Cachalia dan Mandela telah menempuh jalan panjang. Dan ketika duduk di sini, sungguh saya dalam konflik mendalam. Sebagian dari diri saya ingin mendatangimu dan memelukmu dan mengatakan mari lanjutkan perjalanan, tinggalkan semua ini karena ini adalah mimpi buruk. Tetapi sebagian lain dari diri saya mengatakan bahwa kita benar tidak bisa melangkah maju kecuali ada pertanggungjawaban sepantasnya.” Inilah kenyataan pahit perjuangan pembebasan. Periode kekerasan dan kegoncangan politik 1980an membuat tidak mudah memisahkan santa dari pendosa. Winnie hidup dalam dunia yang keras. Di satu pihak, Winnie mungkin berpandangan sebagaimana pandangan para pimpinan ANC “perang yang kami lakukan adalah perang yang adil. Bagaimana mungkin perjuangan pembebasan apartheid disamakan dengan pelanggaran HAM?” Tetapi anggota ANC lain, Pallo Jordan, yang kemudian menjadi Menteri Urusan Lingkungan Hidup dan Turisme, dalam sebuah rapat ANC berdiri dan menyatakan “Kamerad, saya belajar sesuatu yang menarik hari ini. Bahwa ada penyiksaan oleh rejim dan ada penyiksaan oleh ANC. Penyiksaan oleh rejim adalah buruk sedang penyiksaan oleh ANC adalah baik. Terima kasih anda sudah mencerahkan pikiran saya!” Ia kemudian duduk kembali. Di lain pihak, ia berseberangan dengan organisasinya sendiri. Ia menjadi flamboyan, macho dan feminin secara bersamaan. Ia tidak hanya hendak melawan apartheid, tetapi juga menantang kepemimpinan laki-laki dalam ANC. Titik kritisnya adalah siapa yang menentukan arah gerakan, Winnie atau pemimpin ANC. Bagaimana jika arah gerakan ternyata membahayakan satu dan lainnya? Apakah gerakan feminis akan membahayakan gerakan lainnya seperti yang ditakutkan selama ini. Dalam teori, banyak pemikiran feminis yang mampu merumuskan dengan tepat bagaimana gerakan mereka lebih progresif dari pada gerakan rakyat konvensional lainnya. Namun berbicara kenyataan, perempuan menghadapi lebih. Azas progresif itu sendiri harus diuji. Dan ujian itu jauh lebih berat dari pada gerakan konvensional pada umumnya. Hal ini membuat feminisme harus lahir dari got dan kampung-kampung bukan dari universitas. Winnie Mandela telah menguji feminisme, salah atau benar, progresif atau tidak, ia mengujinya dari kampung kumuh dan penjara-penjara kulit hitam yang dijajakinya selama puluhan tahun. M

Agung Putri, anggota redaksi MKB
50 TOKOH | Media Kerja Budaya edisi 10/2003

>>>BERITA PUSTAKA
Imperialisme Abad 21
Penulis: James Petras dan Henry Veltmeyer Alih Bahasa: Agung Prihantoro Pengantar: Revrisond Baswir Penerbit : Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2002 Teori pembangunan neo-liberal tidak mengatakan sesuatu pun kepada kita tentang kemana arah keuntungan pembangunan mengalir. James Petras dan Henry Veltmeyer dengan menunjukkan data yang cukup luas disertai analisa yang tajam berpendapat bahwa teori neoliberal sesungguhnya memandang pembangunan dalam definisi “perluasan ketidakadilan.” Wujud nyatanya bisa dilihat dalam kebijakan privatisasi. Privatisasi adalah salah satu agenda penyesuaian struktural yang senantiasa direkomendasi IMF dan Bank Duniabagi pil penawar krisis ekonomi suatu negara. Senyatanya, privatisasi adalah alat untuk menguasai sektor-sektor strategis dari suatu negara agar jatuh ke tangan pemilik global. Keadaan ini akan terus berlanjut, sampai negara hanya menguasai sebagian kecil aset perekonomian dan tidak bernilai strategis. Dan negara yang melakukan langkah ini akan dipuja-puji sebagai negara demokratis dan mempunyai prospek pertumbuhan ekonomi yang cerah oleh lembaga peringkat kesejahteraan internasional. m romusha ini dengan memindahkan mereka ke tempat yang terpencil, jauh dari barak para romusha lainnya, agar bisa melarikan diri kalau memang mereka mempunyai keberaniaan untuk itu. Mayor Jepang ini yakin jika Jepang kalah perang kelak, mereka tetap akan berhubungan bukan sebagai penjajah tetapi sebagai bangsa yang merdeka. Hario Kecik memulai penulis novel ini saat ia masih dalam penjara Rumah Tahanan Militer tahun 1979, sebagaimana ia ucapkan “Saya ingin menulis perkara kehidupan rakyat yang belangsung tiga zaman, zaman Belanda, Jepang dan kemerdekaan. m

Depoliticizing Development: The World Bank and Social Capital
Penulis: John Harris Penerbit: LeftWord Books, New Delhi 2002 Social capital atau Modal sosial berkaitan erat dengan cita-cita kepercayaan masyarakat, dan aktivitas diseputar masyarakat sipil (berlangsung dalam ruang lingkup perkumpulan, diluar negara, rakyat secara bebas berpartisipasi). Modal sosial mempunyai makna yang paling sederhana, yakni hubungan sosial—yang tidak pernah didengar oleh para ilmuwan sosial untuk jangka waktu yang lama. Dewasa ini modal sosial diproklamasikan oleh Bank Dunia menjadi “mata rantai yang hilang” dalam pembangunan internasional. Sekarang ini modal sosial menjadi pembahasan sekonjong-konjong dikalangan intelektual India. Buku ini mengkaji asal-usul gagasan modal sosial, dan pengertiannya yang bermacam-macam dalam karya James Coleman, Pierre Bourdieu dan Robert Putnam, orang yang bertanggung jawab atas penerapan kajiannya di Itali dan Amerika Serikat. John Harris penulis buku ini menegaskan mengapa gagasan modal sosial dapat berjalan dalam cara yang dramatis, dan dapat dipergunakan oleh Bank Dunia secara sistematis demi mengaburkan hubungan kelas dan kekuasaan. Modal sosial sekarang menjadi motor penggerak Bank Dunia untuk mendengungkan “mesin anti politik” dalam wacana pembangunan internasional. m

Liur Emas
Penulis: Hario Kecik (Soehario Padmodiwirio) Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2002 Novel ini berlatar belakang tiga periode sejarah dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang dan sesudah kemerdekaan. Dikisahkan tentang desa Karang-Bolong pada saat panen burung walet yang erat kaitannya dengan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa Laut Selatan. Alkisah setelah penjajahan Belanda berakhir dan digantikan Jepang, muncul seorang Danudikromo yang hendak meraih keuntungan untuk dirinya sendiri dengan menjebloskan anak muda bernama Kario dan juga seorang Mantri Polisi Notoprawiro ke penjara sehingga mereka menjadi pekerja paksa romusha. Seorang intel Jepang, Mayor Oka diam-diam telah membantu pelarian kedua pekerja paksa

HUBUNGI:

021.809.5474
ATAU E-MAIL:

tu-mkb@kerjabudaya.org

UNTUK BERLANGGANAN
MEDIA KERJA BUDAYA (MKB) AGAR ANDA TAK TERTINGGAL PERBINCANGAN TENTANG SEGALA PERSOALAN, GAGASAN DAN PENCIPTAAN UNTUK MEMAJUKAN KEHIDUPAN INTELEKTUAL DAN KEBUDAYAAN DI INDONESIA.

Kampanye anti perang ini dipersembahkan oleh X-Y bekerja sama dengan MKB