Paham Integralistik dalam ajaran Pancasila

Paham integralistik merupakan paham atau cara pandang bangsa
Indonesia terhadap diri sendiri dan tata kehidupan sesuai dengan ajaran dan
pemikiran dalam kefilsafatan Pancasila, kefilsafatan bangsa Indonesia.
Bahwa pada dasarnya sebagaimana kodrat manusia sebagai makhluq individu
dan makhluq sosial, Pancasila mengajarkan adanya keseimbangan, keserasian
dan keselarasan dalam tata kehidupan bangsa, yang di dalamnya terdiri atas
individu-individu sebagai bagian dari komunitas dan entitasnya. Dalam
kenyataannya bahwa keberadaan manusia (bangsa Indonesia) penuh dengan
keberagaman/kemajemukan/pluralisme, yang masing-masing memiliki dan
diakui keberadaannya sebagai bagian dari keutuhan komunitas dan entitas
bangsa yang besar. Atas kenyataan demikian guna menjamin tata kehidupan
yang penuh dengan kedamaian dan tertib sosial diajarkan persatuan dan
kesatuan dalam hidup, sejalan dengan sifat dan karakter kefilsafatan
Pancasila yang integral (satu kesatuan pemikiran yang bulat dan utuh).
Paham integralistik disebut pula sebagai paham kekeluargaan dalam tata
kehidupan, merupakan ajaran dari makna dan pemikiran kefilsafatan dalam
sila ke tiga Pancasila.
Konsep paham integralistik, untuk menyebut tata kehidupan bangsa
Indonesia, dan melembagakannya dalam tata kehidupan bernegara, pertama
kalinya dikemukakan oleh Prof. Soepomo dalam pidanya pada sidang BPUPKI
tanggal 31 Mei 1945 di gedung Tyuuo Sangi-In, tentang teori kenegaraan
dalam membahas pengertian dan konsep dasar negara (staats idee) guna
memerdekaan bangsa indonesia dan melahirkan negara Republik Indonesia.
Guna membangun pijakan epistemologi yang kuat dalam mengkonstruksi
dasar negara dan tata kehidupan bernegara, Prof. Soepomo mengemukakan
dan membandingkan berbagai pemikiran teori negara dari bunga rampai
pijakan epistemologi pemikiran politik negara-negara Barat, diantaranya:

Teori Individualistik (perseorangan)
Para tokoh yang mengajarkan teori individualistik antara lain adalah

Thomas Hobbes dan John Locke (abad 17), Jean Jacques Rousseau (abad 18),
Herbert Spenser (abad 19) dan H. J. Lakski (abad 20). Menurut pandangan
teori individualistik ini, negara merupakan masyarakat hukum (legal society)
yang dibangun dan disusun berdasarkan kontrak sosial seluruh individu dalam
masyarakat. Karena itu, pemerintah sebagai pnyelenggara negara berperan
70

71 . Soepomo memandang bahwa sifat tatanan sosial masyarakat Indonesia dan sifat tata susunan negara Indonesia sejalan dengan konsep pemikiran teori integralistik. Pada dasarnya baik ideologi kapitalis-liberalis maupun ideologi komunisme-Marxisme dibangun dari teori ekonomi. akan tetapi untuk menjamin kepentingan masyarakat 1 Ideologi yang dimaksudkan oleh Marksisme dan penganutnya adalah ideologi individualisme dan kapitalisme. Karena itu dalam pandangan komunis-marxis kepemilikan modal oleh negara untuk kepentingan proletar. Kepemilikan modal oleh negara tidak pernah memberikan kesejahteraan dan bahkan yang terjadi adalah adanya penindasan dan ekploitasi oleh negara (penguasa) kepada warga negara. • Teori Golongan (Class Theory) Tokoh utama yang membangun dan mengajarkan teori golongan atau teori kelas adalah Karl Marx. Karena itu diperlukan adanya pergerakan kelas proletar untuk melakukan revolusi politik merebut kekuasaan dari kaum borjuis. Untuk melakukan revolusi diperlukan adanya kesadaran kelas proletar dan untuk itu ideologi harus diganti dengan ilmu pengetahuan1. Negara yang bisa dibangun atas model ini adalah Eropa Barat dan Amerika Serikat. Dari pemikiran ke tiga tokoh itu yang paling berpengaruh (banyak dianut) menjadi suatu paham adalah dari Karl Marx dan Lenin. kepemilikan modal dan penyediaan barang dan jasa diserahkan ke mekanisme pasar dan negara tidak berhak mencampuri pasar. Dalam pandangan teori kelas. • Teori Integralistik Pemikiran teori integralistik diajarkan oleh Spinoza. Prof. hingga sering disebut sebagai Marxisme dan Leninisme. Adam Muller dan Hegel dan lainya (pada abad 18 dan 19). sementara Marx menentangya dan mengajurkan sistem ekonomi komunal. Dalam teori integralistik. Dalam kenyataannya pada praktek negara-negara komunis. negara (yang dibangun dari teori individulaistik) dianggap sebagai alat dari golongan (klasse) pemilik modal (borjuis) untuk melakukan penindasan dan penghisapan kepada golongan buruh dan proletar lainnya yang lemah. Dalam pandangan kapitalis-liberalis (yang dibangu dari teori individualistik) berpegang dan berpihak pada mekanisme pasar. negara tidak untuk menjamin kepentingan perorangan atau golongan tertentu. Ilmu pengetahuan yang dimaksudkan sebenarnya adalah pemikiran Marxisme yang merupakan embrio dari ideologi komunisme.sebagai pemilik otoritas guna menjaga keteraturan sosial masyarakat sipil. dianggapnya mekanisme pasar hanya akan menjadikan adanya penindasan dan eksploitasi pemilik modal terhadap kelompok buruh dan proletar. yang dibangun dari teori ekonomi Marx yang menentang teori ekonomi liberal. Engels dan Lenin. jaminan kelayakan hidup terhadap warga negara tidak pernah terjadi.

. atau dari dunia luar... golongangolongan malah segala golongan makhluq. semua golongan diliputi semangan gotong-royong dan semangat kekeluargaan.. Muhammad Yamin menekankan perlunya mencantumkan klausal tentang perlindungan hak-hak asasi manusia... Soepomo menegaskan bahwa jika hendak mendirikan Negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat dan corak masyarakat Indonesia.... Menurut sifat tata negara Indonesia yang asli. Konsep paham integralistik Indonesia adalah spesifik sesuai dengan karakter dan budaya bangsa Indonesia sendiri.. jikalau betul-betul hendak mendasarkan negara kita kepada paham kekeluargaan. Prof.. Soepomo mendapat tanggapan dan dukungan pemikiran dari Bung Karno.. Keberadaan negara sebagai susunan masyarakat yang integral. segala sesuatu bercampur baur dan bersangkut paut. Masyarakat Indonesia yang dalam suasana persatuan. dan tidak sama dengan konsep 72 . maka enyahlah tiaptiap pemikiran tentang individualistik dan liberlaisme .”. Negara menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya sebagai persatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. paham gotong-royong dan keadilan sosial. segala golongan...seluruhnnya sebagai persatuan. yang menyatakan “. paham tolongmenolong. Bung Hatta menekankan “. Karena itu negara tidak memihak kepada suatu golongan yang paling kuat atau paling besar. kita mendirikan negara baru harus memperhatikan syarat-syarat supaya negara yang kita buat tidak menjadi negara kekuasaan . tidak menganggap kepentingan seseorang sebagai pusat... Sepertihalnya Bung Hatta. Pada akhir pidatonya.. Terhadap ide paham integralistik. segala bagian. segala anggota berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis.. maka negara kita harus berdasar atas aliran pikiran (staats idee) negara yang integralistik.”.. inilah ide totaliter. “. ide integralistik dari bangsa Indonesia yang berwujud juga dan dalam susunan tata negararanya yang asli. kita mendirikan negara baru di atas dasar gotong-royong dan hasil usaha bersama . perlu dimasukannya klausal tentang kebebasan untuk berkumpul dan bersidang atau menyurat dan lain-lain . Pemikiran Prof. agar tidak menjadikan negara sebagai negara kekuasaan”. pejabat negara ialah pemimpin yang bersatu jiwa dengan rakyat dan pejabat negara senantiasa berwajib memegang teguh persatuan dan kesimbangan dalam masyarakatnya. Bung Hatta mengemukakan bahwa paham individualisme memang harus ditentang. Teori integralistik memandang bahwa manusia sebagai seorang yang tidak dapat terpisah dari seseorang lainnya.

Secara normatif konsep paham integralisitk tersebut. yang penting adalah bangsa (Du bist Nicht Deine Volk is Alles). namun harkat dan martabat manusia dihargai. 73 .. Paham integralistik Indonesia. Konsep Integralistik Jerman bercirikan: bahwa kamu sebagai orang seorang yang tidak ada artinya.. adil dan makmur”. Paham integralistik Indonesia bercirikan: kepentingan masyarakat diutamakan. Kata “bersatu” tersebut menunjukan pada kontek kehidupan bangsa yang integral (kolektif dan menyeluruh) dalam membetuk dan menyelenggarakan negara.integralistik model Jerman. dalam pada itu tanpa adanya pengaturan secara khusus seharusnya perlindungan HAM sudah harus dilaksanakan oleh bangsa dan negara. menempatkan hak asasi manusia sebagai hak yang harus dihargai oleh semua golongan sebagai bagian integral bangsa dan negara. dimana konsep itu sering dijumpai dalam kehidupan desa atau “nagari” yang mengenal adanya hak ulayat dan hak perseorangan. sehingga pemikiran paham integralistik tersebut mengikat secara hukum untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. namun keberadaan individu dan semua hak-haknya mendapat pengakuan dan penghragaan. yang terdiri dari ayah. Paham integralistik yang ada di Jerman menimbulkan disiplin mati (kadaver discipline) yang menumbuhkan negara kekuasaan yang totaliter. konsep paham integralistik tersebut dirumuskan dalam teks : “. dimana masing-masing memiliki sifat dan kecenderungan yang berbeda tetapi tetap satu keluarga yang utuh. Paham integralistik Indonesia menempatkan pluralisme sebagai landasan bagi integrasi bangsa (Bhinneka Tungal Ika). dimana asas negara kekeluargaan merupakan isi dari jiwa ajaran kefilsafatan Pancasila. dalam tata kehidupan negara Kesatuan Republik Indonesia. berdaulat. paham integralistik menyebutkan negara sebagai “negara kekeluargaan”.. Pemikiran akan pengakuan HAM dalam paham integralistik (paham kekeluargaan). yang merdeka. dapat dipahami dari konsep keluarga. yang masing-masing individu mempunyai tanggungjawab dalam keluarga besar bangsa dan negara Indonesia. rakyat merupakan dan merasa dirinya sebagai satu keluaraga. Pada alenia ke dua Pembukaan UUD 1945. diakomasikan dan dituangkan dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945. bersatu. ibu dan anak-anak... Dalam kontek kehidupan ketata negaraan. Dalam negara kekeluargaan. dan hak-hak anggota keluarga mendapat tempat dan penghargaan yang tinggi didasarkan pada kesadaran dan keikhlasan setiap anggota keluarga. Dalam konsep negara kekeluargaan (integralistik) sekalipun keberadaan individu lebur dalam keluarga.

.. dengan konsep lain sering disebut publik) tanpa ada diskriminasi sebagai bentuk penghargaan atas hak-hak konstitusi warga negara.. dan mencerdaskan kehidupan bangsa” merujuk pada kontek kualitas hidup. 74 . Penjabaran lebih lanjut dalam naskah konstitusi (pasal-pasal Batang Tubuh UUD 1945). Dalam hal kesejahteraan tersebut juga mengandung makna adanya keseimbangan antara kesejahteraan secara kolektif dan individual. bukan pada individu atau kelompok. memajukan kesejahteraan umum. pertama-tama paham integralistik tersebut diakomodir untuk menentukan bentuk negara sebagaimana yang tertuang dalam pasal 1 ayat (1). Paham integralistik juga diakomodir pada konsep penyelenggaraan negara dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.. negara berkewajiban memberikan pelayanan publik kepada keseluruhan bangsa (dalam kontek hubungan dengan negara adalah rakyat atau warga negara. Permasalahannya adalah apakah dalam realitasnya dewasa ini paham integralistik itu dipahami oleh warga negara dan penyelenggara negara? Apakah kehidupan sehari-hari bangsa dan negara dewasa ini sejalan dengan paham integralistik.. Hal itu ditujukan bahwa secara individu setiap warga negara berhak memeperoleh kesejahteraan kehidupan yang layak. Karena itu dalam tataran pelaksanaannya. ditekankan pada “usaha bersama dan asas kekeluargaan”. kehidupan dan penghidupan bangsa secara keseluruhan. dan mencerdaskan kehidupan bangsa ... pada kontek tujuan nasional Indonesia dirumuskan dengan : “... melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. integritas penyelenggaraan negara dan kewenangan negara. Pada bidang ekonomi (pasal 33). serta integritas pemerintahan yang berbentuk republik. pasal 27 ayat (2). Kata “seluruh tumpah darah” merujuk pada kontek kesatuan atau integrasi wilayah negara Republik Indonesia.”. yaitu negara Indonesia adalah negara Kesatuan berbentuk Republik. Kata “segenap bangsa” merujuk pada kontek kolektivitas atau keseluruhan bangsa Indonesia. Selanjutnya pelaksanaan paham integralistik pada tingkat operasional diatur melalui UU dan peraturan di bawahnya. baik pada tataran persatuan dan kesatuan komunitas atau society-nya (integrasi bangsa). Konstitusi (UUD 1945) memuat teks yang bermakna pada konsep integralistik. Ketentuan itu menunjukan pada konsep integritas wilayah negara sebagai ruang hidup bangsa..Selanjutnya pada alenia ke empat. Selanjutnya pada kata “memajukan kesejahteraan umum.