You are on page 1of 20

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Pada

Pasien dengan Cerebro Vascular Accident (CVA)

OLEH :
KELOMPOK
I Made Adhitya Raharja
Ni Luh Nina andayani
I Gede Made Perwiranata

11.321.1193
11.321.1168
11.321.1076

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI
2014

KATA PENGANTAR
“Om Swastiastu”
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa/Ida sang
Hyang Widhi Wasa, karena berkat rahmat Beliaulah penulis dapat menyusun
laporan asuhan keperawatan yang berjudul “Laporan Pendahuluan dan Asuhan
Keperawatan Pada Pasien dengan Cerebro Vascular Accident (CVA)”.
Tentunya, dalam menyusun laporan ini, banyak hambatan yang penulis
jumpai. Tetapi berkat bantuan dari beberapa pihak yang terkait, hambatan tersebut
dapat penulis atasi. Keberadaan laporan ini dibuat dalam memenuhi tugas
perkuliahan dalam pelajaran Sistem ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak
yang telah membantu terselesainya laporan ini terutama terhadap para dosen
pembimbing.
Penulis menyadari bahwa penyajian dari laporan ini masih jauh dari
sempurna, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki.
Oleh sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
laporan ini sangat penulis harapkan. Penulis juga tidak lupa mohon maaf yang
sebesar-besarnya kepada para pembaca, jika pada laporan ini ada kesalahan cetak,
susunan dan sistematika serta kesalahan lain yang lolos dari pengamatan penulis.
Akhir penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
“Om Santih, Santih, Santih Om”
Denpasar, 19 Januari 2015

Penulis

1

............... Patofisiologi............................................3 F.................................1 B.............................................................................................................................................................1 C........................... Implementasi...............................................................3 I......................iv C..............................................................................20 2 ........................................................ Manfaat....................................... Evaluasi....................................iv BAB II...............................................................i DAFTAR ISI................... Latar Belakang..................... Tujuan..................................................5 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan.... Pemeriksaan Penunjang......8 C.............................. Intervensi.............. Pathway..................................................................3 H...........................................................................18 DAFTAR PUSTAKA.................. Metode Penulisan..................................................... Kesimpulan.....1 Konsep Dasar Penyakit.................5 B................................................................................................................... Pengkajian............................................................................................................................................18 A.................................................................... Tanda dan Gejala.........................3 G......... Komplikasi............................................................................................ Definisi..17 E.iv B...............................................................................................................................4 J....................................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.....2 E.................................................................................................................................... Rumusan Masalah.......................................................... Faktor Resiko.......................................iv E..... Klasifikasi..........................................................................iv D.............................................................iv A...................................... Etiologi............................................................................................................................................................................................................................................ii BAB I.................................................................................................................1 A.......5 A................................................ Penatalaksanaan............................................. Diagnosa Keperawatan..........................................................................17 BAB III.......................................8 D............................................1 D.................................................................................................................................................

3 .

Mengetahui asuhan keperawatan pada cerebro vascular accident. B. yaitu : konsentrasi karbon dioksida. Tiga macam faktor metabolik mempinyai efek sangat kuat terhadap aliran darah serebral.BAB I PENDAHULUAN A. Manfaat Adapun manfaat yang kami dapatkan dari pembuatan makalah ini yaitu : 1. Bagaimana laporan pendahuluan pada cerebro vascular accident ? 2. Tujuan Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu : 1. 2. 2. Kenaikan konsentrasi karbon dioksida dalam darah arteri yang memperfusi otak sangat meningkatkan aliran darah serebral. buku dan juga dari internet. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari latar belakang di atas yaitu : 1. Memberi gambaran mengenai laporan pendahuluan pada cerebro vascular accident. 4 . sedangkan penurunan konsentrasi oksigen meningkatkan aliran tersebut. Suatu kenaikan dalam konsentrasi karbon dioksida atau ion hidrogen meningkatkan aliran darah serebral. D. Latar Belakang Aliran darah serebral sangat berhubungan dengan metabolisme jaringan otak. E. konsentrasi ion hidrogen. dan konsentrasi oksigen. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kepustakaan. dimana data-data yang diperoleh didapatkan melalui jurnal keperawatan. Bagaimana asuhan keperawatan pada cerebro vascular accident ? C. Memberi gambaran mengenai asuhan keperawatan pada cerebro vascular accident. Mengetahui laporan pendahuluan pada cerebro vascular accident. Karbon dioksida meningkatkan aliran darah serebral oleh reaksi dengan air di dalam cairan tubuh untuk membentuk asam karbonat yang kemudian berdisosiasi membentuk ion hidrogen kemudian menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah serebral.

5 .

Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak) 4. Karbon dioksida meningkatkan aliran darah serebral oleh reaksi dengan air di dalam cairan tubuh untuk membentuk asam karbonat yang kemudian berdisosiasi membentuk ion hidrogen kemudian menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah serebral. Doengoes. Hemoragi C. Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak ) 2.129) B.BAB II PEMBAHASAN Konsep Dasar Penyakit A. konsentrasi ion hidrogen. Tiga macam faktor metabolik mempinyai efek sangat kuat terhadap aliran darah serebral. ini kira – kira 750 ml/menit atau 15 % curah jantung total pada waktu istirahat. Hilangnya karbon dioksida mengeluarkan asam 1 . sebaliknya berkurangnya konsentrasi ion hidrogen sangat meningkatkan kegiatan neuron. Meningkatnya konsentrasi ion hidrogen sangat menekan kegiatan neuron. Kenaikan konsentrasi ion hidrogen menyebabkan peningkatan aliran darah dan sebaliknya mengangkut karbon dioksida dan asam – asam yang terlarut keluar dari jaringan otak dengan kecepatan yang meningkat. Patofisiologi Aliran darah normal melalui jaringan otak rata – rata 50 – 55 ml/100gr otak/menit. 2000. Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain ) 3. Zat asam laktat. Kenaikan konsentrasi karbon dioksida dalam darah arteri yang memperfusi otak sangat meningkatkan aliran darah serebral. Etiologi Beberapa penyebab yang melatar belakangi terjadinya cva antara lain: 1. asam piruvat. dan konsentrasi oksigen. atau zat apapun yang bersifat asam yang terbentuk selama proses metabolisme. Aliran darah serebral sangat berhubungan dengan metabolisme jaringan otak. sedangkan penurunan konsentrasi oksigen meningkatkan aliran tersebut. Definisi Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA (Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu (Marilynn E. Suatu kenaikan dalam konsentrasi karbon dioksida atau ion hidrogen meningkatkan aliran darah serebral. yaitu : konsentrasi karbon dioksida. Untuk seluruh otak orang dewasa rata – rata.

karena otak terbungkus dalam kubah yang kuat maka akumulasi cairan edema menekan pembuluh darah. Sementara. Sementara Timbul hanya sebebtar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. mekanisme defisiensi oksigen untuk vasodilatasi. yang kemudian menekan aliran darah dan merusak jaringan otak. Tanda dan Gejala Gejala . Gejala makin lama makin berat (progresif) Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang dissebut progressing stroke atau stroke inevolution 4. Jika aliran darah ke otak tidak cukup untuk memberikan jumlah oksigen yang diperlukan. menyebabkan vasodilatasi yang mengembalikan aliran darah dan transpor oksigen ke jaringan otak mendekati normal. Hipertensi 2 . mekanisme membantu mempertahankan konsentrasi ion hidrogen yang sangat konstan di dalam cairan serebral dan oleh karena itu juga mempertahankan tingkat kegiatan neuron yang normal. Penyebab edema otak yang yang biasa adalah peningkatan tekanan kapiler yang hebat atau kerusakan endotelium kapiler. dan bersama – sama dengan pengeluaran asam – asam lain. Gejala itu muncul bervariasi.Gejala-gejala itu antara lain bersifat: 1.namun lebih dari 24 jam Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND) 3. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama. mengurangi konsentrasi ion hidrogen kembali ke normal. 2. Sudah menetap/permanen E. Faktor pencetus yang paling lazim adalah memar otak tempat jaringan otak dan kapiler mendapat trauma serta cairan kapiler merembes ke jaringan yang mendapat trauma. bergantung bagian otak yang terganggu. Salah satu komplikasi abnormalitas hemodinamik serebri yang paling serius adalah timbulnya edema otak. Mekanisme oksigen untuk pengaturan aliran darah serebral setempat merupakan suatu pelindung yang sangat penting terhadap berkuranganya kegiatan neuron serebral dan gangguan kemampuan mental.karbonat dari jaringan tersebut. D. Saraf simpatis dari rantai simpatis servikal berjalan ke atas sepanjuang arteri – arteri serebral untuk mempersarafi pembuluh darah serebral superfisial. memperberat atau malah menetap. Faktor Resiko 1.gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut.

Kolesterol tinggi 4. Penyalahgunaan obat ( kokain) 9. Penurunan darah serebral 3. Pungsi Lumbal a. Klasifikasi 1. Hipoksia Serebral 2. Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi. Angiografi serebral Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri 3. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal G. namun bisa juga terjadi saat istirahat. Konsumsi alcohol. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulakan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria. Pemeriksaan Penunjang 1. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif. merokok F. hemoragik. Obesitas 5. Menunjukan adanya tekanan normal b. penyakit jantung kongestif 3. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark. 5. CVA Hemoragik Merupakan perdarahan serebaal dan mungkin perdarahan sub araknoid yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada area otak tertentu. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena 7. 2. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan 4. Kesadaran klien umumnya menurun. CVA Infark Dapat berupa iskemia atau emboli dan trombosis serebral. iskemia dan adanya infark 2.2. gagal jantung kongestif. EEG : Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik 6. fibrilasi atrium. biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat. Luasnya area cedera H. Kesadaran umumnya baik. baru bangun tidur atau di pagi hari. merkok. Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral) 6. hematoma. Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi) 7. dan kadar estrogen tinggi) 8. Komplikasi 1. CT Scan Memperlihatkan adanya edema . 3 .

J. Pathway 4 . 2.I. Penatalaksanaan 1. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral . Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi.

Integritas ego a. paraliysis (hemiplegia) . Data Subyektif: 1) Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA ) 5 . hilang harapan b. Data obyektif: 1) Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring) 2) Obesitas ( factor resiko ) 6. kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot ) b. anuria 2) Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ). femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal 3. pipi . Data obyektif: 1) Hipertensi arterial 2) Disritmia. kegembiraan 2) Kesulitan berekspresi diri 4. kesediahan . tidak adanya suara usus( ileus paralitik ) 5. b. Makan/ minum a. Eliminasi a. disfagia 4) Riwayat DM. Aktivitas dan istirahat a. Pengkajian 1.Konsep Dasar Asuhan Keperawatan A. kelemahan umum. Data Obyektif 1) Perubahan tingkat kesadaran 2) Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic). Data Subyektif: 1) Inkontinensia. Sirkulasi a. Data Subyektif: 1) Nafsu makan hilang 2) Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK 3) Kehilangan sensasi lidah . gagal jantung . Data Subyektif: 1) Perasaan tidak berdaya. polisitemia. Sensori neural a. Data obyektif: 1) Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat. Data Subyektif 1) Kesulitan dalam beraktivitas . endokarditis bacterial ). perubahan EKG 3) Pulsasi : kemungkinan bervariasi 4) Denyut karotis. kelemahan. Peningkatan lemak dalam darah b. 2) Mudah lelah. 3) Gangguan penglihatan 2. disritmia. tenggorokan. Data Subyektif: 1) Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung. kehilangan sensasi atau paralysis.

ketegangan otot / fasial 8. Keamanan a. kesulitan untuk melihat objek. kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata. Nyeri / kenyamanan a.2) Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. Data obyektif: 1) Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan 2) Perubahan persepsi terhadap tubuh. global / kombinasi dari keduanya. genggaman tangan tidak imbang. dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh 6 . stimuli taktil 6) Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik 7) Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi lateral 7. hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit 3) Tidak mampu mengenali objek. Data obyektif: 1) Status mental . pendengaran. Data Subyektif: 1) Perokok ( factor resiko ) b. Data obyektif: 1) Tingkah laku yang tidak stabil. warna. gelisah. sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati 4) Penglihatan berkurang 5) Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama ) 6) Gangguan rasa pengecapan dan penciuman b. reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif. berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral ) 3) Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral ) 4) Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa. Data obyektif: 2) Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas 3) Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur 4) Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi 9. koma biasanya menandai stadium perdarahan . apatis. kesemutan/kebas. kata. Respirasi a. 3) Kelemahan. 5) Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat. gangguan tingkah laku (seperti: letergi. dan wajah yang pernah dikenali 4) Gangguan berespon terhadap panas. Data Subyektif: 1) Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya b. menyerang) dan gangguan fungsi kognitif 2) Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke.

oklusi otak. berkurang kesadaran diri 10. Pupil isokor 5. Kerusakan mobilitas fisik b/d kelemahan dan kerusakan perceptual / kognitif 4. vasospasme. Perencanaan Keperawatan Intervensi Berikan penjelasan 1.5) Gangguan dalam memutuskan. ketidakmampuan berkomunikasi terhadap B. P = 60 – 100 7 1. dan edema otak 2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan sekresi sekret. dan edema serebral C. Interaksi social a. Data obyektif: 1) Problem berbicara. kehilangan kontrol /koordinasi otot 5.d kerusakan neuro muskuler. GCS = 4 – 5 – 6 4. P a tidur terlentang tanpa k bantal b K Monitor tanda – m tanda status neurologis v dengan GCS d p Monitor TTV o Kolaborasi dengan d dokter dalam pemberian : p a. meningkatnya tingkat vasospasme. D Baringkan klien (bed o rest) total dengan posisi 4. K d kepada keluarga klien 2. Defisit perawatan diri b.8 °C. Tidak ada keluhan nyeri kepala. penurunan kekuatan dan ketahanan. 5. 3. Terpelihara dan intraserebral. dan edema otak kesadaran. Tanda – tanda vital dalam batas normal (S = 36 – 37. 3. Intervensi Diagnosa Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Perubahan perfusi jaringan Tujuan : otak b/d perdarahan 1. perhatian sedikit keamanan. 2. Diagnosa Keperawatan 1. Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan Kriteria Hasil : 1. Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK 3. mual. oklusi otak. P tentang sebab i m peningkatan TIK dan t akibatnya 3. dan ketidakmampuan batuk efektif sekunder akibat kelemehan. 4. Perubahan perfusi jaringan otak b/d perdarahan intraserebral. kognisi dan fungsi sensori / motor 2. dan kejang 3. cairan iv dengan m . Klien tidak gelisah 2. Risiko peningkatan TIK b/d peningkatan volume intrakranial. penekanan jaringan otak. Refleks cahaya + / + 6.

bersin jika ada indikasi 5. O d s p 2. Individu mampu sekresi sekret. Bunyi nafas terdengar bersih 2. a b Bersihan jalan nafas tidak Tujuan efektif b/d peningkatan 1. P d d u h 4. seperti . batuk kuat. TD = 110 / 80 – 130 / 80 mmHg) perhatian ketat i ABG bila diperlukan 5. Tidak ada lagi penumpukan sekret di saluran pernafasan 5. Ronchi / rales tidak terdengar 3. N = 16 – 20 x/menit. Pantau pergerakan dada dan auskultasi suara nafas pada kedua paru (bilateral) 3. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk 7. Terapi farmako : i steroid. dan meningkatkan dan ketidakmampuan batuk mempertahankan efektif sekunder akibat keefektifan jalan nafas kelemehan. c antibiotik s b. P m pemberian O2 b c. P d d j S t p m n 3. B m s 5. Gunakan kateter penghisap yang sesuai cairan fisiologis steril 4. batasi durasi penghisapan dengan 15 detik atau lebih. Atur / ubah posisi secara teratur (tiap 2 jam sekali) 6. Menunjukkan batuk yang efektif 4. waktu bernafas panjang. Observasi keadaan jalan nafas 2. M d p . Kolaborasi dengan dokter 1. agar tetap bersih dan mencegah aspirasi Kriteria Hasil 1. Lakukan pengispan lendir jika diperlukan. Frekuensi pernafasan 16 – 20 x/menit 8 1.x/menit. aminofel. Anjurkan klien mengenai teknik batuk selama penghisapan.

meta – y proterenol sulfat 7. Klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan 3. MMT = 5 5 5 5 Defisit perawatan diri b. Bantu pasien untuk 1. K t u h 3. M (alupent).d Tujuan kerusakan neuro muskuler. L mandiri fisioterapi dalam latihan d 2. adoetharine m hydrochloride r (bronkosol) Kerusakan mobilitas fisik Tujuan 1. positif untuk usuhanya 4. Mobilias fisik klien merubah posisi tiap 2 jam m kerusakan perceptual / kembali efektif dan sekali atau beri bantal s kognitif adekuat pada bawah punggung b 2. Kolaborasi dengan ahli 3. Bantu aktivitas pasien Kriteria Hasil p dalam pemberian 2. M 5. M b/d kelemahan dan 1. KU pasien baik dan gerak fisik kesadaran composmentis 3. beri umpan balik. Klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat hidup 2. sikat 1. Perawatan diri individu penurunan kekuatan dan dapat terpenuhi secara ketahanan. Pertahankan dukungan pola pikir izinkan klien melakukan tugas. Beri kesempatan untuk menolong diri seperti menggunakan kombinasi pisau garpu. Observasi kemampuan dan tingkat penurunan dalam skala 0 – 4 untuk melakukan ADL 2. M m m k 2. Mulut bersih dan tidak berbau 4. Menyadarkan tingkah laku / sugesti tindakan pada perlindungan kelemahan. Aktivitas pasien (ADL) makan / NGT p dapat dilakukan secara 3. U d . 1. S obat bronkodilator sesuai d indikasi. Ranbut tidak berminyak dan kotor 5. seperti m aminophilin. Seluruh tubuh bebas dari minyak 9 1. Hindari apa yang tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu 3. K p y m m m m m 4. M 1. kehilangan adekuat kontrol /koordinasi otot Kriteria Hasil 1.dalam pemberian obat – a 6.

Hindari penggunaan bantal yang tinggi pada kepala 6. Peningkatan TIK pada klien tidak terjadi Kriteria Hasil 1. usahakan dengan sedikit bantal. Cegah / hindari terjadinya valsava manuver 9. penekanan jaringan otak. dan edema serebral Tujuan 1. Pertahankan kepala /leher pada posisi yang netral. P= 60100 x/menit. Klien tidak gelisah 4. lingkungan yang tenang.Risiko peningkatan TIK b/d peningkatan volume intrakranial. Kurangi rangsangan extra dan berikan rasa nyaman seperti masase punggung. Kolaborasi dengan dokter terapi okupasi k 1. Berikan periode istirahat antara tindakan perawatan dan batasi lamanya prosedur 7. kursi untuk mandi 5. S s d d s a m d s t b t A b m p 3. TD= 110-130/80 mmHg) 10 dengan pegangan panjang. Observasi keadaan individu / penyebab koma / penurunan perfusi jaringan dan kemungkinan penyebab peningkatan TIK 2. Monitor temperatur dan pengaturan suhu lingkungan 5. Evaluasi pupil 4.8°C. D m i n k p t 2. ekstensi untuk berpijak pada lantai atau ke toilet. P h k a . Monitor tanda – tanda vital tiap 4 jam 3. TTV dalam batas normal (S= 36-37. R k m n t s m n 4. N= 16-20 x/menit. sentuhan yang ramah dan suasana / pembicaraan yang tidak gaduh 8. Bantu pasien jika batuk/ muntah 10. GCS= 4-5-6 3. Kesadaran pasien composmentis 2. Observasi peningkatan 1.

A i d m m 10. M t p i T 8.istirahat dan tingkah laku T 5. Kolaborasi dengan dokter d dalam pemberian cairan p IV. P pada pagi hari 11. P d e m t D a b s 11 . dan obat ( antibiotik v m i 6. M i s p 9. T m T n m s m T 11. obat diuretik osmotik. T d e 7. m obat antipiretik.

GCS= 4-5-6 c. MMT = 5 5 5 5 4. Klien tidak gelisah b. Bersihan jalan nafas efektif dengan kriteria hasil: a. P = 60 – 100 x/menit. Klien tidak gelisah 12 . Seluruh tubuh bebas dari minyak 5. Ranbut tidak berminyak dan kotor e. Menunjukkan batuk yang efektif d. Risiko peningkatan TIK tidak terjadi dengan kriteria hasil: a. Perubahan perfusi jaringan otak teratasi dengan kriteria hasil: a.8 °C. Mulut bersih dan tidak berbau d. Tanda – tanda vital dalam batas normal (S = 36 – 37. TD = 110 / 80 – 130 / 80 mmHg) 2. Tidak ada lagi penumpukan sekret di saluran pernafasan e. Kesadaran pasien composmentis b. Bunyi nafas terdengar bersih b. Pupil isokor e. KU pasien baik dan kesadaran composmentis c. Frekuensi pernafasan 16 – 20 x/menit 3.m s d d u d D. Aktivitas pasien (ADL) dapat dilakukan secara mandiri b. Ronchi / rales tidak terdengar c. N = 16 – 20 x/menit. Tidak ada keluhan nyeri kepala. Evaluasi 1. dan kejang c. mual. Klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat hidup b. Refleks cahaya + / + f. Implementasi Melakukan Intervensi. E. Defisit perawatan diri teratasi dengan kriteria hasil: a. GCS = 4 – 5 – 6 d. Kerusakan mobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil: a. Klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan c.

d kerusakan neuro muskuler. Perubahan perfusi jaringan otak b/d perdarahan intraserebral. penurunan kekuatan dan ketahanan. vasospasme. Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak) 4. Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain ) 3. TD= 110-130/80 mmHg) BAB III PENUTUP A. dan edema otak 2. dan edema serebral 13 . Defisit perawatan diri b.8°C. Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak ) 2. oklusi otak. 3. TTV dalam batas normal (S= 36-37.129) Beberapa penyebab yang melatar belakangi terjadinya cva antara lain: 1. 2000. Doengoes. Kesimpulan Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA (Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu (Marilynn E. Hemoragi Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah: 1. P= 60-100 x/menit. kehilangan kontrol /koordinasi otot 5. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan sekresi sekret. dan ketidakmampuan batuk efektif sekunder akibat kelemehan. Risiko peningkatan TIK b/d peningkatan volume intrakranial. Kerusakan mobilitas fisik b/d kelemahan dan kerusakan perceptual / kognitif 4. penekanan jaringan otak. N= 16-20 x/menit.d.

(1996). Jakarta : EGC. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktek Klinik. dkk. (1999). pearce.J. Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran. Guyton and Hall. Aliha Bahasa James Veldman. (1998). (1993). Jakarta : EGC Nugroho. Jakarta : EGC. Evelyn C. (2000). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis.W. Jakarta : PT Gramedia. Gallo. J. Doengoes. (2000). Jakarta : EGC. Jakarta : EGC. Edisi 3. Jakarta : EGC. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ganguan Sistem Persyarafan. Marilynn E. (1997). Tuti Pahria.DAFTAR PUSTAKA Carpenito Lynda Juall. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. 14 . Buku Saku Gerontologi Edisi 2. Keperawatan Gerontik. Jakarta : Depkes.