MAKALAH

ASAL USUL KABUPATEN KUNINGAN
DAN CERITA RAKYAT DESA KUNINGAN

Disusun oleh:
JAWZA ASSYA AZKIYA
NIS. 32009978
KELAS : X MIA 2

Untuk menambah wawasan mengenai cerita rakyat
dan memperoleh nilai tugas dari mata pelajaran bahasa indonesia

SMA NEGERI 6 CIREBON
JL. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 79 Cirebon
Tahun pelajaran 2014/2015

oleh karena itu kritik dan saran sangat dibutuhkan agar makalah ini kedepannya dapat disempurnakan. Akhirul Kalam… Wassalamu alaikum Wr.KATA PENGANTAR Bismillahi Rahmanirrahim Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Adapun isi dari makalah ini mengenai “Cerita Rakyat”. Wb Cirebon. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. 29 Januari 2015 . yang akan membahas tentang Asal usul kabupaten kuningan serta salah satu cerita rakyat dari desa kuningan Tak lupa pula ucapan terima kasih kami kepada Guru dan orang-orang yang telah berpartisipasi atas terselesaikannya makalah ini.

Asal Mula (Kab. Layuwatang. Rahasesa. Tahun 617 Sangkari menikah dengan Demunawan.) Kuningan Asal Mula Kabupaten Kuningan. Lokasinya diperkirakan berada di sekitar Kampung Salia. Seluruh wilayahnya meliputi 13 wilayah diantaranya Galunggung. sehingga Resi Guru Sempakwaja mengambil keputusan. Masa pemerintahan Rahyangtang Kuku. melalui putranya Sang Mandiminyak yang menggantikannya sebagai Raja Galuh (703-710) dan cucunya Sang Sena yang menjadi raja berikutnya (710-717). raja pertama Galuh. Kedatangan Sanjaya beserta pasukannya atas permintaan Dangiyang Guru Sempakwaja. Sangiyang Sempakwaja adalah putera tertua Wretikandayun. Demunawan inilah yang disebutkan dalam tradisi lisan masyarakat Kuningan memiliki ajian dangiang kuning dan menganut agama sanghiyang. Sedangkan kedudukan kerajaan digantikan Demunawan dengan gelar Sanghiyangrang Kuku. Cerita dari Jawa Barat Pertama kali diketahui Kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. seorang resiguru di Galunggung. Meskipun Kuningan merupakan kerajaan kecil. besan Sang Pandawa dengan maksud untuk memberi pelajaran terhadap Sanjaya yang bersikap pongah dan merasa diri paling kuat. sekarangtermasuk Desa Ciherang Kecamatan Nusaherang. Sang Pandawa mempunyai putera wanita bernama Sangkari. Kahirupan. Kajaron. tahun 723. Di Kerajaan Galuh terjadi konflik kepentingan. . namun kedudukannya cukup kuat dan kekuatan militernya cukup tangguh. Raja ini memerintah sejaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun di Galuh (612-702 M). Pagerwesi. Hal itu terbukti dengan kekalahan yang diderita pasukan Sanjaya (Raja Galuh) ketika menyerang Kuningan. Diantaranya menempatkan Sang Pandawa menjadi guru haji (resiguru) di layuwatang (sekarang tempatnya di Desa Rajadanu Kecamatan Japara). diberitakan bahwa ibu kota Kerajaan Kuningan ialah Saunggalah. Kalanggara. Sanjaya adalah cicit Sang Wretikandayun. putra Danghyang Guru Sempakwaja.

putri seorang raja Melayu. Masa ini. Namun Rakean Dharmasiksa tidak lama kemudian menggantikan ayahnya yang wafat tahun 1175 sebagai Raja Sunda. juga penguasa Cirebon). Pusat pemerintahan Kajene terletak sekarang di Desa Sidapurna Kecamatan Kuningan. Pasugihan. Kedudukannya di Saunggalah digantikan puteranya bernama Citraganda. Tahun 1298. Padurungan. Muladarma dan Batutihang. Versi pertama Sang Adipati Kuningan itu adalah putera Ki Gedeng Luragung (unsur lama). saat itu. Kerajaan Saunggalah terungkap lagi setelah tidak ada catatan paska Demunawan. dari pernikahannya dengan Syekh Maulanan Arifin (unsur baru). Pegergunung. sekitar abad 15 Masehi di daerah Kuningan sekarang dikenal dua lokasi yang mempunyai kegiatan pemerintahan yaitu Luragung dan Kajene. Sang Adipati Kuningan adalah putera Ratu Selawati. Luragung dan Kajene bukan lagi sebuah kerajaan tapi merupakan buyut haden. Kemudian menggantikan kedudukan yang mendidiknya. dimulai dengan tampilnya tokoh Arya Kamuning. Geger Handiwung. Sedangkan kerajaan Saunggalah digantikan puteranya yang bernama Ragasuci atau Rajaputra. Luraugng dan kemudian Kuningan. Bahwa agama Islam . wilayah kekuasaannya bertambah meliputi Cipanglebakan. Ragasuci dijuluki Rahyantang Saunggalah (1175-1298). Mereka secara bertahap di bawah kekuasaan Susuhunan Jati atau Sunan Gunung Djati (salah satu dari sembilan wali. Rakean Dharmasiksa memerintah Saunggalah menggantikan mertuanya. Pada masa kekuasaan Ragasuci. Disini jelas terjadi kearifan sejarah. dan Pasir Taritih di Muara Cipager Jampang. Ki Gedeng Luragung dan kemudian Sang Adipati Kuningan sebagai pemipun daerah Kajene. Versi kedua. Ia memperistri Dara Puspa. Tahun 1163-1175. anak dari Prabu Dharmakusumah (1157-1175) seorang raja Sunda yang berkedudukan di Kawali. Tetapi kemudian dipungut anak oleh Sunan Gunung Djati (unsur baru). Dia dititipkan oleh aya angkatnya kepada Arya Kamuning untuk dibesarkan dan dididik.Sumanjajah. karena ia menikah dengan putri Saunggalah. Sebagai penguasa Saunggalah. Ragasuci diangkat menjadi Raja Sunda menggantikan ayahnya dengan gelar Prabu Ragasuci (1298-1304). Masa Keadipatian Berdasarkan tradisi lisan. Tokoh Adipati Kuningan ada beberapa versi. Berdasarkan Buku Pangaeran Wangsakerta yang ditulis abad ke 17. Geger Gadung. Darongdong. Sang Adipati Kuningan yang berkelanjutan penjelasanya adalah berita yang menyebutkan tokoh ini dikaitkan dengan Ratu Selawati. keturunan Prabu Siliwangi (unsur lama). Saat itu tahta kerajaan dipegang oleh Rakean Dharmasiksa.

Dia adalah adik Syekh Datuk Kahpi yang bermukim dan membuka pesantren di kaki bukit Amparan Jati (sekarang Cirebon). . hari pelantikan Suranggajaya menjadi Adipati Kuningan itu ditetapkan sebagai Hari Jadi Kuningan sampai sekarang. Sedangkan Jayaraksa memimpin masyarakat Luragung dengan gelar Ki Gedeng Luragung. Penobatan ini dilakukan pada tanggal 4 Syura (Muharam) Tahun 1498 Masehi. Ia menikah dengan Nyi Wandansari. Penanggalan tesebut bertempatan dengan tanggal 1 September 1498 Masehi. Sedangkan Arya Kamuning sendiri dikabarkan tidak memiliki keturunan. Ada pun Surayana adalah putra Prabu Dewa Niskala atau Prabu Ningrat Kancana. Tetapi pemeliharaan dan pendidikannya dititipkan pada Arya Kamuning. Sejak tahun 1978. Adapun Sang Adipati Kuningan yang sesungguhnya bernama Suranggajaya adalah anak dari Ki Gedeung Luragung (namun hal itu masih merupakan babad peteng atau masa kegelapan yang sampai saat ini tidak diketahui kebenarannya sesungguhnya anak siapa Sang Adipati Kuningan). Mereka bertiga. Suranggajaya diangkat anak oleh mereka. Ki Gedeng Luragung (Jayaraksa) diIslamkan oleh uwaknya yakni Pangeran Walangsungsang.menyebar ke Kuningan berkat upaya Syek Maulana Akbar atau Syek Bayanullah. Raja Sunda yang berkedudukan di Kawali (1475-1482) yang menggantikan kedudukan ayahnya Prabu Niskala Wastu Kancana atau lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi. ibu kota Kajene. yakni Ratu Selawati. Bratawijaya kemudian memimpin di Kajene dengan gelar Arya Kamuning. Ratu Selawati bersama kakak dan adiknya yaitu Bratawijaya dan Jayakarsa adalah cucu Prabu Maharaja Niskala Wastu Kancana atau Prabu Siliwangi. Atas prakarsa Sunan Gunung Djati dan istrinya yang berdarah Cina Ong Tin Nio yang sedang berkunjung ke Luragung. Dari pernikahan dengan Nyi Wandansari berputra Maulana Arifin yang kemudian menikah dengan Ratu Selawati. Akhirnya Suranggajaya diangkat jadi adipati oleh Susuhunan Djati (Sunan Gunung Djati) menggantikan bapak asuhnya. Syekh Maulana Akbar membukan pesantren pertama di Kuningan yaitu di Desa Sidapurna sekarang. putri Surayana. Arya Kamuning (Bratawijaya).

Cerita rakyat desa kuningan .

Juga ada yang menyebutkan bokor kuningan itu sebagai barang “panukeur” atawa “tutukeuranna” antara bayi dari Ki Gedeng Luragung yang ditukar dengan bokor kuningan dari . Ketika Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam. Jayaraksa juga punya saudara laki-laki yang memimpin daerah Winduherang bernama BRATAWIYANA atau BRATAWIJAYA yang dijuluki juga Ki Gedeng Kamuning atau Arya Kamuning. Namun sayang putra yang baru dilahirkannya itu meninggal dunia. Dalam cerita rakyat Kuningan versi lainnya yang berbau mitos menyebutkan bahwa yang dilahirkan oleh Nyai Rara Sumanding bukanlah anak. di antaranya sampai pula ke Luragung. kemudian Sunan Gunung Jati meminta kepada Ki Gedeng Luragung untuk memungut putranya yang kebetulan masih bayi untuk diangkat anak oleh Sunan Gunung Jati. Ia adalah putra Ki Gedeng Luragung (seorang kepala daerah di Luragung) bernama JAYARAKSA. terutama membedah tokoh “Sang Adipati Kuningan” yang pernah menjadi pemimpin pemerintahan di Kuningan pada masa penyebaran Islam di Cirebon (Jawa Barat) dan sekitarnya akhirnya dapatlah diungkapkan bahwa nama Sang Adipati Kuningan yang sebenarnya adalah SURANGGAJAYA. selain Kuda Kuningan.PUTRA LURAGUNG Menelusuri jejak sejarah Kabupaten Kuningan. Ketika itu sang istri sedang mengandung tua. beliau disusul kedatangannya ke Luragung oleh istrinya bernama putri Ong Tien (asal Campa) yang juga bernama Nyai Rara Sumanding. tetapi sebuah bokor yang terbuat dari logam Kuningan. Anak tersebut namanya Suranggajaya. Untuk mengobati hati beliau yang sedang berduka itu. dan di Luragung pulalah akhirnya Nyai Rara Sumanding melahirkan anak. Bokor Kuningan inilah yang nantinya menjadi logo maskot Kota Kuningan.

Kurun waktu kedatangan Syekh Maulana Akbar menyebarkan Islam di Kuningan diperkirakan mulai terjadi tahun 1450. Syekh Maulana Akbar sendiri adalah seorang ulama yang diduga asal Persia yang berhasil sampai ke Kuningan dan menyebarkan Islam di sana. Selain itu Sunan Gunung Jati berpesan bahwa anak tersebut setelah dewasa kelak akan diangkat menjadi penguasa daerah Kuningan. beliau menitipkan putra angkatnya tersebut (Suranggajaya) untuk diasuh oleh Bratawiyana (Arya Kamuning).Nyai Rara Sumanding. Cerita-cerita mitos ini memang banyak mewarnai dalam penelusuran sejarah Kuningan. Sementara itu pemegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Kuningan saat itu sedang diperintah oleh Nyai Ratu Selawati (keturunan Prabu Langlangbuana). Ketika Sunan Gunung Jati sampai di Winduherang. Kedatangannya Syekh Maulana Akbar menyebarkan Islam ke Kuningan berarti lebih dulu daripada Sunan Gunung Jati. Mungkin dapat dikatakan Syekh Maulana Akbar sebagai perintis penyebaran Islam ke Kuningan. Kedatangannya ke Kuningan waktu itu kiranya terlebih dahulu atas seijin Sunan Gunung Jati penguasa Kerajaan Islam Cirebon yang mulai tumbuh dan giat menyebarkan Islam. sebenarnya Bratawiyana (Arya . sementara Sunan Gunung Jati lebih menyempurnakan lagi. Dalam masa pengasuhan Arya Kamuning ini bahkan anak yang dititipkan itu diberi nama panggilan Raden Kamuning. Setelah ke Luragung perjalanan Sunan Gunung Jati diteruskan ke Winduherang (yang dulu diduga sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Kuningan/Kajene) untuk menemui saudaranya Jayaraksa yaitu Bratawiyana yang rupanya telah lebih dulu masuk Islam. Ratu Selawati yang tadinya penganut Hindu menjadi penganut Islam setelah menikah dengan Syekh Maulana Arifin (putra dari Syekh Maulana Akbar). Dalam sumber berita Cirebon (CPCN/Carita Purwaka Caruban Nagari) dan buku karya P. kiranya untuk lebih mendekatkan hubungan psikologis (batin) antara ayah (asuh) dengan putra (asuh)nya.S Sulendraningrat bahkan disebutkan lagi bahwa bersamaan dengan mengasuh putra angkat Sunan Gunung Jati.

Kemudian dibawahkan oleh Kerajaan Galuh (raja: Rhy Banga). Selanjutnya di bawah penguasaan Sunda Padjajaran oleh Prabu Siliwangi. lalu muncul lagi dijadikan pusat pemerintahan oleh putra Rakeyan Darmasiksa. yaitu Prabu Ragasuci/Sang Lumahing Taman. sebenarnya sejak saat itu sebenarnya “Kerajaan” Kuningan telah jatuh. Titimangsanya konon bertepatan dengan tanggal 1 September 1478. Tidak lagi sebagai kerajaan yang berdaulat penuh atau merdeka. Mana yang benar.Kerajaan Saunggalah (raja: Demunawan/Rahangtang Kuku/Seuweukarma) merupakan kerajaan berdaulat penuh. yang diperingati sebagai hari lahirnya kota Kuningan. yang jelas keberadaan tokoh Dipati Ewangga kiprahnya banyak diceriterakan sebagai tokoh “panglima” tentara Kuningan yang pernah ikut membantu Cirebon dan Mataram ketika menyerang Belanda di Batavia (sehingga ada nama perkampungan Kuningan di Jakarta). Setelah dewasa. Tetapi di sumber lain menyebutkan bahwa tokoh Dipati Ewangga adalah seorang bangsawan yang asalnya dari Parahyangan (Cianjur) yang pada awalnya ingin berguru/belajar agama Islam kepada Sunan Gunung Jati. bernama Kerajaan Kuningan (raja: Sang Pandawa) . Lalu muncul Kerajaan Kuningan dengan sebutan Kajene zaman Prabu Langlangbuana/Langlangbumi dan diturunkan kepada Ratu Selawati (kerajaan kecil di bawah pengaruh Kerajaan Sunda Pajajaran). dan akhirnya ketika diperintah Sang Adipati . akhirnya janji Sunan Gunung Jati mengangkat putranya menjadi penguasa di Kuningan pun dilakukan.Kamuning) juga punya anak yang sedang sama-sama dibesarkan (seusia dengan Suranggajaya) yaitu Ewangga. lalu oleh Sunan Gunung Jati diperintahkan untuk pergi ke Kuningan saja membantu putra angkatnya (yaitu Suranggajaya) dalam mengelola pemerintahan di Kuningan. Suranggajaya kemudian dilantik menjadi pemimpin Kuningan dengan julukan populernya Sang Adipati Kuningan. tetapi terikat menjadi daerah bawahan Kerajaan Cirebon. menginjak usia 17 tahun. Berarti kalau kita lihat eksistensi perjalanan Kerajaan Kuningan sejak zaman Hindu dari awal kelahirannya. Namun bila dilihat secara politis.

com/KumpulanMacamMacam CeritadanPengetahuan/posts/471601079 582274 .Kuningan.facebook. pemerintahan kerajaan jatuh di bawah pengaruh Kerajaan Cirebon DAFTAR PUSTAKA https://idid.

org/wiki/Putra_Luragun g .http://id.wikipedia.