REFRAT

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK
(PPOK)

Disusun Oleh:
Muhammad Rachdian 1102010185
Muthia Fadhilah 1102010191

Pembimbing:
dr.Henny K.Koesna, Sp.PD
dr.Seno M.Kamil, Sp.PD
dr.Dinny G.Prihadi, Sp.PD, M.Kes

KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SOREANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
PPOK atau Penyakit Paru Obstruksi Kronis merupakan penyakit yang dapat dicegah
dan dirawat dengan beberapa gejala ekstrapulmonari yang signifikan, yang dapat
mengakibatkan tingkat keparahan yang berbeda pada tiap individual. (Slamet H, 2006)
Asap rokok merupakan satu-satunya penyebab terpenting, jauh lebih penting dari
faktor penyebab lainnya. Faktor resiko genetik yang paling sering dijumpai adalah
defisiensi alfa-1 antitripsin, yang merupakan inhibitor sirkulasi utama dari protease serin.
Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) 2007,
dibagi atas 4 derajat, yaitu : derajat 1 (PPOK ringan), derajat 2 (PPOK sedang), derajat 3
(PPOK berat), derajat 4 (PPOK sangat berat).
Penderita PPOK akan datang ke dokter dan mengeluhkan sesak nafas, batuk-batuk
kronis, sputum yang produktif, faktor resiko (+). Sedangkan PPOK ringan dapat tanpa
keluhan atau gejala. Dan baku emas untuk menegakkan PPOK adalah uji spirometri.
Penatalaksanaan bisa dibedakan berdasarkan derajat tingkat keparahan PPOK.
PPOK eksaserbasi didefinisikan sebagai peningkatan keluhan/gejala pada penderita PPOK
berupa 3P yaitu: 1. Peningkatan batuk/memburuknya batuk 2. Peningkatan produksi
dahak/phlegm 3. Peningkatan sesak napas.. Komplikasi bisa terjadi gagal nafas, infeksi
berulang dan cor pulmonal. Prognosa PPOK tergantung dari stage / derajat, penyakit paru
komorbid, penyakit komorbid lain.(Riyanto dan Hisyam, 2006)

Definisi Penyakit Paru Obstrutif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel parsial. bersifat progresif.1. biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. Faktor yang berperan dalam peningkatan penyakit tersebut :  Kebiasaan merokok yang masih tinggi (laki-laki di atas 15 tahun 60-70 %)  Pertambahan penduduk  Meningkatnya usia rata-rata penduduk dari 54 tahun pada tahun 1960-an menjadi 63 tahun pada tahun 1990-an  Industrialisasi  Polusi udara terutama di kota besar. dan partikel gas berbahaya. dan di pertambangan (PDPI. di lokasi industri. Penyebab utama PPOK adalah rokok. Gangguan ini dapat dicegah dan dapat diobati.BAB II PEMBAHASAN 2. termasuk penderita asma persisten berat dengan obstruksi jalan napas yang tidak reversibel penuh. asap polusi dari pembakaran. Pada prakteknya cukup banyak penderita bronkitis kronik juga memperlihatkan tanda-tanda emfisema.2010) .. dan memenuhi kriteria PPOK.

Perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mukus dan sel-sel silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus kental dalam jumlah besar dan sulit dikeluarkan dari saluran nafas. Mukus berfungsi sebagai tempat persemaian mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi sangat purulen.satunya penyebab kausal yang terpenting. silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun :  Ringan : 0-200  Sedang : 200-600  Berat : >600 2. Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan : a) Riwayat merokok  Perokok aktif  Perokok pasif  Bekas perokok b) Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB).3 Patogenesis Seperti telah dijelaskan sebelumnya. Komponen-komponen asap rokok ini merangsang perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mukus bronkus dan silia.2 Faktor Resiko 1. jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya. Kebiasaan merokok merupakan satu .1. bahwa faktor resiko utama dari PPOK ini adalah merokok. Riwayat terpajan polusi udara di lingkungan dan tempat kerja 3. Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang 5.2. Timbul peradangan yang . Hipereaktiviti bronkus 4. umumnya jarang terdapat di Indonesia 2. Defisiensi antitripsin alfa . Selain itu.

(Corwin EJ. 2001) .menyebabkan edema dan pembengkakan jaringan. makrofag (lumen saluran nafas. PPOK Terkait Partikel Inhalasi (Sumber :Antonio et all. Yang mana hal ini dapat dibedakan dengan inflamasi yang terjadi pada penderita asma. limfosit CD 8+ (dinding saluran nafas dan parenkim). Timbul hiperkapnia akibat dari ekspirasi yang memanjang dan sulit dilakukan akibat mukus yang kental dan adanya peradangan. Ventilasi. terutama ekspirasi terhambat. 2007) Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu : inflamasi.(Antonio et all. 2007) Ada beberapa karakteristik inflamasi yang terjadi pada pasien PPOK. metaplasi sel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas seperti pada gambar 1. fibrosis. dinding saluran nafas. yakni : peningkatan jumlah neutrofil (didalam lumen saluran nafas). dan parenkim). Gambar 1.

2010) 2.4 Klasifikasi .Tabel 1. Patogenesis PPOK (Sumber : PDPI.

lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu)  Barrel chest (diameter antero . Gambaran klinis a. mulai dari tanpa gejala. Anamnesis  Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan  Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja  Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak.posterior dan transversal sebanding)  Penggunaan otot bantu napas  Hipertropi otot bantu napas  Pelebaran sela iga  Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis leher dan edema tungkai  Penampilan pink puffer atau blue bloater .5 Diagnosis Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi. infeksi saluran napas berulang. mis berat badan lahir rendah (BBLR). Pada pemeriksaan fisis tidak ditemukan kelainan jelas dan tanda inflasi paru Diagnosis PPOK di tegakkan berdasarkan : A.2. lingkungan asap rokok dan polusi udara  Batuk berulang dengan atau tanpa dahak  Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi b. gejala ringan hingga berat. Pemeriksaan Fisik  PPOK dini umumnya tidak ada kelainan Inspeksi  Pursed .

hepar terdorong ke bawah Auskultasi  Suara napas vesikuler normal. sela iga melebar Perkusi  Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil.lips breathing Adalah sikap seseorang yang bernapas dengan mulut mencucu dan ekspirasi yang memanjang. atau melemah  Terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa ekspirasi memanjang bunyi jantung terdengar jauh Ciri khas yang mungkin ditemui pada penderita PPOK : Pink puffer Gambaran yang khas pada emfisema. terdapat edema tungkai dan ronki basah di basal paru. penderita gemuk sianosis. Sikap ini terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi pada gagal napas kronik. penderita kurus.Palpasi  Pada emfisema fremitus melemah. kulit kemerahan dan pernapasan pursed – lips breathing Blue bloater Gambaran khas pada bronkitis kronik. letak diafragma rendah. sianosis sentral dan perifer Pursed . .

2011) Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan spirometri dapat ditentukan klasifikasi (derajat) PPOK. Mikrobiologi sputum (PDPI. APE meter walaupun kurang tepat. 2013) 2. VEP1/KVP) Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi (%) dan atau VEP1/KVP (%). Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan. Analisa gas darah e. dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabilitas harian pagi dan sore. Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologis masih normal pada PPOK ringan tetapi pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis banding dari keluhan pasien (GOLD. VEP1 prediksi. b. dan ruang retrosternal melebar. Laboratorium darah rutin d.c. jantung pendulum. 2009). diafragma mendatar. KVP. Pemeriksaan Penunjang a. corakan bronkovaskuler meningkat. yaitu (GOLD. .7 Diagnosis Banding Diagnosis Banding PPOK Adalah  Asma  SOPT (Sindroma Obstruksi Pascatuberculososis)  Adalah penyakit obstruksi saluran napas yang ditemukan pada penderita pascatuberculosis dengan lesi paru yang minimal. Spirometri (VEP1. Radiologi (foto toraks) Hasil pemeriksaan radiologis dapat ditemukan kelainan paru berupa hiperinflasi atau hiperlusen.VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit. tidak lebih dari 20%. c.

 Pneumotoraks  Gagal jantung kronik  Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas lain misal : bronkiektasis.8 Penatalaksanaan Penatalaksanaan umum PPOK Tujuan penatalaksanaan : - Mengurangi gejala - Mencegah eksaserbasi berulang - Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru . PPOK. dan SOPT (Sumber : PDPI.  Asma dan PPOK adalah penyakit obstruksi saluran napas yang sering ditemukan di Indonesia. Perbedaan Asma.  Adapun karakteristik dari Asma. dan SOPT pada tabel 2 Tabel 2. karena itu diagnosis yang tepat harus ditegakkan karena terapi dan prognosisnya berbeda. destroyed lung.2010 2. PPOK.

Obat – obatan 3. sehingga penatalaksanaan PPOK terbagi atas (1) penatalaksanaan pada keadaan stabil dan (2) penatalaksanaan pada eksaserbasi akut. Ventilasi mekanik 5. Rehabilitasi PPOK merupakan penyakit paru kronik progresif dan nonreversibel. Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. Melaksanakan pengobatan yang maksimal 3. Berbeda dengan asma yang masih bersifat reversibel. Karena PPOK adalah penyakit kronik yang ireversibel dan progresif. Mengenal perjalanan penyakit dan pengobatan 2. Mencapai aktiviti optimal 4. Secara intensif edukasi diberikan di klinik rehabilitasi atau klinik konseling. Edukasi Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil. Tujuan edukasi pada pasien PPOK : 1. bahkan di unit gawat darurat ataupun di ICU dan di rumah. karena . 1. baik bagi penderita sendiri maupun bagi keluarganya. Edukasi 2. Meningkatkan kualitas hidup Edukasi PPOK diberikan sejak ditentukan diagnosis dan berlanjut secara berulang pada setiap kunjungan. Nutrisi 6. ruang rawat.- Meningkatkan kualiti hidup penderita Penatalaksanaan secara umum PPOK meliputi : 1. inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktiviti dan mencegah kecepatan perburukan fungsi paru. menghindari pencetus dan memperbaiki derajat adalah inti dari edukasi atau tujuan pengobatan dari asma. Terapi oksigen 4. Edukasi dapat diberikan di poliklinik.

kultural dan kondisi ekonomi penderita. Berhenti merokok Disampaikan pertama kali kepada penderita pada waktu diagnosis PPOK ditegakkan 2. Penggunaan oksigen  Kapan oksigen harus digunakan  Berapa dosisnya 4. lingkungan sosial. tingkat pendidikan. Penyesuaian aktivitas Agar edukasi dapat diterima dengan mudah dan dapat dilaksanakan ditentukan skala prioriti bahan edukasi sebagai berikut : 1. Menghindari pencetus (berhenti merokok) 5.memerlukan waktu yang khusus dan memerlukan alat peraga. MDI atau nebuliser )  Waktu penggunaan yang tepat ( rutin dengan selangwaku tertentu atau kalau perlu saja )  Dosis obat yang tepat dan efek sampingnya 3. Secara umum bahan edukasi yang harus diberikan adalah 1. manfaat dan efek sampingnya 3.obatan. Penyesuaian aktiviti dan pola hidup merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup pasien PPOK. Cara pencegahan perburukan penyakit 4. Bahan dan cara pemberian edukasi harus disesuaikan dengan derajat berat penyakit. Pengetahuan dasar tentang PPOK 2. Edukasi yang tepat diharapkan dapat mengurangi kecemasan pasien PPOK. memberikan semangat hidup walaupun dengan keterbatasan aktivitas. Pengunaan obat – obatan  Macam obat dan jenisnya  Cara penggunaannya yang benar ( oral. Obat . Mengetahui efek samping kelebihan dosis oksigen  Mengenal dan mengatasi efek samping obat atau terapi oksigen .

Tanda eksaserbasi :  Batuk atau sesak bertambah  Sputum bertambah  Sputum berubah warna 6. karena PPOK merupakan penyakit kronik progresif yang ireversibel Pemberian edukasi berdasar derajat penyakit : Ringan  Penyebab dan pola penyakit PPOK yang ireversibel  Mencegah penyakit menjadi berat dengan menghindari pencetus. Menyesuaikan kebiasaan hidup dengan keterbatasan aktiviti Edukasi diberikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah diterima. Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil. Penilaian dini eksaserbasi akut dan pengelolaannya 5. Mendeteksi dan menghindari pencetus eksaserbasi 7. Pemberian edukasi sebaiknya diberikan berulang dengan bahan edukasi yang tidak terlalu banyak pada setiap kali pertemuan. langsung ke pokok permasalahan yang ditemukan pada waktu itu. antara lain berhenti merokok  Segera berobat bila timbul gejala Sedang  Menggunakan obat dengan tepat  Mengenal dan mengatasi eksaserbasi dini  Program latihan fisik dan pernapasan Berat .

karena keduanya mempunyai tempat kerja yang berbeda. Obat – obatan a. Bronkodilator Diberikan secara tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis bronkodilator dan disesuaikan dengan klasifikasi derajat berat penyakit ( lihat tabel 2 ). Macam . Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat ( slow release ) atau obat berefek panjang ( long acting ). Informasi tentang komplikasi yang dapat terjadi  Penyesuaian aktiviti dengan keterbatasan  Penggunaan oksigen di rumah 2. Disamping itu penggunaan obat kombinasi lebih sederhana dan mempermudah penderita. tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang. Bentuk injeksi subkutan atau drip untuk mengatasi eksaserbasi berat. - Kombinasi antikolinergik dan agonis beta – 2 Kombinasi kedua golongan obat ini akan memperkuat efek bronkodilatasi. - Golongan agonis beta – 2 Bentuk inhaler digunakan untuk mengatasi sesak.macam bronkodilator : - Golongan antikolinergik Digunakan pada derajat ringan sampai berat. Sebagai obat pemeliharaan sebaiknya digunakan bentuk tablet yang berefek panjang. peningkatan jumlah penggunaan dapat sebagai monitor timbulnya eksaserbasi. disamping sebagai bronkodilator juga mengurangi sekresi lendir ( maksimal 4 kali perhari ). nebuliser tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang. Bentuk nebuliser dapat digunakan untuk mengatasi eksaserbasi akut. - Golongan xantin . Pemilihan bentuk obat diutamakan inhalasi.

Bentuk tablet biasa atau puyer untuk mengatasi sesak ( pelega napas ). bentuk suntikan bolus atau drip untuk mengatasi eksaserbasi akut. Mukolitik Hanya diberikan terutama pada eksaserbasi akut karena akan mempercepat perbaikan eksaserbasi.Dalam bentuk lepas lambat sebagai pengobatan pemeliharaan jangka panjang. terutama pada bronkitis kronik dengan sputum yang viscous. terutama pada derajat sedang dan berat. Mengurangi eksaserbasi pada PPOK bronkitis kronik. Antibiotika Hanya diberikan bila terdapat infeksi. Antioksidan Dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kualiti hidup. b. tidak dianjurkan sebagai pemberian yang rutin e. Bentuk inhalasi sebagai terapi jangka panjang diberikan bila terbukti uji kortikosteroid positif yaitu terdapat perbaikan VEP1 pascabronkodilator meningkat > 20% dan minimal 250 mg. berfungsi menekan inflamasi yang terjadi. Antiinflamasi Digunakan bila terjadi eksaserbasi akut dalam bentuk oral atau injeksi intravena. digunakan N asetilsistein. Dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang sering. . tetapi tidak dianjurkan sebagai pemberian rutin. c. dipilih golongan metilprednisolon atau prednison. Antibiotik yang digunakan : - Lini I : amoksisilin makrolid - Lini II : Amoksisilin dan asam klavulanat Sefalosporin Kuinolon Makrolid baru d. Penggunaan jangka panjang diperlukan pemeriksaan kadar aminofilin darah.

Antitusif Tabel 3.f. Penatalaksanaan PPOK .

(Sumber : PDPI. Manfaat oksigen : .Mengurangi hipertensi pulmonal .Mengurangi sesak . Terapi Oksigen Pada PPOK terjadi hipoksemia progresif dan berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan sel dan jaringan.Memperbaiki aktiviti . a.organ lainnya. Pemberian terapi oksigen merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel baik di otot maupun organ .2010) 3.

59 mmHg atau Sat O2 > 89% disertai Kor Pulmonal.Mengurangi vasokonstriksi .Meningkatkan kualiti hidup b. pemberian oksigen dengan .Mengurangi hematokrit . Sedangkan di rumah sakit oksigen diberikan pada PPOK eksaserbasi akut di unit gawat daruraat. lama pemberian 15 jam setiap hari. Ht >55% dan tanda .Memperbaiki fungsi neuropsikiatri . Terapi oksigen di rumah diberikan kepada penderita PPOK stabil derajat berat dengan gagal napas kronik..tanda gagal jantung kanan. Indikasi - Pao2 < 60mmHg atau Sat O2 < 90% - Pao2 diantara 55 . Pemberian oksigen untuk penderita PPOK yang dirawat di rumah dibedakan : - Pemberian oksigen jangka panjang ( Long Term Oxygen Therapy = LTOT ) - Pemberian oksigen pada waktu aktiviti - Pemberian oksigen pada waktu timbul sesak mendadak Terapi oksigen jangka panjang yang diberikan di rumah pada keadaan stabil terutama bila tidur atau sedang aktiviti. ruang rawat ataupun ICU. sleep apnea. perubahan P pullmonal. penyakit paru lain Macam terapi oksigen : - Pemberian oksigen jangka panjang - Pemberian oksigen pada waktu aktiviti - Pemberian oksigen pada waktu timbul sesak mendadak - Pemberian oksigen secara intensif pada waktu gagal napas Terapi oksigen dapat dilaksanakan di rumah maupun di rumah sakit.

2 L/mnt. Ventilasi Mekanik Ventilasi mekanik pada PPOK digunakan pada eksaserbasi dengan gagal napas akut. c.nasal kanul 1 . Pemberian oksigen harus mencapai saturasi oksigen di atas 90%. a. Ventilasi mekanik dapat digunakan di rumah sakit di ruang ICU atau di rumah. Terapi oksigen pada waktu aktiviti bertujuan menghilangkan sesak napas dan meningkatkan kemampuan aktiviti. gagal napas akut pada gagal napas kronik atau pada pasien PPOK derajat berat dengan napas kronik. Sebagai parameter digunakan analisis gas darah atau pulse oksimetri. Ventilasi mekanik dapat dilakukan dengan cara : - Ventilasi mekanik dengan intubasi - Ventilasi mekanik tanpa intubasi - Ventilasi mekanik tanpa intubasi - Ventilasi mekanik tanpa intubasi digunakan pada PPOK dengan gagal napas kronik dan dapat digunakan selama di rumah. 4. . Terapi oksigen pada waktu tidur bertujuan mencegah hipoksemia yang sering terjadi bila penderita tidur. Bentuk ventilasi mekanik tanpa intubasi adalah Nonivasive Intermitten Positif Pressure (NIPPV) atau Negative Pessure Ventilation (NPV). Alat bantu pemberian oksigen : - Nasal kanul - Sungkup venturi - Sungkup rebreathing - Sungkup nonrebreathing Pemilihan alat bantu ini disesuaikan dengan tujuan terapi oksigen dan kondisi analisis gas darah pada waktu tersebut.

7. disamping harus menggunakan perlengkapan yang tidak sederhana.30 . 35 - Frekuensi napas > 25 kali per menit NPV tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan obstruksi saluran napas atas.NIPPV dapat diberikan dengan tipe ventilasi : - Volume control - Pressure control - Bilevel positive airway pressure (BiPAP) - Continous positive airway pressure (CPAP) NIPPV bila digunakan bersamaan dengan terapi oksigen terus menerus (LTOT / Long Tern Oxygen Theraphy) akan memberikan perbaikan yang signifikan pada : - Analisis gas darah - Kualiti dan kuantiti tidur - Kualiti hidup - Analisis gas darah Indikasi penggunaan NIPPV - Sesak napas sedang sampai berat dengan penggunaan muskulus respirasi dan abdominal paradoksal - Asidosis sedang sampai berat pH < 7. kemungkinan karena bertambahnya kebutuhan energi akibat kerja muskulus respirasi yang meningkat karena hipoksemia kronik dan hiperkapni menyebabkan terjadi hipermetabolisme. Kondisi malnutrisi akan menambah mortaliti PPOK karena berkolerasi dengan derajat penurunan fungsi paru dan perubahan analisis gas darah . 5. Nutrisi Malnutrisi sering terjadi pada PPOK.

Malnutrisi dapat dievaluasi dengan : - Penurunan berat badan - Kadar albumin darah - Antropometri - Pengukuran kekuatan otot (MVV. kekuatan otot pipi) - Hasil metabolisme (hiperkapni dan hipoksia) Mengatasi malnutrisi dengan pemberian makanan yang agresis tidak akan mengatasi masalah. karena gangguan ventilasi pada PPOK tidak dapat mengeluarkan CO2 yang terjadi akibat metabolisme karbohidrat. Gangguan elektrolit yang terjadi adalah : - Hipofosfatemi - Hiperkalemi - Hipokalsemi - Hipomagnesemi Gangguan ini dapat mengurangi fungsi diafragma. Komposisi nutrisi yang seimbang dapat berupa tinggi lemak rendah karbohidrat. Gangguan keseimbangan elektrolit sering terjadi pada PPOK karena berkurangnya fungsi muskulus respirasi sebagai akibat sekunder dari gangguan ventilasi. protein dapat meningkatkan ventilasi semenit oxigen comsumption dan respons ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapni.  Terapi Pembedahan Bertujuan untuk : . tekanan diafragma. bila perlu nutrisi dapat diberikan secara terus menerus (nocturnal feedings) dengan pipa nasogaster. yakni porsi kecil dengan waktu pemberian yang lebih sering. Tetapi pada PPOK dengan gagal napas kelebihan pemasukan protein dapat menyebabkan kelelahan. Dianjurkan pemberian nutrisi dengan komposisi seimbang. Diperlukan keseimbangan antara kalori yang masuk denagn kalori yang dibutuhkan. Kebutuhan protein seperti pada umumnya.

Bedah reduksi volume paru (BRVP) / lung volume reduction surgey (LVRS) 3.- Memperbaiki fungsi paru - Memperbaiki mekanik paru - Meningkatkan toleransi terhadap eksaserbasi - Memperbaiki kualiti hidup Operasi paru yang dapat dilakukan yaitu : 1. Algoritma PPOK (Sumber : PDPI. Bulektomi 2. Transplantasi paru Tabel 4.2010) .

Infeksi berulang 3. Kor pulmonal Gagal napas kronik : - Hasil analisis gas darah Po2 < 60 mmHg dan Pco2 > 60 mmHg. . ditandai dengan menurunnya kadar limposit darah. Pada kondisi kronik ini imuniti menjadi lebih rendah. dan pH normal. penatalaksanaan : - Jaga keseimbangan Po2 dan PCo2 - Bronkodilator adekuat - Terapi oksigen yang adekuat terutama waktu latihan atau waktu tidur - Antioksidan Latihan pernapasan dengan pursed lips breathing Gagal napas akut pada gagal napas kronik.2. hal ini memudahkan terjadi infeksi berulang. Gagal napas - Gagal napas kronik - Gagal napas akut pada gagal napas kronik 2.9 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada PPOK adalah : 1. ditandai oleh : - Sesak napas dengan atau tanpa sianosis - Sputum bertambah dan purulen - Demam - Kesadaran menurun - Infeksi berulang Pada pasien PPOK produksi sputum yang berlebihan menyebabkan terbentuk koloni kuman.

dapat disertai gagal jantung kanan 2.10 Pencegahan 1. hematokrit > 50 %.Kor pulmonal : Ditandai oleh P pulmonal pada EKG. Mencegah perburukan PPOK - Berhenti merokok - Gunakan obat-obatan adekuat - Mencegah eksaserbasi berulang . Mencegah terjadinya PPOK - Hindari asap rokok - Hindari polusi udara - Hindari infeksi saluran napas berulang 2.