II.

PENDEKATAN PENGKAJIAN FILOLOGI;ALQURAN&HADITS

Secara etimologis, filologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu phi
los yang berarti cinta dan logos yang berarti kata . Dengan demikian, kata filologi m
embentuk arti cinta kata atau senang bertutur
Sebagai istilah, kata filologi mulai dipakai kira-kira abad ke-3 SM oleh sekelompo
k ilmuwan dari Iskandariyah. Istilah ini digunakan untuk menyebut keahlian yang
diperlukan untuk mengkaji peninggalan tulisan yang berasal dari kurun waktu bera
tus-ratus tahun sebelumnya.
Lahirnya filologi dilator belakangi oleh sejumlah faktor sebagai berik
ut :
1.
Munculnya informasi tentang masa lampau didalam sejumlah karya tulisan.
2.
Anggapan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tulisan
masa lampau yang dipandang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang.
3.
Kondisi fisik yang substansi materi informasi akibat renta
ng waktu yang panjang.
4.
Faktor sosial budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya-karya
tulisanmasa lampau yang tidak ada lagi atau tidak sama dengan latar
sosial budaya pembacanya masa kini.
5.
Keperluan untuk mendapatkan hasil pemahaman yang akurat.
Objek penelitian filologi adalah naskah dan teks. Berikut ini naskah dan teks se
cara berurut-urut diuraikan.
1.
Naskah
Naskah adalah karangan yang masih ditulis tangan. Pengertian lain tentang naskah
, yaitu naskah adalah tulisan tangan yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran da
n perasaan sebagai hasil budaya suatu bangsa masa lampau.
2.
Teks
Teks adalah
(1) naskah yang berupa kata-kata asli dari pengarang,
(2) kutipan dari kitab suci untuk pangkal ajaran atau alasan,
(3) bahan tertulis untuk memberikan pelajaran, berpidato (KBBI, jilid 2; 1995: 1
024).
Filologi berbicara mengenai bagaimana sebuah naskah kuno yang bernilai atau memp
unyai makna besar bagi kehidupan manusia itu dikaji dengan cara seksama dan deng
an ketelitian yang tinggi.
Pendekatan Filologi dalan Studi Islam
Az-Zamakhsyari, sebagaimana dikutip Nabilah Lubis,[7] mengungkapkan kegiatan fil
ologi sebagai tahqiq al-kutub. Secara bahasa, tahqiq berarti tashhih (membenark
an/mengkoreksi) dan ihkam (meluruskan). Sedang secara istilah, tahqiq berarti me
njadikan teks yang ditahkik sesuai dengan harapan pengarangnya, baik bahasanya m
aupun maknanya. Dari definisi ini, dapat dipahami bahwa tahqiq bertujuan untuk m
enghadirkan kembali teks yang bebas dari kesalahan-kesalahan dan sesuai dengan h
arapan penulisnya.
Tahqiq sebuah teks atau nash adalah melihat sejauh mana hakikat yang sesungguhny
a terkandung dalam teks tersebut.
Penelitian naskah Arab telah lama dimulai, terlebih pada masa pemerintahan Khali
fah Abu Bakar. Pada masa itu, nash al-Qur an mulai dikumpulkan dalam satu mushaf.
Hal ini membutuhkan ketelitian untuk menyalin teks-teks al-Quran ke dalam mushaf
tersebut. Ayat-ayat al-Quran yang sebelumnya tertulis secara berserakan pada tu
lang belulang, kulit pohon, batu, kulit binatang, dan sebagainya dipindah dan di
salin pada sebuah mushaf dan dijadikan satu. Pekerjaan menyalin ayat-ayat al-Qur
an ini dilaksanakan dengan ketelitian menyangkut orisinalitas wahyu ilahy yang h
arus senantiasa dijaga.
Setelah Islam tumbuh dan berkembang di Spanyol pada abad ke-8 Masehi sampai abad
ke-15 Masehi, pada zaman Dinasti Bani Umayyah ilmu pengetahuan Yunani yang tela
h diterima bangsa Arab kemudian kembali ke Eropa dengan epistemologi Islam. Punc
ak kemajuan karya sastra Islam ini mengalami kejayaannya pada masa Dinasti Abbas

lanjut merek a. Usman dan Ali . 3. Namun yang banyak meriwayatkan hadis adalah sahabat-sahabat junior dalam artia n karena mereka adalah orang baru dalam kehidupan rasulullah. Oleh karena itu perlu adanya sosialisasi dan penyadaran terhadap pentingnya pendekata . Mengingat banyaknya khazanah intelektual Islam. setidak-tidaknya pada awal mulanya. Bahwa selama ini hadis dikenal sebagai segala sesuatu yan g dinisbatkan kepada Nabi Muhammad baik perbuatan. meskipun oleh pihak-pihak pengguna kitab-kitab klasik itu sendiri. Ibnu Sina dan yang lain menjadi rujukan wajib mahasiswa dan merupakan lapangan penelitian yang menarik pelajar di Eropa. karena bisa saja hal itu hanya timbul dari status lain seorang Muhammad. Tidak cukup dengan menyerang para p erawi hadis. Aspek Kepribadian Nabi Muhammad SAW. Hal itu. Ada tiga hal yang sering dikemukakan orientalis dalam penelitian mereka terhadap al-Hadis. Abu hurairah selama masa 3 tahun dia b erkumpul dengan Nabi telah berhasil meriwayatkan lebih dari 5800 hadis. kepala negara. Fariduddin Attar. Anas bin malik. Umar. tentu membutuhkan b anyak waktu untuk melakukan penelitian terhadap berbagai turats tersebut. Karya Ibnu Rusyd. Karya tulis al-Ghazali. KESIMPULAN Filologi selama ini dikenal sebagai ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau yang berupa tulisan. seperti yang kita ketahui bersam a para sahabat yang terkenal sebagai perawi bukanlah para sahabat yang yang bany ak menghabiskan waktunya bersama rasullah seperti Abu bakar. kepribadian Nabi Muhammad SAW. Abdullah ibn Umar dll. Pendekatan filologi dipergunakan dalam kajian studi Islam dalam rangka memperole h informasi dari sebuah teks melalui penelitian terhadap berbagai naskah keislam an yang ada. perkataan dan ketetapan belia u juga perlu direkontruksi ulang. ki ta sebagai seorang peneliti (filolog) akan melakukan beberapa langkah standar ya ng telah digunakan dan disepakati oleh para ahli untuk mencari atau menyunting s ebuah naskah kuno agar selanjutnya bias dipublikasikan kepada masyarakat luas. membuka peluang terhadap kesalahan dalam penyampaian hadis secara verbal. Aspek Pengkodifikasian hadis. Pendek atan filologi menjadi sangat penting sepenting kandungan teks itu sendiri. 2. Mereka membagi status nabi menjadi tiga sebagai rasul. Pastinya hal tersebut di sampaikan secara lisan ke lisan. seperti pesantren-pesantren di Indonesia. Ketika hendak melakukan prosesi penelitian naskah. Studi terhadap karya tulis masa la mpau dilakukan karena adanya anggapan bahwa dalam peninggalan aliran ter kandung nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini Filologi berbicara mengenai bagaimana sebuah naskah kuno yang bernilai atau memp unyai makna besar bagi kehidupan manusia itu dikaji dengan cara seksama dan deng an ketelitian yang tinggi. Aspek Perawi.iyah. Dalam daftar sahabat yang banyak meriwayatkan hadis tempat teratas diduduki oleh sahabat yang hanya paling lama 10 tahun berkumpul dengan Nabi. tentang para perawi hadis. Anas. kepribadian Nabi Muhammad juga perlu dipertanyakan. metode pengklasifikasian hadis : 1. dan pribadi biasa sebagai mana orang kebanyakan. Sayyidah Aisyah mengumpulkan lebih dari 3000 hadis dan demikian juga dengan Abdullah ibn Umar. Sayyidah Aisya h. Hal itu dia kui ataupun tidak sedikit banyak akan mengakibatkan distorsi makna. karena jika tidak hal itu tidak layak untuk disebut dengan hadis. dan lainnya yang bernuansa misti k berkembang maju di wilayah Persia dan dunia Islam. Sesuatu yang berdasarkan dari Nabi baru disebu t hadis jika sesuatu tersebut berkaitan dengan hal-hal praktis keagamaan. seperti haln ya dalam permainan telpon-telponan anak kecil". seperti Abu hurairah. Sejarah penulisan hadis juga tidak lepas d ari kritikan mereka. Para orientalis sering mempertanyakan tentang para perawi yang banyak meriwayatkan hadis dari rasulullah.salah seorang orientalis ternama saa t ini: "Semua perkataan dan perbuatan Muhammad tidak pernah terdokumentasikan da lam bentuk tulisan semasa Ia hidup atau sepeninggalnya. Penulisan hadis yang baru dilakukan beberapa dekade setelah Nabi Muhammad wafat juga perlu mendapat perhatian khusus. 3. seb agaimana yang dikatakan oleh Montgomerywatt. yaitu 1. 2. Pendekatan ini memang belum banyak digunakan.

Melalui analisa semantik. Berbagai masalah tersebut kebanyakkan diselesaikan oleh sarjana pada abad ke-19. diantaranya formasi al-Qur an sebagai teks kronologi yang berisi naskah-naskah . sejah tulisannya. Memang sekilas kajian mereka Nampak ilmiah tet api sesungguhnya keilmiahan mereka tidak lebih besar dari latar belakang kebenci an terhadap Islam. Corak lain juga ditampakkan oleh Toshihiko Izutsu. . memahami al-Qur an itu send iri. mengomentari bahwa semua teks al-Qur an dikalangan tafsir tra disional muslim menyumbangkan berbagai penjelasan dan komentar dalam term. Justru selama ini kajian filologi terhadap Islam banyak dilakukan oleh para orie ntalis yang seringkali tidak bersikap obyektif dan justru mengarah untuk melemah kan umat islam melalui kajiannya. Rudi Paret misalnya. Goldziher menfokuskan penel itiannya pada berbagai tafsir yang berkembang. Kerangka kerja yang dilakukannya adalah bersifat historis. Diantara karya terpenting adalah Theodor Noldeke yang menulis Geschechte des Ko rans yang digantikan oleh Bergstassgeer dan Pretzel. sebagaimana dalam karyanya The Structure of The Ethical Term in The Koran. Studi Tentang al-Qur an Sebagaimana studi yang dilakukan oleh para sarjana Barat terhadap beberapa masal ah.n filologi dalam studi Islam. Berbeda dengan Izutsu. kegun aan dan referensi yang sulit dan tidak jelas atau sasaran perhatian dan kontrove rsi sarjana dahulu. hubungan al-Qur an dengan literatur terdah ulu dan isu-isu besar lainnya. macam-macam bacaan. Sarjana yang satu ini menitik beratkan kajiannya pada pencarian struktur semantik . Izutsu mengembangkan makna dikandung Qur an melalui stru ktur hubungan antara makna kata kunci atau konsep dalam al-Qur an itu sendiri. Beberapa fokus kajian al-Qur an dari peneliti satu ke peneliti yang lain berbeda. Kaj ian lain juga dilakukan oleh Goldziher sebaimana dalam bukunya Die Richtungen de r Islamischen Koranauslegung.