You are on page 1of 6

PUTUSAN

Nomor 10 PK/N/2000
===============================
DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA
MAHKAMAH AGUNG
Memeriksa perkara niaga dalam permohonan Peninjauan Kembali telah mengambil
putusan sebagai berikut dalam perkara kepailitan dari:
THE DAI-CHI KANGYO BANK, Limited Singapore Branch, berkedudukan di 1 Raffles
Place #47-00 OUB Center, Singapore 048616, dalam hal ini memberi kuasa kepada
Firmansyah, SH., LLM dan Ahmad Subarkah, SH., Advokat/Pengacara pada Firma
Hukum Karim Sani, beralamat di Wisma Danamon Aetna Life lantai 11 Jl. Jend.
Sudirman Kav. 45-46 Jakarta 12930, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 9 Mei
2000, sebagai Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Kasasi/Termohon
PKPU/Pemohon Pailit.
Melawan
PT. SUPREME CABLE MANUFACTURING CORPORATION, TBK (PT. SUCACO,
TBK), berkedudukan di A. Kebon Sirih No: 71 Jakarta Pusat, dalam hal ini memberi
kuasa kepada Lugito Hayadi, , SH. & Associates, beralamat di Jl. Hayam Wuruk No: 3 kk Jakarta Pusat, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 22 Mei 2000, sebagai
Termohon Kasasi/Pemohon. PKPU/Termohon Pailit.
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata bahwa Pemohon
Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Kasasi telah mengajukan permohonan
Peninjauan Kembali terhadap putusan Mahkamah Agung di Jakarta Pusat tanggal 17.
April 2000 Nomor 01 K/N/2000 yang telah berkekuatan hukum . tetap, dalam
perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali, dahulu sebagai Pemohon Kasasi
dengan posita perkara sebagai berikut:
bahwa PT. Supreme Cable Manufacturing Corporation, Tbk. (PT. Sucaco, Tbk)
Pemohon PKPU telah menerima pemberitahuan panggilan sidang perkara permohonan
kepailitan yang diajukan oleh The Dai-Ichi Kangyo Bank Limited, Singapore BranchTermohon PKPU, terdaftar No. 069/PAILIT/1999/PN/ NIAGA/JKT/PST. untuk sidang
pada tanggal 12 Oktober 1999 di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat;

bahwa jumlah hutang yang dimohonkan oleh Termohon PKPU dalam perkara
permohonan kepailitan tersebut adalah sebesar pokok pinjaman US $7.000.000,ditambah bunga pinjaman US$ 787.077,67 menjadi US$ 7,787,077,67 (Tujuh juta tujuh
ratus delapan puluh tujuh ribu tujuh puluh tujuh dan enam puluh tujuh sen Dollar AS)
belum diverifikasi;
bahwa di samping jumlah hutang yang diajukan dalam perkara permohonan kepailitan
tersebut, ternyata Pemohon PKPU masih mempunyai kreditur-kreditur lain,
sebagaimana diuraikan dalam Lampiran P-2;
bahwa Pemohon PKPU yang memiliki pabrik yang didirikan pada tahun 1971 dan
secara terhadap telah memproduksi berbagai jenis kabel dimulai dengan kabel listrik
(baik tegangan rendah, menengah dan tinggi sampai dengan 150 KV), kabel
telekomunikasi dan kabel enamel, yang sebagian besar dikonsumsi oleh PLN, PT.
TELKOM serta proyek Pemerintah lainnya, dan selebihnya dijual langsung ke swasta.
Di samping itu produk Pemohon PKPU pun ada yang diekspor ke Pasar Internasional
antara lain Jerman, Selandia Baru, Vietnam, Bangladesh, Nepal dan Sri Langka;
Pabrik Pemohon PKPU tersebut sampai saat ini masih berjalan dengan baik, memiliki
karyawan sejumlah kurang lebih 1.000 orang, dan juga masih mempunyai tagihantagihan piutang kepada pihak ketiga, sebagaimana diuraikan dalam Lampiran P-2;
bahwa Pemohon PKPU sampai saat ini masih tetap melakukan pembayaranpembayaran utang kepada para kreditur, sekalipun mengalami keterlambatan
pembayaran dari waktu yang telah ditetapkan, antara lain disebabkan keterlambatan
pembayaran tagihan piutang Pemohon PKPU kepada pihak ketiga dan yang terutama
adalah juga disebabkan oleh krisis ekonomi berkepanjangan yang sudah dua tahun
lebih melanda negeri kita ini, sehingga mempengaruhi pula pembayaran utang-utang
Pemohon PKPU kepada para krediturnya;
Dengan demikian, secara hukum Pemohon PKPU tidak dapat/belum dapat
dikualifikasikan sebagai berada dalam keadaan berhenti membayar utang;
bahwa oleh karenanya Pemohon PKPU mempunyai keyakinan dan melihat adanya
kemungkinan bahwa pabrik Pemohon PKPU masih tetap dapat berjalan dan
berproduksi, dan Pemohon PKPU masih dapat membayar utang-utangnya kepada para
kreditur dengan cara mencicil/membayar secara angsuran, apabila diberikan tenggang
waktu untuk menunda pembayaran kepada para kreditur;
bahwa Pemohon PKPU sebagai salah satu perusahaan PMDN telah menjual
sahamnya kepada masyarakat sejak tahun 1982, masih mempunyai asset-asset berupa
aktiva tetap senilai Rp. 116.950.324.101,- (seratus enam belas milyar sembilan ratus
lima puluh juta tiga ratus dua puluh empat ribu seratus satu rupiah) dan aktiva tetap
senilai Rp. 26.380.107.378,- (dua puluh enam milyar tiga ratus delapan puluh juta
seratus tujuh ribu tiga ratus tujuh delapan rupiah) sebagaimana diuraikan dalam
Lampiran P-1 dan P-2;
bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemohon PKPU masih mempunyai
kemampuan materiil untuk menawarkan jadwal/tenggang waktu baru dalam

pembayaran utang kepada seluruh kreditur konkurennya, yaitu dengan pembayaran


secara angsuran.;
bahwa dengan demikian Pemohon PKPU masih dapat melunasi kewajiban pembayaran
terhadap para kreditur, oleh karenanya, Pemohon PKPU mohon kepada Bapak Ketua
Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar berkenan mengabulkan
Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan oleh
Pemohon PKPU;
bahwa bersamaan dengan permohonan PKPU ini, maka Pemohon PKPU mengajukan
pula Rencana Perdamaian kepada para Kreditur, sebagaimana diuraikan dalam
Lampiran P-3. Bahwa cara pembayaran yang diuraikan dalam rencana Perdamaian
tersebut, menurut Pemohon PKPU merupakan cara pembayaran terbaik bagi
kepentingan para kreditur konkuren;
bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemohon PKPU mohon agar Pengadilan
Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berkenan memutuskan sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan pemohon PKPU, PT. Supreme Cable Manufacturing
Corporation, Tbk (PT. Sucaso Tbk) tersebut;
2. Mengangkat Hakim Pengawas dan menunjuk Saudara Tafrizal Hasan Gewang, SH.,
berkantor di Central Salemba Mas Blok U, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat,
sebagai Pengurus . PKPU PT. Supreme Cable Manufacturing Corporation, Tbk (PT.
Sacaco, Tbk);
Menimbang, bahwa amar putusan Mahkamah Agung RI tanggal 17 April 2000 Nomor
01 K/N/2000 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: THE DAI-ICHI KANGYO BANK,
LIMITED yang dalam hal ini diwakili oleh Firmansyah, SH., LLM. dan Ahmad Subarkah,
SH. tersebut;
Menghukum Pemohon Kasasi/termohon Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi sebesar Rp. 2.000.000,- (dua juta
rupiah);
Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut i.c.
putusan Mahkamah Agung tanggal 17 April 2000 No. 01K/N/2000 diberitahukan
kepada; Pemohon Kasasi dahulu Termohon PKPU/Pemohon Pailit berdasarkan surat
kuasa khusus tanggal 9 Mei 2000 diajukan permohonan Peninjauan Kembali secara
lisan dikepaniteraan Pengadilan Niaga tersebut pada tanggal 16 Mei 2000 permohonan
mana disertai dengan memori yang memuat alasan-alasan permohonannya yang
diterima di kepaniteraan Pengadilan Niaga tersebut pada tanggal 16 Mei 2000;
Menimbang, bahwa tentang permohonan Peninjauan Kembali tersebut telah
diberitahukan kepada pihak lawan dengan seksama pada tanggal 17 Mei 2000,

kemudian terhadapnya oleh pihak lawan telah diajukan jawaban yang diterima di
kepaniteraan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tanggal 25 Mei 2000;
Menimbang, bahwa oleh karena itu sesuai dengan pasal 286, 287, 288 PERPU No. 1
Tahun 1998 yang telah ditetapkan menjadi Undang-undang dengan Undang-undang
No. 4 Tahun 1998, permohonan Peninjauan Kembali a quo beserta alasan-alasannya
yang diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara-cara yang ditentukan Undangundang, maka oleh karena itu formal dapat diterima;
Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan-alasan
Peninjauan Kembali yang pada pokoknya sebagai berikut:
1. Bahwa Judex Factie telah salah menerapkan ketentuan pasal 264 Undang-undang
No. 4 Tahun 1998, karena pertimbangan putusan Pengadilan Niaga halaman 9
paragraf terakhir keliru dan tidak benar. Walaupun pasal 264 Undang-undang No. 4
tahun 1998 memberi kewenangan kepada Hakim pengawas untuk menentukan
apakah dan sampai jumlah berapakah para kreditur yang tagihannya ditambah itu
dapat ikut dalam pemungutan suara, namun pada saat sidang Majelis tanggal 9
Desember 1999, Pengurus dan Hakim Pengawas telah memberikan catatan pada
saat memohon homologasi atas akta perdamaian dengan memohon kepada Judex
Factie agar memutuskan masalah penolakan tagihan Pemohon Peninjauan Kembali
berdasarkan Facility Agreement tanggal 18 Desember 1995 sebagaimana diubah
dengan Amending Agreement for US$ 50.000.000,-Syndicated Loan. Facility tanggal
30 Desember 1.996 (Kredit Sindikasi).
Judex Factie sama sekali tidak mempertimbangkan permohonan Pengurus dan
Hakim Pengawas yang notabene permohonan Pemohon Peninjauan Kembali
tersebut. Judex Factie telah melakukan kesalahan berat dalam penerapan hukum,
karena menggunakan pasal 264 Undang-undang Kepailitan untuk menolak tagihan
piutang berdasarkan perjanjian Kredit Sindikasi. Di samping itu tagihan tersebut
bukanlah jumlah yang sedikit dan tidak adil bila Judex Factie tidak
mempertimbangkan dan memutus sengketa tagihan tersebut.
2. Judex Factie/Hakim Pengawas .tidak menerapkan prinsip hukum tanggung renteng
atas. utang Termohon Peninjauan Kembali dalam kredit sindikasi.
Dalam rapat kreditur yang diadakan oleh Pengurus yang dihadiri Hakim Pengawas,
keberatan Pemohon Peninjauan Kembali terhadap rencana perdamaian adalah
penolakan Termohon Peninjauan Kembali terhadap tagihan piutang Pemohon
Peninjauan Kembali, berdasarkan perjanjian kredit sindikasi (bukti P-14A dan P1413). Tagihan piutang bukti P-14A tersebut merupakan kewajiban Termohon
Peninjauan Kembali yang menjadi Debitur Kedua dalam kredit sindikasi yang
mempunyai sifat bersama-sama dan sendiri-sendiri (joint and several). Hal ini juga
ditegaskan dalam bukti P-14B halaman 11 yang menyatakan kewajiban kedua
debitur adalah kewajiban bersama dan sendiri-sendiri.
Dengan merujuk pada pengertian joint and several dalam sistem common law dan
pasal 1278 BW, maka tagihan piutang atas dasar kredit sindikasi (bukti P-14A dan P1413) tersebut tidak dapat ditolak, karena dalam proses kepailitan yang kemudian
melahirkan PKPU, PT. Supreme Alorudin sebagai debitur Kedua tidak dapat ditarik

sebagai Termohon yang akan dipailitkan. Termohon dapat diminta tanggung jawab
pembayaran seorang diri saja, sehingga Termohon Peninjauan Kembali dan
Pengurus menerima tagihan piutang pemohon Peninjauan Kembali berdasarkan
Perjanjian Kredit Sindikasi vide bukti P-14A dan P-14B sebesar USD 6.500.000,(utang pokok) ditambah USD 1.038.439,91 (utang bunga).
Menimbang, bahwa selanjutnya Mahkamah Agung mempertimbangkan alasan-alasan
Peninjauan Kembali dari Pemohon sebagai berikut:
Mengenai keberatan ad.l dan 2:
bahwa keberatan-keberatan ini tidak dapat dibenarkan, karena alasan-alasan
Peninjauan Kembali yang diajukan Pemohon tidak memenuhi syarat seperti yang
dimaksud dalam pasal 286 (2) b Undang-undang No. 4 Tahun 1998.
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas maka Permohonan
Peninjauan Kembali yang diajukan oleh THE DAI-CHI KANGYO BANK LIMITED
Singapore Branch tersebut adalah tidak beralasan, sehingga harus ditolak;
Menimbang, bahwa oleh karena Pemohon Peninjauan Kembali di pihak yang
dikalahkan, harus membayar biaya perkara yang jatuh dalam tingkat Peninjauan
Kembali;
Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-undang No. 14 tahun 1970 Undang-undang
No. 14 Tahun 1985 dan Perpu No. 1 tahun 1998 yang telah . ditetapkan sebagai
Undang-undang dengan Undang-undang No. 4 tahun 1998 serta undang-undang lain
yang bersangkutan;
Mengadili
Menolak Permohonan Peninjauan Kembali dari THE DAI-CHI KANGYO BANK LIMITED
SINGAPORE BRANCH yang diwakili oleh kuasanya Firmansyah, SH., LLM. dan
Ahmad Subarkah, SH. tersebut.
Menghukum Pemohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya perkara dalam
Peninjauan Kembali ini yang ditetapkan sebesar Rp. 2.500.000,- (Dua juta lima ratus
ribu rupiah).
Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari
SENIN tanggal 19 JUNI 2000, dengan H. SARWATA, SH. Ketua Mahkamah Agung
sebagai Ketua Sidang, H. SOEHARTO, SH. dan TH. KETUT SURAPUTRA, SH.
sebagai Hakim-hakim Anggota, Putusan mana diucapkan di muka persidangan terbuka
untuk umum pada HARI ITU JUGA oleh Ketua Sidang tersebut dengan dihadiri oleh H.
SOEHARTO, SH. dan TH. KETUT SURAPUTRA, SH., Hakim-hakim Anggota tersebut
serta RAHMI MULYATI, SH., Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh kedua
belah pihak.

Hakim - Hakim Anggota


Ketua
ttd
H. SOEHARTO, SH
Ttd
H. SARWATA, SH
ttd
T.H. KETUT SURAPUTRA, SH

Panitera Pengganti
ttd.
RAHMI MULYATI, SH.
Biaya-biaya:
1. Meterai
2. Redaksi
3. Administrasi Kasasi
Jumlah

Rp.
6.000,Rp.
1.000,Rp. 2.493.000,Rp. 2.500.000,-

Untuk Salinan
MAHKAMAH AGUNG Rl.
a.n. Panitera/Sekretaris Jenderal
Direktur Perdata Niaga
I GDE KETUT SUKARATA, S.H.
NIP. 040 012 856