You are on page 1of 29

SINDROM STEVEN JOHNSON

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Picture. Patient of Sindrom Steven Johnson
Sindrom Stevens-Johnson pertama diketahui pada 1922 oleh dua dokter, dr.Stevens dan
dr. Johnson, pada dua pasien anak laki-laki. Namun dokter tersebut tidak dapat menentukan
penyebabnya (Adithan,2006).
Sindrom Stevens-Johnson Dijelaskan pertama kali pada tahun 1922, sindrom StevensJohnson merupakan hipersensitivitas yang dimediasi kompleks imun yang merupakan
ekspresi berat dari eritema multiforme. Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) (ektodermosis
erosiva pluriorifisialis, sindrom mukokutaneaokular, eritema multiformis tipe Hebra, eritema
multiforme mayor, eritema bulosa maligna) adalah sindrom kelainan kulit berupa eritema,
vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lendir orifisium, dan mata
dengan keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk.(Hamzah,2002)
Sindrom Stevens-Jhonson merupakan kumpulan gejala (sindrom) berupa kelainan dengan
ciri eritema, vesikel, bula, purpura pada kulit pada muara rongga tubuh yang mempunyai
selaput lendir serta mukosa kelopak mata. Penyebab pasti dari Sindrom Stevens-Jhonson saat
ini belum diketahui namun ditemukan beberapa hal yang memicu timbulnya Sindrom

Stevens-Jhonson seperti obat-obatan atau infeksi virus. mekanisme terjadinya sindroma pada
Sindrom Stevens-Jhonson adalah reaksi hipersensitif terhadap zat yang memicunya.
Sindrom Stevens-Jhonson muncul biasanya tidak lama setelah obat disuntik atau
diminum, dan besarnya kerusakan yang ditimbulkan kadang tidak berhubungan lansung
dengan dosis, namun sangat ditentukan oleh reaksi tubuh pasien. Reaksi hipersensitif sangat
sukar diramal, paling diketahui jika ada riwayat penyakit sebelumnya dan itu kadang tidak
disadari pasien, jika tipe alergi tipe cepat yang seperti syok anafilaktik jika cepat ditangani
pasien akan selamat dan tak bergejala sisa, namun jika Sindrom Stevens-Jhonson akan
membutuhkan waktu pemulihan yang lama dan tidak segera menyebabkan kematian seperti
syok anafilaktik.
Oleh beberapa kalangan disebut sebagai eritema multiforme mayor tetapi terjadi ketidak
setujuan dalam literatur. Sebagian besar penulis dan ahli berpendapat bahwa sindrom
Stevens-Johnson dan nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan penyakit yang sama
dengan manifestasi yang berbeda. Dengan alasan tersebut, banyak yang menyebutkan
Sindrom Stevens-Jhonson/Nekrolisis Epidermal Toksik. Sindrom Stevens-Jhonsons secara
khas mengenai kulit dan membran mukosa.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk membahas konsep dasar dari Sindrom
Stevens-Jhonson dan mengetahui Asuhan Keperawatan pada klien denganSindrom StevensJhonson

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

( Djuanda. patient of sindrom steven johnson Syndrom Steven Johnson adalah Syndrom yang mengenai kulit. Juga ada versi efek samping ini yang lebih buruk.Definisi Sindrom Stevens-Jhonson Picture . yang disebut sebagai nekrolisis epidermis toksik (toxik epidermal necrolysis/TEN). Sindrom Stevens-Johnson. Ada juga versi yang lebih ringan.2006). vesikel / bula dapat disertai purpura.1. kelainan mukosa dan konjungtivitis ( Junadi. selaput lendir yang oritisium dan dengan keadaan omom bervariasi dan baik sampai buruk. vesikel / bula. 1982 : 480 ). ( Mansjoer. selaput lendir orifisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat.2. terutama selaput mukosa. Kelainan pada kulit berupa eritema. dapat disertai purpura yang dapat mengenai kulit. Syndrom Steven Johnson adalah syndrom kelainan kulit berupa eritema. . Syndrom Steven Johnson adalah penyakit kulit akut dan berat yang terdiri dari eropsi kulit. disebut sebagai eritema multiforme (EM) (Adithan. 2000 : 136). Efek samping obat ini mempengaruhi kulit. 1993 : 107 ). biasanya disingkatkan sebagai Sindrom Stevens-Jhonson. A. adalah reaksi buruk yang sangat gawat terhadap obat.

Coxsackie. Epstein-Barr virus and enteroviruses diidentifikasi sebagai penyebab timbulnya sindrom ini pada anak. diphtheria. hepatitis B. dermatophytosis dan histoplasmosis. Legionaire. influenza. Vaccinia rickettsia dan variola. cat-scratch fever. pneumokokus. c. analgetik. digunakan sebagai pengobatan malaria dan pada anak dipakai pada pasien dengan penyakit immunodefisiensi b. Bactrim dan berbagai nama generik dari trimethoprimsulfazoxazole). anti.Etiologi Sindrom Stevens-Jhonson Penyebab belum diketahui dengan pasti.  Jamur: termasuk coccidioidomycosis. Morbili.peuritik ). mycoplasma pneumonia tularemia and salmonella typhoid. anti. sinar-X) e. mononucleosis infeksiosa. Faktor fisik (sinar matahari.2. namun beberapa faktor yang dapat dianggap sebagai penyebab. Penyakit infeksi yang telah dilaporkan dapat menyebabkan sindrom ini meliputi:  Viral: herpes simplex virus (HSV)1 dan 2. adalah : a. mumps. Vincent agina. radiasi. Penggunaan obat paling sering pada anak yang berkaitan dengan timbulnya sindrom ini adalah sebagai berikut:  Carbamazepine (Tegretol – pengobatan anti kejang)  Cotrimoxazole (Septra. HIV. analgetik.  Bakteri: termasuk kelompok A beta haemolytic streptococcus. Alergi obat secara sistemik ( misalnya penisilin. cholera.2. Yersinia. Ini adalah golongan sulfa antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi saluran kemih dan mencegah infeksi pada telinga  Sulfadoxine dan pyrimethamine. Fracisella tularensis.  rotozoa: malaria and trichomoniasis. proteus. Neoplasma dan faktor endokrin d. Vibrio parahemolitikus brucellosis. mycobacteriae. Makanan : coklat . Alergi obat secara sistemik ( misalnya penisilin. lymphogranuloma venereum(LGV).peuritik ).

Reaksi tipe ini mengaktifkan komplemen dan degranulasi sel mast sehingga terjadi kerusakan jaringan atau kapiler ditempat terjadinya reaksi tersebut. disangka disebabkan oleh reaksi hipersensitif tipe III dan IV.3. infeksi virus dan keganasan. b. Patogenesisnya belum jelas.Patofisiologi Sindrom Stevens-Jhonson Sindrom Stevens-Jhonson merupakan kelainan hipersensitivitas yang dimediasi kompleks imun yang disebabkan oleh obat-obatan. terjadi pengaktifan sel T. Reaksi yang diperantarai oleh sel ini bersifat lambat ( delayed ) memerlukan waktu 14 jam sampai 27 jam untuk terbentuknya. tetapi terperangkap dalam jaringan kapilernya. Hal ini menyebabkan siklus peradangan berlanjut. Pada beberapa kasus antigen asing dapat melekat ke jaringan menyebabkan terbentuknya komplek antigen antibodi ditempat tersebut.Akibatnya terjadi akumulasi neutrofil yang kemudian melepaskan enzim dan menyebab kerusakan jaringan pada organ sasaran ( target. Reaksi hipersensitif tipe III Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya komplek antigen antibody yang mikro presitipasi sehingga terjadi aktifitas sistem komplemen.organ ).2. Penghasil limfokin atau sitotoksik atau suatu antigen sehingga terjadi penghancuran sel-sel yang bersangkutan. . Hal ini terjadi sewaktu komplek antigen antibody yang bersikulasi dalam darah mengendap didalam pembuluh darah atau jaringan. Antibiotik tidak ditujukan kepada jaringan tersebut. b. Reaksi hipersensitif tipe IV Reaksi hipersensitifitas tipe IV terjadi akibat limfosit T yang tersintesisasi berkontak kembali dengan antigen yang sama kemudian limtokin dilepaskan sebagai reaksi radang. Pada reaksi ini diperantarai oleh sel T. serta penimbunan sisa sel. a. Neutrofil tertarik ke daerah tersebut dan mulai memtagositosis sel-sel yang rusak sehingga terjadi pelepasan enzim-enzim sel.

muntah. iridosiklitis. iritis. 2. dan meatus uretra. nyeri kepala. Mulainya penyakit akut dapat disertai gejala prodromal berupa demam tinggi. papel. gangguan keseimbangan cairan elektrolit dan syok pada mata dapat terjadi kebutaan karena gangguan laksimasi.5. membran hidung. ekskoriasi. malaise. merupakan inflamasi kronik dari mukosa okuler yang menyebabkan kebutaan. batuk. mulut. muncul pada membran mukosa. penyebab infeksi. korizal.6. Komplikasi yang lain ialah kehilangan cairan atau darah.  Mata : konjungtivitas kataralis. vesikel. blefarokonjungtivitis. pegal otot dan atralgia yang sangat bervariasi dalam derajat berat dan kombinasi gejala tersebut.  Kultur darah. malaise. perdarahan dan kusta berwarna merah. penderita dapat soporous sampai koma.  Mukosa berupa vesikel. Pada sindrom ini terlihat adanya trias kelainan berupa:  Gejala prodromal berkisar antara 1-14 hari berupa demam. bula. anorektal. erosi.4. nyeri dada. Pada yang berat kesadarannya menurun.  Kulit berupa eritema. pada kasus berat terjadi erosi dan perforasi kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. daerah vulvovaginal. kelopak mata edema dan sulit dibuka. Stomatitis ulseratif dan krusta hemoragis merupakan gambaran utama. Keadaan umumnya bervariasi dari ringan sampai berat. Komplikasi Komplikasi yang tersering ialah bronkopneumia yang didapati sejumlah 80 % diantara seluruh kasus yang ada.  Tes lainya : .2. peningkatan jumlah leukosit kemungkinan disebabkan karena infusi bakteri. Cedera mukosa okuler merupakan faktor pencetus yang menyebabkan terjadinya ocular cicatricial pemphigoid. Manifestasi Klinis Sindrom ini jarang dijumpai pada usia 3 tahun kebawah. batuk. atau bula secara simetris pada hampir seluruh tubuh. sakit menelan. urin dan luka merupakan indikasi bila dicurigai. Waktu yang diperlukan mulai onset sampai terjadinya ocular cicatricial pemphigoid bervariasi mulai dari beberapa bulan sampai 31 tahun. pilek dan nyeri tenggorokan. 2. Pemeriksaan Penunjang Tidak didapatkan pemeriksaan laboratorium yang dapat membeku dalam menegakkan diagnosis. Bula terjadi mendadak dalam 1-14 hari gejala prodormal.  CBC ( complek blood count ) bisa didapatkan sel darah putih yang normal atau leukositosis non spesifik.

misalnya bila terjadi hipokalemia diberikan KCL 3 x 500 mg / hari dan diet rendah garam bila terjadi hipermatremia.Biopsi kulit memperlihatkan luka superiderma Adanya mikrosis sel epidermis Infiltrasi limposit pada daerah ferifaskulator 2. Pada kasus .7. Infus dan Transfusi darah Pengaturan keseimbangan cairan / elektron dan nutrisi penting karena pasien sukar atau tidak dapat menelan akibat lesi dimulut dan tenggorokan serta kesadaran dapat menurun. tidak timbul lesi baru. Pasien stevens-johnson berat harus segera dirawat dan berikan deksametason 6x5 mg intravena setelah masa kritisteratasi. Untuk itu dapat diberikan infus misalnya glukosa 5 % dan larutan darrow. Lama pengobatan kira-kira 10 hari. misalnya prenidesone yang diberikan keesokan harinya dengan dosis 20 mg sehari. Seminggu setelah pemberian kortikosteroid dilakuakn pemeriksaan elektrolit ( K. dapat diberi antibiotik yang jarang menyebabkan alergi. Umumnya masa kritis diatasi dalam beberapa hari. Setelah dosis mencapai 5 mg sehari. Bila terapi tidak memberi perbaikan dalam 2 – 3 hari. c. Penatalaksanaan a. Kartikosteroid merupakan tindakan file-saving dan digunakan deksamate dan intravena dengan dosis permulaan 4 – 6 x 5 mg sehari. dosis diturunkan secara cepat. Na dan CI ) bila ada gangguan harus diatasi. Antibiotik. lesi lama mengalami involusi. terutama pada kasus yang disertai purpura yang luas. deksametason intravena diganti dengan table kortikosteroid. b. maka dapat diberikan transfusi darah banyak 300 cc selama 2 hari berturut-turut. sehari kemudian diturunkan lagi menjadi 10 mg kemudian obat tersebut dihentikan. berspektrom luas dan bersifat sakteriosidal misalnya gentamisin dengan dosis 2 x 80 mg. Namun bila keadaan umumnya burukdan lesi menyeluruh harus diobati secara tepat dan cepat. Untuk mengatasi efek katabolik dari kortikosteroid diberikan diet tinggi protein / anabolik seperti nandroklok dekanoat dan nanadrolon fenilpropionat dosis 25-50 mg untuk dewasa ( dosis untuk anak tergantung berat badan ). Kortikosteroid Bila keadaan umum baik dan lesi tidak menyeluruh cukup diobati dengan preanisone 30 – 40 mg sehari. kedaan umum membaik. Untuk mencegah terjadinya infeksi misalnya bronkopneumia yang dapat menyebabkan kematian. tiap hari diturunkan 5 mg.

Untuk lesi di kulit yang erosif dapat diberikan sutratulle atau krim sulfa diarine perak. d. . Tropikal Terapi tropikal untuk lesi dimulut dapat berupa kanalog in orabase.dengan purpura yang luas dapat pula ditambahkan vitamin C 500 mg atau 1000 mg intravena sehari dan hemostatik.

batuk. pilek. papul. IgA. ulkus kornea. nekrosis sel epidermal.1. stomatitis dan pseudomembran di faring · kongjungtivitis purulen. Data Subyektif · Klien mengeluh demam tinggi. · Imunologi : deposis IgM dan C3 serta terdapat komplek imun yang mengandung IgG. bula yang mudah pecah sehingga terjadi erosi yang luas. c. perdarahan. vesikel. nyeri kepala. sering didapatkan purpura. . spongiosis dan edema intrasel epidermis.IgM.BAB III TINJAUAN TEORITIS 3.degenerasi lapisan basalis. · nefritis dan onikolisis. · Krusta hitam dan tebal pada bibir atau selaput lendir. lemah letih. Data Penunjang · Laboratorium : leukositosis atau esosinefilia · Histopatologi : infiltrat sel mononuklear. oedema dan ekstravasasi sel darah merah. Tinjauan teoritis keperawatan A. iritis dan iridosiklitis. dan nyeritenggorokan / sulit menelan b. Data Obyektif · Kulit eritema. Pengkajian a.

Gunakan pakaian tipis dan alat tenun yang lembut Ra pe dib int tek ter pro res Jaga kebersihan alat tenun Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian kortikosteroid 2 Gangguan nutrisi kurangdari kebutuhan tubuh b.nyeri b.d.d.d.3. perhatikan lokasi dan intensitasnya Berikan tindakan kenyamanandasar ex: pijatan pada area yangsakit Pantau TTV 4 Gangguan intoleransiaktivitas b. inflamasi pada kulit Melaporkan nyeri berkurang Menunjukkanekspresi wajah/postur tubuh rileks Kaji keluhan nyeri.2. Klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas Berikan analgetik sesuai indikasi Kaji respon individu terhadap aktivitas ras da da ga me me ba jar be jar me ke aw ind . kesulitan menelan badan stabil/peningkatan berat badan Kaji kebiasaan makanan yang disukai/tidak disukai Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering Hidangkan makanan dalam keadaan hangat Kerjasama dengan ahli gizi 3 Gangguan rasa nyaman.d. Diagnosa Keperawatan PROSES KEPERAWATAN PADA PASIEN SYNDROMA STEPEN JHONSON No Diagnosa Keperawatam Tujuan Intervensi 1 Gangguan integritas kulit menunjukkan kulit dan jaringan kulit Catat turgor sirkulasi b. inflamasi dermal dan yang utuh dan sensori serta epidermal perubahan lainnya yang terjadi.

kelemahan fisik seh Bantu klien dalam memenuhiaktivitas sehari-hari dengan tingkat keterbatasan yang dimiliki klien Jelaskan pentingnya pembatasan energi Libatkan keluarga dalam pemenuhan aktivitas klien op pro da .

D. faktor fisik dan makanan Masuk ke dalam tubuh Sel B dan plasma cel Antigen berikatan dengan antibodi (Ig M dan Ig G) Komplek imun Deposit pembuluh darah Mengaktifkan komplemen & degranulasi sel mast Neutrofil tertarik kedaerah infeksi Kerusakan jaringan kapiler/ organ Kerusakan submukosa : lidah inflamasi akumulasi neutrofil nociseptor reaksi radang intake in adekuat kelainan kulit MK: ggn nutrisi & eritema MK:gangguan integritas kulit merangsang peningkatan kelemahan fisik lemas permeabilitas vaskuler impuls respon inflamasi MK : Gangguan rasa nyaman nyeri MK: ggn Aktivitas . PATHWAY Alergi obat2an. neoplasma dan faktor endokrin. infeksi mikroorganisme.

Ibu mengatakan BB anak menurun dari 25 kg menjadi 22 kg dalam waktu 2 bulan dan anak tidak selesara makan. tidak selera makan.1 Pengkajian FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA SISTEM INTEGUMEN PADA Valen Zega I. TTV : RR 28 x/i. Turgor Kulit Jele. Register : 11112011 Ruang/Kamar : II/Rajawali Golongan Darah : AB Tanggal Masuk : 1 Maret 2012 Tanggal Pengkajian : 2 November 2011 Diagnosa Medis : Sindrom Stevens Jhonson . mual dan muntah. muncul bintik-bintik merah.BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN KASUS Seorang anak usia 5 Tahun di bawa ke RS. Identitas Pasien Nama :Valen Zega Umur : 5 Tahun Status Kesehatan : Sakit Agama : Kristen Protestan Pendidikan :- Pekerjaan :- Alamat : Jln. HR 80 x/i. BIODATA A. Sari Mutiara dengan Keluhan Sakit Kepala.Pilek dan demam dengan Temperatur 390C. Bhakti Luhur Tanggal Masuk : 1 Maret 2012 No. eritema di seluruh tubuh dan wajah. batuk. sulit menelan dikarenakan adanya lesi di bibir dan nyeri tenggorokan. 4.

muntah. mual. Bhakti Luhur Keluhan Utama : Sakit kepala. berat badan menurun (sebelum 25kg. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG 1. tidak selera makan.muncul bintik-bintik merah pada kulit.B. Penanggung Jawab Pasien / Keluarga Terdekat Nama : Jhon Irwan zega Pekerjaan : Wiraswasta Hubungan dengan pasien : Ayah pasien Alamat C. Pola nutrisi - Diet : Bubur - Nafsu makan : menurun - Mual : ada - Muntah : ada : membawa ke rumah sakit .demam. Faktor yang memperberat : garukan 6. sulit menelan. Faktor Pencentus : alergi obat 2. RESUME TTV : · Temp : 390C · Nadi : 80x/menit · RR : 28x/menit BB : 22 kg III. Bagaimana yang dirasakan : nyeri 4. nyeri tenggorokan. pilek. Upaya yang dilakukan oleh orang lain 8. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya sendiri : mengaruk 7. Lamanya keluhan : 2 bulan 3. : Jln. Bagaimana yang dilihat : adanya bintik-bintik merah 5. sesudah 22kg) II. batuk.

Imunisasi : imunisasi campak dan polio 5. Saudara Kandung : tidak ada 3. Masa kanan-kanak : flu b. Orang tua : tidak ada 2. Riwayat Alergi a. Riwayat Kesehatan Masa Lalu 1. Pernah operasi : tidak 2. Tipe alergi : alergi tipe III dan IV b. Pola nutrisi  Diet : Nasi biasa  Nafsu Makan : berkurang  Mual : ada  Muntah : ada  Frekuensi makan : 2kali/ hari  Jumlah makanan dan minuman :  Makan : 1/2 piring  Minum : 5gelas (250 ml/gls)  Berat Badan : 22 kg  Tinggi Badan : 100 cm E.- Frekuensi makan : 2 kali/ hari - Jumlah makanan dan minuman : makan : 1/2 piring / makan Minum : 5 gelas (250 ml/gls) - Berat badan : 22 kg - Tinggi badan : 100 cm D. Riwayat Kesehatan Keluarga : 1. Pernah dirawat : tidak d. Penyakit keturunan yang ada : tidak ada . Reaksi : nyeri yang hebat c. Riwayat kecelakaan : tidak ada c. Penyakit yang pernah dialami a. Kebiasaan : main bola 4. Tindakan : menggaruk 3.

Kesulitan tidur (+) Bisa tidur f.00 b. Pola minum 5 gelas 7 gelas b. Cara mengatasinya Tidak ada Menurun Tidak ada 4 Pola eliminasi fekal/BAB: a. air c. Kebiasaan tidur malam Terganggu 9 jam/hari d. Jenis minuman Air putih Teh.25 L putih. Nafsu makan Menurun Normal d. : tidak ada Pola Kebiasaan Sehari-hari : Biologis No 1 POLA SEBELUM SESUDAH MASUK RS MASUH RS Nutrisi : a.siang.4.00 – 06.susu d. Frekuensi 2 kali/ hari 2 kali/ hari b.00-14.75 L Teh. Warna Kuning Kuning d. Anggota keluarga yang meninggal F.05.00 Wib Malam 20. Banyaknya 1. Waktu (pagi. Lama tidur 7 Jam/hari Wib c. Diet Nasi Bubur c. Kebiasaan tidur siang Terganggu Mulai bisa tidur e. Lain-lain Tidak ada Tidak ada 2 Minum : a.00 . Minuman yang disukai The 1.00 wib 20. Konsistensi Cair Padat c.susu 3 Pola istirahat/tidur : a. Waktu tidur Siang Tidak ada 13.malam) Pagi dan siang Pagi dan siang . 1. Makanan yang disukai Coklat Tidak ada b.

Tempat hiburan/liburan Tidak ada Tidak ada b. Tidak ada Pola Rekreasi / Aktivitas a. Kelainan Tidak ada Tidak ada 6 Pola Aktivitas : a.5 Pola eliminasi urin/BAK : a. Jarak tempat kerja dari - Tidak ada - Tidak ada rumah c. Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonesia . Frekuensi olahraga Tidak ada Tidak ada d. Bekerja di -- Tidak ada b. Jumlah jam kerja/hari 7 Kebersihan diri / personal hygiene 1-2 x / hari 3 x / hari a. Jenis pekerjaan Pelajar Tidak ada e. Bahaya : Penumpukan Sampah c. Kendaraan yang dipakai d. Kebiasaan mandi 2 kali/hari 3 Kali/ Hari b. Memotong kuku 8 G. Mencuci rambut 1x/2bulan 1 kali/bulan d. Frekuensi 3 kali/ hari 5 kali/ hari b. Bau Khas Khas e. Polusi lingkungan rumah : Polusi Kendaraan H. Riwayat / Keadaan Psikologis / Sosial / Spiritual 1. Kejernihannya/Warna Kuning Kuning d. Jenis olahraga Tidak ada Tidak ada c. Jumlah jam kerja - Tidak ada Riwayat Lingkungan a. Menggosok gigi 1/hari 3 Kali/hari c. Kebersihan lingkungan rumah : Kurang Bersih b. Banyaknya/Jumlah 800 cc 900 cc c.

Suasana hati : Nyeri 6. Kegemaran : Main bola 7. Yang ingin diubah dalam kehidupan : - d. tidak bisa sembuh : : :::: Memberi Lingkungan Yang nyaman 10.2. Hubungan / Komunikaksi : a. Pola koping a. Harga diri : Menurun b. Bicara : Jarang b. Kepercayaan c. Yang dilakukan perawat agar pasien merasa nyaman : Negatif. Pemeriksaan Fisik 1. Siapa atau apa sumber kekuatan : Tuhan b. Identitas diri : Menurun d. Kehidupan keluarga : Biasa d. Pengambilan keputusan b. Daya adaptasi : Kurang 8. System nilai kepercayaan : a. Persepsi terhadap penyakit : Tidak Sembuh 3. Pernafasan / RR : pasti sembuh : 80X/menit : 28X/menit : tidak ada . Yang dilakukan bila stress e. Keadaan umum : lemah b. Gambaran diri : Jarang ke luar rumah karena penyakit 5. Keuangan : Mencukupi 9. Pola pikir dan persepsi kesulitan yang dialami 4. Yang disukai tentang diri sendiri c. Kegiatan agama yang dilakukan selama di RS I. Suhu / Temp : 390C d. Ideal diri : Menurun c. Tempat tinggal : Kurang c. Pertahanan koping a. Tingkat kesadaraan : sadar c. Tanda-tanda vital (Tanggal : 1 Maret ) a. Denyut Nadi / Pols e.

Telinga / Pendegaran · Bentuk : normal : pernah . Kepala dan rambut dan wajah  Kepala : Pasien mengeluh sakit  Bentuk kepala : Bulat  Ukuran : Simetris  Posisi : Simetris  Warna Rambut : Hitam  Bentuk Rambut : keriting  Kebersihan Kulit kepala  Warna  Struktur wajah b. Head to toe dan pengkajian system a.2. : ada ketombe : putih : Oval Mata  Bentuk  Sclera : normal  Konjungtiva : Ananemis  Pupil : isokor  Fungsi penglihatan : normal  Retina : normal c. : Sipit (Simetris) Hidung / Penciuman  Bentuk : simetris  Peradangan : tidak ada  Perdarahan : tidak ada  Cairan : tidak ada  Fungsi penciuman : baik  Lubang hidung : simetris  Polip : tidak ada  Sinusitis : tidak ada  Pernah mengalami flu d.

Thorax · Bentuk rongga : simetris · Bunyi nafas : tidak ada · Irama pernafasan : Normal · Bunyi jantung : tidak ada · Nyeri dada : tidak ada h. Abdomen · Bentuk : simetris · Turgor kulit : jelek : kering : Normal . Leher · Kelenjar getah bening · Kelenjar tiroid : Normal · Vena jugularis : normal · Kekakuan : Tidak ada g. Rongga mulut dan Faring · Keadaan bibir : lesi · Mukosa gigi : kering · Keadaan gusi dan gigi · Kesulitan menelan : ada · Alat bantu bicara : tidak ada · Gigi : kotor · Tonsil / faring : tidak ada (Normal) · Peradangan : tidak ada · Perdarahan : tidak ada · Laring : Normal · Peradangan : tidak ada · Fungsi pengecapan : baik f.· Peradangan : tidak ada · Perdarahan : tidak ada · Cairan : tidak ada · Fungsi pendegaran : baik · Alat bantu pendengaran : tidak e.

· Massa / cairan · Hepar : baik · Ginjal : normal · Bising usus : normal i. Pencernaan : melemah : lemah : tidak ada . kuku. bibir : ada · Edema jaringan Nadi : tidak ada : bersih : Normal : tidak ada : normal : tidak ada : tidak Normal k. Muskuloskletal · Pergerakan ekstremitas · Kekuatan otot : menurun · Fraktur : tidak ada · Kelainan tulang belakang : tidak ada · Traksi / spalk/ gips m. Neurologis · Memori saat ini : Normal · Memori yang lalu : Normal · Keluhan pusing : ada · Lama tidur : 7 jam · Gangguan tidur : (+) · Genggaman tangan kiri/kanan l. Perineum / Genetalia · Kebersihan perineum · Perdarahan : tidak ada · Peradangan : tidak ada · Haemoroid : tidak ada · Alat genetalia : bersih j. Sirkulasi · Suara jantung · Suara jantung tambahan · Palpitasi · Perubahan warna kulit.

Integumen · Turgor kulit : jelek · Tekstur kulit : kering · Kelembapan : kering · Lesi : (+) · Jaringan parut : tidak ada · Suhu : 390C · Edema : tidak ada · Eritema : Kemerahan : 5 kali/hari : 900 cc : ada . Eliminasi · Pola BAB : 2 kali/Hari · Konstipasi : tidak ada · Diare : tidak ada · Riwayat perdarahan : tidak ada · Pola BAK · Jumlah urin · Inkontinensia : mampu · Karakter urin : bau ke kuning-kuningan · Hematuria : tidak ada · Peradangan : tidak ada · Nyeri / rasa terbakar / kesulitan BAK o.· Mulut : kotor dan kering · Tenggorokan : nyeri · Abdomen : normal · Nafsu makan : menurun · Porsi makan :1/2piring n.

DS : Demam Mual & muntah Nyeri tenggorokan DO Suhu 390C RR 28 x/i Turgor kulit jelek Eritema Seluruh tubuh DS : o Nyeri Tenggorokan o Sakit kepala DO : 2. 1. Wajah meringis Lesi di bibir Eritema RR 28x/i DS : mual dan muntah sulit menelan tidak selera makan 3 DO : lesi di bibir Nyeri Tenggorokan . Kekurangan Volume Hipertermi Cairan Inflamasi pada kulit Nyeri Intake tidak adekuat karena Nutrisi kurang dari adanya lesi kebutuhan .PENGKAJIAN A. Analisa data No Data Etiologi Problem Tidak adekuat intake cairan.

2 Diagnosa 1. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit ditandai dengan suhu 390C. HR : 80x/i.DO : 4 Bintik-bintik merah pada kulit dan wajah eritema Gangguan integritas kulit Kulit kering 4.nyeri tenggorokan. kulit kering 4. kulit kering .lesi di bibir. Nyeri berhubungan dengan inflamasi pada kulit ditandai dengan wajah meringis. gangguan integritas kulit b/d eritema d/d bintik-bintik merah pada kulit dan wajah.lesi di bibir. turgor kulit jelek.3. Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak adekuat karena adanya lesi ditandai dengan nyeri tenggorokan. 2.Prioritas Masalah 1. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit ditandai dengan suhu 390C. RR 28x/i 3.RR 28x/i.mual dan muntah.sakit kepala.lesi di bibir.sulit menelan. tidak selera makan 4.nyeri tenggorokan. Eritema. tidak selera makan 4.mual dan muntah.BB 25 kg menurun menjadi 22 kg.lesi di bibir. 2.sakit kepala. turgor kulit jelek. HR : 80x/i. Eritema.RR 28x/i. Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak adekuat karena adanya lesi ditandai dengan nyeri tenggorokan. Nyeri berhubungan dengan inflamasi pada kulit ditandai dengan wajah meringis.sulit menelan. gangguan integritas kulit b/d eritema d/d bintik-bintik merah pada kulit dan wajah.BB 25 kg menurun menjadi 22 kg. RR 28x/i 3.

turgor kulit KH: jelek.5-1.50C 80x/m RR : Temp : 38.50C 20x/m suhu 390C. nadi (60- 00 wib 100 Mengkaji x/menit) dan mencatat turgor kulit Turgor : baik Planning : 3) .4. Perencanaan Asuhan keperawatan N Tang Dx.0 masuk terpantau mg/kg dan Memonitor Intervensi dil dan anjutkan (1- BB/jam) keluar Urin mencatat mengetah cairan ui yang jernih dan Kaji berwarna dan catat keseimban masuk dan kuning turgor gan cairan keluar kulit tubuh Cairan Membr an infus : mukosa RL 20 lembab tetes/menit Denyut  Untuk 60x/m Assestment : Belum Terata si bibir.Kepera watan Tujuan/ Interven KH si o gal 1 3 Kekurangan Tujuan : Mar volume tidak et cairan tubuh Rasional Implemen EVALUASI tasi Obser Subjek : Demam Untuk Jam vasi memonito 09.00 wib (0. Jam 11.lesi di keluara Monit Agar or dan keseimban Pols : n urine catat gan cairan RR : 28x/i individu cairan tubuh Jam Pols : 80x/i adekuat yang klien 10.4.00 wib terjadi tanda- r keadaan b/d kekurang tanda umum kerusakan an vital klien jaringan volume kulit d/d cairan Mengobser Objek : lesi (+) vasi tandaturgor tanda vital jelek RR 26x/m Suhu : Pols : 38.

RR g Skala an Planning : 28x/i nyeri 0-2 intervensi Intervensi lan Klien Assestment : Belum Terata si untuk Anjur Untuk Jam 10. tehnik meningkat mengajark si wajah relaksasi kan an teknik rileks nafas relaksasi relaksasi dalam dan Teknik : 16 -20 menurunk tarik x/menit an Napas keteganga dalam Ekspre RR : Tingk atkan periode 30 wib kan dan n otot Kekura tidur ngan tidur tanpa dapat ganggua meningkat 11. dapat kan dan menguran beristirah ajarkan gi persepsi Menganjur at klien nyeri. Caranya : Menguran jutkan (1-3) . berkuran memberik Eritema.2 4 Nyeri b/d Tujuan : Mar inflamasi nyeri tingkat mengetah 10.00 wib et pada kulit d/ dapat skala ui tingkat Mengkaji d wajah dikontrol/ nyeri 1 – nyeri klien tingkat meringis. Klien Kaji Untuk Jam Subjek : Nyeri Tenggorokan Objek : Lesi bibir Wajah Skala nyeri 4 lesi di melapork intensitas dasar bibir.sakit an nyeri nyeri kepala.15 wib n kan Meningkat persepsi kan nyeri periode Jam tidur tanpa gangguan.nye hilang 10. dan skala ri lokasi merupaka Nyeri dan n data Skala : 7 KH : tenggorokan.

00 wib menurun an yang makanan danmenin Memberik menjadi 22 disediaka sedikit gkatkan an kg. tidak n 80% tapi pemasuka makanan sering n sedikit tapi selera makan dihabiska n Mening Hidan sering katkan gkan nafsu makanan makan dalam Jam keadaan 11.30 wib hangat Memberik an makanan hangat Subjek : Nyeri tenggorokan Sulit menelan Mual muntah Objek : Ansietas (+) BB turun 3 kg Assestment : Belum Terata si Planning : Intervensi 13 diulangi .BB t 25 kg Makan makan Berika ü Mengajarka Memba n cara ntu membersih mencegah kan mulut n makan distensi Jam dan gaster 10.gi batas kunjungan pasien 3 5 Nutrisi Tujuan : Mar kurang dari nutrisi et Anjur Untuk Jam kan meningkat 09.mu makan al dan meningka muntah.00 wib kebutuhan b/ klien keluarga kan nafsu Menganjur d intake terpenuhi untuk makan kan tidak KH : members dan keluarga ihkan memberik untuk an rasa membersih adekuat Tidak karena terjadi mulut adanya penuruna klien kan mulut lesi d/d nyeri n BB/BB sebelum klien. tenggorokan. ideal dan sulit sesudah Nafsu menelan.

4 6 Gangguan Kulit Mar integritas Kemabali ankan kulit 09.Turgo merah menyebab pada kulit r Jelek. ukan garis teratasi Catat dasar Planning : warna.50 dan melakuka Memberik amati n an matras Kolab orasi Berikan intervensi tepat. Menuru matras nkan atau iskemia tempat jaringan.55 wib Assestment : Belum hari. kulit bintik Subjek: Turgor Bintik- yang bintik merah kering. dimana Ulangi turgor perubahan intervensi 1- sirkulasi pada 3 dan status sensasi. pada kulit kan iritasi dan wajah dan dan wajah potensial melai terhadap membaik Turgor Kaji membaik Kulit Kulit Setiap lembab infeksi Menent Kulit Jam 09. n oleh seprei kering kain yang lama mulai membaik bintik-bintik Tidak Pertah Friksi Jam merah pada ada dan tidak berkerut dengan kulit dan bintik- berkerut dan basah seprei baru wajah. . dapat Gambark dibanding Jam an lesi kan dan 09.50 wib -- et kulit b/d Normal seprei disebabka Mengganti Objek eritema d/d KH : bersih. tidur menguran busa gi tekanan /flotasi pada kulit.

Marilyn E. Sister School Program Dinas Kesehatan Propinsi Jateng Semarang. Jakarta : EGC 3. Price. Jakarta : EG 4. 2004 2. Jakarta : EGC . Sylvia Anderson 1995. Edisi IV. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. 2004 Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit. Lynda Jual. Doenges. 2002. Askep Pasien Dengan Gangguan Sistem Integumen.jaringan dan lesi DAFTAR PUSTAKA 1. Carpenito. Edisi III.