You are on page 1of 36

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin meningkat selaras
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern manusia tidak akan lepas dari
fungsi normal system musculoskeletal. Salah satunya tulang yang merupakan alat gerak
utama pada manusia, namun dari kelainan ataupun ketidaksiplinan dari manusia itu sendiri
(patah tulang) fraktur adalah hilangnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi,
tulang rawan epifisis baik yang bersifat total maupun partial . fraktur biasanya terjadi pada
cruris, karena cruris sangat kurang di lindungi oleh jaringan lunak, sehingga mudah sekali
mengalami kerusakan (Rasjad, 1998).
Berbagai penelitian di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia menunjukkan bahwa resiko
terjadinya patah tulang tidak hanya ditentukan oleh densitas massa tulang melainkan juga
oleh faktor-faktor lain yang berkaitan dengan kerapuhan fisik (frailty) dan meningkatkannya
resiko untuk jatuh. (Sudoyo: 2010)
Kematian dan kesakitan yang terjadi akibat patah tulang umumnya disebabkan oleh
komplikasi akibat patah tulang dan imobilisasi yang ditimbulkannya. Beberapa diantara
komplikasi tersebut adalah timbulnya dikubitus akibat tirah baring berkepanjangan,
perdarahan, trombosis vena dalam dan emboli paru; infeksi pneumonia atau infeksi saluran
kemih akibat tirah baring lama; gangguan nutrisi dan sebagainya. (Sudoyo: 2010)
Walaupun dalam kasus yang jarang terjadi kematian, namun bila tidak ditangani secara
tepat atau cepat dapat menimbulkan komplikasi yang akan memperburuk keadaan
penderita.

Sehingga

perawat

perlu

memperhatikan

langkah-langkah

yang

harus

diperhatikan dalam menangani pasien dengan kasus kegawat daruratan fraktur.


B. Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan :
Umum : Mahasiswa mampu menerapkan konsep asuhan keperawatan kegawat daruratan
pada pasien dengan fraktur
Khusus:
1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep fraktur
2. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep metodologi asuhan keperawatan kegawat
daruratan pada pasien fraktur

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Anatomi Fisiologi Tulang
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk
melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. Ruang di tengah tulang-tulang
tertentu berisi jaringan hematopoietik, yang membentuk sel darah. Tulang juga merupakan
tempat primer untuk meyimpan dan mengatur kalsium dan pospat.
Komponen-komponen utama dari jaringan tulang adalah mineral-mineral dan jaringan
organik (kolagen, proteoglikan). Kalsium dan phospat membenuk suatu kristal garam
(hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Matriks organik
tulang disebut juga sebagai suatu osteoid. Sekitar 70 % dari osteoid adalah kolagen tipe 1
yang kaku dan memberikan ketegaran tinggi pada tulang. Materi organik lain yang juga
menyusun tulang berupa proteoglikan seperti asam hialuronat.
Hampir semua tulang berongga dibagian tengahnya. Struktur demikian memaksimalkan
kekuatan struktural tulang dengan bahan yang relatif kecil atau ringan. Kekuatan tambahan
diperoleh dari susunan kolagen danmineral dalam jaringan tulang. Jaringan tulang dapat
berbentuk anyaman atau lameral. Tulang yang berbentuk anyaman terlihat saat
pertumbuhan cepat, seperti sewaktu perkembangan janin atau sesudah terjadinya patah
tulang, selanjutnya keadaan ini akan diganti oleh tulang yang lebih dewasa yang berbentuk
lameral. Pada orang dewasa tulang anyaman ditemukan pada insersi ligamentum atau
tendon. Tumor sarkoma osteogenik terdiri dari tulang anyaman . tulang lameral terdapat
seluruh tubuh orang dewasa.tulang lameral tersusun dari lempengan-lempengan yang
sangat padat, dan bukan merupakan suatu massa kristal. Pola susunan semacam ini
melengkapi tulang dengan kekuatan yang besar.
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari 3 jenis sel: osteoblas, osteosid dan
osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 dan
proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut
osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas mensekresikan
sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan penting dalam mengendapkan
kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk
pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.

Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks
tulang dapat diabsorbsi.
Vitamin D mempengaruhi deposisi dan absorbsi tulang. Vitamin D dalam jumlah besar dapat
menyebabkan absorbsi tulang seperti yang terlihat pada kadar hormon paratiroid yang
tinggi. Bila tidak ada vitamin D hormon paratiroid tidak akan menyebabkan absorbsi tulang.
Vitamin D dalam jumlah yang sedikit membantu kalsifikasi tulang, antara lain dengan
meningkatlan absorbsi kalsium dan fosfat oleh usus halus.
(Price dan Wilson: 1995)
B. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya yang
umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Brunner&Suddarth: 2002). Fraktur adalah
pemisahan atau patahnya tulang (Doenges, 1999).
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma (Tambayong: 2000).
Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik ( Price,
1995)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang
disebabkan trauma atau tenaga fisik dan menimbulkan nyeri serta gangguan fungsi.
C. Etiologi
Etiologi dari fraktur menurut Price dan Wilson (1995) ada 3 yaitu:
1. Cidera atau benturan
2. Fraktur patologik
Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi lemah oleh
karena tumor, kanker dan osteoporosis.
3. Fraktur beban
Fraktur beban atau fraktur kelelahan teradi pada orang-orang yang baru saja menambah
tingkat aktifitas mereka, seperti baru diterima dalam angkatan bersenjata atau orangorang yang baru mulai latihan lari.
D. Manifestasi Klinis
Adapun tanda dan gejala dari fraktur, sebagai berikut :
1. Nyeri

Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bidai alamiah yang dirancang untuk
meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Hilangnya fungsi dan deformitas
Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak
secara tidak alamiah. Cruris tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal
otot berrgantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot.
3. Pemendekan ekstremitas
Terjadinya pemendekan tulang yang sebenarnya karena konstraksi otot yang
melengket di atas dan bawah tempat fraktur.
4. Krepitus
Saat bagian tibia dan fibula diperiksa, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus
yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainya.
5. Pembengkakan lokal dan Perubahan warna
Terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru
terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera.
E. Klasifikasi Fraktur
1. Menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar di bagi menjadi
2 antara lain:
a) Fraktur tertutup (closed)
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar,
disebut dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur
tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma,
yaitu:
i. Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
ii. Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
iii. Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan
pembengkakan.
iv. Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman
sindroma kompartement.
b) Fraktur terbuka (opened)

Dikatakan terbuka bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang memungkinkan /
potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke
tulang yang patah. Derajat patah tulang terbuka :
i. Derajat I
Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal. ii. Derajat II Laserasi > 2 cm,
kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi fragmen jelas.
iii. Derajat III
Luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar.
2. Menurut derajat kerusakan tulang dibagi menjadi 2 yaitu:
a) Patah tulang lengkap (Complete fraktur)
Dikatakan lengkap bila patahan tulang terpisah satu dengan yang lainya, atau garis fraktur
melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen tulang biasanya berubak
tempat.
b) Patah tulang tidak lengkap ( Incomplete fraktur )
Bila antara oatahan tulang masih ada hubungan sebagian. Salah satu sisi patah yang lainya
biasanya hanya bengkok yang sering disebut green stick. Menurut Price dan Wilson ( 2006)
kekuatan dan sudut dari tenaga fisik,keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulang
akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur
lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak
melibatkan seluruh ketebalan tulang.
3. Menurut bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma ada 5 yaitu:
a) Fraktur Transversal : fraktur yang arahnya malintang pada tulang dan merupakan akibat
trauma angulasi atau langsung.
b) Fraktur Oblik : fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang
dan merupakan akibat dari trauma angulasi juga.
c) Fraktur Spiral : fraktur yang arah garis patahnya sepiral yang di sebabkan oleh trauma
rotasi.
d) Fraktur Kompresi : fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang
kea rah permukaan lain.
e) Fraktur Afulsi : fraktur yang di akibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada
insersinya pada tulang.
4. Menurut jumlah garis patahan ada 3 antara lain:
a) Fraktur Komunitif : fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
b) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
c) Fraktur Multiple : fraktur diman garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang
sama.
(Mansjoer: 2000)

F. Patofisiologi
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup bila tidak terdapat
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Sedangkan fraktur terbuka bila terdapat
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit. Sewaktu
tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah ke dalam jaringan lunak
sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi
perdarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel- sel darah putih dan sel anast
berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ketempat tersebut aktivitas osteoblast
terangsang dan terbentuk tulang baru umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin
direabsorbsidan sel- sel tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati.
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut syaraf yang berkaitan dengan
pembengkakan yang tidak di tangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstrimitas dan
mengakibatkan kerusakan syaraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan akan
mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dan berakibat anoreksia
mengakibatkan rusaknya serabut syaraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini di namakan
sindrom compartment (Brunner dan Suddarth, 2002).
Trauma pada tulang dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan ketidak seimbangan,
fraktur terjadi dapat berupa fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Fraktur tertutup tidak disertai
kerusakan jaringan lunak seperti tendon, otot, ligament dan pembuluh darah ( Smeltzer dan
Bare, 2001). Pasien yang harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita komplikasi
antara lain : nyeri, iritasi kulit karena penekanan, hilangnya kekuatan otot. Kurang perawatan
diri dapat terjadi bila sebagian tubuh di imobilisasi, mengakibatkan berkurangnyan
kemampuan prawatan diri.
Reduksi terbuka dan fiksasi interna (ORIF) fragmen- fragmen tulang di pertahankan dengan
pen, sekrup, plat, paku. Namun pembedahan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.
Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang
seluruhnya tidak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan
selama tindakan operasi (Price dan Wilson: 1995).
G. Komplikasi
Komplikasi fraktur menurut Smeltzer dan Bare (2001) antara lain:
1. Komplikasi awal fraktur antara lain: syok, sindrom emboli lemak, sindrom kompartement,
kerusakan arteri, infeksi, avaskuler nekrosis.
a) Syok
Syok hipovolemik atau traumatic, akibat perdarahan (banyak kehilangan darah eksternal
maupun yang tidak kelihatan yang biasa menyebabkan penurunan oksigenasi) dan

kehilangan cairan ekstra sel ke jaringan yang rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas,
thoraks, pelvis dan vertebra.
b) Sindrom emboli lemak
Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam pembuluh darah karena
tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang di
lepaskan oleh reaksi stress pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan
terjadinya globula lemak pada aliran darah.
c) Sindroma Kompartement
Sindrom kompartemen ditandai oleh kerusakan atau destruksi saraf dan pembuluh darah
yang disebabkan oleh pembengkakan dan edema di daerah fraktur. Dengan pembengkakan
interstisial yang intens, tekanan pada pembuluh darah yang menyuplai daerah tersebut
dapat menyebabkan pembuluh darah tersebut kolaps. Hal ini menimbulkan hipoksia jaringan
dan dapat menyebabkan kematian syaraf yang mempersyarafi daerah tersebut. Biasanya
timbul nyeri hebat. Individu mungkin tidak dapat menggerakkan jari tangan atau kakinya.
Sindrom kompartemen biasanya terjadi pada ekstremitas yang memiliki restriksi volume
yang ketat, seperti lengan.resiko terjadinya sinrome kompartemen paling besar apabila
terjadi trauma otot dengan patah tulang karena pembengkakan yang terjadi akan hebat.
Pemasangan gips pada ekstremitas yang fraktur yang terlalu dini atau terlalu ketat dapat
menyebabkan peningkatan di kompartemen ekstremitas, dan hilangnya fungsi secara
permanen atau hilangnya ekstremitas dapat terjadi. (Corwin: 2009)
d) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma biasanya ditandai dengan tidak ada nadi, CRT menurun,
syanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disbabkan
oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.
e) Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic
infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus
fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin
dan plat.
f) Avaskuler nekrosis
Avaskuler nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang
bias menyebabkan nekrosis tulang dan di awali dengan adanya Volkmans Ischemia
(Smeltzer dan Bare, 2001).
2. Komplikasi dalam waktu lama atau lanjut fraktur antara lain: mal union, delayed union,
dan non union.
a) Malunion

Malunion dalam suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang
tidak seharusnya, membentuk sudut, atau miring. Conyoh yang khas adalah patah tulang
paha yang dirawat dengan traksi, dan kemudian diberi gips untuk imobilisasi dimana
kemungkinan gerakan rotasi dari fragmen-fragmen tulang yang patah kurang diperhatikan.
Akibatnya sesudah gibs dibung ternyata anggota tubuh bagian distal memutar ke dalam
atau ke luar, dan penderita tidak dapat mempertahankan tubuhnya untuk berada dalam
posisi netral. Komplikasi seperti ini dapat dicegah dengan melakukan analisis yang cermat
sewaktu melakukan reduksi, dan mempertahankan reduksi itu sebaik mungkin terutama
pada masa awal periode penyembuhan.
Gibs yang menjadi longgar harus diganti seperlunya. Fragmen-fragmen tulang yang patah
dn bergeser sesudah direduksi harus diketahui sedini mungkin dengan melakukan
pemeriksaan radiografi serial. Keadaan ini harus dipulihkan kembali dengan reduksi
berulang dan imobilisasi, atau mungkin juga dengan tindakan operasi.
b) Delayed Union
Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan dengan kecepatan yang
lebih lambat dari keadaan normal. Delayed union merupakan kegagalan fraktur
berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
c) Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang
lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion di tandai dengan adanya pergerakan
yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseuardoarthrosis. Banyak
keadaan yang merupakan faktor predisposisi dari nonunion, diantaranya adalah reduksi
yang tidak benar akan menyebabkan bagian-bagian tulang yang patah tetap tidak menyatu,
imobilisasi yang kurang tepat baik dengan cara terbuka maupun tertutup, adanya interposisi
jaringan lunak (biasanya otot) diantara kedua fragmen tulang yang patah, cedera jaringan
lunak yang sangat berat, infeksi, pola spesifik peredaran darah dimana tulang yang patah
tersebut dapat merusak suplai darah ke satu atau lebih fragmen tulang.
H. Penyembuhan Fraktur
Jika satu tulang sudah patah, maka jaringan lunak di sekitarnya juga rusak, periosteum
terpisah dari tulang, dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan darah terbentuk pada
daerah tersebut, bekuan akan membentuk jaringan granulasi, dimana sel-sel pembentuk
tulang primitif (osteogenik) berdiferensiasi menjadi kondroblas dan osteoblas. Kondroblas
dan osteoblas. Kondroblas akan mensekresi fosfat yang merangsang deposisi kalsium.
Terbentuk lapisan tebal (kalus) di sekitar lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan
meluas, bertemu dengan lapisan kalus dari fragmen satunya dan menyatu. Fusi dari kedua

fragmen (penyembuhan fraktur) terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula oleh


osteoblas, yang melekat pada tulang dan meluas menyebrangi lokasi fraktur. Persatuan
(union) tulang provisional ini akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih
kuat dan lebih terorganisasi. Kalus tulang akan mengalami re-medolling di mana osteoblas
akan membentuk tulang baru sementara osteoklas akan menyingkirkan bagian yang rusak
sehingga akhirnya akan terbentuk tulang yang menyerupai keadaan tulang aslinya. (Price:
1995)
Penyembuhan tulang

I. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan kedaruratan
Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan
terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan (breathing) dan sirkulasi (circulation),
apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru lakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisis secara terperinci. Waktu tejadinya kecelakaan penting
ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat golden period 1-6 jam.
Bila lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisis secara cepat, singkat dan lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis.
Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya
kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan
foto.
Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak menyadari adanya
fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah, maka bila dicurigai adanya
fraktur, penting untuk mengimobilisasi bagain tubuh segara sebelum pasien dipindahkan.
Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat
dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk
mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Gerakan fragmen patahan tulang dapat
menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak dan perdarahan lebih lanjut.
Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan menghindari
gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian yang memadai sangat penting
untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang.
Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan bantalan
yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang. Imobilisasi tulang panjang

ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai bersama, dengan
ektremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera. Pada cedera
ektremitas atas, lengan dapat dibebatkan ke dada, atau lengan bawah yang cedera
digantung pada sling. Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menntukan kecukupan
perfusi jaringan perifer.
Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah
kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur, bahkan
bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. Pasanglah bidai sesuai yang diterangkan
diatas.
Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap. Pakaian dilepaskan dengan
lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian dari sisi cedera. Pakaian pasien
mungkin harus dipotong pada sisi cedera. Ektremitas sebisa mungkin jangan sampai
digerakkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
2. Penatalaksanaan bedah ortopedi
Banyak pasien yang mengalami disfungsi muskuloskeletal harus menjalani pembedahan
untuk mengoreksi masalahnya. Masalah yang dapat dikoreksi meliputi stabilisasi fraktur,
deformitas, penyakit sendi, jaringan infeksi atau nekrosis, gangguan peredaran darah (mis;
sindrom komparteman), adanya tumor. Prpsedur pembedahan yang sering dilakukan
meliputi Reduksi Terbuka dengan Fiksasi Interna atau disingkat ORIF (Open Reduction and
Fixation). Berikut dibawah ini jenis-jenis pembedahan ortoped dan indikasinya yang lazim
dilakukan :
Reduksi terbuka : melakukan reduksi dan membuat kesejajaran tulang yang patah setelah
terlebih dahulu dilakukan diseksi dan pemajanan tulang yang patah
Fiksasi interna : stabilisasi tulang patah yang telah direduksi dengan skrup, plat, paku dan
pin logam
Graft tulang : penggantian jaringan tulang (graft autolog maupun heterolog) untuk
memperbaiki penyembuhan, untuk menstabilisasi atau mengganti tulang yang berpenyakit.
Amputasi : penghilangan bagian tubuh
Artroplasti : memperbaiki masalah sendi dengan artroskop (suatu alat yang memungkinkan
ahli bedah mengoperasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar) atau melalui pembedahan
sendi terbuka
Menisektomi : eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak
Penggantian sendi : penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau sintetis
Penggantian sendi total : penggantian kedua permukaan artikuler dalam sendi dengan
logam atau sintetis
Transfer tendo : pemindahan insersi tendo untuk memperbaiki fungsi

Fasiotomi : pemotongan fasia otot untuk menghilangkan konstriksi otot atau mengurangi
kontraktur fasia.
(Ramadhan: 2008)
3. Terapi Medis
Pengobatan dan Terapi Medis
a. Pemberian anti obat antiinflamasi seperti ibuprofen atau prednisone
b. Obat-obatan narkose mungkin diperlukan setelah fase akut
c. Obat-obat relaksan untuk mengatasi spasme otot
d. Bedrest, Fisioterapi
(Ramadhan: 2008)
4. Prinsip 4 R pada Fraktur
Menurut Price (1995) konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani
fraktur yaitu : rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.
1. Rekognisi (Pengenalan )
Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk menentukan diagnosa dan
tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat fraktur tungkai akan terasa nyeri sekali dan
bengkak. Kelainan bentuk yang nyata dapat menentukan diskontinuitas integritas rangka.
fraktur tungkai akan terasa nyeri sekali dan bengkak.
2. Reduksi (manipulasi/ reposisi)
Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen fragmen tulang yang
patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak asalnya. Upaya untuk memanipulasi
fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimal. Reduksi fraktur dapat
dilakukan dengan reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka. Reduksi fraktur dilakukan
sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi
karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin
sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan (Mansjoer, 2002).
3. Retensi (Immobilisasi)
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula
secara optimal. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau di
pertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi
dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi
pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin, dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan
logam dapat di gunakan untuk fiksasi intrerna yang brperan sebagai bidai interna untuk
mengimobilisasi fraktur. Fiksasi eksterna adalah alat yang diletakkan diluar kulit untuk
menstabilisasikan fragmen tulang dengan memasukkan dua atau tiga pin metal perkutaneus

menembus tulang pada bagian proksimal dan distal dari tempat fraktur dan pin tersebut
dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan eksternal bars. Teknik ini terutama atau
kebanyakan digunakan untuk fraktur pada tulang tibia, tetapi juga dapat dilakukan pada
tulang femur, humerus dan pelvis (Mansjoer, 2000).
4. Rehabilitasi
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk menghindari atropi atau
kontraktur. Bila keadaan mmeungkinkan, harus segera dimulai melakukan latihan-latihan
untuk mempertahankan kekuatan anggota tubuh dan mobilisasi (Mansjoer, 2000).
Patah Tulang Anak
Pada anak sering ditemukan patah tulang dahan hijau. Reposisi umumnya tidak sukar dan
biasanya cepat sembuh serta cepat kuat. Jarang dibutuhkan reposisi atau imobilisasi
dengan fiksasi bedah. Untuk reposisi dapat digunakan traksi kulit dan jarang ditemukan
kekakuan sendi. Pada penanganan harus diperhatikan bahwa fragmen harus searah
sumbu, tetapi dislokasi ad latitudinem tidak penting sehingga reposisi ujung ke ujung tidak
diharuskan. Penyembuhan dan pemugaran akan memperbaiki dislokasi ini tanpa
meninggalkan bekas. Akan tetapi, rotasi, yaitu dislokasi ad periperam harus dihindari.
Angulasi atau dislokasi ad aksim dapat dibiarkan bila fraktur terjadi di dekat epifisis pada
anak muda. Dislokasi dengan kontraksi patah tulang diafisis menguntungkan karena akan
terjadi swapugar karena hiperemia sehingga anggota yang bersangkutan tumbuh lebih
cepat daripada anggota gerak sisi lain. Pertautan sisi kena sisi berlangsung cepat dan
pemugaran akan terjadi lebih cepat.
Fraktur terbuka baik karena cedera dari luar maupun karena tembusnya ujung patah tulang
dari dalam, terancam bahaya infeksi dan osteomilitis. Seperti biasanya penanganan terdiri
atas pembilasan luka, pengeluaran benda asing, fragmen tulang yang terlepas, dan
nekrosis. Luka kemudian dirawat secara terbuka dengan anggota yang bersangkutan
diletakkan tinggi. Kontusio kulit diperhatikan betul karena mengakibatkan nekrosis. Bila
ujung patahan tulang terletak berjauhan akibat kehilangan pecahan tulang, kedua ujung ini
harus dipertemukan agar tetap bersentuhan. Yang paling sering ditemukan pada anak ialah
patah tulang klavikula, humerus, suprakondiler, dan antebrakius.
(Sjamsuhidajat: 2004)
J. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rongent: Menentukan lokasi atau luasnya fraktur atau trauma .
b. Scan tulang, tomogram, scan CT/MRI: Memperlihatkan fraktur: juga dapat digunakan
untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.

c. Hitung Darah Lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun


(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel). Peningkatan
jumlah SDP adalah respon stress normal setelah trauma.
d. Arteriogram: dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
e. Kreatinin: Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
f. Profil Koagulasi : Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi multipel, atau
cedera hati.
(Dongoes: 1999)
BAB III
ASKEP GAWAT DARURAT FRAKTUR
A. Pengkajian
1. Pengkajian primer
a. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan
reflek batuk
b. Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan /
atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
c. Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi
jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis
pada tahap lanjut.
2. Pengkajian sekunder
a. Aktivitas/istirahat
i. kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
ii. Keterbatasan mobilitas
b. Sirkulasi
1) Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
2) Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
3) Tachikardi
4) Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
5) Cailary refil melambat
6) Pucat pada bagian yang terkena
7) Masa hematoma pada sisi cedera
c. Neurosensori
1) Kesemutan

2) Deformitas, krepitasi, pemendekan


3) kelemahan
d. Kenyamanan
1) nyeri tiba-tiba saat cidera
2) spasme/ kram otot
e. Keamanan
1) laserasi kulit
2) perdarahan
3) perubahan warna
4) pembengkakan local
B. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
a. Nyeri berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan sekunder terhadap fraktur.
Diagnosa Keperawatan
(NANDA) Tujuan Keperawatan
( NOC ) Rencana Tindakan
(NIC )
Nyeri berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan sekunder terhadap fraktur.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan ... jam :
- Melaporkan gejala nyeri terkontrol
- Melaporkan kenyamanan fisik dan psikologis
- Mengenali factor yang menyebabkan nyeri
- Melaporkan nyeri terkontrol (skala nyeri: <4 data-blogger-escaped-br=""> - Tidak
menunjukkan
respon
non
verbal
adanya
nyeri
Menggunakan
terapi
analgetik
dan
non
analgetik
Tanda
vital
dalam
rentang
yang
diharapkan
Manajemen
nyeri
- Kaji tingkat nyeri yang komprehensif : lokasi, durasi, karakteristik, frekuensi, intensitas,
factor
pencetus,
sesuai
dengan
usia
dan
tingkat
perkembangan.
- Monitor skala nyeri dan observasi tanda non verbal dari ketidaknyamanan
Gunakan
tindakan
pengendalian
nyeri
sebelum
menjadi
berat
- Kelola nyeri pasca operasi dengan pemberian analgesik tiap 4 jam, dan monitor
keefektifan
tindakan
mengontrol
nyeri
- Kontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap
ketidaknyamanan
:
suhu
ruangan,
cahaya,
kegaduhan.
- Ajarkan tehnik non farmakologis kepada klien dan keluarga : relaksasi, distraksi, terapi
musik, terapi bermain,terapi aktivitas, akupresur, kompres panas/ dingin, masase. imajinasi
terbimbing (guided imagery),hipnosis ( hipnoterapy ) dan pengaturan posisi.

- Informasikan kepada klien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri : misal klien
cemas,
kurang
tidur,
posisi
tidak
rileks.
Kolaborasi
medis
untuk
pemberian
analgetik,
fisioterapis/
akupungturis.

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler.


Diagnosa
Keperawatan
(NANDA)
Tujuan
Keperawatan
(
NOC
)
Rencana
Tindakan
(NIC
)
Gangguan
mobiltas
fisik
berhubungn
dengan
neuromuskuler.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ... jam klien menunjukkan dapat bergerak
secara
normal
dengan
KH:
Mampu
mandiri
total
Membutuhkan
alat
bantu
Membutuhkan
bantuan
orang
lain
Membutuhkan
bantuan
orang
lain
dan
alat
Tergantung
total
Dalam
hal
:
Penampilan
posisi
tubuh
yang
benar
Pergerakan
sendi
dan
otot
- Melakukan perpindahan/ ambulasi : miring kanan-kiri, berjalan, kursi roda
Latihan
Kekuatan
- Ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan program latihan secara rutin
Latihan
untuk
ambulasi
- Ajarkan teknik Ambulasi & perpindahan yang aman kepada klien dan keluarga.
- Sediakan alat bantu untuk klien seperti kruk, kursi roda, dan walker
- Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan yang aman.
Latihan
mobilisasi
dengan
kursi
roda
- Ajarkan pada klien & keluarga tentang cara pemakaian kursi roda & cara berpindah dari
kursi
roda
ke
tempat
tidur
atau
sebaliknya.
Dorong
klien
melakukan
latihan
untuk
memperkuat
anggota
tubuh
Ajarkan
pada
klien/
keluarga
tentang
cara
penggunaan
kursi
roda
Latihan
Keseimbangan
- Ajarkan pada klien & keluarga untuk dapat mengatur posisi secara mandiri dan menjaga
keseimbangan
selama
latihan
ataupun
dalam
aktivitas
sehari
hari.
Perbaikan
Posisi
Tubuh
yang
Benar
- Ajarkan pada klien/ keluarga untuk mem perhatikan postur tubuh yg benar untuk
menghindari
kelelahan,
keram
&
cedera.
Kolaborasi
ke
ahli
terapi
fisik
untuk
program
latih.
c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder terhadap fraktur.
Diagnosa
Keperawatan
(NANDA)
Tujuan
Keperawatan

(
NOC
)
Rencana
Tindakan
(NIC
)
Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder terhadap fraktur.
Setelah
dilakukan
asuhan
keperawatan
selama
...
jm
Klien
mampu
merawat
diri
dengan
baik
dengan
KH
:
- Melakukan ADL mandiri : mandi, hygiene mulut ,kuku, penis/vulva, rambut, berpakaian,
toileting,
makan-minum,
ambulasi
Mandi
sendiri
atau
dengan
bantuan
tanpa
kecemasan
Terbebas
dari
bau
badan
dan
mempertahankan
kulit
utuh
Mempertahankan
kebersihan
area
perineal
dan
anus
Berpakaian
dan
melepaskan
pakaian
sendiri
- Melakukan keramas, bersisir, bercukur, membersihkan kuku, berdandan
Makan
dan
minum
sendiri,
meminta
bantuan
bila
perlu
Mengosongkan
kandung
kemih
dan
bowel
Bantuan Perawatan Diri: Mandi, higiene mulut, penil/vulva, rambut, kulit
Kaji
kebersihan
kulit,
kuku,
rambut,
gigi,
mulut,
perineal,
anus
- Bantu klien untuk mandi, tawarkan pemakaian lotion, perawatan kuku, rambut, gigi dan
mulut,
perineal
dan
anus,
sesuai
kondisi
- Anjurkan klien dan keluarga untuk melakukan oral hygiene sesudah makan dan bila perlu
- Kolaborasi dgn Tim Medis / dokter gigi bila ada lesi, iritasi, kekeringan mukosa mulut, dan
gangguan
integritas
kulit.
Bantuan
perawatan
diri
:
berpakaian
Kaji
dan
dukung
kemampuan
klien
untuk
berpakaian
sendiri
Ganti pakaian klien setelah personal hygiene, dan pakaikan pada ektremitas yang sakit/
terbatas
terlebih
dahulu,
Gunakan
pakaian
yang
longgar
Berikan terapi untuk mengurangi nyeri sebelum melakukan aktivitas berpakaian sesuai
indikasi
Bantuan
perawatan
diri
:
Makan-minum
- Kaji kemampuan klien untuk makan : mengunyah dan menelan makanan
Fasilitasi
alat
bantu
yg
mudah
digunakan
klien
Dampingi
dan
dorong
keluarga
untuk
membantu
klien
saat
makan
Bantuan
Perawatan
Diri:
Toileting
- Kaji kemampuan toileting: defisit sensorik (inkontinensia),kognitif(menahan untuk toileting),
fisik
(kelemahan
fungsi/
aktivitas)
- Ciptakan lingkungan yang aman(tersedia pegangan dinding/ bel), nyaman dan jaga privasi
selama
toileting
- Sediakan alat bantu (pispot, urinal) di tempat yang mudah dijangkau
- Ajarkan pada klien dan keluarga untuk melakukan toileting secara teratur

d. Resiko
Diagnosa

tinggi

kerusakan

integritas

jaringan

berhubungan

dengan fraktur.
Keperawatan

(NANDA)
Tujuan
Keperawatan
(
NOC
)
Rencana
Tindakan
(NIC
)
Resiko
tinggi
kerusakan
integritas
jaringan
berhubungan
dengan
fraktur.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ... jam integritas kulit dapat teratasi dengan
KH:
- Pertahanan perfusi jaringan dan mukosa baik (sensasi, elastisitas, temperature, hidrasi)
Tidak
ada
lesi,
iritasi
kulit
/
dekubitus
- Klien mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit
Proses
penyembuhan
luka
baik
Perawatan
Klien
dengan
tirah
baring
total
Pasang
kasur
dekubitus
bila
diperlukan
Hindari
kerutan
/
lipatan
alat
tenun
Mobilisasi
/
ubah
posisi
tidur
klien
tiap
2
jam
sesuai
jadwal
Pencegahan
Luka
Karena
Tekanan
Kaji
factor
resiko
kerusakan
integritas
kulit
Jaga
kebersihan
kulit
klien
agar
tetap
bersih
dan
kering
Berikan
/
oleskan
lotion
pada
daerah
yang
tertekan
Lakukan
massage
sesuai
indikasi
Berikan
cairan
dan
nutrisi
yang
adekuat
sesuai
kondisi
Pengawasan
kulit
- Monitor aktivitas, mobilisasi klien dan adanya kemerahan pada kulit
Libatkan
keluarga
dalam
mobilisasi
klien
dan
personal
higiene
Ajarkan
perubahan
posisi
kpd
klien
&
keluarga
e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit, trauma jaringan.
Diagnosa
Keperawatan
(NANDA)
Tujuan
Keperawatan
(
NOC
)
Rencana
Tindakan
(NIC
)
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit, trauma jaringan.
Selah dilakukan asuhan keperawatan selama ... jam infeksi dapat tertangani dengan KH:
Klien
terbebas
dari
tanda
dan
gejala
infeksi
- Klien mampu mendiskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi
penularan
serta
penatalaksanaannya
Klien
mempunyai
kemampuan
untuk
mencegah
timbulnya
infeksi
- Jumlah leukosit dalam batas normal(5.000 10.000) Pengetahuan : pengendalian infeksi
- Ajarkan pada klien & keluarga cara menjaga personal hygiene untuk melindungi tubuh dari
infeksi
:
cara
mencuci
tangan
yang
benar.
- Anjurkan kepada keluarga/ pengunjung untuk mencuci tangan sewaktu masuk dan
meninggalkan
ruang
klien
Jelaskan
kepada
klien
dan
keluarga
tanda
dan
gejala
infeksi
Ajarkan
metode
aman
cara
penyediaan,
pengelolaan
dan

penyimpanan
makanan
/
susu
kpd
klien
&
keluarga.
Pengendalian
resiko
infeksi
- Pantau tanda dan gejala infeksi : peningkatan suhu tubuh, nadi, perubahan kondisi luka,
sekresi,
penampilan
urine,
penurunan
BB,
keletihan
dan
malaise.
Pertahankan
tehnik
aseptik
pada
klien
yang
beresiko
- Bersihkan alat / lingkungan dengan benar setelah dipergunakan klien
Anjurkan
kepada
klien
minum
obat
antibiotika
sesuai
Berikan
penkes
kepada
klien
dan
keluarga
tentang
cara
program
- Dorong klien untuk mengkonsumsi nutrisi dan cairan yg adekuat.penularan penyakit
infeksi: transmisi secara seksual, oral, fekal, sekresi tubuh, kontak langsung, dan
trankutaneus
- Kolaborasi dengan Tim Medis untuk pemberian therapi sesuai indikasi, dan pemeriksaan
laboratorium
yang
sesuai
(Wikinson:
2007)
BAB
IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang disebabkan trauma atau tenaga fisik dan
menimbulkan nyeri serta gangguan fungsi. Fraktur disebabkan oleh cidera, fraktur patologi,
dan fraktur beban. Secara umum fraktur dibedakan menjadi 2 yaitu terbuka dan tertutup.
Manifestasi klinis dari fraktur itu sendiri yaitu nyeri, hilangnya fungsi dan deformitas,
pemendekan ekstremitas, kBAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin meningkat
selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern manusia tidak
akan lepas dari fungsi normal system musculoskeletal. Salah satunya tulang yang
merupakan alat gerak utama pada manusia, namun dari kelainan ataupun
ketidaksiplinan dari manusia itu sendiri (patah tulang) fraktur adalah hilangnya
kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik yang
bersifat total maupun partial . fraktur biasanya terjadi pada cruris, karena cruris
sangat kurang di lindungi oleh jaringan lunak, sehingga mudah sekali mengalami
kerusakan (Rasjad, 1998).
Berbagai penelitian di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia menunjukkan bahwa
resiko terjadinya patah tulang tidak hanya ditentukan oleh densitas massa tulang
melainkan juga oleh faktor-faktor lain yang berkaitan dengan kerapuhan fisik (frailty)
dan meningkatkannya resiko untuk jatuh. (Sudoyo: 2010)
Kematian dan kesakitan yang terjadi akibat patah tulang umumnya disebabkan oleh
komplikasi akibat patah tulang dan imobilisasi yang ditimbulkannya. Beberapa
diantara komplikasi tersebut adalah timbulnya dikubitus akibat tirah baring
berkepanjangan, perdarahan, trombosis vena dalam dan emboli paru; infeksi

pneumonia atau infeksi saluran kemih akibat tirah baring lama; gangguan nutrisi dan
sebagainya. (Sudoyo: 2010)
Walaupun dalam kasus yang jarang terjadi kematian, namun bila tidak ditangani
secara tepat atau cepat dapat menimbulkan komplikasi yang akan memperburuk
keadaan penderita. Sehingga perawat perlu memperhatikan langkah-langkah yang
harus diperhatikan dalam menangani pasien dengan kasus kegawat daruratan
fraktur.

B. Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan :
Umum : Mahasiswa mampu menerapkan konsep asuhan keperawatan kegawat
daruratan pada pasien dengan fraktur
Khusus:
1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep fraktur
2. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep metodologi asuhan keperawatan
kegawat daruratan pada pasien fraktur
BAB II
KONSEP TEORI
A. Anatomi Fisiologi Tulang
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk
melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. Ruang di tengah tulangtulang tertentu berisi jaringan hematopoietik, yang membentuk sel darah. Tulang
juga merupakan tempat primer untuk meyimpan dan mengatur kalsium dan pospat.
Komponen-komponen utama dari jaringan tulang adalah mineral-mineral dan
jaringan organik (kolagen, proteoglikan). Kalsium dan phospat membenuk suatu
kristal garam (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan.
Matriks organik tulang disebut juga sebagai suatu osteoid. Sekitar 70 % dari osteoid
adalah kolagen tipe 1 yang kaku dan memberikan ketegaran tinggi pada tulang.
Materi organik lain yang juga menyusun tulang berupa proteoglikan seperti asam
hialuronat.
Hampir semua tulang berongga dibagian tengahnya. Struktur demikian
memaksimalkan kekuatan struktural tulang dengan bahan yang relatif kecil atau
ringan. Kekuatan tambahan diperoleh dari susunan kolagen danmineral dalam
jaringan tulang. Jaringan tulang dapat berbentuk anyaman atau lameral. Tulang
yang berbentuk anyaman terlihat saat pertumbuhan cepat, seperti sewaktu
perkembangan janin atau sesudah terjadinya patah tulang, selanjutnya keadaan ini
akan diganti oleh tulang yang lebih dewasa yang berbentuk lameral. Pada orang
dewasa tulang anyaman ditemukan pada insersi ligamentum atau tendon. Tumor
sarkoma osteogenik terdiri dari tulang anyaman . tulang lameral terdapat seluruh
tubuh orang dewasa.tulang lameral tersusun dari lempengan-lempengan yang

sangat padat, dan bukan merupakan suatu massa kristal. Pola susunan semacam
ini melengkapi tulang dengan kekuatan yang besar.
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari 3 jenis sel: osteoblas,
osteosid dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen
tipe 1 dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu
proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid,
osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan
penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk
pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan
matriks tulang dapat diabsorbsi.
Vitamin D mempengaruhi deposisi dan absorbsi tulang. Vitamin D dalam jumlah
besar dapat menyebabkan absorbsi tulang seperti yang terlihat pada kadar hormon
paratiroid yang tinggi. Bila tidak ada vitamin D hormon paratiroid tidak akan
menyebabkan absorbsi tulang. Vitamin D dalam jumlah yang sedikit membantu
kalsifikasi tulang, antara lain dengan meningkatlan absorbsi kalsium dan fosfat oleh
usus halus.
(Price dan Wilson: 1995)
B. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Brunner&Suddarth: 2002).
Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang (Doenges, 1999).
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma (Tambayong:
2000). Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik ( Price, 1995)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang
yang disebabkan trauma atau tenaga fisik dan menimbulkan nyeri serta gangguan
fungsi.
C. Etiologi
Etiologi dari fraktur menurut Price dan Wilson (1995) ada 3 yaitu:
1. Cidera atau benturan
2. Fraktur patologik
Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi lemah oleh
karena tumor, kanker dan osteoporosis.
3. Fraktur beban
Fraktur beban atau fraktur kelelahan teradi pada orang-orang yang baru saja
menambah tingkat aktifitas mereka, seperti baru diterima dalam angkatan bersenjata
atau orang-orang yang baru mulai latihan lari.
D. Manifestasi Klinis
Adapun tanda dan gejala dari fraktur, sebagai berikut :
1. Nyeri

Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bidai alamiah yang dirancang untuk
meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Hilangnya fungsi dan deformitas
Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak
secara tidak alamiah. Cruris tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal
otot berrgantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot.
3. Pemendekan ekstremitas
Terjadinya pemendekan tulang yang sebenarnya karena konstraksi otot yang
melengket di atas dan bawah tempat fraktur.
4. Krepitus
Saat bagian tibia dan fibula diperiksa, teraba adanya derik tulang dinamakan
krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainya.
5. Pembengkakan lokal dan Perubahan warna
Terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru
terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera.
E. Klasifikasi Fraktur
1. Menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar di bagi
menjadi 2 antara lain:
a) Fraktur tertutup (closed)
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia
luar, disebut dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada
fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak
sekitar trauma, yaitu:
i. Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak
sekitarnya.
ii. Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
iii. Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
iv. Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
ancaman sindroma kompartement.
b) Fraktur terbuka (opened)
Dikatakan terbuka bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang
memungkinkan / potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar dapat masuk
ke dalam luka sampai ke tulang yang patah. Derajat patah tulang terbuka :
i. Derajat I
Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal. ii. Derajat II Laserasi
> 2 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi fragmen jelas.
iii. Derajat III
Luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar.
2. Menurut derajat kerusakan tulang dibagi menjadi 2 yaitu:
a) Patah tulang lengkap (Complete fraktur)

Dikatakan lengkap bila patahan tulang terpisah satu dengan yang lainya, atau garis
fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen tulang
biasanya berubak tempat.
b) Patah tulang tidak lengkap ( Incomplete fraktur )
Bila antara oatahan tulang masih ada hubungan sebagian. Salah satu sisi patah
yang lainya biasanya hanya bengkok yang sering disebut green stick. Menurut Price
dan Wilson ( 2006) kekuatan dan sudut dari tenaga fisik,keadaan tulang, dan
jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu
lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah,
sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.
3. Menurut bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma ada 5
yaitu:
a) Fraktur Transversal : fraktur yang arahnya malintang pada tulang dan merupakan
akibat trauma angulasi atau langsung.
b) Fraktur Oblik : fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan merupakan akibat dari trauma angulasi juga.
c) Fraktur Spiral : fraktur yang arah garis patahnya sepiral yang di sebabkan oleh
trauma rotasi.
d) Fraktur Kompresi : fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang kea rah permukaan lain.
e) Fraktur Afulsi : fraktur yang di akibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot
pada insersinya pada tulang.
4. Menurut jumlah garis patahan ada 3 antara lain:
a) Fraktur Komunitif : fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
b) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
c) Fraktur Multiple : fraktur diman garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang
yang sama.
(Mansjoer: 2000)
F. Patofisiologi
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup bila tidak
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Sedangkan fraktur
terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh
karena perlukaan di kulit. Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di
sekitar tempat patah ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak
juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi perdarahan biasanya timbul hebat
setelah fraktur. Sel- sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan
peningkatan aliran darah ketempat tersebut aktivitas osteoblast terangsang dan
terbentuk tulang baru umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsidan selsel tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati. Insufisiensi
pembuluh darah atau penekanan serabut syaraf yang berkaitan dengan
pembengkakan yang tidak di tangani dapat menurunkan asupan darah ke
ekstrimitas dan mengakibatkan kerusakan syaraf perifer. Bila tidak terkontrol

pembengkakan akan mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah


total dan berakibat anoreksia mengakibatkan rusaknya serabut syaraf maupun
jaringan otot. Komplikasi ini di namakan sindrom compartment (Brunner dan
Suddarth, 2002).
Trauma pada tulang dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan ketidak
seimbangan, fraktur terjadi dapat berupa fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Fraktur
tertutup tidak disertai kerusakan jaringan lunak seperti tendon, otot, ligament dan
pembuluh darah ( Smeltzer dan Bare, 2001). Pasien yang harus imobilisasi setelah
patah tulang akan menderita komplikasi antara lain : nyeri, iritasi kulit karena
penekanan, hilangnya kekuatan otot. Kurang perawatan diri dapat terjadi bila
sebagian tubuh di imobilisasi, mengakibatkan berkurangnyan kemampuan prawatan
diri.
Reduksi terbuka dan fiksasi interna (ORIF) fragmen- fragmen tulang di pertahankan
dengan pen, sekrup, plat, paku. Namun pembedahan meningkatkan kemungkinan
terjadinya infeksi. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak
dan struktur yang seluruhnya tidak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau
mengalami kerusakan selama tindakan operasi (Price dan Wilson: 1995).
G. Komplikasi
Komplikasi fraktur menurut Smeltzer dan Bare (2001) antara lain:
1. Komplikasi awal fraktur antara lain: syok, sindrom emboli lemak, sindrom
kompartement, kerusakan arteri, infeksi, avaskuler nekrosis.
a) Syok
Syok hipovolemik atau traumatic, akibat perdarahan (banyak kehilangan darah
eksternal maupun yang tidak kelihatan yang biasa menyebabkan penurunan
oksigenasi) dan kehilangan cairan ekstra sel ke jaringan yang rusak, dapat terjadi
pada fraktur ekstrimitas, thoraks, pelvis dan vertebra.
b) Sindrom emboli lemak
Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam pembuluh darah
karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena
katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi stress pasien akan memobilisasi asam
lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak pada aliran darah.
c) Sindroma Kompartement
Sindrom kompartemen ditandai oleh kerusakan atau destruksi saraf dan pembuluh
darah yang disebabkan oleh pembengkakan dan edema di daerah fraktur. Dengan
pembengkakan interstisial yang intens, tekanan pada pembuluh darah yang
menyuplai daerah tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah tersebut kolaps.
Hal ini menimbulkan hipoksia jaringan dan dapat menyebabkan kematian syaraf
yang mempersyarafi daerah tersebut. Biasanya timbul nyeri hebat. Individu mungkin
tidak dapat menggerakkan jari tangan atau kakinya. Sindrom kompartemen biasanya
terjadi pada ekstremitas yang memiliki restriksi volume yang ketat, seperti
lengan.resiko terjadinya sinrome kompartemen paling besar apabila terjadi trauma
otot dengan patah tulang karena pembengkakan yang terjadi akan hebat.
Pemasangan gips pada ekstremitas yang fraktur yang terlalu dini atau terlalu ketat

dapat menyebabkan peningkatan di kompartemen ekstremitas, dan hilangnya fungsi


secara permanen atau hilangnya ekstremitas dapat terjadi. (Corwin: 2009)
d) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma biasanya ditandai dengan tidak ada nadi, CRT
menurun, syanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas
yang disbabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang
sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
e) Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya
terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain
dalam pembedahan seperti pin dan plat.
f) Avaskuler nekrosis
Avaskuler nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu
yang bias menyebabkan nekrosis tulang dan di awali dengan adanya Volkmans
Ischemia (Smeltzer dan Bare, 2001).
2. Komplikasi dalam waktu lama atau lanjut fraktur antara lain: mal union, delayed
union, dan non union.
a) Malunion
Malunion dalam suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam
posisi yang tidak seharusnya, membentuk sudut, atau miring. Conyoh yang khas
adalah patah tulang paha yang dirawat dengan traksi, dan kemudian diberi gips
untuk imobilisasi dimana kemungkinan gerakan rotasi dari fragmen-fragmen tulang
yang patah kurang diperhatikan. Akibatnya sesudah gibs dibung ternyata anggota
tubuh bagian distal memutar ke dalam atau ke luar, dan penderita tidak dapat
mempertahankan tubuhnya untuk berada dalam posisi netral. Komplikasi seperti ini
dapat dicegah dengan melakukan analisis yang cermat sewaktu melakukan reduksi,
dan mempertahankan reduksi itu sebaik mungkin terutama pada masa awal periode
penyembuhan.
Gibs yang menjadi longgar harus diganti seperlunya. Fragmen-fragmen tulang yang
patah dn bergeser sesudah direduksi harus diketahui sedini mungkin dengan
melakukan pemeriksaan radiografi serial. Keadaan ini harus dipulihkan kembali
dengan reduksi berulang dan imobilisasi, atau mungkin juga dengan tindakan
operasi.
b) Delayed Union
Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan dengan kecepatan
yang lebih lambat dari keadaan normal. Delayed union merupakan kegagalan fraktur
berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
c) Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi
sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion di tandai
dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi
palsu atau pseuardoarthrosis. Banyak keadaan yang merupakan faktor predisposisi
dari nonunion, diantaranya adalah reduksi yang tidak benar akan menyebabkan

bagian-bagian tulang yang patah tetap tidak menyatu, imobilisasi yang kurang tepat
baik dengan cara terbuka maupun tertutup, adanya interposisi jaringan lunak
(biasanya otot) diantara kedua fragmen tulang yang patah, cedera jaringan lunak
yang sangat berat, infeksi, pola spesifik peredaran darah dimana tulang yang patah
tersebut dapat merusak suplai darah ke satu atau lebih fragmen tulang.
H. Penyembuhan Fraktur
Jika satu tulang sudah patah, maka jaringan lunak di sekitarnya juga rusak,
periosteum terpisah dari tulang, dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan
darah terbentuk pada daerah tersebut, bekuan akan membentuk jaringan granulasi,
dimana sel-sel pembentuk tulang primitif (osteogenik) berdiferensiasi menjadi
kondroblas dan osteoblas. Kondroblas dan osteoblas. Kondroblas akan mensekresi
fosfat yang merangsang deposisi kalsium. Terbentuk lapisan tebal (kalus) di sekitar
lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapisan kalus
dari fragmen satunya dan menyatu. Fusi dari kedua fragmen (penyembuhan fraktur)
terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula oleh osteoblas, yang melekat pada
tulang dan meluas menyebrangi lokasi fraktur. Persatuan (union) tulang provisional
ini akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih
terorganisasi. Kalus tulang akan mengalami re-medolling di mana osteoblas akan
membentuk tulang baru sementara osteoklas akan menyingkirkan bagian yang
rusak sehingga akhirnya akan terbentuk tulang yang menyerupai keadaan tulang
aslinya. (Price: 1995)
Penyembuhan tulang

I. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan kedaruratan
Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan
pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan (breathing) dan
sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada
masalah lagi, baru lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara terperinci.
Waktu tejadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama
sampai di RS, mengingat golden period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi
infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat,
singkat dan lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai dilakukan
untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat
pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto.
Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak menyadari
adanya fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah, maka bila
dicurigai adanya fraktur, penting untuk mengimobilisasi bagain tubuh segara
sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan
dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga

diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi.
Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan
lunak dan perdarahan lebih lanjut.
Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan
menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian yang
memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen
tulang.
Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan
bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang. Imobilisasi tulang
panjang ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai
bersama, dengan ektremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstremitas
yang cedera. Pada cedera ektremitas atas, lengan dapat dibebatkan ke dada, atau
lengan bawah yang cedera digantung pada sling. Peredaran di distal cedera harus
dikaji untuk menntukan kecukupan perfusi jaringan perifer.
Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah
kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur,
bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. Pasanglah bidai sesuai
yang diterangkan diatas.
Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap. Pakaian dilepaskan
dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian dari sisi cedera.
Pakaian pasien mungkin harus dipotong pada sisi cedera. Ektremitas sebisa
mungkin jangan sampai digerakkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
2. Penatalaksanaan bedah ortopedi
Banyak pasien yang mengalami disfungsi muskuloskeletal harus menjalani
pembedahan untuk mengoreksi masalahnya. Masalah yang dapat dikoreksi meliputi
stabilisasi fraktur, deformitas, penyakit sendi, jaringan infeksi atau nekrosis,
gangguan peredaran darah (mis; sindrom komparteman), adanya tumor. Prpsedur
pembedahan yang sering dilakukan meliputi Reduksi Terbuka dengan Fiksasi
Interna atau disingkat ORIF (Open Reduction and Fixation). Berikut dibawah ini
jenis-jenis pembedahan ortoped dan indikasinya yang lazim dilakukan :
Reduksi terbuka : melakukan reduksi dan membuat kesejajaran tulang yang patah
setelah terlebih dahulu dilakukan diseksi dan pemajanan tulang yang patah
Fiksasi interna : stabilisasi tulang patah yang telah direduksi dengan skrup, plat,
paku dan pin logam
Graft tulang : penggantian jaringan tulang (graft autolog maupun heterolog) untuk
memperbaiki penyembuhan, untuk menstabilisasi atau mengganti tulang yang
berpenyakit.
Amputasi : penghilangan bagian tubuh
Artroplasti : memperbaiki masalah sendi dengan artroskop (suatu alat yang
memungkinkan ahli bedah mengoperasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar)
atau melalui pembedahan sendi terbuka
Menisektomi : eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak
Penggantian sendi : penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau
sintetis

Penggantian sendi total : penggantian kedua permukaan artikuler dalam sendi


dengan logam atau sintetis
Transfer tendo : pemindahan insersi tendo untuk memperbaiki fungsi
Fasiotomi : pemotongan fasia otot untuk menghilangkan konstriksi otot atau
mengurangi kontraktur fasia.
(Ramadhan: 2008)
3. Terapi Medis
Pengobatan dan Terapi Medis
a. Pemberian anti obat antiinflamasi seperti ibuprofen atau prednisone
b. Obat-obatan narkose mungkin diperlukan setelah fase akut
c. Obat-obat relaksan untuk mengatasi spasme otot
d. Bedrest, Fisioterapi
(Ramadhan: 2008)
4. Prinsip 4 R pada Fraktur
Menurut Price (1995) konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu
menangani fraktur yaitu : rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.
1. Rekognisi (Pengenalan )
Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk menentukan diagnosa
dan tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat fraktur tungkai akan terasa nyeri
sekali dan bengkak. Kelainan bentuk yang nyata dapat menentukan diskontinuitas
integritas rangka. fraktur tungkai akan terasa nyeri sekali dan bengkak.
2. Reduksi (manipulasi/ reposisi)
Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen fragmen tulang
yang patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak asalnya. Upaya untuk
memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimal.
Reduksi fraktur dapat dilakukan dengan reduksi tertutup, traksi, atau reduksi
terbuka. Reduksi fraktur dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah jaringan
lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada
kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai
mengalami penyembuhan (Mansjoer, 2002).
3. Retensi (Immobilisasi)
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti
semula secara optimal. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi,
atau di pertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.
Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi
eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin, dan teknik gips, atau
fiksator eksterna. Implan logam dapat di gunakan untuk fiksasi intrerna yang brperan
sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur. Fiksasi eksterna adalah alat
yang diletakkan diluar kulit untuk menstabilisasikan fragmen tulang dengan
memasukkan dua atau tiga pin metal perkutaneus menembus tulang pada bagian
proksimal dan distal dari tempat fraktur dan pin tersebut dihubungkan satu sama lain
dengan menggunakan eksternal bars. Teknik ini terutama atau kebanyakan

digunakan untuk fraktur pada tulang tibia, tetapi juga dapat dilakukan pada tulang
femur, humerus dan pelvis (Mansjoer, 2000).
4. Rehabilitasi
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk menghindari atropi
atau kontraktur. Bila keadaan mmeungkinkan, harus segera dimulai melakukan
latihan-latihan untuk mempertahankan kekuatan anggota tubuh dan mobilisasi
(Mansjoer, 2000).
Patah Tulang Anak
Pada anak sering ditemukan patah tulang dahan hijau. Reposisi umumnya tidak
sukar dan biasanya cepat sembuh serta cepat kuat. Jarang dibutuhkan reposisi atau
imobilisasi dengan fiksasi bedah. Untuk reposisi dapat digunakan traksi kulit dan
jarang ditemukan kekakuan sendi. Pada penanganan harus diperhatikan bahwa
fragmen harus searah sumbu, tetapi dislokasi ad latitudinem tidak penting sehingga
reposisi ujung ke ujung tidak diharuskan. Penyembuhan dan pemugaran akan
memperbaiki dislokasi ini tanpa meninggalkan bekas. Akan tetapi, rotasi, yaitu
dislokasi ad periperam harus dihindari. Angulasi atau dislokasi ad aksim dapat
dibiarkan bila fraktur terjadi di dekat epifisis pada anak muda. Dislokasi dengan
kontraksi patah tulang diafisis menguntungkan karena akan terjadi swapugar karena
hiperemia sehingga anggota yang bersangkutan tumbuh lebih cepat daripada
anggota gerak sisi lain. Pertautan sisi kena sisi berlangsung cepat dan pemugaran
akan terjadi lebih cepat.
Fraktur terbuka baik karena cedera dari luar maupun karena tembusnya ujung patah
tulang dari dalam, terancam bahaya infeksi dan osteomilitis. Seperti biasanya
penanganan terdiri atas pembilasan luka, pengeluaran benda asing, fragmen tulang
yang terlepas, dan nekrosis. Luka kemudian dirawat secara terbuka dengan anggota
yang bersangkutan diletakkan tinggi. Kontusio kulit diperhatikan betul karena
mengakibatkan nekrosis. Bila ujung patahan tulang terletak berjauhan akibat
kehilangan pecahan tulang, kedua ujung ini harus dipertemukan agar tetap
bersentuhan. Yang paling sering ditemukan pada anak ialah patah tulang klavikula,
humerus, suprakondiler, dan antebrakius.
(Sjamsuhidajat: 2004)
J. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rongent: Menentukan lokasi atau luasnya fraktur atau trauma .
b. Scan tulang, tomogram, scan CT/MRI: Memperlihatkan fraktur: juga dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Hitung Darah Lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel).
Peningkatan jumlah SDP adalah respon stress normal setelah trauma.
d. Arteriogram: dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
e. Kreatinin: Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
f. Profil Koagulasi : Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi multipel,
atau cedera hati.
(Dongoes: 1999)

BAB III
ASKEP GAWAT DARURAT FRAKTUR
A. Pengkajian
1. Pengkajian primer
a. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat
kelemahan reflek batuk
b. Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang
sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
c. Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi
jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin,
sianosis pada tahap lanjut.
2. Pengkajian sekunder
a. Aktivitas/istirahat
i. kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
ii. Keterbatasan mobilitas
b. Sirkulasi
1) Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
2) Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
3) Tachikardi
4) Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
5) Cailary refil melambat
6) Pucat pada bagian yang terkena
7) Masa hematoma pada sisi cedera
c. Neurosensori
1) Kesemutan
2) Deformitas, krepitasi, pemendekan
3) kelemahan
d. Kenyamanan
1) nyeri tiba-tiba saat cidera
2) spasme/ kram otot
e. Keamanan
1) laserasi kulit
2) perdarahan
3) perubahan warna
4) pembengkakan local
B. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
a. Nyeri berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan sekunder terhadap
fraktur.
Diagnosa Keperawatan
(NANDA) Tujuan Keperawatan

( NOC ) Rencana Tindakan


(NIC )
Nyeri berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan sekunder terhadap fraktur.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan ... jam :
- Melaporkan gejala nyeri terkontrol
- Melaporkan kenyamanan fisik dan psikologis
- Mengenali factor yang menyebabkan nyeri
- Melaporkan nyeri terkontrol (skala nyeri: <4 data-blogger-escaped-br=""> - Tidak
menunjukkan
respon
non
verbal
adanya
nyeri
Menggunakan
terapi
analgetik
dan
non
analgetik
Tanda
vital
dalam
rentang
yang
diharapkan
Manajemen
nyeri
- Kaji tingkat nyeri yang komprehensif : lokasi, durasi, karakteristik, frekuensi,
intensitas, factor pencetus, sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan.
- Monitor skala nyeri dan observasi tanda non verbal dari ketidaknyamanan
Gunakan
tindakan
pengendalian
nyeri
sebelum
menjadi
berat
- Kelola nyeri pasca operasi dengan pemberian analgesik tiap 4 jam, dan monitor
keefektifan
tindakan
mengontrol
nyeri
- Kontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap
ketidaknyamanan
:
suhu
ruangan,
cahaya,
kegaduhan.
- Ajarkan tehnik non farmakologis kepada klien dan keluarga : relaksasi, distraksi,
terapi musik, terapi bermain,terapi aktivitas, akupresur, kompres panas/ dingin,
masase. imajinasi terbimbing (guided imagery),hipnosis ( hipnoterapy ) dan
pengaturan
posisi.
- Informasikan kepada klien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri : misal
klien
cemas,
kurang
tidur,
posisi
tidak
rileks.
- Kolaborasi medis untuk pemberian analgetik, fisioterapis/ akupungturis.

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler.


Diagnosa
Keperawatan
(NANDA)
Tujuan
Keperawatan
(
NOC
)
Rencana
Tindakan
(NIC
)
Gangguan
mobiltas
fisik
berhubungn
dengan
neuromuskuler.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ... jam klien menunjukkan dapat
bergerak
secara
normal
dengan
KH:
Mampu
mandiri
total
Membutuhkan
alat
bantu
Membutuhkan
bantuan
orang
lain
Membutuhkan
bantuan
orang
lain
dan
alat
Tergantung
total
Dalam

hal

Penampilan
posisi
tubuh
yang
benar
Pergerakan
sendi
dan
otot
- Melakukan perpindahan/ ambulasi : miring kanan-kiri, berjalan, kursi roda
Latihan
Kekuatan
- Ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan program latihan secara
rutin
Latihan
untuk
ambulasi
- Ajarkan teknik Ambulasi & perpindahan yang aman kepada klien dan keluarga.
- Sediakan alat bantu untuk klien seperti kruk, kursi roda, dan walker
- Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan yang aman.
Latihan
mobilisasi
dengan
kursi
roda
- Ajarkan pada klien & keluarga tentang cara pemakaian kursi roda & cara berpindah
dari
kursi
roda
ke
tempat
tidur
atau
sebaliknya.
- Dorong klien melakukan latihan untuk memperkuat anggota tubuh
- Ajarkan pada klien/ keluarga tentang cara penggunaan kursi roda
Latihan
Keseimbangan
- Ajarkan pada klien & keluarga untuk dapat mengatur posisi secara mandiri dan
menjaga keseimbangan selama latihan ataupun dalam aktivitas sehari hari.
Perbaikan
Posisi
Tubuh
yang
Benar
- Ajarkan pada klien/ keluarga untuk mem perhatikan postur tubuh yg benar untuk
menghindari
kelelahan,
keram
&
cedera.
Kolaborasi
ke
ahli
terapi
fisik
untuk
program
latih.
c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder
terhadap
fraktur.
Diagnosa
Keperawatan
(NANDA)
Tujuan
Keperawatan
(
NOC
)
Rencana
Tindakan
(NIC
)
Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder terhadap
fraktur.
Setelah
dilakukan
asuhan
keperawatan
selama
...
jm
Klien
mampu
merawat
diri
dengan
baik
dengan
KH
:
- Melakukan ADL mandiri : mandi, hygiene mulut ,kuku, penis/vulva, rambut,
berpakaian,
toileting,
makan-minum,
ambulasi
Mandi
sendiri
atau
dengan
bantuan
tanpa
kecemasan
Terbebas
dari
bau
badan
dan
mempertahankan
kulit
utuh
Mempertahankan
kebersihan
area
perineal
dan
anus
Berpakaian
dan
melepaskan
pakaian
sendiri
- Melakukan keramas, bersisir, bercukur, membersihkan kuku, berdandan
Makan
dan
minum
sendiri,
meminta
bantuan
bila
perlu
Mengosongkan
kandung
kemih
dan
bowel
Bantuan Perawatan Diri: Mandi, higiene mulut, penil/vulva, rambut, kulit
- Kaji kebersihan kulit, kuku, rambut, gigi, mulut, perineal, anus
- Bantu klien untuk mandi, tawarkan pemakaian lotion, perawatan kuku, rambut, gigi

dan
mulut,
perineal
dan
anus,
sesuai
kondisi
- Anjurkan klien dan keluarga untuk melakukan oral hygiene sesudah makan dan bila
perlu
- Kolaborasi dgn Tim Medis / dokter gigi bila ada lesi, iritasi, kekeringan mukosa
mulut,
dan
gangguan
integritas
kulit.
Bantuan
perawatan
diri
:
berpakaian
Kaji
dan
dukung
kemampuan
klien
untuk
berpakaian
sendiri
Ganti pakaian klien setelah personal hygiene, dan pakaikan pada ektremitas yang
sakit/
terbatas
terlebih
dahulu,
Gunakan
pakaian
yang
longgar
Berikan terapi untuk mengurangi nyeri sebelum melakukan aktivitas berpakaian
sesuai
indikasi
Bantuan
perawatan
diri
:
Makan-minum
- Kaji kemampuan klien untuk makan : mengunyah dan menelan makanan
Fasilitasi
alat
bantu
yg
mudah
digunakan
klien
- Dampingi dan dorong keluarga untuk membantu klien saat makan
Bantuan
Perawatan
Diri:
Toileting
- Kaji kemampuan toileting: defisit sensorik (inkontinensia),kognitif(menahan untuk
toileting),
fisik
(kelemahan
fungsi/
aktivitas)
- Ciptakan lingkungan yang aman(tersedia pegangan dinding/ bel), nyaman dan jaga
privasi
selama
toileting
- Sediakan alat bantu (pispot, urinal) di tempat yang mudah dijangkau
- Ajarkan pada klien dan keluarga untuk melakukan toileting secara teratur

d. Resiko tinggi kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan fraktur.


Diagnosa
Keperawatan
(NANDA)
Tujuan
Keperawatan
(
NOC
)
Rencana
Tindakan
(NIC
)
Resiko tinggi kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan fraktur.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ... jam integritas kulit dapat teratasi
dengan
KH:
- Pertahanan perfusi jaringan dan mukosa baik (sensasi, elastisitas, temperature,
hidrasi)
Tidak
ada
lesi,
iritasi
kulit
/
dekubitus
- Klien mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit
Proses
penyembuhan
luka
baik
Perawatan
Klien
dengan
tirah
baring
total
Pasang
kasur
dekubitus
bila
diperlukan
Hindari
kerutan
/
lipatan
alat
tenun
- Mobilisasi / ubah posisi tidur klien tiap 2 jam sesuai jadwal
Pencegahan
Luka
Karena
Tekanan

Kaji
factor
resiko
kerusakan
integritas
kulit
Jaga
kebersihan
kulit
klien
agar
tetap
bersih
dan
kering
Berikan
/
oleskan
lotion
pada
daerah
yang
tertekan
Lakukan
massage
sesuai
indikasi
Berikan
cairan
dan
nutrisi
yang
adekuat
sesuai
kondisi
Pengawasan
kulit
- Monitor aktivitas, mobilisasi klien dan adanya kemerahan pada kulit
- Libatkan keluarga dalam mobilisasi klien dan personal higiene
Ajarkan
perubahan
posisi
kpd
klien
&
keluarga
e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit, trauma jaringan.
Diagnosa
Keperawatan
(NANDA)
Tujuan
Keperawatan
(
NOC
)
Rencana
Tindakan
(NIC
)
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit, trauma jaringan.
Selah dilakukan asuhan keperawatan selama ... jam infeksi dapat tertangani dengan
KH:
Klien
terbebas
dari
tanda
dan
gejala
infeksi
- Klien mampu mendiskripsikan proses penularan penyakit, factor yang
mempengaruhi
penularan
serta
penatalaksanaannya
- Klien mempunyai kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
- Jumlah leukosit dalam batas normal(5.000 10.000) Pengetahuan : pengendalian
infeksi
- Ajarkan pada klien & keluarga cara menjaga personal hygiene untuk melindungi
tubuh
dari
infeksi
:
cara
mencuci
tangan
yang
benar.
- Anjurkan kepada keluarga/ pengunjung untuk mencuci tangan sewaktu masuk dan
meninggalkan
ruang
klien
- Jelaskan kepada klien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
Ajarkan
metode
aman
cara
penyediaan,
pengelolaan
dan
penyimpanan
makanan
/
susu
kpd
klien
&
keluarga.
Pengendalian
resiko
infeksi
- Pantau tanda dan gejala infeksi : peningkatan suhu tubuh, nadi, perubahan kondisi
luka, sekresi, penampilan urine, penurunan BB, keletihan dan malaise.
Pertahankan
tehnik
aseptik
pada
klien
yang
beresiko
- Bersihkan alat / lingkungan dengan benar setelah dipergunakan klien
Anjurkan
kepada
klien
minum
obat
antibiotika
sesuai
- Berikan penkes kepada klien dan keluarga tentang cara program
- Dorong klien untuk mengkonsumsi nutrisi dan cairan yg adekuat.penularan
penyakit infeksi: transmisi secara seksual, oral, fekal, sekresi tubuh, kontak
langsung,
dan
trankutaneus
- Kolaborasi dengan Tim Medis untuk pemberian therapi sesuai indikasi, dan
pemeriksaan
laboratorium
yang
sesuai

(Wikinson:
BAB
PENUTUP

2007)
IV

A.
Simpulan
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang disebabkan trauma atau tenaga
fisik dan menimbulkan nyeri serta gangguan fungsi. Fraktur disebabkan oleh cidera,
fraktur patologi, dan fraktur beban. Secara umum fraktur dibedakan menjadi 2 yaitu
terbuka dan tertutup. Manifestasi klinis dari fraktur itu sendiri yaitu nyeri, hilangnya
fungsi dan deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitus, Pembengkakan lokal dan
Perubahan
warna.
Penatalaksanaan fraktur terdiri dari 4R yaitu rekognisi, reduksi, retensi, dan
rehabilitasi. Sementara diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien
fraktur
adalah:
1. Nyeri berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan sekunder terhadap
fraktur.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder
terhadap
fraktur.
4. Resiko tinggi kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan fraktur.
5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit, trauma jaringan.
B.
Saran
Walaupun dalam kasus fraktur jarang terjadi kematian, namun bila tidak ditangani
secara tepat atau cepat dapat menimbulkan komplikasi yang akan memperburuk
keadaan penderita. Sehingga perawat perlu memperhatikan langkah-langkah yang
harus diperhatikan dalam menangani pasien dengan kasus kegawat daruratan
fraktur. Pasien harus mendapatkan pertolongan sesegera mungkin. Untuk itu
dibutuhkan perawat yang tanggap dalam menangani pasien gawat darurat, terutama
dalam hal ini adalah pasien dengan kegawat daruratan sistem muskuloskeletal,
fraktur.

DAFTAR

PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan medikal Bedah. Edisi 8 Vol 3.
Jakarta:
EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Ed, 3. Jakarta: EGC
Editor, Aru W Sudoyo dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi V.
Jakarta:
Interna
Publishing
Dongoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
Editor, R. Sjamsuhidajat. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.2. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Perry, Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Konsep, Proses dan

Praktik
Edisi
4
Vol.1.
Jakarta:
EGC
Price, Silvia Anderson dan Lorraine M Wilson. 1995. Patofisiologi. Konsep Klinis
Proses-Proses
penyakit
Edisi
Vol.
2.
Jakarta:
EGC
Price A S, Wilson. 2006. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses penyakit Edisi
Vol.
2.
Jakarta:
EGC
Ramadhan.
2008.
Konsep
Fraktur
(Patah
Tulang.
http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/22/konsep-fraktur-patah-tulang/
diakses
tanggal
30
maret
2013
Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang : Bintang
Lamupate.
Smeltzer Suzanne, C . 2001. Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Jakarta:
EGC
Tambayong,
Jan.
2000
.
Patofisiologi.
Jakarta:
EGC
Wilkinson M J. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Ktriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC
repitus, Pembengkakan lokal dan Perubahan warna.
Penatalaksanaan fraktur terdiri dari 4R yaitu rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.
Sementara diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien fraktur adalah:
1. Nyeri berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan sekunder terhadap fraktur.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder terhadap fraktur.
4. Resiko tinggi kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan fraktur.
5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit, trauma jaringan.
B. Saran
Walaupun dalam kasus fraktur jarang terjadi kematian, namun bila tidak ditangani secara
tepat atau cepat dapat menimbulkan komplikasi yang akan memperburuk keadaan
penderita. Sehingga perawat perlu memperhatikan langkah-langkah yang harus
diperhatikan dalam menangani pasien dengan kasus kegawat daruratan fraktur. Pasien
harus mendapatkan pertolongan sesegera mungkin. Untuk itu dibutuhkan perawat yang
tanggap dalam menangani pasien gawat darurat, terutama dalam hal ini adalah pasien
dengan kegawat daruratan sistem muskuloskeletal, fraktur.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan medikal Bedah. Edisi 8 Vol 3. Jakarta:
EGC

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Ed, 3. Jakarta: EGC


Editor, Aru W Sudoyo dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi V. Jakarta:
Interna Publishing
Dongoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
Editor, R. Sjamsuhidajat. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.2. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Perry, Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Konsep, Proses dan Praktik Edisi
4 Vol.1. Jakarta: EGC
Price, Silvia Anderson dan Lorraine M Wilson. 1995. Patofisiologi. Konsep Klinis ProsesProses penyakit Edisi Vol. 2. Jakarta: EGC
Price A S, Wilson. 2006. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses penyakit Edisi Vol. 2.
Jakarta: EGC
Ramadhan. 2008. Konsep Fraktur (Patah Tulang.
http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/22/konsep-fraktur-patah-tulang/ diakses
tanggal 30 maret 2013
Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang : Bintang Lamupate.
Smeltzer Suzanne, C . 2001. Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Jakarta: EGC
Tambayong, Jan. 2000 . Patofisiologi. Jakarta: EGC
Wilkinson M J. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Ktriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC