You are on page 1of 15

Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran

HAM Masa Lalu: Sebuah Harapan dan


Kenyataan
Jika kejahatan yang terjadi di masa lalu (oleh negara) dibiarkan begitu
saja, maka niscaya peristiwa semacam itu akan terulang
Rakyat Indonesia yang hidup dalam rejim orde baru yang otoritarian telah
mencatat

berbagai

peritiwa

kekerasan

dan

telah

mengorbankan

masyarakat Indonesia. Orde baru dengan berbagai dalih tentang


kesatuan, stabilitas serta pembangunan bangsa melakukan kekerasan
terhadap masyarakatnya sendiri dengan tujuan untuk mempertahankan
kekuasaanya. Pemerintah yang berkuasa menggunakan kekuatan dari
aparat negara sebagai alat yang ampuh dalam melakukan penekanan
terhadap masyarakat. Pelanggaran terhadap hak-hak dasar yang dimiliki
oleh setiap manusia sebagaimana termaktub dalam Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia (DUHAM) menjadi hal yang legal dalam Rejim Orde
Baru. Walaupun, sebagaian kelompok masyarakat berupaya untuk
menyuarakan

tentang

pentingnya

perlindungan,

penegakan

dan

penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) usaha tersebut terus


dihambat oleh rejim yang berkuasa.
Pergantian kekuasaan dari rejim otoritarian ke rejim demokrasi pada tahun
1998 telah memberikan angin segar terhadap penegakan HAM di
Indonesia. Pemerintah kemudian mengeluarkan berbagai kebijakan untuk
menopang usaha penyelesaian pelanggaran HAM yang terjadi di masa
lalu. Dalam makalah ini, penulis akan mencoba melihat tentang sejarah
kekerasan

yang

penyelesaiannya.

terjadi

di

Indonesia

serta

berbagai

upaya

Rejim Orde Baru, Orde Kekerasan


Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita lihat sekelumit perjalanan
kekerasan yang terjadi selama orde baru
Pembasmian G-30-S, 1965-1966
Pembunuhan,

penyiksaan,

penahanan

massal,

pengusiran

paksa,

perkosaan, perbudakan seks, terjadi antara bulan Oktober 1965 sampai


sekitar bulan Maret 1966. Diduga antara setengah sampai satu juta orang
tewas dalam rangkaian kejadian itu, ratusan ribu lainnya ditahan,
sementara belasan juta kehilangan penghidupan, harta benda karena
dirampas dalam gelombang kekerasan tersebut. Operasi pembasmian ini
menandai awal berdirinya Orde Baru. Pola dan teknik yang digunakan
terus kita temukan dalam kasus-kasus pelanggaran selanjutnya.
Pengejaran terhadap pembangkang politik, 1966-1971
Setelah menumpas gerakan kiri, sasaran berikutnya adalah semua
kekuatan yang secara terbuka menentang atau sekadar menjadi ancaman
bagi ekspansi kekuasaan Orde Baru, terutama pendukung Presiden
Soekarno. Pemilihan umum 1971 di dahului pengejaran, penculikan dan
pembunuhan sejumlah tokoh dan aktivis yang dikhawatirkan mengganggu
kemenangan

mutlak

Golongan

Karya

(Golkar).

Sejumlah

korban

sebelumnya menjadi pendukung ketika Orde Baru mulai bangkit, dan


membuka mata bahwa komunis hanyalah sasaran antara.
Papua, 1969-1984
Diperkirakan sekitar 300.000 orang atau sekitar 30% penduduk Papua
menjadi sasaran operasi militer dan tindak kekerasan lain oleh aparat
negara sejak tahun 1969. Sebagian meninggal dunia karena pemboman
wilayah (aerial bombardment), yang juga menghancurkan ekologi dan
perikehidupan rakyat setempat untuk waktu lama. Kelaparan, tidak
adanya akses kesehatan dan pengejaran terhadap penduduk seringkali
terjadi di pedesaan sementara kaum terpelajar menjadi sasaran di kota-

kota. Di sini pula kita melihat program Keluarga Berencana (KB) yang
dibanggakan oleh Orde Baru sebagai jalan mengontrol kepadatan
penduduk justru menjadi cara ampuh untuk menghalangi berkembangnya
orang Papua.
Timor Lorosae, 1975-1998
Sejak invasi tahun 1975 sampai penghancuran 1999 diperkirakan 200.000
orang tewas akibat pemboman, pembunuhan massal, penculikan dan
penyiksaan. Seperti di Papua, perkosaan, kontrol kelahiran dan kelaparan
menjadi bagian dari strategi militer untuk menaklukkan penduduk. Akibat
kekerasan bertahun-tahun pola pemilikan tanah dan akses sumber daya
alam mengalami kekacauan yang berdampak terhadap kehidupan
generasi selanjutnya. Dalam melakukan berbagai tindak kekerasan, TNI
juga menggunakan tangan penduduk lokal yang direkrut sebagai wanra,
militerisasi dan kemudian milisi pro-integrasi, dan menimbulkan kesan
bahwa yang terjadi sesungguhnya adalah konflik horisontal. Pola seperti
itu juga digunakan di berbagai wilayah lain, termasuk Aceh dan Papua.
Penggusuran Tanah dan Penindasan Petani
Dalam periode 1970-2000 tercatat sekurangnya 1.800 kasus pencaplokan
tanah seluas 8,34 juta hektar di seluruh Nusantara, oleh perkebunan,
pertambangan, industri pariwisata, sarana militer dan proyek pemerintah
lainnya. Dalam hampir setiap kasus terjadi tindak kekerasan oleh aparat
keamanan yang mengakibatkan kematian. Di sinilah kita dengan
gamblang melihat hubungan antara ekspansi kapitalisme dengan
kekerasan yang terjadi pula di sektor-sektor masyarakat lainnya.
Penindasan Buruh
Intervensi militer dalam perselisihan industri selalu terjadi sepanjang
kekuasaan Orde Baru. Badan-badan intelijen sering menggelar operasi
untuk meredam perlawanan buruh, antara lain dengan menculik dan
membunuh para pemimpin buruh, seperti dalam kasus Marsinah dan Titi

Sugiarti. Penindasan itu berperan penting menciptakan keunggulan


komparatif, yakni buruh murah dan tertib sebagai landasan industrialisasi
di masa Orde Baru.
Penembakan Misterius terhadap sejumlah pelaku kriminal
Selama pertengahan tahun 1980-an terjadi pembunuhan terhadap sekitar
ribuan

orang

preman

dan

mantan

residivis.

Semula

pemerintah

menyatakan tidak bertanggungjawab, sampai Jenderal Soeharto dalam


otobiografinya mengakui bahwa operasi itu adalah shock therapy bagi
penjahat kambuhan. Sampai saat ini pemerintah tidak pernah membuat
penyelidikan apa pun.
Daerah Operasi Militer Aceh, 1989-1998
Selama sepuluh tahun Aceh berada dalam status Daerah Operasi Militer
(DOM). Penyelidikan yang dilakukan oleh pemerintah mencatat ribuan
kasus

pembunuhan,

penyiksaan,

penangkapan

dan

penahanan

sewenang-wenang, perkosaan dan tindak kekerasan lainnya terhadap


warga. Hal ini belum termasuk pengusiran paksa, perampasan harta
benda termasuk tanah yang selalu menyertai tindak kekerasan tersebut.
Penyerangan kantor PDI, 27 Juli 1996,
Untuk

menaklukkan

perlawanan

politik

Orde

Baru

tidak

segan

menggunakan cara-cara kotor, seperti campur tangan dalam urusan intern


partai politik. Pada tanggal 27 Juli 1996 polisi, TNI dan preman menyerang
kantor DPP PDI yang dipimpin Megawati Soekarnoputri, berakibat puluhan
orang tewas dan hilang sampai saat ini. Intervensi semacam itu bukan
yang pertama tapi kelanjutan dari pola represi terhadap kekuatan politik
yang dimulai tahun 1965-66.
Menggebuk Perlawanan Mahasiswa II: 1998-1999
Pemerintahan Soeharto yang tengah sekarat berusaha mempertahankan
kekuasaan dengan segala cara. Pembunuhan di masa lalu menjadi cara

yang manjur untuk meredam gerakan dan sekaligus memberi peringatan


kepada siapa pun yang ingin melakukan perlawanan. Selama tahun 199899 puluhan mahasiswa menjadi korban penembakan yang sistematis dan
terencana oleh aparat TNI dan Polri di Jakarta, Yogyakarta, Palembang
dan Lampung.
Menghantam Islam politik
Aktivis politik Islam berulangkali menjadi sasaran tindak kekerasan. Di
tahun 1980-an sasaran utama adalah kaum muballigh dan pendakwah
yang dituduh menyebarkan kebencian terhadap pemerintah atau bercitacita mendirikan negara Islam. Kekerasan berulangkali terjadi, seperti
dalam kasus Tanjung Priok, Lampung, dan Haur Koneng di Garut. Namun
para korban tidak terbatas pada mereka yang aktif dalam gerakan, tapi
juga keluarga mereka, termasuk perempuan dan anak-anak.

Reformasi 1998, Upaya penegakan HAM


Tahun 1998 menjadi satu catatan penting dalam sejarah Indonesia. Pada
masa tersebut, gerakan masyarakat yang dimotori oleh mahasiswa
berhasil mendesak presiden Soeharto untuk mundur dari tampuk
kepresidenan. Seiring dengan itu pula, jejak kekerasan yang ditinggalkan
oleh Rejim orde baru kemudian mulai terkuak. Sebagaian besar
masyarakat baru menyadari bahwa selama ini, Indonesia dibangun
dengan dasar kekerasan serta pelanggaran terhadap HAM.
Sejak itu pula, upaya penegakan HAM terus dilakukan oleh berbagai
pihak. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan salah satu
kelompok masyarakat yang terus mengkampanyekan tentang penegakan
HAM. Selain itu, LSM yang fokus pada permasalahan HAM mulai
melakukan upaya-upaya penegakan HAM serta mendesak pemerintah
untuk segera melakukan penyelesaian berbagai kasus palanggaran HAM
yang telah terjadi dalam masa orde baru. Dalam upaya tersebut, LSM

menjalin kerja sama global dengan jaringan kerja internasional untuk


mendapatkan dukungan.
Peranan pihak internasional pun cukup berperan penting dalam upaya
penyelesaian pelanggaran HAM di Indonesia. Sejak kejatuhan presiden
Soeharto, perhatian pihak internasional kepada perkembangan HAM di
Indonesia menjadi lebih besar. Dalam beberapa kasus, justru tekanan dari
pihak internasional berhasil mendesak pemerintah Indonesia untuk
menyelesaiakan kasus tersebut. Selain itu, isu HAM kemudian menjadi
salah satu indikator dari berbagai negara untuk melakukan kerja sama
dengan Indonesia. misalnya, Amerika Serikat menghentikan bantuan
militernya karena terjadinya kasus pembumi-hangusan di Timor Lorosae.
Mereka yang dulu dikorbankan-selanjutnya akan kita sebut kelompok
korban-oleh

pemerintahan

yang

berkuasa,

mulai

berani

untuk

menyuarakan apa yang mereka alami. Mereka kemudian menuntut


negara melalui pemerintahan yang berkuasa untuk bertanggung jawab
terhadap

tindakan

yang

mereka

alami.

Mereka

menuntut

untuk

diungkapnya berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rejim


sebelumnya serta mengembalikan hak-hak mereka yang dulu dirampas.
Kelompok korban yang kemudian memegang perana penting dalam
upaya penyelesaian pelanggaran HAM di masa lalu.
Penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu, sebuah harapan
Tahun 1998, merupakan tahun yang bersejarah dalam perkembangan
HAM di Indonesia. Salah satu syarat dalam sebuah negara yang
mengalami proses transisi dari sistem otoriter menuju ke sistem
demokratis adalah penyelesaian pelanggaran atau kejahatan yang
dilakukan oleh rejim. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita lihat
beberapa instutusi serta beberapa kebijakan yang cukup berperan dalam
penyelesaian pelanggaran HAM di Indonesia.

Komnas HAM merupakan salah satu institusi yang memiliki peranan


cukup penting dalam proses penyelesaian pelanggaran HAM. Komnas
HAM dibentuk pertama kali pada tahun 1993 oleh Keputusan Presiden
(Kepres) No. 50 Tahun 1993 atas rekomendasi Lokakarya I Hak Asasi
Manusia yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri RI dengan
sponsor dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam masa kerja 1993-1998,
Komnas HAM tidak ada ubahnya sebagai sebuah pajangan pelengkap
dari sebuah negara namun tidak mempunyai dampak yang signifikan.
Pada tahun 1998, desakan yang begitu kuat dari berbagai pihak telah
membuat pemerintah mau tidak mau memberikan kekuatan lebih kepada
Komnas HAM. Pada tahun 1999, pemerintah kemudian mengeluarkan UU
No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia yang memberikan landasan yang
kuat tentang keberadaan, tujuan, fungsi, keanggotan, asas, kelengkapan,
serta tugas dan wewenang Komnas HAM.
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (perpu) No. 1 Tahun
1999 dapat dikatakan sebagai langkah awal dari kebijakan untuk upaya
penegakan HAM. Namun, banyak pihak menilai bahwa Perpu No. 1/1999
tidak cukup memadai untuk menangani pelanggaran HAM yang di
Indonesia. Lebih jauh lagi, dalam perpu ini tidak mengatur secara jelas
tentang unsur pidana khusus dan sanksi hukumannnya.
Pada tahun 2000, pemerintah kemudian mengeluarkan UU No. 26/2000
tentang pengadilan HAM. Dalam UU ini, kewenangan untuk melakukan
sebuah penyelidikan terhadap satu peristiwa atau masalah yang berkaitan
dengan pelanggaran HAM di Indonesia. Kemudian dirumuskan tentang
yang dimaksud dengan pelanggaran HAM yang berat adalah kejahatan
terhadap kemanusiaan dan genosida. Selain itu, UU memandatkan
pembentukan

pengadilan

HAM

untuk

kepentingan

penyelesaian

pelanggaran HAM. UU ini memiliki pasal yang mengatur tentang retroaktif


atau belaku surut. Dalam UU No. 26 juga mengatur beberapa pihak
lainnya yang cukup berperan dalam konteks penyelesaian pelanggaran

HAM. Lebih jauh lagi, pasal di dalam UU ini menyatakan bahwa


pembentukan pengadilan HAM ad-hoc harus melalui persetujuan dari
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan keputusan dari presiden tentang
peristiwa atau kasus tertentu. Selain itu, pihak Kejaksaan Agung berperan
untuk melakukan penuntutan dalam satu kasus tertentu
Selain itu terdapat beberapa kebijakan lainnya yang dapat dikatakan
sebagai proses perjalanan penyelesaian pelanggaran HAM. Dalam
penanganan kasus pelanggaran HAM yang berat di Timor Timur yang
melalui Keputusan Presiden (Kepres) No. 53 Tahun 2001 yang sudah
diperbaiki dengan Kepres No. 96 Tahun 2001.
Dengan hadirnya kebijakan-kebijakan serta beberapa mekanisme institusi
untuk penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu, harapan dari kelompok
korban dan kelompok masyarakat lainnya mulai tumbuh. Komnas HAM
sebagai

salah

satu

institusi

yang

berwenang

untuk

melakukan

penyelidikan kemudian menjadi titik awal bagi kelompok korban. Berbagai


pengaduan kemudian disampaikan kepada Komnas HAM dengan
harapan yang besar untuk mendapatkan sebuah proses penyelesaian
secara hukum.

Mekanisme penyelesaian pelanggaran HAM di masa lalu


Sampai sejauh ini, terdapat dua mekanisme penyelesaian pelanggaran
HAM di masa lalu yaitu Pengadilan HAM ad-hoc dan Komisi Kebenaran
dan Rekonsiliasi (KKR). Pengadilan HAM ad-hoc merupakan satu
mekanisme penyelesaian kasus yang menggunakan logika sistem yudisial
sementara Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi menggunakan logika
sistem non-yudisial.

Pengadilan HAM Ad-hoc


Seperti yang telah dijelaskan diatas, mekanisme ini berdasarkan pada
pasal 43 UU No. 26/2000. Sementara itu, untuk sistem acara pidana tetap

mengikuti Kitab Umum Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang digunakan


dalam sistem peradilan di Indonesia. Selanjutnya, penuntutan perkara
dapat dilakukan oleh penuntut umum dari Kejaksaan Agung atau ad-hoc
yang berasal dari unur masyarakat. Kemudian, pemeriksaan perkara
dilakukan oleh majelis hakim yang terdiri dari hakim karier dan non-karier.
Munurut UU No. 26/2000, proses terbentuknya pengadilan terdiri dari tiga
bagian yang ideal. Pertama, Komnas HAM melakukan penyelidikan
berdasarkan pengduan dari kelompok korban atau kelompok masyarakat
tentang satu kasus yang terjadi di masa lalu. Komnas HAM kemudian
membentuk satu KPP HAM untuk melakukan penyelidikan dan kemudian
mengeluarkan rekomendasi. Jika dalam rekomendasi tersebut terdapat
bukti terhadap dugaan terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan atau
genosida, maka akan dilanjutkan pada tahap penuntutan oleh Kejaksaan
Agung. Kedua, DPR kemudian membahas hasil penyelidikan dari Komnas
HAM dan kemudian membuat rekomendasi kepada presiden untuk
membentuk pengadilan

HAM ad-hoc. Ketiga,

Presiden

kemudian

mengeluarkan keputusan presiden untuk pembentukan satu pengadilan


HAM ad-hoc. Pada tahap kedua dan ketiga tampak jelas bagaimana
political will dari pemerintahan yang berkuasa memegang peranan
penting.
Beberapa kasus pelanggaran HAM yang berat di masa lalu yang telah
ditangani oleh mekanisme ini adalah kasus Timor Timur dan Tg. Priok.
Peradilan pertama dilakukan pada tahun 2003 atau sekitar terlambat dua
tahun

dari

yang

direncanakan.

Pemerintah

mengatakan

bahwa

keterlambatan tersebut hanya masalah teknis seperti pembangunan


infrastruktur peradilan dan rekrutmen jaksa dan hakim ad-hoc.
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
Komisi ini akan dibentuk berdasarkan UUNo. 27 tahun 2004 tentang
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang telah disahkan pada 7

September 2004. Sebelumnya, UU ini telah diusulkan oleh TAP MPR No.
VI/MPR/200 yang kemudian juga tertuang dalam pasal 47 (ayat 1) UU No.
26/2000 tentang Pengadilan HAM yang menyatakan Pelanggaran hak
asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum berlakunya Undangundang ini tidak menutup kemungkinan penyelesaiannya dilakukan oleh
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.
Dalam UU-nya, Komisi ini bertugas untuk untuk mengungkapkan
pelanggaran HAM yang berat di masa lalu dan melaksanakan proses
rekonsiliasi

nasional

demi

keutuhan

bangsa.

Selain

itu,

komisi

mendefinisikan lebih detil tentang siapa yang menjadi korban dan apa saja
yang menjadi hak dari mereka seperti untuk mendapatkan kebenaran,
kompensasi, restitusi dan rehabilitasi. Komisi ini juga mengatur bahwa
pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang telah diungkapkan dan
diselesaikan oleh Komisi, perkaranya tidak dapat diajukan lagi kepada
pengadilan hak asasi manusia ad hoc. Menurut beberapa narasumber,
komisi ini merupakan komplementer dari UU No. 26/2000.
Komisi ini terdiri dari tiga sub-komisi yang terdiri dari subkomisi
penyelidikan dan klarifikasi; subkomisi

kompensasi, restitusi, dan

rehabilitasi serta subkomisi pertimbangn amnesti. Komisi ini akan


beranggotakan 21 anggota komisi yang kemudian akan berkerja dengan
sistem sub-komisi.

Problematik penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu,


sebuah kenyataan
Harapan yang cukup besar dari kelompok korban ternyata tidak begitu
saja dapat terwujud. Penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu ternyata
menyimpan berbagai problem yang cukup rumit. Sejak tahun 1998,
desakan yang begitu besar dari kelompok korban terus mengalir ke
lembaga-lembaga terkait. Bahkan kelompok korban bersama elemen

masyarakat lainnya terus melakukan berbagai kegiatan, mulai dari


audiensi, lobby politik hingga demonstrasi.
Dua kasus yang telah ditangani oleh pengadilan HAM ad-hoc telah
menjadi pertanyaan besar bagi banyak pihak tentang efektifitas dari
mekanisme ini untuk mendapatkan rasa kebenaran dan keadilan bagi
korban. Dalam pengadilan HAM ad-hoc untuk kasus Timor Timur telah
menunjukkan hasil yang mengecewakan banyak kalangan, khususnya
kelompok korban. Beberapa orang yang berada dalam tingkatan komando
pada saat kejadian tersebut dan diduga kuat bertanggung jawab lepas
dari tuntutan hukum. Hasil yang serupa dialami oleh pengadilan HAM adhoc untuk kasus Tg. Priok.
Belajar dari pengalaman beberapa negara lain yang mengalami masalah
yang serupa serta melihat peluang mendapatkan keadilan melalui
mekanisme peradilan, wacana tentang KKR kemudian muncul. Beberapa
konsep dasar KKR adalah; memberikan arti pada suara korban secara
individu,

pengungkapan

sejarah

sebenarnya,

pendidikan

dan

pengetahuan publik, menuju reformasi kelembagaan, mengembalikan hak


korban serta pertanggungjawaban dari para pelaku. Namun, kehadiran
KKR sendiri dalam bentuk UU mendapat sambutan yang dingin dari para
kelompok korban. Walaupun belum berjalan sampai saat ini, sinyalemen
ketidakpercayaan sudah terlihat dari berbagai kelompok masyarakat. UU
KKR sekarang memang dinilai oleh banyak pihak menyimpang dari
konsep dasarnya.
Terdapat beberapa masalah yang selama ini mewarnai proses tersebut
antara lain;
Pertama, tidak adanya political will dari pemerintahan yang berkuasa.
Banyak pihak yang menilai bahwa pemerintah selama ini tidak memiliki
niatan yang serius untuk melakukan penyelesaian pelanggaran HAM di
masa lalu. Hal ini dapat terlihat dengan jelas dalam proses penyelesaian

kasus Trisakti, Semanggi I dan II. Seperti yang telah dijelaskan


sebelumnya, DPR mempunyai peranan dalam memberikan rekomendasi
terhadap satu kasus tertentu untuk dibawa ke pengadilan HAM ad-hoc.
Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II
(TSS) dalam kesimpulan akhirnya menyatakan bahwa tidak terjadi suatu
pelanggaran HAM yang berat dalam kasus TSS. Yang menjadi pertanyaan
banyak pihak, DPR mengambil satu keputusan tanpa melakukan satu
proses penyelidikan melainkan hanya melalui Rapat Dengar Pendapat
dengan berbagai pihak. Komnas HAM mengecam keras tindakan yang
dilakukan oleh DPR.
Kedua, kebijakan yang memperpanjang rantai impunitas. Masih senada
dengan masalah pertama, kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintahan
yang berkuasa sejak kejatuhan orde baru hingga saat ini masih tetap
menunjukkan kecenderungan untuk melakukan praktek-praktek impunitas.
Kritik yang keras tentang UU No. 26/2000 mulai berkembang sejak
melihat kenyataan bahwa banyak pasal yang disalahartikan sehingga
memungkinkan para pelaku untuk bebas. Kemudian, UU KKR yang belum
berjalan juga sudah mendapat kritik tajam dari berbagai pihak. Kelompok
korban merasa bahwa UU ini telah memasung hak mereka untuk
mendapatkan keadilan.
Ketiga, kendala di sistem peradilan diantara insititusi yang berwenang.
Kondisi ini ditunjukkan oleh kinerja dari Kejaksaan Agung dalam
menangani kasus pelanggaran HAM di Timor Timur. Komisi Penyelidikan
terhadap Pelanggaran (KPP) HAM kasus Timor-Timur mengeluarkan
beberapa hasil penyelidikannya yang kemudian jauh berbeda dengan
tuntutan yang dihasilkan oleh Kejaksaan Agung. Alih-alih dari Kejaksaan
Agung adalah alasan politik. Terlebih lagi dalam proses pengadilan,
dangkalnya penuntutan serta meragukannya kapasitas dari para penuntut
umum telah memberikan hasil yang sangat jelas. Sebagian besar dari
para terdakwa dikemudian diputus bebas oleh pengadilan atau pengadilan

banding. Kondisi ini memperlihatkan secara jelas bahwa masing-masing


institusi melakukan interpertasi masing-masing terhadap satu proses
penyelesaian kasus, baik itu karena pertimbangan politik maupun tidak.
Keempat, usaha pembungkaman oleh para pelaku. Mereka yang diduga
terlibat atau menjadi pelaku tentunya tidak tinggal diam saat mereka akan
diajukan dalam sebuah proses hukum. Mereka kemudian mencari
berbagai cara untuk menghambat terjadinya proses peradilan tersebut.
Selain melalui teror atau intimidasi, mereka juga melakukan pendekatan
kepada kelompok korban dengan iming-iming materi. Apalagi, mayoritas
kelompok korban berasal dari kelompok masyarakat menegah ke bawah.
Sebagai salah satu contoh kasus adalah proses ishlah antara beberapa
orang yang diduga seperti Try Sutrisno dengan sejumlah korban dalam
peristiwa Tg. Priok. Proses ini kemudian berimbas pada proses peradilan
dimana banyak diantara korban yang kemudian menarik tuntutan mereka
serta menolak mengakui BAP (Berita Acara pemeriksaan) yang pernah
dibuat.

Upaya tiada henti


Untuk menggambarkan tentang usaha kelompok korban dan elemen
masyarakat

lainnya

serta

lika-liku

dari

proses perjuangan

untuk

menyelesaikan pelanggaran HAM di masa lalu, penulis akan mengambil


perjuangan kasus semanggi I dan II.
Tragedi semanggi I yang terjadi pada tanggal 13 November 1998 telah
menelan korban jiwa sebanyak 11 orang dan ratusan lainnya terluka.
Tragedi semanggi II terjadi pada 23-24 September 1999 menelan korban
jiwa sebanyak 12 orang dan ratusan korban lainnya terluka. Para keluarga
korban yang kemudian berkumpul bersama dan mulai melakukan
advokasi untuk kasus tersebut. Bersama dengan LSM, kelompok
mahasiswa dan gerakan lainnya, kelompok korban mulai melakukan
penuntutan ke berbagai instansi yang dianggap berwenang atau

mempunyai

kemampuan

secara

politik

untuk

mendorong

upaya

penyelesaian pelanggaran HAM dalam peristiwa tersebut.


Dalam periode 1999 hingga 2001, kurang lebih 15 instansi pemerintah
telah didatangi oleh mereka. Mulai dari Kepolisian Militer hingga ke
presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur), mereka terus menuntut agar
pemerintah segera melakukan penyelesaian secara hukum kedua kasus
tersebut. Berbelit-belitnya birokrasi hingga kekerasan yang mereka harus
alami tidak menghentikan perjuangan mereka. Akhirnya perjuangan
tersebut membuahkan hasil. Pada akhir tahun 2001, DPR kemudian
membentuk pansus TSS. Namun, jauh berbeda dari apa yang diharapkan,
Pansus tersebut kemudian mengeluarkan rekomendasi bahwa dalam
peristiwa tersebut tidak terjadi pelanggaran HAM yang berat dan
membawa kasus tersebut ke pengadilan militer.
Kelompok korban kemudian mendesak Komnas HAM mengambil langkah
menanggapi kondisi tersebut. Komnas HAM kemudian membentuk KPP
HAM TSS untuk melakukan penyelidikan. Berlindung dibalik keputusan
dari DPR, para pejabat yang aktif saat periode kedua kasus tersebut
menolak untuk hadir saat dipanggil untuk memberiokan keterangan
kepada KPP HAM TSS. Saling silang pendapat disekitar masalah
prosedural mulai terjadi. Komnas HAM menganggap bahwa keputusan
DPR bukanlah keputusan hukum yang mengikat melainkan sebuah
keputusan politik. Sebaliknya, DPR menganggap bahwa Komnas HAM
telah menyalahi prosedur yang diatur UU No. 26/2000.
Komnas HAM bergeming dan terus melanjutkan penyelidikan hingga
mengeluarkan rekomendasi bahwa diduga kuat telah terjadi pelanggaran
HAM berat dalam kasus tersebut. Berkas ini kemudian dilanjutkan ke
Kejaksaan Agung untuk ditindak lanjuti ke proses penuntutan. Perdebatan
kembali terjadi, yang dikemudian hari menjadi masalah teknis. Dalam
sebuah audiensi, perwakilan Kejaksaan Agung mengatakan bahwa

terdapat masalah teknis dalam laporan yang diberikan oleh Komnas HAM
sehingga dikembalikan dan perlu dilakukan perbaikan. Hingga saat ini,
kedua institusi tersebut saling melempar tanggung jawab sehingga berkas
kasus tersebut masih menggantung hingga saat ini.

Sebuah penutup
Dari pemaparan diatas, terlihat jelas bahwa harapan untuk menyelesaikan
pelanggaran HAM di masa lalu semakin jauh dari kenyataan. Mekanisme
yang dibuat oleh pemerintah justru terkadang menjadi proses impunitas
bagi para pelaku. Problematik yang menghadang proses tersebut begitu
banyak dan sangatlah politis. Kekuatan politik yang berkuasa di Indonesia
tidak memiliki/mampu untuk mendorong upaya penyelesaian pelanggaran
HAM di masa lalu sebagai salah satu syarat proses transisi sistem yang
otoritarian menuju ke proses demokratis. Kelompok korban dan
masyarakat membutuhkan satu terobosan untuk merebut keadilan yang
telah diinjak oleh penguasa.