You are on page 1of 7

IMPLEMENTASI KRIPTOGRAFI DAN STEGANOGRAFI

MENGGUNAKAN ALGORITMA RSA DAN METODE LSB


Rian Arifin 1) dan Lucky Tri Oktoviana 2)
e-mail: Arifin1199@gmail.com
Universitas Negeri Malang
ABSTRAK: Salah satu cara untuk menjaga keamanan pesan adalah
menggunakan teknik steganografi. Metode steganografi yang digunakan adalah
metode penyisipan pesan LSB (Least Significant Bit). Pesan rahasia disandikan
sebelum disisipkan menggunakan teknik kriptografi. Algoritma kriptografi yang
digunakan adalah algoritma RSA. Algoritma RSA terdiri dari algoritma enkripsi
dan algoritma dekripsi. Pesan rahasia disandikan menggunakan algoritma
enkripsi RSA dan disisipkan menggunakan metode penyisipan LSB. Membaca
pesan dengan menggunakan metode LSB dan algoritma dekripsi RSA.
Kata kunci : Kriptografi, Steganografi, RSA, LSB, Pesan
ABSTRACT: One way to maintain the security of the message is use
steganographic techniques. Moreover, the steganografic method which can be
applied inserting a message LSB (Least Significant Bit) method. Secret message
encoded before inserted using cryptographic techniques. Cryptographic
algorithms used are the RSA algorithm. RSA algorithm consists of encryption
algorithms and decryption algorithms. Secret messages encrypted using RSA
encryption algorithm and inserted using LSB insertion method. Reading process
of the disguised secret message can be conducted by LSB method and RSA
decryption algorithm.
Kata kunci : Cryptography, Steganography, RSA, LSB, Message

Perkembangan teknologi mempermudah orang berkomunikasi, bentuk


komunikasi yang sering digunakan adalah mengirim dan menerima pesan. Seiring
berkembangnya teknologi, semakin berkembang juga kejahatan terhadap
keamanan pesan yang dikirim.Salah satu cara menghindari kejahatan terhadap
suatu pesan adalah dengan menyembunyikan pesan ke dalam suatu pesan lain.
Teknik ini disebut dengan teknik steganografi. Steganografi adalah ilmu dan seni
menyembunyikan pesan rahasia di dalam pesan lain sehingga keberadaan pesan
rahasia tersebut tidak dapat diketahui (Munir, 2006:301). Metode steganografi
yang sederhana dan mudah diimplementasikan adalah metode LSB (Least
Significant Bit). Kelemahan dari metode LSB adalah pesan rahasia yang disisipkan
dapat dengan mudah diambil dengan menggunakan metode LSB.
Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah
menyandikan pesan rahasia sebelum disisipkan menggunakan metode LSB, teknik
ini disebut dengan kriptografi. Definisi kriptografi (Menezez, dkk. 1997:4), yang
artinya adalah kriptografi merupakan ilmu yang mempelajari teknik-teknik
matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi seperti
kerahasiaan, integritas data serta otentikasi. Algoritma kriptografi yang paling
populer adalah algoritma RSA. Algoritma RSA terdiri dari algoritma enkripsi dan
algoritma dekripsi. Algoritma enkripsi RSA untuk menyandikan pesan rahasia

1)
2)

Rian Arifin adalah mahasiswa Jurusan Matematika Un iversitas Negeri Malang.


Lucky Tri Oktoviana adalah dosen Jurusan Matematika Un iversitas Negeri Malang.

menjadi bentuk yang tidak dimengerti maknanya. Algoritma dekripsi RSA untuk
mengembalikan hasil penyandian menjadi pesan rahasia yang sebenarnya.
Dari penjelasan diatas maka dibuat program dan mengimplementasikan
untuk meningkatkan keamanan pesan rahasia menggunakan teknik kriptografi dan
steganografi. Pesan rahasia berupa teks disandikan menggunakan algoritma
enkripsi RSA dan disisipkan ke dalam file gambar bitmap 24-bit menggunakan
metode LSB untuk proses menyisipkan pesan rahasia. Pesan rahas ia diambil dari
file gambar bitmap 24-bit menggunakan metode LSB dan pesan rahasia tersebut
didekripsi menggunakan algoritma dekripsi RSA untuk proses membaca pesan
rahasia.
Algorima kriptografi RSA terdiri dari algoritma enkripsi RSA dan
algoritma dekripsi RSA. Algoritma RSA adalah sebagai berikut (Munir,
2006:181):
1. Pilih dua bilangan prima sembarang, p dan q.
2. Hitung n = p q (sebaiknya p q, karena jika p = q maka n = 2 sehingga p
dapat diperoleh dengan menarik akar pangkat dua dari n).
3. Hitung a = (p 1) (q 1).
4. Pilih kunci e dengan 1< e < a dan e relatif prima terhadap a (gcd(e, a) = 1).
5. Bangkitkan kunci privat dengan menggunakan persamaan e d 1 (mod n).
Hasil dari algoritma di atas adalah:
1. Kunci publik adalah pasangan (e, n).
2. Kunci privat adalah pasangan (d, n).
Algoritma enkripsi dan dekripsi RSA adalah sebagai berikut:
1. Enkripsi:
a. Ambil kunci publik (e, n).
b. Nyatakan plaintext m menjadi blok blok 1, 2 , , sedemikian sehingga
setiap blok merepresentasikan nilai di dalam selang [0, n 1].
c. Setiap blok , dienkripsi menjadi blok dengan = mod n.
2. Dekripsi:
Setiap blok didekripsi menjadi blok dengan = mod n.
Dalam proses pengerjaan algoritma RSA membutuhkan konsep
matematika, yaitu FPB (faktor persekutuan terbesar), algoritma Euclidean, relatif
prima, bilangan prima, aritmatika modular dan kekongruenan. Definisi dari FPB
dari dua bilangan adalah bilangan positif terbesar yang dapat membagi dua
bilangan tersebut (Sudirman, 2001:43). Algoritma Euclidean digunakan untuk
mencari FPB dari dua bilangan. Dua bilangan dikatakan relatif prima jika FPB
dari dua bilangan tersebut adalah satu (Sudirman, 2001:43). Sebuah bilangan bulat
p > 1 disebut bilangan prima jika tidak ada pembagi d dari p demikian sehingga 1
< d < p (Asari, 1992:24). Aritmatika modular dan kekongruenan digunakan
untuk proses enkripsi dan dekripsi pada algoritma RSA.
Metode penyisipan LSB adalah menyisipkan pesan dengan cara mengganti
bit LSB pada representasi biner file gambar dengan representasi biner dari pesan
rahasia yang akan disembunyikan (Marselino, 2003:18). Media yang digunakan
untuk teknik steganografi adalah file gambar atau citra digital. Definisi citra
menurut Kamus Webster adalah suatu representasi, kemiripan, atau imitasi dari
suatu obyek atau benda (Balza dan Firdausy, 2004:2).

Pembahasan
Steganografi adalah proses menyembunyikan pesan rahasia pada suatu
media tertentu, dalam hal ini media yang digunakan adalah media file gambar
bitmap 24 bit dengan pesan rahasia berupa text dan menggunakan metode LSB.
Kriptografi adalah proses mengacak suatu pesan rahasia sedemikia n sehingga
maksud dari pesan rahasia tersebut tidak dapat dimengerti oleh orang lain,
algoritma yang digunakan adalah algoritma RSA. Dengan menggabungkan
metode LSB dan algoritma RSA dapat meningkatkan keamanan pesan rahasia.
Pesan rahasia disandikan dengan menggunakan algoritma RSA dan
disembunyikan pada media file gambar menggunakan metode LSB.
Proses utama dari penggabungan algoritma RSA dan metode LSB adalah
proses sisip pesan rahasia dan proses baca pesan rahasia. Proses penyisipan pesan
dilakukan dengan menyandikan pesan rahasia atau plaintext menggunakan
algoritma enkripsi RSA menjadi bentuk yang tidak dapat dipahami maknanya atau
ciphertext, setelah itu disisipkan pada media atau covertext yang berupa file
gambar menggunakan metode LSB. Hasil dari proses penyisipan adalah file
gambar bitmap 24 bit yang disebut dengan stegotext. Sedangkan proses membaca
pesan dilakukan dengan mengambil ciphertext dari stegotext dan mengubah
ciphertext menjadi plaintext dengan menggunakan algoritma dekripsi RSA.
Enkripsi

Kunci publik

Plaintext

Bangkitkan
kunci publik

Ciphertext

Sisipkan Ciphertext ke
dalam covertext

Stegotext

Password
Gambar 1. Skema proses sisip pesan

Dari gambar 1 merupan skema dari proses sisip pesan, proses ini
dilakukan oleh orang yang akan mengirim pesan rahasia. Plaintext berupa pesan
teks dienkripsi menjadi ciphertext dengan menggunakan kunci publik. kunci
publik dibangkitkan dengan memasukkan password untuk kemanan kunci.
Ciphertext yang didapatkan disisipkan ke dalam media berupa file gambar bitmap
24 bit dengan menggunakan metode LSB. Hasil dari proses sisip pesan ini adalah
file gambar bitmap 24 bit, tetapi file gambar tersebut berisi pesan rahasia.
Sehingga, pesan yang dikirim adalah file gambar yang sudah berisi pesan rahasia.

Password

Ciphertext

Ambil ciphertext
dari stegotext

Bangkitkan
kunci privat

Kunci privat

Plaintext

Dekripsi
Stegotext
Gambar 2. Skema proses baca pesan

Pada gambar 2 merupan proses baca pesan, proses ini dilakukan oleh
orang yang menerima pesan rahasia. Pesan yang diterima adalah stegotext berupa
file gambar bitmap 24 bit. Pesan yang masih berupa ciphertext diambil dari file
gambar dengan menggunakan metode LSB. Ciphertext harus didekripsi untuk
mendapatkan pesan rahasia yang sebenarnya. Ciphertext didekripsi menggunakan
kunci privat. Kunci privat didapatkan dengan memasukkan password, password
yang disunakan adalah password yang sama dengan password yang digunakan
pada saat enkripsi atau yang digunakan oleh yang mengirim pesan. Dengan
demikian, pesan rahasia yang sebenarnya dapat dibaca.
Hasil Imple mentasi Program dan Analisis
Pesan rahasia diubah menjadi karakter yang tidak dapat dipahami
maknanya menggunakan algoritma enkripsi RSA, disebut dengan ciphertext.
Ciphertext disisipkan ke dalam file gambar bitmap 24 bit dengan menggunakan
metode LSB. Contoh hasil dari implementasi program untuk sisip pesan rahasia
adalah sebagai berikut:
Algoritma
enkripsi RSA

Fakultas MIPA
Plainext

)A9*
Ciphertext
"*#T<q*H^7T
#2PUl
Ciphertext
7

)A9*
"*#T<q*H^7T
#2PUl
Ciphertext
7

Metode
penyisipan LSB

Stegotext
Gambar 3. Hasil proses sisip pesan rahasia

Contoh hasil dari implementasi program untuk membaca pesan rahasia adalah
sebagai berikut:

Metode
pengambilan
LSB

)A9*
"*#T<q*H^7T
#2PUl
7

Ciphertext

Stegotext
)A9*
"*#T<q*H^7T
#2PUl
7

Algoritma
dekripsi RSA

Ciphertext

Fakultas MIPA

Plainext
Gambar 4. Hasil proses baca pesan rahasia

Jika stegotext dimodifikasi maka pesan rahasia yang sebenarnya akan


hilanag karena nilai RGB pada piksel yang digunakan untuk menyisipkan pesan
rahasia berubah. Kelebihan dari teknik steganografi adalah tidak adanya
perbedaan yang signifikan antara file gambar sebelum dan sesudah disisipi. Pesan
rahasia tidak dapat dengan mudah didapatkan karena tinggkat keamanan algoritma
RSA. Keamanan algoritma RSA adalah memfaktorkan nilai yang besar menjadi
dua bilangan prima yang berbeda.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
1. Pesan rahasia berupa text disandikan dengan menggunakan algoritma
enkripsi RSA dan disisipkan ke dalam covertext yang berupa file gambar
24 bit dengan menggunakan metode penyisipan LSB. Hasil proses ini
adalah stegotext berupa file gambar 24 bit.
2. Pesan rahasia dibaca dengan cara mengambil pesan rahasia dari dari
stegotext yang berupa file gambar 24 bit dan mengembalikan pesan
rahasia yang disandikan menjadi pesan rahasia yang sebenarnya dengan
menggunakan algoritma dekripsi RSA. Hasil dari proses ini adalah pesan
rahasia yang sebenarnya.
3. Aplikasi kriptografi dan steganografi dapat meningkatkan keamanan
pesan rahasia dengan mengenkripsi pesan rahasia sebelum
menyembunyikan dalam covertext.
Saran
1. Pesan rahasia tidak hanya berupa pesan text, yaitu pesan file gambar, file
audio atau file video.
2. Covertext yang digunakan tidak hanya file gambar bitmap 24 bit, yaitu
dapat file gambar dengan format selain bitmap, file audio atau file video.

3. Enkripsi dan dekripsi pesan dapat menggunakan algoritma chiper blok,


seperti DES, Double DES, Tripel DES, GOST, RC5 dan AES, atau
menggunakan algoritma kriptografi kunci-publik, yaitu ElGamal dan
Knapsack.
4. Byte yang digunakan dalam metode penyisipan pesan rahasia tidak
berurutan, dengan membangkitkan bilangan random untuk menentukan
urutan byte yang digunakan untuk metode penyisipan pesan rahasia.
Daftar Rujukan
Achmad, Balza, Ir, M. Sc.E., dan Firdausy, Kartika, S.T, M.T, 2005. Teknik
Pengolahan Citra Digital Menggunakan Delphi, Ardi Publishing, Cetakan
pertama, Yogyakarta.
Asari, Abdur Rahman. 1992. Pengantar Teori Bilangan. Malang. Depdikbud
IKIP Malang Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas.
Marselino, Andino. 2003. Pembuatan Aplikasi Steganografi dengan Borland
Delphi. (online), (http://ikc.depsos.go.id/umum/andino-steganografi.php,
diakses tanggal 9 Januari 2013).
Menezes, A, VanOorschot, P, Vanstone, S. 1997. Handbook of Applied
Cryptography. CRC Press, Inc.
Munir, Rinaldi. 2004. Kriptografi. (online), (http://ebookbrowse.com/algoritmarsa-pdf-d309993420, diakses tanggal 11 Maret 2013).
Munir, Rinaldi. 2006. Kriptografi. Bandung: Penerbit Informatika.
Sudirman.2001. Teori Bilangan. Malang. Depdiknas Universitas Negeri Malang.