You are on page 1of 5

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI
MODUL PENGIDERAAN

PRAKTIKUM FISIOLOGI PENGLIHATAN

Disusun Oleh :

Citra Kristi Melasari
Fitrianto Dwi Utomo
Hendri Wijaya
Irvinia Rahmadyah
Christover Firstando S.
Gita Amalia Asikin
Eko Kunaryagi
Friska Silviantri
Bimo Juliansyah
Putri Umagia Drilna
Christina Wiyaniputri

I11100029
I11111064
I11112013
I11112023
I11112025
I11112032
I11112036
I11112045
I11112062
I11112067
I11112070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015

Instruksikan OP untuk duduk menghadap optotipi Snellen pada jarak 6 m. b. Catat visus mata kanan OP. yang diteruskan melalui saraf optik (N. Ulangi pemeriksaan ini pada mata kiri dan kedua mata bersama-sama f. maka refraksi mata itu tak mungkin miopi (M). Beberapa kelainan refraksi yang dapat ditemukan adalah miopi. Pasang bingkai kaca mata khusus pada OP dan tutup mata kirinya dengan occluder yang tersedia dalam kotak lensa.II) ke kortex serebri pusat penglihatan. Rangsangan ini diterima oleh batang dan kerucut di retina. yang kemudian tampak sebagai bayangan tegak. Menjelaskan dasar-dasar penetapan visus seseorang dengan menggunakan optotipi Snellen 5. Periksa visus mata kanan OP dengan menyuruhnya membaca huruf yang saudara tunjuk. Occluder 4. hipermetropi. c. Tujuan Praktikum 2. 1 . badan kaca dan retina. Menjelaskan dasar pembuatan optotipi Snellen 3. Pendahuluan Refraksi mata adalah pembiasan sinar-sinar di dalam mata.2. Mendemonstrasikan pelbagai kelainan refraksi serta prinsip tindak koreksinya pada manusia a. 2. mata hipermetropia serta tindakan koreksinya 3.2. Alat yang diperlukan a. kamera okuli anterior. Refraksi a. Meteran d. Media refraksi semuanya bersifat transparan dan terdiri dari kornea. Cara Kerja 4. Jika visus OP tanpa lensa = 6/6. mata miopia serta tindakan koreksinya b. Terdapat beberapa kelainan refraksi yang dapat disebabkan oleh kelainan bentuk bola mata maupun perubahan daya akomodasi lensa. dimana sistem refraksinya menghasilkan bayangan kecil yang terbalik di retina.1.1. lensa. presbiopi. Mulailah dari baris huruf yang terbesar (seluruh huruf) sampai baris huruf yang terkecil (seluruh huruf) yang masih dapat dilihat dengan jelas dan tegas serta dibaca OP dengan benar tanpa kesalahan. Menjelaskan pengertian visus dan refraksi pada manusia 4. Mata dapat dianggap sebagai kamera potret. Tujuan Khusus 1. 4. Tujuan Umum Memahami dasar-dasar refraksi dan kelainan serta tindakan koreksinya pada manusia 2. Catat hasil pemeriksaan saudara. kamera okuli posterior. Menjelaskan hubungan diskriminasi dua titik dengan sudut penglihatan minimal 2. Seperangkat lensa percobaan (trial lense) c. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Pembiasan atau perubahan arah sinar terjadi karena sinar-sinar berjalan dari medium yang satu melewati medium lain yang kepadatannya berbedabeda. Optotipi Snellen b. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi. Lakukan percobaan ini pada minimal satu OP (OP). dimana mata dalam keadaaan istirahat. Yang berperan paling besar adalah kornea dan lensa. dan astigmatisme. d.1. Visus (Ketajaman Penglihatan) a. Refraksi mata tersebut mungkin E (emetrop) atau H (hipermetrop). e.

Periksa lagi visusnya setiap kali setelah perubahan kekuatan lensa. Untuk menetapkan derajat miopia dilakukan pemeriksaan sebagai berikut: b.3. yang memberikan visus maksimal serta arah sumbu lensa silindris tersebut. Pasang di depan mata kanannya lensa sferis sehingga visus OP tersebut maksimal. Lensa negatif terlemah yang memberikan visus maksimal.25 D -0. Pasang lensa sferis +0. Instruksikan OP untuk melihat gambar kipas. h.25D lebih kuat. Catat derajat hipermetropia OP dalam dioptri. j. Visus 20/70 berarti seseorang pada jarak 20 ft. 5. berarti refraksi OP tidak astigmat. f. Koreksi a. Lensa positif yang terkuat. yang memberikan visus maksimal merupakan ukuran bagi derajat hipermetrop yang dinyatakan dalam dioptri (D). Tentukan dan catat jenis serta kekuatan lensa sferis dan silindris. Tambahkan sekarang di depan lensa sferis tersebut lensa silindris positif atau negatif yang sesuai dengan jenis lensa sferis di atas. teruskan pemasangan lensa-lensa dengan setiap kali memberikan lensa positif yang 0. Pasang bingkai kaca mata khusus pada OP dan tutup mata kirinya dengan occluder. Catat derajat miopia OP dalam dioptri. 4. i. d.25D dengan setiap kali memberikan lensa negatif yang 0. Cara memperbaiki astigmatisma dilakukan dengan lensa silindris sebagai berikut: h. mulai dari -0. merupakan ukuran bagi derajat miopia yang dinyatakan dalam dioptri. l.25 D 6. Hasil Orang Percobaan (OP) Mata Kanan Mata Kiri Visus 20/70 20/50 Koreksi -1. g. Untuk membedakan refraksi mata OP yang mempunyai visus 6/6 tersebut emetrop atau hipermetrop. dengan sumbu lensa silindris tegak lurus pada garis meridian yang terlihat paling tegas. k. Jika visus mata kanan OP tanpa lensa lebih kecil dari 6/6. Jika refraksi mata kanan OP adalah emetropia. d. sehingga warna hitam garis pada semua meridian merata. Pembahasan Orang percobaan pada pemeriksaan visus didapatkan kemampuan tajam penglihatan mata kanan 20/70 dan mata kiri 20/50 yang menunjukkan bahwa OP mengalami penurunan ketajaman penglihatan. Pasang bingkai kaca mata khusus pada OP dan tutup mata kirinya dengan occluder. pemeriksaan dihentikan. 1 . hanya dapat melihat huruf yang seharusnya dapat dilihat pada jarak 70 ft. Bila terdapat gambar garis yang lebih kabur. Jika refraksi mata OP adalah hipermetropia. Hentikan pemeriksaan refraksi. maka refraksi mata OP biasanya miopia.b.25D di depan mata kanannya dan periksa lagi visusnya Saudara? e. maka dilakukan pemeriksaan sebagai berikut: c. c. g. Bila warna hitam garis pada semua meridian terlihat merata. f.75 D Bimo Juliansyah Cylinder: 0. Instruksikan OP untuk melihat kembali ke optotipi Snellen. tentukan meridian yang terlihat paling tegas.25D lebih kuat. Pasang lensa sferis negatif di depan mata kanannya. e. Pasang bingkai kaca mata khusus pada OP dan tutup mata kirinya dengan occluder. Jika pada pemberian lensa sferis visus tetap tidak mencapai 6/6 maka harus diingat adanya kelainan refraksi astigmatisma.

Makin jauh huruf harus terlihat. yang dibaca pada mata tanpa kelainan refraktif dalam jarak 6 m.25 D pada mata kiri. 1 Apabila seseorang hanya mampu membaca lancar tanpa kesalahan sampai pada baris huruf yang ditandai angka 30 Ft (9. Satu huruf hanya dapat dilihat bila seluruh huruf membentuk sudut lima menit dan setiap bagian dipisahkan dengan sudut satu menit. humor aqueous.OP tersebut diberikan lensa koreksi pada mata kanan -1. bahkan OP merasa melihat lebih jelas.2 Pada pemeriksaan optotipi snellen dilakukan pada jarak 6 m karena pada jarak tersebut sinar akan dianggap sebagai sinar sejajar yang akan memberikan gambaran seolah-olah berasal dari titik yang letaknya pada jarak tak terhingga di depan mata dan akan paralel terhadap mata. Ketajaman normal memiliki visus 6/6 atau 20/20 yang merupakan jarak antara subjek dengan chart.25 D diartikan sebagai lensa silinder terlemah yang dapat memberikan visus maksimal pada mata OP. matanya menghasilkan suatu bayangan dengan titik atau garis focus yang multipel. Pada orang tua mungkin saja diperoleh visus 6/6.2 Dasar pembuatan optotipi Snellen adalah mata dapat mengenali suatu objek dengan membedakan dua titik yang membentuk sudut satu menit. maka kelainan refraksi yang mungkin terjadi selain miopia adalah hipermetrop berat. Pemberian lensa koreksi -1.2 1 . yang berarti sudut penglihatan minimalnya lebih kecil dari 1 menit. Kemampuan refraksi kornea tidak dapat berubah seperti lensa yang kemampuan refraksinya dapat diubah-ubah karena kelengkungan lensa dapat diatur.25 D visusnya menjadi lebih kecil.14 meter. lensa & humor vitreus) masih berfungsi secara normal tanpa mengalami penurunan fungsi akibat penuaan. Miopi bisa disebabkan oleh mata yang terlalu panjang atau daya bias susunan lensa yang terlalu kuat sehingga menyebabkan bayangan jatuh di depan retina. maka mata kanan OP hipermetrop.1 Hal ini menyebabkan pada penderita astigmatisma. maka makin besar huruf tersebut harus dibuat karena sudut yang dibentuk harus tetap lima menit. Hal ini menjelaskan jarak dimana garis yang membentuk huruf dapat dipisahkan dengan sudut penglihatan minimal 1 menit. maka kelainan refraksi yang paling mungkin dijumpai adalah daya akomodasi yang berkurang (presbiopi) atau miopi. bila daya bias susunan optiknya (kornea. Bila seandainya setelah ditambahkan lensa sferis +0.2 Visus seseorang dapat lebih besar dari 6/6.14 m yang berarti bahwa seseorang pada jarak 5 meter hanya dapat melihat huruf yang seharusnya dapat dilihat pada jarak 9. Sedangkan lensa silinder 0. Pada mata hipermetrop dapat mempunyai visus 6/6 karena mata hipermetrop dapat mengadakan kompensasi dengan akomodasi.75 D serta lensa silinder 0. OP mengalami kesusahan dalam melihat jauh sehingga dapat dikatakan mengalami gangguan refraksi miopi sehingga memerlukan lensa konkaf untuk membantu penglihatannya. Bila visusnya ternyata tetap 6/6. Hal ini menunjukkan ketajaman penglihatannya melebihi normal. Bila pada orang tua diperoleh visus tanpa lensa lebih kecil dari 6/6.14 m) maka tajam penglihatannya berarti 5/9.25 D tersebut diartikan sebagai lensa negatif terlemah yang dapat memberikan visus maksimal pada mata kanan begitu juga sebaliknya pada mata kiri.25 D dan mata kiri -0. maka mata kanan OP termasuk emetrop. Sedangkan astigmatisma terjadi kelengkungan kornea yang tidak rata sehingga berkas sinar mengalami refraksi yang tidak sama.2 Bila visus mata kanan OP tanpa lensa lebih kecil dari 6/6. Akan tetapi pada mata kiri walaupun sudah dinaikkan terus lensa koreksinya tetapi pandangan masih kabur sehingga ditambahkan lensa silinder sehingga OP dapat dikatakan mengalami gangguan refraksi astigmatisme pada mata kiri.

Tortora GJ. 2012: 651-52. Inc. 2. 1 . Daftar Pustaka 1. New Jersey: John Wiley & Sons. Whitcher JP. Edisi 17. 382-96. Riordan-Eva P.Adapun alat lain untuk menentukan adanya kelainan refraksi astigmatisma adalah selain dengan pemeriksaan optotipi snellen adalah dengan 2 keratoskop placido. Jakarta: EGC. Vaughan & Asbury : Oftalmologi Umum. Principles of Anatomy & Physiology 13th Ed. 7. Derrickson B. 2009.