You are on page 1of 10

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana
manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern
yang kompleks dari belajar. Dalam hal ini, ada tiga teori belajar yang akan
dibahas, yaitu teori belajar sosial, konstruktivisme, dan sibernetik. Pada
dasarnya teori pertama dilengkapi oleh teori kedua dan seterusnya, sehingga
ada varian, gagasan utama, ataupun tokoh yang tidak dapat dimasukkan
dengan jelas termasuk yang mana, atau bahkan menjadi teori tersendiri.Namun
hal ini tidak perlu kita perdebatkan. Yang lebih penting untuk kita pahami
adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada kawasan tertentu, dan teori
mana yang sesuaiuntuk kawasan lainnya. Pemahaman semacam ini penting
untuk dapat meningkatkankualitas pembelajaran.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini, yaitu:
1. Apa itu teori belajar sosial?
2. Apa itu teori belajar konstrutivisme?
3. Apa itu teori belajar sibernetik?
4. Bagaimana hakikat belajar dan pembelajaran?
C. TUJUAN
1. Untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah belajar dan
2.
3.
4.
5.

pembelajaran.
Untuk mengetahui dan memahami konsep teori belajar sosial
Untuk mengetahui dan memahami konsep teori belajar konstruktivisme
Untuk mengetahui dan memahami konsep teori belajar sibernetik
Untuk mengetahui dan memahami hakikat belajar dan pembelajaran
1

BAB II
PEMBAHASAN
A. TEORI BELAJAR SOSIAL
Teori ini dikemukakan oleh Albert Bandura. Menurut teori belajar ini, hal
yang amat penting adalah kemampuan individu untuk mengambil sari

informasi dari tingkah laku orang lain, memutuskan tingkah laku mana yang
akan diambil. Albert Bandura (dalam Herman Nirwana, dkk., 2006: 25)
mengemukakan bahwa asumsi dasar teori belajar sosial ini memberikan
makna terhadap:
1. Hakekat belajar dalam latar alami
2. Hubungan belajar dengan lingkungan
3. Definisi dari apa yang dipelajari
Hakikat proses belajar menurut teori belajar sosial bermula dari kupasan
atas belajar imitative (peniruan/modeling). Tingkah laku dan lingkungan itu
keduanya dapat diobah dan tak satupun merupakan penentu utama terjadinya
tingkah laku. Menurut Bandura, individu belajar melalui pengalaman langsung
atau pemangatan (mencontoh model). Individu belajar dari apa yang dibaca,
dengar, dan lihat di media serta dari orang lain dan lingkungannya.
Adapun unsur utama dalam peniruan (proses modeling), yaitu seagai
berikut:
1. Perhatian (attention)
Individu harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat
mempelajari sesuatu. Albert Banduran mengungkapkan bahwa hanya
degan memperhatikan orang lain, pembelajaran dapat dipelajari.

2. Mengingat (retention)
Individu yang memperhatikan harus merekam peristiwa tersebut dalam
sistem ingatannya. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga
3 proses pembelajaran.
merupakan bagian terpenting dalam
3. Reproduksi (reproduction)
Setelah mengetahui atau mempelajari suatu tingkah laku, individu juga

dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan


(diingat)

dalam

bentuk

tingkah

laku.

Intinya,

setelah

individu

memperhatikan model dan menyimpan informasi, sekarang saatnya


individu untuk melakukan perilaku yang diamatinya.
4. Motivasi (motivation)

Motivasi merupakan hal penting dalam pemodelan karena motivasi


merupakan penggerak individu untuk melakukan sesuatu.
Albert Bandura (dalam Herman Nirwana, dkk., 2006: 26) mengemukakan
hubungan segitiga yang saling berkaitan antara tingkah laku (T), lingkungan
(L), dan kejadian internal yang mempengaruhi persepsi (P), yaitu sebagai
berikut:
(P)

(T)

(L)

B. TEORI BELAJAR KONTRUKTIVISTIK


Kontruktivistik adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan
bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Penganut
aliran kontruktivistik menjelaskan bahwa satu-satunya alat/sarana yang
tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya. Lebih
lanjut, dalam pandangan kontrutivistik pengetahuan bukanlah penentu dan
deterministik, melainkan suatu proses menjadi tahu.
Adapun prinsip-prinsip teori belajar kontrutivistik (dalam Paul Suparno,
2010: 49), yaitu sebagai berikut:
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun
sosial
2. Pengetahuan tidak bisa dipindahkan dari guru kepada murid, kecuali
dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3. Siswa aktif mengontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi
perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai
dengan konsep ilmiah
4. Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses
konstruksi siswa berjalan mulus.

Menurut kaum konstruktivis (dalam Herman Nirwana, dkk., 2006: 29),


belajar merupakan proses aktif siswa mengonstruksi pengetahuannya dari
teks, dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain. Belajar juga proses
mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang
dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga
pengertiannya menjadi lebih berkembang. Dengan kata lain, belajar dalam
pandangan konstruktivistik berorientasi pada penemuan. Pandangan ini
didasarkan pada asumsi bahwa siswa dapat merekonstruksi (membangun)
pengetahuan untuk dirinya.
Supomo (dalam Herman Nirwana, dkk., 2006: 29) mengemukakan proses
belajar menurut teori belajar konstruktivistik, yaitu:
1. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan siswa dari apa
yang ia lihat, dengar, rasakan, dan alami.
2. Konstruksi itu adalah proses yang terjadi terus menerus. Setiap kali
berhadapan

dengan

fenomena

atau

persoalan baru,

rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.


3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan

fakta,

diadakan
melainkan

pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian baru.


4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang
dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut.
5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman pelajar dengan dunia fisik
dan lingkungannya.
6. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si
pelajar berupa konsep-konsep, tujuan, motivasi yang mempengaruhi
interaksi dengan bahan yang dipelajari.
Lebih lanjut, Suparmo menjelaskan bahwa kegiatan belajar adalah
kegiatan aktif, di mana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Setiap
siswa mempunyai cara tersendiri untuk mengerti. Oleh karena itu, penting
bagi siswa untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya dalam memahami
sesuatu.
C. TEORI BELAJAR SIBERNETIK (CYBERNETICS / E-LEARNING)

Teori belajar ini merupakan teori belajar yang sedang berkembang dewasa
ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sibernetik berarti ilmu
pengetahuan tentang komunikasi dan pengawasan khususnya berkenaan
dengan studi bandingan atas sistem pengawasan otomatis. Istilah sibernetik
(cybernetics) mengacu pada pengendalian proses sistem, yaitu sistem
pembelaaran melalui mekanisme balikan, sehingga sistem berjalan sesuai
dengan alur yang telah dirancang.
Herman Nirwana, dkk (2006: 35) mengungkapkan bahwa belajar
sibernetik (cyber learning/e-learning) adalah proses pembelajaran profesional
dan penyampaian informasi yang terjadi pada saat siswa dan guru terpisah
atau lokasi mereka berjauhan dengan memanfaatkan peralatan elektronika
untuk berkomunikasi seperti melalui komputer dan internet. Dalam
pelaksanaannya, e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat
komputer atau kombinasi ketiganya.
Menurut Soekartawi (dalam Herman Nirwana, dkk., 2006: 37), ada
beberapa karakteristik dari e-learning, yaitu:
1. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa
sesamanya, atau guru dapat berkomunikasi dengan relative mudah tanpa
dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.
2. Memanfaatkan keunggulan computer (digital media dan computer
network).
3. Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials).
4. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar
dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat
setiap saat di komputer.
Lebih lanjut, Soekartawi mengemukakan kelebihan dan kelemahan dari
teori belajar sibernetik (e-learning). Adapun kelebihannya, yaitu sebagai
berikut:
1. Melalui fasilitas e-moditoring dan internet, guru dan siswa berkomunikasi
tanpa dibatasi jarak, tempat, dan waktu.

2. Bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui
internet dapat digunakan guru dan siswa sehingga keduanya dapat saling
menilai sejauhmana bahan ajar telah dipelajari.
3. Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja
kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di computer.
4. Siswa dapat mengakses tambahan informs di internet secara lebih mudah,
bila ia memerlukan tambahan informasi sehubungan dengan bahan yang
dipelajarinya.
5. Relatif lebih efisien, seperti bagi siswa yang tinggal jauh dari sekolah, bagi
orang yang sibuk bekerja.
Selain itu, adapun kelemahan teori sibernetik (e-learning), yaitu:
1. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau antar sesama siswa, yang
mungkin

akan

memperlambat

terbentuknya

nilai

dalam

proses

pembelajaran.
2. Cenderung mengabaikan aspek akademik atau spek sosial dan sebaliknya
mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
3. Proses pembelajaran cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
4. Tidak pada semua tempat tersedia fasilitas internet, seperti belum
tersedianya listrik, telepon atau computer.
5. Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal
internet.
6. Kurangnya pengetahuan bahasa computer.
D. HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Pasal 1 ayat 1 UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
Belajar merupakan suatu perilaku. Pada seseorang yang belajar maka
responnya akan menjadi lebih baik, sebaliknya pada seseorang yang tidak
belajar,

maka

responnya

menjadi

menurun.

Prayitno

(2012:

5-6)

mengemukakan pengertian belajar yang cukup sederhana, yaitu upaya untuk


menguasai sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru sebagai fokus kegiatan
belajar berdimensi lima, yaitu:
1. Tahu; dari tidak tahu menjadi tahu
2. Bisa; dari tidak biasa menjadi biasa
3. Mau; dari tidak mau menjadi mau
4. Biasa; dari tidak biasa menjadi biasa
5. Ikhlas; dari tidak ikhlas menjadi ikhlas
Jadi, pada dasarnya dengan belajar hendaknya terjadi perubahan tingkah
laku. Adapun ciri-ciri dari perubahan tingkah laku, yaitu sebagai berikut:
1. Perubahan yang disadarai dan disengaja
2. Perubahan yang berkesinambungan
3. Perubahan yang fungsional
4. Perubahan yang bersifat positif
5. Perubahan yang bersifat permanen
6. Perbuhan yang bertujuan dan terarah
7. Perubahan perilaku secara keseluruhan
Lebih

lanjut,

Prayitno

(2012:

7-9)

menjelaskan

bahwa

proses

pembelajaran merupakan kegiatan pendidik (guru, dosen, konselor, dan


pendidik lainnya) untuk mendorong atau menggerakkan orang lain (peserta
didik) dalam menjalani kegiatan belajar atau berada dalam suasana belajar.
Peserta didik didorong oleh pendidik untuk belajar dalam upaya menguasai
sesuatu yang baru terkait dengan tujuan dan materi pembelajaran.
Proses pembelajaran yang baik hendaknya dapat menumbuhkan
meaningful learning bagi peserta didik dan menghindarkan rote atau rot
learning dan bahkan no learning. Untuk itu, dalam proses pembelajaran dapat
dikembangkan dua pilar, yaitu:
1. Kewibawaan, meliputi:
a. Pengakuan dan penerimaan pendidik terhadap peserta didik
b. Kasih sayang dan kelembutan pendidik terhadap peserta didik
c. Penguatan oleh pendidik atas hal-hal positif yang ditampilkan oleh
peserta didik

d. Tindakan tegas yang mendidik oleh pendidik terhadap peserta didik


yang menampilkan hal-hal yang kurang pada tempatnya dalam kondisi
yang sudah berlebihan
e. Pengarahan dan keteladanan pendidik terhadap peserta didik dalam
kadar yang tulus dan konsisten
2. Kewiyataan, meliputi:
a. Penguasaan materi pembelajaran
b. Penggunaan metode pembelajaran
c. Pemanfaatan alat bantu pembelajaran
d. Penyiapan/pengaturan lingkungan pembelajaran
e. Penilaian hasil pembelajaran
Untuk mampu mewujudkan proses pembelajaran yang efektif, pendidik
profesional dituntut untuk menguasai berbagai kompetensi yang mendukung
proses pembelajaran, termasuk di dalamnya dua pilar pembelajaran
(kewibawaan dan kewiyataan).

BAB III
PENUTUP

10

A. KESIMPULAN
Teori belajar sosial merupakan teori belajar yang mengungkapkan bahwa
belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi karena proses imitative
(modeling). Teori belajar konstruktivisme mengungkapkan bahwa belajar
merupakan suatu proses konstruksi (pembangunan) yang terus berkembang
dan berubah. Sedangkan teori belajar sibernetik mengungkapkan bahwa
belajar lebih menekankan pentingnya sistem informasi dari apa yang akan
dipelajari siswa, sedangkan bagaimana pembelajaran berlangsung sangat
dipengaruhi oleh sistem informasi tersebut.
Dari ketiga teori belajar tersebut, pada dasarnya teori tersebut memiliki
kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Namun untuk tercapainya proses
belajar dan pembelajaran yang baik, ketiga teori belajar tersebut saling terkait
untuk mewujudkan terciptanya proses PBM yang baik.
B. SARAN
Sebagai seorang (calon) pendidik hendaknya kita lebih mendalami
berbagai macam teori belajar yang ada. Dengan dipahaminya teori belajar,
pendidik dapat menerapkannya dan memadukannya sehingga terwujudnya
proses belajar dan pembelajaran yang baik. Hal ini tentunya sesuai dengan
kebutuhan peserta didik.

KEPUSTKAAN
Herman Nirwana. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Padang: FIP UNP.
11

Paul Suparno. 2010. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta:


Kanisius.
Prayitno. 2012. Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung Konseling. Padang: FIP
UNP.