You are on page 1of 89

Koinfeksi TB-HIV

Adria Rusli

03/01/15

DOTS
Epidemi TB
Epidemi HIV

Estimasi prevalensi HIV pd


kasus baru TB , 2006

Prevalensi HIV pd
kasus TB, 15-49 thn (%)

Tdk ada estimasi


0-4
5-19
20-49
> 50
The boundaries and names shown and the designations used on this map do not imply the expression of any opinion whatsoever on the part of the World Health
Organization concerning the legal status of any country, territory, city or area or of its authorities, or concerning the delimitation of its frontiers or boundaries.
Dotted lines on maps represent approximate border lines for which there may not yet be full agreement.
WHO 2006. All rights reserved

Tes HIV pada pasien TB


pd negara2 tertentu, 2006

Hasil kegiatan TB-HIV di PPTI Baladewa


2005 2007
1600

1431 1401

1400

1332

1200
1000
800

755 747

692 681
640

675

600
400

2005

Pre-test counseling

19.1%

245

168

200
0

17.5%

24.7%

2006

Tested

143
2007(up to May)

Post-test counseling

HIV +

Tanujaya et al, Kigali meeting, 2007

Jumlah Infeksi Oportunistik pada infeksi HIV/AIDS


di RSPI-SS 1995 2008
Koinfeksi TB-HIV : 53%

s/d 31 Des 2008

Kumulatif Infeksi Oportunistik


yang dilaporkan di Indonesia
No.

Jenis Infeksi Oportunistik

Jumlah

1.

Tuberkulosis

8.986

2.

Diare

4.542

3.

Kandidiasis

4.479

4.

Dermatitis

1.146

5.

Limfadenopati Generalisata Persisten

603

6.

PCP

474

7.

Ensefalopati

386

8.

Herpes Zoster

299

9.

Herpes Simpleks

141

10.

Toksoplasmosis

104

11.

Lain-lain

197

Sumber: Subdit AIDS & PMS, Depkes RI, s/d 31 Des 2008

Fakta
Paling sedikit 1 dari 3 Odha
akan terkena TB

Epidemiologi ko-infeksi TB-HIV

TB merupakan IO terbanyak dan penyebab


kematian utama pada ODHA

40 % kematian ODHA terkait dengan TB

3,2 juta koinfeksi TB-HIV terdapat di Asia


Selatan & Tenggara

Diperkirakan dalam 3-5 tahun mendatang,


20-25% kasus TB pada beberapa negara di
Asia Selatan & Tenggara berhubungan
langsung dengan HIV

Infeksi TB vs Penyakit TB (TB aktif)

Infeksi TB organisme ada, tetapi bersifat dormant


(tidur), tidak dapat menginfeksi orang lain
Penyakit TB orang tsb sakit dan dapat menularkan
penyakitnya ke orang lain
10% orang dgn infeksi TB akan menjadi penyakit TB
Setiap orang dgn TB aktif dapat menginfeksi 10-15
orang/tahun

Efek TB terhadap HIV

TB menginduksi replikasi HIV dalam


limfosit pada orang terinfeksi HIV

Angka mortalitas pada ko-infeksi TB-HIV


k.l. 4 x lebih besar daripada pasien
dengan hanya TB sendiri

Pasien dgn koinfeksi TB-HIV mempunyai


viral load sekitar 1 log lebih besar
daripada pasien tanpa TB

Bagaimana HIV
mempengaruhi TB?
Meningkatkan insidensi dan

prevalensi
Mengubah manifestasi klinis
Menyulitkan diagnosis
Membuat terapi lebih menantang
Meningkatkan morbiditi dan mortaliti

TB dan AIDS
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%

Risiko TB
selama hidup

60%

10%

PPD+/HIV-negatif

PPD+/HIV+

Masalah

Tuberkulosis kedaruratan global


Tuberkulosis di populasi dgn prevalensi HIV
yg tinggi merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas di antara ODHA
Ke-2 penyakit menimbulkan stigma
Ke-2 penyakit memerlukan perawatan
jangka panjang

Korelasi antara beratnya HIV mensupresi


imun dengan manifestasi klinis TB

3
M edian CD4 cell count / m
m

Correlation Between Extent of HIV-Induced ImmunoSuppression and Clinical Manifestation of Tuberculosis


500

400

300

200

Pulmonary tuberculosis

Lymphatic, serous tuberculosis

Tuberculous meningitis
Disseminated tuberculosis

100

Duration of HIV infection


De Cock KM, et al. J Am Med Assoc 1992;268:1581-7

Presentasi TB terkait dengan jumlah CD4

500 CD4

HIV awal
Typical

Tuberculosis

200 CD4
50 CD4

Atypical
PTB

HIV lanjut

EPTB

Manifestasi Klinis TB pada HIV

Klinis
PPD
Foto dada
Gamb Paru
TB ekstra paru
Mikobakteremi
Adenopati hilus/
mediastinum
Efusi pleura

Dini

Lanjut

Tipikal
Biasanya (+)
Tipikal
Lobus Atas
Jarang
Tidak ada
Tidak ada

Atipikal
Biasanya (-)
Atipikal
Lob. bawah/tengah
Sering/banyak
Ada
Ada

Jarang

Sering

TB paru
Presentasi tergantung kpd stadium
HIV
HIV awal
(stad 1-2)

HIV lanjut
(stad 3-4)

Klinis

Haemoptysis
Batuk kronis
Keringat malam
BB

High fever
Sesak napas
BB

Hapusan

Sering positif
(80-90%)

Sering negatif

X-ray

Kavitas
Lobus atas
infiltrat

TB Primer:
Lobus bawah
infiltrat
KGB intra-torakal >

Hasil X-foto dada pasien TB


dengan infeksi HIV

HIV lanjut
HIV awal

(severe immuno-compromise)

Proporsi pasien dgn TB paru yang


mempunyai smear BTA positif

70
60

HIV
Negatif

Positifitas BTA pd
pasien TB
HIV awal

50
40
30
20
10
0

HIV lanjut

Kategori pengobatan
Kategori

Pasien TB

pengobatan TB

II

III

Kasus TB paru baru BTA positif


TB paru berat dengan BTA negatif dan rontgen
positif
Kasus TB ekstra paru baru yang berat
Kambuh BTA positif
Kasus gagal pengobatan dengan BTA positif
Kasus lalai berobat dengan BTA positif
Kasus TB paru BTA negatif
Kasus TB ekstra paru ringan

Rejimen terapi yg dianjurkan


Kategori
pengobatan
TB

Alternative treatment regimens


(Jika BTA + pd akhir tahap intensif dari Kat I / Kat II,

one more month of initial phase is given)


Tahap intensif

Tahap lanjutan

2 HRZE(2 HRZS)
2 H3 R3 Z3 E3 (2 H3 R3 Z3 S3 )

6 HE
4 HR
4 H3 R3

II

2 SHRZE/1 HRZE
(2 S3 H3 R3 Z3 E3 /1 H3 R3 Z3 E3 )

5 HRE
5 H3 R3 E3

III

2 HRZ
2 H3 R3 Z3

6 HE
4 HR
4 H3 R3

Observasi langsung dianjurkan utk semua pasien dan


terutama penting jika rejimen intermiten digunakan

Strategi DOTS

Komitmen politik dan dana yg ditingkatkan


terus menerus
Deteksi kasus melalui pemeriksaan
bakteriologii yg bermutu
Terapi standar dgn supervisi & dukungan
pasien
Suplai obat dan sistem manajemen yg efektif
Sistem Monev

Human
Immunodeficiency
Virus

APA ITU HIV?

HIV adalah virus yang


membunuh sel darah putih di
dalam tubuh.
Sel darah putih berfungsi
membantu melawan infeksi
dan penyakit (bakteri, virus
lain, parasit) yang menyerang
masuk ke dalam tubuh.

ACQUIRED (BUKAN KETURUNAN /


DITURUNKAN)

IMMUNE (SISTEM KEKEBALAN TUBUH)


DEFICIENCY (TIDAK BERFUNGSI DENGAN
BAIK)

SYNDROME (MEMILIKI BANYAK GEJALA)

Tertular

PERKEMBANGAN DARI HIV MENJADI AIDS:

Periode
Jendela

3 - 6 BULAN

HIV +

3 - 10 TAHUN

AIDS

1 - 2 TAHUN

ORANG YANG TERINFEKSI HIV,


SISTEM KEKEBALAN TUBUHNYA
AKAN MELEMAH
TUBUH TIDAK MAMPU LAGI
MELAWAN BAKTERI, VIRUS,
PARASIT MENDERITA INFEKSI
OPORTUNISTIK KEMATIAN

Penularan HIV

Hubungan seks yang tidak aman


Penggunaan jarum suntik yang tidak steril
secara bergantian
Ibu ke bayi yang dilahirkan
Transfusi darah

SYARAT: ada yang positif, ada media penularan, ada pintu masuk virus

HIV TIDAK MENULAR MELALUI


KONTAK SOSIAL

Konsentrasi HIV Tinggi


Darah
Semen (air mani)
Cairan vagina

Struktur HIV

Envelop

gp 120
gp41

Enzym

Reverse transcriptase
Integrase
Protease

Inti

P17 (matrix)
P24 (kapsid)
P7/P9 (nucleocapsid)

Diagnosis HIV
Ditemukannya antibodi HIV dlm
Jenis tes antibodi HIV :

- Rapid Test
ELISA
Western Blot

darah

Konseling
Proses dialog antara dua
orang (konselor & klien)

dalam suasana nyaman


rahasia terjamin
bertujuan mengambil
keputusan untuk
memecahkan masalah

??

!!

Konseling HIV

Konseling pra-tes
konseling sebelum
menjalankan tes HIV

Konseling pasca-tes
konseling sesudah
menerima hasil tes
HIV

Khusus untuk HIV:


upaya pencegahan
penularan HIV
dukungan psikologis
bagi yang terinfeksi

PERJALANAN INFEKSI HIV


1000
Jumlah sel CD4+

900

Sel T CD4+

800
700
600
500
400
300

Sindrom
Infeksi
Akut HIV
Periode
jendela

Asimtomatik

TB
HZV

Level relatif
Plasma HIV-RNA

200
100
0

OHL
OC
PPE

PCP
CM
CMV, MAC

Antibodi
0 1 2 3 4 5
Bulan..

2
3 4
5
6
7
8
Tahun sesudah terinfeksi HIV

10

11

Window period (masa jendela)

Bila seseorang tertular HIV, selama kurang lebih 412 minggu pasca pajanan HIV. Orang tsb bila
diperiksa anti HIV hasilnya akan negatif, karena
pada masa tersebut antibodi HIV belum terbentuk,
tetapi sebenarnya sudah terinfeksi HIV dan pada
masa inilah HIV sangat efektif ditularkan kepada
orang lain.

Stadium klinis HIV


(WHO 2006)
(Stadium 1-4)

Stadium klinis HIV dewasa


(WHO 2006)
Stadium Klinis 1

Tidak ada gejala


Pembesaran kelenjar Limfe Meluas dan Menetap

Stadium Klinis 2
Berat badan menurun <10% dari BB semula
Infeksi saluran napas berulang (sinusitis, tonsilitis,
otitis media, faringitis)
Herpes zoster
Cheilitis angularis
Ulkus oral yang berulang
Papular pruritic eruption
Dermatitis seboroika
Infeksi jamur kuku

Stadium Klinis 3

Berat badan menurun >10% dari BB semula


Diare kronis yg tdk diketahui penyebabnya berlangsung > 1
bulan
Demam persisten tanpa sebab yang jelas yang (intermiten
atau konstan > 37,5oC) > 1 bulan
Kandidiasis Oral persisten (thrush)
Oral Hairy Leukoplakia
TB paru
Infeksi bakteri berat (pnemonia, empiema, pyomiositis, infeksi
tulang atau sendi, meningitis atau bakteremia)
Stomatitis ulseratif nekrotizing akut, gingivitis atau
periodontitis
Anemi (< 8g/dL), netropeni (< 0,5x109/L) dan/atau
trombositopeni kronis yg tdk dpt diterangkan sebabnya

Stadium Klinis 4

HIV wasting syndrome (BB turun 10% + diare kronik


> 1 bln atau demam >1 bln yg tdk disebabkan peny lain)
Pneumonia Pneumocystis (PCP)
Pneumonia bakteri berat yg berulang
Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial, genital atau
anorektal > 1 bulan atau viseral)
Kandidiasis esofagus (atau trakea, bronkus, paru)
TB ekstra paru
Sarkoma Kaposi
Infeksi Cytomegalovirus (CMV) (retinitis atau organ lain)
Toksoplasmosis SSP
Ensefalopati HIV
Kriptokokus ektra pulmoner termasuk meningitis

Stadium Klinis 4 (lanjutan)

Infeksi mikobakteri non-TB diseminata


Progressive multifocal leukoencephalopathy
Cryptosprodiosis kronis
Isosporiasis kronis
Mikosis diseminata (histoplasmosis atau coccidioidomycosis
ekstra paru)
Septikemi berulang (a.l. Salmonella non-typhoid)
Limfoma (serebral atau non Hodgkin sel B)
Karsinoma serviks invasif
Leishmaniasis diseminata atipik
Nefropati atau kardiomiopati terkait HIV yg simtomatis

ARV

= Anti Retro Viral

ART

= Anti Retroviral Therapy


= Terapi Antiretroviral

Tujuan Terapi ARV


Memperbaiki kualitas hidup
Mencegah infeksi oportunistik
Mencegah progresi penyakit
Mengurangi transmisi kepada yg lain

Apa manfaat ARV untuk individu ?

Klasifikasi ARV
Nucleoside reverse transcriptase
inhibitor (NRTI)
Non nucleoside reverse
transcriptase inhibitor (NNRTI)
Protease inhibitor (PI)
Entry inhibitor
CCR5 inhibitor
CXCR4 inhibitor
Fusion inhibitor (FI)
Integrase inhibitor
Maturation inhibitor
CD4 binding inhibitor

Obat ARV yang tersedia


NRTI
Zidovudine (AZT)
Stavudine (d4T)
Lamivudine (3TC)
Didanosine (ddl)
Abacavir (ABC)
Zalcitabine (ddC)
Emtricitabine (FTC)
CCR5 antagonis

PI
Indinavir (IDV)
Nelfinavir (NFV)
Saquinavir (SQV)
Amprenavir (APV)
Ritonavir (RTV)
Lopinavir (LPV)
Atazanavir (ATV)
Fosamprenavir (FPV)
Tipranavir (TPV)

Maraviroc (MRV)

Darunavir (DRV)

NtRTI
Tenofovir (TDF)

NNRTI
Efavirenz (EFV)
Delavirdine (DLV)
Nevirapine (NVP)

Integrase Inhib.
Raltegravir

FI
Enfuvirtide (ENF)

Lamivudine (3TC)

AZT + 3TC

Zidovudine (AZT/ZDV)

Stavudine d4T

Nevirapine (NVP)

Efavirenz (EFV)

Tenofovir

Didanosine (ddI)

Lopinavir/ritonavir
(Aluvia)

Siapa yang berhak untuk


mendapat ART

Tidak semua ODHA perlu


ANTIRETROVIRAL segera !

Konsep Umum ART

4S

4S

Start
Memulai terapi ARV pada Odha yang baru dan belum
pernah menerima sebelumnya
Restart: memulai kembali setelah berhenti sementara

Substitusi
Mengganti salah satu/ sebagian komponen ART dengan
obat dari lini pertama

Switch
Mengganti semua rejimen ART (beralih ke lini kedua)

Stop
Menghentikan pengobatan ARV

Sebelum mulai

Yakinkan bahwa status klien adalah HIV positif

Lakukan evaluasi Klinis:

Tentukan stadium sesuai WHO


Diagnosa dan pengobatan IO
Profilaksis IO dan adherence terhadap pengobatan IO
Pertimbangkan apakah perlu ARV

Pertanyakan mengenai kemungkinan adherence


terhadap ARV

Konseling Pengobatan ART


sebelum memulai pengobatan
Pasien harus memahami : tujuan terapi

ARV tidak menyembuhkan infeksi HIV

Selama pengobatan ARV, virus masih dapat


ditularkan. Untuk itu diperlukan seks yg aman dan
suntikan yg aman.

Pengobatan seumur hidup.

Kriteria Memenuhi Syarat


Secara Medis (WHO)
Bila tersedia pemeriksaan CD4:
Stadium 4 WHO, tanpa memandang CD4
Stadium 3 WHO, dengan CD4 200-350/mm 3
Stadium 1 atau 2 WHO dengan CD4 <200/mm3
Bila tidak tersedia sarana pemeriksaan CD4:
Stadium 4 WHO, tanpa memandang TLC
Stadium 3 WHO, tanpa memandang TLC
Stadium 1 & 2 WHO [dengan TLC <1200/mm3]

Pedoman ART KOMBINASI LINI KE-1

NVP

d4T
Stavudine
= Staviral, Zerit

Nevirapine
= Neviral

3TC
Lamivudine

AZT

= Hiviral

EFV

Zidovudine

Efavirenz

= Reviral

= Stocrin, Efavir
Pedoman ART (WHO 2003)
Pedoman ART (Indonesia 2004)

Pedoman ART Indonesia


LINI PERTAMA
(2 NRTI + 1 NNRTI)

AZT + 3TC + NVP


AZT + 3TC + EFV
d4T + 3TC + NVP
d4T + 3TC + EFV

AZT + 3TC + NVP

AZT
300mg 2 x sehari
200mg 2 x sehari

3TC
150mg 2 x sehari

NVP
Lead in dose untuk 14 hari = 200mg 1 x sehari
Setelah 14 hari dan tidak ada ruam kulit : 200 mg 2 x
sehari

d4T

30mg 2 x sehari
EFV

600mg 1 x sehari (malam)

Jadwal waktu saat minum ARV


Konsentrasi ARV
dalam darah

Toksisitas ARV

Konsentrasi
efisien ARV
ARV under dosis = mutasi =
menyebabkan resistensi
Jam 7 pagi

Jam 7 malam

Jam 7 pagi

Terapi ko-infeksi TB-HIV


Status klinis
Hanya TB paru (tidak ada
tanda lain Stad 3 atau 4)

Tidak ada CD4

Ada CD4

OAT diberikan sampai selesai,


baru dilanjutkan dengan ART

Jika CD4 > 350:


Mulai dan selesaikan OAT, lalu mulai
ART kecuali jika timbul tanda2 Stad 4
non-TB (mulai lebih dini, tergantung
penilaian klinis)
Jika CD4 200-350:
Mulai OAT. Mulai ART setelah fase
intensif (mulai lebih cepat jika
toleransi baik)
Jika CD4 < 200
Mulai OAT. Mulai ART segera jika
OAT dapat ditoleransi (2 minggu 2
bulan)

TB paru disertai tanda2 Stad Mulai OAT


3 atau 4 lainnya
Waktu pemberian ART
tergantung penilaian klinis yg
berkaitan dgn tanda2 lain
imuno defisiensi

TB ekstra paru

Mulai terapi TB
Mulai ART segera jika OAT dapat ditoleransi (2 minggu 2 bulan)
tanpa melihat jumlah CD4

Pilihan Terapi Antiretroviral


Efavirenz (EFV) dengan Rifampisin
Nevirapine (NVP) dengan Rifampisin
Tiga NRTI dengan Rifampisin

Pedoman WHO (2006):


Rejimen ART Lini Pertama & TB aktif
Rejimen

Rekomendasi

Monitoring

EFV/2NRTI

Disukai

Kehamilan

NVP/2NRTI

Pilihan

ALT*

Triple NRTI1

Pilihan

HSR2 dgn abacavir

*Penyuluhan pasien, kunjungan 2x/minggu,


ALT/AST pd 0,2,4,8 dan 12 minggu
1
2

ZDV/3TC/ABC atau ZDV/3TC/TDF


Reaksi hipersensitivitas

Hasil kegiatan TB-HIV di PPTI Baladewa


Sept 2004 Agst 2005
100%

3.4

80%

60%

BTA (-)

87.8

Paru
96.6

40%

20%

BTA (+)

12.2

0%

Sputum BTA

Klinis TB

Ekstra Paru

Kapan Memulai Pengobatan TB

Sputum BTA (+)


Pengobatan tdk boleh ditunda (akibat
sputum BTA neg) jika ada kecurigaan
klinis tinggi:
Riwayat batuk dan penurunan BB
Gambaran khas pada X-foto dada
Emigrasi dari negara yang berinsidens
tinggi

Lama Pengobatan TB-HIV

4/6 studi menunjukkan angka kambuh < 5 %


dgn terapi anti-TB selama 6 bulan
2 studi menunjukkan kambuh > 9 % dgn 6
bulan terapi anti-TB
Kambuh vs. re-infeksi

Lama Pengobatan TB-HIV

6 bulan terapi anti-TB untuk kasus yg


sensitif terhadap obat & tdk ada komplikasi
Waktu lebih lama jika dengan penyakit
susunan saraf pusat
Waktu lebih lama utk MDR-TB dan rejimen
tanpa Rifampisin

Efek samping
terapi TB dan ARV

Efek samping selama terapi TB-HIV

54% (99/167) mempunyai efek samping


34% menghentikan sementara terapi TB
atau HIV
Efek samping yg sering:
Neuropati perifer (21%) lebih sering dgn
penggunaan stavudine
Ruam kulit (17%) obat anti-TB (16),
kotrimoksazole (7), nevirapine (2), obat lain (4)
Hepatitis (6%) obat anti-TB (6), tdk dik. (5)

Dean GL et al. AIDS 2002; 16: 75-83

Efek samping pengobatan TB dan HIV


Neuropati
perifer
n
Mulai (bulan)
<2 bulan
Berkaitan ARV

31 (22%)
3.6
52%
d4T

Ruam
kulit
19 (13.6%)
74%
nevirapine
efavirenz

Hepatitis

11 (7.8%)
91%
isoniazid
rifampicin

Dean dkk, AIDS 2001

Toksisitas potensial antara ART dan


obat anti-TB
Toksisitas
tumpang tindih
Hepatitis

Obat Antiretroviral
NVP, EFV

Obat anti-TB
RIF, PZA. INH, Eto/Pto,
PAS, E, FQ

Haematologi

AZT

Linezolid

Saraf Pusat

EFV

CS, H, FQ, Eto/Pto

Sal. Cerna

All

Rif, Pza, Eto/Pto, PAS,


Cfz, Lzd

Neuropati

d4T

CS, INH, E

Efek Rifampisin terhadap ARV

Protease inhibitor (PI)

Saquinavir
Ritonavir
Indinavir
Nelfinavir
Amprenavir

Nonnucleoside reverse transcriptase inhibitor


(NNRTI)
Nevirapine
Efavirenz

berkurang 80 %
berkurang 35 %
berkurang 92 %
berkurang 82 %
berkurang 81 %

berkurang 37 %
berkurang 26 %

Nucleoside Reverse transcriptase inhibitor


(NRTI)
Tidak ada efek

MDR-TB dan XDR-TB

03/01/15

MDR = Multiple drug-resistant


Isolat TB yg resisten terhadap isoniazid
dan rifampisin

XDR = Extensively drug-resistant


MDR + resisten terhadap fluoroquinolone
dan 1 dari 3 obat suntik (amikacin,
kanamycin, capreomycin)

MDR TB adalah masalah yg dibuat manusia


Ini membutuhkan biaya, kematian, kelemahan,
dan ancaman terbesar bagi strategi
penanggulangan TB saat ini.

Resistensi terhadap OAT

Surveilans di dunia menunjukkan peningkatan jumlah


M.tb yg resisten terhadap obat2 yang ada
Multiple drug resistant (MDR-TB)
~ 400.000 kasus per tahun. XDR-TB: > 26.000 kasus
Tujuan Global mengobati 800.000 kasus MDR pd
2015
Angka tertinggi di Uni Soviet (dulu), India dan Cina (62%)
Informasi terbatas dari Afrika
Sangat berkaitan dgn KLB ko-infeksi HIV di negara maju
Hubungan antara resistensi terhadap OAT dan HIV belum
diketahui.

Emergence of XDR TB

17,690 isolates worldwide 2004-5, 20% MDR, 2% XDR


Latvia- 19% of MDR TB cases
S. Korea- 15% of MDR TB cases
Latin America-6% of MDR TB cases
USA-4% MDR TB cases
Africa-<1% MDR TB cases
India?, China?

49 negara

Negara dengan MDR-TB pd kasus baru > 6%


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Azerbaijan, Baku City (22.3%)


Kazakhstan (20%)
Republic of Moldova (19.4%)
Ukraine, Donetsk (16%)
Russian Federation, Tomsk (15%)
Uzbekistan, Tashkent (14.8%)
Estonia (13.3%)
Russian Federation, Mary El (12.5%)
Latvia (10.8%)
Lithuania (9.8%)
Armenia (9.4%)
Russian Federation, Orel (8.8%)
China, Inner Mongolia (7.3%)
China, Heilongjiang (7.2%)
Georgia (6.8%)

Kematian

52 dari 53 (98%)
pasien XDR TB
meninggal dunia
Median survival dari
koleksi sputum
adalah 16 hari
(rentang 2-210 hari)
70% meninggal dlm
waktu 30 hari
Gandhi NR et al. Lancet 2006; 368:1575-80

KLB dari MDR - TB

Faktor yg berperan
Program penanggulangan tdk adekuat
Kepatuhan tidak adekuat
Gangguan dalam prosedur pengendalian infeksi
Pemusatan penekanan imun
Indeks kecurigaan rendah
Komunikasi lab yg tdk adekuat
Daya infeksinya panjang

Rujukan dan perawatan TBHIV


Program TB
Program AIDS
Penemuan kasus/
diagnosis

Perawatan Pallatif

Pencegahan HIV

ART

Fase lanjutan

Dukungan psiko-sosio-ekonomi

Intensive
Phase

Terapi IO

Fase intensif

Profilaksis IO

Terapi TB (DOT)

Entry point/T&C

Koinfeksi HIV/TB

Jika ART tidak tersedia, apa yang bisa


dilakukan?
Penanganan kasus dengan tepat
Tingkatkan Program Pengendalian TB
Berikan profilaksis yang tepat untuk IO
Berikan kotrimoxazole tanpa melihat
jumlah CD4 ?