You are on page 1of 14

09.

Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi


No. ICPC II: P74Anxiety Disorder (anxiety state)
No. ICD X: F41.2 Mixed Anxiety and Depression Disorder
Masalah Kesehatan
Gangguan yang ditandai oleh adanya gejala-gejala anxietas (kecemasan) dan depresi bersamasama, dan masing-masing gejala tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk
dapat ditegakkannya suatu diagnosis tersendiri. Untuk gejala anxietas, beberapa gejala
autonomik harus ditemukan, walaupun tidak terus menerus, di samping rasa cemas atau khawatir
berlebihan.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan Biasanya pasien datang dengan keluhan fisik seperti: nafas pendek/cepat, berkeringat,
gelisah, gangguan tidur, mudah lelah, jantung berdebar, gangguan lambung, diare, atau bahkan
sakit kepala yang disertai dengan rasa cemas/khawatir berlebihan.

Allo dan Auto Anamnesis tambahan:


1. Adanya gejala seperti minat dalam melakukan aktivitas/semangat yang menurun, merasa
sedih/murung, nafsu makan berkurang atau meningkat berlebihan, sulit berkonsentrasi,
kepercayaan diri yang menurun, pesimistis.
2. Keluhan biasanya sering terjadi, atau berlangsung lama, dan terdapat stresor kehidupan.
3. Menyingkirkan riwayat penyakit fisik dan penggunaan zat (alkohol, tembakau, stimulan,
dan lain-lain)
Faktor Risiko
1. Adanya faktor biologis yang mempengaruhi, antara lain hiperaktivitas sistem
noradrenergik, faktor genetik.
2. Ciri kepribadian tertentu yang imatur dan tidak fleksibel, seperti ciri kepribadian
dependen, skizoid, anankastik, cemas menghindar.
3. Adanya stresor kehidupan.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik Respirasi meningkat, tekanan darah dapat meningkat, dan tanda lain
sesuai keluhan fisiknya.
Pemeriksaan penunjang Laboratorium dan penunjang lainnya tidak ditemukan adanya tanda
yang bermakna. Pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk menyingkirkan diagnosis
banding sesuai keluhan fisiknya.
Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis Klinis Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Kriteria diagnosis berdasarkan ICD 10, yaitu:

adanya gejala-gejala kecemasan dan depresi yang timbul bersamasama, dan masing-masing
gejala tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk dapat ditegakkannya
suatu diagnosis tersendiri.
1. Gejala-gejala kecemasan antara lain:
Kecemasan atau khawatir berlebihan, sulit berkonsentrasi
Ketegangan motorik: gelisah, sakit kepala, gemetaran, tegang, tidak dapat santai
Aktivitas autonomik berlebihan: palpitasi, berkeringat berlebihan, sesak nafas,
mulut kering,pusing, keluhan lambung, diare.
2. Gejala-gejala depresi antara lain:
Suasana perasaan sedih/murung.
Kehilangan minat/kesenangan (menurunnya semangat dalam melakukan
aktivitas)
Mudah lelah
Gangguan tidur
Konsentrasi menurun
Gangguan pola makan
Kepercayaan diri yang berkurang
Pesimistis
Rasa tidak berguna/rasa bersalah
Diagnosis Banding
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Gangguan Cemas (Anxietas) Organik


Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat
Gangguan Depresi
Gangguan Cemas Menyeluruh
Gangguan Panik
Gangguan Somatoform

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


Penatalaksanaan
1. Non-farmakologi
a. Konseling dan edukasi pada pasien dan keluarga
Karena gangguan campuran cemas depresi dapat mengganggu produktivitas pasien,
keluarga perlu memahami bahwa hal ini bukan karena pasien malas atau tidak mau
mengerjakan tugasnya, melainkan karena gejala-gejala penyakitnya itu sendiri, antara
lain mudah lelah serta hilang energi. Oleh sebab itu, keluarga perlu memberikan
dukungan agar pasien mampu dan dapat mengatasi gejala penyakitnya.
Gangguan campuran anxietas dan depresi kadang-kadang memerlukan pengobatan yang
cukup lama, diperlukan dukungan keluarga untuk memantau agar pasien melaksanakan
pengobatan dengan benar, termasuk minum obat setiap hari.
b. Intervensi Psikososial

Lakukan penentraman (reassurance) dalam komunikasi terapeutik, dorong pasien untuk


mengekspresikan pikiran perasaan tentang gejala dan riwayat gejala.
Beri penjelasan adanya pengaruh antara faktor fisik dan psikologis, termasuk bagaimana
faktor perilaku, psikologik dan emosi berpengaruh mengeksaserbasi gejala somatik yang
mempunyai dasar fisiologik.
Bicarakan dan sepakati rencana pengobatan dan follow-up, bagaimana menghadapi
gejala, dan dorong untuk kembali ke aktivitas normal.
Ajarkan teknik relaksasi (teknik nafas dalam)
Anjurkan untuk berolah raga teratur atau melakukan aktivitas yang disenangi serta
menerapkan perilaku hidup sehat.
Ajarkan untuk selalu berpikir positif dan manajemen stres dengan baik.

2. Farmakologi:

Untuk gejala kecemasan maupun depresinya, diberikan antidepresan dosis rendah, dapat
dinaikkan apabila tidak ada perubahan yang signifikan setelah 2-3 minggu: fluoksetin
1x10-20 mg/hari atau sertralin 1x25-50 mg/hari atau amitriptilin 1x12,5-50 mg/hari atau
imipramin1-2x10-25 mg/hari. Catatan: amitriptilin dan imipramin tidak boleh diberikan
pada pasien dengan penyakit jantung, dan pemberian berhati-hati untuk pasien lansia
karena efek hipotensi ortostastik (dimulai dengan dosis minimal efektif).
Pada pasien dengan gejala kecemasan yang lebih dominan dan atau dengan gejala
insomnia dapat diberikan kombinasi Fluoksetin atau sertralin dengan antianxietas
benzodiazepin. Obat-obatan antianxietas jenis benzodiazepin yaitu: diazepam 1x2-5 mg
atau lorazepam 1-2x0,5-1 mg atau klobazam 2x5-10 mg atau alprazolam 2x 0,250,5mg.
Setelah kira-kira 2-4 minggu benzodiazepin ditappering-off perlahan, sementara
antidepresan diteruskan hingga 4-6 bulan sebelum di tappering-off. Hatihati potensi
penyalahgunaan pada alprazolam karena waktu paruh yang pendek.

Kriteria Rujukan
Pasien dapat dirujuk setelah didiagnosis mengalami gangguan ini, terutama apabila gejala
progresif dan makin bertambah berat yang menunjukkan gejala depresi seperti pasien menolak
makan, tidak mau merawat diri, ada ide/tindakan bunuh diri; atau jika tidak ada perbaikan yang
signifikan dalam 2-3 bulan terapi.
Prognosis
Pada umumnya prognosis gangguan ini adalah bonam.
Referensi
1. Kaplan and Sadock, Synopsis of psychiatry, 7th edition, William and Wilkins.
2. Departemen Kesehatan RI.Pedoman penggolongan dan diagnosis Gangguan jiwa di
Indonesia III, cetakan pertama, 1993.
3. World Health Organization. Diagnostic and management guidelines for mental disorders
in primary care: ICD-10 chapter V, primary care version. Seattle: Hogrefe & Huber
Publishers. 4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Pedoman
Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa/Psikiatri, 2012.

01. Skizofrenia Residual


Masalah Kesehatan
Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui)
dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis) yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya
ditandai oleh penyimpangan yang foundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta
oleh afek yang tidak wajar (inapropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih dan
kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat
berkembang kemudian.
Skizofrenia residual adalah skizofrenia yang diawali dengan gejala positif, namun
minimal dalam waktu satu tahun terakhir telah timbul gejala negatif.
Faktor Risiko
Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab Skizofrenia, yaitu
pendekatan biologis ( meliputi faktor genetik dan faktor biokimia), dan pendekatan
psikodinamik.
1. Faktor Genetik
Semakin dekat hubungan genetis antara penderita skizofrenia dan anggota keluarganya,
semakin besar kemungkinannya untuk terkena skizofrenia.
2. Faktor Biokimia
Hipotesis dopamine menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya
penerimaan dopamine dalam otak.
3. Otak
Sekitar 20-35% penderita skizofrenia mengalami beberapa bentuk kerusakan otak.
Gejala klinis:
Pembagian skizofrenia menjadi subtipe berdasarkan gejala-gejala yang menonjol. Secara garis
besar gejala skizofrenia, menurut DSM-IV, dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Gejala Positif:

Halusinasi (auditorik; mendengar suara-suara yang mengomentari atau bercakap-cakap


tentang dirinnya, visual,olfaktorik, gustatorik, taktil)
Waham (biasa dalam bentuk waham kejar, cemburu, bersalah, kebesaran, keagamaan,
somatik, waham dikendalikan, siar pikiran, penarikan pikiran, waham menyangkut diri
sendiri, dll). (2,4,6)
Perilaku aneh (dalam berpakaian, perilaku sosial, seksual, agresif, perilaku berulang)
Gangguan proses pikiran (inkoherensi, noologismus, tangensialitas, sirkumtansial, bicara
kacau, dll). (2,4,6)

2.Gejala Negatif:

Afek yang tumpul/datar (ekspresi wajah tidak berubah, penurunan spontanitas gerak,
hilangnya gerakan ekspresif, kontak mata yang buruk, afek yang tidak sesuai, tidak
adanya modulasi suara)
Alogia (kemiskinan bicara, kemiskinan isi bicara, penghambatan dan peningkatan latensi
respon)
Tidak ada kemauan, apati (bersikap acuh tak acuh)
Anhedonia (tidak suka berhubungan sosial, tidak suka dalam hubungan pertemanan)
Atensional impairmen (pecahnya perhatian)

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)


Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang Laboratorium dan penunjang lainnya tidak ditemukan adanya tanda yang
bermakna. Pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk menyingkirkan diagnosis banding sesuai
keluhan fisiknya.

Penegakan Diagnostik (Assessment)


Menurut PPDGJ III pedoman diagnostik untuk Skizofrenia Residual (F20.5) adalah sebagai
berikut:
Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut harus dipenuhi semua:
1. Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan psikomotor,
aktivitas menurun, afek yang tumpul, sikap pasif dan ketidaan inisiatif, kemiskinan dalam
kualitas atau isi pembicaraan, komunikasi non verbal yang buruk seperti dalam ekspresi
muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial
yang buruk. (2,8)
2. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi
kriteria untuk diagnosis skizofrenia.
3. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi
gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan
telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia
4. Tidak terdapat dimentia atau penyakit/gangguan otak organik lain, depresi kronik atau
institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
1. Farmakoterapi

Trifluooperazine, Fluphenazine, dan Haloperidol yang efek samping sedatif lemah


digunakan terhadap sindron psikosis dengan gejala dominan apatis,menarik diri, afek tumpul,
kehilangan minat dan inisiatif,hipoaktif, waham, halusinasi, dll.
Mekanisme obat antipsikosis tipikal adalah memblokade dopamine pada reseptor
pascasinaptik neuron diotak, kususnya sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (Dopamine D2
reseptor antagonis), sehingga efektif untuk geala positif. Sedangkan obat antipsikosis atipikal
disamping berafinitas terhadap Dopamine D2 Reseptor juga terhadap Serotonin 5 HT2
Reseptor, sehingga efektif juga untuk gejala negatif.
2. Psikoterapi dan Sosioterapi (konseling dan edukasi)
Skizofrenia dapat berupa kondisi yang sangat mengkhawatirkan dan dapat berhubungan dengan
penurunan fungsi sosial, sehingga diperlukan dukungan, nasehat, dan pendidikan yang baik.
Terapi pendekatan psikologi keluarga yang utama berfokus pada membangun ikatan yang baik
dengan pasien. Pelatihan kemampuan sosial juga diperlukan karena dapat meningkatkan
kompetensi sosial dan menolong fungsi adaptasi dalam komunitas.

Prognosis
Sekitar 10% pasien skizofrenia akan berhasil bunuh diri. Sebagian besar beresiko pada orang
muda yang mempunyai pendidikan tinggi dan bagi orang yang menderita penyakit. Jenjang usia
pada penderita skizofrenia biasa sekitar 10 tahun lebih pendek dibanding usia orang pada
umumnya. Hal ini dikarenakan beberapa faktor diantaranya tindakan bunuh diri, meningkatnya
jumlah perokok, sosial ekonomi dan kecelakaan.
Faktor-faktor dengan prognosis yang baik pada skizofrenia adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Wanita
Status menikah
Onset pada umur tua
Onset sakitnya secara tiba-tiba
Merespon baik terhadap pengobatan
Tidak adanya gejala negatif
Riwayat premorbid yang baik
Waktu yang pendek dari sakitnya sampai pengobatan
Penyakitnya dipengaruhi oleh pikiran pasien sendiri atau masalah keluarga

Referensi
1. Kaplan and Sadock, Synopsis of psychiatry, 7th edition, William and Wilkins.
2. Departemen Kesehatan RI.Pedoman penggolongan dan diagnosis Gangguan jiwa di
Indonesia III, cetakan pertama, 1993.
3. World Health Organization. Diagnostic and management guidelines for mental disorders
in primary care: ICD-10 chapter V, primary care version. Seattle: Hogrefe & Huber
Publishers. 4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Pedoman
Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa/Psikiatri, 2012.

02. Skizofrenia Hebefrenik


Masalah Kesehatan
Skizofrenia Hebefrenik adalah perilaku yang khas, regresi, primitive, afek tidak sesuai dengan
karakteristik umumnya, wajah dungu, tertawa aneh, menangis dan menarik diri secara ekstrim
(Mary C. Towsend dalam Novy Helena C, 1998 : 143).
Skizofrenia Hebefrenik adalah Percakapan dan perilaku yang kacau, serta afek yang datar atau
tidak tepat, gangguan asosiasi juga banyak terjadi. (Ann Isaac, 2004 : 153).
Hasil Anamnesis (Subjective)
Seseorang yang menderita skizofrenia herbefrenik, disebut juga disorganized type atau kacau
balau yang ditandai dengan gejala-gejala antara lain sebagai berikut
1. Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa maksudnya.
2. Alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidak serasi atau ketolol-tololan.
3. Perilaku dan tertawa kekenak-kanakan, senyum yang menunjukkan rasa puas diri atau
senyum yang hanya dihayati sendiri.
4. Waham yang tidak jelas dan tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai suatu kesatuan.
5. Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai satu
kesatuan.
6. Gangguan proses berfikir
7. Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan aneh,
berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung untuk menarik diri
secara ekstrim dari hubungan sosial
Allo dan Auto Anamnesis tambahan:
Gejala-gejala pencetus respon biologis :
1. Kesehatan : nutrisi kurang, kurang tidur, ketidakseimbangan irama sirkadian, kelelahan,
infeksi, obat-obatan sistem saraf pusat, kurangnya latihan dan hambatan untuk
menjangkau layanan kesehatan.
2. Lingkungan : lingkungan yang memusuhi, masalah rumah tangga, kehilangan kebebasan
hidup, perubahan kebiasaan hidup, pola aktivitas sehari-hari, kesukaran berhubungan
dengan orang lain, isolasi sosial, kurangnya dukungan sosial, tekanan kerja, stigmasisasi,
kemiskinan, kurangnya alat transportasi dan ketidakmampuan mendapatkan pekerjaan.
3. Sikap/perilaku : merasa tidak mampu, putus asa, merasa gagal, kehilangan kendali
diri(demoralisasi), merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut, merasa
malang, bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya
kemampuan sosialisasi, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan
pengobatan dan ketidakadekuatan penanganan gejala.

Faktor Presipitasi

Faktor-faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :


1. Berlebihannya proses inflamasi pada sistem saraf yang menerima dan memproses
informasi di thalamus dan frontal otak.
2. Mekanisme penghantaran listrik di saraf terganggu.
3. Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan, sikap dan perilaku.
Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon neurobiologi seperti
pada harga diri rendah antara lain :
1. Faktor Genetis
Telah diketahui bahwa secara genetis skizofrenia diturunkan melalui kromosomkromosom tertentu. Diduga letak gen skizofrenia ada dikromosom no. 6 dengan
kontribusi genetik tambahan no. 4, 8, 15 dan 22. Anak kembar identik memiliki
kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami
skizofrenia, sementara jika dizigot peluangnya sebesar 15%. Seorang anak yang salah
satu orang tuanya mengalami skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofreia
maka peluangnya menjadi 35%.
2. Faktor Neurologis
Ditemukan bahwa korteks prefrotal dan korteks limbik pada klien skizofrenia tidak
pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada klien skizofrenia terjadi penurunan
volume dan fungsi otak yang abnormal. Neurotransmiter yang ditemukan tidak normal
khususnya dopamine, serotonine, dan glutamat.
3. Studi Neurotransmiter
Skizofrenia diduga juga disebkan oleh adanya ketidakseimbangan neurotransmiter
dopamine yang berlebihan.
4. Teori Virus
Paparan virus influenza pada trimester 3 kehamilan dapat menjadi factor predispossisi
skizofrenia.
5. Psikologis
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor predisposisi skizofrenia antara lain anak
yang diperlakukan oleh ibu pencemas, terlalu melindungi, dingin dan tidak berperasaan,
sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang Laboratorium dan penunjang lainnya tidak ditemukan adanya tanda yang
bermakna. Pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk menyingkirkan diagnosis banding sesuai
keluhan fisiknya.

Penegakan Diagnostik (Assessment)


Skizofrenia Hebefrenik (PPDGJ III, Kode F 20.1)

a) Memenuhi kriteria umum diagnosa skizofrenia


b) Ditegakan pada usia remaja atau dewasa muda (15-25 tahun)
c) Kepribadian premorbid menunjukan ciri-ciri khas pemalu dan senang menyendiri.
Untuk meyakinkan diperlukan pengamatan selama 2-3 bulan untuk memastikan gambaran lihat
yang bertahan, antara lain perilaku yang tidak bertanggungjawab dan tidak dapat di ramalkan,
kecenderungan untuk selalu menyendiri, dan perilaku tanpa tujuan dan perasaan :
- Afek dangkal dan tidak wajar
- Proses fikir mengalami disorganisasi dan topik pembicaraan tidak menentu (inkoheren)
- Gangguan afektif dan dorongan kehendak serta gangguan proses pikir umumnya menonjol.
Halusinasi dan waham biasanya ada tetapi tidak menonjol.
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Skizofrenia merupakan penyakit yang cenderung berlanjut (kronis atau menahun) maka terapi
yang diberikan memerlukan waktu relative lama berbulan bahkan sampai bertahun, hal ini
dimaksudkan untuk menekan sekecil mungkin kekambuhan. terapi yang di maksut adalah :
1. Psikofarma
Obat anti psikotik yang sering disebut dengan neuroleptik ditujukan untuk
menghilangkan gejala skizofrenia. Golongan psikofarma yang sering digunakan di
Indonesia (2001) terbagi dua golongan typical dan golongan atypical. kelebihan obat
atypical antara lain : Dapat menghilangkan gejala positif dan negatif, memulihkan fungsi
koqnitif, efek samping Extra pyramidal symptoms.
2. Electro Convulsive Terapy
Electro Convulsive Terapy diberikan kepada penderita skizofrenia kronik. Tujuannya
adalah memperpendek serangan skizofrenia, mempermudah kontak dengan penderita,
namun tidak dapat mencegah serangan ulang (Maramis, 2004).
3. Psiko religius
Menurut Larson, penelitian yang termuat dalam Religious commitment and Health
menyatakan bahwa agama amat penting dalam pencegahan agar seorang tidak mudah
jatuh sakit, meningkatkan kemampuan mengatasi penderitaan dan mempercepat
penyembuhan.
4. Psikososial
Agar tumbuh kembang anak sehat baik fisik, psikologik, social dan spiritual, hendaknya
diciptakan rumah tangga yang sehat dan bahagia agar supaya kepribadian anak menjadi
matang dan kuat sehingga tidak mudah jatuh sakit. Dalam hal ini N. Stinnet J.De frain
mengemukakan enam criteria membina keluarga yang sehat dan bahagia yaitu :
Ciptakan kehidupan beragama dalam keluarga.
Adakan waktu bersama dalam keluarga.
Ciptakan hubungan yang baik antar anggota keluarga.
Keluarga sebagai unit social yang terkecil ikatannya harus erat dan kuat, jangan
longgar dan rapuh.

Harus saling menghargai sesama anggota keluarga.


Bila keluarga mengalami krisis, maka prioritas utama adalah keutuhan keluarga dan
bila diperlukan berkonsultasi dengan ahlinya.

Konseling & Edukasi


Pendekatan yang dilakukan dalam pencegahan skizofrenia dapat bersifat eklektik holistik yang
mencakup empat pilar yaitu :
1.
2.
3.
4.

organobiologis,
psikoedukatif,
sosial budaya,
psikoreligius

Upaya pencegahan yang dilakukan pada masing-masing pilar dimaksudkan untuk menekan
seminimal mungkin munculnya skizofrenia dan kekambuhanya.
1) Organobiologis

Bila ada silsilah keluarga menderita skizofrenia sebaiknya menikah dengan keluarga yang
tidak memiliki silsilah skizofrenia.
Walaupun dalam keluarga tidak ada sil-silah menderita skizofrenia sebaiknya tidak
menikah dengan yang tidak memiliki silsilah skizofrenia dan merupakan keluarga jauh.
Sebaiknya penderita atau bekas penderita skizofrenia tidak saling menikah.

2) Psikoedukatif
Beberapa sikap yang harus diperhatikan orang tua dalam membina mental-emosional dan
mental-intelektual anak yaitu:

Sikap pertama adalah kemampuan untuk percaya pada kebaikan orang lain.
Sikap kedua adalah sikap terbuka.
Sikap ketiga adalah anak mampu menerima kata tidak atau kemampuan pengendalian diri
terhadap hal-hal yang mengecewakan, kalau tidak anak akan sulit bergaul dan belajar di
sekolah.

3) Perawatan skizofrenia oleh keluarga


beberapa hal penting yang harus dilakukan keluarga dalam upaya penyesuaian diri dengan
kehadiran skizofrenia dalam system mereka dan cara mengatasinya.
a. Aktif mencari informasi atau psikoedukasi. Informasi-informasi yang akurat tentang
skizofrenia, gejala-gejalanya, kemungkinan perjalanan penyakitnya, berbagai bantuan
medis dan psikologis yang dapat meringankan gejala skizofrenia merupakan sebagai
informasi vital yang sangat dibutuhkan keluarga.
b. Keluarga perlu memiliki Sikap yang tepat adalah SAFE ( Sense of humor, Accepting the
illness, family balance, Expectations which are realistic ).
c. Support group bila mana keluarga menghadapi skizofrenia dalam keluarga mereka
seorang diri, beban itu akan terasa sangat berat, namun bila keluarga keluarga yang sama-

sama memiliki anggota keluarga skizofrenia bergabung bersama maka beban mereka
akan terasa lebih ringan dan saling menguatkan,
d. Family therapy (Object relations family therapy) Family therapy dapat menjadi bagian
dari rangkaian upaya membantu keluarga agar sebagai suatu system meningkat
kohensivitasnya dan lebih mampu melakukan penyesuaian diri. Keluarga harus
membantu menumbuhkan sikap mandiri dalam diri si penderita seperti melibatkan dalam
kegiatan sehari-hari dan mereka harus sabar dan menerima kenyataan.
e. Keluarga harus tetap bersikap menerima, tetap berkomunikasi dan tidak mengasingkan
penderita. Tindakan kasar, bentakan atau mengucilkan malah akan membuat penderita
semakin depresi bahkan cenderung bersikap kasar.
f. Keluarga menanggung beban dan tanggung jawab merawat anggota keluarga yang sakit,
Sikap keluarga terhadap penderita dapat ditentukan dengan apa yang disebut EE
(Emitional Expresion) yang terdiri atas kritikan atau komentar negative, emosional over
involvement, permusuhan terhadap penderita, ketidak puasan dan kehangatan.
Referensi
1. Kaplan and Sadock, Synopsis of psychiatry, 7th edition, William and Wilkins.
2. Departemen Kesehatan RI.Pedoman penggolongan dan diagnosis Gangguan jiwa di
Indonesia III, cetakan pertama, 1993.
3. World Health Organization. Diagnostic and management guidelines for mental disorders
in primary care: ICD-10 chapter V, primary care version. Seattle: Hogrefe & Huber
Publishers. 4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Pedoman
Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa/Psikiatri, 2012.

03. Skizofrenia Paranoid


Masalah Kesehatan
skizofrenia paranoid. Jenis ini ditandai oleh keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham
atau halusinasi, dan tidak ada perilaku pada tipe terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik
skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kebesaran atau waham kejar,
jalannya penyakit agak konstan (Kaplan dan Sadock, 1998). Pikiran melayang (Flight of ideas)
lebih sering terdapat pada mania, pada skizofrenia lebih sering inkoherensi (Maramis, 1998).
Kriteria waktunya berdasarkan pada teori Townsend (1998), yang mengatakan kondisi klien jiwa
sulit diramalkan, karena setiap saat dapat berubah.
Skizofrenia paranoid adalah salah satu dari beberapa jenis skizofrenia, yaitu suatu penyakit
mental yang kronis di mana seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan/ realitas (psikosis).
Gambaran umum dari skizofrenia paranoid adalah adanya delusi (waham) dan mendengar halhal yang tidak nyata.
Penderita dengan skizofrenia paranoid, kemampuan mereka dalamberpikir dan berfungsi dalam
kehidupan sehari-hari mungkin lebih baik dibandingkan dengan jenis lain dari skizofrenia.
Mereka mungkin tidak memiliki banyak masalah dengan emosi, ingatan, konsentrasi. Namun,
skizofrenia paranoid adalah suatu kondisi serius, sering seumur hidup yang dapat menyebabkan
banyak komplikasi, termasuk perilaku bunuh diri.
Faktor Risiko
1. Pengaruh Genetik
2. Usia
3. Social
4. Obat
5. Psikologis
Faktor Predisposisi
1. Biologi
2. Psikologis
3. Genetic
4. sosiokultural
Tanda dan Gejala
Pada skizofrenia paranoid gambaran utama yang menonjol adalah:
1. Waham kejar atau waham kebesaran, misalnya kelahiran luar biasa (excited birth), urusan
penyelamat bangsa, dunia dan agama, seperti misalnya kenabian atau mesias, perubahan
tubuh atau halusinasi yang mengandung isi kerajaan/kebesaran.
2. Halusinasi pendengaran halusinasi, seperti mendengar suara-suara
3. Delusi, seperti percaya rekan kerja ingin meracuni Anda
Delusi (waham) dan halusinasi adalah gejala yang membuat skizofrenia paranoid paling
berbeda dari jenis lain dari skizofrenia.

Gambaran penyertanya meliputi:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kegelisahan, kecemasan tak berfokus.


kemarahan
emosi datar
kekerasan
Banyak berargumentasi (berdebat)
Merasa diri penting atau memandang orang lain rendah.
Pikiran dan perilaku bunuh diri
Sebagai tambahan, waham cemburu dapat pula ditemukan.
Kadang ditemukan kebingungan tentang identitas jenis atau ketakutan bahwa
dirinya diduga oleh orang lain sebagai orang-orang homoseksual.
10. Onset tipe ini cenderung timbul dalam usia yang lebih lanjut dibandingkan dengan
tipe lainnya, dan ciri-cirinya lebih stabil dalam jangka panjang. Apabila seseorang
penderita skizofrenia tipe paranoid mempunyai keluarga yang menderita skizofrenia
biasanya anggota keluarganya menderita skizofrenia tipe paranoid.
11. Dengan skizofrenia paranoid, mereka cenderung akan terpengaruh oleh masalah
mood (perasaan) atau masalah dengan pemikiran, konsentrasi dan perhatian.
12. Halusinasi suara. Sebuah halusinasi pendengaran adalah persepsi suara suara
dimana tidak ada orang lain yang ikut mendengar. Suara mungkin suara tunggal
atau suara banyak orang. Suara-suara mungkin berbicara baik kepada mereka atau
satu sama lain. Suara-suara tersebut biasanya tidak menyenangkan. Suara suara
tersebut dapat membuat kritik berkelanjutan dari apa yang penderita pikirkan atau
lakukan, atau membuat komentar kejam tentang kesalahan nyata atau kesalahan
khayalan dari penderita. Suara juga dapat memerintahkan penderita melakukan halhal yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain. Bila seseorang memiliki
skizofrenia paranoid, suara-suara tampak nyata. Penderita mungkin berbicara atau
berteriak pada suara tersebut.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
Penegakan Diagnostik (Assessment)
Kriteria Diagnostik Skizofrenia Paranoid:
1.
2.
3.
4.

Waham kejar.
Waham besar.
Waham cemburu.
Halusinasi yang berisi kejaran atau kebesaran.

Kunci diagnosis ini adalah adanya waham. Waham kejaran adalah yang paling umum, namun
pasien dapat mengalami waham kebesaran, di mana mereka memiliki rasa yang berlebihan
mengenai pentingnya, kekuasaan, pengetahuan, atau identitas diri mereka. Waham lain yang
disebutkan terdahulu, seperti merasa dikejar atau dimata-matai, juga dapat terlihat jelas.

Halusinasi pendengaran yang jelas dan nyata dapat rnenyertai waham. Para pasien yang
menderita skizofrenia paranoid sering kali mengalami ideas of reference; mereka memasukkan
berbagai peristiwa yang tidak penting ke dalam kerangka waham dan mengalihkan kepentingan
pribadi mereka ke dalam aktivitas tidak berarti yang dilakukan orang lain. Contohnya, mereka
mengira bahwa potongan percakapan yang tidak sengaja mereka dengar adalah percakapan
tentang diri mereka, bahwa sering munculnya orang yang sama di suatu jalan yang biasa mereka
lalui berarti mereka sedang diawasi, dan bahwa apa yang mereka lihat di televisi atau baca di
majalah dengan satu atau lain cara merujuk pada mereka. Para individu yang mengalami
skizofrenia paranoid selalu cemas.argumentatif, marah, dan kadang kasar. Secara emosional
mereka responsive, meskipun mereka kaku, formal, dan intens kepada oranglain. Mereka juga
lebih sadar dan verbal disbanding para pasien skizofrenia tipe lain. Bahasa yang mereka gunakan
meskipun penuh rujukan pada delusi, tidak mengalamai disorganisasi. Bila ada pasien
skizofrenia yang mengalami masalah hukum, biasanya mereka dari kelompok yang menderita
subtipe paranoid.
Diagnosis Klinis
Diagnosis Banding
Komplikasi
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Konseling & Edukasi
Kriteria Rujukan
Sarana Prasarana
Prognosis
Referensi
1. Kaplan and Sadock, Synopsis of psychiatry, 7th edition, William and Wilkins.
2. Departemen Kesehatan RI.Pedoman penggolongan dan diagnosis Gangguan jiwa di
Indonesia III, cetakan pertama, 1993.
3. World Health Organization. Diagnostic and management guidelines for mental disorders
in primary care: ICD-10 chapter V, primary care version. Seattle: Hogrefe & Huber
Publishers. 4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Pedoman
Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa/Psikiatri, 2012.