You are on page 1of 16

1

2
1
2

Mengapa JKN Wajib Ditolak, Jaminan Kesehatan Khilafah Wajib


Diterapkan
(Tinjauan Konsep dan Realitas).

3
4
Oleh
5
(Rini Syafri , Lajnah Mashlahiyah Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)
6
7
I.
Pendahuluan.
8
Selama beberapa dekade terakhir, imperialis kafir Barat tak henti-hentinya
9mempropagandakan ide jaminan kesehatan kapitalistik ke seluruh penjuru Dunia, utamanya Negeri10Negeri Islam, dan terus mengontrol pelaksanaannya, sekalipun ide batil ini hanyalah membuahkan ke
11sengsaraan di Negara-Negara mereka. Itu semua demi melanggengkan eksistensi dan eksploitasi
12mereka terhadap aspek kesehatan.
13
Tepat 1 Januari 2014, pemerintah Indonesia mulai menerapkan Program Jaminan Kesehatan
14Nasional. Ide ini membawa seperangkat konsep-konsep berfikir yang membius dan menyesatkan
15putra-putri umat yang mulia ini.
16
Sementara itu, sesungguhnya ummat memiliki kekayaan pemikiran cemerlang tentang
17jaminan kesehatan, yaitu jaminan kesehatan khilafah. Sehat untuk semua bukan sekedar mimpi, tapi
18realitas yang dapat dinikmati secara nyata, sebagai janji yang pasti dari Allah swt.
19Allah swt berfirman dalam QS Ibrahim (14): 24 dan 25, yang artinya,Tidakkah kamu memperhatikan
20bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya
21kuat dan cabangnya menjulang ke langit; (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu
22dengan izin Rabnya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu
23ingat.
24
25
II.
Konsep Batil Yang Menyesatkan
26
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sebagaimana jaminan kesehatan kapitalistik umumnya,
27ditopang sejumlah konsep dan logika berfikir yang batil, yang prinsip (terpenting) di antaranya
28adalah:
29
A. Kesehatan/Pelayanan Kesehatan Harus Dikomersialkan.
30
Konsep ini telah dipaksakan World Trade Organization (WTO) diadopsi Dunia,
31khusus nya Negara-Negara anggota WTO. Yaitu berkenaan dengan dimasukkannya layanan
32kesehatan sebagai salah satu layanan dasar yang termaktub dalam kesepakatan perdagangan,
33The General Agreements in Trade on Services (GATS), tahun 1994. Lihat pustaka (2).
34
Sementara itu, bila dicermati konsep-konsep JKN, seperti pembatasan peran
35pemerintah (lihat pembahasan konsep kedua); pembiayaan berbasis pajak dan asuransi wajib
36(lihat pembahasan konsep ke tiga; dan kendali mutu berdasarkan pembayaran sistem paket,
37pelayanan berjenjang, penggajian model kapitasi,( lihat pembahasan konsep ke empat),
38semua itu menunjukkan bahwa jiwa dari JKN ada liberalisasi / komersialisasi kesehatan itu
39sendiri, meski didengung-dengungkan JKN hadir untuk mengatasi bahaya liberalisasi sektor
40kesehatan.
42
B. Pembatasan Peran Pemerintah Sebatas Regulator,Fasilitator.
43
Konsep ini berangkat dari pandangan bahwa institusi penyelenggara asuransi sosial adalah
44entitas yang lebih kapabel dari pada pemerintah dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Hal ini
45ditegaskan dalam sejumlah dokumen, diantaranya adalah tulisan Asih dan Miroslaw, keduanya
46German Technical Cooperation (GTZ), LSM yang berperan aktif membidani kelahiran JKN, bahwa :
47Ide dasar jaminan kesehatan sosial (penulis: Indonesia, JKN) adalah pengalihan tanggung jawab
48penyelenggaraan pelayanan kesehatan dari Pemerintah kepada institusi yang memiliki kemampuan
49tinggi untuk membiayai pelayanan kesehatan atas nama peserta jaminan sosial. (3)
41

4
50
Dalam konteks JKN, tidak diragukan lagi institusi yang dimaksud adalah BPJS (Badan
51Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Yang dapat dipahami dari ayat 1 pasal 1, UU No 24
52Tahun 2011, tentang BPJS, bahwa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat
53BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial.(4)
54Sedangkan wewenang dan kekuasaan BPJS Kesehatan yang luar biasa, mulai dari menagih
55(baca:memaksa) pembayaran dari masyarakat, pengelolaannya, sampai dengan pengelolaan pelayanan
56kesehatan itu sendiri, ditegaskan dalam pasal 11 UU yang sama.
57
Disamping itu yang juga penting adalah BPJS Kesehatan meski merupakan badan hukum
58publik, namun prinsip-prinsip korporasi tetap dijadikan dasar tata kelolanya. Hal ini ditunjukkan
59antara lain oleh butir b pasal 11, tentang wewenang BPJS, yaitu, menempatkan Dana Jaminan Sosial
60untuk investasi jangka pendek dan jangka panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas,
61solvabilitas, kehati-hatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai.(4) Artinya yang dikehendaki
62dan yang terjadi adalah pemberian wewenang tata kelola finansial dan pelayanan publik (pelayanan
63Kesehatan) kepada korporasi atau quasi korporasi, yaitu BPJS Kesehatan.
64
Bila ditelaah lebih jauh, pemikiran ini adalah konsep tata kelola yang baik (Good
65Governance) menurut logika pasar bebas/ neoliberalisme. Ditegaskan hal tersebut dalam tulisan
66berjudul Good Governance and the World Bank, sub bahasan Good governance as pro-market
67governance, lihat pustaka ke (5).
Konsep penyerahan wewenang dan fungsi penting
68pemerintah tersebut kepada korporasi semakin dipertegas dengan diadopsinya Public Private
69Partnership (PPPs) / Kemitraan Pemerintah dan Swasta (KPS) sebagai konsep pembangunan dan tata
70kelola sistem kesehatan di era JKN khususnya, dan pelayanan publik pada umumnya.
71
Sementara itu model tata kelola berbasis KPS hanyalah diformulasi bagi konsep Good
72Governance/Global Governance ala pasar bebas tersebut. Yang mengharamkan pemerintah
73berperan lebih dari sebatas regulator dan fasilitator, sebagaimana terkandung dalam prinsip-prinsip
74good governance, utamanya butir efisien efektif, lihat pustaka (6), dimana tata kelola efektif efiesien
75yang dimaksud adalah yang berbasis tatakelola korporasi, lihat pustaka (5).
76
Konsep ini strategis, karena tampa pemandulan peran pemerintah apa yang dicanangkan
77GATS, yaitu liberalisasi dan eksploitasi besar-besaran sektor kesehatan yang diidam-idamkan
78imperialisme Barat sulit terwujud. Karena itu tidak berlebihan bila KPS dipandang para pengamat
79politik sebagai instrument kunci neo- Liberalisme, (7) dan kuda troya neo-liberalisme.(8)
80
Adapun upaya propagandakan dan penerapan konsep KPS dalam bidang kesehatan terus
81dilakukan pada sejumlah forum internasional, dengan istilah sustainable healthcare,seperti pada
82The Third APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) High Level Meeting on Health and Economy,
83di Nusa Dua Bali, 1-8 September 2013, dan pada OECD Health Ministerial Meeting Paris, 7-8
84October 2010, dengan tema Towards a Sustainable Health Care Model. Disamping juga terus
85dilakukan persiapan sumber daya manusia (SDM) melalui sejumlah intensive course , antara lain yang
86dirancang Asia Network for Health System Strengthening (ANHSS) dan World Bank Institute, pada
87tahun 2011 di Bangkok, dengan materi PPPs pada layanan primer dan rumah sakit; dan tahun 2012 d
88di Makati, Manila (http://www.kki.net). Dan juga persiapan perangkat regulasi yang pro pasar
89tersebut. Bahkan World Bank memberikan pujian atas keseriusan pemerintah Indonesia mengadopsi
90penerapan PPPs (beritasatu.com, Mei 2012).
91
Adapun tentang fakta ketidakmampuan pemerintah menjalankan fungsi aslinya, adalah hal
92niscaya dalam sistem politik sekuler, kapitalistik; sebagaimana halnya kegagalan model Semashko
93di Rusia, lihat pustaka (9), adalah hal yang pasti dari sistem sosialisme. Artinya, tidak dapat realitas
94buruk tersebut dijadikan alasan pembenaran untuk merubah fungsi asli pemerintah, yaitu sebagai
95raaiin (yang berwenang penuh dalam penyelenggaraan urusan rakyat, termasuk pelayanan
96kesehatan).

6
97
Selain itu, adalah tidak benar bahwa tata kelola korporasi selalui lebih efisien. Karena review
98terhadap sejumlah penelitian tidak mendukung asumsi tersebut, lihat di
99http://www.globalhealthhub.org., Juni 2012. Dengan demkian alasan tersebut lebih pada upaya untuk
100mengemban misi neo liberalisme, sebagaimana dikatakan, Negara tidak efisien mengelola sumber
101daya, adalah pandangan yang dikendalikan ideologi neo-Liberalisme. (10)
102
Dia atas semua itu, pembatasan fungsi pemerintah sebatas regulator saja merupakan
103konsep yang bertentangan dengan Islam. Karena Allah swt telah memberikan wewenang dan
104tanggung jawab mulia ini dipundak pemerintah (Khalifah), sebagaimana dituturkan Rasulullah saw ,
105yang artinya, Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala.
106Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya. (HR Al- Bukhari).
107
Sementara itu, pelalain sedikit saja peran penting ini berakibat pada berbagai bahaya dan
108kesengsaraan masyarakat, sebagaimana yang kita saksikan saat ini. Disamping, pembiaran konsep ini
109menguasai benak umat akan semakin menjauhkan umat dari gambaran sistem pemeritahan yang ideal.
110
C. Pembiayaan Dengan Pemalakan, Berdalih Gotong Royong dan Iming-Iming
111
UHC
112
Realitas tak terbantahkan, selama dua abad lebih di bawah naungan peradaban kapitalisme,
113bencana kemanusiaan akibat tata kelola sistem kesehatan liberalistik terus mengancam umat manusia.
114Karena sistem kesehatan berikut keseluruhan komponennya hanyalah pasar/industri yang digerakkan
115oleh uang, kosong dari jiwa pelayanan/sosial, lihat pustaka (13) dan (14).
116
Di Indonesia, industrialisasi pelayanan kesehatan semakin diperparah oleh perubahan
117institusi komponen utama sistem kesehatan milik pemerintah, menjadi korporasi dan quasi korporasi.
118Seperti pem-BLU-an Rumah Sakit-Rumah Sakit Pemerintah, sebagaimana ketentuan Undang Nomor
11944 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, lihat pustaka (15). Yang sejatinya, BLU (Badan Layanan
120Umum, Public Service Agencie) sendiri adalah kuasi korporasi, lihat pustaka (16).
121
Hasilnya, buah pahit harga pelayanan kesehatan yang terus melangit, di tengah- tengah arus
122pembangunan neolib yang memiskinkan lagi meremukan daya tahan tubuh masyarakat. Bahkan
123setiap tahun selama dua tahun terakhir, terjadi kenaikan biaya kesehatan melebihi nilai inflasi, dan di
124Indonesia kenaikan tersebut mencapai 10-13%, demikian hasil survei 2011 Global Medical Trends
125Survey Report dari Towers Watson. (17)
126
Karena itu tidak heran bila tidak henti-hentinya diberitakan media massa pasien miskin yang
127terlambat diberikan bantuan medis bahkan sampai meregang nyawa namun pelayanan kesehatan yang
128dibutuhkan tak kunjung dapat. Tidak sedikit pula yang berhutang dan menjual barang-barang yang
129dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Seperti yang dialami seorang pasien
130JamKesMas di Sulawesi Utara,lihat pustaka ke (18).
131
Lebih jauh lagi, ancaman bencana finansial akibat mahalnya biaya berobatpun meluas.
132Dinyatakan dalam Executive Summary The World Health Report (2010), bahwa Di seluruh Dunia,
133sekitar 150 juta orang menderita bencana finansial setiap tahun, sementara itu 100 juta orang jatuh
134dibawah garis kemiskinan. (19) Demikian pula terjadi kesenjangan akses pelayanan kesehatan yang
135mengerikan, dimana Dua puluh persen perempuan terkaya di Dunia memiliki akses 20 kali lebih
136besar dari pada yang miskin.(19)
137
Di Indonesia, kondisi memprihatinkan ini terindikasi dari tingginya pengeluaran biaya
138kesehatan out of pocket OOP-(pembayaran tunai). Yang mana tahun 2011, nilai OOP Indonesia
139lebih dari 50% dari pengeluaran kesehatan keseluruhan, sementara menurut WHO, OOP 15-20% saja
140sudah beresiko mengakibatkan bencana finansial.(20)
141
Di tengah tengah berbagai kesengsaraan tersebut, yang sesungguhnya adalah buah
142tangan penjajahan Imperialisme Barat dan kebijakan liberalistik, lembaga multi lateral, WHO, terus
143mempropagandakan jaminan kesehatan kapitalistik dengan sebutan Universal Health Coverage.
144Seperti pada World Health Assembly ke-65 di Jenewa, 21-26 Mei 2012, dalam press release yang

8
145tertanggal 26 Mai 2012, dinyatakan, Multiple Member States supported the concept of universal
146health coverage. Universal health coverage is the single most powerful concept that public health
147has to offer, added Dr Chan(21). Bahkan pada WHA ke 58, tahun 2005, Negara-Negara anggota
148WHO sepakat mengadopsi konsep UHC, lihat pustaka (22), sebagai model pembiayaan kesehatan
149terbaik, yaitu pembiayaan model State funded system (pembiayaan dari pajak) / beveridge, seperti
150Inggris, dan Negara Anggota persemakmuran; dan Social Health Insurance, dari premi asuransi /
151model bismarck, seperti Jerman, Taiwan, dan Korea Selatan, lihat pustaka (23, 24).
152
153
Pemalakan. Hanya saja bila dicermati, yang sesungguhnya terjadi dengan kedua model
154pembiayaan kesehatan kapitalistik tersebut adalah pengambilan paksa (baca: pemalakan) uang rakyat,
155karena kepesertaan yang bersifat wajib, pada hal tidak ada sama sekali kewajiban rakyat memikul
156tanggung jawab pembiayaan tersebut. Di Indonesia, yang mengadadopsi model social health
157insurance dengan nama JKN, kepesertaan wajib tersebut ditetapkan oleh Undang Undang Nomor 20
158Tahun 2004, tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, butir ke 3, pasal ke 1, yang berbunyi,
159Asuransi sosial adalah suatu mekanisme pengumpulan dana yang bersifat wajib.(25).
160
Adapun kepesertaan wajib per Januari 2014, diberlakukan bagi 140 juta jiwa (peserta
161jamkesmas,jamkesda, askes,astek dan TNI/ POLRI). Sedangkan kepesertaan wajib bagi semua
162penduduk Indonesia diberlakukan Januari tahun 2019.(26) Konsekuensinya, BPJS Kesehatan
163dibenarkan mengambil paksa (memalak) sejumlah uang masyarakat (pengusaha,pekerja dan non
164pekerja) setiap bulan, selama hidup dan tidak akan dikembalikan, kecuali berupa pelayanan kesehatan
165sesuai standar BPJS Kesehatan, yaitu saat sakit. Tidak hanya itu, pemalakan itu semakin dipertegas
166dengan adanya sangsi berupa denda sejumlah uang bagi peserta wajib yang terlambat membayar
167iuran, lihat pustaka (27).
168
Akibatnya, kesengsaraan masyarakat pasti bertambah, utamanya bagi kelompok
169masyarakat menengah (tidak kaya tidak miskin), yang merupakan jumlah terbanyak penduduk
170Indonesia, yaitu 100 juta jiwa, dimana pendapatannya hanya Rp 750.000,- per kapita per bulan, lihat
171pustaka ke (28).
172 Sebagai gambarannya, misalkan suatu keluarga PNS dengan satu isteri, dan tiga anak usia sekolah,
173berpenghasilan per bulan Rp 3.750.000 (5 x Rp 750.000). Sesuai ketentuan besar iuran JKN bagi
174PNS, yaitu 5% dari Gaji per bulan, 2% dibayar oleh pekerja, lihat pustaka (29), maka jumlah uang
175yang harus disetor keluarga tersebut setiap bulan ke BPJS Kesehatan adalah Rp 75.000,- (2% dari Rp
1763.750.000).
177
Misalnya lagi, peserta pekerja bukan penerima upah, seperti tukang bakso, pewarung nasi,
178harus membayar iuran per orang per bulan Rp.25.500,- untuk pelayanan di ruang perawatan Kelas
179III; Rp.42.500,- untuk pelayanan di ruang perawatan Kelas II;dan Rp.59.500,- untuk ruang perawatan
180Kelas I, lihat pustaka ke (29). Sementara itu jutaan kel PNS dan tukang bakso tersebut juga harus
181mengeluarkan biaya untuk listrik, air bersih, telp/ hp, transportasi, pendidikan anak-anak, rumah,
182pangan, pakaian, yang harganya terus melangit.
183
Tentu saja tidak dapat dikatakan, itu lebih baik dari pada harus mengeluarkan biaya yang
184nilainya jutaan bahkan puluhan juta di saat sakit, atau hitung-hitung menabung, sekalipun benar
185ketika sakit ia harus mengeluarkan biaya besar untuk berobat. Karena sejatinya masyarakat harus
186dijamin pemerintah pelayanan kesehatan gratis berkualitas, tampa harus mengeluarkan biaya
187sepeserpun.
Ini belum lagi persoalan tambahan iuran bila jumlah anak atau anggota
188keluarga lebih dari 5 orang bagi PNS misalnya. Disamping tidak dijaminnya pelayanan kesehatan
189untuk penyakit yang terkategori wabah, lihat pustaka (27), sementara pada saat itu masyarakat pasti
190sangat membutuhkan pelayanan kesehatan. Bila seperti ini faktanya, bagaimana bisa dikatakan semua
191ini sebagai wujud gotong royong, yang kaya membantu yang miskin, yang sehat membantu yang
192lemah?
193

10
194
Iming-Iming UHC. Sementara itu, mimpi-mimpi indah bila UHC terwujud, kepesertaan
195JKN melingkupi seluruh masyarakat Indonesia, seperti gratis berobat apa saja kapan saja dimana saja,
196tidak ada lagi diskriminasi, terus diopinikan pada berbagai forum sosialisasi JKN. Misal, pada forum
197sosialisasi JKN untuk media massa, 22 Agustus 2013, dinyatakan drg. Usman Sumantri, MSc, Ka
198Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan Kemenkes, Mau cuci darah 1000 kali juga gratis, tidak ada
199batasan. Tidak akan ada lagi orang yang menjadi sadikin (sakit jadi miskin). Tidak akan ada lagi
200pasien yang meninggal karena dipingpong dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain.
201(majalahkesehatan.com, 23 Agustus 2013. JKN: Agar Setiap Orang Dapat Berobat Gratis).
202
Adapun yang mendasari pandangan tersebut adalah logika batil asuransi, yaitu apa yang
203dinamakan dengan mekanisme pengumpulan resiko (risk pooling), berdasarkan formulasi 2p , p:
204jumlah peserta. Artinya, terkait dengan tiga dimensi yang akan dicapai UHC, yaitu cakupan, manfaat
205dan iuran, lihat pustaka (19), maka makin luas cakupan, makin dalam manfaat, makin sedikit iuran
206(premi). Dan perusahaan asuransi (BPJS Kesehatan) akan untung bila peserta 50.000 jiwa per Health
207Manage Organization, lihat pustaka ke (23). Karenanya target pencapaian peserta semesta adalah
208prioritas utama JKN, lihat pustakan (30). Adapun maksimalisasi manfaat dan minimalisasi iuran
209akan diperoleh seiring tercapainya cakupan semesta, lihat pustaka (19), dan kesuksesan
210mengefisienkan pengeluaran melalui konsep pembayaran tagihan casemix, sistem referral dan upaya
211preventif di tingkat individu dan keluarga.
212
Hanya saja, bila dicermati secara mendalam dan komprehensif, logika UHC sungguh tidak
213masuk akal. Karena sumber berbagai persoalan, termasuk persoalan tingginya unit cost, yang
214membelit dunia pelayanan kesehatan saat ini adalah tata kelola sistem kesehatan yang liberalistik.
215Sementara itu konsep prinsip BPJS Kesehatan yang merupakan institusi penggerak utama UHC,
216justru memperluas ruang neoliberalisasi sistem kesehatan. Karenanya yang pasti terjadi seiring
217peningkatan kepesertaan adalah kenaikan unit cost. Disamping beban biaya asuransi yang makin
218berat akibat kegagalan menekan biaya upaya kuratif karena konsep upaya preventif yang tidak
219rasional (lihat pembahasan I.C).
220
Hasilnya, sekalipun coverage (cakupan) kepesertaan 100%, namun kecurangan,
221diskriminasi, mahalnya biaya berobat terus saja membebani masyarakat, (lihat pembahasan III,
222Kegagalan sistem jaminan kapitalistik). Artinya ini bukti bahwa persoalannya bukan buruknya
223pelaksanaan konsep, atau konsep tersebut baru diterapkan, akan tetapi konsep UHC itu sendiri yang
224batil.
225
Selain itu, potensi diskriminasi dan buruknya kualitas pelayanan juga terlihat jelas dari
226pemisahan manfaat medis dan non medis, lihat pustaka (27). Karena dari aspek insaniyah, siapapun
227yang sakit, apapun status sosialnya, sejatinya tidak saja membutuhkan pelayanan medis terbaik tetapi
228juga pelayanan non medis, seperti ruang perawatan yang nyaman, waktu tunggu yang singkat. Lebih
229jauh lagi dalam realitasnya seringkali perolehan manfaat medis dipengaruhi akses terhadap manfaat
230non medis. Misal, akses terhadap layanan transportasi yang buruk akan memperlambat perolehan
231manfaat medis.
232
Potensi diskriminasi semakin besar terdapat dalam konsep minimalisnya iuran yang
233dibayarkan pemerintah bagi kelompok Penerima Bantuan Iuran (PBI), per kepala per bulan hanya Rp
23419.225 (kompas.com, Senin, 9 September 2013. Pengelolaan Jamkesmas Diserahkan pada PT
235ASKES). Sementara menurut perhitungan Ikatan Dokter Indonesia, nilai iuran PBI yang sesuai
236dengan nilai keekonomian adalah Rp 60.000 per kepala per bulan (detiknews.com, 24 OKtober 2013.
237Dokter-Dokter Demo Naik Metro Mini ke Istana). Sementara itu, kelompok PBI hanya boleh
238mengakses ambulans dan akomodasi kelas III, lihat pustaka (27).
239
Tidak dapat dikatakan, kalau mau gratis ya kelas III, atau juga tidak dapat dikatakan
240masih untung digratiskan pemerintah. Hal ini karena menjamin pelayanan kesehatan gratis
241berkualitas terbaik bagi siapa saja merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah. Disamping
242faktanya terjadi pengabaian aspek kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan sama sekali, sekalipun

11

12
243hanya kepada seorang pasien, apa lagi bila terjadi secara massal. Diperkirakan peserta PBI 97, 4 juta
244jiwa, yang terdiri dari peserta jamkesmas 86,4 juta jiwa, dan peserta jamkesda 11 juta jiwa, lihat
245pustaka (26).
246Dengan demikian jelaslah harapan-harapan indah UHC, lihat pustaka (31), sesunguhnya hanya iming247iming belaka.
248
249
C. Kendali Mutu Dengan Pembayaran Sistem Paket, Pelayanan Berjenjang, dan
250Upaya Preventif Kapitalistik
251
Sudah menjadi rahasia umum, tata kelola sistem kesehatan kapitalistik sarat dengan
252agenda imperialis, yang tak hanya membahayakan kesehatan tetapi juga jiwa pasien. Akibatnya,
253selain sangat mahal, juga dilingkupi berbagai kejadian berbahaya. Seperti yang ditunjukkan oleh
254hasil studi Jah et al., dipublikasi BMJ Qual Saf 2013;22:809815. Dimana setiap tahun terdapat 42, 7
255juta kejadian buruk di rumah sakit, yaitu Catheter-related Urinary Tract Infection (infeksi saluran
256urin sehubungan pemakaian kateter), infeksi nosokomial pnemonia (infeksi dapatan di rumah sakit),
257decubitus ulcus (luka tekan), Venous thromboembolisms (penyumbatan aliran darah oleh darah yang
258membeku), kejadian berbahaya akibat pemberian obat, dan Catheter-Related blood stream
259infections. Lihat pustaka (32).
260
Sistem Paket. Hanya saja, dalam pandangan jaminanan kesehatan kapitalistik, penggunan
261konsep pembayaran sistem paket (casemix funding ) dianggap tidak saja penting untuk meningkatkan
262efisiensi, namun juga dinilai berfungsi sebagai kendali mutu. Karenanya konsep liberal ini digunakan
263secara luas sejak tahun 1994 hingga saat ini. Lihat pustaka (33).
264
Di Indonesia yang digunakan saat ini casemix INA-CBGs (Indonesia Case Base Group's),
265sebagaimana ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia Nomor 440 tahun 2012, tentang Tarif
266Rumah Sakit Berdasarkan INA CBGs, lihat pustaka (34). Selanjutnya, kebijakan ini di era JKN akan
267digunkan sebagai konsep pembayaran tagihan rawat inap dan rawat jalan pelayanan kesehatan
268sekunder dan tersier, lihat pustaka (35).
269
Hanya saja bila dicermati secara mendalam, konsep casemix funding sesungguhnya lebih
270mengedepankan pertimbangan bisnis dari pada kesehatan dan jiwa pasien. Ini terlihat dari
271penggunaan pengajuan klaim yang didasari biaya diagnosis atau kasus yang relatif sama, bukan yang
272real dihadapi masing-masing pasien, pada hal satu tindakan medis saja yang tidak diberikan saat
273pasien membutuhkannya dapat berakibat fatal terhadap kesehatan bahkan jiwa pasien. Artinya konsep
274pembayaran sistem paket, telah menistakan sisi insniyah manusia, dan memandang manusia tidak
275lebih dari benda mati yang bisa diperlakukan sesuka hati.
276
Lebih jauh lagi, sejumlah penelitian telah membuktikan bahaya konsep casemix funding
277terhadap kesehatan dan keselamatan jiwa pasien. Seperti penelitian yang menunjukkan bahwa banyak
278grup dengan kasus maupun penggunaan sumber daya yang sangat bervariasi (Horn dan Sharkey,
2791983) dalan Henny (2007), lihat pustaka (24); dan penelitian Halling, Fridh dan Ovhed (2006)
280terhadap The Johns Hopkins ACG Case-Mix System, bahwa sensitivititas sistem ini hanya sekitar
28150% , lihat pustaka (36).
282
Sementara itu, konsekuensi dari logika bisnis, perusahaan asuransi cenderung menetapkan
283tarif paket yang rendah. Seperti yang ditunjukkan penelitian Sari, Pramantara S dan Rahmawati
284(2012), lihat pustaka (37); Penelitian Devitra, Estiena dan Basuddin (2011), bahwa ALS (Avarage
285Long of Stay) , rata-rata waktu tinggal di rumah sakit pasien penderita stroke yang di rawat di RS
286Strok Nasional Bukit Tinggi, lebih lama dari standar INA CBGs, lihat pustaka (38).
287
Persoalan berikutnya adalah sistem INA-CBGs sendiri yang cukup rentan terhadap fraud
288(kecurangan). Di Amerika Serikat potensi kecurangan 3 10%).
289(www.kebijakankesehatanindonesia.net). Disamping persoalan rentannya Clinical Pathway , yang
290merupakan kunci utama untuk masuk ke sistem INA CBGs, ditumpangi kepentingan korporasi,
291seperti melalui evidence based penelitian yang dibawah kontrol korporasi farmasi. Akibatnya, selain

13

14
292tetap mahal, bahaya bencana buruknya kualitas pelayanan kesehatan terus mengancam jutaan jiwa
293masyarakat.
294
295
Pelayanan Berjenjang, adalah konsep berikutnya untuk kendali biaya dan mutu ala pasar
296bebas, yang telah diterapkan di Indonesia untuk pasien ASKES. Dan untuk pasien jaminan kesehatan
297sosial, ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pedoman
298Pelaksanaan Program JamKesMas, lihat pustaka (39), yang juga akan digunakan pada JKN, lihat
299pustaka (35). Dimana pelayanan kesehatan primer merupakan gerbang untuk masyarakat memanfaat
300pelayanan kesehatan yang lebih lanjut.
301
Karenanya seorang dokter pelayanan primer harus kompeten menegakkan diagnosis secara
302cepat dan tepat, selanjutnya juga kompeten mememberikan pengobatan yang cepat dan tepat. Namun
303apa jadinya bila kompetensi yang dipersiapkan untuk dokter keluarga justru untuk upaya promotif
304preventif, demikian pula dengan fasilitas medis dan lain-lain di pelayanan kesehatan primer ?
305sebagaimana dicanangkan bahwa fungsi pelayanan primer ditekankan pada upaya preventif. Dan apa
306jadinya bila ada kekurangan fasilitas kesehatan primer dalam jumlah puluhan ribu?
307
Berdasarkan perhitungan Perhimpunan Klinik dan dan Fasilitas Kesehatan Primer Indonesia
308(PKFI) , untuk melayani 123 juta peserta, dibutuhkan minimal 41 ribu fasilitas kesehatan primer agar
309rasio dokter melayani pasien bisa berjumlah 1 berbanding 3 ribu pasien. Jika saat ini baru ada 15.100
310unit fasilitas kesehatan, artinya masih defisit 25.900 unit primer lagi.(metronews.com. 15 September
3112013. JKN Bakal Kekurangan Sarana Kesehatan Primer).
312
Sementara itu setiap pasien JKN harus mengikuti sistem pelayanan rujukan, meski ia harus
313segera (bisa dalam hitungan menit, jika tidak nyawa melayang) mendapat tindakan operasi karena
314kegawatdaruratan obstetrik misalnya, atau butuh penanganan segera oleh dokter spesialis jantung
315karena kegawatdarutan jantung misalnya. Akibatnya, biasanya karena waktu tunggu yang lama,
316hambatan transportasi, terutama pasien kelas III, yang terjadi adalah keterlambatan penanganan.
317Tidak saja penyakit semakin parah, bahkan sering berujung pada kehilangan nyawa pasien. Seperti
318kematian yang menimpa bayi malang Naila, ditenggarai akibat terlambat penanganan, lihat pustaka
319(40).
320
Tragisnya lagi, pasien JKN yang tidak mengikuti sistem rujukan meskipun karena alasan
321kebutuhan medis yang dirasakannya, namun tidak memiliki bukti itu adala kegawatdaruratan medis,
322maka ia harus membayar sendiri, atau tidak akan dilayani jika tidak mampu membayar, lihat pustaka
323(27).
324
Lebih jauh lagi, sesungguhnya konsep sistem rujukan telah menafikan prinisp pentingnya
325penanganan penyakit secara cepat dan tepat. Alasan efisiensi yang sering dipropagandakan
326sesungguhnya hanyalah upaya memalingkan umat dari realitas kegagalan sistem kesehatan kapitalis
327menyediakan SDM kesehatan berkualitas dalam jumlah yang memadai dengan sebaran merata,
328kegagalan menjamin ketersediaan peralatan kedokteran dengan kualitas terbaik secara memadai bagi
329seluruh pasien, dan berbagai kegagalan lainnya. Hasilnya, kualitas pelayanan tetap buruk dan
330masyarakat tetap harus membayar mahal. (Lihat pembahasan Kegagalan Jaminan Kesehatan
331Kapitalistik).
332
333
Upaya Preventif Kapitalistik. Sebagaimana halnya konsep pembayaran casemix dan sistem
334rujukan, upaya preventif juga dinilai penting untuk menekan biaya upaya kuratif yang mahal, di
335tingkat pelayanan primer, yang ujungnya diharapkan meningkatkan kualitas upaya kuratif.
336Hanya saja dalam mind set JKN upaya promotif preventif dipusatkan pada pelayanan kesehatan
337primer dan fungsi dokter keluarga sebagai kedokteran pencegahan. Hal ini tergambar dari salah satu
338nilai utama yang dianut kedokteran keluarga, bahwa kedokteran keluarga adalah kedokteran
339pencegahan. Disamping itu juga terlihat dari cara pandang terhadap peran keluarga dalam hal upaya

15

16
340preventif. Yaitu Masalah kesehatan pasien sering disebabkan oleh masalah pada keluarga, lihat
341pustaka (41, 42). Seiring kepentingan pencapaian upaya preventif tersebut, maka dokter keluarga
342dimotivasi dengan penggajian sistem kapitasi, upah maksimal akan diperoleh bila tidak ada pasiennya
343yang sakit, lihat pustaka (35).
344
Tidak ada perdebatan bahwa mencegah jauh lebih dari pada mengobati, sehingga perlu ada
345upaya preventif yang serius. Hanya saja bila upaya preventif dicukupkan pada tataran individu dan
346keluarga, sementara berbagai kebijakan yang dekstruktif terhadap upaya preventif tersebut tetap
347dibiarkan, dapat dipastikan upaya ini tidak akan banyak memberi manfaat, disamping juga akan
348menimbulkan kejenuhan, khususnya bagi dokter keluarga yang menangani masyarakat miskin.
349Mengapa demikian?
350
Misal, hidup bersih dan sehat, jelas prasyaratnya adalah ketersediaan air bersih yang
351memadai di tingkat rumah tangga. Sementara yang kita saksikan saat ini seiring kebijakan pemerintah
352meliberalkan tata kelola Sumber Daya Air, harga air bersih semakin mahal, disamping semakin
353meluasnya wilayah yang mengalami krisis air bersih, lihat pustaka (43). Berdasarkan data Badan
354Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pekerjaan Umum 2012, sampai akhir tahun lalu hanya 58,05
355persen masyarakat mendapatkan akses air minum layak." (liputan6. com. 18 Oktober 2013. Target Air
356Bersih di 2015 Perlu Kerja Keras 3 Kali Lipat}.
357
Karena itu, dapat dipastikan angka kesakitan tetap tinggi, bahkan dapat lebih parah lagi.
358Disamping bahaya moral hazard akibat beban kerja dokter yang terlalu berat sementara gajinya
359sedikit. Dimana dengan nilai iuran PBI RP 19.225, per kepala dokter keluarga hanya digaji Rp 75.000
360per orang/ pasien. Hasilnya, pelayanan kesehatan berkualitas hanyalah ilusi belaka.
361
Inilah realitas kesesatan konsep jaminanan kesehatan nasional. Yang bila diterapkan pasti
362hanya memperparah kesengsaraan masyarakat. Ibarat pohon yang akarnya busuk, berulat, jelas tidak
363akan pernah menghasilkan buah yang baik.
364
Mari kita renungkan kembali, firman Allah swt dalam QS Ibrahim (14): 24 dan 25, yang
365artinya,Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang
366baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit; (pohon) itu
367menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan izin Rabnya. Dan Allah membuat perumpamaan
368itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.
369
III.
Fakta-Fakta Kegagalan Jaminan Kesehatan Kapitalis
370
Sangat jelas kebatilan konsep jaminan kesehatan kapitalistik, JKN. Karenanya penerapan
371konsep tersebut hanyalah berujung pada kesengsaraan dan bencana kemanusiaan walau
372bagaimanapun bagus implementasinya, berapa lamapun pelaksanaannya. Adapun tentang fakta-fakta
373kegagalan sistem jaminan kapitalis sekalipun jarang dipaparkan secara gamblang pada masyarakat
374luas, namun cepat atau lambat pasti terbongkar. Ibarat menyimpan daging busuk, cepat atau lambat
375pasti akan tercium aroma tak sedapnya.
376
United Kingdom, Australia, Jerman, Netherland, New Zeland, dan Canada adalah
377Negara-Negara yang telah menerapakan kebijakan skema jaminan kesehatan universal , selama
378puluhan tahun, bahkan ada yang lebih setengah abad, namun persoalan beban biaya, diskriminasi, dan
379berbagai persoalan serius lainnya tetap tidak mampu diatasi, seperti ditunjukkan oleh penelitian
380Schoen et al., (2007).
381
Penelitian interview pengalaman orang dewasa (berusia 18 tahun atau lebih) dari Negara382Negara tersebut menunjukkan berbagai persoalan serius berikut:1. Sistem kesehatan di Negara383Negara tersebut buruk, karena itu dibutuhkan perubahan fundamental, demikian dinyatakan 49 s.d
38460% responden; 2. Hanya 24-59% responden percaya akan memperoleh layanan kesehatan
385berkualitas dan aman, obat mujarab dan teknologi kedokteran terbaik.
386
Selanjutnya, 3. Adanya tambahan beban biaya, mengakibatkan 1-19% responden tidak
387menebus resep, sakit tapi tidak ke dokter, mangkir dari test, treatmen dan follow up pengobatan; 4.

17

18
388Sebanyak 4-19% responden harus mengeluarkan biaya tambahan (fee of pocket) lebih dari US $ 1.000
389selama setahun terakhir; 5. Terdapat 1-8% responden tidak mampu/kesulitan membayar tagihan
390pelayanan kesehatan selama setahun terakhir;
391
Berikutnya, 6. Sulitnya akses pada dokter saat sakit. Terdapat 4-30% responden yang harus
392menunggu 6 hari atau lebih; 7. Hanya 5-12% yang mempunyai akses elektronik catatan medis; 8.
393Harus menunggu dua jam atau lebih di ruang emergensi baru kemudian dapat pengobatan, dialami 939446% responden; 9. Waktu tunggu untuk elective atau nonemergency surgery lebih dari 6 bulan,
395dialami oleh 2-15% responden. Ada 10-20% responden yang direkomendasi dokter dengan
396pengobatan yang sedikit atau kurang bermanfaat selama dua tahun terakhir. Lihat pustaka (44).
397
Selain itu, betapa sulitnya akses masyarakat miskin terhapat pelayanan kesehatan di Toronto,
398Canada, diungkapkan penelitian Olah,Gaisano, dan Hwang yang dipublis oleh The CMAJ, April 2,
3992013, 185(6), dengan judul The effect of socioeconomic status on access to primary care: an audit
400study. Dimana para peneliti yang menelpon dengan berpura-pura sebagai pegawai bank atau orang
401kaya memperoleh waktu bertemu dokter 22.6%; sedangkan yang berpura-pura sebagai orang miskin
402(penganggur/penerima bantuan pemerintah hanya 14.3%. Penelitian ini berawal perlakuan
403diskriminadarisi para pasien Dr. Stephen Hwang, yang umumnya mereka adalah kelompok
404masyarakat miskin di Toronto, Canada (Reuters Health, 7 Maret 2013, Even in Canada, wealth
405influences treatment: study). Lihat pustaka (45).
406
Adapun Norwegia, sejak tahun 2006 telah menerapkan skema jaminan kesehatan yang
407mencakup semua penduduk, yang didanai dari pajak. Hasilnya, para pasien harus menunggu lama
408agar dapat pelayanan baik di rumah sakit maupun di pusat-pusat kesehatan lainnya; dan Kondisi sosial
409ekonomi masih mempengaruhi pemanfaatan layanan kesehatan. Hal ini sebagai mana dibuktikan oleh
410hasil penelitian Vikum, Krokstad,dan Westin. Penelitian ini dipublikasi International Journal for
411Equity in Health 2012, 11:48, yang berjudul Socioeconomic inequalities in health care utilisation in
412Norway: the population-based HUNT3 survey. (lihat pustaka 46).
413
Sedang di Cuba, apa yang sesunggunya dialami masyarakat Cuba bertolak belakang
414dengan yang ada dalam Film Sicko. Betapa beratnya penderitaan masyarakat Cuba
415tersebut dipaparkan Ryan Balis, analis kebijakan pada The National Center for Public Policy
416Research, melalui tulisannya yang berjudul Sicko" Presents False View of Cuba's Health System, Ia
417menghimpun berbagai fakta buruk sistem kesehatan Cuba dari berbagai sumber, termasuk dokter,
418perawat dan farmasist yang penah berkerja di layanan kesehatan Cuba. Fakta buruk tersebut antara
419lain, yaitu: 1. Pelayanan kesehatan di Cuba sebenarnya terbagai dua. Yaitu rumah sakit pemerintah
420dengan teknologi terbaik hanya untuk elit partai komunis, dan orang asing (turis kesehatan) yang
421membayar dengan hard currency.
422
Selanjutnya, 2. Waktu tunggu yang sangat lama mengakibatkan masyarakat Cuba yang
423sakit harus membeli secara ilegal dan mahal layanan kesehatan, disamping pembatasan akses
424terhadap rudimentary medicines, seperti antibiotik, aspirin dibatasi. 3. Terdapat laporan bahwa
425penduduk Cuba terlarang mengakses rumah sakit yang disediakan untuk orang asing. Seringkali
426mereka harus membawa tempat tidur lipat dan selimut ketika dirawat.
427
Berikutnya 4. Akibat program The oil for doctors, layanan kesehatan primer tidak
428memiliki dokter selama dua tahun lebih, karena para dokter (14.000 dokter) dan 6000 tenaga kerja
429kesehatan dikontrakan ke Pemerintah Venezuelans, dengan imbalan Pemerintah Cuba menerima
43090.000 barel minyak per hari dengan harga discoun. 5. Program The oil for doctors juga
431mengakibatkan jumlah operasi mata di suatu rumah sakit membubung dari sekitar 15 menjadi lebih
432dari 120 per hari. Akibatnya mutu pelayanan memburuk, banyak pasien yang tidak mendapatkan tes
433preoperative yang penting, sehingga membahayakan kesehatan bahkan nyawa pasien. (lihat pustaka
43447)

19

10

20
435
Sementara di Thailand, meskipun cakupan peserta meningkat, dan penggunaan layanan
436primer juga meningkat, namun qualitas pelayanan tetap bermasalah, demikian pula kualitas dan
437pemerataan akses pelayanan sekunder dan tertier. Lihat pustaka (48)
438
439
IV.
Konsep Prinsip Jaminan Kesehatan Khilafah Yang Agung
440
Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu
441dan sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. TQ An
442Nahl (16): 89. Konsep jaminan kesehatan khilafah adalah konsep yang berasal dari Allah swt,
443rabbulaalamiin. Terpancar dari mata air pemikiran yang bersumber dari-Nya, yaitu Al Quran dan As
444Sunnah. Dipersiapkan Allah swt hanyalah agar menjadi rahmat, kesejahteraan bagi seluruh umat
445manusia,bahkan alam semesta. Adapun diantara yang prinsip dari konsep agung tersebut adalah:
446
447
Pertama: Kesehatan/Pelayanan Kesehatan Adalah Pelayanan Dasar Publik Yang
448Bersifat Sosial.
449Kesehatan/ Pelayanan kesehatan telah ditetapkan Allah swt sebagai
450kebutuhan pokok publik. Yaitu sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw,
451yang artinya, Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapai
452keadaan aman kelompoknya, sehat badanya, memiliki bahan makanan
453untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya. (HR
454Bukhari).
455Hal tersebut aspek pertama, aspek kedua, pemerintah telah diperintahkan
456Allah swt sebagai pihak yang bertanggungjawab langsung dalam
457pemenuhan pelayanan kesehatan, lihat pustaka (11, halaman 186). Ini
458ditunjukkan oleh perbuatan Rasulullah saw. Yaitu ketika beliau dihadiahi
459seorang dokter, dokter tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi
460kebutuhan kaum muslimin, lihat pustaka (12, halaman 128).
461Dari kedua aspek di tersebut terlihat jelas bahwa kesehatan/pelayanan
462kesehatan telah ditetapkan Allah swt sebagai jasa sosial secara totalitas.
463Yaitu mulai jasa dokter, obat-obatan, penggunaan peralatan medis,
464pemeriksaan penunjang, hingga sarana dan pra sarana yang dibutuhkan
465untuk pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai prinsip etik yang
466islami. Tidak boleh dikomersialkan, walaupun hanya secuil kapas, apapun
467alasannya.
468Termasuk tidak diterima alasan, kesehatan harus dikomersialkan agar
469masyarakat termotivasi untuk hidup sehat. Karena, ini persoalan lain,
470lebih dari pada itu ini adalah pandangan yang dikendalikan ideologi
471kapitalis, bukan Islam.
472
Disamping itu faktanya, sebagaimana yang kita saksikan saaat ini,
473komersialisasi kesehatan telah berakibat pada kemudharatan, bahaya,
474kesengsaran pada masyarakat, yang itu semua tidak dibenarkan Allah swt
475terjadi. Demikian ditegaskan Rasulullah saw dalam tuturnya yang mulia,
476artinya, Tidak boleh membuat mudharat (bahaya) pada diri sendiri, dan
477tidak boleh pula membuat mudharat pada orang lain.(HR Ahmad dan
478Ibnu Majah). Dan juga, kita saksikan komersialisasi telah berakibat pada

21

11

22
479penistaan kemanusiaan manusia, yang Allah perintahkan untuk dijaga
480kemuliaannya, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al Isra:70, artinya,
481Sesungguhnya Kami memuliakan anak cucu Adam (manusia)...
482
483
Kedua: Negara bertanggungjawab Penuh.
484
Pemerintah/Negara telah diamanahkan Allah swt sebagai pihak yang bertanggungjawab
485penuh menjamin pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan setiap individu masyarakat. Diberikan
486secara cuma-cuma dengan kualitas terbaik bagi setiap individu masyarakat, tidak saja bagi yang
487miskin tapi juga yang kaya, apapun warna kulit dan agamanya. Tentang tugas penting dan mulia ini
488telah ditegaskan Rasulullah dalam tuturnya, yang artinya,Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin
489manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap
490(urusan) rakyatnya. (HR Al- Bukhari).
491
Sehubungan dengan itu, dipundak pemerintah pulalah terletak tanggung jawab segala sesuatu
492yang diperlukan bagi terwujudnya keterjaminan setiap orang terhadap pembiayaan kesehatan;
493penyediaan dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan; penyediaan dan penyelenggaraan pendidikan
494SDM kesehatan; penyediaan peralatan kedokteran, obat-obatan dan teknologi terkini; sarana pra
495sarana lainnya yang penting bagi terselenggaranya pelayanan kesehatan terbaik, seperti listrik,
496transportasi dan air bersih; dan tata kelola keseluruhannya.
497
Artinya, apapun alasannya merupakan perbuatan batil yang dibenci Allah swt manakala
498fungsi pemerintah dikebiri sebatas regulator dan fasilitator, sementara fungsi dan tanggung jawab
499lainnya, seperti penyelenggaraan/pelaksanaan diserahkan kepada korporasi. Yang demikian karena
500pembatasan fungsi tersebut pasti berujung pada kelalain pemerintah dalam menjalankan tanggung
501jawabnya, yang hal tersebut merupakan perbuatan tercela, sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw,
502artinya Tidak beriman orang yang tidak bisa menjaga amanah yang dibebankan padanya. Dan
503tidak beragama orang yang tidak menepati janjinya (HR Ahmad bin Hambal).
504
Selain itu, pembatasan peran Negara hanya sebagai regulator telah melapangkan jalan bagi
505penjajahan Barat dan hilangnya kemandirian dan kedaulatan Negara. Sementara itu, penjajahan
506apapun bentuknya diharamkan Allah swt, demikian firman-NYa,QS An Nisa(4): 141, artinya, Allah
507sekali-kali tidak akan memberikan jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang mukmin.
508
Adapun tentang peran masyarakat, swasta, bila dipandang penting peran tersebut, seperti
509ketika Negara tidak memiliki teknologi kedokteran tertentu, pada hal sangat dibutuhkan masyarakat,
510maka dibatasi pada transaksi jual beli atau yang semisal, tidak boleh lebih dari pada itu. Disamping
511diberikan arahan dan motivasi agar beramal sholeh, seperti wakaf, dan shadaqah.
512Penting diketahui, ini tidak berarti jaminan kesehatan khilafah sama dengan jaminan model semasko
513di Rusia dan Polandia. Karena keduanya berbeda sama sekali, dari sisi manapun.
514
Ketiga: Pembiayaan Berkelanjutan Yang Sesungguhnya.
515
Pembiayaan jaminan kesehatan Khilafah adalah model pembiayaan berkelanjutan yang
516sesungguhnya, setidaknya dikarenakan dua hal, Pertama, pengeluaran untuk pembiayaan kesehatan
517telah ditetapkan Allah swt sebagai salah satu pos pengeluaran pada baitul maal, dengan pengeluaran
518yang bersifat mutlak. Artinya, sekalipun tidak mencukupi dan atau tidak ada harta tersedia di pos
519yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan, sementara ada kebutuhan pengeluaran untuk
520pembiayaan pelayanan kesehatan, seperti pembiayaan pembangunan rumah sakit, maka ketika itu
521dibenarkan adanya penarikan pajak yang bersifat sementara, sebesar yang dibutuhkan saja. Jika
522upaya ini berakibat pada terjadinya kemudaratan pada masyarakat, Allah swt telah mengizinkan
523Negara berhutang, lihat pustaka (49, halaman 235-237, 245).
524
Hanya saja penting dicatat, pajak tersebut jauh berbeda dengan pajak dalam pengertian
525kapitalisme karena selain bersifat temporal juga hanya diambil dari harta orang kaya yang

23

12

24
526didefinisikan secara islami, yaitu kelebihan harta individu masyarakat yang sudah terpenuhi semua
527kebutuhan pokoknya, dan kebutuhan sekundernya secara maruf, lihat pustaka (49, halaman 247).
528Hutang yang dimaksud adalah hutang yang sesuai ketentuan syara.
529
Kedua, sumber-sumber pemasukan untuk pembiayaan kesehatan,sesungguhnya telah
530didesain Allah swt sedemikian sehingga memadai untuk pembiayaan yang berkelanjutan, itu adalah
531hal yang pasti bagi Allah. Yang salah satunya berasal dari barang tambang yang jumlahnya
532berlimpah. Yaitu mulai dari tambang batu bara, gas bumi, minyak bumi, hingga tambang emas dan
533berbagai logam mulia lainnya, yang jumlahnya berlimpah. Lihat pustaka (50).
534Baitul mal adalah Anggaran Pendapatan Belanjan Negara Khilafah, dimana tidak sepeserpun harta
535yang masuk maupun yang keluar kecuali sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Model APBN ini
536meniscayakan Negara memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk menjalankan berbagai
537fungsinya.
538
Pembiayaan dan pengeluaran tersebut diperuntukan bagi terwujudnya pelayanan
539kesehatan gratis berkualitas terbaik bagi semua individu masyarakat. Yaitu mulai dari pembiayaan
540pembangunan semua komponen sistem kesehatan, seperti penyelenggaran pendidikan SDM kesehatan
541berkualitas secara gratis dalam rangka menghasilkan SDM kesehatan berkualitas dalam jumlah yang
542memadai ; penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dengan segala kelengkapannya; industri peralatan
543kedokteran dan obat-obatan; penyelenggaraan riset biomedik, kedokteran ; hingga seluruh sarana pra
544sarana yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan, seperti listrik, air bersih dan
545transportasi
546
Dengan demikian Islam tidak mengenal pembiayaan berbasis pajak, asuransi wajib,
547pembiayaan berbasis kinerja, karena semua itu konsep batil yang diharamkan Allah swt.
548
549
Keempat: Kendali Mutu Yang Sesungguhnya.
550
Konsep kendali mutu jaminan kesehatan khilafah berpedoman pada tiga strategi utama,
551administrasi yang simple, segera dalam pelaksanaan, dan dilaksanakan oleh personal yang kapabel.
552Yang demikian karena Rasulullah saw telah bersabda, artinya, Sesungguhnya Allah swt telah
553mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu.. (HR Muslim). Lihat pustaka (12, halaman 133).
554
Berdasarkan tiga strategi utama tersebut, haruslah pelayanan kesehatan khilafah memenuhi
555kriteria sebagai berikut:a. Berkualitas, yaitu memiliki standar pelayanan yang teruji, lagi selaras
556dengan
557prinsip etik kedokteran Islam; b. Individu pelaksana, seperti SDM kesehatan selain kompeten
558dibidangnya juga seorang yang amanah; c. Available, semua jenis pelayanan kesehatan yang
559dibutuhkan masyarakat mudah diperoleh dan selalu tersedia (continuous); e. Lokasi pelayanan
560kesehatan mudah dicapai (accessible) , tidak ada lagi hambatan geografis.
561
Sesuai sejumlah kriteria tersebut, maka clinical pathways hanya digunakan sebagai panduan
562yang bersifat umum dalam proses tindakan kedokteran dan pelayanan kesehatan. Sementara Case
563Based Groups akan dimanfaatkan sebagai salah satu unsur untuk memperkirakan anggaran yang harus
564disediakan Negara. Dan jelas tidak akan menggunakan konsep pelayanan sistem rujukan.
565
Seiring dengan sejumlah kriteria di atas, maka Negara benar-benar akan memberikan gaji
566yang pantas bagi para SDM kesehatan, disamping memberikan tugas yang memperhatikan aspek
567insaniyahnya. Termasuk dalam hal ini memperhatikan fungsi ummu wa rabbatul bait bagi dokter
568perempuan.
569
Sementara itu, pemerintahan khilafah yang bersifat sentralisasi, dan administrasi yang bersifat
570desentralisasi meniscayakan Khalifah memiliki kewenangan yang memadai untuk mengambil
571keputusan secara cepat dan tepat, serta cepat dalam implementasi kebijakan.
572
Kelima: Upaya Promotif Preventif Berbasis Sistem

25

13

26
573
Sistem kehidupan Islam secara keseluruhan, mulai dari sistem ekonomi Islam, sistem
574pendidikan Khilafah, sistem pergaulan Islam, hingga sistem pemerintah Islam bersifat konstruktif
575terhadap upaya promotif preventif. Sehinga akan terwujud masyarakat dengan pola emosi yang sehat,
576pola makan yang sehat, pola aktivitas yang sehat, kebersihan, lingkungan yang sehat, perilaku seks
577yang sehat, epidemi yang terkarantina dan tercegah dengan baik. Hal ini tidak saja menjadi upaya
578preventif di tingkat keluarga berjalan efektif, namun juga meniscayakan keberhasilan upaya preventif
579tersebut.
580
Demikianlah konsep konsep prinsip jaminan kesehatan khilafah yang cemerlang, yang
581bersumber dari mata air ilmu dan kebenaran, yaitu Al Quran dan As Sunnah, dan apa yang ditunjuki
582oleh keduanya, berupa ijma sahabat dan qias. Inilah konsep yang berasal dari Allah swt, satu-satunya
583konsep yang benar, yang lurus, sebagaimana Allah swt tegaskan dalam berfirman-Nya, QS Al
584Baqarah (2): 147, yang artinya, Kebenaran itu dari Rabmu, maka janganlah sekali-kali engkau
585(Muhammad) termasuk orang yang ragu. Dimana konsep-konsep tersebut adalah bagian integral
586dari keseluruhan konsep sistem kehidupan Islam. Karenanya dibutuhkan sistem politik Islam,
587Khilafah Islam untuk menerapkannya.
588
589
V.
Fakta Jaminan Kesehatan Khilafah Yang Menyejahterakan
590
Sebagai janji yang pasti dari Allah swt, konsep-konsep jaminan kesehatan khilafah
591yang diterapkan oleh sistem politik Islam, Khilafah Islam benar-benar telah menghasilkan
592kesejahteraan spetakular, yang diidamkan setiap anak manusia. Diantaranya adalah: pertama,
593jangankan orang yang sakit, yang berpura-pura sakitpun diberi pelayanan yang patut dan
594pantas bagi seorang anak adam.
595
Hal itu ditunjukkan dari apa yang terjadi pada masa kejayaan Islam. Yaitu seorang yang
596berpura-pura sakit, memasuki rumah sakit yang ada di Negara itu, pada hal ia tidak menderita sakit
597apapun, sementara sang dokter mengetahui bahwa pasien tersebut berpura-pura sakit. Namun ia tetap
598tersenyum dan berpura-pura mengobatinya.
599
Selanjutnya, setelah tiga hari perawatan berlalu, sang dokter menulis sepucuk surat yang
600diberikan pada pasien tersebut di dalamnya ada sejumlah uang untuk mengabarkan habisnya masa
601kunjungan. Si pasienpun mengambil uang tersebut yang cukup baginya sebgai bekal selama ia
602mencari pekerjaan. Kemudian ia keluar dari rumah sakit dengan perasaan mulia. Semua seorang
603tamu yang berkunjung. Lihat pustaka (51).
604
Sementara itu, tentang pada masa kegemilangan peradaban Islam, hampir di setiap kota,
605termasuk kota kecil sekalipun, terdapat rumah sakit, berikut dengan tenaga kesehatan (dokter,
606perawat, bidan, dan lain-lain) berkualitas lagi memadai. Disamping tercukupi peralatan medis dan
607obat-obat yang dibutuhkan.
608
Di Kordoba saja, yang luasnya lebih sedikit dari Propinsi Banten (Kordoba:13.550
609Km2, Propinsi Banten: 8.234,69 Km2), memiliki lebih dari 50 rumah sakit. (lihat pustaka 52). Bila
610Kordoba dibagi menjadi 7 Kabupaten, maka setiap kabupaten terdapat 7-8 rumah sakit. Indonesia
611(1.906.240 Km2) yang luasnya 2000 kali luas Kordoba, hanya memiliki 1.320 rumah sakit (DepKes,
6122009), 1/76 jumlah yang dimiliki Kordoba, idealnya 100.000 RS.
613
Tidak hanya itu, rumah sakit keliling tersedia untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
614kesehatan individu masyarakat di pedesaan, jauh dari perkotaan, atau kesulitan mendatangi rumah
615sakit di perkotaan. Rumah sakit ini diangkut sejumlah unta, bahkan sampai empat puluh unta. Para
616dokter rumah sakit keliling mengunjungi pasien satu per satu, dari rumah ke rumah, demikian pula
617para bidan yang memberikan pelayanan bagi Ibu-Ibu hamil dan bersalin. Lihat pustaka (52, 53).
618
Lebih jauh lagi, di Kota-Kota besar, terdapat sejumlah rumah sakit yang didesain untuk
619pelayanan pasien dan pendidikan. Seperti RS Al Dhudi, di Baghdad, didirikan Adhdu Daulah Ibnu

27

14

28
620Buwaih, 371 H. (lihat pustaka 53). Luar biasa, Rumah sakit ini mampu memberikan pelayanan
621kepada 4000 pasien perhari, bandingkan dengan RSCM, Rumah Sakit Rujukan Nasional, hanya
622mampu memberikan pelayanan maksimal 2000 pasien per hari.
623
Selain itu, rumah sakit-rumah sakit Khilafah benar-benar didesain untuk kesembuhan
624pasien. Ruangan pelayanan yang nyaman, sejuk, asri dan beraroma segar. Para pasien dilayani oleh
625para tenaga kesehatan yang kompeten, professional, berpegang teguh pada etik kedokteran Islam yang
626menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
627
Disamping itu yang tidak kalah spetakulernya adalah keberhasilan upaya preventif Islam
628Hal ini tergambar dari peristiwa bahwa Dokter yang dikirim Kaisar Romawi, selama setahun
629berpraktek di Madinah kesulitan menemukan orang yang sakit.
630
Ini baru sedikit fakta yang disajikan tentang betapa menyejahterakannya jaminan kesehatan
631khilafah. Masih banyak fakta-fakta mengagumkan lain diungkapkan tidak saja oleh sejarawan
632muslim, tetapi juga non muslim. Fakta yang akan kembali hadir dalam waktu dekat, sebagai janji
633yang pasti dari Allah swt. TQS 24:55, Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
634di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan
635menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum
636mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya
637untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam
638ketakutan menjadi aman sentausa. . Allahu Alam.
639
640
VI.
Daftar Pustaka.
641
642
643
644
645
646
647
648

1.
2.
3.

4.

649
650
651

5.
6.

652
653

7.

654
655
656
657
658
659
660
661
662
663
664
665
666
667
668
669
670
671

8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

Al Quran dan Terjemahannya. Departemen Agama RI. 2009.


Drager, N. Trade in Health Services and The General Agreement on Trade in Sevices.
Implication for Health Policy. Hand out. www.who.int/trade/en/Drager2.pdf
Asih Eka Putri dan MiroslowManicki. Pembangunan Sistem Jaminan Kesehatan Sosial:
Bagaimana Jaminan Kesehatan Sosial Dapat Membuat Perubahan? . German Technical
Cooporation, Social Health Insurance Project Indonesia). Jakarta.
(Makalah).www.sjsn.menkokesra.go.id.
Anonim. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial. www.hukum.online.com
Collingwood, V. (edited). Good Governance and the World Bank. www.ucl.a.uk
Graham, J., Amos, B., dan Plumptre, T. Principles for Good Governance in the 21st Century. Policy
Brief No. 15. August 2003. www.isn.ethz.ch.
Hearne, R. Neo-liberalism, Public Services and PPPs in Ireland. Progress in Irish Urban Studies, Vol.
2, 2006, pp 1-14. http://www.publicprivatepartnership.net/documents/Rhearne_PIUS_Vol.2.pdf .
Miraftab, F. Public-Private Partnerships The Trojan Horse of Neoliberal Development? Journal of
Planning Education and Research 24:89-101, 2004.
www.urban.illinois.edu/faculty/miraftab/miraftab/trojan%20horse.pdf.
Russian Health Profiles in Transition (Hand out).
www.bibalex.org/supercourse/lecture/lec20001/index.htm.
Prinja, S. Role of Ideal and Ideologies in Evidence-Based Health Policy. Iranian J Publ Health, Vol:
39, No. 1, 2010, pp. 64-69. journals.tums.ac.ir/pdf/15192.
Al Maliki. Politik Ekonomi Islam. Al Izzah. Bogor. 2008.
Hizbut Tahrir. Ajhizatu Daulatul Khilafah. Hizbut Tahrir. Beirut.
Hsiao, W. C. Abnormal economics in the health sector. Health Policy 32 (1995) 125-139. 2005.
https://www.hsph.harvard.edu/health.../hsiao_1995_-_abnormal_econom.
WHO. Systems Thinking for Health Systems Strengthening. Alliance for Health Policy and Systems
Research. Capria. France. 2009. www.who.int/alliance
Anonim. Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. www.dikti.go.id/files/.../UU44-2009RumahSakit.pdf.
Anonim. Peraturan Pemerintah RI Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum. datahukum.pnri.go.id/index.php?...ppno23th2005

29
30

672
673
674
675
676
677
678
679
680
681
682
683
684
685
686
687
688
689
690
691
692
693
694
695

696
697
698
699
700
701
702
703
704
705
706
707

708
709
710
711
712
713
714
715
716
717
718
719
720
721
722
723
724
725
726
727
728

15
17. Tower Watson. 2011 Global Medical Trends. Survey Report. www.towerswatson.com/.../SurveyResearch.../2011
18. Pasien Jamkesmas Terpaksa Jual Tanah dan Rumah. (Tribunnews.com. Selasa 1 OKtober 2013).
19. Anonim. Executive Summary The World Health Report. Health Systems Financing Path The Universal
Coverage. WHO. 2010. www.who.int/whr/2010/
20. Harimurti, P., Pambudi, E., Pigazzini.A., dan Tandon, A. The Nuts and Bolts of Jamkesmas.
Indonesias Government Financed Health Coverage Program. WHO. Washington, DC. 2013. wwwwds.worldbank.org
21. Anonim. 65th World Health Assembly closes with new global health measures. Release 26 MAY
2012. GENEVA. http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2012.
22. Anonim. World Health Assembly concludes: adopts key resolutions affecting global public
health. 25 Mei 2005. http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2005/pr_wha06/en/
23. D., Henny. Modul Belajar Mengajar: Asuransi dan Manage Care. Program Pasca Sarjana Kesehatan
Masyarakat. UNPAD. 2007. www.scribd.com
24.
Riyarto,S.Tren
Pembiayaan
di
Indonesia:
Model Bismarckian atau Beveridge? Hand out.
25. Anonim. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
26. Mulai Januari 2014, 140 juta Rakyat Bisa Berobat Gratis. Sayangilah.com, Senin, 21 Oktober
2013.Anonim. Bahan Paparan JKN. www.jkn.depkes.go.id
27. Anonim. Buku Saku FAQ BPJS Kesehatan. Kemenkes RI. Jakarta. 2013.
28. Nazara, S. Pembangunan Sosial Menuju Indonesia Maju. Universitas Airlangga, Surabaya 20 Juni
2013. (hand out). www.unair.ac.id.
29. Pokja Regulasi BPJS Kesehatan. Perundang-dangan Pelaksanaan BPJS Kesehatan. (hand out).
www.djsn.go.id.
30. Anonim. Jaminan Kesehatan Untuk Semua. www.depkes.go.id.
31. Anonim. Universal Health Coverage: Five Questions.
32. Jha, AK., Larizgoitia, I., Audera-Lopez, C., Prasopa-Plaizier, N., Waters, A., dan Bates, D.

33.
34.
35.
36.

W. The Global burden of unsafe medical care: analytic modelling of observational studies.
BMJ Qual Saf 2013;22:809815. www.qualitysavety.bmj.com.
Anonim. Casemix Funding History. www.health.vic.gov.
Anonim. Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia Nomor 440 tahun 2012, tentang Tarif
Rumah Sakit Berdasarkan INA CBGs.
Taher, A. Penyiapan Provider Jaminan Kesehatan. Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan,
KemenKes RI. RakerNas DJSN. Merllyn Park Hotel. Jakarta Pusat. 3 Juli 2013.
Halling, A., Fridh, G., Ovhed, I. Validating the Johns Hopkins ACG Case-Mix System of the
elderly in Swedish primary health care. BMC Public Health 2006, 6:171.

37. Sari, R. P., Pramantara, D. P., dan Rahmawati, F. Perbandingan Biaya Riil Dengan Tarif Paket INA
CBGs Dan Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Biaya Riil Pada Pasien Diabetes Melitus Rawat Inap
Jamkesmas di RSUP Dr. Sardjito Yokyakarta. Fakultas Farmasi. UGM. Yokyakarta. 2012. Tesis.
38. Devitra, A. Analisis Implementasi Clinical Pathway Kasus Stoke Berdasarkan INA-CBGs di Rumah
Sakit Sroke Nasional Bukit Tinggi. Tahun 2011. Universitas Andalas. Padang. 2012. Tesis.
39. Anonim. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Program
JamKesMas.
40. Tribunnews.com. 1 November 2013. Bayi Naila Meninggal Karena Lambat Penanganan.
41. Anonim. Pelayanan Kedokteran Keluarga. Hand Out.
42. Lestari, A. Ilmu Kedokteran Keluarga. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
UNS. Hand Out.
43. Rini. Privatisasi Sumber Daya Air Akibatkan Kegagalan Distribusi, Dan Solusi Islam. Makalah.
44. Schoen, C., Osborn, R., Doty, M.M., Bishop, M., Peugh, J., dan Murukutia, N. Toward HigherPerformance Health Systems: Adults Health Care Experiences In Seven Countries, 2007. Health Aff
November 2007 vol. 26 no. 6 w717-w734.
45. Olah, M. E., Gaisano, G., dan Hwang, S. W. The effect of socioeconomic status on access to primary
care: an audit study. The CMAJ, April 2, 2013, 185(6).
46. Access to a regular medical doctor, 2010. Ottawa (ON): Statistics Canada; 2010. Available:
www.statcan.gc.ca/pub/82-625-x /2011001 /article/11456-eng.htm. (accessed 2011 Aug. 22). dalam
Olah, M. E., Gaisano, G., dan Hwang, S. W. The effect of socioeconomic status on access to primary
care: an audit study. The CMAJ, April 2, 2013, 185(6).

31

16

32

729
47. Balis, R. Sicko" Presents False View of Cuba's Health System. The National Center for Public
730
Policy Research. www.flsenate.gov/data/session/2008/House/bills.
731
48. Yiengprugsawan, V., Carmichael, GA., LL- Y Lim, Seubsman, S., dan Sleigh, AC. Explanation of
732
inequality in utilization of ambulatory care before and after universal health insurance in Thailand.
733
http://www.healthpool.
734
49. An Nabhani. An Nidzomul Iqtishodi Fil Islam. Darul Ummah. Beirut. 2005.
735
50. Anonim. Makalah Konferensi Tokoh Umat 1433 H.
736
51. Athiyat, A. Jalan Baru Islam. PTI. Bogor. 1997. hal. 18.
737
52. Al Faruqi, I dan Al Faruqi, L. Atlas Budaya: Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang. Mizan.
738
Bandung. 1998.
739
53. Yamani, J. K. Kedokteran Islam dari Masa ke Masa. Dzikra. Bandung. 2002.
740
54. Al-Ghazali, Sharif Kaf. The Origin of bimaristans (hospitals) in Islamic medical history.
741
http://www.islamicmedicine.or/bimaristan.htm.
742
55. Ragheb, E. Hospital in Islamic civilization. http://en.islamstory.com/hospital-in-islamic743
civilization.html.
744
745Akhiru dawanaa Alhamdulillahirabbil Aalamiin.
746
Depok, Senin, 18 November 2013
747

Rini Syafri