Pengaruh Kondisi Asam dan Basa pada Korosi Basah dan Korosi Atmosferik pada

Logam
Karim, A.B.A. Nusbangga, Dipta. Puspitasari, R.N. Wulandari, R.T. Rehdiansyah,W.R.T.
Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
rizkikynanda@gmail.com, rindy.trisna@gmail.com, widy.rahmat@yahoo.co.id,
kareem1511@hotmail.com, diptastark@gmail.com

ABSTRAK
Pada dunia industri, korosi yang diartikan sebagai karat, yaitu sesuatu yang diangap sebagai musuh
umum pada industri-industri yang ada saat ini. Karat (rust) adalah sebutan yang dikhususkan bagi korosi pda
besi, sedangkan korosi sendiri adalah perusakan suatu material karena bereaksi dengan lingkungannya atau
dapat disebut sebagai gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam. Hal ini dikarenakan pada
industri, rata-rata instrumen yang digunakan menggunakan bahan dasar logam, baik besi, baja, maupun
alumunium. Dimana korosi ini biasa terjadi pada bahan logam. Adapun tujuan dari percobaan ini antara lain
mengenal jenis-jenis korosi, mengetahui pengaruh lingkungan pada logam, dan menghitung laju korosi. Dalam
percobaan ini dilakukan perhitungan dari laju korosi dari paku besi yang ada dalam tiga lingkungan yaitu
lingkungan asam, basa, dan netral. Untuk lingkungan asam adalah larutan HCl, lingkungan basa adalah
larutan NaOH, dan lingkungan netral adalah aquades. Terdapat dua jenis percobaan yaitu untuk korosi
atmosferik dan korosi basah. Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa lingkungan asam cenderung
lebih bersifat korosif bila dibandingkan dengan lingkungan basa dan netral. Dan korosi basah memiliki laju
korosi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan korosi atmosferik.
Kata kunci: korosi basah, korosi atmosferik, laju korosi, asam, basa

1. PENDAHULUAN
Pada dunia industri, korosi yang diartikan
sebagai karat, yaitu sesuatu yang diangap sebagai
musuh umum pada industri-industri yang ada saat
ini. Karat (rust) adalah sebutan yang dikhususkan
bagi korosi pda besi, sedangkan korosi sendiri
adalah perusakan suatu material karena bereaksi
dengan lingkungannya atau dapat disebut sebagai
gejala destruktif yang mempengaruhi hampir
semua logam. Hal ini dikarenakan pada industri,
rata-rata instrumen yang digunakan menggunakan
bahan dasar logam, baik besi, baja, maupun
alumunium. Dimana korosi ini biasa terjadi pada
bahan logam.
Korosi yang bersifat destruktif ini tentu
memiliki banyak kerugian dan menyebabkan
masalah-masalah pada industri yang ada. Dengan
adanya material di industri yang mengalami korosi
dapat menyebabkan kerugian dalam segi biaya,
sumber daya alam, dan juga sumber daya
manusia. Oleh karena itu, praktikum ini perlu
dilakukan agar dapat memahami peristiwa korosi.

Permasalahan dalam praktikum ini adalah apa
saja jenis-jenis dari korosi. Bagaimana pengaruh
lingkungan pada logam sehingga menyebabkan
terjadinya
korosi.
Serta,
bagaimana
cara
mengetahui laju korosi suatu logam.
Tujuan dari praktikum mengenai logam ini
adalah mengenal jenis-jenis korosi pada logam,
mengetahui pengaruh lingkungan pada korosi
suatu logam, dan mengetahui laju korosi.
1.1. Pengertian dan Jenis-jenis Korosi
Korosi atau pengkaratan adalah kerusakan
atau degradasi logam akibat interaksi dengan
lingkungan yang korosif. Untuk logam, reaksinya
disebut reaksi elektrokimia sedangkan untuk non
logam disebut degradasi atau pelapukan. Secara
umum, kata korosi identik dengan karat.
Penyelidikan tentang sistem elektrokimia telah
banyak membantu menjelaskan mengenai korosi
ini, yaitu reaksi kimia antara logam dengan zat-zat
yang ada di sekitarnya atau dengan partikelpartikel lain yang ada di dalam matrik logam itu
sendiri. Jadi dilihat dari sudut pandang kimia,
korosi pada dasarnya merupakan reaksi logam

dan paku besi.t 101\* MERGEFORMAT (. dan wadah plastik atau kertas. nitridasi. kertas amplas. dan dicatat waktu peletakkan. sulfidasi. larutan HCl. a. Selain larutan NaOH dan larutan HCl juga terdapat aquades. Kemudian 7 paku besi pertama dicelupkan dalam larutan tersebut. larutan NaOH.2. Proses elektrokimia melibatkan perpindahan elektron-elektron. yaitu korosi dalam lingkungan campuran udara dan uap Korosi kering. HCl. sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. yaitu korosi pada temperatur diatas temperatur kurang lebih 500oC (misalnya oksidasi. logam mengalami oksidasi. Reaksi Katodik (Reduksi) Reaksi katodik terjadi di daerah katode. dan 30%. Kemudian membuat larutan NaOH 10%. 20%. Sedangkan untuk bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain aquades. dan 15%. Harga dari n bergantung dari sifat logam sebagai contoh besi : Fe → Fe2+ + 2e b. Selanjutnya ketujuh paku besi yang tersisa dimasukkan dalam larutan NaOH. Reaksi katodik diindikasikan melalui penurunan nilai valensi atau konsumsi elektron-elektron yang dihasilkan dari reaksi anodik. serta membuat larutan HCl 5%. Beberapa reaksi katodik yang terjadi selama proses korosi logam. Karat logam umumnya berupa oksida atau karbonat. METODOLOGI PERCOBAAN Perlatan yang digunakan dalam percobaan tentang korosi basah dan korosi atmosferik ini antara lain adalah timbangan. Sehingga perumusan laju korosi dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan: corrosion rate  K . 10%. gelas ukur.A. Reaksi anodik yang terjadi pada proses korosi logam.W D.menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan beroksigen. Lalu dilakukan pengukuran dimensi paku untuk mencari volume dan luasan paku. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi. masing-masing satu buah. Selanjutnya paku dibiarkan selama 3 hari penuh. dan aquades masing-masing 1 paku. Setelah 3 hari dilakukan pengambilan data penimbangan dari massa ke-14 paku.) Keterangan: K = Konstanta (3. kemudian ditimbang massanya masing-masing paku. Reaksi Anodik (Oksidasi) Reaksi Anodik terjadi di daerah anode. yaitu korosi tanpa adanya fasa cair (proses oksidasi) Korosi temperatur tinggi. pengaduk.3. Pada peristiwa korosi. Waktu peletakan dan pencelupan dicatat.45 x 106 mils/year) W = Selisih berat (gram) D = Densitas logam (gram/mils) t = Waktu (year) A = Luas permukaan paku (mils2) 2. kemudian diangkat dan diletakkan dalam wadah kertas. yaitu korosi yang disebabkan dalam lingkungan air Korosi atmosferik. - Jenis-jenis korosi antara lain: Korosi basah. Perpindahan elektron merupakan hasil reaksi redoks (reduksioksidasi). . Perhitungan laju korosi Dalam menentukan laju kororsi yang umum menggunakan metode pengukuran perubahan massa. Dalam percobaan tentang korosi basah dan korosi atmosferik ini adalah melakukan percobaan degan 14 paku besi yang berbeda. Dimana pada keadaan awal spesimen uji dianggap tidak mengalami korosi sama sekali. karburasi. Dimana ke-14 paku besi tersebut dibersihkan dengan menggunakan amplas sebelum dilakukan percobaan. Proses terjadinya korosi Mekanisme korosi tidak terlepas dari reaksi elektrokimia. Reaksi anodik (oksidasi) diindikasikan melalui peningkatan valensi atau produk elektronelektron. yaitu : M → Mn+ + ne Proses korosi dari logam M adalah proses oksidasi logam menjadi satu ion (n+) dalam pelepasan n elektron. yaitu : Pelepasan gas hidrogen 2H+ + 2e → HReduksi oksigen O2 + 4H+ + 4e → 2H2O O2 + 2H2O + 4e → 4OHReduksi ion logam Fe3+ + e → Fe2+ Pengendapan logam 3Na+ + 3e → 3Na Reduksi ion hidrogen O2 + 4H+ + 4e → 2H2O 1. gelas plastik. dll) 1. Mekanisme korosi melalui reaksi elektrokimia melibatkan reaksi anodik dan reaksi katodik.

61 2.74 2.74 dibiarkan selama HCl 10% 2.03 0. 12. Dimana dari hasil perhitungan didapatkan luasan paku adalah 0.34 0.67 diangkat dan HCl 5% 2.00822 tahun. 14. Menurut teori seharusnya semakin besar kadar asam maka laju korosi akan semakin besar.77 2. Selain itu dilakukan perhitungan luasan dan densitas paku.70 2. sehingga menyebabkan paku yang dicelupkan dalam aquades itu laju korosinya semakin besar.00 85969. 1. 10.07 larutan dan dibiarkan selama HCl 5% 2.03 Kemudian dari data massa yang telah didapatkan dan dari data densitas dan luasan paku serta waktu korosi dapat dicari laju korosinya dengan memasukkan semua data pada persamaan laju korosi pada persamaan 1.39 658. 13.00 60000.841 inchi 2.01 0. dari kedua jenis korosi tersebut untuk lingkungan asam cenderung lebih bersifat korosif bila dibandingkan lingkungan basa.87 82676. 7. Tabel 2 Data percobaan massa paku awal dan akhir No. Padahal seharusnya. Dimana seharusnya paku yang telah dicelupkan dalam aquades lebih terkorosi jika dibandingkan dengan paku yang telah dicelupkan dalam larutan HCl. 6.16 korosi atmosf erik korosi basah Gambar 1 Grafik laju korosi atmosferik dan korosi basah Untuk korosi atmosferik. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 2.76 2. 10.16 988. 3 hari (korosi basah) HCl 5% HCl 10% HCl 15% Aquades 2. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum tentang korosi basah dan korosi atmosferik yang telah dilakukan adalah sebagai berikut. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan.00 20000. 1. Hal ini disebabkan lingkungan asam lebih menyebabkan logam terkorosi.74 2.81 2.51 2.05 0.72 NaOH 10% 2.00 40000.93 1646.68 2.73 2. 9.18 3 hari HCl 10% 2.71 2.00 77076.93 1646. terdapat suatu kejanggalan. Dimana dari data penimbangan massa paku sebelum dan setelah terjadinya korosi didapatkan selisih massa. 4.00 0.74 Laju korosi (mils/year) 0 329.1.41 2.03 90000. Hal ini dapat disebabkan lingkungan untuk korosi basah lebih menunjang terjadinya korosi karena paku secara terus menerus terkena cairan atau terendam di dalam cairan yang korosif.02 0.01 0. Namun menurut data percobaan laju korosi justru semakin menurun (seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1). 7.05 0. paku yang dicelupkan dalam larutan HCl yang memiliki laju korosi yang lebih tinggi.34 0.02 0.16 Aquades 2.70 atmosferik) Aquades 2.05 0.67 Dicelupkan dalam NaOH 30% 2.05 0. 12. 2.75 Dicelupkan dalam NaOH 20% 2.05 0.73 larutan kemudian NaOH 30% 2. Selisih Massa 0 0.00 70000.77 3 hari (korosi HCl 15% 2. 6.39 329.66 NaOH 20% 2.74 0.00 10000.75 2. 4.50 0. 3. 4.00 30000.00 80000. 14.72 2. 8.77 988. yang paling janggal adalah laju korosi untuk HCl. Untuk laju korosi yang bernilai 0 (nol) yaitu pada keadaan NaOH 10% dalam kondisi korosi atmosferik.01 0. Sedangkan untuk korosi basah.33 (korosi basah) HCl 15% 2. dengan densitas 123. Dari hasil analisa data laju korosi didapatkan gambar perbandingan antara korosi basah dan korosi atmosferik.16 1646.00 50000.61 2.05 0.03 0. .67 No.79 0.3.43 988. 5. dalam hal ini mungkin saja paku sebenarnya terkorosi namun dalam skala yang kecil dan besarnya pengurangan massa paku tidak terdeteksi oleh timbangan yang digunakan.01 0. 8.60 11. Perlakuan Dicelupkan dalam larutan kemudian diangkat dan dibiarkan selama 3 hari (korosi atmosferik) Dicelupkan dalam larutan dan dibiarkan selama Larutan W (gram) NaOH 10% NaOH 20% NaOH 30% HCl 5% HCl 10% HCl 15% Aquades NaOH 10% NaOH 20% NaOH 30% 0 0.80 2. 5.03 0. Adanya kejanggalan dalam data percobaan dapat disebabkan karena lingkungan tempat diletakkannya paku tersebut telah mengandung asam sebelumnya. Dan waktu korosinya adalah 3 hari atau 0. Namun secara umum berdasarkan data hasil percobaan.03 0. 13. 9.09 gram/inchi3. 2. Tabel 1 Data percobaan massa paku awal dan akhir Massa (gram) Perlakuan Larutan Awal Akhir NaOH 10% 2.93 24374. data seperti yang ada pada tabel 1. Dimana laju korosi basah secara umum lebih tinggi daripada laju korosi atmosferik (gambar 1). 11. 3.

2013.D. Kemudian dilakukan pengukuran dimensi pada logam yang akan diukur laju korosinya (volume dan luasan). . L. Dimana laju korosi dari korosi basah lebih tinggi dari korosi atmosferik. DAFTAR REFERENSI Sawitri. 5. Findik. 2013. Jurusan Teknik Fisika: Laboratorium Rekayasa Bahan Anonim. D. B. D. dan korosi temperatur tinggi. dan basa dapat menyebabkan korosi pada logam. asam. Jenis-jenis korosi antara lain korosi basah. Korosi.com/korosi/ tanggal 22 Nopember 2013) (diakses Kahraman. Mawarani. korosi kering. Kemudian memasukkannya pada persamaan laju korosi erosi. Science Direct. Corrosion and mechanical-microstructural aspects of dissimilar joints of Ti-6AL-4V and Al plates. 2006. Gulenc. korosi atmosferik. 2. wordpress: http://semboy. Modul Praktikum Rekayasa Bahan. Lingkungan yang mengandung air. Menghitung laju korosi paa suatu logam adalah dengan melakukan pengambilan data pada saat belum adanya korosi dan setelah adanya korosi.1. 3. Dimana pada lingkungan asam lebih korosif bila dibandingkan dengan lingkungan basa dan air. F. Risanti.wordpress. N.J.