ANASTETIK UMUM

Pendahuluan
1. DEFENISI DAN SEJARAH ANESTESIA
Istilah anestesia yang artinya hilangnya sensasi nyeri (rasa sakit) yang
disertai maupun yang tidak disertai hilang kesadaran, diperkenalkan oleh Oliver
W. Holmes pada tahun 1846. Obat yang digunakan dalam menimbulkan
anastesia disebut sebagai anastetik, dan kelompok obat ini dibedakan dalam
anastetik umum dan anastetik lokal. Bergantung pada dalamnya pembiusan,
anastetik umum dapat memberikan efek anagesia yaitu hilangnya sensasi nyeri,
atau efek anastesia yaitu analgesia yang disertai hilangnya kesedaran,
sedangkan anastetik lokal hanya dapat menimbulkan efek analgesia. Anestetik
umum bekerja di susunan saraf pusat sedangkan anastetik lokal bekerja
langsung pada serabut saraf di perifer.
Orang mesir menggunakan narkotik, sementara orang Cina menggunakan
Canabis indica (ganja) untuk menghilangkan kesadaran sehingga si pasien tidak
merasakan nyerinya. Tindakan fisik juga pernah dipraktekkan untuk
menghilangkan sensasi nyeri, misalnya dengan membungkus anggota badan
dengan kantong es atau membuatnya iskemik dengan memasang turniket,
bahkan dengan memukul kepala si pasien dengan tongkat kayu untuk membuat
tidak sadar.
Anastetik yang pertama dikenal adalah gas N 2O yang disintesis pada tahun
1776. Operasi pertama yang menggunakan anastetik umum berlangsung di
kamar bedah (ether dome) RS Massachusset pada tahun 1846. William TG
Morton, seorang dokter gigi yang juga mahasiswa kedokteran di Boston, setalah
mencobanya pada hewan dan pada dirinya sendiri, yakin bahwa eter lebih baik
daripada N2O.
Kloroform adalah anastetik berikutnya, yang diperkenalkan oleh Sir James
Simpson, tetapi zat ini ternyata hepatotoksik, dapat menimbulkan aritmia
jantung dan depresi napas, sehingga sebaiknya tidak dipakai lagi.
2. TEORI UMUM ANASTESIA UMUM
Teori neurofisiologi merupakan teori yang dapat menjelaskan terjadinya
anastesia. Kini diyakini bahwa anastesia terjadi karena adanya perubahan
neurotransmisi di berbagai bagian SSP. Kerja neuro transmiter di pascasinaps
akan diikuti dengan pembantuan second messenger-dalam hal ini cAMP-yang
selanjutnya mengubah transmisi di neuron.
Kalsium dikenal sebagai neuroregulator karena ada bukti yang menunjukkan
bahwa anastetik inhalasi dapat mengubah kadar Ca intrasel dan ini
mempengaruhi keterangsangan (excitability) neuron. Sedangkan NO kini dikenal
sebagai neuromodulator yang diduga berperan dalam mengatur tingkat
kesadaran. NO terlibat dalam komunikasi intrasel melalui produksi cGMP dan
melalui beberapa jalur neurotransmisi lainnya. NO mengaktifkan adenilat siklase

untuk menghasilkan cGMP, suatu pengatur proses intrasel yang berperan
penting dalam neurotransmisi.
TEMPAT KERJA ANASTETIK UMUM. Anastetik inhalasi terbukti mengubah ambang
rangsang neuron dibeberapa bagian SSP yang sangat peka terhadap anastetik.
Di otak, anastetik inhalasi menghambat transmisi sinaps di sistem retikularis
asendens, korteks serebri dan hipokampus. Di medula spinalis, anastetik
mengubah respons sensoris dari kornu dorsalis terhadap rangsangan nyeri
maupun rangsangan lainnya yang tidak menimbulkan nyeri.
Walaupun tempat kerja anastetik di SSP beragam, terdapat ciri kerja unik di
tingkat molekul. Misalnya, dihambatnya pelepasan neurotransmiter di prasinaps
dan dihambatnya arus neurotransmiter di pascasinaps ternyata terjadi akibat
gangguan anastetik pada situs molekular yang identik walaupun letak situs itu
berbeda-beda.
Konsep
yang
menyatakan
bahwa
anestetik
inhalasi
memperlihatkan cara kerja sama pada struktur molekular yang spesifik disebut
sebagai unitary theory of narcosis.
3. JENIS ANASTETIK UMUM
Dibedakan atas 2 cara, yaitu secara inhalasi dan intravena. Suatu anastetik
yang ideal sebenarnya harus memperlihatkan 3 efek utama yang dikenal sebagai
“Trias Anestesia”, yaitu efek hipnotik (menidurkan), efek analgesia dan
efek relaksasi otot.

Anastetik inhalasi
Semua anastetik inhalasi adalah derivat eter kecuali halotan dan
nitrogen. Anastetik inhalasi yang sempurna adalah yang (a) masa induksi
dan masa pemulihannya singkat dan nyaman, (b) peralihan stadium
anestesinya terjadi cepat, (c) relaksasi otatnya sempurna, (d) berlangsung
cukup aman, dan (e) tidak menimbulkan efek toksik atau efek samping
berat dalam dosis anestetik yang lazim. Sifat anastetik inhalasi yang
menyebabkan ketidaknyamanan adalah bau dan sifat iritasi saluran
napasnya.
 Anastetik intravena
Obat ini meliputi kelompok barbiturat (tiopental, tiomilal,
metoheksital),
propofol,
etomidat,
ketamin,
droperidol,
benzodiazepin(midazolam, diazepam, lorazepam), dan beberapa anastetik
IV yang lebih berefek analgesik misalnya fentanil, sulfafentanil, alfentanil,
remifentanil, meperidin, dan morfin.
Untuk tindak bedah tertentu, anastetik intravena saja sudah
memadai dan pemulihan terjadi cukup cepat, misalnya tiopental dan
propofol sehingga dapat digunakan sebagai rawat jalan. Fentanil
digunakan sebagai ajuvan untuk anastetik inhalasi karena sifat sedatifnya,
menimbulkan analgesik kuat dan menstabilkan kardiovaskular, sedangkan
benzodiazepin digunakan untuk menidurkan pasien dan membuatnya
tidak ingat akan apa yang dialami sebuah anestesia.
4. STADIUM ANESTESIA UMUM

Semua zat anestetik menghambat SSP secara bertahap, yang mula-mula
dihambat adalah fungsi yang kompleks, dan yang paling akhir dihambat adalah
medula oblongata tempat pusat vasomotor dan pernapasan. Guadel (1920)
membagi anestesia umum dalam 4 stadium, sedangkan stadium ke-3 dibedakan
lagi atas 4 tingkat.

STADIUM I (ANALGESIA)= stadium analgesia dimulai sejak awal pemberian
anastetik sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini pasien tidak lagi
mengalami nyeri, tetapi masih tetap sadar dan dapat mengikuti perintah.
Pada stadium ini dapat dilakukan pembedahan ringan seperti mencabut
gigi dan biopsi kelenjar.
 STADIUM 2 (EKSITASI)= stadium ini dimulai sejak hilangnya kesadaran
sampai timbulnya pernapasan yang teratur yang merupakan tanda
dimulainya stadium pembedahan. Pada stadium ini dapat terjadi kematian
, maka stadium ini harus diusahakan cepat dilalui.
 STADIUM 3 (PEMBEDAHAN) = dimulai dengan timbulnya kembali
pernapasan yang teratur dan berlangsung sampai pernapasan yang
spontan hilang.
 Tingkat 1: pernapasan teratur, spontan dan seimbang antara
pernapasan dada dan perut, gerakan bola mata terjadi diluar
kehendak, miosis, sedangkan tonus obat rangka masih ada.
 Tingkat 2: pernapasan teratur tapi frekuensinya lebih kecil, bola
mata tidak bergerak, pupil mata melebar, otot rangka mulai
melemas, dan refleks laring hilang sehingga pada tingkat ini dapat
dilakukan intubasi.
 Tingkat 3: pernapasan perut lebih nyata daripada pernapasan dada
karena otot interkostal mulai lumpuh, relaksasi otot rangka
sempurna, pupil lebih lebar tetapi belum maksimal.
 Tingkat 4: pernapasan perut sempurna karena otot interkostal
lumpuh total, tekanan darah mulai menurun, pupil sangat melebar,
dan refleks cahaya hilang.
 STADIUM 4 (DEPRESI MEDULA OBLONGATA) = dimulai dengan
melemahnya pernapasan perut dibanding stadium III tingkat 4, tekanan
darah tidak dapat diukur karena pembuluh darah kolaps, dan jantung
berhenti berdenyut. Keadaan ini dapat segera disusul kematian,
kelumpuhan napas disini tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan,
bila tidak didukung oleh alat bantu napas atau sirkulasi.
5. MEDIKASI PRA- ANESTETIK
Tujuan medikasi pra-anastetik ialah untuk mengurangi rasa cemas menjelang
pembedahan, memperlancar induksi, menguangi kegawatan akibat anestesia.
Ada 5 golongan obat yang diberikan sebagai medikasi pra-anestetik yaitu
analgesik narkotik, sedatif berbiturat, benzodiazpin, antikolinergik, dan
neuroleptik.

ANALGESIK NARKOTIK: morfin adalah analgesik narkotik pertama yang
digunkan untuk mengurangi cemas, dan ketegangan pasien menghadapi


pembedahan, mengurangi nyeri, menghindari takipnea pada anastesia
dengan trikloretilen, dan menbantu agar anetesia berlangsung baik.
BARBITURAT: biasanya digunakan untuk menimbulkan sedasi. Kegunaan
menggunakan barbiturat ialah tidak memperpanjang masa pemulihan dan
kurang menimbulkan reaksi yang tidak diingikan. Golongan barbiturat
jarang menimbulkan mual dan muntah, dan sedikit menghambat
pernapasan dan sirkulasi dibandingkan morfin.
SEDATIF NON BARBITURAT: etinamat, glutetimid, dan kloralhidrat hanya
digukan bila pasien alergi terhadap barbiturat.
BENZODIAZEPIN: pada dosis biasa, obat ini tidak menambah depresi
napas akibat opioid. Umumnya benzodiazepin diberikan peroral karena
absorpsinya baik. Efek amnesia anterograd benzodiazepin bermanfaat
untuk pasien tertentu, tetapi efek itu diperoleh dari dosis besar yang
dapat memperpanjang masa pemulihan.
NEUROLEPTIK: kelompok obat ini digunakan untuk mengurangi mual dan
muntah akibat anastetik pada masa induksi maupun pemulihan,
misalnnya droperidol yang biasa digunakan bersana dengan rongga
fentanil. Golongan fenotiazin seperti klotpromazin dan prometazin juga
dapat mengurangi muntah, tetapi penggunaanya dibatasi oleh adanya
efek hipotensi intraoperatif dan takikardia.
ANTIMUSKARINIK