DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

………………………………………………… 1

BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
1.2
Tujuan penulisan

………………………………………………… 2
………………………………………………… 2
………………………………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN
………………………………………………… 3
2.1.
Definisi dan Klasifikasi PGK………………………………………… 3
2.2.
Definisi, identifikasi, dan prediksi progresivitas PG…… …………… 10
2.3.
Manajemen progresivitas dan komplikasi PGK……………………… 10
2.4.
Komplikasi lain PGK: PKV, dosis pengobatan, keselamatan pasien
(patient safety), infeksi, hospitalisasi, dan peringatan untuk
menginvestigasi komplikasi  ………………………………………… 13
2.5.
Rujukan ke spesialis dan bentuk perawatan pasien PGK  …………… 20
BAB III PENUTUP

………………………………………………… 25

Daftar Pustaka

………………………………………………… 26

BAB I
PENDAHULUAN

1

1.1

Latar belakang
Penyakit ginjal kronis-atau gagal ginjal kronis, adalah istilah yang mencakup

semua derajat penurunan fungsi ginjal. Penyakit ginjal kronis merupakan masalah
kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, ada meningkatnya insiden
dan prevalensi gagal ginjal, dengan hasil yang buruk dan biaya tinggi.
Deteksi dini dapat membantu mencegah perkembangan penyakit ginjal. Laju
filtrasi glomerulus (LFG) adalah estimasi terbaik dari fungsi ginjal. PGK dapat
mengembangkan komplikasi seperti tekanan darah tinggi, anemia, kelemahan tulang,
kesehatan gizi buruk dan kerusakan saraf. Juga, penyakit ginjal meningkatkan risiko
memiliki jantung dan pembuluh darah. Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian
bagi semua orang dengan PGK.
Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini meduduki peringkat ke -12 tertinggi
angka kematian atau peringkat tertinggi ke- 17 angka kecacatan. Di negara-negara
berkembang, insidens ini diperkirakan sekitar 40-60 kasus per juta penduduk per tahun.
Di Indonesia, dari data di beberapa bagian nefrologi, diperkirakan insidens PGK berkisar
100-150 per 1 juta penduduk. Menurut Suhardjono (2000), di Indonesia, berdasarkan
Pusat Data & Informasi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PDPERS jumlah
penderita PGK dianggarkan sekitar 50 orang per satu juta penduduk. Pada tahun 2006
terdapat sekitar 100.000 orang penderita gagal ginjal kronik di Indonesia.
Di masa depan penderita Penyakit Ginjal Kronik digambarkan akan meningkat
jumlah penderitanya. Hal ini disebabkan prediksi akan terjadi suatu peningkatan luar biasa
dari diabetes mellitus dan hipertensi di dunia ini karena meningkatnya kemakmuran akan
disertai dengan bertambahnya umur manusia, obesitas dan penyakit degeneratif.
.2

Tujuan Penulisan
Penulisan referat ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perjalanan penyakit,

komplikasi terkait dan penatalaksanaan yang tepat pada Penyakit Ginjal Kronis
berdasarkan KDIGO Guideline of CKD 2012. Semoga referat ini dapat memberikan
wawasan dan pemahaman yang lebih baik mengenai Trakoma Bagi yang membacanya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2

 endokrin dan fungsi metabolisme menurun bersama dalam sebagian besar penyakit ginjal kronis. berlangsung selama > 3 bulan dengan implikasi kesehatan.  kategori LFG.1. Penyebab PGK berdasarkan penyakit sistemik atau kelainan primer pada ginjal 3 . dan bahwa menelusuri etiologinya penting bagi prognosis dan pengobatan.   Fungsi ekskretoris. Definisi dan klasifikasi PGK 2. Pada penyakit ginjal primer proses muncul dan hanya terbatas pada ginjal sedangkan pada penyakit sistemik ginjal hanya satu korban dari proses tertentu.  2. yang mungkin tidak sensitif dan tidak spesifik untuk penyebab penyakit   tertentu   tetapi   bisa   mendahului   penurunan   fungsi   ginjal.1.1 Definisi PGK PGK didefinisikan sebagai abnormalitas pada struktur atau fungsi ginjal. Perbedaan antara penyakit sistemik yang mempengaruh ginjal dan penyakit ginjal primer adalah berdasarkan asal-usul dan lokus dari patogenesis penyakit. dan kategori albuminuria Menetapkan penyebab PGK berdasarkan ada atau tidak adanya penyakit sistemik dan kelainan yang berlokasi di dalam ginjal berdasarkan observasi atau dugaan pada temuan patologi-anatomi Pernyataan ini telah dimasukkan untuk memastikan bahwa dokter dapat waspada terhadap kenyataan bahwa PGK bukanlah diagnosis dalam dirinya sendiri.2 Staging PGK  Di rekomendasikan bahwa PGK diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya.1. untuk diabetes mellitus misalnya.2. Penyebab CKD secara tradisional dilihat berdasarkan ada atau tidak adanya penyakit sistemik yang mendasari (underlying systemic diease) dan jika didapatkan atau diduga adany lokasi kelainan patologi anatomi. Kriteria PGK (salah satu kriteria dibawah ini terjadi selama > 3 bulan) Kerusakan  ginjal  mengacu  pada  berbagai  kelainan  yang  diamati  selama pemeriksaan klinis.

4 . gangguan fungsi kognitif dan fisik. dan ancaman terhadap patient safety. bukan merupakan PGK. Sejumlah komplikasi yang berhubungan dengan penurunan LFG termasuk infeksi. Klasifikasi saat ini lebih lanjut mengakui bahwa pentingnya membagi Stage 3 berdasarkan data pendukung yang menunjukan adanya outcome yang berbeda dan profil risiko ke dalam kategori G3a dan G3b. Kategori LFG pada penderita PGK Istilah yang terkait dengan masing-masing kategori LFG adalah deskripsi yang perlu diambil dalam konteks tiap individu dan semua mengacu pada orang dewasa muda normal. Perhatikan bahwa penurunan fungsi ginjal ringan (G2) tanpa adanya penanda lainnya. Asosiasi rendahnya kategori LFG dan risiko komplikasi metabolik dan endokrin membentuk dasar stratifikasi sebelumnya menjadi 5 tahap.

 Kategori albuminuria pada PGK 5 .

Deteksi dan evaluasi jumlah yang lebih kecil dari proteinuria telah mendapatkan makna tambahan pada beberapa penelitian yang menunjukkan pengaruhnya terhadap kepentingan diagnostik. 4) faktor risiko lain dan kondisi komorbiditas. 2) kategori LFG. patogenesis. Hubungan tingkat tingginya proteinuria dengan tanda-tanda dan gejala sindrom nefrotik sudah banyak diketahui. kita perlu mengidentifikasi variabel-variabel berikut: 1) penyebab PGK. dan prognosis PGK.3 Predikisi prognosis PGK Dalam memprediksi risiko pada outcome PGK.Tujuan dari pernyataan ini adalah untuk memastikan hubungan dan untuk mencerminkan bahwa kategori albuminuria merupakan prediktor penting pada outcome PGK. 3) kategori albuminuria.1. 2. 6 .

yang ditentukan oleh diagnosis klinis pasien. LFG. 7 . Untuk PKV. risiko akan ditentukan oleh faktor-faktor risiko yang spesifik untuk kondisi tersebut. Asosiasi risiko antara kategori LFG dan albuminuria tampaknya sebagian besar independen satu sama lain. baik kategori LFG maupun kategori albuminuria saja sepenuhnya dapat membantu prediksi prognosis untuk pasien dengan PGK. Besarnya dan gradien resiko di kategori LFG dan albuminuria kemungkinan akan berbeda untuk setiap efek samping tertentu. Risiko tahap akhir penyakit ginjal. Oleh karena itu.Kekuatan relatif dari masing-masing faktor ini akan bervariasi untuk setiap komplikasi atau outcome. Untuk kondisi lain. dan tingkat albuminuria atau penanda lain dari kerusakan atau cedera ginjal dan. seperti gagal ginjal dan AKI. risiko akan ditentukan oleh sejarah PKV dan faktor risiko tradisional dan non tradisional PKV.

1.2.4 Evaluasi PGK a. bukti kronisitas dapat diperoleh atau dikonfirmasi oleh:        meninjau riwayat pemeriksaan LFG sebelumnya. PGK telah terkonfirmasi. PGK tidak dikonfirmasi. temuan patologis seperti fibrosis dan atrofi. 8 . Ketika bukti CKD sudah dapat dipastikan. meninjau riwayat pengukuran albuminuria atau proteinuria dan pemeriksaan urine sebelumnya. Evaluasi kronisitas Pada orang dengan LFG < 60 ml /menit /1. Pasien mungkin memiliki PGK atau penyakit ginjal akut (termasuk AKI) atau keduanya dan harus dilakukan pemeriksaan ulang. hasil studi pencitraan seperti penurunan ukuran ginjal dan penurunan ketebalan korteks ginjal. melakukan pemeriksaan ulang dalam waktu 3 bulan dan setelahnya.73 m2 (kategori LFG G3a-G5) atau penanda kerusakan ginjal lainnya. o Jika durasi tidak > 3 bulan atau tidak jelas. riwayat kesehatan terutama durasi penyakit yang diketahui  sebagai penyebab PGK. meninjau riwayat penyakit dahulu dan pengukuran sebelumnya untuk menentukan durasi penyakit ginjal o Jika durasi > 3 bulan.

laboratorium tindakan. c. dan diagnosis patologis untuk menentukan penyebab penyakit ginjal. seperti semua tes diagnostik. interpretasi hasil dipengaruhi oleh berbagai karakteristik pemeriksaan dalam keadaan klinis tertentu dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. secara kolektif disebut '' penentu non-LFG '' termasuk hasil pembentukan kreatinin oleh otot dan asupan makanan. staging. Menggunakan eLFG memberikan penilaian yang lebih baik daripada menggunakan SCr saja. o Kami sarankan untuk melakukann pemeriksaan tambahan (seperti cystatin C atau pengukuran clearance) untuk konfirmasi yang lebih baik dalam keadaan-keadaan tertentu ketika eLFG berdasarkan kreatinin serum kurang akurat. Evaluasi etiologi Evaluasi konteks klinis. memahami kondisi klinis di mana eGFRcreat kurang akurat. o Kami merekomendasikan bahwa laboratorium klinis harus (1B):  Mengukur kreatinin serum menggunakan alat tes khusus dengan kalibrasi dapat yang sesuai pada bahan referensi standar 9 . o Kami merekomendasikan bahwa dokter sebaiknya (1B):  menggunakan GFR estimating equation untuk memperoleh nilai dari serum kreatinin (eGFRcreat) daripada mengandalkan  konsentrasi kreatinin serum saja. Evaluasi LFG o Sebaiknya gunakan serum kreatinin dan persamaan estimasi LFG (GFR estimating equation) untuk penilaian awal. obat-obatan. dan eliminasi kreatinin ekstrarenal oleh saluran pencernaan. pencitraan. (2B) Untuk kebanyakan kondisi klinis. sekresi kreatinin tubulart oleh transporter anion organik. pemeriksaan fisik.b. faktor sosial dan lingkungan. dan melacak perkembangan PGK. Konsentrasi SCr dipengaruhi oleh LFG dan proses fisiologis lainnya. Namun. memperkirakan LFG dari SCr cocok untuk diagnosis. termasuk pribadi dan sejarah keluarga.

kualitas hidup.2. dan progresivitas PGK. kalsium. Ada semakin banyak bukti yang mendukung bahwa keduanya merupakan parameter yang berguna. hipertensi. 2. LFG yang lebih rendah dan nilai albuminuria yang lebih besar. o Evaluasi albuminuria Kami sarankan menggunakan pengukuran berikut untuk pengujian awal proteinuria (dalam urutan preferensi. dan prediksi progresivitas PGK 2. albumin. dalam semua kasus sampel urin pagi dini lebih disukai) (2B): o Rasio albumin-creatinine (ACR) o Rasio protein-creatinine (PCR) o Strip reagen urinalisis dengan pembacaan otomatis o Strip reagen urinalisis dengan pembacaan manual 2. dan / atau di mana hasil pengukuran LFG dan albuminuria akan berdampak keputusan terapeutik. dan. Manajemen progresivitas dan komplikasi PGK 2.3.internasional dan dengan bias minimal dibandingkan dengan  referensi isotope-dilution mass spectrometry (IDMS) Melaporkan eGFRcreat selain konsentrasi serum kreatinin pada orang dewasa dan menetapkan persamaan yang digunakan setiap kali melaporkan eGFRcreat. Definisi. keduanya berhubungan dengan peningkatan laju perkembangan penyakit. harus segera ditatalaksana mengingat dapat mempengaruhi hasil jangka panjang termasuk kondisi kardiovaskuler.2. obesitas. usia. etiologi.2 Prediktor progresivitas PGK Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemungkinan dan tingkat progresivitas CKD termasuk kategori LFG dan albuminuria. dan bikarbonat.3.2. paparan agen nefrotoksik. jika ada. fosfat. Memeriksan LFG dan albuminuria lebih sering pada individu yang berisiko tinggi terhadap progresivitas penyakit. derajat albuminuria.1 Definisi dan identifikasi progresivitas PGK Melakukan pemeriksaan LFG dan albuminuria setidaknya setiap tahun pada orang dengan PGK. Beberapa dri faktor risiko ini dapat dimodifikasi dan harus diidentifikasi secara aktif. identifikasi.1 Pencegahan progresivitas PGK 10 . 2. ras / etnis dan parameter laboratorium seperti Hb (hemoglobin).

Ada langkahlangkah umum yang telah terbukti untuk mengatasi kesehatan jantung dan CKD bersama-sama. Bagian ini berkaitan dengan manajemen tekanan darah. Strategi meliputi gaya hidup secara umum yang meningkatkan kesehatan kardiovaskular. risiko perkembangan progresivitas PGK dengan ada atau tidak adanya retinopati (pada pasien CKD diabetes) Kami menyarankan bahwa pada orang dewasa baik dengan diabetes dan non­diabetes dengan PGK dan ekskresi albumin pada urin 30mg / 24 jam yang tekanan darah sistol > 140 mm Hg atau diastole   > 90 mm Hg untuk diterapi menggunakan obat­obatan anti hipertensi untuk menjaga penurunan tekanan darah yang konsisten dengan sistolik ≤ 140 mmHg dan diastolic ≤ 90 mm Hg 2. RAAS.Pengelolaan perkembangan CKD ditujukan untuk mengatasi banyaknya faktor yang diketahui terkait dengan perjalanan progresivitas CKD.3 Penyakit tulang metabolik pada PGK termasuk kelainan pada pemeriksaan laboratorium 11 .3. penyakit kardiovaskular yang menyertai. Memperhatikan target tekanan darah individual sesuai dengan usia. Mengatasi faktor risiko CVD secara tidak langsung dan langsung dapat mempengaruhi perkembangan CKD.3. kontrol glikemik dan diet / manipulasi gaya hidup yang dapat menunda perkembangan CKD. Selain itu.2 Komplikasi yang berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal 2. kontrol tekanan darah. dan dislipidemia juga penting. asidosis. asam urat. atau masing-masing secara terpisah. dan RAAS. dan komorbiditas lain. pengendalian parameter metabolik lain seperti gula darah.

1.25-dihydroxyvitamin D (1. Kami sarankan untuk mengukur kadar serum kalsium.25(OH)2D). Konsentrasi serum bikarbonat kurang dari 22mmol / l dikaitkan dengan peningkatan risiko progresivitas PGK dan peningkatan risiko kematian. dan hormon pertumbuhan. berkaitan dengan progresivitas Chronic Kidney Disease-Mineral and Bone Disorder (CKD-MBD).73 m2.3. 2. 25-hydroxyvitamin D (25(OH)D). dan hormon yang beredar di darah terjadi. Ini termasuk PTH. dan aktivitas fosfatase alkalin setidaknya sekali pada orang dewasa dengan LFG < 45ml/min/1. fosfat. abnormalitas kalsium serum. fosfat. faktor pertumbuhan fibroblast-23 (FGF-23). PTH. Pada tingkat jaringan terjadi penurunan regulasi reseptor vitamin D dan resistensi terhadap PTH.73 m2 (kategori LFG G3b-G5) untuk menentukan baseline dalam perjalanan penyakit.Perubahan metabolisme mineral tulang dan perubahan homeostasis kalsium dan fosfat terjadi pada awal perjalanan PGK dan terus berkembang karena proses penurunan fungsi ginjal Seiring berjalannya proses penurunan fungsi ginjal. maka asidosis metabolik biasanya terus berkembang. Kelainan imunohistokimia dalam tulang juga terjadi lebih awal dan umumnya mendahului perubahan homeostasis mineral. dan metabolit vitamin D lainnya.4 Asidosis Adaptasi ekskresi asam oleh ginjal pada awalnya dapat mencegah penurunan konsentrasi bikarbonat serum tetapi seiring LFG yang terus menurun di bawah 40 ml / menit / 1. Kami 12 .

juga mengurangi perkembangan PGK Pada mereka dengan eLFG 45-59 ml/menit/1.73 m2) berada pada risiko tertinggi untuk terjadinya PKV. dosis pengobatan. dan meningkatkan status gizi pada orang dengan PGK. risiko meningkat 43% dan pada mereka dengan eLFG di bawah 15 ml/menit/ 1. Pengelolaan faktor risiko kardiovaskular dimodifikasi. hospitalisasi.4. Studi suplementasi alkali telah menunjukkan penurunan progresivitas PGK 2.2 Kewaspaadaan yang perlu diperhatikan saat menginterpretasi pemeriksaan PKV pada pasien PGK Adanya gagal jantung kongestif (CHF) pada seorang dengan PGK memberikan prognosis yang lebih buruk daripada salah satu kondisi saja.4.73 m2 atau ketika albumin terdeteksi pada urinalisis. dan memiliki risiko yang lebih tinggi MI berulang. 13 . diagnosis dini dan manajemen agresif CHF sangat dibutuhkan. infeksi. Meskipun orang-orang dengan kategori GFR G5 (GFR < 15 ml / min / 1.1 PGK dan penyakit kardiovaskuler (PKV) Studi berbasis populasi telah menunjukkan peningkatan risiko kematian dan kematian kardiovaskular pada LFG turun di bawah 60 ml/menit/1.4. gagal jantung dan cardiac arrest.menyarankan bahwa pada orang dengan PGK dan konsentrasi serum bikarbonat < 22 mmol/l diberikan pengobatan dengan suplementasi bikarbonat oral untuk mempertahankan bikarbonat serum dalam kisaran normal.73 m2. Ada faktor-faktor risiko tertentu yang terkait dengan PGK (CKD-specific risk factors) yang menyebabkan tingginya tingkat mortalitas dan morbiditas bahkan pada usia muda. 2. namun akan lebih banyak ditemukan kejadian pada orang dengan kategori LFG G3a-G3b (GFR 30-59 ml / menit / 1. keselamatan pasien (patient safety).73 m2.73 m2) karena prevalensi lebih tinggi pada kategori ini. risiko meningkat 343%. memiliki prognosis yang lebih buruk dengan angka mortalitas yang tinggi karena kejadian infark miokard akut (AMI). dan peringatan untuk menginvestigasi komplikasi 2.. Orang dengan PGK lebih mungkin untuk mengalami kejadian kardiovaskular daripada untuk berlanjut menjadi End-stage Renal Disease (ESRD). kecuali pada kondisi kontraindikasi. Kami menyarankan bahwa orang dewasa dengan PGK dan berisiko tinggi terjadinya aterosklerosis untuk diberikan pengobatan dengan obat antiplatelet kecuali ada risiko perdarahan yang perlu diimbangi dengan manfaat kardiovaskular yang hendak dicapai. Komplikasi lain PGK: PKV. Oleh karena itu. seperti peningkatan tekanan darah dan kontrol diabetes.

3 PGK dan penyakit arteri perifer (PAP) Ada hubungan yang kuat antara PGK dan penyakit arteri perifer (PAP).4. Tagore et al. PAP umumnya sering terjadi pada orang dengan CKD dan prevalensinya meningkat dengan pada nilai LFG yang lebih rendah. Untuk menguji hipotesis ini. keterlambatan dalam pengisian vena. kami sarankan bahwa konsentrasi serum BNP / NT-proBNP diinterpretsikan dengan hati-hati dan dalam kaitannya dengan LFG sehubungan dengan diagnosis gagal jantung dan penilaian status volume. Biomarker tersebut dengan demikian merupakan penanda yang bermanfaat untuk diagnosis. PAP dapat dikaitkan dengan prevalensi yang lebih besar dari faktor risiko tradisional seperti diabetes. akurasi nilai BNP dan NT-proBNP plasma untuk deteksi dan stratifikasi CHF menjadi kurang dapat diandalkan dan tingkat responsif terhadap pengobatan tidak diketahui.73 m2 (GFRkategori G3a-G5). ekstremitas pucat dingin. 2. Sehingga pada orang dengan GFR < 60 ml / menit / 1. manajemen. dan prognosis pada orang dengan fungsi ginjal normal. dan faktor-ginjal spesifik Kami merekomendasikan orang dewasa dengan CKD secara teratur diperiksa untuk tanda-tanda penyakit arteri perifer dan dipertimbangkan untuk pendekatan teurapetik. hipertensi. 14 .Sejumlah biomarker jantung (misalnya. Gejala PAP hanya hadir pada sebagian kecil orang yang memiliki bukti klinis PAD. peregangan miokard) dan sekresinya berkaitan dengan tingkat keparahan CHF dan tingkat disfungsi ventrikel kiri. dislipidemia.73 m2. hilangnya nadi. Stimulus untuk sekresi biomarker ini adalah beban hemodinamik (misalnya. Namun. secara klinis telah divalidasi dan menemukan bahwa nilai plasma BNP adalah independen dari LFG. ketika eLFG kurang dari 60 ml/menit/ 1. dan ulserasi kulit. eberapa penelitian menunjukkan nilai BNP yang lebih tinggi BNP pada LFG yang menurun. mempelajari tingkat BNP dalam studi kohort pada 143 subyek klinis euvolemic dengan PGK dimana diantaranya tidak memiliki penyakit jantung. BNPs dan troponin jantung) tampaknya memiliki kepentingan klinis dan merupakan fasilitas untuk deteksi dan stratifikasi CHF. Oleh karena itu penting untuk mengukur indeks ankle-brachial (ABI) dan melakukan penilaian yang sistematis secara reguler dari ekstremitas bawah pada orang yang berisiko tinggi PAP untuk mengidentifikasi bruits. Namun. usia lanjut.

tetapi tidak terbatas pada: RAA blockers (termasuk ACE-Inhibitor. Seperti banyak orang dengan PGK sudah berusia lanjut. sehingga perlu juga pertimbangan usia kronologis pada pemberian obat. Agen ini meliputi. Disarankan untuk tidak menggunakan terapi herbal pada penderita PGK. lithium.4 Manajemen medikamentosa dan patient safety pada PGK Banyak obat-obatan yang diekskresi melalui ginjal dan dosisnya mungkin perlu disesuaikan pada pasien dengan PGK untuk menghindari toksisitas.73 m2 (kategori LFG G1-G3a). obatobatan yang terikat pada albumin di keadaan hipoalbuminemia seperti nefrotik sindrom) o Hilangnya toleransi efek samping.4. dan itu harus dihentikan pada orang dengan GFR < 30 ml / menit / 1. penggunaannya harus ditinjau pada mereka dengan LFG 30-44 ml / menit / 1. direct renin inhibitor). dan digoxin. Kami merekomendasikan bahwa metformin dilanjutkan pada penderita LFG ≥ 45 ml / menit / 1.2.73 m2 (kategori GFR G4-G5). metformin. aldosteron inhibitor. Sebaiknya dilakukan penghentian sementara obat-obatan yang berpotensi nefrotoksik dan diekskresi melalui ginjal pada orang dengan GFR < 60 ml / menit / 1. Penggunaan obat-obatan herbal dan obat yang dibeli bebas di toko obat sangat umum di seluruh dunia dan beberapa diantaranya diketahui bersifat nefrotosik (seperti yang mengandung asam aristolochic) Tidak ada data mengenai baik keamanan berkualitas baik atau data khasiat senyawa ini. ARB.73 m2 (GFR kategori G3b). diuretik. 15 . Masalah potensial yang terkait dengan penggunaan obat-obatan pada orang dengan PGK meliputi: o Berkurangnya kemampuan untuk mengekskresi obat-obatan dan / atau metabolitnya o Peningkatan sensitivitas terhadap obat-obatan tertentu (misalnya. NSAIDs.73 m2 (kategori GFR G3a-G5) yang memiliki penyakit kambuhan serius yang meningkatkan risiko AKI. terutama diusia lanjut o Berkurangnya efikasi obat Kami menyarankan saat memberikan resep pengobatan kepada penderita PGK sebaiknya memperhatikan LFG dalam penghitungan dosis.

16 .

o Withdrawal Agen yang berpotensi nefrotoksik sebelum dan setelah prosedur o Hidrasi yang adekuat dengan saline sebelum. hospitalisasi. dan definisi nefrotoksisitas. dan setelah prosedur o Melakukan pengukuran LFG 48-96 jam setelah prosedur 2.73 m2 (terutama jika < 30 ml / menit / 1. Tidak ada definisi yang disepakati secara internasional.6 PGK dan resiko terjadinya infeksi. gagal ginjal akut.5 Studi pencitraan Penggunaan media radiocontrast iodinasi telah dikaitkan dengan AKI.73m2 (kategori GFR G3a-G5) menjalani pemeriksaan elektif yang melibatkan administrasi media radiocontrast ter-iodinasi secara intravaskuler harus dikelola sesuai dengan Pedoman Praktik Klinis KDIGO untuk AKI termasuk: o Menghindari penggunaan Agen osmolar tinggi o Gunakan dosis radiocontrast terendah yang memungkinkan. dilaporkan tingkat kejadian sekitar 0-11% tergantung pada populasi yang diteliti. selama. tetapi kebanyakan penelitian menggunakan peningkatan dari SCr >0. Media radiokontras yang terkait AKI merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang dapat dicegah.4. studi epidemiologi dan kasus telah mengidentifikasi faktor-faktor risiko berikut untuk AKI: a) GFR < 60 ml / menit / 1. Sehingga kita harus dapat menyeimbangkan risiko terjadinya gangguan akut pada fungsi ginjal karena menggunakan agen kontras terhadap nilai diagnostik dan implikasi teurapetik.73 m2) h) Penggunaan dosis besar media radiocontrast i) injeksi Intra-arterial j) Gout (hyperuricemia) Kami merekomendasikan bahwa semua orang dengan GFR < 60 ml / min / 1. dan mortalitas PGK dan risiko infeksi 17 .73 m2) b) Diabetes c) adanya dehidrasi d) CHF e) > 70 tahun f) penggunaan agen nefrotoksik seperti NSAID g) Penggunaan unsur osmolalitas tinggi (terutama pada mereka dengan GFR < 60 ml / menit / 1.5 m/dl(44 mmol / l) dan / atau meningkat 25% dari baseline SCr dalam waktu 3 hari dari prosedur tindakan.2.4. jenis zat yang digunakan.

PGK dapat menjadi resikomultiplier untuk penyakit infeksi yang berkaitan dengan kematian. diabetes. Pada populasi umum. atau mereka yang menerima pengobatan dengan imunosupresan) menerima vaksinasi dengan vaksin pneumokokus polivalen kecuali kontraindikasi. o Kami merekomendasikan bahwa semua orang dewasa dengan PGK yang ditawarkan untuk menjalani vaksinasi tahunan dengan vaksin influenza.73 m2 (kategori GFR G4-G5) diimunisasi terhadap hepatitis B dan respon dikonfirmasi oleh tes darah yang tepat. o Sebaiknya semua orang dewasa dengan PGK yang telah menerima vaksinasi pneumokokus. o Sebaiknya semua orang dewasa yang beresiko tinggi dalam progresivitas PGK dan memiliki LFG < 30 ml / menit / 1. Infeksi merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas di antara pasien dengan gagal ginjal dan merupakan penyebab utama kedua kematian setelah PKV. 18 . dan sepsis. seperti halnya pada PKV. o Sebaiknya semua orang dewasa dengan eLFG <30 ml/min/1. sindrom nefrotik. ada bukti kuat bahwa tindakan pencegahan sangatlah efektif pada orang dewasa dan ada data yang menunjukkan adanya manfaat dari imunisasi pada orang dengan PGK. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa 3 komplikasi infeksi yang paling sering terlihat pada populasi PGK adalah: infeksi saluran kemih. PGK dikaitkan dengan perubahan dalam mekanisme pertahanan primer dari host dan meningkatkan risiko infeksi bakter.73 m2 (kategori LFG G4-G5) dan mereka yang berisiko tinggi terhadap infeksi pneumokokus (misalnya. pneumonia. ditawarkan vaksinasi ulang dalam waktu 5 tahun. kecuali kontraindikasi. Meskipun respon untuk vaksinasi kurang efektif. ada data yang menunjukkan adanya manfaat dari imunisasi pada orang dengan PGK.PGK dikaitkan erat dengan kejadian komplikasi infeksi yang signifikan sebesar 3 sampai 4 kali pada populasi umum.

bahkan tanpa adanya PGK. CKD dan risiko hospitalisasi dan mortalitas Beberapa studi observasional dan database telah dilakukan untuk melaporkan hubungan antara PGK dengan resiko hospitalisasi dan mortalitas. Risiko AKI meningkat bahkan lebih besar dengan adanya PGK disertai kehadiran komorbiditas lain seperti diabetes. daya cadang ginjal (kapasitas ginjal untuk meningkatkan GFR dalam menanggapi stimulus) menurun. orang yang lebih tua cenderung untuk mengalami AKI. dan peningkatan fraksi filtrasi. Pada orang yang lebih tua. Tingkat kematian tetap tinggi (16-22%) dengan menggunakan dialisis. Orang dengan PGK adalah target yang ideal untuk intervensi yang bertujuan mengurangi morbiditas. dan penyakit kardiovaskular. 19 . hospitalisasi. Karena daya cadang ginjal terbatas. dan ginjal menjadi lebih rentan terhadap progresivitas cedera ginjal (renal injury). meningkatkan vasokonstriksi ginjal. Namun belum dilakukan studi secara adekuat mengenai hubungan potensial antara pasien dengan AKI.o Pertimbangan vaksin hidup harus mencakup pertimbangan atas status kekebalan pasien dan harus sejalan dengan rekomendasi dari badan-badan resmi pemerintah. dengan lebih dari setengah dari semua kematian yang berhubungan dengan PKV. hipertensi. dan biaya perawatan. arteriosklerosis. PGK dan resiko AKI Berdasarkan hubungan epidemiologi antara PGK dan AKI dan sejumlah studi observasional melaporkan hubungan antara yang sudah ada antara PGK dan AKI. PGK dianggap sebagai kondisi yang sudah ada (pre-existing condition) yang paling konsisten berhubungan dengan risiko tinggi terjadinya AKI. mortalitas. Perubahan yang berkaitan dengan usia merupakan awal terjadinya penurunan aliran plasma ginjal yang efektif. dan ESRD dan masih belum jelas patofisiologinya. PGK.

5. Penyakit jantung / hipertensi adalah diagnosis primer yang paling umum pada hospital admission dan PGK progresif / gagal ginjal akut adalah penyebab sekunder yang paling umum dari diagnosis saat hospitalisasi 2.1 Rujukan untuk pelayanan spesialis 20 . penyakit tulang dan mineral. atau mencegah perkembangan penyakit dan merupakan fokus utama dari inisiatif internasional di bidang penyakit ginjal.73 m2 dibandingkan pada mereka dengan LFG > 60 ml / menit / 1. Tujuan dari identifikasi awal dan rujukan termasuk: 1. asidosis) 6. anemia. Identifikasi perlambatan/perkembangan PGK 3. pencegahan. Didapatkan presentase 38% lebih tinggi pada orang dengan PGK dan 19% lebih besar pada orang dengan PGK dan LFG di bawah 60 ml / menit / 1. dan pengelolaan komplikasi PGK tertentu (misalnya.5. Angka admission PKV lebih besar pada penderita PGK dengan kategori LFG yang lebih tinggi.Data dari United States Renal Data System (USRDS) mengungkapkan bahwa tingkat hospitalisasi bervariasi dengan komorbiditas dan berkaitan dengan derajat PGK. akses penempatan dan perawatan. Evaluasi dan manajemen kondisi komorbiditas 4. Identifikasi. Dukungan psikososial dan penyediaan perawatan konservatif dan pilihan perawatan paliatif di mana diperlukan 2. transplantasi preemptive) 7.73 m2. Rujukan ke spesialis dan bentuk perawatan pada pasien PGK Identifikasi awal dan rujukan pasien dengan PGK memiliki potensi untuk mengalami progresivitas yang reversible. Perencanaan dan persiapan untuk TPG (misalnya. pilihan modalitas. kurang gizi. Penyediaan terapi spesifik berdasarkan diagnosis 2. Pencegahan dan pengelolaan PKV 5. menghambat.

Adanya progresivitas PGK sedimen eritrosit pada pemeriksaan urinalisis. PGK dengan hipertensi refrakter terhadap pengobatan dengan 4 atau lebih    obat antihipertensi. pemahaman dan rujukan ke praktisi lain (misalnya. tim transplantasi. RBC > 20/lpb yang  berkelanjutan dan tidak dapat dijelaskan. Direkomendasikan rujukan yang tepat waktu untuk mempersiapkan atau merencanakan terapi penggantian ginjal pada pasien PGK progresif yang memiliki resiko gagal ginjal dalam waktu 1 tahun sebesar 10-20 % atau lebih tinggi Pernyataan ini bertujuan untuk mengingatkan para praktisi klinis bahwa ada kebutuhan untuk melakukan rujukan yang tepat waktu untuk perencanaan Terapi Penggantian Ginjal (TPG) untuk memastikan dilakukannya pengambilan keputusan dan hasil yang baik. dan didasarkan pada masing-masing pasien dan faktor resikonya. Bagian kedua dari 21 .73 m2 (kategori LFG G4-G5) *. dll).Kami menyarankan untuk melakukan rujukan ke layanan spesialis untuk perawatan ginjal (specialist kidney care services) untuk orang-orang dengan PGK dalam situasi berikut:  AKI atau penurunan dalam LFG yang terjadi terus menerus  LFG < 30 ml / menit / 1. ahli bedah vaskular. kurang lebih setara dengan PCR ≥   500mg / g [≥ 50mg / mmol] atau PER ≥ 500 mg / 24 jam). Sebenarnya waktu yang dibutuhkan minimal setidaknya 1 tahun untuk memastikan edukasi yang tepat. kelainan persisten kalium serum Nefrolithiasis yang luas dan berkurang penyakit ginjal keturunan.  temuan konsisten albuminuria signifikan: (ACR ≥ 300mg / g [ ≥ 30mg / mmol] atau AER ≥ 300 mg / 24 jam. Penggunaan kata 'tepat waktu' tidak jelas karena hal ini belum ditentukan.

dan masyarakat. yang akan menentukan populasi sasaran dan tujuan. transisi ke arah penurunan yang berat pada LFG dan gagal ginjal dapat berkembang dengan cepat. Pada individu tersebut rujukan dini ke nefrologi perlu diperhatikan tapi ketika fungsi ginjal seseorang relatif stabil (tingkat penurunan GFR < 5ml / min / 1. kami sarankan menggunakan panduan rujukan.5. Komponen khusus untuk bentuk perawatan PGK meliputi: protokol untuk laboratorium dan kunjungan klinik. Oleh karena itu. seperti diabetes. program vaksinasi.pernyataan mengacu pada fakta bahwa orang-orang yang mengalami progresivitas penyakit (dibandingkan dengan mereka yang stabil) adalah orang-orang yang akan mendapatkan keuntungan dari rujukan terapi TPG ini.73 m2 / tahun). memperhatikan komorbiditas kardiovaskuler dan penyakit penyerta terkait PKV terkait seperti anemia.2 Perawatan pasien dengan PGK progresif Perawatan yang optimal adalah bahwa perawatan yang mengarah ke hasil yang terbaik bagi individu. Model perawatan bervariasi sesuai dengan keparahan PGK. program edukasi yang meliputi PGK secara umum dan edukasi TPG (termasuk 22 . Bentuk perawatan PGK mengikuti prinsip yang sama yang terkandung dalam bentuk perawatan penyakit kronis. 2. populasi. Pada orang-orang tertentu. ada kebutuhan untuk menerapkan alat-alat prediksi untuk membantu mengidentifikasi risiko progresivitas.

atau gangguan kognitif Hal ini sering kali terjadi tapi tidak selalu terjadi dalam kisaran LFG antara 5 dan 10 ml / menit / 1. perawatan psikologis. opsi transplantasi. abnormalitas asam-basa atau elektrolit. modifikasi gaya hidup termasuk pola makan. dan sosial. hospice atau rumah sakit). manajemen individu. dan kecemasan.3 Waktu inisiasi Renal Replacement Therapy (RRT) Kami menyarankan agar dialisis dimulai ketika terdapat satu atau lebih dari berikut ini: gejala atau tanda-tanda yang timbul gagal ginjal (serositis.4 Struktur dan proses manajemen konservatif yang komprehensif Manajemen konservatif harus menjadi pilihan pada orang yang memilih untuk tidak menjalani TPG dan ini harus didukung oleh program pemerintah yang komprehensif. 2. Semua program perawatan PGK dan penyedia layanan harus mampu memberikan perencanaan perawatan yang terbaik bagi orang-orang dengan PGK sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan termasuk orang-orang yang menjalani perawatan ginjal konservatif. pruritus). . dan perawatan sosio-budaya untuk pasien sekarat dan keluarga mereka (baik di rumah. 23 . penurunan progresif dalam status gizi.73 m2. seperti depresi.  2. olahraga.73 m2. Donor transplantasi ginjal Hidup pãda orang dewasa harus dipertimbangkan ketika LFG < 20ml / min / 1. operasi akses vaskular. Program manajemen terapi konservatif yang komprehensif harus mencakup protokol untuk manajemen simptom dan nyeri.5. pendidikan dan konseling tentang modalitas yang berbeda dari TPG. dan berhenti merokok. perawatan yang bersifat rohani. dan ada Bukti PGK Progresif Dan ireversibel selama 6-12 bulan sebelumnya.2.manajemen konservatif jika sesuai). dan perawatan psikologis. Kami menyarankan bahwa orang dengan PGK progresif harus dikelola dalam perawatan multidisiplin. ketidakmampuan untuk mengontrol status volume atau tekanan darah. (2B) 5.5. dan konseling dan dukungan untuk faktor-faktor sosial.2: Tim multidisiplin harus mencakup atau memiliki akses ke konseling diet.

endokrin dan fungsi metabolisme menurun bersama dalam sebagian besar penyakit ginjal kronis. PGK dapat 24 .   Fungsi   ekskretoris. Laju filtrasi glomerulus (LFG) adalah estimasi terbaik dari fungsi ginjal.  Deteksi dini dapat membantu mencegah perkembangan penyakit ginjal.   yang   mungkin   tidak   sensitif   dan   tidak   spesifik   untuk   penyebab penyakit   tertentu   tetapi   bisa   mendahului   penurunan   fungsi   ginjal.BAB III PENUTUP Kerusakan   ginjal   mengacu   pada   berbagai   kelainan   yang   diamati   selama pemeriksaan   klinis.

 79: 1331–1340. 39: S1–266. panduan dalam memberikan dosis obat. kelemahan tulang. Astor BC et al. National Kidney Foundation. menjadi patokan dalam persiapan untuk direncanakannya TPG. Astor BC. Matsushita K.  . Lower estimated glomerular filtration rate and  higher albuminuria are associated with mortality and end­stage renal disease.2012. Matsushita K. Gansevoort RT et al. van der Velde M et al.  . Am J Kidney Dis 2002. A collaborative meta­analysis of  general and high­risk population cohorts. K/DOQI clinical practice guidelines for chronic kidney disease:  evaluation. DAFTAR PUSTAKA Kidney International Supplements (2013) 3. doi:10. anemia. Kidney Int 2011. van der Velde M.  . Gansevoort RT. 136–150. Matsushita K. classification.mengembangkan komplikasi seperti tekanan darah tinggi. 80: 93–104. and stratification.72  . kesehatan gizi buruk dan kerusakan saraf. A collaborative  meta­analysis of kidney disease population cohorts. Association of estimated glomerular filtration rate 25 . Perawatan yang optimal adalah bahwa perawatan yang mengarah ke hasil yang terbaik bagi individu. populasi. Dari penjelasan diatas kita ketahui bahwa LFG dan albuminuria merupakan kedua hal yang dapat memberikan kita begitu banyak informasi. Kidney Int 2011. dan masyarakat.1038/kisup. dan dapat memberikan gambaran prognosis pasien Sehingga dapat kita lihat bahwa PGK merupakan sebuah kondisi yang kompleks dan memerlukan sebuah penanganan dan perawatan yang menyeluruh dengan banyak hal yang perlu dipertimbangan. Lower estimated GFR and higher  albuminuria are associated with adverse kidney outcomes. dimulai dari diagnosis.

 KDIGO clinical practice guideline for anemia in chronic kidney  disease. Rowe JW. Kidney inter. Lower estimated glomerular filtration rate and  higher albuminuria are associated with all­ cause and cardiovascular mortality.  .  . KDIGO AKI Work Group.  Am J Kidney Dis 2009. Lancet 2012.  26 . Coresh J. 84: 567–569. Kidney inter.  . and treatment of Chronic Kidney Disease­ Mineral and Bone Disorder  (CKD­MBD). Physiology of the human kidney. KDIGO clinical practice guideline for acute kidney injury. KDIGO clinical practice guideline for glomer­ ulonephritis. prevention. 74: 101–107. A collaborative  meta­analysis of high­risk population cohorts. Coresh J et al. 1969.and albuminuria with all­cause and cardiovas­ cular mortality in general population cohorts: a  collaborative meta­ analysis. James MT. Levey AS. Hailpern SM.  . Levey AS. Chertow GM et al. Kidney Int 2011. Suppl. James MT. Atkinson AJ. Kidney  inter. Grune & Stratton: New York. 79: 1341–1352. 18: 2205–2213. Matzke GR. Lancet 2010. 2: 1–138. 76(Suppl 113): S1–130. 80: 1122–1137. Suppl. 376: 2096–2103. Moderate chronic kidney disease and cognitive  function in adults 20 to 59 years of age: Third National Health and Nutrition Examination Survey  (NHANES III). Glomerular filtration rate. Coresh J. Cohen HW et al. Hall YN. Quan H. J Am Soc Nephrol 2007. Kidney Int 2011. 2: 337–414.. 379: 165–180. Frailty and chronic kidney disease: the Third National  Health and Nutrition Evaluation Survey. Wiebe N et al.  . and the  incidence and consequences of acute kidney injury: a cohort study. The risk of acute renal failure in patients with chronic  kidney disease. 2012. Conceptual model of CKD: applications and implications.  . M KT et al. Suppl..  . Jr. KDIGO clinical practice guideline for the management of blood  pressure in chronic kidney disease. 2012. Matsushita K. KDIGO Anemia Work Group. Am J Kidney Dis 2009. Aronoff GR. Cardiovascular disease in chronic kidney disease. 375: 2073–2081. et al. 2: 139–274. Wesson L. Andres R. CKD and risk of hospitalization and death with pneumonia. 53: S4–16.  evaluation. Herzog CA.  . Wilhelm­Leen ER..  . Melamed ML. . Berger AK et al. Kidney  inter. Suppl. KDIGO BP Work Group.  . Lancet 2010.  . Asinger RW. 2012. KDIGO GN Work Group. KDIGO CKD­MBD Work Group. Ordonez JD. Stevens LA. 122: 664–671 e662. Hsu CY. KDIGO clinical practice guideline for the diagnosis.  .  .  80: 572–586. van der Velde M. Kidney Int 2008.. Drug dosing consideration in patients with acute  and chronic kidney disease­a clinical update from Kidney Disease: Improving Global Outcomes  (KDIGO). 54: 24–32.  . 2012. Hemmelgarn BR. Tonelli M et al. A  clinical update from Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO).  . Kidney Int 2011. Ann  Intern Med 1976. Am J Med 2009. Kidney Int Suppl 2009. 2: 279–335.  . Tobin JD. proteinuria. Letter: Age­adjusted standards for creatinine clearance. Chronic kidney disease.

 The association between age and nephrosclerosis on renal  biopsy among healthy adults. Gambhir S. 152: 561–567. Rule AD. Am J Kidney Dis 2008. Demographic and clinical characteristics associated with glomerular filtration rates in living kidney donors. Prasad N et al. 51: 407–414. Levels of GFR and protein­induced hyperfiltration in kidney  donors: a single­center experience in India. Barai S.  27 . Ann Intern Med 2010. 75: 1079–1087.  .  . Poggio ED.. Amer H. Tanchanco R et al. Rule AD. Kidney Int 2009. Cornell LD et al.