BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pendahuluan
Latar belakang cedera luka bakar

membawa prognosis buruk. Dengan

kemajuan dalam resusitasi cairan dan munculnya eksisi dini pada luka bakar,
memberi harapan dalam kelangsungan hidup bahkan untuk pasien dengan luka bakar
berat. Perbaikan lanjutan dalam perawatan dan kemajuan dalam bioteknologi kulit
penderita, masa depan di mana hasil fungsional dan psikologis adalah sama
pentingnya dengan kelangsungan hidup itu sendiri. Dengan pergeseran prioritas,
American burn Association telah menekankan rujukan ke pusat-pusat pelayanan
khusus setelah stabilisasi awal. Kriteria khusus harus di berikan pelayanan pada
pasien dengan cedera yang lebih kompleks atau kebutuhan medis lainnya ke pusat
luka bakar.
Amerika burn

Association telah menerbitkan standar pelayanan

dan

menciptakan proses verifikasi untuk memastikan bahwa pusat-pusat penanganan
luka bakar

dapat memenuhi standar.

Karena peningkatan langkah-langkah

keamanan pra-rumah sakit ini , agar pada kasus luka bakar dengan pasien yang
memiliki jarak tempuh yang lebih jauh untuk menerima perawatan definitif di pusat
luka bakar daerah dapat segera ditangani, data terakhir dari satu pusat luka bakar
dengan luas daerah bahwa transportasi bahkan rata-rata 7 jam tidak mempengaruhi
hasil jangka panjang dari pasien luka bakar.
2.2

Epidemiologi
Menurut laporan tahun 2002 dari American Burn Association, lebih dari 1,1

juta orang di Amerika mengalami luka bakar setiap tahunnya, yang mana lebih dari
50.000 jiwa di rawat di rumah sakit dan 4500 jiwa meninggal. Bagaimana pun
tujuan dari perawatan luka bakar sebagai subspesialisasi bedah adalah untuk
meningkatkan kelangsungan hidup secara menyeluruh dan memperbaiki kualitas
hidup seseorang.
Di rumah sakit anak di Inggris, selama satu tahun, terdapat sekitar 50.000
pasien luka bakar dimana 6400 diantaranya masuk ke perawatan khusus luka bakar.
1

Antara 1997-2002 terdapat 17.237 anak di bawah 5 tahun mendapat perawatan di
gawat darurat di 100 rumah sakit di amerika
Dalam hal ini Wawasan klinis dari perawatan luka mengacu pada fisiologis
cairan dan elektrolit, infeksi bedah, pemeliharaan nutrisi, pemantuan kardipulmonal,
dan perawatan luka diamana tak satupun dapat diatasi sebagai kondisi yang terpisah
tanpa pemahaman proses penyakit secara keseluruhan. Pusat – pusat perawatan luka
bakar sebaiknya dilengkapin dengan peralatan yang dapat memberikan pelayanan
pendukung jangka panjang, untuk pasien dengan luka bakar yang lebih kecil dan
tidak memerlukan rawat inap.
.ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT

Secara anatomis kulit dibagi menjadi tiga lapisan, yaitu epidermis, membrane basalis,
dan dermis. Dengan matriks ekstraseluler sangat sedikit, epidermis terutama terdiri
dari sel – sel khusus yang melakukan fungsi vital. Membrane basalis memenuhi
fungsi – fungsi biologis termasuk organisasi jaringan, persediaan faktor pertumbuhan
dan penghalang selektif semipermeabel. Dermis terdiri dari matriks ekstraseluler yang
2

menyediakan dukungan untuk jaringan yang kompleks seperti saraf, pembuluh darah,
dan struktur adneksa. Matriks ekstraseluler adalah kumpulan protein berserat yang
terkait glikoprotein dan proteoglikan. Molekul – molekul yang berbeda diorganisir ke
dalam jaringan yang terkait dengan sel – sel yang memproduksinya. Matriks
ekstraseluler dapat mengatur sel – sel disekitarnya, termasuk kemampuan untuk
bermigrasi, berkembang biak dan bertahan dari cedera.

LUKA BAKAR

Luka bakar
Ialah luka yang disebabkan oleh termis, elektris maupun khemis
> Termis :
- benda panas: padat, cair, udara/uap
- api
- sengatan matahari / sinar panas
> Elektris : aliran listrik tegangan tinggi
> Khemis : asam kuat, basa kuat
3

Etiologi / penyebab
1. Suhu
Panas ( api, uap, air )
2. Listrik
3. Kimia Asam – basa
4 Radiasi
5 Laser
Luas luka bakar
Wallace membagi tubuh atas bagian – bagian 9 % atau kelipatan dari 9 terkenal
dengan nama Rule of Nine atau Rule
of

Wallace.
Kepala dan leher 9 %
Lengan 18 %
Badan Depan 18 %
Badan Belakang 18 %
Tungkai 36 %
Genitalia/perineum 1 %
Total 100 %

Derajat Luka Bakar
Dikelompokkan berdasarkan kedalaman kerusakan yang terjadi. luka bakar
derajat 1, 2, 3, sedangkan sekarang digolongkan menjadi :
a) Superficial thickness (luka bakar derajat 1)

4

Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (surperficial), kulit hipermik berupa
eritem, tidak dijumpai bullae, terasa nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik
teriritasi. Penyembuhan terjadi secara spontan tanpa pengobatan khusus.
b) Luka Bakar Derajat II
Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi
disertai proses eksudasi. Terdapat bullae, nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik
teriritasi

-

Partial thickness superficial (IIA)
Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari dermis.
Organ – organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebecea masih banyak.
Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa terbentuk
sikatrik.
Partial Thickness Deep ( II B)

5

Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa – sisa jaringan epitel
tinggal sedikit. Organ – organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjar sebacea tinggal sedikit. Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai
parut hipertrofi.

c) Full thickness ( Luka Bakar Grade III ).
o Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan yang lebih dalam sampai,
mencapai jaringan subkutan, otot dan tulang. Organ kulit mengalami
kerusakan.
o tidak ada lagi sisa elemen epitel. Tidak dijumpai bullae, kulit yang terbakar
berwarna abu-abu dan lebih pucat sampai berwarna hitam kering. Terjadi
koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.
o Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi karena ujung – ujung sensorik
rusak.
o Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi epitelisasi spontan.

Berat Ringan Luka Bakar
Luka Bakar berat
a) Derajat 2 – 3 > 20% pada pasien berusia < 10 tahun atau diatas 50 tahun
b) Derajat 2 – 3 > 25 % pada pasien berkelompok usia selain yang disebutkan pada
c)
d)
e)
f)

butir pertama
Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki dan perineum
Adanya cedera pada jalan napas tanpa memperhitungkan luas luka bakar.
Luka bakar listrik tegangan tinggi
Disertai trauma lainnya
6

g) Pasien – pasien dengan resiko tinggi
Luka Bakar Sedang
a) Luka bakar dengan luas 15 – 25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat 3
kurang dari 10%.
b) Luka bakar dengan luas 10 – 20 % pada anak usia kurang dari 10 tahun atau
dewasa lebih dari 40 tahun dengan luka bakar derajat 3 kurang dari 10%
c) Luka bakar derajat 3 kurang dari 10% pada anak maupun dewasa yang tidak
mengenai muka, tangan, kaki dan perineum.
Luka Bakar Ringan
a) Luka bakar dengan luas kurang dari 15 % pada orang dewasa
b) Luka bakar dengan luas kurang dari 10 % pada anak – anak
Luka bakar dengan luas kurang dari 2 % pada segala usia yang tidak mengenai muka,
tangan, kaki, dan perineum

PATOFISIOLOGI
Luka bakar terjadi karena proses koagulasi dan nekrosis dari epidermis dan
jaringan yang mendasarinya, dengan kedalaman tergantung dari terpaparnya kulit oleh
suhu dan durasinya.Luka bakar diklasifikasi berdasarkan penyebabnya menjadi 5
yaitu :
1. Flame Burns
Kerusakan berasal dari suhu yang tinggi
2. Scald Burns
Kerusakan berasal dari kontak langsung dengan cairan panas
3. Contact Burns
Kerusakan berasal dari kontak langsung dengan material solid yang panas ataupun
dingin
4. Chemicals Burns
Diakibatkan karena iritasi zat kimia berbahaya
5. Electricity Burns
Konduksi listrik langsung ke jaringan.
Daerah kulit yang luka dibagi menjadi 3 zona, yaitu :
1. Zona koagulasi
Adalah daerah yang langsung mengalami kerusakan ( koagulasi protein ) karena
luka bakar.
2. Zona stasis
Adalah daerah yang langsung berada diluar zona koagulasi. Di daerah ini terjadi
kerusakan endotel pembuluh darah ( tromboxan A2 suatu vasokonstriktor kuat
datang dengan konsentrasi tinggi pada luka bakar yang berefek menghambat
peningkatan aliran darah ) , trombosit, leukosit sehingga diikuti oleh gangguan
7

perfusi, diikuti oleh perubahan permeabilitas kapiler dan respon inflamasi lokal
( interaksi endothelial lokal dengan neutrofil )
3. Zona hiperemia
Daerah diluar zona stasis yang ikut mengalami reaksi vasodilatasi tanpa banyak
melibatkan reaksi seluler. Dapat mengalami penyembuhan spontan atau berubah
menjadi zona stasis bila terapi tidak adekuat

Evaluasi awal
Evaluasi awal dari pasien luka bakar melibatkan empat penilaian penting:
manajemen jalan nafas, evaluasi cedera lainnya, estimasi ukuran luka bakar, dan
diagnosis keracunan karbon monoksida dan sianida. Dengan cedera termal langsung
ke saluran napas bagian atas atau inhalasi asap, napas cepat dan edema saluran napas
parah adalah ancaman yang berpotensi mematikan. Penting untung mencurigai adanya
kemungkinan terjadinya cedera inhalasi, selain menilai kondisi luka bakar pada pasien
dengan melihat luas luka terbakar, jenis luka bakar, tampat terjadinya luka bakar, lama
paparannya, dan bagian tubuh mana saja yang terkontak. Antisipasi dengan kebutuhan
intubasi dengan pemasangan ETT maupun dilakukanya trakeostomi. Tanda – tanda
adanya cedera inhalasi ini bisa dilihat dari ada tidaknya sumbatan pada jalan napas
pasien, meliat ada tidaknya bulu hidung ,kumis dan sekitar wajah yang terbakar,
menilai suara napas , serak, mengi, stridor, menilai rongga mulut dan faring bersih
atau kotor, cepat atau tidaknya napas, bagaimana bentuk dan gerak dari dinding
kedua lapang paru. Tentukan pula ada tidaknya trauma torax baik itu yang sudah ada
sebelumnya maupun yang timbul sesaat setelah kejadian.
Resusitasi
Upaya untuk menjaga dan mengembalikan jumlah cairan pada pasien luka
bakar sangat menentukan hasil akhir dari terapi. Dan dapat mencegah

proses

terjadinya komplikasi serta gangguan yang dikarenakan penurunan jumlah cairan
pada luka bakar.
Secara umum rumus – rumus yang dapat dugunakan untuk memenuhi kebuhan
caiaran poda kasus luka bakar.
Burn Resuscitation Formulas
Electrolyte

Colloid Solution

D5W
8

Parkland formula

Solution
Isotonic crystalloid formulas
Lactated Ringer's
4 mL/kg per %
TBSA burn
/2 volume during

1

ModifiedBrooke

first 8 h postinjury;
Lactated Ringer's

formula
2.0 mL/kg per %
Haifa formula

TBSA burn
Lactated Ringer's
1 mL/kg per %
TBSA burn
/2 volume during

1

first 8 h postinjury;
1
/2 during next 16 h
postinjury

Monafo formula

Warden formula

Fresh-frozen plasma
1.5 mL/kg per % TBSA
burn
/2 volume during first 8 h

1

postinjury;
/2 during next 16 h

1

postinjury

Hypertonic formulas
25 mEq/L NaCl
Volume titrated to UOP
30 mL/h
Lactated Ringer's plus
50 mEq NaHCO3 (180
mEq Na/L) titrated to
UOP 30–50 mL/h for 8
h postinjury
Lactated Ringer's
titrated to UOP 30–50
mL/h beginning 8 h

Evans formula

postburn
Colloid formulas
0.9% saline 1 mL/kg
Fresh-frozen plasma

2000 mL

per % TBSA burn
1 mL/kg per % TBSA
Brooke formula

Lactated Ringer's
1.5 mL/kg per % TBSA

burn
Fresh-frozen plasma
0.5 mL/kg per % TBSA

burn

burn

2000 mL

9

Slater formula
Demling
formula

Lactated Ringer's
2000 mL/24 h
Dextran 40 in 0.9%

Fresh-frozen plasma
75 mL/kg per 24 h
Fresh-frozen plasma

NaCl
2 mL/kg per hour for 8

0.5 mL/kg per hour

h postinjury;

starting 8 h postburn
continued for 18 h

Lactated Ringer's
titrated to UOP >30
mL/h for next 18 h
postburn

Catatan : pusat luka bakar individu dapat memodifikasi rumus dasar untuk
kebutuhan mereka sendiri.
D5W = dekstrosa 5% dalam air; NaCl = natrium klorida; NaHCO3 = sodium
bikarbonat; TBSA = total luas permukaan tubuh; UOP = output urin.
INDIKASI RAWAT
1. Derajat 2 > 15% pada dewasa, > 10% pada Akses intravena. Semua
pasien dengan

luka

bakar 20% atau lebih

besar memerlukan

cairan

intravena. Dua 16-gauge atau lebih besar kateter vena perifer harus dimulai
segera untuk
pada ekstremitas

memberikan dukungan
atas lebih

disukai

sirkulasi volume. Akses
daripada akses

perifer

vena sentral,

karena risiko infeksikateter terkait. Sebuah kateter intravena dapat ditempatkan
melalui membakar jika situs lain yang cocok tidak tersedia. Hindari ekstremitas
bawahkateter, jika mungkin, untuk mencegah komplikasi phlebitic.anak
2. Derajat 2 pada muka, tangan, kaki, perineum, atau persendian.
3. Derajat 3 > 2% pada dewasa, setiap derajat 3 pada anak berapa pun luasnya.
4. Disertai trauma jalan napas, luka listrik dan komplikasi lain.



Perawatan luka ( balutan atau terbuka )
Balutan :
Bayi, anak atau dewasa yang tidak kooperatif.
Luka bakar dalam yang disiapkan untuk skin graft
o Melindungi luka terhadap pengaruh sekitar, misalnya berobat jalan, atau
karena dipindahkan.
Mengurangi kontraktur sendi
Menciptakan keadaan yang baik untuk penyembuhan luka.
10


Menghemat keluarnya panas dengan mengurangi penguapan.
Balutan tidak dilakukan pada muka, leher, dan perineum.
Skin Graft ( homograft, hetereograft )
 Luka bakar lebih cepat untuk skin graft ( setelah debridement tapi masih ada




jaringan yang mati ).
Melindungi luka granulasi
Menutup jaringan yang luka sesudah eksisi jaringan yang mati
Mengurangi penguapan dan eksudasi protein
Mengurangi sakit.
Segera setelah trauma luka bakar masih steril sampai beberapa jam kemudian tumbuh
koloni bakteri gram (+) yang berasal dari folikel rambut. Pada hari ke 5-6 tumbuh
koloni gram (-) terutama karena kematian jaringan yang disebabkan oleh trauma dan
invasi kuman ke pembuluh darah.
PENGOBATAN OPERATIF
Eksisi tangensial
Membuang eskar dengan jaringan dibawahnya sampai persis diatas fascia yang ada
pleksus pembuluh darah sehingga bisa langsung skingraft. Eksisi jaringan nekrotik
luka bakar secara berulang – ulang / paralel, permukaan kulit dengan pisau. Skin graft
dilakukan pada derajat 2 dalam, bila dibiarkan penyembuhan > 3 minggu, eksisi ini
disusul dengan skin graft. Waktu terbaik pada hari ke 2 – 5 karenan bintik – bintik
perdarahannya (+) berarti siap untuk graft.
Eksisi sampai dengan jaringan hidup
Kemudian dilakukan skingraft, untuk luka kecil dan dalam.
Escharotomy
Eksisi eskar untuk persiapan skin graft. Escharotomy dini, jaringan yang mati masih
tersisa maka perlu escharotomy lanjutan, bila granulasi (+) maka siap untuk graft.
Pada luka bakar derajat 3, eskar kering sehingga dapat menjepit nervus, vena dan
arteri. Untuk itu perlu eskarotomi. Dibawah eskar adalah jaringan lemak yang miskin
pembuluh darah sehingga granulasi lambat.
Fasciotomy
Biasanya dikerjakan pada luka bakar listrik karena terjadi edema sebelah dalam
fascia. Bila terjadi penekanan saraf maka akan terjadi kesemutan, sedangkan bila
terjadi penekanan vena maka akan terjadi udem.
Komplikasi
11

-

Syok hipovolemik
Kekurangan cairan dan elektrolit
Hypermetabolisme
Infeksi
Gagal ginjal akut
Masalah pernapasan akut; injury inhalasi, aspirasi gastric, pneumonia bakteri,

edema.
- Paru dan emboli
- Sepsis pada luka
- Ilius paralitik

Prognosa
Para Baux skor (angka kematian = usia + persen TBSA) digunakan selama
bertahun-tahun untuk memprediksi mortalitas pada luka bakar, dan analisis berbagai
faktor risiko usia pada luka bakar dan persen TBSA sebagai prediksi terkuat pada
mortality. Kemajuan pada penangan luka bakar sangat baik dalam menurunkan
angka kematian pada skor baux. Namun, faktor usia dan luas ukuran luka bakar,
serta cedera inhalasi, terus menjadi penanda paling kuat untuk tingkat mortality pada
luka bakar.Umur, bahkan sebagai variabel tunggal, sangat memprediksi mortalitas
pada luka bakar, dan mortalitas pada pasien luka bakar inhospital adalah fungsi usia
terlepas dari comorbidities. selain itu adanya penyakit lain yang telah ada seperti
HIV, metastsis kanker, panyakit ginjal, dan penyakit hati akan mempengaruhi
mortalitas dan lama kesembuhan .Sebuah studi database besar terakhir 68.661 pada
pasien luka bakar ditemukan bahwa variabel dengan nilai prediksi tertinggi untuk
mortalitas adalah usia, persen TBSA, cedera inhalasi, trauma yg hidup
berdampingan, dan pneumonia.
Pencegahan
Meskipun banyak kemajuan dalam proses pencegahanya, luka bakar terus
menjadi sumber umum dari suatu cedera. Beberapa inisiatif yang telah sukses untuk
bisa digunakan dalam kehidupan bermasyarakat. Misal, Alarm asap diketahui
menurunkan angka kematian dari kebakaran struktural, tetapi tidak semua rumah
dilengkapi dengan alarm asap yang tepat, terutama dalam rumah tangga
berpendapatan rendah. Selain itu adanya tempat perawatan dan pelayanan khusus
untuk pasien luka bakar disetiap daerah maupun pusat pusat kota diharapakan dapat
mencegah terjadinya komplikasi – komplikasi yang tidak diinginkan yang berkaitan
12

dengan lama dan kurang tepatnya suatu perawtan pada luka bakar. Jarak tempuh dan
lama perjalanan juga harus diperhatikan. Memberikan penyuluhan serta melakukan
inspeksi dari rumah kerumah diperlukan, baik sebagai upaya kewaspadaan maupun
pengetahuan yang diperlukan jika suatu saat terjadi hal – hal yang tidak diinginkan
seperti luka bakar.
Penelitian untuk masa depan
Dalam bidang studi itu Telah lama anekdot mencatat bahwa dua pasien dari
usia yang sama dan ukuran luka bakar yang sama mungkin memiliki tanggapan yang
sangat berbeda untuk luka bakar mereka. Perhatian sedang semakin berubah untuk
mengidentifikasi perbedaan genetik antara pasien luka bakar dan bagaimana mereka
berespon terhadap cedera. Varian alel tertentu telah dikaitkan dengan peningkatan
mortalitas pada pasien luka bakar. Mungkin perbedaan genetik dapat mempengaruhi
pasien luka bakar untuk sepsis berat, mungkin dengan penurunan regulation yang
berespon pada respon peradangan. kekebalan tubuh dan Respon Host pada Cedera
adalah multicenter, prospektif, federal mendanai penelitian yang bertujuan untuk
menentukan jalur genetik tertentu yang berbeda pada respon luka bakar dan cedera
traumatis. Darah dan jaringan sampel yang diambil dari populasi pasien yang
didefinisikan secara ketat dianalisis menggunakan array gen untuk menentukan
apakah ekspresi diferensial dalam jalur genetik tertentu mempengaruhi gejala klinis.
Dengan kemajuan yang dicapai, diharapakan dapat menigkatkan kelangsungan
hidup bagi setiap pasien denga luka bakar. Sejak tahun 1993, National Institute burn
dan Rehabilitasi Penelitian luka bakar sebagai sistem model untuk meningkatkan
kemajuan keberhasilan bagi yang selamat. Studi-studi sangat

penting untuk

memahami hambatan yang dihadapi pasien kembali ke komunitas mereka, untuk
tempat kerja, atau ke sekolah.

13

DAFTAR PUSTAKA
Brunicardi, F. Charles. Schwartz’s Principles of Surgery, ninth edition. The McGraw-Hill
Companies, Inc. United States of America. 2010
Sabiston Textbook of Surgery, 18th ed. 2007 Saunders, An Imprint of Elsevier.
Stead, Latha. G, dkk. Thermal Injuries at First Aid for the Surgery Clerkship. The
McGraw-Hill Companies, Inc. United States of America. 2003
Silbernagl Stefan, Florian Lang. Color Atlas of Pathophysiology at a Glance. Thieme
Flexibook. New York. 2000
Guyton & Hall. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Penerbit Buku
Kedoketran EGC. Jakarta

14

15

Related Interests