ANALISIS PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN

DAN KESEHATAN KERJA DI PT KERISMAS WITIKCO MAKMUR
BITUNG

JURNAL

OLEH :
ALFRED BILLY WUON
080112081

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2013

Wuon, Alfred. Analisis Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Di
PT Kerismas Witikco Makmur Bitung. Skripsi, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi. Pembimbing : (I) Prof. dr. Jootje
M. L. Umboh, MS (II) dr. Paul A. T. Kawatu, MSc (III) dr. Woodford B.
S. Joseph, MSc
ABSTRAK
Dalam UU No. 13 Tahun 2003 Pasal 87 Ayat 1 Tentang Ketenagakerjaan
dinyatakan bahwa ”Setiap perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang terintegrasi dengan sistem
manajemen perusahaan”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dalam upaya
meminimalkan kecelakaan kerja di PT. Kerismas Witikco Makmur Bitung (PT.
KWMB).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
pengumpulan data secara in-depth interview. Informan terdiri dari manajemen
perusahaan, Pemerintah setempat, dan Serikat Pekerja. Variabel penelitian yaitu
sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja meliputi Komitmen dan
Kebijakan, Perencanaan, Penerapan, Pengukuran dan Evaluasi, dan Tinjauan
Ulang. Untuk menetapkan keabsahan data dilakukan teknik triangulasi.
Hasil penelitian menunjukkan Komitmen dan kebijakan di PT KWM
Bitung belum berdasarkan Permenaker No. 05/Men/1996 Lamp. 1 Poin 1 dimana
perusahaan belum menempatkan organisasi ataupun seorang ahli keselamatan
dan kesehatan kerja (K3), perencanaan K3 di PT KWMB juga belum sesuai
dengan Permenaker No. 05/Men/1996 Lamp. 1 Poin 2 dimana perusahaan belum
menetapkan tujuan dan sasaran program K3 yang terdokumentasikan, penerapan
SMK3 diperusahaan yang sudah dilakukan dalam perlindungan keselamatan para
pekerja yaitu berupa pengadaan sejumlah alat pelindung diri sebagai upaya teknis
pencegahan kecelakaan kerja, sedangkan tinjauan ulang SMK3 di PT KWMB
juga belum berdasarkan Permenaker No. 05/Men/1996, dimana perusahaan belum
melakukan Audit SMK3.
Perusahaan disarankan agar membentuk organisasi K3 dalam struktur
organisasi di perusahaan atau menempatkan karyawan yang kompeten dibidang
K3 berdasarkan Permenaker No. 05/Men/1996 Lamp. 1 Poin 1, dan bagi Para
karyawan disarankan untuk lebih meningkatkan kesadaran akan pentingnya K3
dan mematuhi segala peraturannya.
Kata kunci :

Sistem

Manajemen

Kselamatan

i

dan

Kesehatan

Kerja.

Alfred. Supervisor: (I) Prof. 1 Poin 2 where in this case the company has yet to establish goals and objectives are documented K3 program. Public Health Faculty. Research variables in this study are safety and health management system of work that includes commitment and Policy. 13 tahun 2003 Pasal 86 Ayat 1 and 2 which states "Every worker/laborer have the right to protection of: occupational safety and health. Jootje M. Planning. namely the technique of triangulation. 1 Poin 1. and Revisited. Paul A. MSc ABSTRACT UU No. where in this case the company has not put the organization of the Safety Management and health work in their company. Umboh. 05/Men/1996 or in this case has not appeared in the form of a statement or commitment letters and documents concerning the measurement and evaluation of SMK3 in the company. Essay. T. Kerismas Witikco Makmur Bitung (PT KWMB). The purpose of this research is to describe the implementation of the Occupational Safety and Health Management System an effort to minimize accidents in PT. Based tripartite. Measurement and Evaluation. Keywords: The Safety Management And Health Work System i . 05/Men/1996. Sam Ratulangi University. and treatment in accordance with human dignity and religious values. dr. while the review of SMK3 in PT Kerismas Witikco Makmur Bitung is still not based on Permenaker No. Joseph. Kawatu. This study uses qualitative research methods where to collect the data by in-depth interviews. Implementation. planning K3 in Kerismas Witikco Makmur PT Bitung is also not in accordance with Permenaker No. morals and decency. S. implementation the company already has commitments and policies that have made the company K3 safety protection of workers in the form of provision of self safety tools as a technical effort in the company's accident prevention. 05/Men/1996 Lamp. local governments. 05/Men/1996 Lamp. MSc (III) dr. informants in this study consisted of three parties. The results showed that commitment and policy on PT KWM Bitung not based on Permenaker No. To establish the validity of the data. namely the firm. employees are advised that in addition to further raise awareness of the importance of K3 and obey all the rules.Wuon. MS (II) dr. L. Recommended that companies establish K3 organization in the organizational structure in the company in the form of placing competent employees in the field K3 based exist from perudang-undangan. Woodford B. Kerismas Witikco Makmur Bitung. and unions. conducted the examination techniques through several activities. where the company haven‟t do the audits of SMK3. Analysis of the Safety Management and health work System In PT. measurement and evaluation in the company SMK3 not based Permenaker No.

1 % cacat fungsi.1 Tujuan Umum Untuk menganalisis pelaksanaan SMK3 dalam upaya meminimalkan 1 .54 % cacat total. Hampir setiap hari kerja. Berdasarkan undang-undang No.647 tenaga kerja (6. dan 0.73%) diantaranya mengalami cacat. lebih dari 27 tenaga kerja mengalami cacat. Kerismas Witikco Makmur Cabang Bitung ? 1. Kerismas Witikco Makmur Bitung adalah untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja serta meningkatkan produktivitas kerja perusahaan. Jamsostek cabang Bitung ditinjau dari biaya penyembuhan karyawan yang pernah cidera di PT. Per. BAB I. 2010). 13 Tahun 2003 Pasal 87 Ayat 1 Tentang Ketenagakerjaan dinyatakan bahwa ”Setiap perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”. 2013).36 % cacat sebagian. Kerismas Witikco Makmr Bitung menurut PT.3. adapun berdasarkan data jaminan kecelakaan kerja (JKK) PT. Pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja di PT. Ini terbagi atas 61. pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)” (Syartini. 05/MEN/1996 pasal 3 ayat 1 dan 2 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang menyatakan bahwa ”Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan.1 Latar Belakang Berdasarkan data kecelakaan kerja PT. PENDAHULUAN 1. berdasarkan data Jamsostek di tahun 2010 sebanyak 6. No. maka perusahaan harus mempersiapkan sarana dan prasarana sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan programprogram yang dapat mengurangi angka kecelakaan kerja di perusahaan.2 Rumusan Masalah Bagaimana penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatatn kerja (SMK3) yang telah dilakukan di PT. dari 98. Salah satu programnya adalah program keselamatan dan kesehatan kerja para tenaga kerja. Jamsostek cabang Kota Bitung terdapat 40 kasus kecelakaan kerja di perusahaan tersebut dari tahun 2007 sampai pada tangal 24 april 2013.13 Tahun 2003 Pasal 86 Ayat 1 dan 2.3 Tujuan Penelitian 1. Selanjutnya ketentuan mengenai penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) diatur dalam Permenaker RI.Dalam UU No. 1. Dan untuk riwayat kecelakaan kerja di PT. Jamsostek cabang bitung yang bertempat di kantor dinas tenaga kerja kota bitung. 38. kebakaran. Kerismas Witikco Makmur Bitung rata-rata biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam upaya pengobatan karyawan masih dibawah ukuran pembiayaan cidera serius (Jamsostek.711 kasus kecelakaan kerja dari tahun 2007 sampai tanggal 24 april 2013 terdapat sebanyak 1112 kasus kecelakaan kerja yang terjadi di Sulawesi Utara.

2. Kerismas Witikco Makmur Bitung.3. Kerismas Witikco Makmur Bitung. Menurut Mangkunegara. Menambah ilmu pengetahuan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Keselamatan dan Keselamatan Kerja adalah sesuatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya.1 Pengetian dan Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kesehatan kerja 2. 2. cukup derajat kesehatan yang optimal). bila tidak. 2009) : 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut : 1. Kerismas Witikco Makmur Bitung. hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur. 3. 2.2 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Hakekat dan tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yaitu (Suma‟mur. 5. Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.1 Pengertian Keselamatan dan Kesehatan kerja Kesehatan dan keselamatan kerja dalam beberapa definisi diantaranya adalah (Kawatu 2012): 2 . Untuk mengetahui pelaksanaan pengukuran dan evaluasi program SMK3 di PT. Sasaran adalah manusia 2. 2009): 1. fisik. maupun sosial dengan opaya promotif. dan manusia pada umumnya. Menjadi bahan bacaan bagi peniliti selanjutnya di bidang kesehatan. 3. Untuk mengetahui perencanaan SMK3 di PT.kecelakaan kerja di PT. serta terhadap penyakit pada umumnya.2. kuratif. 3. Menurut Suma‟mur. mental. Jackson. Kerismas Witikco Makmur Cabang Bitung. emosional.2 Tujuan Khusus 1. menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukan kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang disediakan oleh perusahaan. 1. 4. Dengan demikian kesehatan kerja merupakan spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedoteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan sebaik-baiknya (dalam hal dimungkinkan. Kerismas Witikco Makmur Bitung. Untuk mengetahui komitmen dan kebijakan pihak manajemen terhadap SMK3 di PT. Untuk mengetahui penerapan program SMK3 di PT.2. dan rehabilitatif terhadap penyakit/gamgguan kesehatan yang di akibatkan oleh pekerjaan ada/atau lingkungan kerja. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan kepada pihak pengambil keputusan perusahaan dalam meningkatkan derajat K3 di perusahaan. Untuk mengetahui tinjauan ulang terhadap program SMK3 yang telah dilakukan di PT. 1. Kerismas Witikco Makmur Bitung. Jelas sifat-sifat kesehatan kerja yaitu (Suma‟mur. preventif. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2. Bersifat medis/ kesehatan 2.

tujuan dan sasaran penerapan SMK3. yang berlandaskan kepada perbaikan daya kerja dan produktivitas faktor manusia dalam produksi. pencapaian. petani. efisien dan produktif. pelaksanaan. tanggung jawab. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara 2. 5. ]5/ MEN/ 1996 pasal 3) Dalam penerapan SMK3 perusahaan wajib melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai berikut (pasal 4 ayat 1) : 1. prosedur. penerapan. penerapan. pelaksanaan. nelayan. Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peladakan. 3. Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja seoptimal mungkin (dalam hal tertentu mungkin setinggitingginya. perencanaan. tanggung jawab. Merencanakan pemenuhan kebijakan. pencapaian. seandainya kondisi yang diperlukan cukup memadai). pengusaha dan non-ekonomi formal. 2. dengan demikian dimasudkan untuk tujuan menyejahterakan tenaga kerja. menyebutkan bahwa SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan meliputi struktur organisasi. 2009). proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan. pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan SMK3. Oleh karena hakekat tersebut selalu sesuai dengan maksud dan tujuan pembangunan di dalam suatu negara atau masyarakat atau perusahaan. Mengukur. 4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 05/ MEN/ 1996 pasal 1 3 . Menetapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan SMK3.2 Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (SMK3) Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) meliputi struktur organisasi. dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan. pada pekerja/buruh. pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman. memantau dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan. informal serta non formal. Sebagai alat untuk meningkatkan produksi dan produktivitas.1. pegawai negeri. proses. maka K3 senantiasa harus dimanfaatkan dalam setiap prosespem bangunan dan pengembangan masyarakat (Suma‟mur. (Permenaker No. Menerapkan kebijakan secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan. prosedur. kebakaran. perencanaan. pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman. tujuan dan sasaran K3. 2013). efisien dan produktif (Anonimous. 2.

2012) : 1. karena adanya jaminan keselamatan dan kesehatandalam kerja. Menunjukan bahba sebuah perusahaan telah beritikad baik dalam mematuhi peraturan perudangan. Peraturan PerUndang-Undangan dan Standar. peraturan keselamatan dan kesehatan kerja dicetak dalam bentuk buku saku yang selalu dibawa oleh tenaga kerja. Bagaimana Top Manajemen menempatkan organisasi K3 di perusahaan serta dukungan yang diberikan merupakan pencerminan dari komitmen terhadap K3. sehingga dapat 4 . Memberikan kepuasan dan meningkatkan loyalitas pekerja terhadap perusahaan. Sebaiknya dibentuk tim untuk mendokumentasikan peraturan perUndang-Undangan dan standar K3. Menetapkan Kebijakan K3 Perusahaan. Melakukan audit dan meninjau ulang secara menyeluruh (Azmi. Ada dua macam ukuran yang dapat digunakan yaitu ukuran bersifat reaktif yang didasarkan pada kejadian kecelakaan dan ukuran yang bersifat proaktif. Dari hasil identifikasi ini kemudian disusun Peraturab K3 perusahaan dan Pedoman pelaksanaan K3. 2. Penerapan SMK3. melindungi keselamatan dan kesehatan semua pekerja termasuk kontraktor dan stacholder lainnya seperti pelanggan dan pemasok. Untuk melaksanakan kebijakan K3 secara efektif dengan peran serta semua tingkatan manajemen dan pekerja. Menerapkan SMK3. Sebelum implementasi harus diidentifikasi semua peraturan perUndang-Undangan dan standar K3 yang berlaku dalam perusahaan yang bersangkutan. Mengorganisasikan. Yaitu pernyataan mengenai komitmen dari organisasi untuk melaksanakan semua ketentuan K3 yang berlaku sesuai dengan operasi perusahaan. 2008). Langkah-langkah dalam mengembangkan sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatn Kerja dapat diuraikan sebagai berikut (Azmi.3 Manfaat Penerapan SMK3 Pengaruh positif terbesar yang diraih akibat penerapan manajemen K3 pada sistem manajemen perusahaan adalah adanya pengurangan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Selain itu. beberapa manfaan lain dari penerapan manajemen K3 adalah (Kawatu.berkesinanmbungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3. 5. dengan menggunakan standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu. agar setiap pekerja memahami peraturan dan persyataratan lainnya. 6. Perusahaan harus menyediakan personil yang memiliki kualifikasi. 3. Praktek pada banyak perusahaan. 4. 2. Mengukur dan memantau hasil pelaksanaan. Perusahaan harus memebuat perencanaan yang efektif guna mencapai keberhasilan penerapan dan kegiatan Sistem Manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur. 2. 2008) : 1. 7. sarana yang memadai sesuai sistem Manajemen K3 yang diterapkan dengan membuat prosedur yang dapat memantau manfaat yang akan didapat maupun biaya yang harus dikeluarkan. karena didasarkan kepada upaya dari keseluruhan sistem.

serta 5. 3. 4. 4.2 Waktu penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2012 sampai bulan Maret 2013. Perencanaan. SMK3 adalah suatu sistem K3 di perusahaan yang melibatkan unsur manajemen. sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut. dan berada dalam koridor yang teratur. Komitmen / kebijakan K3 adalah tekad. kemudian meningkatkan kualitas produk dan jasa yang dihasilkan.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3. dan Tinjauan Ulang. 3.1 Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan.beroperasi secara normal tanpa menghadapi kendala dari segi ketenagakerjaan. Adanya dukungan dari perusahaan untuk melakukan penelitian ini. Pengukuran dan Evaluasi. Penerapan. 3. 2009). Menciptakan adanya aktivitas dan kegiatan yang terorganisir. PT. METODE PENELITIAN 3. 3.5 Definisi Operasional 1. tenaga kerja dan lingkungan kerja untuk mengurangi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja di PT. Perencanaan K3 adalah suatu perencanaan guna mencapai keberhasilan penerapan SMK3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur di PT. atau sakit akibat kerja. 3.2. keinginan dan pernyataan tertulis pengusaha atau pengurus dalam pelaksanaan K3 di PT. Penerapan K3 adalah pelaksanaan K3 di perusahaan yang meliputi jaminan kemampuan. 3. 3. Kerismas Witikco Makmur Bitung. 2.2. Kerismas Witikco Makmur Bitung.4 Variabel Penelitian Variabel penelitian dalam penelitian ini yaitu sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang meliputi Komitmen dan Kebijakan. sehingga organisasi dapat berkonsentrasi melakukan peningkatan sistemm anajemennyadibandingkan melakukan perbaikan terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi. kerusakan. Kerismas Witikco Makmur Bitung telah menerapkan upayaupaya meminimalisir kecelakaan kerja. 5 . kagiatan BAB III.3 Informan Informan diperlukan untuk memperoleh berbagai informasi yang diperlukan oleh peneliti. Kerismas Witikco Makmur Bitung. Kerismas Witikco Makmur Bitung. karena tenaga kerja dapat bekerja optimal. 3. terarah. Belum pernah dilakukan penelitian tentang SMK3 di PT. Mencegah terjadinya kecelakaan.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data secara In-depth Interview (wawancara mendalam) (Rahmat. 2. Kerismas Witikco Makmur Bitung dengan pertimbangan : 1.

8 Analisis Data Untuk menetapkan keabsahan data. Manajer Umum selaku pengelola SMK3 di perusahaan melakukan kerjasama dengan pihak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bitung dalam upaya meminimalisir kecelakaan kerja. ini 3.1 Kepeminpinan dan Komitmen Hasil wawancara menunjukan SMK3 di PT. Wawancara mendalam (In-depth Interview) yaitu percakapan atau tanya jawab untuk menggali suatu informasi tertentu. 3. Di bawah ini merupakan hasil wawancara dari informan manajer umum atau HRD perusahaan dan hasil wawancara dari informan HRD Cabang Manado mengenai SMK3 di PT. beserta dokumen K3 yang ada di PT. identifikasi sumber bahaya. KWMB sepenuhnya diatur dan dikoordinir oleh Manajer Umum perusahaan. Kerismas Witikco Makmur Bitung.1 Data Primer Data primer ini berupa data pernyataan informan tentang penerapan sistem manajemen K3 di perusahaan.7 Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian adalah peneliti sendiri. Kerismas Witikco Makmur Bitung. 2. data karyawan.1. penilaian dan pengendalian resiko di PT. Kerismas Witikco Makmur Bitung. 3.1 Komitmen dan Kebijakan 4.2 Data Sekunder Data sekunder ini berupa profil perusahaan. BAB IV. Kerismas Witikco Makmur. HASIL PENELITIAN 4. Observasi yaitu mengamati secara langsung kegiatan yang dilakukan oleh PT. maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data sekaligus menguji kredibilitas data. yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data (Sugiono. Sekalipun tidak memiliki organisasi K3 yang terstruktur.pendukung. pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan SMK3 di PT. Kerismas Witikco Makmur Bitung. 3. Tinjauan ulang K3 adalah suatu tinjauan kembali dari pelaksanaan K3 untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan di PT. Kerismas Witikco Makmur Bitung. 6.1. Studi Dokumentasi yaitu dengan mengamati setiap dokumendokumen mengenai sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang dimiliki oleh PT. struktur organisasi. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triagulasi.6 Metode pengumpulan data 3. yang relah ada.6. Pengukuran dan evaluasi K3 adalah sistem pengukuran. yang diperoleh dari hasil wawancara dan pendataan langsung di PT. 3. triagulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data 6 .6. KWMB. Dimana dalam teknik pengumpulan data. 2009). Adapun triangulasi yang dilakukan ialah : 1. 5. Kerismas Witikco Makmur Bitung.1. dilakukan teknik pemeriksaan melalui beberapa kegiatan yaitu dengan triangulasi.

dan juga pada beberapa titik berbahaya kami telah meletakan tandatanda bahaya bagi karyawan. Yang kesemuanya itu adalah standar dari yang telah ditetapkan oleh pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung ketika selesai melakukan pengamatan disini” (Informan H1) Berdasarkan hasil wawancara dengan HRD dan HRD cabang Manado perusahaan. Adapun sistem manajemen K3 di perusahaan ini sepenuhnya dikoordinir langsung oleh saya selaku HRD perusahaan. dimulai dari pengadaan spanduk serta Berdasarkan gambar di atas sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku perusahaan juga memberikan hak dalam peberian bonus cuti terhadap karyawan di PT. Secara internal perusahaan ini tidak memiliki divisi khusus di dalam struktur organisasi perusahaan yang mengatur tentang K3. Sekalipun tidak memiliki organisasi internal mengenai K3. Bonus Cuti Karyawan “perusahaan ini tentunya memiliki tinjauan awal dalam K3. Yaitu dalam memamntau keperluan-keperluan apa saja yang di perlukan dalam memenuhi persyaratanpersyaratan K3. Pihak perusahaan memiliki upaya meminimalisir kecelakaan akibat kerja dengan melakukan kerjasama dengan pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung mengenai pelaksanaan SMK3. 2 di atas perusahaan sudah memiliki fasilitas berupa spanduk K3 di perusahaan. KWMB. 7 . Dengan dilakukannya peninjauan awal bersama pihak Dinas Tenaga Kerja. kami sudah memfasilitasi karyawan dengan fasilitas-fasilitaS K3 seperti yang saudara sudah lihat saat ini. berdasarkan penilaian resiko kemungkinan-kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat kerja. namun. kami melakukan kerja sama dengan pihak Disnaker Kota Bitung dalam melaksanakan program K3. yang dimana bagi petugas yang bekerja pada mesin produksi galvanis tetap diwajibkan untuk menggunakan alat-alat pelindung diri.APD yang sudah tersedia ” (Informan H2) “kami sudah menjalankan program K3 sejak tahun 1986. Gambar 3. Seperti pada hasil dokumentasi pada gambar.

Hal ini menunjukan adanya upaya perusahaan dalam meminimalisir kecelakaan kerja di perusahaan. 3 di atas dan sarana-sarana lain dalam K3. selain dalam pembelanjaan bahan baku dan kepentingan-kepentingan perusahaan. 3. pihak perusahaan sudah memfasilitasi setiap karyawan melalui pengadaan APD beserta spanduk dan peringatan-peringatan mengenai K3 pada gambar 2. 5 dan 6. adapun APD yang termasuk dalam anggaran kami terdiri dari safety shoes. pemberian hak cuti bagi karyawan seperti pada gambar. Anggaran-anggaran tersebut merupakan kebijakan sendiri dari pihak perusahaan dalam pengadaan APD dan fasilitasfasilitas lainnya mengenai K3. di dalam Rencana Kerja Anggaran Belanja (RKAB) perusahaan.“penyediaan anggaran mengenai K3 di perusaaan tetap ada dalam rencana anggaran belanja kami. Penyediaan Sarana K3 Penempatan personel sudah sesuai dengan kompetensi mereka di bidang masing-masing. perusahaan juga memasukan rencana anggaran untuk sarana-sarana lain yang diperlukan termasuk pengadaan APD. Penyediaan APD Perusahaan Berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi. Pengadaan APD (Sarung Tangan) Selain itu dengan adanya kerjasama antara perusahaan dengan Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung tersebut. 4. Salahsatu informan yang ditempatkan dibagian 8 . dan fasiltasfasilitas lain tentang K3” (H1) Gambar 6. helm. “untuk penyediaan anggaran disini kami mengadakan pengadaan anggaran mengenai APD sebanyak dua kali dalam setahun yaitu di bulan juni dan desember. sarung tangan. Gambar 5. Di bawah ini merupakan hasil wawancara dengan HRD perusahaan dan HRD cabang Manado mengenai penyediaan anggaran tenaga kerja dan sarana-sarana lain dalam K3. kebijakan-kebijakan tersebut juga berdasarkan hasil kerjasama kami dengan pihak Disnaker” (Informan H2) Gambar 4.

karyawan-karyawan disini ditempatkan pada posisi berdasarkan pendidikan terakhir mereka masingmasing. dan saya rasa perusahaan sudah tepat dalam menenempatkan setiap personel di perusahaan ini”(Informan K2) Setiap informan yang telah di wawancarai mengaku mamahami dan mematuhi peraturan dan kebijakan K3 yang telah di tetapkan oleh perusahaan. di indonesia belum tersersedia pendidikan khusus dibidang penggunaan mesin galvanis sehingga pihak perusahaan memberikan masa penyesuaian terlebih dahulu terhadap personel baru dalam penggunaan mesin. yang sama-sama ditempatkan di mesin pembentuk seng galvanis perusahaan ini. saudara tahu sendiri bahwa tidak ada pendidikan khusus terhadap spesialisasi penguasaan mesin galvanis. saya bersama beberapa teman lainya adalah lulusan STM dan beberapa lainnya Diploma bagian “seluruh karyawan di perusahaan memahami juga 9 . awalnya sekalipun belatar belakang pendidikan dibagian mesin. “. Sedangkan untuk bagian administrasi salahsatu informan mengaku ditempatkan sesuai dengan kompetensi yang ia milik.”(Informan K1) “penempatan saya di mesin galvanis ini awalnya belum sesuai kemampuan saya namun saya berhasil menyesuaikan diri dua bulan lebih dalam penguasaan mesin disini..”(Informan K1) “saya yang memiliki latar belakang sebagai skretaris ditempatkan sebagai sekretaris manajer.produksi. dan kami bisa. Di pihak lain manajer umum bahkan direktur perusahaan sendiri tidak mengambil tindakan dalam menanggapi hal tersebut. Berdasarkan pengakuan Manajer beserta sejumlah karyawan melalui wawancara di lapangan. mengaku belum paham dalam menjalankan tugasnya di perusahaan khususnya dalam pengguaan mesin galvanis. setiap karyawan baru perlu melakukan penyesuaian dalam bidang itu” (Informan H1) “semua aturan mengenai K3 menyangkut keselamatan karyawan perusahaan yang tentunya juga berdampak positif bagi kami pihak manajer perusahaan. Dan semuanya memulainya sambil belajar disini. Tetapi secara khusus dalam bidang produksi. Yang dengan demikian kami dapat menempatkan mereka berdasarkan kompetensi mereka. Kami selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi perusahaan dan selalu kami buktikan dengan tidak hanya memahaminya juga harus mematuhinya. mesin. Pada kenyataanya berdasarkan hasil observasi berserta dokumentasi langsung di lapangan ditemukan bahwa semua karyawan tidak mengenakan helm pada saat bertugas.

Karyawan Kru Galvanis Gambar 7. Proses Pengangkutan Seng Gambar di atas menunjukan berlangsungnya proses proses produksi atap baja galvanis dari bahan dasar baja galvanis yang di cetak menjadi lembaran seng kemudian seng yang sudah jadi di angkut dengan mesin Crain sebagai pengankut. dalam hal ini penggunaan helm dan penutup telinga. 000 lembar seng. di atas di ambil pada saat berlangsungnya proses produksi atap baja galvanis. Diman pada gambar tersebut terdapat dua Pada gambar 4 di bawah menggambarkan sejumlah karyawan 10 . Semua karyawan yang telah diwawancarai mengaku tidak nyaman mengenakanya. saya tentunya benar-benar mematuhi praturan dan kebijakan perusahaan tentang K3 ini. diangkut ke gudang hasil produksi.”(Informan K2) Gambar 6. ”(Informan K1) “ini adalah sarana penting dalam perusahaan. Setelah melakukan wawacara peneliti juga melakukan observasi dilapangan terlebih khusus melakukan pengamatan terhadap karyawan yang ditempatkan pada mesin produksi atap baja galvanis. dimana setiap karyawan tersebut mengenakan alat pelindung diri berupa safety shoes.mematuhi peraturan K3 yang ada. dan masker sesuai dengan prosedur K3 di perusahaan. karena jika tidak dipatuhi sama saja dengan merugikan diri saya. sekalipun saya ditugaskan sebagai sekretaris. begitupun penutup telinga pada gambar 7.”( Informan K2) yang berada di bawah mesin hanggar pengangkut seng beserta pengendali hanggar ditemukan tidak mengenakan helm pada saat menjalankan tugasnya. kaus tangan. Gambar 7. namun mengenai penggunaan helm pada gambar 6. dan penggunaan penutup telinga khususnya bagi karyawan yang terpapar dengan bising yaitu yang bertugas di dalam ruang produksi terlebih yang berada pada posisi paling dekat dengan mesin ditemukan tidak mengenakannya. saya menilai setiap karyawan produksi sudah memahami dan sudah mematuhi peraturan dan kebijakan K3. Dalam sehari perusahaan dapat menghasilkan kurang lebih 24. “sebagai petugas di bagian mesin galvanis.

dengan adanya koordinasi dengan pihak Dinas Tenega Kerja Kota Bitung maka perusahaan telah berupaya meminimalisir masalah K3 dalam pengadaan fasilitas-fasilat K3 di perusahaan. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh bahwa perusahaan mengaku sudah melakukan peninjauan awal yang dilakukan dibawah binaan pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung yang dimana dari hasil kerjasama tersebut menghasilkan pedoman dalam pemenuhan fasilitas-fasilitas K3 yang sudah di implementasikan di perusahaan. serta minimnya dukungan dari pihak manajer perusahaan dalam hal pengawasan di lapangan. Untuk lebih mengetahui adanya peninjauan awal yang dilakukan perusahaan. yaitu menilai resikoresiko bahaya yang bisa terjadi di perusahaan. peneliti tidak memperoleh hasil dokumentasi mengenai adanya peninjauan awal tersebut.”(Informan H1) “perusahaan ini tentunya memiliki tinjauan awal dala K3. Adapun hasil wawancara mengenai peninjauan awal perusahaan sebagai berikut. sekalipun sebagian ketentuan K3 dilanggar oleh faktor perilaku karyawan itu sendiri. Referensi keselamatan yang dijalankan di PT KWMB yang diperoleh hanya melalui ketentuan-ketentuan dari hasil tinjauan Dinas Tenega Kerja Kota Bitung. dalam hal ini berupa dokumen-dokumen perusahaan. “dalam hal ini perusahaan tidak membandingkan SMK3 perusahaan dengan perusahaan lain. ”(Informan H2) Studi dokumentasi tidak menemukan adanya tindakan perusahaan dalam melakukan peninjauan terhadap kebijakan K3 dengan membandingkan kabijakan K3 dengan pedoman lain. Maka disimpulkan bahwa perusahaan belum melakukan peninjauan awal secara signifikan mengenai faktor-faktor resiko kecelakaan kerja di perusahaan. perusahaan memiliki perencanaan K3 dalam pengadaan APD dan saranasarana K3 lainnya ” (Informan H2) “setelah melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung maka kami mengadakan tinjauan awal di perusahaan mengenai 11 . Dengan dilakukannya peninjauan awal bersama pihak Dinas Tenega Kerja Kota kami sudah memfasilitasi karyawan dengan fasilitasfasilita K3 seperti yang saudara sudah lihat saat ini.oarang karyawan kru mesin bersama satu orang sebagai Cuality Control. pengadaan APD dan spanduk K3. Sekalipun perusahaan tidak memiliki organisasi K3 di perusahaan. karna kami pikir resiko-resiko bahaya yang ada di perusahaan lain punya permasalahanpermasalahan K3 yang berbeda” (Informan H1) “dengan adanya koordinasi dengan pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung.

Berdasarkan hasil wawancara. “setiap permasalahan K3 perusahaan ini langsung dikonsultasikan kepada pihak DISNAKER Kota Bitung.2. Penilaian. KWM sudah mulai menjalankan upaya meminimalisir kecelakaan dan penyakit akibat kerja sejak tahun 1986 yaitu dengan melakukan koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja setempat mengenai upaya K3 di perusahaan. segala hal mengenai K3 di perusahaan ini langsung di 12 . “perencanaan-perencanaan tersebut sudah termasuk dalam rencara anggaran perusahaan”(Informan H2) 4. 4.2 Tujuan dan Sasaran Dari hasil wawancara diperoleh keterangan bahwa perusahaan juga belum menetapkan tujuan dan sasaran proyek K3 yang terdokumentasi.2 Kebijakan K3 Berdasarkan hasil wawancara.2. KWMB secara umum belum memadai karena secara internal tidak memiliki organisasi K3 ataupun menempatkan seorang ahli K3 dalam strukur organisasi. Namun kami selalu berada dibawah pengawasan dan pembinaan DISNAKER Kota Bitung dalam upanya K3 .1. Komitmen dan Kebijakan dalam penerapan manajemen K3 di PT. 4. dan pengendalian resiko. “seperti saya katakan tadi.konsultasikan kepada pihak DISNAKER.2 Perencanaan Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa perusahaan belum memiliki perencanaan secara tertulis atau signifikan mengenai K3 yang menjelaskan secara detil bagaimana bentuk perencanaan tersebut.2.”(Informan H1) “kami belum memilikinya. sekalipun kami tidak memiliki kebijakan khusus dari perusahaan.2. dan Pengendalian Resiko Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa secara sigifikan perusahaan juga belum mempunyai prosedur terdokumentasi yang mempertimbangkan identifikasi bahaya dan penilaian resiko.”(Informan H2) “perusahaan belum memimiliki perencanaanperancanaan lebih dalam mengenai K3 ”(Informan H1) 4. Resiko-resiko keselamatan tidak diidentifikasi dan ditinjau sebelumnya terhadap pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan.2.2.1.3 Indikator Kinerja Berdasarkan hasil wawancara perusahaan belum memiliki metode indikator kinerja.1 Perencanaan Identifikasi Bahaya.1. diketahui perusahaan belum menyusun kebijakan K3 dan kebijakan lingkunganya secara tertulis atau signifikan. PT. Adapun rencana mengenai K3 kami sudah rangkum dalam rencana anggaran yang sudah dilaksanakan dalam rencana anggaran kami seperti rencana anggaran pengadaan APD yang dilakukan di bulan juni dan desember setiap tahunnya ”(Informan H1) 4.

kemudian langsung melakukan tindakan. serta sosialisasi dan pengenalan dan prosedur-prosedur kerja bagi setiap karyawan khusus untuk bidang produksi. Pelaporan 13 .3.1 Jaminan Kemampuan Dalam rangka meningkatkan jaminan kemampuan karyawan berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi. serta mengsosialisasikan dan menjelaskan prosedur penggunaan mesin. setiap karyawan akan langsung menguasainya sekalipun memang memerlukan penyesuan terlebih dahulu beberapa saat”(Informan H1) 4. karena setelah menilai kapasitas keryawan berdasarkan riwayat pendidikannya. memberikan seleksi berdasarkan kriteriakriteria perusahaan. B. Adapun mekanisme pelaporan yang disusun di perusahaan dilakukan secara langsung dengan penyusunan berita acara untuk dimasukan kepada pihak DISNAKER Kota Bitung disaat terjadi sebuah insiden.3. 4. Semua insiden disini langsung dimasukan kedalam berita acara peruahaan yang nantinya dimasukan ke DISNAKER dan pihak rumah sakit” (Informan H1) Hasil observasi serta dokumentasi menunjukan bahwa sistem pelaporan di PT. Pendokumentasian “mengenai hal itu kami belum melakukan upaya peningkatan-peningakatan skil.2.2.2 Kegiatan Pendukung A. KWMB belum nampak bila ditinjau dari adanya dokumen-dokumen mengenai pelaksanaan SMK3 di perusahaan.2.2. PT.3 Penerapan 4.Berdasarkan hasil wawancara diketahui perusahaan belum memiliki prosedur pelaporan.4 Perencanaan Awal dan Perencanaan Kegiatan yang sedang berlangsung. 4. KWMB belum melakukan pelatihan untuk meningkatkan skil dan kemampuan pekerja melihat dari tanggung jawabnya. Berdasarkan hasil wawancara perusahaan belum memiliki perencanaan awal dan perencanaan kegiatan yang sedang berlangsung. dimana ketika adanya insiden mengenai K3 kami pihak perusahaan memastikan tingkat keseriusan kecelakaan dulu. Bagi setiap karyawan produksi yang masih baru diberikan kesempatan untuk melakukan penyesuaian ataupun masa percobaan yang nanti akan berkembang selama dia bekerja.2. dimana dalam hal ini perusahaan melakukan seleksi berdasarkan kriteria-kriteria perusahaan. “sistem pelaporan disini dilakukan dengan cara penanganan langsung.

Berikut ini hasil wawancara dengan pihak Dinas 14 .4 Pengukuran dan Evaluasi 4. Adapun hasil dokumentasi yang ada mengenai SMK3 di PT. Sementara yang kami ketahui resiko kecelakaan di perusahaan tersebut cukup tinggi dengan peggunaan alat. KWMB hanya berupa Laporan Hasil Pelaksanaan UKL/UPL yang pernah diselengggarakan di perusahaan tersebut pada tahun 2009 pada gambar di atas. Gambar 8.2. Mesin Dan Instalasi Di Tempat Kerja Gambar di atas menunjukan persyaratan standar k3 yang diwajibkan oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung dalam memenuhi standar K3 di suatu perusahaan manufaktur yang disebut sebagai Perlayanan Pemberian Pengesahan Pemakaian Alat.2. karena perusahaan tersebut belum pernah mengadakan pengesahan pemakaian alat. mesin dan instalasi yang berteknologi tinggi yang belum melalui pemeriksaan kami” (Informan D1) “untuk evaluasi sendiri kami lakukan pertahun. Laporan Hasil Pelaksanaan UKL/UPL Berdasarkan hasil wawancara perusahaan belum memiliki sistem pendokumentasian K3. 9 Perlayanan Pemberian Pengesahan Pemakaian Alat. Hasil wawancara menjelaskan perusahaan melakukan evaluasi terhadap SMK3 setiap setahun sekali.Tenaga Kerja Kota Bitung mengenai adanya kerjasama antara perusahaan dengan pihak dinas kerja setempat. “PT. Mesin Dan Instalasi Di Tempat Kerja Hasil wawancara dan dokumentasi menunjukan adanya Hasil wawancara Dengan Pihak Dinas Tenega Kerja Kota Bitung menunjukan adanya kekeliruan pihak perusahaan atas pengakuan perusahaan dalam hubungan kerja sama dengan pihak DISNAKER.1 Inspeksi dan Pengujian Perusahaan belum melakukan evaluasi terhadap SMK3 bahkan melalui Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung. 4. mesin dan instalasi berdasarkan ketentuan pemerintah. Semua berita acara mengenai insiden K3 diperusahaan langsung dimasukan ke DISNAKER. adapun hasil evaluasi tersebut tidak didukung dengan adanya dokumen ataupun dokumentasi dari pihak perusahaan mengenai tindakan evaluasi tersebut. adapun kegiatan tersebut kami masukan dalam agenda rapat akhir tahun kami yang didiskusikan dalam rangka menilai efisiensi upaya-upaya K3 di perusahaan”(Informan H1) Gambar. KWMB belum dalam pengawasan kami.4.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung. KWMB.4. mesin dan instalasi di tempat kerja termasuk ketersediaan ahli K3 di dalam sruktur organisasi perusahaan. Kecuali PT. mesin dan instalasi dari perusahaan tersebut” (informan P) 4.2.5 15 Tinjauan Ulang .pelayanan pemberian pengesahan pemakaian alat. pihak dinas tenaga kerja kota bitung sudah beberapa kali memberikan surat peringatan mengenai adanya pelanggaran dalam menjalankan SMK3 di PT. Dalam hal ini PT. KWMB belum manjalankan proses pengujian tersebut yang cenderung menunjukan bagaimana fungsi koordinasi dari perusahaan dengan Dinas Tenaga Kerja setempat belum benar-benar terkoordinasi dengan baik. mesin dan instalasi di tempat kerja dalam menguji kelayakan. KWMB dan itu dilakukan pertahunya. mesin dan instalasi di tempat kerja yang diajukan pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung terhadap perusaan-perusahaan setempat.2. perusahaan hanya memasukan berita acara mengenai insiden tersebut terhadap Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung. mekanisme pelaporan yang dilakukan oleh PT KWM belum sesuai prosedur yang telah ditetapkan dimana perusahaan belum memenuhi peraturan utama dalam rangka pengesahan pemakaian alat. “kami belum pernah melakukan audit”(Informan H1) “mekanisme pelaporan dari pihak perusahaan belum terkoordinir dengan baik. KWMB dalam menindak lanjuti pelanggaran- 4. Tetapi sampai sekarang kami belum menerima surat permohonan dari perusahaan tersebut dalam rangka pemeriksaan pemakaian alat. Indofood yang letaknya berdekatan dengan PT. Padahal kami memiliki mekanisme pelaporan yang terstruktur dengan perusahan-perusahaan lain” (Informan D1) “perusahaan-perusahaan lainya sudah melakukan audit. diataranya PT. KWMB mengenai proses pemeriksaan pemakaian alat. Maka mereka belum pernah melakukan audit” (Informan D1) Berdasarkian hasil wawancara. Bilamamana terjadi insiden di PT. KWMB. KWMB belum melakukan audit. pelanggaran yang dilanggar oleh perusahaan tersebut. KWMB tetap dimasukan ke pihak kami. sekalipun semua berita acara mengenai insiden di PT. „kami sudah berkali-kali mengajukan surat peringatan terhadap PT. dan resiko-resiko yang dapat ditimbulkan dalam proses produksi tersebut.2 Audit SMK3 Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak perusahaan dan pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung diketahui bahwa PT. karena belum sepenuhnya bekerjasama dengan kami.

“kami juga belum menjalankan tinjauan ulang”(Informan H1) 16 . KWMB belum melakukan tinjauan ulang.Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa PT.

KWMB sebagai HRD/Personalia dan sudah menjadi pegawai tetap di perusahaan tersebut dari tahun 2005 sampai sekarang. KWMB Sesuai dengan PERMENAKER No. 05/Men/1996. serta 1 orang dari pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung. KWM Cabang Manado yang sudah menjadi pegawai tetap di perusahaan tersebut dari tahun 2006 sampai sekarang. KWMB.2 Penerapan SMK3 di PT. Informan K1 Seorang lulusan sarjana muda jurusan sekretaris yang ditempatkan di PT. 5. sebagai berikut: 1. 4. 1 orang karyawan bagian produksi. BAB V. 17 . Informan H1 Seorang lulusan Fakultas Hukum di Universitas Samratulangi pada tahun 2004 yang dimana sekarang bekerja di PT.perusahaan tersebut sejak tahun 2011. KWMB sebagai Sekretaris Factory Manager di PT. Informan H2 Seorang yang bertugas sebagai HRD/Personalia di PT. KWM cabang Manado. 3. PEMBAHASAN 5. pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Wawancara dilakukan secara langsung (tatap muka). Informan K2 Seorang lulusan sarjana teknik mesin yang telah menyelesaikan pendidikannya di Institut Teknik Minahasa (ITM) Tomohon yang ditugaskan sebagai karyawan kru mesin galvanis di PT. dimana perusahaan belum memiliki organisasi K3 di perusahaan. 2. kebakaran. KWMB yang sudah menjadi pegawai tetap di perusahaan tersebut dari tahun 2009 Sampai sekarang. 1 karyawan sekretaris Factory Manager di PT KWMB. KWMB yang sudah menjadi pegawai tetap di 5. 1 orang HRD/Personalia PT. KWMB mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 147 karyawan dan mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja serta penyakit akibat kerja. PT. Adapun profile informan penelitian akan diuraikan. KWMB belum sesuai dengan pedoman SMK3 yang terdapat dalam lampiran 1 PERMENAKER No.1 Karakteristik Informan Wawancara penelitian dilakukan kepada beberapa informan dari pihak perusahaan yang terdiri dari 1 orang sebagai HRD/Personalia PT. Hasil penelitian mrnunjukan penerapan SMK3 di PT. Informan D1 Seorang pegawai negeri sipil yang ditugaskan di Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung yang menjabat sebagai pengawas SMK3 perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah kota Bitung. 05/MEN/1996 pasal 3 ayat 1 menyebutkan tentang perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan.

2 Tinjauan Awal K3 Permenaker No. namun upaya tersebut tidak didukung oleh adanya pendokumentasian tentang program-program K3 yang sudah dijalankan di perusahaan.2. berdebu.4 Perencanaan Pada Permenaker No. 05/Men/1996 lampiran 1 poin 2 diterangkan bahwa perusahaan harus membuat perencanaan yang efektif yang 18 . termasuk Keputusan Presiden Menteri. Berdasarkan hasil wawancara PT.JAMSOSTEK menjadi mitra perusahaan tentang jaminan kesehatan karyawan. 05/Men/1996 lampiran 1 poin 1. Menunjukan bahwa perlunya peningkatan SMK3 di perusahaan tersebut. maka diketahui bahwa PT.2 bahwa perusahaan harus melakukan peninjauan awal K3 dengan mengidentifikasi kondisi yang ada dibandingkan dengan ketentuan pedoman pemerintah. KWMB belum menempatkan seorang ahli K3 di perusahaan sesuai dengan Permenaker No. Adapun upaya meminimalisir kecelakaan kerja di PT. perusahaan menunjukkan komitmennya dengan menempatkan organisasi K3 pada posisi yang dapat menentukan keputusan perusahaan. 1 tahun 1970 yaitu instruksi Menteri tenaga kerja No. KWMB dilakukan dalam bentuk kerjasama yang di koordinir langsung oleh HRD perusahaan dimana dalam hal ini PT 5. dan cidera akibat tertimpa hanggar sehingga menimbulkan berbagai perhatian yang harus diimplementasikan baik demi keselamatan dan kesehatan pekerjanya. 2/M/BW/BK/1984 tentang pengesahan alat pelindung diri (Suma‟mur. peralatan dan lingkungan kerja wajib diutamakan. cidera akibat sayatan seng. serta Peraturan Perundangan lainnya mengenai K3 di perusahaan. Ins. pengamanan tempat. mesin dan instalasi ditempat kerja. Hasil observasi di PT KWMB menunjukan perusahaan sudah menunjukan upaya-upaya mengenai K3 di perusahaan diantaranya adalah pengadaan APD (alat pelindung diri) serta pengadaan spanduk K3.3 Komitmen dan Kebijakan 5. 2009). KWMB belum menjalankan tinjauan awal K3 sesuai dengan Peraturan pemerintah yang berlaku di Republik Indonesia.1 Kepemimpinan dan Komitmen Proses produksi yang ada di perusahaan ini identik dengan pekerjaan yang mengoperasikan alat berat dengan bekerja di dalam ruangan yang bising. 05/Men/1996 lampiran 1 poin 1. 5. KWMB belum menjalankan pengesahan pemakaian alat. dimana PT. sehingga digunakan alat pelindung diri. Namun kadang-kadang risiko terjadinya kecelakaan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Perlindungan keselamatan pekerja melalui upaya teknis. mesin. Ketentuan mengenai alat pelindung diri diatur oleh peraturan pelaksanaan Undangundang No. Hasil wawancara dengan pihak pengawas dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja Kota Bitung juga mendukung mengenai hal ini. Peraturan Daerah. Dengan belum menempatkan organisasi K3 di dalam perusahaan dan didukung oleh hasil wawancara terhadap HRD perusahaan.3.1 menerangkan bahwa pengurus harus menunjukkan kepemimpinan dan komitmen terhadap K3. 5. maupun ergonominya serta lingkungannya.

PT. PT. 05/Men/1996 lampiran 1 bahwa pelaporan dilakukan tepat waktu.3. Perusahaan juga belum menjabarkan rentang waktu serta tanggung jawab untuk mencapai tujuan dan sasaran program K3 serta mendokumentasikannya. Permenaker No. 5. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa dalam penetapan tujuan dan sasaran K3 perusahaan belum melibatkan perwakilan dari tenaga kerja.1. penilaian dan pengendalian resiko. dan Pengendaliannya Berdasarkan hasil wawancara peneliti mendapat keterangan bahwa perusahaan tidak mempunyai prosedur dalam mengidentifikasi bahaya. PT. Usaha untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja akan lebih berhasil apabila pihak manajemen menyingkirkan masalah-masalah yang ada pada perusahaan sedini mungkin.5 Penerapan 5.1 Jaminan Kemampuan Permenaker No. PT KWMB belum memastikan bahwa setiap dokumen tanggung jawab dan tanggung gugat serta wewenang telah dikomunikasikan dengan baik kepada setiap tingkatan manajemen. 05/Men/1996 lampiran 1 poin 2 menerangkan bahwa perusahaan harus menetapkan dan memelihara prosedur identifikasi. Hal ini cenderung belum sesuai dengan prosedur pelaporan yang ada di PT.3.4. Perusahaan juga belum rutin melakukan meeting baik yang harian.5. Hal ini didukung juga dengan belum ditemukanya dokumen-dokumen prosedur tersebut di perusahaan. dan organisasi K3. 5. KWMB karena perusahaan belum menjalankan sistem pelaporan tersebut. Permenaker No.2 Kegiatan Pendukung Berdasarkan Permenaker No. 05/Men/1996 lampiran 1 poin 3. Disamping operator mesin yang sudah cukup kompeten. KWMB belum menempatkan personel yang mempunyai kualifikasi yang dibutuhkan seperti Ahli K3. mingguan sebagai sarana konsultasi dan komunikasi masalah K3. dan tenaga kerja dibagian administrasi yang umumnya bersertifikasi. kualifikasi. pengendara kendaraan yang mempunyai SIM Perusahaan. 05/Men/1996 lampiran 1 poin 2. 05/Men/1996 lampiran 1 poin 2.3 dan 3. 05/Men/1996 lampiran 1 poin 3. Pada Permenaker No. sasaran dan indikator kinerja. KWMB belum menetapkan tujuan dan sasaran K3 secara signifikan.4 menjelaskan bahwa perusahaan harus mengatur dan memelihara kumpulan ringkasan pendokumentasian.2.2. ahli K3.memuat tujuan. serta perusahaan juga belum mempunyai prosedur pendokumentasian dan pengendalian dokumen. penilaian dan pengendaliannya.1 Perencanaan Identifikasi Bahaya. Hal ini belum sesuai dengan Permenaker No. Penilaian. 05/Men/1996 lampiran 1 disebutkan bahwa dalam mencapai penerapan SMK3 yang baik perusahaan harus menunjuk personel yang mempunyai 19 . Hal ini belum sesuai dengan Permenaker No.3 disebutkan bahwa semua pihak harus berperan serta dalam penerapan dan pengembangan SMK3.5. KWMB belum mempunyai Rencana Keselamatan Proyek yang 5.

6. Permenaker No. peraturan dan kebutuhan proyek secara spesifik. terbagi atas 4 kelompok yang bertugas sebanyak 2 kali setiap minggunya. Undang-undang No. Berdasarkan hasil wawancara. 8 jam kerja kerja termasuk 1 jam istirahat makan dan coffee break dalam 5 hari kerja setiap minggunya.00-17. Sedangkan untuk bagian administrasi dan security bekerja dimulai pukul 09.5. KWMB termasuk dalam 5 hari kerja dalam 1 minggu dan khususnya bagi karyawan produksi. Pengaturan jam kerja di PT. Dimana di perusahaan belum ada pelaksanaan inspeksi K3. diperoleh informasi bahwa PT. KWMB adalah 8 jam kerja. Rencana tindak darurat mencakup petunjuk untuk memperkecil kemungkinan timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan melalui deteksi dini.00.8 menjelaskan bahwa perusahaan hasrus memiliki prosedur untuk menghadapi keadaan darurat atau bencana. Perusahaan juga belum mempunyai prosedur inspeksi yang terencana. KWMB belum dilatih untuk mengidentifikasi. KWMB belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.3 Identifikasi Sumber Bahaya. dan Pengendaliannya Hasil wawancara menunjukan. tindakan penanggulangan. 13 tahun 2003 pada Pasal 77 ayat (3) juga disebutkan ketentuan waktu kerja pada ayat (2) tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu. 2005). Keputusan Menteri telah menetapkan 8 jam kerja untuk 5 hari kerja dalam seminggu. Pengendalian administratif yang berhubungan dengan waktu kerja telah ditentukan pada Undangundang No. menilai.00. para pekerja PT. yang diuji secara berkala untuk mengetahui keadaan pada saat kejadian yang sebenarnya. 5.6 Pengukuran dan Evaluasi 5. Perusahaan juga belum melaksanakan pelatihan-pelatihan untuk menghadapi kondisi darurat. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 77 ayat 2 menyebutkan ketentuan 8 (delapan) jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu. serta komunikasi darurat (Litbang PU. Yang kesemuanya itu dilatarbelakangi belum menempatkan personel yang mempunyai kualifikasi yang 20 . 5.3.merupakan dokumen penghubung antara perusahaan. untuk waktu kerja PT. 8 jam kerja kerja termasuk 1 jam istirahat makan dan coffee break. Penilaian. 05/Men/1996 lampiran 1 point 3. dalam penerapannya. Berdasarkan hasil wawancara pada para pekerja diperoleh keterangan bahwa mereka tidak keberatan dengan pembagian shift kerja . dan mengendalikannya. prosedur evakuasi. dimana masing-masing kelompok bekerja dimulai pukul 09. KWMB belum mempunyai prosedur dalam menghadapi keadaan darurat. PT KWMB juga belum mempunyai prosedur untuk jaminan kualitas untuk mengidentifikasi sistem dokumentasi. Usaha untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja akan lebih berhasil apabila pihak manajemen menyingkirkan masalah-masalah yang ada pada perusahaan sedini mungkin. peringatan.00-17.1 Inspeksi dan Pengujian Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan pengukuran dan evaluasi PT.

4. Komitmen dan kebijakan di PT KWM Bitung belum berdasarkan Permenaker No.2 Audit SMK3 Berdasarkan Permenaker NO. 3. Dimana perusahaan belum menempatkan kualifikasi tenaga K3 di perusahaan. sehingga didapat hasil yang obyektip.6 Tinjauan Ulang Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pelaksanaan tinjauan ulang di PT. 05/Men/1996 atau dalam hal ini belum nampak dalam bentuk suatu pernyataan atau surat komitmen dan dokumen tentang pengukuran dan evaluasi mengenai SMK3 di perusahaan. Pengukuran dan evaluasi SMK3 di perusahaan belum berdasarkan Permenaker NO. 05/Men/1996 Pasal 12 Bab IV. Hasil penelitian menunjukan bahwa belum pernah dijalankannya Audit SMK3 di PT. dan dilaksanakan secara efektif dan cocok untuk mencapai kebijakan dan tujuan perusahaan. 05/Men/1996 dimana perusahaan belum menjalankan proses peninjauan ulang terhadap program K3 yang sudah dijalankan seperti pengadaan APD. untuk menentukan suatu kegiatan dan hasilhasil yang berkaitan dengan pengaturan yang direncanakan.dibutuhkan seperti Ahli K3 di perusahaan. dari hasil observasi serta dokumentasi tidak di temukan adanya dokumen mengenai kegiatan tinjauan ulang yang pernah dilakukan oleh perusahaan terhadap program pengadaan APD tersebut. BAB VI. perusahaan perlu melakukan audit SMK3 yaitu pemeriksaan secara sistematik dan independen. Penerapan SMK3 diperusahaan belum berdasarkan Permenaker No.5. Adapun bentuk komitmen dan kebijakan K3 yang sudah dilakukan perusahaan dalam perlindungan keselamatan para pekerja berupa pengadaan APD sebagai upaya teknis pencegahan kecelakaan kerja di perusahaan. 5. Perencanaan K3 di PT Kerismas Witikco Makmur Bitung belum sesuai dengan Permenaker No. KWMB belum berdasarkan Permenaker NO. PENUTUP 6. perusahaan juga belum memiliki prosedur terdokumentasi dalam hal pelatihan peningkatan skil karyawan.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian. 05/Men/1996 Lampiran 1 Poin 1 dimana dalam hal ini perusahaan belum menempatkan organisasi K3. maka dapat disimpulkan bahwa: 1. dalam rangka menilai semua potensi bahaya potensial dalam sistem kegiatan operasi perusahaan. serta mekanisme pelaporan insiden K3 yang juga belum memiliki prosedur yang terdokumentasikan. 2. 21 . 05/Men/1996 Lampiran 1 Poin 2 dimana dalam hal ini perusahaan belum menetapkan tujuan dan sasaran program K3 yang terdokumentasikan. KWMB baik secara internal yaitu dilakukan oleh pihak perusahaan itu sendiri dalam menilai efektifitas penerapan SMK3 maupun secara eksternal yaitu Dilaksanakan oleh personil yang independen terhadap bagian yang di audit. 05/Men/1996. 5.

M. Sugeng. A. Jakarta Sungkono D. Tinjauan ulang SMK3 di PT Kerismas Witikco Makmur Bitung belum berdasarkan Permenaker NO. Data kasus kecelakaan kerja di sulut dan di pt dari tahun 2007 sampai tanggal 24 april 201. 1-8. 2013. Skripsi. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13/Presiden Republik Indonesia/ 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Jurnal. S. Medan Tarigan. Jamsostek. dimana perusahaan belum pernah melakukan Audit SMK3. Z. Sagung Seto.5. 2008. Manado. Sugiyono. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 05/Men/1996 Tentang 22 . Bahan Kuliah Kesehatan Keselamatan Kerja. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Penelitian kualitatif. Alfabeta. T. 2. Perusahaan disarankan agar menempatkan karyawan yang kompeten dibidang K3 berdasarkan Permenaker No.com (online). http://www. 2009. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Universitas Sam Ratulangi. Equilibrum. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Universitas Sumatera Utara. Hiperkes & KK. maka diajukan beberapa saran kepada perusahaan. Rahmat. yaitu : 1.2 Saran Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh. 2009.data pt jamsostek. 05/Men/1996. Bandung Suma‟mur. 2008. Data PT Jamsostek Tentang K3. PT. Tesis. 2009. P. 2008. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Januari-Juni 2009. A. PT. vol-5. DAFTAR PUSTAKA Azmi R. no 9. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Kawatu. (2012). Jamsostek Cabang Bitung 6. P. Memahami penelitian kualitatif. 2012. 05/Men/1996 Lampiran 1 Poin 1. Semarang. diakses tanggal 15 agustus 2012. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja oleh P2K3 untuk Meminimalkan Kecelakaan kerja di PT Wijaya Karya Beton Medan. Medan Budiono. Para pekerja tetap maupun karyawan disarankan untuk lebih meningkatkan kesadaran akan pentingnya K3 dan mematuhi segala peraturannya. Analisis Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Tanjung Medan PTPN V Provinsi Riau.

Related Interests