1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sikap egoisme dalam rumah tangga sering mewarnai masalah-masalah rumah tangga, terutama di dalam mengelola kehidupan rumah tangga seperti memberikan pendidikan terhadap anak, pasangan yang suka mementingkan nafsu sek pribadinya dengan cara selingkuh, mengatur kehidupan rumah tangga, dan dalam mencari materi. Akibatnya, banyak sekali pasangan yang menyelesaikan masalah mereka dengan cara kekerasaan, karena dihadapkan dengan pasangannya yang egois. Sehingga, ikatan perkawinan yang seharusnya membawa pasangan suami istri mencapai ketenangan dan kedamaian justru sebaliknya membawa ke dalam perselisihan dan konflik yang membawa kehancuran, sebab tidak mengetahui cara menanggani dan mengatasi masalah dan memilih menyelesaikan masalah dengan kekerasan. (Dhammananda, 2003:280). Pasangan berselingkuh untuk memuaskan nafsu seknya dan demi ego pribadi mengabaikan keharmonisan rumah tangganya sehingga melupakan rasa cinta terhadap suami atau istrinya. Padahal, sangat penting bagi pasangan hidup untuk menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam rumah tangga. Sebab, ketidakharmonisan dalam rumah tangga terjadi apabila seorang istri atau suami sudah musnah rasa cintanya, istri yang licik dengan sifat maya dan suka

2 menyeleweng melakukan hubungan gelap dengan lelaki lain yang tidak jujur menyebabkan rumah tangga akan ternoda. (Janakabhivama, 2005:34). Orang tua yang egois mementingkan uang dan karier sampai lupa akan kewajiban terhadap keluarga, terutama orang tua yang menganggap harta adalah segala-galanya dan cinta kasih bisa ditukar dan dinilai dengan uang. Sehingga, banyak orang tua memilih untuk menitipkan anak-anak kepada pengasuh atau baby sitter. Padahal menurut Dhammananda (2003:167) akibat dari orang tua yang egois mementingkan karier daripada anak, dan menitipkan anak kepada pengasuh, berakibat anak-anak merasa bahwa kurang cukup menerima dan mendapatkan perhatian, bimbingan serta kasih sayang dan yang terpenting adalah pendidikan dasar dari orang tuanya. Menurut pendapat Dhammananda (2007:33) anak-anak yang ditinggalkan bersama anggota keluarga lain atau pengasuh anak, dan mengurus dirinya di rumah dengan fasilitas yang serba ada seperti mainan pistol, tank, dan pedang hanya akan memberikan dampak negatif kepada anak yang tidak langsung akan menanamkan kekerasan pada karakter anak bukanya kebaikan. Mendidik anak dengan cara disiplin memang sangat penting untuk membentuk karakter anak agar menjadi manusia yang pandai berdisiplin dalam berbagai hal, pekerjaan, menghormati orang tua, mencintai sesama dengan harapan anak menjadi sukses di kemudian hari sehingga bisa membanggakan orang tua dan pendidikan yang baik bagi anak adalah pendidikan yang bisa mengarahkan karakter anak menjadi lebih baik pula.

3 Orang tua terkadang sering memaksakan kehendaknya terhadap anaknya dengan sikap yang egois memaksakan penerapan disiplin yang keras terhadap anak tanpa mempertimbangkan akibat buruk yang akan diterima oleh anak. Padahal dampak buruk dari sikap orang tua yang mendidik anak dengan cara yang egois sangat merugikan bagi perkembangan mental anak hingga tidak jarang sebagai akibat yang didapatkan oleh anak adalah bukan perkembangan mental yang baik melainkan membentuk karakter anak yang tidak baik yaitu suka membantah orang tua ketika sudah remaja atau dewasa. Orang tua yang egois di dalam memberikan pendidikan terhadap anak dan tidak sesuai atau tidak cocok bagi anak maka pendidikan itu tidak berhasil. Sehingga, anak akan sering melawan orang tua sebagai ungkapan hatinya. Padahal menurut Mar¶ah (1998:51) bahwa pendidikan dan penerapan disiplin yang secara otoriter tidak bisa bertahan lama sebab hanya akan menciptakan seorang anak yang akan menjadi pembantah ketika sudah beranjak dewasa. Banyak orang tua yang terlalu egois yang hanya memikirkan keinginannya sendiri dengan mengambil suatu keputusan seperti bercerai yang karena disebabkan oleh ketidak-cocokan. Suami istri yang sering bercekcok sehingga mengakhiri perkawinan dengan bercerai dan tidak memperdulikan akibat buruk yang akan diterima oleh anggota keluarganya seperti anak, sebagai akibatnya tidak jarang banyak anak yang terjerumus ke dunia hitam seperti narkoba yang merupakan akibat kurangnya perhatian oleh orang tua yang egois, sebagai rasa kekecewaan anak terhadap orang tua banyak anak menjadi korban narkoba sebagai akibat dari ketidakharmonisan rumah tangga.

4 Ketidakharmonisan di dalam rumah tangga salah satu pemicunya adalah adanya salah satu dari anggota keluarga yang egois dan tidak mau mengalah dan mendengarkan pendapat orang lain. Banyak suami atau istri yang memilih untuk bercerai karena sudah tidak ada pilihan lain lagi sehingga lupa akan kewajiban masing-masing sebagai seorang suami atau istri yang baik. Menurut Dhammananda (2003:136) Percerain orang tua sering di pandang sebagai hedonis egois yang hanya memikirkan kesenanganya sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan anak-anaknya. Perceraian disebabkan oleh

ketidakcocokan dalam kehidupan berumah tangga, pasangan selingkuh dengan wanita atau pria lain yang lebih mementingkan kepuasan pribadi dari pada menjaga keutuhan rumah tangga, maka akan menjadi konflik dalam rumah tangga. Suami istri yang suka menghamburkan kesenangannya dan merasa tidak puas hanya dengan satu istri atau suami banyak yang mencari kepuasan diluar rumah dengan cara selingkuh dengan wanita atau pria lain. Sehingga lupa akan diri, kewajiban dan lupa akan statusnya sebagai seorang istri atau suami karena lebih mementingkan kepuasan pribadinya dan dengan sikap yang egois tidak perduli dengan pasanganya yang menderita karena perbuatanya. Menurut Priastana (1996:152) ³Perselingkuhan terjadi kerap berujung pada bubarnya rumah tangga´. Perceraian berakibat buruk bagi psikologis anak. dan orang tua yang tidak bercerai akan menjadi konflik batin karena hidup dalam tekanan batin yang berkepanjangan.

5 Orang tua yang menghadapi anak yang memiliki sifat egois dan merasa benar dan tidak mau mendengarkan pendapat serta nasehat dari orang tuanya, menyebabkan orang tua terkadang memakai cara kekerasan, orang tua yang tanpa melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap anak untuk mengetahui apa yang menjadi masalah anaknya lebih memilih mendidk anak dengan keras, sehingga hubungan antara orang tua dan anak menjadi renggang dan kurang harmonis. Banyak orang tua yang menginginkan kebahagiaan anak -anaknya dengan cara menjodohkan anak-anak dengan lelaki atau wanita sesuai pilihan hatinya, dengan menganggap bahwa kebahagiaan anak-anaknya ada pada jodoh yang telah dipilihkan, anak yang tidak mengetahui bahwa telah dijodohkan tanpa sepengetahuanya terkadang merasa kecewa karena tidak sesuai dengan keinginannya, sehingga banyak anak yang melawan orang tuanya dan orang tua beranggapan bahwa anaknya telah egois karena tidak mau mendengarkan pendapatnya, demikian pula orang tua menganggap bahwa orang tuanya telah egois tanpa memikirkan terlebih dahulu apakah setuju dengan pilihannya, Orang tua yang karena materi dan uang dengan sikap yang egois tidak perduli dengan kebahagiaan anaknya langsung memaksa anaknya untuk menikah dengan pilihannya padahal di dalam Sigalovada Sutta bahwa kewajiban orang tua adalah mencarikan jodoh bagi anaknya tetapi demi kebahagiaan anak-anaknya dan bukan karena sikap egois untuk kepentingan pribadi yaitu untuk mengumpulkan harta kekayaan dan materi. Umat Buddha yang mengetahui Dhamma ajaran Sang Buddha terutama yang diajarkan di dalam Sigalovada sutta tentunya mengetahui bagaimana cara

6 yang benar di dalam mendidik anak, kewajiban antara suami istri, anak dengan orang tua, akan tetapi banyak orang tua yang memberikan pendidikan , menjodohkan anak yang tidak sesuai dengan keinginan anaknya, dan tidak sesuai dengan Sigalovada Sutta, bila perjodohan itu menyebabkan keretakan hubungan antara orang tua dengan anak, hanya karena orang tua terlalu memaksa anaknya untuk menikah. Banyaknya perumah tangga seperti suami istri yang lupa akan kewajibankewajibannya di dalam rumah tangga, orang tua, anak, dan anggota keluarga lainya yang memiliki dan mempertahankan sikap egoismenya ditinjau dari Sigalovada Sutta membuat penulis tertarik untuk menggali lebih dalam sejauh mana pengaruh sikap egoisme dalam rumah tangga berpengaruh terhadap kebahagiaan rumah tangga. Alasan lain adalah perlunya menggali lebih dalam bagaimana sikap sebenarnya yang harus dilakukan oleh orang tua dengan anak, anggota keluarga lainya tanpa mengembangkan sikap egoisme di dalam mencapai tujuan atau kebahagiaan Menanggapi sering munculnya permasalahan dalam kehidupan berumah tangga antara suami dan istri, orang tua dan anak yang disebabkan oleh keegoisan anggota keluarga. Sehingga, pasangan menyelesaikan masalah dengan kekerasaan dan perceraian yang tidak sesuai dengan Sigalovada Sutta. Sikap saling mementingkan kepentingan pribadi, orang tua dan anak yang seakan-akan lupa dengan kewajiban masing-masing yang tidak sesuai dengan Siglovada Sutta membuat penulis tertarik untuk menggali lebih dalam bagaimana sikap yang benar

7 di dalam mengelola kehidupan rumah tangga yang baik dan benar sesuai dengan Sigalovada Sutta. Penulis juga tertarik untuk menggali lebih dalam lagi sejauh mana akibat baik dan buruk dari sikap egoisme atau mementingkan diri sendiri yang terjadi dalam rumah tangga. Dimana Dosa (kebencian), Lobha (keserakahan), dan Moha (kebodohan batin) selau mewarnai tindakan-tindakan Egoisme manusia khususnya peru,ah tangga. Dan harapan penulis agar perumah tangga atau pasangan yang egois di dalam membina rumah tangga mampu mengubah sikapnya yang egois menjadi lebih baik dan sesuai dengan apa yang ada dalam Sigalovada Sutta. Sehingga, penulis tertarik untuk mengangkat ³Egoisme dalam Rumah Tangga Ditinjau dari Sigalovada Sutta´ agar rumah tangga itu mampu mengolah emosi egoisnya menjadi penuh cinta dan kasih sayang. Kajian terhadap tema diharapkan dapat memberikan pemahaman yang benar terhadap masyarakat pada umumnya dan umat Buddha khususnya, agar memiliki wawasan tentang bagaimana mengelola hidup berumah tangga yang baik tanpa kekerasan khususnya sikap egois yang berlebihan, baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan. Sehingga, mampu memperaktikan apa yang ada di dalam Sigalovada Sutta. Dengan memahami bahwa sifat egoisme di dalam rumah tangga sangat tidak sesuai dengan Sigalovada Sutta, maka perumah tangga akan tetap tenang dan bisa mawas diri sehingga waspada apabila menghadapi suatu masalah di dalam rumah tangga karena telah mampu mengendalikan sifat egoisme dan berpedoman kepada Sigalovada Sutta.

8 1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis dapat merumuskan latar belakang tersebut sebagai berikut: 1 Apakah rumah tangga mampu bertahan jika masing-masing pasangan egois? 2 Apakah sikap egoisme dalam mendidik anak mampu membentuk karakter baik anak? 3 Bagaimana upaya menghindari sikap egoisme dalam rumah tangga berdasarkan pada Sigalovada Sutta?

1.3 Tujuan Kajian Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka tujuan kajian dapat di rumuskan sebagai berikut; 1 Mendeskripsikan sikap egoisme antara pasangan dalam rumah tangga secara umum? 2 Mendeskripsikan sikap yang benar di dalam mendidik anak dengan tidak egoisme sesuai dengan Sigalovada Sutta? 3 Mendeskripsikan upaya menghindari sikap egoisme dalam rumah tangga berdasarkan pada Sigalovada Sutta.

9 1.4 Kegunaan Kajian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada maka kegunaan kajian ada dua yang dirumuskan sebagai berikut: 1. Kegunaan secara teoritis, 2. Kegunaan secara praktis.

1.4.1 Kegunaan secara Teoritis

Penelitian egoisme di dalam rumah tangga ditinjau dari Sigalovada Sutta ini, diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru bagi para perumah tangga agar perumah tangga tidak selalu menunjukan sikap egoisme di dalam menghadapi masalah kehidupan berumah tangga, karena keegoisan sangat merugikan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangga. Dengan adanya penelitian pustaka egoisme di dalam rumah tangga ditinjau dari Sigalovada Sutta ini diharapkan pasangan mampu menghadapi konflik rumah tangga tanpa sikap egoisme, harapan agar perumah tangga mengetahui bagaimana bentuk sikap egoisme dan cara mennghindari sikap egoisme secara umum maupun secara Buddhis agar kehidupan rumah tangga menjadi bertahan sepanjang hayat.

1.4.2 Kegunaan secara Praktis

Konflik

dalam rumah tangga

perlu

dicegah

dengan

memberikan

pengetahuan yang benar mengenai cara-cara memecahkan masalah tanpa menimbulkan sikap mementingkan diri sendiri atau egoisme, dengan cara memperaktekan kewajiban-kewajiban di dalam Sigalovada Sutta agar pasangan suami istri bisa membangun kehidupan rumah tangga yang penuh cinta kasih

10 tanpa adanya konflik yang berat yang menyebabkan runtuhnya suatu kebahagiaan rumah tangga. Sehingga, kebahagiaan yang dijadikan sebagai tujuan dalam kehidupan rumah tangga menjadi terwujud sesuai dengan ajaran Buddha Dhamma. Harapan agar perumah tangga mampu mencegah terjadinya konflik dengan tidak menyelesaikan masalah melalui sikap egois, kekerasan. Tetapi, lebih melihat kedepan akibat-akibat buruk yang akan terjadi bila menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan. Untuk, itu, membuang sifat egoisme dan mengembangan cinta kasih dalam membina rumah tangga sangatlah penting.

1.5 Metode Kajian

Metode kajian menjelaskan semua langkah yang dikerjakan penulis berkaitan dengan judul yang diambil sejak awal hingga akhir penulisan. Metode yang digunakan penulis dalam kajian ini adalah menggunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk membuat skripsi, dengan memberikan gambaran atau lukisan secara sistimatis dan berupa fakta yang akurat mengenai fenomena atau hubungan antar fenomena yang diselidiki (Suprayogo, 2001:137). Pada bagian ini memuat hal-hal yang berkaitan dengan anggapan dasar atau fakta-fakta yang dipandang benar tanpa adanya verifikasi dan keterbatasan dengan menggunakan aspek-aspek tertentu yang dapat dijadikan sebagai landasan dalam membuat kerangka berpikir (Saukah, 2000:30). Dalam metode kajian ini memuat semua langkah-langkah yang berguna di dalam pengkajianya diantaranya adalah:

11 (1)Pendekatan, (2) Sumber data, (3) Tehnik pengumpulan data, (4) Analisis data, (5) Prosedur. Kelima metode tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

1.5.1 Pendekatan

Pendekatan yang digunaan oleh penulis adalah kajian pustaka menggunakan metode libraly research. penelitian yang lebih memfokuskan pada suatu kajian yang bersifat teoritis atau brdasarkan dokumentasi kepustakaan atau penelitian yang berdasarkan literatur (Widodo, 2000:32). Cara yang dapat digunakan dalam pendekatan dalam kajian pustaka ini yaitu mengkaji secara mendalam teori-teori sesuai pembahasan masalah yang ada, kemudian hasil studi pustaka tersebut disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif sebagai cara pemutusan dengan membandingkan pendapat-pendapat yang tertera dalam buku sebagai gambaran dan penjelasan permasalahan serta pemecahan masalah yang akan dibahas tersebut. Pendekatan dalam penelitian kajian ini menggunakan tiga tahap, yaitu: (1) penelitian perpustakaan, (2) menelaah isi buku, (3) mengutif bagian yang terpenting (Widodo, 2000:76).

1.5.2 Sumber Data Kajian pustaka ini merupakan kajian yang sangat penting dalam suatu penyusunan skripsi, karena data yang digunakan harus menempati posisi yang penting. Dapat dikatakan suatu hal yang penting karena data memuat sebuah kajian yang bermakna sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti hingga dapat ditarik suatu kesimpulan penelitian. Data yang telah melalui proses

12 pengolahan atau penafsiran akan berubah menjadi informasi atau dengan kata lain informasi adalah data yang telah ditafsirkan (Widodo, 2000:115). Beberapa jenis data yang digunakan dalam kajian pustaka ini yaitu meliputi: (1) sifatnya yang dibedakan menjadi dua yaitu data kuantitatif dan data kualitatif, (2) ditinjau dari sumbernya yaitu data primer dan data sekunder (Marzuki, 2001:55). Maka dalam kajian pustaka ini, sumber data yang digunakan adalah: 1. Sumber data Skunder meliputi: a. Sumber utama: Kitab Suci Tipitaka Pali (bagian dari Kitab Suci Tipitaka yaitu: Digha nikaya, Majihima Nikaya, Samyutta Nikaya, Anguttara Nikaya, Khuddaka Nikaya, dan buku-buku ilmiah lainnya) sedangkan; b. Sumber data penunjang lainnya yaitu: Majalah, artikel, dan buku-buku lainnya yang bersifat menunjang dalam penulisan skripsi ini dan disesuaikan dengan pokok bahasan yang akan dibahas. 2. Sumber-sumber yang berupa tulisan-tulisan dan artikel dari Internet.

1.5.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data atau instrument yaitu alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam kajian ini yaitu teknik dokumenter, dengan pengumpulan data sumber dari buku-buku pustaka yang sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penyusunan skripsi (Saukah, 2000:25). Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis yaitu:

13 1. Penulis memilih-memilih data dari buku-buku yang berkaitan dengan topik yaitu yang berhubungan dengan egoisme dalam kehidupan rumah tangga. 2. Penulis membuat catatan data-data yang telah dikumpulkan. 3. Data yang dianggap penting kemudian dianalisis sesuai dengan topik yang telah ada. Penulisan karya ilmiah ini tidak dapat diwakilkan oleh penulis, sebab hanya peneliti sendiri sebagai alat yang mampu memahami serta menganalisa secara keseluruhan dan menguji keabsahan dan kelayakan data apabila akan digunakan dalam sebuah kajian sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas tersebut.

1.5.4 Teknik Analisis Data

Analisis data didefinisikan sebagai suatu proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis kerja seperti yang telah disarankan. Teknik analisis data yang digunakan dalam kajian pustaka ini adalah Analisis isi (Content Analysis) dengan cara mengungkapkan isi sebuah buku yang menggamarkan data atau informasi baru yang sesuai dengan permasalahan yang ada. Penelitian analisis isi ini banyak digunakan pada berbagai penerbitan media cetak seperti buku, majalah dan koran. (Widodo, 2000:52). Setelah dapat mengungkapkan isi dari buku tersebut, maka data yang telah diperoleh tersebut dapat dikategorikan dengan cara memilah data sejenis dan menganalisisnya secara keritis untuk mendapatkan suatu formulasi baru yang berfungsi untuk menjawab permasalahan penulis yang berkaitan dengan mengatasi konflik yang disebabkan oleh sikap egoisme dalam rumah tangga sesuai dengan Sigalovada Sutta.

14 1.5.5 Prosedur yang Dilakukan

Pada bagian ini menguraikan proses pelaksanaan kajian pustaka, mulai dari: a) Tahap persiapan, meliputi penentuan judul, penyusunan, dan seminar proposal; b) Tahap pelaksanaan, meliputi pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan kajian; serta c) Tahap akhir, meliputi: ujian skripsi, revisi skripsi, dan pengumpulan skripsi.

1.6 Definisi Istilah

Istilah-istilah yang taerdapat dalam penulisan skripi ini san gatg memerlukan penegasan dengan tujuan untuk mendaptkan kesamaan interprestasi. Oleh karena itu penulis mendefinisikan beberapa istilah berikut ini: Egoisme adalah: 1. tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, 2. sikap mementingkan diri sendiri; sikap kedirian yang berlebihan, 3. suatu teori filsafat, bahwa segala perbuaatan atau tindakan selalu disebabkan oleh naluri dan dorongan untuk menguntungkan diri sendiri. (M.Dahlan dkk Kamus Induk Istilah Ilmiah 159:1991) dan Rumah tangga adalah sesuatu yang berkenaan dengan urusan kehidupan dalam rumah ( seperti halnya belanja dan sebagainya). KBBI (1991:64). Jadi, egoisme dalam rumah tangga adalah suatu tingkah laku yang didasarkan atas dorongan yang berupa tindakan yang berlebihan yang disebabkan oleh dorongan naluri untuk mementingkan diri sendiri yang terjadi dalam urusan kehidupan rumah tangga.

15 1.7 Kerangka Berpikir

Skripsi Egoisme Dalam Rumah Tangga Ditinjau Dari Sigalovada Sutta ini, Memiliki dua kerangka berpikir diantaranya adalah: (1) Egoisme dalam rumah tangga ditinjau secara umum dan, (2) Egoisme dalam rumah tangga ditinjau Secara Buddhis. Menurut pembagian dari kedua tinjauan diatas maka kedua kerangka berpikir tersebut akan diuraikan sebagai berikut: 1. Egoisme dalam rumah tangga ditinjau secara umum: a. Sikap otoriter di dalam mendidik anak. b. Perjodohan anak. c. Keuangan rumah tangga. d. Hubungan seksualitas e. Persaingan Bisnis. 2. Egoisme di dalam rumah tangga ditinjau secara Buddhis (Sigalovada Sutta): a. Berakar di dalam Akusala- Mula 3 (Akar Kejahatan) yaitu: Dosa (kebencian). Lobha (keserakahan). Moha ( kebodohan).

b. Nafsu (Tanha) atau keinginan-keinginan rendah. c. Dampak egoisme dalam rumah tangga.

16 1.8 Hipotesis

Setelah mengkaji lebih dalam baik secara Umum maupun secara Buddhis mengenai skripsi Egoisme dalam rumah tangga ditinjau dari sigalovada sutta, maka Hipotesis yang ada dalam Skripsi ini adalah: Adannya perbedaan pengertian, penyebab dan cara-cara penyelesaian masalah yang berkaitan dengan tindakan egoisme di dalam rumah tangga, baik melalui pengkajian secara umum maupun pengkajian secara Buddhis.

17

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG EGOISME DALAM RUMAH TANGGA

2.1 Pengertian Egoisme

Menurut KBBI edisi kedua (250:1991) bahwa Egoisme adalah: 1. teori yang mengemukakan bahwa segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri, 2. hal atau keadaan mementingkan diri sendiri, 3. tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain.

2.2 Sikap Orang Tua dalam Mendidik Anak

Orang tua yang terlalu egois dengan sikap memaksa dan tidak sabar dalam mendidik anaknya, memberikan pengaruh negatif terhadap mental dan emosi anak, cara orang tua yang memperlakukan anak -anaknya dengan disiplin yang keras atau perlakuan yang tidak empatik, ketidakpedulian atau kehangatan akan berakibat mendalam dan permanen bagi kehidupan emosional anak. Menurut ahli psikologi, bahwa kurang berhasilnya seorang ibu dalam mendidik anak ialah karena tidak pernah mempelajari psikologi. Banyak yang tidak pernah membaca buku mengenai pendidikan anak. (Hariyono 2000:36). Orang tua sering bertengkar dalam memberikan pendidkan kepada anak yang menyebabkan anak menjadi bingung untuk menerima pendidikan dari ayah

18 atau ibunya, dan ketika pendidikan itu tidak bisa diterima dengan baik oleh anak, maka orang tua menjadi marah dan mencemoh anaknya Orang tua yang suka . memaksa, kehilangan kesabaran dalam menghadapi ketidakmampuan anaknya, meninggikan suaranya dengan nada mencemooh atau putus asa, bahkan ada yang mencap anaknya tolol membawa kecenderungan-kecenderungan yang sama kearah penghinaan dan kebencian yang mengotori kehidupan perkawinan. (Goleman, 1995:269). Orang tua hendaknya dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya tidak egois dan mengeluarkan kemarahanya melainkan memperhatikan sistuasi dan kondisi anak, memperhatikan keadaan emosional anak agar anak bisa tumbuh berkembang menjadi anak yang baik tanpa ditumbuhkan dengan kekerasaan. Sebab, kekerasan hanya akan mengantarkan kepada konflik rumah tangga yaitu pertentangan antara orang tua dengan anak, suami dan istri. Orang tua yang salah di dalam cara menyampaikan nasehat kepada anakanak maka akan menimbulkan salah pengertian bagi anak -anak. Padahal, orang tua mempunyai maksud baik bagi anak-anaknya. Namun, karena cara penyampaian dan gaya bahasa orang tua yang kurang cocok, maka nasehat yang baik itu akan berubah menjadi nasehat yang mengarahkan anak kepada pemikiran pemikiran yang negatif. Anak lebih memahami apa yang menjadi maksud orang tuanya, jika orang tua menggunakan bahasa yang pantas di dalam memberikan pendidikan dalam bentuk cinta kasih kepada anak. Dengan demikian anak akan lebih mengerti arti pentingnya cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari. Mendidik anak agar menjadi

19 manusia yang berguna dalam masyarakat merupakan harapan dan cita-cita semua orang tua, pendidikan dengan cara yang tepat akan memberikan reaksi dan respon positif dari anak yang akan dididik. Menurut (Goleman 1995:269) Tiga gaya mendidik anak yang secara emotional pada umumnya tidak efisien dilakukan oleh orang tua diantaranya adalah: 1. Sama sekali mengabaikan perasaan; 2. Terlalu membebaskan; menawar serta suap agar anak berhenti bersedih hati atau marah, 3. Menghina, tidak menunjukan penghargaan terhadap perasaan anak. Orang tua memiliki kewajiban di dalam menyekolahkan anaknya, tetapi tidak harus memaksakan kehendaknya sendiri dengan sikap egois memaksa anak untuk memasuki suatu sekolah yang bukan keinginan hati dan bakat serta kemauan anak, karena sikap egois dan memaksakan kehenda seperti itu k sangatlah tidak baik bagi dunia pendidikan dan tingkat keberhasilan yang akan di capai oleh anak. Contoh umum yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah orang tua yang memaksa anaknya agar masuk ke Fakultas Kedoteran, sedangkan sang anak tidak berminat dalam hal itu. Inilah problem yang sering dihadapi masyarakat kita dewasa ini. Menghadapi kenyataan seperti ini mungkin sang anak bertambah malas kuliahnya. Hal ini harus kita sadari bahwa kemalasan sekolah sang anak disebabkan oleh perasaan tidak senang yang hinggap dalam hatinya. Dan perasaan seperti inilah yang bisa dianggap sebagai suatu gangguan. Kalau orang tua memaksa anaknya terus-menerus maka si anak akan menderita seumur hidup. (Hariyono, 2000:38). Sikap egois yang dilakukan oleh orang tua dengan cara memaksa anaknya untuk menempuh kuliah sesuai dengan Fakultas yang diinginkan orang tua, maka berakibat buruk bagi tingkat ketertarikan anak untuk terus bersemangat di dalam mengejar ilmu sehingga tidak jarang anak menjadi seorang pemalas dan tentunya

20 orang tua sangatlah tidak baik bagi orang tua karena akan sia-sia saja karena tidak sesuai dengan harapan. Jadi, menurut para ahli mengatakan bahwa sikap orang tua di dalam memberikan pendidikan dan bentuk-bentuk sikap yang egois yang ditunjukan oleh orang tua dalam memberikan pendidikan maupun nasihat kepada anak adalah: (1) Orang tua memaksakan kehendak sendiri, (2) Disiplin yang keras.

2.2.1 Orang Tua Memaksakan Kehendak Sendiri Berbagai macam bentuk keegoisan orang tua terhadap anak dan anak terhadap orang tua sering muncul di dalam rumah tangga. Faktor lain juga karena orang tua terlalu menekankan keinginan yang terlalu berambisi dalam mendapatkan apa yang diinginkan terhadap anak-anakya, orang tua yang sering membentak-bentak anaknya, membodohkan anaknya bila tidak tercapai harapanya juga merupakan penyebab konflik dalam kehidupan berumah tangga. Padahal pendidikan yang demikian hanya akan membuat anak berkecil hati, rendah diri, dan dihantui ketakutan melakukan kesalahan. (Suryomentaram, 2003: 166 )

2.2.2 Disiplin yang Keras Orang tua di dalam memberikan pendidikan terhadap anak, harus didasari dengan rasa cinta kasih tanpa adanya rasa cinta kasih pendidikan itu tidak akan bisa diterima oleh anak tersebut. Orang tua yang egois hanya mementingkan keinginannya sendiri dan tidak mendengarkan apa yang menjadi keinginan anaknya, misalnya dalam penerapan disiplin kepada seorang anak yang secara

21 otoriter dan kaku hanya bisa bertahan sampai anak berusia 10 tahun. Karena memang dibawah usia itu kondisi anak belum bisa melawan orang tua, maka anak terpaksa menuruti peraturan orang tua walaupun dengan mental tertekan. Akibatnya setelah menginjak remaja, ³tekanan-tekanan yang menumpuk akan meledak menjadi pemberontakan terang-terangan secara tiba-tiba ketika anakanak menginjak dewasa, anak yang semula diam, taat dan patuh tiba-tiba menunjukan berani dan keras. (Mar¶ah, 1998: 51)

2.3 Perjodohan Anak Orang tua yang egois dan merasa benar sendiri, karena anaknya menolak perintah untuk dijodohkan atau dinikahkan dengan pilihan hatinya, merupakan orang tua yang belum tertanam rasa cinta dan kasih dalam dirinya sehingga merasa menang sendiri. Sebab, jika ada rasa cinta dan kasih dalam diri orang tua tersebut maka akan dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anaknya demikian pula sebaliknya seorang anak terhadap orang tuanya. (Suryomentaram, 2003: 144) Egoisme yang muncul pada orang tua terhadap anak muncul ketika adanya tekanan dan paksaan dari orang tua dan keluarga kepada seorang gadi untuk s menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak disukainya, orang tua yang menjodohkan anak-anaknya dengan alasan bahwa untuk mempererat hubungan kekeluargaan, sekedar untuk mendapatkan keuntungan materi, atau karena tradisi yang disakralkan, dan lain-lainya, merupakan bagian dari penyebab nusyuz atau perselisihan yang disebabkan oleh famili. Padahal, menurut Syaikul Islam Ibnu

22 Taimiyah berpendapat bahwa orang tua gadis wajib menaati aturan agama dalam mencarikan calon suami. Orang tua atau wali harus teliti dan harus memperhatikan segi kesepadanan, karena pada saat mempersatukan anak -anak dalam tali perkawinan, tujuanya adalah untuk membahagiakan anak, bukan untuk mencari keuntungan pribadi. (Ganim, 1998:42) Orang tua memang wajib di dalam menentukan jodah bagi anak-anak agar anak-anaknya menjadi perumah tangga yang bahagia dengan cara tidak memasukan unsur mementingkan diri sendiri atau sikap egoisme dengan maksud mencari keuntungan sendiri dengan mengabaikan perasaan anak, oleh karena itu rasa saling pengertian antara anak dan orang tua, suami dan istri harus ditanamkan. Rasa egois dan tidak saling pengertian adalah racun bagi ketenangan rumah tangga dalam menghadapi masalah yang kecil agar tidak menjadi besar, seorang suami atau istri mempunyai kewajiban di dalam mengendalikan emosi masingmasing juga perlu menumbukan kesabaran dalam hatinya, sehingga konflik bisa di cegah sedini mungkin sebelum menjalar menjadi masalah yang lebih besar lagi. Peranan orang tua di dalam mencarikan jodoh atau teman hidup untuk anakanak, merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan oleh orang tua tetapi tidak disertai atas dasar ego untuk mencari keuntungan sendiri dan seharusnya orang tua harus lebih bijaksana di dalam melihat dan mencalonkan anak-anak agar tidak menimbulkan masalah karena pada umumnya orang tua menghendaki dan menginginkan anak-anaknya hidup bahagia.

23 Orang tua mengasihi anaknya dan menginginkan anaknya bahagia, ada orang tua yang aneh dan mengutuki anaknya serta tidak menginginkan anaknya bahagia, tetapi kebanyakan tidak demikian. Orang tua juga cenderung menilai pilihan anaknya dengan kaca mata yang bersih dan bening. Memang ada orang tua yang memakai kaca mata hijau yang di lihat dan di utamakan adalah uang, kedudukan, dan gengsi. Orang tua yang demikian, nasihat atau pandangan mereka yang kurang bernilai sudah tentu tidak boleh dijadikan bimbingan. (Ganim, 1998:82) Menurut pendapat Jonatan diatas bahwa ada orang tua yang menginginkan anaknya bahagia dan ada pula orang tua yang mengutuki anaknya. Dan ada orang tua yang hanya melihat uang gengsi dan kedudukan untuk kepentingan ego semata. Sehingga, orang tua yang hanya mementingkan pencapaian ego dengan pandangan yang tidak bernilai adalah orang tua yang tidak patut dijadikan bimbingan.

2.4 Rasa Saling Pengertian antara Suami dan Istri

Menumbuhkan rasa saling pengertian dan membuang sifat egoisme antara suami dan istri di dalam menghadapi berbagai sistuasi merupakan pencerminan dari rasa cinta dan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pasangan d bukanya an sebagai contoh di dalam kehidupan sehari-hari seorang suami yang pulang dari tempat bekerja dan merasa lapar. Tetapi nasi yang ditanak istrinya belum matang kemudian menjadi marah lalu bertengkar. Jelas pada suami itu tidak terdapat rasa cinta melainkan merasa benar sendiri yaitu egoisme. Tetapi, kalau rasa cinta itu ada padanya maka akan dapat merasakan rasa dari istrinya. Sama halnya seorang istri marah terhadap suaminya, yang pergi sejak sore hari dan pulang pada tengah malam, lalu bertengkar. Jelas pada istri itu belum lahir rasa cintanya sehingga merasa benar sendiri. Kalau rasa cintanya telah timbul tentunya dapat merasakan

24 rasa dari suaminya, dan seharusnya istri mengerti mengapa suaminya sampai pulang tengah malam yang pasti ada sebabnya. (Suryomentaram 2003:144) Keegoisan memang perlu disingkirkan di dalam membina bahtera rumah tangga agar rasa cinta bisa timbul dengan indahnya sehingga konflik bisa di cegah, mengerti makna cinta kasih merupakan kunci utama agar cinta kasih dalam rumah tangga tertanam dan tumbuh dalam pribadi masing-masing, karena dengan cinta kasih akan dapat merasakan rasa dalam individu yang lain sehingga tumbuhlah saling pengertian di antara pasangan.

2.5 Persaingan Bisnis dalam Rumah Tangga Kehidupan rumah tangga antara suami istri yang karena keegoisanya mencapai kesuksesan melakukan persaingan antara satu dengan yang lainya tidak peduli statusnya adalah suami istri di dalam rumah mereka kawan tetapi di luar rumah adalah lawan hal semacam ini hanya membawa kehancuran bagi ikatan hubungan suami istri dalam rumah tangga. Sikap egois yang disebabkan persaingan dalam bisnis membuat hubungan antara suami istri akan kusut bila diantara kedua belah pihak saling bersaing satu sama lainya di dalam mencari keuntungan. Dalam hal ini, bisnis yang memperebutkan kekayaan, kedudukan dan kekuasaan yang mengharuskan suami istri menjadi musuh dalam selimut. (Suryomentaram 2003: 200) Suami istri yang mempunyai tekad dan semangat dalam meningkatkan tarap hidup berumah tangga memang suatu tujuan yang sangat didambakan oleh para perumah tangga, mendapatkan kedudukan sosial yang tinggi, kejayaan dan

25 kemakmuran memang mahal harganya, tetapi hendaknya suami istri bisa saling menempatkan dimana persaingan itu dilakukan.

2.6 Hubungan Seksualitas

Persoalan seks adalah salah satu unsur yang sangat sensitif dalam hubungan suami istri. Hal ini dapat menjadi pertengkaran besar, tetapi juga dapat menyempurnakan kerukunan rumah tangga. Tidak sedikit rumah tangga yang goncang dan pecah oleh sebab ketidakcocokan dalam perhubungan seksual. (Sarumpaet 2004:39) Suami atau istri dengan sikap egois dan tidak bisa menerima kekurangan yang dimiliki oleh pasangan merasa tidak puas dalam hubungan seksualitas karena suami atau istrinya tidak bisa memberikan kepuasan seperti yang di harapkan. Sehingga, menyalahkan pasanganya, dan dengan sikap yang egois dan tidak mau tahu akan menganggap bahwa yang menyebabkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga adalah karena pasangan yang tidak bisa memenuhi kewajiban dalam memberikan pelayanan seksualitas. Akibatnya, banyak pasangan yang selingkuh dan mencari kepuasan seksualitas di luar rumah. Kurangnya tingkat kepuasan pelayanan seksualitas ini merupakan bibit dari pertikaian yang terjadi dalam rumah tangga. Pasangan merasa kurang puas dan kecewa ada yang sampai menyelesaikanya dengan cara perceraian, hal ini disebabkan oleh rasa egois yaitu untuk mementingkan diri sendiri. Sebab, jika pasangan tidak mementingkan diri sendiri dan mampu menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh pasangan maka perceraian tidak akan terjadi.

26 Seorang suami yang merasa tidak puas dengan pasangannya lebih memilih mencari kepuasan seks di luar rumah, sementara jika hal ini diketahui oleh istri maka tidak akan bisa diterima perlakuan yang demikian sebab istri akan merasa bahwa kasih sayang yang diberikan oleh suaminya sudah terbagi dengan orang lain, ketika suami tersebut diintrogasi oleh sang istri sudah tentu suami berbohong kepada istrinya yang berdampak bagi kepuasan seksual dalam rumah tangga. Suami istri yang berusaha membahagiakan pasanganya dalam hal bersenggama akan berusaha untuk menggunakan media perdukunan untuk mengikat pasanganya, agar tetap teriakat padanya dan tidak beralih dengan yang lainnya. Tetapi, jika pasangan ini mengetahui ternyata telah diperalat melalui perdukunan sebagai cara mengikat hubungan cintanya, akan merasa kecewa dan jemu sehingga akan saling mempersulit satu sama lainya. Sehingga, menimbulkan pertentangan antara suami dan istri. (Suryomentaram, 2003:190). Pasangan memang perlu dibahagiakan, tetapi tidak memperalat pasangan demi kepentingan pribadi menggunakan media perdukunan untuk mengikat hati pasangan agar menjadi tergila-gila, karena rasa cinta tidak perlu dilakukan dengan perdukunan sebab tidak bisa bertahan lama. Permasalahan dalam berhubungan seks sering kali terjadi, beberapa faktor selain faktor di atas yang menjadi penyebab ketidakpuasan dalam hubungan seksualitas adalah ketidakselarasaan persetubuhan sering timbul oleh karena nafsu seks suami tidak sama besarnya dengan nafsu seks istri. Ada rumah tangga yang dorongan seks istri lebih tinggi dan ada pula yang sebaliknya. Dalam hal ini sang istri harus mempelajari tinggi-rendahnya dorongan seks suami. Istri patut

27 mengadakan penyesuaian diri dan wajib berusaha untuk memberi kepuasan seksuil kepada partenernya. (Sarumpaet 2004:39). Hubungan seksual antara suami dan istri terkadang harus rela mengorbankan kepentingan diri sendiri atau meninggalkan ego sebentar demi membahagiaakan pasangan. Menurut pendapat Sarumpaet (2004:39) dalam hubungan seks dicontohkan seumpama istri sama sekali tidak menginginkan persetubuhan oleh sebab terlalu lelah atau karena sebab-sebab lain, tetapi diharuskan untuk menolong suaminya dalam hal memberikan kewajiban seksnya. Istri harus pandai memilih cara yang terbaik dengan cara menganjurkan kepada suami menun da hubungan kelamin dengan alasan-alasan yang masuk akal. dan jika emosi suami masih belum bisa mereda tentunya boleh melayani suami dengan cara yang lain untuk memenuhi kehendak suami tercinta itu. Pendapat ahli di atas menekankan bahwa seorang istri tidak egois yang karena mementingkan rasa lelahnya menelantarkan kewajiban seksnya kepada suami, tetapi seorang istri harus pandai di dalam melayani suami untuk menunjukan rasa cintanya. Seorang suami atau istri hendaknya juga harus saling mengerti satu sama lainya tidak karena perasaan egoisme memaksa kehendak seknya dengan cara tidak mau tahu dengan keadaan partenernya.

2.7 Egoisme dan Keuangan Rumah Tangga Banyak suami membatasi keuangan yang diberikan kepada istri dengan sikap ego beralasan untuk memperirit keuangan rumah tangga di dalam membantu perekonomian agar tidak mengalami frustasi di dalam keuangan. Frustasi uang

28 banyak sekali menggoncangkan rumah tangga. Tidak sedikit ketegangan yang timbul antara suami dan istri yang disebabkan oleh uang. Suami telah bekerja keras agar ekonomi rumah tangganya stabil. Suami yang tidak memberikan pembatasan-pembatasan dalam pengeluaran uang dan juga istri tidak mencatat pengeluaran-pengeluaran untuk ditujukan kepada suaminya, maka timbulah salah pengertian. Seorang suami dengan egois melarang istrinya berbelanja berlebihan karena menganggap bahwa istri terlalu boros di dalam mengeluarkan keuangan sehingga Sering kali barang-barang yang dianggap perlu oleh kaum wanita dirasa kurang penting oleh kaum pria. Ini juga sering menimbulkan hal-hal yang tidak dinginkan. Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi asal lebih dulu berunding sebelum membeli barang-barang yang memerlukan banyak uang. (Sarumpaet 2004:107) Persoalan uang bukan saja timbul pada keluarga yang berpenghasilan kecil, dalam rumahtangga-rumahtangga yang berpenghasilan cukuppun persoalan ekonomi ini sering timbul. Bahkan dalam rumahtangga-rumahtangga yang berpengahasilan lebih dari cukup, hal uang sering menjadi masalah yang perlu di atasi, karena uang yang berlebih-lebihan banyaknya, sering menimbulkan hal-hal yang merusak ahlak manusia. Menghindari sikap egoisme di dalam mengatur keuangan sendiri sehingga menyebabkan perselisihan di dalam pengaturan keuangan sangat dibutuhkan, agar tidak terjadi frustasi di dalam mengatur keuangan mengatasai frustasi yang bersangkutan dengan keuangan, rumah tangga, untuk

29 Menurut pendapat Sarumpaet (2004:107) bahwa ada beberapa cara dan hal yang harus diperhatikan diantaranya adalah: (1) menulis pengeluaran dan penghasilan, (2) mengerjakan sesuatu untuk menambah penghasilan, (3) berbelanja menurut rencana, dan (4) menabung.

2.7.1 Menulis Pengeluaran dan Penghasilan

Suami atau istri menulis pengeluaran dan penghasilan. Setelah menulis segala sesuatu yang mutlak dibutuhkan, bandingkan penghasilan setiap bulan. Pada umumnya pengeluaran lebih besar dari pada penghasilan. Mempelajari kembali apakah ada dari perongkosan itu yang dapat ditiadakan atau diperkecil. Kemudian membandingkan kembali dengan jumlah uang yang masuk. Jika pengeluaran masih tetap lebih besar, maka pendapatan harus diperbesar. Seorang perumah tangga harus belajar bagaimana memperhitungkan belanja rumah tangga.

2.7.2 Mengerjakan Sesuatu untuk Menambah Penghasilan

Seorang istri harusnya tidak dengan sikap ego menganggap bahwa semua pencarian materi dan keuangan sudah sepenuhnya menjadi tanggungan suami. Sehingga mengaggap bahwa sudah tidak perlu lagi menambah penghasilan lagi, dan kewajiban istri hanya di dapur dan mengurus hal-hal rumah tangga lainya. Padahal keuangan dalam rumah tangga adalah tanggung jawab bersama. Suami istri hendaknya mengerjakan segala sesuatu yang dapat menambah penghasilan setiap bulan. Dan ada baiknya suami atau istri menambah penghasilan di luar jamjam kantor untuk menambah pendapatan rutin.

30 Seorang istri boleh bekerja menambah penghasilan tetapi tidak sampai melepas tanggung jawab rumah tangga seperti mengurus anak dan suami. Istri boleh bekerja, tetapi dalam hal ini istri hanya dituntut untuk mengerjakan sesuatu untuk menambah penghasilan sebagai pekerjaan sampingan.

2.7.3 Berbelanja Menurut Rencana

Banyak ibu rumah tangga berbelanja tanpa rencana ketika pergi kepasar dan membeli barang-barang yang dianggap perlu. Tanpa memperhitungkan kalaukalau uang yang dibelanjakan tersebut melebihi batas-batas kemampuan ekonomi rumah tangga. Berbelanja tanpa rencana menimbulkan kemungkinan untuk membeli barang-barang yang bukan keperluan yang penting dan yang mutlak bisa jadi terlupakan. Seorang istri harus pandai-pandai di dalam mengatur keuangan di dalam hal berbelanja dan tidak menuruti keinginan ego untuk membeli barang yang tidak terlalau penting salah satu cara adalah dengan membuat rencana belanja agar tidak terjadi pemborosan keuangan. Berbelanja tanpa rencana biasanya menyebabkan butget rumah tangga menjadi tekor. Pasti pengeluaran akan bertambah besar jika mengeluarkan uang tidak menurut rencana dan hal ini akan menimbulkan prustasi dalam rumah tangga. Oleh karena itu sebuah rumah tangga harus memiliki rencana belanja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari sehingga masalah-masalah yang disebabkan oleh keuangan bisa di minimalisir sedini mungkin sebelum menimbulkan masalah yang lain yang merugikan dan mempengaruhi keharmonisan rumah tangga.

31 2.7.4 Menabung

Membiasakan menabung adalah salah satu cara agar mempunyai sandaran ketika keluarga menghadapi kesempitan dan kesulitan keuangan sewaktu-waktu. Setiap orang harus beruasaha supaya bisa menabung untuk persiapan hari esok, karena adakalanya seseorang menjadi terdesak dan saat itulah tabungan diambil karena akan lebih baik dari pada meminjam di sana-sini. Seorang istri atau suami yang mempunyai kebiasaan menabung merupakan latihan untuk mengurangi egoisme. Menghindari sikap egoisme dengan menghambur-hamburkan uang untuk keperluan yang tidak berguna dengan menabung sangat bermanfat, karena menabung lebih baik daripada berjudi. Menghabiskan uang di meja perjudian untuk menuruti ego dengan tujuan mengumpulkan uang dengan cara yang salah hanya membuat kemerosotan keuangan rumah tangga.

2.8 Sikap Menghadapi Pasangan yang E gois

Pasangan di dalam rumah tangga apabila menghadapi pasangan yang egois di dalam berumah tangga harus ada yang mau mengalah, suami istri yang tidak mau mengalah satu sama lainya dengan sikap keras kepala dan egois akan mengalami kesulitan dan kesusahan. Rumah tangga yang di huni oleh suami atau istri yang rela mengalah sangatlah beruntung. Menghindari sifat egois di dalam rumah tangga sangatlah mendukung kebahagiaan rumah tangga karena suami atau istri yang lebih menonjolkan sifat egoisme di dalam menyelesaikan masalah tidak akan dapat memberikan solusi.

32 Menurut pendapat Sarumpaet (2004:42) Rumah tangga yang diurus oleh istri yang egoisme atau menang sendiri akan berantakan. Istri yang keras kepala supaya selalu menang dari segala pertengkaran akan mengalami kesusahan besar. Dirinya akan menang tetapi suaminya kalah dan sakit hati. Sebagai akibatnya rumah tangga sendirilah yang akan diselubungi oleh kabut. Egoisme yang dimiliki oleh pasangan hanya akan membawa konflik, pertengkaran dan perbantahan yang sering muncul disebabkan oleh rasa egoisme hanya akan memperkeruh suasana dan untuk itu sikap saling mengalah sangat dibutuhkan oleh pasangan dalam rumah tangga agar perkawinan menjadi bahagia. Pertengkaran dan perbantahan dalam rumah tangga mengkeruhkan suasana. Perselisihan-perselisihan antara suami istri adalah bagaikan duri di atas jalan yang menuju kebahagiaan itu. Lebih sedikit permusuhan dalam rumah tangga lebih llicinlah jalan menuju klimaks perkawinan itu. (Sarumpaet, 2004:42) Suami istri harus mampu mengalah ketika mengahdapi pasangan yang egois di dalam menghadapi masalah, karena akibat buruk dari sikap bantah membantah adalah akan bejangkit kepada anak-anak yang akan menjadi pemarah dan lekas marah karena telah mencontoh orang tuanya. Menurut pendapat Sarumpaet (2004:43) bahwa suami istri bagaimanapun juga salah satu harus ada yang mengalah. Inisiatif untuk mengalah tidak hanya harus datang dari suami saja akan tetapi istri harus waspada di dalam melihat sistuasi. Jika perlu rela mengalah untuk kebahagiaan bersama dan ketika suhu amarah turun dalam keadaan normal, istri boleh mengutarakan persoalan yang sebenarnya karena dalam suhu yang tidak panas bertukar pikiran akan lebih berhasil. Sehingga solusi yang diharapkan

33 bisa ditemukan bersama dan yang terpenting adalah bagaimana cara

mengendalikan ego itu sendiri. Lalu bagaimana cara mengendalikan ego kita. Tanggalkan pakaian kesombongan hati dengan sikap rendah hati. Tidak ada yang pantas disombongkan manusia dalam hidup ini. Tanggalkan pakaian dengki dan gantikan dengan cinta dan kasih sayang. Tanggalkan pakaian takabur dan gantikan dengan kesadaran diri sebagai hamba dan abdi Tuhan semata. Buanglah pakain prasangka negatif dengan mengembangkan sikap positif dalam setiap langkah kaki kedepan. Hindarilah prinsip hidup yang salah dengan kembali dalam kejernihan jati diri yang bersumber dari hati. http://erwin-arianto.blogspot.com/2008/05/melepas-topeng-egoisme pribadi.html Mon, 05 May 2008 22:35:09-0700 2.9 Egoisme Pribadi dalam Rumah Tangga

Salah satu akibat buruk bagi perumah tangga khususnya bila mempunyai masalah egoisme pribadi yaitu ketika mengahdapi sesuatu masalah, depresi dan terpuruk karena merasa bahwa diri sendiri adalah sumber masalah, sehingga kecemasan dan depresi akan semakin berlarut-larut dan berat yang pada akhirnya dalam diri individu itu akan mengalami depresi. Banyak orang yang dengan perasaan ego yang tinggi harus mencapai sesuatu yang diinginkanya seperti halnya mencapai pangkat, naik pangkat, dipilih menjadi ketua dan lain sebagainya. Ketika cita-cita mereka tidak berhasil banyak sekali orang menyalahkan diri mereka sendiri sehingga terus menerus mengkritik dan membenci diri sendiri yang tidak bisa mencapai apa yang diinginkan. Menurut pendapat Sarumpaet (2004:31) bahwa di samping perasaan cemas yang berkepanjangan, depresi timbul karena perasaan merasa bersalah. Dengan cara menyalahkan diri sendiri maka penyakit yang ditakuti akan muncul tiba-tiba. Seseorang akan menyalahkan diri sendiri karena tidak lulus ujian, tidak naik

34 pangkat, tidak dipilih sebagai ketua dan lain sebagainya. Bila seseorang terus menerus menyalahkan diri sendiri dengan membenci dan mengkritik diri sendiri maka penyakit depresi akan melanda pribadi itu. Kesuksesan dan keagungan dalam hidup tidak akan dapat diraih hanya dari potensi fisik dan kecerdasan akal pikiran. Lebih dari itu diperlukan kecerdasan hati dan kemampuan menemukan cahaya hati yang bersumber dari pengendalian Ego Pribadi. Dan dengan meninggalkan egoisme diri menuju kehidupan yang lebih baik. Jadi maukah kita melepas Topeng Egoisme pribadi kita? http://erwinarianto.blogspot.com/2008/05/melepas-topeng-egoisme-pribadi.html,Mon,05 May 2008 22:35:09-0700 Egoisme pribadi di dalam rumah tangga harus dihindarkan, dan beberapa cara untuk mengembangkan potensi diri dan penghindaraan egoisme itu sendiri adalah dengan cara kembali kedalam diri individu itu. Dengan melihat ke dalam melalui penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungan di sekitarnya. Kalau anda menginginkan yang baik, buatlah diri anda jadi lebih baik. Jika anda ingin meraih cita-cita, buatlah diri anda menjadi ideal. Anda ingin punya teman yang lebih baik, buatlah diri anda menjadi teman yang lebih baik. Jika anda ingin bekerjasama dengan orang yang mempunyai nilai, jadikan diri anda sendiri lebih bernilai. Kalau anda ingin berurusan dengan orang yang kompromis, buatlah diri anda menjadi lebih kompromis. Kalau anda ingin memasuki berbagai kondisi dan keadaan yang lebih menyenangkan, buatlah diri anda sendiri menjadi lebih menyenangkan. Jika anda ingin dicintai pasangan hidup anda, buatlah diri anda menjadi orang yang mencintainya lebih. Mungkin anda akan bertemu dengan orang-orang yang sulit dimengerti, namun tetap berikanlah diri anda yang terbaik, meski itupun tidak akan pernah memuaskan semua orang. http://erwinarianto.blogspot.com/2008/05/melepas-topengegoisme pribadi.html Mon, 05 May 2008 22:35:09 -0700

35 2.10 Egoisme dan Kewajiban Suami-Istri

Pasangan perumah tangga suami dan istri, masing masing mempunyai kewajiban dan tanggung jawab di dalam membina rumah tangga yang bahagia dan harmonis, seorang wanita atau pria saling membutuhkan di dalam rumah tangga, membuthkan cinta dan kasih sayang dan untuk menumbuhkan hal ini pasangan harus menghindarkan sikap egoisme dalam dirinya dan mengembangkan sikap saling menerima, kasih mengasihi dan cinta kasih yang murni. Seorang wanita yang menjadi seorang istri harus pandai dan teladan di dalam rumah tangga. Wanita itu harus cinta kepada suami. Tahu mengatur rumah dan tidak mementingkan diri sendiri. Berpakaian rapi. Mau mengerti suami. Pakaianya, rumahnya dan tubuhnya selalu bersih. Mempunyai budi pekerti yang halus, sopan dan setia. Tidak cepat marah. Seorang periang. Seorang yang beribadat, tidak sombong, seorang yang menerima nasihat. Tidak membandingkan suami dengan pria-pria lain dan tidak boros melainkan mapu mengatur keuangan rumah tangga. (Sarumpaet, 2004:75) Seorang istri harus mampu mencintai suaminya dengan bisa menerima kelebihan dan segala kekuranganya. Dengan tidak egois yaitu mementingkan diri sendiri melainkan dengan melaksanakan segala kewajibanya seperti: berpakaian rapi, mengerti suami, pakaian, rumah dan tubuhnya yang selalu bersih, mempunyai budi pekerti yang halus, sopan dan setia. Tidak cepat marah, periang, beribadat tidak sombing, dan lain sebagainya. Dewasa ini bertambah banyak perkawinan yang hancur berantakan di banding dengan waktu-waktu sebelumnya, suami-suami yang meninggalkan istri dan pergi dengan wanita lain, penyebabnya adalah karena para istri sudah semakin lalai memikat hati suami. Padahal menurt pendapat Sarumpaet (2004:74) bahwa seorang istri yang dengan sifat kewanitaannya mempunyai peranan yang penting

36 di dalam membangun keperibadian suami, ucapan-ucapan penghargaan, sikap romantis, persahabatan yang menyenangkan dan sumbangan-sumbangan buah pikiran yang sangat besar artinya, di dalam memikat hati suami. Kaum pria memiliki bermacam-macam temperamen. Pikiran pria tidak sama seperti pikiran wanita yang mempunyai kehalusan budi pekerti, sabar dan baik. Seorang wanita yang kurang baik sifatnya akan kehilangan daya tariknya. Banyak sifat-sifat baik yang patut dihargai dan harus dicapai. Diantaranya adalah tidak mementingkan diri sendiri, hormat, tegas, sopan, jujur, dan rendah hati. (Sarumpaet, 2004:75) Seorang istri yang tidak mau kehilangan daya tariknya harus

mengembangkan sifat-sifat yang seperti diungkapkan oleh pendapat ahli di atas yaitu diantaranya tidak egois dengan mementingkan diri sendiri, hormat, tegas, sopan dan rendah hati. Kewajiban-kewajiban istri yang lainnya adalah bisa mengatur kehidupan rumah tangga dalam hal ini menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik karena menurut pendapat Sarumpaet (2004:76) bahwa seorang ibu rumah tangga akan mengurus rumah, anak-anaknya dengan teratur dan rapi. Seorang ibu rumah tangga yang baik menjabat kedudukan sebagai seorang pembantu, seorang ibu dan seorang istri. Istri harus bergembira dengan pekerjaan-pekerjaan yang didapatkan dirumah. Merupakan seorang pengatur dan pemimpin, bersifat tenang, tidak mengharapkan upah, melainkan kasih sayang yang tidak pernah habis. Pendapat ahli di atas menegaskan bahwa seorang istri yang baik mampu dan mau menjadi pembantu rumah sendiri dengan meninggalkan keegoan atau gengsi

37 yang berlebihan karena dengan menjadi seorang yang mau mengurusi rumah sendiri dengan mau bekerja keras dan membuang ego serta gengsi maka istri tersebut merupakan istri yang baik.

2.11

Tujuan Tindakan Egoisme

Manusia

bertindak di dalam lingkunganya

adalah untuk

mencari

kebahagiaan dari hal yang sangat kecil sampai yang besar tentunya menginginkan suatu kebahagiaan, karena tidak ada mahluk manapun di dunia ini yang mau dirugikan. Khususnya perumah tangga, banyak pasangan yang menginginkan suatu kebahagiaan terkadang lupa akan diri dan menggunakan segala cara di dalam mencapai tujuanya sehingga mementingkan diri sendiri, bertindak sesuai dengan ego pribadinya dan mengabaikan kepentingan mahluk lain.

Egoisme manusia yang mementingkan kenyamanan diri kadang melupakan kondisi lingkungan. egoisme adalah suatu tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Karena itu, satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya. Dalam bahasa Aristoteles, tujuan hidup dan tindakan setiap manusia adalah untuk mengejar kebahagiannya. Bagi Aristoteles kebahagiaan adalah perwujudan diri manusia dalam segala potensinya secara maksimal. http://erwinarianto.blogspot.com/2008/05/melepas-topeng-egoisme-pribadi.html, Mon, 05 May 2008 22:35:09 -0700 Jadi, menurut pendapat ahli di atas bahwa manusia bertindak egois adalah untuk mencapai kebahagiaan pribadi dan memajukan dirinya sendiri bahkan dari segala tindakan manusia adalah untuk mengejar kebahagiaannya. Sehingga sering kita menjumpai banyak manusia kebanyakan pada saat ini untuk mencapai kebahagiaan dan tujuan dalam hidupnya, bertindak dengan berbagai daya upaya.

38

BAB III TINJAUAN BUDDHIS TENTANG EGOISME DALAM RUMAH TANGGA

3.1 Akusalamûla 3 (3 Macam Akar Kejahatan) sebagai Akar Egoisme

Akusalamûla 3 (Tiga akar kejahatan) yang merupakan suatu keadaan yang ada yang di dalam diri mahluk hidup yang belum mencapai tingkat kesucian, dimana tiga majam kejahatan ini adalah akar dari tindakan egoisme yang ada pada makhluk hidup. Akusalamûla 3 ini terdiri dari (1) Lobha (Lobha): keserakahan, ketamakan, ingin menerima tetapi tidak ingin member, (2) Dosa (Dosa/Dvesa): kebencian, dendam, berfikir akan menyakiti orang lain karena tidak senang, (3) Moha (Moha): kebodohan batin, ketidaktahuan atau mengetahui secara salah. (Panjika 2004:37).

3.1.1 Lobha (Keserakahan)

Lobha, secara etika berarti ketamakan, tetapi secara psikologis berarti terikatnya pikiran oleh obyek-obyek. Inilah yang kadang-kadang disebut Tanh atau keinginan, kadang-kadang pula disebut Lobha, kadang-kadang pula disebut Rag atau Hawa Nafsu. Perumah tangga yang memiliki sifat lobha untuk memuaskan nafsu seknya, sering mencari kepuasan di luar rumah. Sehingga perselingkuhan yang

39 menyebabkan retaknya rumah tangga sering terjadi, banyak perumah tangga karena pemuasan seksnya lupa akan kewajiban-kewajibannya di dalam rumah melainkan karena dorongan nafsu Tanh yng rendah menjadi egois hanya

mementingkan pemuasan nafsu pribadi dari pada keharmonisan rumah tangga.

3.1.2 Dosa/Dvesa (Kebencian)

Dosa, secara etika berarti kebencian, tetapi secara psikologis adalah pukulan yang berat dari pikiran terhadap objek, yaitu pertentangan atau konflik. Dalam hal ini terdapat dua nama, yaitu Pa igha atau dendam atau tidak senang dan By pada atau kemauan jahat. Perumah tangga yang diliputi oleh rasa egois yang dengan keinginan untuk menguasai, menang sendiri di dalam pertikaian antara suami dan istri, sudah tentu rasa kebencian, dendam, tidak senang akan muncul apa bila kalah di dalam perdebatan keluarga, sehingga banyak masalah-masalah yang muncul, sulit diatasi hanya karena sifat egois untuk menguasai dan menang sendiri, masalah akan bisa diselesaikan hanya dalam sistuasi dan kondisi yang tenang yang memungkinkan kemarahan tidak muncul.

3.1.3 Moha (Kebodohan) Moha berarti kebodohan batin atau kurang pengertian. Moha juga disebut sebagai Avijj (tidak tahu), atau A a a (tidak berpengetahuan) atau Adassana (tidak Nampak/tidak mengerti). Manusia yang diliputi oleh Moha (tidak tahu), akan buta mata dan hatinya di dalam menghadapi masalah -masalah kehidupan,

40 seseorang yang tidak bisa membedakan mana perbuatan baik maupun buruk akan bersikukuh dengan pendapatnya sendiri sehingga tidak akan bisa bijaksana untuk mencoba menerima dan mendengarkan pendapat orang lain karena batinya sudah diliputi oleh Moha. Perumah tangga yang bila sangat besar Moha-nya tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan baik, sebab rasa egoismenya sudah tertutup oleh Moha sehingga sudah tidak bisa menjernihkan pikiranya dan dalam menghadapi masalah hanya menonjolkan keinginan untuk menguasai dan menang sendiri.

3.2 Egoisme Menurut Sigalovada Sutta

Sang Buddha menjelaskan berbagai kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perumah tangga di dalam Sigalovada Sutta berkenaan dengan Sigala putra kepala keluarga, yang bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali Sigala menyembah keberbagai arah yaitu arah timur, selatan, barat, utara bawah dan atas. Berkenaan dengan hal ini Sang Buddha menjelaskan bahwa keenam arah harus di pandang sebagai berikut: (1) Ibu dan ayah seperti arah timur, terdapat lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah timur yaitu: anak merawat orang tuanya, anak akan memikul beban kewajiban orang tuanya, mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga, anak menjadikan dirinya pantas menerima warisan, melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah orang tuanya meninggal; terdapat lima cara orang tua

41 memperlakukan orang tua seperti arah timur yaitu: menunjukan kecintaanya terhadap anak, mencegah anak berbuat jahat, mendorong anak berbuat baik, orang tua melatih anak-anaknya dalam suatu profesi, mencarikan pasangan (istri) yang pantas untuknya, menyerahkan warisan pada waktu yang tepat; (2) Para guru seperti arah selatan, terdapat lima cara siswa-siswa memperlakukan guru-gurunya seperti arah selatan yaitu: bangkit dari tempat duduk untuk memberi hormat, melayani guru-gurunya, bersemangat dalam belajar, memberikan jasa-jasa kepada gurunya, memberikan perhatian sewaktu menerima pelajaran dari gurunya; dan terdapat lima cara siswa-siswa yang demikian diperlakukan oleh guru-gurunya yaitu: mencintai siswa-siswanya, melatih siswa-siswanya dengan berbagai cara sehingga menjadi lebih baik, membuat para siswanya menguasai apa yang telah diajarkan, mengajar siswanya dalam berbagai ilmu dan seni, membicarakan siswanya baik di antara sahabat-sahabat dan kawan-kawannya, menjaga keselamatan siswanya di semua tempat; (3) Istri dan anak-anak seperti arah barat terdapat lima cara seorang istri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah barat yaitu: dengan bersikap menghormati, dengan bersikap ramah-tamah, dengan kesetiaan, dengan memberikan kekuasaan rumah tangga kepadanya, dengan member barang-barang perhiasan kepadanya: demikian pula terdapat lima cara seorang istri memperlakukan suaminya seperti arah barat yaitu: mencintainya, menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik, bersikap ramah-tamah terhadap sanak keluarga kedua belah pihak, dengan kesetiaan, dengan menjaga barang-barang yang telah diberikan oleh suaminya, pandai dan rajin di dalam menjalankan segala tanggung jawabnya: (4) Sahabat-sahabat dan kawan-kawan

42 seperti arah utara, terdapat lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah utara yaitu: dengan bermurah hati, berlaku ramah-tamah, memberikan bantuan, dengan memperlakukan temantemannya seperti memperlakukan dirinya sendiri, dengan berbuat sebaik ucapannya; dan terdapat lima car pula seorang sahabat-sahabat yang diperlakukan demikian oleh seorang warga rumah keluarga seperti arah utara, mencintainya: melindunginya sewaktu lengah, melindungi harta miliknya sewaktu lengah, menjadi pelindung sewaktu berada di dalam bahaya, tidak akan meninggalkannya sewaktu berada di dalam kesulitan, menghormati keluarganya; (5) Pelayanpelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah, terdapat lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah yaitu: memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan pelayan atau karyawannya, memberikan pelayan makanan dan upah, merawat pelayan dan karyawan sewaktu sakit, membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,

memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu; demikian pula terdapat lima cara seorang pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh seorang majikan, menghormati majikannya seperti arah bawah, akan mencintainya: bangun lebih pagi daripada majikannya, beristirahat setelah majikannya, merasa puas dengan apa yang telah diberikan oleh majikannya, mengerjakan kewajiban-kewajibanya dengan baik, dimanapun berada akan selalu memumji majikannya dengan baik, memuji keharuman namanya; (6) Guru-guru agama dan berahmana-berahmana seperti arah atas, terdapat lima cara seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan berhmana seperti arah atas

43 yaitu: dengan cinta kasih dalam perbautan, dengan cinta kasih dalam perkataan, dengan cinta kasih dalam pikiran, membuka pintu rumah bagi pertapa dan berahmana (mempersilahkanya), menunjang kebutuhan hidupnya pada waktuwaktu tertentu; dan terdapat enam cara para pertapa dan berahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaanya yaitu: mencegah perumah tangga berbuat kejahatan, menganjurkan berbuat baik, mencintai dengan pikiran penuh kasih sayang, mengajarkan apa yang belum pernah di dengar, menunjukan jalan kesurga. (Digha Nikaya, Patikha Vaga:31). Sang Buddha Juga menjelaskan di dalam Sigolavada Sutta bahwa terdapat enam saluran yang memboroskan kekayaan yaitu: gemar minum -minuman yang memabukan, sering berkeliaran di jalan-jalan pada saat yang tidak pantas, mengejar tempat-tempat hiburan, gemar berjudi, bergaul dengan teman-teman jahat dan kebiasan menganggur atau malas adalah enam saluran yang memboroskan kekayaan. Sang Buddha menjelaskan lebih lanjut enam saluran yang memboroskan kekayaan itu mempunyai bahaya dan akibat jika seseorang gemar terhadap keenam saluran pemborosan kekayaan tersebut yaitu: (1) terdapat enam bahaya akibat gemar minum-minuman yang memabukan yaitu: kerugian harta secara nyata, bertambahnya pertengkaran, tubuh mudah terserang penyakit, kehilangan sifat yang baik, terlihat tidak sopan, kecerdasan menjadi lemah; (2) enam bahaya akibat sering berkeliaran di jalan-jalan pada saat yang tidak pantas yaitu: dirinya sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung, anak dan istrinya tidak terjaga dan tidak

44 terlindung, harta kekayaanya tidak terjaga dan tidak terlindung, menjadi orang yang tertuduh sebagai pelaku kejahatan yang belum terbukti, menjadi sasaran desas desus palsu, menjumpai berbagai macam kesulitan; (3) enam bahaya akibat mengejar tempat-tempat hiburan yaitu: seseorang tersebut akan selalu berfikir dimanakah ada tari-tarian, dimanakah ada pertunjukan music, dimanakah ada nyanyi-nyanyian, dimanakah ada pembacaan deklamasi, dimanakah ada permainan tambur, dimanakah ada permainan gendering; (4) enam bahaya akibat gemar berjudi: bila menang akan memperoleh kebencian, bila kalah meratapi hartanya yang hilang, kerugian harta benda secara nyata, di pengadilan katakatanya tidak berharga, akan dipandang rendah oleh sahabat-sahabat maupun pejabat pemerintah, tidak disukai oleh orang tua yang mencari menantu karena seorang penjudi tidak bisa memelihara seorang istri; (5) enam bahaya akibat suka bergaul dengan teman-teman jahat yaitu: setiap penjudi, setiap orang yang suka berfoya-foya, setiap pemabuk, setiap penipu, setiap pengoceh, setiap orang yang kejam adalah teman dan sahabatnya; (6) enam bahaya akibat kebiasaan menganggur (malas) yaitu seseorang yang memiliki sifat ini akan berkata; terlalu dingin, terlalu panas, terlalu siang, terlalu lapar, terlalu kenyang dan ia tidak bekerja. (Digha Nikaya, Patikha Vaga:31). Kewajiban-kewajiban yang ada dalam Sigalovada Sutta tersebut harus dipraktekan oleh para perumah tangga dan tidak dengan sifat egois mementingkan kesenangan pribadi mengantarkan seseorang ke dalam kemerosotan dalam pemborosan kekayaan yang berdampak buruk bagi kesejahteraan rumah tangga,

45 dan ke-enam saluran pemborosan kekayaan ini merupakan bentuk dari sifat egoisme yang negatif dari seorang individu. Perumah tangga yang selalu menghamburkan nafsu kesenangan indranya melalui pemborosan kekayaan, di dalam sebuah rumah tidak akan m udah dinasehati, dalam hal ini seorang suami yang gemar memboroskan harta kekayaannaya melalui berjudi dimana Dosa, lobha dan moha-nya selalu bermunculan maka perumah tangga tersebut tidak akan mudah meninggalkan kebiasaan buruknya hanya dengan mendapatkan nasehat dari istrinya, tidak jarang seorang suami sering memarahi dan memukul istrinya dengan kebencian karena mendapatkan nasehat, karena merasa bahwa seorang suami adalah kepala keluarga yang derajatnya lebih tinggi yang tidak seharusnya diatur dan dinasehati, padahal hal ini hanya karena disebabkan oleh rasa ego pribadi. Menurut Visuddhacara (1995:29) Ego dalam pandangan agama Buddha lebih dikenal dengan istilah ³diri´ atau ³aku´. Tetapi, ego dan diri itu sifatnya adalah tidak kekal dan sifat ego yang ada pada diri manusia menyebabkan kemarahan, selama manusia masih memiliki ego atau aku maka akan tetap diliputi kemarahan, hanya jika manusia itu mengerti ajaran Sang Buddha dengan baik tentang Anatta (tanpa-diri) maka manusia tidak akan terpancing oleh rasa marah dan benci. Jadi, perumah tangga harus mudah dinasehati, dilayani dan tidak mengutamakan emosi kebencian di dalam menyelesaikan segala sesuatunya. Sehingga sesuai dengan Sigalovada Sutta. Manusia yang belum mencapai tingkat kesucian sudah tentu diliputi nafsu keinginan (Tanha), banyak perumah tangga menghamburkan kesenangan

46 indrianya dengan cara berpoya-poya, mabuk-mabukan, berjudi, main wanita, memberikan pendidikan yuang keras terhadap anak secara berlebih-lebihan yang berpengaruh terhadap psikologis anak. Perumah tangga yang bila terus-terusan menyenangi nafsu indria dan tidak waspada terhadap kekuasaan dari keinginan keinginan itu tentu saja akan terjerumus terhadap keingnannya. Menurut Jotidhammo (2007:91) dalam tulisannya memberikan contoh dari keinginan-keinginan. ³Dorongan-dorongan, tarikan-tarikan dari keinginan-

keinginan seperti halnya makan. Kadang ada orang punya anggapan tidak makan, orang tidak bisa hidup. Mengharuskan individu tersebut harus makan dan demikian keinginan itu dihumbar, tidak aka nada henti-hentiny, dan inilah model hidup manusia yang mengikuti, menghumbar,larut, terseret kepada keinginankeinginanya tanpa batas´. Demikian jika seorang perumah tangga yang tidak mempunyai pengendalian diri akan terseret oleh nafsu rendah, keinginankeinginan yang membawa kepada kemerosotan, khususnya perumah tangga yang tidak melaksanakan kewajiban hidup berumah tangga seperti apa yang terdapat di dalm Sigalovada Sutta yaitu perumah tangga yang menghamburkan nafsu dengan cara berjudi, selingkuh, dan menghabiskan harta kekayaan dengann cara hidup berfoya-foya. Jadi, menurut pendapat para pakar Buddhis di atas, selain Dosa, lobha dan moha sebagai akar kejahatan sebagai awal mula akar sifat egois, egoisme juga sering terjadi di dalam masyarakat karena disebabkan oleh manusia yang terikat oleh : (1) Tanha (keinginan rendah) di dalam menjalankan kehidupan.

47 3.2.1 Tanh (Keinginan Rendah)

Sang Buddha telah mengajarkan bahwa orang yang nafsunya tinggi dan sering menghamburkan nafsu-nafsu indrianya tanpa terkendali akibatnya adalah percekcokan dan konflik antara sesama bangsawan dengan bangsawan pertapa dengan pertapa perumah tangga dan perumah tangga, bila keinginan yang ingin menguasai segala sesuatu menjadi milik diri sendiri, suatu kebenaran adalah milik sendiri dan orang lain salah maka tidak jarang keserakahan akan terus mengikuti orang yang berpandangan seperti itu, keinginan-keinginan untuk menguasai semua orang dengan pandangan-pandangan mereka sendiri, dari gambaran hal ini maka yang menjadi salah satu sumber awal dari konflik adalah keserakahan (Lobha).

3.3 Egoisme Sebagai Sumber Konflik Rumah Tangga

Menurut Angutara Nikaya (A.IX, 3:23) dijelaskan bahwa ada sembilan hal yang berakar di dalam keserakahan yaitu karena keserakahan ada pengejaran; karena pengejaran ada perolehan; karena perolehan ada penentuan; karena penentuan ada keinginan dan nafsu; ada kecenderungan memikirkan diri sendiri; karena ada kecenderungan memikirkan diri sendiri ada kepemilikan; karena kepemilikan ada ketamakan; karena ketamakan ada keinginan untuk melindungi; karena demi melindungi ada penggunaan tongkat dan senjata dan hal-hal lain yang jahat dan tidak bajik, seperti misalnya perselisihan, konflik, percekcokan dan pembicaraan yang menyudutkan, fitnah dan kebohongan-kebohongan.

48 Saling pengertian dan saling menghargai serta menumbuhkan komunikasi yang benar dalam kehidupan rumah tangga adalah kunci utama dalam mencegah terjadinya konflik, komunikasi yang dapat menyinggung perasaan orang lain akan menimbulkan kebencian dalam diri individu yang mendengarnya. Suami atau istri ketika berunding tentang masalahnya hendaknya tidak dengan sikap egois dan kasar tetapi berkomunikasi dengan bahasa yang pantas dan sopan. Sebab, jika berbicara dengan bahasa yang tidak pantas dan tidak sopan akan menyulut kebencian dalam diri pasangan, hendaknya komunikasi itu harus yang memancing kearah perdamaian bukan komunikasi yang memicu pertikaian. Menurut pendapat Liaw (2000:55) Komunikasi yang damai adalah komunikasi yang bebas dari penyerangan terhadap pihak lain secara negatif dan destruktif. Sebab, setiap kritikan akan membuat individu yang dikritik akan merasa ditelanjangi secara tidak simpatik dan akan memberikan rasa bahwa harkat dan martabatnya telah dikoyak-koyak. Individu bukan berarti tidak boleh memberikan kritikan kepada orang lain, akan tetapi harus mewaspadai apa yang diutarakan agar tidak menjadi persoalan yang memicu konflik.

3.4 Sikap Egoisme dalam Rumah Tangga Perkawinan menurut Dhammananda (1993:222) merupakan suatu berkah akan tetapi perkawinan itu tidak menjadi berkah lagi, ketika kurangnya komunikasi dan pengertian yang benar antara pasangan sudah tidak ada lagi. Kebanyakan masalah dalam perkawinan disebabkan oleh keengganan dari salah satu pasangan untuk berkompromi dan bersabar dan jalan yang terbaik untuk

49 menghindari kesalahpahaman adalah dengan cara memperaktekan kesabaran, bertoleransi dan pengertian. Sikap tidak mau mengkomunikasikan masalah dan enggan berkompromi dengan pasangan merupakan bentuk egoisme dan rasa mementingkan diri sendiri agar masalah pribadi tidak diketahui pasangan sehingga tidak jarang pasangan terus curiga dan cemburu. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar komunikasi antara suami dan istri menjadi lancar antara lain, seorang suami wajib menyampaikan masalahnya kepada istri demikian juga istri wajib menyampaikan keluhan-keluhanya kepada sang suami. Seorang suami boleh mendapatkan cinta, perhatian, kewajiban berkeluarga, kesetiaan istrinya, pengurusan anak, tabungan, menyediakan makanan, mendapatkan hiburan dari istri saat merasa sedang kecewa dan sikap yang manis dari istri. Demikian juga seorang istri memiliki hak untuk mendapatkan kelembutan, rasa hormat, kesempatan bermasyarakat, keamanan, keadilan, kesetiaan, kejujuran, persahabatan dan dukungan moral dari sang suami. Seorang suami atau istri hendaknya saling bertukar pikiran dalam menyelesaikan masalah mereka. ³saling bertukar pikiran antara suami dan istri dengan rasa saling pengertian, saling mempercayai dalam memecahkan persoalan yang mungkin tumbuh merupakan cara yang tepat untuk membantu menciptakan atmosfir rumah tangga´. (Dhammananda, 1990:27) Angutara Nikaya (A:II,4:6) menjelaskan bahwa karena nafsu akan kesenangan indra, kemelekatan, ikatan, keserakahan, obsesi dan mengukuhi kesenangan-kesenangan indria maka bangsawan berselisih dengan bangsawan,

50 brahmana dengan brahmana perumah tangga dengan perumah tangga adalah penyebab konflik dalam kehidupan. Seorang penjudi karena obsesi untuk mengukuhi kesenangan terhadap nafsu indrianya seperti berjudi dan kecanduan sudah dibutakan oleh kebodohan batinya dan tidak bisa dinasehati disebabkan oleh ingin menjadi pemenang dal m a perjudian sehingga tidak perduli dengan nasihat yang diberikan oleh istrinya. Jadi, menurut isi Sutta di atas bahwa sumber dari egoisme itu sendiri adalah rasa ingin memiliki yang berawal dari rasa keserakahan, dan berlangsung keterikatan untuk memiliki. Pasangan yang suka menghamburkan kesenangan nafsu indranya melalui berjudi dan mabuk-mabukan yang demi rasa untuk mementingkan kepuasan pribadi atau egonya dengan cara yang salah akibatnya, akan sering bercekcok dengan orang lain bahkan dengan anggota keluarganya. Konflik yang timbul dalam diri manusia disebabkan oleh kondisi batin yang masih rapuh dan kekanakkanakan yang senantiasa dipengaruhi oleh dualisme yaitu bila mendapat keuntungan batin menjadi gembira sementara bila menjadi rugi akan kecewa dan menderita. (Abhipanno, 2002:124). Jadi, menurut sutta di atas manusia yang mengukuhi kesenangan indrianya melalui keserakahan, keterikatan, dan obsesi-obsesi untuk mengukuhi kesenangan indria seperti: 1) Berjudi dan 2) Mabuk-mabukan adalah penyebab konflik yang disebabkan Keserakahan (Lobha) untuk mengukuhi kesenangan indrianya. dengan rasa

51 3.4.1 Berjudi

Kebiasaan menghamburkan uang di meja perjudian akan membawa kemerosotan dan konflik bagi kehidupan dan materi rumah tangga. Selain itu berjudi juga membawa akibat buruk bagi seorang suami atau istri tersebut, sebab individu yang gemar berjudi dan bermabuk-mabukan tidak jarang berbuat kejahatan dijalanan atau di tempat-tempat umum yang pada akhirnya akan berakibat buruk bagi ketentraman rumah tangga. Menurut Sigalovada sutta (D.III.31) yaitu ada enam bahaya bagi perumah tangga yang gemar berjudi. Enam bahaya bagi perumah tangga yang gemar dalam berjudi yaitu: 1) Jika menang akan dibenci, 2) Jika kalah akan meratapi hartanya yang hilang, 3) Hanya menghamburkan harta-hartanya, 4) Di pengadilan, ucapanya dianggap tidak berharga, 5) Akan dipandang rendah oleh kawan dan lawan, 6) Tidak akan disukai oleh orang tua yang mencari menantu, karena seorang penjudi tidak akan bisa merawat keluarganya dengan baik. Seorang perumah tangga tentunya tidak ingin kehidupan rumah tangganya menjadi berantakan dan penuh dengan konflik karena disebabkan oleh individu dalam rumah tangga itu sendiri, oleh sebab itu seorang perumah tangga harus benar-benar menjalankan yang menjadi nasihat yang terdapat di dalam Sigalovada sutta karena dengan menjalankanya maka konflik dalam rumah tangga bisa dicegah sebelum benar-benar terjadi.

52 3.4.2 Mabuk-mabukan

Mabuk-mabukan merupakan bentuk dari rasa ego individu dalam memuaskan kepentingan nafsu indra pribadi yang salah, yang akan membawa kemerosotan dalam kehidupan rumah tangga, sebab dengan mabuk-mabukan akan melemahkan kesadaran individu yang meminum alkohol. Dalam hal ini khususnya perumah tangga. Sigalovada sutta (D.III.31) menjelaskan bahwa terdapat bahaya-bahaya dari seseorang yang gemar dan ketagihan dalam minum-minuman keras dan suka mabuk-mabukan yaitu: (1) Harta akan habis, (2) Sering bercekcok dengan orang lain, (3) Mudah terserang penyakit, (4) Watak baiknya akan hilang, (5) Menampakan dirinya secara tidak pantas, dan (6) Kecerdasanya akan menurun.

3.5 Dampak Egoisme dalam Kehidupan Rumah Tangga

Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang pasanganya tidak selalu mencoba menjalankan segala sesuatunya dengan caranya sendiri, pasangan yang memilih untuk bercerai merupakan salah satu cara untuk menyelesaiakn masalah, walaupun tidak sesuai dengan harapan dan terkadang sulit. Tetapi, selalu menjadi jalan bersama. Ketika pasangan sudah tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin dan sudah tidak ada solusi lain lagi maka perceraian merupakan satu-satunya cara terbaik sebagai solusinya. Sebab, menurut Dhammananda (1993:220) bahwa tak ada pasangan yang dapat hidup bersama dalam hubungan emosional dengan kesalahpahaman dan perselisihan

53 yang timbul dari waktu ke waktu. Sehingga banyak pasangan memilih untuk bercerai. Banyak anak yang kehilangan rasa cinta kasih dari orang tua yang egois dalam pengejaran materi tanpa memperhatikan kebutuhan dari anaknya yaitu cinta kasih dan kasih sayang dari orang tuanya. Sehingga, anak merasa bahwa telah kehilangan rasa tanggung jawab dan dalam menerima cinta kasih dari orang tuanya. Padahal ³Perolehan materi itu sendiri tidak dapat membawa kebahagiaan dan kedamaian abadi. Kedamaian pertama-tama harus didirikan dalam hati kita sendiri sebelum kita dapat membawa damai bagi orang lain dan dunia luas´. (Dhammananda, 2003; 240-241). Jadi, menurut pendapat para ahli di atas dampak dari sikap egoisme itu sendiri adalah: 1) perceraian, dan 2) hilangnya rasa tanggung jawab.

3.5.1 Perceraian

Dewasa ini, perceraian mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar, di majalah, surat kabar, televisi memberitakan bagaimana perceraian yang sering sekali melanda kehidupan rumah tangga para artis dan aktor tanah air, perceraian sering disebabkan oleh ketidakjujuran antara suami dan istri, dimana awal mulanya bisa disebabkan oleh perselisihan kecil, masalah ekonomi rumah tangga, tanggung jawab yang tidak sepadan antara suami dan istri, adalah hadirnya orang ketiga yang merupakan perwujutan ketidaksetiaan antara pasangan sehingga perceraian kerap kali dilakukan oleh pasangan yang sudah tidak bisa mempertahankan rumah tangga mereka. ³ Perkawinan yang bahagia hendaknya

54 tumbuh dan berkembang secara bertahap; ia berakar dari rasa saling pengertian, bukanya pada nafsu birahi; pada kesetiaan sejati, bukan pada kesenangan´. (Dhammananda, 1995:4). Perceraian dalam menyelesaikan konflik merupakan suatu hal yang dianggap sebagai suatu jalan akhir dan bukan solusi yang mudah, keputusan untuk bercerai akan diambil oleh sebuah pasangan seandainya jalan dan solusi yang lain sudah tertutup, maka perceraian merupakan suatu jalan yang terbaik bagi kedua insan. Sungguh tidak baik bagi kedua insan untuk bertengkar terus dan menderita siang dan malam, pertikaian dalam rumah juga akan memberikan dampak negatif bagi para tetangga sebab tetangga-tetangga yang tidak tahu-menahu juga akan merasa menderita dengan suara-suara ribut dalam pertengkaran antara suami dan istri dan hal ini harusnya menjadi renungan dalam rumah tangga. Maka bila tidak ditemukan lagi solusi, perceraian adalah jalan yang tidak dapat dikatakan salah. Tetapi, perlu diingat bahwa perceraian bukanlah izin untuk membenci mantan pasangan. Pasangan yang telah berpisah seharusnya masih tetap akur dan memiliki rasa kasih sayang, dan tentunya bukan kasih sayang antar suani istri lagi tetapi kasih sayang antar teman. Jika telah memiliki anak, maka perundingan tentang perawatan anak seharusnya disepakati. Bila anak tersebut telah dewasa, maka orang tua juga mempunyai kewajiban untuk menjelaskan semua permasalahan yang menyebabkan orang tuanya bercerai, tanpa menimpa semua kesalahan kepada mantan pasanganya. Dengan demikian, anak tersebut akan mengerti dan tetap memiliki rasa hormat dan kasih sayang terhadap kedua orang tuanya.

55 Konflik dalam rumah tangga seperti halnya bercerai dapat dihindarkan dengan cara pasangan harus memiliki peranan dan tanggung jawab bersama dalam membina kehidupan berumah tangga, antara suami dan istri sangat diperlukan agar rumah tangga menjadi bahagia dan harmonis.

3.5.2 Hilangnya Rasa Tanggung Jawab

Orang tua yang lebih mementingkan kesibukan dalam mencari nafkah di jaman sekarang ini terkadang lebih memilih menitipkan anaknya kepada seorang pengasuh sehingga lupa akan tanggung jawabnya berupa cinta kasih secara langsung dan seolah-olah tanggung jawab dalam mengurus dan mendidik anak adalah kewajiban pengasuh sehingga diserahkan semuanya kepada pengasuh. Orang tua memang wajib untuk mencari materi sebanyak-banyaknya akan tetapi hendaknya jangan sampai lupa untuk memberikan perhatian yang cukup kepada anaknya, terkadang orang tua yang demikian hanya memberikan barangbarang kebutuhan anaknya saja dengan demikian sudah merasa cukup bahwa itu adalah suatu perwujudan cinta kasih kepada anaknya, padahal selain itu ada tanggung jawab yang lebih penting dari semua itu yaitu memberikan cinta dan kasih sayang kepada anak-anak agar tumbuh dan berkembang menjadi anak yang bisa mencintai orang tuanya bukan kepada pengasuhnya. Anak yang terus-terusan dengan pengasuhnya akan merasa asing terhadap cinta dan kasih ibunya. ³Orang tua bertanggung jawab untuk merawat dan membesarkan anak-anak mereka. Jika si anak tumbuh menjadi kuat, sehat dan

56 berguna bagi masyarakat, ini adalah hasil dari orang tua´. (Dhammananda , 1995:32). Orang tua dalam mencari materi terkadang lupa akan kewajiban terhadap anaknya, lupa memberiakan bimbingan dan kasih sayang demi pencarian harta itu sendiri. Sehingga, anak akan merasa tidak diperhatikan dan sendirian tanpa mempunyai perhatian dari orang tuanya. Hendaknya orang tua tidak egois hanya mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan kebutuhan dari anaknya yaitu cinta kasih dan kasih sayang dari orang tuanya. ³Perolehan materi itu sendiri tidak dapat membawa kebahagiaan dan kedamaian abadi. Kedamaian pertama-tama harus didirikan dalam hati kita sendiri sebelum kita dapat membawa damai bagi orang lain dan dunia luas´. (Dhammananda, 2003; 240-241). Uang sangatlah penting sekali dalam menunjang kehidupan berumah tangga akan tetapi keluarga juga penting untuk diperhatikan dan seharusnya ³ Individu itu hendaknya tidak terikat pada harta duniawi dan hendaknya dapat melepaskan kemelekatan terhadap uang karena uang bukanlah satu-satunya penentu kebahagiaan manusia. Uang atau materi itu penting jika bisa menambah kemajuan dan mengurangi penderitaan. (Wong, 1992:24). Agama Buddha mengakui bahwa masalah ekonomi dapat menimbulkan tindakan kriminal. Dalam Kutadanta Sutta (D.I:5), Sang Buddha menyatakan bahwa kesejahteraan, kedamaian, dan kebersihan dari tindakan kriminal dapat diwujudkan dengan peningkatan penghidupan umat manusia. Sementara itu, dalam pandangan agama Buddha paham "Roh" sesungguhnya merupakan biang keladi dari segala kejahatan di dunia ini. Sifat mementingkan diri sendiri dengan

57 tidak segan-segan merugikan makhluk lain (Egoisme), keangkuhan,

kesombongan, kecongkakan, dan banyak kekotoran batin lainnya, semuanya bersumber dari paham "Roh". Kebanyakan umat manusia tidak menyadari bahwa paham "Roh" adalah racun ganas bagi mereka. Pikiran negatif tentang adanya "Roh", "Aku", dan "Milikku" yang ditimbulkan dari paham tersebut merupakan sumber dari semua kejahatan dan perselisihan dalam dunia ini, dari perselisihan kecil dalam keluarga, sampai dengan tindakan kejahatan dan peperangan antar bangsa.

3.6 Membuang Sikap Egoisme dalam Rumah Tangga Sebagai umat Buddha, pasangan suami istri harus mengingat nasihat dan mencontoh sang Buddha. Sang Buddha tidak pernah menyelesaikan masalah dengan sikap egois dan mementingkan perasaan karena tersinggung, walaupun telah di fitnah oleh Cinca yang melontarkan tuduhan palsu bahwa beliau yang menyebabkan kehamilannya dan Devadatta yang berusaha membunuhnya. Tetapi, sebaliknya sang Buddha dengan cinta kasih (metta) dan kesabaran bahkan kepada si penindasnya. (Visuddhacara 1995:15) Dengan mampu melihat kedalam diri sendiri dengan melihat betapa buruknya sikap egois bila dikembangkan. Maka, seseorang akan mampu belajar menerima kenyataan bahwa segala sumber masalah adalah dari dalam dirinya sehingga, seorang perumah tangga khususnya akan mampu menciptakan keharmonisan rumah tangganya. Sebab, telah mampu mencegah munculnya konflik rumah tangga dengan Introspeksi diri.

58 Pasangan yang mampu mengatasi masalah-masalah rumah tangganya merupakan pasangan yang mampu bertahan lama dan harmonis. Banyak perumah tangga merasa bahwa konflik dan masalah sering muncul akibat mahluk lain padahal tidak demikian halnya sebab konflik dan masalah timbul dari d alam diri individu itu sendiri. (Dhammananda, 1995:49). Seorang istri terkadang tidak mau menghormat suaminya demikian juga suami tidak mau menghormat istri, ketika suami istri menyampaikan pendapat masing-masing dan beberapa sebab yang menyebabkan seseorang tidak mau menghormat kepada orang lain yaitu: 1. seseorang yang terikat pada egonya sehingga tidak mau mengikuti seremoni, karena menghormat dapat mengurangi egonya, 2. seseorang yang telah terlepas dari egonya sehingga merasa sudah tidak perlu menghormat. Menurut pendapat para pakar Buddhis di atas bahwa untuk membuang sifat egois itu sendiri adalah dengan cara: 1) mengembangkan cinta kasih, dan 2) kesabaran.

3.6.1 Mengembangkan Cinta Kasih

Pasangan suami istri harus mengetahui bagaimmana cara mengembangkan cinta kasih dan menurut Dhammananda (2003:239) cara mempraktekan cinta kasih adalah pertama-tama dipraktekan dengan cara mempraktekan prinsip -prinsip mulia tentang tanpa kekerasan dan harus selalu siap mengatasi keegoisan dan menunjukan jalan yang benar pada orang lain. Perjuangan tidak harus dilakuakan dengan tubuh pisik, karena kejahatan bukan ada dalam tubuh kita melainkan

59 dalam pikiran. Tanpa kekerasan adalah senjata yang lebih efektif untuk melawan kejahatan daripada pembalasan dendam. Pembalasan dendam itu sendiri hanya akan meningkatkan kejahatan. Cinta kasih merupkan pondasi bagi rumah tangga yang bahagia. Di dunia saat ini ada cukup kekayaan materi dan pekembangan intelektual. Walaupun harus diakui bahwa penyebaranya tidak merata, kita benar-benar memiliki banyak cendikiawan, penulis hebat, pembicara berbakat, filsuf, psikologis, ilmuan, penasihat religius, penyair indah, dan pemimpin dunia yang berkuasa. Walaupun kaum cendikiawa. Namun, tidak ada kedamaian dan keamanan sejati di dunia saat ini. Ada sesuatu yang kurang dan yang kurang itu adalah cinta kasih atau niat baik antara umat manusia. Cinta kasih (Metta) merupakan lawan dari (Dosa) kebencian yang merupakan akar atau penyebab dari tindakan egoisme. Manfaat pengembangan cinta kasih telah disabdakan oleh Sang Buddha, sebelas keuntungan ini boleh diharapkan oleh orang yang telah berlatih dan mempunyai kebiasaan memberikan metta (cinta kasih) terhadap semua mahluk: (1) Tidur dalam kedamaian: orang yang penuh metta akan dapat tidur dengan tenang dan bahagia. Apabila seseorang dapat tidur dengan suasana hati yang tenang dan bahagia, terbebas kebencian, tentu akan dapat tidur dengan seketika. Hal ini dapat dibuktikan secara nyata oleh orang yang penuh dengan metta, (2) Akan bangun dalam kedamaian; karena individu tersebut tidur dengan perasaan yang penuh metta maka akan terjaga dengan perasaan yang penuh dengan metta orang yang baik dan penuh dengan welas-asih maka akan bangun dengan wajah

60 yang berseri-seri, (3) Tidak akan bermimpi buruk; di dalam mimpinya orang yang penuh dengan metta tidak akan diganggu oleh mimpi-mimpi buruk. Karena pada waktu jaganya orang tersebut penuh dengan metta, maka dalam tidurnya pun akan merasa aman dan akan tidur dengan nyenyak dan kalaupun bermimpi akan mendapatkan mimpi yang baik., (4) Akan disayangi oleh sesama manusia; orang yang penuh metta yang mencintai orang lain maka akan disayangi oleh orang lain karena telah menyayangi orang lain bahkan akan disegani oleh orang-orang, (5) Akan disayangi oleh mahluk yang bukan manusia; dalam hal ini orang yang melatih metta akan dicintai oleh mahluk-mahluk yang bukan manusia, oleh binatang dan lain sebagainya karena daya tarik dan pancaran dari welas -asihnya, seorang pertapa yang tinggal dan hidup di hutan tidak akan diganggu oleh binatang buas, (6) Akan dilindungi oleh para dewa; mahluk-mahluk (dewa) yang tidak terlihat oleh manusia akan melindungi seseorang yang penuh dengan metta, (7) Tidak akan dapat dilukai baik oleh api, racun, atau senjata; karena kekuatan metta orang akan dapat kebal dari bisa racun dan sebagainya, kecuali dikarenakan pengaruh karma buruknya dimasa lampau, (8) Pikiranya mudah terkonsentrasi; karena pikiranya tidak terganggu oleh rasa permusuhan maka pemusatan pikiran dapat dicapai dengan mudah. Dengan batin yang tenang akan dapat hidup di dalam surga ciptaanya sendiri. Bahkan orang-orang yang bergaul dengan dirinya akan dapat merasakan berkah itu, (9) Air mukanya tenang; metta mempunyai pengaruh untuk menambah keindahan wajah seseorang, karena wajah atau muka pada umumnya adalah merupakan pantulan dari keadaan batin. Ketika seseorang dalam keadaan marah maka muka seseorang tersebut akan menjadi merah dan

61 biru dan akan menyebabkan orang tersebut menjadi menakutkan yang disebabkan oleh aliran darah seseorang yang memuncak ke jantung, oleh sebab itu perlunya metta dikembangkan agar bisa membersihkan darah sehingga akan menyebabkan raut wajah seseorang akan berseri-seri, dan (10) Mati dalam keadaan tidak bingung: orang yang pikiranya penuh dengan metta akan meninggal dengan tenang bagaikan kapal yang berlabuh di teluk yang teduh; tak ada pikiran benci yang akan menggangu dirinya. Bahkan setelah meninggal wajahnya akan kelihatan berseri-seri, membayangkan ketenangan kematianya. Cinta kasih bila dikembangkan oleh perumah tangga pahalanya akan disayangi oleh semua orang dan terlindungi oleh mara bahaya. Selain untuk mencegah terjadinya konflik dalam kehidupan berumah tangga manfaat dari pengembangan cinta kasih itu sangat banyak sekali dan penting dalam kehidupan. Kebencian dan kemarahan yang akan terjadi dapat dikendalikan dengan cinta kasih, dalam diri seseorang kemarahan tidak akan muncul karena akan kalah oleh rasa kasih sayang itu sendiri. Permusuhan yang disebabkan oleh keegoisan, dapat di cegah sebelum muncul dan berkembang. Orang tua dalam mencari materi terkadang lupa akan kewajiban terhadap anaknya, lupa memberikan bimbingan dan kasih sayang demi pencarian harta itu sendiri, anak akan merasa tidak diperhatikan dan sendirian tanpa mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Cinta kasih efektif dalam memelihara kemurnian pikiran, dengan pikiran yang jernih dan bersih penuh dengan cinta kasih maka pikiran buruk tidak akan muncul. Sebab, bila pikiran buruk itu muncul maka menjadi awal mula dari kebencian dan dari kebencian akan muncul pertikaian dengan orang yang di benci.

62 Memperaktekan sikap tanpa kekerasan sebagai suatu praktek cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari maka, semua mahluk akan merasa damai. Sebab, jika kekerasan sering terjadi maka rasa aman didalam kehidupan tidak akan bisa di nikmati oleh manusia dan sumber dari segala kehancuran adalah kekerasan.

3.7 Pengaruh Sikap Egosme bagi Keharmonisan Rumah Tangga

Faktor pendukung keharmonisan rumah tangga adalah menghindari sikap egoisme itu sendiri dan pasanagan harus melaksanakan kewajibannya antara lain adalah: dukungan mental; istri seharusnya dijadikan teman baik bagi suami, demikian juga sebaliknya. Sehingga bila ada permasalahan, mereka dapat saling mendukung. Yaitu mendukung agar suami atau istri meningkatkan moralitasnya seperti pengurangan terhadap keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan batin (moha/avijj ã). Menurut pendapat Dhammananda (2003:21) Kehidupan rumah tangga yang harmonis akan tercipta dengan melaksanakan empat hal yaitu: (1) Komunikasi; sangat perlu dibangun dalam suatu keluarga agar tidak terjadi salah pengertian. Komunikasi yang dijalin seharusnya didasari oleh rasa kasih dan sayang. Ucapan yang ramah tamah adalah kunci keharmonisan, (2) Saling mengerti; suami dan istri harus mengerti hal-hal yang tidak disukai dan disukai oleh pasanganya. Dengan pengertian ini, suami atau istri kemudian akan melakukan hal-hal yang disukai dan menjauhi hal-hal yang tidak disukai oleh pasanganya. Dalam menghadapi konflik harus mampu hidup rukun dan bertoleransi bila terdapat konflik dalam mementingkan diri sendiri, (3) Mengikis sifat keakuan; tidak egois

63 dan tidak sombong, akan tetapi mementingkan kebahagiaan bersama. Ajaran Buddha berakar pada dukkha (segala sesuatu adalah tidak memberikan kepuasan abadi), anicca (segala sesuatu adalah tidak kekal keberadaanya), dan anatta (tanpa roh/jiwa/pemilik/aku). Dengan demikian, sifat keakuan (egois, sombong, dan lainlain) juga harus dikurangi dengan merenungi ajaran Buddha, dan (4) Kesabaran; Buddha bersabda µkesabaran adalah berkah tertinggi¶ (S.N:2.4). Dengan demikian pasangan yang melatih latihan tertinggi ini akan dapat menanggani banyak permasalahan yang tidak dapat ditanggani oleh pasangan lain.

3.8 Egoisme dan Pembagian Kerja dalam Rumah Tangga Pembagian kerja serta tugas di dalam rumah tangga antara suami dan istri sering mendapatkan masalah dan salah satu masalah yang muncul adalah ketika pembagian kerja itu diwarnai dengan sikap egoisme yang berlebihan. Pendidikan yang hanya bertujuan untuk ekonomi dan politik tetapi yang tidak mendukung moralitas menyebabkan moralitas menghilang sehingga terjadilah persaingan dan pertengkaran. Menurut pendapat Buddhadasa (59:2005) bahwa pendidikan yang

mengajarkan wanita yang tidak berfungsi sebagai seorang wanita atau seorang ibu, lelaki bukan sebagai seorang lelaki atau seorang ayah, yang mengakibatkan persaingan kerja antara kedua jenis kelamin yang dikenal sebagai hak asasi, yang mendukung persamaan hak atas jenis kelamin. Diantara pasangan yang telah menikah, ada anggapan bodoh bahwa siapa yang harus memimpin dan siapa yang harus menjadi pengikut.

64 Pendidikan seharusnya tidak membuat lelaki dan wanita saling bersaing mendapatkan kerja, tetapi yang mengajarkan seorang lelaki menjadi seorang ayah dan yang mengajarkan seorang wanita menjadi seorang ibu ayah adalah yang , mencari nafkah bagi keluarga sehingga ibu tidak perlu bekerja lagi di luar rumah dan dapat sepenuhnya merawat anak, membesarkanya menjadi manusia dan warga Negara yang baik, yang tidak akan menciptakan penderitaaan bagi orang tuanya karena kelakuan yang tidak benar. Anak-anak yang dididik dengan pendidikan yang benar menyebabkan baik anak lelaki maupun anak perempuan menjadi tidak egois.

65

BAB IV UPAYA MENGHINDARI SIKAP EGOISME DALAM RUMAH TANGGA BERDASARKAN PADA SIGALOVADA SUTTA

4.1. Mengebangkan Cinta Kasih dalam Keluarga

Pasangan suami istri harus mengembangkan cinta kasih dan kasih sayangnya kepada pasangan dan anggota keluarga lainya dengan menhindarkan diri dari Kebencian (Dosa) seperti yang telah diajarkan oleh Sang Buddha di dalam Sigalovada Sutta dimana masing-masing anggota rumah tangga harus mampu menanggalkan sifat egoisnya masing-masing di dalam memberikan kewajibankewajibannya sesuai dengan fungsi dan peranan masing-masing, adapun ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha yang terdapat di dalam Sigallovada Sutta yaitu: (1) Ibu dan ayah seperti arah timur, terdapat lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah timur yaitu: anak merawat orang tuanya, anak akan memikul beban kewajiban orang tuanya, mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga, anak menjadikan dirinya pantas menerima warisan, melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah orang tuanya meninggal; terdapat lima cara orang tua memperlakukan orang tua seperti arah timur yaitu: menunjukan kecintaanya terhadap anak, mencegah anak berbuat jahat, mendorong anak berbuat baik, orang tua melatih anak-anaknya dalam suatu profesi, mencarikan pasangan (istri) yang pantas untuknya, menyerahkan warisan

66 pada waktu yang tepat; (2) Para guru seperti arah selatan, terdapat lima cara siswa-siswa memperlakukan guru-gurunya seperti arah selatan yaitu: bangkit dari tempat duduk untuk memberi hormat, melayani guru-gurunya, bersemangat dalam belajar, memberikan jasa-jasa kepada gurunya, memberikan perhatian sewaktu menerima pelajaran dari gurunya; dan terdapat lima cara siswa-siswa yang demikian diperlakukan oleh guru-gurunya yaitu: mencintai siswa-siswanya, melatih siswa-siswanya dengan berbagai cara sehingga menjadi lebih baik, membuat para siswanya menguasai apa yang telah diajarkan, mengajar siswanya dalam berbagai ilmu dan seni, membicarakan siswanya baik di antara sahabat sahabat dan kawan-kawannya, menjaga keselamatan siswanya di semua tempat; (3) Istri dan anak-anak seperti arah barat terdapat lima cara seorang istri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah barat yaitu: dengan bersikap menghormati, dengan bersikap ramah-tamah, dengan kesetiaan, dengan

memberikan kekuasaan rumah tangga kepadanya, dengan member barang-barang perhiasan kepadanya: demikian pula terdapat lima cara seorang istri

memperlakukan suaminya seperti arah barat yaitu: mencintainya, menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik, bersikap ramah-tamah terhadap sanak keluarga kedua belah pihak, dengan kesetiaan, dengan menjaga barang-barang yang telah diberikan oleh suaminya, pandai dan rajin di dalam menjalankan segala tanggung jawabnya; dan bukanya mengembangkan sifat egoism ketika masingmasing anggota rumah tangga dihadapkan dengan kewajiban masing-masing. Sebab, dengan dasar memberikan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap orang lain merupakan dasar bagi setiap individu agar mampu memberikan kewajiban -

67 kewajibannya yang pada akhirnya, kewajiban-kewajiban perumah tangga di dalam Sigalovada Sutta ini mampu dilaksanakan dengan baik oleh para anggota rumah tangga sesuai dengan fungsi masing-masing. Selain itu mengembangkan perasaan metta atau cinta kasih di dalam menjalankan fungsi masing-masing di dalam sebuah rumah tangga, akan mengantarkan keharmonisan dan kebahagiaan, segala macam penomena dan kejadian dalam rumah tangga memang disebabkan oleh keegoisan yang bersumber dari individu itu sendiri. Kesalahan dalam membina rumah tangga disebabkan emosi yang memuncak dan dengan sikap yang egois, sombong, dan tidak pernah mau mengalah apa bila dinasehati karena merasa bahwa diri sendiri yang paling pintar merupakan sebab dari konflik rumah tangga, pentingnya mengelola emosi itu sendiri adalah cara menghindari kemungkinan akan munculnya konflik, salah satu cara

mengendalikan emosi itu sendiri adalah dengan cara menanamkan dan mengembangkan rasa cinta dan kasih sayang dalam diri individu dengan melaksanakan meditasi metta yaitu meditasi dengan objek cinta kasih. Meditasi dengan objek metta ditujukan kepada semua mahluk tanpa terkecuali, membiasakan diri untuk selalu bermeditasi dengan objek metta bermanfaat untuk mengubah karakter seseorang yang penuh dengan amarah karena emosi yang negatif menjadi emosi yang penuh dengan metta atau cinta kasih.

68 4.2 Sikap Saling Toleransi dalam Anggota Keluarga

Sikap saling toleransi adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya konflik dalam rumah tangga, pencegahan terjadinya konflik dapat terwujud jika sikap saling toleransi itu dikembangkan, seseorang akan mampu bersikap saling pengertian dan bertoleransi dengan anggota keluarganya yang bila dalam menyampaikan pendapat dengan menunjukan sikap yang egois dan tidak perduli dengan pendapat pasangannya, dan apabila pasangan mempunyai rasa cinta kasih yang dalam pada dirinya, maka dengan rasa cinta itu pasti mampu untuk mengembangkan rasa saling pengertianya terhadap pasanganya. Pasangan suami istri tidak mungkin untuk dapat menumbuhkan rasa saling pengertianya jika tidak didasari rasa saling mencintai, dengan demikian maka keegoisan akan selalu ada padanya, sikap tidak mau menghargai pendapat orang lain dan hanya mau mementingkan kepentingan diri sendiri atau egoisme harus dibuang agar pertikaian dan konflik tidak terjadi. Pasangan suami istri ketika menghadapai ketidak-mampuan istri di dalam mengelola kehidupan berumah tangga harus mampu bertoleransi terhadap ketidak mampuan pasanganya, tidak dengan sikap dendam dan tidak mau mengalah terus menerus menyalahkan pasangan hidup. Mengembangkan sikap saling bertoleransi antara pasangan bisa mencerminkan sifat suami istri sebagai seseorang yang tidak egois karena mampu menerima kelemahan pasangan yang mungkin tidak bisa diterima. Suami istri harus bisa menghindarkan diri dari sifat Moha (kebodohan batin) dan saling mengalah dan menerima kelemahan masing-masing dengan bijaksana

69 (Pa a) dengan cara memberikan toleransi kepada pasangan seperti: 1. tidak

memarahi pasangan 2. tidak menghina dan mencemooh pasangan.

4.2.1 Tidak Memarahi Pasangan

Pasangan suami istri hendaknya di dalam menghadapi kesalahan dan kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya tidak memarahi pasangannya, melainkan lebih bijaksana dalam mengahadapi masalah dan bukanya dengan rasa emosi dan egoisme yang tinggi memarahi pasangan. Suami istri yang mampu menerima dengan bijaksana kesalahan yang dilakukan oleh pasangan tentunya lebih baik daripada membuat masalah menjadi keruh dan berantakan. Tidak memarahi pasangan dalam rumah tangga akan lebih mencerminkan sistuasi rumah yang harmonis karena bila rumah tangga sistuasinya sering diwarnai oleh percekcokan dan kemarahan maka sangat tidak baik bagi kesehatan rumah tangga juga kesehatan individu yang bersangkutan. Masalah-masalah yang kecil terlebih dahulu diselesaikan dengan kepala dingin, hanya saja bila masalah itu mempunyai kapasitas yang besar akan membutuhkan tindakan yang tegas walaupun demikian sikap bijaksana dengan tidak marah-marah harus tetap dijalankan. Karena, ketika emosi seseorang sedang memuncak dengan kemarahannya individu itu sudah tidak bisa mengendalikan pikirannya dan dalam keadaan itu sudah tidak mungkin lagi bisa mendapatkan solusi yang tepat di dalam mememecahkan masalah keluarga.

70 4.2.2 Tidak Menghina dan Mencemooh Pasangan

Semua manusia pada umumnya ingin dihargai dan dicintai bahkan binatang sekalipun, seekor anjing bila dipukul akan berteriak kesakitan karena memiliki rasa dan sentuhan yaitu rasa sakit, demikian pula dengan manusia yang memiliki tingkat kecerdasan dan akal pikiran yang lebih tinggi tentunya sensitifitas yang dimilikipun akan lebih tinggi oleh karena itu dalam hal berbicara, bertindak kepada mahluk atau individu lain, manusia harus berhati-hati dan teliti agar tidak menyebakan masalah. Perumah tangga yang terdiri dari individu yaitu suami istri dan anggota keluarga lainnya, harus waspada dan hati-hati dengan tingkah laku dan ucapanya. Salah satu bentuk kekerasaan yang muncul dalam rumah tangga adalah kekerasaan melalui ucapan menghina dan mencemooh anggota keluarga, baik itu suami istri atau anggota keluarga lainya, memang mencemooh atau menghina bukan kekerasan fisik tapi akan berpengaruh terhadap psikologi atau kejiwaan individu yang menjadi sasaranya. Perumah tangga hendaknya tidak menunjukan sikap egoismenya dengan cara mencemooh atau menghina anggota keluarganya bila menemukan anggota keluarganya melakukan kesalahan atau memiliki kekurangan. Sebab, semua individu di dunia ini tidak ingin dihina bahkan dilecehkan. Suami istri yang bila terus menerus mencemooh dan menghina pasangannya maka akan berakibat buruk bagi kelangsungan rumah tangga. Sebab belum tentu pasangan yang dihina adalah orang yang sabar karena bila pasangan itu adalah orang yang tidak sabar maka akan balas-membalas dan akhirnya percekcokanlah

71 yang akan terjadi, oleh sebab itu rasa egoime dengan cara mencemooh pasangan dan menghina harus dihindarkan dalam rumah tangga.

4.3 Menasehati Pasangan yang Egois

Perumah tangga masing-masing memiliki kewajiban dan tangggung jawab sesuai dengan fungsi masing-masing. Pasangan yang keliru atau melakukan kesalahan dalam bertindak harus mampu menyadari kekeliruan dan kesalahan yang telah diperbuatnya dan harus mau menerima keritikan yang disampaikan oleh pasangannya dan bukanya egois dengan pendapatnya sendiri dengan tidak mau dinasehati. Sifat egoisme di dalam kehidupan berumah tangga memang terkadang sulit untuk dihindari. Akan tetapi, perumah tangga bisa meminimalisir sifat egoisme dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang ada di dalam Sigalovada sutta, diantaranya adalah meliputi kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perumah tangga yaitu: 1) menjalankan tanggung jawab bersama, 2)

mengembangkan sifat sabar di dalam mendidik anak.

4.3.1 Menjalankan Tanggung Jawab Bersama Konflik yang sering terjadi antara suami dan istri bisa meliputi masalah ekonomi yaitu uang belanja, masalah mengasuh anak, menyekolahkan anak, dan jika dalam mengelola rumah tangga itu dengan sikap ketidakperdulian dan rasa benar sendiri maka konflik pasti akan terjadi. Rumah tangga akan tidak utuh jika keluarga atau rumah tangga itu diracuni dengan perselingkuhan diantara pasangan

72 yang membawa ketidakjujuran. Dalam hal ini pasangan harus ingat tanggung jawab masing-masing dengan tidak egois yaitu tidak mau menjalankan tugas dan fungsinya dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Banyak pasangan yang merasa bahwa dirinya telah ditekan oleh tanggung jawab rumah tangga sementara di sisi lain harus melakukan kewajiban yang lain seperti pekerjaan dan hal ini adalah salah satu pemicu runtuhnya rasa cinta dan kasih dalam rumah tangga, banyak anak yang kehilangan rasa cinta dan kasih d ari orang tuanya karena masing-masing orang tua beradu argument siapa yang sebenarnya mengurus rumah ketika masing-masing bekerja di luar rumah dalam hal ini orang tua harus mau dan mampu membagi waktu untuk anak-anak dengan tidak egois melainkan mampu melaksanakan dan menjalankan tanggung jawab bersama di dalam mengurus rumah. Faktor lain yang menyebabkan hilangnya rasa tanggung jawab adalah karena disebabkan oleh macam-macam sebab, suami yang suka berjudi, minum-minuman alkohol dan narkotika. Padahal, di dalam sigalovada sutta dijelaskan bahwa terdapat banyak kerugian yang ditimbulkan jika seseorang gemar sekali di dalam menghamburkan nafsu indranya melalui mabuk-mabukan diantaranya adalah: 1. Harta akan habis, 2. Sering bercekcok dengan orang lain, 3. Mudah terserang penyakit, 4. Watak baiknya akan hilang, 5. Menampakan dirinya secara tidak pantas, 6. Kecerdasanya akan menurun. Suami atau istri hendaknya menjalakan kewajiban-kewajibanya dan tidak menghamburkan nafsu indranya melalui mabuk-mabukan yang membawa kepada kemerosotan moral dan batin, karena akibat dari mabuk-mabukan seorang suami

73 atau istri akan lupa terhadap kewajiban-kewajibanya sehingga tidak mudah untuk dinasehati dan menjadi sombong dan egois karena watak baiknya sudah hilang. Istri akan tetap bertahan walaupun dikhianati oleh suaminya. Itu semua karena rasa cinta dan kasihnya yang dalam terhadap suaminya tetapi hendaknya sepasang suami istri tidak mengotori cinta dan kasih sayang mereka dengan perselingkuhan dan selalu mengembangkan rasa cinta dan kasih yang dalam dan senantiasa untuk tetap menjaganya, agar konflik tidak terjadi di kemudian hari. Jadi perumah tangga harus mengingat kewajiban masing-masing dan bukanya memngembangkan sifat egoisme dengan cara menghambur-haburkan uang di meja perjudian, perang pendapat, berselingkuh dengan wanita atau pria lain yang menyebabkan perumah tangga melalaikan bahkan lupa dengan tanggung jawab bersama.

4.3.2 Mengembangkan Sifat Sabar dalam Mendidik Anak

Menumbuhkan rasa cinta dalam diri anak maupun dalam diri orang tua sangatlah penting. Sebab, jika orang tua tidak menyayangi anaknya maka akan terus memberi tekanan-tekanan yang berupa sifat otoriter dan rasa untuk menang sendiri terhadap anaknya. Tekanan-tekan yang berupa nasihat-nasihat yang berdasarkan disiplin yang otoriter berdampak kepada sistuasi mental yang buruk bagi anak. Memberikan nasihat atau ajaran mana yang baik dan yang buruk dan tidak boleh dilakukan oleh anak harus dengan dasar perasaan yang penuh dengan rasa sabar. Kesabaran muncul karena adanya rasa cinta, terkadang anak akan merasa tertekan jika terlalu diberikan aturan-aturan yang keras hal ini

74 menyebabkan anak jadi membenci orang tuanya karena merasa terlalu di tekan dan di atur. Rasa kebencian pada anak yang merasa tertekan akan memuncak ketika seorang anak itu telah beranjak dewasa dan perlawanan demi perlawanan akan dilakukan anak. Oleh sebab itu, orang tua harus memperhatikan hal ini dimana dalam mendidik anak harus dengan penuh kesabaran dan rasa kasih sayang agar pertikaian antara anak dan orang tua tidak terjadi. Jadi, sebelum pertikaian itu terjadi hendaknya orang tua lebih waspada dalam bersikap dan memberikan cinta kasih sayangnya secara tepat tehadap anaknya. Orang tua memberikan pendidikan kepada anak dengan sikap yang penuh cinta dan kasih dan sesuai dengan kewajiban di dalam sigalovada sutta yaitu orang tua mempunyai kewajiban di dalam memberikan pendidikan kepada anak, mencarikan jodoh, dan memberikan warisan pada saat yang sesuai, tetapi pendidikan yang diberikan tidak terlalu otoriter dan keras melainkan orang tua harus menerapkan disiplin yang lebih mudah diterima oleh anak. Jadi, orang tua maupun anak harus mampu sabar dalam menerima maupun memberikan nasihat berupa pendidikan terhadap anak maupun terhadap pasangan hidup dan tidak menjadi egois dengan memaksakan kehendak sendiri dengan tidak memperdulikan sasaran yang dididik atau dinasehati, untuk itu perlunya sikap sabar dalam memerikan pendidikan terhadap anak harus dikembangkan dan dipertahankan.

75 4.4 Meningkatkan Kesabaran

Suami istri di dalam menghadapi pasanganya yang mempunyai sifat pemarah dan egois dengan mementingkan diri sendiri didalam menyelesaikan konflik dan mengaggap pendapat orang lain salah hendaknya tidak ikut-ikutan menjadi seorang pemarah, melainkan berusaha mendamaikan hati pasangan dengan sikap sabar adalah cara agar masalah yang timbul tidak menjadi besar dan berkepanjangan. Salah satu caranya adalah dengan bersikap sabar dan mengalah, mendengarkan masalah yang menjadi keluhan pasangan dengan demikian titik temu untuk memecahkan konflik akan dapat dirasakan jika suami istri itu mau menunjukan sikap mengalah dan harus dengan kesabaran. Kesabaran sangat perlu dikembangkan di dalam rumah tangga, jika menghadapi pasangan yang lebih menunjukan sikap egois di dalam menghadapi masalah dari pada sikap rasional. Sehingga, pasangan tidak akan bertengkar hebat jika menghadapi pasangan yang egois jika salah satu pasangan mempunyai sifat sabar.

4.5 Membuang Kemarahan

Manusia memang tidak terlepas dari sifat marah yang timbul dari emosi dan setiap individu tentunya tidak pernah terlepas dari sifat pemarah, kesal, jengkel dan dendam selama mahluk atau individu itu masih diliputi oleh ikatan nafsu duniawi. Manusia yang merupakan mahluk sosial sekaligus sebagai mahluk individu di dalam pergaulan hidupnya sudah tentu pasti sering menghadapi

76 masalah-masalah sosial baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam kehidupan berumah tangga dan konflik-konflikpun akan sering dialami oleh manusia. Perumah tangga harus membuang kemarahan ketika menghadapi suatu masalah yang disebabkan oleh kesalahan yang telah dilakukan oleh orang lain terhadap dirinya, merupakan suatu cara yang tepat agar tidak menimbulkan masalah dan konflik baru. Salah satu cara untuk melatih diri agar tidak sering diliputi oleh rasa marah adalah dengan membiasakan diri untuk hidup menjadi orang yang penuh kesabaran. Sebagai umat Buddha khususnya, sudah tentu mengerti Dhamma seperti yang telah dijelaskan oleh Sang Buddha bahwa kebencian janganlah dibalas dengan kebencian melainkan harus dibalas dengan cinta kasih. Maksudnya seseorang yang telah melakukan kesalahan terhadap diri kita hendaknya janganlah kita kembali membalas mereka dengan kejahatan yang sama. Sebab, jika kita membalas kebencian itu dengan kejahatan maka kita tidak ada bedany dengan a orang yang telah jahat. Sebab, sama-sama telah melakukan kejahatan, selain itu jika sikap saling balas membalas tidak dihentikan maka tidak akan ada ujungnya yang ada hanya penderitaan dan kerugian yang akan di alami oleh kedua belah pihak. Untuk itu, mengendalikan kemarahan dan membuang sifat pemarah itu adalah suatu cara agar konflik tidak terjadi.

77 4.6 Menanamkan Sifat Pemaaf

Menanamkan sifat pemaaf dalam diri seseorang itu sangatlah penting sebab akan memberikan manfaat yang sangat besar sekali bagi semua mahluk, baik bagi individu itu sendiri maupun bagi orang lain, dengan memberikan maaf kepada mahluk lain kita sudah meringankan beban pikiran mahluk itu dan paling tidak akan meringankan rasa penyesalan terhadap kesalahan yang telah diperbuatnya terhadap kita. Seseorang yang memberikan maaf kepada orang lain sangatlah dianjurkan. tetapi dengan suatu catatan bahwa maaf itu harus dengan rasa yang ikhlas dan bukan paksaan dan dengan catatan orang yang telah melakukan kesalahan tersebut tidak akan mengulangi kesalahn yang sama dikemudian hari, sebab jika kesalahan yang sama dilakukan maka pemberian maaf tersebut sangat tidak berha dan rga percuma saja sebab seseorang yang telah diberikan maaf itu hanya memanfaatkan kata maaf itu sendiri tanpa mengerti makna dan tujuan pemberian dari maaf itu. Memberikan maaf kepada seseorang bukan berarti semua akibat dari kesalahanya telah terhapuskan melainkan memberikan maaf kepada orang tujuanya adalah, agar individu yang diberikan maaf dapat merubah segala kekeliruanya dengan sikap yang lebih baik lagi. Karena setiap kesalahan dan perbuatan pasti akan menimbulkan akibat dikemudian hari apakah itu akibat baik atau buruk tergantung dari pelakunya, dan perbuatan yang salah yang pernah dilakukan harus diimbangi dengan perbuatan baik bukanya cukup dibayar dengan permintaan maaf semata dan perbuatan jahat tersebut sudah dikatakan sirna.

78 Pasangan yang telah memberikan maaf kepada pasanganya, telah menentramkan hati pasanganya, menanamkan sifat pemaaf sangatlah penting sebab dengan memberikan maaf maka kita sudah menyelesaikan satu perkara yaitu tidak mendendam kepada orang lain, dengan memberikan maaf paling tidak kita sudah melepaskan rasa dendam dan saling bermusuhan. Karena, bila seseorang masih menyimpan dendam terhadap orang lain maka akan tetap menyimpan rasa ingin bermusuhan yang tidak henti-hentinya dimana jika kita sudah memusuhi orang lain maka pasti ujung-ujungnya adalah konfliklah yang akan timbul.

4.7 Introspeksi Diri

Mengintropeksi diri itu sangatlah penting sebab dengan intospeksi diri (mawas diri) seseorang tidak akan melimpahkan semua kesalahan kepada orang lain, karena bila seseorang mau melihat ke dalam dirinya maka sikap egois dan mementingkan diri sendiri itu akan berkurang. Mengetahui kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh diri sendiri. Dengan demikian, sifat sombong, merasa diri paling benar aatu egoisme akan dapat diminimalkan. Sehingga konflik dalam rumah tangga dapat diatasi. Pasangan suami istri hendaknya merenungkan kembali apa yang telah dilakukan dan apa yang belum dilakuan bagi kesejahteraan rumah tangganya akan lebih baik dari pada mencari-cari kesalahan yang telah diperbuat oleh pasangan. Seorang suami atau istri hendaknya lebih merenungkan kembali perbuatanya yang bermanfaat atau tidak bermanfaat bagi kebahagiaan rumah tangganya. Dengan

79 melihat dan merenung ke dalam diri masing-masing maka akan menimbulkan pikiran-pikiran positif untuk memecahkan suatu permasalahan dalam rumah tangga itu sendiri. Sebab, dengan mengintrospeksi diri akan mengetahui kekurangan dan kelebihan yang dimiliki untuk kepentingan bersama dalam rumah tangga. Jadi beberapa cara untuk mengintropeksi diri adalah dengan

memperaktekan: 1). Merenungkan kembali perbuatan yang bermanfaat, dan 2). Merenungkan kembali perbuatan yang merugikan.

4.7.1 Merenungkan Kembali Perbuatan yang Bermanfaat Perumah tangga harus mampu merenungkan kembali perbuatan-

perbuatannya apakah sudah cukup atau belum di dalam membantu dan menjaga keharmonisan rumah tangga, apakah perbuatan-perbuatan yang dilakukan banyak manfaat atau bahkan sebaliknya banyak merugikannya, jika demikian halnya individu itu harus mawas diri dengan tidak mencari-cari kesalahan-kesalahan yang diperbuat maupun yang dimiliki oleh pasangan sehingga rasa rendah diri akan muncul dan tercipta dalam pribadi yang egois, dengan demikian kebahagiaan rumah tangga akan tercipta. Perumah tangga yang telah merenungkan dan menemukan yang mana perbuatan yang termasuk bermanfaat bagi kehidupan rumah tangganya seharusnya tetap mempertahankan dan mengembangkan perbuatan yang bermanfaat tersebut agar watak baik dari individu tersebut menjadi terlatih dan menjadi manusia yang

80 memiliki moral yang baik. Sehingga, kehidupan berumah tangga akan menjadi bahagia dan tentram sesuai dengan Sigalovada Sutta.

4.7.2 Merenungkan Kembali Perbuatan yang Merugikan

Pribadi yang hidup berkeluarga harus mampu meninggalkan keegoisannya sejenak dengan merenungkan kembali perbuatan-perbuatannya yang merugikan. Seorang perumah tangga harus merenungkan kembali perbuatan-perbuatannya selama ini dengan cara melihat apakah selama melakukan kewajibankewajibannya di dalam membina rumah tangga perbuatan yang dilakukan lebih dominan dengan perbuatan yang merugikan, maka individu itu wajib untuk merenungkan kembali perbuatan-perbuatannya. Dengan merenungkan semua kesalahan yang telah diperbuatnya maka sikap toleransi dan mau mengalah ak an dapat diwujutkan sehingga tidak akan melimpahkan kesalahan kepada pasangan. Menyadari bahwa dalam dirinya juga terdapat kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Dengan demikian, perumah tangga akan menyadari segala sesuatu yang berkaitan dengan kekurangannya, sehingga akan mempunyai usaha untuk memperbaiki kembali kehidupannya yang masih berantakan, sebab dengan perenungan yang tenang seseorang akan mampu menyadari perbuatannya bermanfaat atau tidak bermanfaat baik untuk dirinya maupun lingkungannya. Jadi, pasangan suami istri wajib mengintrospeksi diri masing-masing dengan merenungkan kembali perbuatan-perbuatan yang telah dilakuakan, baik itu perbuatan baik maupun buruk sehingga pada akhirnya masing-masing anggota rumah tangga mampu melepas sifat egoisme pribadinya.

81

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Penulis telah melakukan pengkajian secara kritis dan mendalam mengenai pamahaman tentang eoisme dalam rumah tangga, akibat baik maupun buruk sikap egois di dalam rumah tangga, upaya-upaya untuk mengatasi sikap egoisme dengan berpedoman kepada isi sigalovada sutta telah diuraikan. Oleh karena itu untuk memperjelas dan memudahkan pemahaman, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Bahwa bila dikaji lebih dalam dari berbagai sumber literature serta kandungan makna secara umum bahwa sikap egoisme dalam rumah tangga, penyebab dan bentuk-bentuk egoisme itu sendiri adalah a. Sikap otoriter di dalam mendidik anak. b. Perjodohan anak. c. Keuangan rumah tangga. d. Hubungan seksualitas e. Persaingan Bisnis. Jadi, sesungguhnya di dalam rumah tangga masih banyak pasangan yang egois di dalam bertindak mengahadapi berbagai persoalan hidup, baik rasa egois itu muncul di sebabkan oleh tingkah laku pasangan maupun rasa egois itu sendiri

82 di sebabkan oleh keadaan dan kondisi yang menuntut manusia untuk bertindak egois mementingkan diri sendiri. a. Egoisme merupakan sifat yang datang dari dalam individu yang disebabkan oleh: a. Dosa (kebencian) marah dan benci harus dihilangkan dengan cara mengembangkan sifat metta dengan cara melaksanakan meditasi cinta kasih atau metta karena melatih diri mengmbangkan cinta kasih Metta , menghindarkan seseorang dari rasa benci dan egoisme. Sikap egoisme sering muncul dalam kehidupan rumah tangga dalam bentuk kekerasaan terhadap anggota keluarga diantara suami istri dan anak-anak. b. Moha (Kebodohan Batin) dalam menghadapi masalah harus dihindarkan dengan cara menumbuhkan Kebijaksanaan (pa a) sehingga mengetahui

dengan bijaksana mengenai kewajiban masing-masing tanpa adanya rasa mementingkan diri sendiri. c. Lobha (keserakahan) melatih diri untuk tidak menghamburkan nafsu keinginan yang berlebih-lebihan dengan cara yang serakah untuk mengikuti ego. Perumah tangga harus puas dengan satu istri atau suami. Banyak akibat buruk dari siakp egois baik ditinjau dari umum maupun ditinjau dari sigalovada sutta. Kebanyakan sikap egois selalu mengakibatkan ketidakharmonisan perkembangan rumah tangga, anak, perceraian, akibat anak, buruk terhadap

psikologis

penelantaran

dan

mempengaruhi

kebahagiaan rumah tangga. Sehingga kewajiban-kewajiban yang seharusnya dilaksanakan oleh pasangan perumah tangga sering dilupakan sehingga pedoman

83 hidup berumah tangga yang sesuai dengan sigalovada sutta hampir tidak dilaksanakan. Sikap egois merupakan sebab dari konflik yang terjadi di dalam rumah tangga yang mengakibatkan sebuah rumah tangga menjadi berantakan dan tidak bahagia, oleh sebab itu berpedoman kepada sigalovada sutta agar perumah tangga menjadi mawas-diri terhadap kewajiban-kewajibannya sangat diperlukan. Untuk itu perlu upaya-upaya antara lain: 1. Introspeksi diri: masing-masing individu dalam rumah tangga wajib mengintrospeksi diri dengan cara tidak mencari-cari kesalahan anggota keluarga. 2. Kembali kepada ajaran Sang Buddha dan menyadari bahwa segala sesuatu adalah tanpa aku roh jiwa yang kekal sehingga sikap egoisme pada diri individu dapat teratasai.

5.2 Saran

Penulis mengharapkan dengan terselesainya skripsi ini agar dapat dipergunakan sebagai panduan dalam menghadapi persoalan kehidupan berumah tangga khususnya dalam menanggani sifat egoisme dalam berkehidupan rumah tangga. Sehingga akar egoisme seperti Dosa, Lobha, dan Moha bisa diminimalisir. Selain itu kerjasama yang baik antara orang tua dengan anak, anak dengan orang tua dalm hal berkomunikasi sangat penting sebelum melakukan tindakan yang berhubungan dengan kepentingan pribadi agar tidak menjadi suatu tindakan yang egois. Orang tua dan anak harus memahami benar makna dari sigalovada sutta

84 agar bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, demikian pula orang tua mengetahui apakah tindakannya sudah benar atau tidak, apakah sudah sesuai dengan Sigalovada Sutta sehingga kedisiplinan dan tanggung jawab orang tua tidak rusak hanya karena rasa egois yang otoriter.

85

DAFTAR PUSTAKA

Abhipanno. 2002. Bahagia dalam Dhamm. Cetakan Pertama (Kumpulan Tulisan). Keluarga Buddhis Brahmavihara (KBBV). Makasar. Buddhadasa Bhikkhu, 2005. Massages of Truth from Suan Monkkh. Pesan-pesan Kebenaran. Yayasan Penerbit Karaniya. Dahlan, M Dkk. 1995. Kamus Induk Istilah Ilmiah. Jakarta. Arkola. Dhammananda, Sri. 1995. Masalah Dan Tanggung Jawab. Dhammananda, Sri. 2003. Hidup dan Masalahnya. Ehipasiko Fondation. Ghanim, Shaleh. 1998. Jika Suami Istri Berselisih Bagaimana Mengatasinya. Jakarta.Gema insani Goleman, Daniel. 2002. Emotional Intelegence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jaya. Hariyono, Rudi. 2000. Mengatasi Rasa Cemas. Putra Pelajar. Geresik-Jawa Timur. Http://erwin-arianto.blogspot.com/2008/05/melepas-topeng egoisme-pribadi.html di akses pada hari senin, 05 May 2008 22:35:09-0700 Janakabhivamsa, Ashin dan Sayadaw U Silananda. 2005. Abhidhamma Seharihari. Yayasan penerbit Karaniya. Jotidhammo. 2007. Bahagia dalam Dhamma. Cetakan Pertama (kumpulan tulisan-tulisan). Keluarga Buddhis Brahmavihara (KBBV). Makasar. Liaw, Ponijan. 2007. Bahagia dalam Dhamma. Cetakan Ketiga (kumpulan tulisan). Keluarga Buddhis Brahmavihara (KBBV). Makasar. Mar¶ah 1998. Membina Keluarga Bahagia. Majalah Sahid edisi 12/TH VI/dzulqa¶dah, 1414 hal. 51 Wong, Mettadewi 1992. Buddha Dhamma Sebagai Pedoman Hidup. Jakarta. Yayasan Pancaran Dharmma. Mukhtar, Erna Widodo. 2000. Konstruksi Kearah Penelitian Deskriftif.

86 Yogyakarta: Avyrouz. Narada 2004. Brahma Vihara, The Four Divine Abidings. Pannavaro, Mahathera 2002. Bahagia dalam Dhamma. Cetakan Ketiga (Kumpulan Tulisan). Makasar. Keluarga Buddhis Brahmavihara. Pannavaro, Sri, Mahatera dan Dhammananda Sri. 2007. Tanggung Jawab Bersama. Jakarta. Suwung Widiasena Production. Priastana, Dhammasukha Jo. 2003. Buddha Dhamma dan Seksualitas. Penerbit Yasodhara Puteri. Jakarta. Saukah, Ali, 2000, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Universitas Negeri Malang. Sarumpaet R.I. 2004. Wanita Teladan. Indonesia Publishing House. Bandung. Suprayogo, Iman. 2001. Metodologi Penelitian Sosial Agama. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Suryomentaram, Ki Ageng. 2003. Falsafah Hidup Bahagia (Jalan Menuju Aktualisasi Diri )Jilid 2. Penerbit PT Grasindo. Jakarta. Tim Penerjemah Kitab Suci Agama Buddha. 2004. Sutta Pitaka Nikaya I. Jakarta: Dewi Kayana Abadi Jakarta. Anggutara

Tim Penyunsun Kitab Suci Agama Buddha. 1982, Digha Nikaya, Jakarta. Proyek Pengadaan Kitab Suci Buddha Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Departement Agama RI. Tim Penyunsun Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. 1991. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka. Visuddhacara, Ven. 1995. Teknik Mengatasi Kemarahan. Bali. PT. Indografika Utama. Widiyawati, Endang, S.p.d. 2001. Petikan Angutara Nikaya Kitab Suci Agama Buddha. Numerical Discourses Of The Buddha. Wisma Meditasi dan Pelatihan Dhammaguna.

87 LAMPIRAN : DAFTAR ISTILAH PALI TEXT

A AA ABhp Ap Av.S Bdhd Bu Cp Cpd D DA Davs Dh Dhk Dhs DhsA DhsAA Dial Divy Dpvs It Iti J JAOS Jas JPTS JRAS Jtm Kacca Kh KS Kvu KZ Lal.V. M Mhbv Miln Mvasthu Mvyut Nd Nd

: : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : :

Angutara Nikaya Angutara Nikaya Athakhatha Abhidhanappadika Apadana Avadana Satak Buddhadatta Buddhavamsa Carya pitaka Compedium Digha Nikaya Digha Nikaya Atthakatta= Sumangalanivilasini Dhatavamsa Dhammapada Dathukatha Dhammasangani Dhammasangani Athakatha= Atthasalini Dhammasangani Tika=Mila Tika Dialogue Divyavadana Dipavamsa Itivuttaka Itivittaka (Visudhimagga) Jataka Jounal Amer. Or. Soc Jounal Asiatique Journal Pali Text Society Journal Royal Asiatic Society Jatakamala Kaccayana Khuddakapatha Kindred Sayings Katahavathu Khun¶ s Zeitsschrift Lalita Vistara Majjhima Nikaya Mahabodhivamsa Milindapanha Mahavaststhu Mahavyutpatti Mahaniddesa Cilaniddesa

88 Nett Pgdp Pe Ps PsA Pug Pv S SBE Sdhp Siks Sn Thag Thig Ud Vbh Vin Vism Vv : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Nettipakarana Pancagatidipana Petakopadesa Patisambhidamagga Patisambhidamagga Atthakata= Saddhammappkasini Puggalapannati Petavatthu Samyutta Nikaya Sacred Book Of The East Saddhammopayana Siksasamuccaya Sutta Nipata Theragatha Therigatha Udana Vibhanga Vinaya Visuddhimagga Vimanavatthu

89

RIWAYAT HIDUP

Giri rahito dilahirkan pada tanggal 07 Juli 1984 di Lombok, putra kedua dari Bapak Renatha dan Ibu Nusasip. Pendidikan SD ditamatkanya pada tahun 1996 di SDN I Lendang Bila, Lombok Barat, dan SMP pada tahun 1998 di SMPN I Tanjung. Dan Pendidikan berikutnya dilanjutkan di SMAN I Tanjung dan tamat pada tahun 2002, dan Pada tahun 2004 melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa Batu mengambil jurusan Dhammacariya Program S-1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful