P. 1
Laporan Tahunan Bank Indonesia 2008

Laporan Tahunan Bank Indonesia 2008

|Views: 694|Likes:

More info:

Published by: nurIL ahsan love izzyQueen on Jan 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2012

pdf

text

original

Mengelola Kestabilan Ditengah Ketidakpastian

Managing Stability in Times of Uncertainty
Selama tahun 2008 dinamika perekonomian Indonesia dipengaruhi oleh gejolak perekonomian global. Namun demikian, secara keseluruhan perekonomian Indonesia masih mampu memperlihatkan kinerja yang hampir menyamai tahun sebelumnya. Hal ini tak terlepas dari berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia, baik di bidang moneter, perbankan maupun sistem pembayaran, yang ditujukan untuk memelihara kestabilan ekonomi makro serta meminimalkan dampak krisis global terhadap perekonomian domestik. Kebijakan-kebijakan tersebut dilakukan secara berhati-hati dan terukur sebagai upaya menurunkan tekanan inflasi, membantu menopang pertumbuhan ekonomi, memperkuat daya tahan perbankan terhadap krisis global dan mendukung bangkitnya sektor riil serta memaksimalkan pelayanan sistem pembayaran untuk mendukung seluruh kegiatan perekonomian. Pelaksanaan tugas Bank Indonesia yang berkesinambungan membutuhkan peningkatan kapabilitas internal. Peningkatan kapabilitas internal Bank Indonesia pada tahun 2008 difokuskan pada perbaikan implementasi good governance di seluruh aspek organisasi, termasuk peningkatan kompetensi sumber daya manusia, akuntabilitas pengelolaan keuangan dan kontrol serta pengendalian risiko internal. Throughout 2008 the dynamics of the Indonesian economy were affected by global economic turbulences. Taken holistically, however, the Indonesian economy still performed comparably to the previous year. This was attributable to the full panoply of policies taken by Bank Indonesia in terms of the monetary, banking and payment systems, all of which were designed to promote and maintain macroeconomic stability as well as minimize the impact of the global crisis on the domestic economy. The policies were instituted prudentially as a means to alleviate inflationary pressures, to catalyze domestic economic growth, strengthen banking resilience against the global crisis and to support the reemergence of the real sector, and also to maximize the payment system in support of all activities of the economy. The sustainable implementation of Bank Indonesia’s core tasks requires an amelioration of internal capability. Improvements of internal capability in 2008 focused on the improvement of implementation of good governance principles in all aspects of the organization, including boosting the competency of human resources, accountability of budget management and also internal control and risk management.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

1

Laporan Gubernur Bank Indonesia
Report from the Governor of Bank Indonesia

Dinamika perekonomian yang terjadi selama tahun 2008 yang ditandai dengan ketidakpastian dan memburuknya kondisi global sangat berpengaruh terhadap berbagai kebijakan Bank Indonesia, yang pada dasarnya ditujukan untuk memulihkan kepercayaan pelaku pasar. Sungguhpun demikian kondisinya, Bank Indonesia tetap bekerja keras dan mengerahkan segala daya upaya dalam menjaga kestabilan moneter dan perekonomian Indonesia. The economic dynamics of 2008 were marred by widespread uncertainty as well as deteriorating global conditions, which had an overbearing influence on Bank Indonesia’s policies, essentially expected to restore market player confidence. Despite such an inauspicious backdrop, Bank Indonesia continued to diligently contribute all efforts in order to maintain monetary stability and stimulate the Indonesian economy.
Boediono Gubernur Bank Indonesia • Governor of Bank Indonesia

Kita patut bersyukur bahwa kita telah berhasil melalui tahun 2008 dengan baik. Tahun 2008 merupakan tahun yang penuh dengan tantangan. Krisis keuangan yang bermula di Amerika Serikat telah meluas menjadi krisis global. Indonesia sebagai bagian dari perekonomian dunia tidak lepas dari imbas krisis global tersebut. Dinamika perekonomian yang terjadi selama tahun 2008 yang ditandai dengan ketidakpastian dan memburuknya kondisi global, sangat berpengaruh terhadap berbagai kebijakan Bank Indonesia, yang pada dasarnya ditujukan untuk memulihkan kepercayaan pelaku pasar. Sungguhpun demikian kondisinya, Bank Indonesia tetap bekerja keras dan mengerahkan segala daya upaya dalam menjaga kestabilan moneter dan perekonomian Indonesia. Di bidang moneter, kebijakan tetap diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi jangka menengah panjang dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta tetap melanjutkan peningkatan efektivitas transmisi kebijakan moneter. Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat mendukung bangkitnya sektor riil dalam mendorong perekonomian Indonesia. Di bidang perbankan, secara umum kinerja perbankan masih dalam ambang batas yang aman dan terkendali. Meskipun sebelumnya sempat mengalami tekanan likuiditas akibat pengaruh krisis likuiditas global, Perbankan Indonesia mampu bertahan dari imbas krisis karena eksposur subprime mortgages yang relatif rendah. Sewaktu keketatan likuiditas global mencapai puncaknya dan menyentuh psikologis kepercayaan pasar domestik, Bank Century terpaksa diambil alih oleh Pemerintah demi mengamankan stabilitas perbankan nasional. Terkait dengan masalah likuiditas, tingginya pertumbuhan kredit yang sebagian dibiayai dari secondary reserves juga semakin menambah tekanan likuiditas yang dihadapi perbankan. Untuk itu, Bank Indonesia telah menetapkan serangkaian kebijakan untuk mengatasi keketatan likuiditas tersebut. Kebijakan tersebut diiiringi

We are grateful to have successfully navigated the year of 2008, which was replete with challenges. The financial crisis that originated in the US mushroomed into a global crisis. Consequently, Indonesia as part of the global economy was not immune to the global crisis.

The economic dynamics of 2008 were marred by widespread uncertainty as well as deteriorating global conditions, which had an overbearing influence on Bank Indonesia’s policies, essentially expected to restore market player confidence. Despite such an inauspicious backdrop, Bank Indonesia continued to diligently contribute all efforts in order to maintain monetary stability and stimulate the Indonesian economy. In the monetary sector, policies were directed towards achieving the mid-long-term inflation target, and maintaining rupiah exchange rate stability while continuing to improve the effectiveness of monetary policy transmission. These endeavors are expected to support the reemergence of the real sector in order to galvanize the Indonesian economy. In general, bank performance remained within safe and controllable limits. Despite previously suffering from mounting liquidity pressures as a result of the global liquidity crisis, Indonesian banks were able to weather the financial storm due to relatively low exposure to subprime mortgages. At the peak of tight global liquidity, which undermined the psychology of domestic market confidence, Bank Century was taken over by the Government in order to secure stability in the national banking industry.

With respect to liquidity, high credit growth partially funded by secondary reserves further exacerbated the liquidity pressures faced by banks. Accordingly, Bank Indonesia rolled out an array of policy measures to overcome the tight liquidity. Policy was also complemented by efforts to buttress bank resilience in the face of

2

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

pula dengan upaya-upaya untuk memperkuat daya tahan perbankan dalam menghadapi krisis global. Selain itu, perbankan nasional juga didorong untuk senantiasa aktif membantu kegiatan UMKM melalui linkage program guna mendukung bangkitnya sektor riil. Di bidang Sistem Pembayaran dan pengedaran uang, Bank Indonesia telah menerapkan berbagai kebijakan strategis untuk menjaga keamanan dan kelancaran sistem pembayaran guna mendukung stabilitas moneter dan sistem keuangan. Peningkatan kemampuan sistem BI-RTGS dan sistem SKNBI terus diupayakan guna meningkatkan efisiensi, keamanan serta meminimalisir risiko operasional. Sementara itu, pemenuhan uang kartal ke seluruh penjuru negeri terus dilakukan dengan fokus pada upaya efisiensi dan optimalisasi, baik di bidang pelayanan maupun operasional kas. Kami menyadari bahwa berbagai upaya yang telah dilakukan tersebut harus didukung oleh penguatan dari sisi internal Bank Indonesia, untuk peningkatan kinerja yang berkesinambungan di masa mendatang. Penguatan internal tersebut khususnya dilakukan melalui penerapan prinsip-prinsip good governance di seluruh aspek organisasi Bank Indonesia. Secara garis besar, penguatan tersebut difokuskan pada peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) melalui penerapan program Perfomance Based Culture (PBC), peningkatan efisiensi dan transparansi pengelolaan keuangan, serta peningkatan kontrol dan pengendalian risiko internal. Selain itu, Bank Indonesia tetap berperan serta dalam pemberdayaan masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan kegiatan yang meliputi bidang perekonomian/UMKM, pendidikan, lingkungan dan kesehatan. Memasuki tahun 2009, kami menyadari beratnya tantangan yang akan dihadapi. Kendala krisis keuangan global menuntut perlunya langkah-langkah kongkrit dari otoritas untuk mempertahankan kinerja sektor riil. Oleh karena itu, Bank Indonesia akan senantiasa memberikan kontribusi terbaik demi tercapainya sasaran pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, yang ditopang dengan stabilitas ekonomi dalam jangka menengah panjang. Pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan. Krisis global yang sedang kita hadapi memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam melangkah ke depan. Salah satu pelajaran yang paling mendasar dari krisis ini khususnya kepada industri keuangan adalah pentingnya kita untuk kembali ke khitah, “ back to basics”, dalam artian khusus kepada perbankan adalah sebagai lembaga intermediasi. Fungsi utama perbankan adalah memfasilitasi dan membiayai kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penyediaan barang dan jasa bagi kepentingan masyarakat luas. Akhir kata, atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia, saya ingin menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pimpinan dan karyawan Bank Indonesia yang dengan dedikasinya telah mencurahkan pikiran dan tenaganya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan rahmat-Nya dan melindungi setiap langkah kita dalam bekerja.

the global crisis. National banks were also encouraged to actively assist MSME activity through linkage programs in order to support real sector recovery.

In terms of the payment system and money circulation, Bank Indonesia instituted a variety of strategic policies to maintain security and ensure a smooth payment system in order to support monetary and financial system stability. The BI-RTGS and SKNBI systems were refined to improve efficiency, tighten security and minimize operational risk. Meanwhile, the supply of banknotes to the entire country was continued with a focus on efficiency and optimization of services and cash operations.

We are astutely aware that the various efforts made must be supported by internal improvements at Bank Indonesia in order to continually improve performance in the future. Internal development was achieved, in particular, through the implementation of good governance principles in all aspects of Bank Indonesia. In general, this focused on boosting the competency of human resources through the Performance Based Culture (PBC) program, as well as improving the efficiency and transparency of budget management, and improving internal control and risk management. In addition, Bank Indonesia also encouraged public empowerment through the Corporate Social Responsibility (CSR) program in the area of the economy/MSMEs, education, the environment and health.

Entering 2009, we appreciate the immense challenges that confront us. The global financial crisis demands concrete measures from the relevant authorities to sustain real sector performance. Therefore, Bank Indonesia will always strive to achieve a sustainable economic growth target supported by economic stability in the mid-long term.

Experience is the best teacher in life. The ongoing global crisis has provided invaluable lessons to take our next step forward. One of the most prominent lessons gleaned from this financial turmoil, particularly for the financial industry, is the importance of going “back to basics”. To banks this implies a return to intermediation. The primary role of banks is to facilitate and fund activities related to the provision of goods and services in the interest of the general public.

In conclusion, on behalf of the Board of Governors, I would like to extend my most sincere and heartfelt gratitude to the entire management and staff of Bank Indonesia for their dedication and spirit. May God give His blessing and protect us all.

Boediono Gubernur Bank Indonesia Governor of Bank Indonesia

Bank Indonesia 2008 Annual Report

3

Status, Tujuan dan Tugas Bank Indonesia
Status, Objective and Tasks of Bank Indonesia

Status

Status
As constituted by law, Bank Indonesia is the central bank of the Republic of Indonesia and is a legal entity with the authority to conduct legal action. Bank Indonesia as a public entity has the authority to pass regulation as an execution of the law that legally bind the public, in accordance with its mandate and authority. As a civil entity, Bank Indonesia can act for and on behalf of itself before and outside the court.

Sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang, Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia dan merupakan badan hukum yang memiliki kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum. Bank Indonesia sebagai badan hukum publik berwenang menetapkan peraturan hukum pelaksana Undang-Undang yang mengikat seluruh masyarakat luas, sesuai tugas dan wewenangnya. Sedangkan sebagai badan hukum perdata, Bank Indonesia dapat bertindak untuk dan atas nama sendiri di dalam maupun di luar pengadilan.

Tujuan

Objectives
Within its capacity as the central bank, Bank Indonesia has a single objective namely to achieve and maintain the stability of the Rupiah value. Rupiah stability incorporates two aspects: price stability against goods and services, and exchange rate stability against other currencies. The inflation rate reflects the first aspect, whereas the second aspect is indicated by the performance of the rupiah against foreign currencies. The setting of single goal is aimed at clarifying Bank Indonesia’s objectives and responsibilities. To achieve its objective, Bank Indonesia shall conduct monetary policy on a sustained, consistent and transparent basis, taking into account the general economic policies of the Government.

Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah tersebut mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, dan kestabilan terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sedangkan aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan dan harus mempertimbangkan kebijakan umum Pemerintah di bidang perekonomian.

Tugas

Tasks
To achieve its objective, Bank Indonesia has three core tasks commonly known as the “Three Pillars” of Bank Indonesia, as follows: a. to prescribe and to implement the monetary policy; b. to regulate and to safeguard the smoothness of the payment system; and c. to regulate and to supervise banks. The Three Pillars are interrelated and thus have to be implemented continuously and consistently to support the achievement of Bank Indonesia’s objective effectively and efficiently.

Untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, Bank Indonesia mengemban tiga tugas yang juga dikenal sebagai Tiga Pilar Bank Indonesia, yaitu: a. menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter b. mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran c. mengatur dan mengawasi Bank Pelaksanaan ketiga bidang tugas tersebut mempunyai keterkaitan dan karenanya dilakukan secara saling mendukung guna tercapainya tujuan Bank Indonesia secara efektif dan efisien.

4

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Misi

Mission
Mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan nasional jangka panjang yang berkesinambungan. To achieve and maintain the stability of the Rupiah value by maintaining monetary stability and promoting financial system stability for Indonesia’s long term sustainable development.

Visi

Vision
Menjadi lembaga bank sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil. To be recognized, nationally and internationally, as a credible central bank through strengthening strategic values and achieving low and stable rate of inflation.

Nilai-nilai Strategis
Strategic Values
Nilai-nilai yang menjadi dasar Bank Indonesia, manajemen, dan pegawai untuk bertindak dan atau berperilaku dalam rangka mencapai misi dan visinya, yang terdiri atas: Kompetensi, Integritas, Transparansi, Akuntabilitas dan Kebersamaan. The values that form the foundation of Bank Indonesia, its management and staff to conduct and achieve its mission and vision are Competence, Integrity, Transparency, Accountability and Cohesiveness.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

5

Sekilas Perjalanan Sejarah Bank Indonesia
A Brief History of Bank Indonesia

1828
De Javasche Bank (DJB) didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang. De Javasche Bank (DJB) was established by the Government of Nederlands-Indische as a circulation bank to issue and circulate currency.

1968
Undang-Undang Bank Sentral mengatur kedudukan dan tugas Bank Indonesia sebagai bank sentral, terpisah dari bankbank lain yang melakukan fungsi komersial. Selain tiga tugas pokok bank sentral, Bank Indonesia juga bertugas membantu Pemerintah sebagai agen pembangunan mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat. The Act of Central Bank detailed the status and task of Bank Indonesia as the Central Bank, separated from commercial banks regulation. In addition to the three core tasks of the Central Bank, Bank Indonesia also provided assistance to the Government as a development agent to support real sector productivity and development as well as to create employment opportunities for amelioration of public welfare.

2004
Undang-Undang Bank Indonesia diamandemen dengan fokus pada aspek penting yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia, termasuk penguatan governance. The Act concerning Bank Indonesia was amended to place more emphasis on critical aspects of its mandated tasks and authorities, including governance strengthening.

6

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

1953
Undang-Undang Pokok Bank Indonesia menetapkan pendirian Bank Indonesia untuk menggantikan fungsi DJB sebagai bank sentral, dengan tiga tugas utama di bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran. Di samping itu, Bank Indonesia diberi tugas penting lain dalam hubungannya dengan Pemerintah dan melanjutkan fungsi bank komersial yang dilakukan oleh DJB sebelumnya. The Act of Bank Indonesia declared the establishment of Bank Indonesia to replace the function of DJB as the central bank, with three main tasks in the fields of monetary, banking and the payment system. In addition, Bank Indonesia also had supplementary duties in relation to the Government and continued the commercial bank function as previously performed by DJB.

1999
Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia, dimana Undang-Undang Bank Indonesia menetapkan tujuan tunggal Bank Indonesia yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kedudukan Bank Indonesia selaku Bank Sentral Republik Indonesia dipertegas kembali, yaitu sebagai lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya di luar Pemerintah. 1999 represents a new era in the history of Bank Indonesia, where the Act concerning Bank Indonesia set the single objective of Bank Indonesia, namely to achieve and maintain the stability of the Rupiah value. The positioning of Bank Indonesia as the Central Bank of the Republic of Indonesia was reaffirmed, more specifically as a state institution independent from the Government in performing its tasks and authorities.

2008
Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No.2 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan. Amandemen dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan perbankan nasional dalam menghadapi krisis global melalui peningkatan akses perbankan terhadap Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek (FPJP) dari Bank Indonesia. The Government issued regulation in lieu of law (Perppu) No. 2 of 2008 concerning the Second Amendment of Act No. 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as part of the efforts to maintain financial system stability. The amendment is designed to strengthen the resilience of national banks in facing the global financial crisis by improving bank access to the Short-Term Funding Facility (FPJP) provided by Bank Indonesia.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

7

Profil Dewan Gubernur Bank Indonesia
Profile of The Board of Governors of Bank Indonesia

Booediono Gubernur Governor
Karirnya di Bank Indonesia dimulai pada tahun 1993-1998 sebagai Deputi Gubernur, sebelum kemudian secara berturut-turut ditunjuk sebagai Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia pada tahun 1998-1999, Menteri Keuangan Republik Indonesia pada tahun 2001-2004, dan Menteri Koordinasi bidang Perekonomian Republik Indonesia pada tahun 2005-2008. Boediono kembali ke Bank Indonesia dan ditetapkan menjadi Gubernur untuk periode 2008-2013 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 34/P/2008 tanggal 15 Mei 2008. His career at Bank Indonesia began in 1993-1998 as the Deputy Governor. After that he was subsequently appointed as Head of the National Development Planning Agency (Bappenas) from 1998-1999, Minister of Finance of the Republic of Indonesia from 2001-2004 and Coordinating Minister for the Economy from 2005-2008. Boediono returned to Bank Indonesia as the Governor of Bank Indonesia for the 2008-2013 period based on the Presidential Decree No. 34/P/2008 dated 15th May 2008.

Miranda S. Goeltom Deputi Gubernur Senior Senior Deputy Governor
Sebelum berkarir di Bank Indonesia, sempat menjabat sebagai Deputi Asisten Menteri di bidang Kebijakan Moneter dan Fiskal untuk Ekonomi, Keuangan dan Pengawasan Pembangunan RI pada tahun 1993-1997. Kemudian pada tahun 1997-2003 ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dan ditunjuk sebagai Gubernur Pengganti (Alternate Governor) untuk Indonesia di Bank Dunia. Ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 98/M/2004 tanggal 26 Juni 2004. Prior to her career at Bank Indonesia, Miranda served as Assistant Deputy Minister of Monetary and Fiscal Policy for the Economic and Finance Development of the Republic of Indonesia from 1993-1997. Later, from 19972003, she was appointed as the Deputy Governor of Bank Indonesia and Alternate Governor for Indonesia at the World Bank. She was appointed as the Senior Deputy Governor of Bank Indonesia as stated in the Presidential Decree No 98/M/2004 dated 26th June 2004.

8

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Hartadi A. Sarwono Deputi Gubernur Deputy Governor
Mulai bergabung dengan Bank Indonesia pada tahun 1980 dan pada tahun 1990-1997 menjabat sebagai Deputi Direktur di Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter. Pada tahun 2000 dipercaya sebagai Direktur di Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, sebelum kemudian pada tahun 2003 menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw) Tokyo. Diangkat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 102/M tahun 2003 tanggal 13 Juni 2003. Ditetapkan kembali untuk kedua kali menjadi Deputi Gubernur untuk periode 2008-2013 berdasarkan keputusan Presiden No. 43/P/2008 tanggal 10 Juni 2008. Began his tenure at Bank Indonesia in 1980, he served as Deputy Director of the Directorate of Economic Research and Monetary Policy during 19901997. In 2000, he was promoted to Director of the Directorate of Economic Research and Monetary Policy. In 2003 he was assigned as the Head of Bank Indonesia’s Representative Office (KPw) in Tokyo. Under the Presidential Decree No. 102/M/2003 dated 13th June 2003 he was appointed as the Deputy Governor of Bank Indonesia. He was reappointed for the second term as the Deputy Governor for the 2008-2013 period based on the Presidential Decree No. 43/P/2008 dated 10th June 2008.

Siti Chalimah Fadjrijah Deputi Gubernur Deputy Governor
Memulai karirnya di Bank Indonesia pada tahun 1979 dan mengabdikan sebagian besar masa kerjanya di bidang perbankan. Pada tahun 1998 menjabat sebagai Kepala Urusan Pengawasan Bank 2 dan selanjutnya pada tahun 2003 diangkat sebagai Direktur di Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan. Ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 85/M/2005 tanggal 23 Mei 2005. Began her career at Bank Indonesia in 1979, most of her service to Bank Indonesia has been in the banking sector. In 1998 she served as Director of the Directorate of Bank Supervision 2, followed as Director of the Directorate of Bank Licensing and Banking Information in 2003. Based on the Presidential Decree No. 85/M/2005 dated 23rd May 2005, Siti Fadjrijah was appointed as the Deputy Governor of Bank Indonesia.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

9

Profil Dewan Gubernur Bank Indonesia Profile of The Board of Governors of Bank Indonesia S. Budi Rochadi Deputi Gubernur Deputy Governor
Karirnya di Bank Indonesia dimulai tahun 1975. Pada tahun 1996 diangkat sebagai Kepala Urusan di Urusan Pengawasan Bank III, dan pernah memegang jabat sebagai Pemimpin Bank Indonesia Semarang, Pemimpin Bank Indonesia Medan, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tokyo. Posisi terakhir yang dipegang adalah sebagai Direktur Senior di Direktorat Pengawasan Bank 1, sebelum kemudian ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 69/P/2006 tanggal 22 Desember 2006. He started his career at Bank Indonesia in 1975. Since 1996 he has held several positions including Director of the Directorate of Bank Supervision III, Head of Bank Indonesia’s Regional Office (KBI) in Semarang and Head of KBI in Medan and he was appointed as Head of KPw in Tokyo. His last position was Senior Director of the Directorate of Bank Supervision 1. He was promoted to Deputy Governor of Bank Indonesia based on the Presidential Decree No. 69/P/2006 dated 22nd December 2006.

Muliaman D. Hadad Deputi Gubernur Deputy Governor
Mengawali karirnya di Bank Indonesia pada tahun 1986 sebagai staf di Kantor Bank Indonesia Mataram. Pada tahun 2003 diangkat sebagai Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan dan selanjutnya, pada tahun 2005 ditetapkan menjadi Direktur di Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan. Diangkat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 69/P/2006 tanggal 22 Desember 2006. He began his career at Bank Indonesia in 1986 as a staff member of KBI in Mataram. In 2003 he was promoted to Head of the Financial System Stability Bureau and in 2005 was appointed as Director of the Directorate of Banking Research and Regulation. Based on the Presidential Decree No. 69/P/2006 dated 22nd December 2006, he was appointed as Deputy Governor of Bank Indonesia.

10

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Ardhayadi Mitroatmodjo Deputi Gubernur Deputy Governor
Karirnya di Bank Indonesia dimulai tahun 1978. Pernah memangku jabatan sebagai Pemimpin Bank Indonesia Semarang dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia London pada tahun 2004-2007. Terakhir menjabat sebagai Direktur di Direktorat Pengawasan Bank 2, sebelum kemudian diangkat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 95/P/2007 tanggal 6 Oktober 2007. His career at Bank Indonesia commenced in 1978. He has held a number of positions including Head of KBI in Semarang and Head of KPw in London during 2004-2007. Prior to his current appointment as Deputy Governor of Bank Indonesia based on the Presidential Decree No. 95/P/2007 dated 6th October 2007, he was positioned as Director of the Directorate of Bank Supervision 2.

Budi Mulya Deputi Gubernur Deputy Governor
Mulai berkarir di Bank Indonesia pada tahun 1980. Selama karirnya di Bank Indonesia pernah menjabat sebagai Senior Researcher di Kantor Perwakilan Bank Indonesia London pada tahun 1991-1994 dan ditugaskan sebagai Managing Director Bank Expor Indonesia pada tahun 1999-2003. Pada tahun 2003-2006 diangkat sebagai Direktur di Direktorat Pengelolaan Moneter dan selanjutnya sebagai Direktur di Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat selama 2006-2007. Diangkat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 95/P/2007 tanggal 6 Oktober 2007. He joined Bank Indonesia in 1980 and during his career his assignments have included Senior Researcher at KPw in London from 1991 to 1994, Managing Director of Bank Export Indonesia from 1999 to 2003, Director of the Directorate of Monetary Management from 2003 to 2006, and Director of the Office of Governor from 2006 to 2007. He was appointed as Deputy Governor of Bank Indonesia based on the Presidential Decree No. 95/P/2007 dated 6th October 2007.

Burhanuddin Abdullah Gubernur Governor
Mengawali karirnya di Bank Indonesia pada tahun 1979. Pada tahun 1989-1990 ditugaskan sebagai Fixed-Term Staff di IMF, Washington DC, Amerika Serikat, yang dilanjutkan sebagai Assistant Executive Director juga di IMF pada tahun 1990-1993. Pada tanggal 2 Agustus 2000 ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dan setahun kemudian yaitu pada tanggal 12 Juni 2001 diangkat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid hingga 9 Agustus 2001. Ditetapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 61/M/2003 tanggal 17 Mei 2003 dan menjabat hingga 20 Mei 2008. He began his career at Bank Indonesia in 1979. Through 1989-1990, he was assigned as a member of Fixed-Term Staff at the IMF in Washington DC, followed by Assistant Executive Director also at IMF from 1990-1993. On 2nd August 2000 he was promoted to Deputy Governor of Bank Indonesia. From 12th June 2001 he was entrusted with the position of the Coordinating Minister for the Economy in the Cabinet of President Abdurrahman Wahid until 9th August 2001. He was appointed as the Governor of Bank Indonesia based on the Presidential Decree No 61/M/2003 dated 17th May 2003 and served until 20th May 2008.
Bank Indonesia 2008 Annual Report

11

Peristiwa Penting
Event Highlights

January
Pencanangan tahun 2008 sebagai Tahun Edukasi Perbankan, sebagai bagian dari upaya peningkatan perlindungan nasabah. 2008 was proclaimed as the Year of Banking Education, as a part of the efforts to improve customer protection.

May
Implementasi sistem BIG-eB bagian kedua untuk fasilitas layanan monitoring secara online atas informasi mutasi dan posisi saldo rekening valuta asing Pemerintah. Implementation the second part of BID-eB system that provide online monitoring facility of Government foreign currency account.

June
Bank Indonesia menetapkan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) Over Night (O/N) sebagai sasaran operasional kebijakan moneter, menggantikan rata-rata tertimbang suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 1 bulan. Bank Indonesia introduces the Overnight (O/N) Inter-Bank Money Market (PUAB) interest rate as the operational target of monetary policy, replacing the 1-month Bank Indonesia Certificate (SBI) weighted average interest rate.

September
• Bank Indonesia menerbitkan serangkaian ketentuan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan industri perbankan syariah yaitu ketentuan mengenai pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa bank syariah, ketentuan mengenai poduk bank syariah dan unit usaha syariah, dan ketentuan mengenai restrukturisasi pembiayaan bagi bank syariah dan unit usaha syariah (UUS). Bank Indonesia promulgates a series of regulations to catalyze growth and development in the sharia banking industry. The legislation pertained to sharia principles in fund accumulation, fund distribution and bank sharia services, as well as regulating sharia bank products and sharia business units, and regulations governing financing restructuring for sharia banks and sharia business units. • Untuk menjaga kecukupan likuiditas perbankan dengan tetap menjaga efektivitas kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi, Bank Indonesia memperpanjang jangka waktu Fine Tune Operation (FTO). To support banking liquidity while maintaining effectiveness of monetary policy in managing inflation, Bank Indonesia has extended Fine Tune Operation period.

April
• Bank Indonesia menerbitkan Paket Regulasi Perbankan yang bertujuan mengatasi permasalahan yang dihadapi usaha kecil untuk mendapatkan pembiayaan bank, pendalaman pasar keuangan dan mendorong perkembangan pasar modal, memperbaiki dan memperkuat struktur kelembagaan bank serta meningkatkan manajemen risiko bank. • Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bank Indonesia dan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia mengenai Kerjasama Peningkatan Profesionalisme Diplomasi Ekonomi di Bidang Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, dalam rangka mempertajam kegiatan pertukaran informasi dengan para investor global dan pemantauan pasar global. • Bank Indonesia issues a Banking Regulation Package designed to tackle the constraints faced by small businesses in obtaining bank funding, as well as financial market deepening and promoting capital market growth, fixing and strengthening the institutional structure of banks and improving bank risk management. • A MoU between Bank Indonesia and Foreign Affairs Minister is signed concerning Cooperation to Improve Economic Diplomacy Professionalism in Monetary, Banking and Payment Systems in order to hone the information exchange process with global investors and global market surveillance.

July
Disahkannya UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah semakin memberikan landasan hukum yang lebih jelas atas keberadaan bank syariah di tanah air. The ratification of Act No. 21 of 2008 concerning Sharia Banking had give the existence of Sharia bank in Indonesia a clearer legal foundation.

12

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

2008
October
• Bank Indonesia, Pemerintah, dan LPS dalam Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) berkoordinasi menerbitkan 3 Perppu yang bertujuan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Ketiga Perppu tersebut adalah Perppu No.2 tahun 2008 tentang amandemen Undang-Undang Bank Indonesia, Perppu No.3 tahun 2008 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Perppu No.4 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). • Bank Indonesia, the Government, and the Deposit Insurance Corporation (LPS), through the Financial System Stability Forum (FSSK) coordinate to issue three regulations in lieu of law (Perppu) directed at maintaining financial system stability as follows: Perppu No. 2 of 2008, concerning second amendment to the Bank Indonesia Act; Perppu No. 3 of 2008, concerning the Deposit Insurance Corporation (LPS) and Perppu No. 4 of 2008 concerning to the Financial System Safety Net (JPSK). • Bank Indonesia and the Hong Kong Monetary Authority (HKMA) sign a MoU regarding a Payment versus Payment (PVP) Link between the Rupiah BIRTGS system in Indonesia and the US Dollar RTGS system in Hong Kong, in order to mitigate settlement risk in inter-bank foreign-exchange trading in Indonesia, particularly USD/IDR trading.

November
• Dalam rangka menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan di pasar valuta asing yang bersifat fluktuatif, Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan tentang Pembelian Valuta Asing terhadap Rupiah kepada Bank. • Bank Indonesia issued regulation concerning the purchase of Foreign Currency against Rupiah through banks in order to keep the domestic foreign exchange liquidity from fluctuated.

• Bank Indonesia • Bank Indonesia improved menyempurnakan ketentuan the regulation concerning Fasilitas Likuiditas untuk Bank emergency funding facility Umum yaitu Fasilitas Likuiditas for banks, that are Intraday Intrahari (FLI), Fasilitas Liquidity Facility (FLI) Short Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) Term Funding Facility (FPJP) dan Fasilitas Pembiayaan and Emergency Funding Darurat (FPD). Facility (FPD). • Pencabutan dan penarikan empat pecahan uang kertas yaitu Rp 100 ribu tahun edar (TE) 1999, Rp 50 ribu TE 1999, RP 20 ribu TE 1998 dan Rp 10 ribu TE 1998. • Bank Indonesia revoke and withdraw four Rupiah bills from the circulation, namely Rp 100 thousand bills with circulation year of 1999, Rp 50 thousand bills with circulation year of 1999, Rp 20 thousand bills with circulation year of 1998 and Rp 10 thousand bills with circulation year of 1998.

• Bank Indonesia dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) menandatangani Nota Kesepahaman pengembangan Payment-versus-Payment (PvP) Link antara Sistem BI-RTGS Rupiah di Indonesia dengan Sistem RTGS Dollar Amerika Serikat (USD CHATS) di Hong Kong, sebagai salah satu upaya untuk memitigasi settlement risk dalam penyelesaian perdagangan valas antarbank di Indonesia, terutama perdagangan USD/IDR. • Dalam rangka mengatasi keketatan likuiditas di pasar uang, Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menjaga kecukupan likuiditas valuta asing dan rupiah di dalam negeri, antara lain pelonggaran kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM), penyediaan pasokan valuta asing bagi perusahaan domestik melalui perbankan, perpanjangan tenor FX Swap, dan pencabutan batasan posisi saldo harian Pinjaman Luar Negeri jangka pendek.

December
• Untuk menjaga kecukupan likuiditas perbankan dengan tetap menjaga efektivitas kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi, Bank Indonesia menurunkan koridor suku bunga standing facilities menjadi BI Rate ± 50 basis points (bps). • To support banking liquidity while maintaining the effectiveness of monetary policy in managing inflation, Bank Indonesia narrowed the interest rate corridor of standing facilities to BI-Rate ± 50 basis points (bps).

• In order to overcome the issues associated with tight liquidity in the money market, Bank Indonesia issues policies to maintain adequate foreign exchange and rupiah liquidity domestically, such as by easing the minimum reserve requirement, supplying foreign exchange for domestic companies through banks extending the FX Swap tenure, and abrogating the limit of daily balance of short term foreign borrowing.

• Dalam rangka menjaga • As an aim to maintain the stabilitas nilai tukar rupiah, stability of Rupiah exchange Bank Indonesia menerbitkan rate, Bank Indonesia issued ketentuan structured product regulation concerning untuk meminimasi permintaan structured product in order valuta asing untuk tujuan to minimize foreign currency spekulatif dan ketentuan demand for speculation pembelian Wesel Ekspor and regulation concerning Berjangka (WEB) oleh Bank the purchase of Bankers’ Indonesia untuk menambah Acceptance by Bank Indonesia pasokan valuta asing bagi to add foreign currency supply eksportir. for exporter.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

13

14

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Memperkuat Kebijakan dan Meningkatkan Prudensial guna Menjaga Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi
Strengthening Policies and Improving Prudential to Maintain Stability and Economic Growth

Perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2008 diwarnai oleh dinamika dan tantangan yang cukup berat seiring dengan meningkatnya risiko stabilitas ekonomi, terutama disebabkan oleh gejolak perekonomian global. Meskipun demikian, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya di wilayah regional. Menyikapi berbagai dinamika perkembangan tersebut, Bank Indonesia telah mengambil serangkaian kebijakan moneter, perbankan, dan sistem pembayaran secara cermat dan berhati-hati yang bertujuan untuk memitigasi dampak gejolak perekonomian global terhadap perekonomian domestik. Upaya menjaga stabilitas perekonomian dan sistem keuangan tersebut dilakukan dengan tetap mengacu pada pencapaian sasaran inflasi jangka menengah yang rendah dan stabil guna menopang pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Indonesia’s economy in the past year of 2008 was sated with rapidly evolving dynamics and arduous challenges in line with mounting economic stability risk, primarily attributable to global economic shocks. However, the Indonesian economy remained robust, demonstrating relatively better resilience compared to other countries, especially in the region. In response to such dynamics, Bank Indonesia instituted a series of prudent monetary, banking and payment system policies in order to mitigate the impact of global economic shocks upon the domestic economy. The efforts to maintain economic and financial system stability were conducted with due consideration of medium term inflation target, which remain low and stable, in order to support sustainable economic growth.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

15

Stabilitas Moneter Monetary Stability
Selama tahun 2008, Bank Indonesia secara konsisten menerapkan Inflation Targeting Framework (ITF) sebagai kerangka kebijakan moneter dalam rangka pencapaian target inflasi jangka menengah yang ditetapkan Pemerintah. BI Rate, sebagai sinyal respon (stance) kebijakan moneter, digunakan untuk mengarahkan pergerakan inflasi dan ekonomi ke depan agar tetap berada pada jalur pencapaian sasaran inflasinya. Untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter tersebut, Bank Indonesia menempuh berbagai kebijakan untuk menjaga likuiditas di pasar uang rupiah termasuk penyempurnaan pengelolaannya. Bank Indonesia juga melakukan berbagai kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Secara umum, kebijakan Bank Indonesia, yang dilakukan bersinergi dengan Pemerintah, telah dapat mengendalikan inflasi sehingga tidak meningkat lebih lanjut dan menahan nilai tukar rupiah untuk tidak terdepresiasi lebih jauh. During 2008, Bank Indonesia consistently implemented the Inflation Targeting Framework (ITF) as its monetary policy framework to successfully accomplish the mid-term inflation target set by the Government. The BI Rate, as a response signal (stance) of monetary policy, was used to guide future inflation and economic growth within specified corridors. To boost monetary policy effectiveness, Bank Indonesia introduced an array of policies to maintain liquidity in the rupiah money market, including refining its management. Bank Indonesia also rolled out various policies to preserve rupiah exchange rate stability. In general, Bank Indonesia’s policy, taken in harmony with the Government, was able to control inflation at existing levels and uphold the value of the rupiah against any further depreciation.

Strategi kebijakan moneter Bank Indonesia pada tahun 2008, yang diterjemahkan melalui stance kebijakan moneter (BI Rate), dapat dibagi dalam 3 (tiga) periode, yaitu periode BI Rate tetap (Januari-April), periode kenaikan BI Rate (Mei-Oktober), dan periode penurunan BI Rate (November-Desember). Keputusan Bank Indonesia untuk tetap mempertahankan level BI Rate hingga April 2008 didasarkan pada pertimbangan bahwa kenaikan harga komoditas internasional akan bersifat temporer, sejalan dengan melemahnya permintaan dunia akibat melambatnya aktivitas ekonomi global. Memasuki triwulan II-2008, tren kenaikan harga energi dan pangan dunia ternyata terus berlanjut sehingga memaksa Pemerintah untuk menaikkan harga BBM dalam rangka menjaga sustainabilitas fiskal. Di sisi lain hal tersebut telah menyebabkan inflasi meningkat cukup tajam, terutama akibat dampak tidak langsung (second-round effect) dari kenaikan BBM yang menambah intensitas tekanan inflasi. Sementara itu, permintaan domestik masih kuat seperti tercermin pada tingginya impor yang didorong oleh pesatnya pertumbuhan kredit. Sebagai upaya menjangkar ekspektasi inflasi ke depan serta mengendalikan permintaan domestik yang masih cukup kuat, Bank Indonesia menaikkan BI Rate secara bertahap hingga Oktober 2008, dari 8% menjadi 9,5%. Kebijakan moneter tersebut telah dapat menahan ekspektasi inflasi masyarakat untuk tidak terakselerasi lebih lanjut. Setelah Bank Indonesia memiliki keyakinan bahwa tekanan inflasi ke depan akan menurun, baru kemudian pada Desember 2008 Bank Indonesia menurunkan BI

Bank Indonesia’s monetary policy strategy for 2008, translated through its monetary policy stance (BI Rate), can be classified into three distinct periods, namely the fixed BI Rate period (January – April), the period of rising BI Rate (May – October), and the period of BI Rate reductions (November – December). Bank Indonesia’s decision to maintain the level of its BI Rate until April 2008 was based on the consideration that international commodity price inflation was only temporary, along with deteriorating global demand due to a slump in global economic activity.

Entering the second quarter of 2008, the trend of spiraling global energy and food prices persisted, which forced the Government to raise fuel prices in order to preserve fiscal sustainability. In addition, this also triggered a sharp rise in inflation, in particular due to the second-round effects of the fuel price hikes, which intensified inflationary pressures further. Meanwhile, domestic demand remained strong, as reflected by high imports, because of expansive credit growth. In order to anchor future inflation expectations as well as to curb excessive domestic demand, Bank Indonesia incrementally raised its BI Rate up to October 2008, from 8% to 9.5%.

This monetary policy stance successfully curtailed public inflation expectations from escalating further. Finally, after Bank Indonesia was confident that inflationary pressures would ease, in December 2008 Bank Indonesia reduced its BI Rate to 9.25%. This was based on a number

16

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Rate menjadi 9,25%. Keyakinan ini didasarkan pada semakin kuatnya indikasi turunnya permintaan domestik, yang dikonfirmasi oleh penurunan tajam ekspansi kredit perbankan pada Oktober-November 2008, dan kecukupan pasokan bahan pokok dan energi di dalam negeri, yang diiringi dengan menurunnya harga minyak dunia. Penurunan BI rate tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi tekanan pada stabilitas sistem keuangan dan menghindari perlambatan ekspansi perekonomian domestik yang terlalu dalam. Semakin kuatnya imbas krisis di pasar keuangan global memicu investor asing untuk mencairkan aset-asetnya yang ada di emerging markets termasuk Indonesia. Meningkatnya perilaku investor asing yang menghindari risiko selanjutnya telah menjalar ke pasar keuangan domestik sehingga risiko antar pelaku pasar meningkat dan mempengaruhi tingkat kepercayaan bertransaksi, yang pada akhirnya semakin mempertajam segmentasi di Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Segmentasi antarbank menyebabkan tidak tersebarnya likuiditas secara merata walaupun secara agregrat likuiditas perbankan masih memadai. Di sisi lain, PUAB juga menghadapi permasalahan rata-rata suku bunga PUAB overnight (O/N) yang lebih rendah dari BI Rate dan fluktuasinya yang tajam pada awal tahun 2008. Hal ini mengakibatkan struktur suku bunga PUAB rentan terhadap risiko likuiditas dan mengganggu proses transmisi kebijakan moneter. Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia menempuh berbagai kebijakan yang bertujuan untuk melonggarkan keketatan yang sempat terjadi dan menyempurnakan pengelolaan likuiditas di pasar uang rupiah, baik melalui perubahan skim maupun pengayaan instrumen moneter. Sejak 9 Juni 2008, suku bunga PUAB O/N secara resmi digunakan sebagai target operasional kebijakan moneter menggantikan SBI 1 bulan. Hal ini dimaksudkan untuk menyelaraskan sinyal kebijakan moneter dengan perkembangan pasar uang sebagai alat transmisi kebijakan

of considerations including stronger indications of waning domestic demand, confirmed by a sharp contraction in bank credit from October-November 2008; an adequate and uninterrupted supply of domestic energy and staple commodities; and a significant drop in the international oil price. BI Rate reductions were also intended to ease pressures on financial system stability and avoid a deep and sustained downturn in the domestic economy.

The widespread effects of the crisis in the global financial market encouraged foreign investors to cash-in their assets held in emerging markets, including Indonesia. More riskaversion by foreign investors seeped into the domestic financial market, which exacerbated counterparty risk, undermined confidence and led to worsen segmentation condition in the Inter-Bank Money Market (PUAB). Interbank segmentation created an uneven spread of liquidity despite sufficient aggregate bank liquidity. Notwithstanding, PUAB also faced an average overnight (O/N) interest rate that was lower than the BI Rate and extremely volatile in early 2008. This left the PUAB interest rate structure vulnerable to liquidity risk and disrupted the process of monetary policy transmission.

To address such conditions, Bank Indonesia instituted a range of policies to ease tightness and improve liquidity management in the rupiah money market through schematic changes and monetary instrument innovation. Since 9th June 2008, O/N PUAB interest rate has officially been used as the monetary policy operational target, replacing the 1-month SBI. This is meant to synergize monetary policy signals with developments in the money market as a monetary policy transmission tool, as well as a mechanism to shape a more normal short-term yield

Dalam rangka meningkatkan efektivitas pengelolaan moneter berdasarkan prinsip syariah, Bank Indonesia menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBI Syariah). To improve the effectiveness of sharia monetary operation, Bank Indonesia issued Bank Indonesia Sharia Certificate (SBI Sharia).
Courtesy of Setia Boedi J. P

Bank Indonesia 2008 Annual Report

17

moneter, sekaligus sebagai mekanisme pembentuk struktur kurva imbal hasil jangka pendek (short term yield curve) yang lebih wajar. Bank Indonesia juga melakukan 3 kali penyempitan koridor suku bunga (standing facilities) sehingga menjadi BI Rate ± 50 bps dan melengkapinya dengan fasilitas menyimpan di bank sentral (standing deposit facility) dan fasilitas meminjam dari bank sentral (standing lending facility). Keberadaan standing facilities ini dimaksudkan untuk membentuk koridor bagi pergerakan suku bunga pasar uang rupiah yang menjadi target operasional kebijakan moneter Bank Indonesia. Untuk memfasilitasi kebutuhan likuiditas perbankan dengan jangka waktu yang lebih panjang, instrumen fine tune diperpanjang tenornya sampai maksimum 3 bulan dari sebelumnya yang hanya 14 hari. Lebih lanjut Bank Indonesia membuka window repo tenor 2–14 hari dengan suku bunga 25 bps dari suku bunga repo O/N. Ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) juga diperlonggar menjadi hanya dalam bentuk statutory reserves sebesar 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Berbagai kebijakan tersebut cukup efektif menyediakan likuiditas yang memadai bagi transaksi bank sehingga menurunkan risiko antarbank. Kondisi ini tercermin dari yield suku bunga PUAB yang kembali normal dan menurun sejak akhir 2008. Selain itu, Bank Indonesia juga menerbitkan SBI Syariah untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan pengelolaan moneter berdasarkan prinsip syariah. Sejak ditetapkannya suku bunga PUAB O/N sebagai target operasional kebijakan moneter, pergerakan BI Rate tidak hanya telah diikuti oleh suku bunga PUAB O/N namun juga telah ditransmisikan pada perubahan suku bunga PUAB dengan tenor lebih dari 1 hari. Komitmen dan konsistensi kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi makro melalui penetapan BI Rate telah dipersepsikan secara positif oleh konsumen dan berkontribusi dalam menjaga ekspektasi inflasi pelaku ekonomi. Kondisi tersebut terlihat dari hasil survei konsumen yang mengindikasikan adanya perbaikan indeks ekspektasi ekonomi konsumen khususnya mulai paruh kedua tahun 2008. Sementara itu, arah kebijakan moneter tersebut belum sepenuhnya direspons oleh suku bunga deposito, yang masih meningkat di penghujung tahun 2008 justru pada saat BI Rate menurun. Kondisi tersebut diperkirakan sebagai imbas lanjutan dari ketatnya likuiditas perbankan pada pertengahan tahun 2008 dan meningkatnya penyaluran kredit untuk memenuhi kegiatan ekonomi domestik yang masih kuat. Di pasar saham dan SUN, faktor sentimen masih dominan sehingga pergerakan IHSG dan yield SUN tidak sepenuhnya merefleksikan pergerakan BI Rate. Selain faktor sentimen, perilaku arus modal sebagai dampak dari rambatan pergerakan pasar saham regional

curve. Three times Bank Indonesia narrowed the interest rate corridor (standing facilities) to BI Rate ± 50 bps, complemented by a standing deposit facility and standing lending facility from the central bank. The standing facility was introduced to set a new corridor for rupiah money market interest rate fluctuations and become Bank Indonesia’s monetary policy operational target.

To facilitate banks’ requirement for liquidity over a longer tenure, the tenure of fine-tune instruments was extended to a maximum of 3 months from the previous 14 days. Bank Indonesia opened a window repo with a 2-14 day tenure and 25 bps interest rate above the O/N repo interest rate. The minimum reserve requirement was also eased to statutory reserves of 5% of deposits. Such policies were relatively effective in providing sufficient liquidity for bank transactions, which dispersed interbank risk. This was clearly reflected by the PUAB interest rate yield, which returned to normal and subsequently declined in late 2008. Bank Indonesia also issued Bank Indonesia Sharia Certificate (SBI Sharia) to increase the effectiveness of sharia monetary operation.

Ever since the O/N PUAB interest rate was determined as the operational target of monetary policy, the BI Rate has not only been mirrored by the O/N PUAB interest rate but has also been transmitted to changes in the PUAB interest rate with a tenure of over 1 day. Commitment from Bank Indonesia to consistently implement monetary policy in order to maintain macroeconomic stability through the BI Rate was perceived positively by consumers and contributed to maintain the inflation expectations of economic players. This was evidenced by the consumer survey, which indicated an improvement in the consumer economic expectation index, in particular from the second half of 2008. Meanwhile, the monetary policy stance was not fully responded to by the interest rates of time deposits, which continued to rise towards the end of 2008 whilst the decreasing of BI Rate. This was the follow-through effect of tight bank liquidity in mid 2008 and expansive credit growth to cater for strong domestic economic activity. Sentiment continued to dominate the equity and SUN markets, therefore, shifts in the JSX Composite and SUN yield did not fully reflect the BI Rate. In addition to market sentiment, capital flow behavior as a result of movements on regional equity markets and the deterioration of key

18

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Bank Indonesia secara konsisten selalu berada di pasar sesuai komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank Indonesia consistently and continuously present in the market as part of commitment in maintaining the stability of rupiah exchange rate.

dan bursa utama dunia yang semakin tertekan, khususnya pada paruh kedua tahun 2008, juga sangat mempengaruhi kondisi pasar saham dan SUN. Sementara itu, krisis keuangan global, gejolak harga komoditas dan ekspektasi resesi ekonomi di berbagai kawasan juga berpengaruh signifikan terhadap pasokan valuta asing domestik. Sejalan dengan derasnya aliran keluar modal asing dan menurunnya devisa hasil ekspor, pasokan valuta asing di dalam negeri menurun tajam. Di sisi lain, tingginya harga komoditas, khususnya minyak, dan ekspansi ekonomi domestik telah mengakibatkan peningkatan permintaan valuta asing di dalam negeri. Sebagai akibatnya, rupiah mengalami tekanan depresiatif yang cukup tinggi. Menghadapi kondisi tersebut, disamping melakukan kebijakan intervensi secara terukur dan hati-hati, Bank Indonesia juga menempuh serangkaian kebijakan pengelolaan permintaan dan pasokan valuta asing sebagai upaya untuk tetap menjaga kestabilan nilai tukar dan kondisi ekonomi makro secara keseluruhan. Dalam rangka meminimalkan transaksi valuta asing yang bersifat spekulatif, Bank Indonesia melakukan penataan terhadap kegiatan transaksi valuta asing. Selain itu Bank Indonesia telah mengambil langkah lanjutan untuk menata kembali instrumen keuangan derivatif yang tidak didasari oleh kegiatan riil sehingga dapat menimbulkan tekanan terhadap rupiah. Untuk menambah pasokan valuta asing bagi eksportir, Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan tentang pembelian Wesel Ekspor Berjangka oleh Bank Indonesia. Secara umum, berbagai kebijakan Bank Indonesia yang ditempuh secara sinergi dengan Pemerintah telah dapat menahan ekspektasi inflasi masyarakat untuk tidak meningkat lebih lanjut dan mengurangi tekanan neraca pembayaran sehingga inflasi IHK mencapai 11,06% dan nilai tukar rupiah rata-rata terdepresiasi 5,4% menjadi Rp 9.666,00 per dolar AS selama tahun 2008.

global market, especially in the second half of 2008, also had a strong influence on the equity markets and SUN.

Meanwhile, the global financial crisis, commodity price volatility and gloomy expectations of an economic recession in various regions also significantly affected domestic foreign exchange supply. With an outpouring of foreign capital and a drop in exports, domestic foreign exchange supply began to dry up. On the other hand, soaring commodity prices, especially oil, and domestic economic expansion spurred a surge in domestic demand for foreign exchange. As a result, the rupiah was subjected to intense depreciative pressures. In light of such conditions, in addition to taking a prudential and measurable intervention policy, Bank Indonesia also introduced a series of policies to manage demand for and supply of foreign exchange in order to maintain exchange rate stability and overall macroeconomic conditions. To reduce speculative foreign exchange transactions, Bank Indonesia organized foreign exchange transaction activity. The Bank also took further steps to reorganize derivative financial instruments -not based on real activity- to avoid additional pressures on the rupiah. To add the need of exporter for foreign exchange, Bank Indonesia issued regulation concerning the purchase of Bankers’ Acceptance by Bank Indonesia.

In general, the range of Bank Indonesia policies taken in accord with the Government was successful in preventing the public’s inflation expectations from climbing farther and alleviated pressure on the balance of payments so that headline inflation, measured by the consumer price index, reached 11.06% and the rupiah rate of exchange depreciated, on average, by 5.4% to Rp 9,666.00 per USD in 2008.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

19

Kebijakan Moneter : Lebih Cepat, Lebih Terbuka, Lebih Komunikatif
Monetary Policy: Quicker, More Open and More Communicative

Berbagai kebijakan publik, termasuk di dalamnya kebijakan moneter, hanya akan efektif apabila dalam pelaksanaannya mempertimbangkan unsur dialektika yang sehat antara pengambil kebijakan dengan masyarakat yang menerima. Hal tersebut dapat dijalin melalui sebuah proses komunikasi yang mengandung dialog dan keterbukaan. Menyikapi hal tersebut, satu hal menarik yang dapat dilihat di Bank Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini adalah komunikasi kebijakan moneter yang semakin terbuka dan dialogis. Masyarakat dapat dengan mudah bertanya, mendapatkan informasi, dan berdiskusi mengenai kondisi perekonomian terkini dan kebijakan moneter di Indonesia. Berbagai laporan hasil evaluasi kebijakan moneter, asesmen kondisi makroekonomi terkini, proyeksi angkaangka makroekonomi, juga kini dapat diperoleh dengan mudah oleh masyarakat dalam waktu yang tidak telalu lama sejak dilangsungkannya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di setiap awal bulan. Sejak pertengahan tahun 2008, Tinjauan/Laporan Kebijakan Moneter (TKM) yang memuat perkembangan ekonomi terkini dan prospeknya ke depan, telah dipercepat penerbitannya dari satu bulan setelah pelaksanaan RDG menjadi tiga hari setelah RDG dan pada tahun 2009 direncanakan akan diterbitkan pada hari yang sama dengan pelaksanaan RDG. Hal ini guna memberikan informasi yang lebih tepat waktu kepada publik mengenai kondisi perekonomian nasional yang melatarbelakangi pengambilan keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia di bidang moneter. Penerapan kerangka kerja kebijakan moneter berbasiskan pada pencapaian sasaran inflasi (ITF), menjadikan komunikasi sebagai salah satu faktor kunci keberhasilan kebijakan moneter. Komunikasi yang intensif, pemahaman yang tepat, dan kredibilitas dari bank sentral, akan memperkuat sinyal kebijakan moneter sehingga mengoptimalkan bekerjanya transmisi kebijakan moneter. Secara operasional, keputusan kebijakan moneter akan ditransmisikan oleh pasar, terutama perbankan, dengan

Various public policies, including monetary policy, are only effective if a healthy dialectic element is considered between the policymaker and the public who are affected by them. This can be achieved through a communication process that includes open dialog. To address this, it is noteworthy that Bank Indonesia during the last few years has pursued more open and dialogic monetary policy communication. The general public can easily seek and obtain vast amounts of wide-ranging information, therefore empowering the populace to discuss the latest economic conditions and monetary policy in Indonesia. Numerous reports pertaining to monetary policy evaluation results, the latest macroeconomic assessments and macroeconomic projections are all now readily available shortly after each monthly Bank Indonesia Board of Governors Meeting (RDG). Since mid 2008, the publication of a Monetary Policy Report/Review (TKM), including the latest economic developments and outlook, has become more up-todate; from one month after the RDG to just three days. Furthermore, in 2009 TKM will be published on the same day that the RDG takes place. This will provide more timely information to the public regarding national economic conditions, the basis of which sway the decision-making process of the Board of Governors in the monetary area.

Implementation of a monetary policy based on the Inflation Targeting Framework (ITF) enshrines communication as one of the key factors of monetary policy success. Intensive communication, accurate understanding and central bank credibility all strengthen monetary policy signals and, thus, optimize monetary policy transmission. Operationally, monetary policy decisions are transmitted by the market, especially banks, with their behavior reflected by the interest rate. Public expectations and understanding are among

20

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

perilaku mereka sebagaimana tercermin dari suku bunga. Pemahaman dan ekspektasi masyarakat adalah salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi pencapaian target inflasi, oleh sebab itu strategi komunikasi kebijakan moneter juga bertujuan untuk menurunkan dan mengarahkan ekspektasi inflasi di masyarakat ke sasaran inflasi yang telah ditetapkan. Apabila masyarakat meyakini bahwa inflasi ke depan akan naik/tinggi, mereka akan mengubah perilaku sesuai dengan ekspektasinya. Secara terukur, mereka mulai menaikkan/menurunkan harga-harga, membelanjakan/menyimpan uangnya, yang pada gilirannya membentuk inflasi sesuai ekspektasi mereka. Di sini kredibilitas bank sentral sangat berperan dalam mempengaruhi ekspektasi masyarakat sehingga perilaku masyarakat dapat diantisipasi/diarahkan sesuai keinginan bank sentral. Menyadari hal tersebut, berbagai kegiatan komunikasi di bidang moneter mulai dibakukan sejak 2007 dalam strategi komunikasi kebijakan moneter. Strategi komunikasi kebijakan moneter juga disusun secara terstruktur sebagai bagian dari strategi komunikasi Bank Indonesia dan bersinergi dengan Pemerintah dan Instansi terkait. Hal ini guna menyelaraskan pesan, strategi, agar berujung pada pemahaman yang seragam dari publik terhadap kebijakan perekonomian nasional. Sinergi positif tersebut diharapkan dapat menghasilkan satu pesan yang solid, terstruktur, dan terarah sehingga berujung pada pemahaman masyarakat yang lebih baik. Selama tahun 2008, strategi komunikasi kebijakan moneter difokuskan pada upaya untuk mendukung kebijakan Bank Indonesia dalam menyikapi, mengantisipasi serta meminimalkan dampak krisis keuangan global pada perekonomian nasional demi tercapainya sasaran inflasi jangka menengah panjang. Komunikasi tersebut antara lain memuat penjelasan mengenai dampak krisis global pada perkonomian nasional, kondisi ketahanan ekonomi nasional saat ini dan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengantisipasi hal tersebut dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Komunikasi atas kebijakan moneter yang lebih cepat, lebih terbuka dan lebih komunikatif tersebut telah sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman masyarakat atas kebijakan Bank Indonesia sehingga upaya menjaga kestabilan makroekonomi, di tengah kriris global yang memuncak, dapat lebih mudah dilakukan.

the most important factors that affect the achievement of the inflation target, therefore, the monetary policy communication strategy is designed to lower and steer inflation expectations within the predetermined inflation corridor. If the public perceives that future inflation will rise, this would precipitate a corresponding change in their behavior. Measurably, the public begins to raise/ lower prices and spend/save money, which in turn affects inflation according to their expectations. Here central bank credibility plays a significant role in influencing public expectations in order to anticipate public behavior and subsequently steer it towards the central bank’s target. To this end, various communication activities in the monetary area were initiated in 2007 as part of the monetary policy communication strategy. The Strategy was composed structurally as part of Bank Indonesia’s communication strategy in harmony with the Government and related Institutions. This helped synchronize the message and the strategy, which led to more unified understanding by the public in terms of national economic policy. Such positive synergy is expected to produce a robust, structured and directed message and thus lead to greater public understanding.

During 2008, the monetary policy communication strategy focused on supporting Bank Indonesia policy with respect to addressing, anticipating and minimizing the impacts of the global financial crisis on the domestic economy in order to achieve the mid-long-term inflation target. Communication activities included detailed explanation of the global crisis effects on the national economy, the current condition of national economic resilience and efforts taken by Bank Indonesia to support economic growth. Quicker, more open and more communicative communication activities have significantly helped improve public comprehension of Bank Indonesia’s policy. Therefore, efforts to maintain macroeconomic stability, amidst a deteriorating global crisis, were easier to perform.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

21

Stabilitas Sistem Keuangan Financial System Stability
Sepanjang tahun 2008, Bank Indonesia terus berkoordinasi dengan Pemerintah menerbitkan berbagai regulasi dan kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan, dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian disamping tetap memberi ruang yang cukup bagi intermediasi perbankan dan pembiayaan usaha melalui pasar modal dan lembaga keuangan nonbank lainnya. Pengalaman pahit krisis keuangan Asia tahun 1997/1998 telah mendorong otoritas dan pelaku sektor keuangan Indonesia untuk berbenah diri meningkatkan penerapan prinsip-prinsip good governance, fungsi pengendalian intern, dan pengelolaan risiko. Kedisiplinan dalam menerapkan prinsip kehati-hatian telah berhasil menghindarkan sektor keuangan Indonesia, khususnya perbankan, dari masalah yang lebih besar, sebagaimana yang dialami negara-negara maju dan sejumlah negara berkembang lain. Terjaganya stabilitas sistem keuangan melalui dukungan pembiayaan ekonomi yang meningkat signifikan selanjutnya telah memberi landasan yang cukup kondusif bagi perekonomian domestik. Throughout 2008, Bank Indonesia continued tight coordination with the Government by issuing various regulations and policies to maintain financial system stability. Prudential principles were prioritized while providing sufficient space for bank intermediation and business funding through the capital market and other non-bank financial institutions. Bitter experience from the 1997/1998 Asian Financial Crisis encouraged the relevant authorities and Indonesian financial sector players to self-improve in terms of good governance principles, internal control and risk management. Discipline, with reference to prudential principles, successfully prevented larger problems befalling the Indonesian financial sector, particularly banks, as experienced by a number of developed countries and several emerging countries. Sustained financial system stability through burgeoning economic funding provides favorable foundations for the domestic economy.
Ditengah semakin dalam dan meluasnya krisis keuangan global pada tahun 2008, secara umum stabilitas sistem keuangan Indonesia relatif masih terjaga. Minimalnya eksposur perbankan dan lembaga keuangan Indonesia terhadap masalah subprime mortgage telah menyelamatkan sistem keuangan Indonesia dari dampak krisis yang lebih parah. Namun demikian, Indonesia tidak sepenuhnya dapat terhindar dari imbas krisis. Keketatan kredit global pada bulan September 2008 telah mempengaruhi stabilitas pasar keuangan domestik, ditandai oleh terdepresiasinya nilai tukar, anjloknya IHSG dan turunnya harga SUN secara signifikan. Perbankan sempat mengalami tekanan likuiditas, yang selain dipengaruhi krisis likuiditas global juga diakibatkan masih tingginya permintaan kredit domestik hingga Oktober 2008 yang sebagian besar dibiayai dengan secondary reserves. Gejolak di sektor keuangan ini telah mengakibatkan Indeks Stabilitas Keuangan (Financial Stability Index/FSI) meningkat tajam bahkan melampaui batas maksimum indikatif angka 2 (dua) pada bulan November dan Desember 2008. Berbagai faktor ditengarai menjadi penyebab instabilitas sistem keuangan selama tahun 2008. Semakin terintegrasinya Indonesia dengan perekonomian global telah menyebabkan gejolak eksternal sangat mempengaruhi stabilitas sektor keuangan nasional. Akibat krisis keuangan global, tidak saja kinerja sektor keuangan semakin rentan, banyak perusahaan di sektor riil yang mengalami penurunan kondisi finansial. Perusahaanperusahaan yang selama ini bergantung pada sumber pembiayaan luar negeri mengalami kesulitan sumber dana sehingga menurunkan kemampuannya dalam membayar utang (debt repayment capacity). Perlambatan ekonomi global sebagai dampak lanjutan krisis keuangan global Amidst the deep and widespread global financial crisis of 2008, Indonesia’s financial system remained relatively stable. Minimal bank and financial institution exposure to the subprime mortgage debacle saved the Indonesian financial system from more severe crisis impacts. However, Indonesia did not fully sidestep the crisis. Tight global credit in September 2008 undermined domestic financial market stability, marked by significant rupiah depreciation, a plummeting JSX Composite and a drop in SUN price. Banks also suffered from liquidity pressure, partially not only attributable to the global liquidity crisis but also due to the use of secondary reserves to fund the domestic credit demand. Shocks that plagued the financial market triggered a sharp hike in the Financial Stability Index (FSI), ultimately exceeding the indicative maximum of 2 in November and December 2008.

A number of factors were suspected as the root of financial system instability in 2008. Greater integration between the Indonesian and global economies implies that external shocks are more likely to affect national financial sector stability. As a result of the global financial crisis, financial sector performance became more vulnerable and many companies in the real sector suffered a decline in financial conditions. Companies that depended on overseas funding had difficulty sourcing funds, which aggravated their debt repayment capacity. The global economic downturn as a result of the global financial crisis saw many companies suffer a decline in profitability, which subsequently increased company leverage. On the

22

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

telah menyebabkan perusahaan mengalami penurunan profitabilitas, yang selanjutnya meningkatkan leverage perusahaan. Di sisi perbankan, kondisi tersebut dapat mendorong terjadinya peningkatan kredit bermasalah (Non Performing Loan - NPL) serta perlambatan pertumbuhan kredit dan pembiayaan lainnya yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan perekonomian. Selain itu, perkembangan inovasi produk keuangan, termasuk structured products dan offshore products, yang tidak diikuti dengan penerapan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang baik juga dapat menjadi sumber penyebab ketidakstabilan sistem keuangan. Meskipun potensi kerugian yang ditimbulkan oleh structured product di Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan negaranegara lainnya, hal ini tetap menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko kredit dan risiko pasar bagi perbankan, selain risiko reputasi dan risiko hukum jika terjadi sengketa antara bank dan nasabah. Di sisi lain, structured product yang melibatkan pertukaran valuta asing dengan rupiah juga dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah sehingga menekan stabilitas sistem keuangan. Instabilitas sektor keuangan nasional juga bersumber dari permasalahan segmentasi PUAB. Kondisi keketatan likuiditas yang sempat dihadapi oleh perbankan dan pasar keuangan seiring dengan krisis global diperburuk dengan adanya perilaku sebagian bank yang hanya melakukan transaksi dengan kelompok bank tertentu. Walaupun secara agregrat likuiditas perbankan masih memadai, segmentasi antarbank telah menyebabkan tidak tersebarnya likuiditas secara merata. Dalam kondisi keketatan likuiditas, kinerja Bank Century terus memburuk sehingga akhirnya dinyatakan sebagai Bank Gagal. Selanjutnya, dengan pertimbangan dampak sistemik, Bank Century diambil alih Pemerintah untuk disehatkan kembali. Dengan adanya koordinasi yang kuat antara Bank Indonesia, LPS dan Pemerintah, serta berjalannya mekanisme protokol manajemen krisis (crisis management protocol) yang telah disepakati bersama, permasalahan tersebut selanjutnya telah dapat diminimalisir sehingga tidak berlanjut menimbulkan tekanan terhadap stabilitas sistem perbankan dan sistem keuangan. Untuk melonggarkan tekanan likuiditas, baik di pasar valuta asing maupun pasar rupiah, Bank Indonesia berkoordinasi dengan Pemerintah telah menempuh berbagai kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain penempatan dana Pemerintah pada bank-bank tertentu, perpanjangan tenor fasilitas likuiditas (repo) Bank Indonesia, pelonggaran ketentuan GWM rupiah dan valas, serta fasilitasi penyediaan valas bagi perbankan dan korporasi yang eliglible.

banking side, such conditions could precipitate a rise in non-performing loans (NPL) as well as a contraction in credit growth and other funding required to support the economy.

Bank product innovation, including structured products and offshore products, which did not follow prudential principles or good risk management, was also a source of financial system instability. Although the loss potential attributable to structured products in Indonesia was relatively low compared to other countries, it was exacerbated by the potential increases in credit risk and market risk for banks, as well as reputation risk and legal risk should disputes occur between a bank and its customers. Conversely, structured products involving the exchange of foreign currency with the rupiah compounded rupiah exchange rate volatility, thus, pressurizing financial system stability.

Instability in the national financial sector also stemmed from segmentation in the PUAB market. Tight liquidity faced by banks and the financial market along with the global crisis was exaggerated by the behavior of several banks that chose to only transact with specific bank groups. Aggregately, bank liquidity remained sufficient, however, interbank segmentation propagated an uneven spread of liquidity.

Facing tight liquidity condition, bank Century performance continued to deteriorate until it was finally declared as a Failed Bank. Due to the potential system implication, Bank Century was taken over by the Government to be recovered. Nonetheless, close coordination among Bank Indonesia, LPS and the Government, and the commonly agreed upon crisis management protocol ensured that such problems could be minimized, hence, avoiding additional pressures on banking and financial system stability.

To ease liquidity shortfalls in the foreign exchange and rupiah markets, Bank Indonesia in coordination with the Government instituted a number of policies. The policies included government fund placements at certain banks, an extension for the Bank Indonesia liquidity facility (repo), relaxing regulations governing the rupiah and foreign exchange reserve requirement, and facilitating the provision of foreign exchange for banks and eligible corporations.
Bank Indonesia 2008 Annual Report

23

Sementara itu, dalam rangka meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dan meminimasi dampak krisis, telah pula dikeluarkan serangkaian kebijakan seperti ketentuan penanganan bank yang mengalami permasalahan likuiditas/solvabilitas, peningkatan penjaminan Dana Pihak Ketiga (DPK), aturan mengenai fasilitas likuiditas intrahari oleh Bank Indonesia bagi bank umum (FLI), perluasan jenis agunan bagi FPJP dari Bank Indonesia, dan aturan mengenai fasilitas pinjaman darurat (FPD). Terbitnya peraturan tersebut juga melengkapi mekanisme JPSK, sebagaimana diamanatkan dalam Perppu No. 4 tahun 2008 tentang JPSK. Sejauh ini, berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia telah berhasil memberikan dampak positif bagi likuiditas perbankan, menurunkan volatilitas nilai tukar rupiah dan menenangkan masyarakat dalam menyikapi penanganan bank bermasalah. Perbankan Umum Dampak krisis global pada perbankan domestik telah dapat diminimalkan oleh karakteristik dan ketentuan prudensial perbankan Indonesia yang cenderung konservatif. Sumber dana perbankan yang terutama berasal dari DPK lebih banyak ditempatkan pada kredit atau surat-surat berharga (SSB) yang diterbitkan Pemerintah. Perbankan juga dilarang untuk berinvestasi pada aset-aset berisiko tinggi seperti saham, sementara investasi SSB dibatasi hanya pada SSB berkualitas investment grade. Secara umum daya tahan sektor perbankan, yang merupakan industri terbesar dalam sektor keuangan, cukup mengesankan sebagaimana tampak pada kondisi likuiditas, rentabilitas dan solvabilitasnya. Perbankan bahkan masih mampu meningkatkan fungsi intermediasinya dan melaksanakan proses konsolidasi ditengah berlanjutnya krisis global. Ekspansi kredit yang menggembirakan dengan kualitas kredit yang tetap terpelihara telah mampu mendukung aktivitas perekonomian domestik sehingga pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 masih cukup tinggi.

Meanwhile, to restore public confidence in banks and minimize the impacts of the crisis, a series of policies were issued to legislate the handling of banks suffering liquidity/ solvency problems; to guarantee deposits; to introduce an intraday liquidity facility (FLI) by Bank Indonesia for commercial banks; to expand the types of acceptable collateral for Short Term Funding Facility (FPJP) from Bank Indonesia; and to implement an emergency funding facility (FPD). The regulations also bolstered the FSSN mechanism, as mandated by Perppu No. 4 of 2008, regarding FSSN.

Hitherto, the array of policies taken by Bank Indonesia has successfully yielded positive effects on bank liquidity, eased rupiah exchange rate volatility and calmed the public in terms of handling a troubled bank.

Commercial Banks The impacts of the global crisis on domestic banks were minimized by the conservative characteristics and prudential regulation of Indonesia’s banks. Banks’ sources of funds, predominantly stemming from deposits, were placed more on credit and bonds issued by the government. Furthermore, banks were also prohibited from investing in high-risk assets such as shares, whereas investment in bonds was restricted to investment-grade bonds.

In general, resilience of the banking sector, which represents the largest industry in the financial sector, remained satisfactory as evidenced by liquidity, profitability and solvency conditions. Banks improved their intermediation function and continued to consolidate amid the enduring global crisis. Expansive credit growth with sustained credit quality effectively supported domestic economy activity, so that economic growth in 2008 remained buoyant.

Kebijakan perbankan jangka panjang ditujukan untuk mewujudkan sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. The long term objective of banking policies is to establish a sound, robust and efficient banking system to catalyze national economic growth.
Courtesy of Setia Boedi J. P

24

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Disamping kebijakan untuk memitigasi dampak krisis global, berbagai kebijakan penguatan ketahanan perbankan juga terus dilanjutkan oleh Bank Indonesia selama tahun 2008 melalui implementasi program jangka pendek-menengah dan jangka panjang. Kebijakan jangka pendek-menengah terutama diarahkan untuk persiapan implementasi Basel II, antara lain melalui penerbitan ketentuan tentang perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), penerbitan consultative paper (CP) terkait implementasi pengawasan perbankan berdasarkan Basel II yang sesuai untuk Indonesia, dan penyelesaian pedoman pelaksanaan Pernyataan Standar Akuntansi (PSAK) 55 dan PSAK 50. Sementara itu, kebijakan jangka panjang sektor perbankan tertuang dalam enam pilar Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Terjadinya krisis keuangan global yang lebih dalam dan luas dari perkiraan semula telah mendorong Bank Indonesia untuk mengkaji penyempurnaan arah kebijakan Bank Indonesia tersebut dengan memperhatikan berbagai tantangan ke depan yang masih harus dihadapi agar tujuan mewujudkan sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional serta siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 tetap dapat tercapai. Sebagai penegasan atas komitmen perbankan terhadap pelaksanaan edukasi masyarakat di bidang perbankan, tahun 2008 dicanangkan sebagai tahun Edukasi Perbankan. Kebijakan penguatan ketahanan perbankan tersebut diatas perlu didukung pula oleh fungsi pengawasan perbankan yang efektif. Terkait hal tersebut, Bank Indonesia terus pengupayakan penyempurnaan pengawasan perbankan secara komprehensif dan bertahap, termasuk perbaikan governance, peningkatan kompetensi SDM, dan penyempurnaan peraturan yang dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaannya, khususnya dalam rangka persiapan implementasi Basel II, PSAK 55 dan PSAK 50. Mengantisipasi dampak krisis keuangan terhadap sektor perbankan, Bank Indonesia juga melakukan beberapa langkah antisipatif yang difokuskan pada aspek pemantauan likuiditas baik secara harian, mingguan maupun bulanan. Pemantauan intensif dilakukan terhadap perkembangan pos-pos tertentu neraca, dan melakukan analisa tentang sumber dan penggunaan dana, termasuk pula analisa terhadap transaksi PUAB dan pemantauan Secondary Reserve vs DPK. Selain itu, dilakukan pula pengawasan secara langsung dalam bentuk pemeriksaan khusus (special on-site examination) atas transaksi valuta asing yang dilakukan bank-bank yang memiliki eksposur yang cukup besar. Hal ini disertai langkah pembinaan kepada bank untuk segera melakukan langkah-langkah strategis untuk mencegah menurunnya tingkat likuiditas. Perbankan Syariah Kinerja perbankan syariah relatif tidak terpengaruh oleh imbas krisis global. Kondisi ini terutama disebabkan oleh dominasi pembiayaan pada aktivitas perekonomian

In addition to measures taken to mitigate the global crisis, a number of banking policies to improve resilience were also continued by Bank Indonesia throughout 2008, including the implementation of short-mid-term programs as well as long-term programs. Short-mid-term policy was mainly targeted at preparations for Basel II implementation through the promulgation of regulations legislating the calculation of the minimum Reserve Requirement, the issuance of a consultative paper (CP) regarding the implementation of bank supervision based on Basel II appropriate to Indonesian condition, and the conclusion of PSAK 55 and PSAK 50 implementation guidelines. Meanwhile, the banking sector’s long-term program is explained in detail in the Six Pillars of Indonesia Banking Architecture (IBA). The deeper and wider-than-expected global financial crisis encouraged Bank Indonesia to review its policy direction taking into consideration the gallimaufry of future challenges in order to establish a sound, robust and efficient banking system to catalyze national economic growth and ready to face the inauguration of the ASEAN Economic Community (AEC) in 2015. As the confirmation of banking commitment in public banking education year of 2008 is proclaimed as Year of Banking Education.

Policy to strengthen bank resilience must be supported by an effective banking supervision function. To this end, Bank Indonesia comprehensively and periodically improved banking supervision, including governance, human resources and review the regulations including the guideline, especially in preparation for Basel II implementation, PSAK 55 and PSAK 50. Anticipating the impact of the financial crisis on the banking sector, Bank Indonesia also took a plethora of anticipative steps focused on daily, weekly and monthly liquidity surveillance. Intensive surveillance was carried out on balance sheets, analyzing sources of funds and their use, including analysis on PUAB transactions and surveillance of Secondary Reserve versus deposits. Supervisors also employed special on-site examination to directly monitor foreign exchange transactions processed by banks with high exposure. This was bolstered by guidelines for banks to immediately take strategic measures to prevent liquidity shortfalls.

Sharia Banks The performance of sharia banks was relatively unaffected by the global crisis. This was due to the limited exposure of sharia banks, which remain dominated by financing

Bank Indonesia 2008 Annual Report

25

Pemahaman terhadap Perbankan Syariah perlu diupayakan sejak dini. The understanding of Sharia Banking should be attain since early ages.
Courtesy of Janu Dewandaru

domestik dan masih rendahnya integrasi perbankan syariah dengan sistem keuangan global. Hal tersebut berdampak positif pada fungsi intermediasi sehingga masih berjalan optimal dalam mendukung pembiayaan sektor riil. Secara umum fungsi intermediasi perbankan syariah terus mengalami peningkatan dengan dukungan kebijakan pembukaan layanan syariah (office channeling). Selain itu, diperbolehkannya penggunaan dana bank induk yang ditempatkan pada Unit Usaha Syariah (UUS) sebagai sumber pembiayaan perbankan syariah juga telah meningkatkan aset industri perbankan syariah, yang pada gilirannya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan sektor riil. Berbagai kebijakan perbankan syariah selama tahun 2008 difokuskan untuk mendukung pertumbuhan perbankan syariah, dalam rangka mendukung kesinambungan kegiatan sektor riil menghadapi ketidakpastian akibat krisis global. Terkait dengan hal tersebut, penelitian dan kajian yang dilakukan oleh Bank Indonesia selama tahun 2008 dalam lingkup perbankan syariah ditekankan pada penerapan manajemen risiko pada perbankan syariah dan pengembangan instrumen lindung nilai berbasis syariah, model pembiayaan syariah untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sektor pertanian, dan pengembangan pasar keuangan syariah. Selain itu, Bank Indonesia menyelenggarakan Festival Ekonomi Syariah (FES) pada tanggal 16-20 Januari 2008, yang mana pada acara tersebut Dewan Gubernur Bank Indonesia secara resmi meluncurkan program “iB” Marketing Campaign 2008 dan mencanangkan inisiatif penyusunan Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah. Program tersebut terdiri dari rangkaian kegiatan komunikasi/sosialisasi dalam rangka meningkatkan public awareness, yang melibatkan Bank Indonesia dan pelaku perbankan syariah, sebagai upaya untuk menempatkan industri perbankan syariah sebagai pendamping industri perbankan konvensional dalam menopang proses pembangunan ekonomi secara berkesinambungan. Melalui penerapan program Grand Strategy tersebut, tema komunikasi perbankan syariah bergeser dari asset share ke industrial growth, yang ditopang oleh kualitas operasional yang semakin efisien dan kompetitif baik dalam pasar domestik maupun global.

domestic economic activity, and by the lack of integration sharia banks have with the global financial system. This enhanced their intermediation function, which remained optimal in support of real sector financing. The intermediation function of sharia banks continued to enjoy expansive growth with support from sharia office channeling. Additionally, the precedent to allow the funds placed by a holding bank on a Sharia Business Unit (SBU) to be used as a source of funds for sharia banks also improved the industry’s asset position. This in turn was expected to stimulate real sector growth and development.

Various sharia banking policies during 2008 focused on supporting sharia bank growth in order to nurture sustainable real sector activity in the face of widespread uncertainty due to the global crisis. Research conducted by Bank Indonesia in 2008, pertaining to the sharia banking community, covered risk management and the development of sharia based hedging instruments, as well as a review of sharia financing for micro, small and medium enterprises (MSME) in the agricultural sector. A sharia financial market performance review was also conducted. At the Sharia Economic Festival (FES), held on 16-20 January 2008, Bank Indonesia’s Board of Governors officially launched the 2008 iB Marketing Campaign and determined the initiatives to be included in the Sharia Banking Market Development Grand Strategy. The program consists of communication/socialization activities to hone public awareness and involves Bank Indonesia and sharia banking players in an effort to place the sharia banking industry as an accompaniment to conventional banking and support sustainable economic development. Through this Grand Strategy, the sharia communication theme shifts from asset share to industrial growth, supported by more efficient and competitive operational quality in the domestic and global markets.

26

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Di sisi pengaturan, perbankan syariah memiliki landasan hukum yang semakin jelas. Pada tahun 2008 Pemerintah telah menerbitkan Undang Undang No. 19 tentang Surat Berharga Syariah dan Undang Undang No.21 tentang Perbankan Syariah, yang sangat kondusif untuk mendukung akselerasi pengembangan perbankan syariah. Sebagai antisipasi atas perundang-undangan tersebut, Bank Indonesia telah menyusun ketentuan pelaksanaannya, dengan memperhatikan pula perkembangan lingkungan global yang sedang mengalami krisis dan perkembangan di area perpajakan. Beberapa ketentuan perbankan yang dikeluarkan selama 2008 antara lain terkait dengan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana serta pelayanan jasa, mekanisme pengeluaran produk baru, restrukturisasi pembiayaan, penyempurnaan ketentuan mengenai penilaian kualitas aktiva untuk Bank Umum Syariah dan UUS serta penyesuaian GWM Valas untuk Bank Umum Syariah. Sementara itu, kegiatan pengawasan perbankan syariah selama tahun 2008 yang dilakukan oleh Bank Indonesia diarahkan pada penguatan sistem perbankan syariah dengan melalui penerapan pengawasan berdasarkan risiko, evaluasi penerapan good corporate governance (GCG), penilaian atas penerapan prinsip mengenal nasabah (KYC - Know Your Customers) dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), serta peningkatan kompetensi pengawas dan pengembangan sistem informasi pendukung pengawasan. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Seperti halnya perbankan syariah, industri BPR memiliki daya tahan yang relatif baik dan tidak banyak terpengaruh oleh krisis keuangan global karena sebagian besar kreditnya yang berupa kredit Mikro, Kecil dan Menengah (MKM) kepada sektor riil dalam negeri. Indikator kinerja BPR tetap terjaga dan cenderung membaik. Fungsi intermediasi BPR yang terus meningkat telah mendukung kesinambungan kegiatan sektor riil khususnya MKM ditengah meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga BBM dan berkecamuknya krisis global.

In terms of regulations, sharia banks finally have a clear legal foundation. In 2008, the Government issued Act No 19 of 2008 concerning Sharia Bonds and Act No 21 of 2008 concerning Sharia Banks, which strongly support expeditious sharia bank development. In anticipation on the two new laws, Bank Indonesia compiled appropriate implementation regulations, taking into account global societal development, which is currently in recession, as well as developments in the area of taxation. Several regulations also issued in 2008 relate to fund accumulation, distribution and services; a new product launch mechanism; funding restructuring; regulation amendments to asset quality assessment for Sharia Commercial Banks and UUS; and an adjustment to the foreign exchange reserve requirement.

Bank Indonesia supervision of sharia bank activity in 2008 was aimed at strengthening the sharia banking system through the implementation of risk-based supervision, good corporate governance (GCG), know-your-customer principles, Money Laundring Law and improvements to the competence of supervisors as well as upgrading the information system that supports supervision activity.

Rural Banks (BPR) Similar to sharia banks, the BPR industry maintained relatively sound resilience and was little affected by the global financial crisis because most of its credit was in the form of micro, small and medium (MSMs) credit to the domestic real sector. Furthermore, rural bank performance indicators tended to improve. The improving BPR intermediation function supported the sustainability of real sector activity, particularly MSMs in the midst of rising production costs due to oil price hikes and the ongoing global crisis. To preserve public confidence in rural banks, especially in terms of liquidity risk, the FPJP regulation issued by Bank Indonesia was also made applicable to rural banks. Under the regulation, a rural bank receives equal treatment in terms of seeking emergency funding from Bank Indonesia should it suffer short-term liquidity problems. Rural banks were also shown leniency in the form of an extension to their loan loss provisions.

Guna tetap menjaga kepercayaan masyarakat terhadap BPR, terutama dari potensi risiko likuiditas, ketentuan FPJP yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia juga ditujukan bagi BPR. Dengan adanya ketentuan tersebut, BPR mendapat kesempatan yang sama (equal treatment) dalam memperoleh fasilitas pendanaan darurat dari Bank Indonesia bila mengalami kesulitan likuiditas dalam jangka pendek. BPR juga diberi kelonggaran berupa penundaan atas pemenuhan kewajiban ketentuan Pembentukan Penyisihan Aktiva Produktif (PPAP). Sementara itu, dalam rangka memperkuat industri BPR terutama dalam menghadapi krisis dan mengoptimalkan peran dan kontribusi BPR sebagai community bank dalam mendukung community development di masa mendatang,

Meanwhile, to buttress the BPR industry in the face of a crisis and to optimize its function and contribution as a community bank, the BPR Blueprint was refined. The improvements include BPR profile mapping to stratify the

Bank Indonesia 2008 Annual Report

27

Sebagai jaring pengaman ekonomi, pengembangan UMKM menjadi prioritas Bank Indonesia. As an economic safety net, Bank Indonesia continues to prioritize the development of MSME sector.
Courtesy of DKBU

telah dilakukan penyempurnaan cetak biru BPR. Selanjutnya untuk mendukung penyempurnaan cetak biru tersebut telah dilakukan pemetaan profil BPR dalam rangka penetapan stratifikasi industri BPR sebagai upaya menetapkan kebijakan dan pengawasan yang sesuai dengan kapasitas dan risiko BPR. Mengingat pentingnya sektor usaha Mikro, Kecil dan Menengah sebagai jaring pengaman ekonomi terutama di masa krisis, maka Bank Indonesia tetap menempatkan sektor UMKM sebagai salah satu prioritas untuk didorong pengembangannya. Berbagai upaya pemberian bantuan teknis telah dilakukan oleh Bank Indonesia selama tahun 2008 untuk mendukung pengembangan UMKM, baik dalam bentuk penyediaan informasi maupun pelatihan. Peningkatan cakupan dan kualitas penyediaan informasi dan pelatihan tersebut terutama dimaksudkan untuk meningkatkan akses pembiayaan perbankan kepada UMKM. Dalam rangka mendukung program Pemerintah, khususnya Kredit Usaha Rakyat (KUR), Bank Indonesia juga melakukan kajian kemungkinan penurunan bobot risiko dalam ketentuan perhitungan ATMR bagi kredit perbankan. Bank Indonesia juga tengah mengupayakan penyelarasan definisi kredit MKM dan kredit usaha kecil di dalam perundangan dan ketentuan yang berlaku untuk menghindari konflik yang justru merugikan upaya pengembangan UMKM. Sejalan dengan upaya pengembangan keuangan mikro, Bank Indonesia bersama Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia telah menyelenggarakan AsiaPacific Regional Microcredit Summit 2008 di Bali. Acara dibuka oleh Presiden RI dan mengundang Prof. Muhamad Yunus, penerima Nobel Perdamaian 2006 sebagai salah satu pembicara. Pertemuan yang dihadiri oleh 917 peserta dari 50 negara tersebut membahas beberapa tema utama yaitu: menjangkau masyarakat miskin, menjagkau dan memberdayakan perempuan, membangun kemandirian institusi secara finansial serta memberi kontribusi positif dan terukur terhadap peningkatan kesejahteraan nasabah dan keluarganya.

BPR industry, which is hoped will help determine policy and supervision appropriate to the capacity and risks of rural banks.

Considering the importance of the MSME sector as an economic safety net, especially in this time of a persistent crisis, Bank Indonesia continued to prioritize the sector for development stimuli. Extensive technical assistance was provided by Bank Indonesia during 2008, in the form of information and training, to support MSME expansion. The broad coverage and high quality of information and training provided was designed to improve the access of MSMEs to bank finance.

To underpin the government’s program, especially Small Business Loans, Bank Indonesia also reviewed the possibility of lowering the risk weighting in the calculation of risk-weighted assets for bank credit. Bank Indonesia also harmonized the definitions of MSM and small enterprise credit to avoid conflicts that could potentially derail MSME development. To aid the advancement of micro finance, Bank Indonesia together with the Indonesian Movement for Microfinance Development jointly hosted the Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008 in Bali. The Summit was opened by the President of the Republic of Indonesia and invited Prof. Muhamad Yunus, the 2006 Nobel Prize Laureater as one of the guest speaker. Attended by 917 participants from 50 countries, the Summit was discussed about several main topics, namely reaching the poorest, reach empowering women, building financially self sufficient institution and ensuring a positive measurable impact on the lives of clients and their families.

28

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang Payment System and Money Circulation
Sepanjang tahun 2008, kebijakan sistem pembayaran dan pengedaran uang, sebagai salah satu komponen pendukung stabilitas moneter dan sistem keuangan, tetap diarahkan pada peningkatan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas. Selain berupaya meningkatkan kehandalan sistem BI-RTGS dan SKNBI, Bank Indonesia juga terus memperkuat pelaksanaan tugasnya sebagai regulator, termasuk melakukan oversight terhadap penyelenggaraan sistem pembayaran. Sementara itu, kebijakan di bidang pengedaran uang terfokus pada upaya efisiensi dan optimalisasi operasional kas serta manajemen pengelolaan uang kartal perbankan dengan tetap memperhatikan tujuan pemenuhan kebutuhan uang kartal masyarakat dalam jumlah yang cukup, nominal yang sesuai, layak edar, dan tepat waktu. Secara umum, kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia tersebut telah dapat meminimalisir berbagai risiko yang timbul dari dinamika perkembangan ekonomi nasional yang cenderung dipengaruhi oleh krisis keuangan global. The payment system and money circulation policy in 2008, as a supporting component of monetary and financial system stability, was directed to improve task effectiveness and efficiency. In addition to improve the reliability of BI-RTGS and SKNBI, Bank Indonesia also strengthened its role as regulator, including a review of payment system oversight. Money circulation policy focused on efficiency efforts and the optimization of cash services. Furthermore, banknote management was ameliorated in order to provide banknotes fit for circulation of appropriate denomination in a timely manner. Generally, the policies taken by Bank Indonesia minimized the risks arising from the dynamics of national economic growth that were influenced by the global financial crisis.

Sistem Pembayaran Daya tahan sistem pembayaran nasional tetap terjaga, meskipun imbas krisis global ditengarai mempengaruhi nilai setelmen di pasar uang dan pasar modal terutama pada semester II-2008. Sementara itu, masalah segmentasi turut meningkatkan keketatan likuiditas di PUAB sehingga apabila terus berlanjut akan berpotensi menimbulkan risiko sistemik sistem pembayaran yang berpengaruh pula pada seluruh industri perbankan dan sistem keuangan. Namun demikian, hal tersebut tidak terjadi. Dengan menerapkan prinsip no money no game dan adanya mekanisme penyelesaian transaksi secara sistem apabila terjadi gridlock pada sistem BI-RTGS, seluruh transaksi keuangan kritikal berhasil diselesaikan tanpa menimbulkan risiko kredit yang sistemik. Selama tahun 2008, penyelenggaraan sistem BI-RTGS mencapai rata-rata Rp 184 triliun per hari dengan tingkat ketersediaan sistem dalam melakukan pelayanan kepada seluruh stakeholder mencapai 99,9%. Sementara itu, penyelesaian transaksi melalui SKNBI pada medio krisis juga berjalan lancar, meskipun masih terdapat permasalahan kurang meratanya infrastruktur jaringan komunikasi di berbagai wilayah Indonesia. Sepanjang tahun 2008 aktivitas transaksi kliring baik debet maupun kredit melalui jaringan sistem SKNBI mencapai rata-rata Rp 6,7 triliun per hari. Selain sebagai penyelenggara BI-RTGS, Bank Indonesia juga menetapkan kebijakan, menerbitkan peraturan, memberikan perizinan dan melakukan oversight terhadap penyelenggaraan sistem pembayaran di Indonesia. Tugas dan tanggung jawab ini senantiasa dilakukan dengan mengacu pada prinsip dasar kebijakan sistem pembayaran

Payment System National payment system resilience was maintained despite the impacts of the global crisis undermining settlement value in the money and capital markets, especially in Semester-II 2008. Segmentation has tightened liquidity further in the PUAB, which could potentially spark systemic risk throughout the banking industry and financial system. However, that condition never happened. Through the implementation of nomoney-no-game principles and the presence of a systemic transaction settlement mechanism should gridlock threaten to jeopardize the BI-RTGS system, all critical financial transactions were successfully processed without creating systemic credit risk. In 2008, the BI-RTGS system reached an average of Rp184 trillion per day with system availability at 99.9%. Meanwhile, transaction settlements through SKNBI in medio crisis, were processed satisfactorily, despite the uneven communication network infrastructure in various Indonesian regions. Clearing transaction activity in 2008, debits and credits, through the SKNBI network reached an average of Rp 6.7 trillion per day.

In addition to administrating BI-RTGS, Bank Indonesia also set policy, issued regulations, granted permits and performed oversight on the payment system in Indonesia. This was conducted referring to the basic principles of payment system policy, namely risk control, national efficiency, access equality and consumer protection.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

29

No money no game: Mitigasi Risiko Kliring Warkat Debet
No money no game: Risk Mitigation of Cheque Clearing

Mitigasi risiko melalui persyaratan penyediaan prefund atau dana awal sebelum mengikuti kliring cukup efektif untuk meminimalisir risiko yang disebabkan peserta tidak mampu menyelesaikan kewajiban kliringnya. Namun demikian, krisis global yang semakin dalam dapat mempengaruhi kemampuan bank peserta kliring dalam memenuhi kewajiban prefund tersebut, sebagaimana yang terjadi pada salah satu bank nasional. Belajar dari kondisi tersebut, persyaratan prefund ternyata masih menyisakan potensi risiko gagal bayar khususnya untuk kliring warkat debet. Apabila pada akhir hari siklus kliring bank peserta ternyata memiliki kewajiban membayar yang melebihi nilai prefund yang diagunkan dan peserta tersebut tidak mampu membayar kewajibannya, maka bank peserta terpaksa harus mengajukan fasilitas untuk mendapatkan likuiditas darurat dari Bank Indonesia dengan persyaratan yang ketat. Pada akhirnya, kondisi tersebut tidak saja dapat mempengaruhi kondisi keuangan bank yang bersangkutan, juga stabilitas sistem perbankan Guna meminimasi risiko tersebut, mulai akhir 2008 telah diterapkan kebijakan mekanisme no money no game dalam penyelesaian kliring debet untuk melengkapi persyaratan prefund. Mekanisme tersebut selama ini juga telah diterapkan pada mekanisme setelmen hasil kliring warkat kredit. Dengan adanya mekanisme tersebut, apabila hasil kliring bank peserta kliring di suatu wilayah kliring melebihi prefund yang ada maka hasil kliring dari bank tersebut akan ditolak secara otomatis oleh sistem penyelenggara SKNBI. Selanjutnya penyelenggara kliring lokal di wilayah kliring tersebut akan melakukan penghitungan ulang data keuangan elektronik warkat debet dengan tidak mengikutsertakan satu atau beberapa transaksi sehingga hasil akhir perhitungan kliring dari bank tidak lagi melebihi prefund. Dengan penyempurnaan mekanisme tersebut diharapkan dukungan stabilitas sistem pembayaran terhadap stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan semakin meningkat.

Risk mitigation through the provision of a prefund prior to joining clearing activities is an effective way of minimizing the risk caused by a clearing member’s inability to settle its outstanding clearing liabilities. However, a deeper global crisis could affect clearing members’ ability to meet the required prefund, as happened to a national bank. Learning from such conditions, the existing prefund requirement turned out to leave a potential risk of payment failure, in particular for cheque clearing. If at the end of the clearing cycle a member bank’s outstanding clearing liabilities exceed the collateralized value of the prefund, the bank must apply for the emergency funding facility offered by Bank Indonesia, observing strict terms. Ultimately, such conditions not only can affect the respective bank’s financial condition but also threaten banking system stability as a whole.

To minimize such risk, commencing at the end of 2008 nomoney-no-game policy was implemented to settle cheque clearing in order to complement the pre fund requirement. This mechanism had also already been implemented on the credit note clearing mechanism. With such a mechanism if the obligations exceed the available pre fund then it is automatically rejected by the SKNBI administrator. Local clearinghouses will then recalculate the electronic financial data excluding one or more transactions so that the total obligation will no longer exceeds the pre fund. Improving this mechanism is expected to maintain payment system stability and, therefore, support overall financial system stability.

30

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Bank Indonesia terus meningkatkan kehandalan sistem pembayaran guna mendukung peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Bank Indonesia continues to improve the reliability of payment system to support the growth of economic activities.

yakni, pengendalian risiko, efisiensi nasional dan kesetaraan akses dengan tetap memperhatikan perlindungan konsumen. Untuk meningkatkan efisiensi penyelenggaraan sistem pembayaran, Bank Indonesia secara aktif memfasilitasi dan melakukan koordinasi dengan industri sistem pembayaran, khususnya mendorong terciptanya interkoneksi antarsistem yang digunakan. Dalam kaitan ini fokus kegiatan yang dilakukan adalah mendorong dan memfasilitasi penyusunan standar bersama untuk kartu ATM/debet, terwujudnya interoperability antar penerbit uang elektronik, pembentukan asosiasi penyelenggara Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) dan pembentukan Self Regulating Organization (SRO) di bidang sistem pembayaran. Untuk lebih meningkatkan kinerja dan kehandalan sistem BI-RTGS dan SKNBI, Bank Indonesia antara lain telah melakukan penyempurnaan berbagai fitur sistem dan uji coba environment system sebanyak 3 kali guna menjamin kesiapan segala aspek baik sistem, prosedur, dan sumber daya jika sistem utama tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pengedaran Uang Pada tahun 2008, kegiatan transaksi dengan menggunakan uang kartal secara umum masih cenderung meningkat di 2008 ditengah meluasnya krisis keuangan global. Peningkatan permintaan uang kartal tersebut secara umum dipengaruhi antara lain oleh pelaksanaan Pemilihan kepala Daerah (Pilkada) yang cenderung marak selama 1 (satu) tahun terakhir, kenaikan harga BBM yang diiringi dengan penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT), peningkatan pendapatan sektor pertanian di luar Jawa dan persiapan menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) nasional tahun 2009. Dalam rangka memiminasi potensi dampak krisis keuangan global terhadap kegiatan ekonomi nasional yang masih terus meningkat tersebut, kebijakan pengedaran uang Bank Indonesia tahun 2008 tetap mengacu pada tiga pilar pengedaran uang yaitu ketersediaan uang Rupiah yang berkualitas, layanan kas prima, serta pengedaran uang yang aman, handal, dan efisien.

improve payment system efficiency, Bank Indonesia actively facilitated and coordinated with the payment system industry, especially to promote interconnectivity among the systems used. To this end, activities focused on promoting and facilitating a common standard for ATM/debit cards, creating interoperability among electronic money issuers, establishing a money Remittance Association (KUPU) and the Self-Regulating Organization (SRO) for the payment system. To improve BI-RTGS and SKNBI reliability and performance, Bank Indonesia upgraded a number of system features and performed three environment system tests in order to ensure the readiness of all aspects, including the systems, procedures and human resources in case the main system fails to function as intended.

Money Circulation Transactions in 2008 using bank notes increased despite the ongoing global financial crisis. Strong demand for bank notes was principally the result of regional elections (Pilkada) in Indonesia over the past year, fuel price increases and cash remittances for the poor, a rise in agricultural income outside of Java and preparations for the General Election in 2009. To minimize the impacts of the global financial crisis on national economic activity, Bank Indonesia money circulation policy in 2008 still referred to the three pillars of money circulation, namely the availability of quality rupiah bank notes, a prime cash service, as well as a secure, reliable and efficient money circulation.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

31

Layanan kas Bank Indonesia kepada bank dan masyarakat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan uang kartal masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Bank Indonesia cash services offered to banks and public is aimed to provide bank notes fit for public needs in economic activities.
Courtesy of Setia Boedi J. P

Kebijakan menjaga ketersediaan uang Rupiah yang berkualitas difokuskan pada pemenuhan kebutuhan uang di seluruh wilayah dalam nominal yang cukup, pecahan yang sesuai serta layak edar antara lain melalui perencanaan kebutuhan uang kartal secara komprehensif serta pencabutan dan penarikan empat pecahan uang kertas Rupiah. Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan uang kartal yang diedarkan, temuan uang palsu juga meningkat. Oleh sebab itu Bank Indonesia terus memperkuat upaya penanggulangan pemalsuan uang, baik dengan peningkatan kualitas satuan tugas pemberantasan uang palsu maupun penyempurnaan kegiatan komunikasi/ sosialisasi, termasuk melakukan ujicoba implementasi Bank Indonesia Counterfiet Analysis Center (BICAC). Layanan kas Bank Indonesia kepada perbankan dan masyarakat yang terdiri dari kegiatan setoran dan bayaran perbankan, penukaran uang, serta penggantian uang rusak, dilaksanakan dengan mengedepankan ketepatan, kecepatan, dan keamanan layanan kas. Strategi kebijakan tersebut dilakukan antara lain melalui peningkatkan efektivitas layanan kas luar kantor, penerapan ketentuan Setoran Bayaran Bank, implementasi fungsi Cash Centre di dua bank umum, dan pemenuhan operasional layanan kas sesuai standar mutu ISO 9001:2000. Laju pertumbuhan outflow uang kartal dari Bank Indonesia yang lebih rendah dari pertumbuhan inflow ke Bank Indonesia mencerminkan bahwa optimalisasi manajemen uang kartal perbankan masih akan berlanjut. Guna menjamin tersedianya uang kartal dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu di berbagai wilayah, efektivitas pelaksanaan distribusi uang yang aman, lancar dan tepat waktu serta pengelolaan sarana operasional kas telah ditingkatkan. Kebijakan tersebut dilaksanakan antara lain melalui penerapan Iron Stock dan Kas Besar Titipan, optimalisasi kinerja sarana pengolahan uang, serta penyusunan draft awal Grand Desain manajemen pengedaran uang.

Policy to maintain the availability of quality rupiahs focused on fulfilling the money requirement in all regions with sufficient value, of appropriate denomination and fit to circulate. This was achieved through extensive planning of the requirement for bank notes as well as the revoke and withdrawal of four rupiah banknote denominations from circulation. With expansive growth in bank notes circulated, the presence of counterfeit money also increased. Therefore, Bank Indonesia continued to strengthen anti-counterfeiting efforts by improving the quality of the counterfeit eradication task force as well as intensifying communication/socialization activities, including implementation test on Bank Indonesia Counterfeit Analysis Center (BICAC). Bank Indonesia’s cash services offered to banks and the public, comprising of bank deposits and withdrawals, money exchange and replacement of damaged notes, were improved by prioritizing accuracy, speed and security. The policy strategy was bolstered by improving offsite cash service effectiveness, introducing Bank Payout Deposit regulations, establishing a Cash Centre at two commercial banks, and fulfilling operational cash services in accordance with ISO 9001:2000. Banknote outflow rate from Bank Indonesia, which was lower than the inflow rate, reflects improved banknote management optimization will still continue.

To ensure the timely availability of sufficient bank notes in all regions of the country, effective, secure and punctual money distribution and operational cash management were improved. Policy measures included the implementation of Iron Stock and cash in transit, optimizing the performance of money management, and compiling a draft of Grand Design for money circulation management.

32

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Kerja Sama Internasional International Cooperation
Kian memburuknya krisis keuangan global dan melambatnya perekonomian dunia menuntut peningkatan peran fora kerjasama internasional dalam mengatasi ancaman krisis yang semakin dalam. Bank Indonesia terus terlibat aktif dalam berbagai kerjasama bilateral dan regional maupun kegiatan dalam forum-forum yang lebih luas (multilateral). Sepanjang 2008, Bank Indonesia juga menjadi tuan rumah beberapa pertemuan dan seminar internasional guna memperkuat kerja sama dan berbagi pengalaman dan informasi baik antar sesama bank sentral, dengan otoritas pengambil kebijakan lainnya, maupun kalangan akademisi mengenai berbagai isu global yang berkembang dewasa ini, khususnya yang terkait dengan pengendalian dampak krisis keuangan global. The deteriorating of global financial crisis and international economic downturn require closer international cooperation to overcome a deeper crisis threat. Bank Indonesia is actively involved in various bilateral and regional cooperation as well as larger, multilateral forums. During 2008, Bank Indonesia also hosted a number of international summits and seminars in order to strengthen cooperation, share experience and exchange information among central bankers, other relevant policy makers as well as academics regarding recent global issues, particularly those related to easing the impacts of the global financial crisis.

Isu-isu seputar stabilitas keuangan global, perkembangan harga komoditas dan perlambatan ekonomi dunia serta kerjasama internasional untuk mengatasi krisis, yang melanda dunia di 2008, menjadi fokus pembahasan di berbagai fora kerjasama regional dan multilateral. Di tataran regional, untuk mengantisipasi tingginya ketidakpastian pasar keuangan dan credit crunch global, Bank Indonesia bersama Departemen Keuangan berperan aktif dalam upaya mempercepat implementasi multilateralisasi Chiang Mai Initiative (CMI) bersamasama dengan wakil dari dengan negara-negara ASEAN dan tiga mitra dialog, Jepang, China, dan Korea, (ASEAN+3). Salah satu kemajuan penting pada tahun 2008 yang dicapai forum ini adalah tercapainya beberapa kesepakatan penting pada pertemuan Deputi Menteri Keuangan dan Bank Sentral yaitu meningkatkan dana pooling multilateralisasi CMI dari USD80 miliar menjadi

Global financial stability, commodity prices and the global economic slowdown, including international measures to overcome the crisis, have been the salient discussion points at various regional and multilateral collaboration forums.

At the regional level, to anticipate the high uncertainty surrounding financial markets and the global credit crunch, Bank Indonesia together with the Ministry of Financial actively took part in accelerating the multilateral implementation of the Chiang Mai Initiative (CMI) together with representatives from ASEAN countries and three dialogue partners, namely Japan, China and Korea (ASEAN +3). Some of the notable achievements made in 2008 at this forum included reaching consensus between the Deputy Finance Minister and the Central Bank to increase the CMI pooling multilateralization fund from USD80 billion to USD120 billion, to strengthen the surveillance mechanism

Bank Indonesia menyelenggarakan berbagai pertemuan internasional sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan. Bank Indonesia held various international meetings as part of the effort in maintaining the financial system stability.
Courtesy of Setia Boedi J. P

Bank Indonesia 2008 Annual Report

33

USD120 milliar, memperkuat mekanisme surveillance melalui pembentukan independent regional surveillance unit, dan meningkatkan porsi IMF de-linked di atas 20% setelah regional surveillance berfungsi secara efektif. Sebagai interim action, negara-negara ASEAN+3 dapat mengaktivasi Bilateral Swap Arrangement (BSA) yang telah ada di antara negara ASEAN+3 dan meningkatkan jumlahnya apabila diperlukan. Kerjasama dalam rangka mencegah dan menanggulangi krisis ke depan, juga dilakukan dalam forum Executives Meeting of East Asia Pacific Central Banks (EMEAP) berupa pembentukan manajemen krisis regional, dan saling berbagi informasi perkembangan kondisi serta kebijakan ekonomi dan keuangan terkini. Dalam rangka mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 menuju pasar tunggal dan basis produksi internasional, Bank Indonesia berpartisipasi aktif dalam berbagai pembahasan isu-isu liberalisasi arus modal dan liberalisasi jasa sektor keuangan, khususnya sektor perbankan. Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah juga terlibat dalam berbagai perundingan ASEAN dengan mitra dialog dalam kerangka Free Trade Agreement (FTA). Dalam kerangka kerjasama bilateral, selama 2008 Bank Indonesia juga terlibat dalam perundingan kerjasama dalam rangka peningkatan dan perlindungan investasi dengan Kanada dalam Foreign Investment Promotion and Protection Agreement (FIPPA RI-Kanada). Selain dengan Kanada, Indonesia juga memiliki lebih dari 50 Bilateral Investment Treaty (BIT) dengan negara lain, diantaranya adalah dengan Jepang dalam kerangka Economic Partnership Agreement (IJEPA). IJEPA merupakan suatu perjanjian kerjasama ekonomi yang komprehensif, meliputi kerjasama perdagangan barang dan jasa serta investasi yang telah ditandatangani pada tahun 2007 dan diratifikasi pada 2008. Dalam ranah multilateral, fora-fora kerjasama seperti G-20, IMF, dan APEC banyak menyorot upaya peningkatan peran dari fora-fora kerjasama tersebut dalam mengatasi krisis serta berupaya merumuskan rekomendasi untuk mengatasi krisis. IMF termasuk salah satu lembaga internasional yang direformasi guna meningkatkan peranannya dalam mengatasi krisis. Program reformasi IMF yang dirumuskan di tahun 2008 adalah yang terkait dengan fasilitas bantuan pinjaman, surveillance, maupun tata kelola institusi IMF seperti isu kuota suara dan representasi negara berkembang serta pemilihan pimpinan puncak lembaga ini. Bank Indonesia dalam proses reformasi tersebut menyampaikan berbagai masukan baik untuk menyuarakan kepentingan Indonesia sendiri maupun

by establishing an independent regional surveillance unit, and to increase the de-linked IMF portion above 20% after regional surveillance becomes effective. As an interim action, ASEAN+3 countries can activate the existing Bilateral Swap Arrangement (BSA) network in some ASEAN+3 countries and increase its total as necessary. Cooperation to prevent and resolve future crises was also on the agenda at the Executives Meeting of East Asia Pacific Central Banks (EMEAP) by establishing regional crisis management and information sharing regarding the latest economic and finance conditions and policy development. In terms of the ASEAN Economic Community (AEC) in 2015, toward a single market and international based production, Bank Indonesia actively participated in various discussions to liberalize capital flows and the financial sector, especially banks. Bank Indonesia together with the Government were active participants at various ASEAN meetings under the Free Trade Agreement (FTA) framework.

Under the bilateral cooperation framework, during 2008 Bank Indonesia was also involved in collaborative discussions to increase and protect investment with Canada in the Foreign Investment Promotion and Protection Agreement (FIPPA RI-Canada). In addition to Canada, Indonesia also has more than 50 Bilateral Investment Treaties (BIT) signed with other countries, for example with Japan under the Economic Partnership Agreement (IJEPA) framework. IJEPA is a comprehensive economic treaty, including cooperation for the trade of goods and services as well as investment, which was signed in 2007 and ratified in 2008.

Multilaterally, cooperation forums such as G-20, IMF and APEC highlight the improvement of such forums in resolving crises and putting forward appropriate recommendations. The IMF has implemented broad reforms in order to promote its role in resolving crises. IMF reforms in 2008 related to the loan assistance facility, surveillance, and IMF management including the vote quota, representation of emerging countries and election of the person in charge. Bank Indonesia presented various inputs in order to voice Indonesian’s interest as well as that of the South East Asia Voting Group (SEAVG), which comprises of ASEAN and Pacific countries, with Indonesia serving as leader. Bank Indonesia’s role in international cooperation was also

34

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Bank Indonesia aktif dalam berbagai kerjasama dengan Bank Sentral negara lain dalam rangka saling bertukar informasi terkait perkembangan kondisi serta kebijakan ekonomi dan keuangan terkini. Bank Indonesia is actively involved in various cooperation with other Central Banks to share information regarding the latest economic and financial condition and policy development.
Courtesy of PBoC

kepentingan anggota South East Asia Voting Group (SEAVG) yang terdiri dari negara-negara ASEAN dan Pasifik, dimana Indonesia menjadi ketuanya. Peran Bank Indonesia dalam kancah kerjasama internasional juga diaktualisasikan pada pada forum G-20 dengan terlibat aktif dalam berbagai pertemuan dan workshop guna membahas langkahlangkah strategis yang perlu diambil secara global dalam menghadapi krisis ekonomi yang kian mendalam. Dalam forum tersebut Bank Indonesia menjadi focal point pada tiga working group yakni WG-2 “Reinforcing International Cooperation and Promoting Integrity in Financial Markets”, WG-3 “Reforming the IMF”, dan WG-5 “Trade Finance Initiative”. Pada fora kerjasama bank sentral, bank-bank sentral kawasan menyoroti salah satu akar penyebab krisis, yaitu pesatnya perkembangan pasar keuangan yang tidak diimbangi oleh manajemen risiko dan pengaturan prudential yang memadai. Untuk mengatasi krisis, selain kebijakan moneter, juga diperlukan kebijakan prudential perbankan yang bersifat countercyclical, kebijakan fiskal yang solid, dan langkah-langkah koordinatif baik antara otoritas fiskal dan moneter maupun antar negara kawasan. Dalam pertemuan para Gubernur Bank Sentral kawasan Asia, Amerika Latin dan Karibia yang tergabung dalam forum Asia-LAC setidaknya dilahirkan empat rekomendasi bagi Bank Sentral dalam mengatasi krisis saat ini, yaitu memprioritaskan kestabilan makro dan keuangan, menjaga likuiditas dan meredam dampak gejolak global pada sektor perbankan, menjalankan kebijakan yang fleksible dan pragmatis, dan melakukan koordinasi dengan otoritas fiskal serta menempuh concerted actions di kawasan. Forumforum kerjasama Bank Sentral lainnya seperti SEANZA, EMEAP, SEACEN juga menyoroti krisis global saat ini dalam merumuskan langkah-langkah guna mengatasi gejolak pasar keuangan global agar tidak menyeret perekonomian dunia ke dalam krisis yang lebih dalam.

actualized at the G-20 forum through active participation at a number of summits and workshops in order to discuss strategic measures to be taken globally to confront a deeper economic crisis. Bank Indonesia was the focal point at three working groups, namely WG-2 (Reinforcing International Cooperation and Promoting Integrity in Financial markets), WG-3 (Reforming the IMF), and WG-5 (Trade Finance Initiative).

At cooperation forums for central banks, regional central banks highlighted one of the crisis’ roots, namely rapid financial market growth that was not balanced by effective risk management or sufficient prudential regulations. To resolve the crisis, in addition to monetary policy, prudential countercyclical banking policy is also required, as well as solid fiscal policy and coordinative steps between the fiscal and monetary authorities and among countries in the region. Central bank cooperation forums also witnessed follow-up measures from global commitment in the region. At the Asian, Latin American and Caribbean Central Bank Governors’ Summit under the ASIA-LAC forum, at least four recommendations were put forward for Central Banks to resolve the current crisis, namely to prioritize macro and financial stability, maintain liquidity, alleviate the impact of global shocks on the banking sector, take flexible and pragmatic policy, coordinate with the fiscal authority and take concerted action in the region. Other central bank cooperation forums such as SEANZA, EMEAP, SEACEN also highlighted the current global crisis in formulating steps to resolve global financial market shocks, therefore avoiding dragging the global economy in to a deeper crisis.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

35

Seminar Internasional Bank Indonesia Selama 2008, Bank Indonesia menyelenggarakan berbagai seminar internasional dan mendapat kehormatan untuk menjadi ketua dalam penyelenggaraan pertemuan tingkat regional maupun internasional. Pertemuan regional dengan Bank Indonesia sebagai tuan rumah antara lain adalah Pertemuan Direktur Riset dan Training SEACEN (SEACEN-DORT) dan pertemuan tahunan Gubernur Bank Sentral SEACEN ke-27. Pertemuan Tahunan Gubernur Bank Sentral SEACEN ke- 27 tersebut mengambil tema “Financial Deepening to Support Monetary Stability and Sustainable Economic Growth” yang menggambarkan pentingnya langkah fundamental dalam meningkatkan daya tahan ekonomi domestik, khususnya melalui upaya pendalaman pasar keuangan (financial deepening). Negara SEACEN juga menyadari bahwa kebijakan yang mengatur kompetisi di sektor keuangan dirasakan jauh tertinggal dibandingkan dengan sektor lainnya. Bank Indonesia bersama dengan Perhimpunan Bank Sentral Amerika Latin (CEMLA) juga menjadi penyelenggara pertemuan di Washington D.C Amerika Serikat, yang membahas penyebab krisis dan prospek keuangan dan ekonomi global, serta opsi kebijakan yang dapat dilakukan Bank Sentral dalam merespon krisis. Salah satu penyebab krisis yang banyak disorot adalah pesatnya perkembangan pasar keuangan yang tidak diimbangi oleh manajemen risiko dan pengaturan prudential yang memadai. Menyadari aliran arus modal yang semakin bebas antar negara ASEAN, yang juga menjadi target implementasi MEA 2015, Bank Indonesia selaku ketua ASEAN Working Committee on Capital Account menyelenggarakan pertemuan di Surabaya. Dalam rangkaian pertemuan tersebut juga diselenggarankan Seminar dalam rangka capacity building untuk memfasilitasi negara anggota ASEAN dalam mengadopsi artikel VIII IMF. Adopsi artikel ini penting bagi ASEAN mengingat artikel VIII IMF akan memberikan jaminan yang lebih pasti atas pembayaran dan transfer dalam rangka transaksi ekspor-impor sehingga mendukung aliran bebas barang dan jasa di ASEAN menuju pasar tunggal MEA 2015. Peran aktif Bank Indonesia sebagai penyelenggara pertemuan internasional tidak terbatas pada forum berskala regional saja. Di level internasional, Bank Indonesia telah meyelenggarakan workshop G-20 yang mengambil tema “Competition in the Financial Sector” yang dihadiri oleh negara anggota G-20, lembaga internasional, serta kalangan akademisi dari berbagai negara. Tema ini

Bank Indonesia’s International Seminars Throughout 2008, Bank Indonesia held various international seminars and had the honor of hosting regional and international level summits. Regional summits hosted by Bank Indonesia included SEACEN Director of Research and Training Summit (SEACEN-DORT) and the 27th Annual Summit of SEACEN Central Bank Governors. The theme of the 27th SEACEN Central Bank Governors’ Summit was “Financial Deepening to Support Monetary Stability and Sustainable Economic Growth,” which illustrates the importance of fundamental action to improve domestic economic resilience, especially through financial market deepening. SEACEN member countries also acknowledged that policy to regulate competition in the financial sector is lagging behind other sectors.

Bank Indonesia together with the Centre for Latin American Monetary Studies (CEMLA) also hosted a summit in Washington DC, USA to discuss the cause of the crisis and the financial outlook of the global economy, as well as policy options available to central banks when responding to the crisis. One of the main issue discussed was rapid growth of financial market that was not balanced by effective risk management or sufficient prudential regulations.

Realizing that freer capital flows between ASEAN countries, which is also a 2015 AEC implementation target, Bank Indonesia as leader of the ASEAN Working Committee on Capital Account hosted a meeting in Surabaya. At that meeting, a capacity-building seminar was also held to facilitate ASEAN members in adopting article VIII of IMF. The adoption of this article is crucial for ASEAN as it will provide better insurance for payments and transfers in export/import transactions and, thus, support the free flow of goods and services throughout ASEAN heading towards the 2015 AEC single market.

Bank Indonesia’s role as host of international meetings was not only limited to regional forums. Internationally, Bank Indonesia hosted a G-20 workshop entitled “Competition in the Financial Sector,” attended by G-20 members, international institutions and academia from numerous countries. This theme received special attention due to the level of competition in the financial sector, which

36

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

mendapat perhatian khusus karena tingkat persaingan di sektor keuangan mempengaruhi efisiensi produksi jasa keuangan, kualitas tingkat inovasi produk sektor keuangan, akses perusahaan dan rumah tangga terhadap jasa keuangan dan pembiayaan eksternal, serta adanya hubungan yang erat antara persaingan dan stabilitas. Pada akhirnya, efisiensi sistem keuangan tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Bank Indonesia juga berkerjasama dengan IMF Regional Office for Asia and the Pacific (IMF/OAP) dalam menyelenggarakan the 3rd Regional Seminar on Central Bank Communications. Seminar tersebut merupakan sebuah forum tahunan yang diadakan IMF untuk saling bertukar informasi dan pengalaman antara para pejabat senior bank sentral mengenai isu-isu komunikasi. Berbagai isu penting terkait bank sentral dibahas dalam seminar tersebut, seperti isu mengenai tekanan inflasi, transparansi kebijakan moneter dan keuangan, efektivitas komunikasi bank sentral, dan peran komunikasi dalam kondisi gejolak keuangan.

affects the efficiency of financial services, financial sector product innovation, corporate and household access to financial services and external funding, as well as the tight correlation between competition and stability. Ultimately, financial system efficiency has an overriding affect on economic growth.

Bank Indonesia also collaborated with the IMF Regional Office for Asia and the Pacific (IMF/OAP) in hosting the 3rd Regional Seminar on Central Bank Communications. The seminar is an annual event held by IMF to exchange information and experience among senior central bankers regarding communication issues. Some of the key issues discussed include inflationary pressures, monetary and financial policy transparency, central bank communication effectiveness and the role communication plays in financial shock conditions.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

37

38

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Memperbaiki Diri dan Meningkatkan Kapabilitas untuk Mendukung Kinerja dan Kredibilitas Organisasi
Improving Capability to Support Organization Performance and Credibility

Bank Indonesia menyadari bahwa kredibilitas jangka panjang hanya dapat terwujud jika prinsip-prinsip good governance terus ditegakkan seiring dengan komitmen untuk selalu meningkatkan kapabilitas diri guna menjadi lembaga yang makin bermakna bagi bangsa dan negara. Bank Indonesia is avidly aware that long-term credibility can only be earned by enforcing good governance principles along with committing selfimprovement in order to become a more meaningful institution for the good of the country.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

39

Penguatan Governance Strengthening the Governance
Berbagai tantangan yang dihadapi Bank Indonesia sepanjang tahun 2008 telah membuahkan pada komitmen untuk senantiasa memperbaiki implementasi good governance. Untuk itu terus diupayakan penguatan pada aspek-aspek yang terkait dengan Dewan Gubernur sebagai pimpinan tertinggi Bank Indonesia maupun pada beberapa proses kerja utama yang penting bagi terlaksananya mandat Undang-Undang Bank Indonesia secara efektif dan taat asas.

The challenges that befell Bank Indonesia during 2008 resulted in steadfast commitment to continuously improve the implementation of good governance. To this end, improvements remain ongoing regarding key aspects of the Board of Governors, as the leader of Bank Indonesia, and several principle work processes in the effective realization of the Bank Indonesia Act.

Dewan Gubernur Sesuai Undang-Undang Bank Indonesia, pimpinan Bank Indonesia adalah Dewan Gubernur yang terdiri dari Gubernur, Deputi Gubernur Senior, dan empat hingga tujuh Deputi Gubernur, yang menjabat selama lima tahun dan dapat dipilih kembali pada jabatan yang sama untuk satu periode berikutnya. Gubernur, Deputi Gubernur Senior dan Deputi Gubernur diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR-RI. Khusus Deputi Gubernur, pengusulan nama calon oleh Presiden didasarkan pada rekomendasi Gubernur.

Board of Governors As mandated by the Bank Indonesia Act, the leader of Bank Indonesia is the Board of Governors, which comprises of the Governor, Senior Deputy Governor and 4-7 Deputy Governors, each of whom respectively hold the position for five years and can be reelected to the same appointment in the subsequent period. The Governor, the Senior deputy Governor and the Deputy Governors, shall be nominated and appointed by the President upon the approval of the House of Representatives. Especially for the Deputy Governor the nomination by the President shall be based on the recommendation of the Governor.

Pada tahun 2008, telah dilakukan pergantian Gubernur Bank Indonesia dari Burhanuddin Abdullah yang telah habis masa jabatannya kepada Boediono untuk masa jabatan 2008-2013. Selain itu, Deputi Gubernur Hartadi A. Sarwono telah terpilih kembali untuk melanjutkan masa jabatan berikutnya yaitu untuk periode 2008-2013. Profil segenap anggota Dewan Gubernur yang menjabat pada tahun 2008 terdapat pada halaman 8-11. Pembagian tugas masing-masing anggota Dewan Gubernur diatur berdasarkan delapan pembidangan terkait tugas moneter, perbankan dan stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran, serta manajemen intern. Guna membantu pelaksanaan tugas Dewan Gubernur, dibentuk beberapa Komite yang melakukan pertemuan secara berkala untuk memberikan masukan bagi Dewan Gubernur, yaitu Komite Kebijakan Moneter, Komite Perbankan/Stabilitas Sistem Keuangan, Komite Perencanaan Strategis dan Manajemen

In 2008, Boediono succeeded the then incumbent Governor of Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, for the period of 2008-2013. Deputy Governor Hartadi A. Sarwono was reelected to continue serving in 2008-2013. A profile of all board members serving in 2008 can be seen on page 8-11.

Task delegation of each board member is based on eight areas corresponding to monetary, banking and financial system stability, payment system and internal management. To assist the Board of Governors, a number of committees were established that periodically meet to provide inputs for the Board. The committees include the Monetary Policy Committee, Banking/Financial System Stability Committee, Strategic Planning and Performance Management Committee, Human Resources Committee

40

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Kinerja, Komite Sumber Daya Manusia, serta Komite Internasional. Komite-komite ini beranggotakan beberapa anggota Dewan Gubernur serta para pimpinan satuan kerja terkait. Kode Etik Pelaksanaan tugas dan wewenang oleh Dewan Gubernur terikat pada Kode Etik yang mencakup good governance, pencegahan conflict of interests, serta hubungan dengan stakeholder, baik pegawai Bank Indonesia maupun pihak eksternal.

and International Committee. The committees compose of more than one board member and the Head of relevant Directorate.

Code of Ethics The role and authority of the Board is bound by the Code of Ethics, including good governance and preventing conflicts of interests among the stakeholders, members of staff and external parties. In order to be more effective, the Board’s Code of Ethics and Staff Discipline Regulations must be reviewed as well as refined and socialization must be improved. Board of Governors’ Meeting (RDG) RDG represents the highest decision-making forum used to determine Bank Indonesia’s principles and strategic policies. RDG decision-making is conducted through deliberation. If consensus is not reached, the Governor of Bank Indonesia will have the final decision.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) RDG merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi dalam menetapkan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia yang bersifat prinsipil dan strategis. Pengambilan keputusan RDG dilakukan secara musyawarah untuk mufakat. Jika mufakat tidak tercapai, Gubernur Bank Indonesia menetapkan keputusan akhir. RDG dapat dibagi menjadi dua yaitu RDG Bulanan untuk menetapkan kebijakan umum di bidang moneter, serta RDG Mingguan untuk mengevaluasi pelaksanaan kebijakan moneter dan atau menetapkan kebijakan lain yang bersifat prinsipil dan strategis terkait dengan tugas Bank Indonesia di bidang moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan manajamen intern. Salah satu keputusan penting yang dihasilkan RDG Bulanan adalah penetapan BI Rate sebagai suku bunga yang mencerminkan stance kebijakan moneter ke depan. Keputusan ini segera dipastikan di media massa dan website Bank Indonesia. Undang-Undang Bank Indonesia mensyaratkan jumlah minimal RDG yaitu sekali sebulan untuk RDG Bulanan dan sekali seminggu untuk RDG Mingguan. Pada prakteknya, dalam tahun 2008, telah dilaksanakan 12 kali RDG Bulanan dan 81 kali RDG Mingguan.

There are two types of RDG, namely the Monthly RDG to determine general policy in the monetary field, and the Weekly RDG to evaluate monetary policy implementation and/or to set strategic policy in relation to Bank Indonesia’s role in monetary policy, banking, payment system stability and internal management. One of the most important decisions deliberated at the Monthly RDG is the announcement of the BI Rate, which reflects upcoming monetary policy stance. This is immediately published through the mass media as well as Bank Indonesia’s own website. The Bank Indonesia Act stipulates that the minimum number of RDG held is once a month for the Monthly RDG and once a week for the Weekly RDG. In 2008, 12 Monthly RDG and 81 Weekly RDG were held.

Strategi komunikasi Bank Indonesia disusun secara terstruktur untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Bank Indonesia communication strategy was structured to increase transparancy and accountability.
Courtesy of Setia Boedi J. P

Bank Indonesia 2008 Annual Report

41

Hubungan dengan Pemerintah
Relationship with the Government

Bank Indonesia menjalin hubungan dengan Pemerintah, baik dalam rangka koordinasi kebijakan maupun hubungan kerja operasional. Untuk koordinasi kebijakan, Bank Indonesia dan Pemerintah mengarahkan agar kebijakan yang menjadi kewenangan masing-masing dapat saling sinergis dalam rangka mencapai sasaran ekonomi makro. Dalam menetapkan sasaran laju inflasi, memelihara Stabilitas Sistem Keuangan, atau menerbitkan SUN, misalnya, Pemerintah berkoordinasi dengan Bank Indonesia. Pemerintah juga wajib meminta pendapat dan atau mengundang Bank Indonesia dalam sidang kabinet yang membahas masalah yang berkaitan dengan tugas Bank Indonesia. Sebaliknya, Menteri dapat hadir dalam RDG Bank Indonesia yang membahas kebijakan moneter. Bank Indonesia juga wajib memberikan pendapat dalam penyusunan Rancangan APBN dan kebijakan Pemerintah lainnya yang terkait dengan tugas dan wewenang Bank Indonesia. Dalam hubungan kerja operasional, Bank Indonesia bertindak sebagai pemegang kas Pemerintah dan menatausahakan seluruh rekening Pemerintah. Untuk dan atas nama Pemerintah, Bank Indonesia dapat menerima pinjaman luar negeri, menatausahakan, serta menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan Pemerintah terhadap pihak luar negeri. Namun demikian, Bank Indonesia dilarang memberi pinjaman kepada Pemerintah.

Bank Indonesia cooperate with the Government to coordinate policy and perform operational tasks. With reference to policy coordination, Bank Indonesia and the Government formulate their own respective policies seeking synergy in the achievement of the overreaching macroeconomic goal. To determine the inflation rate target, maintain financial system stability and issue SUN, the Government coordinates closely with Bank Indonesia.

The Government must also seek the opinion of Bank Indonesia and invite representatives from the Bank to cabinet meetings to discuss any outstanding issues relating to Bank Indonesia. Conversely, ministers are permitted to attend Bank Indonesia’s RDG to discuss monetary policy. Bank Indonesia must also put forward recommendations when determining the proposed budget as well as other government policies that relate to the role and authority of Bank Indonesia. Operationally, Bank Indonesia acts as cashier to government and administrates all government accounts. At the behest of the Government, Bank Indonesia can accept overseas loans, administrate and pay financial invoices and government liabilities to counter parties abroad. However, Bank Indonesia is not permitted to extend loans to the Government.

Bank Indonesia terus meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia continues to tighten the coordination with the Government to support the economic growth.
Courtesy of Setia Boedi J. P

42

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia terus berupaya mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas baik dalam pelaksanaan tugas pokok maupun pengelolaan sumber daya.

Transparency and Accountability Bank Indonesia prioritizes transparency and accountability principles in the day-to-day implementation of its role and authority; both in terms of carrying out its core purposes as well as resource management. Under the framework of public transparency, Bank Indonesia hosts the website www.bi.go.id with complete information readily available to the public, such as the minutes of the monthly RDG, latest information regarding Bank Indonesia’s policy direction, such as the prevailing BI Rate and Monetary Policy Review (TKM), and all current regulations. The full range of Bank Indonesia’s reports and reviews are also available, such as the Financial System Stability Review and Indonesian Financial Economic Statistics. To support economic growth in Indonesia, Bank Indonesia developed Indonesian Business Information and Data (DIBI) as well as the Investor Relations Unit (IRU), which provide wide-ranging economic information useful for investors and business players. For strategic information important to the public, such as the BI Rate, Bank Indonesia also holds regular press conferences and issues press releases to the mass media, as well as posting the latest TKM on its website. This is meant to provide the public with comprehensive and up-to-date economic assessments and the future outlook used by the Board of Governors to determine the BI Rate.

Dalam rangka transparansi publik, Bank Indonesia menyediakan website (www.bi.go.id) yang memuat informasi lengkap yang ditunggu masyarakat, misalnya jadwal RDG bulanan, informasi terkini terkait arah kebijakan Bank Indonesia, seperti BI Rate dan Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM), serta ketentuan-ketentuan. Tersedia pula laporan dan hasil kajian dari berbagai bidang tugas Bank Indonesia seperti Kajian Stabilitas Sistem Keuangan dan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia. Selain itu, guna mendukung kegiatan perekonomian, Bank Indonesia telah mengembangkan Data dan Informasi Bisnis Indonesia (DIBI) serta Investor Relations Unit (IRU) yang menyajikan berbagai informasi perekonomian yang diharapkan bermanfaat bagi calon investor maupun pengusaha. Untuk informasi penting yang harus diketahui publik, seperti penetapan BI Rate, Bank Indonesia juga menyelenggarakan konferensi pers atau mengirimkan siaran pers ke media massa, serta memuat TKM di website Bank Indonesia sesegera mungkin. Hal ini dimaksudkan agar publik mengetahui secara lebih lengkap dan tepat waktu mengenai asesmen kondisi perekonomian terkini dan prospek ke depan yang digunakan oleh Dewan Gubernur saat mengambil keputusan penetapan BI Rate. Masih dalam rangka transparansi, Bank Indonesia terus meningkatkan interaksi dan keterbukaan dengan pihak eksternal manakala mencari masukan untuk menetapkan kebijakan-kebijakannya. Misalnya, sebelum menerbitkan ketentuan perbankan baru, Bank Indonesia akan berdiskusi dengan Perbanas dan Himbara. Bank Indonesia juga menerima kunjungan dari berbagai instansi luar negeri rangka diskusi mengenai kondisi perekonomian terkini dan kebijakan Bank Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia kerap menjadi pembicara tamu di berbagai seminar dan acara sejenis atas undangan instansi lain. Gerainfo, Museum Bank Indonesia, dan Perpustakaan Bank Indonesia juga senantiasa terbuka melayani publik yang ingin mencari informasi mengenai Bank Indonesia dan tugas-tugasnya.

To bolster transparency, Bank Indonesia broadened its interaction and openness with external parties when seeking inputs to determine policy. For example, prior to promulgating new bank regulations, Bank Indonesia will first consult with the National Banks Association (Perbanas) and the State-Owned Banks Association (Himbara). Bank Indonesia also accepts visits from various foreign institutions for the purpose of sharing and learning about the latest economic conditions in addition to Bank Indonesia’s policy. As well as accepting study group visits from various domestic and international schools and institutions, Representatives from Bank Indonesia are often invited as guest speakers at various seminars and similar events at the request of other institutions. Gerainfo, Bank Indonesia’s Museum and Bank Indonesia’s Library also serve the public seeking information on Bank Indonesia and its tasks. For the purpose of accountability, the Board of Governors always prioritizes to utilize meeting with the House of Representatives to explicate current performance and

Dalam rangka akuntabilitas, Dewan Gubernur menempatkan forum rapat kerja dan rapat dengar pendapat bersama DPR-RI sebagai sarana untuk

Bank Indonesia 2008 Annual Report

43

memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenangnya serta menerima masukan-masukan dari para wakil rakyat. Secara tertulis, Bank Indonesia juga menyampaikan laporan akuntabilitas triwulanan dan tahunan kepada DPR-RI, yang menjelaskan pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia serta rencana kebijakan, sasaran dan langkah-langkah pelaksanaan tugas dan wewenang di tahun mendatang. Pada gilirannya, laporan dimaksud akan menjadi bahan pertimbangan DPR-RI dalam menilai Kinerja Bank Indonesia dan Dewan Gubernur. Dalam rangka informasi, laporan-laporan yang sama juga disampaikan kepada Pemerintah dan dipublikasikan di media massa serta Berita Negara. Guna membantu DPR-RI dalam melaksanakan fungsi pengawasan di bidang tertentu terhadap Bank Indonesia, Undang-Undang Bank Indonesia telah menetapkan pembentukan Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI). BSBI beranggotakan lima orang yang dipilih oleh DPRRI dan diangkat oleh Presiden untuk masa jabatan tiga tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Tugas BSBI mencakup telaahan atas Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia, anggaran operasional dan investasi, serta prosedur pengambilan keputusan kegiatan operasional di luar kebijakan moneter dan pengelolaan aset Bank Indonesia. BSBI menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya kepada DPR-RI secara triwulanan atau setiap waktu diminta oleh DPR-RI. Sementara itu, sebagai bentuk pertanggungjawaban anggaran, Bank Indonesia mengumumkan Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia yang telah diaudit BPKRI serta Neraca Keuangan Mingguan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan dipublikasikan di website Bank Indonesia.

authority and also to receive input from the people’s representatives. In writing, Bank Indonesia also submits three-monthly and annual accountability reports to the House of Representatives, which explains Bank Indonesia’s tasks execution and authority as well as planned policies, targets and steps to improve task performance and authority in the following year. In turn, these reports are used by the the House of Representatives to assess the performance of Bank Indonesia and its Board of Governors. For information purposes, the same report is also submitted to the Government and published in the mass media and State Gazette.

To assist the House of Representatives in carrying out its supervision function on certain elements of Bank Indonesia, the Bank Indonesia Act also sets out the creation of a Bank Indonesia Supervisory Body (BSBI). BSBI comprises of five people chosen by the House of Representatives and appointed by the President for three years of service and who can be reelected for one subsequent term. BSBI tasks include reviewing Bank Indonesia’s Annual Financial Statements, the operational and investment budget, as well as the procedures governing operational activity decision-making not related to monetary policy as well as Bank Indonesia’s asset management. BSBI submits a report to the House of Representatives on a quarterly basis or as requested.

Meanwhile, as part of its budget responsibility, Bank Indonesia publishes Annual Financial Statements, which is audited by Supreme Audit Board (BPK-RI), as well as a condensed weekly balance sheet which shall be published in the State Gazette of the Republic of Indonesia. All publications are also posted on Bank Indonesia’s website.

Bank Indonesia meningkatkan interaksi dengan pihak eksternal untuk mencari masukan dalam menetapkan kebijakan. Bank Indonesia broadened its interaction with external parties to seek inputs in determining policies.
Courtesy of Setia Boedi J. P

44

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Perencanaan Strategis Perencanaan strategis yang efektif disertai manajemen risiko yang memadai sangat menentukan keberhasilan kinerja dalam jangka panjang. Karena itu, Bank Indonesia terus menyempurnakan implementasi perencanaan dan pelaksanaan strateginya. Bank Indonesia menggunakan Sistem Perencanaan Strategis dan Manajemen Kinerja (SPAMK) berbasis Balanced Scorecards. Siklus SPAMK Bank Indonesia dimulai dengan penyelenggaraan Forum Strategis (Forstra) pada triwulan ketiga setiap tahun, dimana Dewan Gubernur saling bertukar pikiran dan menyusun Arah Strategi Bank Indonesia ke depan. Tahap berikutnya adalah penyelarasan (alignment) hasil Forstra yaitu dari strategi di tingkat organisasi kepada strategi di level satuan kerja. Selanjutnya, strategi diimplementasikan dengan ukuran keberhasilan dan target yang spesifik dan challenging, serta dimonitor dan dievaluasi secara berkala. Strategi yang ditetapkan pada tahun 2008 untuk pelaksanaan tugas pokok Bank Indonesia adalah: (1) memperkuat perumusan dan operasional kebijakan moneter, (2) meningkatkan efektivitas pengaturan dan pengawasan Bank, (3) mendorong financial deepening guna mengoptimalkan fungsi intermediasi, (4) meningkatkan compliance terhadap international best practices, dan (5) meningkatkan efisiensi sistem pembayaran dan keamanan pengedaran uang. Hal ini dilaksanakan melalui beberapa Inisiatif Strategis seperti Penyempurnaan Sistem Pengawasan Bank dan Implementasi Basel II, Arsitektur Perbankan Indonesia (API), serta Pengembangan sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II. Untuk meningkatkan dukungan teknologi informasi, telah dilaksanakan pula Inisiatif Penyempurnaan Sistem Keuangan Bank Indonesia dan Inisiatif Integrasi Sistem Informasi.

Strategic Planning Effective strategic planning coupled with adequate risk management are inextricably linked to successful longterm performance. Therefore, Bank Indonesia continues to refine its strategic planning.

Bank Indonesia uses Performance Management and Strategic Planning System (SPAMK) based on Balanced Scorecards. Bank Indonesia’s SPAMK cycle starts with the Strategic Forum (Forstra) in the third quarter of each year, where the Board of Governors share their thoughts and consider future Bank Indonesia Strategy Direction. The next phase is aligning the results of Forstra, from an organizational level strategy to a strategy at the directorate level. The strategy is then implemented using specific and challenging targets, which are periodically monitored and evaluated.

The strategy adopted in 2008 to carry out Bank Indonesia’s core purposes was as follows: (1) strengthen monetary policy formulation and operation; (2) improve Bank supervision and regulatory effectiveness; (3) promote financial deepening in order to optimize the intermediation function; (4) improve compliance to international best practices; and (5) improve payment system efficiency and the security of money circulation. This was performed through several Strategic Initiatives, such as the Bank Supervision System Refinement Initiative, Basel II Implementation, Indonesian Banking Architecture (API), as well as BI-RTGS and BI-SSSS system Generation II. To improve supporting information technology, the Bank Indonesia Financial System Improvement Initiative and Information System Integration Initiative were rolled out.

Bank Indonesia menerima kunjungan berbagai instansi luar negeri dalam rangka diskusi mengenai kebijakan Bank Indonesia. Bank Indonesia visited by various foreign institutions to discuss Bank Indonesia’s policies.
Courtesy of Setia Boedi J. P

Bank Indonesia 2008 Annual Report

45

Bank Indonesia juga aktif dalam kegiatan sharing and learning dengan pihak luar, misalnya menerima kunjungan dari berbagai instansi pemerintah dan swasta untuk berdiskusi mengenai Strategic Planning and Performance Management, serta menjadi pembicara pada Conference on Performance Management in Central Bank yang diselenggarakan oleh European Central Bank di Amsterdam. Manajemen Risiko Salah satu risiko utama yang dihadapi Bank Indonesia dalam tahun 2008 adalah risiko reputasi terkait dengan pengambilan kebijakan dalam menghadapi krisis ekonomi. Risiko ini perlu dikelola dengan baik karena dapat mempengaruhi kredibilitas Bank Indonesia dan menyebabkan tidak efektifnya penerapan kebijakan. Sebagai bank sentral, Bank Indonesia menghadapi berbagai jenis risiko, baik yang khas bagi bank sentral maupun yang umum dihadapi oleh berbagai instansi. Salah satu risiko operasional yang signifikan dihadapi Bank Indonesia adalah dalam menjaga kelancaran sistem pembayaran. Kegagalan operasional sistem dan atau terjadinya gangguan teknologi informasi dapat mempengaruhi penyelesaian transaksi perbankan yang selanjutnya dapat mempengaruhi Stabilitas Sistem Keuangan. Risiko operasional lainnya berhubungan dengan kegiatan Operasi Pasar Terbuka (OPT) dan pengelolaan aset untuk mendukung operasi pasar. Risiko lain yang dihadapi Bank Indonesia terdapat pada kegiatan pengelolaan cadangan devisa dan pengedaran uang. Krisis pasar keuangan yang terjadi baru–baru ini dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kredit dan menurunkan imbal hasil pengelolaan cadangan devisa akibat kecenderungan penurunan tingkat suku bunga pasar keuangan global. Pada fungsi pengedaran uang, Bank Indonesia juga menghadapi risiko keterlambatan distribusi pemenuhan kebutuhan uang nasabah/ masyarakat yang disebabkan karena kondisi alam dan kendala transportasi.

Bank Indonesia also actively participate in sharing and learning activities with external parties by accepting visits from various government and private institutions to discuss Strategic Planning and Performance Management. In addition, representatives from Bank Indonesia attended and spoke at the Conference for Performance Management at Central Banks held by the European Central Bank in Amsterdam. Risk Management One of the foremost risks faced by Bank Indonesia in 2008 was reputation risk concerning policy making during the economic crisis. It is imperative to manage reputation risk well because it can affect credibility and undermine policy effectiveness.

As the central bank, Bank Indonesia is confronted by various types of risk; including those specific to a central bank as well as those generally faced by many institutions. One key source of operational risk faced by Bank Indonesia stems from maintaining payment system efficiency. System operational failure and/or disruptions to information technology can affect bank transaction settlements, which in turn can compromise Financial System Stability. Additional operational risk emanates from Open Market Operation (OMO) activity and asset management to support market operations.

Risk also originates from foreign exchange reserve management activity and money circulation. The ongoing financial market crisis triggered concerns that it could intensify credit risk and lower foreign exchange reserve management yield due to declining interest rate trend in the global financial markets. With respect to money circulation, Bank Indonesia also faces risk stemming from interrupted supply caused by natural disasters that can cripple transportation networks.

Bank Indonesia menyadari pentingnyan pengelolaan risiko dalam rangka meningkatkan kredibilitas lembaga demi efektifnya penerapan kebijakan. Bank Indonesia realize the importancy of risk management to increase credibility in order for the policy to be implement effectively.

46

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Guna merespon risiko-risiko di atas, Bank Indonesia mengupayakan mitigasi risiko yang efektif dan efisien untuk menghilangkan, mengurangi, mengalihkan, atau menyebarkan risiko yang dihadapi. Untuk risiko kebijakan, upaya mitigasi dilakukan dengan mendasarkan setiap rekomendasi kebijakan pada riset yang komprehensif. Selain itu, penetapan kebijakan-kebijakan penting dilakukan secara bertahap, misalnya melalui Rapat Koordinasi Direktur Bank Indonesia, pembahasan dengan pihak eksternal Bank Indonesia seperti Departemen Keuangan, Perbanas dan Himbara untuk isu-isu sistem keuangan, pembahasan di level Komite Kebijakan Moneter dan Komite Perbankan/Stabilitas Sistem Keuangan, dan selanjutnya baru dibahas di tingkat RDG. Upaya mitigasi risiko pada fungsi sistem pembayaran dilakukan dengan menyusun kerangka Rencana Pemulihan Gangguan (Disaster Recovery Plan/DRP). Melalui DRP, proses pendayagunaan infrastruktur yang tersedia termasuk operasional pada fasilitas penunjang/pengganti dapat dilakukan dengan baik dan terencana. Mempertimbangkan potensi risiko kredit dan risiko pasar pada pengelolaan cadangan devisa, telah dibentuk Tim Manajemen Risiko pada satuan kerja pengelolaan devisa. Tim ini memiliki peran penting dalam memonitor risiko dan menjamin pelaksanaan kegiatan pengelolaan cadangan devisa sesuai dengan prosedur dan limit yang telah ditetapkan. Di samping itu, mitigasi risiko diupayakan melalui pengendalian yang ketat dan transaksi yang berhati–hati melalui penerapan limit kredit dan penempatan dana pada lembaga keuangan yang memiliki rating tinggi. Sementara itu, mitigasi risiko pada kegiatan pengedaran uang dilakukan melalui peningkatan koordinasi dengan instansi/lembaga pengamanan dan pihak ketiga penyedia jasa transportasi, serta penggunaan depo kas terdekat untuk pemenuhan kebutuhan distribusi uang. Pengendalian dan Audit Intern Upaya Bank Indonesia untuk terus memperbaiki pengendalian intern secara berkesinambungan telah membuahkan penghargaan ”BPK Award” kepada Bank Indonesia karena telah memperoleh predikat ”Unqualified Opinion” untuk Laporan Keuangan selama 5 tahun berturutturut untuk tahun 2003-2007. BPK juga memberikan apresiasi atas penyelesaian tindak lanjut hasil audit BPK yang telah mencapai 92%, tertinggi dibandingkan lembaga-lembaga lain yang diaudit oleh BPK.

Responding to the risks outlined, Bank Indonesia continued to effectively and efficiently mitigate risk in order to eradicate, alleviate, divert or spread risk. To mitigate policy risk, each policy recommendation was extensively referred to comprehensive research. Furthermore, decisions regarding key policies were taken in stages, for example through Bank Indonesia’s Director Coordination Meeting; discussions with external parties such as the Ministry of Finance, Perbanas and Himbara for financial system issues; as well as discussions with the Monetary Policy Committee and Financial System Stability/Banking Committee. Finally, policy recommendations are deliberated at the RDG level.

Payment system risk is mitigated through the Disaster Recovery Plan/DRP. The DRP sets out the available infrastructure, including operational support/ alternative facilities planned to be utilized under certain circumstances.

Considering the potential credit risk and market risk inherent with foreign exchange reserve management, a Risk Management Team was established in the foreign exchange Directorate. The team plays an important role in monitoring risk and ensuring foreign exchange reserve management activity remains in accordance with prevailing procedures and within the limits set. In addition, risk management was also implemented through tight controls and prudential transactions, including a credit ceiling and fund placements at high-rated financial institutions. Meanwhile, risk associated with money circulation activity was mitigated through close coordination with security firms and external transportation providers, as well as utilizing adjacent cash depots to distribute money.

Internal Control and Audits Unremitting efforts to ameliorate internal control earned Bank Indonesia the “BPK Award” after receiving “Unqualified Opinion” for its Financial Report for five consecutive years from 2003-2007. BPK also showed its appreciation to Bank Indonesia for concluding the BPK audit follow up with 92%; the highest among all institutions audited by BPK.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

47

Selama tahun 2008, segenap satuan kerja di Bank Indonesia telah berupaya keras menindaklanjuti rekomendasi hasil audit terhadap Satuan Kerja baik yang dilaksanakan oleh auditor internal maupun auditor eksternal (BPKRI). Sejumlah 2.338 butir rekomendasi auditor internal telah berhasil ditindaklanjuti dalam tahun 2008 sesuai komitmen waktu yang telah disepakati. Sementara itu, dari total 997 butir rekomendasi BPK-RI atas temuan audit keuangan sejak 17 Mei 1999 hingga 31 Desember 2008, 92% telah diselesaikan dan 8% masih dalam proses penyelesaian karena sangat tergantung pada pihak-pihak di luar Bank Indonesia. Sampai saat ini upaya penyelesaiannya terus dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pihak. Dalam upaya menyempurnakan sistem dan mekanisme kerja audit intern secara berkesinambungan, pada tahun 2008 telah disusun Grand Design Audit Intern (GDAI) yang memuat arah pengembangan, aspek-aspek yang dikembangkan, dan tahapan pencapaiann audit intern. GDAI telah dikomunikasikan kepada Gubernur Bank Indonesia guna memperoleh masukan atau arahan, yang pada akhirnya dapat menjadi acuan perbaikan dan penyempurnaan serta memberikan jaminan yang memadai mengenai konsistensi arah kebijakan audit intern. Guna menjamin mutu dan kualitas audit, telah diterapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Pada tahun 2008, assessor ISO yaitu Lloyd Register telah melakukan renewal assessment dan menetapkan bahwa Bank Indonesia berhak menyandang Sertifikasi ISO hingga tahun 2010. Di sisi pengembangan kualitas serta jumlah auditor yang kompeten, dalam tahun 2008 telah diselenggarakan pelatihan-pelatihan untuk menutup gap kompetensi pegawai. Pada akhir Desember 2008, tercatat 49 auditor telah bersertifikat profesi nasional yaitu Qualified Internal Auditor (QIA) dan 12 auditor telah bersertifikat profesi internasional yaitu 3 orang Certified Internal Auditor (CIA), 2 orang Certified Control Self Assessment (CCSA), 2 orang Certified Government Auditing Professional (CGAP), dan 5 orang Certified Information System Audit (CISA). Manajemen Keuangan Sebagai salah satu hasil pelaksanaan Good Governance, Bank Indonesia kembali memperoleh predikat “Unqualified Opinion” dari BPK atas Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia 2008. Sejalan dengan semangat peningkatan good governance tersebut, Bank Indonesia juga terus berupaya meningkatkan efisensi anggaran operasional sebagaimana tercermin dari berbagai langkah penghematan yang dilakukan.

In 2008, all Bank Indonesia work units took follow-up measures as recommended by the internal and external auditors (BPK-RI). In total, 2,338 recommendations from the internal auditors were acted upon in 2008 in accordance with the agreed upon time horizon. Meanwhile, of the 997 BPK-RI recommendations made to financial audit fundings, from 17th May 1999 to 31st December 2008, 92% were successfully settled and the remaining 8% are being processed as they depend on external parties. To date, efforts remain ongoing regarding the settlement of the final 8% through coordination with various parties.

To continuously refine the internal audit mechanism, the Grand Design Audit Intern (GDAI) was compiled in 2008, comprising of the development direction, aspects to be developed and internal audit achievements. GDAI was communicated to the Governor of Bank Indonesia for further inputs and direction, and will ultimately be used as guidelines, providing adequate assurance of consistent internal audit policy direction.

To ensure audit quality, ISO 9001:2000 were implemented. In 2008, ISO assessors, Lloyd Register, conducted a renewal assessment and concluded that Bank Indonesia is entitled to hold ISO certificate until 2010.

In terms of improving the quality and boosting the number of competent auditors, extensive training was held in 2008 to bridge the staff competence gap. At the end of December 2008, 49 auditors had graduated as Qualified Internal Auditors (QIA) and 12 had received international certificates; more specifically three Certified Internal Auditors (CIA), two Certified Control Self-Assessors (CCSA), two Certified Government Auditing Professionals (CGAP), and five Certified Information System Auditors (CISA).

Financial Management As a result of Good Governance implementation, Bank Indonesia again received “Unqualified Opinion” from BPK for the 2008 Bank Indonesia Annual Financial Statements. In light of such improvements to good governance, Bank Indonesia continued to improve operational budget efficiency as reflected by the various saving measures undertaken.

48

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Pelaksanaan kebijakan manajemen keuangan diarahkan untuk mendukung pencapaian strategi Bank Indonesia, baik dalam pelaksanaan tugas pokok di bidang kebijakan moneter, perbankan, sistem pembayaran dan pengedaran uang, maupun tugas-tugas kelembagaan lainnya, guna mendukung upaya Bank Indonesia agar kondisi perekonomian domestik tetap dalam arah yang tepat dan kondusif, di tengah krisis pasar keuangan global yang mempengaruhi perkembangan ekonomi dalam negeri. Sebagaimana tugas utama Bank Indonesia menjaga stabilitas moneter, maka komponen biaya terbesar Bank Indonesia adalah biaya OPT dalam rangka pengelolaan likuiditas di pasar uang rupiah. Pada tahun 2008, biaya tersebut relatif tinggi akibat peningkatan aktivitas OPT sebagai dampak perkembangan kondisi ekonomi domestik terkait fluktuasi kenaikan harga minyak yang menimbulkan tekanan inflasi domestik dan semakin dalamnya krisis keuangan global. Biaya OPT sampai dengan akhir 2008 mencapai Rp 20,8 triliun, yang merupakan 90,28% dari total pengeluaran kebijakan atau 74,20% dari total pengeluaran Bank Indonesia. Dalam hubungan keuangan dengan Pemerintah, untuk mengurangi beban APBN maka sesuai saran DPR-RI, Bank Indonesia telah menyepakati permintaan Pemerintah untuk melakukan restrukturisasi tingkat bunga SU-002 dan SU-004 dari masing-masing sebesar 1% dan 3% per tahun menjadi masing-masing sebesar 0,1% per tahun, yang tentunya berdampak pada pengurangan potensi penerimaan Bank Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia juga telah menyetujui penundaan pembayaran pokok SU-007 yang jatuh tempo di tahun 2008. Sementara itu, dengan berlakunya UU No. 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UU No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang menetapkan Bank Indonesia sebagai objek pajak penghasilan, maka mulai tahun 2009 terhadap surplus Bank Indonesia akan dikenakan pajak badan. Menimbang berbagai faktor tersebut, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran pengeluaran operasional. Seluruh satuan kerja diminta untuk makin fokus pada kegiatan-kegiatan yang memang berkontribusi besar pada pelaksanaan tugas pokok Bank Indonesia, hal mana ditempuh antara lain dengan pengetatan plafon anggaran tahun 2009 bagi segenap satuan kerja. Sementara itu, upaya peningkatan penerimaan terus dilakukan, misalnya melalui optimalisasi pengelolaan cadangan devisa serta penguasaan kembali aset yang dikuasai oleh pihak ketiga secara transparan dan dengan risiko minimal. Selain upaya di atas, guna meningkatkan

Financial management policy was designed to support the achievement of Bank Indonesia’s strategy in carrying out its core tasks of monetary policy, banking, payment system stability and money circulation, as well as other institutional tasks. This assisted Bank Indonesia in maintaining conducive domestic economic conditions amid the ongoing global financial market crisis that threatened to undermine domestic economic performance. One of Bank Indonesia’s core tasks is to maintain monetary stability, therefore, the Bank’s largest cost component is OPT activity to manage liquidity in the rupiah money market. In 2008, OPT costs were relatively high due to an increase in OPT activity in response to the deepening global financial crisis and oil price fluctuations that exacerbated domestic inflationary pressures. OPT costs at the end of 2008 totaled Rp 20.8 trillion, amounting to 90.28% of total policy expenditure or 74.20% of Bank Indonesia’s total expenditure.

In terms of the financial relationship with the Government, to reduce the burden on the state budget and in accordance with DPR recommendations, Bank Indonesia agreed to the Government’s demand to restructure the SU-002 and SU-004 interest rate level from 1% and 3% per annum respectively to 0.1% per annum, which reduced Bank Indonesia’s potential income. Bank Indonesia also agreed to postpone the SU-007 principle payment, due in 2008. Meanwhile, as stipulated in Act No 36, 2008, the Fourth Amendment to Act No 7, 1983, regarding Income Tax, which made Bank Indonesia eligible to pay income tax, starting in 2009 Bank Indonesia’s Surplus is subject to corporate income tax.

Considering these factors, Bank Indonesia has committed to improve the efficiency and effectiveness of the operational expenses budget. All work units have been requested to focus on activities that contribute more to Bank Indonesia’s core purposes. Consequently, the 2009 budget caps for all work units have been reduced. Meanwhile, efforts to boost income with minimum risk were continued, such as by optimizing foreign exchange reserve management and repossession of assets owned by third parties. In addition, to raise budget effectiveness and efficiency, Bank Indonesia followed up BPK-RI findings with respect to Bank Indonesia’s budgeting system,

Bank Indonesia 2008 Annual Report

49

efektivitas dan efisiensi anggaran, Bank Indonesia telah menindaklanjuti temuan BPK-RI terkait sistem anggaran Bank Indonesia, termasuk memelihara dan menyempurnakan aplikasi BI - Sentralisasi Otomasi Sistem Akunting (BI-SOSA) serta menyempurnakan ketentuanketentuan di bidang manajemen keuangan. Menjunjung Penegakan Governance Pada tahun 2008, komitmen Bank Indonesia terhadap penegakan good governance diuji dengan meningkatnya tuntutan eksternal terhadap transparansi dan akuntabilitas pengambilan keputusan di Bank Indonesia. Hal ini antara lain tercermin dalam proses penyelesaian kasus penggunaan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI). Guna menunjukkan komitmen Bank Indonesia terhadap penegakan good governance, Bank Indonesia telah bekerja sama dengan penegak hukum untuk mematuhi segenap proses penyelesaian terkait kasus tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pelajaran berharga yang dapat dipetik adalah pentingnya memperhatikan aspek governance terutama dalam setiap pengambilan keputusan penting di Bank Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyempurnakan beberapa ketentuan internal yang dinilai multi tafsir. Ketentuan tersebut terdiri dari ketentuan yang terkait dengan pengadaan barang dan jasa, bantuan hukum dan perjalanan dinas. Sementara itu, Bank Indover, suatu bank milik Bank Indonesia yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda mengalami kesulitan likuiditas akibat penurunan drastis money market line sebagai dampak krisis keuangan global, akhirnya dibekukan oleh pengadilan Belanda bulan Oktober 2008. Terkait dengan hal tersebut, Bank Indonesia sebagai pemilik akan mendukung kelancaran pelaksanaan proses likuidasi sesuai ketentuan yang berlaku. Di sisi eksternal, menyadari bahwa keberhasilan penegakan good governance membutuhkan dukungan segenap unsur masyarakat, Bank Indonesia berupaya bekerja sama dengan stakeholders eksternal khususnya pakar dan lembaga pemerhati governance bangsa. Salah satunya adalah dengan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), di mana Bank Indonesia terlibat dalam tim penyusun Pedoman Good Public Governance, serta dengan Pemerintah dalam penjurian Annual Report Award (ARA).

including maintaining and refining BI–Accounting System Automation Centralization (BI-SOSA) and amending regulations pertaining to financial management.

Improving Good Governance In 2008, growing external demand for transparency and accountability tested Bank Indonesia’s commitment to good governance.

This was reflected by settlement of the Indonesian Banking Development Foundation’s (YPPI) legal case. To show its commitment to good governance, Bank Indonesia worked together with legal authorities in order to comply with all the legalities presented by the case pursuant to prevailing regulations. An important lesson learnt from the case is the value of paying attention to governance aspects, especially in the decision-making process. In addition, Bank Indonesia in coordination with the Indonesia Corruption Eradication Commission had improved several internal regulations which perceived could be multi interpreted. Those regulations are related to logistics management, legal assistance and Official Trip.

Meanwhile, Bank Indover, a bank wholly owned by Bank Indonesia, domiciled in Amsterdam, Netherlands, having experienced liquidity problem due to a drastic decline of money market line as a consequence of global financial crisis. The Bank was eventually declared bankrupt by the Amsterdam court in December 2008. Bank Indonesia as the owner will support the liquidation process according to the prevailing law.

Externally, realizing that good governance requires support from public elements, Bank Indonesia collaborates with external stakeholders, especially experts and institutions that observe national governance. One such group is the National Governance Policy Committee (KNKG), in which Bank Indonesia involve in the good public governance guide compilation team. Bank Indonesia also work together with Government to adjudicate the Annual Report Awards (ARA).

50

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Pengembangan Organisasi dan Sumber Daya Manusia Developing Organization and Human Capital
Serangkaian kebijakan dan program kerja telah ditempuh oleh Bank Indonesia di tahun 2008 guna menciptakan organisasi Bank Indonesia yang lebih efektif dan memiliki kultur berbasis kinerja, serta menciptakan SDM Bank Indonesia yang kompetitif dan kontributif secara nasional dan regional. To create a more effective organization with a performance-based culture, and to establish nationally and regionally competitive human resources, a series of policies and work programs were introduced in 2008.

Penyempurnaan Organisasi Dalam rangka mewujudkan Bank Indonesia yang berkarakter Strategy Focused Organization, berbasis pengetahuan dan memiliki kultur organisasi berbasis kinerja, pada tahun 2008 telah diterbitkan ketentuan intern tentang Organisasi Bank Indonesia yang baru, yang akan menjadi dasar untuk melakukan evaluasi dan penyempurnaan organisasi Bank Indonesia secara bertahap. Ke depan, arsitektur organisasi Bank Indonesia diarahkan pada dua fokus tugas utama, yaitu Stabilitas Moneter dan Stabilitas Sistem Keuangan. Hal ini akan ditempuh dalam empat periode, antara lain strategy refocusing organization, peningkatan knowledge based organization, hingga penguatan strategy focused organization. Untuk menjaga kontinuitas peningkatan efektivitas dan efisiensi pengembangan tersebut, dilakukan pula penyempurnaan prinsip pengorganisasian di Bank Indonesia, antara lain dengan mempertajam prinsip alignment dan prinsip outcome oriented. Sejalan dengan kebijakan organisasi Bank Indonesia tersebut, telah dilakukan evaluasi organisasi secara

Organizational Improvement Under the framework of a Strategy Focused Organization to establish a knowledge and performance based organizational culture, Bank Indonesia issued internal regulations in 2008 setting out a new Bank Indonesia Organization. This will become the foundation of evaluating and further refining Bank Indonesia over time. In the future, Bank Indonesia’s organizational architecture will be directed towards two core tasks, namely Monetary Stability and Financial System Stability. This will be achieved over four periods, namely strategy-refocusing organization, improvement of the knowledge-based organization, and strengthening the strategy-focused organization. To maintain the continuity of effective and efficient improvements, the organizational principles of Bank Indonesia were honed by, among others, sharpening the alignment principles and outcome-oriented principles.

With such a Bank Indonesia organizational policy, intermittent organizational evaluations are conducted.

Bank Indonesia melaksanakan berbagai program untuk mengembangkan kompetensi SDM. Bank Indonesia implements various program to develop the competency of human resources.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

51

bertahap. Sampai dengan akhir tahun 2008, telah dilakukan evaluasi dan penyempurnaan organisasi atas 11 (sebelas) Satuan Kerja. Terkait Kantor Bank Indonesia di daerah (KBI), telah dilaksanakan pembukaan KBI baru di Serang dan Gorontalo, serta pembukaan kembali KBI Tegal dan KBI Pematangsiantar. Pembukaan KBI dimaksud dilakukan seiring dengan perubahan arah strategis KBI guna meningkatkan peran KBI dalam mendorong pengembangan ekonomi daerah. Pelaksanaan fungsi KBI baru tersebut akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan sarana dan prasarana di daerah. Pada tahap awal, KBI Serang dan KBI Gorontalo lebih difokuskan untuk menjalankan fungsi pengelolaan moneter dan perekonomian daerah, sedangkan KBI Tegal dan KBI Pematangsiantar lebih ditekankan untuk menjalankan fungsi sistem pembayaran di daerah.

To the end of 2008, organizational evaluations and subsequent revisions had affected 11 Work Units. Referring to local Bank Indonesia Regional Offices (KBI), new KBI were opened in Serang and Gorontalo, and KBIs in Tegal and Pematangsiantar reopened. New KBI were opened in accordance with a change in KBI strategic direction, taken to promote the role KBI play in fostering local economic development. The tasks and function of KBI will be phased in periodically corresponding to the preparedness of the facility and suitability of the infrastructure in local areas. In their infancy, KBI Serang and KBI Gorontalo are more focused on monetary management and the local economic function, whereas KBI Tegal and KBI Pematangsiantar are focused on payment system function in rural areas.

BANK INDONESIA ORGANIZATIONAL STRUCTURE
Board of Governor
Governor Senior Deputy Governor Deputy Governor

Monetary Stability

Financial System Stability

Economic Research and Monetary Policy

Monetary Management

Financial System and Banking Policy

Banking Supervision

Payment System

Strategic Management Regional Offices *
* Medan, Banda Aceh, Pematang Siantar, Lhokseumawe, Sibolga, Padang, Pekanbaru, Jambi, Batam, Palembang, Bengkulu, Bandarlampung, Bandung, Serang, Cirebon, Tasikmalaya, Tegal, Semarang, Yogyakarta, Solo, Purwokerto, Surabaya, Malang, Kediri, Jember, Denpasar, Mataram, Kupang, Banjarmasin, Pontianak, Palangkaraya, Gorontalo Samarinda, Balikpapan, Makassar, Manado, Palu, Kendari, Ternate, Ambon, Jayapura

Supporting Management Representative Offices **
** Singapore, Tokyo, London, New York

Implementasi Performance Based Culture (PBC) Program PBC merupakan respon Bank Indonesia terhadap tuntutan masyarakat agar Bank Indonesia mampu meningkatkan perannya sebagai salah satu pilar perekonomian melalui perbaikan yang berkesinambungan pada kualitas kebijakan dan pelayanan jasa bank sentral. Program PBC diarahkan pada perbaikan organisasi dan sistem Manajemen SDM yang berorientasi kepada upaya pencapaian kinerja tinggi, sehingga diharapkan mampu senantiasa meningkatkan kualitas kebijakan dan pelayanan jasa Bank Indonesia. Beberapa penyempurnaan ketentuan yang mengarah pada PBC adalah: 1) Perubahan sistem kepangkatan, dari semula 8 Golongan dan 49 Jenjang Golongan menjadi Sistem Grading yang terdiri dari 5 Band dan 18 Grade, hal mana akan diikuti dengan reposisi/pengaturan kembali pegawai, dengan melihat aspek man to job fit.

Performance Based Culture (PBC) Implementation The PBC program represents Bank Indonesia’s response to public demand for Bank Indonesia to promote its role as a pillar of the economy through continual improvements to policy quality and central bank services. The PBC program targets organizational improvements and human resources management oriented towards high performance; thus, it is expected to enhance Bank Indonesia policy and service quality. Several improvements towards PBC include: 1. Changes to the ranking system, initially from 8 Groups with 49 Group Levels to a Grading System with 5 Bands and 18 Grades, followed by staff reposition, taking into account man-to-job-fit aspects.

52

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

2) Perubahan sistem penilaian kinerja dan remunerasi pegawai guna mendorong motivasi kerja yang tinggi dalam menghasilkan produk berkualitas. Pada sistem yang baru, kinerja pegawai diukur dari pencapaian Indikator Kinerja Individu (IKI) yang harus selaras dengan strategi organisasi. Terkait hal ini, kemampuan para line manager dalam menjalankan sistem penilaian akan ditingkatkan agar tercipta governance melalui fairness dalam penilaian kinerja. Selanjutnya, remunerasi pegawai ditetapkan dengan mempertimbangkan faktor internal yaitu kontribusi pegawai terhadap pencapaian strategi, maupun kesetaraan dengan pasar. Dengan demikian, pegawai dengan kinerja lebih tinggi akan berpeluang untuk mendapatkan reward yang lebih baik dan kesempatan pengembangan karir yang lebih luas. Di sisi lain, kesetaraan dengan pasar diharapkan akan mencegah SDM yang berkualitas dari kemungkinan berpindah kerja. 3) Sistem pemberhentian pegawai didasarkan pada prinsip keseimbangan antara kepentingan organisasi dan pegawai. Mengingat iklim PBC menuntut pegawai untuk selalu kompetitif dan kontributif, Bank Indonesia telah menempuh upaya coaching, counseling, dan pengembangan yang lebih terencana bagi pegawai yang kurang memiliki kontribusi dan kompetensi. Pemenuhan dan Pengembangan SDM Selama tahun 2008 telah dilaksanakan proses seleksi dan penerimaan pegawai baru di level staf sebanyak 182 orang, yang dilakukan melalui program Pendidikan Calon Pegawai Muda dan program Multi Level Entry. Selain itu juga telah dilaksanakan proses seleksi dan penerimaan pegawai di tingkat pelaksana sebanyak 111 orang yang sebagian besar akan ditempatkan di KBI sebagai pengawas BPR. Berbagai program pengembangan kompetensi SDM pada tahun 2008 telah dilakukan sesuai rencana, misalnya melalui rotasi antar sektor, assignment di lembaga luar Bank Indonesia, serta in-house training maupun training dan workshop di dalam dan luar negeri. Guna meningkatkan karakter leadership pegawai, pada tahun 2008 telah disusun pula konsep Grand Design Program Pengembangan Kepemimpinan Bank Indonesia. Kegiatan Program Pengembangan Kepemimpinan telah dilaksanakan terutama bagi pegawai yang mendapat promosi. Budaya Kerja Program pemantapan budaya kerja Bank Indonesia (Program Penyelarasan Kultur – PPK) ditujukan pada upaya internalisasi Nilai Strategis Bank Indonesia, yaitu Kompetensi - Integritas - Transparansi - Akuntabilitas – Kebersamaan (KITA-K). Pada awal tahun 2008, program ini difokuskan kepada salah satu nilai strategis yaitu integritas dan peningkatan kinerja yang terdiri dari stakeholder focus, inovasi dan manajemen kinerja.

2. Changes in staff performance assessments and remuneration to encourage greater motivation to produce quality products. Under the new system, staff performance is measured by Individual Performance Indicators (IKI) that must match the organizational strategy. The ability of line managers to make assessments will be improved so that governance is established through fair performance assessments. Staff remuneration is set considering internal factors such as staff contribution towards strategy achievement and market equality. Therefore, higher performing members of staff are more likely to benefit from greater rewards and wider career development opportunities. On the other side, market equality is expected to dissuade quality human resources from seeking job opportunities elsewhere.

3. Staff severance is based on a balance between the interests of the organization and the staff. The PBC climate demands that members of staff are always competitive and contribute positively, therefore, Bank Indonesia regularly holds coaching, counseling and development planning for staff not contributing optimally or those lacking competence. Employee Recruitment and Development In 2008, 182 new members of staff were selected and accepted through the Young Staff Candidate Education Program (PCPM) and Multilevel Entry Program. Furthermore, 111 managerial candidates were accepted in 2008, most of whom will be posted at KBI as rural bank supervisors.

Various human resource development programs were introduced as planned in 2008, such as through sectoral rotation, assignments at external institutions, in-house training as well as training and workshops in Indonesia and abroad. To improve staff leadership, 2008 witnessed the introduction of a conceptual grand design, namely the Bank Indonesia Leadership Development Program (LDP). LDP activity concentrated on members of staff that have been promoted.

Corporate Culture Bank Indonesia’s corporate culture program (Cultural Synchronization Program – PPK) is aimed to cultivate mindset of employees related to Bank Indonesia’s Strategic Values, namely Competency – Integrity – Transparency – Accountability – Cohesiveness (KITA-K). At the beginning of 2008, the program concentrated on integrity and improving performance, which comprised of a stakeholder focus, innovation and performance management.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

53

Program Pengembangan Kepemimpinan bertujuan menciptakan pimpinan Bank Indonesia masa depan. Leadership Development Program is aimed to create future leaders of Bank Indonesia.
Courtesy of Setia Boedi J. P

Penambahan program yang mengarah kepada manajemen kinerja dimaksudkan untuk mendukung program implementasi PBC yang telah digulirkan oleh Bank Indonesia. Selain telah dirancang dan dilaksanakan program internalisasi PBC yang lebih ditujukan untuk membentuk perilaku baru pegawai yang kompetitif, kontributif, dan mampu melakukan diferensiasi (membedakan kinerja, kompetensi, dan potensi pegawai secara signifikan). Melalui pelaksanaan PPK, seluruh satuan kerja berupaya menginternalisasikan nilai strategis yang yang ditetapkan dengan pemilihan program dan kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing satuan kerja. Untuk menunjang kegiatan PPK, dilakukan pula kegiatan sosialisasi, konsultasi, dan umpan balik kepada satuan kerja sehingga dapat segera diwujudkan tingkat kesiapan kultur pada level yang sesuai yaitu terwujudnya perilaku pegawai yang selaras dengan nilai strategis Bank Indonesia guna mendukung pencapaian kinerja organisasi yang tinggi dan berkelanjutan (Performance-Based Culture).

Supplemental programs that emphasize performance management were introduced to support the PBC program initiated by Bank Indonesia. A PBC internalization program was also introduced to nurture a change in staff behavior to be competitive, contributive and able to differentiate according to their performance, competency and potential.

Through PPK, all work units try to internalize their strategic values by choosing a program with activities tailored to the conditions and problems faced by each particular work unit. To support PPK activity, socialization, consultation and feedback to work units is provided so that a culture of readiness can be achieved, with the establishment of staff behavior that matches Bank Indonesia strategic values to support high and continuous organizational performance (Performance-Based Culture).

54

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Tanggung Jawab Sosial Bank Indonesia Bank Indonesia Social Responsibility

Bank Indonesia juga merupakan komponen masyarakat. Karenanya, tak cukup kiranya untuk hanya fokus pada tugas pokoknya sendiri. Kepedulian sosial tak boleh diabaikan, karena sukses yang berkelanjutan hanya terwujud jika kita maju bersama. As part of the society, it is insufficient for Bank Indonesia to merely focus on its own tasks. Social awareness must not be neglected, as perpetual success is only achievable should we proceed together.

Pintu Yang Senantiasa Terbuka Sebagai salah satu wujud pelaksanaan transparansi publik, Bank Indonesia membuka pintu untuk kunjungan studi dari berbagai kalangan masyarakat untuk mengenal lebih jauh tentang Bank Indonesia dan tugas-tugasnya. Peminat cukup mendaftar melalui form antrian yang dapat diakses di website Bank Indonesia (www.bi.go.id). Dalam tahun 2008, Bank Indonesia telah dikunjungi oleh 76 sekolah dan universitas dari berbagai daerah di Indonesia. Beragam pengunjung lainnya antara lain adalah Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, diplomat dari perwakilan negara-negara Asia Afrika, kalangan perbankan, Rumah Singgah Puspita dan Bankers Institute of Rural Development (BIRD) dari India dan Taiwan. Beranjak Menuju Masyarakat Desa Yang Mandiri Sebagai wujud kepedulian sosialnya, Bank Indonesia senantiasa aktif berpartisipasi dalam berbagai upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat desa dengan fokus pada pengembangan aspek ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan kesehatan. Hal ini dilakukan melalui

The Doors that Always Open As part of the public transparency program, Bank Indonesia always welcome study visits from all members of the public to become better acquainted with Bank Indonesia and its tasks. Interested visitor can register through Bank Indonesia’s website (www.bi.go.id)

In 2008, Bank Indonesia welcomed 76 schools and universities from various Provinces in Indonesia. Other visitors included the Indonesian Foreign Affairs Department, diplomats from Asia and African countries, banking community, the Puspita Foundation, Bankers Institute of Rural Development (BIRD) from India and Taiwan.

Towards an Independent Village Society As a form of social responsibility, Bank Indonesia actively participates in various efforts to improve the quality life of village society which focus on economy, education, environment and health. This is achieved through the establishment of physical and non-physical facilities to

Bank Indonesia senantiasa aktif berpartisipasi dalam berbagai upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat. Bank Indonesia continuously and actively participate in any efforts to improve the quality of life of the community.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

55

pembangunan sarana fisik maupun non-fisik agar desa dapat mengembangkan diri dan mampu menciptakan multiplier effect bagi pengembangan desa-desa lainnya. Inilah esensi dari Program Desa Kita, yang telah direalisasikan Bank Indonesia sejak tahun 2006. Selama kurun waktu tersebut, Bank Indonesia telah menjalankan Program Desa Kita di tujuh desa, dan dua diantaranya telah memasuki tahap akhir, yaitu Desa Mekarjaya di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat dan Dusun Manding di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Prinsip utama yang diemban dalam Program Desa Kita adalah tingginya keterlibatan masyarakat dan kesinambungan program. Oleh karena itu, menjelang berakhirnya Program Desa Kita

create an independent village and create multiplier effects for the future development of other villages. This is the essence of Our Village Program, implemented by Bank Indonesia since 2006.

During that period, Our Village program has been implemented in seven Villages, of which two of them have been reaching the final stage, namely Mekarjaya Village, Kuningan County, West Java and Manding Village in Bantul County, Yogyakarta. The main principle echoed on the program is widespread public involvement and program continuation. For that reason, at the nearly final of the program in the two villages mentioned, Bank Indonesia

Memanfaatkan Utilization

Mensosialisasikan / Menyebarkan Manfaat Socialize

Hasil - hasil Pengembangan Development Results

Memelihara Maintain

Mengelola Manage

di kedua desa tersebut, Bank Indonesia bersama masyarakat setempat tengah mempersiapkan diri guna memasuki periode phasing out. Dalam periode phasing out ini dilaksanakan serangkaian kegiatan untuk mempersiapkan serah terima hasil-hasil pengembangan dan memiliki fokus pada keberlanjutan dari pengembangan yang telah dilakukan. Rangkaian kegiatan dalam periode phasing out ini mengacu pada pedoman kunci keberlanjutan yang dirumuskan ke dalam 4-M, yaitu Memanfaatkan, Memelihara, Mengelola, dan Mensosialisasikan. Setitik Perhatian Bagi Sesama Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, Bank Indonesia sangat menyadari bahwa empati dengan sesama anggota masyarakat lainnya yang kekurangan ataupun tertimpa musibah adalah suatu keniscayaan. Sepanjang tahun 2008, Bank Indonesia telah mencoba untuk merealisasikan empati

along with local community had prepared to enter the phasing out period. The phasing out period includes a series of activities to prepare for the handover of development, which focuses on the continuation of such development. The activities included in the phasing out period are known collectively as the Four Ms, namely Memanfaatkan (Utilization), Memelihara (Maintain), Mengelola (Manage), and Mensosialisasikan (Socialize).

Caring for others As part of Indonesian society, Bank Indonesia is aware that empathy towards other society members, especially the under privileged, is a must. Entering 2008, Bank Indonesia

56

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Bank Indonesia menyadari bahwa empati terhadap sesama anggota masyarakat yang kekurangan adalah suatu keniscayaan. Bank Indonesia realizes that empathy towards the unprivileged class in the society is unquestionable.

tersebut dengan berbagai macam pemberian bantuan antara lain: 1) Bantuan akibat bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor di Jawa Tengah dan Jawa Timur, korban kebakaran di Kecamatan Grogol, dan recovery gedung UGM yang rusak akibat bencana puting beliung pada November 2008. 2) Bantuan sarana pendidikan kepada beberapa sekolah dan lembaga sosial di sekitar kompleks perkantoran Bank Indonesia Jakarta, terutama yang kondisinya masih memprihatinkan, misalnya Yayasan Nurani Insani, SDN 01/02/03 Kebon Kacang, SDN 04/09/10/11/13/14 Cideng, Yayasan Yatim Istaqim Mampang Prapatan. 3) Program Gerakan Sosial Anti Mubazir yang digerakkan oleh Ikatan Pegawai Bank Indonesia guna menyalurkan keinginan para pegawai untuk berbagi dengan sesama melalui pengumpulan barang-barang pribadi seperti pakaian, buku, obat dan lain-lain untuk disalurkan kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Program ini dimulai tahun 2008 dan mendapat sambutan yang sangat positif dari para pegawai Bank Indonesia. Memperhatikan proses dan hasil-hasil yang dicapai dalam pelaksanaan program kepedulian sosial Bank Indonesia termasuk program Desa Kita yang selama ini telah dilaksanakan, guna peningkatan aspek good governance baik atas prosedur pelaksanaan maupun pertanggungjawaban program yang dilaksanakan, Bank Indonesia sedang dalam proses penyempurnaan ketentuan formal Bank Indonesia Social Responsibility (BSR). Konsep ketentuan yang mengatur norma-norma pelaksanaan program BSR ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi pelaksanaan kegiatan sosial Bank Indonesia baik di Kantor Pusat maupun di KBI yang memenuhi aspek integrity, fairness, accountability dan transparency. Direncanakan pada tahun 2009, konsep ketentuan ini dapat diselesaikan.

tried to realize such compassion through various aid program including: 1. Natural disaster aid program for the victims of flooding and landslides in Central Java and East Java; fire victims in Grogol, and recovery program for Gajah Mada University building that was damaged by a windstorm in November 2008. 2. Education aid program to a number of schools and charities in the Bank Indonesia’s Jakarta office complex neighbouring area, especially those in disrepair such as Yayasan Nurani Insani, National Elementary School (SDN) 01/02/03 Kebon Kacang, SDN 04/09/10/11/13/14 Cideng, Istaqim Mampang Prapatan. 3. Anti waste social movement which is initiated by Bank Indonesia Employee Association (IPEBI) help Bank Indonesia’s staff who wishes to share with others who needed through the collection of personal belongings such as clothes, books, medicines and other useful things. The program started in 2008 received high response from Bank Indonesia staff.

Taking into account the processes and results achieved through Bank Indonesia’s Social Responsibility Programs, including Our Village Program, and in order to improve governance aspects on the implementation procedure and program accountability, Bank Indonesia is in the process of refining formal regulations to form Bank Indonesia Social Responsibility (BSR). The regulatory concept that governs the BSR program is expected to serve as guidelines for social activities at Head Office and KBI, meeting all aspects of integrity, fairness, accountability and transparency. The regulatory concept is planned to be finalized in 2009.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

57

58

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Menata Strategi ke depan dalam rangka Menggerakkan Ekonomi Nasional
Planning Future Strategy to Stimulate the Economy

Perekonomian Indonesia di tahun 2009 masih akan tumbuh meski melambat akibat dampak krisis global yang semakin terasa pada perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama bersumber dari konsumsi rumah tangga dan dukungan perbankan nasional. Dengan berbagai tantangan perekonomian di tahun 2009, Bank Indonesia menyadari pentingnya upaya yang terkoordinir antara Pemerintah, Bank Indonesia, dan berbagai elemen bangsa guna meminimalisir terjadinya guncangan pada perekonomian Indonesia, antara lain melalui penguatan ketahanan makroekonomi dan peningkatan daya saing. Indonesia Economy in 2009 will still grow, albeit in a slower pace, due to the mounting of global crises that pressured the domestic economy. Household consumption will be the primary resource of the economy growth, supported by the banking sector. Due to the economic challenges in 2009, Bank Indonesia realizes the importance of coordinated efforts between Bank Indonesia, the Government, and other various national elements in order to minimize the shock on the economy. The efforts include strengthening macroeconomic resilience and increase competitiveness.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

59

Prospek Perekonomian Indonesia dan Arah Kebijakan Bank Indonesia 2009 Indonesia Economy Outlook and Bank Indonesia Policy Direction 2009
Prospek Perekonomian Indonesia Tahun 2009 Kemampuan perekonomian Indonesia pada tahun 2009 diprakirakan masih tumbuh meskipun melambat yaitu berada pada kisaran 3,0-4,0%, akibat anjloknya kinerja ekspor yang pada akhirnya berdampak pada konsumsi dan investasi. Dari sisi domestik, keterbatasan pembiayaan juga menjadi faktor risiko yang perlu dicermati. Satu hal yang menjadi kelebihan dari perekonomian Indonesia adalah besarnya jumlah penduduk yang bisa menjadi pasar yang bisa menopang pertumbuhan ekonomi. Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2009 terutama akan berasal dari masih adanya permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga. Meski melambat, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih memiliki daya tahan terutama terkait dengan rencana Pemerintah memberikan tambahan stimulus fiskal pada 2009. Di samping itu, rencana Pemerintah untuk merealisasikan stimulus lebih awal, faktor Pemilu, dan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) diperkirakan juga akan menjadi faktor pendorong peningkatan konsumsi rumah tangga. Akibat gejolak eksternal yang masih terus berlangsung, kondisi Neraca Pembayaran Indonesia di tahun 2009 diperkirakan masih mengalami tekanan, meski tekanan tersebut cenderung menurun. Menurunnya kinerja ekspor di satu sisi, pada gilirannya juga akan disesuaikan dengan menurunnya kinerja impor sebagai akibat dari melemahnya permintaan agregat. Hal ini pada gilirannya berpotensi memperbaiki kinerja neraca transaksi berjalan pada 2009. Sementara itu, di tengah meningkatnya intensitas tekanan eksternal, kecenderungan penurunan harga komoditas di pasar internasional telah menurunkan tekanan inflasi di dalam negeri. Kecenderungan menurunnya harga komoditas internasional tersebut memberi kesempatan bagi Pemerintah untuk menurunkan harga-harga komoditas seperti BBM solar dan premium. Di samping itu, upaya pemerintah yang mampu menjaga pasokan bahan pangan di musim paceklik telah berhasil menjaga stabilitas harga pangan dan menurunkan tekanan inflasi dari sisi volatile food. Hal ini pada gilirannya membantu menurunnya ekspektasi inflasi masyarakat. Dengan perkembangan tersebut, tekanan inflasi IHK di tahun 2009 diperkirakan cenderung menurun, dengan kisaran 5,0-7,0%. Meski demikian, sisi risiko yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya tekanan inflasi di negara mitra dagang sebagai akibat stimulus dalam rangka penyelamatan sistem keuangan. Hal ini dikhawatirkan pada gilirannya dapat meningkatkan inflasi melalui impor (imported inflation). Indonesia Economy Outlook 2009 Indonesia economy is predicted to grow in 2009, albeit more slowly in the range of 3,0 – 4,0 %, due to declining of export performance that finally gave an impact to consumption and investment. From domestic perspective, limited funding will also be a noteworthy risk factor.

One advantage of the Indonesian economy is its large number of residents that represent a market capability of bolstering economic growth. Source of Indonesia economy growth during 2009 will stem primarily from domestic demand, especially household consumption. Despite a slowdown, household consumption estimated to remain resilient due to the Government plan to introduce a fiscal stimulus package in 2009. This, along with the General Election and hike in the Provincial Minimum Wages (UMP) predicted to be boost factors in increasing household consumption.

Due to ongoing external shock, Indonesia’s Balance of Payment in 2009 is predicted to suffer from intense pressures, despite a slight easing. Decreasing of export performance will lead to a drop in import performance as a consequences of weaker aggregate demand. This could, in turn, potentially resolve the current account performance in 2009.

Amid intensifying external pressures, the declining tendency of commodity prices on the international market has alleviated domestic inflationary pressures. Lower international commodity prices presented an opportunity for the Government to markdown commodity prices such as Diesel and Premium gasoline. Government efforts to maintain essential food supplies during times of scarcity before a harvest succeeded in preserving food price stability and eased inflationary pressures on volatile foods. This will subsequently help lower public expectations of inflation. Headline inflation in 2009 is expected to decline within the 5.0-7.0% corridor. However, vigilance is required of mounting inflationary pressures in trading partner countries, resulting from stimulus packages introduced to salvage the financial system. This could raise inflation through imports (imported inflation).

60

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Sementara itu, industri perbankan dalam tahun 2009 dihadapkan pada tantangan melambatnya pertumbuhan ekonomi domestik serta masih ketatnya likuditas di pasar global. Namun secara umum, perbankan nasional masih tetap memiliki daya tahan yang cukup baik, yang tercermin dari indikator utama perbankan yaitu CAR dan NPL. Dalam tahun 2009, rasio kecukupan modal (CAR) diperkirakan masih cukup tinggi dan berada di atas ketentuan batas minimal sebesar 8%. Dengan rasio modal yang cukup tinggi tersebut, perbankan nasional juga masih memiliki sumber dana yang cukup, baik yang berasal dari dana pihak ketiga maupun sumber lainnya, untuk mendukung eskpor dan tumbuhnya perekonomian. Arah Kebijakan Bank Indonesia Tahun 2009 Dari sisi moneter, Bank Indonesia akan berupaya mencegah pelemahan ekonomi lebih lanjut melalui kebijakan moneter yang kondusif bagi permintaan domestik, dengan tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka menengah panjang. Ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar masih terbuka terutama jika prospek inflasi tetap mengarah pada sasaran inflasi jangka menengah. Selanjutnya, Bank Indonesia akan meningkatkan komunikasi ke publik tentang arah kebijakannya dan mendorong bank besar untuk lebih berperan dalam mengerakkan suku bunga dana dan kredit. Terkait dengan upaya menjaga kestabilan nilai tukar, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai kebijakan agar volatilitas nilai tukar dapat diminimalkan. Selain itu, Bank Indonesia telah mengambil langkah lanjutan untuk menata kembali instrumen keuangan derivatif yang tidak didasari oleh kegiatan riil yang dapat menimbulkan tekanan terhadap rupiah. Di sisi perbankan, kebijakan Bank Indonesia diarahkan pada upaya menjaga ketahanan perbankan nasional dalam menghadapi krisis global, sekaligus menjadi stimulus

The banking industry in 2009 is faced with the challenge of a downturn in domestic economy growth and tight liquidity in the global market. In general, national banks have good resilience, reflected by their main indicators such as Capital Adequacy Ratio (CAR) and Non Performing Loans (NPL). In 2009, the capital adequacy ratio is expected to generously exceed the minimum limit of 8%. With such high CAR, national banks have access to adequate sources of funds, from deposits as well as other sources, to support export and economic growth.

Bank Indonesia Policy Direction 2009 In terms of monetary policy, Bank Indonesia will try to prevent further economic deterioration through monetary policy favorable to domestic demand and by committing to maintain economic stability in the mid-long term. Room for loosening monetary policy is still available, especially if inflation remains within the mid-term inflation corridor. Bank Indonesia will strive to improve communication to the public regarding its policy direction and encourage top tier banks to play a key role as market leaders in motoring lending and savings rates.

To preserve exchange rate stability, Bank Indonesia will optimize various policies to minimize exchange rate volatility. Bank Indonesia has also instituted additional measures to reorganize derivative financial instruments not based on real activity that can pressurize the rupiah value.

In terms of banking system policy, Bank Indonesia’s policy is designed to buttress national bank resilience in the face of the global crisis, as well as stimulate economic growth.

Kebijakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan ketahanan makroekonomi dan mendukung peningkatan daya saing. Bank Indonesia policy is structured to strengthen macroeconomic resilience and increase competitiveness.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

61

pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, Bank Indonesia akan meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait seperti LPS serta menerbitkan regulasi yang memberikan ruang gerak bagi penyaluran kredit perbankan meski tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan menjaga stabilitas perekonomian dalam jangka menengah. Upaya pelonggaran diberikan kepada sektor-sektor usaha yang memiliki risiko kecil namun berdampak luas bagi kehidupan masyarakat, seperti sektor UMKM. Selain itu, untuk memperkuat sistem perbankan nasional, Bank Indonesia akan menempuh beberapa kebijakan yaitu memperpanjang masa transisi penerapan risiko operasional dalam pehitungan kecukupan modal dalam rangka Basel II, meningkatkan transparansi kondisi keuangan Bank dan laporan keuangan Bank, serta memperkuat manajemen risiko bank. Kebijakan-kebijakan ini akan didukung dengan upaya peningkatan efektivitas pengawasan bank melalui penguatan kompetensi pengawas, penyempurnaan pengawasan berbasis risiko, serta penyempurnaan fungsi dan organisasi pengawasan di Kantor Pusat maupun KBI. Di bidang sistem pembayaran nasional, kebijakan Bank Indonesia tetap diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan instrumen dan layanan jasa pembayaran, mendukung efektivitas kebijakan moneter dan perbankan, serta menjaga stabilitas sistem keuangan. Salah satu Inisiatif strategis di bidang ini adalah pengembangan Sistem BIRTGS dan BI-SSSS Generasi II untuk meningkatkan efisiensi dan kehandalan sistem. Di sisi pengedaran uang, kebijakan tetap mengacu pada tiga pilar yaitu meningkatkan pengedaran uang yang aman, handal dan efisien, meningkatkan layanan kas prima serta meningkatkan kualitas uang termasuk optimalisasi clean money policy. Semua upaya tersebut didukung oleh upaya penguatan good governance serta efisiensi penggunaan anggaran operasional, terutama dengan cara pengetatan plafon anggaran dan penciptaan perilaku sadar biaya. Di sisi organisasi dan SDM, di tahun 2009 akan dilanjutkan kembali finalisasi konsep organisasi Bank Indonesia yang optimal, penataan kembali SDM dalam hal kualitas, kuantitas, dan ketepatan penempatan, serta penyelarasan antara strategi Bank Indonesia dengan indikator kinerja tiap individu.

To this end, Bank Indonesia will improve coordination among related institutions such as Deposit Insurance Agency (LPS) as well as promulgate regulations that provide space for bank credit extension while complying with prudential principles and maintaining economic stability in the mid term. Efforts will be taken to loosen business sectors with small risk but that have wide-reaching effects on public life, such as the MSM sector. To reinforce the national banking system, Bank Indonesia will introduce several new policies, namely extending the transition period for operational risk in calculating capital adequacy for Basel II, improving transparency of a bank’s financial conditions and financial report, and strengthening bank risk management. These policies will be further supported by improvements to bank supervision effectiveness through greater supervisor competence, better risk-based supervision, and refining the function and organization of supervision at the Head Office and KBI.

In terms of the national payment system, Bank Indonesia policy is still directed to meet the public requirement for instruments and payment services, support monetary as well as banking policy effectiveness, and maintain financial system stability. One of the strategic initiatives in this field is the development of BI-RTGS and BI-SSSS Generation II system to improve system efficiency and reliability. Regarding money supply, policy will continue to refer to the three pillars: a secure, reliable and efficient money supply, improve prime cash services, and upgrade money quality including optimizing clean money policy.

All endeavors are supported by efforts to strengthen good governance and budget efficiency, especially by tightening budget caps and nurturing of cost aware behavior. In terms of the organization and human resources, in 2009 Bank Indonesia’s will continue to finalize its organizational concept, human resources will be reorganized based on quality, quantity and placement accuracy, and Bank Indonesia’s strategy will be synchronized with performance indicators for each individual.

62

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Strategy Map Bank Indonesia 2009

Stakeholders Expectation

SS 1. Maintained Monetary Stability

SS 2. Maintained Banking and Financial System Stability

Key Business Processes
SS 3. Manage Monetary Policy Effectively
Steer inflation expectation

SS 4. Strengthen the Stability of Banking and Financial System
Surveillance of Banking and financial system stability

SS 5. Maintain the Reliability of Payment System and Money Circulation

Financial
SS 6. Manage Budget in Accountable Manner

Strengthen policy communication & coordination Optimize monetary operation according to best practices Increase the quality of research analysis, accuracy of data

Strengthen prudential banking regulation and bank supervision

Improve implementation & oversight of payment system

Increase effectiveness and efficiency of budget utilization

Develop sharia banking and strengthen rural banking

Improve the ability of currency fit for circulation

Optimize the return from foreign reserve and other assets

Human Resources, Governance and Information Management
SS 7. Strengthen Organization to Support the Implementation of BI Strategy SS 8. Develop Employee Competency and Leadership SS 9. Improve Good Governance Implementation SS 10. Strengthen the Technology and Information System Support

Catatan : Peta Strategi memperlihatkan hubungan kausal antara berbagai sasaran strategis Note : Strategy Map showing interrelation among strategic objectives

Bank Indonesia 2008 Annual Report

63

Informasi Tambahan
Additional Information

64

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Daftar Singkatan
Abbreviations

APBN APEC API ARA ASEAN ATM BBM BICAC BIG-eB BI-SSSS BIRD BI-RTGS BI-SOSA

BIT BLT BPR BSBI BSR BPK-RI

CEMLA

CMI CSR

: Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara (State Budget) : Asia-Pacific Economic Cooperation : Arsitektur Perbankan Indonesia (The Indonesian Banking Architecture/IBA) : Annual Report Award : Associaton of Southeast Asian Nations : Anjungan Tunai Mandiri (Automatic Teller Machine) : Bahan Bakar Minyak (fuel/oil) : Bank Indonesia Counterfiet Analysis Center : Bank Indonesia Government – Electronic Banking : Bank Indonesia – Scripless Securities Settlement System : Bankers Institute for Rural Development : Bank Indonesia - Real Time Gross Settlement : Bank Indonesia - Sentralisasi Otomasi Sistem Akunting (Bank Indonesia – Automated Centralized Accounting System) : Bilateral Investment Treaty : Bantuan Langsung Tunai (Direct Cash Transfer for the Poors) : Bank Perkreditan Rakyat (Rural Bank) : Badan Supervisi Bank Indonesia (Bank Indonesia Supervisory Body) : Bank Indonesia Social Responsibility : Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (Supreme Audit Board of the Republic of Indonesia) : Centre for Latin American Studies (regional association of Latin American and Caribbean central banks) : Chiang Mai Initiative : Corporate Social Responsibility

DIBI DPK DPR-RI

EMEAP FIPPA FLI Forstra FPD FPJP FSSK FTA GCG GWM Himbara iB IHSG IJEPA IMF IRU ISO ITF ISK

: Data Informasi Bisnis Indonesia (Indonesia Business Information Database) : Dana Pihak Ketiga (Deposits) : Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (House of Representatives of the Republic of Indonesia) : Executives’ Meeting of East Asia and Pacific Central Banks : Foreign Investment Promotion and Protection Agreement : Fasilitas Likuiditas Intrahari (Intraday Funding Facility) : Forum Strategis (Strategic Forum) : Fasilitas Pembiayaan Darurat (Emergency Funding Facility) : Fasiltias Pembiayaan Jangka Pendek (Short Term Funding Facility) : Forum Stabilitas Sistem Keuangan (Financial System Stability Forum) : Free Trade Agreement : Good Corporate Governance : Giro Wajib Minimum (Reserve Requirement) : Himpunan Bank Negara (The Association of State Banks) : Islamic Banking : Indeks Harga Saham Gabungan (Composite Stock Price Index) : Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement : International Monetary Fund : Investor Relation Unit : International Organization for Standardization : Inflation Targeting Framework : Indeks Stabiltias Keuangan (Financial Stability Indeks/FSI)

Bank Indonesia 2008 Annual Report

65

JPSK KBI KNKG KPMM KPK KPw KYC KUPU KUR LPS MEA NPL OPT OPT PPK PBC Perbanas Perppu

Pilkada PSAK

: Jaring Pengaman Sistem Keuangan (Financial System Safety Net) : Kantor Bank Indonesia (Bank Indonesia Regional Office) : Komite Nasional Kebijakan Governance (National Committee on Governance) : Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (Minimum Capital Requirement) : Komisi Pemberantasan Korupsi (Corruption Eradication Commission) : Kantor Perwakilan (Bank Indonesia Representative Office) : Know Your Customer : Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (Money Remittance) : Kredit Usaha Rakyat (Micro Credit) : Lembaga Penjamin Simpanan (Indonesia Deposit Insurance Corporation) : Masyakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC) : Non-Performing Loans : Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation/ OMO) : Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation/ OMO) : Program Penyelarasan Kultur (Organization Culture Alignment Program) : Budaya berbasis kinerja (Performance Based Culture) : Persatuan Perbankan Nasional (The National Banks Association) : Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (Government Regulation in Leiu of Law) : Pemilihan Kepala Daerah (Election of the heads of local government) : Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (Statement of Financial Accounting Standards)

PUAB

: Pasar Uang Antar Bank (Interbank Money Market) RDG : Rapat Dewan Gubernur (The Board of Governors’ Meeting) SBI : Sertifikat Bank Indonesia (Bank Indonesia Certificate) SDM : Sumber Daya Manusia (Human Resources) SDN : Sekolah Dasar Negeri (State Elementary School) SEACEN : South East Asian Central Banks SEANZA : South East Asia, New Zealand, Australia central banks group SEAVG : South East Asia Voting Group SKNBI : Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (The National Clearing System) SPAMK : Sistem Perencanaan, Anggaran, dan Manajemen Kinerja (Planning, Budgeting, and Performance Management System/PBPM System) SRO : Self Regulating Organization SSB : Surat-Surat Berharga (securities) SU : Surat Utang (Short Term Government Bonds) SUN : Surat Utang Negara (Government Bonds) TKM : Tinjauan Kebijakan Moneter (Monetary Policy Review) TPPU : Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) UMKM : Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (Micro, Small, and Medium Enterprise / MSME) USD CHATS : United States Dollars Clearing House Automated Transfer System UU : Undang-Undang (Act) UUS : Unit Usaha Syariah (Shariah Business Unit / SBU) WG : Working Group WEB : Wesel Ekspor Berjangka YPPI : Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (the Indonesian Banking Development Foundation’s)

66

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Daftar Istilah
Glossary

Inflation Targeting Framework (ITF) Kerangka kerja kebijakan moneter yang secara transparan dan konsisten diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi beberapa tahun ke depan yang secara eksplisit ditetapkan dan diumumkan. BI Rate Suku bunga referensi yang diumumkan oleh Bank Indonesia secara periodik untuk jangka waktu tertentu, yang berfungsi sebagai sinyal kebijakan moneter. Operasi Pasar Terbuka (OPT) Kegiatan transaksi di pasar uang yang dilakukan Bank Indonesia dengan bank dan pihak lain dalam rangka pengendalian moneter. Pasar Uang Antar Bank Over Night (PUAB O/N) Kegiatan pinjam meminjam dalam rupiah dan/atau valuta asing antar Bank konvensional dengan jangka waktu satu hari (overnight). Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Over Night (FASBI O/N) Fasilitas yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada Bank untuk menempatkan dananya di Bank Indonesia dengan jangka waktu satu hari. Suku bunga FASBI O/N selama ini dimanfaatkan sebagai batas bawah pergerakan suku bunga Pasar Uang Antar Bank overnight (PUAB O/N). Sertifikat Bank Indonesia Repurchase Agreement (SBI Repo) Transaksi penjualan bersyarat SBI oleh Bank kepada Bank Indonesia dengan kewajiban pembelian kembali sesuai harga dan jangka waktu yang disepakati. Suku bunga SBI Repo selama ini menjadi batas atas pergerakan suku bunga Pasar Uang Antar Bank overnight PUAB O/N. Layanan Syariah Kegiatan penghimpunan dana, pembiayaan dan pemberian jasa perbankan lainnya berdasarkan prinsip syariah yang dilakukan di Kantor Cabang dan atau di Kantor Cabang Pembantu, untuk dan atas nama Kantor Cabang Syairah pada Bank yang sama. Sistem Bank Indonesia – Real Time Gross Settlement (Sistem BI-RTGS) Sistem transfer dana elektronik antar peserta sistem BI-RTGS dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan seketika per transaksi secara individual.

Inflation Targeting Framework (ITF) Monetary policy framework that is transparently and consistently aimed toward achieving a medium-long term inflation target as it had been explicitly stated and announced to the public. BI Rate Reference rate announced periodically to the public by Bank Indonesia for a certain period of time as a signal of monetary policy stance. Open Market Operation (OMO): Money market transactions conducted by Bank Indonesia with banks and other parties in the framework of monetary control. Interbank Money Market Over Night Lending and borrowing activities using electronic communication networks between banks in rupiah and/or foreign currencies for one day period of time (overnight). Bank Indonesia Deposit Facility Over Night Deposit funds facility provided by Bank Indonesia for banks for one day period of time (overnight). The rate indicates the floor (lower limit) of the Overnight Interbank Money Market rate.

Sertifikat Bank Indonesia Repurchase Agreement (SBI Repo) Transactions whereby banks sell SBI to Bank Indonesia and agree to repurchase the SBI at the predetermined rate (repo rate) and time. The repo rate indicates the ceiling (upper limit) of the Overnight Interbank Money Market rate.

Office Channeling Activities in funding, financing and providing other shariah banking services by a branch office for and on behalf of other shariah branch office in the same bank.

Sistem Bank Indonesia – Real Time Gross Settlement (Sistem BI-RTGS) Electronic fund transfer system in rupiah terms used among participants of the BI-RTGS system that facilitate the settlement of transactions in real-time and individually.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

67

Sistem Kliring Nasional – Bank Indonesia (SKN BI) Sistem kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional. Bank Indonesia – Scriptless Securities Settlement System (BI-SSSS) Sarana transaksi dengan Bank Indonesia termasuk penatausahaannya dan penatausahaan surat berharga secara elektronik dan terhubung langsung antara peserta, penyelenggara dan BI-RTGS. Mekanisme No Money No Game Suatu mekanisme dimana penyelesaian transaksi oleh pengirim baru dapat dijalankan dalam Sistem Pembayaran apabila tersedia dana yang cukup untuk membayarkan seluruh kewajiban terhadap penerima. Gridlock Suatu kondisi dalam Sistem Pembayaran dimana sistem tidak berhenti melakukan proses penyelesaian setelmen karena terdapat saling ketergantungan kebutuhan dana (likuiditas) antar peserta. Pada sistem BI-RTGS terdapat mekanisme secara sistem untuk menyelesaikan kondisi gridlock ini sampai seluruh transaksi berhasil diselesaikan setelmennya. Interoperability Suatu kondisi dimana dua atau lebih perusahaan switching kartu ATM atau kartu debit dapat saling bertukar informasi atau jasa secara langsung dan memuaskan dan menggunakan informasi atau jasa tersebut untuk bekerja lebih efektif bersama. Sistem Perencanaan, Anggaran, dan Manajemen Kinerja (SPAMK) Sistem yang diterapkan di Bank Indonesia yang mengintegrasikan sistem perencanaan dengan anggaran dan manajemen kinerja, dengan menggunakan konsep Balanced Scorecard. Strategy Map Interelasi antara pengukuran-pengukuran yang terkait satu sama lain dalam hubungan sebab-akibat, yang menggambarkan strategi organisasi Bank Indonesia. Jaring Pengaman Sistem Keuangan Mekanisme koordinasi dan pengambilan keputusan antar lembaga terkait dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis secara terpadu, efektif dan efisien. Balanced Scorecard Kerangka untuk menggambarkan dan menerjemahkan strategi melalui ukuran kinerja di empat perspektif yang saling terkait: Stakeholder, Proses Kerja, Keuangan, dan Pembelajaran dan Pengembangan.

Bank Indonesia National Clearing System Clearing system managed by Bank Indonesia consisting of debit and credit clearing, that will be settled nationally of transactions in real-time and individually. Bank Indonesia – Scriptless Securities Settlement System (BI-SSSS) Electronic transaction system for securities managed and administered by Bank Indonesia that link all participants, operators and BI-RTGS system.

No Money No Game Mechanism A mechanism to avoid failure in the Payment System which enforce participant to provide sufficient prefund for transaction settlement.

Gridlock A condition where the system can not complete the settlement processes due to interlocking fund among participants of the Payment System. BI-RTGS system has a built-in mechanism to settle the gridlock until all transactions are cleared.

Interoperability The ability of two or more switching systems of ATM cards or debit cards to exchange information or services directly and satisfactorily between them and to use the information or services exchanged to enable them to operate effectively together. Planning, Budgeting and Performance Management (PBPM) System Management system implemented in Bank Indonesia that integrate planning with budgeting and performance management system using Balanced Scorecard concept.

Strategy Map Interrelated measures that are weaved together in a causeand-effect relationship that describe Bank Indonesia strategy. Financial System Safety Net A coordination and decision-making mechanism among authorized institutions that aimed to prevent and resolve crisis in an integrated, effective and efficient manner. Balanced Scorecard An integrated framework for describing and translating strategy through the use of linked performance measures in four balanced perspectives: Stakeholder, Internal Process, Financial, and Learning and Growth (Paul Niven, “Balanced Scorecard: Step-by-step for Government and Nonprofit Agencies”).

68

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Daftar Kontak
Contact Lists

Kantor Pusat / Head Office Jl. M. H. Thamrin No.2, Jakarta 10350 Website : www.bi.go.id e-mail : humasbi@bi.go.id Telp. : 381 7187, 381 7317 Fax. : 350 1867 Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Directorate of Economic Research and Monetary Policy Telp. : 350 1869, 381 8190 Fax. : 380 0394 Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Directorate of Economic and Monetary Statistics Telp. : 345 2913, 381 8633 Fax. : 350 1952 Direktorat Pengelolaan Moneter Directorate of Monetary Management Telp. : 231 1956, 381 8332 Fax. : 231 1462 Direktorat Pengelolaan Devisa Directorate of Reserve Management Telp. : 231 0755, 381 8100 Fax. : 350 1871 Direktorat Internasional Directorate of International Telp. : 231 0195, 381 8261 Fax. : 231 1529 Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Directorate of Banking Research and Regulation Telp. : 231 0993, 381 7726 Fax. : 231 1672 Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan Directorate of Bank Licencing and Banking Information Telp. : 350 2003, 381 8009 Fax. : 386 6029 Direktorat Pengawasan Bank 1 Directorate of Bank Supervision 1 Telp. : 348 30117, 381 8469 Fax. : 350 1976 Direktorat Pengawasan Bank 2 Directorate of Bank Supervision 2 Telp. : 386 4970, 381 7372 Fax. : 386 4971 Direktorat Pengawasan Bank 3 Directorate of Bank Supervision 3 Telp. : 350 1961, 381 7046 Fax. : 350 1890

Direktorat Kredit, BPR dan UKM Directorate of Credit, Rural Bank and SMEs Telp. : 381 7525, 231 1832 Fax. : 231 1237 Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan Directorate of Banking Investigation and Mediation Telp. : 231 0419, 381 7170 Fax. : 350 1918 Direktorat Perbankan Syariah Directorate of Islamic Banking Telp. : 344 0472, 381 7513 Fax. : 350 1989 Direktorat Pengedaran Uang Directorate of Currency Circulation Telp. : 231 0133, 381 7682 Fax. : 386 6630 Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Directorate of Accounting and Payment System Telp. : 386 4977, 381 7905 Fax. : 348 30156 Direktorat Logistik dan Pengamanan Directorate of Logistic and Security Telp. : 231 1872, 381 7706 Fax. : 231 1251 Direktorat Teknologi Informasi Directorate of Information Technology Telp. : 348 30161, 381 7619 Fax. : 386 6072 Direktorat Sumber Daya Manusia Directorate of Human Resources Telp. : 231 1795, 381 7760 Fax. : 231 0174 Direktorat Keuangan Intern Directorate of Internal Financial Management Telp. : 348 30118, 381 7603 Fax. : 231 0662 Direktorat Hukum Directorate of Legal Affairs Telp. : 231 1423, 381 7861 Fax. : 350 1835 Direktorat Pengawasan Intern Directorate of Internal Audit Telp. : 231 0163, 381 7472 Fax. : 384 1507 Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Office of The Governor Telp. : 386 4981, 381 7315 Fax. : 386 6281

Biro Sekertariat Office of The Secretariat Telp. : 350 1853, 381 7117 Fax. : 231 0592 Unit Khusus Manajemen Informasi Special Unit for Information Management Telp. : 350 1854, 381 7053 Fax. : 348 30166 Unit Khusus Museum Bank Indonesia Special Unit for Bank Indonesia Museum Telp. : 231 1371, 381 7604 Fax. : 386 4935 Unit Khusus Penyelesaian Aset Special Unit for Asset Settlement Telp. : 386 6348, 381 6957 Fax. : 386 6546 Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Centre of Education and Central Banking Studies Telp. : 350 1911, 381 7321 Fax. : 350 1912 Kantor Bank Indonesia / Regional Office AMBON Jl. Raya Pattimura No.7, Ambon Telp. : (0911) 352 761, 352 762, 352 763, 351 423, 352 695 Fax. : (0911) 356 517 BALIKPAPAN Jl. Jenderal Sudirman No. 20, Balikpapan 76111 Telp. : (0542) 411 350, 733 782, 411 355, 411 356 Fax. : (0542) 411 354 BANDA ACEH Jl. Jenderal Sudirman No.82, Banda Aceh Telp. : (0651) 42981, 42961 Fax. : (0651) 41928, 45247 BANDAR LAMPUNG Jl. Hasanuddin No.38, Bandar Lampung 35211 Telp. : (0721) 486 355, 486 659, 489 611, 487 775, 488 303 Fax. : (0721) 481 131 BANDUNG Jl. Braga No.108, Bandung 40111 Telp. : (022) 423 5505, 423 0223, 423 0224, 423 0227 Fax. : (022) 423 7787 BANJARMASIN Jl. Lambung Mangkurat No.15, Banjarmasin 70111 Telp. : (0511) 335 2027, 436 8182, 436 6031, 436 8183 Fax. : (0511) 335 4678

Bank Indonesia 2008 Annual Report

69

BATAM Jl. Engku Putri Batam Centre, Batam 29432 Telp. : (0778) 462 280, 462 253 Fax. : (0778) 462 254 BENGKULU Jl. Jenderal Ahmad Yani No.1, Bengkulu 38116 Telp. : (0736) 21734, 21735 Fax. : (0736) 21736 CIREBON Jl. Yos Sudarso No.5-7, Cirebon Telp. : (0231) 202 684, 202 685, 202 689, 205 044 Fax. : (0231) 209 135 DENPASAR Jl. Letda Tantular No.4 Renon, Denpasar 80234 Telp. : (0361) 221 199, 248 982 Fax. : (0361) 248 993, 222 988 GORONTALO Jl. D.I. Panjaitan No. 35, Gorontalo Telp. : (0435) 824 444 Fax. : (0435) 827 993 JAMBI Jl. Jenderal Ahmad Yani No.14 Telanaipura, Jambi 36122 Telp. : (0741) 62277, 62445, 62578, 63354, 63353 Fax. : (0741) 62112 JAYAPURA Jl. Dr. Sam Ratulangi No.9, Jayapura Telp. : (0967) 534 581, 534 930, 522 935, 533 266 Fax. : (0967) 535 201 JEMBER Jl. Gajah Mada No.224, Jember 62133 Telp. : (0331) 485 478, 487 081, 484 487 Fax. : (0331) 487 081 KEDIRI Jl. Brawijaya No.2, Kediri Telp. : (0354) 681 559, 682 112 Fax. : (0354) 682 951 KENDARI Jl. Sultan Hasanuddin No.150, Kendari 93122 Telp. : (0401) 321 878, 321 879, 321 655, 322 717 Fax. : (0401) 322 718 KUPANG Jl. Tom Pello No.2, Kupang Telp. : (0380) 832 047, 832 931, 832 364, 827 916, 833 085 Fax. : (0380) 822 103 LHOKSEUMAWE Jl. Merdeka No.1, Lhokseumawe 24321 Telp. : (0645) 43369, 44000 Fax. : (0645) 43581 MAKASSAR Jl. Jenderal Sudirman No.3, Makassar Telp. : (0411) 315 188, 315 189 Fax. : (0411) 315 170 MALANG Jl. Merdeka Utara No.7, Malang Telp. : (0341) 362 060, 366 054 Fax. : (0341) 324 820

MATARAM Jl. Pejanggik No.2, Mataram 83126 Telp. : (0370) 623 600, 633 796, 635 131, 635 132 Fax. : (0370) 631 793, 639 123 MEDAN Jl. Balai Kota No.4, Medan Telp. : (061) 452 0800, 415 0500 Fax. : (061) 415 2777, 453 6777 MENADO Jl. 17 Agustus No.56, Menado Telp. : (0431) 868 102, 868 103, 827 106, 868 720 Fax. : (0431) 866 933 PADANG Jl. Jenderal Sudirman No.22, Padang Telp. : (0751) 25409, 31700, 31702, 31703, 30378, 30379, 39109 Fax. : (0751) 27313 PALANGKARAYA Jl. Dipenogoro No.17, Palangka Raya 73111 Telp. : (0536) 322 2007, 322 2500, 322 1133, 322 0742 Fax. : (0536) 322 3855 PALEMBANG Jl. Jenderal Sudirman No.510, Palembang Telp. : (0711) 352 126, 352 156, 354 258, 352 864, 313 172 Fax. : (0711) 312 013 PALU Jl. Sam Ratulangi No.23, Palu Telp. : (0451) 421 181, 423 484, 429 179 Fax. : (0451) 421 180 PEKANBARU Jl. Jenderal Sudirman No.464, Pekanbaru Telp. : (0761) 31055, 31098, 31010, 32000, 31689, 31226 Fax. : (0761) 31046 PEMATANG SIANTAR Jl. H. Adam Malik No. 1, Pematang Siantar Telp. : (062) 226 999 Fax. : (062) 221 555 PONTIANAK Jl. Rahadi Usman No.3, Pontianak 78111 Telp. : (0561) 734 134, 734 018, 768 569, 768 571, 736 637 Fax. : (0561) 732 033 PURWOKERTO Jl. Jend. Gatot Subroto No.98, Purwokerto 53116 Telp. : (0281) 631 632, 631 635, 631 630 Fax. : (0281) 636 201 SAMARINDA Jl. Gajah Mada No.1, Samarinda 75122 Telp. : (0541) 741 023, 741 375, 741 022, 749 269 Fax. : (0541) 732 644 SEMARANG Jl. Imam Bardjo SH No.4, Semarang Telp. : (024) 831 0246, 831 0265, 831 0257 Fax. : (024) 831 0339

SERANG Jl. Jusuf Martadilaga No. 12, Serang, Banten Telp. : (0254) 223 788 Fax. : (0254) 223 875 SIBOLGA Jl. Kapten Maruli Sitorus No.8, Sibolga 22513 Telp. : (0631) 22033, 328 925 Fax. : (0631) 22383 SOLO Jl. Jenderal Sudirman No.4, Solo 57111 Telp. : (0271) 647 755, 641 837, 646 314 Fax. : (0271) 647 132 SURABAYA Jl. Pahlawan No.105, Surabaya Telp. : (031) 352 0011, 352 4708 Fax. : (031) 352 0025 TASIMALAYA Jl. Sutisna Senjaya No.19, Tasikmalaya 46112 Telp. : (0265) 331 811, 331 813, 335 040, 335 044 Fax. : (0265) 333 528 TEGAL Jl. Dr. Sutomo No. 55, Tegal Telp. : (0283) 350 500 Fax. : (0283) 356 560 TERNATE Jl. Jos Sudarso, Ternate Telp. : (0921) 21217, 21218, 21983, 21219 Fax. : (0921)24017 YOGYAKARTA Jl. Panembahan Senopati No.4-6, Yogyakarta 55121 Telp. : (0274) 377 286, 377 755, 371 766 Fax. : (0274) 371 707 Kantor Perwakilan Bank Indonesia/ Representative Office NEW YORK One Liberty Plaza 165 Brodway, 31st Floor New York, N. Y. 10006 Telp. : (212) 732 1958/59, 732 4011, 732 0467 Fax. : (212) 732 4003 LONDON 10 City Road, London EC 1Y 2EH Telp. : (44-20) 7638 9043, 7638 2408 Fax. : (44-20) 7374 2051 TOKYO New Kokusai Building Room 906 No.4-1, Marunouchi 3-chome Chiyoda-ku Tokyo 100-0005 Japan Telp. : (03) 3201 2148, 3271 3415, 3271 3416, 3271 3417 Fax. : (03) 3285 0783 SINGAPORE 11 Collyer Quay #08-01 The Arcade, Singapore 049317 Telp. : (065) 6223 2700, 6223 2701, 6224 5806 Fax. : (065) 6224 4290

70

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Laporan Auditor Independen Independent Auditor’s Report

Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia 2008

Annual Financial Statements Bank Indonesia 2008

Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia The Supreme Audit Board Republic of Indonesia

Bank Indonesia 2008 Annual Report

71

72

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersama ini kami sampaikan Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2008 yang telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI). Laporan Keuangan ini terdiri dari Neraca per 31 Desember 2008, Laporan Surplus Defisit, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas, masing-masing untuk periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2008, berikut Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2008 ini memperoleh Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK-RI. Perolehan pendapat tersebut secara berturut-turut dalam kurun waktu 6 (enam) tahun terakhir ini merupakan sebuah pencapaian yang membesarkan hati dan mencerminkan komitmen Bank Indonesia untuk senantiasa transparan dan akuntabel, dalam kerangka perwujudan tata kelola yang baik (good governance). Pada gilirannya, hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan para stakeholders, sehingga Bank Indonesia dapat melaksanakan tugas di masa yang akan datang dengan lebih baik. Sesuai hasil pemeriksaan BPK-RI atas Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2008, rasio modal terhadap kewajiban moneter Bank Indonesia adalah sebesar 10,38%. Sementara itu, berdasarkan UndangUndang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009, Surplus Bank Indonesia dibagi sebesar 30% untuk Cadangan Tujuan (selama penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia belum berakhir Cadangan Tujuan ditetapkan sebesar 10%) dan sisanya dipupuk sebagai Cadangan Umum sehingga jumlah modal dan Cadangan Umum menjadi 10% dari kewajiban moneter. Dengan demikian, terdapat kelebihan surplus yang menjadi bagian Pemerintah sebesar 0,38% dari kewajiban moneter Bank Indonesia atau sebesar Rp2.646 miliar. Berdasarkan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah dan Bank Indonesia tanggal 27 November 2006, sisa surplus tersebut akan digunakan untuk mengangsur pokok Obligasi Negara No.SRBI-01/MK/2003. Dengan angsuran tersebut, hingga saat ini telah dilakukan tiga kali angsuran pokok Obligasi Negara No.SRBI01/MK/2003 melalui cara pelunasan yang bersumber dari surplus Bank Indonesia. Pada kesempatan ini, perkenankan pula Dewan Gubernur Bank Indonesia menyampaikan terima kasih kepada BPK-RI atas saran dan masukannya bagi perbaikan pelaksanaan tugas yang terus menerus di Bank Indonesia. Selanjutnya, terima kasih dan penghargaan juga kami sampaikan kepada para pimpinan Satuan Kerja dan seluruh jajaran Bank Indonesia, yang telah menunjukkan kesungguhan, komitmen, dan kerjasama yang baik dalam melaksanakan tugas masing-masing serta dalam menindaklanjuti setiap saran dan masukan dari BPK-RI, sehingga Bank Indonesia dapat mempertahankan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian. Disamping dalam bentuk buku Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2008, laporan keuangan ini dipublikasikan pula melalui situs resmi Bank Indonesia (http://www.bi.go.id), dan sebagai bagian dari buku Laporan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2008. Akhir kata, semoga laporan keuangan ini dapat menjadi referensi yang dapat memberi manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat.

PREFACE With praise to the Almighty God, herewith we present the Annual Financial Statements of Bank Indonesia for the year 2008, which had been audited by the Supreme Audit Board of the Republic of Indonesia (BPK-RI). The Financial Statements include the Balance Sheet as at December 31, 2008, as well as the Statement of Surplus Deficit, Changes in Equity, and Cash Flow, for the period of January 1 to December 31, 2008 along with Notes to the Financial Statements. This Annual Financial Statements of Bank Indonesia for the year 2008 has obtained Unqualified Opinion from BPK-RI. This achievement, which is the sixth for six consecutive years, is an achievement that we can be proud of and shows Bank Indonesia’s commitment to promote transparency and accountability in the hope of achieving good governance. In turn, we hope this will increase stakeholders’ trust, therefore Bank Indonesia can perform its future duties better.

According to BPK-RI’s audit on the Annual Financial Statements of Bank Indonesia for the year 2008, the ratio of capital to monetary liabilities is 10.38%. On the other hand, as stated in Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 6 of 2009, the surplus of Bank Indonesia shall be distributed 30% for Statutory Reserves (as long as the settlement of BLBI has not been completed, the Statutory Reserves shall be set at 10%) and the remainder shall be reinvested as General Reserves so that the sum of capital and General Reserves becomes 10% of the monetary liabilities. Therefore, there is an excess of surplus accruing to the Government amounted to 0.38% of Bank Indonesia’s monetary liabilities or amounted to IDR2,646 billion. As stated in the Agreement between the Government and Bank Indonesia dated November 27, 2006, the excess surplus will be used to redeem the principal balance of Treasury Bond (Obligasi Negara) Number SRBI-01/MK/2003. With that payment, up to now there has been three payments made to redeem the principal balance of Treasury Bond (Obligasi Negara) Number SRBI-01/MK/2003 through redemption originating from Bank Indonesia’s surplus. In this occasion, the Board of Governors of Bank Indonesia wishes to express our sincere appreciation to BPK-RI for their advices and recommendations intended for a continuing improvement in Bank Indonesia. Our sincere gratitude also goes to the heads of all working units and parties in Bank Indonesia, who have shown strong commitments and cooperation in performing their tasks and implementing the advices and recommendations from BPK-RI, so that Bank Indonesia can maintain the Unqualified Opinion.

Alongside with the publication of this book, Annual Financial Statements for the year 2008 are also published through our website (http://www. bi.go.id), as well as a part of Bank Indonesia Annual Report.

Finally, hopefully these Financial Statements will serve as a beneficial reference and offer added value to the public.

Jakarta, Mei / May 2009 Deputi Gubernur Bank Indonesia / Deputy Governor of Bank Indonesia

Ardhayadi M.
Bank Indonesia 2008 Annual Report

73

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

THE SUPREME AUDIT BOARD REPUBLIC OF INDONESIA

Nomor: 05/01/LHP/XV/04/2009 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Number: 05/01/LHP/XV/04/2009 REPORT OF INDEPENDENT AUDITOR

Kami telah mengaudit Neraca Bank Indonesia tanggal 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007, serta Laporan Surplus Defisit, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab Manajemen Bank Indonesia. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami juga telah melakukan pengujian atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern Bank Indonesia. Struktur pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan adalah tanggung jawab Manajemen Bank Indonesia. Laporan atas hasil pengujian ini dilaporkan dalam laporan-laporan terpisah dari laporan auditor independen atas Laporan Keuangan Bank Indonesia. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang memberlakukan Standar Profesional Akuntan Publik yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Bank Indonesia per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan kebijakan akuntansi khusus atas transaksi yang umumnya dilakukan Bank Sentral seperti dijelaskan dalam Catatan atas Laporan Keuangan butir B.

We have audited the accompanying balance sheets of Bank Indonesia as at December 31, 2008 and December 31, 2007, and the related statements of surplus deficit, changes in equity, and cash flows for the years then ended. These financial statements are the responsibility of the management of Bank Indonesia. Our responsibility is to express an opinion on these financial statements based on our audits.

We have also performed tests on internal control and Bank Indonesia’s compliance to regulations. The structures of internal control and the compliance to regulations are the responsibility of the management of Bank Indonesia. The results of this examination are reported separately from Independent Auditor Report of the Financial Statements of Bank Indonesia.

We conducted our audits in accordance with Government Auditing Standards (SAP) established by the Supreme Audit Board of the Republic of Indonesia (BPK-RI), which incoporate the Professional Public Accounting Standards (SPAP) established by the Indonesian Institute of Accountants (IAI). The standards require that we plan and perform our audits to obtain reasonable assurance whether the financial statements are free of material misstatement. An audit includes examining, on a test basis, evidence supporting the amounts and disclosure in the financial statements. An audit also includes assessing the accounting principles used and significant estimation made by management, as well as evaluating the overall financial statement presentation. We believe that our audits provide a reasonable basis for our opinion. In our opinion, the financial statements as mentioned above present fairly, in all material respects, the financial position of Bank Indonesia as at December 31, 2008 and December 31, 2007, and the results of its operations, as well as cash flow for the years then ended in conformity with generally accepted accounting principles and specific accounting policies generally adopted by Central Banks as discussed in Note B to the Financial Statements.

74

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

Seperti diuraikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan butir C.9, Bank Indonesia mencatat tagihan kepada Pemerintah dalam bentuk Obligasi Negara Seri SRBI-01/MK/2003 senilai Rp129,34 triliun. Dalam salah satu persyaratan obligasi tersebut dinyatakan bahwa pelunasan obligasi bersumber dari surplus Bank Indonesia yang menjadi bagian Pemerintah dan dilakukan apabila rasio modal terhadap kewajiban moneter Bank Indonesia telah mencapai di atas 10% (sepuluh persen). Cara pelunasan seperti itu dapat menimbulkan adanya ketidakjelasan mengenai saat dan jumlah pelunasan obligasi tersebut oleh Pemerintah di masa mendatang. Hasil pengujian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern kami sampaikan dalam laporan terpisah Nomor 05/02/LHP/XV/04/2009 dan Nomor 05/03/LHP/XV/04/2009 yang bertanggal sama, 15 April 2009.

As elaborated in Note C.9 Notes to the Financial Statements, Bank Indonesia recorded a claim to the Government in the form of Treasury Bond (ON) Number SRBI-01/MK/2003 amounted to IDR129,34 trillion. One of the bond’s conditions stated that the source of the bond’s payment is from Bank Indonesia’s surplus, which is accruing to the Government and shall be performed in the event that the capital to monetary liabilities ratio of Bank Indonesia has reached 10% (ten percent). Such payment mechanism may cause uncertainty regarding the time and the amount of the bond’s payment by the Government in the future. The results of the compliance test to regulations and internal control are delivered in separate reports Number 05/02/LHP/XV/04/2009 and Number 05/03/LHP/XV/04/2009 dated April 15, 2009.

Jakarta, 15 April / April 15, 2009 Badan Pemeriksa Keuangan RI / The Supreme Audit Board Republic of Indonesia

Syafri Adnan Baharuddin, Ak. MBA Register Negara / State Registered No. D-4844

Bank Indonesia 2008 Annual Report

75

BANK INDONESIA NERACA Per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 (Dalam Jutaan Rupiah)

BANK INDONESIA BALANCE SHEETS As at December 31, 2008 and December 31, 2007 (In Millions of Rupiah)

Catatan Notes AKTIVA Emas Uang Asing Hak Tarik Khusus Giro Deposito Surat Berharga Surat Utang Negara Republik Indonesia Surat Berharga – Repo Tagihan Kepada Pemerintah Kepada Bank Kepada Lainnya Penyertaan Aktiva Lain-lain Penyisihan Aktiva JUMLAH AKTIVA B.4, B.14, C.9 B.15, C.10 B.4, B.16 ,C.11 B.17, C.12 B.18, B.19, C.13 B.20, C.14 B.6, C.1 B.4, B.7, C.2 B.4, B.8, C.3 B.4, B.9, C.4 B.4, B.10, C.5 B.4, B.11, C.6 B.12, C.7 B.13, C.8

31 Des 2008 Dec 31, 2008

31 Des 2007 Dec 31, 2007 ASSETS

22,230,636 11,055 373,952 34,263,410 7,078,295 499,632,381 19,558,846 2,885,392 284,512,763 263,735,827 11,978,714 8,798,222 932,753 9,194,090 (16,474,382) 864,199,191

18,492,363 8,844 93,582 24,767,545 42,730,046 592,984,296 15,849,567 239,466 286,986,045 264,174,935 12,318,440 10,492,670 894,711 7,690,761 (17,710,243) 973,026,983

Gold Foreign Currencies Special Drawing Rights Demand Deposits Time Deposits Marketable Securities Government Bonds Securities Purchased Under Resale Agreements Claims On Government On Banks On Others Equity Participation Other Assets Allowance for Bad Debts TOTAL ASSETS

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan terlampir, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan.

See accompanying Notes to Financial Statements which are an integral part of the financial statements.

76

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA NERACA Per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 (Dalam Jutaan Rupiah)

BANK INDONESIA BALANCE SHEETS As at December 31, 2008 and December 31, 2007 (In Millions of Rupiah)

Catatan Notes KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN Uang dalam Peredaran Giro Pemerintah Bank Lainnya Sertifikat Bank Indonesia Sertifikat Bank Indonesia Syariah Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Surat Berharga – Reverse Repo Pinjaman dari Pemerintah Pinjaman Luar Negeri Kewajiban Lain-lain JUMLAH KEWAJIBAN B.4, B.22, C.16 B.4, B.22, C.17 B.4, B.22, C.18 B.23, C.19 B.24, C.20 B.25, C.21 B.26 B.4, B.27, C.22 B.4, B.28, C.23 B.19, C.24 B.21, C.15

31 Des 2008 Dec 31, 2008

31 Des 2007 Dec 31, 2007 LIABILITIES AND EQUITY LIABILITIES

264,399,922 185,447,235 97,228,550 85,197,077 3,021,608 175,342,804 2,824,300 75,673,367 0 206,023 7,479,880 2,980,279 714,353,810

220,794,779 192,066,106 21,918,360 168,612,400 1,535,346 244,570,156 2,598,500 48,925,248 0 223,614 6,798,280 145,420,665 861,397,348

Currency in Circulation Demand Deposits Government Bank Others Bank Indonesia Certificates Bank Indonesia Sharia Certificates Bank Indonesia Deposit Facilities Securities Sold Under Repurchase Agreements Loans from Government Foreign Borrowings Other Liabilities TOTAL LIABILITIES

EKUITAS Modal Cadangan Umum Cadangan Tujuan Keuntungan Atau Kerugian Yang Belum Direalisasi Surplus (Defisit) Tahun Berjalan JUMLAH EKUITAS JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS C.25 C.26 C.26 B.29, C.27 7,610,885 49,663,865 13,364,549 61,957,127 17,248,955 149,845,381 864,199,191 7,610,885 50,767,097 13,683,337 40,990,336 (1,422,020) 111,629,635 973,026,983

EQUITY Capital General Reserves Statutory Reserves Unrealized Gains/Losses Current Year Surplus (Deficit) TOTAL EQUITY TOTAL LIABILITIES AND EQUITY

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan terlampir, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan.

See accompanying Notes to Financial Statements which are an integral part of the financial statements.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

77

BANK INDONESIA LAPORAN SURPLUS (DEFISIT) Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2008 dan 1 Januari s.d. 31 Desember 2007 (Dalam Jutaan Rupiah)

BANK INDONESIA SURPLUS DEFICIT STATEMENT For the period of January 1 to December 31, 2008 and January 1 to December 31, 2007 (In Millions of Rupiah)

Catatan Notes PENERIMAAN Pengelolaan Moneter Pengelolaan Devisa Kegiatan Pasar Uang Pemberian Kredit dan Pembiayaan Pengelolaan Sistem Pembayaran Pengawasan Perbankan Lainnya JUMLAH PENERIMAAN BEBAN Pengendalian Moneter Operasi Pasar Terbuka Pengelolaan Devisa Pinjaman Luar Negeri Lainnya Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Sistem Pembayaran Tunai Sistem Pembayaran Non Tunai Pengaturan dan Pengawasan Perbankan Umum dan Lainnya SDM dan Logistik Lainnya JUMLAH BEBAN SURPLUS (DEFISIT)

1 Jan-31 Des ‘08 Jan 1-Dec 31, ‘08 44,731,394 40,203,455 249,644 4,278,295 168,974 180,546 250,236 45,331,150

1 Jan-31 Des ‘07 Jan 1-Dec 31, ‘07 28,387,328 24,213,515 78,047 4,095,766 153,123 145,864 350,158 29,036,473 REVENUES Monetary Operations Foreign Reserve Management Money Market Activities Credit and Financing Payment System Services Banking Services Others TOTAL REVENUES EXPENSES Monetary Operations Open Market Operations Foreign Reserve Management Foreign Loan Management Others Payment System Operations Currency Circulation Payment System Sponsoring Banking Regulations and Supervisions General and Others Human Resources and Logistics Others TOTAL EXPENSES SURPLUS (DEFICIT)

C.28 C.29 C.30 C.31

C.32 C.33 C.34 C.35

21,272,917 20,837,295 36,313 260,808 138,501 1,650,612 1,585,365 65,247 158,202 5,000,464 4,105,046 895,418 28,082,195 17,248,955

25,032,584 24,463,229 25,624 368,070 175,661 1,646,299 1,568,871 77,428 153,288 3,626,322 3,541,579 84,743 30,458,493 (1,422,020)

C.36

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan terlampir, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan.

See accompanying Notes to Financial Statements which are an integral part of the financial statements.

78

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS DAN RASIO MODAL Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2008 (Dalam Jutaan Rupiah)

BANK INDONESIA STATEMENT OF CHANGES IN EQUITIES AND CAPITAL RATIO For the period of January 1 to December 31, 2008 (In Millions of Rupiah)

31 Des 2007 Dec 31, 2007 I. EKUITAS Modal Cadangan Umum Cadangan Tujuan Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi Surplus (Defisit) Tahun Berjalan Jumlah II. KEWAJIBAN MONETER 7,610,885 50,767,097 13,683,337 40,990,336 (1,422,020) 111,629,635

Penambahan Addition 0 318,788 0 20,966,791 17,248,955 38,534,534

Pengurangan Deduction 0 1,422,020 318,788 0 (1,422,020) 318,788 = =

31 Des 2008 Dec 31, 2008 7,610,885 49,663,865 13,364,549 61,957,127 17,248,955 149,845,381 701,524,534 10.38% I. EQUITY Capital General Reserves Statutory Reserves Unrealized Gains (Losses) Current Year Surplus (Deficit) Total II. MONETARY LIABILITIES III. CAPITAL RATIO BEFORE DEDUCTION OF GOVERNMENT’S SHARE OF BI’S SURPLUS (Note C.37) IV. PAYMENT OF SURPLUS TO GOVERNMENT V. CAPITAL RATIO AFTER DEDUCTION OF GOVERNMENT’S SHARE OF BI’S SURPLUS

III. RASIO MODAL SEBELUM DIKURANGI SISA SURPLUS YANG MENJADI BAGIAN PEMERINTAH (Catatan C.37) IV. SISA SURPLUS YANG MENJADI BAGIAN PEMERINTAH V. RASIO MODAL SETELAH DIKURANGI SISA SURPLUS YANG MENJADI BAGIAN PEMERINTAH

=

2,646,356

=

10.00%

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan terlampir, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan.

See accompanying Notes to Financial Statements which are an integral part of the financial statements.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

79

BANK INDONESIA LAPORAN ARUS KAS Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2008 (Dalam Jutaan Rupiah)

BANK INDONESIA CASH FLOW STATEMENT For the period of January 1 to December 31, 2008 (In Millions of Rupiah)

1 Jan-31 Des 2008 Jan 1-Dec 31, 2008 ARUS KAS/SETARA KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Surplus Kenaikan Emas Kenaikan Uang Asing Kenaikan Hak Tarik Khusus Kenaikan Giro Penurunan Deposito Penurunan Surat Berharga Kenaikan Surat Utang Negara Republik Indonesia Kenaikan Surat Berharga Repo Penurunan Tagihan: Penurunan Tagihan kepada Pemerintah Penurunan Tagihan kepada Bank Penurunan Tagihan kepada Lainnya Kenaikan Aktiva lain-lain Penyesuaian-penyesuaian:: Penyusutan Aktiva Tetap Penyisihan Aktiva Amortisasi Aktiva Tidak Berwujud Kenaikan Uang dalam Peredaran Penurunan Giro: Kenaikan Giro Pemerintah Penurunan Giro Bank Kenaikan Giro Lainnya Penurunan Sertifikat Bank Indonesia Kenaikan Sertifikat Bank Indonesia Syariah Kenaikan Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Kenaikan (Penurunan) Surat Berharga – Reverse Repo Penurunan Kewajiban Lain-lain Arus Kas/Setara Kas Bersih dari Aktivitas Operasi ARUS KAS/SETARA KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Penambahan Penyertaan Penambahan Aktiva Tetap Pengurangan (Penambahan) Aktiva Sewa Guna Usaha Penambahan Aktiva Tidak Berwujud Arus Kas/Setara Kas Bersih dari Aktivitas Investasi ARUS KAS/SETARA KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Tambahan Modal dari Pemerintah Penurunan Pinjaman dari Pemerintah Kenaikan Pinjaman Luar Negeri Pengurangan Modal Pengurangan Cadangan Umum Pengurangan Cadangan Tujuan Penambahan Keuntungan atau Kerugian yang Belum Direalisasi Pembagian Defisit Tahun Lalu Arus Kas/Setara Kas Bersih dari Aktivitas Pendanaan KENAIKAN/PENURUNAN BERSIH ARUS KAS/SETARA KAS 17,248,955 (3,738,273) (2,211) (280,370) (9,495,865) 35,651,751 93,351,915 (3,709,279) (2,645,926) 2,473,282 439,108 339,726 1,694,448 (1,480,779) (1,046,339) 197,725 (1,235,861) (8,203) 43,605,143 (6,618,871) 75,310,190 (83,415,323) 1,486,262 (69,227,352) 225,800 26,748,119 0 (142,440,386) (21,380,686) CASH FLOWS FROM OPERATING ACTIVITIES Surplus Increase in Gold Increase in Foreign Currencies Increase in Special Drawing Rights Increase in Demand Deposits Decrease in Time Deposits Decrease in Marketable Securities Increase in Government Bonds Increase in Securities Purchased Under Resale Agreements Decrease in Claims: Decrease in Claims on Government Decrease in Claims on Banks Decrease in Claims on Others Increase in Other Assets Adjustments: Fixed Asset Depreciation Decrease in Allowance for Bad Debts Intangible Asset Amortization Increase in Currencies in Circulation Decrease in Demand Deposits: Increase in Government Demand Deposits Decrease in Bank Demand Deposits Increase in Other Demand Deposits Decrease in Bank Indonesia Certificates Increase in Bank Indonesia Sharia Certificates Increase in Bank Indonesia Deposit Facilities Increase in Securities Sold Under Repurchase Agreements Decrease in Other Liabilities Net Cash Flows from Operating Activities CASH FLOWS FROM FINANCING ACTIVITIES Increase in Equity Participation Increase in Fixed Assets Decrease in Leasing Assets Decrease in Intangible Assets Net Cash Flows from Financing Activities CASH FLOWS FROM INVESTING ACTIVITIES Increase in Government Equity Participation Decrease in Loans from Government Increase in Foreign Borrowings Decrease in Capital Decrease in General Reserve Decrease in Statutory Reserve Increase in Unrealized Gains/Losses Distribution of Previous Year Surplus Net Cash Flows from Investing Activities NET INCREASE/DECREASE IN CASH FLOWS/CASH EQUIVALENTS

(38,042) (228,610) 0 16,538 (250,114)

0 (17,591) 681,600 0 (1,103,232) (318,788) 20,966,791 1,422,020 21,630,800 0

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan terlampir, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan.

See accompanying Notes to Financial Statements which are an integral part of the financial statements.

80

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

A. UMUM Bank Indonesia adalah didirikan berdasarkan Nomor 23 Tahun 1999 telah diubah dengan Nomor 3 Tahun 2004. Bank Sentral Republik Indonesia yang Undang-Undang Republik Indonesia tentang Bank Indonesia sebagaimana Undang-Undang Republik Indonesia

A. GENErAl Bank Indonesia is the Central Bank of the Republic of Indonesia that was established based on Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004.

Sesuai Pasal 7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004, tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia mempunyai tugas sebagai berikut: (i) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter; (ii) Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; dan (iii) Mengatur dan mengawasi bank. Sehubungan dengan tugas tersebut, semua kegiatan Bank Indonesia dilakukan tidak atas dasar pertimbangan komersial, melainkan lebih diarahkan pada pengendalian nilai Rupiah, serta pemeliharaan sistem pembayaran dan perbankan nasional. Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, Bank Indonesia dipimpin oleh Dewan Gubernur yang terdiri dari seorang Gubernur dan seorang Deputi Gubernur Senior, serta sekurangkurangnya 4 (empat) orang atau sebanyak-banyaknya 7 (tujuh) orang Deputi Gubernur. Adapun susunan Dewan Gubernur pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut: Gubernur : Boediono Deputi Gubernur Senior : Miranda S. Goeltom Deputi Gubernur : Hartadi A. Sarwono Siti Ch. Fadjrijah S. Budi Rochadi Muliaman D. Hadad Budi Mulya Ardhayadi Mitroatmodjo Dalam kurun waktu 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2008, Gubernur Bank Indonesia Sdr. Burhanuddin Abdullah diberhentikan dengan hormat mengingat masa jabatan yang bersangkutan telah berakhir. Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 34/P Tahun 2008 tanggal 15 Mei 2008, Sdr. Boediono diangkat menjadi Gubernur Bank Indonesia. Bank Indonesia berkantor pusat di Jalan M.H. Thamrin Nomor 2 Jakarta, memiliki 41 (empat puluh satu) Kantor Bank Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah Republik Indonesia dan 4 (empat) Kantor Perwakilan Bank Indonesia di luar negeri dengan jumlah pegawai sebanyak 6.091 orang.

In accordance with Article 7 of Act of the Republic Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, the objective of Bank Indonesia is to achieve and maintain the stability of the Rupiah. To accomplish the objective, Bank Indonesia has several duties as follows: (i) To formulate and to implement monetary policies; (ii) To regulate and to safeguard the smoothness of the payment system; and (iii) To regulate and to supervise banks. In relation to those duties, activities of Bank Indonesia are not performed on commercial basis, but more directed on controlling base money and supervising the national banking system.

In performing its duties, Bank Indonesia is led by the Board of Governors that consists of a Governor, a Senior Deputy Governor and assisted by at least 4 (four) and not more than 7 (seven) Deputy Governors. The members of the Board of Governors for the period ended December 31, 2008 were as follows: Governor : Boediono Senior Deputy Governor : Miranda S. Goeltom Deputy Governor : Hartadi A. Sarwono Siti Ch. Fadjrijah Muliaman D. Hadad S. Budi Rochadi Budi Mulya Ardhayadi Mitroatmodjo In the period of January 1 to December 31, 2008, Governor Burhanuddin Abdullah has been respectfully discharged due to the completion of their service period. Afterward, in accordance with Presidential Decree Number 34/P 2008 dated May 15, 2008, Boediono was appointed as Governor.

Bank Indonesia’s headquarter is located on Jl. MH Thamrin No. 2 Jakarta, with 41 (forty-one) branches around Indonesia and 4 (four) overseas representative offices. Total employees as at December 31, 2008 were 6.091 persons.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

81

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

B. KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN Penyajian Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia per 31 Desember 2008 ini mengikuti ketentuan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/82/INTERN tanggal 26 Desember 2006 tentang Laporan Keuangan Bank Indonesia. Kebijakan Akuntansi yang dianut Bank Indonesia diatur dalam Pedoman Akuntansi Keuangan Bank Indonesia (PAKBI). PAKBI tersebut disusun dengan mengacu kepada Standar Akuntansi Keuangan (SAK), International Accounting Standard (IAS), Peraturan Intern Bank Indonesia, dan praktik-praktik yang lazim dilakukan oleh bank sentral negara lain, serta kesepakatan-kesepakatan antara Bank Indonesia dan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK) dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan – Ikatan Akuntan Indonesia. Agar senantiasa sejalan dengan perkembangan SAK dan IAS, PAKBI selalu disempurnakan, terakhir dengan Surat Edaran Nomor 8/50/INTERN tanggal 28 September 2006 tentang Pedoman Akuntansi Keuangan Bank Indonesia.

B. SIGNIFIcANT AccOUNTING POlIcIES The presentation of the Annual Financial Statements of Bank Indonesia for the year 2008 was in accordance with the Circular Letter of Bank Indonesia Number 8/82/INTERN dated December 26, 2006 concerning the Financial Statements of Bank Indonesia. The accounting policies adopted by Bank Indonesia are regulated in Bank Indonesia Financial Accounting Guidance (Pedoman Akuntansi Keuangan Bank Indonesia - PAKBI). PAKBI is in conformity with the Indonesian Financial Accounting Standards (Standar Akuntansi Keuangan - SAK), International Accounting Standards (IAS), Bank Indonesia’s internal regulations and best practices in other central banks, as well as the agreements among Bank Indonesia, the Supreme Audit Board of the Republic of Indonesia (Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia – BPK RI) and the Financial Accounting Standards Board of the Indonesian Institute of Accountants (Ikatan Akuntan Indonesia - IAI). In order to maintain its updated conformity with SAK and IAS, PAKBI has been continuously revised, most recently as declared in the Circular Letter Number 8/50/INTERN dated September 28, 2006 concerning Bank Indonesia Financial Accounting Guidance. The significant accounting policies that have been consistently applied by Bank Indonesia on the Financial Statements for the period of January 1 to December 31, 2008 are as follows:

Kebijakan akuntansi yang signifikan yang diterapkan oleh Bank Indonesia secara konsisten dalam penyusunan laporan keuangan untuk periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut: 1. Dasar Penyusunan laporan Keuangan Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia disajikan dalam jutaan Rupiah, disusun atas dasar akrual dengan konsep nilai historis, kecuali untuk beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana dijelaskan dalam kebijakan masing-masing akun tersebut. 2. Taksiran Manajemen Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang berlaku umum mengharuskan manajemen membuat taksiran dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aktiva dan kewajiban, pengungkapan aktiva dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan serta jumlah pendapatan dan beban yang dilaporkan selama periode pelaporan. Hasil aktual dapat berbeda dari taksiran-taksiran tersebut. 3. Pengakuan Pendapatan Bunga Pendapatan bunga dari penanaman dana Bank Indonesia diakui secara akrual. Akrualisasi pendapatan bunga dihentikan dan bunga yang telah diakui sebelumnya namun belum tertagih, dibatalkan pada saat penanaman dana yang bersangkutan digolongkan sebagai nonperforming.

1. Basis for Preparation of Financial Statements The financial statements of Bank Indonesia are presented in millions of Rupiah, and prepared on the accrual basis using the historical cost concept, except for certain accounts that are presented using other measurements as stated in the accounting policy of each account. 2. Management Estimations The preparation of financial statements in conformity with generally accepted accounting principles requires management to make estimations and assumptions that may affect the amount of assets and liabilities, disclosure of contingent assets and liabilities at the date of financial statements and the amount of revenues and expenses reported during the year. The actual results may differ from those estimations. 3. recognition of Interest Income Interest income from investment of Bank Indonesia’s funds is recognized on accrual basis. Accrued interest income that was previously recognized is reversed at the time when the placements are classified as nonperforming.

82

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

4. Transaksi dalam Valuta Asing Transaksi valuta asing dibukukan dalam Rupiah dengan menggunakan kurs pada saat transaksi. Guna penyusunan Laporan Keuangan, aktiva dan pasiva dalam valuta asing dijabarkan dalam Rupiah dengan menggunakan kurs neraca yang berlaku pada tanggal yang bersangkutan. Selisih penjabaran tersebut dicatat dalam rekening Cadangan Selisih Kurs dan disajikan di neraca pada pos Keuntungan atau Kerugian Yang Belum Direalisasi dalam kelompok Ekuitas sampai dengan valuta asing yang bersangkutan berkurang. Bank Indonesia menggunakan metode Net Currency Position (NCP) dalam menatausahakan dan mencatat valuta asing. Dalam metode tersebut, hasil revaluasi aktiva dan pasiva valuta asing dihitung dari perkalian antara posisi netto valuta asing dengan selisih antara kurs neraca dengan harga pokok rata-rata valuta asing.

4. Transactions in Foreign currencies Transactions in foreign currencies are recorded in Rupiah using exchange rate prevailing at transaction date. For the financial reporting purposes, assets and liabilities in foreign currencies are translated into Rupiah using exchange rates prevailing at the balance sheet date. The differences of amount arising from the periodical translations are recorded at the Exchange Rate Revaluation Reserves account, which is presented on the balance sheet in the Exchange Rate and Foreign Security Revaluation Reserves under Equity section, until the foreign exchanges are decreased. Bank Indonesia uses Net Currency Position (NCP) method in administrating and recording foreign currency assets and liabilities. With this method, the result of the revaluation of foreign currency assets and liabilities is calculated from the multiplication of the net position of the foreign currency assets and liabilities with the difference between the balance sheet exchange rate and average cost of the foreign exchange currencies. The rates of major foreign exchanges as at December 31, 2008 were IDR10,950.00/USD, IDR15,432.40/EUR, IDR15,802.51/GBP, IDR16,948.52/SDR and IDR12,122.90/ JPY100.00. 5. related Parties

Kurs neraca Bank Indonesia untuk valuta asing utama pada tanggal 31 Desember 2008 adalah Rp10.950,00/USD, Rp15.432,40/EUR, Rp15.802,51/GBP, Rp16.948,52/SDR, dan Rp12.122,90/JPY100,00. 5. Pengertian Hubungan Istimewa dan Kebijakan Akuntansinya Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Bank Indonesia adalah: a. Lembaga/Badan Usaha yang dikendalikan atau berada di bawah pengendalian Bank Indonesia. Dalam pengertian ini antara lain meliputi badan usaha di mana Bank Indonesia memiliki penyertaan atas sahamnya dengan proporsi kepemilikan lebih dari 20%. b. Karyawan Bank Indonesia dan Badan/Yayasan/ Perusahaan yang mewakili kepentingan karyawan Bank Indonesia. Dalam pengertian ini antara lain Dana Pensiun Bank Indonesia (DAPENBI) dan Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKKBI).

Related parties of Bank Indonesia are as follows: a. Institutions/entities that are controlled or directed by Bank Indonesia. These include among others entities in which Bank Indonesia’s ownership is more than 20%.

b. The employees of Bank Indonesia and entities/ foundations/enterprises that represent interests of the employees of Bank Indonesia. These include among others Bank Indonesia Pension Fund (Dana Pensiun Bank Indonesia – DAPENBI) and Bank Indonesia Employees Welfare Foundation (Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia – YKK-BI). c. Entities/institutions/foundations that are established to support activities of Bank Indonesia. These include among others Indonesian Banking Development Foundation (Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia – YPPI).

c.

Badan/Lembaga/Yayasan yang didirikan untuk menunjang pelaksanaan tugas Bank Indonesia. Dalam pengertian ini antara lain Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI).

Transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa, baik yang dilakukan dengan atau tidak dengan tingkat harga, persyaratan, dan kondisi yang sama dengan pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa, diungkapkan dalam laporan keuangan.

All significant transactions with related parties, whether or not made under similar terms and conditions as those conducted with third parties, are disclosed in the financial statements.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

83

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

6. Emas Emas terdiri dari emas batangan, deposito berjangka emas, dan surat-surat berharga emas yang dinilai secara periodik berdasarkan harga pasar. Selisih karena perubahan harga pasar emas dicatat dalam rekening Cadangan Revaluasi Emas pada pos Keuntungan Atau Kerugian Yang Belum Direalisasi pada kelompok Ekuitas. 7. Uang Asing Uang asing disajikan di neraca sebesar nilai nominal.

6. Gold Gold consists of gold bars, gold time deposits, and gold marketable securities, which are revalued periodically at fair market values. The differences due to the changing of market price of Gold are recorded in the Gold Revaluation Reserves account in Exchange Rate and Marketable Securities Revaluation Reserves item under Equity section. 7. Foreign currencies Foreign Currencies are presented on the balance sheet at nominal value. 8. Special Drawing rights Special Drawing Rights (SDRs) represent mandatory reserves in the International Monetary Fund (IMF) denominated in SDR. SDRs are presented on the balance sheet at nominal value that are added with accrued interest on holding and remuneration. 9. Demand Deposits Demand Deposits in foreign currencies in other central banks or correspondent banks are presented on the balance sheet at nominal value. 10. Time Deposits Time Deposits in foreign currencies in correspondent banks are presented on the balance sheet at nominal value that are added with the accrued interest. 11. Marketable Securities Marketable Securities (SSB) in Rupiah and foreign currencies are classified based on the purpose of ownership; i.e. Held to Maturity (HTM), which is presented at cost after premium/discount amortization, Trading and Available for Sale (AFS), which are presented at fair market value. The differences due to the changing of market price of Available for Sale securities are recorded in the Marketable Securities Revaluation Reserves Account, and presented in Unrealized Gains/Losses item, under Equity section, while the differences due to the changing of market price of Trading securities are recorded as gains or losses for the current year. Accrued interests are presented as a part of the Marketable Securities account.

8. Hak Tarik Khusus (Special Drawing Rights) Hak Tarik Khusus adalah simpanan wajib pada International Monetary Fund (IMF) dalam valuta SDR (Special Drawing Rights). Hak Tarik Khusus disajikan di neraca sebesar nilai nominal ditambah hasil akrualisasi bunga (interest on holding and remuneration) yang masih harus diterima. 9. Giro Giro Bank Indonesia dalam valuta asing pada bank sentral negara lain atau pada bank di luar negeri disajikan di neraca sebesar nilai nominal. 10. Deposito Deposito Bank Indonesia dalam valuta asing pada bank di luar negeri disajikan di neraca sebesar nilai nominal ditambah akrualisasi bunga yang masih harus diterima. 11. Surat Berharga Surat-Surat Berharga (SSB) dalam Rupiah dan dalam valuta asing yang dimiliki oleh Bank Indonesia dikelompokkan berdasarkan tujuan pemilikan, yaitu Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (Held to Maturity - HTM) yang disajikan berdasarkan harga perolehan setelah amortisasi premi/ diskonto, Diperdagangkan (Trading) dan Tersedia Untuk Dijual (Available for Sale - AFS) yang disajikan berdasarkan harga pasar. Selisih karena perubahan harga pasar atas SSB Tersedia Untuk Dijual dicatat dalam Rekening Cadangan Revaluasi SSB pada pos Keuntungan Atau Kerugian Yang Belum Direalisasi pada kelompok Ekuitas, sedangkan selisih karena perubahan harga pasar atas SSB Diperdagangkan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian tahun berjalan. Bunga SSB yang masih harus diterima disajikan sebagai bagian dari pos Surat Berharga.

84

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

12. Surat Utang Negara republik Indonesia Surat Utang Negara terdiri dari: a. Surat Perbendaharaan Negara (SPN) Surat Perbendaharaan Negara adalah Surat Utang Negara dengan jangka waktu sampai dengan satu tahun. b. Obligasi Negara (ON) Obligasi Negara adalah Surat Utang Negara dengan jangka waktu lebih dari satu tahun. SPN dan ON Tersedia Untuk Dijual yang dimiliki oleh Bank Indonesia disajikan berdasarkan harga pasar. Selisih karena perubahan harga pasar atas SPN dan ON Tersedia Untuk Dijual dicatat dalam Rekening Cadangan Revaluasi SSB pada pos Keuntungan Atau Kerugian Yang Belum Direalisasi pada kelompok Ekuitas. Bunga SPN dan ON yang masih harus diterima disajikan sebagai bagian dari pos Surat Utang Negara Republik Indonesia. 13. Surat Berharga – repo Surat Berharga – Repo terdiri dari surat berharga milik bank yang dijual secara bersyarat kepada Bank Indonesia, dengan kewajiban pembelian kembali sesuai dengan harga dan jangka waktu yang disepakati. Surat Berharga – Repo disajikan sebesar harga penjualan oleh bank. Selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian kembali oleh bank diakui sebagai penerimaan bunga. 14. Tagihan Kepada Pemerintah Tagihan kepada Pemerintah terdiri dari Surat Utang Pemerintah, Obligasi Negara, dan tagihan lainnya kepada Pemerintah. a. Surat Utang Pemerintah 1) Surat Utang Pemerintah adalah surat pengakuan utang jangka panjang Pemerintah kepada Bank Indonesia, yang tidak dapat dipindahtangankan dan/atau diperjualbelikan kepada pihak lain dan pembayaran pokok beserta bunganya sesuai jangka waktu yang telah diperjanjikan. 2) Surat Utang Pemerintah disajikan sebesar nilai surat utang yang belum dilunasi.

12. Government Bonds Government Bonds consist of: a. Treasury Bills (SPN) Treasury Bills are State Debt Securities with up to oneyear period. b. Marketable Treasury Bonds (ON) The marketable treasury bonds are State Debt Securities with more than one-year period.

SPN and Available-for-Sale ON owned by Bank Indonesia are presented at fair market value. The difference due to the market value changes of SPN and Available-for-Sale ON is recorded on Marketable Securities Revaluation Reserves account in Unrealized Gains or Losses item under Equity section. The accrued interests of SPN and Available-for-Sale ON are presented as a part of Government Bonds item.

13. Securities Purchased Under resale Agreements Securities Purchased Under Resale Agreements are securities owned by banks that are sold to Bank Indonesia with an agreement to repurchase under a specific price and terms. Securities Purchased Under Resale Agreements are presented at their selling price. The differences between the selling price and the repurchase price are recognized as interest income. 14. claims on Government Claims on Government consist of State Debt Securities (Surat Utang Pemerintah – SUP), Government Bonds (Obligasi Negara – ON), and other claims on government. a. State Debt Securities 1) State Debt Securities are long-term bonds issued by the Government to Bank Indonesia which are non-transferable and non-marketable, with regulated payment schedule of outstanding value and interest.

2) State Debt Securities are presented at their outstanding nominal value.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

85

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

b. Obligasi Negara Obligasi Negara yang termasuk dalam pos ini adalah Surat Utang Negara dengan jangka waktu lebih dari satu tahun yang tidak dapat diperjualbelikan dan disajikan sebesar nilai nominal yang masih outstanding. c. Tagihan Lainnya kepada Pemerintah Tagihan Lainnya kepada Pemerintah, termasuk bunga atas tagihan kepada Pemerintah, disajikan di neraca sebesar jumlah tagihan yang belum dilunasi oleh Pemerintah.

b. Government Bonds Government Bonds in this item are long-term bonds issued by the Government to Bank Indonesia which are non-transferable and non-marketable, and presented at their outstanding nominal value.

c.

Other Claims on Government Other claims on Government, including interests of the claims, are presented on the balance sheet at the outstanding value of the claims.

15. Tagihan Kepada Bank Tagihan kepada Bank disajikan di neraca sebesar jumlah yang belum dilunasi oleh bank ditambah bunga yang masih harus diterima. 16. Tagihan Kepada lainnya Tagihan kepada Lainnya antara lain terdiri dari tagihan lainnya kepada Bank Beku Operasi/Bank Beku Kegiatan Usaha (BBO/BBKU), pemberian kredit channeling, serta sisa kredit program, yang disajikan di neraca sebesar jumlah bruto yang belum dilunasi nasabah.

15. claims on Banks Claims on Banks are presented on the balance sheet at the outstanding value plus accrued interests.

16. claims on Others Claims on Others, which include other claims on OperationSuspended Banks (Bank Beku Operasi – BBO) and BusinessActivity-Suspended Banks (Bank Beku Kegiatan Usaha BBKU), channeling credits, and remaining program credits, are presented on the balance sheet at the outstanding value. 17. Equity Participation In accordance with Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, Bank Indonesia may conduct an equity participation in legal entities or other entities deemed necessary in the implementation of the tasks of Bank Indonesia.

17. Penyertaan Sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004, Bank Indonesia dapat melakukan penyertaan modal pada badan hukum atau badan lainnya yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas Bank Indonesia. Penyertaan dengan kepemilikan saham kurang dari 20% disajikan sebesar harga perolehan (cost), sedangkan penyertaan dengan kepemilikan saham sebesar 20% ke atas disajikan sebesar harga perolehan ditambah bagian laba atau rugi dari perusahaan anak setelah penyertaan tersebut dilakukan. Penyertaan yang dilakukan sebelum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004, harus didivestasi selambat-lambatnya Januari tahun 2009, sehingga penyertaan dengan kepemilikan saham sebesar 20% ke atas disajikan sebesar harga perolehan dan tidak dikonsolidasikan dalam Laporan Keuangan Bank Indonesia.

Equity participation with less than 20 percent ownership is presented at cost; meanwhile equity participation with the ownership more than 20 percent is presented at cost price added by profit or loss of the subsidiary company subsequent to the equity participation.

Equity participation conducted by Bank Indonesia before the enactment of Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, should be divested before January 2009; therefore, such kind of equity participation is not consolidated in the Financial Statements of Bank Indonesia.

86

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Apabila terdapat penurunan nilai secara permanen, maka nilai tercatat penyertaan harus disesuaikan sebesar nilai penurunan permanen tersebut. 18. Aktiva Tetap Aktiva Tetap disajikan di Neraca pada pos Aktiva Lain-lain sebesar nilai perolehan aktiva tetap dikurangi akumulasi penyusutan. Aktiva Tetap disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat aktiva yang bersangkutan dengan menggunakan metode garis lurus. Bank Indonesia telah melakukan penyesuaian kembali atas nilai aktiva tetap pada tahun 2000. Aktiva tetap yang telah disesuaikan kembali tersebut disajikan sebesar nilai revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai perolehan aktiva tetap disajikan di Neraca pada pos Modal dalam kelompok Ekuitas. 19. Imbalan Kerja Bank Indonesia membentuk cadangan atas imbalan kerja jangka panjang dan pasca kerja dari pegawai yang telah memberikan jasanya dan berhak memperoleh imbalan kerja yang akan dibayarkan di masa depan. Bank Indonesia memiliki program pensiun manfaat pasti yang didanai melalui pembayaran kepada DAPENBI dan program Bantuan Pemilikan Rumah (Baperum) serta Bantuan Kesehatan Pensiunan (BKP) yang didanai melalui pembayaran kepada YKKBI. Jumlah biaya dan kewajiban imbalan kerja tersebut ditentukan oleh perhitungan aktuaris independen, yang dilakukan secara berkala. Biaya dan kewajiban imbalan kerja ditentukan secara terpisah untuk masing-masing program dengan menggunakan metode penilaian aktuaris projected unit credit. 20. Penyisihan Aktiva Bank Indonesia membentuk penyisihan aktiva secara gabungan atas tagihan, penanaman dana, dan aktiva lainnya baik dalam Rupiah maupun valuta asing, sehingga aktiva tersebut disajikan secara wajar. Penetapan persentase penyisihan aktiva dilakukan berdasarkan tingkat risiko yang melekat pada masing-masing aktiva tersebut yang tercermin antara lain dari rating penanaman dana, kondisi keuangan peminjam, kelancaran pembayaran pada masa lampau, peringkat komposit bank, hubungan, dan kesepakatan antara Bank Indonesia dengan peminjam dan faktor-faktor relevan lainnya.

In case of permanent impairment in the value of equity participation, the recorded value of equity participation is adjusted accordingly. 18. Fixed Assets Fixed assets are presented on the balance sheet as part of other assets at cost less accumulated depreciation.

Fixed assets are depreciated through their economic life by using straight-line method.

Bank Indonesia revalued its fixed assets in 2000. Revalued fixed assets are stated at revalued amount (market price or fair value) less accumulated depreciation. The differences between the revaluation values and the book values of fixed assets are presented on the balance sheet in the Capital item under Equity section. 19. Employee Benefits Bank Indonesia provides an allowance for long-term benefits and post-employment benefits for the employees who have rendered their services and are entitled to accept the future benefits. Bank Indonesia develops the defined benefit plan, which is funded through contribution to Bank Indonesia Pension Fund (Dana Pensiun Bank Indonesia), and Housing Loan (Baperum) as well as Pension Health Facility (BKP) which are funded through contribution to YKKBI. The amount of contribution and benefit liabilities are calculated periodically by an independent actuary.

The costs and liabilities of employee benefits are determined separately for each plan by using projected unit credit actuary method.

20. Allowance for Bad Debts Bank Indonesia provides a combined allowance for bad debts, including allowance for claims, placements, and other assets, in order to present the assets fairly. The allowance percentage is decided by considering the inherent rate of risk in each particular asset, which are reflected by some factors e.g. investment rating, debtors’ financial position, performance of prior payment, bank’s composite grade, relationship and agreement between Bank Indonesia and debtors, and other relevant factors.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

87

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

21. Uang dalam Peredaran Uang dalam Peredaran disajikan sebagai komponen kewajiban sebesar nilai nominal jumlah uang kertas dan uang logam yang telah dinyatakan sebagai alat pembayaran yang sah oleh Bank Indonesia dan tidak berada dalam penguasaan Bank Indonesia. 22. Giro Giro atau simpanan pihak lain pada Bank Indonesia terdiri atas Giro dalam Rupiah dan Giro dalam Valuta Asing yang disajikan sebesar nilai nominal. Khusus untuk giro IMF yang digunakan untuk mencatat kewajiban kepada IMF, direvaluasi setiap tanggal 30 April dengan menggunakan kurs SDR terhadap Rupiah yang ditetapkan oleh IMF pada tanggal tutup buku IMF. Giro IMF disajikan di neraca sebesar nilai nominal. 23. Sertifikat Bank Indonesia Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek. SBI disajikan di neraca sebesar nilai nominal dikurangi diskonto dibayar di muka. 24. Sertifikat Bank Indonesia Syariah Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) merupakan perubahan nama dari Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) sesuai dengan PBI Nomor 10/11/PBI/2008 tanggal 31 Maret 2008 tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah. SBIS adalah bukti penitipan dana berjangka pendek dengan menggunakan prinsip syariah yang disediakan oleh Bank Indonesia bagi bank syariah atau unit usaha syariah. SBIS disajikan sebesar nilai nominal. Imbalan bonus SBIS dicatat secara cash basis.

21. currency in circulation Currency in circulation is presented as liabilities at total nominal value of bank notes and coins that has been declared as legal tender by Bank Indonesia and is not under the possession of Bank Indonesia.

22. Demand Deposits Demand deposits of other parties in Bank Indonesia consist of demand deposits in Rupiah and demand deposits in foreign currencies, which are presented at nominal value. Specifically for the IMF demand deposit which is used to record payables to IMF, revaluation is conducted every April 30 using SDR exchange rate to Rupiah issued by IMF at its closing book date. The IMF demand deposit is presented at nominal value. 23. Bank Indonesia certificates Bank Indonesia Certificates (Sertifikat Bank Indonesia – SBI) are securities in Rupiah that are issued by Bank Indonesia to recognize short-term payables. SBI’s are presented on the balance sheet at nominal value deducted by a discount paid in advance. 24. Bank Indonesia Sharia certificates Bank Indonesia Sharia Certificates (Sertifikat Bank Indonesia Syariah – SBIS) was previously called Bank Indonesia Wadiah Certificates (Sertifikat Wadiah Bank Indonesia – SWBI) as stated in PBI No. 10/11/PBI/2008 dated March 31, 2008 on Bank Indonesia Sharia Certificates. SBIS are certificates issued by Bank Indonesia as confirmation of fund custodianship based on sharia principle provided by Bank Indonesia for sharia banks and sharia business units. SBIS’s are presented at nominal value. SBIS’s bonus is recorded at cash basis. 25. Bank Indonesia Deposit Facilities Bank Indonesia Deposit Facilities (Fasilitas Simpanan Bank Indonesia – FASBI) is deposit facilities given to banks by Bank Indonesia. FASBI are presented on the balance sheet at nominal value deducted by discount paid in advance. 26. Securities Sold Under repurchase Agreements Securities Sold Under Repurchase Agreements are Bank Indonesia Certificates and/or securities owned by BI that are purchased by banks with an agreement to resale under a specific price and terms. These securities are presented at cost. The differences between the purchase price and the reselling price are recognized as interest expense.

25. Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI) adalah fasilitas yang diberikan Bank Indonesia kepada bank untuk menempatkan dananya di Bank Indonesia. FASBI disajikan di neraca sebesar nilai nominal dikurangi diskonto dibayar di muka. 26. Surat Berharga – reverse repo Surat Berharga – Reverse Repo adalah surat berharga milik Bank Indonesia yang dibeli secara bersyarat oleh bank, dengan kewajiban penjualan kembali sesuai dengan harga dan jangka waktu yang disepakati. Surat Berharga – Reverse Repo disajikan sebesar harga pembelian oleh bank. Selisih antara harga pembelian dengan harga penjualan kembali oleh bank diakui sebagai pengeluaran bunga.

88

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

27. Pinjaman dari Pemerintah Pinjaman dari Pemerintah antara lain terdiri dari pinjaman dalam rangka program Two Step Loan (TSL) dalam Rupiah dan obligasi Pemerintah dalam valuta asing yang disajikan di neraca sebesar nilai yang belum ditarik oleh Pemerintah setelah dikurangi amortisasi diskonto. 28. Pinjaman luar Negeri Pinjaman luar negeri atau fasilitas pinjaman yang diterima Bank Indonesia dari pihak lain di luar negeri dalam valuta asing disajikan sebesar nilai nominal yang belum dilunasi setelah memperhitungkan bunga yang masih harus dibayar. 29. Keuntungan Atau Kerugian Yang Belum Direalisasi Keuntungan Atau Kerugian Yang Belum Direalisasi merupakan penyajian atas pengakuan hasil revaluasi surat berharga, hasil penjabaran aktiva dan pasiva valuta asing ke dalam nilai Rupiah, dan hasil revaluasi aktiva lainnya. 30. Transaksi Derivatif BI melakukan transaksi derivatif dalam rangka lindung nilai terhadap risiko perubahan nilai tukar. Perubahan nilai wajar instrumen derivatif dalam rangka lindung nilai dicatat secara off-balance sheet. Pada tanggal jatuh tempo, perubahan nilai wajar tersebut diakui sebagai kewajiban dan pada akhir periode pelaporan diakui sebagai penerimaan atau beban dan disajikan sebagai bagian dari penerimaan atau beban selisih kurs.

27. loans from Government Loans from Government consist of loans due to Two Step Loan in Rupiah and Government obligation in foreign currencies, which are presented at the outstanding amount after discount amortization.

28. Foreign Borrowings Foreign borrowings or loan facilities received by Bank Indonesia from foreign parties in foreign currencies are presented at the outstanding amount after calculation of accrued interest.

29. Unrealized Gains/losses Unrealized Gains/Losses present the recognition of securities revaluation, translation of assets and liabilities in foreign exchange into Rupiah, and other assets revaluation. 30. Derivative Transaction BI has conducted derivative transactions to hedge the risk of exchange rate changes. Changes of fair value of the hedging instruments are recorded as off-balance sheet items. At the maturity date, the changes of fair value are recognized as liabilities and at the end of the reporting period these changes are then recognized as revenues or expenses and presented as part of revenues or expenses from exchange rate differences.

c. PENJElASAN POS-POS NErAcA, lAPOrAN SUrPlUS DEFISIT, DAN lAPOrAN PErUBAHAN EKUITAS DAN rASIO MODAl 1. Emas Saldo emas per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing TOZ2,347,046.3100 atau setara dengan Rp22.230.636 juta dan TOZ2,347,046.3100 atau setara dengan Rp18.492.363 juta. Nilai emas disajikan berdasarkan harga emas terkini yang tersedia di pasar London pada tanggal 31 Desember 2008, yaitu sebesar USD865.00/TOZ.

c. NOTES TO BAlANcE SHEETS, SUrPlUS DEFIcIT AND STATEMENT OF cHANGES IN EQUITIES AND cAPITAl rATIO 1. Gold The balance of gold as at December 31, 2008 and as at December 31, 2007 was TOZ2,347,046.3100 or equivalent to IDR22,230,636 million and TOZ2,347,046.3100 or equivalent to IDR18,492,363 million, respectively. The value of gold was presented based on gold current market price available in London market at December 31, 2008, which was USD865.00/TOZ.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

89

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

2. Uang Asing Saldo uang asing per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing setara dengan Rp11.055 juta dan Rp8.844 juta dengan rincian sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 Valas Rp juta OCY IDR million Uang Asing dalam persediaan: USD JPY GBP SGD 996,209.83 1,023,146.00 1,303.41 218,25 10,908 124 21 2 11,055

2. Foreign currencies The balances of foreign currencies as at December 31, 2008 and December 31, 2007 were equal to IDR11,055 million and IDR8,844 million respectively, with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 Valas Rp juta OCY IDR million 922,103.87 1,473,969.00 1,546.63 1,090.14 8,685 123 29 7 8,844 Foreign currencies in vault consists of: USD JPY GBP SGD

3. Hak Tarik Khusus Hak Tarik Khusus merupakan rekening giro pada IMF sehubungan dengan keanggotaan di IMF yang dibukukan dalam valuta SDR. Saldo rekening ini berasal dari penerimaan alokasi SDR dan bertambah jika terdapat penambahan alokasi SDR, pembelian SDR, serta penerimaan dalam SDR seperti interest on SDR holding, remuneration, dan refund of charges. Saldo Hak Tarik Khusus berkurang jika terdapat pembayaran dalam SDR seperti commitment fee, service charges, periodic charges, charges alokasi SDR, dan assessment fee. Hak Tarik Khusus pada awalnya diterbitkan oleh IMF untuk anggotanya sesuai dengan proporsi kuota setiap anggota pada IMF. Hak Tarik Khusus berfungsi sebagai tambahan cadangan devisa. Saldo Hak Tarik Khusus per 31 Desember 2008 sebesar SDR22,064,022.00 atau setara dengan Rp373.952 juta dan per 31 Desember 2007 sebesar SDR6,339,299.39 atau setara dengan Rp93.582 juta. 4. Giro Jumlah giro valuta asing Bank Indonesia yang disimpan pada bank sentral dan bank koresponden di luar negeri per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing setara dengan Rp34.263.410 juta dan Rp24.767.545 juta dengan rincian sebagai berikut:

3. Special Drawing rights Special Drawing Rights is a mandatory deposit due to the Indonesian Government’s membership in the International Monetary Fund (IMF) denominated in SDR. This balance is derived from SDR allocation and its increase is due to addition of SDR allocation, purchase of SDR and income in SDR such as interest on SDR holding, remuneration and refund of charges. The SDR balance decreases are due to various payments in SDR such as commitment fee, service charges, periodic charges, SDR allocation charges and assessment fee. SDR is issued by IMF for its members according to quota proportion of each member of IMF at the point of issuance. SDR mainly functions as a supplementary foreign reserve. Total of SDR as at December 31, 2008 was SDR22,064,022.00 or equivalent to IDR373,952 million and as at December 31, 2007 was SDR6,339,299.39 or equivalent to IDR93,582 million. 4. Demand Deposits Demand deposits in foreign currencies in central banks and overseas correspondent banks as at December 31, 2008 and December 31, 2007 amounted to IDR34,263,410 million and IDR24,767,545 million respectively, with details as follows:

90

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

31 Desember 2008 December 31, 2008 Valas / OcY Bank Sentral Bank Koresponden central Banks correspondent Banks USD JPY EUR GBP Valas lainnya 2,426,963,216.36 24,301,672,854.00 53,765,694.53 116,777,804.10 23,627,732.04 9,154,581,294.86 3,969,339.10 4,020,223.55

31 Des 2007 Dec 31, 2007 rp juta IDr million 26,833,971 4,055,868 890,990 1,908,912 573,669 34,263,410 rp juta IDr million 15,350,166 6,173,278 816,048 1,430,192 997,861 24,767,545 USD JPY EUR GBP Other Foreign Currency

Di antara saldo giro pada bank sentral tersebut, terdapat giro yang ditempatkan pada Repo & Overnight, antara lain oleh Federal Reserve Bank of New York, New York, dan Bank of Japan, Tokyo, masing-masing sebesar USD2,425,900,000.00 atau setara dengan Rp26.563.605 juta, dan sebesar JPY24,292,825,279.00 atau setara dengan Rp2.944.995 juta. Pendapatan atas Repo & Overnight tersebut diakui pada saat jatuh tempo. 5. Deposito Saldo deposito dalam valuta asing per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing setara dengan Rp7.078.295 juta dan Rp42.730.046 juta dengan rincian sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 Valas rp juta OcY IDr million Bank Koresponden: USD GBP EUR AUD NZD Deposito Khusus: IBRD (USD) IMF (SDR) IMF Trust for PRGF (SDR) Indover (EUR) Bunga Deposito Yang Masih Harus Diterima Total Deposito 0.00 145,000,000.00 0.00 200,000,000.00 437,000,000.00 0 2,291,364 0 1,511,102 2,764,152 6,566,618 0.00 25,000,000.00 4,850,030.00 0.00 0 423,713 82,200 0 505,913 5,764 7,078,295

As part of demand deposits in central banks, there were also placements in Repo and Overnight, among them in the Federal Reserve Bank of New York, New York and Bank of Japan, Tokyo amounted to USD2,425,900,000.00 or equivalent to IDR26,563,605 million and JPY24,292,825,279.00 or equivalent to IDR2,944,995 million respectively. Income from Repo & Overnight was recognized on the due date. 5. Time Deposits The balances of time deposits in foreign currencies as at December 31, 2008 and December 31, 2007 were IDR7,078,295 million and IDR42,730,046 million respectively, with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 Valas rp juta OcY IDr million 1,873,755,831.74 750,000,000.00 60,000,000.00 766,000,000.00 402,000,000.00 17,648,906 14,103,075 825,585 6,303,353 2,915,561 41,796,480 24,000,000.00 25,000,000.00 4,850,030.00 2,268,901.08 226,056 369,053 71,597 31,219 697,925 235,641 42,730,046 Special Time Deposits: IBRD (USD) IMF PRGF (SDR) IMF Trust for PRGF (SDR) Indover (EUR) Accrued Interest Total Time Deposits Correspondent Banks: USD GBP EUR AUD NZD

Bank Indonesia 2008 Annual Report

91

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

a.

Deposito khusus pada International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) merupakan deposito berjangka dalam rangka Central Bank Facility di IBRD, Washington DC.

a.

Special time deposits in International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) was time deposit due to Central Bank Facility at IBRD, Washington DC.

b. Deposito khusus pada IMF merupakan Poverty Reduction and Growth Facility (PRGF) pada IMF sebesar SDR25,000,000.00 atau setara dengan Rp423.713 juta pada tanggal 31 Desember 2008 dan setara Rp369.053 juta pada tanggal 31 Desember 2007. c. Deposito khusus lainnya pada IMF merupakan Trust for PRGF Operations for the Heavily Indebted Poor Countries (HIPC) and Interim PRGF Subsidy Operations (“the Trust”) sebesar SDR4,850,030.00 atau setara dengan Rp82.200 juta pada tanggal 31 Desember 2008.

b. Special time deposits in IMF was Poverty Reduction and Growth Facility on IMF amounted to SDR25,000,000.00 or equivalent to IDR423,713 million as at December 31, 2008 and equivalent to IDR369,053 million as at December 31, 2007. c. Other special time deposits in IMF were Trust for PRGF Operations for the Heavily Indebted Poor Countries (HIPC) and Interim PRGF Subsidy Operations (“the Trust”) amounted to SDR4,850,030.00 or equivalent to IDR82,200 million as at December 31, 2008.

d. Deposito khusus pada Indover Bank merupakan deposito sehubungan dengan pinjaman kepada anak perusahaan. Pada tanggal 30 April 2008, deposito tersebut telah dilunasi seluruhnya oleh Indover Bank. Adapun jangka waktu dan kisaran tingkat suku bunga ratarata deposito tersebut adalah sebagai berikut: 31 Des 2008 Dec 31, 2008 rp juta IDr million Nilai nominal menurut jangka waktu a. Deposito pada bank koresponden - Kurang dari 1 bulan - 1- 3 bulan - Lebih dari 3 bulan b. Deposito khusus - Kurang dari 1 bulan - 1- 3 bulan - Lebih dari 3 bulan 6,566,618 0 0 0 0 505,913 7,072,531 31 Des 2008 Dec 31, 2008 Bunga Setahun Interest p.a. Kisaran tingkat suku bunga a. USD - Kurang dari 1 bulan - 1- 3 bulan - Lebih dari 3 bulan b. GBP - Kurang dari 1 bulan - 1- 3 bulan - Lebih dari 3 bulan c. EUR - Kurang dari 1 bulan - 1- 3 bulan - Lebih dari 3 bulan – – – 1.40% – – – – –

d. Special time deposits in Indover Bank was time deposit due to loan to subsidiary company. As at April 30, 2008 the deposits have been repaid completely by Indover Bank. The period and average interest rate range of the time deposits were as follows: 31 Des 2007 Dec 31, 2007 rp juta IDr million Nominal value based on period a. Time deposits in correspondent banks - Less than 1 month - 1-3 months - More than 3 months b. Special time deposits - Less than 1 month - 1-3 months - More than 3 months

5,654,637 32,892,288 3,249,555 0 0 697,925 42,494,405 31 Des 2007 Dec 31, 2007 Bunga Setahun Interest p.a. 5.100% – 5.300% 4.940% – 5.270% 5.260% – 5.350% 6.250% – 6.490% 6.150% – 6.700% – 4.500% 4.585% – 4.620% –

Interest rate range a. USD - Less than 1 month - 1-3 months - More than 3 months b. GBP - Less than 1 month - 1-3 months - More than 3 months c. EUR - Less than 1 month - 1-3 months - More than 3 months

92

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

31 Des 2008 Dec 31, 2008 Bunga Setahun Interest p.a. Kisaran tingkat suku bunga d. AUD - Kurang dari 1 bulan - 1- 3 bulan - Lebih dari 3 bulan e. NZD - Kurang dari 1 bulan - 1- 3 bulan - Lebih dari 3 bulan f. JPY - Kurang dari 1 bulan - 1- 3 bulan g. SDR - Kurang dari 1 bulan - 1- 3 bulan - Lebih dari 3 bulan 3.75% – – 4.65% – – – – – – < 2.00%

31 Des 2007 Dec 31, 2007 Bunga Setahun Interest p.a. – 6.880% – 7.120% – 8.750% 8.650% – 8.900% – – – – – 4.504% 6. Interest rate range d. AUD - Less than 1 month - 1-3 months - More than 3 months e. NZD - Less than 1 month - 1-3 months - More than 3 months f. JPY - Less than 1 month - 1-3 months g. SDR - Less than 1 month - 1-3 months - More than 3 months

6. Surat Berharga Surat-Surat Berharga (SSB) yang dimiliki oleh Bank Indonesia saat ini adalah SSB dalam valas yang saldonya per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing setara dengan Rp499.632.381 juta dan Rp592.984.296 juta dengan rincian sebagai berikut:
31 Desember 2008 December 31, 2008 Harga Perolehan (setelah amortisasi premi/diskonto) Acquisition Cost (after premium/ discount amortization) Rp juta IDR million Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Tersedia Untuk Dijual: • Portofolio BI • External Portfolio Manager: – Counterparty – Asian Bond Fund • Automatic Investment • Reinvestment of Cash Collateral from Securities Lending *) Bunga Yang Masih Harus Diterima 474,821,466
Keterangan: *) termasuk return Reinvest Cash Collateral Securities Lending yang diakumulasikan

Marketable Securities Marketable securities owned by Bank Indonesia are in foreign currency with a balance at December 31, 2008 and December 31, 2007 of IDR499,632,381 million and IDR592,984,296 million respectively with details as follows:

31 Desember 2007 December 31, 2007 Harga Perolehan (setelah amortisasi premi/diskonto) Acquisition Cost (after premium/ discount amortization) Rp juta IDR million 105,518,268 Harga Pasar dan Bunga Yang Masih Harus Diterima Fair Value and Accrued Interest Rp juta IDR million 105,518,268 Held to Maturity Available for Sale

Hasil Revaluasi Revaluation

Harga Pasar dan Bunga Yang Masih Harus Diterima Fair Value and Accrued Interest Rp juta IDR million 76,451,689

Hasil Revaluasi Revaluation

Rp juta IDR million

Rp juta IDR million

76,451,689

390,107,483

17,709,658

407,817,141

324,412,206

4,997,224

329,409,430

• BI Portfolio • External Portfolio Manager:

4,434,339 1,642,500 2,185,455 0

182,909 407,624 4,522 0

4,617,248 2,050,124 2,189,977 0

3,851,398 1,412,850 3,428,621 143,207,029

(27,752) 303,915 18,644

3,823,646 1,716,765 3,447,265 143,207,029

– Counterparty – Asian Bond Fund • Automatic Investment • Reinvestment of Cash Collateral from Securities Lending *)

6,506,202 499,632,381 581,830,372

5,861,893 592,984,296

Accrued Interest

Note: *) Including accumulated return on Reinvestment of Cash Collateral from Securities Lending.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

93

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

SSB ini merupakan penempatan dalam denominasi valuta asing terutama JPY, USD, GBP, EUR, AUD, dan NZD.

Marketable securities are placements denominated in foreign currencies, predominantly in JPY, USD, GBP, EUR, AUD and NZD. As at December 31, 2008 there were no marketable securities placed in Third Party Securities Lending (TPSL), hence the position of Reinvest Cash Collateral SL is zero.

Pada akhir tahun 2008 tidak terdapat surat-surat berharga yang diikutsertakan dalam Program Third Party Securities Lending (TPSL), sehingga saldo Reinvest Cash Collateral SL adalah Nihil. Untuk SSB Dimiliki Hingga Jatuh Tempo per 31 Desember 2008 sebesar Rp76.451.689 juta, diantaranya sebesar Rp30.778.488 juta akan jatuh tempo dalam periode kurang dari 1 tahun, sebesar Rp33.528.749 juta akan jatuh tempo dalam periode antara 1-5 tahun dan sebesar Rp12.144.452 juta akan jatuh tempo dalam periode antara 5-10 tahun. Untuk SSB Tersedia Untuk Dijual kategori Portofolio BI dan Automatic Investment, per 31 Desember 2008 sebesar Rp410.007.118 juta, diantaranya sebesar Rp144.183.252 juta akan jatuh tempo dalam periode kurang dari 1 tahun, sebesar Rp220.270.960 juta akan jatuh tempo dalam periode antara 1-5 tahun dan sebesar Rp45.552.906 juta akan jatuh tempo dalam periode 5-10 tahun. 7. Surat Utang Negara republik Indonesia Saldo Surat Utang Negara Republik Indonesia per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing adalah sebesar Rp19.558.846 juta dan Rp15.849.567 juta dengan rincian sebagai berikut:
31 Desember 2008 December 31, 2008 Harga Perolehan Acquisition cost rp juta IDr million a. Obligasi Negara - Tersedia utk dijual - Bunga Yang Masih Harus Diterima 17,488,804 0 (1,036,609) 0 16,452,195 411,668 Hasil revaluasi revaluation rp juta IDr million

Among Held-to-Maturity securities outstanding as at December 31, 2008 amounted to IDR76,451,689 million, IDR30,778,488 million will be due within 1 year, IDR33,528,749 million will be due within 1 to 5 years and IDR12,144,452 million will be due within 5 to 10 years.

Among Available for Sale securities categorized in BI Portfolio and Automatic Investment, as at December 31, 2008 amounted to IDR410,007,118 million, IDR144,183,252 million will be due within 1 year, IDR220,270,960 million will be due within 1 to 5 years and IDR45,552,906 million will be due within 5 to 10 years.

7. Government Bonds The balance of Government Bonds as at December 31, 2008 and December 31, 2007 were IDR19,558,846 million and IDR15,849,567 million respectively, with details as follows:

Harga Pasar dan Bunga YMH Diterima Fair Value and Accrued Interest rp juta IDr million

31 Desember 2007 December 31, 2007 Harga Perolehan Acquisition cost rp juta IDr million Hasil revaluasi revaluation rp juta IDr million

Harga Pasar dan Bunga YMH Diterima Fair Value and Accrued Interest rp juta IDr million a. Marketable Treasury Bonds

15,496,633 0

(39,204) 0

15,457,429 392,138

- Available for Sale - Accrued Interest

17,488,804 b. Surat Perbendaharaan Negara - Tersedia utk dijual - Bunga Yang Masih Harus Diterima Total 2,637,609 0 57,374 0

16,863,863

15,496,633

15,849,567 b. Treasury Bills

2,694,983 0

0 0

0 0

0 0

- Available for Sale - Accrued Interest

2,637,609 20,126,413

2,694,983 19,558,846

0 15,496,633

0 15,849,567 Total

94

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Surat Utang Negara Republik Indonesia yang dimiliki oleh Bank Indonesia terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) jenis Obligasi Negara (ON) dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang dapat diperjualbelikan, yang dikelompokkan sebagai SSB Tersedia untuk Dijual. SUN untuk jenis ON tersebut diperoleh Bank Indonesia melalui pembelian di pasar sekunder mulai bulan April 2005 dalam rangka building stock SUN yang akan menggantikan SBI sebagai instrumen moneter sesuai dengan UndangUndang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang prosesnya masih dalam pembahasan antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Sedangkan untuk jenis SPN diperoleh Bank Indonesia melalui pembelian di pasar perdana mulai bulan Mei 2008. Obligasi Negara diantaranya sebesar Rp3.030.222 juta akan jatuh tempo dalam periode antara 1-5 tahun, sebesar Rp5.923.850 juta akan jatuh tempo dalam periode 5-10 tahun dan sebesar Rp7.498.123 juta akan jatuh tempo di atas 10 tahun. 8. Surat Berharga – repo Saldo Surat Berharga – Repo per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing adalah sebesar Rp2.885.392 juta dan Rp239.466 juta. Surat Berharga –Repo terdiri atas SBI dan SUN – Repo yang berjangka waktu satu hari, transaksi Fine Tune Ekspansi (FTE) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Repo yang berjangka waktu paling lama 14 hari.

Marketable securities in Rupiah owned by Bank Indonesia were government bonds (Surat Utang Negara – SUN), in the form of Marketable treasury bonds (Obligasi Negara – ON) and Treasury Bills (Surat Perbendaharaan Negara SPN), which were classified as Available for Sale securities. SUN were acquired by Bank Indonesia in the secondary market starting on April 2005, aimed for building SUN stocks, which was intended to substitute Bank Indonesia Certificates (SBI) as monetary instruments as stated in Act of State Treasury Number 1 of 2004. This process is still under discussion between Bank Indonesia and the Government. SPN was acquired by Bank Indonesia through the primary market starting from May 2008.

ON available for sale amounted to IDR3,030,222 million will be due within 1 to 5 years, IDR5,923,850 million will be due within 5 to 10 years and IDR7,498,123 million will be due over 10 years.

8. Securities Purchased under resale Agreements Securities Purchased under Resale Agreements as at December 31, 2008 and December 31, 2007 amounted to IDR2,885,392 million and IDR239,466 million respectively. They consisted of Bank Indonesia Certificates–Repo (SBI– Repo) and Government Bonds – Repo (SUN – Repo) with a period of one day, Fine Tune Expansion (FTE) transaction and Government Marketable Sharia Securities – Repo (Surat Berharga Syariah Negara Repo – SBSN Repo) with a period of up to 14 days. 9. claims on Government Claims on Government as at December 31, 2008 and December 31, 2007 amounted to IDR263,735,827 million and IDR264,174,935 million respectively, with details as follows:

9. Tagihan kepada Pemerintah Saldo Tagihan kepada Pemerintah per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing adalah sebesar Rp263.735.827 juta dan Rp264.174.935 juta terdiri dari:

31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million - Tagihan kepada Pemerintah dalam Rupiah - Tagihan kepada Pemerintah dalam Valas 263,703,880 31,947 263,735,827

31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 264,147,455 27,480 264,174,935 - Claims on Government in IDR - Claims on Government in Foreign Currency

Bank Indonesia 2008 Annual Report

95

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

a. Tagihan kepada Pemerintah dalam rupiah Tagihan kepada Pemerintah dalam Rupiah pada tanggal 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing sebesar Rp263.703.880 juta dan Rp264.147.455 juta, terdiri dari: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million - Surat Utang Pemerintah - Obligasi Negara Seri SRBI-01/ MK/2003 - Tagihan kepada Pemerintah dalam Rupiah Lainnya 128,816,069 129,344,302 5,543,509 263,703,880

a. claims on Government in IDr Claims on Government in IDR as at December 31, 2008 and December 31, 2007 were IDR263,703,880 million and IDR264,147,455 million respectively, with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 130,034,662 129,344,302 4,768,491 264,147,455 - Government Bonds (SUP) - Treasury Bonds (ON) No. SRBI-01/MK/2003 - Other claims on Government in Rupiah

1) Surat Utang Pemerintah (SUP) Nilai SUP per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 adalah sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Nilai Nominal - SUP Nomor: SU-002/MK/1998 - SUP Nomor: SU-004/MK/1999 - SUP Nomor: SU-005/MK/1999 - SUP Nomor: SU-007/MK/2006 20,000,000 53,779,500 1,218,592 53,817,977 128,816,069 a) SUP Nomor: SU-002/MK/1998 (SU-002) SU-002 diterbitkan tanggal 23 Oktober 1998 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1998 tentang Pinjaman Dalam Negeri dalam Bentuk Surat Utang jo. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1998 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bank Ekspor Impor Indonesia (PT BEII).
Nilai nominal SU-002 adalah sebesar Rp20.000.000 juta yang tidak dapat dipindahtangankan dan diperjualbelikan. Sesuai surat Menteri Keuangan Nomor S-505/ MK.08/2006 tanggal 24 November 2006, sejak tanggal 1 Januari 2006 ketentuan dan persyaratan SU-002 diubah menjadi sebagai berikut:

1) Government Bonds (SUP) The values of SUP as at December 31, 2008 and December 31, 2007 were as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million Nominal value: 20,000,000 53,779,500 2,437,185 53,817,977 130,034,662 a) SUP Number SU-002/MK/1998 (SU-002) SU-002 was issued on October 23, 1998 based on Presidential Decree Number 55 of 1998 concerning Domestic Loans in the form of Debt Securities in relation with Government Regulation Number 60 of 1998 concerning Addition of The Republic of Indonesia’s Equity Participation in PT Bank Ekspor Impor Indonesia (PT. BEII). - SU-002/MK/1998 - SU-004/MK/1999 - SU-005/MK/1999 - SU-007/MK/2006

The nominal value of SU-002 was IDR20,000,000 million, non-transferable and non-marketable.

As stated in Minister of Finance Letter Number S-505/MK.08/2006 dated November 24, 2006, since January 1, 2006 the terms and conditions of SU-002 has been amended as follows:

96

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

(1) Bunga SU-002 sebesar 1% per tahun yang dihitung dari sisa pokok, tanpa indeksasi dan dibayar secara tunai oleh Pemerintah kepada Bank Indonesia setiap 6 bulan sekali yaitu pada tanggal 1 April dan 1 Oktober. Pembayaran bunga pertama kali dilakukan tanggal 1 Desember 2006 untuk pembayaran bunga yang jatuh tempo tanggal 1 April 2006 dan tanggal 1 Oktober 2006. (2) Pokok SU-002 diangsur sebanyak 31 kali. Angsuran pertama jatuh tempo dan dibayar tanggal 1 April 2010 dan angsuran berikutnya jatuh tempo dan dibayar setiap tanggal 1 April dan 1 Oktober setiap tahunnya sehingga angsuran terakhir jatuh tempo dan dibayar pada tanggal 1 April 2025. Pembayaran angsuran pokok dapat dilakukan secara tunai atau dibayar dengan SUN yang dapat diperdagangkan. Perubahan SU-002 tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Kesepakatan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tanggal 18 April 2006 tentang Restrukturisasi Surat Utang Nomor SU-002/MK/1998 dan SU-004/MK/1999, yang didukung oleh Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dalam Rapat Kerja antara Komisi XI DPRRI dengan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tanggal 11 Oktober 2006. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2008 tanggal 10 November 2008 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, Menteri Keuangan telah menerbitkan addendum kelima SU-002 yang mengubah suku bunga dari 1% menjadi 0,1% per tahun dan berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 2009.

(1) SU-002 interest rate is 1% per annum calculated based on the outstanding principal balances, without indexation and paid in cash by the Government to Bank Indonesia semi-annually on April 1 and October 1. The first payment was settled on December 1, 2006 to settle interest due on April 1, 2006 and October 1, 2006.

(2) Principal repayment is divided into 31 installments. The first installment is due on April 1, 2010, the next installments will be due on April 1 and October 1 each year until the final installment is due on April 1, 2025. Principal repayment may be settled in form of cash or marketable treasury bonds.

This amendment of SU-002 is part of the Agreement between the Minister of Finance and the Governor of Bank Indonesia dated April 18, 2006 regarding the Restructurization of Government Bond Number SU-002/MK/1998 and SU-004/MK/1999, that was supported by Commission XI of the DPR-RI in the work meeting between Commission XI DPR-RI with the Minister of Finance and the Governor of Bank Indonesia dated October 11, 2006. Based on Act No. 41 of 2008 dated November 10, 2008 concerning Government Income and Expenditure Budget for the year 2009, the Minister of Finance has issued the fifth addendum of SU-002 that amends the interest rate from 1% to 0.1% per annum and has been effective since January 1, 2009.

b) SUP Nomor SU-004/MK/1999 (SU-004) SU-004 diterbitkan tanggal 28 Mei 1999 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1998 tentang Pinjaman Dalam Negeri dalam Bentuk Surat Utang jo. Persetujuan Bersama Pemerintah dan Bank Indonesia tanggal 6 Februari 1999.
Nilai nominal SU-004 adalah sebesar Rp53.779.500 juta yang tidak dapat dipindahtangankan dan diperjualbelikan.

b) SUP Number SU-004/MK/1999 (SU-004) SUP Number SU-004/MK/1999 was issued on May 28, 1999 based on Presidential Decree Number 55 of 1998 concerning Domestic Loans in the Form of Debt Securities in relation with Agreement between the Government and Bank Indonesia dated February 6, 1999.
The nominal value is IDR53,779,500 million, non-transferable and non-marketable.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

97

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Sesuai surat Menteri Keuangan Nomor S-505/ MK.08/2006 tanggal 24 November 2006, sejak tanggal 1 Januari 2006 ketentuan dan persyaratan SU-004 diubah menjadi sebagai berikut: (1) Bunga SU-004 sebesar 3% per tahun dihitung dari sisa pokok, tanpa indeksasi dan dibayar secara tunai oleh Pemerintah kepada Bank Indonesia setiap 6 bulan sekali yaitu pada tanggal 1 Juni dan 1 Desember. Pembayaran bunga pertama kali dilakukan pada tanggal 1 Desember 2006 untuk pembayaran bunga yang jatuh tempo tanggal 1 Juni 2006 dan tanggal 1 Desember 2006. (2) Pokok SU-004 diangsur sebanyak 32 kali. Angsuran pertama jatuh tempo dan dibayar tanggal 1 Juni 2010 dan angsuran berikutnya jatuh tempo dan dibayar setiap tanggal 1 Desember dan 1 Juni setiap tahunnya sehingga angsuran terakhir jatuh tempo dan dibayar tanggal 1 Desember 2025. Pembayaran angsuran pokok dapat dilakukan secara tunai atau dibayar dengan SUN yang dapat diperdagangkan. Perubahan SU-004 tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Kesepakatan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tanggal 18 April 2006 tentang Restrukturisasi Surat Utang Nomor SU-002/MK/1998 dan SU004/MK/1999, yang didukung oleh Komisi XI DPR-RI dalam Rapat Kerja antara Komisi XI DPRRI dengan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tanggal 11 Oktober 2006. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2008 tanggal 10 November 2008 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009, Menteri Keuangan telah menerbitkan addendum kelima SU-004 yang mengubah suku bunga dari 3% menjadi 0,1% per tahun dan berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 2009.

As stated in Minister of Finance Letter Number S-505/MK.08/2006 dated November 24, 2006, since January 1, 2006 the terms and conditions of SU-004 has been amended as follows:

(1) SU-004 interest rate is 3% per annum calculated based on the outstanding principal balances, without indexation and paid in cash by the Government to Bank Indonesia semi-annually on June 1 and December 1. The first payment was settled on December 1, 2006 to settle interest due on June 1, 2006 and December 1, 2006.

(2) Principal repayment is divided into 32 installments. The first installment is due on June 1, 2010, the next installments will be due on December 1 and June 1 each year until the final installment is due on December 1, 2025. Principal repayment may be settled in form of cash or marketable treasury bonds.

This amendment of SU-004 is part of the Agreement between the Minister of Finance and the Governor of Bank Indonesia dated April 18, 2006 regarding the Restructurization of Government Bond Number SU-002/MK/1998 and SU-004/MK/1999, that was supported by Commission XI of the DPR-RI in the work meeting between Commission XI DPR-RI with the Minister of Finance and the Governor of Bank Indonesia dated October 11, 2006. Based on Act No. 41 of 2008 dated November 10, 2008 concerning Government Income and Expenditure Budget for the year 2009, the Minister of Finance has issued the fifth addendum of SU-004 that amends the interest rate from 3% to 0.1% per annum and has been effective since January 1, 2009.

c)

SUP Nomor SU-005/MK/1999 (SU-005) Dalam rangka pembiayaan kredit program, Pemerintah telah menerbitkan SU-005 pada tanggal 29 Desember 1999 dengan nominal sebesar Rp9.970.000 juta.

c)

SUP Number SU-005/MK/1999 (SU-005) In order to finance the credit program, the Government has issued SU-005 on December 29, 1999 amounted to IDR9,970,000 million.

98

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Dana SU-005 yang dapat ditarik oleh Pemerintah adalah sebesar jumlah Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) yang telah direalisasikan kepada bank pelaksana, yang jatuh tempo pada tahun 2000-2001 dan diterima kembali oleh Bank Indonesia, yaitu sebesar Rp3.097.979 juta. Sampai dengan batas akhir penarikan dana SU005 tanggal 10 November 2007, Pemerintah telah melakukan penarikan sebesar Rp3.046.481 juta.

The amount of SUP that can be withdrawn by the Government is based on the amount of Bank Indonesia Liquidity Credit (Kredit Likuiditas Bank Indonesia - KLBI) that has been realized by the implementing banks which was due within 2000-2001 period, and has been repaid to Bank Indonesia amounted to IDR3,097,979 million. Up to the final SU-005 withdrawal time limit dated November 10, 2007, the Government has withdrawn the fund amounted to IDR3,046,481 million. As stated in Minister of Finance letter Number S-270/MK.06/2004 dated August 18, 2004, the terms and conditions of the bond has been amended as follows: (1) Interest arising from Bond Number SU-005/ MK/1999 is calculated based on the realized principal that is paid semi-annually. The interest is calculated using 3 - month term SBI that is periodically adjusted.

Sesuai surat Menteri Keuangan Nomor S-270/ MK.06/2004 tanggal 18 Agustus 2004, ketentuan dan persyaratan SU-005 diubah menjadi sebagai berikut: (1) Bunga SU-005 dihitung dari jumlah realisasi pokok pinjaman yang pembayarannya dilakukan setiap 6 bulan. Bunga tersebut dihitung berdasarkan tingkat suku bunga SBI berjangka waktu 3 bulan yang ditetapkan secara periodik. (2) Jangka waktu pinjaman 10 tahun dengan masa tenggang 7 tahun 6 bulan. (3) Pokok pinjaman akan dibayarkan kembali dalam jangka waktu 2 tahun 6 bulan dengan pembayaran pokok pinjaman dilakukan sebanyak 5 kali angsuran secara prorata, dibayarkan setiap 6 bulan pada tanggal 10 Juni dan 10 Desember setiap tahunnya. Angsuran pertama dibayar tanggal 10 Desember 2007 dan angsuran terakhir tanggal 10 Desember 2009. Pada tanggal 10 Desember 2008, Pemerintah telah melakukan pembayaran angsuran ketiga SU-005 sebesar Rp609.296 juta sehingga baki debet SU-005 pada tanggal 31 Desember 2008 menjadi sebesar Rp1.218.592 juta.

(2) The Bond has a 10-year maturity period with a 7 year and 6 month grace period. (3) The principal will be settled in 2 years 6 months with 5 pro-rate principal installments, and will be paid semi-annually on June 10 and December 10. The first installment was settled on December 10, 2007 and the final installment will be settled on December 10, 2009.

On December 10, 2008, the Government has paid the third installment of SU-005 amounted to IDR609,296 million resulting in an outstanding amount at December 31, 2008 of IDR1,218,592 million.

d) SUP Nomor SU-007/MK/2006 (SU-007) SU-007 diterbitkan tanggal 24 November 2006 berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara dan Kesepakatan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tentang Restrukturisasi Surat Utang Nomor SU-002/MK/1998 dan SU004/MK/1999 tanggal 18 April 2006.

d) SUP Number SU-007/MK/2006 (SU-007) SU-007 was issued on November 24, 2006 based on Act of the Republic of Indonesia Number 24 of 2002 concerning Government Bonds and the Agreement between the Minister of Finance and the Governor of Bank Indonesia dated April 18, 2006 concerning Restructurization of Government Bond Number SU-002/MK/1998 and SU-004/MK/1999.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

99

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Nilai nominal SU-007 adalah sebesar Rp54.862.150 juta dan tidak dapat diperdagangkan. SU-007 diterbitkan untuk mendudukkan tunggakan bunga dan hasil indeksasi SU-002 dan SU-004 sampai dengan tanggal 31 Desember 2005 dengan rincian sebagai berikut: (1) Tunggakan bunga SU-002 sebesar Rp4.637.583 juta. (2) Tunggakan bunga SU-004 sebesar Rp12.291.887 juta. (3) Hasil indeksasi SU-002 sebesar Rp11.231.072 juta. (4) Hasil indeksasi SU-004 sebesar Rp26.701.608 juta. Adapun persyaratan Surat Utang ini adalah sebagai berikut: (1) SU-007 mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2006 dan jatuh tempo pada tanggal 1 Agustus 2025. (2) Bunga SU-007 sebesar 0,1% (satu perseribu) per tahun yang dihitung dari sisa pokok dan dibayar secara tunai oleh Pemerintah kepada Bank Indonesia setiap 6 (enam) bulan sekali yaitu pada tanggal 1 Februari dan 1 Agustus. Pembayaran bunga pertama kali dilakukan pada tanggal 1 Desember 2006 untuk pembayaran bunga yang jatuh tempo tanggal 1 Februari 2006 dan tanggal 1 Agustus 2006. (3) Pokok SU-007 diangsur sebanyak 38 (tiga puluh delapan) kali. Angsuran pertama jatuh tempo dan dibayar tanggal 1 Februari 2007 dan angsuran berikutnya jatuh tempo dan dibayar setiap tanggal 1 Agustus dan 1 Februari setiap tahunnya sehingga angsuran terakhir jatuh tempo dan dibayar tanggal 1 Agustus 2025. Pembayaran angsuran pokok dilakukan secara tunai atau dibayar dengan Surat Utang Negara yang dapat diperdagangkan.

The nominal value of SU-007 is IDR54,862,150 million and is non-tradable.

SU-007 was issued to substitute the interest and indexation claim of SU-002 and SU-004 until December 31, 2005, with details as follows:

(1) SU-002 interest claim IDR4,637,583 million. (2) SU-004 interest claim IDR12,291,887 million. (3) SU-002 indexation claim IDR11,231,072 million. (4) SU-004 indexation claim IDR26,701,608 million.

amounted amounted

to to

amounted to amounted to

The terms and conditions of SU-007 are:

(1) SU-007 became effective on January 1, 2006 and will be due on August 1, 2025.

(2) SU-007 interest rate is 0.1% per annum calculated based on the remaining principal balances, and paid in cash by the Government to Bank Indonesia semiannually on February 1 and August 1. The first interest payment was settled on December 1, 2006 to pay for interest due on February 1, 2006 and August 1, 2006.

(3) Principal repayment is divided into 38 installments. The first installment is due on February 1, 2007, the next installments will be due on August 1 and February 1 each year until the final installment is due on August 1, 2025. Principal repayment may be settled in form of cash or marketable treasury bonds.

100

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Pada tanggal 1 Februari 2008, Pemerintah telah melakukan pembayaran angsuran ketiga SU007 sebesar Rp561.561 juta sehingga baki debet SU-007 pada tanggal 1 Februari 2008 turun menjadi sebesar Rp53.256.417 juta. Selanjutnya sesuai surat Menteri Keuangan Nomor S-33/ MK.8/2008 tanggal 10 April 2008 dan Nomor S-344/MK.08/2008 tanggal 10 Juli 2008 serta surat Bank Indonesia Nomor 10/12/DpG/DKBU tanggal 23 September 2008, angsuran pokok SU007 yang telah dibayar pada tanggal 1 Februari 2008 dialihkan untuk membayar angsuran pokok SU-005 yang jatuh tempo tanggal 10 Desember 2008 sehingga baki debet SU-007 per tanggal 10 Desember 2008 kembali menjadi Rp53.817.977 juta. Hal ini telah ditindaklanjuti oleh Menteri Keuangan dengan menerbitkan addendum keempat SU-007 tertanggal 24 Desember 2008.

On February 1, 2008, the Government has paid the third installment of SU-007 amounted to IDR561,561 million resulting in an outstanding amount as at February 1, 2008 decreased to IDR53,256,417 million. Subsequently, as stated in Minister of Finance Letter No. S-33/MK.8/2008 dated April 10, 2008 and No. S-344/MK.08/2008 dated July 10, 2008 and Bank Indonesia Letter No. 10/12/DpG/DKBU dated September 23, 2008, the installment paid on February 1, 2008 was exchanged as SU-005 installment that was due on December 10, 2008 resulting in the outstanding principal of SU-007 as at December 2008 to return to the previous amount of IDR53,817,977 million. This was followed up by the Minister of Finance by issuing the fourth addendum of SU-007 dated December 24, 2008.

2) Obligasi Negara Seri SrBI-01/MK/2003 (SrBI-01) SRBI-01 diterbitkan sebagai pengganti SUP Nomor SU-001/MK/1998 dan Nomor SU-003/MK/1999 dalam rangka pelaksanaan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah dan Bank Indonesia mengenai Penyelesaian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia serta Hubungan Keuangan Pemerintah dan Bank Indonesia tanggal 1 Agustus 2003. Nilai nominal SRBI-01 adalah sebesar Rp129.344.302 juta. Adapun persyaratan SRBI-01 adalah sebagai berikut:
a) SRBI-01 mulai berlaku pada tanggal 1 Agustus 2003, tanpa indeksasi, berjangka waktu 30 tahun dan dapat diperpanjang. b) SRBI-01 dikenakan bunga tahunan sebesar 0,1 % dari sisa pokok, yang dibayar oleh Pemerintah setiap 6 bulan sekali, yaitu pada bulan Februari dan Agustus. c) Pelunasan pokok SRBI-01 bersumber dari surplus Bank Indonesia yang menjadi bagian Pemerintah dan dilakukan apabila rasio modal terhadap kewajiban moneter Bank Indonesia telah mencapai di atas 10%. Dalam hal rasio modal terhadap kewajiban moneter Bank Indonesia kurang dari 3%, maka Pemerintah membayar charge kepada Bank Indonesia sebesar kekurangan dana yang diperlukan untuk mencapai rasio modal tersebut. Dalam hal SRBI-01 telah dilunasi dari surplus Bank Indonesia yang menjadi bagian Pemerintah sebelum jangka waktu 30 tahun, maka SRBI-01 tersebut dinyatakan lunas dan tidak berlaku lagi.

2) Treasury Bond (ON) Number SrBI-01/MK/2003 ON was issued as the substitute for SUP Number SU-001/MK/1998 and SU-003/MK/1999 in relation to the implementation of Agreement between the Government and Bank Indonesia concerning the Settlement of BLBI and the Financial Relationship between the Government and Bank Indonesia dated August 1, 2003. The nominal value of the Bond is IDR129,344,302 million. The terms and conditions of ON are as follows:

a)

ON became effective on August 1, 2003, without indexation, has a 30-year maturity period and is extendable. b) Interest on ON is 0,1% per annum calculated based on the remaining principal balances, which will be paid by the Government semiannually on February and August. c) ON redemption is funded from the surplus of Bank Indonesia which is accruing to the Government and shall be performed in the event that the capital to monetary liabilities ratio of Bank Indonesia has exceeded 10%. If the capital to monetary liabilities ratio is less than 3%, the Government is obliged to pay charge in order to maintain the ratio at 3% level. If the redemption of the ON SRBI-01 is accomplished before 30 years from the surplus of Bank Indonesia that is accruing to the Government, Treasury Bond will be stated settled and will be revoked.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

101

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

SRBI-01 telah mengalami dua kali perubahan sebagai berikut:
a) Perubahan SRBI-01 yang disampaikan dengan surat Menteri Keuangan Nomor S-10/ MK.8/2006 tanggal 19 Desember 2006 karena adanya pembayaran angsuran pokok SRBI-01 pada tahun 2006 sebesar Rp1.522.471 juta yang berasal dari surplus Bank Indonesia tahun 2005 yang menjadi bagian Pemerintah, sehingga pokok SRBI-01 menjadi Rp143.013.623 juta.

ON has been amended twice, with details as follows:
a) First amendment of ON by Minister of Finance Letter Number S-10/MK.8/2006 dated December 19, 2006 due to principal payment of 2006 amounted IDR1,522,471 million from Bank Indonesia’s surplus for the year 2005 accrued to the Government. The remaining principal of ON SRBI-01 was IDR143,013,623 million.

b) Perubahan Kedua SRBI-01 yang disampaikan dengan surat Menteri Keuangan Nomor S-68/ MK.8/2007 tanggal 15 Mei 2007 karena adanya pembayaran angsuran pokok SRBI-01 pada tahun 2007 sebesar Rp13.669.321 juta yang berasal dari surplus Bank Indonesia tahun 2006 yang menjadi bagian Pemerintah, sehingga pada posisi 31 Desember 2008 pokok SRBI-01 menjadi Rp129.344.302 juta.

b) Second amendment of ON by Minister of Finance Letter Number S-68/MK.8/2007 dated May 15, 2007 due to principal payment of 2007 amounted IDR13,669,321 million from Bank Indonesia’s surplus for the year 2006 accrued to the Government, resulting the outstanding position as at December 31, 2007 of IDR129,344,302 million.

3) Tagihan kepada Pemerintah dalam rupiah lainnya 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million - Tagihan karena keanggotaan Pemerintah dalam Lembaga Internasional - Tagihan bunga kepada Pemerintah - Tagihan lainnya dalam Rupiah 2,826,956

3) Other claims on Government in rupiah

31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 2,826,956 - Claims due to Government membership in international institutions - Claims due to loan interests - Other claims in Rupiah

2,697,772 18,781 5,543,509

1,931,761 9,774 4,768,491

Kecuali Tagihan Bunga kepada Pemerintah, Tagihan kepada Pemerintah dalam Rupiah Lainnya merupakan tagihan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004. Tagihan kepada Pemerintah dalam Rupiah Lainnya terdiri dari:

Other than claims due to loan interests, other claims on Government in Rupiah were claims effective before the enactment of Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, with details as follows:

102

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

a)

Tagihan karena keanggotaan Pemerintah dalam Lembaga Internasional sebesar Rp2.826.956 juta, terdiri dari tagihan kepada Pemerintah karena keanggotaan pada IMF sebesar Rp2.764.861 juta, keanggotaan pada IBRD sebesar Rp57.434 juta dan keanggotaan lainnya sebesar Rp4.661 juta. Penyelesaian lebih lanjut atas tagihan ini sedang dalam proses pembahasan internal Bank Indonesia.

a)

Claims due to Government membership in International Institutions amounted to IDR2,826,956 million, consisted of IMF membership fee amounted to IDR2,764,861 million, membership in IBRD amounted to IDR57,434 million and other memberships amounted to IDR4,661 million. Subsequent resolution of those claims is currently being discussed between Bank Indonesia and the Ministry of Finance.

b) Tagihan bunga kepada Pemerintah sebesar Rp2.697.772 juta terdiri dari: Tagihan bunga SU-002, SU-004, SU-005, dan SU-007 sebesar Rp2.090.098 juta. Sesuai surat Menteri Keuangan Nomor: S-33/MK.8/2008 tanggal 10 April 2008 dan Nomor: S-344/MK.08/2008 tanggal 10 Juli 2008 serta surat Bank Indonesia No.10/12/ DpG/DKBU tanggal 23 September 2008, pembayaran bunga SU-002, SU-004, dan SU007 yang jatuh tempo tahun 2008 ditunda dan akan dibayar pada tahun 2009; Tagihan bunga SRBI-01 sebesar Rp53.776 juta;

b) Claims due to loan interest amounted to IDR2,697,772 million, consisted of: Interest claim of SU-002, SU-004, SU-005 and SU-007 amounted to IDR2,090,098 million. As stated in Minister of Finance Letter No. S-33/MK.8/2008 dated April 10, 2008 and No. S-344/MK.08/2008 dated July 10, 2008 and Bank Indonesia Letter No. 10/12/ DpG/DKBU dated September 23, 2008, the payment of interest for SU-002, SU-004, and SU-007 due in 2008 is postponed and will be paid in 2009; Interest claim of ON SRBI-01 amounted to IDR53,776 million; Claim due to subsidy of credit program interest rate amounted to IDR553,898 million. The amount decreased due to payment of accrued Subsidy of Credit Program Interest Rate by the Government for the period of 1998/1999 to 2002 amounted to IDR1,070,599 million as stated in Minister of Finance Letter No. S-634/ MK.05/2008 dated November 20, 2008.

-

Tagihan dalam rangka Subsidi Suku Bunga Kredit Program sebesar Rp553.898 juta. Jumlah tagihan tersebut mengalami penurunan karena ada pembayaran Pemerintah atas Subsidi Bunga Kredit Program yang masih harus diperhitungkan TA 1998/1999 s.d. TA 2002 sebesar Rp1.070.599 juta sebagaimana surat Menteri Keuangan No.S-634/MK.05/2008 tanggal 20 November 2008. c)

-

c)

Tagihan lainnya dalam Rupiah sebesar Rp18.781 juta terdiri dari tagihan kepada Pemerintah dalam rangka restrukturisasi hutang swasta sebesar Rp18.589 juta yang masih dalam proses penyelesaian dengan Pemerintah dan tagihan lainnya sebesar Rp192 juta.

Other claims in Rupiah amounted to IDR18,781 million consisted of claim on Government due to the commercial loan restructuring amounted to IDR18,589 million which is in the settlement process with the Government and other claims amounted to IDR192 million.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

103

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

b. Tagihan kepada Pemerintah dalam Valuta Asing Tagihan kepada Pemerintah dalam Valuta Asing merupakan tagihan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004. Tagihan ini adalah tagihan dalam rangka restrukturisasi utang swasta sebesar USD2,917,495.37 atau setara dengan Rp31.947 juta pada tanggal 31 Desember 2008 dan setara dengan Rp27.480 juta pada tanggal 31 Desember 2007. Tagihan ini masih dalam proses penyelesaian antara Pemerintah dan Bank Indonesia. 10. Tagihan kepada Bank Tagihan kepada Bank dalam Rupiah per tanggal 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing sebesar Rp11.978.714 juta dan Rp12.318.440 juta dengan rincian sebagai berikut: 31 Des 2008 Dec 31, 2008 rp juta IDr million 3,945,691 1.958.422 689,394 13,522 49,437 5,322,248 11,978,714

b. claims on Government in Foreign currency Claims on Government in Foreign Currency consisted of claims that were effective before the enactment of Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004. These claims were due to the commercial loan restructurization amounted to USD2,917,495.37 or equivalent to IDR31,947 million as at December 31, 2008 and equivalent to IDR27,480 million as at December 31, 2007. These claims are in the settlement process between the Government and Bank Indonesia.

10. claims on Banks Claims on banks in Rupiah as at December 31, 2008 and December 31, 2007 amounted to IDR11,978,714 million and IDR12,318,440 million respectively, with details as follows: 31 Des 2007 Dec 31, 2007 rp juta IDr million 4,082,378 2.842.119 0 14,649 57,046 5,322,248 12,318,440

- Pinjaman Subordinasi (SOL) - Kredit Likuditas Bank Indonesia (KLBI) - Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) - Pinjaman Dua Tahap (TSL) - Tagihan Bunga SOL dan KLBI - Tagihan Bunga Lainnya Jumlah

- Subordinated loans (SOL) - Bank Indonesia Liquidity Credit (KLBI) - Short Term Funding Facility (FPJP) - Two Step Loans (TSL) - Claims of interest for SOL and KLBI - Other claims of interest Total

- SOL - KLBI - TSL

31 Des 2008 Dec 31, 2008 Bunga Setahun Interest p.a. 0.20% - 13.00% 0.00% - 20.00% 9.5%

31 Des 2007 Dec 31, 2007 Bunga Setahun Interest p.a. 0.20% - 10.00% 0.00% - 20.00% 7.8333%

- Subordinated loans - Bank Indonesia Liquidity Credit - Two Step Loans (TSL)

Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) sebesar Rp689.394 juta merupakan pemberian FPJP kepada satu bank umum swasta nasional. Bank tersebut sejak tanggal 20 November 2008 masuk dalam program penyelamatan Lembaga Penjamin Simpanan. FPJP tersebut telah dilunasi pada tanggal 11 Februari 2009.

Short Term Funding Facility (Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek – FPJP) amounted to IDR689,394 million was a short term funding facility to one national private bank. That bank, since November 20, 2008, has been included in the recovery program of the Savings Guarantee Institution (Lembaga Penjamin Simpanan – LPS). That FPJP has been redeemed on February 11, 2009.

104

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Tagihan bunga lainnya merupakan tagihan bunga atas Fasilitas Saldo Debet (FSD) kepada 3 (tiga) bank berstatus Bank Take Over (BTO) yang diberikan pada tahun 1998. Tagihan pokok FSD telah dialihkan kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan akta Cessie pada tahun 1999. Tagihan bunga FSD belum dialihkan kepada BPPN namun telah diperhitungkan oleh BPPN dalam proses rekapitalisasi tiga bank berstatus BTO tersebut. Bank Indonesia telah beberapa kali meminta penegasan Pemerintah atas penyelesaian tagihan bunga FSD dimaksud, terakhir dengan surat Nomor 10/15/DpG/ DKBU tanggal 12 Desember 2008, namun sampai tanggal 31 Desember 2008 belum mendapatkan tanggapan. Bank Indonesia telah mengantisipasi secara memadai kemungkinan risiko yang terjadi atas tagihan-tagihan tersebut. 11. Tagihan kepada lainnya Saldo Tagihan kepada Lainnya per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing adalah sebesar Rp8.798.222 juta dan Rp10.492.670 juta terdiri dari: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million - Tagihan kepada Lainnya dalam Rupiah - Tagihan kepada Lainnya dalam Valas Jumlah a. Tagihan kepada lainnya dalam rupiah Tagihan kepada lainnya dalam Rupiah per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing sebesar Rp8.798.222 juta dan Rp9.376.012 juta terdiri dari: 8,798,222 0 8,798,222

Interest claims of Debit Balance Facility (Fasilitas Saldo Debet – FSD) to three taken-over banks (BTO) were given in 1998. FSD principal claims had been transferred to IBRA by assignment of contract rights certificate in 1999. The interest claims of FSD had not been transferred to IBRA, however IBRA had calculated these claims upon recapitalization process of BTO. Bank Indonesia has proposed confirmation to the Government regarding the settlement of the interest claims of FSD, the most current letter No. 10/15/DpG/DKBU dated December 12, 2008, but as at December 31, 2008 there has not been any response.

Bank Indonesia has adequately anticipated the estimated loss of the claims.

11. claims on Others Claims on others as at December 31, 2008 and December 31, 2007 respectively were IDR8,798,222 million and IDR10,492,670 million, with details as follows:

31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 9,376,012 1,116,658 10,492,670 - Claim on Others in Rupiah - Claim on Others in Foreign Currency Total

a. claim on Others in rupiah Claims on others as at December 31, 2008 and December 31, 2007 respectively were IDR8,798,222 million and IDR9,376,012 million, with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 41,130 2,524,662 - Debit Balance of BBO/BBKU - Claims on appointed State-Owned Enterprises due to credit program hand-over - Claims on channeling loan - Other claims Total

31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million - Saldo debet giro bank BBO/BBKU - Tagihan pada BUMN yang ditunjuk Pemerintah dalam rangka pengalihan sisa kredit program - Tagihan karena pemberian kredit channeling - Tagihan Lainnya Jumlah 0 2,560,594

5,829,957 407,671 8,798,222

5,840,134 970,086 9,376,012

Bank Indonesia 2008 Annual Report

105

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Termasuk dalam tagihan karena pemberian kredit channeling adalah tunggakan KUT sebesar Rp5.709.602 juta. Penyelesaian tagihan tunggakan KUT dimaksud masih menunggu hasil pembahasan risk sharing dengan Pemerintah. Bank Indonesia telah melakukan penghapusbukuan atas tagihan kepada eks BBO/BBKU yang dicatat dalam Saldo Debet Giro Bank BBO/BBKU dan Tagihan Lainnya sebesar Rp537.336 juta. Penghapusan atas tagihan tersebut dilakukan berdasarkan keputusan RDG tanggal 23 Desember 2008 dengan pertimbangan antara lain karena bank (BBO/BBKU) tersebut telah dicabut izin usahanya dan dilikuidasi oleh BPPN pada tahun 2004. Bank Indonesia telah mengantisipasi secara memadai kemungkinan risiko yang terjadi atas tagihan-tagihan tersebut. b. Tagihan kepada lainnya dalam Valas Tagihan kepada lainnya dalam valuta asing pada tanggal 31 Desember 2008 adalah nihil, sedangkan pada tanggal 31 Desember 2007 sebesar USD118,553,762.49 atau setara dengan Rp1.116.658 juta. Sesuai dengan RDG tanggal 23 Desember 2008, BI telah melakukan penghapusan atas tagihan wesel ekspor eks salah satu Bank dalam Likuidasi sebesar USD118,553,762.49, termasuk didalamnya sebesar USD112,7 juta yang telah dihibahkan kepada Pemerintah (Departemen Keuangan) melalui surat Bank Indonesia Nomor 10/1/ DpG/UKPA tanggal 29 Februari 2008 berdasarkan keputusan RDG tanggal 18 September 2007. 12. Penyertaan Bank Indonesia mempunyai penyertaan pada lembaga perbankan dan lembaga keuangan lainnya, dengan rincian sebagai berikut: Persentase Kepemilikan Percentage of Ownership % Penyertaan pada: - Bank for International Settlements – PT Asuransi Kredit Indonesia – NV Indover Bank Amsterdam – PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia

Included in claims on channeling loan was KUT in arrears amounted to IDR5,709,602 million. Settlement of this claim is still waiting for the result of risk sharing discussion with the Government.

Bank Indonesia has written-off claims to ex-BBO/BBKU that was recorded as Debit Balance of BBO/BBKU and Other Claims amounted to IDR537,336 million. The write-off of those claims was based on BI’s Board of Governor Meeting Decision dated December 23, 2008 considering the revocation and liquidation of the banks’ (BBO-BBKU) business licenses by IBRA in 2004.

Bank Indonesia has adequately anticipated the estimated loss of claims due to the interest of FSD and KUT in arrears. b. claim on Others in Foreign currency Claims on others in foreign currency as at December 31, 2008 was zero and at December 31, 2007 amounted to USD118,553,762.49 or equivalent to IDR1,116,658 million. In accordance with Board of Governor Meeting decision dated December 23, 2008, BI has writtenoff claims of export notes from one of the ex-Bank in Liquidation amounted to USD118,553,762.49, including USD112,7 million that has been transferred to the Government (Ministry of Finance) through Bank Indonesia Letter Numbered 10/1/DpG/UKPA dated February 29, 2008 based on Board of Governor Meeting decision dated September 18, 2007. 12. Equity Participation Bank Indonesia holds several equity participations in banks and other financial institutions, with details as follows:

Persentase 31 Des 2008 Kepemilikan Dec 31, 2008 Percentage of Ownership rp juta % IDr million 712,753 220,000 0 0 932,753 0.55 55 100 82.22

31 Des 2007 Dec 31, 2007 rp juta IDr million 620,806 220,000 53,905 0 894,711 Equity participation in: – Bank for International Settlements (BIS) – PT Asuransi Kredit Indonesia – NV Indover Bank Amsterdam – PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia

0.55 17.60 100 82.22

106

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

a.

Bank Indonesia melakukan penyertaan pada Bank for International Settlements (BIS) berdasarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004 vide pasal 57, yang menyatakan bahwa Bank Indonesia dapat melakukan kerjasama dengan bank sentral lainnya, organisasi, dan lembaga internasional. Penyertaan modal tersebut telah memperoleh izin dari DPR-RI. Tujuan dari penyertaan tersebut adalah untuk memperoleh akses lebih besar terhadap kegiatan BIS dalam pengambilan keputusan, memanfaatkan fasilitas yang disediakan, meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia, meningkatkan kerjasama di bidang kebanksentralan yang berkaitan dengan kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran dan pengaturan perbankan. Bank Indonesia membeli 3.000 lembar saham (0,55% dari total saham yang beredar) pada tanggal 29 September 2003 dengan nilai nominal SDR5,000.00/saham dengan total harga perolehan SDR42,054,000.00. Posisi penyertaan tersebut pada tanggal 31 Desember 2008 setara dengan Rp712.753 juta.

a.

Bank Indonesia’s equity participation in BIS is based on Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, Article 57, which states that Bank Indonesia may establish cooperation with other central banks, organizations and international institutions. DPR-RI had approved of the equity participation in BIS. The purpose of the equity participation is to gain more access in BIS decision-making activities, to utilize the provided facilities, as well as to increase the international investors’ confidence towards Indonesia and cooperation with other central banks concerning monetary policy, financial system stability, payment system and banking regulation. On September 29, 2003, Bank Indonesia purchased 3000 shares (0.55% of total issued shares) with nominal value of SDR5,000/shares and total acquisition cost of SDR42,054,000.00. The balance of the equity participation as at December 31, 2008 is equivalent to IDR712,753 million.

b. Dalam rangka memenuhi ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004, Bank Indonesia telah melaksanakan upaya-upaya dalam proses pelaksanaan divestasi atas penyertaan pada bank dan lembaga keuangan yang dilakukan sebelum berlakunya ketentuan tersebut. Adapun perkembangan pelaksanaan divestasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2008 sebagai berikut: 1) N.V. De Indonesische Overzeese Bank (Indover Bank) Proses divestasi Indover Bank kepada salah satu Bank BUMN tidak dapat dilanjutkan karena bank yang bersangkutan mengajukan pengunduran diri sebagai preferred bidder Indover Bank pada bulan September 2008. Pengunduran diri ini disebabkan karena adanya turbulensi pada pasar finansial global. Di lain pihak, turbulensi pada pasar finansial juga berdampak pada dibekukannya kegiatan operasional Indover Bank oleh pengadilan Belanda pada tanggal 6 Oktober 2008 hingga Indover Bank akhirnya dinyatakan bangkrut oleh pengadilan Belanda pada tanggal 1 Desember 2008. Untuk selanjutnya, proses penyelesaian Indover bank akan dilakukan oleh trustee yang telah ditunjuk oleh pengadilan Amsterdam (press release Stibbe tanggal 1 Desember 2008). Nilai penyertaan Indover Bank per tanggal 31 Desember 2008 adalah nihil,

b. In order to comply with Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, Bank Indonesia has performed several efforts to divest all equity participation in banks and financial institutions that had been acquired before the enactment of the regulation.

The progress of the divestment up to December 31, 2008 is as follows: 1) N.V. De Indonesische Overzeese Bank (Indover Bank) The divestment process of Indover Bank to one of Indonesia’s State-Owned Banks could not be continued because the bank resigned as preferred bidder of Indover Bank in September 2008. This resignation was caused by the global financial market turbulence. On the other hand, the financial market turbulence has also caused the freezing of Indover Bank’s operational activities by the Netherland courts on October 6, 2008, which led to Indover Bank being declared bankrupt by the Netherland courts on December 1, 2008. The settlement of Indover Bank will be done by a trustee appointed by the Amsterdam courts (press release Stibbe dated December 1, 2008). The equity participation in Indover bank as at December 31, 2008 was zero, because Indover Bank’s equity had a negative balance. For the explanation of

Bank Indonesia 2008 Annual Report

107

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

karena ekuitas Indover Bank bersaldo negatif. Penempatan dana Bank Indonesia pada Indover Bank dan proses likiudasi Indover Bank dijelaskan pada Catatan C.13 – Aktiva Lain-lain dan Catatan D.3 – Komitmen dan Kontinjensi. 2) PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) Nilai penyertaan Bank Indonesia di Askrindo telah menurun dari 55,00% pada tahun 2007 menjadi 17,60% pada tahun 2008, karena adanya tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) yang dilakukan Pemerintah Indonesia di Askrindo sebesar Rp850.000 juta. Dengan adanya PMN tersebut, maka modal disetor meningkat menjadi sebesar Rp1.250.000 juta, dengan komposisi sebagai berikut: - Pemerintah c.q. Departemen Keuangan Rp1.030.000 juta (82,40%) - Bank Indonesia Rp220.000 juta (17,60%) 3) PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) Nilai penyertaan awal Bank Indonesia di BPUI adalah Rp18.500 juta dengan porsi kepemilikan 82,22%. Nilai penyertaan Bank Indonesia pada tanggal 31 Desember 2008 adalah nihil karena ekuitas BPUI bersaldo negatif. Atas permasalahan hak opsi PT Artha Investa Argha (AIA) terhadap kepemilikan 40,00% saham BPUI, Bank Indonesia telah memanggil AIA melalui media massa sebanyak 3 (tiga) kali untuk melakukan upaya penyelesaian secara bilateral dengan AIA namun sampai dengan batas waktu yang ditentukan wakil AIA tidak memenuhi undangan tersebut. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia tengah melakukan upaya hukum melalui gugatan kepada AIA di pengadilan dan saat ini dalam tahap persidangan. Dalam melaksanakan divestasi penyertaan pada Indover Bank, PT Askrindo, dan BPUI, Bank Indonesia tetap berpegang pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004, bahwa pelaksanaan divestasi selambat-lambatnya harus sudah dilakukan pada awal tahun 2009. Divestasi penyertaan Bank Indonesia pada PT Askrindo dan BPUI direncanakan akan dilakukan sesuai Kesepakatan antara Bank Indonesia, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara BUMN pada tanggal 24 September 2008. 3) 2)

Bank Indonesia’s placement of funds in Indover Bank and the liquidation process of Indover Bank please see Note C.13 – Other Assets and Note D.3 – Commitments and Contingencies.

PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) Bank Indonesia’s equity participation in Askrindo has decreased from 55.00% in 2007 to 17.60% in 2008, due to the addition of the Government’s equity participation (Penyertaan Modal Negara – PMN) in Askrindo amounted to IDR850,000 million. With this PMN, the paid-in capital has increased to IDR1,250,000 million, with the composition as follows: - Government c.q. Ministry of Finance IDR1,030,000 million (82.40%) - Bank Indonesia IDR220,000 million (17.60%)

PT. Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) The beginning balance of Bank Indonesia’s equity participation in BPUI amounted to IDR18,500 million with total ownership of 82.22%. The value of Bank Indonesia’s equity participation as at December 31, 2008 was zero because BPUI has negative equity value. Concerning AIA’s option towards 40% ownership of BPUI, Bank Indonesia has negotiated with PT. AIA to return the funds to PT. AIA by requesting a meeting with PT AIA through the mass media 3 times with no response. Bank Indonesia has taken legal action by filing a lawsuit against AIA and is currently in court.

In performing the divestment of Indover Bank, PT. Askrindo and BPUI, Bank Indonesia remains in line with Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, which stipulates that the divestment must be accomplished at the latest by early 2009.

The divestment of Bank Indonesia’s equity participation in PT Askrindo and BPUI will be performed in accordance with the Agreement between Bank Indonesia, the Ministry of Finance, and the Ministry of State-Owned Enterprises dated September 24, 2008.

108

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

13. Aktiva lain-lain Aktiva Lain-lain terdiri atas Aktiva Tetap, Aktiva Sewa Guna Usaha, Aktiva Tidak Berwujud, Aktiva Lain-lain pada Indo Plus BV (IPBV), Persediaan Bahan Uang dan Uang Muka Pengadaan Uang, serta Aktiva Lainnya. Posisi Aktiva Lain-lain pada tanggal 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing sebesar Rp9.194.090 juta dan Rp7.690.761 juta, dengan rincian sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million - Aktiva Tetap, Aktiva Sewa Guna Usaha dan Aktiva Tidak Berwujud (Nilai buku) - Aktiva Lain-lain pada IPBV - Persediaan Bahan Uang dan Uang Muka Pengadaan Uang - Lainnya 6,589,294

13. Other Assets Other Assets consists of Fixed Assets, Financial-Leased Assets, Intangible Assets, Other Assets in IPBV, Currency Inventory and Currency Procurement Advances, and Other Assets. The balances of Other Assets as at December 31, 2008 and December 31, 2007 were IDR9,194,090 million and IDR7,690,761 million respectively with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 6,566,744 - Fixed Assets, Financial-Leased Assets, and Intangible Assets (Book Value) - Other Assets in IPBV - Currency Inventory and Currency Procurement Advances - Other Assets

438,031 415,999 1,750,766 9,194,090

493,996 440,802 189,219 7,690,761

a. Aktiva Tetap, Aktiva Sewa Guna Usaha, dan Aktiva Tidak Berwujud Nilai buku Aktiva Tetap, Aktiva Sewa Guna Usaha dan Aktiva Tidak Berwujud per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing sebesar Rp6.589.294 juta dan Rp6.566.744 juta, dengan rincian sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Harga Perolehan/Revaluasi Aktiva Tetap: - Tanah dan Bangunan - Selain Tanah dan Bangunan Aktiva Tidak Berwujud Aktiva Sewa Guna Usaha Aktiva Dalam Penyelesaian

a. Fixed Assets, Financial-leased Assets and Intangible Assets The book value of fixed assets, financial-leased assets and intangible assets as at December 31, 2008 and December 31, 2007 were IDR6,589,294 million and IDR6,566,744 million respectively with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million Cost of Fixed Assets

6,112,234 1,210,873 56,740 83,209 364,573 7,827,629

6,086,410 1,126,410 58,306 83,209 261,221 7,615,556

- Land and Building - Non Land and Building Intangible Assets Financial-Leased Assets Self-constructed assets

Akumulasi Penyusutan/Amortisasi Aktiva Tetap: - Bangunan - Selain Bangunan Aktiva Sewa Guna Usaha Aktiva Tidak Berwujud Nilai Buku

477,899 668,946 83,209 8,281 1,238,335 6,589,294

403,834 545,286 74,892 24,800 1,048,812 6,566,744

Accumulated Depreciation/ Amortization - Building - Non Building Financial-Leased Assets Intangible Assets Book Value

Bank Indonesia 2008 Annual Report

109

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

b. Aktiva lain-lain pada IPBV Aktiva Lain-lain pada IPBV adalah Non Performing Loans (NPL) eks Indover Bank yang dialihkan pengelolaannya kepada IPBV, dengan saldo NPL tertuang dalam suatu Floating Principal Note (FPN). IPBV mengeluarkan FPN secara periodik setiap 3 bulan untuk menggambarkan nilai jual NPL yang dikelola per posisi tertentu. FPN pertama tertanggal 26 Januari 2004 sejumlah USD294,232,949.00. Nilai FPN terkini berdasarkan Laporan IPBV tanggal 30 September 2008 adalah sebesar USD38,598,104.78 atau setara dengan Rp422.649 juta. Selain itu, terdapat tagihan lain-lain kepada IPBV sebesar USD1,398,024.92 atau setara dengan Rp15.308 juta yang digunakan sebagai cadangan terhadap biaya pengelolaan IPBV dan sebesar EUR4,751.16 atau setara dengan Rp73 juta yang merupakan tagihan atas recovery yang belum diterima oleh Bank Indonesia, yang disimpan oleh IPBV di Indover Bank.

b. Other Assets in Indo Plus BV (IPBV) Other Assets in IPBV consists of the non-performing loans (NPL) of ex-Indover Bank that has been transferred to IPBV. The balance of the NPL is stated in a Floating Principal Note (FPN). IPBV issues FPN quarterly to reflect the selling value of the NPL at a certain position. The First FPN was issued on January 26, 2004 and amounted to USD294,232,949.00.

The latest FPN based on IPBV Report was dated September 30, 2008 and amounted to USD38,598,104.78 or equivalent to IDR422,649 million. Other than the FPN value, there were also other claims to IPBV amounting USD1,398,024.92 or equivalent to IDR15,308 million that was being used as allowance for IPBV’s operational expenses and amounting to EUR4,751.16 or equivalent to IDR73 million which are Bank Indonesia’s receivables from recovery that has not been received by Bank Indonesia, maintained by IPBV in Indover Bank. c. Others Included in Others is the placement of funds in Indover Bank Amsterdam and Indover Bank Hongkong amounted to USD128,797,259.98 or equivalent to IDR1,410,330 million and EUR4,983,376.69 or equivalent to IDR76,905 million at December 31, 2008, and Other Assets amounted to IDR263,531 million. Indover Bank has been declared bankrupt (Note C.12 – Equity Participation). 14. Allowance for Bad Debts Total allowance for bad debts as at December 31, 2008 and December 31, 2007 were IDR16,474,382 million and IDR17,710,243 million respectively, with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 31,214,833 56 (13,451,262) (53,384) 17,710,243 - Beginning Balance - Assets recovery - Assets write-off - Addition/(decrease) of allowance for bad debt - Ending Balance

c.

lainnya Termasuk dalam Pos Lainnya adalah penempatan dana pada Indover Bank Amsterdam dan Indover Bank Hongkong sebesar USD128,797,259.98 atau setara dengan Rp1.410.330 juta dan EUR4,983,376.69 atau setara dengan Rp76.905 juta per 31 Desember 2008, serta Aktiva Lainnya sebesar Rp263.531 juta. Indover Bank telah dinyatakan pailit sebagaimana dijelaskan pada catatan C.12 – Penyertaan.

14. Penyisihan Aktiva Total penyisihan aktiva pada tanggal 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 adalah sebesar Rp16.474.382 juta dan Rp17.710.243 juta, dengan rincian sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million - Saldo awal - Pemulihan aktiva - Penggunaan untuk penghapusbukuan aktiva - Pengurangan/penambahan penyisihan aktiva - Saldo Akhir 17,710,243 48 (2,003,061) 767,152 16,474,382

Penggunaan Penyisihan Aktiva antara lain untuk penghapusan tagihan kepada bank-bank eks BBO/BBKU sebagaimana dijelaskan pada Catatan C.11 – Tagihan kepada Lainnya.

Use of Allowance for Bad Debts was among others for write-off of claims on banks ex-BBO-BBKU as explained in Note. C.11 – Claims on Others.

110

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

15. Uang dalam Peredaran Uang dalam Peredaran merupakan alat pembayaran yang sah dan tidak berada dalam penguasaan Bank Indonesia dengan posisi per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing adalah sebesar Rp264.399.922 juta dan Rp220.794.779 juta dengan rincian sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Uang yang dicetak: - Uang Kertas - Uang Logam - Uang Khusus Uang yang telah dicabut dan ditarik dari Peredaran Uang dalam Persediaan Lainnya Jumlah Uang dalam Peredaran 16. Giro Pemerintah Bank Indonesia dalam melaksanakan fungsinya sebagai pemegang kas pemerintah mengelola giro pemerintah dengan rincian: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million - Dalam Rupiah - Dalam valuta asing 32,053,286 65,175,264 97,228,550 a. Giro Pemerintah dalam Rupiah per 31 Desember 2008, antara lain terdiri dari: 1) Rekening Bendaharawan Umum Negara (BUN) senilai Rp26.714.560 juta, termasuk di dalamnya antara lain rekening giro Sub BUN dalam rangka program penjaminan sebesar Rp83.443 juta yang dananya berasal dari penerbitan SUP Nomor SU004/MK/1999. 2) Rekening Pemerintah atas subsidi bunga kredit program yang masih harus diterima sebesar Rp1.203.327 juta. b. Giro Pemerintah dalam valuta asing per 31 Desember 2008 antara lain terdiri dari Rekening Kas Umum Negara sebesar USD3,822,775,722.45 atau setara dengan Rp41.859.394 juta dan Rekening IMF sehubungan dengan Alokasi Hak Tarik Khusus sebesar SDR238,956,000.00 atau setara dengan Rp4.049.951 juta. 319,010,796 316,004,689 2,995,614 10,493 (920,998) (53,673,281) (16,595) 264,399,922

15. currency in circulation Currency in Circulation is valid payment instrument not under possession of Bank Indonesia with a position as at December 31, 2008 and December 31, 2007 amounted to IDR264,399,922 million and IDR220,794,779 million respectively with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 279,158,691 276,312,782 2,835,416 10,493 (1,834) (58,361,352) (726) 220,794,779 Printed Money: - Bank Notes - Coins - Special edition Currency withdrawn from circulation Currency inventory Others currency in circulation

16. Government Demand Deposits In performing its function as the account holder of the Government, Bank Indonesia manages Government demand deposits, with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 11,012,224 10,906,136 21,918,360 a. Government demand deposits in Rupiah as at December 31, 2008 included as follows: 1) General State Treasury (Bendaharawan Umum Negara - BUN) account amounted to IDR26,714,560 million, including sub BUN account for the purpose of guarantee program amounted to IDR83,443 million raised from the issuance of SUP Number SU-004/MK/1999. 2) Government account for accrued interest on subsidy of credit program amounted to IDR1,203,327 million. b. Government demand deposits in foreign currency as at December 31, 2008 included State Cash Account amounted to USD3,822,775,722.45 or equivalent to IDR41,859,394 million and IMF account for SDR allocation amounted to SDR238,956,000.00 or equivalent to IDR4,049,951 million.
Bank Indonesia 2008 Annual Report

- In Rupiah - In Foreign Currency

111

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Atas Rekening Giro Pemerintah, Bank Indonesia belum memberikan bunga seperti yang dinyatakan dalam UndangUndang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pasal 23 ayat (1) karena masih dalam proses pembahasan antara Bank Indonesia dan Pemerintah. 17. Giro Bank Giro Bank adalah saldo giro bank umum yang antara lain digunakan untuk pemenuhan Giro Wajib Minimum (GWM). GWM ditetapkan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 10/19/PBI/2008 tanggal 14 Oktober 2008 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing. Sesuai PBI Nomor 10/25/ PBI/2008 tanggal 23 Oktober 2008 tentang Perubahan atas PBI Nomor 10/19/PBI/2008, GWM dalam Rupiah ditetapkan sebesar 7,5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam Rupiah, dan GWM dalam valuta asing sebesar 1% dari DPK dalam valuta asing.

For Government demand deposits, Bank Indonesia has not yet provided interest as stated in Act of Republic of Indonesia Number 1 of 2004 concerning State Treasury, Article 23, paragraph (1), because Bank Indonesia and the Government are still discussing the issue. 17. Bank Demand Deposits Bank demand deposits are the balance of demand deposits of commercial banks in order to comply with Minimum Reserve Requirement (Giro Wajib Minimum - GWM). GWM is regulated by Bank Indonesia Regulation Number 10/19/ PBI/2008 dated October 14, 2008 concerning Minimum Reserve Requirement of Commercial Banks in Bank Indonesia in Rupiah and Foreign Currency. As stated in Bank Indonesia Regulation Number 10/25/PBI/2008 dated October 23, 2008 concerning the Amendment of Bank Indonesia Regulation Number 10/19/PBI/2008, GWM in Rupiah is determined at 7,5% of Third Party Funds (Dana Pihak Ketiga - DPK) in Rupiah, while GWM in foreign currency at 1% of DPK in foreign currency. Bank Indonesia provides compensation for the part of the balance of bank demand deposits account in Rupiah that is intended to fulfill the obligation of additional GWM in Rupiah. As of October 24, 2008, as stated in Bank Indonesia Regulation Number 10/25/PBI/2008 dated October 23, 2008, Bank Indonesia does not provide compensation for the balance of bank demand deposits in Rupiah in Bank Indonesia. The obligation to maintain GWM in Rupiah and in foreign currency is also applied to banks that perform their activities based on Sharia Principles (Sharia banks), including banks and the representative offices of banks whose head office is domiciled overseas (foreign banks) that perform their activities based on conventional and Sharia Principles referred to as Sharia Business Units (Unit Usaha Syariah – UUS). According to Bank Indonesia Regulation Number 6/21/2004 dated August 3, 2004 concerning Minimum Reserve Requirement in Rupiah and Foreign Currency for commercial banks that perform their activities based on sharia principles, as amended by Bank Indonesia Regulation Number 10/23/PBI/2008 dated October 16, 2008, GWM in Rupiah for Sharia Banks is determined at 5% of DPK in rupiah and GWM in foreign currency is determined at 1% of DPK in foreign currency. Other than that, for Sharia banks with DPK more than IDR1 trillion and the ratio of funding in Rupiah to DPK in Rupiah is less than 80%, additional GWM in Rupiah is applied at 1%, 2%, and 3%, depending on the amount of DPK of the banks. Bank Indonesia does not provide compensation to the balance of bank demand deposits account of Sharia banks. Bank Demand Deposits as at December 31, 2008 and December 31, 2007 were as follows:

Bank Indonesia memberikan jasa giro atas bagian saldo rekening giro bank dalam Rupiah yang diperuntukkan untuk pemenuhan kewajiban memelihara tambahan GWM dalam Rupiah. Mulai tanggal 24 Oktober 2008 berdasarkan PBI Nomor 10/25/PBI/2008 tanggal 23 Oktober 2008, Bank Indonesia tidak memberikan jasa giro atas saldo rekening giro bank dalam Rupiah di Bank Indonesia.

Kewajiban untuk memelihara GWM dalam Rupiah maupun valuta asing dimaksud berlaku pula bagi bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah (bank syariah), termasuk bank dan kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan juga melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang selanjutnya disebut Unit Usaha Syariah. Berdasarkan PBI Nomor 6/21/2004 tanggal 3 Agustus 2004 tentang Giro Wajib Minimum dalam Rupiah dan Valuta Asing bagi Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah sebagaimana telah diubah dengan PBI Nomor 10/23/PBI/2008 tanggal 16 Oktober 2008, GWM dalam Rupiah bagi bank syariah ditetapkan sebesar 5% dari DPK dalam Rupiah dan GWM dalam valuta asing sebesar 1% dari DPK dalam valuta asing. Di samping itu, bagi bank syariah yang memiliki DPK di atas Rp1 triliun, serta memiliki rasio pembiayaan dalam Rupiah terhadap DPK dalam Rupiah kurang dari 80%, berlaku pula kewajiban tambahan GWM dalam Rupiah sebesar 1%, 2% dan 3%, tergantung kepada besarnya DPK bank yang bersangkutan. Bank Indonesia tidak memberikan jasa giro atas saldo rekening giro bank syariah. Saldo Giro Bank per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 adalah sebagai berikut:

112

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Dalam Rupiah Dalam Valuta asing 79,678,015 5,519,062 85,197,077

31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 158,668,351 9,944,049 168,612,400 18. Other Demand Deposits In Rupiah In Foreign Currency

18. Giro lainnya 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Rekening Giro IMF Rekening Giro Bank Dunia Rekening Giro ADB Rekening Giro Lainnya 1,230,493 1,119,637 18,987 652,491 3,021,608

31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 1,149,437 19,156 18,104 348,649 1,535,346 IMF IBRD ADB Others

Rekening giro IMF digunakan untuk mencatat pembayaran kuota Indonesia dalam Rupiah, penarikan pinjaman dalam bentuk Stand-By Arrangement (SBA), Extended Fund Facility (EFF), dan New EFF (IMF Account Nomor 1) serta rekening transaksi administratif antara Pemerintah Indonesia dengan IMF (IMF Account Nomor 2). Sebagai anggota IMF, Indonesia berkewajiban untuk memberikan kontribusi pada suatu cadangan yang dibentuk oleh IMF dalam bentuk kuota, yang nilainya ditetapkan oleh Dewan Gubernur IMF. Cadangan tersebut akan digunakan sebagai sumber pendanaan untuk kegiatan IMF. Total kuota Indonesia per 31 Desember 2008 adalah sebesar SDR2,079 juta. Kumpulan dari kuota negara-negara anggota IMF merupakan sumber dana bagi pemberian fasilitas pinjaman IMF seperti SBA, EFF, dan Supplemental Reserve Facility (SRF). Rekening giro IMF direvaluasi setiap tanggal 30 April berdasarkan kurs yang ditetapkan IMF pada tanggal tutup buku IMF. Penyesuaian kurs ini dialokasikan ke Bank Indonesia dan Pemerintah. Bank Indonesia menanggung penyesuaian saldo nilai lawan rupiah yang berkaitan dengan penarikan pinjaman (IMF Account No. 1), sedangkan Pemerintah menanggung penyesuaian kurs yang berkaitan dengan pembayaran kuota dalam Rupiah (IMF Account No. 1) dan rekening transaksi administratif antara Pemerintah Indonesia dengan IMF dalam mata uang lokal (IMF Account No. 2). Revaluasi yang menjadi bagian Pemerintah tersebut apabila diselesaikan dengan menerbitkan promissory note akan menambah atau mengurangi nilai promissory note Pemerintah yang diadministrasikan dan disimpan oleh Bank Indonesia. Total nilai promissory note per 31 Desember 2008 adalah sebesar Rp25.766.791 juta. Jumlah ini juga termasuk pembayaran kuota dalam rupiah dan revaluasi atas Fund’s Securities Account.

The IMF Demand Deposit account is used to record quota payment in Rupiah, loan withdrawal in Stand By Arrangement (SBA), Extended Fund Facility (EFF) and New EFF (IMF Account Number 1), as well as administrative transaction account between the Indonesian Government and IMF (IMF Account Number 2). As a member of IMF, Indonesia is obliged to contribute to reserves set by the IMF in the form of a quota. The amount of the quota is determined by IMF Board of Governors Meeting. The reserves are utilized as fund sources for IMF activities. Indonesia’s total quota as at December 31, 2008 was SDR2,079 million. The accumulated total of the member’s of IMF’s quotas is a source of fund for IMF loan facilities such as SBA, EFF, and Supplemental Reserve Facility (SRF). The balance of IMF Demand Deposits Account is revalued every April 30 based on the exchange rate at the closing date of IMF. This exchange rate adjustment is allocated to Bank Indonesia and the Government. Bank Indonesia is liable for the exchange rate adjustment for loan withdrawal (IMF Account No. 1), while as the Government is liable for the exchange rate adjustment in relation to the quota payment in Rupiah (IMF Account No. 1) and administrative transaction account between the Indonesian Government and IMF in local currency (IMF Account No. 2). The revaluation that the Government is liable for, if settled by Promissory Note, will add or subtract the balance of the Government’s promissory note administered and kept by Bank Indonesia. The promissory note as at December 31, 2008 amounted to IDR25,766,791 million. In this amount are included quota payments in rupiah and revaluation of Fund’s Securities Account.
Bank Indonesia 2008 Annual Report

113

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

19. Sertifikat Bank Indonesia Sertifikat Bank Indonesia pada tanggal 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 tercatat masing-masing sebesar Rp175.342.804 juta dan Rp244.570.156 juta. Rincian Sertifikat Bank Indonesia adalah sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Nilai nominal menurut jangka waktu: – 1 bulan – 3 bulan – 6 bulan Dikurangi: Diskonto (bunga dibayar di muka) yang belum diamortisasi 122,024,993 18,066,000 37,212,599 (1,960,788) 175,342,804 Kisaran Tingkat Diskonto SBI: – 1 bulan – 3 bulan – 6 bulan 20. Sertifikat Bank Indonesia Syariah Sertifikat Bank Indonesia Syariah pada tanggal 31 Desember 2008 dan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia pada tanggal 31 Desember 2007 tercatat masing-masing sebesar Rp2.824.300 juta dan Rp2.598.500 juta. Rincian Sertifikat Bank Indonesia Syariah dan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia adalah sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Nilai nominal menurut jangka waktu: – 7 hari – 14 hari – 28 hari

19. Bank Indonesia certificates Bank Indonesia Certificates as at December 31, 2008 and December 31, 2007 amounted to IDR175,342,804 million and IDR244,570,156 million respectively, with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 245,328,400 0 0 (758,244) 244,570,156 SBI discount rate range: – 1 month – 3 months – 6 months Nominal value by period – 1 month – 3 months – 6 months Less: Un-amortized discount (interest paid in advance)

7.93% -11.24% 7.83% - 11.50% 9.63% - 12.25%

8.00% -9.75% 7.83% - 8.10%

20. Bank Indonesia Sharia certificates Bank Indonesia Sharia Certificates as at December 31, 2008 and December 31, 2007 amounted to IDR2,824,300 million and IDR2,598,500 million respectively, with details as follows:

31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million Nominal value by period:

0 0 2,824,300 2,824,300

1,663,000 636,000 299,500 2,598,500

– 7 days – 14 days – 28 days

Kisaran tingkat bonus penitipan SWBI berdasarkan: – Pasar Uang Antar Bank Syariah – Deposito Investasi Mudharabah Antar Bank (IMA) Kisaran tingkat imbalan SBIS 1 bulan

3.70686% - 11.55717% 6.78073% - 8.06887% 7.97451% - 11.24053%

SWBI bonus rates range based on: – Sharia Inter-bank Money Market – Investasi Mudharabah Antar Bank (IMA) Deposit 1 month BI Sharia Certificate bonus rate range

114

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

21. Fasilias Simpanan Bank Indonesia FASBI pada tanggal 31 Desember 2008 dan tanggal 31 Desember 2007 tercatat masing-masing sebesar Rp75.673.367 juta (termasuk Fine Tune Kontraksi (FTK) sebesar Rp71.547.400 juta) dan Rp48.925.248 juta. Rincian FASBI dan FTK adalah sebagai berikut:

21. Bank Indonesia Deposit Facilities Bank Indonesia Deposit Facilities as at December 31, 2008 and December 31, 2007 amounted to IDR75,673,367 million (including Fine Tune Contraction/Fine Tune Kontraksi – FTK amounted to IDR71,547,400 million) and IDR48,925,248 million respectively. Details of FASBI and FTK are as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 48,933,400 (8,152) Nominal value of 1-14 days period Less: Un-amortized discount (interest paid in advance)

31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Nilai nominal periode 1-14 hari Dikurangi: Diskonto (bunga dibayar di muka) yang belum diamortisasi 75,770,600 (97,233)

75,673,367 Tingkat Diskonto dari FASBI – 1 hari Over Night – 7 hari Tingkat Diskonto dari FTK – 1 hari Over Night – 2 s/d 14 hari 22. Pinjaman dari Pemerintah Pinjaman dari pemerintah terdiri dari: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Dalam Rupiah Dalam valuta asing 159,675 46,348 206,023 Pinjaman dari Pemerintah dalam Rupiah antara lain terdiri dari penerimaan pinjaman Pemerintah dalam rangka program Two Step Loan (TSL) yaitu ASEAN Japan Development Fund for Indonesia (AJDF) untuk Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) sebesar Rp144.357 juta. Pinjaman dari Pemerintah dalam valuta asing per 31 Desember 2008 adalah pinjaman dari pemerintah dalam rangka TSL dari Asian Development Bank (ADB) sebesar USD4,232,700.00 atau setara dengan Rp46.348 juta.

48,925,248 FASBI discount rate range – 1 day Over Night – 7 days FTK discount rate range – 1 day Over Night – 2 – 14 days

3.00% - 8.75%

3.00% - 4.75%

7.34% - 9.50% 6.98% - 10.66%

-

22. loans from Government Loans from Government consisted of: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 175,772 47,842 223,614 Loans from Government in Rupiah consisted of Government loans revenue due to Two Step Loans (TSL), i.e. ASEAN Japan Development Fund for Indonesia (AJDF) for Major Commercial Field (Perkebunan Besar Swasta Nasional PBSN) program amounted to IDR144,357 million. Loans from Government in foreign currency as at December 31, 2008 consisted of loans from Government due to Two Step Loans from Asian Development Bank (ADB) amounting to USD4,232,700.00 or equivalent to IDR46,348 million. In Rupiah In Foreign Currency

Bank Indonesia 2008 Annual Report

115

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

23. Pinjaman luar Negeri Pinjaman luar negeri terdiri dari: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million a. Pinjaman sindikasi dari bank luar negeri b. Pinjaman non sindikasi dari bank luar negeri c. Bunga yang masih harus dibayar 7,424,909 47,279 7,692 7,479,880

23. Foreign Borrowings Foreign borrowings consisted of: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 6,713,994 44,058 40,228 6,798,280 a. Syndicated loans from foreign banks b. Non-syndicated loans from foreign banks c. Deferred interest payables

a. Pinjaman Sindikasi dari Bank luar Negeri Pinjaman Sindikasi dari bank luar negeri merupakan pinjaman sindikasi dari bank-bank internasional kepada Bank Indonesia atas nama Pemerintah yang digunakan untuk cadangan devisa nasional. Pinjaman Sindikasi terdiri dari: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million 1) Pinjaman Sindikasi Tahun 1994 2) Pinjaman Sindikasi Tahun 1995 1,938,772 5,486,137 7,424,909 1) Pinjaman Sindikasi Tahun 1994 Merupakan pinjaman sindikasi dari kreditur luar negeri dengan Mitsubishi Securities, Hongkong Branch yang bertindak sebagai agent, jumlah pinjaman sebesar USD500,000,000.00 dan pinjaman tersebut ditandatangani pada tanggal 28 Maret 1994. Pembayaran pokok dilakukan semesteran yaitu setiap bulan Maret dan September. Pembayaran pokok pertama dilakukan pada tanggal 28 Maret 2002 dan terakhir pada tanggal 28 Maret 2013. Tingkat bunga adalah LIBOR + 0,625% pada tahun pertama dan LIBOR + 0,875% pada tahun selanjutnya. Dari USD500,000,000.00 pinjaman tersebut hanya ditarik sebesar USD350,000,000.00. Dalam rangka memenuhi asas comparability treatment dari kesepakatan Paris Club I dan II telah dilakukan rescheduling pokok pinjaman sindikasi melalui London Club I dan II. Pada London Club I telah dilakukan amandemen pertama pada tanggal

a. Syndicated loans from Foreign Banks Syndicated loans from foreign banks represent syndicated loans from international banks to Bank Indonesia on behalf of the Government for monetary reserve purposes. Syndicated loans consisted of:

31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 2,148,914 4,565,080 6,713,994 1) Syndicated loans of 1994 Represents a syndicated loan from foreign creditors with Mitsubishi Securities, Hong Kong Branch as the agent, amounted to USD500,000,000.00, and was signed on March 28, 1994. Principal repayments are conducted semi annually on March and September. First principal repayment was settled on March 28, 2002 and the final repayment will be due on March 28, 2013. The interest rates are LIBOR + 0.625% for the first year and LIBOR + 0.875% for subsequent years. From the ceiling amount of USD500,000,000.00, the amount withdrawn was USD350,000,000.00. In order to comply with the comparability treatment principle adopted from the agreement of Paris Club I and Paris Club II, the syndicated loan principal has been rescheduled through the agreement of London Club I and II. In London Club I, the first amendment took place on March 28, 1999, i.e. to reschedule loan principal amounted 1) Syndicated loans of 1994 2) Syndicated loans of 1995

116

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

28 Maret 1999 yakni menjadwal ulang pinjaman pokok sebesar USD210,000,000.00 untuk pembayaran periode 28 September 2000 sampai dengan 29 Maret 2009. Sedangkan London Club II telah dilakukan amandemen kedua tanggal 28 September 2000 yakni menjadwal ulang pinjaman pokok sebesar USD150,000,000.00 untuk periode pembayaran 28 Maret 2002 sampai dengan 28 Maret 2013. Tingkat bunga pinjaman yang diamandemen adalah LIBOR + 0,875% dan TIBOR + 0,875%. Saldo dalam valuta asing pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebesar USD123,287,290.05 dan JPY4,856,724,715.00. 2) Pinjaman Sindikasi Tahun 1995 Merupakan pinjaman sindikasi dari bank luar negeri dengan The Mizuho Corporate Bank, Ltd., Singapore Branch yang bertindak sebagai agent, jumlah pinjaman sebesar USD500,000,000.00 dan pinjaman tersebut ditandatangani pada tanggal 14 Juni 1995. Pembayaran pokok dilakukan secara semesteran yaitu setiap bulan Juni dan Desember dengan pembayaran pokok pertama tanggal 14 Juni 2002 dan terakhir tanggal 14 Desember 2013. Tingkat bunga adalah LIBOR + 0,625% dan TIBOR + 0,625%. Dalam rangka memenuhi asas comparability treatment kesepakatan Paris Club II dan III telah dilakukan penjadwalan ulang pokok pinjaman sindikasi melalui London Club II dan III. Dalam London Club II telah dilakukan amandemen pada tanggal 28 September 2000, yakni menjadwal ulang pinjaman pokok sebesar USD200,000,000.00 dengan pembayaran periode 14 Juni 2004 sampai dengan 14 Desember 2013. Tingkat bunga untuk pinjaman yang telah diamandemen adalah LIBOR + 0,875% dan TIBOR + 0,875%. Sedangkan pada London Club III telah dilakukan amandemen kedua tanggal 6 September 2002 yakni menjadwal ulang pokok pinjaman sebesar USD300,000,000.00 untuk periode pembayaran 14 Desember 2008 sampai dengan 14 Desember 2019. Tingkat bunga pinjaman yang diamandemen adalah LIBOR + 0,875% dan TIBOR + 0,875%. Saldo pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebesar USD386,179,200.00 dan JPY10,372,723,491.00.

to USD210,000,000.00 for the payment period of September 28, 2000 to March 29, 2009. Meanwhile in London Club II, the second amendment took place on September 28, 2000, i.e. to reschedule loan principal amounted to USD150,000,000.00 for the payment period of March 28, 2002 to March 28, 2013. The interest rates amended were LIBOR + 0.875% and TIBOR + 0.875%.

The balances in foreign currency as at December 31, 2008 amounted to USD123,287,290.05 and JPY4,856,724,715.00. 2) Syndicated loans of 1995 Represents a syndicated loan from foreign banks with The Mizuho Corporate Bank, Ltd., Singapore Branch as the agent, amounted to USD500,000,000.00, and was signed on June 14, 1995. Principal repayments are conducted semi annually on June and December. First principal repayment was settled on June 14, 2002 and the final repayment will be due on December 14, 2013. The interest rates are LIBOR + 0.625% and TIBOR + 0.625%.

In order to comply with comparability treatment principle adopted from the agreement of Paris Club II and Paris Club III, the syndicated loan principal has been rescheduled through the agreement of London Club II and III. In London Club II, the amendment took place on September 28, 2000, i.e. to reschedule loan principal amounted to USD200,000,000.00 for payment period of June 14, 2004 to December 14, 2013. Interest rates for the amended loan are LIBOR + 0.875% and TIBOR +0.875%. Meanwhile, in London Club III, the second amendment took place on September 6, 2002, i.e. to reschedule loan principal amounted to USD300,000,000.00 for payment period of December 14, 2008 to December 14, 2019. The interest rates amended were LIBOR + 0.875% and TIBOR + 0.875%. The balances as at December 31, 2008 amounted to USD386,179,200.00 and JPY10,372,723,491.00.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

117

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

b. Pinjaman Non Sindikasi dari Bank di luar Negeri Posisi pinjaman non sindikasi adalah sebesar USD4,317,716.64 atau setara dengan Rp47.279 juta per 31 Desember 2008, dan sebesar USD4,677,526.36 atau setara dengan Rp44.058 juta per 31 Desember 2007. Pinjaman ini diberikan oleh International Cooperation and Development Fund (pengalihan dari The Export Import Bank of the Republic of China, Taipei) dengan plafon sebesar USD10,000,000.00 dan tingkat bunga 3,5% setahun dan digunakan untuk melanjutkan, meningkatkan, mengembangkan atau memperkenalkan program kredit koperasi. Pinjaman ini diangsur dalam 36 cicilan secara semesteran mulai tanggal 27 April 2003 dan akan berakhir pada tanggal 27 Oktober 2020. c. Bunga Yang Masih Harus Dibayar Perhitungan bunga atas Pinjaman Luar Negeri yang telah menjadi beban namun belum dibayar karena belum jatuh waktu adalah sebesar Rp7.692 juta pada tanggal 31 Desember 2008 dan Rp40.228 juta pada tanggal 31 Desember 2007.

b. Non-syndicated loans from Foreign Banks The balance of non-syndicated loans amounted to USD4,317,716.64 or equivalent to IDR47,279 million as at December 31, 2008, and USD4,677,526.36 or equivalent to IDR44,058 million as at December 31, 2007. The loans were provided by the International Cooperation and Development Fund (was The Export Import Bank of the Republic of China -Taipei) with the ceiling amounted to USD10,000,000.00 and interest rate of 3.5% per annum, and utilized to continue, improve, and expand or introduce cooperative credit programs. The loan will be repaid in 36 semiannual installments, starting from April 27, 2003 and the final repayment will be due on October 27, 2020.

c.

Deferred Interest Payables Deferred Interest Payables of Foreign Borrowings amounted to IDR7,692 million as at December 31, 2008 and IDR40,228 million as at December 31, 2007.

24. Kewajiban lain-lain Kewajiban Lain-lain per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 terdiri dari: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Cash collateral Setoran jaminan pembukaan L/C dalam valas Kewajiban Imbalan Kerja Lainnya 0 378,003 2,246,677 355,599 2,980,279 a. Cash Collateral Cash collateral merupakan nilai jaminan dalam bentuk kas yang diterima dari peminjam SSB (borrower) atas SSB yang dipinjamnya dalam rangka program Third Party Securities Lending (TPSL). Saldo cash collateral yang diterima per 31 Desember 2008 adalah sebesar nihil. b. Imbalan Kerja Bank Indonesia menyelenggarakan program imbalan kerja yang terdiri dari imbalan pasca kerja dan imbalan jangka panjang lainnya. Perhitungan imbalan pasca kerja dan jangka panjang lain dilakukan oleh aktuaris independen pada posisi 31 Desember 2008 dengan tingkat diskonto sebesar 12%.

24. Other liabilities Other Liabilities as at December 31, 2008 and December 31, 2007 consisted of: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 143,213,778 43,149 1,973,033 190,705 145,420,665 a. cash collateral Cash collateral represents the collateral in the form of cash received from the borrower of the marketable securities lent under the Third-Party Securities Lending program. The balance of cash collateral as at December 31, 2008 amounted to zero. Cash collateral Collateral for opening L/C in foreign currency Employee benefits liabilities Others

b. Employee Benefits Bank Indonesia provides post and long-term employment benefit program. The actuarial calculation on post and long-term employment benefit program was performed by an independent actuary for the position of December 31, 2008 with a discount rate of 12%.

118

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Program imbalan pasca kerja terdiri dari program pensiun manfaat pasti yang dikelola oleh DAPENBI, THT (BKP dan Baperum) yang dikelola YKKBI, imbalan pasca kerja lainnya tanpa pendanaan antara lain berupa Uang Masa Persiapan Pensiun dan Uang Perpisahan Pegawai dan imbalan jangka panjang lainnya antara lain berupa Uang Cuti Besar dan Uang Penghargaan Pengabdian. Mutasi aktiva, kewajiban dan beban imbalan kerja untuk periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut:

Post employment programs consists of defined benefit pension plan managed by DAPENBI, Old Age Benefit Program (Tunjangan Hari Tua - BKP and Baperum) managed by YKKBI, other post employment benefit programs without funding, which consists of PreRetirement Transition Paid Leave (Uang Masa Persiapan Pensiun - MPP) and benefit payable upon termination at normal retirement age and other long-term benefits such as Grand Leaves and Long Service Awards. Employee benefits assets, liabilities and expenses movement for the period of January 1 up to December 31, 2008 are as follows:
Imbalan Jangka Panjang lainnya Other long-term Benefits rp juta IDr million (797,484) (132,228) 0 125,597 (804,115) Pajak untuk Imbalan Pasca Kerja dan Jangka Panjang lainnya Tax rp juta IDr million (122,946) (38,421) 0 39,366 (122,001) rp juta IDr million (1,973,032) (830,123) 366,152 190,326 (2,246,677) Asset/(Liabilities) Balance as at Dec 31, 2007 Employee Benefits Expense* Bi Contribution Benefit Payment Asset/(liabilities) Balance as at Dec 31, 2008
* See Notes C.36 – General and Other Expenses

Imbalan Manfaat Pensiun Pension Benefits THT Pasca Kerja lainnya Other Post Employment Benefits rp juta IDr million Saldo Aktiva/(Kewajiban) 31 Des 2007 Beban Imbalan Kerja* Kontribusi BI Pembayaran Manfaat Saldo Aktiva/ (Kewajiban) 31 Desember 2008
*Lihat Catatan C.36 – Beban Umum dan Lainnya

Jumlah Total

rp juta IDr million (647,484) (363,425) 304,101 0 (706,808)

rp juta IDr million (173,717) (120,122) 0 25,363 (268,476)

(231,401) (175,927) 62,051 0 (345,277)

Total Kewajiban Imbalan Kerja Manfaat Pensiun, Tunjangan Hari Tua (THT), Pasca Kerja Lainnya, Jangka Panjang Lainnya, dan Pajak untuk Imbalan Pasca Kerja dan Jangka Panjang Lainnya per 31 Desember 2008 adalah sebesar Rp2.246.677 juta. Pada posisi 31 Desember 2008, pendanaan DAPENBI berasal dari iuran pegawai dan pemberi kerja masingmasing sebesar 7% dan 13% dari penghasilan dasar pensiun. Pada posisi 31 Desember 2008, pendanaan YKKBI berasal dari iuran THT dari Bank Indonesia sebesar 20% dari gaji pokok dengan memperhatikan indeks kota. Terhitung sejak bulan September 2008, Bank Indonesia telah menghentikan iuran tambahan THT kepada YKKBI sesuai dengan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 10/41/KEP.GBI/Intern/2008. Iuran tambahan THT kepada YKKBI sampai dengan bulan Oktober 2008 adalah sebesar Rp193.272 juta sesuai dengan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 6/14/KEP.GBI/INTERN/2004 tanggal 14 Juni 2004.

Total Employee Benefits liabilities for pension benefits, Old Age Benefit Program (THT), Other Post Employment Benefits, Other Long-Term Benefits and Tax as at December 31, 2008 amounted to IDR2,246,677 million. As at December 31, 2008, DAPENBI’s funding was derived from employees’ and Bank Indonesia’s contribution amounted to 7% and 13% respectively, based on basic pension salary. As at December 31, 2008, YKKBI funding was derived from Old Age Benefit Program (THT) from Bank Indonesia amounted to 20% of basic salary with consideration to the city index. Starting September 2008, Bank Indonesia has discontinued additional THT contributions to YKKBI as stated in Governor of Bank Indonesia Decree Number 10/41/KEP.GBI/INTERN/2008. Additional THT contributions up to October 2008 amounted to IDR193,272 million as stated in Governor of Bank Indonesia Decree Number 6/14/KEP.GBI/INTERN/2004 dated June 14, 2004.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

119

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

25. Modal Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004, modal Bank Indonesia ditetapkan berjumlah sekurang-kurangnya Rp2.000.000.000.000,00 (dua triliun Rupiah). Modal ini harus ditambah sehingga menjadi 10% (sepuluh persen) dari seluruh kewajiban moneter, yang dananya berasal dari cadangan umum atau hasil revaluasi aset. Jumlah modal pada tanggal 31 Desember 2008 sama dengan jumlah modal pada tanggal 31 Desember 2007, yaitu sebesar Rp7.610.885 juta. Jumlah tersebut merupakan penjumlahan dari modal Rp2.948.029 juta dan hasil revaluasi aktiva tetap sebesar Rp4.662.856 juta. 26. cadangan Umum dan cadangan Tujuan Dalam pasal 62 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004 (UU BI) diatur bahwa surplus dari hasil kegiatan Bank Indonesia akan dibagi sebagai berikut: a. 30% untuk Cadangan Tujuan; dan b. Sisanya dipupuk sebagai Cadangan Umum sehingga jumlah modal dan Cadangan Umum menjadi 10% dari seluruh kewajiban moneter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). Selanjutnya dalam pasal II angka 3 diatur bahwa selama penyelesaian BLBI belum berakhir, Cadangan Tujuan ditetapkan sebesar 10%. Pada penjelasan pasal 62 UU BI tersebut di atas disebutkan pula bahwa Cadangan Tujuan dipergunakan antara lain untuk biaya penggantian dan atau pembaruan harta tetap, pengadaan perlengkapan yang diperlukan, dan pengembangan organisasi dan sumber daya manusia dalam melaksanakan tugas dan wewenang Bank Indonesia serta penyertaan yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas Bank Indonesia. Penggunaan Cadangan Tujuan selama tahun 2008 adalah sebesar Rp318.788 juta dengan rincian sebagai berikut: - Penggantian/pembaruan Harta Tetap sebesar Rp270.747 juta. - Pengembangan Organisasi dan SDM sebesar Rp48.041 juta. Posisi Cadangan Umum dan Cadangan Tujuan pada tanggal 31 Desember 2008 masing-masing sebesar Rp49.663.865 juta dan Rp13.364.549 juta.

25. capital Based on Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, the capital of Bank Indonesia shall be at least IDR2,000,000,000,000 (two trillion Rupiahs). The capital shall be increased up to 10% (ten percent) of the total monetary liabilities, with funds to be derived from general reserves or asset revaluation reserves. The capital of Bank Indonesia as at December 31, 2008 is the same as at December 31, 2007 amounted to IDR7,610,885 million. This amount is derived from the capital amounted to IDR2,948,029 million and fixed asset revaluation reserve amounted to IDR4,662,856 million.

26. General and Statutory reserves According to Article 62 of Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, the surplus of Bank Indonesia shall be distributed as follows:

a. 30% for the Statutory Reserves; b. the remainder to be reinvested as General Reserves so that the sum of capital and General Reserves becomes 10% of the monetary liabilities as referred to in Article 6 paragraph (2). Furthermore, as stated in Article II Number 3, as long as the settlement of BLBI has not been completed, Statutory Reserves shall be set at 10%. According to the explanation of Article 62 as mentioned above, Statutory Reserves is used, among other things, to finance the replacement and or renewal of fixed assets, the procurement of required equipment, and the development of organization and human resources in implementing the tasks and authority of Bank Indonesia, as well as the investment needed in implementing the tasks of Bank Indonesia. The Statutory Reserves used during 2008 amounted to IDR318,788 million with details as follows: - Replacement/renewal of fixed assets amounted to IDR270,747 million. - Development of organization and human resources amounted to IDR48,041 million.

The balances of Statutory Reserves and General Reserves as at December 31, 2008 amounted to IDR49,663,865 million and IDR13,364,549 million respectively.

120

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

27. Keuntungan atau Kerugian yang Belum Direalisasi Keuntungan atau Kerugian yang Belum Direalisasi per tanggal 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masingmasing sebesar Rp61.957.127 juta dan Rp40.990.336 juta yang terdiri atas: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Selisih kurs valuta asing Revaluasi harga emas Revaluasi SSB dalam valas Revaluasi SSB dalam rupiah 23,121,427 21,510,222 18,304,713 (979,235) 61,957,127 28. Penerimaan dari Pengelolaan Devisa Penerimaan dari Pengelolaan Devisa periode tahun 2008 dan 2007 terdiri atas: 2008 rp juta IDr million Bunga sektor valas Provisi sektor valas Penerimaan valas lainnya 20,681,135 1,863 19,520,457 40,203,455

27. Unrealized Gains/losses The balances of Unrealized Gains/Losses as at December 31, 2008 and December 31, 2007 amounted to IDR61,957,127 million and IDR40,990,336 million respectively, with details as follows: 31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 18,009,228 17,649,873 5,292,031 39,204 40,990,336 28. revenues from Foreign reserve Management Revenues from foreign reserve management for the year 2008 and 2007 consisted of: 2007 rp juta IDr million 18,281,541 1,307 5,930,667 24,213,515 Interest in foreign exchange sector Provision in foreign exchange sector Other foreign exchange revenues Differences in foreign exchange rate Revaluation of gold price Revaluation of marketable securities in foreign currency Revaluation of marketable securities in Rupiah

Termasuk dalam Penerimaan Valas Lainnya adalah Penerimaan Selisih Kurs masing-masing sebesar Rp14.751.748 juta pada tahun 2008 dan sebesar Rp3.430.021 juta pada tahun 2007. 29. Penerimaan dari Pemberian Kredit dan Pembiayaan Penerimaan dari Pemberian Kredit dan Pembiayaan sebesar Rp4.278.295 juta pada tahun 2008 dan sebesar Rp4.095.766 juta pada tahun 2007, termasuk penerimaan bunga Surat Utang Pemerintah yang dihitung secara akrual masing-masing sebesar Rp3.928.289 juta pada tahun 2008 dan sebesar Rp3.714.942 juta pada tahun 2007. 30. Penerimaan dari Pengelolaan Sistem Pembayaran Penerimaan dari Pengelolaan Sistem Pembayaran pada tahun 2008 adalah sebesar Rp168.974 juta yang berasal dari Jasa Penyelenggaraan Kliring sebesar Rp91.949 juta dan Jasa Pengelolaan Rekening sebesar Rp77.025 juta.

Included in other foreign exchange revenues were the revenues from foreign exchange differences amounted to IDR14,751,748 million for the year 2008, and IDR3,430,021 million for the year 2007. 29. revenues from credit and Financing Revenues from credit and financing amounted to IDR4,278,295 million for the year 2008 and IDR4,095,766 million for the year 2007. Included in that amount are accrual revenues from Government Bonds’ interest, amounted to IDR3,928,289 million for the year 2008 and IDR3,714,942 million for the year 2007. 30. revenues from Payment System Services Revenues from payment system services for the year 2008 amounted to IDR168,974 million, consisted of clearing service fee amounted to IDR91,949 million and account administration fee amounted to IDR77,025 million.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

121

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

31. Penerimaan lainnya Penerimaan Lainnya terdiri atas: 2008 rp juta IDr million Pemulihan Penyisihan Aktiva Penerimaan Lainnya 0 250,236 250,236

31. Other revenues Other revenues consisted of: 2007 rp juta IDr million 53,384 296,774 350,158 Decrease of Allowance for Bad Debts Other Revenues

32. Beban Operasi Pasar Terbuka Beban Operasi Pasar Terbuka terdiri atas: 2008 rp juta IDr million Penelitian Uang Beredar Pengembangan Penetapan dan Pelaksanaan Kebijakan Uang Beredar Pelaksanaan Operasional Uang Beredar Pelaksanaan Kebijakan Uang Beredar 5,337 26 8,533 20,823,399 20,837,295

32. Open Market Operations Expenses Open Market Operations Expenses consists of: 2007 rp juta IDr million 8,510 2,213 5,225 24,447,281 24,463,229 Research for Base Money Policy Development, Endorsement and Execution for Base Money Operational Execution for Base Money Policy Execution for Base Money

Beban Operasi Pasar Terbuka merupakan pengeluaran terbesar Bank Indonesia yaitu sebesar Rp20.837.295 juta (74,20% dari total beban) pada tahun 2008 dan sebesar Rp24.463.229 juta (80,32% dari total beban) pada tahun 2007. Termasuk dalam Pelaksanaan Kebijakan Uang Beredar adalah beban Diskonto SBI dan FASBI sebesar Rp19.931.010 juta, beban bonus SWBI Rp60.044 juta, beban imbalan SBIS Rp87.330 juta, Jasa Giro sebesar Rp744.950 juta, dan kegiatan lain terkait dengan kebijakan uang beredar Rp65 juta.

Open market operations expenses is Bank Indonesia’s largest expense, amounted to IDR20,837,295 million (74.20% of total expenses) in 2008 and amounted to IDR24,463,229 million (80.32% of total expenses) in 2007. Included in Policy Execution Expenses are SBI and FASBI Discount amounted to IDR19,931,010 million, SWBI Bonus expenses amounted to IDR60,044 million, SBIS Bonus expenses amounted to IDR87,330 million, compensation for bank demand deposits amounted to IDR744,950 million, and other activities supporting policy execution amounted to IDR65 million. 33. Foreign reserves Management Expenses Foreign reserves management expenses consisted of:

33. Beban Pengelolaan Devisa Beban Pengelolaan Devisa terdiri atas: 2008 rp juta IDr million Penelitian Pengelolaan Cadangan Devisa Pengembangan, Penetapan dan Pelaksanaan Kebijakan Cadangan Devisa Pelaksanaan Operasional Cadangan Devisa 112 5,115

2007 rp juta IDr million 236 4,887 Research for Foreign Reserves Management Policy Development, Endorsement and Execution for Foreign Reserves Management Operational Execution for Foreign Reserves Management

31,086 36,313

20,501 25,624

122

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

34. Beban Pinjaman luar Negeri Beban Pinjaman Luar Negeri pada periode tahun 2008 dan pada tahun 2007 masing-masing sebesar Rp260.808 juta dan Rp368.070 juta. 35. Beban Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Dalam Beban Penyelenggaraan Sistem Pembayaran sebesar Rp1.650.612 juta pada periode tahun 2008 dan Rp1.646.299 juta pada tahun 2007, termasuk Pelaksanaan Operasional Pengadaan Bahan Uang dan Pencetakan Uang masing-masing sebesar Rp485.909 juta dan Rp1.035.460 juta. Beban pencetakan uang masih berdasarkan Harga Cetak Uang (HCU) sementara. 36. Beban Umum dan lainnya Pos Beban Umum dan Lainnya pada tahun 2008 dan tahun 2007 terdiri atas: 2008 rp juta IDr million Sumber Daya Manusia Logistik dan Pengamanan Sistem Teknologi Informasi Lainnya: - Keuangan Intern - Pengawasan Intern - Legislasi dan Hukum - Administrasi, Arsip, dan Ekspedisi Penarikan dari Rekening Tidur 3,235,905 740,973 128,168 60,180 5,026 44,025 19,035 0

34. Foreign loan Management Expenses Foreign loan management expenses for the year 2008 and 2007 were IDR260,808 million and IDR368,070 million respectively. 35. Payment System Operations Expenses Included in the payment system services expenses amounted to IDR1,650,612 million for the year 2008 and IDR1,646,299 million for the year 2007, is currency procurement expenses and currency printing expenses amounted to IDR485,909 million and IDR1,035,460 million. Currency printing expenses are based on temporary Currency Printing Price (Harga Cetak Uang – HCU). 36. General and Other Expenses General and Other Expenses for the year 2008 and 2007 consisted of: 2007 rp juta IDr million 2,726,172 735,298 80,109 13,378 6,252 14,388 17,254 33,471 Human Resources Logistics and Security Management Information Technology System Others: - Internal Finance - Internal Control - Legislature and Law - Administration, Archive and Expedition Withdrawal from accounts that have been inactive for more than 2 years and have been recognized as income Addition of Allowance for Bad Debts

Penambahan Penyisihan Aktiva

767,152 5,000,464

0 3,626,322

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004, gaji, penghasilan lainnya dan fasilitas bagi Gubernur, Deputi Gubernur Senior, dan Deputi Gubernur ditetapkan oleh Dewan Gubernur. Besarnya gaji dan penghasilan lainnya bagi Gubernur ditetapkan paling banyak 2 (dua) kali gaji dan penghasilan lainnya bagi pegawai dengan jabatan tertinggi di Bank Indonesia. Dalam beban Sumber Daya Manusia (SDM), diantaranya termasuk gaji, insentif, tunjangan hari raya, dan uang penggantian cuti tahunan bagi Dewan Gubernur Bank

According to Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004, salary, other income and facilities of the Governor, Senior Deputy Governor and Deputy Governor shall be prescribed by the Board of Governors. The amount of such salary and other income of the Governor shall be determined at the maximum of 2 (two) times the salary and other income of an employee of the highest rank in Bank Indonesia. Included in the General and Other expenses were salaries, incentives, holiday bonus (tunjangan hari raya), and compensation on annual leaves (uang penggantian

Bank Indonesia 2008 Annual Report

123

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Indonesia sebesar Rp15.872 juta pada tahun 2008 dan sebesar Rp17.143 juta pada tahun 2007. Selain itu, Dewan Gubernur Bank Indonesia juga mendapat penghasilan lainnya berupa uang penggantian cuti besar, tunjangan hari tua, tunjangan akhir masa jabatan, uang penghargaan masa pengabdian, uang perpisahan, bantuan uang duka, dan fasilitas-fasilitas lainnya berupa perumahan, transportasi, kesehatan, telekomunikasi, asuransi kecelakaan kerja, kartu kredit dan olah raga.

cuti tahunan) for the Board of Governors amounted to IDR15,872 million and IDR17,143 million for the year 2008 and 2007, respectively. The Board of Governors also receives other income in the form of grand leaves (cuti besar), post retirement benefits, benefit payable to members of the Board of Governors due to expiration of terms of office, long service awards, benefit payable upon termination at normal retirement age, benefit payable upon termination due to the death of employee or his/ her spouse or his/her children (bantuan uang duka), and other facilities inluding housing, transportation, medical/ health, telecommunication, insurance, credit card and memberships. Included in the Organization and Human Resource Management expenses were employee benefit expenses amounted to IDR830,123 million for the year 2008 (see Notes C.24 – Other Liabilities). 37. capital ratio The ratio of Capital (Capital, General Reserves, and Current Year Surplus) to Monetary Liabilities as at December 31, 2008 was 10.38%. The Capital and Monetary Liabilities used in the Capital Ratio calculation at December 31, 2008 amounted to IDR72,798,810 million and IDR701,524,534 million, respectively. The Capital, Monetary Liabilities, and Capital Ratio as at December 31, 2008 is as follows:

Dalam beban SDM tersebut, termasuk juga imbalan kerja tahun 2008 sebesar Rp830.123 juta sebagaimana dijelaskan dalam C.24 - Kewajiban Lain-lain.

37. rasio Modal Rasio Modal (Modal, Cadangan Umum dan Surplus tahun berjalan) terhadap Kewajiban Moneter per tanggal 31 Desember 2008 adalah 10,38%. Jumlah Modal dan Kewajiban Moneter yang diperhitungkan dalam perhitungan Rasio Modal per tanggal 31 Desember 2008 masing-masing adalah Rp72.798.810 juta dan Rp701.524.534 juta. Modal, Kewajiban Moneter dan Rasio Modal per tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut:

rp juta IDr million a. Modal – Modal – Cadangan Umum – 90% Surplus Tahun Berjalan Jumlah b. Kewajiban Moneter – Uang dalam Peredaran – Giro Pemerintah – Giro Bank – Giro Pihak Swasta Lainnya (tidak termasuk rekening Giro IMF, Giro Bank Dunia, dan Giro ADB) 7,610,885 49,663,865 15,524,060 72,798,810 a. Capital – Capital – General Reserves – 90% of Current Year Surplus Total b. Monetary Liabilities – Currency in Circulation – Government Demand Deposits – Bank Demand Deposits – International Financial Institutions Demand Deposits (not including IMF Demand Deposit, World Bank Demand Deposit, and ADB Demand Deposit) – Bank Indonesia Certificates – Loans from Government Total c. Capital Ratio Capital + General Reserves + 90% of Current Year Surplus Monetary Liabilities

264,399,922 97,228,550 85,197,077 652,491

– Surat Berharga yang Diterbitkan – Pinjaman dari Pemerintah Jumlah c. Rasio Modal Modal + Cadangan Umum + 90% Surplus Tahun Berjalan Kewajiban Moneter

253,840,471 206,023 701,524,534

10.38%

124

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

D. PENJElASAN lAINNYA 1. Transaksi dengan Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa Transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa adalah sebagai berikut: 31 Desember 2008 December 31, 2008 rp juta IDr million Tagihan pada Indover Bank Pinjaman karyawan 1,487,235 408,097 1,895,332

D. OTHErS 1. related Party Transactions

Related party transactions consisted of:

31 Desember 2007 December 31, 2007 rp juta IDr million 1,283,528 306,274 1,589,802 Furthermore, there is Land/Building used by the Indonesia Banking Development Foundation (Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) / Bank Indonesia’s Employee Welfare Foundation (Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKKBI) / Bank Indonesia Retired Empoyees Association (Persatuan Pensiunan Bank Indonesia – PPBI) / Bank Indonesia KORPRI Unit Foundation (Yayasan Perguruan KORPRI Unit Bank Indonesia - YASPORBI) / Bank Indonesia Employee’s Wives association (Persatuan Isteri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI) in the form of loan/rent/build, operate and transferred (BOT). 2. Employee Welfare Funds Based on Act of the Republic of Indonesia Number 13 of 1968, article 47 paragraph (6), Bank Indonesia is obliged to allocate 7.5% of its after-tax income that has been validated to employee welfare funds (Dana Kesejahteraan Pegawai DKP). DKP is a source of employee loans. Meanwhile, the remainder of the idle funds are placed in time deposits and government bonds. Based on the Governor of Bank Indonesia Decree Number 3/11/KEP/GBI/INTERN/2001 dated June 29, 2001, YKK-BI was appointed as the fund manager of DKP. As at December 31, 2008, the balance of DKP amounted to IDR864,251 million, which consisted of Bank Indonesia employee loans amounted to IDR408,097 million, undistributed funds for employees amounted to IDR5,872 million and funds managed by YKK-BI amounted to IDR450,282 million. Claims on Indover Bank Employee loans

Disamping itu, terdapat Tanah/Bangunan yang digunakan oleh Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) / Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKKBI) / Persatuan Pensiunan Bank Indonesia (PPBI) / Yayasan Perguruan KORPRI Unit Bank Indonesia (YASPORBI) / Persatuan Isteri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI) dengan cara pinjam pakai/Sewa/Bangun Guna Serah.

2. Dana Kesejahteraan Pegawai Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1968, pasal 47 ayat 6, Bank Indonesia diwajibkan mengalokasikan masing-masing 7,5% dari laba bersih setelah pajak yang telah disahkan untuk Dana Kesejahteraan Pegawai (DKP). DKP merupakan sumber pinjaman pegawai, sedangkan dana bebas ditempatkan sebagai deposito dan surat berharga Pemerintah. Berdasarkan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 3/11/KEP/ GBI/INTERN/2001 tanggal 29 Juni 2001, pengelolaan DKP dilakukan oleh YKKBI. Posisi DKP per 31 Desember 2008 adalah Rp864.251 juta terdiri dari pinjaman pegawai Bank Indonesia sebesar Rp408.097 juta, dana di Bank Indonesia namun belum disalurkan kepada pegawai sebesar Rp5.872 juta dan dana yang dikelola oleh YKKBI sebesar Rp450.282 juta.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

125

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

3. Komitmen dan Kontinjensi a. Pinjaman Dua Tahap (Two Step Loans) Merupakan pinjaman dari lembaga keuangan internasional, seperti Bank Dunia, Japan Bank for International Cooperation dan ADB, kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk diteruspinjamkan kepada bank melalui Bank Indonesia. Peran Bank Indonesia dalam skim kredit ini adalah sebagai pemegang kas Pemerintah, untuk memberikan dan menagih kembali pinjaman yang diteruskan kepada bank-bank nasional. Bank-bank nasional ini seterusnya akan mengambil alih risiko kredit dan menyalurkan kredit tersebut kepada pemakai akhir yang memenuhi syarat. Surat Menteri Keuangan Nomor S-2147/LK/2000 tanggal 16 Mei 2000 menyatakan bahwa Bank Indonesia hanya bertindak sebagai agen pelaksana dari skim-skim ini dan oleh karena itu tidak akan menanggung risiko kredit. Peminjam (borrower) dalam penerusan TSL adalah Pemerintah Republik Indonesia, kecuali untuk fasilitas dari EXIM Taiwan, yang bertindak sebagai peminjam adalah Bank Indonesia dan diteruspinjamkan kepada Bank Bukopin. Pinjaman TSL diteruskan kepada bank dalam valuta Rupiah, USD, dan EUR dengan posisi saldo pinjaman per 31 Desember 2008 setara dengan Rp938.488 juta. Disamping itu terdapat tagihan Pemerintah kepada BUMN/BUMD/Pemda dengan Subsidiary Loan Agreement (SLA) yang ditandatangani oleh Bank Indonesia atas dasar Surat Kuasa dari Menteri Keuangan dalam rangka Project Aid yang sumber dananya berasal dari Foreign Exchange Loan dan Rekening Dana Investasi dengan nilai outstanding per posisi 31 Desember 2008 setara dengan Rp680.525 juta.

3. commitments and contingencies a. Two Step loans Two Step Loans (TSL) are loans from financial foreign institutions, such as World Bank, Japan Bank for International Cooperation and Asian Development Bank, for the Government of the Republic of Indonesia to be channeled to banks through Bank Indonesia. The role of Bank Indonesia in these credit schemes is as the account holder of the Government, to distribute the loans and to collect payments from the local banks. Thus, these local banks bear the credit risk and distribute the loans to qualified debtors.

The letter of the Minister of Finance Number S-2147/ LK/2000 dated May 16, 2000 stated that Bank Indonesia only acts as the executing agent of these schemes and therefore bear no credit risk.

The borrower of TSL is the Government of Republic of Indonesia, except for the borrower of loans from EXIM Taiwan, which is Bank Indonesia and in turn channeled to Bank Bukopin.

TSL is distributed to recipient banks in IDR, USD and EUR with the balance as at December 31, 2008 equaled to IDR938,488 million. There were also Government claims to State-owned Enterprises (Badan Usaha Milik Negara - BUMN)/ Region-owned Enterprises (Badan Usaha Milik Daerah - BUMD)/Regional Government (Pemerintah Daerah – Pemda), where the SLAs were signed by Bank Indonesia based on authorization from Minister of Finance for the purpose of Project Aid. The fund was originated from Foreign Exchange Loan (FEL) and Investment Fund Account (Rekening Dana Investasi - RDI) with outstanding value as at December 31, 2008 equaled to IDR680,525 million. b. Foreign currency Transactions As at December 31, 2008, commitment receivables and commitment payables of marketable securities, time deposits, and spot trading were equal to IDR204,979 million and IDR1,297,575 million, respectively.

b. Transaksi Valuta Asing Pada tanggal 31 Desember 2008, jumlah komitmen tagihan dan komitmen kewajiban surat-surat berharga, deposito, dan spot trading Bank Indonesia setara dengan Rp204.979 juta dan Rp1.297.575 juta.

126

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

c.

Bank Indonesia sebagai Subyek Badan Hukum Kedudukan Bank Indonesia sebagai lembaga negara yang independen telah ditetapkan dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004 memberi konsekuensi yuridis logis bahwa Bank Indonesia juga mempunyai kewenangan mengatur atau membuat/menerbitkan peraturan yang merupakan pelaksanaan undang-undang dan menjangkau seluruh bangsa dan negara Indonesia sehingga mengikat setiap orang atau badan. Selain itu, dalam rangka pembangunan hukum di bidang ekonomi, perbankan dan moneter, Bank Indonesia juga disertakan sebagai narasumber dalam proses penyusunan materi rancangan undang-undang, penyusunan naskah akademik dan pelaksanaan sosialisasi, khususnya yang terkait dengan tugas-tugas Bank Indonesia. Dalam rangka menjalankan tugas dan kewenangan Bank Indonesia, Dewan Gubernur Bank Indonesia memberikan perlindungan hukum bagi setiap Pelaksana Tugas Kedinasan (PTK) Bank Indonesia, yaitu Anggota Dewan Gubernur, mantan Anggota Dewan Gubernur, mantan Anggota Direksi, Pegawai, mantan Pegawai, Local Staff, mantan Local Staff, Tenaga Honorer, dan mantan Tenaga Honorer, yang diatur dalam Peraturan Dewan Gubernur (PDG) Bank Indonesia Nomor 7/16/PDG/2005 tanggal 13 Juli 2005 tentang Perlindungan Hukum Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas Kedinasan Bank Indonesia. Pemberian perlindungan hukum dimaksudkan untuk mendorong terciptanya suasana kerja yang kondusif dalam melaksanakan tugas dan wewenang PTK, sehingga dapat meningkatkan kinerja PTK sepanjang dilakukan dengan itikad baik untuk mencapai tujuan Bank Indonesia.

c.

Bank Indonesia as a legal Entity Bank Indonesia’s position as an independent state institution as stated in Act of the Republic of Indonesia Number 23 of 1999 concerning Bank Indonesia as amended by Act of the Republic of Indonesia Number 3 of 2004 gives logical judicial consequence that Bank Indonesia has the authorities to regulate or formulate/ issue regulations that are derived from Acts and binds every individual or entity in the Republic of Indonesia. Furthermore, in order to enhance legal development in the economic, banking and monetary sectors, Bank Indonesia also participates as advisor in the preparation of act drafts, composing academic scripts and performing disseminations, particularly in relation with Bank Indonesia’s tasks.

In order to perform the tasks and authorities of Bank Indonesia, the Board of Governors of Bank Indonesia provides legal protection to persons performing official duties (members and ex-members of Board of Governors or Directors, employees and ex-employees, local staffs and ex-local staffs, as well as temporary and ex-temporary employees) as stated in the Board of Governors Regulation (PDG) of Bank Indonesia Number 7/16/PDG/2005 dated July 13, 2005 concerning Law Protection in Relation to Performing Official Duties of Bank Indonesia.

Bank Indonesia provides legal protection with the intention to support a favorable working environment in performing the tasks and authorities of Bank Indonesia’s employees, therefore promoting productivity as long as the tasks are performed with goodwill and the intention to achieve Bank Indonesia’s goals. Bank Indonesia does not provide legal protection to members of the Board of Governors, ex members of the Board of Governors, ex Directors, employees, or ex employees that are positioned by Bank Indonesia in other institutions or who are performing duties other than Bank Indonesia’s duties unless agreed upon by the Board of Governors and was pledged beforehand. Up to December 31, 2008, Bank Indonesia has provided legal protection to 10 (ten) persons performing official duties.

Bank Indonesia tidak menyediakan perlindungan hukum kepada Anggota Dewan Gubernur, mantan Anggota Dewan Gubernur, mantan Anggota Direksi, Pegawai, atau mantan Pegawai yang ditempatkan oleh Bank Indonesia pada institusi di luar Bank Indonesia atau yang melaksanakan tugas lain di luar Tugas Kedinasan Bank Indonesia kecuali disetujui oleh Dewan Gubernur dan telah diperjanjikan terlebih dahulu. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2008, Bank Indonesia telah memberikan perlindungan hukum kepada 10 (sepuluh) orang PTK.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

127

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Bank Indonesia sebagai subyek hukum badan, dalam rangka melaksanakan tugasnya, tidak terlepas dari berbagai gugatan keperdataan maupun Tata Usaha Negara atas kebijakan yang telah dikeluarkan. Sampai dengan 31 Desember 2008, Bank Indonesia menghadapi sebanyak 103 perkara yang masih aktif (outstanding) yang terdiri dari 94 perkara Perdata dan 9 perkara Tata Usaha Negara. Dari seluruh perkara tersebut, 4 perkara di antaranya adalah perkara yang gugatannya atau permohonannya diajukan oleh Bank Indonesia. Proses penyelesaian dari perkara-perkara tersebut bervariasi mulai dari proses Pengadilan Tingkat Pertama sampai dengan Peninjauan Kembali. d. Bantuan Tambahan Modal Kepada YPPI Dewan Gubernur Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 3 Juni 2003 memutuskan untuk meminta Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) (sekarang bernama YPPI) guna menyediakan sejumlah dana sesuai dengan yang diperlukan Bank Indonesia. Untuk tahap pertama, LPPI diminta untuk menyisihkan dana sebesar Rp100 miliar. Selanjutnya dalam RDG tanggal 22 Juli 2003, Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan bahwa apabila diperlukan Bank Indonesia akan memberikan bantuan peningkatan modal kepada LPPI sebesar Rp100 miliar yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap untuk menggantikan penyisihan dana LPPI. e. N.V. De Indonesische Overzeese Bank (Indover Bank) Sejak tanggal 6 Oktober 2008, Indover Bank telah ditetapkan sebagai bank dalam keadaan darurat, karena adanya kesulitan likuiditas yang dialaminya. Pada tanggal 1 Desember 2008, Indover Bank telah dinyatakan pailit/bangkrut oleh pengadilan Amsterdam dan berstatus dilikuidasi dalam wilayah kedaulatan Belanda. Alasan dilikuidasinya Indover Bank adalah equity yang telah negatif, dan tidak ada tambahan modal yang dapat diharapkan untuk menutup negatif equity tersebut, baik melalui tambahan modal dari BI sebagai pemegang saham tunggal Indover Bank maupun dari investor lainnya. Dengan telah dipailitkannya Indover Bank oleh pengadilan Belanda, maka Indover Bank berada di bawah pengawasan trustee yang ditunjuk oleh pengadilan Amsterdam Belanda. Dalam First Public Liquidation Report tanggal 11 Februari 2009 yang dibuat oleh trustee, tercantum antara lain bahwa pihak trustee akan melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab dilikuidasinya Indover Bank.

Bank Indonesia as a legal subject entity, in order to perform its tasks, also copes with various civil charges as well as state administration charges over the policies issued by Bank Indonesia. As at December 31, 2008, Bank Indonesia faced 103 outstanding lawsuits consisting of 94 civil lawsuits, 9 State Administration lawsuits. From those lawsuits, there are 4 lawsuits that was filed by Bank Indonesia. The completion of the charges varied starting from trial process at district court (Pengadilan Pertama) to herziening (Peninjauan Kembali).

d. Payment of Additional capital to YPPI The Board of Governors of Bank Indonesia in the Board of Governors Meeting dated June 3, 2003 has come to a decision to ask LPPI (currently named YPPI) to provide a certain amount of funds needed by Bank Indonesia. For the first phase, LPPI was asked to provide funds amounting to IDR100 billion. In the Board of Governors Meeting dated July 22, 2003, The Board of Governors of Bank Indonesia has decided that, if necessary, Bank Indonesia will provide additional capital for LPPI amounting to IDR100 billion. The execution of this will be done in several phases to return LPPI’s funds.

e. N.V. De Indonesische Overzeese Bank (Indover Bank) Since October 6, 2008, Indover Bank has been declared as a bank in emergency condition, due to the liquidity troubles it faced. On December 1, 2008, Indover Bank was declared bankrupt by the Amsterdam courts and its status was as being liquidated in the Netherlands. The reason for Indover Bank’s liquidation was negative equity, and the lack of additional capital that can be expected to cover that negative equity, by way of additional capital from BI as the only shareholder of Indover Bank or from other investors.

With the declaration of bankruptcy of Indover Bank by the Netherland courts, Indover bank is under the monitoring of a trustee appointed by the Netherland courts.

In the First Public Liquidation Report dated February 11, 2009 issued by the trustee, it is stated that the trustee will conduct an investigation to find the cause of Indover Bank’s liquidation.

128

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Berdasarkan kajian hukum yang dilakukan oleh BI, tanggung jawab BI sebagai pemegang saham tunggal Indover Bank hanya sebatas penyertaan BI pada Indover Bank. f. Aset Bank Indonesia yang Diperoleh Dari Putusan Pengadilan Berdasarkan Putusan MA No.1662K/Pid/1991 tanggal 21 Maret 1992 terkait perkara korupsi Lee Darmawan, ditetapkan bahwa barang bukti berupa tanah dan/atau bangunan dirampas untuk Negara c.q. BI yang apabila dijumlahkan mencapai ±1.193 Ha. Selanjutnya pada tanggal 30 Maret 1993, Kejaksaan Negeri Jakarta Barat telah menyerahkan sebagian barang bukti rampasan kepada Negara c.q. BI yang berupa dokumendokumen untuk bidang tanah seluas ±1.001 Ha. Pada saat ini, aset rampasan tersebut masih dalam proses penyelesaian, bekerja sama dengan Yayasan Tridaya. f.

Based on the legal study performed by BI, BI’s responsibility as Indover Bank’s only shareholder is limited to BI’s equity participation in Indover bank.

Bank Indonesia Assets Acquired Through court Decisions Based on Supreme Coust Decision Number 1662K/ Pid/1991 dated March 21, 1992 concerning the corruption case of Lee Darmawan, it was settled that the evidence in the form of land and/or building is handed over to the Government c.q. BI that if totaled has an area of +/- 1,193 hectares. Furthermore, on March 30, 1993, the West Jakarta district court has handed over some of the evidence to the Government c.q. BI in the form documents for land with a total area of +/- 1,001 hectares. Currently, those assets are still in the process of settlement, in collaboration with Tridaya Foundation.

Bank Indonesia 2008 Annual Report

129

BANK INDONESIA Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Per 31 Desember 2008

BANK INDONESIA Notes to Financial Statements As at December 31, 2008

Halaman ini sengaja dikosongkan This page intentionally left blank

130

Bank Indonesia Laporan Tahunan 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->