You are on page 1of 17

MAKALAH

“KEBERADAAN SEKTOR INFORMAL PEDAGANG KAKI LIMA (PKL)
SERTA PERMASALAHANNYA BAGI KOTA”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Geografi Desa Kota

Dosen Pengampu
Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M. S.
Bagja Waluya, M.pd

Oleh
Annisa Mutmainnah (1104228)

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2013
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam rangka memenuhi kebutuhan, interksi desa dan kota akan selalu
ada, begitupun dengan permasalahannya. Diantaranya adalah keberadaan
sektor informal, pedagang kaki lima (PKL) yang tidak tertib.
Keberadaan sektor informal merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari negara-negara yang sedang berkembang, termasuk di
Indonesia dan pada umumnya banyak ditemui di kota-kota. Istilah sektor
informal pertama kali dikemukakan oleh Keith Hart (1971) yang
menggambarkan sektor informal sebagai bagian angkatan kerja kota yang
berada di luar pasar tenaga terorganisasi.
Seiring dengan derasnya arus urbanisasi, keberdaan sektor informal akhirakhir ini semakin menjamur di kota-kota di Indonesia, seperti banyaknya
pedagan kaki lima (PKL), penjual koran, pengmen, pengemis, pedagang
asongan dan tidak sedikit pula keberadaan Home Industri di kota-kota di
Indonesia.
Adanya sektor informal kadang kala menjadi sebuah permasalahan bagi
kota seperti kurangnya kenyamanan dan keindahan tata ruang kota dengan
adanya pedagang kaki lima (PKL) yang tidak tertib bahkan dapat menjadi
salah satu penyebab kemacetan kota. Namun di sisi lain, kemudahan sektor
informal dijadikan masyarakat sebagai salah satu peluang untuk memenuhi
kebutuhan ekonomi, entah itu sebagai produsen, maupun konsumen. Pun
dengan negera, keberadaan sektor ini tentu menjadi salah satu sektor yang
dapat meminimalisir permasalahan pengangguran. Adanya permasalahan dan
keuntungan sektor informal ini seakan menjadi dilema bagi keberadaan sektor
informal di negeri ini, oleh karena itu adanya permasalahan tersebut menjadi
latar belakang dari makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana gamabaran umum sektor informal?
2. Apa yang menyebabkan sektor informal pedagang kakilima (PKL)
berkembang di daerah kota?
3. Apa yang menjadi permasalahan sektor informal pedagang kaki lima
(PKL) di berbagai kota?
4. Bagaimana solusi terkait permasalahan sektor informal pedagang kaki
lima (PKL)?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui gambaran umum sektor informal.
2. Untuk mengetahui penyebab keberadaan sektor informal khususnya
pedagang kaki lima (PKL) di daerah kota.
3. Untuk mengetahui permasalahan yang ditimbulkan dari sektor informal
pedagang kaki lima (PKL) yang berkembang di kota-kota.
4. Untuk mengetahui solusi dari permasalahan yang ditimbulkan oleh sektor
informal khususnya pedagang kaki lima (PKL).
D. MANFAAT
1. Dapat menambah wawasan berkenaan dengan sektor informal dan
permasalahan bagi kota serta solusinya.
2. Dapat dijadikan sebagai referensi bagi pengguna.
3. Dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Sektor Informal
1. Pengertian Sektor Informal
Lahirnya istilah sektor informal adalah hasil penelitian Keith Hart
seorang peneliti inggris di Ghana pada tahun 1971, menulis laporannya
yang berjudul informal income opporuneties: an urban employment in
Ghana. Sejak itu, istilah informal dipakai dimana-mana.

Keith Hart

menggambarkan sektor informal sebagai bagian angkatan kerja kota yang
berada diluar pasar tenaga terorganisasi. Keberadaan sektor informal tidak
terlepas dari proses pembangunan terutama pembangunan dalam
mengatasi ketenagakerjaan.
Menurut C. Supartono dan Edi Rusdiyanto, (2000) perdagangan
sektor informal dapat diartikan kelompok/ golongan yang usahanya
berskala kecil, meliputi pedagang kaki lima, pemulung, usaha industri
kecil dan kerajinan rumah tangga.
Pedagang kaki lima (PKL) merupakan bagian dari sektor informal.
Pedagang kaki lima adalah orang dengan modal relatif sedikit berusaha di
bidang produksi dan penjualan barangbarang jasa untuk memenuhi
kebutuhan kelompok tertentu di dalam masyarakat. Usaha tersebut
dilaksanakan pada tempattempat yang dianggap strategis dalam suasana
lingkungan yang informal.
Berdasarkan sejarahnya, kata “pedagang kaki lima” tidak terlepas
dari masa penjajahan Belanda, saat itu dibuat peraturan bahwa setiap ruas
jalan harus menyediakan tempat untuk pejalan kai selebar lima kaki atau
sekitar 1,5m. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak pedagang yang
menggunakan tempat ini untuk berjualan, sehingga saat ini masyarakat
mengenalnya dengan sebutan pedagang kaki lima (PKL). Selain itu, ada
yang menyebutkan pula istilah “pedagang kaki lima” berasal dari
pedagang dan gerobaknya, dimana pedagang memiliki dua kaki dan tiga
kaki untuk gerobaknya, dan saat ini masyarakat lebih mengenal sebutan
PKL tertuju kepada orang-orang yang berjualan di pinggir jalan, tamantaman, dan tempat-tempat ramai lainnya.

2. Karakteristik Sektor Informal
Sektor informal memiliki karakteristik yang dapat diihat baik dari
segi ekonomi, sosial-budaya maupun lingkungan seperti :
a) Bersandar pada sumber daya lokal
b) Mudah untuk dimasuki
c) Jumlah unit usaha yang banyak dalam skala kecil
d) Kepemilikan individu atau keluarga
e) Teknologi yang sederhana dan padat tenaga kerja
f) Tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah
g) Produktivitas tenaga kerja rendah
h) Tingkat upah yang reltif lebih rendah dibandingkan sektor formal
i) Tidak terkena secara langsung oleh Regulasi, dan
j) Pasarnya bersifat kompetitif.
Selain karakteristik di atas, ada pula jenis-jenis dari sektor informal.
Menurut Keith Hart, ada dua macam sektor informal dilihat dari
kesempatan memperoleh penghasilan, yaitu:
1) Sektor Informal yang Sah
a. Kegiatan-kegiatan primer

dan

sekunder

:

pertanian,

perkebunan yang berorientasi pasar, kontraktor bangunan,
dan lain-lain.
b. Usaha tersier dengan modal yang relatif besar : perumahan,
transportasi, usaha-usaha untuk kepentingan umum, dan lainlain.
c. Distribusi kecil-kecilan : pedagang kaki lima, pedagang
pasar, pedagang kelontong, pedagang asongan, dan lain-lain.
d. Transaksi pribadi : pinjam-meminjam, pengemis.
e. Jasa yang lain : pengamen, penyemir sepatu, tukang cukur,
pembuang sampah, dan lain-lain.
2) Sektor informal tidak Sah
a. Jasa, kegiatan dan perdagangan gelap pada umumnya:
penadah barang-barang curian, lintah darat, perdagangan obat
bius, penyelundupan, pelacuran, dan lain-lain.
b. Transaksi, pencurian kecil (pencopetan), pencurian besar
(perampokan bersenjata), pemalsuan uang, perjudian, dan
lain-lain.
3. Perbedaan Sektor Formal dan Sekotr Informal

a) Sektor Formal
Jenis usaha di sektor formal, adalah jenis usaha yang resmi atau
sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, terutama tentang
cara pendirian suatu usaha. Karena sifatnya yang resmi tersebut, maka
cara memperoleh usahanya biasanya lebih mudah karena usaha di
sektor formal dikelola secara profesional dan skala usahanya
menengah ke atas. Sifat usaha sektor formal lebih tergantung pada
perlindunganp emerintah dalam hal ini kebijakan ekonomi. Hubungan
karyawan dengan pemilik usaha bersifat resmi yaitu berdasarkan
kontak kerja dari perusahaan yang bersangkutan.
b) Sektor Informal
Sektor informal merupakan jenis usaha yang bersifat kekeluargaan
dan jenis usahanya berskala kecil. Sifat dari usaha sektor informal
lebih mandiri jika dibandingkan dengan sektor formal, sehingga tidak
terpengaruh adanya serikat kerja dan biasanya cara merekrut kerja
disiplin yang masih berhubungan kerabat atau famili. Untuk lebih
jelasnya, maka perbedaan antara sektor formal dan informal dapat
dilihat pada tabel berikut ini :

NO

KETERANGA
N

1

Modal

2

Teknologi

SEKTOR
FORMAL
Relatif mudah
diperoleh
Pada modal

3

Organisasi

Birokrasi

4

Kredit

Dari lembaga
keuangan resmi

5

Serikat Kerja

Sangat berperan

6

Bantuan
Pemerintah

Penting untuk
kelangsungan
usaha.

SEKTOR
INFORMAL
Sukar diperoleh
Padat Karya
Menyerupai orang
keluarga
Dari orang keluarga
Tidak berperan

Tidak ada

7

Sifat

8

Persediaan
Barang

9

Hubungan kerja

Sangat tergantung
pada
perlindungan.
Jumlah besar,
kualitas baik
Berdasarkan
kontrak kerja

Berdikari
Jumlah kecil, kualitas
berubahubah
Berdasarkan saling
percaya

Tabel 2.1 Perbedaan Sektor Informal dan Sektor Formal
Sumber : Suhartini, tahun 2001
B. Penyebab Berkembangnya Sektor Informal Khususnya Pedagang Kaki
Lima (PKL) di Kota-Kota
Pada awalnya keberadaan sektor informal tidak banyak menimbulkan
permasalahan. Seiring berjalannya waktu, keberadaan sektor informal ini
semakin menjamur, dengan berbagai permasalahannya, apalagi di kota-kota
besar. Hal ini tentu tidak terlepas dari berbagai aspek, baik fisik, sosial
maupun budaya.
Perbedaan ruang antara desa dan kota mengakibatkan potensi dan fungsi
yang berbeda pula. Dari perbedaan ini menyebabkan terjadinya pergerakan,
interaksi dan distribusi untuk memenuhi kebutuhan. Menjalankan fungsi dan
mengoptimalkan potensi masing-masing wilayah merupakan hal yang
semestinya dilakukan. Namun melihat fakta, hal tersebut belum terlaksana
dengan baik. Potensi desa di bidang pertanian misalnya, semakin hari lahan
pertanian menjadi semakin berkurang akibat adanya alih fungsi lahan dan
persaingan lahan, ditambah dengan adanya mekanisasi pertanian yang
kenyataannya lebih menguntungkan karena lebih produktif dan efisien, tidak
membutuhkan banyak pekerja, hal tersebut lambat laun akan menjadikan para
pekerja di sektor pertanian kehilangan matapenchariannya baik laki-laki
maupun perempuan.
Akibatnya, para petani beralih pekerjaan, seperti berdagang baik barang
maupun jasa. Pekerjaan ini mereka jalani di desa dan ada pula yang berpindah
ke kota, maka terjadilah pergerakan orang-orang dari desa ke kota baik
menetap maupun sebagai komuter yang tujuannya untuk memenuhi

kebutuhan, dalam hal ini yaitu pekerjaan. Proses urbanisasi di Indonesia
disebabkan oleh faktor pendorong dan penarik. Faktor-faktor pendorong
meliputi antara lain aspek-aspek ; perbandingan jumlah penduduk dengan
luas tanah di pedesaan yang pincang, kurangnya lapangan kerja di luar bidang
pertanian dan rendahnya pendapatan. Sedangkan faktor-faktor penarik
mencakup antara lain aspek ; tarikan kota berupa lapangan kerja, upah yang
lebih tinggi, kelengkapan prasarana dan sarana yang bada di kota, dan adanya
selingan serta hiburan dalam kehidupan. (Radli Hendro Koetoer, 2001: 122)
Pada kenyataannya pembangunan di kota lebih baik dan lebih cepat
dibandingkan dengan desa, baik

dari infrastruktur, sarana prasarana,

pendidikan, kesehatan, teknologi, informasi dan sebagainya. Artinya, ada
ketidak merataan pembangunan di sini. Hal ini menjadikan faktor penarik
masyarakat desa untuk pergi ke kota, dengan alasan umum memperbaiki
nasib. Sebagian besar orang yang baru datang dari daerah asalnya belum tentu
langsung mendapatkan pekerjaan, berarti masih mengganggur ditambah
dengan derasnya persaingan sumber daya manusia, mengantarkan mereka
pada pekerjaan dengan penghasilan yang tergolong rendah. Salah satu
menanggulangi adalah dengan berusaha sendiri di sektor informal khususnya
menjadi pedagang kaki lima. Namun, tidak sedikit diantara mereka yang tidak
memiliki keterampilan lebih, pada akhirnya mereka menjadi pengemis,
gelandangan, pengamen bahkan menjadi pelaku kriminalitas. Karena
persaingan sumber daya manusia pula, keberadaan sektor formal di kota
menjadi tidak berpengaruh bagi mereka dan memilih untuk bekerja pada
sektor informal di kota. Akibatnya sektor informal di daerah kota semakin
bertambah.

Sampai

dengan Agustus

2008,

sektor

informal

masih

mendominasi kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dengan kontribusi sekitar
65,92 persen pekerja laki-laki dan 73,54 persen pekerja perempuan
(Sumber :SAKEMAS).
Hukum merupakan pengendali masyarakat. Keberadaan hukum yang jelas
namun tidak tegas dalam aplikasinya akan menjadikan permasalahan semakin
bertambah dan permasalahan yang ada tidak akan tuntas dengan baik,
termasuk dalam hal keberadaan sektor informal pedagang kaki lima.

Contohnya saja di Kota Bandung, diadakan penertiban besar-besaran PKL,
saat Kota Bandung bersiap-siap menjadi tuan rumah peringatan KAA ke-50
pada tahun 2005. Dengan adanya Perda No 11/2005 tentang Penyelenggaraan
Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan(K3), para PKL di tujuh titik
dibersihkan, yakni Jalan Otto Iskandardinata, Kepatihan, Dalem Kaum, Dewi
Sartika, kawasan Alun-alun, Jalan Asia Afrika, dan Jalan Merdeka.Biaya yang
dikeluarkan pun tidak sedikit, hingga mencapai miliaran rupiah yang berasal
dari APBD Kota Bandung. Memang saat KAA digelar, PKL menghilang,
setelah dipindahkan ke sejumlah tempat seperti Pasar Induk Gedebage dan
lokasi lainnya. Namun selang beberapa bulan, mereka pun kembali, dan
menempati area terlarang PKL tersebut. Kondisi itu pun berlangsung hingga
saat ini. Aparat Satpol PP Kota Bandung gencar melakukan operasi
penertiban, namun para pedagang tetap kembali berjualan dengan cara
kucing-kucingan. Oleh karena itu, keberadaan hukum dan pelaksanaannya
sangat mempengaruhi.
C. Sektor Informal Pedagang Kaki Lima (PKL) Menjadi Permasalahan
Bagi Kota
Perkembangan kota secara pesat (rapid urban growth) yang tidak disertai
dengan pertumbuhan kesempatan pekerjaan yang memadai mengakibatkan
kota-kota menghadapi berbagai ragam problem sosial yang sangat pelik
(Alisjahbana, 2003).
Adanya sektor informal sangat berpengaruh bagi perekonomian nasional,
bahkan pada saat terjadi krisis moneter, justru sektor informal lebih terlihat
lebih menolong dibandingkan dengan sektor formal, adanya sektor informal
turut andil dalam meminimalisir pengangguran, bahkan keberadaan sektor
informal mempunyai pengaruh dalam menjaga lingkungan dan memanfaatkan
sumberdaya dengan baik, seperti para pedagang kaki lima yang dengan ide
kreatifnya mereka bisa mengolah limbah menjadi barang yang bernilai lebih
kemudian

dipasarkan.

Namun,

disisi

lain,

muncul

permasalahan-

permasalahan dari sektor informal, berkaitan dengan pedagang kaki lima
(PKL).

Keberadaan pedagan kaki lima banyak dijumpai di pinggir-pinggir jalan,
di taman-taman kota, di trotoar, bahkan di jembatan penyebrangan. Alasan
mereka berjualan di tempat-tempat tersebut sebagian besar karena posisinya
yang strategis untuk berdagsang, banyak masyarakat yang bermunculan di
sana. Namun, keberadaan PKL pada lokasi tersebut banyak mengganggu
terhadap kenyamanan dan keamanaan. Keberadaan PKL di trotoar misalnya,
seharusnya trotoar benar-benar dikhususkan untuk pejalan kaki, namun
dengan adanya PKL yang berjualan di trotoar, tidak jarang membuat pejalan
kaki pada akhirnya tidak berjalan di trotoar, dan hal ini dapat mengundang
kecelakaan lalu lintas.

Gambar 2.1 Disfungsi Trotoar
Sumber : http://retnodamayanthi.wordpress.com

Gambar 2.2 Kemacetan Akibat Tidak Tertibya Pedagang Kaki Lima
Sumber : Metro Viva News oleh : (Antara/ M Agung Rajasa)

Permasalahan lalu lintas lainnya adalah kemacetan. Tidak jarang
pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan menyebabkan kemacetan,
saat digelar pasar mingguan misalnya, di tempat-tempat tertentu yang
loksinya dekat dengan jalan raya, akan menyebabkan kemacetan yang
diakibatkan banyaknya pedagang yang mengambil lapak sampai ke pinggirpinggir jalan, sehingga badan jalan menyempit ditambah dengan banyaknya
konsumen yang berkerumun dan kemacetan diperparah dengan keberadaan
angkot yang menunggu penumpang atau ngetem. Misalya saja keberadaan
PKL di Gasibu Kota Bandung, pasar mingguan ini kini sudah mulai
menunjukkan tanda-tanda kesemerawutan kota. Setiap hari minggu
keberadaan PKL ini sudah mulai meresahkan pengguna jalan, kemacetan
sudah tidak dapat dihindari, kemacetannya bisa mencapai Jalan Layang
Pasupati.
Selain itu, permasalahan PKL salah satunya adalah adanya kegiatan PKL
di area bantaran sungai. Hal ini berkaitan pula denga kebersihan lingkungan,
tidak jarang pembuangan limbah (padat/ cair) langsung dialirkan ke sungai
dan mengganggu ekosistem sungai. Ketika kegiatan PKL di area bantaran ini
mendapatkan perhatian yang besar oleh masyarakat dengan tingkat kunjungan
yang relatif tinggi, maka lambat laun lahan yang biasanya digunakan untuk
berdagang saja akan berubah menjadi lingkungan permukiman. Hal ini
menjadi salah satu faktor timbulnya permukiman dengan kategori “squatter
settlements”. Dengan demikian kegiatan ini telah serta merta menghambat
tujuan perkembangan kota yang lebih berkelanjutan (dari aspek lingkungan)
dan penciptaan citra kota yang lebih baik.
Keberadaan PKL ini terus bertambah, pemerintah seringkali kewalahan
dalam mengatasi penertiban PKL karena kompleksitasnya sangat tinggi. Di
kota Bandung misalnya, tidak sedikit para PKL bersal dari luar Kota
Bandung, sebagai kota terbuka maka tidak ada alasan bagi pemerintah Kota
Bandung untuk menolak warga provinsi atau kota/kabupaten lain untuk
beraktivitas di Kota Bandung. Penanganan dengan syarat harus memiliki
kartu tanda penduduk (KTP) Kota Bandung pun tidak efektif karena di
lapangan ternyata sebagian dari mereka bisa memiliki KTP Kota Bandung

(Kompas, 21/10/2011). Kurangnya kerjasama antara pemerintah dengan
masyarakat menyebabkan keberadaan PKL sulit untuk ditangani.

D. Solusi Bagi Permasalahan Sektor Informal Pedagang Kaki Lima (PKL)
Adanya permasalahan tersebut, hendaknya ada kerjasama baik dari
masyarakat setempat, PKL, maupun pemerintah dalam menangani dan
mencari solusi yang terbaik, keberadaan pedagang kaki lima (PKL). PKL
yang penempatannya tidak sesuai, mereka tidak harus diusir, ganti rugi
bahkan digusur paksa untuk tidak menempati tempat tersebut, penggusuran
dan ganti rugi tidak akan efektif, PKL bisa pindah ke tempat lain yang pada
akhirnya sama saja mengurangi kenyamanan di tempat lain. Ada cara lain
yang lebih baik daripada haru mengusir paksa para PKL seperti merelokasi ke
tempat yang disediakan khusus untuk PKL, namun tetap memperhatikan
kestrategisan tempat tersebut tanpa mengganggu kenyamanan. Mislnya
seperti keberadaan PKL di kawasan Jalan Malioboro, Yogyakarta, telah
menjadi bukti keberhasilan penataan PKL, adanya penataan ini justru menjadi
daya tarik tersendiri sehingga menjadi daya tarik wisata Kota Yogyakarta.
Maka, tata ruang untuk para PKL harus lebih diperhatikan, sehingga dengan
adanya lokasi khusus PKL justru akan semakin menambah daya tarik dari
kota tersebut.
Tidak hanya relokasi dan penataan ruang untuk para PKL, adanya
pendidikan, pelatihan dan pemberdayaan masyarakat sehingga menjadikan
masyarakat lebih kreatif dan produktif sangat dibutuhkan, seperti pelatihan
skill masyarakat, ide kreatif yang dilatih yang ditanamkan dan dikembangkan
masyarakat menjadi aset bagi daerah dan menjadi bagian dari nilai jual,
adanya industri-industri kreatif misalnya, dengan adanya bekal pendidikan
dan pelatihan, masyarakat akan lebih mandiri serta percaya diri dan tentunya
sebagai bekal pula dalam menghadapi persaingan saat ini dan masa yang akan
datang, dalam hal ini pendidikan akan melatih mental masyarakat menjadi

lebih baik dan diharapkan adanya pendidikan akan mengurangi kemiskinan,
baik kemiskinan absolut maupun kemiskinan struktural yang cukup sulit
untuk diatasi apalagi bila dilihat dalam skala nasional. Dengan pendidikan,
pelatihan dan pemberdayaan masyarakat pada akhirnya akan banyak
menguntungkan daerah.
Keberadaan sektor informal ini akan lebih tertib bila didukung dengan
kebijakan pemerintah, perlu adanya payung hukum yang tegas dan jelas bagi
keberadaan sektor informal. Surabaya misalnya, Surabaya merupakan kota
pertama yang memiliki peraturan daerah tentang pemberdayaan PKL, selain
keberadaan sektor informal yang dapat mengurangi angka pengangguran,
mereka menyadari bahwa keberadaan sektor informal ini sangat berperan bagi
pemenuhan kebutuhan masyarakat kota seperti penyediaan kebutuhan dengan
harga yang relatif terjangkau, sehingga keberadaan PKL ini menjadikan
simbiosis yang mutualisme. Namun, peraturan yang ada seringkali di abaikan,
hal ini menujukkan minimnya upaya untuk menciptakan kondisi yang teratur
dan patuh terhadap regulasi/ kebijakan pemanfaatan ruang yang telah
ditetapkan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dan kerjasama yang
harmonis antara pemerintah, pedagang kaki lima dan masyarakat sehingga
peraturan yang ada akan berjalan sebagaimana mestinya.
Selain itu, permasalahan sektor informal yang tidak terlepas dari adanya
urbanisasi ini yang dipicu oleh faktor pendorong dari desa diantaranya yaitu
kemiskinan dan semakin berkurangnya sumberdaya alam yang menjadi
identitas desa, hal ini dapat diatasi diantaranya dengan memperbaiki
pendidikan di desa yang berbasis pada potensi desa, desa pertanian misalnya,
pendidikan yang ditanamkan hendaknya berbasis pertanian pula seperti SMK
Pertanian, pelatihan-pelatihan dan sebagainya, apalagi didukung dengan
pendidikan yang dapat membangun mental dan kreatifitas serta fasilitas
industri yang tepat guna, yang menjadikan hasil dari pertnian tersebut bernilai
lebih, dan pada akhirnya akan berdampak pula bagi perbaikan ekonomi
masyarakat perdesaan, sehingga dengan upaya ini diharapkan dapat menekan

angka urbanisasi sekaligus sebagai upaya utuk memajukan pembangunan
desa.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Aktifitas-aktifitas informal merupakan cara melakukan sesuatu yang
ditandai dengan: Mudah untuk dimasuki; Bersandar pada sumber daya
lokal; Usaha milik sendiri; Operasinya dalam skala kecil; Padat karya dan
teknologinya bersifat adaptif; Keterampilan dapat diperoleh diluar sistem
sekolah formal; dan Tidak terkena secara langsung oleh Regulasi dan
pasarnya bersifat kompetitif.
2. Keidakmerataan pembangunan yang ada di desa dengan yang ada di kota,
dimana pembangunan kota lebih kompleks dari desa menjadikan
timbulnya urbanisasi. Adanya urbanisasi tanapa diimbangi dengan
lapangan kerja di bidang industri, maka kesempatan kerja timbul lewat
cara-cara informal, seperti munculnya pedagang kaki lima (PKL).
3. Keberadaan pedagang kaki lima akhir-akhir ini memberikan kesan
terhadap kesemaruwatan kota, artinya muncul permasalahan-permasalahan
yang ditimbulkan dari keberadaan PKL di kota-kota seperti keberadaan
PKL yang tidak tertib, mengganggu kenyamanan, banyak meninggalkan
sampah, menjadi salah satu permasalahan lalu lintas di perkotaan, dan
mencerminkan tata ruang kota yang kurang baik. Namun, keberadaan
sektor informal ini memberikan pula sumbangan yang positif, terbukti saat
krisis moneter melanda Indonesia, sektor informal justru memperlihatkan
keeksisannya,

selain

itu,

sektor

informal

mampu

meminimalisir

permasalahan ketenagakerjaan atau pengangguran di negeri ini.
4. Pengentasan permasalahan PKL ini tentu tidak dengan mengusir bahkan
menghapuskan keberadaan PKL, namun perlu adanya peraturan-peraturan
yang tegas dan jelas terhadap keberadaan PKL. Selain itu, penataan ruang
khusus untuk PKL harus di perhatikan, karena dengan pentaan ruang yang
baik justru akan berdampak positif bai kota. Dari solusi di atas, ada pula
solusi yang berkaitan dengan pendidikan, tentu peran pendidikan sangat
penting terutama dalam memberantas kemiskinan struktural dan bsolut di
negeri ini.

B. SARAN
1. Permasalahan yang ditimbulkan oleh sektor informal pedagang kaki lima
(PKL) akan lebih mudah untuk diatasi apabila ada kerjasama yang baik
antara Pemerintah, pedagang kaki lima dan masyarakat sekitar, termasuk
dalam pembuatan kebijakan atau peraturan terkait keberadaan PKL.
Karena jika sudah terdapat kesepakatan bersama, adanya peraturan akan
lebih mudah untuk ditegakkan, selain itu perlu adanya pengawasan dan
penegakkan peraturan yang ketat dan berkelanjutan. Sehingga diharapkan
akan meminimalisir permasalahan-permasalahan yang ada.
2. Adanya pendidikan dan pelatihan sangat penting, seperti keterampilan,
kreatifitas, termasuk dalam memahami potensi ruang yang harus
dioptimalkan, baik di desa maupun di kota, yang akan berdampak pula
pada pembangunan baik di desa maupun di kota dan diharapkan dengan
berbekal ilmu pengetahuan, dapat megurangi permasalahan yang ada,
bahkan kelemahan yang ada dapat diubah menjadi sebuah kekuatan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Aceng. 2011. Menata PKL di Kota Bandung. Bandung :
Pikiran Rakyat.
Daldjoeni, N.1998. Geografi Desa dan Kota. Bandung : P.T Alumni
Maryani, Enok. Waluya, Bagja. 2008. Handout Mata Kuliah
Geografi Desa-kota. Bandung : Tidak Diterbitkan
Methuen, Co. Ltd. Geografi Negara Berkembang. Semarang : IKIP
Semarang Press.
Den, 2013. Tuntaskan Penataan PKL Kota Bandung. [Online]
Tersedia

:

http://www.inilahkoran.com/read/detail/2051969/tuntaskanpenataan-pkl-kota-bandung. 03 Januari 2014.
Aksyar, Muhammad. 2001. Pengaruh Sektor Informal Terhadap
Kebutuhan

Ruang

Di

Perkotaan.

[Online]

Tersedia

:

http://anca45.blogspot.com/2011/12/pengaruh-sektorinformal-terhadap.html 07 Januari 2014.
Lia, Visca. 2011. Permasalahan Sektor Informal (PKL) dalam
Konteks Penataan Kota di Surabaya. [Online] Tersedia :
http://vizcaplano.blogspot.com/2011/01/permasalahansektor-informal-pkl-dalam.html 07 Januari 2014.