You are on page 1of 148

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

ATAS
LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH KOTA BIMA
TAHUN ANGGARAN 2007

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA VI
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

No

:

200.A/S/XIX.MTR/10/2008

Tanggal

:

27 Oktober 2008

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
LAPORAN KEUANGAN POKOK
1. Neraca
2. Laporan Realisasi Anggaran
3. Laporan Arus Kas
4. Catatan Atas Laporan Keuangan
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN
Lampiran Daftar Setoran Sisa UUDP

i

Halaman
i
1
3
3
5
7
9
46

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

Kepada para pengguna laporan keuangan,

Berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggungjawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) bertugas
memeriksa Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007, Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kota Bima. Tanggung jawab BPK
RI adalah pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang
dilakukan.
Hasil pemeriksaan BPK RI menunjukkan terdapat kelemahan pengendalian intern yang mendasar
dalam pengelolaan keuangan dan barang daerah yang mempengaruhi kewajaran penyajian
Neraca per 31 Desember 2007, Laporan Realisasi Anggaran (LRA), dan Laporan Arus Kas
(LAK) Pemerintah Kota Bima, berupa perbedaan angka akun-akun yang disajikan pada Neraca
per 31 Desember 2007 yang disampaikan kepada BPK RI dengan angka akun-akun pada Neraca
hasil Sistem Aplikasi Pembukuan SKPKD, perbedaan angka pendapatan yang disajikan pada
LRA dengan angka pendapatan hasil rekapitulasi Bidang Pendapatan BPKD Pemerintah Kota
Bima, dan perbedaan angka belanja yang disajikan pada LRA dengan angka belanja hasil
pengesahan SPJ Fungsional dan dari Buku Kas Umum (BKU) Bendahara Pengeluaran SKPD.
Pemerintah Kota Bima tidak dapat menjelaskan perbedaan angka dimaksud dan tidak memiliki
bukti dan catatan yang mendukung penyajian nilai Aset, Kewajiban, dan Ekuitas pada Neraca,
Pendapatan dan Belanja pada LRA, dan Aktivitas Non Anggaran pada LAK yang dapat
digunakan untuk menelusuri perbedaan angka dan menguji kewajaran nilai akun-akun dimaksud.
Selain itu, terdapat perbedaan antara nilai SiLPA pada LRA sebesar Rp66.298.189.570,43,
SiLPA pada Ekuitas Dana Lancar di Neraca sebesar Rp70.527.622.160,43, saldo akhir Kas
Daerah pada LAK sebesar Rp66.340.746.478,43, dan saldo akhir Kas Daerah pada Neraca per
31 Desember 2007 sebesar Rp70.528.518.626,43, serta terdapat pengeluaran-pengeluaran Kas
Daerah yang tidak dianggarkan dalam APBD oleh pejabat Pemerintah Kota Bima baik yang
berwenang dan yang tidak berwenang, yang juga tidak dapat dijelaskan oleh Pemerintah Kota
Bima. Bukti-bukti dan catatan pendukung yang terdapat pada Pemerintah Kota Bima tidak
memungkinkan digunakan untuk menelusuri perbedaan dan menguji kewajaran nilai akun-akun
tersebut dan BPK RI tidak dapat menerapkan prosedur pemeriksaan lain untuk menguji

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

1

kewajaran akun-akun tersebut. Kondisi tersebut mengakibatkan BPK RI tidak dapat meyakini
kewajaran akun-akun Aset, Kewajiban, dan Ekuitas pada Neraca, Pendapatan dan Belanja pada
LRA, dan Aktivitas Non Anggaran pada LAK.
Karena pembatasan lingkup pemeriksaan sebagaimana disebutkan pada paragraf sebelumnya,
BPK RI tidak dapat menerapkan prosedur pemeriksaan untuk memperoleh keyakinan yang
memadai atas kewajaran laporan keuangan, lingkup pemeriksaan BPK RI tidak cukup untuk
memungkinkan BPK RI menyatakan pendapat, dan BPK RI tidak menyatakan pendapat atas
Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima.
Laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan sistem
pengendalian intern kami sajikan dalam buku tersendiri yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari laporan ini.

Mataram, 20 September 2008
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan BPK RI di Mataram
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

B. Suharyanto, S.E., MSi., Ak.
Akuntan, Register Negara No. D-21.299

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

2

PEMERINTAH KOTA BIMA
NERACA
Per 31 Desember 2007 dan 2006
(dalam rupiah)
NO

URAIAN

2007

2006

1 ASET
2 ASET LANCAR
3
Kas di Kas Daerah
4
Kas di Bendahara Pengeluaran

52.270.947.804,43
15.407.570.822,00

24.072.312.952,37
750.334.733,00
2.850.000.000,00

5

Deposito

6

Belanja dibayar dimuka

779.755.031,83

779.755.031,83

7
8
9
10

Piutang Pajak
Piutang Retribusi
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi
Piutang Lain-lain

43.479.557,00
152.297.750,00
3.493.245.595,16
1.953.412.024,00

43.479.557,00
152.297.750,00
3.821.325.664,16

11

Persediaan

825.445.630,00
77.776.154.214,42

790.100.730,00
33.259.606.418,36

2.850.000.000,00

12

Jumlah Aset Lancar (3 s/d 11)

13 INVESTASI JANGKA PANJANG
14
15

Investasi Non Permanen
Dana Bergulir

16
17
18
19
20

Jumlah Investasi Nonpermanen (15)
Investasi Permanen
Penyertaan Modal Pemerintah Kota Bima
Dana Bergulir
Jumlah Investasi Permanen (18 s/d 19)
Jumlah Investasi Jangka Panjang (16 + 20)

21

2.533.456.299,00

-

2.533.456.299,00

-

2.511.565.350,75
2.511.565.350,75
5.045.021.649,75

2.450.322.088,00
2.427.257.868,00
4.877.579.956,00
4.877.579.956,00

22 ASET TETAP
23

Tanah

58.305.831.353,00

54.244.986.603,00

152.115.447.722,69

128.404.442.205,13

24

Gedung dan Bangunan

25

Peralatan dan Mesin

70.313.988.950,51

57.425.432.482,01

26

Jalan, Irigasi dan Jaringan

95.240.215.263,94

66.998.101.199,94

27

Aset Tetap Lainnya

28

Konstruksi Dalam Pengerjaan

7.555.042.407,69

4.678.556.347,69

13.632.036.400,00

8.951.707.782,17

29

Akumulasi Penyusutan
Jumlah Aset Tetap (23 s/d 29)

(45.828.952.504,27)
351.333.609.593,56

(30.226.364.101,47)
290.476.862.518,47

Jumlah Aset Lainnya (32)

3.749.561.130,63
3.749.561.130,63

JUMLAH ASET (12+21+30+33)

437.904.346.588,36

3.702.104.103,63
3.702.104.103,63
332.316.152.996,46

30
31 ASET LAINNYA
Aset Lainnya
32
33
34

3

NO

URAIAN

2007

2006

35 KEWAJIBAN
36 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
37

Utang PFK

38

Bagian Lancar Utang Jk. Panjang

39

Utang Jangka Pendek Lainnya

40

896.466,00

Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (37 s/d 39)

11.518.408.000,00

12.211.305.000,00

30.014.174.642,00

15.747.578.342,80

41.533.479.108,00

27.958.883.342,80

-

11.854.377.500,00

41 KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
42

Utang Jangka Panjang Lainnya

43

Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (42)

44

JUMLAH KEWAJIBAN (40 + 43)

-

11.854.377.500,00

41.533.479.108,00

39.813.260.842,80

70.527.622.160,43

27.672.647.685,37

45 EKUITAS DANA
46 EKUITAS DANA LANCAR
47

SILPA

48

Pendapatan Yang ditangguhkan

49

Cadangan Piutang

50
51

Cadangan Persediaan
Dana Yang hrs disediakan utk pembayaran Hutang Jk Pendek

52

Jumlah Ekuitas Dana Lancar (47 s/d 51)

53 EKUITAS DANA INVESTASI
54
Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang
55

Diinvestasikan Dalam Aset Tetap

56
57

Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya
Dana Yang hrs disediakan utk pbyrn Hutang Jk Panjang

-

-

6.422.189.957,99

4.796.858.002,99

825.445.630,00
(41.532.582.642,00)

790.100.730,00
(39.813.260.842,80)

36.242.675.106,42

(6.553.654.424,44)

5.045.021.649,75

4.877.579.956,00

351.333.609.593,56

290.476.862.518,47

3.749.561.130,63
-

3.702.104.103,63
-

58

Jumlah Ekuitas Dana Investasi (54 s/d 57)

360.128.192.373,94

299.056.546.578,10

59

JUMLAH EKUITAS DANA (52 + 58)
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (44 + 59)

396.370.867.480,36
437.904.346.588,36

292.502.892.153,66
332.316.152.996,46

Lihat Catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan

Raba, 20 September 2008
Walikota Bima

H.M. Nur A. Latif

4

PEMERINTAH KOTA BIMA
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Untuk Tahun yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 2007
(dalam rupiah)
NO
1
2
3
4

URAIAN

6

PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH
Pendapatan Pajak daerah
Pendapatan Retribusi Daerah
Pendapatan Hasil Pengelolaan Keuangan Daerah
Yang Dipisahkan
Lain-Lain PAD Yang Sah

7

Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d6)

5

8
9
10
11
12
13
14
15

PENDAPATAN TRANSFER
TRANSFER PEMERINTAH PUSAT - DANA
PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil Pajak
Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Jumlah Pendapatan Transfer Dana
Perimbangan (11 s/d 14)

Anggaran

Realisasi

2.305.236.500,00
2.588.217.200,00

1.759.604.837,00
1.550.054.932,00

76,33
59,89

143.200.000,00
2.636.839.800,00

133.524.789,00
1.471.450.098,06

93,24
55,80

7.673.493.500,00

4.914.634.656,06

64,05

20.922.053.541,00
7.237.777.190,00
204.865.000.000,00
32.658.000.000,00

17.397.539.673,00
7.794.790.359,00
204.865.000.000,00
32.658.000.000,00

83,15
107,70
100,00
100,00

265.682.830.731,00

262.715.330.032,00

98,88

(%)

16
17
18
19
20

TRANSFER PEMERINTAH PUSAT
LAINNYA
Dana Otonomi Khusus
Dana Penyesuaian
Jumlah Pendapatan Transfer Pemerintah
Pusat Lainnya (18 s/d 19)

-

1.615.408.600,00

-

-

1.615.408.600,00

-

9.761.669.536,27
1.315.460.300,00
2.357.630.587,52

5.440.208.805,00
1.011.310.300,00
-

55,73
76,88
-

13.434.760.423,79

6.451.519.105,00

48,02

-

21
22

TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI

23

Bagi Hasil Pajak dari Provinsi
Bantuan Keuangan dari Provinsi
Dana Bagi Hasil dari Prov. NTB

24
25
26

Jumlah Pendapatan Transfer Pemerintah
Provinsi NTB (23 s/d 25)

27

Total Pendapatan Transfer (15+20+26)

279.117.591.154,79

270.782.257.737,00

97,01

LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
Pendapatan Hibah

4.000.000.000,00

4.000.000.000,00

100,00

28
29
30
31

Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah (30)

JUMLAH PENDAPATAN (7+27+31)
32
33
34 BELANJA
BELANJA OPERASI
35
Belanja Pegawai
36
Belanja Barang
37
Bunga
38
Subsidi
39
Hibah
40
Bantuan Sosial
41
Bagi Hasil Pajak Kepada Pemerintah Desa
42
Jumlah Belanja Operasi (36 s/d 42)
43
44
45
46
47
48

BELANJA MODAL
Belanja Tanah

4.000.000.000,00

4.000.000.000,00

100,00

290.791.084.654,79

279.696.892.393,06

96,18

137.145.396.048,21
41.482.416.702,00
300.000.000,00
14.630.702.000,00
1.300.000.000,00
194.858.514.750,21

130.493.867.916,00
34.627.627.971,00
17.017.964.550,00
1.719.895.500,00
183.859.355.937,00

95,15
83,48
116,32
132,30
94,36

6.075.285.000,00

4.066.474.893,00

66,93

Belanja Peralatan dan Mesin
Belanja Gedung dan Bangunan

13.861.513.957,00
31.084.828.870,00

10.003.211.292,00
10.582.870.494,00

72,17
34,05

49

Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan

25.238.480.000,00

7.836.506.223,00

31,05

50
51

Belanja Aset Tetap Lainnya
Belanja Aset Lainnya

383.300.000,00
-

126,92
-

52

Jumlah Belanja Modal (46 s/d 51)

486.475.200,00
32.975.538.102,00

76.643.407.827,00

43,02

5

NO
53
54
55
56

URAIAN

BELANJA TAK TERDUGA
Belanja Tak Terduga
Jumlah Belanja Tak Terduga (55)
JUMLAH BELANJA (43+52+57)

57
58
59 TRANSFER
TRANSFER/BAGI HASIL KE DESA
60
Jumlah Transfer/Bagi Hasil ke Desa
61
JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER
62
(57+61)
SURPLUS / (DEFISIT) (32-62)
63
64
65 PEMBIAYAAN
PENERIMAAN PEMBIAYAAN
66
Penggunaan SiLPA
67
Pencairan Deposito
68
Jumlah Penerimaan (67 s/d 68)
81
82
83
84
85
86
87

Anggaran

Realisasi

4.500.000.000,00
4.500.000.000,00
276.001.922.577,21

-

(%)

3,23
3,23

145.367.000,00
145.367.000,00
216.980.261.039,00

78,62

-

-

276.001.922.577,21

216.980.261.039,00

78,62

14.789.162.077,58

62.716.631.354,06

424,07

7.513.199.345,00
-

27.672.647.685,37
-

368,32
-

7.513.199.345,00

27.672.647.685,37

368,32

23.000.000.000,00

24.091.089.469,00

104,74
-

23.000.000.000,00

24.091.089.469,00

104,74

(15.486.800.655,00)

3.581.558.216,37

(23,13)

(697.638.577,42)

66.298.189.570,43

(9.503,23)

PENGELUARAN PEMBIAYAAN
Pembayaran Utang Pokok yang Jatuh Tempo
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
Pembentukan Deposito
Jumlah Pengeluaran (84s/d 86)

PEMBIAYAAN NETTO (81-87)
88
89
90 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (63+88)

-

Lihat Catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan

Raba, 20 September 2008
Walikota Bima

H. M. Nur A. Latif

6

PEMERINTAH KOTA BIMA
LAPORAN ARUS KAS
Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 2007 dan 2006
(dalam rupiah)
No.

Uraian

1
2
3
4
5

Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Arus Masuk Kas
Pendapatan Pajak Daerah
Pendapatan Retribusi Daerah
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

2007

2006

1.759.604.837,00
1.550.054.932,00
133.524.789,00

1.853.444.451,00
1.289.541.905,00
25.228.084,00

Lain-lain PAD yang sah
Dana Bagi Hasil Pajak
Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Pendapatan Bagi Hasil Pajak dari Provinsi NTB
Pendapatan Hibah
Pendapatan Lainnya
Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 13)
Arus Keluar Kas
Belanja Pegawai
Belanja Barang
Subsidi
Hibah
Bantuan Sosial
Belanja Tak Terduga
Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota
Jumlah Arus Keluar Kas (16 s/d 18)
Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (14 - 19)
Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan
Arus Masuk Kas
Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin
Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan
Jumlah Arus Masuk Kas (23 s/d 24)
Arus Keluar Kas
Belanja Tanah
Belanja Peralatan dan Mesin
Belanja Gedung dan Bangunan
Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Aset Tetap Lainnya
Belanja Aset Lainnya
Jumlah Arus Keluar Kas (27 s/d 32)

1.471.450.098,06
17.397.539.673,00
7.794.790.359,00
204.865.000.000,00
32.658.000.000,00
5.440.208.805,00
4.000.000.000,00
2.626.718.900,00
279.696.892.393,06

1.802.098.400,95
9.115.734.796,05
12.477.485.228,00
183.581.000.000,00
29.257.679.060,00
4.850.628.162,00
0,00
4.112.339.177,00
248.365.179.264,00

130.493.867.916,00
34.627.627.971,00
0,00
0,00
17.017.964.550,00
145.367.000,00
1.719.895.500,00
184.004.722.937,00
95.692.169.456,06

87.149.618.707,70
69.083.497.888,00
0,00
0,00
12.368.046.528,00
1.538.276.650,00
497.485.000,00
170.636.924.773,70
77.728.254.490,30

0,00
0,00
0,00

0,00
0,00
0,00

4.066.474.893,00
10.003.211.292,00
10.582.870.494,00
7.836.506.223,00
486.475.200,00
0,00
32.975.538.102,00

6.214.520.960,00
13.039.033.249,00
32.049.666.318,00
6.418.020.963,00
322.315.000,00
0,00
58.043.556.490,00

Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan (25 - 33)

(32.975.538.102,00)

(58.043.556.490,00)

7

No.
35
36
37
38
39
40
41
42
42
43
44
45
46
47
48
49

Uraian
Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan
Arus Masuk Kas
Pencairan Deposito
Jumlah Arus Masuk Kas (37)
Arus Keluar Kas
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri Lainnya
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
Pembentukan Deposito
Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 42)

Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (38 - 42)
Arus Kas dari Aktivitas Nonanggaran
Arus Masuk Kas
Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
Jumlah Arus Masuk Kas (46)
Arus Keluar Kas
Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
Koreksi Kesalahan Tahun Lalu
50 Jumlah Arus Keluar Kas (49)
51 Arus Kas Bersih dari Aktivitas Nonanggaran (47 - 50)
52 Kenaikan/Penurunan Kas
53 Saldo Awal Kas
54 Saldo Akhir Kas
Saldo Akhir di Rekening Kas Daerah (Bank)
55 Saldo Akhir Kas di luar BUD
56 Saldo Akhir Kas di BUD
57 Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran
58 Deposito
60 Saldo Akhir Kas ((54+55+56+57+58+59))

2007

2006

0,00
0,00

14.000.000.000,00
14.000.000.000,00

24.091.089.469,00

24.091.089.469,00

8.320.295.277,00
1.350.000.000,00
12.500.000.000,00
22.170.295.277,00

(24.091.089.469,00)

(8.170.295.277,00)

13.365.951.748,91
13.365.951.748,91

10.143.110.690,00
10.143.110.690,00

13.323.394.840,91
13.323.394.840,91

10.164.522.985,00
0,00
10.164.522.985,00

42.556.908,00
38.668.098.793,06
27.672.647.685,37
66.340.746.478,43

(21.412.295,00)
11.492.990.428,30
15.679.657.257,07
27.172.647.685,37

-

6.745.982.420,60
16.558.813.607,00
767.516.924,77
750.334.733,00
2.850.000.000,00
27.672.647.685,37
,

Lihat Catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan

Raba, 20 September 2008
Walikota Bima

H.M. Nur A. Latif

8

JA LABO DAHU
MA

PEMERINTAH KOTA BIMA
__________________________________________________________________________________
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
I.

KEBIJAKAN AKUNTANSI
1. Entitas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Daerah
Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi
yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan
pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.
Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan Pengguna Anggaran yang berkewajiban
menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada
Entitas Pelaporan.
Pemerintah Kota Bima selaku entitas pelaporan terdiri dari 28 (dua puluh delapan) entitas
akuntansi yang meliputi 27 (dua puluh tujuh) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan 1
(satu) Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD)/PPKD yaitu Badan Pengelola
Keuangan Daerah Kota Bima yang mempunyai fungsi perbendaharaan. Sehingga pelaporan
keuangan Pemerintah Kota Bima merupakan konsolidasian dari laporan keuangan entitasentitas akuntansi tersebut di atas.
2. Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan
Basis akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan Kota Bima tahun 2007
adalah sebagai berikut:
• Basis Kas (cash basis) untuk penyusunan Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan
Arus Kas
Pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Daerah dan belanja
diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Daerah.
• Basis Akrual (accrual basis) untuk penyusunan Neraca
Aset, kewajiban dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi atau
pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah, tanpa
memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.
3. Basis Pengukuran yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan
Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukkan setiap pos
dalam laporan keuangan. Pengukuran pos-pos dalam laporan keuangan menggunakan nilai
perolehan historis dan dalam mata uang rupiah. Transaksi yang menggunakan mata uang asing
dikonversikan terlebih dahulu dan dinyatakan dalam mata uang rupiah.
4. Penerapan Kebijakan Akuntansi Berkaitan dengan Ketentuan yang Ada dalam Standar
Akuntansi Pemerintah
Secara rinci, kebijakan akuntansi yang diterapkan terkait dengan penyusunan Laporan
Keuangan tahun 2007 adalah sebagai berikut :
A. NERACA
Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan
mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal pelaporan. Neraca terdiri dari
aset, kewajiban, dan ekuitas dana (net asset).
1) Aset Lancar
Aset lancar adalah kas dan sumber daya lainnya yang diharapkan dapat dicairkan

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

9

menjadi kas, dijual atau dipakai habis dalam 1 (satu) periode akuntansi.
a) Kas di Kas Daerah
Kas adalah uang tunai dan saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat
digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan. Kas di Kas Daerah
merupakan saldo kas pemerintah Kota Bima yang berada di rekening Kas Daerah
pada Bank. Kas Daerah dicatat sebesar nilai nominal artinya disajikan sebesar
nilai rupiahnya. Apabila terdapat kas dalam valuta asing, dikonversi menjadi
rupiah menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.
b) Kas di Bendahara Pengeluaran
Kas di Bendahara Pengeluaran merupakan kas yang menjadi tanggung jawab/
dikelola oleh Bendahara Pengeluaran yang berasal dari sisa uang yang harus
dipertanggungjawabkan (UYHD) yang belum disetor ke kas daerah per tanggal
neraca dan mencakup seluruh saldo rekening Bendahara Pengeluaran, uang
logam, uang kertas dan lain-lain kas. Kas di Bendahara Pengeluaran dicatat
sebesar nilai nominal artinya disajikan sebesar nilai rupiahnya. Apabila terdapat
kas dalam valuta asing, dikonversi menjadi rupiah menggunakan kurs tengah bank
sentral pada tanggal neraca.
c) Kas di Bendahara Penerimaan
Kas di Bendahara Penerimaan mencakup seluruh kas, baik itu saldo rekening di
bank maupun saldo uang tunai, yang berada di bawah tanggung jawab bendahara
penerimaan yang sumbernya berasal dari pelaksanaan tugas pemerintahan dari
bendahara penerimaan yang bersangkutan. Saldo kas ini mencerminkan saldo
yang berasal dari pungutan yang sudah diterima oleh bendahara penerimaan dari
setoran para wajib pajak/retribusi yang belum disetorkan ke kas daerah. Kas di
Bendahara Penerimaan dicatat sebesar nilai nominal artinya disajikan sebesar nilai
rupiahnya. Apabila terdapat kas dalam valuta asing, dikonversi menjadi rupiah
menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.
d) Belanja dibayar di muka
Belanja dibayar di muka merupakan penurunan aktiva yang digunakan untuk
uang muka pembelian barang atau jasa dan belanja yang maksud
penggunaannya akan dipertanggungjawabkan kemudian.
e) Piutang Pajak
Piutang pajak adalah merupakan piutang atas pajak-pajak daerah yang dicatat
berdasarkan surat ketetapan pajak yang pembayarannya belum diterima. Piutang
pajak dicatat sebesar nilai nominal yaitu sebesar nilai rupiah pajak-pajak yang
belum dilunasi.
f) Piutang Retribusi
Piutang Retribusi merupakan piutang yang diakui atas jumlah yang belum
terbayar sebesar nilai rupiah dari retribusi yang belum dilunasi berdasarkan bukti
penetapan retribusi. Perkiraan piutang retribusi dicatat sebesar nilai nominal yaitu
sebesar nilai rupiah dari retribusi yang belum dilunasi.
g) Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran merupakan reklasifikasi tagihan
penjualan angsuran jangka panjang ke dalam piutang jangka pendek yang
disebabkan karena adanya tagihan angsuran jangka panjang yang jatuh tempo
pada tahun berjalan. Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran dicatat sebesar
nilai nominal yaitu sejumlah tagihan penjualan angsuran yang harus diterima
dalam waktu satu tahun.
h) Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi (TGR)
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi merupakan reklasifikasi lain-lain aset yang
berupa TGR ke dalam aset lancar disebabkan adanya TGR jangka panjang yang
jatuh tempo tahun berikutnya. Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi dicatat sebesar
nilai nominal yaitu sejumlah rupiah Tuntutan Ganti Rugi yang akan diterima

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

10

dalam waktu satu tahun. Dokumen sumber TGR adalah Surat Keputusan yang
dikeluarkan Mejelis Pembebanan TP/TGR. Dalam hal Surat Keputusan tersebut
terlambat atau tidak diterbitkan, dokumen sumber untuk Piutang TGR diperoleh
dari hasil pemeriksaan APFP.
i) Piutang Lainnya
Akun Piutang Lainnya digunakan untuk mencatat transaksi yang berkaitan dengan
pengakuan piutang di luar Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran, Bagian
Lancar Tuntutan Ganti Rugi dan Piutang Pajak. Piutang Lainnya dicatat sebesar
nilai nominal yaitu sebesar nilai rupiah piutang yang belum dilunasi.
j) Persediaan
Persediaan adalah aset dalam bentuk barang atau perlengkapan (supplies) yang
diperoleh dengan maksud untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah dan
barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka
pelayanan kepada masyarakat dalam waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal
pelaporan. Saldo persediaan adalah jumlah persediaan yang masih ada pada
tanggal neraca. Persediaan dicatat sebesar biaya perolehan apabila diperoleh
dengan pembelian, biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri
dan nilai wajar apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan.
2) Investasi Permanen
Investasi permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki
secara berkelanjutan. Bentuk investasi permanen antara lain Penyertaan Modal
Pemerintah Daerah dan Investasi Permanen Lainnya.
a) Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah menggambarkan jumlah yang dibayar oleh
Pemerintah Kota Bima untuk penyertaan modal dalam perusahaan negara/daerah.
Penyertaan modal pemerintah dicatat sebesar harga perolehan.
b) Investasi Permanen Lainnya – Dana Bergulir
Investasi permanen lainnya adalah investasi permanen yang tidak dapat
dimasukkan ke dalam kategori Penyertaan Modal Pemerintah. Investasi Dana
Bergulir merupakan dana yang dipinjamkan kepada kelompok masyarakat untuk
ditarik kemKota Bima setelah jangka waktu tertentu dan kemudian disalurkan
kemKota Bima. Investasi permanen lainnya dicatat sebesar harga perolehan
termasuk biaya tambahan lainnya yang terjadi untuk memperolehnya. Investasi
Dana Bergulir dinilai sebesar jumlah nilai bersih yang dapat direalisasikan (Net
Realizable Value).
3) Aset Tetap
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua
belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh
masyarakat umum. Perkiraan aset tetap terdiri dari Tanah, Peralatan dan Mesin,
Gedung dan Bangunan, Jalan, Irigasi, dan Jaringan, Aset Tetap Lainnya, Konstruksi
Dalam Pengerjaan dan Akumulasi Penyusutan.
Biaya pemeliharaan untuk mempertahankan kondisi aset agar tetap dapat digunakan
tidak dikapitalisir ke dalam nilai aktiva yang bersangkutan, sedangkan biaya
rehabilitasi yang menambah umur dan manfaat dikapitalisir ke dalam nilai aktiva yang
bersangkutan.
a) Tanah
Tanah yang dikelompokkan dalam aset tetap adalah tanah yang dimiliki atau
diperoleh dengan maksud untuk digunakan dalam kegiatan operasional

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

11

pemerintah dan dalam kondisi siap digunakan. Dalam akun tanah termasuk tanah
yang digunakan untuk bangunan, jalan, irigasi dan jaringan. Tanah diakui sebagai
aset pada saat diterima dan terjadi perpindahan hak kepemilikan dengan nilai
historis, yaitu harga perolehan. Biaya ini meliputi harga pembelian serta biaya
untuk memperoleh hak, biaya yang berhubungan dengan pengukuran dan
penimbunan. Jika tidak tersedia data secara memadai, maka tanah dicatat dengan
estimasi harga perolehan.
b) Peralatan dan Mesin
Peralatan dan mesin mencakup antara lain: alat berat; alat angkutan; alat bengkel
dan alat ukur; alat pertanian; alat kantor dan rumah tangga; alat studio,
komunikasi dan pemancar; alat kedokteran dan kesehatan; alat laboratorium; alat
persenjataan; komputer; alat eksplorasi; alat pemboran; alat produksi, pengolahan
dan pemurnian; alat bantu eksplorasi; alat keselamatan kerja; alat peraga; dan unit
peralatan proses produksi yang masa manfaatnya lebih dari 12 (dua belas) bulan
dan dalam kondisi siap digunakan. Peralatan dan mesin dicatat sebagai aset
pemerintah pada saat diterima dan terjadi perpindahan hak kepemilikan. Peralatan
dan mesin dicatat dengan nilai historis, yaitu harga perolehan. Harga perolehan
peralatan dan mesin yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya
langsung (tenaga kerja, bahan baku) dan biaya tidak langsung (perencanaan,
pengawasan, perlengkapan, sewa peralatan dan biaya lain) yang dikeluarkan
hingga aset tersebut siap digunakan. Bila tidak terdapat data tentang nilai
historisnya, maka nilai peralatan dan mesin dicatat berdasarkan atas harga
perolehan yang diestimasikan oleh instansi teknis terkait. Peralatan dan mesin
yang berasal dari hibah dinilai berdasarkan nilai wajar dari harga pasar atau harga
gantinya.
c) Gedung dan Bangunan
Gedung dan Bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang dibeli atau
dibangun dengan maksud untuk digunakan dalam kegiatan operasional
pemerintah dan dalam kondisi siap digunakan. Gedung dan Bangunan di neraca
meliputi antara lain bangunan gedung; monumen; bangunan menara; dan ramburambu. Gedung dan bangunan dicatat sebagai aset pemerintah pada saat diterima
dan terjadi peralihan hak kepemilikan. Gedung dan bangunan dicatat dengan nilai
historis, harga perolehan. Harga perolehan gedung dan bangunan yang dibangun
secara swakelola meliputi biaya langsung (tenaga kerja, bahan baku) dan biaya
tidak langsung (perencanaan, pengawasan, perlengkapan, sewa peralatan, dan
biaya lain) yang dikeluarkan hingga aset tersebut siap digunakan. Bila tidak
terdapat data tentang nilai historisnya, maka nilai gedung dan bangunan dicatat
berdasarkan atas harga perolehan yang diestimasikan.
d) Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Jalan, irigasi dan jaringan mencakup jalan, irigasi dan jaringan yang dibangun
oleh pemerintah serta dikuasai oleh pemerintah dan dalam kondisi siap digunakan.
Jalan, irigasi dan jaringan di neraca antara lain meliputi jalan dan jembatan;
bangunan air; instalasi; dan jaringan. Akun ini tidak mencakup tanah yang
diperoleh untuk pembangunan jalan, irigasi dan jaringan. Jalan, Irigasi, Jaringan
dicatat sebagai aset pemerintah saat diterima dan terjadi perpindahan hak
kepemilikan dengan nilai historis/perolehan, yaitu harga perolehan. Harga
perolehan jalan, irigasi, jaringan yang dibangun dengan cara swakelola meliputi
biaya langsung (Tenaga kerja, bahan baku) dan biaya tidak langsung
(perencanaan, pengawasan, perlengkapan, sewa peralatan, dan biaya lain) yang
dikeluarkan hingga aset tersebut siap digunakan. Bila tidak terdapat data tentang
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

12

nilai historisnya, maka nilai Jalan, Irigasi, Jaringan dicatat berdasarkan atas harga
perolehan yang diestimasikan.
e) Aset Tetap Lainnya
Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam
kelompok aset tetap di atas, yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan
operasional pemerintah dan dalam kondisi siap digunakan. Aset tetap lainnya di
neraca antara lain meliputi koleksi perpustakaan/buku dan barang bercorak
seni/budaya/olah raga. Aset tetap lainnya dicatat sebagai aset pemerintah pada
saat diterima dan terjadi perpindahan hak kepemilikan. Aset tetap lainnya dicatat
dengan nilai historis, harga perolehan. Harga perolehan aset tetap lainnya yang
dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung (Tnaga kerja, bahan
baku) dan biaya tidak langsung (perencanaan, pengawasan, perlengkapan, sewa
peralatan, dan biaya lain) yang dikeluarkan hingga aset tersebut siap digunakan.
Bila tidak terdapat data tentang nilai historisnya, maka nilai aset tetap lainnya
dicatat berdasarkan atas harga perolehan yang diestimasikan.
f) Konstruksi Dalam Pengerjaan
Konstruksi dalam pengerjaan mencakup aset tetap yang sedang dalam proses
pembangunan, yang pada tanggal neraca belum selesai dibangun seluruhnya.
Konstruksi dalam pengerjaan dicatat senilai seluruh biaya yang diakumulasikan
sampai dengan tanggal neraca dari semua jenis aset tetap dalam pengerjaan yang
belum selesai dibangun.
g) Akumulasi Penyusutan
Akumulasi Penyusutan menggambarkan akumulasi jumlah penurunan nilai
ekonomis aset tetap pada tanggal laporan keuangan.
Dengan demikian
penyusutan tidak dimaksudkan untuk mengukur besarnya biaya yang dikorbankan
untuk memperoleh pendapatan ataupun keuntungan.
Aktiva tetap kecuali tanah, disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus
dari nilai perolehan setelah dikurangi nilai residu. Nilai residu untuk aktiva tetap
gedung, bangunan dan kendaraan adalah sebesar 20 % dari nilai perolehan,
sedangkan aktiva tetap lainnya sebesar 10 % dari nilai perolehan. Persentase
penyusuan dihitung sesuai dengan masa manfaat sebagai berikut:
Masa manfaat
Penyusutan
Nama aktiva tetap
(Tahun)
(%)
Peralatan dan Mesin
8 – 15
6,67 – 12,50
Gedung dan Bangunan
25
4
Jalan, irigasi, dan jaringan
10 – 20
5 – 10
Aset tetap lainnya
5
20

4) Aset Lainnya
Aset lainnya adalah aset pemerintah yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai aset
lancar, investasi jangka panjang, aset tetap dan dana cadangan. Aset lainnya antara
lain terdiri dari Tagihan Penjualan Angsuran dan Aset Lain-lain.
a) Tagihan Penjualan Angsuran
Tagihan penjualan angsuran menggambarkan jumlah yang dapat diterima dari
penjualan aset pemerintah secara angsuran kepada pegawai pemerintah. Contoh
tagihan penjualan angsuran antara lain adalah penjualan rumah dinas dan
penjualan kendaraan dinas. Tagihan penjualan angsuran dinilai sebesar nilai
nominal dari kontrak/berita acara penjualan aset yang bersangkutan setelah
dikurangi dengan angsuran yang telah dibayarkan oleh pegawai ke kas negara/kas

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

13

daerah atau daftar saldo tagihan penjualan angsuran.
b) Aset Lain-lain
Aset Lain-lain adalah aset-aset yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam Aset
Tak Berwujud, Tagihan Penjualan Angsuran, Tuntutan Ganti Rugi dan Kemitraan
dengan Pihak Ketiga. Contoh dari aset lain-lain adalah aset tetap yang dihentikan
dari penggunaan aktif pemerintah. Aset Lain-lain dicatat dengan nilai nominal
dari aset yang bersangkutan. Untuk aset tetap yang diklasifikasikan ke dalam Aset
Lain-lain, dicantumkan sebesar nilai perolehannya.

5) Kewajiban Jangka Pendek
Kewajiban jangka pendek merupakan kewajiban yang diharapkan akan dibayar
kemKota Bima atau jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal
neraca. Kewajiban ini mencakup Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK), Utang
Bunga, Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat, dan Utang Jangka
Pendek Lainnya.
a) Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
Utang PFK merupakan utang yang timbul akibat pemerintah belum menyetor
kepada pihak lain atas pungutan/potongan PFK dari Surat Perintah Pencairan
Dana (SP2D) atau dokumen lain yang dipersamakan. Pungutan/potongan PFK
dapat berupa potongan/pungutan Iuran Taspen, Bapertarum, Askes, juga termasuk
pajak-pajak pusat. Perkiraan ini dicatat sejumlah yang sama dengan jumlah yang
dipungut/dipotong berdasarkan nilai nominal.
b) Utang Bunga
Hutang bunga merupakan bunga yang telah jatuh tempo atau menjadi kewajiban
Pemerintah Kota Bima sebagai akibat dari adanya hutang pokok. Perkiraan ini
dicatat sebesar nilai nominal. Hutang bunga dalam valuta asing dikonversikan ke
rupiah berdasarkan nilai tukar (kurs tengah Bank Indonesia) pada tanggal
transaksi.
c) Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat
Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat merupakan bagian dari
utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dan diharapkan akan dibayar dalam
waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca. Pada umumnya akun ini
berkaitan dengan utang yang berasal dari pinjaman jangka panjang. Akun ini
diakui pada saat melakukan reklasifikasi pinjaman jangka panjang pada setiap
akhir periode akuntansi. Nilai yang dicantumkan di neraca untuk bagian lancar
utang jangka panjang adalah sebesar jumlah yang akan jatuh tempo dalam waktu
12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca. Utang dalam valuta asing
dikonversikan ke rupiah berdasarkan nilai tukar (kurs tengah Bank Indonesia)
pada tanggal transaksi.
d) Hutang Jangka Pendek Lainnya
Hutang jangka pendek lainnya, yang tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu
hutang jangka pendek diatas, adalah kewajiban yang harus dilunasi oleh
Pemerintah Kota Bima dan penambahan aset yang diperoleh dari penerimaan hak
yang belum saatnya diterima dan akan dipertanggungjawabkan kemudian. Hutang
jangka pendek lainnya dibukukan sebesar nilai nominal.
6) Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban jangka panjang merupakan kewajiban yang diharapkan akan dibayar
kemKota Bima atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah
tanggal neraca.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

14

Kewajiban jangka panjang digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang
merupakan aset daerah yang dapat menghasilkan penerimaan (baik langsung maupun
tidak langsung) untuk pembayaran kemKota Bima pinjaman, serta memberikan
manfaat bagi pelayanan masyarakat.
a) Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat
Utang Dalam Negeri-Pemerintah Pusat merupakan utang jangka panjang yang
diharapkan akan dibayar oleh Pemerintah Kota Bima terkait dengan pinjaman
yang telah diambil dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal neraca dengan
memperhitungkan bunga masa tenggang sebagai penambah pokok pinjaman. Nilai
yang dicantumkan dalam neraca untuk utang dalam negeri - pemerintah pusat
adalah sebesar jumlah yang belum dibayar pemerintah Kota Bima yang akan jatuh
tempo dalam waktu lebih dari dua belas bulan setelah tanggal neraca.
Utang dalam negeri - pemerintah pusat dibukukan sebesar nilai nominal. Utang
dalam valuta asing dikonversikan ke rupiah berdasarkan nilai tukar (kurs tengah
Bank Indonesia) pada tanggal transaksi.
7) Ekuitas Dana
Ekuitas Dana merupakan pos pada neraca pemerintah yang menampung selisih antara
aset dan kewajiban pemerintah. Pos Ekuitas Dana terdiri dari tiga kelompok, yaitu
Ekuitas Dana Lancar, Ekuitas Dana Investasi, dan Ekuitas Dana Cadangan.
a) Ekuitas Dana Lancar
Ekuitas Dana Lancar merupakan selisih antara aset lancar dengan kewajiban
jangka pendek. Kelompok Ekuitas Dana Lancar antara lain terdiri dari :
(1) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran/SiLPA;
(2) Pendapatan yang Ditangguhkan;
(3) Cadangan Piutang;
(4) Cadangan Persediaan dan;
(5) Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka pendek.
b) Ekuitas Dana Investasi
Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang tertanam dalam
investasi jangka panjang, aset tetap dan aset lainnya, dikurangi dengan kewajiban
jangka panjang. Pos ini terdiri dari:
(1) Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang, yang merupakan akun lawan
dari Investasi Jangka Panjang;
(2) Diinvestasikan dalam Aset Tetap, yang merupakan akun lawan dari Aset
Tetap;
(3) Diinvestasikan dalam Aset Lainnya, yang merupakan akun lawan Aset
Lainnya;
(4) Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang, yang
merupakan akun lawan dari seluruh Utang Jangka Panjang.
c) Ekuitas Dana Cadangan
Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang dicadangkan
untuk tujuan tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Akun ini
merupakan akun lawan dari Dana Cadangan. Saldo perkiraan ini disajikan sebesar
dana yang diinvestasikan dalam dana cadangan.
B. LAPORAN REALISASI ANGGARAN
1) Pendapatan
Pendapatan adalah semua penerimaan Kas Daerah dalam periode tahun anggaran yang
menjadi hak daerah. Pendapatan diakui atas dasar kas, yaitu pada saat diterima pada
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

15

Kas Daerah. Pencatatan pendapatan berdasarkan azas bruto yaitu mencatat
penerimaan bruto dan tidak diperbolehkan mencatat jumlah neto (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran). Pendapatan diklasifikasikan menurut
sumbernya antara lain : Pendapatan Transfer dan Lain-lain Pendapatan yang Sah.
PengemKota Bimaan atau koreksi atas pendapatan yang terjadi pada periode
penerimaan pendapatan maupun periode sebelumnya, dicatat sebagai pengurang
pendapatan.
2) Belanja
Belanja adalah semua pengeluaran Kas Daerah dalam periode tahun anggaran yang
menjadi beban daerah. Belanja diakui atas dasar kas, yaitu pada saat terjadinya
pengeluaran dari Kas Daerah. Belanja diklasifikasikan sesuai SAP yaitu belanja
operasi, belanja tak terduga dan belanja bagi hasil-transfer. Belanja Operasi
diklasifikasikan atas belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah dan belanja bantuan
sosial.
3) Pembiayaan
Pembiayaan adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah daerah yang memerlukan
pembayaran kembali dari pemerintah daerah dan penerimaan kembali dari pemerintah
daerah. Pembiayaan dimaksudkan untuk memberikan gambaran sumber-sumber dana
yang diperoleh untuk menutup defisit anggaran atau pengunaan dana yang dilakukan
apabila terjadi surplus anggaran.
C. LAPORAN ARUS KAS
Laporan Arus Kas adalah laporan yang menyajikan informasi penerimaan dan
pengeluaran kas selama tahun anggaran 2007 yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas
operasi, investasi aset non-keuangan, pembiayaan dan non-anggaran. Tujuan pelaporan
arus kas adalah memberikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan
setara kas selama tahun anggaran 2007 dan saldo kas dan setara kas pada tanggal 31
Desember 2007.
Metode penyusunan Laporan Arus Kas adalah Metode Langsung yaitu dilakukan dengan
cara menyajikan kelompok-kelompok penerimaan dan pengeluaran kas dari aktivitas
operasi secara lengkap, dilanjutkan dengan kegiatan aktivitas investasi aset non-keuangan,
dan pembiayaan serta non anggaran.
Susunan dan isi Laporan Arus Kas terdiri dari 4 (empat) bagian, yaitu :
1) Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Arus kas bersih aktivitas operasi merupakan indikator yang menunjukkan kemampuan
operasi pemerintah dalam menghasilkan kas yang cukup untuk membiayai aktivitas
operasionalnya di masa yang akan datang tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari
luar.
Arus masuk kas terdiri dari : rincian Pendapatan Asli Daerah, rincian Pendapatan
Transfer, rincian Lain-lain Pendapatan yang Sah. Sedangkan Arus Keluar terdiri dari
rincian Belanja Operasi, Belanja Tak Terduga dan Belanja Bagi Hasil-transfer.
2) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset non-Keuangan
Arus kas dari aktivitas investasi aset non keuangan mencerminkan penerimaan dan
pengeluaran kas bruto dalam rangka perolehan dan pelepasan sumber daya ekonomi
yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung pelayanan pemerintah kepada
masyarakat di masa yang akan datang.
Arus masuk kas dari aktivitas investasi dari hasil penjualan aset tetap dan aset lainnya.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

16

Sedangkan Arus keluar kas dari aktivitas investasi adalah belanja pembelian aset tetap
dan aset lainnya.
3) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan
Arus kas dari aktivitas pembiayaan mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas
bruto sehubungan dengan pendanaan defisit atau penggunaan surplus anggaran yang
bertujuan untuk memprediksi klaim pihak lain terhadap arus kas pemerintah dan klaim
pemerintah terhadap pihak lain di masa yang akan datang.
Pembiayaan adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah daerah baik penerimaan
maupun pengeluaran yang dimaksudkan untuk menutup defisit anggaran dan atau
memanfaatkan surplus anggaran.
Penerimaan pembiayaan dapat berasal dari pinjaman, Penerimaan Piutang Daerah,
Pencairan Dana Cadangan, hasil divestasi dan sisa lebih perhitungan anggaran.
Sedangkan pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk penyertaan modal,
pembayaran kemKota Bima pokok pinjaman dan pembiayaan lain berupa
Pembentukan Dana Cadangan.
4) Arus Kas dari Aktivitas Non Anggaran
Arus kas dari aktivitas non anggaran mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas
bruto yang tidak mempengaruhi anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan
pemerintah. Arus kas dari aktivitas non-anggaran antara lain Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) dan kiriman uang. PFK menggambarkan kas yang berasal dari jumlah dana
yang dipotong dari Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) atau diterima secara tunai
untuk pihak ketiga misalnya potongan Taspen dan Askes. Kiriman uang
menggambarkan mutasi kas antar rekening kas umum negara/daerah.

II. PENJELASAN POS-POS LAPORAN KEUANGAN
A. LAPORAN REALISASI ANGGARAN
1. Pendapatan Daerah
Jumlah Pendapatan dalam Tahun Anggaran 2007 dengan target anggaran setelah
perubahan sebesar Rp290.791.084.654,79 terealisasi sebesar Rp279.696.892.393,06 atau
96,18%.
Rincian atas jumlah pendapatan dengan anggarannya adalah sebagai berikut:
No

Uraian

1 PENDAPATAN ASLI DAERAH
2 PENDAPATAN TRANSFER
3 LAIN-LAIN PENDAPATAN
YANG SAH
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan
7.673.493.500,00
279.117.591.154,79
4.000.000.000,00
290.791.084.654,79

Realisasi
Jumlah
4.914.634.656,06

Bobot
(%)
64,05

270.782.257.737,00 97,01
4.000.000.000,00 100,00
279.696.892.393,06

96,18

Jumlah pendapatan daerah di atas, secara rinci menurut jenisnya dapat dijelaskan sebagai
berikut :
a) Pendapatan Asli Daerah
Target anggaran setelah perubahan sebesar Rp7.673.493.500,00, terealisasi sebesar
Rp4.914.634.656,06 atau 64,05%. Rincian atas jumlah Pendapatan Asli Daerah
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

17

dengan anggarannya sebagai berikut:
No

Uraian

1 Pajak Daerah
2 Retribusi Daerah
3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan
4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah
yang Sah
Jumlah

2.305.236.500,00
2.588.217.200,00
143.200.000,00

Realisasi
Rp
1.759.604.837,00
1.550.054.932,00
133.524.789,00

2.636.839.800,00

1.471.450.098,06

55,80

7.673.493.500,00

4.914.634.656,06

64,05

Anggaran setelah
Perubahan

%
76,33
59,89
93,24

Gambaran angka realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara terperinci adalah
sebagai berikut :
(1) Pajak Daerah
Pajak Daerah dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp2.305.236.500,00 realisasi penerimaan sebesar Rp1.759.604.837 atau 76,33%.
Rincian atas pendapatan Pajak Daerah dengan anggarannya sebagai berikut:
No
1
2
3
4
5
6

Uraian
Pajak Hotel
Pajak Restoran
Pajak Hiburan
Pajak Reklame
Pajak Penerangan jalan
Pajak PP Bahan Galian Golongan
C
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan

Realisasi
Rp

66.601.200,00
273.051.600,00
14.400.000,00
93.971.200,00
1.380.000.000,00

48.691.500,00
152.590.559,00
11.148.750,00
74.277.500,00
1.330.528.262,00

477.212.500,00

142.368.266,00

2.305.236.500,00

1.759.604.837,00

%
73,11
55,88
77,42
79,04
96,42
29,83
76,33

(2) Retribusi Daerah
Retribusi Daerah dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp2.588.217.200,00 realisasi penerimaan sebesar Rp1.550.054.932,00 atau
59,89%. Rincian atas pendapatan Retribusi Daerah dengan anggarannya sebagai
berikut:
No

Uraian

1 Retribusi Jasa Umum
2 Retribusi Jasa Usaha
3 Retribusi Perizinan tertentu
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan
1.600.531.500,00
685.786.500,00
301.899.200,00
2.588.217.200,00

Realisasi
Rp
780.909.085,00
503.937.243,00
265.208.604,00
1.550.054.932,00

%
48,79
73,48
87,85
59,89

(3) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan dengan target
anggaran setelah perubahan sebesar Rp143.200.000,00 realisasi penerimaan
sebesar Rp133.524.789 atau 93,24%. Rincian atas pendapatan Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan sebagai berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

18

No

Realisasi
Rp

Anggaran setelah
Perubahan

Uraian

1 Bagian Laba atas penyertaan modal pada
Koperasi
2 Bagian Laba atas penyertaan modal pada
PT. BPD NTB

%
39,24

53.200.000,00

20.878.235,00
125,16

90.000.000,00
143.200.000,00

Jumlah

112.646.554,00
133.524.789,00

93,24

(4) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah dengan target anggaran setelah
perubahan sebesar Rp2.636.839.800,00, realisasi penerimaan sebesar
Rp1.470.450.098,06 atau 55,80%. Rincian atas pendapatan Lain-lain Pendapatan
Asli Daerah Yang Sah sebagai berikut:
No

1 Jasa Giro
2 Komisi, potongan dan keuntungan selisih
kurs
3 Pendapatan Denda atas Keterlambatan
Pelaksanaan Pekerjaan
4 Pendapatan dari Pengembalian
5 Fasilitas Sosial dan Fasilitas Umum
Jumlah

720.000.000,00
1.393.264.800,00

Realisasi
Rp
814.324.699,23
500.163.040,00

0,00

14.748.400,00

~

523.575.000,00
0,00

96.400.000,00
45.813.958,83

18,41
~

2.636.839.800,00

1.471.450.098,06

55,80

Anggaran setelah
Perubahan

Uraian

%
113,10
35,90

b) Pendapatan Transfer
Target anggaran setelah perubahan sebesar Rp279.117.591.154,79 terealisasi sebesar
Rp270.782.257.737,00 atau 97,01%. Rincian atas Pendapatan Transfer tersebut
sebagai berikut:
No

Uraian

1 Transfer Pemerintah Pusat -Dana
Perimbangan
2 Transfer Pemerintah Pusat-Lainnya
3 Transfer Pemprov NTB
Jumlah

265.682.830.731,00

Realisasi
Rp
262.715.330.032,00

%
98,88

0,00
13.434.760.423,79
279.117.591.154,79

1.615.408.600,00
6.451.519.105,00
270.782.257.737,00

~
48,02
97,01

Anggaran setelah
Perubahan

Gambaran angka realisasi Pendapatan Transfer secara terperinci adalah sebagai
berikut :
(1) Transfer Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan
Dana Perimbangan dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp265.682.830.731,00 realisasi penerimaan sebesar Rp262.715.330.032,00 atau
98,88%. Rincian penerimaan Transfer Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan dapat
dilihat pada tabel berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

19

No
1
2
3
4

Uraian
Dana Bagi Hasil Pajak
Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan
20.922.053.541,00
7.237.777.190,00
204.865.000.000,00
32.658.000.000,00
265.682.830.731,00

Realisasi
17.397.539.673,00
7.794.790.359,00
204.865.000.000,00
32.658.000.000,00
262.715.330.032,00

%
83,15
107,70
100,00
100,00
98,88

(1.1) Dana Bagi Hasil Pajak
Dana Bagi Hasil Pajak dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp20.922.053.541,00, realisasi penerimaan sebesar Rp17.397.539.673,00
atau 74,89%. Rincian penerimaan Dana Bagi Hasil Pajak sebagai berikut:
Anggaran setelah
Realisasi
%
No
Uraian
Perubahan
1 Bagi Hasil dari Pajak Bumi dan
16.727.415.166,00
13.150.232.444,00
78,61
Bangunan
2 Bagi Hasil dari Bea Perolehan
2.386.780.315,00
2.329.620.461,00
97,61
Hak Atas Tanah dan Bangunan
3

Bagi Hasil dari Pajak Penghasilan
(PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 wajib
pajak orang Pribadi dalam negeri
Jumlah

1.807.858.060,00

1.917.686.768,00

106,08

20.922.053.541,00

17.397.539.673,00

83,15

(1.2) Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
Dana Bagi Hasil Pajak dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp7.237.777.190,00 realisasi penerimaan sebesar Rp7.794.790.359,00 atau
107,70%. Rincian penerimaan Dana Bagi Hasil Pajak sebagai berikut:
Anggaran setelah
Realisasi
%
No
Uraian
Perubahan
1 Bagi Hasil Sumber Daya Hutan
15.398.536,00
39.087.410,00
253,84
2

Bagi Hasil Sumber Daya Alam
Pertambangan (Royalti)

6.767.833.200,00

7.227.378.788,00

106,79

3

Bagi Hasil dari Hasil Perikanan
Jumlah

454.545.454,00
7.237.777.190,00

528.324.161,00
7.794.790.359,00

116,23
107,70

(1.3) Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Umum dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp204.865.000.000,00,
realisasi
penerimaan
sebesar
Rp.
204.865.000.000,00 atau 100,00%.
(1.4) Dana Alokasi Khusus
Dana Alokasi Khusus dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp32.658.000.000,00, realisasi penerimaan sebesar Rp32.658.000.000,00
atau 100,00%.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

20

(2) Transfer Pemerintah Pusat-Lainnya
Transfer Pemerintah Pusat-Lainnya yang merupakan Dana Penyesuaian bidang
Pendidikan dengan realisasi sebesar Rp1.615.408.600,00.
(3) Transfer Pemerintah Provinsi NTB
Transfer Pemerintah Provinsi NTB dengan target anggaran setelah perubahan
sebesar
Rp13.434.760.423,79,00,
realisasi
penerimaan
sebesar
Rp6.451.519.105,00 atau 48,02% terdiri dari:
Anggaran setelah
Realisasi
No
Uraian
Perubahan
1 Dana Bagi Hasil Pajak dari
9.761.669.536,27
5.440.208.805,00
Provinsi
2 Dana Bagi Hasil Pajak dari
2.357.630.587,52
Kabupaten
3 Bantuan Keuangan Dari Provinsi
1.315.460.300,00
1.011.310.300,00
13.434.760.423,79
6.451.519.105,00
Jumlah

%
55,73
76,88
48,02

(3.1) Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi
Dana Bagi Hasil Pajak dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp.9.761.669.536,27,00 realisasi penerimaan sebesar Rp.5.440.208.805,00
atau 55,73%. Rincian penerimaan Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi
sebagai berikut:
Anggaran setelah
Realisasi
%
No
Uraian
Perubahan
1 Bagi Hasil Pajak Kendaraan
2.463.186.000,00 1.094.761.164,00
44,44
Bermotor (PKB)
1.900.821.400,00 1.143.116.429,00
60,14
2 Bagi Hasil Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor (BBNKB)
3 Bagi Hasil Pajak Bahan Bakar
5.395.662.136,27 3.164.447.664,00
58,65
Kendaraan Bermotor (PBBKB)
4

Bagi Hasil Pajak Air Bawah
Tanah
Jumlah

2.000.000,00

37.883.548,00

1.894,18

9.761.669.536,27

5.440.208.805,00

55,73

(3.2) Dana Bagi Hasil Pajak dari Kabupaten
Dana Bagi Hasil Pajak dari Kabupaten dengan target anggaran setelah
perubahan sebesar Rp2.357.630.587,52 tidak ada realisasi.
(3.3) Bantuan Keuangan dari Provinsi
Bantuan Keuangan dari Provinsi dengan target anggaran setelah perubahan
sebesar Rp1.315.460.300,00, dengan realisasi penerimaan sebesar
Rp1.011.310.300,00 atau 76,88%.

c) Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah
Penerimaan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah dari target anggaran setelah
perubahan sebesar Rp4.000.000.000,00, terealisasi sebesar Rp4.000.000.000,00 atau

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

21

100,00%. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah seluruhnya berupa Hibah dari
Pemerintah Pusat.
2. Belanja Daerah
Belanja dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip penghematan dan
efisiensi, namun tetap menjamin terlaksananya kegiatan-kegiatan sebagaimana yang
telah ditetapkan dalam dokumen anggaran satuan kerja.
Belanja daerah dengan target anggaran setelah perubahan sebesar Rp276.001.922.577,21,
realisasinya sebesar Rp216.980.261.039,00 atau 78,62%.
Rincian atas jumlah belanja dengan anggarannya adalah sebagai berikut:

No

Uraian

Anggaran setelah
Perubahan

Realisasi
%

Jumlah

1 BELANJA OPERASI

194.858.514.750,21

183.859.355.937,00

94,36

2 BELANJA MODAL

76.643.407.827,00

32.975.538.102,00

43,02

4.500.000.000,00

145.367.000,00

3,23

216.980.261.039,00

78,62

3 BELANJA TAK TERDUGA
Jumlah

276.001.922.577,21

Jumlah belanja daerah di atas, secara rinci menurut jenisnya dapat dijelaskan sebagai
berikut :
a) Belanja Operasi
Target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.194.858.514.750,21 terealisasi sebesar
Rp.183.859.355.937,00 atau 94,36%. Rincian atas jumlah Belanja Operasi dengan
anggarannya sebagai berikut :
No

Uraian

1 BELANJA PEGAWAI
2
3
4
5

BELANJA BARANG DAN JASA
BELANJA HIBAH
BELANJA BANTUAN SOSIAL
BELANJA BANTUAN
KEUANGAN KEPADA
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
DAN PEMERINTAHAN DESA
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan

Realisasi
%
Jumlah

137.145.396.048,21
41.482.416.702,00
300.000.000,00
14.630.702.000,00

130.493.867.916,00
34.627.627.971,00
-

1.300.000.000,00
194.858.514.750,21

1.719.895.500,00
183.859.355.937,00

17.017.964.550,00

Belanja Operasi secara terperinci adalah sebagai berikut :
(1) Belanja Pegawai
Belanja Pegawai dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp137.145.396.048,21 realisasi pengeluaran sebesar Rp130.493.867.916,00 atau
95,15%. Dengan rincian sebagai berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

22

95,15
83,48
116,32
132,30

94,36

No
I

Uraian

Belanja Tidak Langsung
1 Gaji dan Tunjangan
2 Tambahan Penghasilan PNS
Belanja Penerimaan Lainnya
Pimpinan dan anggota DPRD
3 seta KDH/WKDH
Biaya Pemungutan Pajak
4 Daerah
Jumlah Belanja Tidak
Langsung

II
1
2
3

4
5

Belanja Langsung
Honorarium PNS
Honorarium Non PNS
Uang Lembur
Belanja Kursus, Pelatihan,
sosialisasi, dan bimbingan
teknis PNS
Belanja Beasiswa
Jumlah Belanja Langsung
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan
109.964.343.879,21
4.677.180.000,00

Realisasi

%

Jumlah
Bobot (%)
109.022.211.933,00
83,55
2.768.120.000,00
2,12

1.690.080.000,00

1.320.330.200,00

1,01

78,12

457.500.000,00

321.456.263,00

0,25

70,26

116.789.103.879,21

113.432.118.396,00

86,93

97,13

4.798.177.829
8.170.319.260,00
3.021.050.000,00

4.505.716.830,00
6.025.985.350
2.340.598.000

3,45
4,62
1,79

93,90
73,75
77,48

3.402.285.000,00
964.460.080,00

3.345.171.800
844.277.540

2,56
0,65

98,32
87,54

20.356.292.169,00
137.145.396.048,21

17.061.749.520,00
130.493.867.916,00

13,07
100,00

83,82
95,15

(2) Belanja Barang dan Jasa
Belanja Barang dan Jasa dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp41.482.416.702,00, realisasi pengeluaran sebesar Rp34.627.627.971,00 atau
83,48%. Dengan rincian sebagai berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

99,14
59,18

23

No

Uraian

1 Belanja Bahan Pakai Habis
2 Belanja Bahan/Material
3 Belanja Jasa Kantor
4 Belanja Perawatan Kendaraan Bermotor
5 Belanja Cetak dan Penggandaan
6 Belanja Sewa Rumah/Gedung/Gudang/Parkir
7 Belanja Sewa Sarana Mobilitas
8 Belanja Sewa Perlengkapan dan Peralatan Kantor
9 Belanja Makanan dan Minuman
10 Belanja Pakaian Dinas dan Atributnya
11 Belanja Pakaian Kerja
12 Belanja Pakaian khusus dan hari-hari tertentu
13 Belanja Perjalanan Dinas
14 Belanja Pemeliharaan Sarana dan Prasarana
15 Belanja Pemeliharaan Peralatan Kantor
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan
2.593.924.396,00
3.260.263.538,00
6.914.481.518,00
2.416.372.400,00
3.091.674.900,00
810.729.650,00
106.110.000,00
179.023.100,00
6.271.801.600,00
507.222.000,00
107.763.000,00
159.000.000,00
14.881.050.600,00
183.000.000,00
-

41.482.416.702,00

(3) Belanja Hibah
Belanja Hibah dengan target anggaran
Rp300.000.000,00 tapi tidak terealisasi.

setelah

Realisasi
Jumlah

%

1.907.030.770,00
73,52
2.002.206.900,00
61,41
4.993.526.285,00
72,22
2.381.240.757,00
98,55
2.906.112.977,00
94,00
824.081.812,00 101,65
67.410.000,00
63,53
180.618.200,00 100,89
5.600.058.920,00
89,29
416.461.000,00
82,11
107.691.500,00
99,93
153.633.000,00
96,62
13.080.622.850,00
87,90
5.633.000,00
3,08
1.300.000,00 ~

34.627.627.971,00

83,48

perubahan

sebesar

(4) Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bantuan Sosial dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp14.630.702.000,00, realisasi pengeluaran sebesar Rp17.017.964.550,00 atau
116,32%, dengan rincian sebagai berikut:
No

Uraian

1 Belanja Bantuan Sosial Organisasi
2 Belanja Bantuan Partai Politik
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan
14.143.202.000,00
487.500.000,00
14.630.702.000,00

Realisasi
Jumlah
16.544.964.550,00
473.000.000,00
17.017.964.550,00

%
116,98
97,03
116,32

(5) Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan
Pemerintah Desa
Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah
Desa dengan target anggaran setelah perubahan sebesar Rp1.300.000.000,00,
realisasi pengeluaran sebesar Rp1.719.895.500,00 atau 132,30%, dengan rincian
sebagai berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

24

No

Anggaran setelah
Perubahan

Uraian

1 Belanja Bantuan Keuangan kepada
kabupaten/Kota

%

Rp

297,47

2 Belanja Bantuan Keuangan kepada Desa
Jumlah

Realisasi

300.000.000,00

892.395.500,00

1.000.000.000,00
1.300.000.000,00

827.500.000,00
1.719.895.500,00

82,75
132,30

b) Belanja Modal
Belanja Modal dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp76.643.407.827,00, realisasi pengeluaran sebesar Rp32.975.538.102,00 atau
43,02%.
Rincian belanja modal dengan anggarannya sebagai berikut:
Realisasi
Anggaran setelah
Perubahan
No
Uraian
%
Jumlah

1
2
3
4
5

Belanja Tanah
Belanja Peralatan dan Mesin
Belanja Gedung
Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Aset Tetap Lainnya
Jumlah

6.075.285.000,00
13.861.513.957,00
31.084.828.870,00
25.238.480.000,00
383.300.000,00
76.643.407.827,00

4.066.474.893,00
10.003.211.292,00
10.582.870.494,00
7.836.506.223,00
486.475.200,00
32.975.538.102,00

66,93
72,17
34,05
31,05
126,92
43,02

Belanja Modal secara terperinci adalah sebagai berikut:
(1) Belanja Tanah
Belanja Tanah dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp6.075.285.000,00 realisasi pengeluaran sebesar Rp4.066.474.893,00 atau
66,93%.
(2) Belanja Peralatan dan Mesin
Belanja Peralatan dan Mesin dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp13.861.513.957,00 realisasi pengeluaran sebesar Rp10.003.211.292,00 atau
72,17 %, dengan rincian sebagai berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

25

No

Uraian

1 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan
Darat Bermotor
2 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan
Darat Tidak Bermotor
3 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan
di atas Air Bermotor
4 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Angkutan
di atas Air Tidak Bermotor
5 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Bengkel
6 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Pengolahan Pertanian dan Peternakan
7 Belanja Modal Pengadaan Peralatan Kantor
8 Belanja Modal Pengadaan Perlengkapan
9 Belanja Modal Pengadaan Komputer
10 Belanja Modal Pengadaan mebeulair
11 Belanja Modal Pengadaan Peralatan Dapur
12 Belanja Modal Pengadaan Penghias Ruangan
Rumah Tangga
13 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Studio
14 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
15 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Ukur
16 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
17 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
18 Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Pengolahan Perikanan
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan

Realisasi

%

3.951.169.600,00

Jumlah
2.558.067.500,00

64,74

80.000.000,00

79.950.000,00

99,94

430.000.000,00

323.955.000,00

75,34

12.500.000,00

-

435.600.000,00
146.000.000,00

239.193.675,00
-

54,91
-

403.190.220,00
689.213.720,00
2.192.315.030,00
863.164.000,00
48.781.900,00
212.809.000,00

241.147.912,00
469.089.191,00
1.855.339.514,00
712.811.000,00
20.537.600,00
151.466.000,00

59,81
68,06
84,63
82,58
42,10
71,17

111.231.900,00
122.251.500,00
438.760.800,00
2.057.964.252,00
1.455.562.035,00
211.000.000,00

88.165.800,00
116.961.500,00
13.500.000,00
1.584.792.000,00
1.446.420.600,00
101.814.000,00

79,26
95,67
3,08
77,01
99,37
48,25

13.861.513.957,00

10.003.211.292,00

72,17

-

(3) Belanja Gedung dan Bangunan
Belanja Gedung dan Bangunan dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp31.084.828.870,00 realisasi pengeluaran sebesar Rp10.582.870.494,00 atau
34,05%.
(4) Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan dengan target anggaran setelah perubahan
sebesar Rp25.238.480.000,00 realisasi pengeluaran sebesar Rp7.836.506.223,00
atau 31,05%, dengan rincian sebagai berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

26

Realisasi
No

Anggaran setelah
Perubahan

Uraian

1
Belanja Modal Pengadaan Konstruksi Jalan
2 Belanja Modal Pengadaan Konstruksi
Jembatan
3 Belanja Modal Pengadaan Konstruksi
Jaringan Air
4 Belanja Modal Pengadaan Instalasi Listrik
dan Telepon
Jumlah

%
Jumlah

16.083.000.000,00

5.810.579.247,00

36,13

565.000.000,00

220.104.380,00

38,96

8.492.320.000,00

1.713.607.786,00

20,18

98.160.000,00

92.214.810,00

93,94

25.238.480.000,00

7.836.506.223,00

31,05

(5) Belanja Aset Tetap Lainnya
Belanja Aset Tetap Lainnya dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp.383.300.000,00 realisasi pengeluaran sebesar Rp.486.475.200,00 atau
126,92%, dengan rincian sebagai berikut:
No

Uraian

1 Belanja Modal Pengadaan
Buku/Kepustakaan
2 Belanja Modal Pengadaan
Hewan/Ternak dan Tanaman
Jumlah

Anggaran setelah
Perubahan

Realisasi
%
Jumlah

286.900.000,00

164.618.000,00

57,38

96.400.000,00

321.857.200,00

333,88

383.300.000,00

486.475.200,00

126,92

c) Belanja Tidak Terduga
Belanja Tidak Terduga dengan target anggaran setelah perubahan sebesar
Rp.4.500.000.000,00 , realisasi pengeluaran sebesar Rp.145.367.000,00 atau 3,23%.
3. PEMBIAYAAN
Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan Pemerintah Kota Bima baik
penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali oleh
Pemerintah Kota Bima, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan
untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran.
a) Penerimaan Pembiayaan
Jumlah penerimaan pembiayaan dalam Tahun Anggaran 2007 dengan target anggaran
setelah
perubahan
sebesar
Rp.7.513.199.345,00
terealisasi
sebesar
Rp.27.672.647.685,37 atau 361,67%. Realisasi tersebut merupakan realisasi Sisa
Lebih Perhitungan Anggaran Daerah Tahun Sebelumnya.
b) Pengeluaran Pembiayaan
Jumlah pengeluaran pembiayaan dalam Tahun Anggaran 2007 dengan target anggaran
setelah
perubahan
sebesar
Rp.23.000.000.000,00,
terealisasi
sebesar
Rp.24.091.089.469,00 atau 104,74%. Realisasi tersebut merupakan pembayaran
utang jatuh tempo kepada pihak ketiga.
4.

SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN
Berdasarkan realisasi pendapatan dan belanja serta realisasi pembiayaan netto TA 2007,
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berjalan sebesar Rp.66.298.189.570,43.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

27

B. NERACA
1. ASET
a) ASET LANCAR
(1) Kas di Kas Daerah
Uraian

Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
Kas di Kas Daerah
52.270.947.804,43 24.072.312.952,37
Kas di Kas Daerah per 31 Desember 2007 dan 2006 pada rekening bank masing-masing
sebesar Rp52.270.947.804,43 dan Rp24.072.312.952,37 dengan rincian sebagai berikut:
(a) Kas di Bank:
Uraian
Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
Kas di Bank
30.128.844.225,43
6.753.205.916,60
Kas di Kas Daerah per 31 Desember 2007 dan 2006 pada rekening bank masing-masing
sebesar Rp30.128.844.225,43 dan Rp6.753.205.916,60 dengan rincian sebagai berikut:
Kas Daerah di Bank :

TA 2007

TA 2006

PT BANK NTB Kantor Cabang Bima
-

PAD
No. Rekening 21.00002.00-9

-

205.482.687,70

250.608.108,00

797.177.475,61

3.021.358.341,40

8.184.591.963,00

4.859.925,00

No. Rekening 21.02102.00-6

421.451,40

651.920,40

No. Rekening 21.02023.03-1

9.477.154,00

9.041.638,00

1.653.796.988,17

4.830.729,00

6.205.039,00

684.435.830,00

3.803.022.171,00

2.579.264,00

Dana Perimbangan Provinsi
No. Rekening 21.02066.00-7

-

Dana Perimbangan Pusat
No. Rekening 21.02080.00-9

-

-

Dana Alokasi Khusus (DAK)

Dana Alokasi Umum (Gaji)
No. Rekening 21.02066.01-0

-

Bagi Hasil Pajak Pusat
No Rekening 21.00015.02-0

-

Dana Ad Hoc
No Rekening 21.00018.02-3

-

DAK Reboisasi
No Rekening 21.00004.02-5

-

454.682.925,00

438.021.720,00

UUDP BPKD Kota Bima

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

28

No. Rekening 21.00048.02-3
-

57.660.083,92

-

No. Rekening 21.00025.02-6

283.480.561,83

-

Sub Jumlah

15.455.998.500,63

4.416.387.475,80

3.035.152.587,00

2.229.882.364,00

99.212.413,00

7.263.465,00

883.214.926,00

6.593.237,00

20.666.862,00

20.738.926,00

1.627.407.872,00

-

2.769.734,00

-

90,00

-

683.900.000,00

-

140,00

-

823,00

-

463,00

-

362,00

-

895.635,00

7.223.496,00

Bend BPKD Kota Bima-Burhan Ismail

PT BNI (Persero) Tbk Kantor Cabang Bima
-

PBB
No. Rek.53757219

-

BPHTB
No. Rek. 53756431

-

Kantor Pemerintah Kota Bima
No. Rek. 53757435

-

Kantor Pemerintah Kota Bima
No. Rek. 53757446

-

DAU
No. Rek. 0120647304

-

Kantor Pemerintah Kota Bima
No. Rek. 0120647870

-

DAK Lingkungan Hidup
No.Rek. 0136316283

-

DAK Prasarana Pemerintah
No.Rek. 0136317640

-

DAK Perikanan Kelautan
No.Rek. 0136317866

-

DAK Pertanian
No.Rek. 0136318065

-

DAK Kesehatan
No.Rek. 0136317334

-

DAK Infrastruktur
No.Rek.0136317196

-

Badan Pengelola Keuangan
No.Rek. 0053763211

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

29

Sub Jumlah

6.353.221.907,00

2.271.701.488,00

5.117.248.183,80

64.635.029,80

3.055.714.961,00

-

109.923,00

-

45.792.676,00

-

100.758.074,00

77.446.060,00

Sub Jumlah

8.319.623.817,80

65.116.952,80

Jumlah Kas Daerah di Bank

30.128.844.225,43

6.753.205.916,60

PT BRI (Persero) Kantor Cabang Raba Bima
-

Dana Alokasi Umum (DAU)
No. Rek. 00000079-01-000262-30-4

-

DAK Infrastruktur
No.Rek. 00000079-01-000362-30-8

-

Bencana Alam qq Walikota Bima
No.Rek. 00000079-01-000370-30-1

-

Dana Bantuan Kegiatan Sosial Kemasy.
No.Rek. 00000079-01-000373-30-9

-

Rekening Tabungan
No. Rek.12061952-5

(b) Kas di Luar BUD
Uraian

Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
Kas di Luar BUD
19.613.813.607,00 16.558.813.607,00
Kas di Luar BUD per 31 Desember 2007 dan 2006 masing-masing sebesar
Rp19.613.813.607,00 dan Rp16.558.813.607,00 dengan rincian Kas di Luar BUD per 31
Desember 2007 sebagai berikut:
Tanggal

Uraian

NO. Cek

Jumlah (Rp)

Mutasi Tambah
16.558.813.607,00
DAUBRI00000079-01-000262-30-4

01624973

200.000.000,00

19/02/2007

DAUBRI00000079-01-000262-30-4

01624974

50.000.000,00

19/02/2007

DAUBRI00000079-01-000262-30-4

Cash

1.644.000.000,00

21/02/2007

DAUBRI00000079-01-000262-30-4

Cash

1.500.000.000,00

22/02/2007

DAUBRI00000079-01-000262-30-4

OGI S

2.800.000.000,00

15/02/2007

22.752.813.607,00

Jumlah Mutasi Tambah
Mutasi Kurang
12/02/2007

Pencairan atas SP2D-UP pada
Dinas Kesehatan

14/02/2007

DAUBRI00000079-01-000262-30-4

Ca Cash deposit

600.000.000,00

14/02/2007

DAUBRI00000079-01-000262-30-4

Ca Cash deposit

2.400.000.000,00

139.000.000,00

Jumlah Mutasi Kurang

3.139.000.000,00

Saldo per tanggal 31/12/2007

19.613.813.607,00

Saldo sebesar Rp16.558.813.607,00 merupakan pengeluaran TA 2006 yang belum
dipertanggungjawabkan.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

30

(c) Kas di BUD
Uraian
Kas di Kas Daerah

Per 31 Des 2007
2.528.289.972,00

Per 31 Des 2006
767.516.924,77

Jumlah tersebut merupakan saldo Kas pada Bendahara Umum Daerah (panjar) yang
belum dipertanggungjawabkan per tanggal 31 Desember 2007, dengan perincian
sebagai berikut:
Tanggal

Bank

NO. Cek

Jumlah

22/01/2007

DAUBRI00000079-01-000262-30-4

01015400

02/02/2007

DAUBRI00000079-01-000262-30-4

01015470

Rp 250.000.000,00

12/03/2007

BRIDAK 00000079-01-000363-30-4

DAK Perikanan

Rp 561.000.000,00

20/03/2007

DAUBRI00000079-01-000262-30-4

02116915

Rp 135.000.000,00

22/03/2007

BPD005.21.02066.01-0 DAU

AHH301421

Rp

63.000.000,00

13/04/2007

BPD005.21.02066.01-0 DAU

AHH301487

Rp

4.999.900,00

13/04/2007

BPD005.21.02066.01-0 DAU

Rp

4.940.000,00

Rp

51.540.072,00

25/04/2007

BNIDAU0120647304

AHH301488
CI 661855 /
TAUFIQURAHMAN

25/07/2007

BPDPPROV21.02066.00-7

Dikes

Rp 457.810.000,00

01/10/2007

BNIDAU0120647304

CI 663663

Rp 500.000.000,00

Rp 100.000.000,00

30/10/2007

BNIDAU0120647304

BG BN 100893

Rp

01/11/2007

BNIPBB53757219

CI 663912/Taufikurrahman

Rp 350.000.000,00

Jumlah

50.000.000,00

Rp 2.528.289.972,00

(2) Kas di Bendahara Pengeluaran

Rp.

15.407.570.822,00

Jumlah tersebut merupakan saldo kas pada masing-masing bendahara pengeluaran per
tanggal 31 Desember 2007 yang belum disetor ke Kas Daerah dengan perincian sebagai
berikut:

No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama SKPD

BUD
Walikota
DPRD
Sekretariat Kota
Sekretariat DPRD
Bappeda
BPKD
Dinas Dikbudpar
Bawasda
Dinas Kimpraswil
Dinas Tata Kota
Dinas Koperindag
Badan Kesbang Linmas

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

Saldo Kas di
Bendahara
Pengeluaran per 31
Desember 2007
0,00
0,00
0,00
138.459.388,00
135.308,00
838.500,00
501.395.695,00
6.600.178.387,00
5.745,00
3.607.519.634,00
6.074.631,00
2.677.192,00
2.967.900,00

31

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Dinas Kesehatan
Dinas Perhubungan
KBKS
Dinas Sosial
Pol PP
Kantor Penguhubung
PM & P
Dinas Pertanian
Dinas Kehutanan
Pelayanan Terpadu
Dinas Perikanan
Kec. Rasanae Barat
Kec. Rasanae Timur
Kecamatan Asakota
Kecamatan Mpunda
Kecamatan Raba
KPU dan Panwaslu
JUMLAH

1.194.101.088,00
0,00
675.532,00
2.590.520,00
717.000,00
2.927.044,00
1.370.000,00
1.662.258.497,00
291.622.000,00
2.678.700,00
949.637.631,00
467.200,00
465.406,00
581.514,00
1.463.850,00
0,00
435.762.460,00
15.407.570.822,00

Jumlah diatas merupakan terdiri dari sisa UUDP TA 2006 yang sampai dengan TA 2007
belum dibayarkan dan sisa UYHD TA 2007 yang terdiri dari kas tunai di bendahara
pengeluaran dan kas di rekening koran (rekening penampungan) dengan rincian
selengkapnya pada lampiran 1.
(3) Deposito
Uraian
Deposito

Per 31 Des 2007
2.850.000.000,00

Per 31 Des 2006
2.850.000.000,00

Deposito per 31 Desember 2007 dan 2006 masing-masing sebesar Rp2.850.000.000,00 dan
Rp2.850.000.000,00 dengan rincian Deposito per 31 Desember 2007 sebagai berikut:
Saldo
No.

Nama Bank

1

PT. Bank NTB A.23.06334.01-3

2

PT. Bank NTB 23.06325.01-4

3

PT. BNI No. Rek 96686564

4

PT. BPD No.Rek 005.21.00001.05-2
Jumlah

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

Per 31 Desember 2007
Rp500.000.000,00
Rp1.000.000.000,00
Rp350.000.000,00
Rp1.000.000.000,00
Rp2.850.000.000,00

32

(4) Persediaan
Uraian
Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
Persediaan
790.100.730,00
825.445.630,00
Persediaan per 31 Desember 2007 dan 2006 masing-masing sebesar Rp825.445.630,00 dan
Rp790.100.730,00.

(5) Belanja dibayar di muka
Uraian
Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
Belanja dibayar di muka
779.755.031,83
779.755.031,83
Belanja di bayar di muka Pemerintah Kota Bima per 31 desember 2007 dan 2006 masingmasing sebesar Rp779.755.031,83 dan Rp779.755.031,83, saldo ini merupakan koreksi atas
penihilan belanja di bayar dimuka TA 2006 yang tidak didukung dengan bukti.

(6) Piutang Pajak
Uraian
Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
Piutang Pajak
43.479.557,00
43.479.557,00
Piutang Pajak Pemerintah Kota Bima per 31 desember 2007 dan 2006 masing-masing sebesar
Rp43.479.557,00 dan Rp43.479.557,00, saldo ini merupakan koreksi atas penihilan Piutang
Pajak TA 2006 yang tidak didukung dengan bukti.

(7) Piutang Retribusi
Uraian

Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
Piutang retribusi
152.297.750,00
152.297.750,00
Piutang retribusi Pemerintah Kota Bima per 31 desember 2007 dan 2006 masing-masing
sebesar Rp152.297.750,00 dan Rp152.297.750,00, saldo ini merupakan koreksi atas penihilan
Piutang retribusi TA 2006 yang tidak didukung dengan bukti.

(8) Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi
Uraian
Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi
3.493.245.595,16
3.821.325.664,16
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi Pemerintah Kota Bima per 31 desember 2007 dan Piutang
Ganti Rugi atas Kekayaan Daerah 2006 masing-masing sebesar Rp3.493.245.595,16 dan
Rp3.821.325.664,16, saldo ini merupakan koreksi atas penihilan Piutang Ganti Rugi atas
Kekayaan Daerah TA 2006 yang tidak didukung dengan bukti.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

33

(9) Piutang Lain-lain
Uraian
Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
Piutang Lain-lain
1.953.412.024,00
0,00
Piutang Lain-lain Pemerintah Kota Bima per 31 desember 2007 dan 2006 masing-masing
sebesar Rp1.953.412.024,00 dan Rp0,00, merupakan saldo piutang insentif atas penerimaan
PBB diatas target sebesar Rp1.838.463.428,00 yang baru diterima di TA 2008 dan Piutang
upah pungut PBB sebesar Rp114.948.596,00 yang baru diterima di TA 2008.
b) INVESTASI JANGKA PANJANG
(1) Penyertaan Modal Pemerintah Kota Bima
Uraian
Penyertaan Modal

Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
2.511.565.350,75 2.450.322.088,00

Penyertaan modal Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007 dan 2006 masing-masing
sebesar Rp2.511.565.350,75 dan Rp2.450.322.088,00 dengan rincian sebagai berikut:
No
Uraian
2007
2006
( Rp. )
( Rp.)
1.

PT Bank Nusa Tenggara Barat

1.257.115.835,75

1.143.280.940,00

2.

PT Bima Palapa Sumber Energi

500.000.000,00

500.000.000,00

3.

BPR LKP Sarae

654.449.515,00

607.047.148,00

4.

Koperasi Kasabua Ade

100.000.000,00

200.000.000,00

2.511.565.350,75

2.450.322.088,00

Jumlah

(2) Dana Bergulir
Uraian
Dana Bergulir

Per 31 Des 2007
Per 31 Des 2006
2.533.456.299,00 2.427.257.868,00

Dana Bergulir Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007 dan 2006 masing-masing sebesar
Rp2.533.456.299,00 dan Rp2.427.257.868,00 dengan rincian sebagai berikut:
No

Uraian

1.

Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan

2.

Dinas Perikanan dan Kelautan

3.

Sekretariat Daerah (Bagian Ekonomi)

4.

Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan
Perempuan
Jumlah

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

2007 ( Rp. )

2006 ( Rp. )

320.360.299,00

1.631.956.868,00

92.871.000,00

92.871.000,00

2.064.443.500,00

606.500.000,00

55.781.500,00

95.930.000,00

2.533.456.299,00

2.427.257.868,00

34

c) ASET TETAP

(1) TANAH
Saldo per 31-12-2006
Terdiri dari:
- Tanah Untuk Bangunan Gdg
- Tanah Perkebunan
- Tanah Lapangan Lainnya

54.244.986.603,00
49.496.713.403,00
1.002.784.200,00
3.745.489.000,00
54.244.986.603,00

Koreksi Saldo Awal
- Koreksi Tambah (kesalahan perhitungan)
- Tanah Bangunan Gdg
3.019.000.000,00
- Tanah Lapangan Lainnya
1.489.840.000,00
- Tanah Kebun
1.532.000.000,00
6.040.840.000,00
- Koreksi Kurang (Kesalahan Perhitungan)
- Tanah Kantor
11.465.340.000,00
- Tanah Bangunan Kerja
35.000.000,00
11.500.340.000,00
Saldo Awal Setelah Koreksi

Penambahan Tahun 2007
Tanah Kantor
Tanah Bangunan Pendidikan
Tanah untuk makam muslim
Tanah Lapangan Lainnya
Tanah Kebun Lainnya

48.785.486.603,00

5.287.415.000,00
317.120.000,00
167.000.000,00
525.000.000,00
200.000.000,00
6.496.535.000,00

Koreksi Kesalahan Tahun Lalu (Tambah)
Tanah Lapangan Lainnya
Saldo per 31 Desember 2007
Terdiri dari:
- Tanah Untuk Bangunan Gdg
- Tanah Perkebunan
- Tanah Lapangan Lainnya

(2) Mesin dan Peralatan
Saldo per 31-12-2006
Terdiri dari:
- Alat Berat

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

3.023.809.750

58.305.831.353,00
46.619.908.403,00
2.734.784.200,00
8.951.138.750,00

57.425.432.482,01
8.982.440.000,00

35

- Alat Angkutan
- Alat Bengkel dan Ukur
- Alat Pengolahan Pertanian
- Alat Kantor dan RT
- Alat Studio dan Komunikasi
- Peralatan Kedokteran
- Peralatan Laboratorium

Koreksi Saldo Awal
- Koreksi Tambah (Kesalahan Perhitungan)
- Alat Angkutan
- Alat Kantor & RT

17.102.786.494,00
951.015.322,33
1.902.424.000,00
24.331.103.226,18
1.597.709.615,00
883.165.874,50
1.674.787.950,00
57.425.432.482,01

635.626.076,00
3.000.000,00
638.626.076,00

- Koreksi Kurang (Kesalahan Perhitungan)
- Alat Berat
- Alat Angkutan
- Peralatan Kantor & RT

136.000.000,00
936.063.032,00
745.276.069,00
1.817.339.101,00

Saldo Awal Setelah Koreksi
Penambahan Tahun 2007
- Alat Berat
- Alat Angkutan
- Alat Bengkel dan Ukur
- Alat Pengolahan Pertanian
- Alat Kantor dan RT
- Alat Studio dan Komunikasi
- Peralatan Kedokteran
- Peralatan Laboratorium

56.246.719.457,01

142.562.018,00
3.121.890.368,00
60.439.000,00
510.676.800,00
6.037.669.554,00
144.729.905,00
1.424.809.001,00
2.559.791.847,50
14.002.568.493,50

Koreksi Kesalahan Tahun Lalu
- Alat Kantor dan RT
Saldo Per 31-12-2007
Terdiri dari:
- Alat Berat
- Alat Angkutan
- Alat Bengkel dan Ukur
- Alat Pengolahan Pertanian
- Alat Kantor dan RT
- Alat Studio dan Komunikasi
- Peralatan Kedokteran
- Peralatan Laboratorium

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

64.701.000,00
70.313.988.950,51
8.989.002.018,00
19.924.239.906,00
1.011.454.322,33
2.413.100.800,00
29.691.197.711,18
1.742.439.520,00
2.307.974.875,50
4.234.579.797,50

36

(3) Gedung dan Bangunan
Saldo per 31-12-2006
Terdiri dari:
- Bangunan/Gedung
- Bangunan Lainnya

Koreksi Saldo Awal
- Koreksi Tambah (Kesalahan Perhitungan)
- Bangunan Gedung
- Bangunan Lainnya

128.404.442.205,13
118.320.791.555,98
10.083.650.649,15
128.404.442.205,13

782.708.808,56
283.085.000,00
1.065.793.808,56

- Koreksi Kurang (Kesalahan Perhitungan)
- Bangunan Gedung

662.385.800,00
662.385.800,00

Saldo Awal Setelah Koreksi
Penambahan Tahun 2007
- Bangunan/Gedung
- Bangunan Lainnya

128.807.850.213,69

22.562.797.509,00
74.800.000,00
22.637.597.509,00

Koreksi Kesalahan Tahun Lalu
- Bangunan Lainnya
Saldo Per 31-12-2007
Terdiri dari:
- Bangunan/Gedung
- Bangunan Lainnya

(4) Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Saldo Per 31-12-2006
Terdiri dari:
- Jalan dan Jembatan
- Bangunan Air
- Jaringan
- Instalasi

670.000.000
152.115.447.722,69
141.003.912.073,54
11.111.535.649,15

66.998.101.199,94
47.841.937.631,00
11.201.523.406,00
5.620.658.400,00
2.333.981.762,94

Koreksi Saldo Awal
Koreksi Tambah (Kesalahan perhitungan)
- Nihil
Koreksi Kurang
- Jalan

-

1.411.948.872,00
1.411.948.872,00

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

37

Saldo Awal Setelah Koreksi
Penambahan Tahun 2007
- Jalan
- Jembatan
- Bangunan Aiar
- Jaringan
- Instalasi

65.586.152.327,94

13.577.115.000,00
174.850.000,00
74.645.000,00
7.798.586.000,00
169.140.000,00
21.794.336.000,00

Koreksi Tahun Lalu
Jalan
Saldo Per 31-12-2007
Terdiri dari:
- Jalan dan Jembatan
- Bangunan Air
- Jaringan
- Instalasi

(5) Aset Tetap Lainnya
Saldo Per 31-12-2006
Terdiri dari:
- Buku/Perpustakaan
- Barang Bercorak Kesenian/Kebud
- Hewan dan Tanaman

7.859.726.936
95.240.215.263,94
68.041.680.695,00
11.276.168.406,00
13.419.244.400,00
2.503.121.762,94

4.678.556.347,69
4.066.848.931,02
574.207.416,67
37.500.000,00
4.678.556.347,69

Koreksi Saldo Awal
- Koreksi Tambah
- Nihil

-

- Koreksi Kurang
- Nihil

-

Saldo Awal Setelah Koreksi
Penambahan Tahun 2007
- Buku/Perpustakaan
- Barang Bercorak Kesenian/Kebud
- Hewan dan Tanaman

4.678.556.347,69

2.756.340.060,00
120.146.000,00
2.876.486.060,00

Saldo Per 31-12-2007
Terdiri dari:
- Buku/Perpustakaan
- Barang Bercorak Kesenian/Kebud
- Hewan dan Tanaman

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

7.555.042.407,69
6.823.188.991,02
694.353.416,67
37.500.000,00

38

(6) Konstruksi Dalam Pengerjaan
Saldo Per 31-12-2006
Terdiri dari:
- Pembangunan Jalan
- Pembangunan Gedung Sekolah
- Pembangunan Poskeswan & BPP
- Pembangunan Puskesmas & Pengd. Al

Mutasi Tahun 2007
- Mutasi Tambah
- Peralatan dan Mesin
- Gedung dan Bangunan
- Jalan

8.951.707.782,17
2.267.082.000,00
4.991.820.512,17
636.182.070,00
1.056.623.200,00
8.951.707.782,17

198.015.000,00
10.479.342.400,00
2.954.679.000,00
13.632.036.400,00

- Mutasi Kurang (Reklas ke aset tetap)
- Pembangunan Jalan
- Pembangunan Gedung Seko
- Pembangunan Poskeswan &
- Pembangunan Puskesmas &

2.267.082.000,00
4.991.820.512,17
636.182.070,00
1.056.623.200,00
8.951.707.782,17

Saldo Per 31-12-2007
Terdiri dari:
- Pengadaan Peralatan dan Mesin
- Dinas Perikanan dan Kelauta
- Pembangunan Gedung
- Dinas Perikanan dan Kelauta
- Dinas Kesehatan
- Dinas Pendidikan
- Dinas Pertanian
- Pembangunan Jalan
- Dinas PU

(7) Akumulasi Penyusutan
Saldo Per 31-12-2006
Terdiri dari:
- Peralatan dan Mesin
- Gedung dan Bangunan
- Jalan, Irigasi dan Jaringan
- Aset Tetap Lainnya

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

13.632.036.400,00

198.015.000,00
806.470.000,00
26.910.000,00
9.450.000.000,00
195.962.400,00
2.954.679.000,00

30.226.364.101,47
10.418.092.646,39
10.347.043.443,11
7.666.393.811,64
1.794.834.200,33
30.226.364.101,47

39

Koreksi Saldo Awal
- Koreksi Tambah
- Peralatan dan Mesin

10.090.289,63
10.090.289,63

- Koreksi Kurang
- Peralatan dan Mesin
- Gedung dan Bangunan

369.854.416,57
1.743.061.227,45
2.112.915.644,01
28.123.538.747,08

Saldo Awal Setelah Koreksi
Penambahan Tahun 2007
- Peralatan dan Mesin
- Gedung dan Bangunan
- Jalan
- Jembatan
- Jaringan
- Instalasi
- Aset Tatap Lainnya

5.733.163.347,42
5.807.752.218,29
3.244.655.577,14
7.868.250,00
1.781.715.120,96
385.637.374,28
744.621.869,09
17.705.413.757,18
45.828.952.504,27

Saldo Per 31-12-2007
Terdiri dari:
- Peralatan dan Mesin
- Gedung dan Bangunan
- Jalan, Irigasi dan Jaringan
- Aset Tetap Lainnya

15.791.491.866,87
14.411.734.433,95
13.086.270.134,02
2.539.456.069,42

d) ASET LAINNYA

Rp.

3.749.561.130,63

(1) Piutang PFK
Rp.
47.457.027,00
Piutang PFK merupakan kelebihan pembayaran atas PPh 21 dan Iuran Wajib Pegawai sebesar
Rp47.457.027,00
(2) Aset Lain-lain
Rp
3.702.104.103,63
Aset lain-lain merupakan bagian dari aset tetap yang kondisinya rusak berat, yang
dipisahkan dari aset tetap per 31 Desember 2007, terinci sebagai berikut:
No.
1

Keterangan
Peralatan dan Mesin

Rp

679.058.552,16

Rp

679.058.552,16

2

Gedung dan Bangunan

Rp

1.882.128.640,21

Rp

1.882.128.640,21

3

Jalan, Irigasi dan Jaringan

Rp

1.112.709.128,00

Rp

1.112.709.128,00

4

Aset Lainnya

Rp

28.207.783,26

Rp

28.207.783,26

Rp

3.702.104.103,63

Rp

3.702.104.103,63

Jumlah

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

2007

2006

40

2. KEWAJIBAN
a. KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
(1) Utang PFK
Uraian
Utang PFK

Per 31 Des 2007
896.446,00

Per 31 Des 2006
0,00

Utang PFK merupakan utang atas pemungutan Taperum yang belum dibayarkan di
Tahun Anggaran 2007. Sedangkan dalam TA 2006 tidak terdapat saldo Utang PFK.
(2) Bagian Lancar Utang Jangka Panjang
Uraian
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang

Per 31 Des 2007
11.518.408.000,00

Per 31 Des 2006
11.854.377.500,00

Bagian Lancar Utang Jangka Panjang merupakan utang jangka panjang yang akan jatuh
tempo pada Tahun 2008. Sedangkan pada TA 2006 saldo Bagian Lancar Utang Jangka
Panjang tersebut sebesar Rp11.854.377.500,00.
(3) Utang Jangka Pendek Lainnya
Uraian
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang

Rp.
Per 31 Des 2007
30.014.174.642,00

30.014.174.642,00
Per 31 Des 2006
19.487.946.822,00

Utang Jangka Pendek Lainnya merupakan hutang jatuh tempo atas SP2D TA 2007 yang
tidak sempat dibayarkan pada Tahun 2007, berdasarkan sumber dana terdiri dari :
Dana Rutin
Rp. 15.241.320.124,00
Dana DAK
Rp. 14.772.854.518,00
Jumlah

Rp. 30.014.174.642,00

3. EKUITAS DANA
a. EKUITAS DANA LANCAR
Uraian
Ekuitas Dana Lancar

Per 31 Des 2007
36.242.675.106,42

Per 31 Des 2006
(7.053.654.424,44)

Jumlah Ekuitas Dana Lancar sebesar Rp36.242.675.106,42 dan (Rp7.053.654.424,44) per
tanggal 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006 merupakan kekayaan bersih Pemerintah
Kota Bima yang bersifat lancar, yang merupakan selisih antara jumlah nilai Aktiva Lancar
dengan jumlah nilai Hutang Jangka Pendek, terdiri dari:
No
Keterangan
2007
2006
1
SILPA
70.527.622.160,43
27.172.647.685,37
2

Pendapatan Ditangguhkan

3

Cadangan Piutang

4

Cadangan Persediaan
Dana yang harus disediakan
utk pembayaran hutang jangka
pendek

5

Jumlah

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

0,00

0,00

6.422.189.957,99

4.796.858.002,99

825.445.630,00

790.100.730,00

(41.532.582.642,00)

(39.813.260.842,80)

36.242.675.106,42

(7.053.654.424,44)

41

b. EKUITAS DANA INVESTASI
Uraian
Ekuitas Dana Investasi

Per 31 Des 2007
360.128.192.373,94

Per 31 Des 2006
299.056.546.578,10

Jumlah Ekuitas Dana Investasi per 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006 sebesar
Rp360.128.192.373,94 dan Rp299.056.546.578,10 tersebut adalah kekayaan bersih
Pemerintah Kota Bima yang diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang, Aset Tetap
dan Aset Lainnya dengan rincian sebagai berikut:
No
Keterangan
2007
2006
1
Diinvestasikan dalam Investasi
Jangka Panjang
5.045.021.649,75
4.877.579.956,00
2
Diinvestasikan dalam Aset
Tetap
351.333.609.593,56
290.476.862.518,47
3
Diinvestasikan dalam Aset
Lainnya
3.749.561.130,63
3.702.104.103,63
4
Dana yang harus disediakan utk
pembayaran hutang jangka
panjang
0,00
0,00
Jumlah

360.128.192.373,94

299.056.548.584,10

C. ARUS KAS
1. ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Arus kas dari aktivitas operasi sampai dengan 31 Desember 2007 surplus sebesar
Rp95.692.169.456,06. Jumlah tersebut merupakan jumlah kas bersih dari aktivitas operasi
yaitu arus kas masuk operasi dikurangi dengan arus kas keluar operasi. Rincian arus kas dari
aktivitas operasi sebagai berikut :
a) Arus Kas Masuk Dari Aktivitas Operasi
Arus Kas masuk terdiri dari :
Aliran Kas Masuk Dari Aktivitas Operasi
(a) Pajak Daerah

2007 (Rp.)
1.759.604.837,00

2006 (Rp.)
1.853.444.451,00

(b) Retribusi Daerah

1.550.054.932,00

1.289.541.905,00

133.524.789,00

25.228.084,00

1.472.450.098,06

1.802.098.400,95

Dana Bagi Hasil Pajak
Dana Bagi hasil Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi NTB
Hibah
Pendapatan Lainnya

17.397.539.673,00
7.794.790.359,00
204.865.000.000,00
32.658.000.000,00
5.440.208.805,00
4.000.000.000,00
2.626.718.900,00

13.001.641.000,05
9.954.918.201,00
183.581.000.000,00
29.257.679.060,00
4.850.628.162,00
0,00
2.749.000.000,00

Jumlah

279.696.892.393,06

248.365.179.264,00

(c)

Hasil Pengelolaan Kekayaan Darah yang

(d) Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah
(e)
(f)
(g)
(h)
(i)
(j)
(g)

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

42

b) Arus Kas Keluar Dari Aktivitas Operasi
Arus Kas keluar dapat dirinci sebagai berikut :
Aliran Kas Keluar Dari Aktivitas Operasi
(a) Belanja Pegawai
(b) Belanja Barang
(c)

2007 (Rp.)
130.493.867.916,00

2006 (Rp.)
87.149.618.707,00

34.627.627.971,00

69.083.497.888,00

0,00

0,00

0,00

0,00

17.017.964.550,00
145.367.000,00
1.719.895.500,00
184.004.722.937,00

12.368.046.528,00
1.538.276.650,00
497.485.000,00
170.636.924.773,00

Subsidi

(d) Hibah
(e) Bantuan Sosial
(f) Belanja Tak Terduga
(g) Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota, Desa
Jumlah

2. ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI ASET NON KEUANGAN
Arus kas dari aktivitas investasi aset non keuangan sampai dengan 31 Desember 2007
sebesar (Rp32.975.538.102,00). Jumlah tersebut merupakan jumlah kas bersih dari aktivitas
investasi aset non keuangan yaitu arus kas masuk aktivitas investasi aset non keuangan
dikurangi dengan arus kas keluar aktivitas investasi aset non keuangan. Rincian arus kas
dari aktivitas investasi aset non keuangan sebagai berikut :
a) Arus Kas Masuk Dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan
Arus Kas Masuk merupakan hasil kas yang diperoleh dari kegiatan investasi berupa
Penjualan Aset.
b) Arus Kas Keluar Dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan
Arus Kas keluar dari kegiatan investasi mencerminkan pengeluaran kas bruto
sehubungan dengan kegiatan investasi berupa pengadaan aset selama Tahun 2007.
Jumlah tersebut terdiri dari :
No
Keterangan
2007 (Rp.)
2006 (Rp.)
1 Belanja Tanah
4.066.474.893,00
6.214.520.960,00
2 Belanja Peralatan dan Mesin
10.003.211.292,00 13.039.033.249,00
3
4
5
6

Belanja Gedung dan Bangunan
Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Aset Tetap Lainnya
Belanja Aset Lainnya
Jumlah

10.582.870.494,00
7.836.506.223,00
486.475.200,00
0,00
32.975.538.102,00

32.049.666.318,00
6.418.020.963,00
322.315.000,00
0,00
58.043.556.490,00

3.ARUS KAS DARI AKTIVITAS PEMBIAYAAN
Arus kas dari aktivitas pembiayaan sampai dengan 31 Desember 2007 sebesar
(Rp24.091.089.469,00). Jumlah tersebut merupakan jumlah kas bersih dari aktivitas
pembiayaan yaitu arus kas masuk aktivitas pembiayaan dikurangi dengan arus kas keluar
aktivitas pembiayaan. Rincian arus kas dari aktivitas pembiayaan sebagai berikut :

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

43

a) Arus Kas Masuk Dari Aktivitas Pembiayaan
Tidak terdapat Arus Kas Masuk dari aktivitas Pembiayaan pada TA 2007. Sedangkan
pada TA 2006 terdapat Arus Kas Masuk dari aktifitas Pembembiayaan sebesar
Rp14.000.000.000,00.
b) Arus Kas Keluar Dari Aktivitas Pembiayaan
Arus Kas keluar dari kegiatan pembiayaan TA 2007 mencerminkan pengeluaran kas
bruto sehubungan dengan Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri Lainnya sebesar
Rp24.091.089.469,00. Sedangkan pada TA 2006 sebesar Rp22.170.295.277,00.
5. ARUS KAS DARI AKTIVITAS NON ANGGARAN
Aliran kas dari aktivitas non anggaran tahun 2007 sebesar Rp42.556.908,00 Jumlah tersebut
merupakan jumlah kas bersih dari aliran kas masuk non anggaran (Penerimaan Perhitungan
Fihak Ketiga/PFK) dikurangi dengan arus kas keluar non anggaran (Pengeluaran
Perhitungan Fihak Ketiga/PFK).
a) Arus Kas Masuk
Arus kas masuk dari Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga/PFK sebesar
Rp13.365.951.748,91 terdiri atas penerimaan :
No.

Keterangan

2007 (Rp.)

2006 (Rp.)

1

Potongan Iuran Wajib Pegawai

7.435.212.385,00

6.133.932.478,00

2

Potongan PPh Pasal 21

1.468.681.803,00

1.846.971.183,00

3

Potongan PPh Pasal 22

664.047.669,00

61.135.619,00

4

Potongan PPh Pasal 23

0,00

35.323.455,00

5

Potongan PPN

3.348.081.225,91

1.778.779.261,00

6

Potongan Taperum

359.811.197,00

286.968.694,00

7

Pendapatan yang Ditangguhkan

90.117.469,00

0,00

13.365.951.748,91

10.143.110.690,00

Jumlah Arus Kas Masuk

b) Arus Kas Keluar
Arus Kas keluar sebesar Rp13.323.394.840,91 terdiri dari pembayaran untuk :
(1) Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
No

Keterangan

1

Penyetoran Iuran Wajib Pegawai

2

2007 (Rp.)

2006 (Rp.)

Penyetoran PPh Pasal 21

7.450.540.784,00
1.501.810.431,00

6.133.932.478,00
1.846.971.183,00

3

Penyetoran PPh Pasal 22

664.047.669,00

63.873.460,00

4

Penyetoran PPh Pasal 23

0,00

35.323.455,00

5

Penyetoran PPN

3.348.081.225,91

1.797.453.715,00

6

Penyetoran Taperum

358.914.731,00

286.968.694,00

13.323.394.840,91

10.164.522.985,00

Jumlah Arus Kas Keluar

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

44

Saldo Akhir Kas tahun berjalan sebesar Rp66.340.746.478,43, yang terdiri dari kenaikan
kas sebesar Rp38.668.098.793,06 ditambah Saldo akhir kas TA 2006 sebesar
Rp27.672.647.685,37.

Raba, 20 September 2008
Walikota Bima,

H.M. NUR A. LATIF

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

45

GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN
1. Dasar Hukum Pemeriksaan
a. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
b. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
c. UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara.
d. UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.
2. Tujuan Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan LKPD TA 2007 adalah untuk memberikan opini atas tingkat
kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan
pada kriteria:
a. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP);
b. Kecukupan pengungkapan (adequate disclosures);
c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan;
d. Efektivitas sistem pengendalian intern.
3. Sasaran Pemeriksaan
Pemeriksaan LKPD TA 2007 meliputi pengujian atas :
a. Efektivitas desain dan implementasi sistem pengendalian intern termasuk pertimbangan
hasil pemeriksaan sebelumnya;
b. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Penyajian saldo akun-akun dan transaksi-transaksi pada Laporan Realisasi Anggaran
(LRA) dan Laporan Arus Kas (LAK) TA. 2007 sesuai dengan SAP;
d. Penyajian saldo akun-akun dalam Neraca per 31 Desember 2007;
e. Pengungkapan informasi keuangan pada Catatan atas Laporan Keuangan.
Pengujian atas Laporan Keuangan bertujuan untuk menguji semua pernyataan manajemen
(asersi manajemen) dalam informasi keuangan, efektifitas pengendalian intern dan
kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku meliputi :
a. Keberadaan dan keterjadian
Bahwa seluruh aset dan kewajiban yang disajikan dalam Neraca per 31 Desember 2007
dan seluruh transaksi penerimaan, belanja dan pembiayaan anggaran yang disajikan
dalam LRA TA 2007 benar-benar ada dan terjadi selama periode tersebut serta telah
didukung dengan bukti – bukti yang memadai.
b. Kelengkapan
Bahwa semua aset, kewajiban, dan ekuitas dana yang dimiliki telah dicatat dalam
neraca dan seluruh transaksi penerimaan daerah, belanja daerah dan pembiayaan yang
terjadi selama TA. 2007 telah dicatat dalam LRA.
c. Hak dan Kewajiban
Bahwa seluruh aset yang tercatat dalam neraca benar-benar dimiliki atau hak dari
pemerintah daerah dan utang yang tercatat merupakan kewajiban pemerintah daerah
pada tanggal pelaporan.
d. Penilaian dan Alokasi
Bahwa seluruh aset, utang, penerimaan dan belanja daerah, serta pembiayaan telah
disajikan dengan jumlah dan nilai semestinya; diklasifikasikan sesuai dengan standar/
ketentuan yang telah ditetapkan; dan merupakan alokasi biaya/anggaran TA 2007.
e. Penyajian dan Pengungkapan

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

46

Bahwa seluruh komponen laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan ketentuan
dan telah diungkapkan secara memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
4. Standar Pemeriksaan
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
5. Metode Pemeriksaan
Metodologi pemeriksaan atas LKPD Tahun 2007 meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan hasil pemeriksaan, yaitu sebagai berikut :
a. Perencanaan Pemeriksaan
1) Pemahaman Entitas dan Sistem Pengendalian Intern
Pemahaman atas entitas dan sistem pengendalian intern dapat diperoleh dari laporan
hasil pemeriksaan sebelumnya, laporan hasil pemeriksaan interim, catatan atas
laporan keuangan yang diperiksa, pemantauan tindak lanjut, dan database yang
telah dimiliki serta peraturan atau kebijakan tertulis/formal kepala daerah terkait.
Pemahaman atas entitas tersebut meliputi pemahaman atas latar belakang/dasar
hukum pendirian pemerintah daerah, kegiatan utama entitas termasuk sumber
pendapatan daerah, lingkungan yang mempengaruhi, pejabat terkait sampai dengan
dua (2) tingkat vertikal ke bawah di bawah kepala daerah, dan kejadian luar biasa
yang berpengaruh terhadap pengelolaan keuangan daerah.
Pemeriksa perlu mengidentifikasi kelemahan-kelemahan signifikan atau area-area
kritis yang memerlukan perhatian mendalam, sehingga membantu pemeriksa untuk
(1) mengidentifikasi jenis potensi kesalahan, (2) mempertimbangkan faktor-faktor
yang mempengaruhi risiko salah saji yang material, (3) mendesain pengujian sistem
pengendalian intern, dan (4) mendesain prosedur pengujian substantif.
2) Pertimbangan Hasil Pemeriksaan Sebelumnya
Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan tindak lanjut hasil
pemeriksaan sebelumnya. Pemeriksa harus meneliti pengaruh hasil pemeriksaan
sebelumnya dan tindak lanjutnya terhadap LKPD yang diperiksa, terutama terkait
dengan kemungkinan temuan-temuan pemeriksaan yang berulang dan keyakinan
pemeriksa atas saldo awal akun atau perkiraan pada neraca yang diperiksa.
3) Penentuan Tingkat Materialitas
Pertimbangan atas tingkat materialitas meliputi kegiatan: (1) Penetapan Tingkat
Materialitas Individual (Individual Materiality/IM) dan (2) Penetapan Materialitas
Agregat (Agregate Materiality/AM). IM merupakan tingkat materialitas pada
keseluruhan laporan keuangan, sementara AM merupakan materialitas pada tingkat
transaksi akun.
Untuk pemeriksaan LKPD TA. 2007, IM ditetapkan sebesar 0,5-2 % dari total
realisasi belanja. Sedangkan AM ditetapkan sebesar 2% dari IM. Penetapan IM dari
aset, kewajiban, atau ekuitas kurang tepat, karena sampai saat ini neraca daerah
belum dapat diandalkan secara memadai dan belum dapat diyakini kewajarannya.
4) Penentuan Metode Uji Petik
Penentuan metode uji petik berdasarkan pertimbangan profesional pemeriksa dengan
memperhatikan beberapa aspek antara lain :
a) Tingkat risiko
Jika hasil pengujian SPI disimpulkan pengendalian intern suatu akun lemah,
maka sampel untuk pengujian substantif atas akun tersebut harus lebih besar. Jika
akun-akun tertentu mempunyai risiko bawaan (inheren risk) yang lebih tinggi
dari akun-akun lainnya, maka sampel untuk pengujian substantif untuk akun-akun
tersebut harus lebih besar.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

47

b) Tingkat materialitas yang telah ditentukan. Jika tingkat materialitas kecil, maka
sampel yang diambil harus lebih besar dan begitu juga sebaliknya.
c) Jumlah sampel tidak hanya didasarkan pada nilai saldo akun, tetapi
memperhatikan transaksi-transaksi yang membentuk saldo tersebut. Saldo akun
yang kecil bisa dibentuk dari transaksi-transaksi positif dan negatif yang besar.
d) Cost and benefit, manfaat uji petik atas suatu transaksi atau saldo akun harus
lebih besar dari biaya pengujian tersebut.
b. Pelaksanaan Pemeriksaan
1) Pengujian Analitis
Pengujian analitis dalam pelaksanaan pemeriksaan dapat dilakukan dengan (1)
Analisa Data, (2) Analisa Rasio dan Tren, sesuai dengan area yang telah ditetapkan
sebagai uji petik.
Pengujian analitis terinci ini diharapkan dapat membantu pemeriksa untuk
menemukan hubungan logis penyajian akun pada LKPD dan menilai kecukupan
pengungkapan atas setiap perubahan pada pos/akun/unsur pada laporan keuangan
yang diperiksa, serta membantu menentukan area-area signifikan dalam pengujian
sistem pengendalian intern dan pengujian substantif atas transaksi dan saldo.
2) Pengujian Pengendalian
Petunjuk pengujian pengendalian meliputi pengujian yang dilakukan pemeriksa
terhadap efektivitas desain dan implementasi sistem pengendalian intern dalam
rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Dalam pengujian desain sistem
pengendalian intern, pemeriksa mengevaluasi apakah sistem pengendalian intern
telah didesain secara memadai dan dapat meminimalisasi secara relatif salah saji dan
kecurangan. Sementara, pengujian implementasi sistem pengendalian intern
dilakukan dengan melihat pelaksanaan pengendalian pada kegiatan atau transaksi
yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Pengujian sistem pengendalian intern merupakan dasar pengujian substantif
selanjutnya. Pengujian tersebut dilakukan baik pada saat pemeriksaan interim,
maupun pemeriksaan laporan keuangan.
3) Pengujian Substantif atas transaksi dan saldo
Pengujian substantif meliputi pengujian atas transaksi dan saldo-saldo
akun/perkiraan serta pengungkapannya dalam laporan keuangan yang diperiksa.
Pengujian tersebut dilakukan setelah pemeriksa memperoleh LKPD (unaudited) dan
dilakukan untuk meyakini asersi manajemen atas LKPD, yaitu: (1) keberadaan dan
keterjadian, (2) kelengkapan, (3) hak dan kewajiban, (4) penilaian dan
pengalokasian, serta (5) penyajian dan pengungkapan.
4) Penyelesaian Penugasan
c. Pelaporan
Setelah melakukan pengujian terinci di atas, pemeriksa menyimpulkan hasil
pemeriksaan dan dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan.
6. Waktu Pemeriksaan
Jangka waktu pemeriksaan selama 30 (tiga puluh) hari mulai tanggal 19 Agustus sampai
dengan 20 September 2008.
7. Objek Pemeriksaan
Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun Anggaran 2007.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

48

Lampiran 1
DAFTAR SETORAN SISA UUDP

No

1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Nama SKPD

2
BUD
Walikota
DPRD
Sekretariat Kota
Sekretariat DPRD
Bappeda
BPKD
Dinas Dikbudpar
Bawasda
Dinas Kimpraswil
Dinas Tata Kota
Dinas Koperindag
Badan Kesbang Linmas
Dinas Kesehatan
Dinas Perhubungan
KBKS
Dinas Sosial
Pol PP
Kantor Penguhubung
PM & P
Dinas Pertanian
Dinas Kehutanan
Pelayanan Terpadu
Dinas Perikanan
Kec. Rasanae Barat
Kec. Rasanae Timur
Kecamatan Asakota
Kecamatan Mpunda
Kecamatan Raba
KPU dan Panwaslu
JUMLAH

Saldo sisa UUDP di
bendahara per 31
Desember 2006
3
0,00
0,00
0,00
138.459.388,00
900.000,00
0,00
499.866.558,00
48.387,00
0,00
71.242.750,00
18.827,00
325.711,00
11.830,00
20.091,00
0,00
1.015.119,00
413.640,00
0,00
9.607.399,00
1.663.840,00
0,00
536.110,00
400.500,00
200.497,00
341.400,00
12.612,00
913.864,00
0,00
0,00
24.336.210,00
750.334.733,00

Saldo Sisa UYHD per 31 Desember 2007
di Bendahara Pengeluaran
Saldo Tunai

Saldo Rekening
Koran

4

5

0,00
0,00
0,00
0,00
248.018,00
838.500,00
1.529.137,00
1.630.000,00
5.745,00
0,00
6.055.804,00
2.612.192,00
2.967.900,00
6.588,00
0,00
675.532,00
2.176.880,00
717.000,00
2.926.984,00
1.370.000,00
0,00
0,00
2.678.200,00
6.716.631,00
125.800,00
465.406,00
166.301,00
1.463.850,00
0,00
411.426.250,00
446.802.718,00

0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
6.598.500.000,00
0,00
3.536.276.884,00
0,00
0,00
0,00
1.194.095.500,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
1.662.258.497,00
291.622.000,00
0,00
942.921.000,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
14.225.673.881,00

STS sisa UUDP
2006

Saldo Kas di Bendahara
Pengeluaran per 31
Desember 2007

6

7 (3+4+5-6)

0,00
0,00
0,00
0,00
1.012.710,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
260.711,00
11.830,00
21.091,00
0,00
1.015.119,00
0,00
0,00
9.607.339,00
1.663.840,00
0,00
536.110,00
400.000,00
200.497,00
0,00
12.612,00
498.651,00
0,00
0,00
0,00
15.240.510,00

0,00
0,00
0,00
138.459.388,00
135.308,00
838.500,00
501.395.695,00
6.600.178.387,00
5.745,00
3.607.519.634,00
6.074.631,00
2.677.192,00
2.967.900,00
1.194.101.088,00
0,00
675.532,00
2.590.520,00
717.000,00
2.927.044,00
1.370.000,00
1.662.258.497,00
291.622.000,00
2.678.700,00
949.637.631,00
467.200,00
465.406,00
581.514,00
1.463.850,00
0,00
435.762.460,00
15.407.570.822,00

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

ATAS
SISTEM PENGENDALIAN INTERN
DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH KOTA BIMA
TAHUN ANGGARAN 2007

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA VI
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

No

:

200.B/S/XIX.MTR/10/2008

Tanggal

:

27 Oktober 2008

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI

I

RESUME LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN
INTERN DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN LKPD TA 2007

1

GAMBARAN UMUM SISTEM PENGENDALIAN INTERN DALAM SISTEM
AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KOTA BIMA

6

HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

7

1.
2.
3.
4.
5.

6.

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Pengelolaan Keuangan Pemerintah Kota Bima
yang Mempengaruhi Kewajaran Penyajian Laporan Keuangan.
Pelampauan Anggaran atas Belanja Bantuan Sosial dan Pengeluaran Pembiayaan
untuk Pembayaran Hutang Jatuh Tempo.
Pencatatan dan Penginventarisasian Persediaan Obat-obatan Pemerintah Kota Bima
belum tertib.
Penatausahaan Aset tetap seluruhnya senilai Rp351.333.609.593,56 tidak memadai.
Bank-bank Penyimpan Dana Kas Daerah Memotong/Memungut Pajak Penghasilan
Pasal 23 atas Pendapatan dari Jasa Giro Kas Daerah selama Tahun 2007 sebesar
Rp82.582.171,00.
Penerimaan Biaya Pemungutan PBB TA 2007 dalam LRA kurang dicatat sebesar
Rp402.962.663,00 dan digunakan secara langsung tanpa melalui mekanisme APBD.

Lampiran :
1. Daftar Pengesahan SPJ oleh Sub bidang Verifikasi BPKD
2. Rekapitulasi Perbandingan LRA, SPJ Fungsional, BKU

i

7
21
23
26

31
33

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN
DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN LKPD TA 2007

Berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggungjawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) telah memeriksa
Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus
Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Untuk memperoleh keyakinan memadai, apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material,
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh BPK RI mengharuskan BPK
RI melaksanakan pengujian atas sistem pengendalian intern Pemerintah Kota Bima. Sistem
pengendalian intern merupakan tanggung jawab Pemerintah Kota Bima. Namun, tujuan
pemeriksaan BPK RI atas laporan keuangan tidak untuk menyatakan pendapat atas keseluruhan
sistem pengendalian intern tersebut. Oleh karena itu, BPK RI tidak menyatakan suatu pendapat
seperti itu.
Sistem pengendalian intern Pemerintah Kota Bima terkait dengan laporan keuangan merupakan
suatu proses yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai atas keandalan laporan keuangan
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Pengendalian intern tersebut meliputi berbagai
kebijakan dan prosedur yang: (1) terkait dengan catatan keuangan; (2) memberikan keyakinan yang
memadai bahwa laporan tersebut telah sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan serta
penerimaan dan pengeluaran telah sesuai dengan otorisasi yang diberikan; (3) memberikan
keyakinan yang memadai atas keamanan aset yang berdampak material pada laporan keuangan.
Pemerintah Kota Bima bertanggung jawab untuk mengatur dan menyelenggarakan pengendalian
tersebut.
SPKN mengharuskan BPK RI untuk mengungkapkan kelemahan dalam sistem pengendalian intern
atas pelaporan keuangan. Kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan
Pemerintah Kota Bima yang ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut:
1. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Pengelolaan Keuangan Pemerintah Kota Bima yang
Mempengaruhi Kewajaran Penyajian Laporan Keuangan;
2. Pelampauan Anggaran atas Belanja Bantuan Sosial dan Pengeluaran Pembiayaan untuk
Pembayaran Hutang Jatuh Tempo;
3. Pencatatan dan Penginventarisasian Persediaan Obat-obatan Pemerintah Kota Bima belum
tertib;
4. Penatausahaan Aset tetap seluruhnya senilai Rp351.333.609.593,56 tidak memadai;
5. Bank-bank Penyimpan Dana Kas Daerah Memotong/Memungut Pajak Penghasilan Pasal 23
atas Pendapatan dari Jasa Giro Kas Daerah selama Tahun 2007 sebesar Rp82.582.171,00;
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

 

1

6. Penerimaan Biaya Pemungutan PBB TA 2007 dalam LRA kurang dicatat sebesar
Rp402.962.663,00 dan digunakan secara langsung tanpa melalui mekanisme APBD.
Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK RI merekomendasikan Walikota Bima agar:
1. a. Membuat SPI yang memadai atas pengelolaan keuangan dan barang daerah dan melakukan
pengawasan atas pelaksanaan SPI di lingkungan pemerintah Kota Bima.
b. Memberikan sanksi kepada Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan
daerah kurang melakukan fungsinya dengan baik.
c. Memberikan sanksi kepada Kepala BPKD beserta seluruh jajaran dibawahnya sebagai
pelaksana yang tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam proses
pertanggungjawaban dan penyusunan laporan keuangan daerah.
d. Memberikan sanksi kepada semua Pengguna Anggaran dan Bendahara yang tidak
menyampaikan SPJ Fungsional tepat waktu.
2. a. Lebih mentaati kebijakan pengeluaran untuk pembayaran bantuan sesuai yang ditetapkan
dalam APBD.
b. Memberikan sanksi kepada Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan
daerah kurang melakukan fungsinya dengan baik.
c. Memberikan sanksi kepada Kepala BPKD beserta seluruh jajaran dibawahnya sebagai
pelaksana yang tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam proses pengendalian
anggaran.
3. Memberi sanksi kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima dan Pengelola Instalasi Farmasi
Kota Bima yang tidak melakukan pencatatan dan penginventarisasian persediaan obat-obatan
dan untuk selanjutnya memerintahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima selaku
Pengguna Anggaran dan Pengguna Barang (dhi. persediaan obat) agar mendesain prosedur
inventarisasi dan penilaian persediaan tahunan, melaksanakan pencatatan secara menyeluruh
atas persediaan barang yang dikelolanya, dan menyusun Laporan persediaan guna penyusunan
Neraca Pemerintah Kota Bima atas dasar stock opname.
4. a. Memberikan sanksi kepada Sekretaris Daerah yang tidak secara aktif melakukan penagihan
kepada Pemerintah Kabupaten Bima atas aset-aset yang belum diserahkan dan selanjutnya
memerintahkan Sekretaris Daerah untuk melaksanakan tugasnya tersebut.
b. Memberikan sanksi kepada Kepala Bagian Umum yang tidak melaksanakan tugas untuk
mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah yang ada pada masingmasing SKPD dan selanjutnya memerintahkan Kepala Bagian Umum untuk melaksanakan
tugasnya tersebut.
c. Memberikan sanksi kepada Kepala BPKD yang tidak optimal dalam menyusun laporan
keuangan Pemerintah Kota Bima dan selanjutnya memerintahkan kepada Kepala BPKD
untuk melaksanakan tugasnya tersebut.
5. Memberi sanksi kepada Kepala BPKD selaku Bendahara Umum Daerah dan Kuasa Bendahara
Umum Daerah TA 2007 yang tidak melakukan pemantauan terhadap pendapatan daerah berupa
jasa giro serta memerintahkan kepada Kepala BPKD agar berkoordinasi dengan bank-bank
yang menarik PPh Pasal 23 atas pendapatan jasa giro Pemerintah Kota Bima sebesar
Rp82.582.171,00 dan menyetorkan ke Kas Daerah.
6. Memberi sanksi kepada Kepala Bidang Pendapatan yang tidak menganggarkan penerimaan dan
belanja upah pungut PBB pada APBD Pemerintah Kota Bima dan memerintahkan untuk
selanjutnya menganggarkan penerimaan dan belanja upah pungut PBB pada APBD Pemerintah
Kota Bima.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

 

2

Secara lebih rinci dijelaskan pada bagian Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern.

Mataram, 20 September 2008
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan BPK RI di Mataram
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

B. Suharyanto, S.E., MSi., Ak.
Akuntan, Register Negara No. D-21.299

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

 

3

GAMBARAN UMUM PENGENDALIAN INTERN
DALAM SISTEM AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH KOTA BIMA

Sesuai dengan Pasal 31 ayat (1) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara yang menyebutkan bahwa ”Gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan rancangan peraturan
daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan
yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan, selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah
tahun anggaran berakhir dan Pasal 31 ayat (2) menyatakan ”Laporan keuangan dimaksud setidaktidaknya meliputi Laporan Realisasi APBD, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan
Keuangan yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan daerah”, maka Pemerintah Kota
Bima berkewajiban menyusun Laporan Keuangan Daerah yang terdiri dari Neraca, Laporan
Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Dalam rangka meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengendalian keuangan daerah,
Kepala Daerah mengatur dan menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern di Lingkungan
Pemerintah Kota Bima. Unit organisasi yang bertugas melaksanakan pembukuan dan penyusunan
Laporan Keuangan Daerah Pemerintah Kota Bima Tahun Anggaran (T.A) 2007 dikerjakan oleh
Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) namun tidak jelas bidang dan sub bidang mana yang
menjadi penanggungjawab. Dalam penyusunan LKPD Kota Bima input data dilakukan oleh staf
dari Sub Bidang Anggaran dan Pembukuan dengan asistensi dari Perwakilan BPKP di Denpasar
dengan bantuan Sistem Aplikasi Pembukuan SKPKD berbasis Microsoft Acces. Subbidang
Akuntansi dan Pelaporan tidak berfungsi dalam pembukuan dan penyusunan LKPD. Susunan
Organisasi BPKD dibentuk dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2007 tentang Perubahan
Kedua atas Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pembentukan Susunan Organisasi
Perangkat Daerah Kota Bima. Tugas Pokok dan Fungsi BPKD diatur lebih lanjut dalam Peraturan
Walikota Bima Nomor 4T Tahun 2007 tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pengelola
Keuangan dan Asset Daerah. Pada peraturan walikota tersebut disebutkan fungsi BPKAD namun
tidak dijelaskan tugas pokok berkaitan aset daerah.
Sesuai Keputusan Walikota Bima Nomor 4T Tahun 2007 tersebut, BPKD dipimpin oleh
seorang Kepala Badan yang membawahi 3 (tiga) Kepala Bidang yaitu Bidang Pendapatan Daerah
yang membawahi Sub Bidang PAD dan Sub Bidang Dana Perimbangan dan Pendapatan Lain-lain,
Bidang Anggaran yang membawahi Sub Bidang Anggaran dan Pembukuan dan Sub Bidang
Perbendaharaan dan Verifikasi serta Bidang Pengendalian yang membawahi Sub Bidang
Pengawasan/evaluasi dan Sub Bidang Akuntansi dan Pelaporan. Secara umum Organisasi Bagian
Keuangan telah menyajikan pemisahan fungsi yang memadai antara fungsi pencatatan, penguasaan
dan otorisasi namun terdapat kendala pada tingkat implementasi fungsi yang kurang.
Kebijakan dalam pengurusan dan pertanggungjawaban keuangan Kota Bima T.A. 2007
mengacu pada Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah. Pemerintah Kota Bima telah menetapkan Perda Nomor 6 Tahun
2007 tanggal 7 Pebruari 2007 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah namun belum
memiliki sistem dan prosedur serta kebijakan akuntansi.
Walikota Bima selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan
sebagian kekuasaannya dibidang pengelolaan keuangan daerah kepada para pejabat daerah yang
dituangkan dalam:
a. Surat Keputusan Walikota Bima No.221/2006 tentang Pembentukan Panitia Penyusunan APBD
Kota Bima TA 2007

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

 

4

b. Surat Keputusan Walikota Bima No.1A/2007 tentang Pendelegasian Sebagian Tugas dan
Wewenang Walikota Kepada Para Pejabat Badan Pengelola Keuangan Daerah Kota Bima TA
2007
c. Surat Keputusan Walikota Bima No.6/2007 tentang Penunjukan Bendahara di Lingkup
Pemerintah Kota Bima TA 2007
d. Surat Keputusan Walikota Bima No.7/2007 tentang Penunjukan Kuasa BUD Pemerintah Kota
Bima TA 2007
e. Surat Keputusan Walikota Bima No.16/2007 tentang Penunjukan Koordinator Pengelola
Keuangan Daerah (KPKD), Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) dan Pejabat Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang Lingkup Pemerintah Kota Bima TA 2007
f. Surat Keputusan Walikota Bima No.75/2007 tentang Penunjukan Pejabat Pembuat Komitmen,
Pejabat Penguji SPP, SPM dan Bendahara Pengelola Dana Perimbangan Pusat Pemerintah Kota
Bima TA 2007
g. Surat Keputusan Walikota Bima No.75/2007 tentang Pembentukan Tim Anggaran Pemerintah
Daerah (TAPD) APBD Perubahan Kota Bima TA 2007
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bima T.A.2007 ditetapkan
dengan Perda Kota Bima Nomor 1 Tahun 2007 tanggal 2 Januari 2007 dan dijabarkan dengan
Peraturan Walikota Bima Nomor 1 Tahun 2007 tanggal 2 Januari 2007 setelah mendapat evaluasi
Gubernur NTB melalui SK Gubernur NTB No 39A tahun 2007 tanggal 19 Februari 2007. APBD
T.A. 2007 mengalami perubahan satu kali, ditetapkan dengan Perda Nomor 9 Tahun 2007 tanggal
26 November 2007. Perubahan APBD ini dijabarkan lebih lanjut dengan Peraturan Walikota Bima
Nomor 6 Tahun 2007 tanggal 26 November 2007 setelah mendapat evaluasi Gubernur NTB melalui
SK Gubernur NTB No 318.B tahun 2007 tanggal 10 Desember 2007 dan tambahan Ralat Evaluasi
dengan Surat Gubernur NTB No 903/82/Keu/2008 tanggal 10 Maret 2008. Penetapan Perda
Perubahan APBD ini mengalami keterlambatan, yaitu seharusnya paling lambat tanggal 30
September 2007 (3 bulan sebelum TA 2007 berakhir). Pemerintah Kota Bima melakukan revisi atas
Perda APBD dan Perda APBD Perubahan dengan cara merevisi isi Perda Rancangan APBD dan
APBD P namun tidak mengeluarkan Perda baru.
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah Kota Bima secara umum belum terbagi atas sistem
akuntansi pemerintah daerah yang dilaksanakan oleh PPKD yang dilaksanakan oleh BPKD dan
sistem akuntansi SKPD yang dilaksanakan oleh PPK-SKPD karena sistem akuntansi di tingkat
SKPD belum ada. Kedua sistem tersebut seharusnya terbagi atas empat prosedur, yaitu prosedur
akuntansi penerimaan kas, prosedur akuntansi pengeluaran kas, prosedur akuntansi aset
tetap/barang milik daerah, dan prosedur akuntansi selain kas, namun hingga saat pemeriksaan
prosedur akuntansi aset tetap/barang milik daerah, dan prosedur akuntansi selain kas belum ada.
Prosedur akuntansi yang ada pada PPKD/ SKPKD belum dirancang memadai.
Pencatatan transaksi atas pengelolaan keuangan pada tingkat SKPD dilakukan oleh
Bendahara Penerimaan dengan Buku Kas Umum, Bendahara Pengeluran dengan Buku kas Umum
dan Pengesahan SPJ sedangkan di tingkat SKPKD , Kuasa BUD tidak membuat BKU sehingga
pencatatan penerimaan dan pengeluaran dilaksanakan oleh Staf Sub Bidang Anggaran dan
Pembukuan pada BPKD, dengan cara langsung diinput ulang, untuk pendapatan dari data STS yang
dimiliki Bidang Pendapatan dan untuk belanja SPJ yang disahkan oleh Kepala BPKD. SKPD tidak
membuat SPJ atas penerimaan pendapatan dan BPKD juga tidak meminta SPJ Pendapatan dan tidak
memverifikasi Pendapatan berdasarkan catatan dan STS. Pencatatan yang dilakukan oleh Bendahara
pada masing-masing SKPD menggunakan Buku Kas Umum (BKU), Buku Pembantu dan Buku
Panjar secara umum masih dilaksanakan dengan kurang tertib dan benar.. Kelemahan mendasar
dalam penyusunan LKPD adalah Pengesahan SPJ Fungsional Pengeluaran yang terlambat diajukan
oleh SKPD tidak digunakan sebagai dasar dari LRA terbukti dengan perbedaan antara angka yang

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

 

5

disajikan Pengesahan SPJ dengan LRA.Fungsi BUD/Kuasa BUD, Pendapatan, Anggaran dan
Pembukuan, Akuntansi dan Pelaporan, Evaluasi dan Pengendalian pada BPKD tidak mengerti dan
belum mengerjakan tugas pokok dan fungsinya dalam pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan
peraturan terbukti dengan tidak adanya pengendalian yang memadai mulai proses pencatatan hingga
pelaporan yang akhirnya menjadi suatu Laporan Keuangan. Tidak adanya produk akuntansi yang
digunakan sebagai pembanding dan pendukung hasil sistem aplikasi berakibat LKPD hasil sistem
tidak dapat diuji dan diyakini kewajarannya.
Jumlah pegawai pada BPKD Kota Bima sebanyak 60 orang PNS, dengan tingkat
pendidikan 3 orang Sarjana Strata 2 (S2), 31 orang Sarjana Strata 1, 7 orang Diploma III, 1 orang
Diploma II, 23 orang SMA, 3 orang SMP dan 2 orang SD. Kepala Badan, berlatar belakang S1
Sospol, dibantu 3 (tiga) Kepala Bidang yaitu Kepala Bidang Pendapatan Daerah dengan tingkat
pendidikan S1 Sospol, Kepala Bidang Anggaran, dengan tingkat pendidikan S1 Ekonomi yang
membawahi Kepala Sub Bidang Anggaran dan Pembukuan, yang berlatar belakang S2 dan Sub
Bidang Perbendaharaan dan Verifikasi, yang berlatar belakang S1 Sospol serta Kepala Bidang
Pengendalian (jabatan kosong) yang membawahi Kepala Sub Bidang Pengawasan/evaluasi dengan
tingkat pendidikan S1 Sospol dan Kepala Sub Bidang Akuntansi dan Pelaporan dengan tingkat
pendidikan S1 Akuntansi.
Dengan melihat perbandingan antara beban kerja yang ada dengan tingkat pendidikan
pegawai, maka pegawai pada Bagian Keuangan belum cukup memadai untuk melaksanakan semua
prosedur sistem akuntansi dan penyusunan laporan keuangan Pemerintah Kota Bima serta kurang
koordinasi dengan pihak SKPD. Hal ini terlihat dari hampir semua pejabat BPKD tidak mengerti
dan memahami alur logika akuntansi dari pencatatan hingga menjadi LKPD, penyampaian SPJ dari
SKPD ke SKPKD terlambat, proses verifikasi dan pengesahannya juga terlambat dan berakibat
penyelesaian Konsep Laporan Keuangan Kota Bima yang baru disampaikan kepada BPK tanggal
14 Agustus 2008, terlambat melebihi tiga bulan setelah berakhirnya T.A. 2007.
Masing-masing SKPD di Kota Bima belum mampu membuat Laporan Keuangan SKPD
berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan, sesuai
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, namun LRA SKPD sudah dibuatkan dari Sistem Aplikasi
Pembukuan Microsoft Access buatan BPKP. Hasil dari sistem tersebut hanya menghasilkan LRA
dan Neraca, untuk penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2007.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern (SPI) atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah Kota Bima dapat dinyatakan bahwa SPI telah dirancang kurang memadai dan
dilaksanakan kurang efektif khususnya mengenai kebijakan, perencanaan, prosedur,
pembukuan/pencatatan, pelaporan dan pengawasan intern oleh penanggungjawab dan pengguna
anggaran daerah. Kelemahan-kelemahan tersebut telah mengakibatkan terjadinya penyimpanganpenyimpangan yang secara rinci diuraikan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas SPI dalam
Kerangka Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun Anggaran 2007.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

 

6

HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

1. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Pengelolaan Keuangan Pemerintah Kota Bima
yang Mempengaruhi Kewajaran Penyajian Laporan Keuangan
Pemerintah Kota Bima telah meratifikasi Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2005 dan
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah ke dalam
Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2007 tanggal 7 Pebruari 2007 tentang Pokok-pokok
Pengelolaan Keuangan Daerah. Pada Perda tersebut telah mengatur tentang pengelolaan keuangan
yang dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD, juga telah
diatur tentang walikota sebagai Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah, dimana
kekuasaan tersebut dilaksanakan oleh Kepala BPKD selaku PPKD dan Kepala SKPD selaku
pejabat pengguna anggaran/barang daerah serta Sekretaris Daerah selaku Koordinator pengelolaan
Keuangan Daerah.
Rincian dan Tugas Pokok dan Fungsi Perangkat Daerah telah ditetapkan dalam Peraturan
Walikota, diantaranya Peraturan Walikota Nomor 4T Tahun 2007 tanggal tentang Rincian dan
Tugas Pokok dan Fungsi BPKAD (Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah). Namun
berdasarkan penelaahan Sistem Pengendalian Intern (SPI) atas Pengelolaan Keuangan/Barang
Daerah ditemukan beberapa kelemahan signifikan, yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Kelemahan SPI atas Penerimaan dan Pengeluaran Kas
Tidak adanya sistem dan prosedur serta arahan yang jelas dari atasan masing-masing pengelola
keuangan, membuat fungsi pengawasan dan pengendalian atas tugas pokok dan fungsi masingmasing tidak dapat dilaksanakan, yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1) Bendahara Umum Daerah (BUD)/Kuasa BUD Kota Bima tidak membuat Buku Kas
Penerimaan dan Pengeluaran (dahulu disebut B IX) sesuai ketentuan sehingga tidak dapat
dilakukan rekonsiliasi antara Saldo menurut Buku Kas Umum dengan saldo menurut
Rekening Koran.
Dalam Tahun Anggaran 2007, sesuai SK Walikota Bima No 07 Tahun 2007 tanggal 2
Januari 2007, ditetapkan Taufikurrahman, S.Sos sebagai Kuasa BUD Kota Bima. Untuk
mencatat pengelolaan uang yang dilakukan oleh Kuasa BUD, maka Kuasa BUD Kota Bima
mencatatnya dalah Buku Kas Umum Pemerintah Kota Bima.
Pemeriksaan atas pencatatan transaksi penerimaan kas dan pengeluaran kas yang
dilakukan oleh Kuasa Bendahara Umum Daerah (BUD) Kota Bima Tahun Anggaran 2007,
diketahui bahwa transaksi penerimaan tidak dicatat besarnya kas masuk yang diterima oleh
Pemerintah Kota Bima, tetapi yang dicatat sebagai penerimaan adalah jumlah cek yang
dikeluarkan oleh BUD kepada Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) di Lingkungan
Pemerintah Kota Bima dan pembayaran kepada pihak ketiga sehingga tidak dapat
menggambarkan arus masuknya uang Pemerintah Kota Bima selama Tahun 2007. BKU yang
dibuat oleh BUD hanya dapat menggambarkan arus keluarnya kas, yang tercermin dari
jumlah SP2D yang diterbitkan oleh BUD yang dibukukan pada sisi pengeluaran kas.
Disamping itu, BKU tersebut juga tidak mencantumkan saldo awal kas per 1 Januari 2007.
Untuk melakukan rekonsiliasi antara saldo BKU dengan saldo Rekening koran Bank,
tidak dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan BKU yang dibuat BUD, karena
saldo kas menurut catatan pembukuan (per book) tidak diketahui. Selain itu, selama Tahun
2007 Kuasa BUD tidak pernah melakukan rekonsiliasi antara Saldo menurut Buku Bank
dengan saldo menurut Rekening Koran.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

7

2) Register SP2D TA 2007 yang dibuat secara manual oleh BUD, sampai dengan tanggal 25
Pebruari 2008 pada saat Pemeriksaan Interim belum selesai dikerjakan dan SP2D terakhir
yang tercatat adalah SP2D No Urut 6785/LS/2007. Pada tanggal 11 September 2008 SP2D
yang diterbitkan terakhir adalah SP2D No Urut 7041/LS/2007. Register tersebut tidak
dijumlah secara periodik, sehingga tidak dapat diketahui nilai SP2D yang telah diterbitkan
selama Tahun 2007.
3) Penerbitan cek oleh Kuasa BUD mendahului SP2D. Hal ini terbukti dari Laporan Hasil
Pemeriksaan (LHP) Bawaskota diketahui bahwa terdapat pencairan kas yang mendahului
penerbitan SP2D sepanjang tahun 2007 antara lain di Rp2.216.696.200,00 pada Dinas
Pendidikan mulai Januari sd Agustus 2007 dan Dinas Pertanian Rp137.130.500,00 sesuai
yang diungkapkan LHP Reguler No 49/2007 tanggal 18/09/2007 tentang Pelaksanaan APBD
II pada Dinas Dikbudpar dan LHP No 51/2007 tanggal 21/09/2007 tentang Pengelolaan Dana
APBD tahun 2007 pada Dinas Pertanian. Hal ini juga terindikasikan dari penomoran SP2D
acak/ tidak urut tanggal penerbitan pada Register. Sebagai SP2D No.6581/GU/2007 adalah
tertanggal 28 Desember 2007 namun SP2D No.6582 hingga 6587 tertanggal 28 Juni 2007,
dan selanjutnya dari SP2D No 6588 hingga 6597 tertanggal 31 Agustus 2007, SP2D No.6598
hingga 6652 tertanggal 28 Desember 2007 namun untuk SP2D No. 6653 hingga 6656 kembali
tertanggal 11 September 2007.
4) Register cek yang dibuat oleh BUD/Kuasa BUD tidak dijumlahkan secara periodik sehingga
tidak dapat diketahui setiap saat jumlah cek yang telah dikeluarkan. Demikian pula antara
register cek dengan register SP2D tidak dilakukan rekonsiliasi secara periodik.
5) Kuasa BUD melakukan pengeluaran kas tanpa mekanisme pencairan yang benar sesuai
peraturan pengelolaan keuangan daerah dan APBD. Pengeluaran kas dari BUD/Kuasa BUD
tidak didukung bukti-bukti memadai sehingga dianggap sebagai panjar dan hingga
pemeriksaan berakhir uang panjar tersebut belum dikembalikan. Hal ini diungkapkan dalam
Temuan tersendiri dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Kepatuhan terhadap
Peraturan Perundang-undangan dalam Kerangka Pemeriksaan LKPD TA 2007.
6) Pengeluaran Kas Daerah yang dapat dilakukan oleh orang yang tidak memiliki otorisasi
dan/atau yang dapat dilakukan tanpa mekanisme pencairan yang benar sesuai peraturan
pengelolaan keuangan daerah dan APBD, antara lain oleh Walikota. Hal ini diungkapkan
dalam Temuan tersendiri dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Kepatuhan terhadap
Peraturan Perundang-undangan dalam Kerangka Pemeriksaan LKPD TA 2007.
7) Subbidang Perbendaharaan dan Verifikasi Bidang Anggaran BPKD tidak menerima dan
menggunakan SPJ /Pertanggungjawaban atas penggunaan SP2D Uang Persediaan/Ganti
UYHD/Tambah UYHD bulan sebelumnya secara lengkap. Hal ini diketahui bahwa dari
Register Pengesahan SPJ, hampir semua SPJ dari SKPD TA 2007 paling awal disahkan pada
bulan Juli sehingga Pengeluaran bulan Februari hingga Juni 2007 tidak memperhatikan SPJ
atas SP2D GU bulan-bulan sebelumnya. Data Pengesahan SPJ pada Lampiran 1.
8) Kuasa BUD dan Sub bidang Perbendaharaan dan Verifikasi beserta Subbidang Anggaran dan
Pembukuan tidak sepenuhnya melaksanakan verifikasi SPP,SPM dan SP2D beserta bukti
pendukung untuk pengeluaran Belanja/ Pembiayaan sesuai peraturan pengelolaan keuangan
daerah. Terbukti dengan hasil uji petik pada bukti-bukti pertanggungjawaban pengeluaran
pembiayaan yaitu Pembayaran Hutang Jatuh Tempo atas pengadaan barang tahun 2006 yang
dibayar pada TA 2007
sebesar Rp24.076.337.455,00, diantaranya sebesar
Rp21.655.680.440,00 tidak disertai dengan berita acara pemeriksaan/ penyerahan PHO/FHO

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

8

sebagai tanda bahwa realisasi fisik telah selesai 100% sehingga tidak dapat diyakini apakah
fisik dari pengadaan barang dan jasa yang telah dibayar, sudah selesai atau belum.
9) Sub bidang PAD dan Aset serta Sub bidang Dana Perimbangan dan Pendapatan lain-lain
Bidang Pendapatan BPKD tidak menatausahakan bukti-bukti pendukung pandapatan yang
disajikan dalam LKPD terbukti dengan Pendapatan PAD sebesar Rp1.038.439.245,00 yang
tidak didukung dengan Surat Tanda Setoran (STS) dan Pendapatan Dana Alokasi Khusus
tidak didukung Nota Kredit seperti yang dinyatakan ada sebagai bukti pencatatan akuntansi
dalam Register Penerimaan pada Sistem Aplikasi Pembukuan SKPKD. Lebih lanjut
berdasarkan perbandingan antara Rekapitulasi Pendapatan dari Bidang Pendapatan dengan
Buku Besar Pendapatan Hasil Sistem Aplikasi Pembukuan diketahui terdapat selisih yang
mengakibatkan pendapatan yang disajikan pada LRA tidak dapat ditelusuri.
10) Bidang Pendapatan juga tidak melaporkan Pendapatan Insentif PBB yang diterima pada
bulan Januari 2008 pada Neraca per 31 Desember 2007 dan menggunakan langsung untuk
pengadaan kendaraan di tahun 2008 di luar mekanisme APBD dan Bidang Pendapatan juga
tidak melakukan pengawasan atas pengembalian atas Sisa Kas di Pemegang Kas/Bendahara
Pengeluaran Sisa UUDP/UYHD tahun-tahun sebelumnya. Dalam Neraca Pemerintah Kota
Bima per 31 Desember 2006, sisa Kas di Pemegang Kas dijelaskan bahwa disajikan sebesar
Rp750.334.733,00. Dari jumlah tersebut, berdasarkan STS yang diperoleh dari bendahara
masing-masing unit kerja dan STS yang ada di Bidang Pendapatan BPKD hingga
pemeriksaan berakhir masih ada Sisa UUDP/UYHD yang belum disetor oleh SKPD antara
lain BPKD yang memiliki Sisa UUDP sebesar Rp499.866.558,00 yang tidak diketahui
pertanggungjawabannya. Hal ini lebih jauh diungkapkan dalam Temuan tersendiri dalam
Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan
dalam Kerangka Pemeriksaan LKPD TA 2007.
11) Pengendalian atas realisasi pengeluaran kas untuk belanja Bantuan dan Pembiayaan atas
pembayaran hutang daerah masih lemah sehingga berakibat terjadinya pelampuan anggaran
pada Bantuan Sosial yang dianggarkan Rp14.630.702.000,00 dan telah direalisasikan
Rp17.017.964.550,00 sehingga terdapat pelampauan sebesar Rp2.387.262.550,00 atau
16,32%, dan pada Pembayaran Utang Pokok Jatuh Tempo yang dianggarkan sebesar
Rp23.000.000.000,00 dan telah direalisasikan sebesar 24.076.337.455,00 sehingga terdapat
pelampauan Rp1.076.337.455,00 atau 4,68%. Lebih lanjut dijelaskan dalam Temuan
tersendiri.
b.

Kelemahan SPI atas Pertanggungjawaban Kas
Sesuai dengan Permendagri No 13 tahun 2006, prosedur pencairan dan pertanggungjawaban
anggaran melalui mekanisme Uang Persedian /Ganti UYHD/Tambah UYHD dan LS seharusnya
yang lebih banyak berperan adalah SKPD. Namun berdasarkan wawancara dengan Kepala Bidang
Anggaran, Kepala Subbidang Anggaran dan Pembukuan, Kepala Subbidang Perbendaharaan dan
Verifikasi serta staf verifikatur diketahui bahwa mekanisme untuk pertanggungjawaban masih
mengikuti Kepmendagri 29/2002 dengan peran yang lebih banyak pada BPKD. Namun hal inipun
tidak ditetapkan menjadi suatu prosedur tetap sehingga Sub Bidang Verifikasi hanya
melaksanakan fungsi verifikasi berdasarkan kebiasaan.
Mekanisme pertanggungjawaban penerimaan kas tidak disusun dan dilakukan dengan jelas
terbukti tidak adanya proses verifikasi atas Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diterima SKPD,
yang disetorkan SKPD kepada Bendahara Penerimaan Setda, dan yang disetorkan oleh Bendahara
Penerimaan Setda ke Kas Daerah. Demikian juga untuk Pendapatan Transfer yang diperoleh dari

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

9

Pemerintah Pusat dan Provinsi sehingga tidak diketahui secara pasti besar pendapatan yang
diperoleh Pemerintah Kota Bima.
Dalam mekanisme pertanggungjawaban belanja, untuk Belanja LS pada saat pengajuan SP2D
LS dilakukan melalui Bidang Anggaran yaitu Subbid Perbendaharaan dan Verifikasi dan Kuasa
BUD, namun dokumen pendukung seperti kontrak dan lain-lain tidak disimpan oleh Kuasa BUD.
Pada Pembagian Tugas/Job Description BPKD yang ditandatangani oleh Kepala BPKD pada
bulan Juni 2007 telah dibagi petugas verifikasi SPP, SPM dan SPJ per SKPD namun tidak ada
arahan lebih lanjut tentang bagaimana cara dan apa saja dokumentasi yang dilaksanakan pada
proses verifikasi. Hal ini berakibat sub bidang verifikasi tidak membuat dan memiliki pemantauan
atas penerimaan SPJ, durasi (lama pelaksanaan verifikasi) & kertas kerja verifikasi dan hasil
pengesahan SPJ dengan memadai sehingga sampai dengan berakhirnya pemeriksaan tidak
diketahui apakah semua SPJ TA 2007 sudah disahkan. Hal ini juga dibenarkan oleh Kepala
Subbidang Perbendaharaan dan Verifikasi Soegiarto dalam keterangan tertulisnya.
Pembagian tugas untuk pelaksanaan verifikasi di atas juga tidak sepenuhnya dipatuhi, dengan
adanya Kepala Subbidang Akuntansi dan Pelaporan yang juga melakukan tugas verifikasi atas
SPJ BPKD. Dari wawancara diketahui bahwa hal tersebut dilakukan dari inisiatif Kepala
Subbidang Akuntansi dan disetujui oleh Kepala BPKD dengan dikeluarkannya memo disposisi
tanggal 2 April 2007.
Berdasarkan catatan pada Buku Register serta hasil konfirmasi tertulis dari seluruh staf
Verifikatur diketahui bahwa beberapa Pengesahan SPJ atas beberapa SKPD tidak diberi nomor
dan dicatat dalam Buku Register sehingga tidak ada nomor pengesahan pada Lembar Pengesahan
SPJnya. Hal ini terjadi karena staf verifikatur tidak memiliki prosedur tetap untuk verifikasi dan
tidak mendapat arahan dari Kepala Subbidang Verifikasi dan Kepala Bidang Anggaran.
Rekapitulasi Pengesahan SPJ yang berisi informasi tanggal dan nomor pengesahan SPJ pada
Lampiran 2.
Hasil konfirmasi dengan staf verifikatur yang bertanggungjawab atas SPJ SKPD Kantor
Penghubung atas nama Asep Surya Rahman dan Bendahara Pengeluran SKPD Kantor
Penghubung atas nama Arisman Indah diketahui bahwa SPJ Kantor Penghubung untuk bulan Juli
hingga Desember 2007 disahkan oleh Kepala BPKD tanpa melalui proses verifikasi sehingga total
belanja yang disajikan sebesar Rp433.672.197,00 tidak dapat diyakini kewajarannya. Hal ini juga
dibuktikan dengan bukti setor pajak SSP yang kesemuanya (Januari sd Desember 2007)
disetorkan pada bulan Maret 2008.
Lebih lanjut dari prosedur audit juga diketahui SPJ Sekretariat Kota untuk bulan Juli hingga
Nopember 2007 disahkan oleh Kepala BPKD tanpa melalui proses verifikasi serta SPJ Desember
Sekkota belum disahkan sehingga Total Belanja yang disajikan pada LRA sebesar
Rp34.763.679.208,00 dengan Sisa UUDP Rp6.000,00 tidak dapat diyakini kewajarannya hal ini
juga dibuktikan dengan adanya Sisa UYHD pada draft Pengesahan SPJ Sekretariat Kota bulan
Desember 2007 (hingga berakhirnya pemeriksaan belum disahkan) terdapat Sisa UYHD
Rp1.100.000.000,00 yang tidak dikuasai Bendahara Pengeluaran karena sudah dikeluarkan namun
tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Bagian pengesahan SPJ (Kepala BPKD) juga tidak memiliki pengendalian atas SPJ yg
disahkan apakah telah melalui verifikasi atau tidak. Konfirmasi lebih lanjut dengan Kepala
BPKD tidak dapat dilakukan karena Kepala BPKD jarang berada ditempat.
c. Kelemahan SPI atas Aplikasi Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun Anggaran 2007 diserahkan kepada
BPK tanggal 14 Agustus 2008. Laporan Keuangan yang terdiri atas Laporan Realisasi Anggaran,
Laporan Arus Kas, Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan tersebut seharusnya merupakan

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

10

produk dari Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) selaku badan pelaksana dibawah PPKD.
Dalam pelaksanaannya Pemerintah Kota Bima menjalin kerja sama dengan BPKP Perwakilan
Bali yang sudah berjalan selama lima tahun sejak tahun 2003 dan berakhir 30 September 2008
sesuai Naskah Kerja Sama No356/37/X/2003 dan 6758/PW22/3/2003 tanggal 4 Oktober 2003
tentang Asistensi Penyusunan Renstra, LAKIP, Laporan Keuangan Daerah serta Laporan
Pertanggungjawaban Tahunan Kepala Daerah. Namun pada kenyataannya dari wawancara
/konfirmasi tertulis dengan semua pejabat di BPKD dan petugas input data ke komputer diketahui
bahwa hampir semua pejabat tidak mengetahui substansi Laporan Keuangan baik LRA, LAK
maupun Neraca per 31 Desember 2007 dan tidak dapat menjelaskan mutasi LKPD tahun 2006
menjadi LKPD tahun 2007. Demikian pula dengan petugas input data ke Sistem juga tidak tahu
substansi LKPD sebagai hasil akhir dari data yang diinput ke dalam Sistem Aplikasi.
BPKD dalam hal ini Subbidang Anggaran dan Pembukuan dan Sub Bidang Akuntansi
dan Pelaporan sama sekali tidak membuat suatu produk akuntansi, baik Jurnal, Buku Kas Umum,
Buku Besar ataupun Laporan Keuangan. Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa LKPD
dibuatkan oleh BPKP dengan bantuan software Aplikasi Pembukuan SKPKD Kota Bima berbasis
Microsoft Access, pemda hanya menginput tanpa tahu alur logika akuntansi sehingga belum bisa
menjelaskan kepada BPK terhadap sebagian besar substansi LKPD.
BPKD tidak dapat menjelaskan lebih jauh tentang software tersebut, BPKD juga tidak
memiliki manual untuk pengoperasian dan alur logika dari cara kerja software tersebut sehingga
tidak diketahui sejak kapan software tersebut dimiliki dan digunakan. Dari penelusuran dokumen
dan wawancara dengan tenaga input data diperoleh draft SK Walikota tentang Pembentukan
Panitia Penyusunan Sistem Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Bima TA 2007 yang terdiri dari
tiga tim yaitu Tim Pembina (sembilan orang) yang dipimpin oleh Walikota, Tim Pelaksana (23
orang) yang dipimpin Kepala Bidang Anggaran selaku penanggungjawab dan Tim Pendamping
dari BPKP Perwakilan Bali, dan draft SK Walikota tentang Tenaga Operator Komputer SIKDA.
Kedua draft SK tersebut sudah ditandatangani oleh Walikota dan sudah melalui proses verbal di
Bagian Hukum.
Lebih lanjut diketahui bahwa pada SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Bima belum
ada sistem dan prosedur akuntansi yang terkomputerisasi ataupun manual. SKPD hanya membuat
BKU dan menyusun Pengesahan SPJ untuk diajukan ke BPKD.
d. Kelemahan SPI atas Penyusunan Laporan Keuangan Daerah
Selain masih terdapat kelemahan pada SPI atas Aplikasi Pembukuan sebagai tulang
punggung penyusunan LKPD Kota Bima, perangkat / unit kerja pada BPKD juga tidak membuat
catatan atau produk akuntansi sebagai pendukung sekaligus pembanding hasil Sistem Aplikasi
Pembukuan. Kertas Kerja Penyusunan LKPD tidak terdokumentasikan. Sub bidang Akuntansi
tidak berfungsi sama sekali, tumpang tindih dengan Sub bidang Pembukuan. Akibat dari SPI
Penyusunan LKPD yang lemah dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk LKPD sebagai berikut:
1) Laporan Realisasi Anggaran
Masing –masing SKPD belum membuat LRA namun LRA dibuatkan oleh BPKD. SKPD
hanya membuat catatan BKU dan SPJ atas anggaran yang direalisasikan, yang diajukan ke
Subbidang verifikasi dan kemudian disahkan oleh Kepala BPKD Berdasarkan informasi dari
petugas input data ke sistem, yang merupakan staf Bidang Anggaran, diketahui bahwa input data
dilakukan kembali oleh petugas dengan supervisi BPKP pada saat asistensi BPKP dilaksanakan.
Namun seluruh pejabat BPKD tidak dapat menjelaskan mengapa Jurnal Penerimaan Kas di
Sistem sebesar Rp283.234.953.030,39 dan Jurnal Pengeluaran Kas hanya sebesar
Rp141.846.338.271,91 berbeda dengan Total Pendapatan di LRA sebesar Rp283.263.357.120,06

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

11

dan Pengeluaran di LRA sebesar Rp241.056.598.494,00. BPKD juga tidak dapat menjelaskan
kegunaan Jurnal Umum.
Data pendapatan dari sistem sama dengan LRA Konsolidasi atau LRA SKPD yaitu total
pendapatan sebesar Rp283.263.357.120,06 namun angka tersebut tidak sama dengan Rekapitulasi
Pendapatan yang dihasilkan oleh Bidang Pendapatan. Berdasarkan keterangan dari Kepala Bidang
Pendapatan diketahui bahwa sebenarnya sumber data pencatatan rekapitulasi adalah STS PAD
dari SKPD yang ditembuskan oleh Bendahara Penerimaan Setda ke Bidang Pendapatan dan
Rekening Koran untuk Transfer dari Pemerintah Pusat, demikian juga digunakan untuk input ke
sistem aplikasi.
Data belanja dari Buku Besar sistem sama dengan LRA Konsolidasi atau LRA SKPD hasil
sistem yaitu total belanja sebesar Rp216.980.261.039,00 namun angka tersebut tidak sama
dengan Pengesahan SPJ dari SubBidang Verifikasi. Seharusnya apabila dalam penyusunan LKPD
juga menggunakan dokumen sumber Pengesahan SPJ akan dihasilkan Laporan dengan jumlah
yang sama karena Format Pengesahan SPJ sudah mengakomodasi baik pertanggungjawaban
SP2D LS Gaji, SP2D LS Barang dan Jasa serta SP2D UP/GU/TU dan Pajak.
Atas hal ini Pejabat BPKD menjelaskan bahwa Pengesahan SPJ belum mencantumkan
Belanja Pegawai namun berdasarkan uji petik ternyata angka Pengesahan SPJ (sebelum ditambah
belanja Gaji) masih lebih besar dibandingkan angka Buku Besar SKPD dan LRA SKPD, yaitu:
Realisasi menurut
No

SKPD

1

BPKD

2

Dinas Perikanan

Realisasi Menurut

Realisasi Menurut

Anggaran

LRA

Pengesahan SPJ

BKU SKPD

(Rp)

(Rp)

(non pajak) (Rp)

(plus pajak) (Rp)

12.546.932.837,00

35.589.041.752,00

39.311.775.723,00

40.969.192.686,00

4.459.165.050,00

3.065.851.183,00

3.466.723.582,00

3.811.333.442,00

Atas hal tersebut Pejabat BPKD tidak dapat menjelaskan. Hal ini membuat pengujian
asersi dan prosedur alternatif tidak dapat dilakukan oleh BPK sehingga hampir semua belanja
tidak dapat diyakini kewajarannya termasuk penetapan Sisa UYHD/Kas di Bendahara
Pengeluaran per 31 Desember 2007 yang merupakan hasil dari proses verifikasi dan pengesahan
SPJ. Perbedaan LRA Konsolidasi/SKPD dengan Pengesahan SPJ terlampir.
2) Laporan Arus Kas
Software Aplikasi Pembukuan SKPKD hanya menghasilkan Laporan Akhir berupa
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Neraca sehingga Laporan Arus Kas (LAK) dan Catatan
atas Laporan Keuangan harus dibuat secara manual. BPKD tidak dapat menjelaskan kepada BPK
tentang siapa yang membuat LAK dan CALK sehingga BPK juga tidak dapat meminta penjelasan
tentang arus kas masuk dan keluar dalam LAK. Pemkot menjelaskan bahwa LAK dihasilkan
melalui asistensi BPKP. Pemda tidak memiliki Kertas Kerja Penyusunan LAK dan Dokumen
pendukung nya.
Pemeriksaan selanjutnya menunjukkan bahwa LAK tersebut disusun dan disajikan
berdasarkan realisasi pendapatan dan belanja yang ada pada LRA. Dengan demikian, aliran kas
masuk disajikan berdasarkan realisasi pendapatan, sedangkan aliran kas keluar disajikan
berdasarkan data realisasi belanja yang sama dengan di LRA.
Pada aktivitas Non Anggaran terdapat kejanggalan bahwa jumlah Pajak PPh Pasal 21
yang disetor ke Kas Negara dan setoran Bukan Pajak Iuran Wajib Pegawai lebih besar
dibandingkan potongan yang diterima padahal pada Neraca per 31 Desember 2006 tidak ada
kelebihan potongan yang belum disetorkan. Atas hal ini Pemerintah kota dhi para Pejabat BPKD
tidak dapat menjelaskan dan menyiapkan dokumen pendukungnya.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

12

Rekapitulasi Buku Buku Besar PFK
Rekapitulasi PFK
Besar PFK Dinas - Konsolidasi LKPD Bendahara Gaji
Sistem
Sistem
7.435.212.385,00 8.532.166.462,00
7.435.212.385,00
7.435.212.385,00

LAK Unaudited
IWP
PPh Pasal 21
PPh Pasal 22
PPh Pasal 23
PPN
Taperum
Pdapatan yg Ditangguh
Arus Kas Masuk
IWP
PPh Pasal 21
PPh Pasal 22
PPh Pasal 23
PPN
Taperum
Arus Kas Keluar
Koreksi SPJ 2006
Arus Bersih

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

1.468.681.803,00
664.047.669,00
0
3.348.081.225,91
359.811.197,00
90.117.469,00

1.383.385.465,00

461.812.197,00

1.468.681.803,00

359.282.000,00

535.208.809,00
2.592.560.129,00
122.433.731,00

664.047.669,00
0
3.348.081.225,91
358.914.731,00

13.365.951.748,91

10.274.833.927,00

11.147.227.251,00

13.274.937.813,91

7.450.540.784,00
1.501.810.431,00
664.047.669,00
0
3.348.081.225,91
358.914.731,00

8.532.166.462,00
1.383.385.465,00

7.435.212.385,00
1.468.681.803,00
664.047.669,00

7.435.212.385,00
1.468.681.803,00
664.047.669,00
0
3.348.081.225,91
358.914.731,00
13.274.937.813,91
0,00

13.323.394.840,91

359.282.000,00
10.274.833.927,00

3.348.081.225,91
358.914.731,00
13.274.937.813,91

16.558.813.607,00
-16.516.256.699,00

0,00

-2.127.710.562,91

Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) pada LAK Kota Bima terdiri atas PFK dari belanja gaji
pegawai di Bendahara Gaji Pemkot dan PFK yang dipotong/ pungut oleh Bendahara Pengeluaran
SKPD. Hasil konfirmasi dengan Bendahara Pengeluaran Pembantu a.n M.Rimawan diketahui
bahwa Bendahara tidak membuat rekapitulasi atas potongan dan pungutan PFK yang dikuasainya
karena ketidaktahuan dan selama ini tidak ada aturan teknis dari Walikota tentang pengelolaan
PFK arahan dan pengawasan dari atasan langsung. Setelah dilakukan perhitungan atas Surat
Setoran Pajak (SSP) dan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP) maka dihasilkan angka seperti yang
disajikan pada tabel diatas disandingkan dengan Buku Besar hasil sistem.
Berdasarkan SSP dan SSBP bendahara Gaji diketahui secara pasti angka aktivitas non
anggaran masuk dan keluar sebesar Rp10.274.833.927,00. Pengujian hasil dari sistem dengan
melihat Buku Besar Konsolidasi untuk PFK dibandingkan dengan Buku Besar Unit/SKPD untuk
PFK ternyata menghasilkan angka yang berbeda seperti yang disajikan pada tabel diatas, dengan
hasil Buku Besar Konsolidasi arus kas bersih Rp0,00 dan Buku Besar Unit arus kas bersih
Rp(2.127.710.562,91).
Lebih lanjut untuk menguji PFK pada masing SKPD menggunakan dokumen Pengesahan SPJ
dan SSP/Buku Pajak masing-masing Bendahara SKPD. Pengujian ini tidak dapat dilakukan
dikarenakan data tidak lengkap, ada 11 SKPD yang tidak menyajikan angka penerimaan dan
penyetoran pajak yaitu Walikota, DPRD, Sekretariat Kota, Dinas Dikbudpar, Dinas Tata Kota,
KBKS, Kantor Pol PP, PM dan P, Kecamatan Rasanae Barat, Kecamatan Mpunda dan Kecamatan
Raba. Dari prosedur audit pengumpulan SSP dan Buku Pajak SKPD dengan dua kali surat resmi
melalui Sekda dan Wakil Walikota, hingga berakhirnya pemeriksaan ternyata hanya 5 SKPD yang
menyerahkan lengkap Buku Pajak dan SSP-nya yaitu Bappeda, Kimpraswil, Dinas Tata Kota,
Kantor Pol PP, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Kantor Pelayanan Terpadu dan Kecamatan
Rasanae Barat.
Berdasarkan Data Pengesahan SPJ dan Buku Pajak yang ada, dilakukan uji petik untuk
menguji keandalan data masing-masing atas 5 SKPD dengan hasil 1 dari 5 SKPD yang
menyajikan angka pada Pengesahan SPJ sama dengan Buku Pajak milik Bendahara

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

13

Pengeluarannya, seperti pada tabel berikut:
Potongan/Pungutan
SSP/Buku Pajak
Pengesahan SPJ
Selisih

Bappeda
134.115.556,00
134.115.556,00
-

Dinas Kimpraswil
1.302.413.959,00
950.791.016,00
351.622.943,00

Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kec. Rasanae Timur
17.193.773,00
98.868.731,00
41.848.802,00
140.578.087,00
110.108.456,00
47.323.802,00
(123.384.314,00)
(11.239.725,00)
(5.475.000,00)

Setoran
SSP/Buku Pajak
Pengesahan SPJ
Selisih

Bappeda
134.115.556,00
134.115.556,00
-

Dinas Kimpraswil
1.303.162.794,00
950.791.016,00
352.371.778,00

Dinas Pertanian Dinas Kehutanan Kec. Rasanae Timur
17.193.773,00
98.868.726,00
41.848.802,00
140.578.087,00
110.108.456,00
47.323.802,00
(123.384.314,00)
(11.239.730,00)
(5.475.000,00)

Sebelum dilakukan koreksi pada LAK diketahui aktivitas non anggaran menghasilkan arus bersih
negatif yang berarti tidak ada hutang kepada Pemerintah Pusat/ Kas Negara namun ternyata pada
Neraca terdapat hutang PFK atas Taperum sebesar Rp896.466,00. Hal ini tidak dapat dijelaskan
oleh Kuasa BUD, Bendahara Gaji dan para pejabat BPKD.
Berdasarkan ketidaktersediaan data dan dokumen pendukung aktivitas non anggaran serta
tidak adanya bukti-bukti memo penyesuaian yang disebut sebagai Bukti Transaksi dalam rincian
buku besar pajak menurut sistem maka BPK tidak dapat melakukan koreksi aktivitas non
anggaran selain mengkoreksi kembali Rp16.558.813.607,00. Koreksi hanya dilakukan atas
aktivitas yang terkait dengan LRA.
Setelah dilakukan koreksi tersebut diketahui hasil akhir dari aktivitas non anggaran adalah
arus bersih Rp42.556.908,00. Hal ini berarti seharusnya terdapat Kas yang mungkin berada pada
Kas Daerah atau pada Bendahara Pengeluaran yang belum disetor Kas Negara dan seharusnya
disajikan pada Neraca per 31 Desember 2007 sebagai Hutang PFK. Hal ini juga tidak dapat
dijelaskan oleh Kuasa BUD, Bendahara Gaji dan para pejabat BPKD.
3) Neraca
Pada LKPD yang diserahkan kepada BPK tanggal 14 Agustus 2008 yang terdiri atas
LRA, LAK, Neraca dan CALK. Pemeriksaan atas SPJ masing-masing SKPD/dinas diketahui
bahwa masing-masing SKPD belum mampu membuat LRA, CALK dan Neraca SKPD per 31
Desember 2007. Aplikasi Pembukuan dapat menghasilkan Neraca Konsolidasi dan Neraca per
SKPD per 31 Desember 2007. Berdasarkan LKPD yang diserahkan kepada BPK dan Laporan
Keuangan hasil dari sistem aplikasi diketahui bahwa terdapat beberapa perbedaan:

1
2
3

ASET LANCAR
INVESTASI
ASET TETAP
1) Tanah
2) Gedung dan Bangunan
3) Peralatan dan Mesin
4) Jalan, Irigasi dan Jaringan
5) Aset Tetap Lainnya
6) Konstruksi Dalam Pengerjaan
7) Akumulasi Penyusutan
Jumlah Aset Tetap

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

Versi LKPD yang
diserahkan ke BPK
53.688.595.242,43
5.053.324.135,00

Versi LKPD yang
dihasilkan Sistem
53.688.595.242,43
5.053.324.135,00

58.305.831.353,00
152.115.447.722,69

54.244.986.603,00
128.404.442.205,13

70.313.988.950,51
95.240.215.263,94
7.555.042.407,69
13.632.036.400,00
(45.828.952.504,27)
351.333.609.593,56

57.425.432.482,01
66.998.101.199,94
4.678.556.347,69
8.951.707.782,17
(30.226.364.101,47)
290.476.862.518,47

14

4

B. 1

2
a)

ASET LAIN
JUMLAH ASET
KEWAJIBAN
1) Utang PFK
2) Pdptan ditangguhkan
3)Bagian Lancar Utang Pjg
4) Utang Jk Pdk Lainnya

EKUITAS
Ekuitas Dana Lancar
1) SILPA
2) Pdptan ditangguhkan
3) cadangan Piutang
4) Cadangan Persediaan
5) Dana utk bayar utang jk pdk

b)

Ekuitas Dana investasi
1) Dinvestasikan dlm Investasi
2)Diinvestasikan dlm Aset Tetap
3) Diinvestasikan dlm Aset Lain
4) Dana utk bayar utang jk Pjg
JUMLAH EKUITAS
JUMLAH EKUITAS & KEWAJIBAN

3.750.561.130,63
413.826.090.101,62

3.750.561.130,63
352.969.343.026,53

896.466,00
11.518.408.000,00
30.014.174.642,00
41.533.479.108,00

90.117.496,00
11.518.408.000,00
30.014.174.642,00
41.622.700.138,00

52.820.592.704,00
90.117.496,00

(16.558.813.607,00)
90.117.496,00

825.445.630,00
(41.532.582.642,00)
12.203.573.161,00

825.445.630,00
(41.622.700.138,00)
(57.265.950.619,00)

5.053.324.135,00
351.333.609.593,56

5.053.324.135,00
290.476.862.518,47

3.702.104.103,63

3.702.104.103,63

0
360.089.037.832,19
372.292.610.993,19
413.826.090.101,19

0
299.232.290.757,10
241.966.340.138,10
283.589.040.276,10

Dari perbandingan antara LKPD yang diserahkan oleh Pemerintah Kota Bima kepada
BPK tanggal 14 Agustus 2008 dengan LKPD yang dihasilkan Sistem Aplikasi Pembukuan
SKPKD terdapat beberapa persamaan dan perbedaan. Hal ini seharusnya tidak terjadi karena
Pemerintah Kota menyatakan bahwa LKPD yang diserahkan kepada BPK dihasilkan dari Sistem
Aplikasi.
Penelusuran lebih lanjut diketahui bahwa untuk angka Aset Tetap dan Akumulasi
Penyusutan serta Ekuitas Dana Investasi –Diinvestasikan dalam Aset Lain yang dihasilkan
Sistem Aplikasi adalah angka pada Neraca per 31 Desember 2006.
Lebih lanjut pada Neraca per 31 Desember 2007 yang diserahkan kepada BPK, jika
dibandingkan antara Aset dengan Kewajiban dan Ekuitas maka persamaan akuntansi tidak terjadi
karena terdapat selisih Rp0,43 (Aset Rp413.826.090.101,62 – Kewajiban dan Ekuitas sebesar Rp
413.826.090.101,19), demikian pula untuk Neraca per 31 Desember 2007 versi Sistem Aplikasi
Aset dengan Kewajiban dan Ekuitas maka persamaan akuntansi tidak terjadi karena terdapat
selisih Rp69.380.302.750,43 (Aset Rp352.969.343.026,53 – Kewajiban dan Ekuitas sebesar
Rp283.589.040.276,10) Atas perbedaan tersebut, BPKD tidak dapat menjelaskan.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

15

4) Hubungan antara LRA, LAK dan Neraca pada LKPD Tahun Anggaran 2007
Untuk menguji kebenaran hubungan antara LRA T.A. 2007, LAK untuk tahun yang
berakhir 31 Desember 2007 dan Neraca per 31 Desember 2007 maka dilakukan pengujian atas
SILPA dengan Saldo Kas pada LAK dan Neraca. Untuk pengujian SILPA tahun lalu dan Saldo
awal kas pada maka dilakukan penelusuran atas dokumen keuangan terdahulu.
Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK atas LKPD TA 2006 No. 03.2/Pwk.BPK
RI di Dps/07/2007 dengan hasil Opini Disclaimer/ Tidak Menyatakan Pendapat diketahui pada
LRA, LAK dan Neraca TA 2006 disajikan sebagai berikut:
LRA
SILPA lalu
SILPA Kini
Kenaikan

2006
LAK
13.308.244.961,37 Saldo Awal
24.822.647.685,37 Saldo Akhir
11.514.402.724,00 Kenaikan

2006
NERACA
13.329.657.256,37 Saldo Awal
24.822.647.685,37 Saldo Akhir
11.492.990.429,00 Kenaikan
EDL SILPA

2006
13.329.657.256,37
24.822.647.685,37
11.492.990.429,00
27.172.647.685,37

Perbedaan SILPA tahun berkenaan dengan SILPA pada Neraca adalah angka Deposito sebesar
Rp2.350.000.000,00 yang di LRA tidak dimasukkan. Angka yang disajikan pada LHP BPK
tersebut diuji dengan Perda Kota Bima No 8/2007 tgl 26 September 2007 tentang Perhitungan
APBD TA 2006, yang menyajikan sebagai berikut:
LRA
SILPA lalu
SILPA Kini
Kenaikan

2006
LAK
13.308.244.961,37 Saldo Awal
24.822.647.685,37 Saldo Akhir
11.514.402.724,00 Kenaikan

2006
NERACA
13.329.657.256,37 Saldo Awal
24.822.647.685,37 Saldo Akhir
11.492.990.429,00 Kenaikan
EDL SILPA

2006
13.329.657.256,37
24.822.647.685,37
11.492.990.429,00
27.151.235.390,37

Perda tersebut tidak menetapkan sesuai dengan LHP BPK, dengan menetapkan EDL SILPA pada
Neraca per 31 Desember 2006 sebesar Rp27.151.235.390,37 yang diperoleh dari
Rp24.822.647.685,37 dikurangi pembayaran PFK Rp21.412.295,00. Lebih lanjut pada SK
Walikota Bima No 198/2007 tgl 27 September 2007 tentang Penjabaran Perhitungan APBD TA
2006 hanya menyajikan LRA saja dengan hasil sama dengan Perda No 8/ 2007. Lebih lanjut pada
LKPD TA 2007 yang diserahkan kepada BPK dapat dilihat sebagai berikut:
LRA
Saldo awal
SiLPA lalu

2007

27.172.647.685,37

LAK
Saldo awal
1
Kas di Bank
2
Kas di BUD
3
Kas di Luar BUD
A=1+2+3
4
Kas di BP
5
Deposito
B=A+4+5

2007

NERACA

Saldo awal
dari Neraca th lalu
6.745.982.420,60
1
Kas di Bank
6.745.982.420,60
767.516.924,77
2
Kas di BUD
767.516.924,77
16.558.813.607,00
3
Kas di Luar BUD
16.558.813.607,00
24.072.312.952,37 A=1+2+3
24.072.312.952,37
750.334.733,00
4
Kas di BP
750.334.733,00
2.350.000.000,00
5
Deposito
2.350.000.000,00
27.172.647.685,37 B=A+4+5
27.172.647.685,37
EDL SILPA

Saldo akhir
SILPA kini

69.379.406.311,43

Saldo akhir
1
Kas di Bank
2
Kas di BUD
3
Kas di Luar BUD
C=1+2+3
4
Kas di BP
5
Tampung DAK
6
Deposito
D=C+4+5

Saldo akhir
29.985.133.149,33
1
Kas di Bank
2.528.289.972,00
2
Kas di BUD
3.055.000.000,00
3
Kas di Luar BUD
35.568.423.121,33 C=1+2+3
628.941.141,00
4
Kas di BP
14.315.791.350,00
5
Tampung DAK
2.350.000.000,00
6
Deposito
52.863.155.612,33 D=C+4+5
EDL SILPA

kenaikan

42.206.758.626,06

E=D-B kenaikan

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

2007

25.690.507.926,96

E=D-B Kenaikan

27.172.647.685,37

29.985.133.149,33
2.528.289.972,00
3.055.000.000,00
35.568.423.121,33
628.941.141,00
14.315.791.350,00
2.350.000.000,00
52.863.155.612,33
52.820.592.704,00
(42.562.908,33)
25.690.507.926,96

16

Angka SILPA tahun 2006 yang ditetapkan pada LRA TA 2007 adalah angka dari SILPA yang
disajikan pada Neraca per 31 Desember 2006 sesuai LHP BPK berbeda dengan Perda tentang
Perhitungan. Hal ini berarti Pemerintah Kota telah mengkoreksi SILPA pada LRA dan saldo awal
Kas pada LAK dengan menambahkan saldo Deposito Rp2.350.000.000 tanpa melakukan
penjelasan atas koreksi tersebut.
Kejanggalan pada LRA, LAK dan Neraca per 31 Desember 2007 terletak pada saldo akhir
masing-masing Laporan. Pada LRA disajikan SILPA tahun berkenaan sebesar
Rp69.379.406.311,43 sehingga dapat dihitung kenaikan SILPA sebesar Rp42.206.758.626,06.
Saldo akhir Kas pada LAK dan Neraca disajikan sebesar Rp52.863.149.612,33, dengan saldo
awal kas yang sama besar dengan SILPA awal sehingga dapat dihitung kenaikan kas sebesar
Rp25.690.501.926,96.SILPA pada LRA tidak dijelaskan lebih lanjut pada CALK LRA dan
pejabat BPKD juga tidak dapat menjelaskan angka tersebut mengapa jauh lebih tinggi
dibandingkan Saldo Akhir Kas di LAK dan di Neraca. Pejabat BPKD menjelaskan pada LAK
terdapat koreksi atas pengeluaran Rp16.558.813.607,00 pada Aktivitas Non Anggaran namun
tetap masih dapat mengkonfirmasi selisih tersebut. Hal ini diduga karena Aktivitas Non Anggaran
pada LAK tahun 2007 yang tidak dapat diyakini kewajarannya.
Lebih lanjut EDL SILPA pada Neraca per 31 Desember 2007 juga disajikan sebesar
Rp52.820.592.704,00 (yang diperoleh dari perhitungan SILPA LRA Rp69.379.406.311,43
dikurangi Rp16.558.813.607,00) berbeda dengan saldo Akhir Kas sebesar Rp52.863.149.612,33.
Sehingga menghasilkan selisih antara EDL SILPA dengan total kas sebesar Rp42.562.908,33.
Pejabat BPKD juga tidak dapat menjelaskan perbedaan tersebut.
Perbedaan atau selisih yang terjadi tersebut mengakibatkan Angka pada LRA, LAK dan
Neraca yang telah dikoreksi oleh BPK juga menghasilkan perbedaan/ selisih antara angka SILPA
dan Kas yang disajikan di LRA, LAK dan Neraca per 31 Desember 2007, seperti berikut:
LRA
Saldo awal
SiLPA lalu

2007

27.672.647.685,37

LAK
Saldo awal
1
Kas di Bank
2
Kas di BUD
3
Kas di Luar BUD
A=1+2+3
4
Kas di BP
5
Deposito
B=A+4+5

2007

NERACA

Saldo awal
dari Neraca th lalu
6.745.982.420,60
1
Kas di Bank
6.745.982.420,60
767.516.924,77
2
Kas di BUD
767.516.924,77
16.558.813.607,00
3
Kas di Luar BUD
16.558.813.607,00
24.072.312.952,37 A=1+2+3
24.072.312.952,37
750.334.733,00
4
Kas di BP
750.334.733,00
2.850.000.000,00
5
Deposito
2.850.000.000,00
27.672.647.685,37 B=A+4+5
27.672.647.685,37
EDL SILPA

Saldo akhir
SILPA kini

66.298.189.570,43

Saldo akhir
1
Kas di Bank
2
Kas di BUD
3
Kas di Luar BUD
C=1+2+3
4
Kas di BP
5
Tampung DAK
6
Deposito
D=C+4+5

Saldo akhir
1
Kas di Bank
2
Kas di BUD
3
Kas di Luar BUD
- C=1+2+3
4
Kas di BP
5
Tampung DAK
6
Deposito
66.340.746.478,43 D=C+4+5
EDL SILPA

kenaikan

38.625.541.885,06

E=D-B kenaikan

2007

38.668.098.793,06

E=D-B Kenaikan

27.672.647.685,37

30.128.844.225,43
2.528.289.972,00
19.613.813.607,00
52.270.947.804,43
15.407.570.822,00
2.850.000.000,00
70.528.518.626,43
70.527.622.160,00
42.855.870.941,06

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan,
1) Lampiran II Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan bagian Karakteristik
Kualitatif Laporan Keuangan yaitu ”Andal” pada alenia 35 yang menyatakan bahwa
informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan
kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi.
Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

17

maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Informasi yang
andal memenuhi karakteristik:
a) Penyajian jujur: informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa
lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk
disajikan;
b) Dapat diverifikasi (verifiability): informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
dapat diuji, dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang
berbeda, hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh;
c) Netralitas: informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada
kebutuhan pihak tertentu;
2) PSAP 03
a) Paragraf 8 baris 15 menyebutkan “Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang
masuk ke Bendahara Umum Negara/Daerah” dan baris 17 menyebutkan “pengeluaran
kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum Negara/Daerah”
b) Paragraf 12 menyebutkan “Entitas pelaporan yang wajib menyusun dan menyajikan
laporan arus kas adalah unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan”
c) Paragraf 13 menyebutkan “unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan adalah unit
yang ditetapkan sebagai bendaharawan umum negara/daerah dan/atau kuasa
bendahara umum negara/daerah.
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah, pada :
1) Pasal 122 ayat (5) Jumlah Belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan batas
tertinggi untuk setiap pengeluaran belanja,
2) Pasal 127 ayat (1) Semua Pendapatan daerah dilaksanakan melalui rekening kas umum
daerah dan ayat (2) Setiap Pendapatan harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah
3) Pasal 132 ayat (1) Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus didukung dengan
bukti yang lengkap dan sah
4) Pasal 179 ayat (1) BUD bertanggungjawab terhadap pengelolaan penerimaan dan
pengelolaan kas daerah
5) Pasal 183 Ayat (1) Pengelolaan kas non anggaran mencerminkan penerimaan dan
pengeluaran kas yang tidak mempengaruhi anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan
daerah, ayat (8) Tata Cara Pengelolaan kas non anggaran diatur dalam peraturan kepala
daerah
6) Pasal 189 ayat (6) Laporan Pertanggungjawaban penerimaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) dan (5) dilampiri dengan buku kas umum, buku pembantu dan rekapitulasi
penerimaan dan bukti penerimaan lainnya yang sah; ayat (7) PPKD selaku BUD
melakukan verifikasi, evaluasi dan analisis atas laporan Pertanggungjawaban Bendahara
penerimaan; ayat (8) verifikasi, evaluasi dan analisis dilakukan dalam rangka rekonsiliasi
penerimaan
7) Pasal 200 ayat (2) Dokumen SPP GU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain
terdiri dari surat pengesahan laporan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran atas
penggunaan dana SPP UP/GU/TU sebelumnya
8) Pasal 205 ayat (3) Lampiran dokumen SPP LS, untuk pengadaan barang dan jasa antara
lain mencakup huruf e berita acara penyelesaian pekerjaan, huruf f berita acara serah
terima barang dan jasa, huruf k berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh pihak
ketiga/rekanan serta unsur panitia pemeriksaan barang; ayat (5) dalam hal kelengkapan
dokumen yang diajukan tidak lengkap, bendahara pengeluaran mengembalikan dokumen
SPP LS kepada PPTK untuk dilengkapi.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

18

9) Pasal 216 ayat (1) Kuasa BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM yang diajukan oleh
pengguna anggaran/kuasa PA agar pengeluaran yang diajukan tidak melampaui pagu dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan; ayat (5) Kelengkapan dokumen
SPM LS untuk penerbitan SP2D antara lain mencakup huruf b bukti pengeluaran yang sah
dan lengkap sesuai dengan kelengkapan persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan
10) Pasal 219 ayat (1) Dokumen yang digunakan Kuasa BUD dalam menatausahakan SP2D
mencakup register SP2D, register surat penolakan penerbitan SP2D, Buku Kas
Penerimaan dan Pengeluaran
11) Pasal 220 ayat (1) Bendahara Pengeluran secara administratif wajib
mempertanggungjawabkan penggunaan UP/GU/TU kepada Kepala SKPD melalui PPK
SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya; ayat (4) Dalam
mempertanggungjawabkan
penggunaan
UP/GU/TU
dokumen
laporan
pertanggungjawaban yang disampaikan antara lain mencakup ringkasan perngeluaran per
rincian obyek yang disertai dengan bukti pengeluaran yang sah, bukti atas penyetoran
PPN/PPh ke kas negara
12) Pasal 232 ayat (1) Entitas pelaporan dan entitas akuntansi menyelenggarakan sistem
akuntansi pemerintahan daerah ; ayat (3) Sistem akuntansi tersebut meliputi serangkaian
prosedur mulai proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan
pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat
dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer
13) Pasal 233 ayat (1) Sistem akuntansi pemerintahan daerah sekurang-kurangnya meliputi
prosedur akuntansi penerimaan kas, pengeluaran kas, aset tetap dan akuntansi selain kas
14) Pasal 234 ayat (1) Sistem akuntansi pemerintahan dilaksanakan oleh PPKD; ayat (2)
Sistem akuntansi SKPD dilaksanakan oleh PPK SKPD
15) Pasal 289 ayat (1) Kepala SKPKD menyusun dan melaporkan laporan arus kas secara
periodik kepada Kepala Daerah
16) Pasal 313 ayat (1) Dalam rangka meningkatkan kinerja transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan daerah, kepala daerah mengatur dan menyelenggarakan sistem
pengendalian intern di lingkungan pemerintahan daerah yang dipimpinnya.
d. Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pengeloaan Keuangan Daerah:
1) Pasal 4 Ayat (2) Pengeloaan Keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem yang
terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan dengan peraturan
daerah
2) Pasal 5 Ayat (1) Walikota selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaaan
pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan
kekayaan daerah yang dipisahkan
3) Pasal 5 Ayat (2) Kekuasaan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan oleh Kepala BPKD selaku PPKD dan kepala SKPD selaku pejabat
pengguna anggaran/barang daerah
4) Pasal 5 Ayat (4) Dalam pelaksanaan kekuasaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)
sekretaris daerah bertindak selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah
5) Pasal 7 Ayat (1) PPKD mempunyai tugas antara lain huruf d melaksanakan fungsi BUD
dan huruf e menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD
6) Pasal 99 Ayat (1) PPKD menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang
dan ekuitas dana termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungannya; Ayat (2) PPKD
menyusun LKPD terdiri dari LRA, Neraca, LAK dan CALK

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

19

7) Pasal 133 Ayat (1) Dalam rangka meningkatkan kinerja, transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan daerah, Walikota mengatur dan menyelenggarakan sistem
pengendalian intern di lingkungan pemerintah daerah yang dipimpinnya; Ayat (2)
Pengaturan dan penyelenggaraan SPI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman
pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
e. Peraturan Walikota Bima Nomor 4T tahun 2007 tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi
Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pasal 3 Ayat (1) Badan Pengelola
Keuangan dan Asset Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah Kota mempunyai
tugas membantu walikota dalam menyelenggarakan sebagian tugas umum pemerintahan dan
pembangunan di bidang pengelolaan keuangan dan asset daerah.
f. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. SE.900/316/BAKD perihal Pedoman Sistem dan
Prosedur Penatausahaan dan Akuntansi, Pelaporan dan Pertanggungjawaban Keuangan
Daerah.
Beberapa kelemahan signifikan tersebut mengakibatkan:
a. Total Pendapatan yang disajikan di Laporan Realisasi Anggaran TA 2007 sebesar
Rp279.696.892.393,06 tidak dapat diyakini kewajarannya;
b. Total Belanja disajikan di Laporan Realisasi Anggaran TA 2007 sebesar
Rp216.980.261.039,00 tidak dapat diyakini kewajarannya;
c. Total Aktivitas Kas Masuk dan Keluar serta Saldo Akhir Kas Milik Daerah yang disajikan
pada Laporan Arus Kas periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2007 tidak dapat
diyakini kewajarannya;
d. Total Aset, Kewajiban dan Ekuitas yang disajikan pada Neraca per 31 Desember 2007 tidak
dapat diyakini kewajarannya.

a.
b.
c.

d.

Kondisi di atas disebabkan oleh:
Kepala Daerah yang tidak membuat SPI atas pengelolaan keuangan yang memadai dan
melakukan pengawasan atas pelaksanaan SPI di lingkungan pemerintah Kota Bima
Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah kurang melakukan
fungsinya dengan baik
Kepala BPKD selaku PPKD beserta jajaran dibawahnya sebagai pelaksana tidak melaksanakan
tugas pokok dan fungsinya dalam proses pertanggungjawaban dan penyusunan laporan
keuangan daerah
Kelalaian Pengguna Anggaran dan Bendahara yang tidak menyampaikan SPJ Fungsional tepat
waktu

Walikota Bima menyatakan bahwa kelemahan SPI yang terjadi harus diakui dan ke depan
akan lebih diperbaiki.
BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar:
a. Membuat SPI yang memadai atas pengelolaan keuangan dan barang daerah dan melakukan
pengawasan atas pelaksanaan SPI di lingkungan pemerintah Kota Bima.
b. Memberikan sanksi kepada Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah
kurang melakukan fungsinya dengan baik.
c. Memberikan sanksi kepada Kepala BPKD beserta seluruh jajaran dibawahnya sebagai
pelaksana yang tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam proses
pertanggungjawaban dan penyusunan laporan keuangan daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

20

d. Memberikan sanksi kepada semua Pengguna Anggaran dan Bendahara yang tidak
menyampaikan SPJ Fungsional tepat waktu.

2. Pelampauan Anggaran atas Belanja Bantuan Sosial dan Pengeluaran Pembiayaan untuk
Pembayaran Hutang Jatuh Tempo
Pada Laporan Realisasi Anggaran (LRA) disajikan bahwa terjadi pelampauan anggaran
pada pengeluaran kas untuk belanja dan pengeluaran pembiayaan sebagai berikut:
No
1
1
2

Uraian
2
Bantuan Sosial
Pembayaran
Utang
Pokok Jatuh Tempo

Anggaran
3
14.630.702.000,00
23.000.000.000,00

Realisasi
4
17.017.964.550,00
24.076.337.455,00

Pelampauan
5=4-3
2.387.262.550,00
1.076.337.455,00

%
(5/3)X100%
16,32%
4,68%

Berdasarkan penelusuran lebih lanjut atas permasalahan tersebut dapat lebih dijelaskan sebagai
berikut:
a.

Pelampauan anggaran pada Bantuan Sosial
Jumlah Nominal atas Bantuan Sosial (5.1.5) tersebut sesuai dengan Rekap Buku Besar
Konsolidasi hasil sistem dan Penjabaran Perubahan APBD TA 2007 (DPPA BPKD hingga saat
pemeriksaan berakhir belum dibuat) dapat dirinci sebagai berikut:
No
1
2

Kode
Rekening
01.01
01.02

3
4
5
6

01.03
01.04
01.05
02.01

Uraian
Organisasi Kemasyarakatan
Organisasi Keagamaan
BAPOR
Kemasyarakatan
UKM
Partai Politik

Anggaran

Realisasi

Pelampauan

1.235.000.000,00
8.708.202.000,00

1.035.745.000,00
9.870.216.300,00

(199.255.000,00)
1.162.014.300,00

2.325.000.000,00
375.000.000,00
1.500.000.000,00
487.500.000,00
14.630.702.000,00

2.279.661.500,00
1.906.841.750,00
1.452.500.000,00
473.000.000,00
17.017.964.550,00

(45.338.500,00)
1.531.841.750,00
(47.500.000,00)
(14.500.000,00)
2.387.262.550,00

Pada APBD dan Perubahan APBD TA 2007 tidak perincian atas anggaran bantuan, yang
menyebutkan pihak ketiga mana yang akan dibantu pada tahun 2007. Demikian pula pada DPA
BPKD TA 2007.
Secara garis besar konfirmasi dengan Kepala Bidang Anggaran yang membawahi Sub
Bidang Perbendaharaan dan Verifikasi tidak dapat dijelaskan bagaimana bisa terjadi pelampauan
anggaran yang cukup signifikan. Pada Penelaahan atas mekanisme pengajuan bantuan dan
pencairan dan wawancara dengan Pejabat Pembuat Komitmen a.n. Syahruddin S.Sos (Kepala Sub
Bagian Penyusunan Program dan Keuangan) dan bendahara pengeluaran diketahui bahwa
otorisasi, persetujuan atas pengajuan bantuan tidak jelas karena dapat melalui Walikota, Wakil
Walikota, Sekretaris Daerah dan Kepala BPKD, PPK dan Bendahara Pengeluaran. PPK sendiri
tidak selalu memverifikasi pengajuan SPP+SPM bantuan karena terkadang tidak melalui PPK.
Dijelaskan lebih lanjut bahwa sebenarnya pernah dlaporkan kepada Walikota dari Kepala BPKD
dalam bentuk Telaahan Staf tanggal 8 Agustus 2007 tentang Dana Bantuan Tahun 2007
dialokasikan dalam APBD sebesar Rp12.180.702.000,00 sedangkan permintaan masyarakat

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

21

meningkat sehingga pencairan melampaui pagu.
Kelemahan pengendalian juga pada Bendahara Pengeluaran a.n. Khairil yang merangkap
tugas sebagai Bendahara BPKD sesuai SK Walikota No.6 tahun 2007 tentang Penunjukan
Bendahara Lingkup Pemerintah Kota Bima, sebagai Bendahara Pengeluaran Bantuan dan
Bendahara Belanja Tak Terduga. Untuk tugas sebagai bendahara Bantuan dan Belanja Tak
Terduga tidak ditetapkan dengan SK Walikota.
Dari penjelasan oleh PPK dan Bendahara diketahui bahwa tidak ada pengendalian atas
bantuan dan tidak catatan rinci atas Bantuan sehingga tidak tahu jika terjadi pelampauan
anggaran. Hal-hal tersebut ini yang menyebabkan pelampauan anggaran.
Berdasarkan tabel diatas diketahui pelampauan terjadi bantuan untuk organisasi
keagamaan dan kemasyarakatan. Untuk itu dilakukan uji petik atas belanja bantuan untuk
organisasi keagamaan yang jumlahnya besar, yaitu belanja bantuan untuk Masjid Al Muwahidin.
Pada Buku Besar Bantuan terdapat tiga kali pengeluaran yaitu tanggal 09/08/2007 sebesar
Rp1.000.000.000,00, 06/12/2007 sebesar Rp1.500.000.000,00 dan 27/12/2007 sebesar
Rp500.000.000,00 namun tidak ada isian penjelasan pada kolom keterangan, konfirmasi dengan
Bendahara dijelaskan bahwa bantuan tersebut untuk Masjid Al Muwahidin, konfirmasi dengan
pengurus masjid Al Muwahidin diakui bahwa uang bantuan sebesar Rp3.000.000.000,00 tersebut
telah diterima melalui tiga kali pencairan yaitu tanggal 09/08/2007, 13/12/2007 dan 28/12/2007
yang dibuktikan dengan rekening koran miliki Yayasan Al Muwahhidin nomor rekening
0129103295. Lebih lanjut atas penelusuran dokumen pengajuan bantuan pada Bendahara Bantuan
tidak diperoleh dokumen apapun , atas permintaan dokumen dari yayasan Al Muwahhidin hanya
diberikan surat pengajuan permintaan bantuan, Akta Pendirian, bukti-bukti pembayaran dari
Yayasan Al Muwahhidin kepada PT Adhi Karya sebagai rekanan. Berdasarkan dokumen yang
ada diketahui surat pengajuan bantuan Nomor 03/YMB/VIII/2007 tanggal 6 Agustus 2007 yang
berisi permintaan bantuan sebesar Rp3.000.000.000,00 dengan dokumen pendukung Perjanjian
Kontrak Kerja dan Surat Perintah Mulai Kerja, yang ditandatangani oleh Ketua Yayasan Al
Muwahhidin Drs.H. Muhamaddin dan Sekretaris DR.Ir.Syamsuddin. Berdasarkan data pada
Kontrak Nomor 01/YMB/VII/2007 tanggal 17 Juli 2007 tersebut diketahui nilai kontrak sebesar
Rp7.316.100.000,00, yang ditandatangani Pihak Yayasan, Pihak Adhi Karya, dengan mengetahui
adalah Bupati Bima Ferry Zulkarnain, Walikota Bima M.Nur A.Latif, Ketua DPRD Kabupaten
Bima Drs.Muhdar Arsyad dan Ketua DPRD Kota Bima Subhan M.Nur,SH.
Berdasarkan Akta Pendirian di Notaris Baiq Hayinah Nomor 128 tanggal 22 Juni 2007,
diketahui terdapat beberapa pejabat Pemerintah Kota Bima yaitu Sekretaris oleh Kepala Bappeda
DR.Ir.Syamsuddin dan Bendahara H.Qurais H. Abidin (Walikota). Berdasarkan data kronologis
dan dokumen yang ada dan dokumen persetujuan pemberian bantuan yang tidak ada maka
dimungkinkan bahwa sebelum surat permintaan bantuan diajukan oleh Yayasan ke Pemerintah
Kota Bima, sudah ada kesepakatan pencairan bantuan untuk Yayasan tersebut. Hal ini
mengindikasikan mekanisme pemberian bantuan tidak menunjukkan sistem pengendalian yang
memadai.
b. Pelampauan pada Pembiayaan - Pembayaran Hutang Jatuh Tempo.
Pada LRA disajikan Pembayaran Hutang Jatuh Tempo sebesar Rp24.076.337.455,00 dari
Anggaran sebesar Rp23.000.000.000,00. Anggaran sebesar tersebut hanya disebutkan total tidak
dirinci pihak ketiga/ rekanan mana yang harus dibayar untuk tahun 2007 pada RKA BPKD namun
pada DPA dan Penjabaran Perubahan APBD tidak ada anggaran untuk pembiayaan. Konfirmasi
lisan dengan Kepala Bidang Anggaran tidak diketahui penyebab pelampuan anggaran tersebut.
Pada Neraca per 31 Desember 2006 terdapat hutang jatuh tempo sebesar
Rp27.958.883.342,80 (bagian lancar hutang jangka panjang Rp12.211.305.000,00 dan utang

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

22

jangka pendek lainnya Rp15.747.578.342,80). Konfirmasi tertulis tentang hutang jangka pendek
dan jangka panjang beserta pembayarannya diketahui bahwa dari empat pejabat BPKD, yaitu
Kepala Bidang Pendapatan, Kepala Bidang Anggaran, Kepala Subbidang Anggaran dan
Pembukuan serta Kepala Subbidang Akuntansi dan Pelaporan tidak ada yang mengetahui
mengapa tahun lalu hutang sejumlah Rp 27.958.883.342,80 namun tahun 2007 hanya dianggarkan
Rp23.000.000.000,00 dan direalisasikan sebesar Rp24.076.337.455,00 serta tidak ada yang
mengetahui apakah Rp24.076.337.455,00 tersebut merupakan bagian dari Rp27.958.883.342,80.
Juga dijelaskan bahwa mereka tidak mengetahui mengapa hutang jangka panjang tahun 2006
sebesar Rp11.854.377.500,00 dan di neraca 2007 hanya sebesar Rp11.518.408.000,00.
Kondisi di atas tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006, dalam:
a. Pasal 122 ayat (5) menyebutkan bahwa jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD
merupakan batas tertinggi untuk setiap pengeluaran belanja.
b. Pasal 132 ayat (1) menyatakan bahwa setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus
didukung dengan bukti yang lengkap dan sah.
c. Pasal 224 Bendahara Pengeluaran yang mengelola belanja bunga, subsidi, hibah, bantuan
sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, belanja tak terduga dan pembiayaan melakukan
penatausahaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pelampauan anggaran tersebut mengakibatkan tidak adanya disiplin anggaran dan
membuka peluang penyelewengan keuangan daerah.
Kondisi di atas disebabkan oleh Walikota, Sekretaris Daerah, Kepala BPKD beserta
seluruh pejabatnya sebagai pelaksana tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dan tidak
mengerti atas atas asas disiplin anggaran.
Walikota Bima dan Kepala BPKD menyatakan bahwa kelemahan SPI yang terjadi harus
diakui dan ke depan akan lebih diperbaiki.
BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar:
a. Lebih mentaati kebijakan pengeluaran untuk pembayaran bantuan sesuai yang ditetapkan
dalam APBD.
b. Memberikan sanksi kepada Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan
daerah kurang melakukan fungsinya dengan baik.
c. Memberikan sanksi kepada Kepala BPKD beserta seluruh jajaran dibawahnya sebagai
pelaksana yang tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam proses pengendalian
anggaran.

3. Pencatatan dan Penginventarisasian Persediaan Obat-obatan Pemerintah Kota Bima belum
tertib
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun Anggaran 2007
diketahui bahwa Akun Aset Lancar - Persediaan pada Neraca per 31 Desember 2007 disajikan
senilai Rp. 825.445.630,00 yang terdiri atas 238 jenis obat dan alat kesehatan habis pakai. Nilai
persediaan tersebut merupakan nilai persediaan obat-obatan dan alat kesehatan habis pakai pada
Instalasi Farmasi Kota Dinas Kesehatan Kota Bima saja tidak termasuk yang sudah dibagikan ke

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

23

Puskesmas di seluruh Kota Bima. Persediaan yang sudah terdistribusi ke Puskesmas tersebut tidak
dapat diuji karena tidak tersedia data dan dokumentasi.
Pengelolaan persediaan obat-obatan dan alat kesehatan habis pakai pada Dinas Kesehatan
Kota Bima dilaksanakan oleh Instalasi Farmasi Kota (IFK) yang secara organisasi berada di
bawah Seksi Farmasi Makanan dan Minuman, dibawah Bidang Pelayanan Kesehatan. Pemisahan
fungsi dan tanggung jawab dalam IFK Bima terbagi dalam fungsi penyimpanan dan distribusi,
fungsi pencatatan dan pelaporan, dan fungsi pemantauan. Persediaan obat-obatan yang dikelola
IFK tersebut berasal dari sumber Askes, JPKMM, PKD, dan bantuan provinsi dan disalurkan
kepada lima puskesmas di wilayah Kota Bima, yaitu Puskesmas Paruga, Puskesmas Asakota,
Puskesmas Mpunda, Puskesmas Penanae, dan Puskesmas Rasanae Timur serta pelayanan sosial.
Berdasarkan penjelasan penanggung jawab penatausahaan IFK Bima mengenai
penatausahaan persediaan, diketahui hal-hal sebagai berikut:
a. Hasil pengadaan obat-obatan diperiksa oleh Panitia Pemeriksa Barang yang selanjutnya
diserahkan kepada Penanggung jawab IFK Bima dengan bukti tanda terima dan kemudian
dicatat di buku penerimaan, kartu stok, dan buku indul stok IFK Bima.
b. Secara berkala, Petugas Obat Puskesmas dengan otoritas dari kepala Puskesmas mengajukan
permintaan obat kepada Penanggung jawab IFK Bima sesuai dengan kebutuhan. Obat-obatan
diserahkan kepada Petugas Obat Puskesmas dengan Laporan Pemakaian dan Lembar
Permintaan Obat-obatan (LPLPO). Persediaan obat tersebut dicatat keluar dalam kartu stok
dan buku induk stok IFK Bima.
c. Untuk kebutuhan pelayanan selain kepada puskesmas, pengeluaran persediaan obat dari IFK
Bima dilakukan atas dasar dokumen permintaan yang telah disetujui oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kota Bima. Obat-obatan diserahkan kepada pemegang dokumen permintaan,
persediaan obat tersebut dicatat keluar dalam kartu stok dan buku induk stok IFK Bima.
Hasil pengujian atas data pada dokumen pengelolaan obat yang ada di IFK berupa buku
penerimaan, kartu stok, buku stok induk, LPLPO (Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan
Obat-obatan), Laporan Ketersediaan Obat, dan dokumen lainnya diketahui bahwa untuk tahun
2007 Laporan Ketersediaan Obat Bulanan dibuat berdasarkan buku stok induk. Hasil pemeriksaan
fisik yang dilaksanakan Tim BPK RI pada tanggal 8 September 2008 dengan melakukan
penghitungan trace back stok obat secara sampling berdasarkan buku stok induk yang ada,
ditemukan adanya selisih lebih dan kurang pada jumlah maupun jenis obat yang dilaporkan dalam
Neraca per 31 Desember 2007, dimana jumlah jenis persediaan yang dilaporkan adalah 238 item,
sedangkan jumlah jenis persediaan yang ada di buku stok induk adalah 239 sampai dengan 31
Desember 2007, dan 245 item sampai dengan dilaksanakannya pemeriksaan fisik. Perbedaan
tersebut menurut penjelasan bagian pembukuan dan pelaporan IFK Bima disebabkan karena
adanya 7 jenis stok dari Askes dan Buffer Provinsi yang belum dimasukkan . Pemeriksaan lebih
lanjut diketahui bahwa nilai persediaan obat-obatan yang disajikan dalam Neraca Pemerintah
Kota Bima per 31 Desember 2007 sebesar Rp. 825.445.630,00 diketahui bukan berasal dari stok
opname yang dilakukan pada akhir Tahun 2007. Jumlah dan jenis persediaan tersebut merupakan
hasil perhitungan pembukuan atas persediaan obat-obatan yang dilakukan staf bagian pencatatan
dan pelaporan IFK Kota Bima pada minggu pertama bulan Januari 2008 berdasar buku induk stok
dan tidak dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) fisik persediaan, kemudian dituangkan
dalam Daftar Ketersediaan Obat pada Instalasi Farmasi Kota. Daftar hasil perhitungan ini
dilaporkan kepada BPKD Kota Bima dan selanjutnya angkanya disajikan dalam Neraca per 31
Desember 2007. Laporan ini memuat data persediaan obat-obatan di gudang penyimpanan IFK
dimana masih tercampur antara stok baik dan stok kadaluarsa.
Pemeriksaan lebih lanjut atas dokumen pengelolaan obat yang ada di IFK diketahui
terdapat data obat rusak dan kadaluarsa yang dimuat dalam Rekapitulasi Obat Rusak/Kadaluarsa

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

24

di IFK per Juni 2008. Data Obat Rusak per 31 Desember 2007 tidak diperoleh BPK. Dari daftar
tersebut diketahui bahwa terdapat 40 jenis obat-obatan yang dinyatakan sudah kadaluarsa
(expired) atau dalam keadaan rusak. Pihak Pengelola IFK menyatakan bahwa telah berupaya
memisahkan penyimpanan persediaan obat yang rusak/kadaluarsa tersebut dengan obat yang
masih baik kondisinya, namun saat pemeriksaan fisiknya masih bercampur, sehingga BPK RI
tidak dapat melakukan penelusuran lebih lanjut untuk meyakini kebenaran kuantitas, kualitas, dan
nilai persediaan secara keseluruhan.
Hasil konfirmasi pada staf pengelola IFK Bima diketahui bahwa pihaknya tidak dapat
melaksanakan stock opname atas persediaan obat-obatan pada tanggal 31 Desember 2007
dikarenakan keterbatasan tenaga yang ada.
Hal tersebut diatas tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan pada
PSAP No. 05 mengenai Akuntansi Persediaan pada
− Paragraf 13 : Persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam neraca
tetapi di ungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
− Paragraf 16 : Pada akhir periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil
inventarisasi fisik.
b. Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah:
- Pasal 8 ayat (2) yang menyatakan bahwa Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah
berwenang dan bertanggung jawab antara lain dalam melakukan pencatatan dan
inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya
- Pasal 32 ayat (1) “Pengelola barang, pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang
wajib melakukan pengamanan barang milik negara/daerah yang berada dalam
penguasaannya” dan ayat (2) “Pengamanan barang milik negara/daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi pengamanan administrasi, pengamanan fisik, dan
pengamanan hukum”
- Pasal 69 (2) “Dikecualikan dari ketentuan ayat (1), terhadap barang milik negara/daerah
yang berupa persediaan dan konstruksi dalam pengerjaan, pengguna barang melakukan
inventarisasi setiap tahun”
- Pasal 71 ayat (1) “Kuasa pengguna barang harus menyusun Laporan Barang Kuasa
Pengguna Semesteran (LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT)
untuk disampaikan kepada pengguna barang” dan ayat (2) “Pengguna barang harus
menyusun Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna
Tahunan (LBPT) untuk disampaikan kepada pengelola barang”.
- Pasal 72 “Laporan Barang Milik Negara/Daerah (LBMN/D) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 71 digunakan sebagai bahan untuk menyusun neraca pemerintah
pusat/daerah”.

Hal tersebut mengakibatkan nilai persediaan obat-obatan yang disajikan dalam Neraca per
31 Desember 2007 sebesar Rp. 825.445.630,00 tidak dapat diyakini kewajarannya.

a.

Hal tersebut terjadi karena;
Kelalaian Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima dan Pengelola Instalasi Farmasi Kota Bima
yang tidak melakukan pencatatan dan penginventarisasian persediaan obat-obatan.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

25

b.

c.

a.

b.

Kelalaian Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima selaku Pengguna Anggaran dan Pengguna
Barang (dhi. persediaan obat) yang tidak mendesain prosedur inventarisasi dan penilaian
persediaan tahunan; dan
Kelalaian Pengelola Instalasi Farmasi Kota Bima selaku kuasa Pengguna Barang yang tidak
melaksanakan pencatatan secara menyeluruh atas persediaan barang yang dikelolanya, dan
tidak menyusun Laporan persediaan guna penyusunan Neraca Pemerintah Kota Bima atas
dasar stock opname.
Walikota Bima dan Kepala Dinas Kesehatan menyatakan bahwa;
Adanya Perbedaan jumlah item obat yang dilaporkan per 31 Desember 2007 (238 item) di
buku stok induk sampai dengan 31 Desember 2007 (239 item), dan hasil pemeriksaan fisik
pada tanggal 8 september 2008 (245 item) disebabkan karena adanya 7 (tujuh item stok) dari
ASKES dan buffer provinsi yang belum dimasukkan dalam laporan per 31 desember 2007,
sementara item stok dari ASKES diterima di Instalasi Farmasi Kota Bima tanggal 5 dan 18
Februari 2008. Untuk item stok tersebut akan kami masukkan dan perbaiki dalam periode
pelaporan selanjutnya.
Kami menyadari bahwa memang terjadi kelalaian dalam di dalam pencatatan dan
penginventarisasian barang secara menyeluruh yang disebabkan oleh adanya keterbatasan
tenaga pada unit IFK Dinas Kesehatan Kota Bima. Untuk masa-masa yang akan datang,
pencatatan dan penginventarisasian obat akan dilakukan secara cermat, teliti dan mengikuti
prosedur yang berlaku.

BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar memberi sanksi kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kota Bima dan Pengelola Instalasi Farmasi Kota Bima yang tidak melakukan
pencatatan dan penginventarisasian persediaan obat-obatan dan untuk selanjutnya memerintahkan
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima selaku Pengguna Anggaran dan Pengguna Barang
(dhi. persediaan obat) agar mendesain prosedur inventarisasi dan penilaian persediaan tahunan,
melaksanakan pencatatan secara menyeluruh atas persediaan barang yang dikelolanya, dan
menyusun Laporan persediaan guna penyusunan Neraca Pemerintah Kota Bima atas dasar stock
opname.

4. Penatausahaan Aset tetap seluruhnya senilai Rp351.333.609.593,56 tidak memadai
Pemeriksaan atas Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007 diketahui bahwa
saldo aset tetap milik Pemerintah Kota Bima seluruhnya senilai Rp351.333.609.593,56 yang
terdiri dari aset tanah; gedung dan bangunan; peralatan dan mesin; jalan, irigasi dan jaringan; aset
tetap lainnya, konstruksi dalam pengerjaan; dikurangi akumulasi penyusutan atas nilai aset tetap
tersebut.
Pemeriksaan pada Penjelasan atas pos-pos Laporan Keuangan dalam Catatan atas
Laporan Keuangan diketahui bahwa Pemerintah Kota Bima telah melakukan koreksi atas nilai
awal aset tetap yang tercatat dalam Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007 yang
merupakan saldo akhir aset tetap pada Neraca per 31 Desember 2006, dengan rincian sebagai
berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

26

No

Jenis Aset

Saldo per
31 Desember 2006
54.244.986.603,00
128.404.442.205,13
57.425.432.482,01

Saldo Awal
setelah koreksi
48.785.486.603,00
128.807.850.213,69
56.246.719.457,01

Selisih (koreksi)

1
2
3

Tanah
Gedung dan Bangunan
Peralatan dan Mesin

5.459.500.000,00
(403.408.008,56)
1.178.713.025,00

4

Jalan, Irigasi dan Jaringan

66.998.101.199,94

65.586.152.327,94

1.411.948.872,00

5
6
7

Aset tetap lainnya
Konstruksi dalam pengerjaan
Akumulasi Penyusutan

4.678.556.347,69
8.951.707.782,17
30.226.364.101,47

4.678.556.347,69
8.951.707.782,17
28.123.538.747,08

0
0
2.102.825.354,56

Hasil konfirmasi dengan Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah Kota Bima diketahui bahwa
Kepala Bagian Umum tidak dapat memberikan penjelasan dan perhitungan serta dokumentasi
pendukung atas selisih akibat koreksi terhadap saldo awal aset tetap Pemerintah Kota Bima per 31
Desember 2007. Konfirmasi lebih lanjut dengan Kepala Sub Bidang Akuntansi dan Pelaporan
Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) diketahui bahwa Kepala Sub Bidang Akuntansi dan
Pelaporan BPKD juga tidak dapat memberikan penjelasan dan perhitungan serta dokumentasi
pendukung atas nilai aset yang tercatat dalam Neraca per 31 Desember 2007 maupun nilai selisih
akibat koreksi terhadap saldo awal aset tetap Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007.
Berdasarkan penjelasan Kepala Bagian Umum diketahui nilai aset tetap yang tercatat
dalam Neraca Daerah dicatat berdasarkan nilai yang tercatat dalam Laporan Hasil Inventarisasi
Barang milik Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007. Laporan tersebut merupakan hasil
inventarisasi yang dilaksanakan bulan April 2008 oleh pemerintah Kota Bima dengan
penanggungjawab Sekretaris Daerah dengan asistensi oleh BPKP Perwakilan Provinsi Bali. Hasil
pemeriksaan terhadap laporan tersebut diketahui bahwa dalam laporan tersebut tidak
mencantumkan nilai aset Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) serta nilai akumulasi penyusutan
atas aset tetap.
Dalam laporan hasil inventarisasi, aset tetap milik Pemerintah Kota Bima dikelompokkan
berdasarkan Unit Pengelola Barang (UPB) yang seluruhnya berjumlah 175 Unit. Tidak terdapat
rekapitulasi/ pengelompokkan aset berdasarkan jenis/kelompok penggolongannya yaitu tanah;
gedung dan bangunan; peralatan dan mesin; jalan, irigasi dan jaringan; dan aset tetap lainnya.
Dari hasil konfirmasi, diketahui Kepala Bagian Umum tidak pernah membuat laporan lainnya
terkait pengelolaan barang milik daerah selain laporan hasil inventarisasi diantaranya Laporan
Barang Milik Daerah. Kepala Bagian Umum menjelaskan, Pengguna Barang atau Kuasa
Pengguna Barang tidak pernah memberikan Laporan Barang semesteran dan tahunan atas aset
yang dikelola masing pengguna barang atau kuasa pengguna barang.
Pemeriksaan lebih lanjut atas laporan hasil inventarisasi diketahui dalam laporan tersebut
juga mencatat nilai aset atas barang hasil pengadaan dari dana APBN, APBD Provinsi maupun
hibah. Hak kepemilikan atas barang-barang tersebut belum diserahterimakan kepada Pemerintah
Kota Bima. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya Berita Acara Serah Terima atas aset-aset
tersebut.
Laporan hasil inventarisasi tersebut juga mencantumkan aset yang merupakan aset eks
Pemerintah Kabupaten Bima. Konfirmasi dengan Kepala Bagian Umum terhadap keberadaan
Berita Acara Serah Terima Barang dari Pemerintah Kabupaten Bima kepada Pemerintah Kota
Bima diperoleh penjelasan bahwa yang bersangkutan hanya mengetahui dan menyimpan satu
buah Berita Acara Serah Terima Barang tersebut. Dalam Berita Acara Serah Terima tersebut
disebutkan barang-barang yang diserahkan kepada Pemerintah Kota Bima berupa hanya tanah

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

27

beserta bangunan atas 12 lokasi aset. Nilai dari dua belas lokasi aset tersebut tidak disebutkan
dalam Berita Acara tersebut, disamping itu terdapat dua aset yang tidak dicantumkan luasnya
yaitu Terminal Akab Dara dan Retribusi Pelabuhan Bima. Berita Acara Serah Terima Barang
tersebut juga tanpa dilampiri dengan bukti kepemilikan atas dua belas aset yang diserahkan. Dari
dua belas aset tetap yang diserahkan tersebut dibandingkan dengan pemeriksaan secara uji petik
atas Laporan hasil inventarisasi diketahui bahwa terdapat dua aset yang tidak dicatat dalam
laporan hasil inventarisasi yaitu aset tanah beserta bangunannya atas lokasi Terminal Akab Dara
dan Retribusi Pelabuhan Bima. Kepala Bagian Umum tidak dapat memberikan penjelasan aset
tetap eks Pemerintah Kabupaten Bima mana saja yang sudah atau yang belum dicatat dalam
laporan hasil inventarisasi.
Berita Acara Serah Terima Barang atas aset eks Pemerintah Kabupaten Bima lainnya
yang telah dicatat dalam laporan hasil inventarisasi, baik itu aset tetap berupa tanah; gedung dan
bangunan; peralatan dan mesin; jalan, irigasi dan jaringan; dan aset tetap lainnya, menurut
penjelasan Kepala Bagian Umum tidak dimiliki oleh Kepala Bagian Umum. Kepala Bagian
Umum juga tidak dapat memberikan penjelasan aset tetap eks Pemerintah Kabupaten Bima selain
dua belas aset tetap diatas yang sudah atau yang belum diserahterimakan kepada Pemerintah Kota
Bima. Bukti kepemilikan atas aset-aset eks Pemerintah Kabupaten Bima juga tidak ada satupun
yang disimpan oleh Kepala Bagian Umum. Penjelasan dari Kepala Bagian Umum diketahui
bahwa Pemerintah Kota Bima telah berupaya untuk menagih bukti kepemilikan atas 12 aset
tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Bima namun sampai saat pemeriksaan bukti kepemilikan
juga belum diterima dari Pemerintah Kabupaten Bima.
Pokok-pokok pengelolaan barang milik daerah telah diatur oleh Pemerintah Kota Bima dalam
Peraturan Daerah. Namun Peraturan Daerah tersebut belum mengatur SKPD yang
bertanggungjawab terhadap tugas pengelolaan barang milik daerah. Walikota Bima juga telah
membuat peraturan yang mengatur tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi Sekretariat Daerah
(Setda) khususnya Bagian Umum, namun dalam peraturan tersebut tugas Bagian Umum yang
berkaitan dengan aset yang telah diatur antara lain hanya inventarisasi, menyiapkan bahan
kebijakan pembelian dan pelelangan, penyusunan kebijaksanaan dibidang pemeliharaan dan
perawatan barang bergerak, barang tidak bergerak dan pengelolaan aset. Peraturan Walikota
lainnya yang mengatur tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi BPKAD hanya menyebutkan
bhawa BPKAD adalah unsur pelaksana Pemerintah Kota di bidang pengelolaan keuangan dan
asset daerah namun tidak dilengkapi tugas pokok di bidang pengelolaan aset.
Konfirmasi dengan pejabat BPKD disebutkan bahwa pengelolaan aset bukan menjadi
tanggungjawab BPKD. Konfirmasi dengan Kepala Bagian Umum diketahui bahwa Kepala Bagian
Umum tidak pernah membuat laporan lainnya terkait pengelolaan barang milik daerah selain
Laporan Hasil Inventarisasi Barang Milik Daerah (BMD) Pemerintah Kota Bima per 31
Desember 2007. Laporan tersebut merupakan hasil inventarisasi yang dilaksanakan bulan April
2008 oleh pemerintah Kota Bima dengan penanggungjawab Sekretaris Daerah dengan asistensi
selama 15 hari oleh tim BPKP Perwakilan Provinsi Bali yang terdiri lima orang Fasilitator dan
satu orang Pengendali Mutu sesuai Surat Tugas No.ST 623/PW22/3/2008. Kepala Bagian Umum
menjelaskan Laporan Barang Milik Daerah tidak dapat dibuat dikarenakan Pengguna Barang atau
Kuasa Pengguna Barang tidak pernah memberikan Laporan Barang semesteran dan tahunan atas
aset yang dikelola masing pengguna barang atau kuasa pengguna barang.
Pada Laporan Inventarisasi BMD tersebut disajikan barang milik daerah dengan
pengklasifikasian berdasarkan 175 Unit Pengelola Barang (UPB) namun tidak dilengkapi
rekapitulasi/penyajian menurut jenis/kode barang sehingga dapat menjelaskan/mendukung angka
aset yang disajikan di Neraca Pemerintah Kota per 31 Desember 2007. Hal ini mengakibatkan
angka yang disajikan pada Neraca tidak dapat ditelusuri lebih jauh.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

28

Pada Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa terdapat BMD sebanyak 334 satuan senilai
Rp1.057.686.371,00 yang digunakan oleh pihak ketiga dengan rekapitulasi yang tidak dilengkapi
perincian lebih lanjut sebagai berikut:
No
1
2
3

Kelompok Barang
Alat Angkutan (Roda 2 dan 4)
Alat Kantor dan Rumah Tangga
Alat Studio/ Komunikasi
Jumlah

Jumlah
26
293
15
334

Nilai (Rp)
749.008.956,00
301.098.435,00
7.578.980,00
1.057.686.371,00

Pihak ketiga yang menguasai adalah Sekretariat KPU dan Panwaslu Kota Bima, KONI, KNPI,
Koperasi Kasabua Ade, MUI, Pengadilan Negeri Bima, Polres, Polisi Militer, Kodim, Bazis,
PHBI, HMI, Veteran dan Kwarcab Pramuka. Disebutkan pada Laporan tersebut bahwa
pengawasan dan pengendalian BMD menjadi tanggungjawab Bagian Umum namun Bagian
Umum tidak memiliki data pendukung tentang status, bukti kepemilikan, bukti pinjam pakai
bahkan tidak ada rincian atas aset apa saja yang dikuasai/digunakan pihak ketiga tersebut.
Pada Laporan tersebut juga menyebutkan tentang BMD dalam kondisi rusak berat
sebanyak 9.319,65 sebesar Rp3.702.104.103,63 namun terdapat kejanggalan pada rekapitulasi
yang mendukung pernyataan tersebut bahwa jumlah BMD yang rusak sebanyak 9326,25 namun
belum termasuk Alat Angkutan sebesar Rp240.100.000,00 yang tidak disajikan satuannya.
Pejabat BPKD dan Bagian Umum juga tidak bisa menjelaskan tentang Jalan dan Jembatan yang
rusak dengan satuan 24,5 dan Bangunan Air/Irigasi yang rusak dengan satuan 186,75 , apakah
satuan tersebut per item atau per kilometer.
Berdasarkan cek fisik tanggal 11 September 2008 oleh BPK atas Penyimpanan Seluruh
Bukti Kepemilikan Kendaraan pada Bagian umum diketahui bahwa ditemukan BPKB atas
kendaraan roda 4/lebih sebanyak 61 buah dan BPKB atas kendaraan roda dua sebanyak 214 buah.
Hambatan pada saat cek fisik adalah tidak ada data pembanding, catatan tentang BPKB yang
disimpan oleh Bagian Umum serta tidak ada data serah terima kendaraan dari Pemerintah Kota
kepada pengguna sehingga tidak diketahui jumlah BPKB yang seharusnya ada pada Bagian
Umum dan tidak diketahui secara rinci pemegang kendaraan dinas milik Pemerintah Kota Bima
tersebut.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Undang Undang Nomor 13 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Bima Dalam Wilayah
Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Pasal 13 ayat:
(1) huruf B, menyebutkan bahwa untuk kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di Kota
Bima, Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Nondepartemen yang terkait, Gubernur Nusa
Tenggara Barat, dan Bupati Bima sesuai dengan kewenangannya menginventarisasi dan
mengatur penyerahan kepada Pemerintah Kota Bima sesuai dengan peraturan perundangundangan yang meliputi barang milik/kekayaan negara/daerah yang berupa tanah,
bangunan, barang bergerak dan barang tidak bergerak yang dimiliki, dikuasai, dan/atau
dimanfaatkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Bima yang
berada di Kota Bima;
(2) Pelaksanaan penyerahan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus diselesaikan paling
lambat dalam waktu 1 (satu) tahun terhitung sejak peresmian Kota dan pelantikan Pejabat
Walikota Bima.
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara:
1) Pasal 44 menyatakan bahwa Pengguna Barang dan atau kuasa pengguna barang wajib
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

29

c.

d.

e.

f.

mengelola dan menatausahakan barang milik negara/daerah yang berada dalam
penguasannya dengan sebaik-baiknya;
2) Pasal 49 menyatakan bahwa Barang milik Negara/daerah yang berupa tanah yang dikuasai
Pemerintah Pusat/Daerah harus bersertifikat atas nama pemerintah RI/Pemerintah daerah
yang bersangkutan.
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan pada PSAP
No. 07 mengenai Aset Tetap yaitu :
1) Paragraf 20 : Pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap telah diterima atau
diserahkan kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya berpindah;
2) Paragraf 22 : Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap
dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka aset tetap didasarkan
pada nilai wajar pada saat perolehan.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah
pada pasal 33 ayat (1): Barang milik negara/daerah harus disertifikatkan atas nama Pemerintah
Republik Indonesia/pemerintah daerah yang bersangkutan.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah dalam Pasal 7 ayat (1) huruf e menyebutkan bahwa Kepala SKPKD selaku
PPKD (dhi Kepala BPKD Kota Bima) mempunyai tugas menyusun laporan keuangan daerah
dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan
Barang Milik Daerah dalam :
1) Pasal 1 angka 3 menyebutkan bahwa barang milik daerah adalah semua barang yang dibeli
atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau perolehan lainnya
yang sah.
2) Pasal 19 ayat (2) menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah dapat menerima barang dari
pihak ketiga.
3) Pasal 19 ayat (3) menyebutkan bahwa penyerahan dari pihak ketiga tersebut dituangkan
dalam Berita Acara Serah Terima (BAST) dan disertai dengan dokumen
kepemilikan/penguasaan yang sah.
4) Pasal 19 ayat (4) menyebutkan bahwa Pengelola atau pejabat yang ditunjuk mencatat,
memantau, dan aktif melakukan penagihan kewajiban pihak ketiga atas penyerahan barang
kepada Pemerintah Daerah.
5) Pasal 28 ayat (1) menyebutkan bahwa pengguna/kuasa pengguna menyusun laporan barang
semesteran dan tahunan.
6) Pasal 28 ayat (3) menyebutkan bahwa pembantu pengelola menghimpun laporan dari
pengguna/kuasa pengguna menjadi Laporan Barang Milik Daerah (LBMD).
7) Pasal 29 ayat (1) menyebutkan bahwa Laporan Barang Milik Daerah digunakan sebagai
bahan untuk menyusun Neraca Pemerintah Daerah.
8) Pasal 45 ayat (1) menyatakan bahwa Pengelola, pengguna dan/atau kuasa pengguna wajib
melakukan pengamanan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya.
9) Pasal 45 ayat (2) menyatakan bahwa Pengamanan barang milik daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a) pengamanan administrasi meliputi kegiatan pembukuan, inventarisasi, pelaporan dan
penyimpanan dokumen kepemilikan;
b) pengamanan fisik untuk mencegah terjadinya penurunan fungsi barang, penurunan
jumlah barang dan hilangnya barang;

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

30

c) pengamanan fisik untuk tanah dan bangunan dilakukan dengan cara pemagaran dan
pemasangan tanda batas, selain tanah dan bangunan dilakukan dengan cara
penyimpanan dan pemeliharaan; dan
d) pengamanan hukum antara lain meliputi kegiatan melengkapi bukti status kepemilikan.
g. Peraturan Daerah Kota Bima Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pengeloaan Keuangan Daerah pada
Pasal 120 Ayat (1) Pengelolaan Barang Daerah meliputi rangkaian kegiatan dan tindakan
terhadap barang daerah yang mencakup perencanaan kebutuhan, penganggaran, pengadaan,
penggunaan, pemanfaatan, pemeliharaan, penatausahaan, penilaian, penghapusan,
pemindahtanganan dan pengamanan; ayat (2) Pengelolaan Barang Daerah ditetapkan dengan
peraturan daerah dan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kondisi di atas mengakibatkan saldo aset tetap di Neraca per 31 Desember 2007 sebesar
Rp351.333.609.593,56 tidak dapat diyakini kewajarannya.
Hal di atas disebabkan oleh:
a. Sekretaris Daerah selaku Pengelola Barang milik Daerah yang tidak melaksanakan tugasnya
untuk secara aktif melakukan penagihan kepada Pemerintah Kabupaten Bima atas aset-aset
yang belum diserahkan.
b. Kepala Bagian Umum selaku pembantu pengelola barang daerah yang tidak melaksanakan
tugasnya untuk mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah yang ada
pada masing-masing SKPD.
c. Kepala BPKD selaku Kepala SKPKD dan PPKD yang tidak optimal dalam melaksanakan
tugasnya dalam menyusun laporan keuangan Pemerintah Kota Bima.
Walikota Bima mengakui bahwa aset tetap milik Pemerintah Kota Bima terutama aset
yang berasal dari Pemerintah Kabupaten Bima belum dilengkapi dengan bukti-bukti kepemilikan.
Kedepannya perlu dilakukan upaya sungguh-sungguh pengurusan bukti kepemilikan aset.
BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar:
a. Memberikan sanksi kepada Sekretaris Daerah yang tidak secara aktif melakukan penagihan
kepada Pemerintah Kabupaten Bima atas aset-aset yang belum diserahkan dan selanjutnya
memerintahkan Sekretaris Daerah untuk melaksanakan tugasnya tersebut.
b. Memberikan sanksi kepada Kepala Bagian Umum yang tidak melaksanakan tugas untuk
mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah yang ada pada masingmasing SKPD dan selanjutnya memerintahkan Kepala Bagian Umum untuk melaksanakan
tugasnya tersebut.
c. Memberikan sanksi kepada Kepala BPKD yang tidak optimal dalam menyusun laporan
keuangan Pemerintah Kota Bima dan selanjutnya memerintahkan kepada Kepala BPKD
untuk melaksanakan tugasnya tersebut.

5. Bank-bank Penyimpan Dana Kas Daerah Memotong/Memungut Pajak Penghasilan Pasal
23 atas Pendapatan dari Jasa Giro Kas Daerah selama Tahun 2007 sebesar Rp82.582.171,00
Pada Tahun Anggaran 2007 Pemerintah Kota Bima telah menempatkan sebagian dana
daerah dalam bentuk giro pada 3 (tiga) bank umum, yaitu PT.BRI (Persero), PT BNI (Persero)
Tbk dan PT. Bank NTB. Berdasarkan rekening koran kas daerah dari ketiga bank tersebut,
pendapatan daerah dari jasa giro yang diperoleh selama Tahun 2007 adalah sebesar

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

31

Rp725.805.093,00. Selain pendapatan jasa giro, diketahui juga bahwa Pemerintah Kota Bima
mendapatkan pendapatan bunga dari penempatan dana dalam bentuk deposito on call (deposito
harian) di rekening Bank BNI milik Pemerintah Kota Bima sebesar Rp50.088.548,00, sehingga
total pendapatan jasa giro dan deposito milik Pemerintah Kota Bima selama Tahun 2007 adalah
sebesar Rp775.893.641,00.
Verifikasi atas rekening koran kas daerah dan data dari bank penyimpan dana daerah
menunjukkan adanya pemotongan pajak penghasilan oleh bank atas pendapatan jasa giro
pemerintah Kota Bima. Hal ini tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan yang mengecualikan
pengenaan Pajak Penghasilan atas pendapatan jasa giro Pemerintah Daerah. Jumlah Pajak
Penghasilan atas pendapatan jasa giro daerah yang dipotong selama Tahun Anggaran 2007
sebesar Rp82.582.171,00 dengan rincian sebagai berikut :

No

Nama bank

1.
2.
3.

PT. Bank NTB
PT. Bank BNI (Persero) Tbk.
PT. Bank BRI (Persero) Tbk.
Jumlah

Jumlah Rekening
Kena Pajak
5 rekening
7 rekening
1 rekening
13 rekening

Pendapatan
Jasa Giro
(Rp)
263.281.035,00
221.648.847,00
240.875.211,00
725.805.093,00

Pajak atas
Rekening Giro
(Rp)
24.835.403,00
44.329.802,00
13.416.966,00
82.582.171,00

Konfirmasi atas pemotongan Pajak Penghasilan atas pendapatan jasa giro daerah tahun
2007 dengan Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah dan penjelasan pihak bank, diketahui
bahwa pemotongan Pajak Penghasilan tersebut dilakukan sejak pertama pembukaan rekening
giro. Hal ini menunjukkan sebenarnya Pajak Penghasilan yang dipotong oleh bank nilainya lebih
dari Rp82.582.171,00 karena pemotongan sudah terjadi sejak pembukaan rekening giro.
Pemotongan Pajak Penghasilan atas pendapatan jasa giro kas daerah bertentangan dengan :
a. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang nomor
7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan pada Penjelasan Pasal 2 ayat (1) huruf b yang
mengatur tentang pengecualian dari pengenaan PPh atas jasa/bunga dari rekening giro
dan/atau deposito yaitu apabila lembaga/instansi memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
2. Dengan dana bersumber dari APBN atau APBD
3. Pembukuan keuangannya diperiksa oleh aparat fungsional pemerintah yaitu Inspektorat
Jenderal, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Badan Pemeriksa
Keuangan.
4. Penghasilan lembaga tersebut dimasukkan dalam penerimaan pemerintah pusat atau
daerah.
b. Surat Direktur Jenderal Pajak Departemen Keuangan Nomor S-128/PJ.43/2006 tanggal 10
Juli 2006 tentang jawaban Dirjen Pajak atas permohonan penegasan dari Pemerintah Provinsi
Kepulauan Riau yang menegaskan bahwa jasa/bunga dari rekening giro dan/atau deposito atas
nama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau tidak dipotong atau dipungut PPh.
c. Peraturan Walikota Bima Nomor 4T Tahun 2007 tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi
Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah Kota Bima, dalam Pasal 6 ayat (2) huruf h yang
menyebutkan bahwa Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah mempunyai tugas untuk
melakukan koordinasi, pembinaan dan pengawasan dalam rangka meningkatkan pendapatan
daerah.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

32

Pemotongan Pajak Penghasilan atas pendapatan jasa giro oleh bank-bank penyimpan dana
daerah Tahun Anggaran 2007 mengakibatkan berkurangnya dana untuk pembangunan daerah
sebesar Rp82.582.171,00.
Permasalahan tersebut di atas terjadi karena kelalaian dari Kepala Badan Pengelola
Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah dan Kuasa Bendahara Umum Daerah yang
tidak melakukan pemantauan atas pendapatan jasa giro dan pemotongan Pajak Penghasilan oleh
bank.
Atas permasalahan tersebut, Walikota Bima menyatakan bahwa:
1. Pada dasarnya Pemkot Bima tidak memahami aturan yang diterapkan oleh bank-bank sebagai
pemegang kas daerah yang mengatur setiap pendapatan jasa giro harus dikenakan pajak PPh
pasal 23. Pemkot Bima baru mengetahui bahwa tidak diperkenankan memotong pajak jasa
giro pemerintah setelah adanya hasil pemeriksaan dari BPK RI perwakilan Mataram.
2. Berdasarkan hasil temuan pemeriksaan BPK RI Perwakilan Mataram tersebut Pemkot Bima
akan bersurat kepada kepada bank-bank selaku pemegang kas daerah pemerintah kota bima
untuk membayar kembali semua pajak jasa giro yang dipotong untuk disetor kembali ke kas
daerah.
BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar memberi sanksi kepada Kepala BPKD
selaku Bendahara Umum Daerah dan Kuasa Bendahara Umum Daerah TA 2007 yang tidak
melakukan pemantauan terhadap pendapatan daerah berupa jasa giro serta memerintahkan kepada
Kepala BPKD agar berkoordinasi dengan bank-bank yang menarik PPh Pasal 23 atas pendapatan
jasa giro Pemerintah Kota Bima sebesar Rp82.582.171,00 dan menyetorkan ke Kas Daerah.

6. Penerimaan Biaya Pemungutan PBB TA 2007 dalam LRA kurang dicatat sebesar
Rp402.962.663,00 dan digunakan secara langsung tanpa melalui mekanisme APBD
Pada Tahun Anggaran 2007, Bidang Pendapatan pada BPKD Kota Bima mendapatkan
alokasi Biaya Pemungutan PBB melalui SPM BP PBB yang diterbitkan oleh KP PBB Raba Bima
dan SP2D yang diterbitkan oleh KPPN Raba-Bima dan ditransfer ke rekening BPKD Kota Bima
pada Bank BNI cabang Bima. Penelusuran atas penerimaan Dana Bagi Hasil PBB pada Laporan
Realisasi Anggaran Pemerintah Kota Bima TA 2007 diketahui bahwa penerimaan upah pungut
PBB tidak menjadi bagian dari pendapatan Dana Bagi Hasil PBB Kota Bima TA 2007. SPM BP
(Biaya Pemungutan) PBB yang diterbitkan oleh KP PBB Raba-Bima dan SP2D yang diterbitkan
oleh KPPN Raba-Bima tidak digunakan sebagai dasar pencatatan oleh Bidang Pendapatan
maupun Bidang Pengendalian yang melakukan pencatatan. Penelusuran lebih jauh atas realisasi
Biaya Pemungutan PBB menurut SPM BP PBB dan SP2D serta berdasarkan mutasi yang terdapat
pada rekening koran khusus Biaya Pemungutan (No.Rek.0053763211) menunjukkan bahwa pada
Tahun Anggaran 2007 terdapat penerimaan Biaya Pemungutan PBB sebesar Rp402.962.663,00
dengan rincian penerimaan sebagai berikut:
No.
1.

Tanggal
17 Jan 2007

2.

12 Sept 2007

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

Uraian
Setor trf
(NSPPD 020221F/071/114)
Setor trf
(N SPPD 334107G/071/114)

Mutasi (Rp)
149.516.641,00
3.772.378,00

33

3.

12 Sept 2007

4.

12 Sept 2007

5.

12 Sept 2007

6.

12 Sept 2007

7.

19 Sept 2007

8.

10 Okt 2007

9.

12 Nov 2007

10.

11 Des 2007

Setor trf
(N SPPD 334101G/071/114)
Setor trf
(N SPPD 334130G/071/114)
Setor trf
(N SPPD 334121G/071/114)
Setor trf
(N SPPD 334112G/071/114)
Setor trf
(N SPPD 334458G/071/114)
Setor trf
(N SPPD 335127G/071/114)
Setor trf
(N SPPD 335982G/071/114)
Setor trf (N SPPD
BPD Tgl 10/12/07 DN 4991)

5.287.440,00
2.729.572,00
2.309.371,00
77.750.949,00
79.246.241,00
2.222.232,00
76.724.424,00
3.403.415,00
402.962.663,00

Konfirmasi dengan Kepala Bidang Pendapatan BPKD Kota Bima diketahui bahwa pada
Tahun Anggaran 2007, Bidang Pendapatan tidak menganggarkan Biaya Pemungutan PBB baik
pada pendapatan maupun pada belanja. Penerimaan Biaya Pemungutan tersebut digunakan secara
langsung oleh Bidang Pendapatan untuk dana operasional pemungutan PBB dengan cara
dibagikan secara langsung kepada pihak yang terkait langsung dengan pemungutan PBB, yaitu
kepada lurah dan juru pungut dengan SPJ berupa kwitansi tanda terima.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada pasal 122 ayat (3) yang menyatakan bahwa
“Penerimaan SKPD dilarang digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran, kecuali
ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan”.
Kondisi tersebut mengakibatkan:
a. Realisasi penerimaan PBB dalam Laporan Realisasi Anggaran TA 2007 tidak menggambarkan
keadaan yang sebenarnya yaitu kurang dicatat sebesar Rp402.962.663,00.
b. Realisasi belanja biaya pemungutan PBB pada Laporan Realisasi Anggaran Tahun Anggaran
2007 kurang dicatat sebesar Rp402.962.663,00 dan pengeluaran tersebut tidak memiliki dasar
hukum.
Kondisi tersebut terjadi karena kelalaian Kepala BPKD Kota Bima yang tidak
menganggarkan Biaya Pemungutan PBB pada APBD Kota Bima TA 2007 sebagai Pendapatan
dan Belanja Upah Pungut.
Walikota Bima menyatakan bahwa penerimaan biaya pemungutan PBB TA 2007 pada
Bidang Pendapatan BPKD Kota Bima kurang dicatat dan digunakan secara langsung tanpa
melalui mekanisme APBD dapat dijelaskan bahwa biaya pemungutan PBB ditampung pada
rekening khusus biaya pemungutan PBB yang dipegang oleh bendahara PBB pada Bidang
Pendapatan sebagai kelanjutan dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Untuk penggunaan
yang tidak melalui mekanisme APBD karena biaya tersebut dianggap sebagai dana non budgeter
yang dapat digunakan secara langsung dan sebagai dasar belanja dan alokasinya hanya cukup
dengan SK Walikota.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

34

BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima untuk memberi sanksi kepada Kepala Bidang
Pendapatan yang tidak menganggarkan penerimaan dan belanja upah pungut PBB pada APBD
Pemerintah Kota Bima dan memerintahkan untuk selanjutnya menganggarkan penerimaan dan
belanja upah pungut PBB pada APBD Pemerintah Kota Bima.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

35

Lampiran 1
DAFTAR PENGESAHAN SPJ TA 2007 BERDASAR REGISTER LEMBAR PENGESAHAN SPJ
No

Nama SKPD

Tanggal Pengesahan atas Bulan SPJ
Verifkatur

Januari

Februari

Maret

Baharuddin

39
31 Agt 07
10
15-Jun-07
154
12-Nop-07

40
31 Agt 07
11
15-Jun-07
155
12-Nop-07

12
15-Jun-07
156
12-Nop-07

1

Walikota

2

DPRD

3

Sekretariat Kota

4

Sekretariat DPRD

Baharuddin

5

Bappeda

Baharuddin

6

BPKD

7

Dinas Dikbudpar

8

Bawasda

9

Dinas Kimpraswil

10 Dinas Tata Kota
11 Dinas Koperindag
12 Badan Kesbang Linmas
13 Dinas Kesehatan
14 Dinas Perhubungan

Misbah

H.Ibrahim
Sri Rahmatilah
Baharuddin
Yulianingsih
Sri Astuti
Sri Astuti
Yulianingsih
Iskurniatun
Indrawati
Asep

15 KBKS

Indrawati

16 Dinas Sosial

Indrawati

17 Pol PP

Baharuddin

18 Kantor Penguhubung

Asep

19 PM & P

Ainun

20 Dinas Pertanian

Ainun

April

Mei

Juni

Juli

02-Nop-07
42 / 2008
20-Feb-08
104
13-Sep-07
06
16 Agt 07
49
31 Agt 07
125
02-Nop-07
55
31 Agt 07
67
06-Sep-07
61
06-Sep-07
71
10-Sep-07
91
n/a
85
14-Sep-07
17
25-Jun-07
79
12-Sep-07
24
23 Agt 07
138
08-Nop-07

02-Nop-07
43 / 2008
20-Feb-08
170
03-Des-07
07
16 Agt 07
50
31 Agt 07
126
02-Nop-07
56
31 Agt 07
68
06-Sep-07
62
06-Sep-07
72
10-Sep-07
189
21-Jan-08
86
14-Sep-07
18
22 Agt 07
80
12-Sep-07
25
23 Agt 07
139
08-Nop-07

02-Nop-07

184
20-Jan-08
96
10-Sep-07

21 / 2008
11-Feb-08
105
13-Sep-07

31 Agt 07
87
n/a
81
14-Sep-07
13
20-Apr-07
75
12-Sep-07
20
23 Agt 07
05
16-Jul-07

02
10-Jul-07
46
31 Agt 07
122
02-Nop-07
52
31 Agt 07
64
06-Sep-07
58
06-Sep-07
44
31 Agt 07
88
n/a
82
14-Sep-07
14
20-Apr-07
76
12-Sep-07
21
23 Agt 07
08
16-Jul-07

03
10-Jul-07
47
31 Agt 07
123
02-Nop-07
53
31 Agt 07
65
06-Sep-07
59
06-Sep-07
69
10-Sep-07
89
n/a
83
14-Sep-07
15
20-Apr-07
77
12-Sep-07
22
23 Agt 07
09
16-Jul-07

02-Nop-07
157
12-Nop-07
103
13-Sep-07
04
10-Jul-07
48
31 Agt 07
124
02-Nop-07
54
31 Agt 07
66
06-Sep-07
60
06-Sep-07
70
10-Sep-07
90
n/a
84
14-Sep-07
16
25-Jun-07
78
12-Sep-07
23
23 Agt 07
137
08-Nop-07

41
31 Agt 07
92
10-Sep-07

42
31 Agt 07
93
10-Sep-07

43
31 Agt 07
94
10-Sep-07

183
20-Jan-08
95
10-Sep-07

01
10-Jul-07
45
31 Agt 07
121
02-Nop-07
51
31 Agt 07
63
06-Sep-07
57
06-Sep-07

Agustus

September

Oktober

Nopember

Desember

171
03-Des-07
146
08-Nop-07

203
03-Des-07
147
08-Nop-07

13 / 2008
01-Feb-08
172
03-Des-07

14 / 2008
08-Feb-08
173
03-Des-07

34 / 2008
08-Feb-08
197
27-Jan-08
39 / 2008
18-Feb-08

35 / 2008
08-Feb-08
46 / 2008
22-Feb-08
40 / 2008
18-Feb-08
104 / 2008
08-Apr-08

74
10-Sep-07
134
02-Nop-07
73
10-Sep-07
190
21-Jan-08
53 / 2008
11-Mar-07
19
22 Agt 07
148
12-Nop-07
26
23 Agt 07
140
08-Nop-07

102
12-Sep-07
135
08-Nop-07
200
15-Feb-08
191
21-Jan-08
55 / 2008
14-Apr-08
174
09-Des-07
149
12-Nop-07
151
12-Nop-07
27 / 2008
14-Feb-08

136
08-Nop-07
158
30-Nop-07
37 / 2008
15-Feb-08
192
21-Jan-08
56 / 2008
14-Apr-08
175
15-Des-07
150
12-Nop-07
152
12-Nop-07
28 / 2008
14-Feb-08

159 / 160
30-Nop-07
178
24-Des-07
15-Feb-08
193
21-Jan-08
57 / 2008
17-Apr-08
176
21-Des-07
169
03-Des-07
153
12-Nop-07
29 / 2008
14-Feb-08

202
01-Feb-08
179
04-Jan-08
38 / 2008
15-Feb-08
25 / 2008
14-Feb-08
58 / 2008
17-Apr-08
177
18-Des-07
51 / 2008
11-Mar-08
205
21-Feb-08
30 / 2008
14-Feb-08

03 / 54
11-Mar-08
41 / 2008
18-Feb-08
01 / 2008
29-Jan-08
26 / 2008
14-Feb-08
59/2008
17-Apr-08
194
16-Jan-08
52 / 2008
11-Mar-08
206
21-Feb-08
31 / 2008
14-Feb-08

22 / 2008
11-Feb-08
120
13-Sep-07

23 / 2008
11-Feb-08
06 / 2008
04-Feb-08

48 / 2008
03-Mar-08
07 / 2008
04-Feb-08

49 / 2008
03-Mar-08
08 / 2008
04-Feb-08

50 / 2008
03-Mar-08
24 / 2008
11-Feb-08

72 / 2008
10-Mar-08
73 / 2008
07-Apr-08

No

Nama SKPD

Tanggal Pengesahan atas Bulan SPJ
Verifkatur

21 Dinas Kehutanan
22 Pelayanan Terpadu
23 Dinas Perikanan

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

Nopember

Desember

27
26 Agt 07

28
26 Agt 07

29
26 Agt 07

30
26 Agt 07

31
26 Agt 07

32
29 Agt 07

185
20-Jan-08

186
20-Jan-08

187
20-Jan-08

195
27-Jan-08

33
29 Agt 07
118
14-Sep-07
112
14-Sep-07
106
14-Sep-07

34
29 Agt 07
119
14-Sep-07
113
14-Sep-07
107
14-Sep-07

35
29 Agt 07
141
08-Nop-07
114
14-Sep-07
108
14-Sep-07

36
29 Agt 07
142
08-Nop-07
115
14-Sep-07
109
14-Sep-07

37
29 Agt 07
143
08-Nop-07
116
14-Sep-07
110
14-Sep-07

38
29 Agt 07
144
08-Nop-07
117
14-Sep-07
111
14-Sep-07

60 / 2008
14-Mar-08
167
30-Nop-07
164
30-Nop-07
161
30-Nop-07

61 / 2008
14-Mar-08
180
04-Jan-08
165
30-Nop-07
162
30-Nop-07

62 / 2008
14-Mar-08
181
04-Jan-08
166
30-Nop-07
163
30-Nop-07

63 / 2008
14-Mar-08
182
04-Jan-08
18 / 2008
08-Feb-08
188
20-Jan-08

196
27-Jan-08
201
01-Feb-08
64 / 2008
14-Mar-08
32 / 2008
14-Feb-08
19 / 2008
08-Feb-08
198
27-Jan-08

09 / 2008
08-Feb-08
02 / 2008
01-Feb-08
65 / 2008
14-Mar-08
33 / 2008
14-Feb-08
20 / 2008
08-Feb-08
11 / 2008
08-Feb-08
199
27-Jan-08

Yulianingsih
Ainun

24 kecamatan Rasanae Barat

Baharuddin

25 Kecamatan Rasanae Timur

Baharuddin

26 Kecamatan Asakota

Baharuddin

27 Kecamatan Mpunda

Baharuddin

belum berdiri

keterangan :
1. Data pada tabel menunjukkan nomor dan tanggal pengesahan SPJ Fungsional
2. Kolom kosong menunjukkan pengesahan SPJ yang tidak tercatat pada Buku Register lembar pengesahan SPJ.

REKAP BELANJA

Lampiran 2

PER 31 DESEMBER 2007

NO

Unit Kerja

Unit Kerja

Anggaran

SP2D LS GAJI
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

DPRD

Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung

WALIKOTA DAN
WAKIL
WALIKOTA
Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung
SEKRETARIAT
KOTA
Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung
SEKRETARIAT
DPRD
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
BPKD
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
BAPPEDA
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
BAWASKOTA
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
KESBANGLINM
AS
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
KEC. ASAKOTA Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
KEC. RASANAE
BARAT
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
KEC. RASANAE
TIMUR
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
KPT
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
POL PP
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok

Realisasi
Menurut BKU
Bend.
Pengeluaran

Realisasi Menurut Pengesahan SPJ

Realisasi Menurut
LRA Sistem

SP2D LS BRG
JASA

UP/GU/TU

TOTAL SPJ

TOTAL
PENGELUARAN

PAJAK

4.082.974.680
4.082.974.680

4.021.554.675
4.021.554.675

-

0,00

-

-

683.825.918
683.825.918

464.296.136
464.296.136

-

0,00

-

-

47.603.637.074
43.465.774.061
4.137.863.013

34.763.679.208
31.063.622.347
3.700.056.861

-

0,00

-

31.855.258.136
-

6.787.898.078
5.913.981.200
5 913 981 200
873.916.878
12.546.932.837
7.610.537.450
4.936.395.387
4.605.639.679
3.527.274.650
1.078.365.029
2.805.520.457
1.829.128.150
976.392.307

6.109.224.987
5.380.057.900
5
380 057 900
729.167.087
35.589.041.752
7.108.980.550
28.480.061.202
2.935.889.967
1.937.612.392
998.277.575
2.664.129.341
1.718.554.510
945.574.831

5.578.368.353,00
40.969.192.686
2.190.491.903
2.655.214.356
-

1.633.974.087
899.906.100
734.067.987
1.215.971.344
231.960.944
984.010.400

1.593.316.568
885.408.300
707.908.268
1.147.889.136
217.582.480
930.306.656

2.486.634.751
247.075.066
2.239.559.685

2.373.824.385
204.540.900
2.169.283.485

371.028.095

3.748.154.187
367.857.708
3.380.296.479
699.521.961
230.034.900
469.487.061
2.078.906.723
1.002.377.600

2.948.541.029
302.050.284
2.646.490.745
613.282.196
186.175.000
427.107.196
1.688.062.583
884.903.200

283.601.490

0,00

22.850.578.713

769.005.149

0,00

13.100.824.291

0

5.458.057.900

5.458.057.900,00

120.310.454,00

5.578.368.354,00

3.360.372.719,00

39.311.775.723,00

1.657.416.963

40.969.192.686

2.056.376.347,00

2.825.381.496,00

134.115.556,00

2.959.497.052

703.016.700

238.347.000

1.655.007.510,00

2.596.371.210,00

58.843.146,00

2.655.214.356

612.586.412

431.787.900

545.033.700

1.589.408.012,00

61.888.710,00

1.651.296.722

83.500.000,00

32.846.000,00

184.794.337,00

301.140.337,00

18.638.671,00

319.779.008

396.740.900

767.768.995,00

26.750.000,00

241.998.794,00

552.350.284,00

0,00

81.920.000,00

144.649.146,00

226.569.146,00

0,00

226.569.146

0,00

37.000.000

803.975.200

840.975.200,00

0,00

840.975.200

0

0,00

47.323.802,00

1.036.523.310
319.721.151
-

767.768.995

396.740.900
-

599.674.086

594.199.086
226.569.146
918.120.200
-

NO

Unit Kerja

Unit Kerja

Anggaran

Realisasi Menurut Pengesahan SPJ

Realisasi Menurut
LRA Sistem
SP2D LS GAJI

14

KANTOR PMP
ok

15

KANTOR
PENGHUBUNG
OK

16

17

18

19

20

21

22

23

24

26

DINAS
PERTANIAN
ok

Belanja Tidak Langsung
Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung

1.076.529.123
1.362.774.271
951.840.050
410.934.221

803.159.383
1.075.240.417
700.073.300
375.167.117

Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung

426.430.237
383.030.000
43.400.237

433.672.197
408.834.903
24.837.294

Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung

5.702.437.305
3.596.275.750
2.106.161.555

3.767.267.718
1.918.364.000
1.848.903.718

89.080.000

4.459.165.050
3.356.290.000
1.102.875.050

3.065.851.183
2.007.651.417
1.058.199.766

2.586.932.134
1.282.902.960
1.304.029.174

DINAS
PERIKANAN
DAN KELAUTAN Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
DINAS
KEHUTANAN,
KEHUTANAN
PERKEBUNAN
DAN LH
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
DINAS
KOPERASI
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
DINAS
KESEHATAN
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
DINAS
PENDIDIKAN
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
DINAS SOSIAL Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
DINAS
KIMPRASWIL
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
DINAS
TATAKOTA
Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok
Belanja Tidak Langsung
DINAS
PERHUBUNGAN Belanja Daerah
Belanja Langsung
ok

90.346.000

0,00

SP2D LS BRG
JASA

UP/GU/TU

355.332.450

0,00

290794350,00

TOTAL SPJ
736.472.800,00

TOTAL
PENGELUARAN

PAJAK
0,00

736.472.800

Realisasi
Menurut BKU
Bend.
Pengeluaran
916.776.838
-

419.834.903,00

419.834.903,00

15.021.596

434.856.499

-

2.364.533.387,00

387.679.500,00

2.841.292.887,00

140.578.087

2.981.870.974

2.981.870.974
-

140.400.000,00

2.934.760.793,00

391.562.789,00

3.466.723.582,00

226.490.805,00

3.693.214.387

3.811.333.442
-

2.078.866.632
867.058.749
1.211.807.883

770.230.063

788.500.000

280.616.400

1.839.346.463,00

110.108.456,00

1.949.454.919

1.274.285.131
-

2.174.127.691
1.191.339.840
982.787.851

1.589.533.003
661.656.127
927.876.876

721.739.935

180.319.879

623.342.642,00

1.525.402.456,00

55.791.053,00

1.581.193.509

819.110.677
-

16.193.357.226
9.901.736.487
6.291.620.739

13.214.309.152
7.185.151.054
6.029.158.098

133.200.000

9.790.633.883,00

672.252.287,00

10.596.086.170,00

554.752.988,00

11.150.839.158

10.596.086.170
-

89.145.996.775
16.112.931.125
73.033.065.650
1.529.487.505
588.232.357
941.255.148

74.208.464.144
5.879.167.400
68.329.296.744
1.232.242.693
366.116.939
866.125.754

2.532.200.000

10.127.977.000

2.333.768.400

14.993.945.400,00

14.993.945.400

126.000.000,00

82.599.000,00

283.517.939,00

492.116.939,00

15.025.676.362
526.409.227
-

30.815.268.180
29.335.461.500
1.479.806.680

12.256.134.814
10.892.619.750
1.363.515.064

489.600.000

11.089.974.580

568.013.410

12.147.587.990,00

5.259.832.431
3.666.585.800
1.593.246.631

3.405.374.182
2.133.564.770
1.271.809.412

910.371.000

0

1.350.871.758,00

2.261.242.758,00

3.768.972.439
2.323.491.300

2.610.771.775
1.371.806.910

138.100.000

301799750

1.072.507.160,00

1.512.406.910,00

0,00

32.115.408,00

0,00

524.232.347

12.147.587.990

14.482.570.228
2.319.036.059
-

71.273.520,00

1.583.680.430

1.583.680.430
-

NO

Unit Kerja

Unit Kerja

Anggaran

Realisasi Menurut Pengesahan SPJ

Realisasi Menurut
LRA Sistem
SP2D LS GAJI

27

KEC RABA
ok

28

KBKS
ok

29

KEC. MPUNDA
ok

30

PPKD
ok

Belanja Tidak Langsung
Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung
Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung
Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung
Belanja Daerah
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung

TOTAL REKAP BELANJA
RINGKASAN LRA

1.445.481.139
20.000.000
20.000.000
1.126.847.557
426.091.700
700.755.857
20.000.000
20.000.000
20.430.702.000
20.430.702.000

1.238.964.865
18.588.775
18.588.775
1.060.839.241
346.237.486
714.601.755
18.536.150
18.536.150
31.837.000
31.837.000

276.001.922.577
276.001.922.577

216.980.261.039
216.980.261.039

645.233.269

SP2D LS BRG
JASA

116.000.000

UP/GU/TU

TOTAL SPJ

TOTAL
PENGELUARAN

PAJAK

18.588.775

18.588.775,00

0,00

289.368.275

1.050.601.544,00

18.536.150

18.536.150,00

0,00

18.536.150

18.536.150

18.536.150,00

0,00

18.536.150

23.848.261.291

108.389.984.030

21.130.789

18.588.775

1.071.732.333

-

32.459.816.826

52.081.905.913

3.325.800.004

109.454.541.276

Realisasi
Menurut BKU
Bend.
Pengeluaran
18.588.775
391.433.557
18.536.150
18.536.150
141.505.793.247

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
ATAS
KEPATUHAN TERHADAP
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH KOTA BIMA
TAHUN ANGGARAN 2007

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA VI
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

No

:

200.C/S/XIX.MTR/10/2008

Tanggal

:

27 Oktober 2008

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI

i

RESUME LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN
LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH TAHUN ANGGARAN 2007

1

HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN

6

1.

Pencairan Rekening Kas Daerah Kota Bima sebesar Rp5.132.980.519,00 pada PT.
BRI (Persero) Tbk Cab. Raba-Bima tanpa melalui mekanisme APBD dan tidak
dipertanggungjawabkan.

6

2.

Rekening DAU sebesar Rp5.000.000.000,00 dan Rekening DAK sebesar
Rp3.000.000.000,00 diagunkan Walikota Bima untuk menjamin kredit pihak ketiga
dan diblokir oleh PT. BRI (Persero) Tbk Cab. Raba Bima.

9

3.

Pencairan Rekening Kas Daerah Kota Bima sebesar Rp6.894.000.000,00 dilakukan
oleh pihak yang tidak berwenang dan tidak dipertanggungjawabkan.

12

4.

Penerimaan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) pada Bidang Pendapatan BPKD Kota Bima
digunakan langsung untuk pengeluaran sebesar Rp90.152.085,00 dan belum disetor ke
kas daerah sampai dengan 31 Desember 2007 sebesar Rp44.789.840,00.

14

5.

Penunjukan 3 (tiga) bank umum sebagai tempat penyimpanan uang milik Pemerintah
Kota Bima dengan saldo per 31 Desember 2007 sebesar Rp30.028.086.151,43 tidak
ditetapkan dengan Surat Keputusan Walikota dan tidak diberitahukan kepada DPRD
serta Pembukaan dan Pengoperasian 36 rekening Kas Daerah tidak diatur dengan
Peraturan Walikota.

15

6

Pengeluaran Kas dari Kas Daerah TA 2007 sebesar Rp1.571.233.500,00 yang
dianggap sebagai panjar tidak sesuai ketentuan.

18

7.

Aliran Kas sebesar Rp3.000.000.000,00 Tidak Jelas Statusnya dan Setoran Pemerintah
Kota Bima pada PT BRI (Persero) cabang Bima sebesar Rp3.130.000.000,00 Tidak
Tercatat sebagai Penyetoran dalam Rekening Koran Pemerintah Kota Bima.

22

8.

Pencairan deposito sebesar Rp1.000.000.000,00 pada Bank NTB tidak disetor ke kas
daerah dan bunga deposito disimpan di rekening tabungan atas nama pribadi dengan
saldo per 31 Desember 2007 sebesar Rp100.758.074,00.

24

9.

Pengeluaran Kas Daerah pada Sekretariat Daerah sebesar Rp1.100.000.000,00 Tidak
Sah dan Sisa Kas di BPKD sebesar Rp499.866.558,00 tidak diketahui
pertanggungjawabannya.

26

10.

Pengeluaran Kas sebesar Rp300.000.000,00 untuk Pembangunan Pusat Jajan Serba
Ada Kota Bima Tidak Sah.

29

11.

Penyertaan Modal Pemerintah Kota Bima Tidak Sesuai Ketentuan.

31

i

12.

Pemberian Bantuan Ekonomi Mikro kurang diterima oleh penerima bantuan sebesar
Rp800.000.000,00.

35

13.

Penerimaan Insentif PBB sebesar Rp1.838.463.000,00 dibagikan tidak melalui
mekanisme pengelolaan APBD serta sebesar Rp1.327.168.949,00 diantaranya
dibagikan kepada yang tidak berhak menerima.

39

14.

Pengelolaan Investasi Dana Bergulir pada Pemerintah Kota Bima Tidak Sesuai
Ketentuan.

41

15

Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tidak sesuai
ketentuan sebesar Rp.107.812.734,02.

45

16.

Pencairan dan Pengelolaan rekening DAK Pemerintah Kota Bima TA 2007 tidak
sesuai ketentuan.
Penggunaan Uang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) TA 2007 untuk Kepentingan
Pribadi oleh Bendahara Pengeluaran Kantor Penghubung dan Kantor Satuan Polisi
Pamong Praja Tidak Sesuai Ketentuan

47

17.

Lampiran :
1. Rincian Penerima Pembagian Insentif PBB BPKD Pemerintah Kota Bima TA 2007

ii

51

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS
KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggungjawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa
Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) telah memeriksa Neraca
Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan
Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Untuk memperoleh keyakinan memadai, apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh BPK RI mengharuskan BPK RI
melaksanakan pengujian atas kepatuhan Pemerintah Kota Bima terhadap peraturan perundang-undangan.
Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan merupakan tanggung jawab Pemerintah Kota Bima.
Namun, tujuan pemeriksaan BPK RI atas laporan keuangan tidak untuk menyatakan pendapat atas
keseluruhan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan tersebut. Oleh karena itu, BPK RI tidak
menyatakan suatu pendapat seperti itu.
Selain itu, peraturan perundang-undangan dan SPKN mengharuskan BPK RI untuk melaporkan kepada
pihak berwenang, apabila dalam melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan ditemukan kecurangan
dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang berindikasi unsur tindak pidana.
Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dalam pelaporan keuangan
yang ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut:
1. Pencairan Rekening Kas Daerah Kota Bima sebesar Rp5.132.980.519,00 pada PT. BRI (Persero) Tbk
Cab. Raba-Bima tanpa melalui mekanisme APBD dan tidak dipertanggungjawabkan.
2. Rekening DAU sebesar Rp5.000.000.000,00 dan Rekening DAK sebesar Rp3.000.000.000,00
diagunkan Walikota Bima untuk menjamin kredit pihak ketiga dan diblokir oleh PT. BRI (Persero)
Tbk Cab. Raba Bima.
3. Pencairan Rekening Kas Daerah Kota Bima sebesar Rp6.894.000.000,00 dilakukan oleh pihak yang
tidak berwenang dan tidak dipertanggungjawabkan.
4. Penerimaan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) pada Bidang Pendapatan BPKD Kota Bima digunakan
langsung untuk pengeluaran sebesar Rp90.152.085,00 dan belum disetor ke kas daerah sampai dengan
31 Desember 2007 sebesar Rp44.789.840,00.
5. Penunjukan 3 (tiga) bank umum sebagai tempat penyimpanan uang milik Pemerintah Kota Bima
dengan saldo per 31 Desember 2007 sebesar Rp30.028.086.151,43 tidak ditetapkan dengan Surat
Keputusan Walikota dan tidak diberitahukan kepada DPRD serta Pembukaan dan Pengoperasian 36
rekening Kas Daerah tidak diatur dengan Peraturan Walikota.
6. Pengeluaran Kas dari Kas Daerah TA 2007 sebesar Rp1.571.233.500,00 yang dianggap sebagai panjar
tidak sesuai ketentuan.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

1

7. Aliran Kas sebesar Rp3.000.000.000,00 Tidak Jelas Statusnya dan Setoran Pemerintah Kota Bima
pada PT BRI (Persero) cabang Bima sebesar Rp3.130.000.000,00 Tidak Tercatat sebagai Penyetoran
dalam Rekening Koran Pemerintah Kota Bima.
8. Pencairan deposito sebesar Rp1.000.000.000,00 pada Bank NTB tidak disetor ke kas daerah dan bunga
deposito disimpan di rekening tabungan atas nama pribadi dengan saldo per 31 Desember 2007
sebesar Rp100.758.074,00.
9. Pengeluaran Kas Daerah pada Sekretariat Daerah sebesar Rp1.100.000.000,00 Tidak Sah dan Sisa Kas
di BPKD sebesar Rp499.866.558,00 tidak diketahui pertanggungjawabannya.
10. Pengeluaran Kas sebesar Rp300.000.000,00 untuk Pembangunan Pusat Jajan Serba Ada Kota Bima
Tidak Sah.
11. Penyertaan Modal Pemerintah Kota Bima Tidak Sesuai Ketentuan.
12. Pemberian Bantuan Ekonomi Mikro kurang diterima oleh penerima bantuan sebesar
Rp800.000.000,00.
13. Penerimaan Insentif PBB sebesar Rp1.838.463.000,00 dibagikan tidak melalui mekanisme
pengelolaan APBD serta sebesar Rp1.327.168.949,00 diantaranya dibagikan kepada yang tidak berhak
menerima.
14. Pengelolaan Investasi Dana Bergulir pada Pemerintah Kota Bima Tidak Sesuai Ketentuan.
15. Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tidak sesuai ketentuan sebesar
Rp.107.812.734,02.
16. Pencairan dan Pengelolaan rekening DAK Pemerintah Kota Bima TA 2007 tidak sesuai ketentuan.
17. Penggunaan Uang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) TA 2007 untuk Kepentingan Pribadi oleh
Bendahara Pengeluaran Kantor Penghubung dan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Tidak Sesuai
Ketentuan.
Berdasarkan temuan tersebut, BPK RI merekomendasikan Walikota Bima agar:
1. Melaporkan kepada aparat penegak hukum tentang indikasi pemalsuan tanda tangan dan untuk
memperjelas status dana Kas Daerah sebesar Rp5.132.980.519,00 dalam upaya mengembalikan dana
tersebut ke kas daerah.
2. Mengambil langkah hukum terkait dengan dana Pemerintah Kota Bima yang masih diblokir oleh BRI
Cabang Bima dan mengupayakan pengembalian dana tersebut ke kas daerah.
3. Mengembalikan dana sebesar Rp6.894.000.000,00 yang telah dikeluarkan tanpa melalui BUD
tersebut ke kas daerah.
4. a. Memberikan sanksi kepada Kepala Bidang Pendapatan yang tidak menyetorkan pendapatan PPJ
bulan Desember 2007 ke kas daerah tepat waktu dan memerintahkan untuk selanjutnya agar
menyetorkan pendapatan PPJ setiap bulan secara tepat waktu.
b. Merevisi perjanjian dengan PLN cabang Bima dengan menghilangkan klausul mengenai mekanisme
penggunaan/pemotongan langsung pendapatan PPJ untuk pembayaran listrik Pemda.
5. a. Memberikan sanksi bagi Kepala BPKD selaku BUD TA 2007 karena tidak membuat perjanjian
antara Pemerintah Kota Bima dengan bank yang ditunjuk sebagai tempat penyimpan uang daerah
dan selanjutnya memerintahkan kepada BUD TA 2008 agar membuat perjanjian antara Pemerintah
Kota Bima dengan bank yang ditunjuk sebagai tempat penyimpan uang daerah.
b. Dalam menetapkan bank sebagai tempat penyimpanan kas daerah, ditetapkan berdasar SK Walikota
dan diberitahukan kepada DPRD dan membuat Peraturan Walikota yang mengatur pembukaan dan
pengoperasian rekening penerimaan dan pengeluaran serta menertibkan rekening kas daerah yang
tidak digunakan lagi.
6. a. Mengembalikan panjar yang diterima sebesar Rp835.000.000,00 ke kas daerah;
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

2

b. Memerintahkan kepada Y. Titi Handoyo untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp25.316.000,00 ke Kas Daerah;
c. Memerintahkan kepada Zainal Arifin untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp4.500.000,00 ke Kas Daerah;
d. Memerintahkan kepada Abdul Hamid untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp3.478.200,00 ke Kas Daerah;
e. Memerintahkan kepada Kuasa BUD TA 2007 (Taufikurrahman, S.Sos) untuk mengembalikan
panjar yang diterima sebesar Rp72.939.300,00 ke Kas Daerah;
f. Memerintahkan kepada H. Ridwan Mustakim untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp100.000.000,00 ke Kas Daerah;
g. Memerintahkan kepada Sakura H. Abidin untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp500.000.000,00 ke Kas Daerah.
7. a. Menempuh langkah hukum untuk memperjelas status kepemilikan mutasi setoran penerimaan pada
rekening koran Pemerintah Kota Bima sebesar Rp6.130.000.000,00.
b. Memberikan sanksi kepada BUD dan Kuasa BUD TA 2006 dan 2007 yang tidak melakukan
rekonsiliasi dan pemantauan pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank.
8. a. Menarik kerugian daerah atas pencairan deposito sebesar Rp1.000.000.000,00 untuk selanjutnya
disetor ke kas daerah;
b. Menarik dan memindahkan dana yang terdapat dalam rekening tabungan BNI nomor rekening
12061952-5 atas nama M. Djalil AR,MM, Drs ke kas daerah;
c. Memerintahkan Inspektorat Kota untuk menelusuri aliran dana pada saat deposito dibuka Tahun
2005 s.d.2007 dan hasilnya diberitahukan ke BPK RI.
9. a. Mengembalikan dana yang telah dikeluarkan secara tidak sah sebesar Rp1.100.000.000,00 ke Kas
Daerah.
b. Memberikan sanksi bagi Kuasa BUD TA 2007 Taufikurrahman, S.Sos dan Bendahara Pengeluaran
Sekretariat Daerah TA 2007 Samsuddin, S.Sos atas kelalaiannya mengeluarkan uang dari Kas
Daerah dan Kas Bendahara Pengeluaran tidak sesuai peraturan perundangan.
c. Memberikan sanksi bagi Kepala BPKD Kota Bima atas kelalaiannya dalam melaksanakan tugas
sebagai Pengguna Anggaran dan Atasan Langsung Bendaharawan untuk mengawasi kinerja
Bendahara Pengeluaran dan selanjutnya memerintahkan Kepala BPKD Kota Bima untuk menyetor
kembali sisa kas di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp499.866.558,00 ke Kas Daerah.
10. a. Mengembalikan dana pembangunan pujasera yang telah dikeluarkan secara tidak sah sebesar
Rp300.000.000,00 ke Kas Daerah.
b. Memberikan sanksi bagi Kuasa BUD TA 2007 dan Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA
2007 atas kelalaiannya mengeluarkan uang dari Kas Daerah dan Kas Bendahara Pengeluaran tidak
sesuai peraturan perundangan.
c. Memberikan sanksi bagi Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah TA 2007 dan Bendahara
Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007 atas kesengajaannya membuat pertanggungjawaban fiktif
atas pekerjaan pembangunan Pujasera.
11. a. Menertibkan semua penyertaan modal Pemerintah untuk ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
b. Menarik kerugian daerah atas investasi pada PT Bima Palapa Sumber Energi sebesar
Rp500.000.000,00 dan menyetorkan ke kas daerah.
c. Mengembalikan dana penyertaan modal Pemerintah Kota Bima pada KPN Kasabua Ade yang telah
digunakan tidak sesuai peruntukannya sebesar Rp100.000.000,00 ke Kas Daerah.
d. Memberikan sanksi bagi Kepala Bagian Ekonomi TA 2005 Drs. Tajudin Umar yang tidak
menyerahkan uang sebesar Rp100.000.000,00 sesuai peruntukannya.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

3

e. Memberikan sanksi bagi Kepala Sub Bagian Penanaman Modal Firmansyah, S.Sos, MAP., dan
Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah TA 2008 Drs. H. Idrus H. Idris, SH, MH yang
menggunakan langsung uang laba atas penyertaan modal Pemerintah Kota Bima dan selanjutnya
memerintahkan untuk menyetorkan kembali SHU sebesar Rp2.510.000,00 ke Kas Daerah.
12. a. Mengembalikan dana bantuan ekonomi mikro yang tidak disalurkan sesuai peruntukkannya sebesar
Rp800.000.000,00 ke Kas Daerah.
b. Memberikan sanksi kepada Kepala Bagian Ekonomi sebagai Wakil Pemerintah Kota Bima yang
tidak melakukan pemantauan atas pencairan dana bantuan nutrisi tersebut.
c. Memberikan sanksi kepada Kuasa BUD TA 2007 Taufikurrahman, S.Sos dan Bendahara
Pengeluaran BPKD TA 2007 A. Khairil yang mengeluarkan uang dari Kas Daerah dan Kas
Bendahara Pengeluaran tidak sesuai peraturan perundangan.
13. Menarik dana insentif APBD yang dibagikan kepada yang tidak berhak menerima sebesar
Rp1.327.168.949,00 dan menyetorkannya ke kas daerah.
14. a. Memberikan sanksi kepada Kepala Dinas Koperindag dan Kepala Bagian Ekonomi atas
kelalaiannya dalam melaksanakan tugasnya mengijinkan penggunaan dana hasil investasi tidak
berpedoman dengan ketentuan yang berlaku.
b. Memerintahkan kepada Kepala Dinas Koperindag dan Kepala Bagian Ekonomi untuk menyetorkan
kembali dana yang telah digunakan tidak sesuai ketentuan yang berlaku sebesar Rp55.828.000,00
(Rp38.878.000,00 + Rp16.400.000,00 + Rp550.000,00) ke Kas Daerah.
c. Memberikan sanksi bagi Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan atas
kelalaiannya dalam melaksanakan tugasnya mengelola bunga hasil investasi tidak berpedoman
dengan ketentuan yang berlaku.
d. Memerintahkan kepada Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan untuk
menyetorkan kembali bunga hasil investasi sebesar Rp23.477.000,00 (Rp9.165.000,00 +
Rp14.312.000,00).
e. Menetapkan peraturan yang mengatur tata cara penyaluran dana bergulir, pengembalian serta
penyetoran kembali ke Kas Daerah.
15. Memberikan sanksi kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Bima yang tidak
melakukan penyesuaian anggaran sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 109 tahun 2000 dan
Keputusan Gubernur NTB No.39A Tahun 2007 serta menyetorkan kelebihan realisasi Biaya
Penunjang Operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sebesar Rp107.812.734,02 ke kas
daerah.
16. a. Memberikan sanksi atas kesengajaan Kepala BPKD selaku PPK dan Kepala Bidang Anggaran
selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Penanda Tangan SPM yang membuat dokumentasi proforma
untuk pencairan Dana DAK.
b. Memberikan sanksi atas kesengajaan Kepala BPKD Kota Bima dan Kuasa BUD TA 2007 yang
memerintahkan bendahara SKPD untuk membuka rekening giro penampungan DAK.
c. Memerintahkan kepada seluruh bendahara SKPD menutup rekening giro penampungan dan di
masa mendatang tidak membuka rekening penampungan.
17.a Memerintahkan Kepala Bawasda / Inspektorat Daerah untuk menelusuri besaran pajak yang
digunakan oleh Bendahara Arisman dan Ikhsan, apabila ditemukan besaran lebih dari
Rp20.439.763,00 (Rp5.439.763,00 + Rp15.000.000,00) maka ditetapkan kurang bayar atas Pajak.
b. Memberikan sanksi atas Kelalaian Kepala Kantor Penghubung dan Kantor Satpol PP yang kurang
melakukan pengawasan atas pengelolaan uang PFK.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

4

c. Memerintahkan Bendahara Pengeluran TA 2007 Kantor Penghubung a.n Arisman Indah dan
Kantor Satpol PP a.n. Ikhsan ADT segera menyetor uang PFK ke Kas Negara yang telah digunakan
menunggu hasil penelusuran Bawasda.
Secara lebih rinci dijelaskan pada bagian Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan.

Mataram, 20 September 2008
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan BPK RI di Mataram
Penanggung Jawab Pemeriksaan,

B. Suharyanto, S.E., MSi., Ak.
Akuntan, Register Negara No. D-21.299
 

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

5

HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN

1.

Pencairan Rekening Kas Daerah Kota Bima sebesar Rp5.132.980.519,00 pada PT. BRI
(Persero) Tbk Cab. Raba-Bima tanpa melalui mekanisme APBD dan tidak
dipertanggungjawabkan
Pemeriksaan terhadap pencairan dana pada Rekening Kas Daerah Kota Bima dengan
membandingkan antara potongan cek (bonggol cek) yang ada pada Kuasa Bendahara Umum Daerah
(BUD) Kota Bima dan rekening koran dari masing-masing bank, diketahui terdapat pencairan uang
pada rekening untuk menampung penerimaan Dana Alokasi Umum (DAU) pada PT. BRI (Persero)
Tbk Cab. Raba-Bima dengan rekening nomor 00000079-01-000262-30-4 a.n. Pemerintah Kota Bima
cq. HM Nur A. Latif dengan menggunakan kwitansi/slip penarikan sebesar Rp4.571.980.519,00 serta
pada rekening untuk menampung penerimaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Sektor Lingkungan
Hidup dengan nomor 00000079-01-000363-30-4 a.n. Pemkot Bima qq DAK Lingkungan Hidup
sebesar Rp561.000.000,00 dengan rincian sebagai berikut:
No

Tanggal

Uraian Rekening Koran

Jumlah (Rp)

Tanda Tangan
Kwitansi

00000079-01-000262-30-4
204.410.701,00

-

Atpn1104031405041208

5.630.818,00

-

15 Feb 2007

Atpn1511130215030701

28.154.091,00

-

4

15 Feb 2007

Atpn0510091415030303

28.154.091,00

-

5

15 Feb 2007

Atpn1110061415020306

5.630.818,00

-

7

21 Feb 2007

CA Cash withdrawal

1.500.000.000,00

H.M. Yusuf

8

22 Feb 2007

Ogie S

2.800.000.000,00

H.M. Yusuf

Sub Jumlah

4.571.980.519,00

1

9 Jan 2007

2

15 Feb 2007

3

CA Overbooking

00000079-01-000363-30-4
9

12 Mar 2007

Alokasi khusus sektor pertanian

561.000.000,00

Sub Jumlah

561.000.000,00

H.M. Yusuf

Jumlah
5.132.980.519,00
Keterangan: Mutasi debit no.1 s.d. 5 di atas merupakan transaksi berdasarkan mutasi di rekening koran dan
bukan merupakan pendebitan dengan menggunakan kwitansi.

Konfirmasi atas permasalahan tersebut dengan Kepala BPKD Kota Bima selaku BUD Kota
Bima diketahui bahwa berdasarkan bukti yang diperoleh dari BRI, pencairan dana tersebut hanya
berdasarkan kwitansi penarikan uang dari PT. BRI (Persero) Tbk Cab. Raba-Bima, tanpa
menggunakan cek resmi yang ditandatangani oleh BUD/Kuasa BUD Kota Bima. Untuk pencairan
dana tanggal 21 Februari 2007 sebesar Rpj1.500.000.000,00 uraiannya pada kwitansi adalah
pencairan rekening Pemerintah Kota Bima untuk kegiatan Bantuan Sosial Kemasyarakatan bulan
Februari 2007 dan Pembayaran Gaji Anggota DPRD Kota Bima, dimana dana tersebut diterima oleh
Kuasa BKD Kota Bima atas nama H M Yusuf, dan pencairan dana tanggal 22 Februari 2007 sebesar
Rp2.800.000.000,00 uraiannya adalah pencairan rekening giro Pemerintah Kota Bima untuk
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

6

pembayaran proyek-proyek Pemkot Tahun Anggaran 2007, dengan hanya tandatangan (menyerupai
tandatangan pencairan dana tanggal 21 Pebruari 2007) tanpa mencantumkan nama yang menerima
uang. Sedangkan pencairan dana tanggal 12 Maret 2007 sebesar Rp561.000.000,00 uraiannya adalah
pencairan rekening giro Pemerintah Kota Bima tanggal 12 Maret 2007 untuk kegiatan Alokasi
Khusus Sektor Pertanian dengan tanda tangan menyerupai pencairan tanggal 21 Februari 2007, akan
tetapi konfirmasi pada Drs. H.M. Yusuf Ahmad menunjukkan bahwa yang bersangkutan lupa pernah
menandatangani kwitansi tersebut atau tidak. Sedangkan selain empat transaksi diatas tidak dapat
dijelaskan oleh Kepala BPKD.
Atas permasalahan tersebut, maka pada tanggal 23 Juli 2007, Drs. H.M. Yusuf Ahmad,
selaku Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah Kota Bima dengan Surat Nomor
973/140/BPKD/2007 menyampaikan Sanggahan/Bantahan/Keberatan atas Pencairan Dana Pemkot
Bima tersebut kepada Pimpinan PT. BRI (Persero) Tbk Cabang Raba-Bima yang isinya :
a. Selaku Kepala BPKD atas nama Pemerintah Kota Bima maupun atas nama pribadi tidak pernah
mengeluarkan uang milik Pemerintah Kota Bima dengan menggunakan kwitansi dari PT. BRI
Cabang Bima seperti dilakukan pada tanggal 21 dan 22 Peberuari 2007 tersebut.
b. Adanya tanda bukti (kwitansi) tersebut dengan mencantumkan tandatangan kami secara tegas
sangat keberatan karena pencantuman tanda tangan tersebut adalah palsu dan atau dipalsukan
serta tidak dikenal sebutan “Kuasa BKD”, yang ada adalah “Kuasa BUD”.
c. Jika permasalahan ini tidak segera diselesaikan, selaku Kepala BPKD Kota Bima atas nama
Pemerintah Kota Bima dan atas nama pribadi akan segera melapor kepada pihak yang berwajib
untuk diproses secara hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Atas sanggahan tersebut menurut Kepala BPKD Kota Bima, pihak BRI menjawab surat tersebut
dengan Surat Nomor R.267/KW-XI/LO/07/2007 tanggal 30 Juli 2007dan menyatakan bahwa akan
melakukan penelusuran dan penelitian atas keberatan tersebut dan berdasar hasil penelusuran dan
penelitian tersebut, baru akan dijawab keberatan yang diajukan. Kepala BPKD Kota Bima kembali
mengirim surat kepada Pimpinan BRI Cabang Bima, dengan surat nomor 973/236/BPKD/2007
tanggal 17 Desember 2007, perihal Rekonsiliasi Dana Pemkot Bima, yang isinya juga
mempertanyakan transaksi pengeluaran uang tanggal 21 Peberuari 2007 sebesar Rp1.500.000.000,00
dan tanggal 22 Pebruari 2007 sebesar Rp2.800.000.000,00, namun juga tidak diberikan jawaban
secara tertulis.
Konfirmasi kembali atas permasalahan tersebut dengan Pimpinan PT. BRI (Persero) Tbk Cab.
Bima melalui surat Kepala BPKD nomor 973/30/BPKD/2008 pada tanggal 14 Pebruari 2008 telah
ditanggapi oleh Pimpinan PT. BRI (Persero) Tbk Cab. Bima melalui surat nomor B.239/KCXI/PEL/12/2007 tanggal 27 Pebruari 2008. Dalam surat tanggapan tersebut dijelaskan bahwa
kewenangan menanggapi permasalahan tersebut telah diambil oleh Kantor Wilayah BRI Denpasar,
mengingat rekening pemerintah Kota Bima merupakan salah satu yang terkait dengan perkara pidana
yang melibatkan Pekerja Kantor Cabang BRI Raba Bima dan sekarang sedang ditangani Pengadilan
Negeri Bima. Pada tanggal 17 Maret 2008 Kantor Wilayah BRI Denpasar melalui Surat
No.R.107/KW-XI/LOK/03/2008 memberikan penjelasan bahwa untuk mutasi penarikan tanggal 21
Februari 2007 sebesar Rp1.500.000.000,00 dan tanggal 22 Februari 2007 sebesar Rp2.800.000.000,00
dari rekening giro No.0079-01-000262-30-4 atas nama Pemerintah Kota Bima dilakukan dengan
menggunakan kwitansi yang ditandatangani di atas materai oleh H.M. Yusuf. Surat Kantor Wilayah
BRI tersebut dijawab oleh Walikota Bima melalui surat No.973/112/BPKD/2008 tanggal 15 Juli 2008
yang diantaranya berisi:
a. Pemerintah Kota Bima tetap tidak mengakui mutasi penarikan yang terjadi pada tanggal 21
Februari 2007 sebesar Rp1.500.000.000,00 dan tanggal 22 Februari 2007 sebesar
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

7

Rp2.800.000.000,00 dengan mengatasnamakan dan tanda tangan sdr H. Yusuf Ahmad.
Penjelasan pihak Kantor Wilayah BRI dinilai belum lengkap.
b. Terdapat mutasi penarikan rekening giro pemerintah Kota Bima tanggal 12 Maret 2007 senilai
Rp561.000.000,00 untuk kegiatan DAK Dinas Perikanan dengan membubuhkan tanda tangan di
atas tanda bukti (Kwitansi) yang mirip dengan tandatangan Kepala BPKD tanpa nama yang jelas.
Pemerintah Kota Bima meminta pihak BRI menjelaskan pejabat/petugas PT BRI yang
bertanggungjawab secara administrasi maupun material melakukan perbuatan dimaksud.
Dijelaskan oleh Kepala BPKD bahwa yang menjabat sebagai Kepala PT. BRI (Persero) Tbk
Cab. Bima pada saat pencairan dana tersebut telah menjadi tersangka dalam kasus penipuan dana
nasabah di Pengadilan Negeri Bima. Atas permasalahan tersebut, sampai dengan tanggal 15
September 2008, Kepala BPKD Kota Bima belum melapor kerugian daerah tersebut kepada pihak
yang berwajib untuk diproses secara hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Konfirmasi atas permasalahan diatas dengan Kuasa BUD TA 2007 diketahui bahwa yang
bersangkutan tidak tahu menahu pada saat dana tersebut ditarik dari kas daerah, karena semua dana
kas daerah yang keluar sepengetahuannya melalui cek. Rekonsiliasi antara register cek dan rekening
koran bank secara periodik memang tidak dilakukan sehingga pencairan kas tanpa menggunakan cek
tersebut tidak dapat segera diketahui.
Berdasarkan keterangan lisan dari para Pejabat BPKD dijelaskan bahwa tidak ada aturan
internal yang mengatur prosedur tetap/mekanisme pencairan anggaran/kas dari kas daerah harus
melalui mekanisme cek setelah proses pengajuan SPP, SPM dan SP2D. Dijelaskan lebih lanjut bahwa
penggunaan cek sebagai alat pembayaran sudah menjadi kebiasaan dalam pengelolaan keuangan
pemerintah Kota Bima dan untuk tahun 2007 tidak ada perjanjian antara Pemerintah Kota Bima
dengan Bank tempat menyimpan kas daerah tentang aturan pencairan uang milik /rekening kas daerah
dan pembatasan otorisasi pencairan uang. Penelusuran selanjutnya atas Peraturan Daerah dan
Keputusan Walikota tentang pengelolaan keuangan daerah diketahui tidak terdapat aturan yang
menyatakan bahwa pencairan dana dari kas daerah Pemerintah Kota Bima menggunakan mekanisme
cek . Hanya terdapat Keputusan Walikota Bima No.1A Tahun 2007 yang mengatur pejabat yang
berwenang menandatangani cek.
Konfirmasi lebih lanjut atas permasalahan tersebut dengan Kepala BPKD diketahui bahwa atas
penarikan dana tersebut tidak masuk ke dalam realisasi belanja pada APBD TA 2007 dan sampai
dengan TA 2007 berakhir, dana sebesar Rp5.132.980.519,00 tersebut tidak dipertanggungjawabkan.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah, dimana
dalam pasal 9 ayat (4) disebutkan bahwa penarikan dana dari rekening Kas Umum Daerah di
Bank Umum dilakukan atas perintah Bendahara Umum Daerah/Kuasa Bendahara Umum Daerah
b. Keputusan Walikota Bima Nomor 1A Tahun 2007 tanggal 2 Januari 2007 tentang Pendelegasian
sebagian tugas dan wewenang Walikota kepada para Pejabat Badan Pengelola Keuangan Daerah
Kota Bima Tahun Anggaran 2007 menetapkan pejabat yang diberi wewenang untuk
menandatangani Cek adalah Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah, Kepala Bidang
Anggaran dan Kuasa BUD.
Kondisi tersebut mengakibatkan adanya indikasi kerugian keuangan Pemerintah Kota Bima
sebesar Rp5.132.980.519,00

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

8

Kondisi tersebut disebabkan oleh :
a. Kelalaian dari Kuasa BUD TA 2007 yang tidak melakukan rekonsiliasi antara catatan pembukuan
dan rekening koran secara periodik;
b. Kesengajaan dari Kepala BPKD Kota Bima selaku BUD tidak segera melaporkan kepada pihak
berwajib atas terjadinya penggelapan uang daerah;
c. Kelalaian PT. BRI (Persero) Tbk Cab. Bima mencairkan Rekening Kas Daerah Kota Bima tanpa
berdasarkan cek yang ditandatangani secara resmi oleh Kepala Badan Pengelola Keuangan
Daerah, Kepala Bidang Anggaran dan Kuasa BUD.
Kepala BPKD Kota Bima menyatakan bahwa secara prinsip tidak mengakui perbuatan
tersebut sesuai dengan surat BPKD tanggal 23 Juni 2007 tentang keberatan atas pencairan dana
Pemerintah Kota Bima dan surat tanggal 17 Desember 2007 tentang rekonsiliasi dana Pemerintah
Kota Bima. Selanjutnya permasalahan tersebut belum diarahkan ke pihak hukum karena lebih
mengutamakan pendekatan secara kekeluargaan dengan pihak bank, terutama untuk mendapatkan
bukti pihak yang terkait dengan pencairan dana Pemerintah Kota tersebut dengan harapan kerugian
daerah dapat dikembalikan.
BPK RI menyarankan agar Walikota Bima melaporkan kepada aparat penegak hukum
tentang indikasi pemalsuan tanda tangan dan untuk memperjelas status dana Kas Daerah sebesar
Rp5.132.980.519,00 dalam upaya mengembalikan dana tersebut ke kas daerah.

2.

Rekening DAU sebesar Rp5.000.000.000,00 dan Rekening DAK sebesar Rp3.000.000.000,00
diagunkan Walikota Bima untuk menjamin kredit pihak ketiga dan diblokir oleh PT. BRI
(Persero) Tbk Cab. Raba Bima
Sebagai tindak lanjut dari pencairan dana milik Pemerintah Kota Bima oleh PT. BRI
(Persero) Tbk Cab. Raba Bima tanpa berdasarkan cek resmi yang dikeluarkan oleh Bendahara Umum
Daerah (BUD) Kota Bima, Walikota Bima dengan Surat Nomor 900/127/BPKD/2007 tanggal 23
Maret 2007 memindahkan semua Rekening Pemerintah Kota Bima yang berasal dari Dana Alokasi
Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan dana-dana lainnya yang berada pada PT. BRI
(Persero) Tbk Cab. Raba Bima ke PT. Bank BNI (Persero) Tbk. Cabang Bima terhitung mulai tanggal
23 Maret 2007. Atas dasar surat Walikota tersebut, maka semua rekening Pemerintah Kota Bima di
BRI dipindahkan ke BNI, kecuali untuk Rekening DAU Nomor 00000079-01-000262-30-4 an.
Pemerintah Kota Bima cq. HM Nur A. Latif diblokir oleh BRI sebesar Rp5.000.000.001,80 dan
Rekening DAK Nomor 00000079-01-000262-30-8 an. Pemkot Bima cq. DAK Infrastruktur (PU)
diblokir sebesar Rp3.000.000.000,00.
Atas pemblokiran dana tersebut, menurut penjelasan Kepala BPKD selaku BUD Kota Bima
menanyakan secara lisan kepada BRI, dan diperoleh penjelasan bahwa rekening tersebut menjadi
jaminan kredit yang diberikan BRI kepada PT Permata Jaya Amal Perkasa sebesar
Rp4.500.000.000,00 dan kepada Herman Trihatmo sebesar Rp2.500.000.000,00. Penjaminan
rekening tersebut dilakukan oleh Drs. H.M. Nur A. Latif selaku Walikota Bima. Untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut, maka pada tanggal 12 Juni 2007 di Denpasar, diadakan
pertemuan antara Walikota Bima (Drs H.M. Nur A. Latif), Mantan Pincab. BRI Raba Bima (Imam
Akbar Pujiono, yang pada saat itu menjadi Staf Kanwil BRI Denpasar), dan Ekananto Gandi S.
(Pemborong/Kontraktor yang kreditnya dijamin dengan rekening dimaksud) dengan disaksikan oleh
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

9

Para Pejabat di Wilayah PT. BRI (Persero) Tbk Kantor Wilayah Denpasar an. Heru Sardjono,
Endang Munawar, Pitoyo Asmoro, HM Syarief Arfedy dan Dody Hardiyanto. Dalam pertemuan
tersebut dicapai kesepakatan bahwa pelunasan pinjaman Cash Collateral atas nama Herman
Trihatmo sebesar Rp2.500.000.000,00 dan pinjaman Cash Collateral atas Nama PT. Permata Jaya
Amal Perkasa sebesar Rp4.500.000.000,00 beserta seluruh kewajiban bunga dan atau denda yang
harus dibayar pihak debitur akan dilunasi oleh Sdr. Ekananto Gandi Samadi pada hari Rabu tanggal
27 Juni 2007, namun sampai dengan akhir pemeriksaan janji tersebut tidak dipenuhi. Ekananto Gandi
Samadi adalah Kuasa Usaha PT. Permata Jaya Amal Perkasa dan sekaligus saudara dari Herman
Trihatmo. Sampai dengan akhir pemeriksaan, dokumen perjanjian jaminan Pemerintah Kota Bima
atas pinjaman Cash Collateral tersebut tidak diperoleh.
Konfirmasi atas permasalahan ini dengan Walikota Bima diketahui bahwa Walikota Bima
memberikan rekening tersebut sebagai jaminan atas kredit dari PT. Permata Jaya Amal Perkasa,
mengingat antara Pemerintah Kota Bima dengan PT. Permata Jaya Amal Perkasa mempunyai
Memorandum of Understanding (MoU) Nomor 01/II/2005 tanggal 2 Pebruari 2005 untuk
Pembangunan satu unit Mall, Reklamasi Pantai, Pembangunan Stadion Kota Bima, Pembangunan
Jalan Hotmix Melayu-Kolo dan Pembangunan Gedung Islamic Centre Manggemaci Kota Bima. Total
harga pekerjaan yang disepakati dalam MoU ini adalah sebesar Rp94.000.000.000,00 (sembilan puluh
empat milyar rupiah).
Pada tanggal 5 Agustus 2007, Kepala BPKD Kota Bima dengan surat Nomor 973/159/2007
meminta kepada Pimpinan PT BRI Cabang Bima untuk pencairan dana DAU dan DAK TA 2007
yang diblokir tersebut, dengan tembusan kepada Pimpinan Wilayah PT BRI Denpasar. Surat tersebut
dijawab oleh Pimpinan Wilayah PT BRI (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Denpasar dengan Surat
Nomor R.291 KW/XI/RTL/08/2007 tanggal 23 Agustus 2007, yang isinya bahwa permohonan BPKD
Pemkot Bima tidak dapat dipenuhi dengan alasan bahwa Giro DAU dan DAK 2007 telah diagunkan
oleh Pemkot Bima yang dalam hal ini diwakili oleh Doctorandus Haji Muhamad Nur Abdul Latif
selaku Walikota Bima dan Pekerjaan Proyek Peningkatan Jalan dan Jembatan Melayu Kolo yang
seharusnya sudah selesai pekerjaannya, namun sampai dengan saat ini Kantor Cabang BRI Raba
Bima belum menerima pembayaran sebagai prestasi penyelesaian proyek tersebut.
Selanjutnya Walikota Bima meminta pihak PT. Permata Jaya Amal Perkasa untuk mengganti
jaminan kreditnya dengan aset milik PT. Permata Jaya Amal Perkasa. Pada tanggal 24 Nopember
2007, dibuat perjanjian antara Ekananto Gandi Siboen (selaku Kuasa Usaha PT. Permata Jaya Amal
Perkasa, selanjutnya disebut pihak pertama) dengan H.M. Nur A. Latif (selaku Walikota Bima,
selanjutnya disebut pihak kedua), dimana dalam pasal 1 menyebutkan bahwa Pihak Pertama bersedia
mengganti atau menukar jaminan kredit pada BRI Cabang Bima dengan harta milik pribadi pihak
pertama, paling lambat tanggal 31 Maret 2008, setelah mendapat persetujuan dari BRI. Sampai
dengan tanggal 12 September 2008, uang milik Pemerintah Kota Bima yang diblokir oleh BRI masih
dalam status blokir. Konfirmasi tertulis dengan Pimpinan Cabang Bank BRI Kota Bima melalui Surat
No. 13/Tim LKPDKotaBima/09/2008 perihal konfirmasi tentang status terkini hingga pemeriksaan
berakhir belum diperoleh jawaban dari Pimpinan Cabang BRI Kota Bima.

a.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
Undang-undang No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara pada pasal 34 ayat (1) yang
menyatakan bahwa “Menteri/Pimpinan lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti
melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang
APBN/Peraturan Daerah tentang APBD diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan
ketentuan undang-undang”.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

10

b.

Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang Pinjaman Daerah,
dimana dalam pasal 4 disebutkan :
(1) Pemerintah Daerah dilarang memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain
(2) Pendapatan Daerah dan/atau barang milik daerah tidak boleh dijadikan jaminan Pinjaman
daerah

Pemberian rekening DAU dan DAK sebagai jaminan atas pinjaman pihak ketiga pada PT.
BRI (Persero) Tbk Cab. Bima tersebut berpotensi menimbulkan kerugian daerah, apabila PT.
Permata Jaya Amal Perkasa tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk mengganti jaminan pada PT.
BRI (Persero) Tbk Cab. Bima dengan aset pribadi dan tidak dapat melunasi kredit sesuai yang
diperjanjikan.
Hal tersebut disebabkan oleh Walikota Bima membuat kebijakan untuk memberikan rekening
DAU dan DAK Kota Bima sebagai jaminan kredit PT. BRI (Persero) Tbk Cab. Bima kepada pihak
ketiga a.n. Herman Trihatmo dan PT. Permata Jaya Amal Perkasa menyimpang dari ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
Atas penjaminan uang DAK/DAU Kota Bima sebesar Rp.8.000.000.000,00 kepada PT
Permata Jaya Amal Perkasa, Walikota Bima menyatakan sebagai berikut;
1. Kegiatan ini disponsori atau diprakarsai oleh PT Permata Jaya Amal Perkasa dan Kepala BRI
Cabang Bima (Sdr. Imam).
2. Kepada saya (Walikota Bima) beberapa waktu yang lalu disodorkan satu perjanjian bahwa
pinjaman/penjaminan uang sebesar Rp.8.000.000.000,00 itu untuk memperoleh kredit/pinjaman
pada BRI Cabang Bima sebesar Rp.7.000.000.000,00 yang tujuan utamanya adalah untuk
membeli sejumlah alat berat guna membantu mempercepat proses penyelesaian proyek jalur jalan
melayu-kolo sepanjang 14,5 km dan lebar 20 m yang sedang dikerjakan oleh PT. Permata Jaya
Amal Perkasa.
3. Sdr. Kepala BRI Cabang Bima saat itu menyampaikan informasi secara lisan dihadapan saya
(Walikota Bima) dan ikut disaksikan oleh saudara Ekananto Gandhi Sibun (pihak PT Permata
Jaya Amal Perkasa) bahwa penjaminan dengan dana Pemkot Bima itu waktunya tidak terlalu
lama, paling lambat 2-3 minggu saja, dan akan segera dikembalikan lagi ke pemkot Bima sebagai
pemilik uang.
4. Terkesan dengan janji akan dikembalikan dalam waktu singkat oleh BRI Cabang Bima (Sdr.
Imam) dan saudara Ekananto Gandhi Sibun (PT. Permata Jaya Amal Perkasa) dan bahkan nanti
akan membayar dana-dana proyek pemkot Bima akan dibayarkan dengan uang BRI Cabang Bima
sebagai bank yang dipercaya oleh pemkot Bima menyimpan dananya, dan terbius juga oleh
keinginan Pemkot Bima untuk segera menyelesaikan pekerjaan proyek jalan Melayu-Kolo
(panjang 14,5 km, lebar 20 m), karena di sepanjang jalan Melayu-kolo tersebut terbuka lebar
kesempatan pengembangan pembangunan Kota seperti perumahan, ekonomi rakyat,
pemberdayaan potensi laut, membuka wilayah yang terisolir, dan memperlancar hubungan (arus
barang) antar wilayah sekitar, maka saya (Walikota Bima) tanpa pikir panjang lagi
menandatangani perjanjian penjaminan dana sebesar Rp.8.000.000.000,00 tersebut.
5. Saya pribadi (Walikota Bima) tidak terlalu menyalahkan siapa-siapa disini, tetapi seharusnya
pihak BRI Cabang Bima yang merupakan BUMN Pemerintah RI menginformasikan secara awal
pada saya (Walikota Bima), bahwa pihak Pemkot Bima tidak diperbolehkan menjaminkan dana
DAU/DAK pemkot Bima untuk pinjaman pihak ketiga pada pihak BRI Cabang Bima, tetapi saran
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

11

itu tidak pernah kami (Pemkot Bima) terima dari pihak BRI Cabang Bima (Sdr. Imam) sebagai
kepala BRI cabang Bima saat itu.
6. Dan ternyata belakangan baru saya (Walikota Bima) memahami bahwa penjaminan uang pemkot
kepada pihak ketiga tidak diperbolehkan oleh aturan yang ada.
7. Saya (Walikota Bima) dalam hal ini sangat menyesali kegiatan ini, dan agar kami (Pemkot Bima)
bisa mempelajari kegiatan penjaminan ini, saya (Walikota Bima) berharap pada BRI Cabang
Bima membantu menyerahkan fotokopi dari perjanjian dimaksud sebagai bahan penelitian
sehingga menjadi lebih jelas persoalannya.
BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar mengambil langkah hukum terkait dengan
dana Pemerintah Kota Bima yang masih diblokir oleh BRI Cabang Bima dan mengupayakan
pengembalian dana tersebut ke kas daerah.

3.

Pencairan Rekening Kas Daerah Kota Bima sebesar Rp6.894.000.000,00 dilakukan oleh pihak
yang tidak berwenang dan tidak dipertanggungjawabkan
Pemeriksaan terhadap pencairan dana pada Rekening Kas Daerah Kota Bima dengan
membandingkan antara potongan cek (bonggol cek) yang ada pada Kuasa Bendahara Umum Daerah
(BUD) Kota Bima dengan rekening koran dari masing-masing bank, diketahui terdapat pencairan
uang pada rekening untuk menampung penerimaan Dana Alokasi Umum (DAU) PT. BRI (Persero)
Tbk Cab. Bima rekening nomor 00000079-01-000262-30-4 a.n. Pemerintah Kota Bima cq. HM Nur
A. Latif dengan menggunakan cek yang tidak tercatat pada BUD Kota Bima sebesar
Rp5.250.000.000,00, dan dengan menggunakan kwitansi sebesar Rp1.644.000.000,00 dengan
uraiannya pada kwitansi adalah pencairan giro pemerintah kota untuk kepentingan kegiatan
pemerintah kota tanggal 19 Februari 2007 diterima oleh Walikota Bima, dengan rincian sebagai
berikut:
No
Tanggal
Uraian Rekening Koran
No. Cek/Bukti
Jumlah (Rp)
1 12 Peb 2007 CA Cash withdrawal
01624972
5.000.000.000,00
01624973
2 15 Peb 2007 CA Cash withdrawal
200.000.000,00
01624974
3 19 Peb 2007 Kliring BNI
50.000.000,00
19
Feb
2007
CA
Cash
withdrawal
Slip
penarikan
4
1.644.000.000,00
Jumlah
6.894.000.000,00
Konfirmasi atas permasalahan tersebut dengan Kuasa BUD dan Kepala BPKD Kota Bima
diketahui bahwa atas pencairan dana menggunakan 3 (tiga) lembar cek dengan nilai seluruhnya
sebesar Rp5.250.000.000,00 tidak tercatat atau tanpa sepengetahuan Kuasa BUD Kota Bima.
Konfirmasi lebih lanjut bersama Kuasa BUD Kota Bima atas permasalahan tersebut kepada pihak
PT. BRI (Persero) Tbk Cab. Bima pada tanggal 15 Pebruari 2008, diketahui bahwa tiga lembar cek
senilai Rp5.250.000.000,00 tersebut diatas ditandatangani oleh Walikota Bima. Konfirmasi
selanjutnya atas pertanggungjawaban pencairan dana kas daerah diatas diketahui sampai dengan akhir
Tahun Anggaran 2007, tidak ada pertanggungjawaban yang dibuat, hanya terdapat pengembalian
dana ke kas daerah sebesar Rp250.000.000,00 dengan penyetor Sdri. Siti Hajar, A.Md. (bendahara
BPKD TA.2008), dengan uraian pada STS pengembalian pinjaman M.Nur A.Latif.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

12

a.

b.

c.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
Undang-undang No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara pada pasal 34 ayat (1) yang
menyatakan bahwa “Menteri/Pimpinan lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti
melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang
APBN/Peraturan Daerah tentang APBD diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai
dengan ketentuan undang-undang”.
Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah, dimana
dalam pasal 9 ayat (4) disebutkan bahwa penarikan dana dari rekening Kas Umum Daerah di
Bank Umum dilakukan atas perintah Bendahara Umum Daerah/Kuasa Bendahara Umum
Daerah.
Keputusan Walikota Bima Nomor 1A Tahun 2007 tanggal 2 Januari 2007 tentang Pendelegasian
sebagian tugas dan wewenang Walikota kepada para Pejabat Badan Pengelola Keuangan Daerah
Kota Bima Tahun Anggaran 2007 menetapkan pejabat yang diberi wewenang untuk
menandatangani Cek adalah Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah, Kepala Bidang
Anggaran dan Kuasa BUD.

Pencairan rekening Kas Daerah Kota Bima pada PT. BRI (Persero) Tbk Cab. Bima rekening
nomor 00000079-01-000262-30-4 tanpa melalui BUD (tanpa melalui mekanisme APBD) oleh
Walikota Bima mengakibatkan adanya indikasi kerugian keuangan daerah sebesar
Rp6.894.000.000,00
Hal tersebut disebabkan Walikota Bima membuat kebijakan untuk mengeluarkan dan
menggunakan tanpa mempertanggungjawabkan uang milik daerah tanpa melalui BUD sebesar
Rp6.894.000.000,00 yang menyimpang dari peraturan perundang-undangan.
Atas pencairan Rekening Kas Daerah Kota Bima sebesar Rp.5.250.000.000,00 oleh Walikota
Bima tanpa melalui BUD dan belum dipertanggungjawabkan, walikota bima menyatakan sebagai
berikut:
1. Pengeluaran dana sebesar Rp.250.000.000,00 merupakan dana talangan yang diberikan oleh
walikota Bima kepada seorang / pihak ke III yang melaksanakan pekerjaan pengadaan buku-buku
di dinas pendidikan Kota Bima. Berawal dari pinjaman modal pihak ketiga di BRI Cabang Bima
sebesar Rp.300.000.000,00 dengan jaminan ada kegiatan/pekerjaan di pemerintah Kota Bima /
via Diknas tentang pengadaan buku. Tanggal 27 Februari 2008 dana pinjamannya kepada Pemkot
Bima sebesar Rp.250.000.000,00 sudah dibayarkan kembali oleh pihak ketiga kemudian bukti
setorannya akan diserahkan ke Pemkot Bima setelah melaporkan juga / memperlihatkan bukti
setorannya kepada tim BPK Mataram.
2. Tentang pengeluaran dana dari BRI cabang Bima sebesar Rp.5.000.000.000,00 memang saya
sendiri (walikota Bima) yang memberikan ceknya dan ditandatangani oleh saya tetapi saya lupa,
uang sebesar itu untuk pembayaran proyek apa dan untuk apa. Saya sendiri tidak pernah merasa
menerima uang sebesar itu. Kami akan mengkonfirmasi kepada BRI cabang Bima jika dana
Rp.5.000.000.000,00 itu diterima secara kontan di BRI Cabang Bima, maka mohon/diharapkan
pada BRI cabang Bima untuk menunjukkan bukti siapa yang menerima dana sebesar
Rp.5.000.000.000,00 itu dan jika dana Rp.5.000.000.000,00 itu ditransfer antar rekening bank,
maka ke rekening siapa dana itu dialirkan sebenarnya.
Kemudian cek sebesar Rp.5.000.000.000,00 itupun saya (Walikota Bima) sudah lupa saat itu
diserahkan kepada siapa, untuk itu kembali saya (walikota Bima) berharap kepada pihak BRI
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

13

Cabang Bima berkenan memberikan informasinya, termasuk siapa yang mencairkannya atau
kepada rekening siapa ditransfernya. Tetapi besar kemungkinan cek sebesar Rp.5.000.000.000,00
tersebut diserahkan kepada Sdr. Ekananto Gandhi Sibun (PT. Permata Jaya Alam Perkasa).
BPK RI menyarankan kepada walikota Bima untuk mengembalikan dana sebesar
Rp6.894.000.000,00 yang telah dikeluarkan tanpa melalui BUD tersebut ke kas daerah.

4.

Penerimaan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) pada Bidang Pendapatan BPKD Kota Bima
digunakan langsung untuk pengeluaran sebesar Rp90.152.085,00 dan belum disetor ke kas
daerah sampai dengan 31 Desember 2007 sebesar Rp44.789.840,00
Pemeriksaan atas rekapitulasi penerimaan Pajak Penerangan Jalan pada Bidang Pendapatan
BPKD Kota Bima menunjukkan bahwa pada Tahun Anggaran 2007, Pemerintah Kota Bima
memperoleh Pajak Penerangan Jalan yang dipungut oleh PT PLN (Persero) Cabang Kota Bima
sebesar Rp1.526.568.945,00. Dari jumlah tersebut, yang disetor ke daerah oleh PLN adalah
pendapatan setelah dikurangi fee PLN sebesar 4% atau seluruhnya sebesar Rp1.465.464.187,00.
Pemeriksaan lebih lanjut atas STS penyetoran PPJ ke kas daerah oleh pegawai yang diserahi
tugas Khusus di Bidang Pendapatan BPKD menunjukkan bahwa jumlah PPJ TA 2007 yang telah
disetor sebesar Rp1.330.528.262,00 sehingga terdapat kekurangan penyetoran sebesar
Rp134.941.925,00 (Rp1.465.464.187,00-Rp1.330.528.262,00). Konfirmasi dengan Kepala Bidang
Pendapatan BPKD Kota Bima menunjukkan bahwa kekurangan penyetoran tersebut karena pada
akhir tahun anggaran 2007 Pemerintah Kota Bima mengalami kesulitan keuangan, sehingga
pembayaran tagihan rekening listrik Pemerintah Kota Bima untuk bulan Desember 2007 pada Bagian
Umum Setda Kota Bima tidak dapat dicairkan. Atas permasalahan tersebut, PLN melakukan
pembayaran PPJ bulan Desember 2007 secara netto, yaitu setelah dipotong tagihan rekening listrik
Pemerintah Kota Bima bulan Desember 2007 dengan perincian PPJ tertagih bulan Desember sebesar
Rp134.941.925,00 dikurangi tagihan listrik bulan Desember sebesar Rp90.152.085,00 sehingga PPJ
bulan Desember 2007 yang diterima Bidang Pendapatan dari PLN pada tanggal 17 Desember 2007
sebesar Rp44.789.840,00. Dengan demikian pencatatan penerimaan PPJ di Laporan Realisasi
Anggaran kurang dicatat sebesar Rp90.152.085,00. Penyetoran ke kas daerah untuk penerimaan PPJ
bulan Desember 2007 sebesar Rp44.789.840,00 tersebut baru dilakukan pada tanggal 21 Pebruari
2008. Konfirmasi selanjutnya atas fee 4% untuk PLN diketahui bahwa fee tersebut memang telah
diatur dalam perjanjian antara Pemerintah Kota dengan PLN cabang Bima Nomor 37 Tahun 2003/
Nomor 001.PJ/547/CABBIM/2003 tentang Pemungutan dan Penyetoran PPJ dan Pembayaran
Rekening Listrik tanggal 31 Maret 2003 dan fee tersebut memang dipotong langsung oleh PLN dan
dicatat secara netto, hal ini telah berlangsung sejak beberapa tahun dan sudah menjadi kebiasaan.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada ayat (3) yang menyatakan bahwa ”Penerimaan SKPD
dilarang digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran, kecuali ditentukan lain oleh peraturan
perundang-undangan” dan ayat (4) yang menyatakan bahwa “Penerimaan SKPD berupa uang atau
cek harus disetor ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja”.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

14

a.
b.

a.
b.

Kondisi tersebut mengakibatkan:
Tidak disetornya penerimaan PPJ tepat waktu ke kas daerah membuka peluang penyalahgunaan
dana tersebut;
Pendapatan PPJ dan Belanja Listrik pada Laporan Realisasi Anggaran kurang disajikan sebesar
Rp134.941.925,00 (Rp90.152.085,00 + Rp44.789.840,00).
Kondisi tersebut terjadi karena:
Kelalaian Kepala Bidang Pendapatan yang tidak menyetorkan pendapatan PPJ bulan Desember
2007 ke kas daerah tepat waktu;
Perjanjian antara Pemerintah Kota dengan PLN cabang Bima Nomor 37 Tahun 2003/ Nomor
001.PJ/547/CABBIM/2003 tentang Pemungutan dan Penyetoran PPJ dan Pembayaran Rekening
Listrik tanggal 31 Maret 2003 yang mengatur mekanisme penggunaan/pemotongan langsung
pendapatan PPJ untuk pembayaran listrik Pemda.

Atas permasalahan tersebut, Walikota Bima melalui Kepala Bidang Pendapatan menjelaskan
bahwa PPJ yang belum disetorkan tersebut merupakan kompensasi pembayaran jasa rekening listrik
pemerintah Kota Bima yang harus dibayar oleh Bagian Umum Setda Kota Bima kepada pihak PLN.
Namun oleh pihak PLN dipotong langsung dari PPJ yang mereka terima setiap bulannya karena
adanya kelalaian Bagian Umum yang belum menyetorkan kompensasi ke kas daerah, tapi
permasalahan tersebut sudah disetorkan ke kas daerah pada awal tahun 2008.

a.

b.

5.

BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar:
Memberikan sanksi kepada Kepala Bidang Pendapatan yang tidak menyetorkan pendapatan PPJ
bulan Desember 2007 ke kas daerah tepat waktu dan memerintahkan untuk selanjutnya agar
menyetorkan pendapatan PPJ setiap bulan secara tepat waktu.
Merevisi perjanjian dengan PLN cabang Bima dengan menghilangkan klausul mengenai
mekanisme penggunaan/pemotongan langsung pendapatan PPJ untuk pembayaran listrik Pemda.

Penunjukan 3 (tiga) bank umum sebagai tempat penyimpanan uang milik Pemerintah Kota
Bima dengan saldo per 31 Desember 2007 sebesar Rp30.028.086.151,43 tidak ditetapkan
dengan Surat Keputusan Walikota dan tidak diberitahukan kepada DPRD serta Pembukaan
dan Pengoperasian 36 rekening Kas Daerah tidak diatur dengan Peraturan Walikota
Pemeriksaan atas tempat penyimpanan uang milik Pemerintah Kota Bima per 31 Desember
2007, diketahui bahwa uang tersebut disimpan pada 3 (tiga) bank umum dalam 36 rekening giro
dengan saldo per 31 Desember 2007 seluruhnya sebesar Rp30.028.086.151,43. Rincian atas rekening
dimaksud sebagai berikut :
No.
1
1
2
3
4

Nomor Rekening
2
005.21.00048.02-3
005.21.00004.02-5
005.21.02080.00-9
005.21.00023.03-1

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

Nama Rekening
3
Sisa UDP BPKD Kota Bima
DAK Dana Reboisasi
Dana Penyeimbang Pemkot
Pemerintah Kota Bima

Saldo
Per 31 Des 2007
4
57.660.083,92
454.682.925,00
8.184.591.963,00
9.477.154,00

Bank
5
Bank NTB
Bank NTB
Bank NTB
Bank NTB
15

5

005.21.00015.02-0

6

005.21.02066.00-7

7

005.21.00018.02-3

8
9

005.21.00002.00-9
005.21.02066.01-0

10

005.21.00025.02-6

11
12

005.21.02102.00-6
0053757446

13

0120647870

14
15

0053756431
0120647304

16
17

0053757219
0053757435

18

0136317196

19
20
21
22
23
24
25
26

0136317866
0136317640
0136317334
0136316283
0136318065
0136318281
0053763211
00000079-01-000370-30-1

27
28

00000079-01-000376-30-7
00000079-01-000373-30-9

29

00000079-01-000262-30-4

30
31
32
33
34
35
36

00000079-01-000360-30-6
00000079-01-000363-30-4
00000079-01-000364-30-0
00000079-01-000365-30-6
00000079-01-000362-30-8
00000079-01-000361-30-2
00000079-01-000359-30-5
Jumlah

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

Pemkot Bima/bagi Hasil
pajak
Pemkot Dana Propensi
Dana Penyeimbang/Dana Ad
Hoc
Kas Pemkot (PAD)
Pemkot Bima/DAU
Bend BPKD kota
Bima/Burhan ISM
DAK Khusus Pemkot-Bima
Kantor Pemerintah Kota
Bima
Kantor Pemerintah Kota
Bima
BPHTB Pemkot Bima
Kantor Pemerintah Kota
Bima
PBB Pemkot Bima
Kantor Pemerintah Kota
Bima
DAK Infrastruktur Kota
Bima
DAK Perikanan dan Kelautan
DAK Prasarana
DAK Kesehatan
DAK Lingkungan Hidup
DAK Pertanian
DAK Pendidikan
Badan Pengelola Keuangan
Bencana Alam qq Walikota
Bima
Dana Ad Hoc
Dana Bantuan Keg Sos.
Kemasy
Pemkot Bima CQ HM Nur A
Latif
DAK Sarana/Prasarana
DAK Lingkungan Hidup
DAK Kesehatan
DAK Perikanan Kelautan
DAK Infrastruktur
DAK Pendidikan
DAK Prasarana Pemerintahan

6.205.039,00
797.177.475,61
3.803.022.171,00
205.482.687,70
1.653.796.988,17
283.480.561,83

Bank NTB
Bank NTB
Bank NTB
Bank NTB
Bank NTB
Bank NTB

421.451,40
20.666.862,00

Bank NTB
Bank BNI

2.769.734,00

Bank BNI

99.212.413,00
1.627.407.872,00

Bank BNI
Bank BNI

3.035.152.587,00
883.214.926,00

Bank BNI
Bank BNI

362,00

Bank BNI

140,00
683.900.000,00
463,00
90,00
823,00
00,00
895.635,00
109.923,00

Bank BNI
Bank BNI
Bank BNI
Bank BNI
Bank BNI
Bank BNI
Bank BNI
Bank BRI

00,00
45.792.676,00

Bank BRI
Bank BRI

5.117.248.183,80

Bank BRI

00,00
00,00
00,00
00,00
3.055.714.961,00
00,00
00,00
30.028.086.151,43

Bank BRI
Bank BRI
Bank BRI
Bank BRI
Bank BRI
Bank BRI
Bank BRI

16

Hasil konfirmasi dengan Kepala BPKD Kota Bima tentang dasar penyimpanan uang pada
ketiga bank umum dimaksud diketahui bahwa penunjukan ketiga bank ini tidak didasarkan atas Surat
Keputusan Walikota dan tidak diberitahukan kepada DPRD Kota Bima. Demikian pula pada saat
penunjukan bank tidak ada perjanjian yang dibuat antara pihak Bendahara Umum Daerah Kota Bima
dengan masing-masing Bank, sehingga tidak jelas hak dan kewajiban masing-masing pihak. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa Pemerintah Kota Bima tidak mempunyai prosedur yang ditetapkan dalam
mekanisme pembukaan, pengoperasian, pengawasan dan penutupan rekening milik Pemerintah Kota
Bima.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tanggal 16 Juli 2007 tentang Pengelolaan Uang
milik Negara/Daerah pada:
1) Pasal 18 ayat:
(1) Gubernur/bupati/walikota menunjuk Bank Umum sesuai dengan kriteria dan
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dan/atau Bank Sentral
untuk menyimpan Uang Daerah yang berasal dari penerimaan daerah dan untuk
membiayai pengeluaran daerah.
(2) Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah
membuka rekening Kas Umum Daerah pada Bank Sentral dan/atau Bank Umum
yangditunjuk oleh gubernur/bupati/walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Penunjukan Bank Umum sebagaimana dimaksud pada ayat(1) dimuat dalam perjanjian
antara Bendahara Umum Daerah dengan Bank Umum yang bersangkutan.
(4) Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya mencakup:a.jenis
pelayanan yang diberikan; mekanisme pengeluaran/penyaluran dana melalui
bank;c.pelimpahan penerimaan dan saldo rekening pengeluaranke Rekening Kas
Umum Daerah;d.pemberian bunga/jasa giro/bagi hasil atas saldo rekening;e.pemberian
imbalan atas jasa pelayanan;f.kewajiban menyampaikan laporan;g.sanksi berupa denda
dan/atau pengenaan bunga yang harus dibayar karena pelayanan yang tidak sesuai
dengan perjanjian; dan h.tata cara penyelesaian perselisihan.
2) Pasal 19 ayat (7) yang menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut tentang pembukaan dan
pengoperasian rekening penerimaan dan rekening pengeluaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ayat (2),ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, tanggal 15 Mei 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Pasal 179 ayat (3) disebutkan bahwa penunjukan bank
yang sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan kepala daerah
dan diberitahukan kepada DPRD.
Tidak diterbitkannya Surat Keputusan Walikota tentang Penunjukan Bank yang sehat tempat
pembukaan Rekening Kas Umum Daerah dan Peraturan Walikota yang mengatur pembukaan dan
pengoperasian rekening penerimaan dan pengeluaran mengakibatkan terjadinya kesulitan dalam
melakukan pemantauan hak dan kewajiban atas rekening bank dimaksud, sehingga membuka peluang
penyalahgunaan keuangan daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

17

a.
b.

Hal tersebut terjadi karena:
Kelalaian Kepala BPKD selaku BUD TA 2007 yang tidak membuat perjanjian bersama antara
bank yang ditunjuk sebagai tempat penyimpanan uang daerah dengan BUD.
Kelalaian Walikota Bima tidak menerbitkan Surat Keputusan Walikota tentang Penunjukan Bank
yang sehat tempat pembukaan Rekening Kas Umum Daerah dan Peraturan Walikota yang
mengatur pembukaan dan pengoperasian rekening penerimaan dan pengeluaran dan tidak
memberitahukan kepada DPRD.

Walikota Bima menyatakan bahwa penunjukan 3 (tiga) bank umum sebagai tempat
penyimpanan uang milik Pemerintah Kota Bima dengan saldo per 31 Desember 2007 sebesar
Rp.30.028.086.151,43 tidak ditetapkan dengan Surat Keputusan walikota dan tidak diberitahukan
kepada DPRD. Dapat dijelaskan bahwa sejak Pemerintah Kota Bima terbentuk telah dilakukan
pembukaan rekening pada 3 (tiga) Bank yaitu PT. Bank NTB, PT. Bank BRI, dan PT. Bank BNI telah
dilengkapi dengan surat Keputusan Walikota Bima sehingga pihak Bank menerima pembukaan
rekening tersebut dengan dilengkapi specimen tanda tangan pejabat yang berwenang menandatangani
cek setiap tahunnya. Terhadap SK tersebut kami (pemkot Bima) akan lengkapi menyusul setelah SK
tersebut ditemukan kembali di arsip surat kami.
BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar:
a. Memberikan sanksi bagi Kepala BPKD selaku BUD TA 2007 karena tidak membuat perjanjian
antara Pemerintah Kota Bima dengan bank yang ditunjuk sebagai tempat penyimpan uang daerah
dan selanjutnya memerintahkan kepada BUD TA 2008 agar membuat perjanjian antara
Pemerintah Kota Bima dengan bank yang ditunjuk sebagai tempat penyimpan uang daerah.
b. Dalam menetapkan bank sebagai tempat penyimpanan kas daerah, ditetapkan berdasar SK
Walikota dan diberitahukan kepada DPRD dan membuat Peraturan Walikota yang mengatur
pembukaan dan pengoperasian rekening penerimaan dan pengeluaran serta menertibkan rekening
kas daerah yang tidak digunakan lagi.

6. Pengeluaran Kas dari Kas Daerah TA 2007 sebesar Rp1.571.233.500,00 yang dianggap sebagai
panjar tidak sesuai ketentuan
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima TA 2007 diketahui terdapat kas
di Bendahara Umum Daerah sebesar Rp2.528.289.972,00 yang merupakan saldo tunai yang belum
dipertanggungjawabkan. Kas di Bendahara Umum Daerah tersebut merupakan panjar yang diberikan
kepada Dinas/Bagian/Pegawai/Pihak Ketiga di lingkungan Pemerintah Kota Bima. Penelusuran atas
rincian kas di Bendahara Umum Daerah yang belum dipertanggungjawabkan tersebut pada buku
panjar Kuasa BUD TA 2007 diketahui sisa panjar dengan rincian sebagai berikut:

No.
Uraian
1. Y. Titi Handoyo, SE (Kabid Anggaran)
2.
3.
4.

Bawasda
Panjar Zainal Arifin (Dinas Tata Kota)
Panjar Abdul Hamid (KTU BPKD)

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

Jumlah (Rp)
15.000.000,00
10.316.000,00
30.000.000,00
4.500.000,00
3.478.200,00

Keterangan
Bantuan Masji Oi Niu
SPPD
SPPD
Panjar Bantuan Wisuda
Panjar Pribadi
18

5.
6.
7.
8.
9.
10.

Walikota Bima
Taufikurrahman, S.Sos (Kuasa BUD)
Panjar Proyek (Taufikurrahman, S.Sos)
Panjar Proyek (Taufikurrahman, S.Sos)
Pembangunan Kantor Pertanian
Panjar Dinkes, Puskesmas Asakota

135.000.000,00
63.000.000,00
4.999.300,00
4.940.000,00
100.000.000,00
500.000.000,00

11.
12.

Panjar Walikota Bima
Walikota Bima (Transfer ke Ir Bambang
Sumantri)
Jumlah
1.571.233.500,00

Bantuan Masjid
Biaya Tamu

H.Ridwan Mustakim
Ibu Sakura H.Abidin
(Anggota DPRD)
200.000.000,00 Lampu Hias Jalan
500.000.000,00 -

Rincian masing-masing panjar tersebut diuraikan sebagai berikut:
a. Berdasarkan konfirmasi dan surat pernyataan dari Y Titi Handoyo yang juga sebagai Kepala
Bidang Anggaran, diketahui panjar sebesar Rp15.000.000,00 tersebut direncanakan digunakan
untuk sumbangan kepada Masjid Oi Niu oleh Walikota Bima. Dana tersebut diterima dari Kuasa
BUD dan selanjutnya diserahkan kepada Walikota, akan tetapi tidak ada SPJ yang diserahkan
kepada BPKD sebagai pengelola bantuan ataupun pengembalian atas panjar tersebut kepada
Kuasa BUD TA 2007. Sedangkan panjar sebesar Rp10.316.000,00 digunakan yang
bersangkutan untuk biaya Perjalanan Dinas ke Surabaya dalam rangka mendampingi Walikota
Bima. Atas panjar tersebut yang bersangkutan berjanji untuk segera mengembalikan dengan
menyetor ke kas daerah.
b. Berdasarkan konfirmasi dan surat pernyataan yang dibuat oleh Bendahara Pengeluaran Bawasda
Kota Bima diketahui bahwa panjar dari Bawasda Kota Bima sebesar Rp30.000.000,00
merupakan panjar untuk perjalanan dinas ke luar daerah. Panjar tersebut telah dibayar kembali
dan telah dicatat oleh Kuasa BUD TA 2007 pada sebuah buku khusus panjar berupa buku pola
kecil dan bukti tanda terima dijepitkan pada buku tersebut. Kuasa BUD TA 2007 menyatakan
kalau buku pola tersebut tidak ada, di samping itu Bendahara Pengeluaran Bawasda Kota Bima
tidak dapat membuktikan pengembalian panjar kepada Kuasa BUD karena sudah tidak memiliki
lagi bukti pembayaran yang ada padanya (sudah hilang).
Berdasarkan bukti Surat Tanda Setoran (STS) yang diterima oleh BPK pada tanggal 22 Oktober
2007, diketahui panjar tersebut telah dibayar kembali oleh Bendahara Pengeluaran Bawasda
Kota Bima sebesar Rp30.000.000,00 dengan STS nomor 2 tanggal 22 Oktober 2007.
c. Berdasarkan konfirmasi dan surat pernyataan dari Zainal Arifin (Kepala Seksi Perencanaan
Umum Dinas Kimpraswil Kota Bima) diketahui bahwa panjar sebesar Rp4.000.000,00 tersebut
merupakan panjar untuk biaya wisuda S2 ke Malang. Yang bersangkutan mengajukan panjar
karena ada rencana dari Pemerintah Kota Bima untuk memberikan bantuan wisuda, dan ternyata
bantuan tersebut tidak jadi dikeluarkan. Sampai dengan saat pemeriksaan, dana tersebut masih
belum dikembalikan.
d. Berdasarkan konfirmasi dan surat pernyataan dari Abdul Hamid (Kepala Tata Usaha BPKD)
diketahui bahwa panjar sebesar Rp3.478.200,00 tersebut merupakan panjar untuk Perjalanan
Dinas, dan panjar tersebut sebenarnya merupakan pinjaman kepada Kuasa BUD secara pribadi,
dan pada saat dana Perjalanan Dinas sudah cair, yang bersangkutan telah mengembalikan
sebesar Rp1.500.000,00 kepada Kuasa BUD TA 2007. Yang bersangkutan tidak mengetahui
kalau ternyata pinjaman tersebut dibebankan ke kas daerah, untuk itu yang bersangkutan akan

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

19

e.

melakukan pembayaran setelah meminta kembali dana yang telah disetorkan ke Kuasa BUD TA
2007.
Berdasarkan konfirmasi dengan Kuasa BUD TA 2007 diketahui bahwa untuk panjar-panjar
lainnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1). Panjar dari Bawasda Kota Bima sebesar Rp30.000.000,00 merupakan panjar untuk
perjalanan dinas ke luar daerah. Konfirmasi yang dilakukan kepada Kuasa BUD TA 2007
diketahui bahwa panjar tersebut belum dibayar kembali oleh Bawasda Kota Bima,
2). Panjar ke Walikota Bima sebesar Rp135.000.000,00 merupakan panjar untuk bantuan
masjid yang akan diberikan oleh walikota kepada masyarakat berdasarkan disposisi dari
Walikota. Hasil konfirmasi dengan Bendahara Bantuan BPKD diketahui Bendahara
Bantuan BPKD tidak mengetahui tentang panjar untuk bantuan masjid tersebut dan tidak
ada pertanggungjawabannya.
3). Panjar sebesar Rp63.000.000,00 merupakan biaya tamu yang dikeluarkan oleh Kuasa BUD
TA 2007 dan yang bersangkutan sanggup untuk membayar kembali panjar sebesar
Rp63.000.000,00 tersebut.
4). Panjar sebesar Rp4.999.300,00 merupakan panjar atas proyek, akan tetapi yang
bersangkutan tidak mempunyai catatan proyek yang mana yang masih menggunakan panjar
dari BUD tersebut. Dengan demikian panjar ini masih merupakan tanggung jawab Kuasa
BUD TA 2007 untuk mengembalikan ke kas daerah.
5). Berdasarkan konfirmasi dengan Kuasa BUD TA 2007 diketahui panjar sebesar
Rp4.940.000,00 merupakan panjar atas proyek, akan tetapi yang bersangkutan tidak
mempunyai catatan proyek yang mana yang masih menggunakan panjar dari BUD tersebut.
Dengan demikian panjar ini masih merupakan tanggung jawab Kuasa BUD TA 2007 untuk
mengembalikan ke kas daerah.
6). Berdasarkan konfirmasi dengan Kuasa BUD TA 2007 diketahui panjar sebesar
Rp100.000.000,00 merupakan panjar atas pembangunan kantor Dinas Pertanian pada
Tahun Anggaran 2007 yang diterima oleh H. Ridwan Mustakim sebagai perencana dan
pengawas teknis dari Dinas PU Kota Bima. Uang tersebut diserahkan kepada pelaksana
proyek (Hj. Subianti). Konfirmasi dengan Bendahara Pengeluaran Dinas Pertanian
diketahui bahwa panjar sebesar Rp100.000.000,00 tersebut baru dibuatkan SP2D pada TA
2008, dan baru ditandatangani pada tanggal 11 September 2008. Pengeluaran atas panjar
tersebut juga tidak masuk sebagai belanja di Buku Kas Umum Bendahara Pengeluaran
Dinas Pertanian TA 2007.
7). Berdasarkan konfirmasi dengan Kuasa BUD TA 2007 diketahui panjar sebesar
Rp500.000.000,00 tersebut merupakan panjar atas pembangunan Puskesmas Asakota yang
dikerjakan terlebih dahulu dan baru akan dianggarkan pada APBD Perubahan TA 2008
melalui disposisi Walikota. Panjar tersebut diterima oleh Sakura H.Abidin (anggota DPRD
Kota Bima). Konfirmasi dengan Sakura H Abidin diketahui bahwa panjar tersebut diterima
pada Tahun 2007 untuk proyek Puskesmas Asakota. Konfirmasi dengan Bendahara
Pengeluaran dan PPK Dinas Kesehatan diketahui bahwa untuk proyek Puskesmas Asakota
TA 2007 telah diselesaikan pembayarannya dengan menggunakan panjar yang lain dan
diketahui pula bahwa sampai dengan tanggal 18 September 2008 belum ada tender yang
dilakukan untuk proyek pembangunan Puskesmas Asakota TA 2008.
8). Berdasarkan konfirmasi dengan Kuasa BUD TA 2007 diketahui panjar sebesar
Rp200.000.000,00 merupakan panjar atas proyek lampu hias jalan Gatot Subroto, diberikan
berdasarkan disposisi Walikota Bima dan panjar tersebut diterima sendiri oleh H.M. Nur

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

20

A.Latif sebagai Walikota Bima. Sampai dengan akhir pemeriksaan, Dokumen Kontrak
maupun dokumen pendukung administrasi keuangan atas proyek Lampu Hias Jalan
tersebut tidak dapat diperoleh oleh Tim BPK.
9). Panjar sebesar Rp500.000.000,00 merupakan panjar walikota yang selanjutnya ditransfer
pada tanggal 8 Oktober 2007 kepada Ir. Dadang Sumantri, M.H. Pada tanggal tersebut,
Kuasa BUD TA 2007 bersama dengan Kepala BPKD Kota Bima dipanggil ke kantor bank
BNI oleh Walikota Bima. Pada saat sampai di kantor bank BNI, Walikota Bima
memerintahkan Kuasa BUD untuk mengeluarkan cek sebesar Rp500.000.000,00 untuk
selanjutnya diserahkan kepada ajudan Walikota Bima untuk disetorkan ke bank dengan
penerima Ir. Dadang Sumantri, M.H. pada BNI cabang Tebet, Jakarta (No. Rek. 11400326) dan pengirim M. Nur A. Latif. Konfirmasi selanjutnya kepada ajudan Walikota pada saat
itu (Sdr Is Fahmin) diketahui bahwa ajudan tersebut mengakui kalau diperintahkan oleh
Walikota Bima untuk melakukan penyetoran ke rekening BNI cabang Tebet atas nama
Ir.Dadang Sumantri, M.H., akan tetapi yang bersangkutan tidak mengetahui kapasitas Ir
Dadang Sumantri MH tersebut.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pada Pasal 21:
- ayat (1) yang menyatakan bahwa Pembayaran atas beban APBN/APBD tidak boleh dilakukan
sebelum barang dan/atau jasa diterima;
- ayat (3) yang menyatakan bahwa Bendahara Pengeluaran melaksanakan pembayaran dari uang
persediaan yang dikelolanya setelah :
a). Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan
oleh
Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran;
b). Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran;
c). Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan,
- ayat (4) Bendahara Pengeluaran wajib menolak perintah bayar dari Pengguna Anggaran/Kuasa
Pengguna Anggaran apabila persyaratan pada ayat (3) tidak dipenuhi.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tanggal 16 Juli 2007 tentang Pengelolaan Uang
milik Negara/Daerah yang menyebutkan Pasal 38 ayat (1) Bendahara Umum Negara/Daerah,
walikota / kepala kantor atau Satuan Kerja di pusat maupun di daerah bertanggung jawab atas
pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya.
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
pada pasal 122 ayat (6) yang menyatakan bahwa Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada
anggaran belanja jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam
APBD.
Kondisi di atas mengakibatkan indikasi kerugian daerah sebesar Rp1.571.233.500,00.
Kondisi tersebut terjadi karena kebijakan dan kelalaian Walikota, Kuasa BUD TA 2007, serta
penerima panjar yang tidak segera menyelesaikan sesuai ketentuan pengelolaan keuangan daerah
yang berlaku.
Walikota Bima menyatakan bahwa pemberian panjar tersebut merupakan kelalaian Kuasa
BUD Kota Bima TA 2007 yang tidak segera menyelesaikannya dengan pihak-pihak yang menerima
panjar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun demikian, terhadap panjar sebesar
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

21

Rp1.571.233.500,00 tersebut diperintahkan kepada Kuasa BUD Tahun 2007 dan pihak-pihak yang
menerima panjar untuk segera menyelesaikannya/mempertanggungjawabkan dan atau menyetor
kembali ke kas daerah.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

BPK RI menyarankan Walikota Bima agar:
Mengembalikan panjar yang diterima sebesar Rp835.000.000,00 ke kas daerah;
Memerintahkan kepada Y. Titi Handoyo untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp25.316.000,00 ke Kas Daerah;
Memerintahkan kepada Zainal Arifin untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp4.500.000,00 ke Kas Daerah;
Memerintahkan kepada Abdul Hamid untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp3.478.200,00 ke Kas Daerah;
Memerintahkan kepada Kuasa BUD TA 2007 (Taufikurrahman, S.Sos) untuk mengembalikan
panjar yang diterima sebesar Rp72.939.300,00 ke Kas Daerah;
Memerintahkan kepada H. Ridwan Mustakim untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp100.000.000,00 ke Kas Daerah;
Memerintahkan kepada Sakura H. Abidin untuk mengembalikan panjar yang diterima sebesar
Rp500.000.000,00 ke Kas Daerah.

7. Aliran Kas sebesar Rp3.000.000.000,00 Tidak Jelas Statusnya dan Setoran Pemerintah Kota
Bima pada PT BRI (Persero) cabang Bima sebesar Rp3.130.000.000,00 Tidak Tercatat sebagai
Penyetoran dalam Rekening Koran Pemerintah Kota Bima
Pemeriksaan terhadap mutasi kredit (penyetoran) pada rekening koran Pemerintah Kota Bima
No.00000079-01-000262-30-4
diketahui
terdapat
penyetoran
secara
tunai
sebesar
Rp6.130.000.000,00 terdiri dari penyetoran pada tanggal 18 Januari 2007 sebesar
Rp3.130.000.000,00 dan tanggal 14 Februari sebesar Rp600.000.000,00 dan Rp2.400.000.000,00.
Konfirmasi atas permasalahan tersebut dengan Kuasa BUD Tahun Anggaran 2007 diketahui
bahwa untuk penyetoran tanggal 18 Januari 2007 sebesar Rp3.130.000.000,00 merupakan penyetoran
yang dilakukan pada tanggal 17 Januari 2007 oleh Kuasa BUD TA 2006 bersama-sama dengan Kuasa
BUD TA 2007 dan Plt Kepala BPKD yang dananya berasal dari pencairan cek No. AHH 238713
sebesar Rp680.000.000,00, cek No.AHH 239248 sebesar Rp250.000.000,00 dari PT Bank NTB, serta
cek No.CI 654280 sebesar Rp2.200.000.000,00 dari Bank BNI yang tidak jadi digunakan.
Penyetoran tersebut dilakukan di luar jam operasional bank (sore hari) dan diterima oleh Bp.Eddi dan
Bp. Bakri dari Bank BRI dengan bukti setor berupa slip setoran yang ditandatangani oleh pejabat
bank tanpa disertai print out penambahan rekening serta tanpa validasi pada bagian atas slip setoran.
Sedangkan untuk penyetoran tanggal 14 Februari 2007 sebesar Rp600.000.000,00 dan
Rp2.400.000.000,00 bukan merupakan penyetoran dari kuasa BUD.
Penelusuran pada rekening koran dan surat Kantor Wilayah BRI Denpasar No.R.107/KWXI/LOK/03/2008 tanggal 17 Maret 2008 diketahui bahwa untuk penyetoran Kuasa BUD TA 2006
pada tanggal 17 Januari 2007 sebesar Rp3.130.000.000,00 diatas tercatat sebagai mutasi kredit
(penyetoran) pada tanggal 18 Januari 2007, akan tetapi menurut hasil penelitian BRI Kantor Wilayah
Denpasar, yang melakukan penyetoran adalah mantan pemimpin cabang BRI Raba Bima dengan
menggunakan dana milik BRI.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

22

Dengan kata lain, setoran Kuasa BUD TA 2007 sebesar Rp3.130.000.000,00 pada tanggal 17
Januari 2007 tidak diakui oleh pihak Bank BRI sebagai setoran dari Kuasa BUD Pemerintah Kota
Bima. Sedangkan atas setoran pada tanggal 14 Februari 2007 sebesar Rp600.000.000,00 dan
Rp2.400.000.000,00 juga merupakan setoran mantan pemimpin cabang BRI Raba Bima dengan
menggunakan dana milik BRI. Walikota Bima melalui surat No.973/112/BPKD/2008 tanggal 15 Juli
2008 meminta penjelasan mengapa mutasi penyetoran yang dilakukan Kuasa BUD TA 2006 tanggal
17 Januari 2007 sebesar Rp3.130.000.000,00 tidak dicantumkan sebagai mutasi setoran dalam
rekening giro Pemerintah Kota Bima dan sampai dengan saat pemeriksaan belum ada jawaban.
Konfirmasi dengan Pimpinan Cabang BRI Kota Bima melalui Surat Ketua Tim No. 13/Tim
LKPDKotaBima/09/2008 perihal konfirmasi tentang status terkini hingga pemeriksaan berakhir
belum diperoleh jawaban dari Pimpinan Cabang BRI Kota Bima.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tanggal 16
Juli 2007 tentang Pengelolaan Uang milik Negara/Daerah,
a. Pasal 8 yaitu Wewenang Bendahara Umum Daerah dalam pengelolaan Uang Daerah antara lain
memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau lembaga keuangan
lainnya yang telah ditunjuk
b. Pasal 9 pada ayat (2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kuasa
Bendahara Umum Daerah berwenang memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD
oleh bank dan/atau lembaga keuangan lainnya yang telah ditunjuk
c. Pasal 37 ayat (2) yang menyatakan bahwa Penempatan Uang Daerah pada Bank Umum dilakukan
dengan memastikan bahwa Bendahara Umum Daerah dapat menarik uang tersebut sebagian atau
seluruhnya ke Rekening Kas Umum Daerah pada saat diperlukan.
Kondisi tersebut mengakibatkan penerimaan pada rekening koran Pemerintah Kota Bima
No.00000079-01-000262-30-4 sebesar Rp6.130.000.000,00 belum jelas status kepemilikannya.
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Kelalaian Kuasa Bendahara Umum Daerah TA 2006 yang melakukan penyetoran tanpa melalui
mekanisme penyetoran bank dan tidak memastikan bahwa setoran tersebut sudah masuk ke kas
daerah.
b. Kuasa BUD TA 2007 tidak melakukan rekonsiliasi secara periodik atas transaksi yang terdapat
pada rekening koran.
Walikota Bima menyatakan bahwa aliran kas masuk tersebut merupakan kelalaian dari pihak
PT Bank BRI cabang Raba Bima.
BPK RI menyarankan Walikota Bima agar:
a. Menempuh langkah hukum untuk memperjelas status kepemilikan mutasi setoran penerimaan
pada rekening koran Pemerintah Kota Bima sebesar Rp6.130.000.000,00.
b. Memberikan sanksi kepada BUD dan Kuasa BUD TA 2006 dan 2007 yang tidak melakukan
rekonsiliasi dan pemantauan pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

23

8. Pencairan deposito sebesar Rp1.000.000.000,00 pada Bank NTB tidak disetor ke kas daerah
dan bunga deposito disimpan di rekening tabungan atas nama pribadi dengan saldo per 31
Desember 2007 sebesar Rp100.758.074,00
Dalam Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007, Investasi Jangka Pendek
disajikan sebesar Rp2.350.000.000,00, dengan rincian sebagai berikut:
Uraian
Deposito Bank NTB No.005.21.00001.05-2
Deposito Bank NTB No.Dep.23-06325.01.4
Deposito Bank BNI No Rek. 7337829
Jumlah

Saldo Per 31 Des 2007
1.000.000.000,00
1.000.000.000,00
350.000.000,00
2.350.000.000,00

Pemeriksaan lebih lanjut atas bukti kepemilikan berupa sertifikat deposito diketahui bahwa
per 31 Desember 2007, saldo deposito yang dimiliki sebesar Rp850.000.000,00 masing-masing pada
PT. Bank NTB No. A. 23.06334.01-3 sebesar Rp500.000.000,00 atas nama Pemerintah Kota Bima,
dan pada PT. BNI (Persero) Tbk No. Rekening 96686564 sebesar Rp350.000.000,00 atas nama Bpk
M. Djalil AR, MM. Drs. Selama Tahun 2007 tidak ada mutasi penarikan atas deposito dimaksud.
Bukti kepemilikan atas deposito sebesar Rp2.000.000.000,00 tidak ditemukan. Dengan demikian,
maka per 31 Desember 2006, seharusnya saldo deposito yang disajikan pada Neraca adalah juga
sebesar Rp850.000.000,00.
Konfirmasi atas permasalahan tersebut dengan pihak PT. Bank NTB Cabang Bima diketahui
bahwa :
a. Deposito No. 005.21.00001.05-2 sebesar Rp1.000.000.000,00 sebenarnya bukan deposito, tapi
merupakan Rekening Giro atas nama Pemerintah Kota Bima. Rekening ini dibuka pada tanggal 5
Januari 2005 dengan setoran pertama sebesar Rp1.000.000.000,00. Pada tanggal 28 Maret 2005
saldo sebesar Rp1.000.000.000,00 tersebut ditarik, dengan uraian pada rekening Koran
“Rekening Deposito”. Penelusuran lebih lanjut atas penarikan tersebut pada PT Bank NTB
diketahui bahwa rekening giro tersebut diubah menjadi deposito berjangka /on call berjangka
waktu 1 (satu) bulan Nomor 23.06322.01-1 atas nama Pemerintah Kota Bima sebesar
Rp1.000.000.000,00. Pada tanggal 18 Januari 2006 deposito tersebut ditarik lagi.
b. Deposito No. 23.06325.01-4 sebesar Rp1.000.000.000,00 merupakan deposito berjangka /on call
berjangka waktu 1 (satu) bulan atas nama Pemerintah Kota Bima. Deposito ini dibuka pada
tanggal 25 Juli 2005. Pada tanggal 20 Januari 2006 deposito tersebut ditarik lagi.
Konfirmasi kepada Kuasa BUD TA 2006 diketahui bahwa untuk penarikan deposito No.
23.06322.01-1 ditarik oleh Drs H.M. Djalil AR BAF, MM selaku Kepala BPKD pada saat itu dan
diserahkan kepada Kuasa BUD TA 2006 untuk digunakan sebagai belanja, sedangkan untuk
penarikan deposito No. 23.06325.01-4 dilakukan oleh Drs H.M. Djalil AR BAF, MM selaku Kepala
BPKD pada saat itu dan Kuasa BUD TA 2006 tidak mengetahui kemana uang tersebut karena uang
tersebut tidak diserahkan padanya. Konfirmasi pada Drs H.M. Djalil AR BAF, MM tidak dapat
dilakukan karena yang bersangkutan sudah pensiun.
Pemeriksaan selanjutnya terhadap deposito Pemerintah Kota Bima, diketahui bahwa untuk
Deposito dengan sertifikat No 23.06334-01.3 pada PT. Bank NTB sebesar Rp500.000.000,00
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

24

bunganya telah ditransfer secara otomatis setiap bulan ke rekening pada Bank NTB No
005.21.00002.00-9 an. Kas Pemkot (PAD) sedangkan untuk Deposito sebesar Rp350.000.000,00
pada PT. BNI (Persero) Tbk bunganya ditansfer setiap bulan ke Rekening Tabungan BNI Nomor
rekening 12061952-5 atas nama Bpk M. Djalil AR,MM, Drs, dengan saldo per 31 Desember 2006
Rp77.446.060,00 dan per 31 Desember 2007 Rp100.758.074,00. Drs. M. Djalil AR,MM adalah
Kepala BPKD Kota Bima pada saat rekening tersebut dibuka. Pemeriksaan lebih lanjut atas rekening
tabungan BNI tersebut pada Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2006, diketahui bahwa
rekening tabungan ini tidak tercantum sebagai rekening kas daerah Kota Bima.
Konfirmasi atas permasalahan ini dengan Kepala BPKD Kota Bima selaku BUD, dijelaskan
bahwa semenjak rekening tabungan ini diserahkan oleh mantan Kepala BPKD Kota Bima (Drs. M.
Djalil AR,MM) rekening tersebut belum dipindahkan ke Kas Daerah Kota Bima dan pada saat
pemeriksaan buku tersebut dipegang oleh Y.Titi Handoyo, SE selaku Kuasa BUD TA 2008.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006, tanggal 15 Mei 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Pasal 14 ayat (3)
Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran baik secara langsung maupun tidak langsung
dilarang melakukan kegiatan perdagangan, pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak
sebagai penjamin atas kegiatan/ pekerjaan/penjualan, serta membuka rekening/giro pos atau
menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan lainnya atas nama pribadi.

a.
b.

a.
b.
c.

Kondisi tersebut mengakibatkan:
Indikasi kerugian atas pencairan deposito sebesar Rp1.000.000.000,00 yang tidak diterima oleh
Kuasa BUD TA 2006.
Pendapatan bunga deposito sampai dengan 31 Desember 2007 kurang diterima sebesar
Rp100.758.074,00 dan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan daerah.
Kondisi tersebut disebabkan oleh:
Kesengajaan Kepala BPKD Kota Bima TA 2006 yang mencairkan deposito sebesar
Rp1.000.000.000,00 yang tidak disetor ke kas daerah;
Mantan Kepala BPKD Kota Bima an. Drs. M. Djalil AR, MM menyimpan uang milik daerah
pada rekening atas nama pribadi tidak sesuai ketentuan yang berlaku;
Kelalaian Kepala BPKD Kota Bima yang tidak segera memindahkan rekening tersebut ke kas
daerah dan menyajikan pada Neraca Daerah.

Kepala BPKD Kota Bima menyatakan bahwa atas permasalahan diatas, Pemerintah Kota
Bima akan segera menindaklanjuti dengan menelusuri aliran dana pada saat deposito tersebut
dicairkan dan rekening tabungan atas nama pribadi dengan saldo per 31 Desember 2007 sebesar
Rp100.758.074,00 tersebut akan segera ditindaklanjuti dengan memindahkan dana tersebut ke Kas
Daerah Kota Bima.

a.
b.

BPK RI menyarankan agar Walikota Bima agar:
Menarik kerugian daerah atas pencairan deposito sebesar Rp1.000.000.000,00 untuk selanjutnya
disetor ke kas daerah;
Menarik dan memindahkan dana yang terdapat dalam rekening tabungan BNI nomor rekening
12061952-5 atas nama M. Djalil AR,MM, Drs ke kas daerah;

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

25

c.

Memerintahkan Inspektorat Kota untuk menelusuri aliran dana pada saat deposito dibuka Tahun
2005 s.d.2007 dan hasilnya diberitahukan ke BPK RI.

9. Pengeluaran Kas Daerah pada Sekretariat Daerah sebesar Rp1.100.000.000,00 Tidak Sah dan
Sisa Kas di BPKD sebesar Rp499.866.558,00 tidak diketahui pertanggungjawabannya
Pemeriksaan atas Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007 diketahui terdapat saldo Kas
di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp14.944.726.491,00. Dari nilai saldo kas tersebut diantaranya
merupakan saldo kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah dan Badan Pengelola
Keuangan Daerah (BPKD).
A. Pengeluaran Kas oleh Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah
Pada Neraca per 31 Desember 2007 disebutkan Sisa Kas di Bendahara Pengeluaran sebesar
Rp6000,00 namun pada draft pengesahan SPJ pertanggungjawaban penerimaan dan belanja
Sekretariat daerah bulan Desember tahun 2007 diketahui bahwa masih terdapat pengeluaran kas
dari rekening Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah yang belum dipertanggungjawabkan
sebagai belanja sebesar Rp1.100.000.000,00 yang dianggap sebagai Sisa Kas karena tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Pemeriksaan lebih lanjut diketahui pengeluaran kas yang belum
dipertanggungjawabkan tersebut terdiri dari belanja makan dan minum lebaran sebesar
Rp600.000.000,00 dan belanja modal pengadaan sarana kesehatan Puskesmas (pembebasan tanah
lokasi Puskesmas Ranggo) sebesar Rp500.000.000,00.
Konfirmasi dengan Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Bima yang
bertugas untuk melaksanakan pengadaan tanah di lingkup Sekretariat Daerah Kota Bima
diperoleh penjelasan bahwa yang bersangkutan selama Tahun 2007 tidak pernah menerima uang
sebesar Rp500.000.000,00 dan tidak pernah melaksanakan kegiatan pengadaan tanah untuk lokasi
Puskesmas Ranggo. Konfirmasi lebih lanjut dengan Bendahara Pembantu Pengeluaran Bagian
Tata Pemerintahan yang dijabat oleh sdr Abdul Malik, pernah diperintahkan oleh Kepala BPKD
Kota Bima H. Yusuf Ahmad untuk membuat pertanggungjawaban atas pengeluaran uang sebesar
Rp500.000.000,00 berupa Surat Perintah Pembayaran (SPP) untuk pengadaan tanah Puskesmas
Ranggo, namun ditolak oleh sdr Abdul Malik karena tidak lengkapnya dokumen/bukti pengadaan
tanah tersebut.
Hasil verifikasi Rekening Koran milik Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007
dan konfirmasi dengan Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007 diketahui bahwa
pengeluaran uang dengan nilai total sebesar Rp1.100.000.000,00 tanpa melalui pengajuan Surat
Perintah Pembayaran (SPP) dan Surat Perintah Membayar (SPM).
Uang sebesar Rp500.000.000,00 diterima dari Kuasa BUD pada tanggal 10 Agustus 2007
dengan menggunakan Bilyet Giro (BG) nomor BM.820855 tanpa disertai Surat Perintah
Pencairan Dana (SP2D) dan dikeluarkan dari rekening Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah
TA 2007 pada hari yang sama dengan menggunakan cek nomor Cj 093840. Kemudian uang
tersebut diserahkan kepada Kepala Badan Pengelola Keuangan (BPKD) untuk diserahkan kepada
Walikota Bima di Bandara Bima.
Penjelasan lebih lanjut, diketahui bahwa uang sebesar Rp600.000.000,00 diterima dari Kuasa
BUD pada tanggal 20 September 2007 dengan menggunakan Bilyet Giro (BG) nomor
BM.820773 tanpa disertai Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dan dikeluarkan dari rekening
Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007 pada hari yang sama dengan menggunakan

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

26

cek nomor Cj 093855. Kemudian uang tersebut diserahkan langsung oleh Bendahara Pengeluaran
kepada Walikota Bima di ruang kerja Walikota.
Konfirmasi dengan Kuasa BUD TA 2007 a.n. Taufikurrahman, diketahui bahwa pencairan
uang sebesar Rp500.000.000,00 dan Rp600.000.000,00 tersebut memang dilakukan tanpa
penerbitan SP2D. Pencairan dana sebesar Rp500.000.000,00 dan Rp600.000.000,00 tersebut
dilakukan karena adanya perintah dari Walikota Bima.
B. Sisa Kas di Bendahara Pengeluaran BPKD
Dalam Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007 saldo kas di Bendahara
Pengeluaran BPKD adalah sebesar Rp502.825.417,00. Dalam saldo kas tersebut terdapat sisa kas
pada Bendahara Pengeluaran BPKD per 31 Desember 2006 yang sampai dengan saat
pemeriksaan belum dikembalikan ke Kas Daerah sebesar Rp499.866.558,00. Pemeriksaan lebih
lanjut diketahui bahwa pada Tahun 2006, BPKD memiliki 2 Bendahara Pengeluaran. Bendahara
Pengeluaran yang pertama Suryadin, S.Sos bertugas dari bulan Januari 2006 sampai dengan bulan
Juni 2006. Bendahara Pengeluaran selanjutnya H. Ahyar, bertugas sebagai Bendahara
Pengeluaran dari bulan Juli 2006 sampai dengan bulan Desember 2006.
Konfirmasi dengan kedua bendahara tersebut, menyatakan tidak mengetahui sama sekali
mengenai sisa UUDP BPKD TA 2006 sebesar Rp499.866.558,00. Kedua bendahara menyatakan
bahwa seluruh kas di Pemegang Kas (PK) di BPKD pada Tahun Anggaran 2006 telah
dipertanggungjawabkan seluruhnya sebesar nilai Kas PK (SPM PK) yang telah diterima selama
Tahun 2006. Kedua Bendahara tidak mengetahui apakah ada atau tidak, sisa kas dari
pertanggungjawaban SPM BT selama Tahun 2007. Hasil konfirmasi dengan semua pejabat di
BPKD juga dijelaskan bahwa tidak ada yang mengetahui secara pasti uang tersebut.
Kondisi tersebut diatas tidak sesuai dengan:
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dalam:
(1) Pasal 20 ayat (1) menyebutkan bahwa Bendahara Umum Daerah berkewajiban untuk
menolak pencairan dana, apabila perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Pengguna
Anggaran tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
(2) Pasal 21 ayat (1) menyebutkan bahwa Pembayaran atas beban APBN/APBD tidak boleh
dilakukan sebelum barang dan/atau jasa diterima.
b. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 28 huruf a dan d
antara lain menetapkan bahwa Kepala Daerah dilarang membuat keputusan yang secara khusus
memberikan keuntungan bagi diri, anggota keluarga, kroni yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan dan dilarang melakukan korupsi, kolusi, nepotisme dan menerima uang,
barang dan/atau jasa.
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pegelolaan Keuangan Daerah dalam:
(1) Pasal 132 ayat (1) menyebutkan bahwa Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus
didukung dengan bukti yang lengkap dan sah.
(2) Pasal 132 ayat (2) menyebutkan bahwa bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
mendapat pengesahan oleh pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebenaran
material yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud.
(3) Pasal 315 ayat (2) yang menyatakan bahwa “Bendahara, Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan
bendahara, atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan
kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah, wajib
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

27

mengganti kerugian tersebut.”
Permasalahan tersebut mengakibatkan adanya indikasi
Rp1.599.866.558,00,00 (Rp1.100.000.000,00 + Rp499.866.558,00).

kerugian

daerah

sebesar

Permasalahan tersebut disebabkan oleh:
a. Walikota Bima membuat kebijakan menggunakan dana daerah yang menyimpang dari peraturan
perundangan yang berlaku.
b. Kuasa BUD TA 2007 Taufikurrahman, S.Sos dan Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA
2007 Samsuddin, S.Sos mengeluarkan uang dari Kas Daerah dan Kas Bendahara Pengeluaran
tidak sesuai peraturan perundangan.
c. Kepala BPKD Kota Bima sebagai Pengguna Anggaran SKPD BPKD tidak melakukan
pengawasan atas pengelolaan anggaran di BPKD.
d. Kepala BPKD Kota Bima sebagai atasan langsung tidak mengawasi kinerja Bendahara
Pengeluaran.
Walikota Bima memberikan tanggapan bahwa untuk perluasan Puskesmas Ranggo senilai
Rp500.000.000,00 dikeluarkan langsung oleh BPKD/BUD tanpa pengajuan SPP/SPM dan untuk hal
tersebut sedang diupayakan pembenahan/penyelesaiannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sedangkan untuk belanja makan dan minum lebaran senilai Rp600.000.000,00 proses pencairannya
sama seperti proses pencairan dana untuk perluasan Puskesmas Ranggo, namun dalam
pelaksanaannya diperuntukkan untuk pemberian bantuan kepada petani berupa nutrisi saputra
sehingga terjadi kesalahan pencatatan, dan untuk itu akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.
Kepala BPKD Kota Bima menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak pernah menerima
uang sebesar Rp500.000.000,00 dan tidak pernah menyerahkannya kepada Walikota Bima. Kepala
BPKD Kota Bima menyatakan bahwa ia hanya menandatangani Bilyet Giro (BG) bersama Kuasa
BUD lalu menyerahkan kepada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007. Kepala BPKD
tidak mengetahui kepada siapa uang tersebut diserahkan oleh Bendahara Pengeluaran Sekretariat
Daerah TA 2007.
Kepala BPKD Kota Bima menyatakan bahwa sisa UUDP pada Bendahara Pengeluaran
BPKD senilai Rp499.866.558,00 merupakan hasil dari penyusunan Neraca TA 2005 dan 2006 dan
belum disetor kembali ke Kas Daerah karena Bendahara Pengeluaran BPKD TA 2005 sdr M. Yamin,
S.Sos telah meninggal dunia. Dan untuk penyelesaian sisa UUDP TA 2006 akan diupayakan
penyelesaiannya untuk disetor kembali ke Kas Daerah.

a.
b.

c.

BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar:
Mengembalikan dana yang telah dikeluarkan secara tidak sah sebesar Rp1.100.000.000,00 ke
Kas Daerah.
Memberikan sanksi bagi Kuasa BUD TA 2007 Taufikurrahman, S.Sos dan Bendahara
Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007 Samsuddin, S.Sos atas kelalaiannya mengeluarkan
uang dari Kas Daerah dan Kas Bendahara Pengeluaran tidak sesuai peraturan perundangan.
Memberikan sanksi bagi Kepala BPKD Kota Bima atas kelalaiannya dalam melaksanakan tugas
sebagai Pengguna Anggaran dan Atasan Langsung Bendahara untuk mengawasi kinerja
Bendahara Pengeluaran dan selanjutnya memerintahkan Kepala BPKD Kota Bima untuk
menyetor kembali sisa kas di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp499.866.558,00 ke Kas Daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

28

10. Pengeluaran Kas sebesar Rp300.000.000,00 untuk Pembangunan Pusat Jajan Serba Ada Kota
Bima Tidak Sah
Pemeriksaan atas Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kota Bima Tahun Anggaran (TA)
2007 diketahui Pemerintah Kota Bima telah merealisasikan belanja daerah seluruhnya selama TA
2007 sebesar Rp216.980.261.039,00. Dari nilai realisasi tersebut, diantaranya terdapat realisasi
belanja Sekretariat Daerah Kota Bima sebesar Rp34.763.679.208,00.
Pemeriksaan secara uji petik atas realisasi belanja Sekretariat Daerah Kota Bima diketahui
bahwa pada bulan November 2007 Sekretariat Daerah Kota Bima merealisasikan belanja modal
pembangunan Pusat Jajan Serba Ada (Pujasera) sebesar Rp300.000.000,00. Pemeriksaan atas
dokumen pertanggungjawaban belanja modal tersebut diketahui Surat Perintah Pencairan Dana
(SP2D) atas kegiatan pembangunan Pujasera tidak ditandatangani oleh Kuasa Bendahara Umum
Daerah (BUD). SP2D dengan nomor 5292/LS/07 tanggal 20 November 2007 tersebut dilampiri Surat
Perintah Pembayaran (SPP) tanpa nomor dengan tanggal 15 November 2007 dan ditandatangani oleh
Bendahara Pengeluaran Samsuddin, S.Sos dan Kepala Bagian Umum Drs. Abdul Gawis dan
dilampiri Surat Perintah Membayar (SPM) tanpa nomor dengan tanggal 15 September 2007 dan tidak
ditandatangani oleh Sekretaris Daerah selaku Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa dokumen pertanggungjawaban tersebut tidak dilampiri
dengan Kwitansi Pembayaran dan Kontrak Pekerjaan Pembangunan Pujasera.
Kwitansi Pembayaran dan Kontrak Pekerjaan Pembangunan Pujasera diperoleh dari
Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007 hanya terdiri dari 2 kwitansi masing-masing
senilai Rp99.000.000,00 dan Rp99.800.000,00. Kedua kwitansi tersebut tanpa disertai dengan tujuan
pembayaran, nomor dan tanggal dibukukannya kwitansi tersebut, serta tidak ditandatangani oleh
Bendahara Pengeluaran, Sekretaris Daerah dan rekanan penerima dana tersebut. Sedangkan kontrak
pekerjaan diperoleh dari Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah dan terdiri dari 3 kontrak. Ketiga
kontrak tersebut masih berupa draft dan belum ditandatangani oleh pihak-pihak yang disebut dalam
kontrak.
Hasil Konfirmasi dengan Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) Sekretariat Kota Bima TA
2007 yang juga merupakan Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Kota Bima
TA 2007 diketahui bahwa yang bersangkutan selama Tahun 2007 tidak pernah melakukan verifikasi
atas SPP kegiatan pembangunan Pujasera dan juga tidak pernah menerbitkan SPM atas kegiatan
tersebut. Yang bersangkutan selaku Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa juga tidak pernah
melaksanakan proses pengadaan barang dan jasa atas kegiatan pembangunan Pujasera tersebut.
Hasil konfirmasi dengan Bendahara Pengeluaran diperoleh penjelasan bahwa selama Tahun
2007 yang bersangkutan tidak pernah membuat dan mengajukan SPP atas kegiatan pembangunan
Pujasera. Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007 membuat SPP, SPM dan SP2D pada
bulan Juli 2008 untuk melengkapi kekurangan pertanggungjawaban realisasi belanja Sekretariat
Daerah TA 2007.
Hasil verifikasi Rekening Koran diketahui bahwa uang sebesar Rp300.000.000,00 tersebut
diterima dari Kuasa BUD pada tanggal 20 November 2007 dengan menggunakan Bilyet Giro (BG)
nomor BN.100842 dan dikeluarkan dari rekening Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA
2007 pada hari yang sama dengan menggunakan cek nomor Cj 093866. Kemudian uang sebesar
Rp300.000.000,00 tersebut diserahkan kepada Walikota Bima diruang kerja Walikota. Oleh Walikota
uang tersebut lalu diserahkan kepada Sdr. Suaeb.
Hasil konfirmasi dengan Suaeb diketahui bahwa yang bersangkutan telah menerima dana
sebesar Rp295.000.000,00 dari Walikota Bima untuk mengerjakan proyek Pusat Jajan Serba Ada.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

29

Pekerjaan tersebut diperintahkan oleh Walikota dan tanpa melalui mekanisme pengadaan barang dan
jasa karena tidak melalui proses lelang dan tanpa ada kontrak. Sampai dengan saat pemeriksaan
berakhir, pekerjaan proyek Pusat Jajan Serba Ada tersebut belum selesai dikerjakan oleh yang
bersangkutan.
Kondisi tersebut diatas tidak sesuai dengan:
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pada Pasal 21 ayat (1)
yang menyatakan bahwa Pembayaran atas beban APBN/APBD tidak boleh dilakukan sebelum
barang dan/atau jasa diterima.
b. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 28 huruf a dan d
antara lain menetapkan bahwa Kepala Daerah dilarang membuat keputusan yang secara khusus
memberikan keuntungan bagi diri, anggota keluarga, kroni yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan dan dilarang melakukan korupsi, kolusi, nepotisme dan menerima uang,
barang dan/atau jasa.
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah dalam:
(1) Pasal 132 ayat (1) menyebutkan bahwa Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus
didukung dengan bukti yang lengkap dan sah.
(2) Pasal 132 ayat (2) menyebutkan bahwa bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
mendapat pengesahan oleh pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebenaran
material yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud.
(3) Pasal 205 ayat (1), (2) dan (3) antara lain menyebutkan bahwa SPP-LS yang diajukan untuk
pengadaan barang dan jasa diantaranya terdiri dari lampiran SPP-LS yang diantaranya terdiri
dari surat perjanjian kerjasama/kontrak antara pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran
dengan pihak ketiga serta mencantumkan nomor rekening bank pihak ketiga, berita acara
penyelesaian pekerjaan, berita acara serah terima barang dan jasa, berita acara pembayaran,
dan kwitansi bermeterai, nota/faktur yang ditandatangani pihak ketiga dan PPTK sertai
disetujui oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.
(4) Pasal 315 ayat (2) yang menyatakan bahwa “Bendahara, Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan
bendahara, atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan
kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah, wajib
mengganti kerugian tersebut.”
Permasalahan tersebut mengakibatkan belanja modal sebesar Rp300.000.000,00 untuk
pembangunan Pujasera tidak sah dan berindikasi kerugian daerah.
Permasalahan tersebut terjadi karena:
a. Walikota Bima membuat kebijakan menggunakan dana daerah yang menyimpang dari peraturan
perundangan.
b. Kuasa BUD TA 2007 dan Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007 yang
mengeluarkan uang dari Kas Daerah dan Kas Bendahara Pengeluaran yang menyimpang dari
peraturan perundangan.
c. Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah TA 2007 dan Bendahara Pengeluaran Sekretariat
Daerah TA 2007 membuat pertanggungjawaban fiktif atas pekerjaan pembangunan Pujasera.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

30

Walikota Bima dan Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah Kota Bima menyatakan bahwa
pelaksanaan pembangunan pujasera berdasarkan permintaan masyarakat Kota Bima sifatnya sangat
mendesak, sehingga segera ditunjuk saudara Suaeb (Bengkel Gajah Mada) untuk melaksanakan
kegiatan pembangunan pujasera dengan rincian: pembangunan gapura senilai Rp100.000.000,00,
pembangunan perlengkapan penjualan untuk pedagang kaki lima senilai Rp100.000.000,00, dan
pembangunan fasilitas pendukung seperti lampu hias dan tong sampah senilai Rp100.000.000,00.
BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar:
a. Mengembalikan dana pembangunan pujasera yang telah dikeluarkan secara tidak sah sebesar
Rp300.000.000,00 ke Kas Daerah.
b. Memberikan sanksi bagi Kuasa BUD TA 2007 dan Bendahara Pengeluaran Sekretariat Daerah
TA 2007 atas kelalaiannya mengeluarkan uang dari Kas Daerah dan Kas Bendahara Pengeluaran
tidak sesuai peraturan perundangan.
c. Memberikan sanksi bagi Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah TA 2007 dan Bendahara
Pengeluaran Sekretariat Daerah TA 2007 atas kesengajaannya membuat pertanggungjawaban
fiktif atas pekerjaan pembangunan Pujasera.

11. Penyertaan Modal Pemerintah Kota Bima Tidak Sesuai Ketentuan
Pemeriksaan atas Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007 diketahui Pemerintah
Kota Bima memiliki saldo investasi jangka panjang berupa penyertaan modal pada BUMD
Pemerintah Kota Bima sebesar Rp2.562.968.642,00. Saldo investasi penyertaan modal tersebut
merupakan saldo investasi penyertaan modal pada 4 BUMD yaitu PT. Bank NTB, BPR LKP Sarae,
KPN Kasabua Ade dan PT. Bima Palapa Sumber Energi, dengan rincian:
No.
1.
2.
3.
4.

Badan Usaha Milik Daerah
PT. Bank NTB
PT. Bima Palapa Sumber Energi
BPR-LKP Sarae
Koperasi Kasabua Ade
Jumlah

Jumlah Investasi (Rp)
1.205.419.127,00
500.000.000,00
654.449.515,00
203.100.000,00
2.562.968.642,00

Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut pada Neraca Pemerintah Kota Bima dan dokumen
pendukung investasi yang dimiliki Pemerintah Kota Bima diketahui beberapa hal sebagai berikut:
A. Penyertaan modal Pemerintah Kota Bima pada PT Bima Palapa Sumber Energi tidak jelas
keberadaannya
Pemeriksaan terhadap data tentang PT Bima Palapa Sumber Energi yang dimiliki oleh Bagian
APP Sekretariat Kota Bima, diketahui bahwa PT Bima Palapa Sumber Energi merupakan
perusahaan gabungan antara PT Chamaris Palapa Sumber Energi dengan Pemerintah Kota Bima
yang didirikan pada Tahun 2005, dengan maksud untuk mengikuti dan memenangkan tender
proyek pembangunan PLTU 2 x 6 MW di Kota Bima. Pada bulan Februari 2005 Direktur Utama
PT Bima Palapa Sumber Energi mengajukan permohonan Dana Penyertaan Modal sebesar
Rp500.000.000,00 sebagai dana dalam rangka proses penyelesaian administrasi tender dengan
janji jika tender tersebut tidak dimenangkan oleh PT Bima Palapa Sumber Energi maka dana
tersebut akan dikembalikan ke Pemerintah Kota Bima. Semua kegiatan menyangkut tender diurus
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

31

oleh PT Bima Palapa Sumber Energi melalui surat tugas khusus No.094/100/2005 dari H.M. Nur
A. Latif (Walikota Bima) sebagai komisaris PT Bima Palapa Sumber Energi kepada Dra Siti
Ruchayati (Direktur Utama PT Bima Palapa Sumber Energi).
Penelusuran atas dokumen penyerahan dana penyertaan modal tersebut diketahui penyerahan
tersebut dilakukan dengan kuitansi tertanggal 5 Desember 2005 sebesar Rp500.000.000,00,
diserahkan oleh Pemegang Kas Sekretariat Kota Bima Samsuddin kepada Siti Ruchayati dan
mengetahui Sekretaris Kota (Drs Maryono Nasiman). Konfirmasi atas realisasi pembayaran
penyertaan modal kepada PT Bima Palapa Sumber Energi kepada Suryani (staf bagian ekonomi)
diketahui yang bersangkutan tidak mengetahui secara persis mengenai pencairan dana tersebut.
Pada saat pencairan dana tersebut, uang telah dikeluarkan terlebih dahulu, dan yang bersangkutan
sebagai pembantu bendahara pengeluaran diberi kuitansi tanda terima dan diperintahkan oleh
Kepala Bagian Ekonomi pada saat itu (Bp. Tajuddin) untuk membuat kelengkapan administrasi
(membuat SPP) atas penyertaan modal pada PT Bima Palapa Sumber Energi sebesar
Rp500.000.000,00. Kepala Bagian Ekonomi pada saat itu tidak dapat dikonfirmasi karena sedang
mengikuti pendidikan di Surabaya.
Konfirmasi atas permasalahan tersebut pada Kepala Bagian APP Sekretariat Daerah Kota
Bima diketahui bahwa pada bulan Februari Tahun 2007 Pemerintah Kota Bima melalui Kepala
Bagian APP menemui Direktur Utama PT Bima Palapa Sumber Energi untuk meminta penjelasan
berkaitan dengan proses tender PLTU tersebut. Direktur Utama PT Bima Palapa Sumber Energi
menyatakan bahwa tender masih berjalan dan uang penyertaan modal dari Pemerintah Kota Bima
masih dalam penjaminan di PLN Pusat dan apabila pada proses tender PT Bima Palapa Sumber
Energi mengalami kekalahan, maka uang penyertaan modal akan dikembalikan. Pada awal Tahun
2008, Pemerintah Kota Bima berusaha menghubungi kembali Direktur Utama PT Bima Palapa
Sumber Energi, akan tetapi yang bersangkutan sudah pindah alamat dan tidak dapat diketahui lagi
keberadaannya, dengan kata lain penyertaan modal Pemerintah Kota Bima pada PT Bima Palapa
Sumber Energi sudah diragukan eksistensinya. Penelusuran selanjutnya atas dokumen penyertaan
modal tersebut diketahui bahwa tidak ada bukti penyertaan yang dimiliki oleh Pemerintah Kota
Bima dalam bentuk saham pada PT Bima Palapa Sumber Energi dan penyertaan modal tersebut
hanya berdasarkan Keputusan Walikota No.100A Tahun 2005 tentang Penyertaan Modal
Pemerintah Daerah Kota Bima pada PT Bima Palapa Sumber Energi. Konfirmasi dengan Kepala
BPKD Pemerintah Kota Bima diketahui bahwa atas penyertaan modal pada PT Bima Palapa
Sumber Energi Tahun Anggaran 2005 tersebut tidak ditetapkan dengan Peraturan Daerah
tersendiri. Penyertaan modal didasarkan atas anggaran yang telah ditetapkan dalam APBD Tahun
Anggaran 2005.
B. Penyertaan modal Pemerintah Kota Bima kurang diterima oleh KPN Kasabua Ade
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota tentang penyertaan modal Pemerintah Kota Bima
pada KPN Kasabua Ade Tahun 2005 dan Tahun 2006 diketahui bahwa nilai penyertaan modal
Pemerintah Kota Bima pada KPN Kasabua Ade adalah sebesar Rp200.000.000,00.
Pemeriksaan terhadap Laporan Pertanggungjawaban Pengurus KPN Kasabua Ade untuk
Tahun buku 2007 diketahui jumlah penyertaan modal Pemerintah Kota Bima yang dicatat dalam
Laporan Keuangan KPN Kasabua Ade adalah sebesar Rp100.000.000,00, sehingga terdapat
selisih antara jumlah penyertaan modal Pemerintah Kota Bima yang diakui oleh Pemerintah Kota
Bima dengan jumlah penyertaan modal Pemerintah Kota Bima yang diakui oleh KPN Kasabua
Ade sebesar Rp100.000.000,00.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

32

Pemeriksaan atas kuitansi pembayaran penyertaan modal Pemerintah Kota Bima kepada KPN
Kasabua Ade Tahun 2005 dan Tahun 2006 diketahui bahwa pembayaran penyertaan modal pada
Tahun 2005 sebesar Rp100.000.000,00 dibayarkan pada tanggal 5 Desember 2005 dan diterima
oleh Syafruddin Jafar, SH selaku Sekretaris Pengurus KPN Kasabua Ade Periode Tahun 2002 s.d
2005. Sedangkan penyertaan modal Tahun 2006 sebesar Rp100.000.000,00 dibayarkan pada
tanggal 30 Mei 2006 dan diterima oleh H. Yurid selaku Manajer KPN Kasabua Ade.
Konfirmasi dengan Manajer KPN Kasabua Ade H. Yurid H. Alwi diketahui bahwa KPN
Kasabua Ade hanya mengakui nilai penyertaan modal Pemerintah Kota Bima sebesar
Rp100.000.000,00 karena pada Tahun 2005 yang bersangkutan tidak pernah tahu dan tidak
pernah menerima bantuan penyertaan modal dari Pemerintah Kota Bima kepada KPN Kasabua
Ade sebesar Rp100.000.000,00. KPN Kasabua Ade menerima bantuan penyertaan modal dari
Pemerintah Kota Bima hanya pada Tahun 2006 sebesar Rp100.000.000,00.
Konfirmasi dengan Syafruddin Jafar, SH yang saat ini menjabat Kepala Dinas Koperasi
Perindustrian dan Perdagangan Kota Bima, diperoleh penjelasan bahwa pada Tahun 2005 yang
bersangkutan hanya diminta oleh Kepala Bagian Ekonomi Tahun 2005 Drs. Tajudin Umar untuk
menandatangani kwitansi penerimaan pembayaran penyertaan modal Pemerintah Kota Bima
kepada KPN Kasabua Ade, sedangkan uang penyertaan modal sebesar Rp100.000.000,00 akan
langsung diserahkan oleh Drs. Tajudin Umar kepada Manajer Koperasi.
Konfirmasi dengan Drs. Tajudin Umar dilakukan melalui telepon pada tanggal 8 September
2008 dengan menggunakan telepon genggam milik Syafruddin Jafar, SH, karena Drs. Tajudin
Umar sedang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan di Surabaya. Dari hasil konfirmasi diketahui
bahwa uang penyertaan modal sebesar Rp100.000.000,00 tersebut oleh Drs. Tajudin Umar tidak
diserahkan kepada KPN Kasabua Ade, namun diserahkan kepada Walikota Bima M. Nur A. Latif
atas perintah Walikota Bima.
C. Penggunaan Langsung atas Laba Penyertaan Modal pada KPN Kasabua Ade
Pemeriksaan terhadap Laporan Pertanggungjawaban Pengurus KPN Kasabua Ade untuk
Tahun buku 2007 diketahui Pemerintah Kota Bima untuk Tahun Buku 2007 mendapatkan bagian
laba usaha atau Sisa Hasil Usaha (SHU) atas modal yang telah disertakan pada Koperasi KPN
Kasabua Ade sebesar Rp2.510.000,00. Hasil konfirmasi dengan Manajer KPN Kasabua Ade
diketahui bahwa SHU tersebut telah disetorkan ke Pemerintah Kota Bima pada tanggal 9 Juli
2008 melalui Kepala Sub Bagian Penanaman Modal Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah TA
2008.
Dari hasil konfirmasi dengan Kepala Sub Bagian Penanaman Modal diketahui bahwa SHU
sebesar Rp2.510.000,00 belum disetor ke Kas Daerah karena telah digunakan oleh yang
bersangkutan untuk kepentingan dinas atas seijin Kepala Bagian Ekonomi Sekretraiat Daerah TA
2008. Sampai dengan pemeriksaan berakhir uang tersebut belum disetorkan oleh yang
bersangkutan ke Kas daerah.
Kondisi tersebut diatas tidak sesuai dengan :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pada Pasal 41 ayat (5)
yang menyatakan bahwa Penyertaan Modal Pemerintah Daerah pada perusahaan
negara/daerah/swasta ditetapkan dengan peraturan daerah.
b. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 28 huruf a dan d
antara lain menetapkan bahwa Kepala Daerah dilarang membuat keputusan yang secara khusus
memberikan keuntungan bagi diri, anggota keluarga, kroni yang bertentangan dengan peraturan
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

33

perundang-undangan dan dilarang melakukan korupsi, kolusi, nepotisme dan menerima uang,
barang dan/atau jasa.
c. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah pada Pernyataan
No.06 Akuntansi Investasi pada:
(1) Paragraf 20 yang menyebutkan bahwa suatu pengeluaran kas atau aset dapat diakui sebagai
investasi apabila memenuhi salah satu kriteria:
1) Kemungkinan manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa pontensial di masa yang
akan datang atas suatu investasi tersebut dapat diperoleh pemerintah;
2) Nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur secara memadai (reliable).
(2) Paragraf 23 yang menyebutkan bahwa Kriteria pengakuan investasi sebagaimana dinyatakan
pada paragraf 20 butir b, biasanya dapat dipenuhi karena adanya transaksi pertukaran atau
pembelian yang didukung dengan bukti yang menyatakan/mengidentifikasikan biaya
perolehannya. Dalam hal tertentu, suatu investasi mungkin diperoleh bukan berdasarkan
biaya perolehannya atau berdasarkan nilai wajar pada tanggal perolehan.
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah dalam:
(1) Pasal 71 ayat (7) menyebutkan bahwa Investasi Pemerintah Daerah dapat dianggarkan
apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam
peraturan daerah tentang penyertaan modal dengan berpedoman pada Peraturan Menteri
Dalam Negeri.
(2) Pasal 122 ayat (3) menyebutkan bahwa Penerimaan SKPD dilarang digunakan langsung
untuk membiayai pengeluaran, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan.
(3) Pasal 122 ayat (4) menyebutkan bahwa Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor
ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja.
(4) Pasal 132 ayat (1) menyebutkan bahwa Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus
didukung dengan bukti yang lengkap dan sah.
(5) Pasal 132 ayat (2) menyebutkan bahwa bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
mendapat pengesahan oleh pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebenaran
material yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud.
(6) Pasal 142 ayat (2) menyebutkan bahwa Pemerintah daerah tidak dapat memberikan jaminan
atas pinjaman pihak lain.
(7) Pasal 315 ayat (2) menyebutkan bahwa “Bendahara, Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan
bendahara, atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan
kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah, wajib
mengganti kerugian tersebut.”
e. Keputusan Walikota Bima Nomor 112 Tahun 2005 tentang Perkuatan Modal Pemerintah Kota
Bima pada Koperasi KPN Kasabua Ade dalam diktum pertama menyebutkan bahwa Pemerintah
Kota Bima memberikan perkuatan modal bagi KPN Kasabua Ade per Juni 2005 sebesar
Rp100.000.000,00.
Permasalahan tersebut mengakibatkan adanya indikasi kerugian
Rp602.510.000,00 (Rp500.000.000,00 + Rp100.000.000,00 + Rp2.510.000,00).

daerah

sebesar

Permasalahan tersebut terjadi karena:
a. Walikota Bima sebagai Komisaris PT Bima Palapa Sumber Energi tidak memantau
perkembangan penyelesaian tender atas PLTU di Kota Bima.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

34

b. Itikad tidak baik dari Direksi PT Bima Palapa Sumber Energi dalam pengelolaan dana
Pemerintah Kota Bima dan tidak mematuhi perjanjian yang telah dibuat.
c. Walikota Bima membuat kebijakan menggunakan dana daerah yang ditujukan untuk penyertaan
modal pada KPN Kasabua Ade tidak sesuai peruntukannya.
d. Kepala Bagian Ekonomi TA 2005 Drs. Tajudin Umar menyerahkan uang yang ditujukan untuk
penyertaan modal pada KPN Kasabua Ade tidak sesuai peruntukannya.
e. Kepala Sub Bagian Penanaman Modal Firmansyah, S.Sos, M.Ap. dan Kepala Bagian Ekonomi
Sekretariat Daerah TA 2008 Drs. H. Idrus H. Idris, SH, MH menggunakan langsung bagian laba
atas penyertaan modal Pemerintah Kota Bima serta tidak menyetorkan ke Kas Daerah.
Walikota Bima dan Kepala Bagian Ekonomi menyatakan bahwa penyertaan modal pada PT
Bima Palapa Sumber Energi sebesar Rp500.000.000,00 dihajatkan untuk mensukseskan pelaksanaan
tender proyek pembangunan PLTU 2 x 6 MW di Kota Bima Tahun 2005. Penyertaan Modal tersebut
merupakan piutang Pemerintah Kota Bima pada Direktur PT Bima Palapa Sumber Energi. Ke depan
Pemerintah Kota Bima akan berupaya meminta kembali piutang tersebut dan akan memperbaiki pola
kerja sama investasi dengan pihak lain di masa yang akan datang.
Walikota Bima memberikan tanggapan bahwa dana sebesar Rp100.000.000,00 tidak jadi
diserahkan kepada KPN Kasabua Ade karena digunakan untuk membayar paket lebaran kepada pihak
ketiga berupa sarung dan lain-lain.
Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah TA 2008 Drs. H. Idrus H. Idris, SH, MH
memberikan tanggapan bahwa SHU atas penyertaan modal Pemerintah Kota Bima Tahun Buku 2007
sebesar Rp2.510.000,00 belum disetorkan ke Kas Daerah karena digunakan untuk beberapa kegiatan
Bagian Ekonomi. SHU tersebut akan disetorkan ke Kas Daerah pada bulan Oktober 2008 dan
kedepan hal tersebut tidak akan terulang lagi.

a.
b.
c.
d.
e.

BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar:
Menertibkan semua penyertaan modal Pemerintah untuk ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Menarik kerugian daerah atas investasi pada PT Bima Palapa Sumber Energi sebesar
Rp500.000.000,00 dan menyetorkan ke kas daerah.
Mengembalikan dana penyertaan modal Pemerintah Kota Bima pada KPN Kasabua Ade yang
telah digunakan tidak sesuai peruntukannya sebesar Rp100.000.000,00 ke Kas Daerah.
Memberikan sanksi bagi Kepala Bagian Ekonomi TA 2005 Drs. Tajudin Umar yang tidak
menyerahkan uang sebesar Rp100.000.000,00 sesuai peruntukannya.
Memberikan sanksi bagi Kepala Sub Bagian Penanaman Modal Firmansyah, S.Sos, MAP., dan
Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah TA 2008 Drs. H. Idrus H. Idris, SH, MH yang
menggunakan langsung uang laba atas penyertaan modal Pemerintah Kota Bima dan selanjutnya
memerintahkan untuk menyetorkan kembali SHU sebesar Rp2.510.000,00 ke Kas Daerah.

12. Pemberian Bantuan Ekonomi Mikro kurang diterima oleh penerima bantuan sebesar
Rp800.000.000,00
Pemeriksaan atas Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Kota Bima Tahun Anggaran (TA)
2007 diketahui Pemerintah Kota Bima telah merealisasikan belanja daerah seluruhnya selama TA
2007 sebesar Rp216.980.261.039,00. Dari nilai realisasi tersebut, diantaranya terdapat realisasi
belanja Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kota Bima sebesar Rp 35.589.041.752,00.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

35

Pemeriksaan secara uji petik atas realisasi belanja BPKD Kota Bima diketahui bahwa BPKD
Kota Bima telah merealisasikan belanja bantuan modal pos keuangan mikro (UKM) seluruhnya
sebesar Rp1.452.500.000,00. Dari hasil konfirmasi dengan Bendahara Pengeluaran dan verifikasi
terhadap SPJ BPKD diketahui dari realisasi tersebut diantaranya sebesar Rp1.000.000.000,00
merupakan realisasi belanja bantuan ekonomi mikro bagi CV. Khair selaku Agen Nutrisi Saputra
Kota Bima.
Pemeriksaan atas dokumen pertanggungjawaban belanja bantuan tersebut berupa Surat
Perintah Pencairan Dana (SP2D) dan lampirannya yaitu Surat Perintah Pembayaran (SPP) dan Surat
Perintah Membayar (SPM) diketahui bahwa bantuan tersebut selama Tahun 2007 dibayarkan dengan
6 SP2D dengan rincian sebagai berikut:
No
1
2
3
4
5
6

Nomor SP2D
1965/LS/2007
3276/LS/2007
3299/LS/2007
3585/LS/2007
4068/LS/2007
5512/LS/2007
Jumlah

Nilai bantuan (Rp)
100.000.000,00
20.000.000,00
700.000.000,00
50.000.000,00
30.000.000,00
100.000.000,00
1.000.000.000,00

Pemeriksaan lebih lanjut atas keenam SP2D tersebut, diketahui bahwa antara SPP, SPM dan
SP2D terdapat ketidakkonsistenan nomor, tanggal serta bulan antara masing-masing dokumen.
Konfirmasi dengan Kepala Bagian Tata Usaha selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
BPKD diperoleh penjelasan bahwa dokumen SPP dan SPM untuk pemberian bantuan ekonomi mikro
bagi CV. Khair selaku Agen Nutrisi Saputra Kota Bima dibuat berdasarkan disposisi tertulis dari
Kepala BPKD pada bulan Mei 2007. Disposisi tersebut memerintahkan agar yang bersangkutan untuk
membuat SPP dan SPM sebesar Rp100.000.000,00, Rp100.000.000,00 dan Rp700.000.000,00.
Konfirmasi dengan Bendahara Pengeluaran BPKD TA 2007 diperoleh keterangan bahwa
yang bersangkutan selama Tahun 2007 telah mempertanggungjawabkan pengeluaran untuk
pemberian bantuan ekonomi mikro bagi CV. Khair selaku Agen Nutrisi Saputra Kota Bima sebanyak
6 kali dengan nilai total sebesar Rp1.000.000.000,00. Bendahara Pengeluaran BPKD TA 2007
menyatakan bahwa dari nilai sebesar Rp1.000.000.000,00 tersebut, bantuan yang memang diserahkan
langsung oleh yang bersangkutan hanya sebesar Rp300.000.000,00. Pemberian bantuan tersebut
berdasarkan perintah lisan dari Ir. Khairil selaku pemilik CV. Khair selaku Agen Nutrisi Saputra Kota
Bima yang juga merupakan Anggota DPRD Kota Bima Periode 2004-2009, dengan melampirkan
proposal permohonan bantuan dari CV. Khair.
Bendahara Pengeluaran BPKD TA 2007 memberikan penjelasan bahwa untuk pembayaran
bantuan sebesar Rp700.000.000,00, tidak dibayarkan oleh yang bersangkutan. Penjelasan lebih lanjut
diketahui Bendahara Pengeluaran BPKD TA 2007 mendapat perintah dari Kuasa BUD TA 2007
untuk membuat kelengkapan dokumen pertanggungjawaban atas pengeluaran bantuan sebesar
Rp700.000.000,00.
Pemeriksaan atas proposal permohonan bantuan dari CV. Khair, diketahui bahwa bantuan
tersebut diberikan dalam bentuk modal bergulir. Konfirmasi dengan Kepala Bagian Ekonomi TA
2007 Sekretariat Daerah Kota Bima diketahui bahwa dokumen pendukung pemberian bantuan modal
bergulir tersebut berupa 1 Surat Keputusan Walikota No. 67 Tahun 2007 tentang Program Bantuan

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

36

Dana Keuangan Ekonomi Mikro kepada Usaha Kecil tanggal 26 April 2007 dan 2 (dua) perjanjian
antara Kepala Bagian Ekonomi TA 2007 dengan pemilik CV. Khair dalam rangka penyaluran
bantuan ekonomi mikro bagi CV. Khair selaku Agen Nutrisi Saputra Kota Bima yaitu Perjanjian
Pertama No500/27/EKO/V/2007 dan No.07/KHAIR/V/2007 tanggal 09 Mei 2007 dan Perjanjian
Kedua No500/56/EKO/IX/2007 dan No.21/KHAIR/IX/2007 tanggal 13 September 2007.
Berdasarkan penjelasan Kepala Bagian Ekonomi TA 2007 diketahui 2 (dua) Surat perjanjian
tersebut dibuat oleh yang bersangkutan pada bulan Mei 2007 dan September 2007 namun berdasarkan
penelusuran pada Agenda Surat Masuk/Keluar Tahun 2007 milik Bagian Ekonomi Setda diketahui
kedua perjanjian tersebut tidak tercatat dan surat dengan nomor 27 tercatat pada bulan April 2007
tidak pada bulan Mei 2007 yaitu No 500/27/EKO/IV/2007 perihal Surat Keterangan Alokasi
Penerimaan BBM dengan penerima Safiuddin, demikian atas surat dengan nomor 56 tercatat pada
bulan Mei 2007 tidak pada bulan September 2007 yaitu Surat No500/56/EKO/V/2007 tanggal 21 Mei
2007 perihal Persetujuan Dukungan dengan Penerima Walikota Bima serta untuk korespondensi
bulan September Nomor Surat 95 ke atas. Hal ini mengindikasikan Surat Perjanjian dengan CV.Khair
fiktif atau baru dibuat pada saat pemeriksaan. Atas hal tersebut Kepala Bagian Ekonomi tetap
menjelaskan bahwa Surat Perjanjian benar dibuat pada Mei dan September 2007..
Dalam SK Walikota maupun Perjanjian tersebut disebutkan bahwa Pemerintah Kota Bima
memberikan bantuan bagi CV. Khair sebanyak 2 kali dengan nilai Rp700.000.000,00 dan
Rp200.000.000,00. Berdasarkan Buku Penomoran SK Walikota Tahun 2007 (No 1 s/d 238) Milik
Bagian Hukum Setda Kota Bima diketahui bahwa SK Walikota No. 67 Tahun 2007 tentang Program
Bantuan Dana Keuangan Ekonomi Mikro kepada Usaha Kecil tanggal 26 April 2007 tidak tercatat
pada Buku Penomoran tersebut. Labih lanjut pada Buku tersebut terdapat SK Walikota No. 67 Tahun
2007 tentang Pengukuhan Pengurus Kontak Tani Andalan (KTA) Kota Bima Periode 2006 – 2011
tanggal 15 Maret 2007. Konfirmasi lisan dengan Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kota
Bima diketahui seluruh SK Walikota yang melalui proses verbal pasti akan dimasukkan pada Buku
Penomoran SK dan atas dua SK dengan Nomor yang sama tersebut dijelaskan bahwa Kepala Bagian
Hukum tidak pernah menerbitkan SK Walikota tentang pemberian bantuan bagi CV. Khair tersebut.
Hal ini juga mengindikasikan bahwa SK Walikota tersebut fiktif atau baru dibuat pada saat
pemeriksaan.
Konfirmasi dengan Ir.Khairil pemilik CV. Khair (juga sebagai Anggota DPRD) selaku Agen
Nutrisi Saputra Kota Bima diperoleh penjelasan bahwa yang bersangkutan mengajukan proposal
permohonan bantuan kepada Pemerintah Kota Bima untuk memberikan bantuan pembelian nutrisi
saputra bagi para petani di wilayah Kota Bima. Atas permohonan bantuan tersebut, Pemerintah Kota
memberikan bantuan dengan pola modal bergulir. Pemilik CV. Khair memberikan penjelasan bahwa
selama tahun 2007 tidak pernah menerima bantuan sebanyak Rp1.000.000.000,00 dari Pemerintah
Kota Bima. Yang bersangkutan selama tahun 2007 hanya menerima bantuan modal bergulir sebesar
Rp200.000.000,00. Bantuan sebesar Rp200.000.000,00 tersebut diterima sebanyak 3 kali dengan nilai
Rp100.000.000,00 dan Rp50.000.000,00 yang diberikan secara tunai oleh Kuasa BUD TA 2007 dan
Rp50.000.000,00 yang diberikan secara tunai oleh Bendahara Pengeluaran BPKD TA 2007.
Penjelasan lebih lanjut oleh pemilik CV. Khair diketahui bahwa yang bersangkutan baru memperoleh
bantuan modal bergulir bagi penyaluran nutisi saputra sebesar Rp1.000.000.000,00 pada Tahun
Anggaran 2008.
Pemilik CV. Khair menjelaskan bahwa dalam rangka proses administrasi untuk pemberian
bantuan ekonomi mikro untuk pemberian Nutrisi Saputra, dirinya beberapa kali diminta untuk
menandatangani kwitansi pembayaran kosong, termasuk kwitansi pembayaran sebesar
Rp700.000.000,00 yang dia tandatangani ketika dipanggil ke rumah Walikota. Atas pemberian
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

37

tandatangan tersebut, yang bersangkutan tidak pernah menerima dana bantuan sebesar
Rp700.000.000,00 baik ketika berada di rumah walikota tersebut maupun setelahnya.
Hasil Konfirmasi dengan Kuasa BUD TA 2007 diketahui bahwa pengeluaran dana Kas
Daerah untuk bantuan ekonomi mikro bagi CV. Khair selaku Agen Nutrisi Saputra Kota Bima
sebesar Rp700.000.000,00 dilakukan pada bulan Februari 2007 tanpa melalui penyampaian SPP,
SPM maupun penerbitan SP2D. Yang bersangkutan mengeluarkan dana tersebut dari Kas Daerah atas
perintah lisan Walikota Bima yang disampaikan oleh Kepala Bidang Anggaran BPKD. Atas perintah
tersebut, yang bersangkutan mencairkan dana sebesar Rp700.000.000,00 tersebut dan
mengantarkannya ke rumah Walikota. Di rumah Walikota tersebut, Kuasa BUD TA 2007 meminta
pemilik CV. Khair untuk menandatangani kwitansi pembayaran pemberian bantuan nutrisi bagi CV.
Khair.
Kondisi tersebut diatas tidak sesuai dengan:
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dalam:
(1) Pasal 20 ayat (1) menyebutkan bahwa Bendahara Umum Daerah berkewajiban untuk
menolak pencairan dana, apabila perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Pengguna
Anggaran tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
(2) Pasal 21 ayat (4) Bendahara Pengeluaran wajib menolak perintah bayar dari Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran apabila persyaratan yang pembayaran tidak dipenuhi.
b. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 28 huruf a dan d
antara lain menetapkan bahwa Kepala Daerah dilarang membuat keputusan yang secara khusus
memberikan keuntungan bagi diri, anggota keluarga, kroni yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan dan dilarang melakukan korupsi, kolusi, nepotisme dan menerima uang,
barang dan/atau jasa.
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah dalam:
(1) Pasal 132 ayat (1) menyebutkan bahwa Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus
didukung dengan bukti yang lengkap dan sah.
(2) Pasal 132 ayat (2) menyebutkan bahwa bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
mendapat pengesahan oleh pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebenaran
material yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud.
(3) Pasal 315 ayat (2) yang menyatakan bahwa “Bendahara, Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan
bendahara, atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan
kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah, wajib
mengganti kerugian tersebut.”
Permasalahan pemberian bantuan ekonomi mikro dana bergulir yang kurang diterima oleh
penerima bantuan tersebut mengakibatkan adanya indikasi kerugian daerah sebesar
Rp800.000.000,00.

a.
b.
c.

Permasalahan tersebut terjadi karena:
Walikota Bima membuat kebijakan menggunakan dana daerah yang menyimpang dari peraturan
perundangan yang berlaku.
Kepala Bagian Ekonomi sebagai Wakil Pemerintah Kota Bima tidak melakukan pemantauan atas
pencairan dana bantuan nutrisi tersebut.
Kuasa BUD TA 2007 dan Bendahara Pengeluaran BPKD TA 2007 yang mengeluarkan uang dari

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

38

Kas Daerah dan Kas Bendahara Pengeluaran tidak sesuai peraturan perundangan.
Walikota memberikan tanggapan bahwa pemberian pinjaman tersebut tidak dibuatkan SK
Walikota dan hanya berdasarkan SK Sekretaris Daerah. Kedepannya akan dilakukan perbaikan
manajemen untuk dana UKM sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

a.
b.
c.

BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar:
Mengembalikan dana bantuan ekonomi mikro yang tidak disalurkan sesuai peruntukkannya
sebesar Rp800.000.000,00 ke Kas Daerah.
Memberikan sanksi kepada Kepala Bagian Ekonomi sebagai Wakil Pemerintah Kota Bima yang
tidak melakukan pemantauan atas pencairan dana bantuan nutrisi tersebut.
Memberikan sanksi kepada Kuasa BUD TA 2007 Taufikurrahman, S.Sos dan Bendahara
Pengeluaran BPKD TA 2007 A. Khairil yang mengeluarkan uang dari Kas Daerah dan Kas
Bendahara Pengeluaran tidak sesuai peraturan perundangan.

13. Penerimaan Insentif PBB sebesar Rp1.838.463.000,00 dibagikan tidak melalui mekanisme
pengelolaan APBD serta sebesar Rp1.327.168.949,00 diantaranya dibagikan kepada yang tidak
berhak menerima
Pemeriksaan atas Neraca per 31 Desember 2007 Pemerintah Kota Bima diketahui Pemerintah
Kota Bima tidak memiliki piutang, baik piutang pajak, piutang retribusi, piutang dana bagi hasil,
ataupun piutang ganti rugi atas kekayaan daerah. Penelusuran atas berita acara rekonsiliasi
penerimaan dana perimbangan antara Dirjen Perimbangan Keuangan Daerah dan Pemerintah Kota
Bima diketahui pada Tahun Anggaran 2007 Pemerintah Kota Bima mendapatkan alokasi insentif atas
penerimaan PBB yang melebihi target sebesar Rp1.838.463.000,00.
Penelusuran selanjutnya pada rekening koran Bank BNI No.0053763211 atas nama Badan
Pengelola Keuangan Daerah diketahui alokasi insentif PBB Tahun Anggaran 2007 tersebut
direalisasikan pada Tahun Anggaran 2008 dan masuk ke rekening kas daerah (No. Rek. 0053763211
pada Bank BNI cabang Raba-Bima atas nama Badan Pengelola Keuangan Daerah) pada tanggal 21
Januari 2008 sebesar Rp1.838.463.000,00 dan pada tanggal 21 Januari 2008 itu juga dana tersebut
ditarik secara tunai oleh Bendahara PBB Bidang Pendapatan BPKD. Penelusuran selanjutnya
diketahui bahwa insentif PBB TA 2007 tersebut dibagikan kepada pejabat penanggung jawab, aparat
pengelola administrasi keuangan, petugas koordinasi, pengawas, juru pungut, pembantu juru pungut,
dan instansi terkait serta pengadaan sarana prasarana berdasarkan Surat Keputusan Walikota Bima
No.238 Tahun 2007 tanggal 29 Desember 2007 tentang Penetapan Pembagian Insentif Pajak Bumi
dan Bangunan (PBB) Pemerintah Kota Bima. SK tersebut hanya membagi persentase yang akan
diterima oleh masing-masing pihak, akan tetapi tidak membagi persentase secara pasti untuk masingmasing pegawai yang berhak menerima pembagian insentif tersebut.
Penelusuran atas syarat syarat administrasi atas pembagian dana insentif pelampauan PBB
tersebut diketahui tidak terdapat SPP, SPM, atau SP2D yang diterbitkan untuk pencairan dana insentif
tersebut, dengan kata lain dana tersebut dikeluarkan dan dipertanggungjawabkan tidak melalui
mekanisme APBD.
Penelusuran pada buku rekapitulasi pembagian insentif PBB diketahui insentif PBB tersebut
dibagi dalam dua tahap, tahap pertama dibagikan pada tanggal 24 Januari 2007, dan tahap kedua
dibagikan pada tanggal 13 Februari 2007 dengan jumlah realisasi pembagian sebesar
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

39

Rp1.838.371.969,00. Tidak ada Surat Ketetapan yang diterbitkan untuk mengatur jumlah realisasi
pembagian untuk masing-masing pegawai. Realisasi pembagian tersebut termasuk realisasi
pengadaan dua unit mobil operasional sebesar Rp319.000.000,00 dan pengadaan tiga unit sepeda
motor operasional sebesar Rp36.850.000,00 serta untuk membayar PPh pasal 21 atas pembagian
insentif. Untuk pengadaan mobil operasional, satu unit mobil dengan plat nomor EA 64 S dipakai
oleh Kepala Bidang Pendapatan BPKD Pemerintah Kota Bima, dan satu unit mobil dengan plat
nomor EA 63 S dipinjam pakaikan kepada Kantor Pelayanan PBB Raba-Bima, sedangkan dua unit
sepeda motor dipinjam pakaikan kepada Kepala Kelurahan Dodu Kecamatan Rasanae Timur Kota
Bima dan Kepala Kelurahan Melayu Kecamatan Asakota. Penelusuran atas berita acara pinjam pakai
baik untuk mobil maupun untuk motor diketahui bahwa Berita Acara Penyerahan Kendaraan tersebut
masih dalam bentuk draft. Untuk berita acara penyerahan mobil, peminjam pakai (Kepala KP PBB
Raba Bima) sudah tanda tangan, akan tetapi Walikota Bima belum tanda tangan, sedangkan untuk
berita acara penyerahan motor belum ada pihak yang menandatangani berita acara pinjam pakai.
Penelusuran atas rincian pegawai yang menerima insentif PBB tersebut diketahui terdapat pegawai
selain yang tercantum pada SK Walikota No.91 Tahun 2007 tentang penunjukan juru pungut, atasan
langsung juru pungut, petugas pengawas, dan koordinator pungutan PBB TA 2007 yang juga
menerima pembagian insentif dengan jumlah sebesar Rp1.327.168.949,00 (rincian penerima
pembagian insentif pada lampiran 1). Selain SK Walikota No.91 Tahun 2007 diatas, terdapat juga
SK Walikota No.92 Tahun 2007 tentang penunjukan Tim Pelaksana Penagihan PBB sektor perkotaan
TA 2007 yang berisi penunjukan pejabat dan pegawai di lingkungan BPKD Kota Bima sebagai tim
dan koordinator penagihan PBB sektor perkotaan, akan tetapi sampai dengan pemeriksaan berakhir,
Tim Pemeriksa tidak dapat memperoleh output yang dihasilkan oleh tim tersebut.
Konfirmasi atas permasalahan diatas pada Kepala Bidang Pendapatan diketahui bahwa
penerimaan insentif PBB tersebut dianggap sebagai dana non budgeter sehingga tidak dimasukkan ke
dalam APBD.

a.

b.

c.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada
pasal 122 ayat (4) yang menyatakan bahwa Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor
ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja.
Peraturan Pemerintah No.39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah pada pasal
sebagai berikut:
1). Pasal 12 ayat (2) yang menyatakan bahwa ” Uang Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) terdiri dari uang dalam Kas Daerah dan uang pada Bendahara Penerimaan daerah dan
Bendahara Pengeluaran daerah”.
2). Pasal 13 ayat (2) yang menyatakan bahwa ” Pengurangan Uang Daerah diakibatkan oleh:
a) belanja daerah;
b) pengeluaran pembiayaan, antara lain pembayaran pokok utang, penyertaan modal
pemerintah daerah, dan pemberian pinjaman; dan
c) pengeluaran daerah lainnya, antara lain pengeluaran perhitungan pihak ketiga.
Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 2000 tentang Pembagian Hasil Penerimaan PBB antara
Pemerintah Pusat dan Daerah pada:
1). Pasal 3 ayat (3) yang menyatakan bahwa alokasi pembagian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditentukan sebagai berikut
:
a. 65% (enam puluh lima per seratus) dibagikan secara merata kepada seluruh Daerah
Kabupaten/Kota;

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

40

b.

d.

35% (tiga puluh lima per seratus) dibagikan sebagai insentif kepada Daerah
Kabupaten/Kota yang realisasi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pedesaan
dan perkotaan pada Tahun Anggaran sebelumnya mencapai/melampaui rencana
penerimaan yang ditetapkan.
2). Pasal 4 yang menyatakan bahwa hasil penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan bagian Daerah
Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf a
dan huruf b dan Pasal 3 ayat (2) merupakan pendapatan Daerah dan setiap tahun anggaran
dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Lampiran SK Walikota No.91 Tahun 2007 tentang penunjukan juru pungut, atasan langsung juru
pungut, petugas pengawas, dan koordinator pungutan PBB TA 2007;

Kondisi tersebut mengakibatkan kerugian daerah atas pembagian insentif PBB kepada yang
tidak berhak menerima sebesar Rp1.327.168.949,00.

a.
b.

Kondisi tersebut terjadi karena:
Walikota Bima mengeluarkan SK tentang Penetapan Pembagian Insentif Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB) Pemerintah Kota Bima.
Kepala Bidang Pendapatan BPKD Kota Bima dan Kepala BPKD Kota Bima membagi insentif
kelebihan penerimaan PBB tersebut tanpa melalui mekanisme APBD.

Walikota Bima menyatakan bahwa insentif tersebut akan dicantumkan pada APBD P 2008
baik sebagai penerimaan maupun belanja. Pembagian insentif tersebut diatur dengan keputusan
Walikota dan mengenai pengadaan kendaraan dimaksud sangat dibutuhkan untuk menunjang
kegiatan operasional pemungutan PBB.
BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar menarik dana insentif APBD yang
dibagikan kepada yang tidak berhak menerima sebesar Rp1.327.168.949,00 dan menyetorkannya ke
kas daerah.

14. Pengelolaan Investasi Dana Bergulir pada Pemerintah Kota Bima Tidak Sesuai Ketentuan
Pemeriksaan atas Neraca Pemerintah Kota Bima per 31 Desember 2007 diketahui Pemerintah
Kota Bima memiliki saldo investasi jangka panjang berupa investasi dana bergulir sebesar
Rp2.490.355.493,00 Saldo investasi dana bergulir tersebut merupakan saldo investasi dana bergulir
pada 4 Satuan Kerja Perangkat Daerah yaitu:
No
1
2
3
4

SKPD
Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan
Sekretariat Daerah (Bagian Ekonomi)
Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan
Dinas Perikanan dan Kelautan
Jumlah

Saldo Dana Bergulir (Rp)
318.214.493,00
2.042.157.000,00
129.984.000,00
92.871.000,00
2.490.355.493,00

Berdasarkan Hasil konfirmasi dengan pengelola dana bergulir di 3 SKPD (Dinas Koperindag, Bagian
Ekonomi Sekda dan Kantor PMP), bukti-bukti penerimaan serta penyaluran kembali, diketahui bahwa
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

41

penerimaan kembali investasi dana bergulir dari masing-masing UKM maupun Koperasi penerima
bantuan disimpan oleh masing-masing bendahara pengelola investasi dana bergulir dan kemudian
disalurkan kembali bagi UKM-UKM yang sedang membutuhkan bantuan modal.
Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut diketahui hal-hal sebagai berikut:
A. Pengembalian investasi dana bergulir di Dinas Koperindag tidak disalurkan kembali ke
Masyarakat
Hasil konfirmasi dengan Bendahara pengelola dana bergulir di Dinas Koperindag, serta dari
hasil pemeriksaan terhadap Buku Kas Bendahara pengelola dana bergulir diketahui bahwa dana
dari hasil pengembalian atas pengelolaan dana bergulir dari UKM atau Koperasi Peminjam telah
disalurkan kembali pada Tahun 2007 dan 2008 kepada UKM atau Koperasi lain yang juga
membutuhkan. Penyaluran kembali dana bergulir tersebut tanpa disertai SK dari Walikota tentang
penetapan UKM atau Koperasi penerima bantuan dana. Penyaluran kembali dana bergulir
tersebut hanya berdasarkan SK dari Kepala Dinas Koperindag.
Hasil pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa dari bunga yang telah diperoleh dari
penyaluran dana bergulir tersebut, disetor ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD)
sebesar 20%, sebagai honor untuk 3 orang penagih sebesar 60%, dan sebagai penambah pokok
sebesar Rp20% dari total bunga yang diterima. Penjelasan bendahara pengelola dana bergulir,
bunga yang merupakan PAD telah disetorkan oleh bendahara pengelola dana bergulir kepada
Bendahara Penerimaan Dinas Koperindag sedangkan honor untuk 3 orang penagih dibayarkan
kepada Kepala Bidang UKM Dinas Koperindag
Pemeriksaan lebih lanjut atas buku kas bendahara pengelola dana bergulir diketahui bahwa
uang hasil pengembalian dana bergulir selain digulirkan kembali kepada UKM atau Koperasi
juga untuk membayar honor monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan dana bergulir tersebut.
Honor monitoring dan evaluasi tersebut dibayarkan kepada Kepala Bidang UKM Dinas
Koperindag. Konfirmasi dengan Kepala Bidang UKM diketahui bahwa pembayaran honor untuk
penagih maupun untuk monitoring dan evaluasi tersebut tanpai disertai dengan SK Walikota
tentang pemberian honor untuk penagih maupun untuk monitoring dan evaluasi.
Selain digulirkan kembali kepada UKM atau Koperasi dan pembayaran honor uang hasil
pengembalian dana bergulir juga digunakan untuk kepentingan pegawai di lingkup Dinas
Koperindag selain dari kepentingan pengelolaan dana bergulir. Penjelasan bendahara pengelola
dana bergulir diketahui bahwa penggunaan dana diluar kepentingan dana bergulir tersebut
dilakukan seijin Kepala Dinas Koperindag. Sampai dengan saat pemeriksaan, pengeluaran yang
tidak jelas tersebut masih banyak yang belum dikembalikan kepada bendahara pengelola dana
bergulir oleh pihak yang menggunakan, dengan rincian sebagai berikut:
Biaya Monitoring
No
Nama Pihak Pengguna
Pinjaman yang
dan Evaluasi
belum dibayar
(Rp)
(Rp)
1
Syafruddin M. Djafar, SH
12.350.000,00
(Kepala Dinas Koperindag)
2
Drs. Ibrahim M. Saleh
23.078.000,00
16.400.000,00
(Kabid UKM Dinas Koperindag
3
Jamaluddin, B.Sc
950.000,00
4
Pengeluaran lainnya atas perintah
2.500.000,00
Kabid UKM
Jumlah
38.878.000,00
16.400.000,00
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

42

Hasil konfirmasi dengan masing-masing pihak pengguna diatas diketahui bahwa yang
bersangkutan memang telah meminjam dana hasil pengembalian dari investasi dana bergulir
tersebut dan akan mengembalikannya ke Kas Daerah.
B. Pengembalian investasi dana bergulir di Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah tidak
disalurkan kembali ke Masyarakat
Dari hasil konfirmasi dengan Bendahara Pengelola dana bergulir di Bagian Ekonomi
diketahui dana bergulir pada Bagian Ekonomi disalurkan kepada masyarakat sejak Tahun 2006.
Penyaluran kembali dana bergulir atas dana bergulir yang telah dikembalikan oleh UKM
penerima kepada UKM yang membutuhkan, tanpa disertai SK dari Walikota tentang penetapan
UKM atau Koperasi penerima bantuan dana. Penyaluran kembali dana bergulir tersebut hanya
berdasarkan SK dari Sekretaris Daerah Kota Bima.
Hasil pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa dari bunga yang telah diperoleh dari
penyaluran dana bergulir tersebut, telah disetor ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah
(PAD) kepada Bendahara Penerimaan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD).
Pemeriksaan atas buku kas bendahara pengelola dana bergulir diketahui bahwa uang hasil
pengembalian dana bergulir selain digulirkan kembali kepada UKM juga untuk digunakan untuk
kepentingan pegawai di lingkup Bagian Ekonomi selain dari kepentingan pengelolaan dana
bergulir. Penjelasan bendahara pengelola dana bergulir diketahui bahwa penggunaan dana diluar
kepentingan dana bergulir tersebut dilakukan seijin Kepala Bagian Ekonomi. Sampai dengan saat
pemeriksaan, terdapat pengeluaran yang tidak jelas yang belum dikembalikan kepada bendahara
pengelola dana bergulir oleh pihak yang menggunakan, yaitu oleh Kepala Sub Bagian Penanaman
Modal Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah TA 2008 Sdr.Firmansyah sebesar Rp500.000,00 dan
oleh Sdr. Lili Damayanti sebesar Rp50.000,00.
C. Bunga hasil investasi dana bergulir di Kantor Pemberdayaan Perempuan tidak disetor ke
Kas Daerah
Dari hasil konfirmasi dengan Bendahara Pengelola dana bergulir di Kantor Pemberdayaan
Perempuan (PMP) diketahui dana bergulir pada Kantor PMP disalurkan kepada masyarakat sejak
Tahun 2005. Penyaluran kembali dana bergulir atas dana bergulir yang telah dikembalikan oleh
UKM penerima kepada UKM yang membutuhkan, juga tanpa disertai SK dari Walikota tentang
penetapan UKM atau Koperasi penerima bantuan dana maupun tanpa SK Kepala Kantor
Pemberdayaan Perempuan.
Hasil pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa dari bunga yang telah diperoleh dari
pengelolaan dana bergulir tersebut, tidak disetor ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah
(PAD), namun digulirkan kembali kepada UKM yang membutuhkan. Pemeriksaan lebih lanjut
diketahui bahwa nilai bunga yang telah diperoleh dari pengelolaan dana bergulir yang tidak
disetor ke Kas Daerah adalah sebesar Rp23.477.000,00 dengan rincian bunga dari hasil
penyaluran dana bergulir Tahun 2005 adalah sebesar Rp9.165.000,00 dan hasil penyaluran dana
bergulir Tahun 2006 adalah sebesar Rp14.312.000,00.
Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut atas pengelolaan dana bergulir pada 4 SKPD diatas
diketahui bahwa tidak ada peraturan yang mengatur sampai kapan dana bergulir tersebut akan
digulirkan di masyarakat dan disetorkan kembali ke Kas Daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

43

a.

Kondisi tersebut diatas tidak sesuai dengan:
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah, dalam:
1) Pasal 17 ayat (1) menyebutkan bahwa penerimaan daerah terdiri dari pendapatan daerah
dan penerimaan pembiayaan daerah;
2) Pasal 71 ayat (3) menyebutkan bahwa investasi non permanen bertujuan untuk dimiliki
secara tidak berkelanjutan atau ada niat untuk diperjualbelikan atau ditarik kembali,
diantaranya merupakan dana yang disisihkan pemerintah daerah dalam rangka
pelayanan/pemberdayaan masyarakat seperti bantuan modal kerja, pembentukan dana
secara bergulir kepada kelompok masyarakat, pemberian fasilitas pendanaan kepada usaha
mikro dan menengah;
3) Pasal 72 ayat (4) menyebutkan bahwa penerimaan hasil atas investasi pemerintah daerah
dianggarkan dalam kelompok pendapatan asli daerah pada jenis hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan;
4) Pasal 79 ayat (1) menyebutkan bahwa seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintahan
daerah baik dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa pada tahun anggaran yang berkenaan
harus dianggarkan dalam APBD;
5) Pasal 79 ayat (2) menyebutkan bahwa penganggaran penerimaan dan pengeluaran APBD
harus memiliki dasar hukum penganggaran;
6) Pasal 122 ayat (1) menyebutkan bahwa Semua penerimaan daerah dan pengeluaran daerah
dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan daerah dikelola dalam APBD;
7) Pasal 122 ayat (3) menyebutkan bahwa penerimaan SKPD dilarang digunakan langsung
untuk membiayai pengeluaran, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
8) Pasal 122 ayat (4) menyebutkan bahwa penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus
disetor ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja.

Permasalahan tersebut mengakibatkan:
a. Adanya indikasi kerugian daerah sebesar Rp55.828.000,00 (Rp38.878.000,00 + Rp16.400.000,00
+ Rp550.000,00) atas pengeluaran yang tidak sah yang telah dikeluarkan dari bendahara
pengelola dana bergulir pada Dinas Koperindag dan Bagian Ekonomi untuk kepentingan diluar
kepentingan dana bergulir ke masyarakat.
b. Hilangnya penerimaan daerah atas pendapatan bunga dari hasil investasi yang telah diterima sejak
Tahun 2005 pada Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan sebesar Rp23.477.000,00
yang belum disetor ke Kas Daerah.
c. Membuka peluang penyalahgunaan keuangan daerah atas dana bergulir yang tidak disetorkan
kembali ke Kas Daerah.

a.
b.
c.

Permasalahan tersebut terjadi karena:
Kepala Dinas Koperindag dan Kepala Bagian Ekonomi telah mengijinkan penggunaan dana hasil
investasi tidak berpedoman dengan ketentuan yang berlaku.
Pengelola dana bergulir pada Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan mengelola
bunga hasil investasi tidak berpedoman dengan ketentuan yang berlaku.
Walikota Bima yang tidak membuat peraturan yang mengatur sampai kapan dana bergulir akan
digulirkan di masyarakat dan disetorkan kembali ke Kas Daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

44

Kepala Dinas Koperindag memberikan tanggapan bahwa penggunaan bunga yang diperoleh
dari penyaluran dana bergulir ditetapkan dengan SK Kepala Dinas yang berpedoman pada SK
Walikota yang menetapkan segala biaya yang timbul dibebankan pada dana perkuatan modal kerja
yang diberikan.
Kepala Bagian Ekonomi memberikan tanggapan bahwa pinjaman dari hasil pengembalian
investasi dana bergulir bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk kepentingan dinas dan pinjaman
tersebut akan segera dikembalikan.
Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan memberikan tanggapan bahwa jasa
dari dana bergulir tidak disetorkan ke Kas Daerah karena besaran jasa tersebut sangat kecil dan
membutuhkan waktu 2 tahun untuk menghimpunnya. Kedepannya jasa tersebut akan disetor ke Kas
Daerah sesuai ketentuan yang berlaku.

a.

b.

c.

d.

e.

BPK RI menyarankan Walikota Bima agar:
Memberikan sanksi kepada Kepala Dinas Koperindag dan Kepala Bagian Ekonomi atas
kelalaiannya dalam melaksanakan tugasnya mengijinkan penggunaan dana hasil investasi tidak
berpedoman dengan ketentuan yang berlaku.
Memerintahkan kepada Kepala Dinas Koperindag dan Kepala Bagian Ekonomi untuk
menyetorkan kembali dana yang telah digunakan tidak sesuai ketentuan yang berlaku sebesar
Rp55.828.000,00 (Rp38.878.000,00 + Rp16.400.000,00 + Rp550.000,00) ke Kas Daerah.
Memberikan sanksi bagi Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan atas
kelalaiannya dalam melaksanakan tugasnya mengelola bunga hasil investasi tidak berpedoman
dengan ketentuan yang berlaku.
Memerintahkan kepada Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan untuk
menyetorkan kembali bunga hasil investasi sebesar Rp23.477.000,00 (Rp9.165.000,00 +
Rp14.312.000,00).
Menetapkan peraturan yang mengatur tata cara penyaluran dana bergulir, pengembalian serta
penyetoran kembali ke Kas Daerah.

15. Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tidak sesuai ketentuan
sebesar Rp107.812.734,02
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bima Tahun Anggaran (T.A.) 2007
diketahui bahwa Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
(1.20.03.00.00.5.1.1.03.03) dianggarkan sebesar Rp.250.000.000,00 dan telah direalisasikan
seluruhnya atau 100% dari anggaran, Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah tersebut dicairkan bulan Maret, Mei, Juli, dan November 2007 dengan rincian sebagai berikut:
No
Jabatan
Anggaran
Realisasi
(Rp)
(Rp)
%
1 Kepala Daerah
162.500.000,00
165.000.000,00
65
2 Wakil Kepala Daerah
87.500.000,00
90.210.200,00
35
Jumlah
250.000.000,00
255.210.200,00
100
Berdasarkan Laporan Realisasi Anggaran T.A. 2006 yang telah ditetapkan dengan SK
Walikota No.197/2007 tentang penjabaran perhitungan APBD TA 2006 diketahui bahwa Pendapatan
Asli Daerah (PAD) direalisasikan sebesar Rp.4.970.312.840,95 dan berdasarkan Peraturan Daerah
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

45

No.9/2007 tentang Perubahan APBD TA 2007 dianggarkan PAD sebesar Rp.7.673.493.500,00 dan
telah direalisasikan sebesar Rp.4,913.248.866,06.
Pemeriksaan atas APBD Kota Bima T.A.2007 yang ditetapkan dengan Perda Kota Bima
Nomor 1 Tahun 2007 tanggal 2 Januari 2007 dan Perubahan APBD yang ditetapkan dengan Perda
Nomor 9 Tahun 2007 tanggal 26 November 2007 diketahui Biaya Penunjang Operasional tersebut
dianggarkan sebesar Rp.250.000.000,00 walaupun sebelumnya pada proses evaluasi APBD oleh
Provinsi NTB ditetapkan untuk dianggarkan maksimal sebesar Rp152.394.000,00 sebagaimana
tertuang dalam Keputusan Gubernur NTB No. 39A Tahun 2007 tentang Evaluasi Rancangan
Peraturan Daerah Kota Bima tentang APBD T.A. 2007 dan Rancangan Peraturan walikota Bima
tentang Penjabaran APBD T.A. 2007 Bab III Belanja nomor 12 ayat (c) tentang Belanja Penunjang
Operasional.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :
a. Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah yaitu pada Pasal 9 ayat (2) huruf a yang menyatakan bahwa Besarnya biaya
penunjang operasional Kepala Daerah Kota/Kabupaten, ditetapkan berdasarkan klasifikasi
Pendapatan Asli Daerah sampai dengan Rp5 milyar paling rendah Rp125 juta dan paling tinggi
sebesar 3%; berdasarkan ketentuan tersebut, perhitungan maksimal sebesar Rp147.397.465,98
(PAD T.A. 2006 Rp4.970.312.840,95 x 3%). Dengan demikian realisasi belanja operasional
Walikota dan Wakil Walikota Bima sebesar Rp 255.210.200,00 tersebut berlebih sebesar
Rp107.812.734,02 (Rp255.210.200,00 – Rp147.397.465,98).
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 26 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan APBD
T.A. 2007 yaitu pada Kebijakan Penyusunan APBD huruf b Belanja Daerah angka 10)
Penganggaran belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berpedoman pada ketentuan
Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah , dan angka 11) Gaji dan tunjangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah dan biaya penunjang operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dianggarkan
pada belanja tidak langsung Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
Penganggaran dan realisasi Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah yang tidak sesuai ketentuan tersebut mengakibatkan indikasi kerugian keuangan daerah
sebesar Rp107.812.734,02.
Hal tersebut terjadi karena kelalaian Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Bima
yang tidak melakukan penyesuaian anggaran sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 109 tahun 2000
dan Keputusan Gubernur NTB No.39A Tahun 2007.
Walikota Bima menyatakan bahwa penganggaran biaya penunjang operasional Kepala
Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dalam perda APBD Kota Bima setiap tahunnya mulai
APBD awal sampai APBD perubahan dengan dasar perhitungan 3% dari rencana penerimaan PAD.
Mengenai penyesuaian kembali biaya penunjang operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah dalam Perda APBD perubahan tidak bisa dilakukan disebabkan karena pada saat tersebut
belum dapat diketahui secara pasti berapa besarnya jumlah realisasi penerimaan PAD sampai dengan
31 Desember 2007.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

46

BPK RI menyarankan kepada Walikota Bima agar memberikan sanksi kepada Tim Anggaran
Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Bima yang tidak melakukan penyesuaian anggaran sesuai dengan
Peraturan Pemerintah No. 109 tahun 2000 dan Keputusan Gubernur NTB No.39A Tahun 2007 serta
menyetorkan kelebihan realisasi Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah sebesar Rp107.812.734,02 ke kas daerah.

16. Pencairan dan Pengelolaan rekening DAK Pemerintah Kota Bima TA 2007 tidak sesuai
ketentuan
Pada Tahun Anggaran 2007, Pemerintah Kota Bima menganggarkan dan merealisasikan
Dana Alokasi Khusus sebesar Rp32.658.000.000,00. Dana tersebut meliputi DAK untuk tujuh bidang
dan dicairkan melalui empat tahap pengajuan kepada KPPN Raba Bima dengan rincian sebagai
berikut:
No Uraian
Jumlah (Rp)
1 DAK Infrastruktur
10.764.000.000,00
2 DAK Perikanan dan Kelautan
1.946.000.000,00
3 DAK Prasarana Pemerintahan
977.000.000,00
4 DAK Kesehatan
6.374.000.000,00
5 DAK Lingkungan hidup
697.000.000,00
6 DAK Pertanian
2.495.000.000,00
7 DAK Pendidikan
9.405.000.000,00
Jumlah
32.658.000.000,00
Pemeriksaan atas mutasi rekening DAK tersebut pada BUD diketahui terdapat mutasi
keluar/transfer dalam jumlah besar pada akhir tahun 2007 dari Rekening Kas Umum Daerah untuk
mengelola DAK ke rekening khusus untuk menampung dana tersebut pada SKPD yang mengelola
DAK.
Penelusuran atas pengelolaan rekening DAK tersebut diketahui terdapat permasalahan
sebagai berikut:
a. Dokumen pendukung pencairan dana DAK dari Kas Negara melalui KPPN ke Kas Daerah fiktif
Pemerintah Kota Bima tidak dapat menyediakan dokumen pendukung pencairan dana DAK dari
Kas Negara ke Kas Daerah. Penelusuran lebih lanjut melalui prosedur alternatif dengan Surat
Ketua Tim Nomor : 12/Tim LKPDKotaBima/09/2008 tentang Permintaan Peminjaman Dokumen
Pencairan Dana DAK TA 2007 pada KPPN Kota Bima (uji petik atas pencairan tahap III dan IV)
diketahui bahwa pencairan atas Dana DAK Kota Bima tidak sesuai ketentuan dengan rincian
sebagai berikut:
1) SP2D Kota Bima tidak diberi Nomor dan Tanggal SP2D dan SP2D atas Pencairan Dana
DAK Kota Bima tidak tercatat pada Register SP2D Tahun Anggaran 2007.
2) Daftar Penggunaan DAK Tahap III (30%) Per Tanggal 13 Desember 2007 seluruhnya sudah
memberikan data yang menyebutkan telah ada realisasi Pembayaran dari Kas Daerah (melalui
SP2D) namun pada kenyataannya pada saat itu belum ada;
3) Fotokopi bukti Surat Setor Pajak (SSP) PPN dan PPh yang telah dikonfirmasi ke KPPN
berkenaan untuk pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan secara kontraktual, tidak ada.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

47

Dari ketiga hal tersebut diatas yang seharusnya dilampirkan pada saat pengajuan SPM LS Tahap
II namun ternyata tidak dilampirkan, sehingga dapat diindikasikan bahwa pencairan dana DAK
Kota Bima TA 2007 hanya proforma/fiktif
b.

Pemindahan dana DAK dari kas daerah ke rekening penampungan tidak melalui prosedur
pengeluaran kas
Pada posisi 28 Desember 2007 diketahui pada masing-masing rekening Dana Alokasi Khusus
tersebut masih terdapat saldo dalam jumlah yang cukup besar. Saldo tersebut merupakan dana
alokasi untuk pembayaran proyek-proyek DAK Tahun Anggaran 2007 yang belum dapat dibayar
kepada pihak ketiga baik karena proyek belum selesai ataupun karena syarat-syarat pencairan sisa
proyek belum dapat dipenuhi. Untuk mengamankan dana DAK Tahun Anggaran 2007 tersebut,
Kepala BPKD kota Bima bersama dengan Kuasa BUD TA 2007 mengambil inisiatif untuk
memanggil bendahara pengeluaran dari 6 (enam) dinas pengelola Dana Alokasi Khusus selain
Dinas Tata Kota dan memerintahkan masing-masing bendahara tersebut untuk membuka
rekening penampungan DAK TA 2007 atas nama pribadi masing-masing pada Bank BNI dan
selanjutnya Kuasa BUD TA 2007 memindahkan dana dari rekening Kas Daerah khusus Dana
Alokasi Khusus ke rekening penampungan tersebut. Penelusuran pada rekening koran per 31
Desember 2007 diketahui bahwa dari rekening penampungan masing-masing bendahara
pengeluaran tersebut terdapat saldo sebesar Rp14.225.628.881,00 pada enam rekening
penampungan dengan rincian sebagai berikut:
No

SKPD

No
Rekening

Nama Nasabah

1

Dinas Perikanan
dan Kelautan

0138721710

Muhammad
Aqilzen, ST (DAK
Penampungan
Dinas Perikanan)

942.921.000,00

Jumlah (Rp)
Per
22-08-2008
0,00

2

Dinas Perumahan
dan
Prasarana
Wilayah

0138720692

3.536.276.884,00

416.039.454,00

3

Dinas Kesehatan

0138721765

1.194.095.500,00

0,00

4

Dinas Kehutanan
dan Lingkungan
hidup

0138720954

291.599.500,00

0,00

5

Dinas Pertanian
dan Pernakan

0138722066

Lestari
Slamet
(DAK
Penampungan
Kimpraswil Kota)
Zulkarnain
(Penamp.
DAK
Dikes Kota Bima)
Mutadayyinah,
S.Hut
(Penamp.Dinas
Kehutanan
Kota
Bima)
M. Adzan Sabil
(Penamp. Diperta
& Ternak Kota)

1.662.258.497,00

0,00

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

Jumlah (Rp)

48

6

Dinas
DIKBUDPAR

0138719291

Jumlah

c.

Sailan
(Penampungan
DAK
DIKBUDPAR
Kota Bima)

6.598.477.500,00

0,00

14.225.628.881,00

416.039.454,00

Khusus untuk DAK Prasarana Pemerintah tidak dibuatkan rekening penampungan.
Penelusuran pada SP2D dan mutasi rekening koran diketahui penerimaan DAK Prasarana
Pemerintah selama TA 2007 pada dua rekening, yaitu rekening 0079.01.000359-30-5 a.n. DAK
Prasarana Pemerintahan sebesar Rp293.100.000,00 pada BRI cabang Bima dan rekening
013631764-0 a.n. DAK Prasarana Pemerintahan sebesar Rp683.900.000,00 pada Bank BNI
cabang Bima. Atas dana DAK Prasarana Wilayah ini, untuk dana yang terdapat pada BRI
dengan no. rekening 0079.01.000359-30-5 telah dipindahkan ke bank BNI pada saat penutupan
seluruh rekening Pemerintah Kota Bima di BRI cabang Bima pada bulan Maret 2007.
Sedangkan untuk dana yang terdapat pada Bank BNI no. rekening 013631764-0 sampai dengan
31 Desember 2007 masih bersaldo Rp683.900.000,00.
Penelusuran lebih lanjut diketahui bahwa pemindahan dana dari rekening Kas Daerah khusus
Dana Alokasi Khusus ke rekening penampungan tersebut tanpa melalui mekanisme APBD.
Pemindahan dana kas daerah tersebut tanpa disertai SPP dan SPM dari Dinas maupun SP2D
yang ditandatangani oleh Kuasa BUD TA 2007.
Prosedur Pencairan Kas Tidak Sesuai Ketentuan
Sebagai tindak lanjut dari pemindahan dana DAK dari rekening Kas Daerah ke rekening
penampungan Satuan Kerja, maka pencairan dana DAK kepada pihak ketiga menjadi wewenang
sepenuhnya dari Satuan Kerja. Dalam hal ini SPP dan SPM yang diajukan oleh Satuan Kerja
dan SP2D yang dibuat oleh Kuasa BUD TA 2007 hanya merupakan formalitas saja, karena
dibuat setelah Tahun Anggaran 2007 berakhir dengan tanggal pada bulan Desember.
Konfirmasi atas permasalahan ini dengan Kepala BPKD Kota Bima dan Kuasa BUD TA 2007
diketahui bahwa pembukaan rekening penampungan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk
menghindari pemutusan kontrak dengan pihak ketiga karena banyak proyek yang belum selesai
dikerjakan dan belum dilengkapi dengan dokumen-dokumen syarat pembayaran sehingga
sampai dengan akhir Desember 2007 proyek tersebut belum dapat dibayarkan.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada
pasal sebagai berikut:
1) Pasal 205 ayat (1) “PPTK menyiapkan dokumen SPP-LS untuk pengadaan barang dan jasa
untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran dalam rangka pengajuan permintaan
pembayaran” dan ayat (6) Bendahara pengeluaran mengajukan SPP-LS sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) kepada pengguna anggaran setelah ditandatangani oleh PPTK guna
memperoleh persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD.
2) Pasal 211 ayat (1) yang menyatakan bahwa
“Dalam hal dokumen SPP sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 210 ayat (2) dinyatakan lengkap dan sah, pengguna anggaran/kuasa
pengguna anggaran menerbitkan SPM”.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

49

3) Pasal 213 yang menyatakan bahwa “SPM yang telah diterbitkan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 212 ayat (1) diajukan kepada kuasa BUD untuk penerbitan SP2D”.
4) Pasal 216 pada ayat (1) Kuasa BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM yang diajukan oleh
pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran agar pengeluaran yang diajukan tidak
melampaui pagu dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan dan ayat (6) Dalam hal dokumen SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dinyatakan lengkap, kuasa BUD menerbitkan SP2D.
b. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. PER-01/PB/2007 tentang Petunjuk Teknis Pengesahan dan
Pencairan DIPA DAK TA 2007 pada
1) Pasal 6 yaitu Hasil kegiatan fisik yang dibiayai melalui DAK TA 2007 harus sudah selesai
dan dapat dimanfaatkan pada akhir tahun 2007
2) Pasal 11 ayat 4 Pengajuan SPM-LS Tahap II dan selanjutnya, dilakukan dengan
melampirkan:
(a) Fotokopi SP2D Daerah (pada SP2D tersebut harus dicantumkan tanggal, nomor dan nilai
kontrak serta uraian pekerjaan)
(b) Daftar Penggunaan DAK
(c) Fotokopi SSP PPN dan PPh yang telah dikonfirmasi ke KPPN berkenaan untuk
pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan secara kontraktual, sedangkan untuk pekerjaan
yang dilakukan secara swakelola kewajiban pajak diselesaikan oleh wajib pajak
bersangkutan.
Kondisi tersebut mengakibatkan membuka peluang penyalahgunaan keuangan daerah serta
realisasi keuangan proyek tidak sesuai dengan realisasi fisik.
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Kepala BPKD selaku PPK dan Kepala Bidang Anggaran selaku Kuasa Pengguna
Anggaran/Penanda Tangan SPM membuat dokumentasi proforma untuk pencairan Dana DAK
b. KPPN Kota Bima menerima pengajuan pencairan Dana DAK Kota Bima TA 2007 dengan
menggunakan dokumentasi proforma
c. Kepala BPKD Kota Bima dan Kuasa BUD TA 2007 membuat kebijakan dengan memerintahkan
bendahara SKPD untuk membuka rekening giro penampungan DAK yang tidak sesuai ketentuan
yang berlaku.
Walikota Bima menyatakan bahwa setelah dilakukan konfirmasi dengan masing-masing
bendahara pengeluaran, saldo DAK tersebut karena belum sempat dilakukan pembayaran karena
proses administrasi belum selesai, sedangkan mengenai keberadaan tujuh rekening penampungan
DAK pada SKPD merupakan saran lisan dari KPPN Kota Bima.
BPK RI menyarankan Walikota Bima agar:
a. Memberikan sanksi atas kesengajaan Kepala BPKD selaku PPK dan Kepala Bidang Anggaran
selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Penanda Tangan SPM yang membuat dokumentasi proforma
untuk pencairan Dana DAK.
b. Memberikan sanksi atas kesengajaan Kepala BPKD Kota Bima dan Kuasa BUD TA 2007 yang
memerintahkan bendahara SKPD untuk membuka rekening giro penampungan DAK.
c. Memerintahkan kepada seluruh bendahara SKPD menutup rekening giro penampungan dan di
masa mendatang tidak membuka rekening penampungan.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

50

17. Penggunaan Uang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) TA 2007 untuk Keperluan Pribadi oleh
Bendahara Pengeluaran Kantor Penghubung dan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Tidak
Sesuai Ketentuan.
Pengelolaan Kas/Uang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) TA 2007 pada Bendahara Pengeluaran
SKPD Pemerintah Kota Bima kurang tertib terbukti dari hasil uji petik atas lima SKPD diketahui
adanya perbedaan angka menurut Pengesahan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) Fungsional dengan
Buku Pajak/ Surat Setoran Pajak walaupun kedua dokumen tersebut dibuat oleh Bendahara
Pengeluaran yang sama. Hal ini dijelaskan pada Temuan Sistem Pengendalian Intern (SPI).
Hingga berakhirnya pemeriksaan hanya beberapa SKPD yang menyerahkan dokumen
pengelolaan uang PFK lengkap. Lebih lanjut berdasar dokumentasi yang ada diketahui terdapat
penggunaan uang PFK yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Kantor Penghubung
Dari dokumen SSP pada SPJ diketahui seluruh Pajak tahun 2007 seluruhnya baru disetor tanggal
4 Maret 2008. Konfirmasi dengan Bendahara a.n. Arisman Indah diketahui bahwa uang setoran
pajak sebesar Rp15.000.000,00 telah digunakan untuk keperluan pribadi dahulu dan pada tanggal
4 Maret 2008 seluruh Pajak telah disetor ke Kas Negara dengan uang pribadi Kepala Kantor
Penghubung dan Bendahara akan dipotong gajinya Rp500.000,00 per bulan selama 23 bulan
sejak Maret 2008 sesuai dengan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak tanggal 26 Pebruari
2008. Hal ini tidak diketahui oleh BPKD dikarenakan Subbidang Verifikasi tidak cermat
melakukan verifikasi atas SPJ SKPD terkait dan inisiatif bendahara yang tidak memasukkan SPJ
untuk bulan Mei hingga Desember 2007 untuk diverifikasi. Penelusuran lebih lanjut untuk
mengetahui besaran uang pajak yang sebenarnya digunakan tidak dapat dilakukan karena hingga
berakhirnya pemeriksaan , Buku Rekap Pajak tidak diserahkan kepada BPK.
2. Kantor Polisi Pamong Praja
Dari Pengesahan SPJ dan buku Pajak hanya ada rekap potongan dan setoran untuk bulan
Nopember hingga Desember 2007. Konfirmasi dengan Bendahara Pengeluran a.n. Amirudin Iba
diketahui bahwa dirinya baru bertugas mulai Nopember dan untuk bulan Januari hingga Oktober
data dan uang pajak dibawa oleh Bendahara terdahulu a.n. Ikhsan ADT. Konfirmasi dengan
bendahara terdahulu tidak dapat dilakukan karena yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan
BPK hingga berakhirnya pemeriksaan, yang bersangkutan hanya menitipkan Surat Pernyataan
Membayar tanggal 15 September 2008 yang berisi pengakuan bahwa yang bersangkutan
menggunakan uang setoran pajak sebesar Rp5.439.763,00 (pajak Bulan Januari hingga Oktober
2007) digunakan untuk keperluan pribadi dan akan bersedia mengganti segera pada tanggal 20
Nopember 2008. Tidak diketahui besaran uang pajak yang digunakan sebenarnya karena
berdasarkan Rekap Pajak Kantor Pol PP untuk bulan Januari hingga Oktober 2007 pajak yang
harus disetor sebesar Rp14.277.013,00. Penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui besaran uang
pajak yang sebenarnya digunakan tidak dapat dilakukan karena hingga berakhirnya pemeriksaan
Bendahara Pengeluaran dimaksud tidak memenuhi panggilan BPK.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, pada Pasal 135 Bendahara pengeluaran sebagai
wajib pungut PPh dan pajak lainnya, wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak
yang dipungutnya ke rekening kas negara pada bank yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan
sebagai Bank Persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

51

Kondisi tersebut mengakibatkan indikasi kerugian daerah minimal sebesar Rp20.439.763,00
(Rp5.439.763,00 + Rp15.000.000,00).
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Kesengajaan Bendahara Pengeluran TA 2007 Kantor Penghubung a.n Arisman Indah dan Kantor
Satpol PP a.n. Ikhsan ADT yang menggunakan uang PFK untuk keperluan pribadi.
b. Kelalaian Kepala Kantor Penghubung dan Kantor Satpol PP yang kurang melakukan pengawasan
atas pengelolaan uang PFK.
Walikota Bima mengakui adanya kelemahan dalam pengelolaan uang PFK dan ke depan
akan diperbaiki.
BPK RI menyarankan Walikota Bima agar:
a. Memerintahkan Kepala Bawasda / Inspektorat Daerah untuk menelusuri besaran pajak yang
digunakan oleh Bendahara Arisman dan Ikhsan, apabila ditemukan besaran lebih dari
Rp20.439.763,00 (Rp5.439.763,00 ditambah Rp15.000.000,00) maka ditetapkan kurang bayar
atas Pajak.
b. Memberikan sanksi atas Kelalaian Kepala Kantor Penghubung dan Kantor Satpol PP yang kurang
melakukan pengawasan atas pengelolaan uang PFK.
c. Memerintahkan Bendahara Pengeluran TA 2007 Kantor Penghubung a.n Arisman Indah dan
Kantor Satpol PP a.n. Ikhsan ADT segera menyetor uang PFK ke Kas Negara yang telah
digunakan menunggu hasil penelusuran Bawasda.

PERWAKILAN BPK RI DI MATARAM

52