You are on page 1of 14

CASE REPORT SESSION

I.

Identitas Pasien
Nama

: Nn. Y

Umur

: 40 tahun

Jenis Kelamin : Wanita
Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Sumedang

Tanggal Pemeriksaan : 9 Desember 2011
II.

Anamnesis
Keluhan Utama: mata merah sebelah kanan
Anamnesis Khusus:
Sejak 2 minggu yang lalu, pasien mengeluh mata kanannya merah.
Keluhan dirasakan terus-menerus dan disertai nyeri pada mata, silau bila
melihat cahaya, mata berair, kotoran putih keluar dari mata sedikit-sedikit
dan sulit menutup mata. Sejak 4 hari yang lalu pasien mulai merasa
penglihatan berkurang pada mata yang dikeluhkan. Pasien mengatakan
bahwa suaminya memiliki keluhan yang serupa dan mereka tinggal
bersama. Pasien mengatakan bahwa sebelumnya tidak pernah sakit mata.
Pasien mengaku pernah memakai obat tetes mata milik suaminya namun
tidak ada perbaikan sehingga penderita berobat ke RSM Cicendo.
Riwayat menggunakan kacamata/ lensa kontak, alergi pada
penderita dan keluarganya, riwayat tekanan darah tinggi dan kencing
manis disangkal, riwayat operasi dan trauma disangkal.

III.

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Kesadaran

:

: Kompos mentis

Keadaan sakit : Tampak sakit sedang
Tanda vital

: Dalam batas normal

Status generalis lainnya dalam batas normal.
Page | 1

edema (-) trikiasis (-) Lakrimasi (+) trikiasis (-) Lakrimasi (-) Hiperemis (+) Hiperemis (+) Hiperemis (-) Hiperemis (-) Injeksi siliar (+) Injeksi konjungtiva (-) Bercak putih (+) Sedang Bulat. RC(+/+).5. Palpasi Tekanan Intraokuler ODS Normal c. :- VOS SC :- CC : 0. tersebar.4 CC : 0. injeksi konjungtiva (-) Kornea : Bercak putih ± 3mm dari pupil. edema (-) Hiperemis (-). Inspeksi OD Muscle balance Pergerakan bola mata OS Orthotropia duksi: baik duksi: baik versi: baik Palpebra - Superior Inferior Silia Aparatus Lakrimalis Konjungtiva tarsalis - Superior Inferior Konjungtiva bulbi Kornea COA Pupil Iris Lensa Hiperemis (-). ø 3mm Sinekia (-) Jernih Injeksi siliar (-) Injeksi konjungtiva (-) Jernih Sedang Bulat.00 D Pemeriksaan Objektif a. Pemeriksaan Slitlamp OD: Konjungtiva Bulbi : Injeksi silier (+). : Pemeriksaan Subjektif Visus VOD SC 2. RC(+/+). lebih banyak di tengah COA : Sedang Pupil : Bulat Page | 2 .5. ø 3mm Sinekia (-) Jernih b. : .Status Oftalmologi 1.00 D Kor. : .4 Kor.

Fluorescein Test 2. Diagnosa Kerja Keratitis OD VI. Ulkus Kornea OD V.Iris : Sinekia (-) Lensa : Jernih OS: Konjungtiva Bulbi : Injeksi silier (-). Usulan Pemeriksaan 1. Test sensasi kornea : OD menurun IV. Scrapping kornea untuk pewarnaan Gram. Diagnosis Banding 1. Giemsa dan KOH untuk mengetahui mikroorganisme penyebab VII.Mata dibalut . injeksi konjungtiva (-) Kornea : Jernih COA : Sedang Pupil : Bulat Iris : Sinekia (-) Lensa : Jernih d. Keratitis punctata superficialis OD ec viral 2. Penatalaksanaan Umum : .Kontrol setelah 2 minggu kemudian Page | 3 .

Prognosis Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : dubia ad bonam Page | 4 .Antiviral : hervis (Acyclovir) salep 5x1 OD .Artificial tears VIII.5%-1% tetes mata ) .Khusus : .Siklopegik total (sulfas atropin 0.

Klasifikasi Pembagian keratitis bermacam-macam : 1. keracunan obat. reaksi alergi terhadap yang diberi topikal. Keratitis viral Virus lain yang dapat menyebabkan keratitis. dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun. Etiologi Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kurangnya air mata. yaitu :  Herpes simpleks Page | 5 .PEMBAHASAN KERATITIS Definisi Keratitis adalah radang kornea yang dapat disebabkan infeksi mikroba maupun adanya reaksi alergi. Menurut penyebabnya : a. yaitu :  Streptokokus pneumonia  Pseudomonas aeroginosa  Streptokokus hemolitikus  Moraxella liquefaciens  Klebsiella pneumoniae b. Keratitis bakterial Bakteri-bakteri yang biasa menyebabkan keratitis bakterialis.

hidup di padang gurun. Kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan: a. f. Dapat dikarenakan parese Nervus VII. Pada keadaan anestesi kornea kehilangan daya pertahanannya terhadap iritasi dari luar. sehingga terdapat kekeruhan kornea yang tidak sensitif disertai kekeringan kornea. sindrom Stevens Johnson. atropin. misalnya pada keratitis neuroparalitik. dan usia tua. keratitis lagoftalmus. Keratitis neuroparalitik akibat kerusakan Nervus V Keratitis neuroparalitik merupakan keratitis akibat kelainan saraf trigeminus. Defisiensi komponen lemak air mata. Penguapan yang berlebihan. Gangguan saraf ke-5 ini dapat terjadi akibat Herpes zoster. Defisiensi komponen musin: defisiensi vitamin A. e. diantaranya :  Candida  Aspergilin  Nocardia  Cephalosporum d.c. trauma kimia. obat diuretik. Defisiensi kelenjar air mata. d. Page | 6 . tumor fosa posterior kranium dan keadaan lainnya.jamur yang biasa ditemukan pada keratitis. c. Keratokonjungtivitis sika Suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva. Keratitis lagoftalmus Keratitis yang terjadi akibat adanya lagoftalmus dimana kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga mata terpapar dan terjadi kekeringan pada kornea dan konjungtiva yang memudahkan terjadinya infeksi. misalnya blefaritis menahun b. alakrimal kongenital. Hal ini dapat menyebabkan kornea mudah terjadi infeksi sehingga mengakibatkan terbentuknya ulkus kornea.  Herpes zoster  Variola (jarang)  Vacinia (jarang) Keratitis jamur Jamur . misalnya sindrom Sjorgen.

infeksi lues. lagoftalmus. Kornea terlihat putih menyerupai sklera. Selain keratitis yang dijelaskan di atas. 2. Keratitis memberikan kekeruhan infiltrat yang bulat atau lonjong di jaringan kornea. keratopati.  Keratitis disiformis Disebut juga keratitis sawah karena banyak mengenai petani. Keratitis superfisial  Keratitis epitelial  Keratitis subepitelial  Keratitis stromal b. trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak. masih terdapat beberapa jenis keratitis lainnya: 1. yaitu keratitis nonsupuratif profunda disertai dengan neovaskularisasi.e. dan tuberkulosis. Diduga terjadi karena perubahan susunan serat kolagen yang menetap. Karena parut pada kornea. memberikan hasil positif pada tes fluorescein. Keratitis profunda  Keratitis interstitial Merupakan keratitis yang ditemukan pada jaringan yang lebih dalam. Etiologinya adalah sindrom dry eye. Keratitis pungtata superficial Keratitis pungtata superficial memberikan gambaran infiltrat halus bertitik-titik pada permukaan kornea. 2. Terjadi akibat alergi. Menurut tempatnya : a. Diduga merupakan reaksi alergi ataupun imunologik terhadap virus Herpes simpleks. blefaritis. berbatas tegas unilateral yang menyertai radang sklera atau skleritis. terlokalisasi. Kadangkadang mengenai seluruh limbus. Keratitis numularis atau dimmer Page | 7 . tobramycin).  Keratitis sklerotikans Merupakan kekeruhan berbentuk segitiga pada kornea. sinar ultraviolet. keracunan obat topikal (neomycin.

Keratitis ini berjalan lambat dan sering ditemukan pada petani sawah. sehingga dapat menimbulkan kerusakan kornea yang hebat tanpa harus didahului dengan kerusakan epitel. dengan peradangan tarsus dan konjungtiva bilateral. Keratokonjungtivitis vernal Merupakan penyakit rekuren. Adanya blefarospasme menyebabkan sekret yang purulen dan penuh dengan gonokok tertumpuk di bawah konjungtiva palpebra superior. Keratitis marginal Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus akibat infeksi lokal konjungtiva. Terdapat daerah berwarna keputihan yang merupakan degenerasi hialin. Keratokonjungtivitis epidemika Keratitis ini terjadi akibat peradangan kornea dan konjungtiva yang disebabkan oleh reaksi alergi adenovirus tipe 8. 5. Ulkus Mooren Page | 8 . 6.Keratitis numularis merupakan bentuk keratitis dengan ditemukannya infiltrat yang bundar berkelompok dan tepinya berbatas tegas sehingga memberikan gambaran halo. ditambah lagi gonokok mempunyai enzim proteolitik dan hidupnya intra seluler. Keratokonjungtivitis flikten Merupakan radang kornea dan konjungtiva yang merupakan reaksi imun yang mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen. Gonore Kuman diplokokus gonore menyebabkan konjungtivitis purulenta yang akut disertai blefarospasme. Mengenai kelopak atas dan konjungtiva pada daerah limbus berupa hipertrofi papil yang kadangkadang berbentuk Cobble stone. Penyebab belum diketahui. 4. Penyakit ini dapat timbul sebagai suatu epidemik. 8. Bila tidak diobati dapat menyebabkan ulkus kornea. Terjadi pengelupasan lapis sel tanduk epitel kornea. namun terutama terjadi pada musim panas mengenai anak sebelum berumur 14 tahun. 3. 7. Ulkus yang dibentuk dalam dan dapat menimbulkan perforasi yang juga dapat berakhir dengan kebutaan.

flare (-). tes fluoresin +/-. descemetocele Pada etiologi virus : sensibilitas kornea menurun Pada etiologi bakteri : sekret (+) Pada etiologi jamur : tumbuhan. tetapi diduga autoimun. yang sering berakibat kerusakan mata. reaksi cahaya (+/+)  Iris: sinekia (-)  Lensa : jernih • Pemeriksaan khusus : – Tes Flourescin untuk ulkus – Tes Fistel untuk perforasi kornea Page | 9 . Gejala keratitis: – mata merah – rasa nyeri pada mata – silau (fotofobia) – visus menurun atau penglihatanmenjadi kabur terutama bila kerusakan pada sentral kornea – spasme palpebra (blefarospasme) – lakrimasi Pemeriksaan: • Pemeriksaan oftamologis:  Visus menurun  Lakrimasi  Dapat dijumpai Blefarospasme  Palpasi tekanan intra ocular normal  Konjungtiva bulbi : injeksi siliar  Kornea: infiltrate. hipopion (+/-)  Pupil: bulat. ulkus.Etiologinya belum diketahui. Pada 60-80% kasus unilateral dan ditandai ekstravasasi limbus dan kornea perifer. yang sakit dan progresif. lesi satelit. plak hipopion  Bilik mata depan: sedang. Ulkus ini termasuk ulkus marginal. sel (-).

Ulkus kornea: peradangan pada kornea disertai dengan hilangnya sebagian jaringan kornea.Pemberian siklopegik total (sulfas atropin 0.• – Tes Plasido untuk melihat permukaan kornea – Tes sensibilitas kornea Pemeriksaan Laboratorium – Untuk menegakkan diagnosa etiologi – Bahan : kerokan dengan spatel kimura dari : – • infiltrat / pinggir ulkus • forniks konjungtiva Pewarnaan: • Gram (bakteri) • Giemsa (virus) • KOH (jamur) Diagnosis Banding: Keratitis harus dibedakan dengan ulser pada kornea.Pemberian antimikroba yang disesuaikan dengan hasil pemeriksaan laboratorium. keracunan obat. konjungtivitis kronis sebelumnya. menghambat timbulnya reaksi radang pada traktus uvealis. Pada pemeriksaan fluoresensi test. hasilnya adalah negative. dakriosistitis. Page | 10 . Perbedaan antara keratitis dengan ulkus kornea adalah: Keratitis: kelainan pada kornea akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea sehingga kornea menjadi kering tanpa disertai hilangnya sebagian jaringan kornea. Pada pemeriksaan fluoresensi test. Faktor pencetus: Infeksi. mata kering. lagoftalmus. gangguan nutrisi kornea.5%-1% tetes mata ). infeksi selama oprasi mata. konjungtivitis. Tujuannya untuk mengistirahatkan iris dan badan siliar mengurangi rasa sakit dan lakrimasi.alergi. Faktor pencetus: luka kornea. 2. hasilnya adalah negatif Terapi : 1.

D. dilakukan debridement epitel yang terkena menggunakan aplikator kapas steril atau spatula 5.1% tetes mata 3-4x/hari 57 hari) disesuaikan dengan jenis keratitis Sesuai hasil pemeriksaan laboratorium Organisme Rute Obat Pilihan Pertama Eritromisin Sefazolin Pilihan Kedua Pilihan Ketiga Basitrasin Penisilin G Sistemik Topikal Sefazolin Basitrasin Penisilin G Sefazolin Subkonjungtiva Sefazolin Gentamisin Eritromisin Metisilin Gentamisin Basitrasin Metisilin Gentamisin Penisilin G Tobramisin Gentamisin Sefazolin Sefazolin Polimiksin B Karbenisilin Tobramisin Gentamisin Gentamisin Karbenisilin Ampisilin Amfotericin B Flusitosin Amfotericin B Flusitosin Natamisin Amfotericin B Gentamisin Sefazolin Gentamisin Sefazolin Penisilin G Natamisin - Gentamisin Karbenisilin Karbenisilin Gentamisin Sefaloridin Sefazolin Natamisin Flusitosin Mikonazol Ketokonazol Amfotericin B Mikonazol Ketokonazol Gentamisin Basitrasin Gentamisin Metisilin Nafsilin Amfotericin B Mikonazol Vankomisin Eritromisin Metisilin Eritromisin Gentamisin Vankomisin Vankomisin Metisilin Gentamisin Vankomisin Eritromisin Metisilin Eritromisin Gentamisin Karbenisilin Polimiksin B Kokus Gram (+).diduga disebabkan oleh Subkonjungtiva bakteri Sistemik Organisme tidak Topikal dikenal diduga Subkonjungtiva disebabkan oleh Kloramfenikol Karbenisilin Sefaloridin Karbenisilin Natamisin Mikonazol Mikonazol Vankomisin Sefaloridin Polimiksin B Sefazolin Mikonazol - Page | 11 .3.Pembalutan mata setelah diobati mengurangi gejala klinis dan mempercepat penyembuhan 4. Candida) Subkonjungtiva Sistemik Mikroorganisme Topikal mirip hyphae Subkonjungtiva (=fungi) Sistemik Organisme tidak Topikal dikenal. Topikal pneumokok Subkonjungtiva Kokus/batang Gram (+) yang lain Kokus Gram (-) Topikal Subkonjungtiva Batang Gram(-) Pseudomonas Sistemik Topikal Subkonjungtiva Batang Gram(-) Topikal lain Subkonjungtiva Sistemik Organisme mirip Topikal jamur(=sp.U= 5 iodo 2 deoxyuridine (centride) 4-5x/hari).Untuk keratitis herpeks simpleks sebelum diberikan antiviral (I.Pemberian kortikosteroid (mis: Deksametasone 0.

Stafiloma kornea : bila seluruh permukaan kornea mengalami ulkus disertai perforasi. Leukoma : kekeruhan seluruh ketebalan kornea yang mudah sekali terlihat dari jarak yang agak jauh sekalipun. oleh karena timbulnya hubungan langsung dari bagian dalam mata dengan dunia luar. tekanan intraokular menurun. sehingga kuman dapat masuk ke dalam mata dan menyebabkan endoftalmitis atau panoftalmitis. terdapat penempelan iris pada bagian belakang kornea (sinekia anterior). Adanya perforasi dapat membahayakan mata. penyembuhan berakhir dengan pembentukan jaringan parut yang dapat berupa nebula. Bila ulkusnya lebih dalam dapat terjadi perforasi. Page | 12 . Nebula : bentuk parut kornea berupa kekeruhan yang sangat tipis dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan kaca pembesar atau menggunakan slit lamp. Dengan adanya perforasi. Makula : parut yang lebih tebal berupa kekeruhan padat yang dapat dilihat tanpa menggunakan kaca pembesar. makula. dengan pengobatan yang baik dapat sembuh tanpa jaringan parut. iris dapat menonjol keluar melalui perforasi dan terjadi prolaps iris. Saat terjadi perforasi. maka pada penyembuhan akan terjadi penonjolan keluar parut kornea yang disertai dengan sinekia anterior. leukoma.jamur Komplikasi dan Prognosis: Bila peradangan hanya di permukaan saja. leukoma adherens dan stafiloma kornea. Bila peradangan dalam. Leukoma adherens : keadaan dimana selain adanya kekeruhan seluruh ketebalan kornea.

Perjalanan keratitis Page | 13 .Keratitis subepitel /epitel Sembuh tanpa bekas Sembuh dengan parut kornea Nebula Makula Lekoma Buta kornea Berlanjut menjadi ulkus Berlanjut dengan perforasi kornea disertai penonjolan keluar dari kornea dan prolaps iris Sembuh dengan parut : Lekoma adheren Stafiloma kornea Berlanjut dengan terjadi -endoftalmitis -panoftalmitis sembuh Phtysis bulbi Operasi / angkat bola mata Abulbi Buta permanen Bagan 1.

Sagung Seto. 3.Oftalmologi Umum. Sidarta. 2000. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Jakarta : Widya Medika Page | 14 . Vaughan. 2008. Ilyas. Edisi kedua. Jakarta : Balai Penerbit FKUI . 2. et al. Jakarta : CV. Daniel G. Ilmu Penyakit Mata.. 2002. Edisi kedua. Ilmu Penyakit Mata.DAFTAR PUSTAKA 1.