You are on page 1of 11

2.

3 Konsep Pengelolaan DAS


Keberlanjutan pemanfaatan dan pencagaran sumber daya alam merupakan
suatu proses perubahan di mana terdapat kesinambungan pemanfaatan dan
pencagaran sumber daya alam, arah investasi pemanfaatan sumber daya alam dan
perubahan kelembagaan yang berkaitan dengan pemanfaatan dan perlindungan
sumber daya alam konsisten dengan sasaran saat ini dan di masa datang (Asdak,
2007).
Pengelolaan Daerah aliran Sungai (DAS) diharapkan dapat memberikan
kerangka kerja kearah tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Pengelolaan
DAS merupakan merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui yaitu
tumbuhan, tanah dan air agar dapat memberikan manfaat maksimal dan
berkesinambungan. Pengelolaan DAS merupakan upaya manusia dalam
mengendalikan hubungan timbale balik antara sumber daya alam dan manusia
dengan segala aktifitasnya di dalam DAS. Tujuan pengelolaan DAS adalah untuk
membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan pemanfaatan
sumber daya alam bagi manusia secara berkelanjutan.
Untuk tercapainya pembangunan DAS yang berkelanjutan, maka harus
tercipta keselarasan antara kegiatan pembangunan ekonomi dan perlindungan
lingkungan. Dalam hal ini membutuhkan penyatuan kedua sisi pandang tersebut
secara realistis melalui penyesuaian kegiatan pengelolaan DAS dan konservasi
daerah hulu ke dalam bidang ekonomi dan social. Apabila tujuan pembangunan
yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan ingin di wujudkan, maka
formulasi kebijakan tersebut harus dituntaskan.
2.3.1 Tujuan Pengelolaan DAS
Pengelolaan daerah aliran sungai dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
1. Meningkatkan stabilitas tata air
2. Meningkatkan stabilitas tanah
3. Meningkatkan pendapatan petani
4. Meningkatkan perilaku masyarakat kea rah kegiatan konservasi
Untuk dapat mencapai tujuan pengelolaan DAS tersebut, maka ruang
lingkup DAS harus meliputi :

1. Pengelolaan lahan melalui usaha konservasi tanah dalam arti luas


2. Pengelolaan air melalui pengembangan sumber daya air
3. Pengelolaan vegetasi khususnya pengelolaan hutan yang memiliki fungsi
perlindungan terhadap tanah dan air
4. Pembinaan kesadaran dan kemampuan manusia dalam penggunaan sumber
daya alam secara bijaksana, sehingga berperan serta pada upaya
pengelolaan DAS
Dengan pengelolaan DAS yang benar diharapkan tercapainya kondisi
hidrologi yang optimal, meningkatkan produktifitas lahan yang diikuti oleh
perbaikan kesejahteraan masyarakat, terbentuknya kelembagaan masyarakat yang
tangguh dan muncul dari bawah sesuai dengan kondisi social budaya setempat
serta terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan
berkeadilan.
2.3.2 Prinsip Dasar dan Sasaran
Menurut Sukardi (2011), dalam pengelolaan DAS terdapat beberapa
prinsip yang harus dijalankan, yaitu :
1) Pengelolaan DAS meliputi pemanfaatan, pemberdayaan, pengembangan,
perlindungan dan pengendalian sumber daya DAS.
2) Pengelolaan

DAS

berlandaskan

pada

aasa

keterpaduan,

kelestarian

pemanfaatan, keadilan, kemandirian serta akuntabilitas


3) Pengelolaan DAS diselenggarakan secara terpadu, menyeluruh, berkelanjutan
dan berwawasan lingkungan.
4) Pengelolaan DAS dilakukan melalui pendekatan ekosistem berdasarkan
prinsip

satu

sungai,

satu

perencanaan,

satu

pengelolaan

dengan

memperhatikan system pemerintahan yang desentralistik sesuai dengan jiwa


otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab.
Prinsip

dasar

pengelolaan

DAS

tersebut

di

atas

kemudian

diimplementasikan dalam pengelolaan yang:


1. Dilaksanakan secara holistic, terencana dan berkelanjutan
2. Dilaksanakan secara desentralisasi dengan pendekatan DAS sebagai unit
pengelolaan

3. Dilaksanakan berdasarkan prinsip partisipasi dan konsultasi masyarakat untuk


memperoleh komitmen bersama
4. Mendorong partisipasi masyarakat guna secara bertahap mengurangi beban
pemerintah dalam pengelolaan DAS.
Berdasarkan ruang lingkup dan prinsip dasar tersebut diatas, maka secara
umum terdapat tiga sasaran yang ingin dicapai dalam pengelolaan DAS. Adapun
sasaran yang dimaksud adalah :
1. Rehabilitasi lahan terlantar atau lahan yang masih produktif tetapi di digarap
dengan cara yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip konservasi tanah dan
air.
2. Perlindungan terhadap lahan-lahan yang umumnya sensitif terhadap terjadinya
erosi dan atau tanah longsor atau lahan-lahan yang diperkirakan memerlukan
tindakan rehabilitasi dikemudian hari.
3. Peningkatan atau pengembangan sumber daya air. Hal yang terakhir ini
dicapai dengan cara pengaturan satu atau lebih komponen penyususn
ekosistem DAS yang diharapkan mempunyai pengaruh terhadap prosesproses hidrolgi atau kualitas air.
2.3.3 Pedoman Kerja prinsip DAS
Perencanaan Pengelolaan DAS yang baik dilakukan dengan cara
pendekatan secara menyeluruh. Pendekatan tersebut dilakukan sebagai bahan
pertimbangan terhadap terganggunya salah satu komponen pada sistem alam yang
dapat berpengaruh pada komponen lain dari sistem tersebut. Pendekatan
menyeluruh ini pada hakekatnya suatu kajian terpadu terhadap semua aspek
sumber daya dalam suatu DAS dengan mempertimbangkan faktor-faktor
lingkungan, social, politik dan ekonomi. Ekosistem DAS dapat dimanfaatkan
dalam melakukan suatu perencanaan dan pengendalian pengelolaan DAS sebagai
suatu unit perencanaan dan evaluasi yang sistematis, logis dan rasional, sehingga
para stakeholder bisa memanfaatkannya secara multiguna.
Prinsip yang berlaku secara umum mensyaratkan bahwa perencanaan yang
disiapkan secara sistematis, logis dan rasional seharusnya mengarah pada bentuk
pengelolaan yang bijaksana dan implementasi yang efektif. Pengalaman empiris

menunjukkan bahwa proses perencanaan dan implementasi program akan


berlangsung dengan efektif apabila disertai pedoman kerja yang berisi prinsipprinsip perencanaan sebagai berikut:
1. Tujuan atau sasaran utama pengelolaan DAS secara menyeluruh harus
dirumuskan secara jelas dengan disertai mekanisme system monitoring dan
evaluasi yang dilakukan secara periodic. Dengan demikian, apabila ditemukan
adanya dampak lingkungan yang cukup serius dapat segera ditangani. Seluruh
usulan kegiatan dan hasil yang diperoleh harus berorientasi pada kepentingan
jangka panjang dan capaian kesejahteraan yang berkelanjutan.
2. Perlu disiapkan mekanisme administrasi yang efisien dengan focus perhatian
pada aspek-aspek social-ekonomi-politik dan kerjasama yang harmonis di
antara lembaga-lembaga (pemerintah dan non pemerintah) yang terlibat dalam
pengelolaan DAS
3. Pengelolaan menyeluruh DAS diarahkan pada penyelesaian konflik yang
muncul di antara stakeholders dalam melaksanakan pembangunan. Pada kasus
ketika terjadi konflik harus dihormati dan dilaksnakan dengan konsisten.
Selain masalah penyelesaian konflik, pendekatan menyeluruh pengelolaan
DAS juga mempertimbangkan prinsip-prinsip upaya pengendalian dan proses
umpan balik yang mengarah pada proses pengambilan keputusan optimal.
Dalam merencanakan suatu pengelolaan DAS harus tetap memperhatikan
karakteristik dari DAS bersangkutan. Hal ini disebabkan setiap DAS mempunyai
karakteristik

masing-masing

yang

mempengaruhi

proses

pengaliran

air

didalamnya sampai keluar di muara dan masuk ke laut atau danau. Karakteristik
DAS ini ditentukan oleh factor lahan (topografi, tanah, geologi, geomorphologi)
dan faktor vegetasi, tata guna lahan dan factor social masyarakat sekitarnya . Tiap
daerah memiliki karakteristik DAS yang berbeda sehingga suatu kebijakan dalam
suatu wilayah pengelolaan DAS bisa berbeda dengan wilayah pengelolaan DAS
lainnya. Dan tidak kalah pentingnya masukan dan informasi masyarakat pada
tingkat local dalam proses penyusunan rencana sangat diharapkan bagi lahirnya
kebijakan pengelolaan DAS
Kebijakan-kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan manusia yang
dibuat dan dilaksanakan dalam skala DAS seringkali mengalami kemacetan atau

terlaksana dengan hasil yang tidak optimal serta tidak sesuai dengan yang telah
direncanakan. Hal ini seringkali berkaitan dengan kurangnya pemahaman pada
perencana pengelola DAS terhadap mekanisme dan proses-proses yang
berlangsung dalam ekosistem termasuk elemen manusia dengan segala
kecenderungannya.
Pengelolaan DAS tidak dapat hanya didasarkan pada keterkaitan fisik
semata. Sebab rencana pengelolaan DAS yang benar mengharuskan adanya
keterkaitan antar unsur social/ekonomi/budaya dengan unsur-unsur yang berkaitan
dengan ekosistem dan teknologi lainnya yang telibat dalam pengelolaan. Maka
perencanaan pengelolaan DAS dikerjakan oleh suatu tim yang terdiri atas
berbagai bidang ilmu yang ada kaitannya dengan aspek sumber daya termasuk
sumber daya manusia.
Pada dasarnya pengelolaan DAS adalah rasionalisasi alokasi sumber daya
alam dan manusia termasuk pencagaran sumber daya yang dikelola sehingga
selain dapat diperoleh manfaat yang optimal juga dapat dijamin keberlanjutannya.
Oleh karena itu, para perencana pengelolaan DAS diharapkan mempunyai
pemahaman yang cukup tentang mekanisme dan proses-proses keterkaitan bio
fisik dan kelembagaan yang berlangsung di daerah-daerah hulu, tengah dan hilir
suatu DAS. Dengan kata lain, pengelolaan DAS perlu mempertimbangkan aspekaspek social,ekonomi,kelembagaan dan sumber daya yang beroperasi di dalam
dan diluar daerah aliran sungai bersangkutan. Keberhasilan pengelolaan DAS erat
kaitannya dengan terpenuhinya persyaratan-persyaratan yang diperlukan dalam
perencanaan pengelolaan DAS.
2.4 Kelembagaan
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang dibatasi oleh
pembatas topografi, yang merupakan satu kesatuan sungai dan anak-anak
sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang
berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami.
Pada dekade terakhir ini, kondisi DAS Citarum-Ciliwung dan sekitarnya
semakin menurun yang ditandai dengan terjadinya bencana banjir dan longsor di
musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Penyebab terjadinya bencana

alam tersebut selain oleh faktor alamiah berupa iklim dan cuaca yang ekstrim
serta kondisi geomorfologi (geologi, tanah dan topografi) juga disebabkan oleh
ulah manusia yang melakukan pengrusakan terhadap hutan dan lahan.
Untuk mendukung optimalisasi upaya-upaya perbaikan kondisi DAS tersebut,
Departemen Kehutanan melalui Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut)
Nomor P.15/Menhut-II/2007 tanggal 4 Mei 2007 menetapkan organisasi dan tata
kerja unit pelaksana teknis pengelolaan Daerah Aliran Sungai dengan tugas dan
fungsinya.
Dengan dikeluarkannya Permenhut tersebut membawa konsekwensi pada
pengembangan tugas pokok serta fungsi yang lebih luas bagi BPDAS dalam
penyusunan rencana pengelolaan DAS, pengembangan kelembagaan DAS dan
Evaluasi Pengelolaan DAS.
Untuk mewujudkan tugas pokok dan fungsi tersebut dan dalam rangka
optimalisasi pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung yang sudah sangat mendesak,
Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung perlu menyusun Rancana Strategis
(renstra) untuk periode 2008-2012.
Renstra BPDAS Citarum-Ciliwung disusun dengan maksud sebagai
perangkat untuk mencapai harmonisasi perencanaan pembangunan Kehutanan
yang berkaitan dengan pengelolaan DAS dan RHL yang menyeluruh, terintegrasi,
dan sinergi dengan sektor lain dalam mencapai tujuan pembangunan Kehutanan.
Adapun tujuannya adalah sebagai arahan kebijakan dan strategi pembangunan
Kehutanan yang berkaitan dengan pengelolaan DAS dan RHL dalam menyusun
program dan kegiatan tahun 2008-2012.
Renstra BPDAS Citarum-Ciliwung Tahun 2008-2012 ini memuat :

Visi dan Misi BPDAS Citarum-Ciliwung

1. Kondisi DAS dan pengelolaannya saat ini


2. Kondisi yang diinginkan
3. Identifikasi masalah, analisa dan asumsi
4. Kebijakan, program dan kegiatan pokok BPDAS Citarum-Ciliwung tahun 20082012

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor P.15/MenhutII/2007 tanggal 4 Mei 2007, Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung

mempunyai

tugas

melaksanakan

penyusunan

rencana,

pengembangan

kelembagaan dan evaluasi pengelolaan Daerah Aliran Sungai.


Dalam melaksanakan tugasnya BPDAS menyelenggarakan fungsi :
1. Penyusunan rencana pengelolaan DAS
2. Penyusunan dan penyajian informasi DAS
3. Pengembangan model pengelolaan DAS
4. Pengembangan kelembagaan dan kemitraan pengelolaan DAS
5. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan DAS
6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai

Kondisi yang diharapkan

1. Good Governance. Hal ini dapat dicapai melalui :


a. Tidak ada kebocoran anggaran
b. Disiplin pegawai meningkat
2. Pemberdayaan Masyarakat. Hal ini dapat dicapai melalui :
a. Terbentuknya masyarakat yang mengetahui, memahami dan turut serta
aktif dalam pengelolaan DAS yang baik
b. Terbentuknya kelompok tani kehutanan yang mandiri dan berwawasan
lingkungan
3.

DAS yang Sehat. Hal ini dapat dicapai melalui :


a. Perencanaan pengelolaan yang baik
b. Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
c. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan DAS

4. Data Dan Informasi DAS Yang Lengkap, Akurat, Mutakhir dan Mudah
Diakses. Hal ini dapat dicapai melalui :
a. Terbangunnya SIMDAS
b. Terbangunnya SSOP
c. Website
5. Kelembagaan DAS yang Kuat. Hal ini dapat dicapai melalui :
a. Terjalinnya keharmonisan dan sinergi antar institusi yang terkait dalam
pengelolaan DAS
b. Sinkronisasi kegiatan

c. Peranserta NGO
Berdasarkan gambaran kondisi saat ini dan kondisi yang diinginkan
diidentifikasi beberapa permasalahan DAS dan pengelolaannya. Hasil identifikasi
masalah ini akan digunakan untuk mendukung justifikasi penetapan tujuan,
sasaran, kebijakan dan program sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan.
Hasil analisa permasalahan pada saat ini di wilayah kerja Balai Pengelolaan
DAS Citarum-Ciliwung dimana sebagaian besar DAS yang ada dalam kondisi
rusak dengan ditandai seringnya terjadi bencana alam banjir, longsor dan
kekeringan sebagai konsekwensi dari penurunan kualitas lingkungan sehingga
menyebabkan kerugian yang sangat luas bagi kepentingan hidup manusia baik
yang hidup di daerah hulu maupun hilir DAS. Hasil analisa permasalahan adalah
sebagai berikut;
a. Masalah Sosial :
1. Laju pertambahan penduduk yang tinggi
2. Konflik pemanfaatan sumber daya alam
3. Disiplin dan budaya masyarakat
4. Partisifasi dan kesadaran masyarakat dalam pelestarian lingkungan
5. Kelembagaan masyarakat masih lemah
6. Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah
b. Masalah Ekonomi
1. Tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah
2. Lapangan kerja masih sempit
3. Pemilikan lahan terbatas
4. Produktifitas lahan rendah
c. Masalah Kelembagaan
1. Pertentangan kepentingan dan tumpang tindih kewenangan antar
instansi pemerintah
2. Peran Pemerintah Daerah kurang
3. Lemahnya aturan dan penegakan hukum

Analisa dan Asumsi


Identifikasi Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Tantangan. Dalam

melakukan analisa untuk menentukan strategi, sasaran dan program selama lima
tahun ke depan, Renstra-KL ini menggunakan telaahan SWOT. Telaahan ini
menganalisis faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Beberapa
faktor kekuatan yang bisa digunakan, antara lain :
1. Adanya perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan
program dan kegiatan.
2. Tersedianya sumberdaya manusia BPDAS Citarum-Ciliwung yang cukup
banyak.
3. Tersedianya gedung kantor dan fasilitas kerja yang memadai.
4. Organisasi BPDAS yang cukup lengkap untuk mendukung pelaksanaan
program dan kegiatan.
5. Tersedianya sarana prasarana peralatan monitoring kondisi tata air berupa
Stasiun Pengamat Aliran Sungai (SPAS).
6. Sudah dibangun Sistem Informasi Manajemen DAS dan tersedia website
BPDAS Citarum-Ciliwung
Beberapa faktor kendala/kelemahan yang perlu diperhatikan, antara lain :
1. Ketersediaan anggaran untuk mendukung pelaksanaan tupoksi masih
kurang.
2. Lemahnya ketersediaan data yang akurat dan mutakhir.
3. Gaji tidak memadai untuk kebutuhan minimal standar hidup pegawai.
4. Kualitas SDM rendah.
5. Penguasaan teknologi rendah.
6. Setandar Operasional dan Prosedur belum mantap
Beberapa faktor peluang yang dapat dimanfaatkan antara lain :
1. Terdapat program nasional berupa Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan
dan Lahan (Gerhan).
2. Adanya political will dari pusat untuk memperaiki kualitas DAS.
3. Terdapat setidaknya 25 DAS yang perlu ditangani.

4. Adanya kelompok tani.


5. Terdapat LSM yang peduli lingkungan.
6. Adanya program bantuan luar negeri untuk kelestarian lingkungan.
7. Adanya program Dept Swap dari negara kaya untuk konversi hutang
menjadi kegiatan pelestarian lingkungan.
8. Global warming dan climate shange isue.
9. Meningkatnya animo masyarakat untuk menanam
Beberapa faktor ancaman/tantangan yang perlu diantisipasi, antara lain :
1. Koordinasi lintas sektoral masih lemah.
2. Luasnya lahan kritis dan tidak produktif.
3. Meningkatnya kejadian banjir/longsor dan kekeringan.
4. Tingginya tekanan penduduk sekitar hutan terhadap hutan.
5. Terdapat status lahan tidak jelas seperti tanah guntai dan HGU terlantar.
6. Kepemilikan lahan sempit.
7. Kualitas SDM masyarakat desa hutan rendah.