You are on page 1of 48

IRIGASI SESI-4

SRI EKO WAHYUNI


Salamun

Jembatan di New York, perjalanan ke Liberty by water taxi 2010.

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENDIDIKA


No Tujuan Khusus
Pembelajaran

Pokok Bahasan

Sub Pokok Bahasan

Estimasi
Waktu

Referensi

3a. Mahasiswa dapat


menjelaskan dan
menganalisis
tentang saluran
pembuang,
perhitungan debit
& kecepatan
saluran,
analisis hidrolika,
modulus
pembuang.

Saluran
pembuang.
Perhitungan debit
& kecepatan
saluran irigasi.

Saluran pembuang.
Perhitungan debit &
kecepatan di saluran
irigasi.

2 x 50

Buku 1, 2,
3, 4, 5 dan
6.

Analisis hidrolika :
Analisis hidrolika. rumus Strickler/
Modulus
Manning, hubungan
pembuang.
debit-m-b/h-K dan w.
Contoh soal dimensi
saluran primer.
Modulus pembuang &
contoh soal.

B. SALURAN PEMBUANG
BERFUNGSI MEMBUANG KELEBIHAN AIR YANG
ADA DI PETAK SAWAH, BAIK SAAT MUSIM HUJAN
MAUPUN KELEBIHAN AIR IRIGASI SERTA
MENGERINGKAN SAWAH.

SALURAN PEMBUANG KUARTER :


MERUPAKAN SALURAN GARIS TINGGI BUATAN,
TERLETAK
DALAM SATU PETAK TERSIER, MENAMPUNG AIR
DARI SAWAH
DAN MEMBUANGNYA KE
PEMBUANG TERSIER.

SALURAN PEMBUANG TERSIER :


- BIASANYA MERUPAKAN SALURAN YANG
MENGIKUTI
KEMIRINGAN
MEDAN.
- MERUPAKAN BATAS ANTARA PETAK2

SALURAN PEMBUANG
SEKUNDER :
MENAMPUNG AIR DARI JARINGAN
PEMBUANG TERSIER & MEMBUANGNYA
KE PEMBUANG PRIMER ATAU LANGSUNG
KE PEMBUANG ALAMIAH DAN KELUAR
DAERAH IRIGASI.

SALURAN PEMBUANG PRIMER :


MENGALIRKAN AIR LEBIH DARI
SALURAN
PEMBUANG SEKUNDER DAN
MENGALIRKANNYA
KE LUAR DAERAH IRIGASI.

Sebaiknya saluran irigasi & pembuang


tidak sejajar (saluran gendong), karena
saluran
pembuang dapat mengikis dan
merusak saluran irigasi
Jika hal ini tidak mungkin dan kalau
kemiringan hidrolis antara saluran
irigasi & pembuang terlalu curam,
makairigasi
saluran
akan banyak mengalami
kehilangan air akibat rembesan/
seepage & tanggul akan cepat runtuh.
Jadi jarak antara saluran irigasi &
pembuang hendaknya cukup jauh,
kemiringan hidrolis minimal 4 : 1
yaitu sbb. :

Sketsa saluran pembawa dan pembuang :


Saluran
irigasi/
pembawa

Saluran
pembuang

Kemiringan
maksimum 4:1
(jangan terlalu curam
seepage tanggul runtuh).

Jarak harus cukup jauh

Penentuan trace saluran baru/tambahan dianjurkan

- Sedapat mungkin mengikuti batas-batas sawah.


- Saluran irigasi hendaknya mengikuti kemiringan m
dan tidak melewati petak-petak tersier yang l
- Saluran irigasi terletak dipunggung medan, salura
pembuang didaerah lembah/depresi.
- Hindari persilangan dengan pembuang.
6
- Hindari pekerjaan tanah yg besar & batasi jumlah

PERHITUNGAN DEBIT & KECEPATAN


DI SALURAN IRIGASI :
PERHITUNGAN DEBIT : Q = Do x a (m/det).
Do = luas petak, ha.
a = kebutuhan air normal untuk padi, l/det/ha.

PERHITUNGAN KECEPATAN DI SALURAN :


:

0,42Q

0 ,182

DAERAH PEGUNUNGAN
V : 0,46Q

0 ,186

DAERAH DATAR

Sebagai contoh, dari hasil perhitungan :


KEBUTUHAN AIR DI SAL. TERSIER
1,36
KEBUTUHAN AIR DI SAL. SEKUNDER 1,56 l/det
KEBUTUHAN AIR DI SAL. PRIMER
1,72

SALURAN
IRIGASI

Saluran irigasi berpenampang


trapesium, biasanya tanpa pasangan, dengan
erosi & sedimentasi minimal, merupakan
bangunan pembawa yang umum
paling
Untukdipakai
salurandan
tersier
danekonomis.
kuarter
mempunyai
batas kecepatan ijin yang harus
dipenuhi.
Jika saluran kuarter juga dipakai sebagai
saluran
pembuang, sebaiknya saluran tersebut
direncanakan sebagai saluran kuarter, di mana
tinggi jagaannya ditambah minimum 15 cm.

Dalam perencanaan hidrolis, ada 2

DATA-DATA

Gambar
Tipe potongan
melintang saluran.

b 30:
Kecepatan maksimum

Vmaks = Vb x A x B x C

0,2 V0,6 m/s

h=b
m = 1:1

Vb= kecep.dasar, Gbr 3.2


A=faktor koreksi pori
B=faktor koreksi kedalaman air h
C=faktor koreksi lengkung
saluran.

0,2 V0,4 m/s

Kecep.dasar yg diijinkan :
Vba = Vb x A
Nilai A,B,C lihat
Gambar 3.3.

0,2 V0,7 m/s


b 50 cm

0,2 V0,4 m/s


b 30 cm

Perbandingan b/h = n, m (hor/vert), K & W.


Debit m3/dt m

Contoh

0.15 0.30
0.30 0.50
0.50 0.75
0.75 1,00
1.00 - 1,.50
1.50 3.00
3. 00 4.50
4.50 5.00
5.00 6.00
6.00 7.50
7.50 9.00
9.00 10.00
10.00 11.00
11.00 15.00
15.00 25.00
25.00 40.00

1.0
1.0

1.0
1.0
1.0
1.5
1.5
1.5
1.5
1.5
1.5
1.5
2.0
2.0
2.0

K.Strickler
b/h=n Nilai K W (tg
jagaan),m
1.0
1.0-1.2
1.2-1.3
1.3-1.5
1.5-1.8
1.8-2.3
2.3-2.7
2.7-2.9
2.9-3.1
3.1-3.5
3.5-3.5
3.5-3.9
3.9-4.2
4.2-49
4.9-6.5
6.5-9.0

35
35
35
35
40
40
40
40
42.5
42.5
42.5
45
45
45
45
45

0,3
0,4
0,5
0,5
0,5
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,75
1,0

Kemiringan Dasar
DATA-DATA
Saluran (I)

Kemiringan dasar saluranI :


K R 2 / 3

terutama ditentukan oleh keadaan


topografi, mempunyai harga maksimum
& minimum, serta sangat berpengaruh
pada kecepatan
Kemiringan
yangair.
kecil menyebabkan
kecepatan
rendah dan akan
mengakibatkan
terjadinya
sedimentasi,
sebaliknya
kemiringan
yang
besar akan
menyebabkan kecepatan tinggi dan
mencegahnya
menyebabkan erosi dasar
saluran maka
untuk
Kecepatan maksimum harus

Kriteria Dimensi Saluran


Tersier :
1. Kemiringan minimum saluran 0,0001.
2. Kemiringan minimum medan 2%.
3. Lebar tanggul 1,00 1,50 m.
4. Kecepatan aliran rencana 0,60 m/dt.
1/ 3
6. Harga
Kemiringan
talud
m = 1:1.
5.
koefisien
Strickler
= m35 / det .
7. Sedimen yang masuk saluran d< 0,060,07 mm
(jika jumlah sedimen yang masuk saluran
& tidak
terangkut ke sawah per tahun > 5% dari
kedalaman
air maka harus dibuat Kantong Lumpur
Volume sedimen = 5% kedalaman air x
lebar

Kriteria Dimensi
Saluran
S AL
Pem

Karakteristik

bawa

Perencanaan

Notasi

Satuan

Tersier

Kuarter

Kecepatan Maks
Kecepatan Min
Harga Strickler
Lebar Dasar min
Kemiringan
talud
Lebar mercu
min
Tinggi jagaan
min

Vmaks

m/dt
m/dt
m1/3/dt
m

0.60
0.20
35
0.30
1:1
0.50
0.30

0.40
0.20
30
0.30
1:1
0.40
0.20

Vmin
K
Bmin
m
Lm
Wmin

U RA N
Pemb

Tersier
0.75
0.45
30
0.50
1:1
-

uang

Kuarter
0.50
0.45
25
0.30
1:1

13

Analisis
Hidrolika

Dalam Perencanaan Saluran, alirannya


dianggap
aliran tetap (steady
Rumus umum
Strickler :
uniform
flow).
2
V

2 / 3 1/ 2
I
2/3
V

R
I
KR

V = kecepatan aliran ;
A
R = jari-jari hidrolis
R

A (b mh)h

K = koefisien Strickle
; Q = VA ; b = nh

P b 2h (m 1)
2

I = kemiringan dasar saluran (rencana).


A = luas potongan melintang saluran, m.
P = keliling basah penampang saluran.
hor
b = lebar dasar saluran, m = kemiringan talud,
vert
14
h = tinggi / kedalaman air, m.

Rumus Strickler = rumus Manning, bedan


koefisien kekasarannya : K dan 1/n.
Rumus Manning : 1
V R 2 / 3 I 1/ 2
n

Kekasaran dinding saluran


(K)
(Koefisien kekasaran Strickler )

Koefisien kekasaran sangat tergantung


al. :
1. Kekasaran dasar dan talud
saluran.
2. Ketidak teraturan permukaan
3. Trace saluran.
saluran.
4. Tetumbuhan / vegetasi.
15
5. Sedimen.

Koefisien kekasaran Strickler (K) :


Jenis saluran
A. Saluran tanah :
Saluran Pembuang
Saluran Tersier
Saluran Primer & Sekunder :
Qp < 1 m3/dt dan sal. tersier
1 m3/dt <Qp <5 m3/dt
5 m3/dt< Qp < 10 m3/dt
Qp > 10 m3/dt
B. Saluran Pasangan :
Pasangan Batu satu Sisi
Pasangan Batu dua Sisi
Pasangan Batu seluruhnya
Pasangan Slab Beton satu Sisi
Pasangan Slab Beton dua Sisi
Pasangan Slab Beton seluruhnya
Saluran segiempat diplester

K (m1/3/dt)
33
35
35
40
42,5
45
42
45
50
45
50
70
75

Kemiringan
Kemiringan Talud
Talud (m)
(m)
Jenis Tanah

0.25
Batuan
0.5-0.7
Batuan lunak
0.5-1.1
Lempung
1.0
Geluh, D < 1,0 mm
Kemiringan Talud / Sisi
1.5
Geluh, D > 1,0 mm
1.5
Geluh Pasiran
2.0
Pasir lepas
2.0-3.0
Pasir lanauan
3.0-4.0
Gambut lunak
Geluh = campuran pasir, lempung dan lumpur
yang kira-kira sama banyaknya.

Tinggi Jagaan (W)


Berguna untuk :
1.Menaikkan muka air di atas tinggi muka air minimum
(bisa disebabkan karena debit bertambah besar,
penutupan pintu secara tiba-tiba sehingga air naik,
atau karena pengaliran air buangan ke saluran).
2.Mencegah kerusakan tanggul saluran.
Debit Q
(m3/dt)
< 0,50
0.50 1.50
1.50 5.00
5.00 10.00
10.00 15.00
> 15.00

Saluran Tanah
(m)

Saluran Pasangan
(m)

0.40
0.50
0.60
0.75
0.85
1.00

0.20
0.20
0.25
0.30
0.40
0.50

Macam2 potongan
melintang saluran
irigasi tinggi
jagaan & debit.
Tidak boleh
mendirikan
bangunan/
penggalian
dalam jarak 3 m
dari Batas
Pembebasan
Tanah (BPT),
supaya saluran
tetap aman dan
stabil.

m=kemir.talud : hor/vert

Kedalaman
galian, & m

DATA-DATA

KONDISI SALURAN SEKUNDER DI GANDA JAYA

EXPOSED SALURAN IRIGASI DENGAN GEOMEMBRANE, ITALY.

CONTOH SOAL 1 :
DIKETAHUI : LUAS PETAK Do = 492,85 ha,
pegunungan.
KEBUTUHAN AIR DI SAL. SEKUNDER : a = 1,6
l/det/ha.
PENYELESAIAN
: SALURAN SEKUNDER : b, h,
HITUNG DIMENSI
DEBIT
SALURAN
: D0 xa 492,85 1,6 x10 3 0,789m 3 / det
Q
I !.

KECEPATANV: 0,46Q 0,186 0,46(0,789) 0,186 0,44m / det

Q 0,789
LUAS PENAMPANG SALURAN
A :
1,792m 2
V
0,44

DARI TABEL DI ATAS DENGAN DEBIT Q = 0,789 DIP


m=1 dan b/h=1,5 maka A = 1,792 = (b + mh)h = 2,5 h

Jadi : h = 0,85 ; b = 1,5x0,85 =1,28.

Abaru = (b+mh)h = (1,28 + 1,5 x 0,85)


KECEPATAN ALIRAN YANG BARU :

Vbaru

Q 0,789

0,44m / det
A 1,81

MENGHITUNG KELILING BASAH :

P b 2h (m 1) 1,28 2 x0,85 1 1 3,68


2

JARI-JARI HIDROLIS :

A 1,81
R
0,49m / det
P 3,68

KEMIRINGAN SALURAN :

Vb
I
2; 3
KR

0,44

2/3
35 x0,49

4,1x10 4

Contoh Soal 2 :
Diketahui : Kebutuhan Air untuk daerah irigasi
yang diairi
seluas MAR
1850dihulu
ha adalah
2,3
m/det.
m = 1saluran
:1 ;
Hitung
pintu
primer,
dimensi
p
b = h. dasar saluran & gambar pot. melintang sal
elevasi
Panjang sal. primer
= 3.880 m. Elevasi sawah
Penyelesaian
:
tertinggi + 11,72 m
Sketsa
Jaringan
Irigasi.
S.primer

Muka Air Rencana di hulu pintu primer :

DATA-DATA
Tinggi untuk bangunan (P) irigasi dapat dihitung seba

1. Elevasi sawah tertinggi


+ 11
2. Tinggi genangan (asumsi)
0,1
3. Kehilangan tekanan di bang. sadap tersier (asums
Ketinggian air di saluran tersier
4. Kehilangan tekanan di saluran tersier (asumsi)
5. Kehilangan tekanan di bangunan sadap (asumsi)
Ketinggian air di saluran sekunder
+1
6. Kehilangan tekanan di saluran sekunder (asumsi)
7. Kehilangan tekanan di bangunan bagi (asumsi)
Ketinggian air di hilir saluran primer + 1
8. Kehilangan tekanan di saluran primer (asumsi)
Ketinggian air di hulu saluran primer + 1
9. Kehilangan tekanan di pintu primer (asumsi)
0,1
Untuk Keamanan (asumsi)
0,10 m
Muka Air Rencana (MAR) di hulu pintu primer + 13,35 m.

Perhitungan dimensi saluran primer


Kebutuhan air Qp = 2,3 m3/detik.
Panjang saluran primer L = 3880 m.

H
13,15 12,60
Slope I

0,000374
Lsal. primer
3880

Luas penampang saluran A :


A = (b+mh) h = (h + 1xh) h =
KELILING BASAH P :

P b 2 h m2 1
h 2 h 1 1 3,83h
2

Jari-jari hidrolis R :
2
A
2h
R
0,522h
P 3,83h
K = 60 m1/3/det (koefisien Strickler (k) untuk
saluran irigasi pasangan batu).

Q KR

2/3

1/ 2

2,3 60 0,522h

2/3

2,3 0,0273h

h 1,27 m 1,5m.

8/3

0,000374

1/ 2

2h

Jadi lebar saluran primer b = h =


1,5 m.

Cek :
Kecepatan aliran V = K x R2/3 x I1/2
= 60 x (0,522 x1,5)2/3 x 0,0003741/2
= 0,98 m/det < Vmaks pasangan batu
Elevasi dasar saluran = Elevasi MAR hulu sal. prim
= + 13,15 1,5 m = + 11,65
Tinggi air di
hulu saluran primer
0,6 m

h=1,5 m

Dimensi rencana saluran

Penampang Melintang Saluran Prime

Contoh Soal 3 :

Diketahui : Kebutuhan Air Irigasi (NFR) =


1,463 lt/det/ha
Luas daerah irigasi yang dialiri (D0) = 3794
ha ; b = 2h
Panjang saluran primer = 1.398,44 m. V =
1,5 m/dtk.
Penyelesaian
: Muka Air Rencana :
Elevasi
sawah
terjauh dan
tertinggi
= +dapat dihit
Tinggi
untuk
bangunan
bendung
irigasi
251,50sawah
m
Elevasi
terjauh dan tertinggi
Hitunggenangan
dimensi saluran,
elevasi
MAR di hulu
Tinggi
air di sawah
(asumsi)
sal.primer elevasi
dasar
saluran
& gambar
Kehilangan
energi sal.
tersier
ke sawah
(asumsi)
potongan melintang.
Kehilangan
energi al. sekunder ke tersier (asumsi)

Kehilangan energi sal. primer ke sekunder (asumsi


Kehilangan energi akibat bangunan ukur (asumsi)
+
Elevasi muka air di saluran primer hilir
=+
29

Debit saluran primer (Qp) =


NFR x D0.
Qp = 1,463
x 3794 =saluran
5550 lt/det
=
Potongan
melintang
: (Tabel
5,55
m13/det.
2

m
=
:
1,5)
A b mh h (2h 1,5 xh)h 3,5h
Qp = A x V 5,55 = 3,5 h2 x 1,5
1,233 = h2 h 1,1 m
A = 3,5 h2 = 3,5 x 1,233
= 3,699
b = 2h
= 2 x :1,1 = 2,2
Keliling
basah

m
P b 2 xh m 2 1 2,2 2 x1,1 1,5 2 1 5,31m
A 3,699
R :
0,697
Jari-jari hidrolis
30
P 5,31

1 2 / 3 1/ 2
Qp R I A
n

1
5.55
0,697 2 / 3 I 1 / 2 x3,699 I 1,6 10 3
0,017

Elevasi Muka Air Rencana (MAR) di hulu


primer :
252,30 1,6 x10 3 1398,44 254,538m
m.a.hilirdasar
+ i.L=
Elevasi
saluran = Elevasi MAR h :

= +254,538 1,1 = +253


+255,138
+254,538

Gambar Potongan
Melintang Saluran Primer

0,6 m =W
Qp=5,5 m/det
V=1,5 m/det

h=1,1 m

+253,438

2,

31

DEBIT
PEMBUANG
DATA-DATA

Kelebihan air/debit diareal irigasi/petak tersier


yang akan dibuang melalui saluran pembuang
terutama disebabkan oleh :
- Hujan lebat.
- Melimpahnya air irigasi atau air
buangan.
- Rembesan atau limpahan kelebihan air
irigasi
di dalam petak tersier.
Kelebihanairtersebutakanmenyebabkanterkumpulnya
genangandiarealyanglebihrendah.
Untuk daerah datar/dekat laut/pasut
dipengaruhi muka air laut sangattergantung
padamukaairsungai,
saluran,lautyg
Jadi
elevasi muka air memegang
peranan
menampungairbuangantsb.
penting
dalam PerencanaanKapasitasSal.Pembuang&bang.
khususdiujungsal.pembuang(Pintu Otomatisspyairtdkmasuk
lagikesal.pembuang).

Modulus Pembuang/Drainase Modul Dm/


Koefisien Pembuang adalah jumlah kelebihan
air yang
harus dikeringkan per petak, besarnya tergantung
dari :
1.Curah hujan selama periode
tertentu, R.
2.Pemberian air irigasi pada waktu
itu, IR.
3. Kebutuhan air tanaman.
4.Perkolasi, P.
5.Tampungan di sawah selama
periodepadi
ybs,tergenang
S.
Biasanya
sedalam 10 cm,
Luas
daerah dan sumber air
bisa 6.
5-15
cm,
lainnya.
tetapi
kalau > 15 cm atau < 5 cm, hasil
panen tidak baik.
Pertumbuhan padi yang paling peka

Untuk sawah yang ditanami


DATA-DATA
padi :
Rumuslimpasanpembuangpermukaanuntukpetak:

D( n ) R( n )Tr n( IR ET P) S
Dn=limpasanpembuangpermukaanselamanhari,mm.

R=curahhujannhariberturut-turut,Tr=5th,mm.
( n )Tr
n=jumlahhariberturut-turut.
IR=pemberianairirigasi,mm/hari.
ET=evapotranspirasi,mm/hari.

P=perkolasi,mm/hr (dataran rendah P=0, terjal P=


S=tampungantambahan/genangan,(maks50mm).

UntukModulusPembuangRencanadigunakan
curahhujan3haridenganperiodeulang5
tahun.

Untuk perhitungan Modulus


Pembuang harus
memperhatikan komponen
sbb. :
Dataran rendah :
- Perkolasi P = 0.

- Pemberian air irigasi IR = 0 jika irigasi


dihentikan.
- Pemberian air irigasi IR = ET jika irigasi
diteruskan.
- Tampungan tambahan (S) di sawah pada
15 cm
Dataran terjal :
lapisan
air maks.
Sdataran
diambil
Sama seperti
kondisi
maksimum
50
mm.
rendah, dengan Perkolasi sebesar 3
mm/hari.

Untuk sawah yang ditanami


padi :
Modulus pembuang rencana ditentukan
dengan curah hujan 3 hari dengan Tr = 5
tahun, R(3)5 :
D

Dm

3x8,64

l / det .ha

Dm = Drainase modul/Modulus pembuang, l/dt.ha.


D3 = limpasan pembuang permukaan selama 3
hari dengan periode ulang 5 tahun, mm.

1
1mm / hari
l / det/ ha 0,116l / det .ha
8,64

Dengan mengambil harga IR, ET dan S


maka
Modulus Pembuang dapat dihitung
contoh

Contoh Perhitungan Modulus Pembuang pada tanah rendah harga P=0 , S=50 mm,
IR (pemberian air irigasi) = 0, dan ET= 6 mm. Data hujan dengan Tr 5 tahun & hujan
per hari berturut-turut 139, 33, 26 mm ( n=3), maka : jumlah hujan 3 hari
= 139+33+26 = 198 mm. Modulus pembuang Dm dapat dihitung sbb. :

D( n ) R( n )T n( IR ET P ) S

139

Curah 120
hujan
80
mm/hr 40

D3 = 198 + 3 (0-6-0)-50 = 130 mm


= limpasan pembuang
26

33

permukaan, selama 3 hari.

Curah hujan
R(3)5

Curah
hujan
kumulatif
(mm)

200
160
120

Waktu dalam
hari

Curah hujan 172


139

198
148
130

S=50mm
nET=18mm

S maks

80

nDm=130 mm

40

pembuangan

0
1

Waktu dalam hari

Modulus Pembuang Rencana : Neraca air di sawah

D3
130
Dm

5liter / det .ha Jumlah kelebihan air ya


3 x8,64 3 x8,64
harus dibuang.

Dari grafik di atas, untuk kondisi curah hujan 3 hari


berturut-turut tersebut, maka dapat ditentukan

besarnya modulus pembuang rencana


(kelebihan air yang harus dibuang) :

130
Dm
5liter / det .ha
3x8,64
Untuk daerah irigasi yang luasnya 400
ha,
pembuangan air per petak diambil
konstan.
Areal > 400 ha dipakai harga per
satuan luas
yang lebih kecil per petak lihat Gbr
6.2

Faktor pengurangan luas yang dibuang airnya : 1,62 A 0,92


diambil dari Gambar 6.2 dibawah ini :

DATA-DATA

Misal : Luas 1600 ha

Gambar 6.2 : Faktor pengurangan luas areal


yang dibuang airnya.

Pemakaian Modulus Pembuang


Debit pembuang rencana Qd yang berasal dari
sawah
yang ditanami padi dihitung dengan rumus
berikut : 0 , 92

Qd 1,62 Dm A

Qd = debit pembuang rencana,l/det.


f = 1,62 = faktor reduksi, untuk petak tersier
diambil f = 1 (Gambar 6.2).
Dm = modulus pembuang rencana, l/det.ha.
A = luas daerah yang dibuang airnya, ha.

Faktor
1,62 A 0,92 pengurangan luas yang dibuang
airnya didaerah tanaman padi di Jawa &
daridigunakan
Gambar 6.2
yang
juga diambil
dapat
diseluruh
digunakan

Kebutuhan Pembuang
untuk
sawah non padi :
Untuk sawah yang ditanami selain padi,
yang perlu diperhatikan yakni :
1. Daerah aliran sungai berhutan.
2. Daerah dengan tanaman ladang.
3. Daerah permukiman.
Dalam merencanakan saluran pembuang
non padi, ada 2 macam debit yang harus
dipertimbangkan :
a. Debit puncak maksimum dalam
jangka waktu
pendek.
b. Debit rencana untuk perencanaan

a. Debit puncakuntuk menghitung muka


air tertinggi di jaringan pembuang.
Untuk daerah sampai seluas 100 km2

dihitung dengan rumus


Der
Weduwen
(Qd = pada
qpengalaman
A)
yang didasarkan
mengenai sungai-sungai di P.Jawa,
atau dengan
Hidrograf
Satuan Sintetik Gama-1
yang ada SNI nya, Hidrograf satuan
Nakayasu, Haspers,
FSR Jawa Sumatra, Rational dll.
Tr = 5 thn utk saluran pembuang
kecil.
Tr = 25 tahun tergantung pada apa
yang akan

b. Debit Rencanamerupakan volume


limpasan air hujan dalam waktu sehari
dari suatu daerah yang akan dibuang
Digunakan
untuk merencanakan kapasitas
airnya.
pembuang dan tinggi muka air Tr = 5
Menurut USBR 1973 besarnya
Debit Rencana tersebut adalah sbb. :

Qd 0,11R(1) 5 A

0 , 92

Qd = debit rencana, l/det.


= koefisien limpasan air hujan, tabel 6.1

R(1)5 = curah hujan sehari, periode ulang


Tr=5 tahun dgn kemungkinan terpenuhi
20 %

Tabel 6.1 Koefisien limpasan air hujan untuk Qd.


Penutup Tanah

Kelompok
Hidro
C

logis tanah
D

Hutan lebat

0,60

0,70

Hutan tidak lebat

0,65

0,75

Tanaman ladang/d. terjal

0,75

0,80

Kelompok C : tanah dengan laju infiltrasi


rendah, terdiri dari tanah yang menahan gerak turun air atau
teksturnya agak halus sampai halus. Tanah ini memiliki laju
penyebaran air yg rendah.
Kelompok D (potensi limpasan tinggi) : tanah
dengan laju
infiltrasi amat rendah, terdiri dari tanah
lempung dengan
potensi mengembang yang tinggi, tanah dengan muka air
tanah tinggi yang permanen, tanah dengan lapisan tanah
liat dan tanah dangkal pada bahan yang hampir kedap air.

Debit Rencana Saluran dgn. Fungsi


Ganda :
Sering dijumpai di lapangan, saluran
pembawa/irigasi
berfungsi pula
sebagai
saluran pembuang.
Sepanjangperjalanansaluranmendapattambahanair
darialur-alurpembuangsehinggamendapat
tambahandebitdarialur-alurpembuangtsb.

Olehkarenaituperludipertimbangkan
debityangmasukdarialurpembuangtsb.

Debit rencana untuk saluran


fungsi ganda didasarkan pada :
1.Kebutuhanairirigasipadamusimkemarau,Qp.
2.Debitpembuangrencana Q 1,62 D A 0, 92
d

Debitrencana:Qt=0,7Qp+Qd

SEE YOU NEXT WEEK

Lining of an irrigation reservoir in Jallisco State, Mexico with exposed geomembrane


(material untuk mengembangkan irigasi, drainasi dll, mengontrol rembesan & erosi).