You are on page 1of 61

63

BAB I
PENDAHULUAN

63

A. Latar Belakang
Derajat kesehatan merupakan salah satu unsure penting dalam upaya
peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bangsa Indonesia. Sementara
itu, derajat kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan, tetapi
yang lebih dominan justru adalah kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat
yang juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan masyarakat.1,2
Berdasarkan Teori H.L.Blum, derajat kesehatan masyarakat dengan
indikatornya angka kematian (mortalitas) dan angka kesakitan (morbiditas) sangat
dipengaruhi oleh empat faktor yaitu factor lingkungan, factor perilaku, factor
pelayanan kesehatan dan faktor kependudukan. Oleh karena itu upaya yang harus
dilakukan adalah mengedepankan upaya

promotif

dan preventif tanpa

meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif.3


Menurut data 10 besar penyakit di Puskesmas Mijen tahun 2013 penyakit
hipertensi menduduki peringkat ketiga yaitu sebanyak 804 kasus. Penyakit
influenza oleh virus influenza sebanyak 987 kasus, Infeksi Saluran Pernapasan
Akut 2580 kasus, penyakit pulpa dan periophical jaringan sekitar akar gigi yaitu
669, karies gigi 356 kasus, gastritis dan duodenitis 327 kasus, faringitis akut 296
kasus, gangguan perkembangan dan erupsi gigi 256 kasus, diare dan
gasroenteritris 216 kasus, penyakit gusi dan jaringan periodontal 199 kasus.4
Penyakit kardiovaskuler merupakan 4.5% dari beban penyakit secara
global dan penyebab kematian nomor satu sehingga menjadi masalah, baik di
Negara maju maupun negara berkembang. Hipertensi merupakan penyakit
kardiovaskuler yang paling sering terjadi. Di seluruhdunia, jumlah penderita
penyakit ini terus bertambah dan tidak lepas dari gaya hidup yang kurang
sehat, yang banyak dilakukan seiring dengan berubahnya pola hidup.1,2.
Indonesia saat ini menghadapi masalah kesehatan yang kompleks dan
beragam. Tentu saja mulai dari infeksi klasik dan moderen, penyakit
degenerative serta penyakit psikososial yang menjadikan Indonesia saat ini
yang menghadapi" threeple burden diseases". Namun tetap saja penyebab
angka kematian terbesar adalah akibat penyakit hipertensi karena hipertensi
arteri yang berkepanjangan dapat merusak pembuluh-pembuluh darah jantung
sehingga meningkatkan insiden penyakit jantung koroner "the silence killer".2,5

63

Berdasarkan data dari The National Health and Nutrition Examination


Survei (NHNES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999 - 2000, insiden hipertensi
pada orang dewasa adalah sekitar 29-31%, yang berarti terdapat 58- 65 juta orang
hipertensi di Amerika dan terjadi peningkatan 15 juta dari data The National
Health and Nutrition Examination Survey (NHNES III) tahun 1988 - 1991. Data
yang didapat di Thailand sebanyak 17%, Vietnam 34,6%, Singapura 24,9%,
Malaysia 29,9% sedagkan prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 6 - 15%.
Prevalensi bervariasimenurut umur, ras, pendidikan, dan banyak variabel lain. 2,5
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2007
prevalensi hipertansi pada penduduk usia >18 tahun berdasarkan pengukuran
sebesar 29,8%. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi hipertensi pada
penduduk usia >18 tahun diatas prevalensi Nasional, diantaranya Riau, Bangka
Belitung, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. 6
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Provinsi Jawa Tengah
tahun 2007 prevalensi hipertensi menurut hasil wawancara di Provinsi Jawa
Tengah sebesar 8,2%, sedangkan menurut hasil pengukuran tekanan darah sebesar
37%, prevalensi tertinggi hipertensi menurut hasil pengukuran terdapat di
Kabupaten Wonogiri (49,5%) dan terendah hasil pengukuran terdapat di Demak
(26,5%).6
Dari hasil survei di RW VII kelurahan Mijen yaitu RT 1, RT 2, RT 3, dan
RT 4 didapatkan beberapa jenis penyakit yaitu hipertensi 61,9%, Infeksi Saluran
Pernapasan Akut 19%, diare 14,3%, dan penyakit lainnya 4,8% dimana proporsi
penyakit hipertensi menempati urutan tertinggi yaitu 61,9% dari 21 orang yang
sakit.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka dalam laporan ini kami kelompok
kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Semarang menyimpulkan suatu rumusan masalah sebagai
berikut: tingginya jumlah kejadian penyakit hipertensi di RW VII yaitu RT 1, RT

63

2, RT 3, RT 4 Kelurahan Mijen dan diduga ada hubungan dengan faktor risiko


yang berupa keturunan, perilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Meningkatkan kesadaran dan masyarakat dapat mengenal penyakit
hipertensi dan bersepakat untuk menanggulanginya di RW VII yaitu
RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 di Kelurahan Mijen.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi, mengumpulkan, dan menganalisis data masalah
kesehatan komunitas di RW VII yaitu RT 1, RT 2, RT 3, RT 4
b.
c.
d.

Kelurahan Mijen.
Menetapkan prioritas masalah kesehatan masyarakat.
Menetapkan alternatif pemecahan masalah kesehatan masyarakat.
Melakukan intervensi kegiatan yang dapat memotivasi
masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatannya (promotif,

e.
f.

preventif, kuratif, rehabilitatif, dan rujukan).


Mengetahui faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadiannya
di RW VII yaitu RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 Kelurahan Mijen.
Melakukan kegiatan promosi kesehatan masyarakat dengan
menggunakan bahasa dan media yang efektif dan dipahami oleh

masyarakat.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Menambah pengetahuan mahasiswa mengenai Ilmu Kesehatan
Masyarakat dengan melakukan

survei secara langsung di

masyarakat.
b. Menambah pengetahuan masyarakat mengenai penyakit hipertensi
dan faktor risikonya.
2. Manfaat Praktis
a. Mahasiswa mampu mengelola masalah kesehatan pada individu
sebagai bagian dari masalah kesehatan masyarakat secara
komprehensif,

holistik,

berkesinambungan,

koordinatif,

dan

kolaboratif dalam konteks pelayanan kesehatan tingkat primer.


b. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan sehingga
tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

63

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hipertensi
1. Definisi
Hipertensi merupakan silent killer (pembunuh diam-diam) yang
secara luas dikenal sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum. Dengan
meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang tidak seimbang dapat
meningkatkan faktor risiko munculnya berbagai penyakit seperti arteri koroner,
gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal.Salah satu studi menyatakan pasien yang
menghentikan terapi anti hipertensi maka lima kali lebih besar kemungkinannya
terkena stroke.7
Hipertensi dianggap sebagai faktor risiko utama stroke, dimana
stroke merupakan penyakit yang sulit disembuhkan dan mempunyai dampak yang
sangat luas terhadap kelangsungan hidup penderita dan keluarganya.Hipertensi
sistolik dan distolik terbukti berpengaruh pada stroke. Dikemukakan bahwa
penderita dengan tekanan diastolik di atas 95 mmHg mempunyai risiko dua kali
lebih besar untuk terjadinya infark otak dibanding dengan tekanan diastolik

63

kurang dari 80 mmHg, sedangkan kenaikan sistolik lebih dari 180 mmHg
mempunyai risiko tiga kali terserang stroke iskemik dibandingkan dengan dengan
tekanan darah kurang 140 mmHg. Akan tetapi pada penderita usia lebih 65 tahun
risiko stroke hanya 1,5 kali daripada normotensi.8,9
Sasaran pengobatan hipertensi untuk menurunkan morbiditas dan
mortalitas kardiovaskuler dan ginjal.Dengan menurunkan tekanan darah kurang
dari 140/90 mmHg, diharapkan komplikasi akibat hipertensi berkurang.
Klasifikasi prehipertensi bukan suatu penyakit, tetapi hanya dimaksudkan akan
risiko terjadinya hipertensi. Terapi non farmakologi antara lain mengurangi
asupan garam, olah raga, menghentikan rokok dan mengurangi berat badan, dapat
dimulai sebelum atau bersama-sama obat farmakologi.9
2. Etiologi
Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang
beragam. Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui
(essensial atau hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan
tetapi dapat di kontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah
mempunyai penyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak
penyebab hipertensi sekunder; endogen maupun eksogen. Bila penyebab
hipertensi sekunder dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien pasien ini dapat
disembuhkan secara potensial.10
a) Hipertensi primer (essensial)
Lebih dari 90% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi essensial
(hipertensi primer). Literatur lain mengatakan, hipertensi essensial merupakan
95% dari seluruh kasus hipertensi. Beberapa mekanisme yang mungkin
berkontribusi untuk terjadinya hipertensi ini telah diidentifikasi, namun belum
satupun

teori

yang

tegas

menyatakan

patogenesis

hipertensi

primer

tersebut.Hipertensi sering turun temurun dalam suatu keluarga, hal ini setidaknya
menunjukkan bahwa faktor genetik memegang peranan penting pada patogenesis
hipertensi primer.Menurut data, bila ditemukan gambaran bentuk disregulasi
tekanan darah yang monogenik dan poligenik mempunyai kecenderungan
timbulnya hipertensi essensial. Banyak karakteristik genetik dari gen gen ini
yang mempengaruhi keseimbangan natrium, tetapi juga di dokumentasikan

63

adanya mutasi mutasi genetik yang merubah ekskresi kallikrein urine, pelepasan
nitric oxide, ekskresi aldosteron, steroid adrenal, dan angiotensinogen.7
b) Hipertensi sekunder
Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari penyakit
komorbid atau obat obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah (lihat
tabel 2.1). Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis
atau penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering.7 Obatobat tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi
atau memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah. Obat-obat ini
dapat dilihat pada tabel 2.1. Apabila penyebab sekunder dapat diidentifikasi, maka
dengan menghentikan obat yang bersangkutan atau mengobati / mengoreksi
kondisi komorbid yang menyertainya sudah merupakan tahap pertama dalam
penanganan hipertensi sekunder.8
Tabel 2.1 Penyebab hipertensi yang dapat diidentifikasi.
Obat
1. Kortikosteroid, ACTH
2. Estrogen (biasanya pil KB kadar
estrogen tinggi)
3. NSAID, cox-2 inhibitor
4. Fenilpropanolamine dan analog
5. Cyclosporin dan tacrolimus
6. Eritropoetin
7. Sibutramin
8. Antidepresan (terutama venlafaxine)
Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4.Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penyakit
Penyakit ginjal kronis
Hiperaldosteronisme primer
Penyakit renovaskular
Sindroma cushing
Pheochromocytoma
Koarktasi aorta
Penyakit tiroid atau paratiroid

ACTH
NSAID
KB

:Adrenocorticotropic Hormone
: Non Steroid Anti Inflammatory Drugs
: Keluarga Berencana

3. Klasifikasi Hipertensi
Ada beberapa klasifikasi dari hipertensi, diantaranya menurut The
Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection,
Eveluation, and Tretment of High Blood Pressure (JNC7) klasifikasi tekanan
darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prehipertensi,
hipertensi derajat 1 dan derajat 2 (dilihat tabel 2.2). 8
Tabel 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7
Klasifikasi Tekanan
Darah

TDS (mmHg)

TDD (mmHg)

63

Normal
< 120
Dan
< 80
Prehipertensi
120 139
Atau
80 89
Hipertensi stadium 1
140 159
Atau
90 99
Hipertensi stadium 2
160
Atau
100
Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4.Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006.
TDS
: Tekanan Darah Sistolik
TDD
: Tekanan Darah Diastolik

4. Faktor Risiko Hipertensi


a. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi
1) Usia
Hipertensi erat kaitannya dengan usia, semakin tua seseorang
semakin besar risiko terserang hipertensi. Usia lebih dari 40 tahun
mempunyai risiko terkena hipertensi. Dengan bertambahnya usia,
risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi
dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan
kematian sekitar 50 % diatas usia 60 tahun. Arteri kehilangan
elastisitasnya atau kelenturannya dan tekanan darah seiring
bertambahnya usia, kebanyakan orang hipertensi meningkat ketika
usia 50.8
Dengan bertambahnya usia, risiko terjadinya hipertensi
meningkat. Meskipun hipertensi bisa terjadi pada segala usia,
namun paling sering dijumpai pada orang berusia 35 tahun atau
lebih. Sebenarnya wajar bila tekanan darah sedikit meningkat
dengan bertambahnya usia. Hal ini disebabkan oleh perubahan
alami pada jantung, pembuluh darah dan hormon. Tetapi bila
perubahan tersebut disertai faktor-faktor lain maka bisa memicu
terjadinya hipertensi.9
2) Jenis Kelamin
Bila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata
terdapat angka yang cukup bervariasi. Dari laporan Sugiri di Jawa
Tengah didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6%

63

untuk wanita. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% pria dan 17,4%


perempuan, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan)
didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita.10
3) Riwayat Keluarga
Menurut Nurkhalida, orang-orang dengan sejarah keluarga
yang mempunyai hipertensi lebih sering menderita hipertensi.
Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor
keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi terutama
pada hipertensi primer.Keluarga yang memiliki hipertensi dan
penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat. Jika
kedua orang tua kita mempunyai hipertensi, kemungkunan kita
mendapatkan penyakit tersebut 60%.11
4) Genetik
Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti
dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak
pada kembar monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot
(berbeda sel telur). Seorang penderita yang mempunyai sifat
genetik hipertensi primer (esensial) apabila dibiarkan secara
alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan
menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar
30-50 tahun akan timbul tanda dan gejala.12
b. Faktor yang dapat dimodifikasi
1) Kebiasaan Merokok
Rokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan antara
rokok dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak
dibuktikan. Selain dari lamanya, risiko merokok terbesar
tergantung pada jumlah rokok yang dihisap perhari. Seseorang
lebih dari satu pak rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan
hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok.4
Zat-zat kimia beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida
yang diisap melalui rokok, yang masuk kedalam aliran darah dapat
merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan
proses aterosklerosis dan hipertensi.11
2) Konsumsi Garam

63

Garam merupakan faktor yang sangat penting dalam


patogenesis hipertensi.Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan
pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Asupan
garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan prevalensi
hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan garam antara 5-15
gram perhari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 %.
Pengaruh asupan terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui
peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah.13
Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, karena
menarik cairan diluar sel agar tidak keluar, sehingga akan
meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada manusia yang
mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang ditemukan tekanan
darah rata-rata rendah, sedangkan asupan garam sekitar 7-8 gram
tekanan darahnya rata-rata lebih tinggi. Konsumsi garam yang
dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol
natrium atau 2400 mg/hari.11
Menurut Alison Hull, penelitian menunjukkan adanya kaitan
antara asupan natrium dengan hipertensi pada beberapa individu.
Asupan natrium akan meningkat menyebabkan tubuh meretensi
cairan yang meningkatkan volume darah.11
3) Konsumsi Lemak Jenuh
Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan
peningkatan

berat

badan

yang

berisiko

terjadinya

hipertensi.Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko


aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah.
Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan
yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak
tidak jenuh secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, bijibijian dan makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat
menurunkan tekanan darah.11
4) Penggunaan Jelantah
Jelantah adalah minyak goreng yang sudah lebih dari satu kali
dipakai untuk menggoreng, dan minyak goreng ini merupakan

63

minyak yang telah rusak.Bahan dasar minyak goreng bisa


bermacam-macam seperti kelapa, sawit, kedelai, jagung dan lainlain.Meskipun beragam, secara kimia isi kendungannya sebetulnya
tidak jauh berbeda, yakni terdiri dari beraneka Asam Lemak Jenuh
(ALJ) dan Asam Lemak Tidak Jenuh (ALTJ).Dalam jumlah kecil
terdapat lesitin, cephalin, fosfatida, sterol, asam lemak bebas, lilin,
pigmen larut lemak, karbohidrat dan protein. Hal yang
menyebabkan berbeda adalah komposisinya, minyak sawit
mengandung sekitar 45,5% Asam Lemak Jenuh yang didominasi
oleh lemak palmitat dan 54,1% Asam Lemak Tidak Jenuhyang
didominasi asam lemak oleat sering juga disebut omega-9. minyak
kelapa mengadung 80% Asam Lemak Jenuh dan 20% Asam
Lemak Tidak Jenuh, sementara minyak zaitun dan minyak biji
bunga matahari hampir 90% komposisinya adalah Asam Lemak
Tidak Jenuh.10
5) Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol
Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi.Peminum alkohol
berat cenderung hipertensi meskipun mekanisme timbulnya
hipertensi belum diketahui secara pasti. Orang-orang yang minum
alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak memiliki tekanan
yang lebih tinggi dari pada individu yang tidak minum atau minum
sedikit.11
Menurut Ali Khomsan konsumsi alkohol harus diwaspadai
karena survei menunjukkan bahwa 10 % kasus hipertensi
berkaitan dengan konsumsi alkohol.Mekanisme peningkatan
tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun diduga,
peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel darah
merah serta kekentalan darah merah berperan dalam menaikkan
tekanan darah.11
6) Obesitas
Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi
makanan yang mengandung tinggi lemak.Obesitas meningkatkan
risiko terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Makin besar

63

massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk


memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini berarti
volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi
meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding
arteri. Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut
jantung dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan insulin
menyebabkan tubuh menahan natrium dan air.10
Berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkorelasi
langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah
sistolik.Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes
5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat
badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 2030 % memiliki berat badan lebih.11
7) Olahraga
Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan risiko menderita
hipertensi

karena

meningkatkan

risiko

kelebihan

berat

badan.Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai


frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot
jantungnya harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi.Makin
keras dan sering otot jantung harus memompa, makin besar
tekanan yang dibebankan pada arteri.15
8) Stres
Stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara
waktu dan bila stres sudah hilang tekanan darah bisa normal
kembali.Peristiwa

mendadak

menyebabkan

stres

dapat

meningkatkan tekanan darah, namun akibat stres berkelanjutan


yang dapat menimbulkan hipertensi belum dapat dipastikan.11
9) Penggunaan Estrogen
Estrogen meningkatkan risiko hipertensi tetapi secara
epidemiologi belum ada data apakah peningkatan tekanan darah
tersebut disebabkan karena estrogen dari dalam tubuh atau dari
penggunaan

kontrasepsi

hormonal

estrogen.MN

Bustan

menyatakan bahwa dengan lamanya pemakaian kontrasepsi

63

estrogen ( 12 tahun berturut-turut), akan meningkatkan tekanan


darah perempuan.16
5. Patogenesis Hipertensi
Tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah melalui sistem
sirkulasi dilakukan oleh aksi memompa dari jantung (Cardiac Output) dan
dukungan dari arteri (Peripheral Resistance).Fungsi kerja masing-masing penentu
tekanan darah ini dipengaruhi oleh interaksi dari berbagai faktor yang kompleks.
Hipertensi sesungguhnya merupakan abnormalitas dari faktor faktortersebut,
yang ditandai dengan peningkatan curah jantung dan atau ketahanan periferal.17

63

Exces
sodium
intake

Reduce
nephrone
number

Renal
sodium
retention

Fluid
volume

Decreased
Filtration
surface

stress

Genetic
alteration

Sympathetic
nervous
overactivity

Renin angiotensin
excess

Endotelium
derived
factors

obesity

Cell
membrane
alteration

Hyper
insulinemia

Venous
constiction

Preload

Contractability

BLOOD PRESURE = CARDIAC OUTPUT


Hypertension = Increased CO

Structural
hypertrophy

Functional
constriction

X
And/or

PERIPHERAL RESISTANCE
Increased PR

Autoregulation

Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4 Jilid 2.Jakarta: Perhimpunan
Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2005.

Gambar 2.1 Faktor-Faktor yang mempengaruhi tekanan darah.11


6. Gejala Klinis Hipertensi
Menurut Elizabeth J. Corwin, sebagian besar tanpa disertai gejala
yang mencolok dan manifestasi klinis timbul setelah mengetahui hipertensi
bertahun tahun berupa:8
a) Nyeri kepala saat terjaga, kadang kadang disertai mual dan muntah,
akibat tekanan darah intrakranium.

63

b) Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.


c) Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan saraf.
d) Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus.
e) Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.
7. Diagnosis Hipertensi
Menurut Slamet Suyono, evaluasi pasien hipertensi mempunyai
tiga tujuan :7
a) Mengidentifikasi penyebab hipertensi.
b) Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit kardiovaskuler,
beratnya penyakit, serta respon terhadap pengobatan.
c) Mengidentifikasi adanya faktor risiko kardiovaskuler yang lain atau
penyakit penyerta, yang ikut menentukan prognosis dan ikut menentukan
panduan pengobatan.
Data yang diperlukan untuk evaluasi tersebut diperoleh dengan cara
anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan
penunjang. Peninggian tekanan darah kadang sering merupakan satu-satunya
tanda klinis hipertensi sehingga diperlukan pengukuran tekanan darah yang
akurat. Berbagai faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran seperti faktor
pasien, faktor alat dan tempat pengukuran.7
Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama
menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan seperti penyakit
jantung koroner, penyakit serebrovaskuler dan lainnya.Apakah terdapat riwayat
penyakit dalam keluarga, gejala yang berkaitan dengan penyakit hipertensi,
perubahan aktifitas atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat
dan faktor psikososial lingkungan keluarga, pekerjaan, dan lain-lain). Dalam
pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali atau lebih dengan
jarak dua menit, kemudian diperiksa ulang dengan kontralateral.11
8. Pengukuran Tekanan Darah
Menurut Roger Watson, tekanan darah diukur berdasarkan berat
kolum air raksa yang harus ditanggungnya. Tingginya dinyatakan dalam
millimeter.Tekanan darah arteri yang normal adalah 110 120 (sistolik) dan 65
80

mm

(diastolik).Alat

untuk

mengukur

tekanan

darah

disebut

sphygmomanometer.Ada beberapa jenis sphygmomanometer, tetapi yang paling


umum terdiri dari sebuah manset karet, yang dibalut dengan bahan yang difiksasi
disekitarnya secara merata tanpa menimbulkan konstriksi.Sebuah tangan kecil

63

dihubungkan dengan manset karet ini.Dengan alat ini, udara dapat dipompakan
kedalamnya, mengembangkan manset karet tersebut dan menekan ekstremitas dan
pembuluh darah yang ada didalamnya. Bantalan ini juga dihubungkan juga
dengan sebuah manometer yang mengandung air raksa sehingga tekanan udara
didalamnya dapat dibaca sesuai skala yang ada.13
Untuk mengukur tekanan darah, manset karet difiksasi melingkari
lengan dan denyut pada pergelangan tangan diraba dengan satu tangan, sementara
tangan yang lain digunakan untuk mengembangkan manset sampai suatu tekanan,
dimana denyut arteri radialis tidak lagi teraba. Sebuah stetoskop diletakkan diatas
denyut arteri brakialis pada fosa kubiti dan tekanan pada manset karet diturunkan
perlahan dengan melonggarkan katupnya.Ketika tekanan diturunkan, mula-mula
tidak terdengar suara, namun ketika mencapai tekanan darah sistolik terdengar
suara ketukan (tapping sound) pada stetoskop (Korotkoff fase I).Pada saat itu
tinggi air raksa didalam namometer harus dicatat.Ketika tekanan didalam manset
diturunkan, suara semakin keras sampai saat tekanan darah diastolik tercapai,
karakter bunyi tersebut berubah dan meredup (Korotkoff fase IV). Penurunan
tekanan manset lebih lanjut akan menyebabkan bunyi menghilang sama sekali
(Korotkoff fase V). Tekanan diastolik dicatat pada saat menghilangnya karakter
bunyi tersebut.13
Menurut Lany Gunawan, dalam pengukuran tekanan darah ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:13
a) Pengukuran tekanan darah boleh dilaksanakan pada posisi duduk ataupun
berbaring. Namun yang penting, lengan tangan harus dapat diletakkan
dengan santai.
b) Pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk, akan memberikan angka
yang agak lebih tinggi dibandingkan dengan posisi berbaring meskipun
selisihnya relatif kecil.
c) Tekanan darah juga dipengaruhi kondisi saat pengukuran. Pada orang
yang bangun tidur, akan didapatkan tekanan darah paling rendah.
Tekanan darah yang diukur setelah berjalan kaki atau aktifitas fisik lain
akan memberi angka yang lebih tinggi. Di samping itu, juga tidak boleh
merokok atau minum kopi karena merokok atau minum kopi akan
menyebabkan tekanan darah sedikit naik.

63

d) Pada pemeriksaan kesehatan, sebaiknya tekanan darah diukur 2 atau 3


kali berturut-turut, dan pada detakan yang terdengar tegas pertama kali
mulai dihitung. Jika hasilnya berbeda maka nilai yang dipakai adalah
nilai yang terendah.
e) Ukuran manset harus sesuai dengan lingkar lengan, bagian yang
mengembang harus melingkari 80 % lengan dan mencakup dua pertiga
dari panjang lengan atas.
Standard Operational Procedure ( SOP) Pengukuran Tekanan Darah
Pemeriksaan tekanan darah diperoleh dari pengkuran pada sirkulasi
arteri. Aliran darah akibat pemompaan jantung menimbulkan gelombang yaitu
gelombang tinggi yang disebut tekanan sistolik dan gelombang pada titik terendah
yang disebut tekanan diastolik. Satuan tekanan darah dinyatakan dalam millimeter
air raksa (mm hg).Persiapan alat :Sphygmomanometer aneroid / air raksa,
stetoskop, APD (Alat Pelindung Diri), buku catatan., alat tulis12
Prosedur :12
1.

Mintalah pasien untuk membuka bagian lengan atas yang akan

2.

diperiksa, sehingga tidak ada penekanan pada arteri brachialis.


Posisi pasien bisa berbaring, setengah duduk atau duduk yang nyaman

3.
4.

dengan lengan bagian volar diatas.


Gunakan manset yang sesuai dengan ukuran lengan pasien
Pasanglah manset melingkar pada lengan tempat pemeriksaan setinggi
jantung, dengan bagian bawah manset 2 3 cm diatas fossa kubiti dan

5.
6.

bagian balon karet yg menekan tepat diatas arteri brachialis.


Pastikan pipa karet tidak terlipat atau terjepit manset.
Hubungkan manset dengan sphymomanometer air raksa , posisi tegak

7.

dan level air raksa setinggi jantung


Raba denyut arteri Brachialis pada fossa kubiti dan arteri Radialis
dengan jari telunjuk dan jari tengah ( untuk memastikan tidak ada

8.

penekanan )
Pastikan mata pemeriksa harus sejajar dengan permukaan air raksa

( agar pembacaan hasil pengukuran tepat )


9. Tutup katup pengontrol pada pompa manset
10. Pastikan stetoskop masuk tepat kedalam telinga pemeriksa, palpasi
denyut arteri radialis
11. Pompa manset sampai denyut arteri radialis tak teraba lagi

63

12. Kemudian pompa lagi sampai 20 30 mm hg (jangan lebih tinggi,


sebab akan menimbulkan rasa sakit pada pasien, rasa sakit akan
meningkatkan tensi)
13. Letakkan kepala stetoskop diatas arteri brachialis
14. Lepaskan katup pengontrol secara pelan-pelan sehingga air raksa turun
dengan kecepatan 2 3 mm hg per detik atau 1 skala perdetik
15. Pastikan tinggi air raksa saat terdengar detakan pertama arteri brachialis
adalah tekanan sistolik
16. Pastikan tinggi air raksa pada saat terjadi perubahan suara yang tiba-tiba
melemah Denyutan terakhir disebut tekanan diastolik
17. Lepaskan stetoskop dari telinga pemeriksa dan manset dari lengan
pasien.
18. Bersihkan earpiece dan diafragma stestokop dengan disinfektan.
19. Apabila ingin diulang tunggu minimal 30 detik.
9. Penatalaksanaan Hipertensi
a. Penatalaksanaan Non Farmakologis
Pendekatan nonfarmakologis merupakan

penanganan

awal

sebelum penambahan obat-obatan hipertensi, disamping perlu


diperhatikan oleh seorang yang sedang dalam terapi obat.Sedangkan
pasien hipertensi yang terkontrol, pendekatan nonfarmakologis ini
dapat membantu pengurangan dosis obat pada sebagian penderita.
Oleh karena itu, modifikasi gaya hidup merupakan hal yang penting
diperhatikan, karena berperan dalam keberhasilan penanganan
hipertensi.11
Pendekatan nonfarmakologis dibedakan menjadi beberapa hal:
1) Menurunkan faktor risiko yang menyebabkan aterosklerosis.
Menurut Corwin berhenti merokok penting untuk mengurangi
efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui
menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan
beban kerja jantung. Selain itu pengurangan makanan berlemak dapat
menurunkan risiko aterosklerosis.8
Penderita hipertensi dianjurkan untuk berhenti merokok dan
mengurangi

asupan

alkohol.

Berdasarkan

hasil

penelitian

eksperimental, sampai pengurangan sekitar 10 kg berat badan

63

berhubungan langsung dengan penurunan tekanan darah rata-rata 2-3


mmHg per kg berat badan.11
2) Olahraga dan aktifitas fisik
Selain untuk menjaga berat badan tetap normal, olahraga dan
aktifitas fisik teratur bermanfaat untuk mengatur tekanan darah, dan
menjaga kebugaran tubuh.Olahraga seperti jogging, berenang baik
dilakukan untuk penderita hipertensi. Dianjurkan untuk olahraga
teratur, minimal 3 kali seminggu, dengan demikian dapat menurunkan
tekanan darah walaupun berat badan belum tentu turun.11
Olahraga yang teratur dibuktikan dapat menurunkan tekanan
perifer sehingga dapat menurunkan tekanan darah.Olahraga dapat
menimbulkan perasaan santai dan mengurangi berat badan sehingga
dapat menurunkan tekanan darah. Yang perlu diingat adalah bahwa
olahraga saja tidak dapat digunakan sebagai pengobatan hipertensi.13
Menurut Dede Kusmana, beberapa patokan berikut ini perlu
dipenuhi sebelum memutuskan berolahraga, antara lain:

Penderita hipertensi sebaiknya dikontrol atau dikendalikan tanpa


atau dengan obat terlebih dahulu tekanan darahnya, sehingga
tekanan darah sistolik tidak melebihi 160 mmHg dan tekanan darah

diastolik tidak melebihi 100 mmHg.


Alangkah tepat jika sebelum berolahraga terlebih dahulu mendapat
informasi mengenai penyebab hipertensi yang sedang diderita.
Sebelum melakukan latihan sebaiknya telah dilakukan uji latih
jantung dengan beban (treadmill/ergometer) agar dapat dinilai
reaksi tekanan darah serta perubahan aktifitas listrik jantung
(ECG)Elektrocardiography, sekaligus menilai tingkat kapasitas

fisik.
Pada saat uji latih sebaiknya obat yang sedang diminum tetap
diteruskan sehingga dapat diketahui efektifitas obat terhadap

kenaikan beban.
Latihan yang diberikan ditujukan untuk meningkatkan daya tahan
tubuh dan tidak menambah peningkatan darah.
Olahraga yang bersifat kompetisi tidak diperbolehkan.
Olahraga peningkatan kekuatan tidak diperbolehkan.

63

Secara teratur memeriksakan tekanan darah sebelum dan sesudah


latihan.
Salah satu dari olahraga hipertensi adalah timbulnya penurunan
tekanan darah sehingga olahraga dapat menjadi salah satu obat

hipertensi.
Umumnya penderita hipertensi mempunyai kecenderungan ada
kaitannya dengan beban emosi (stres). Oleh karena itu disamping
olahraga yang bersifat fisik dilakukan pula olahraga pengendalian

emosi, artinya berusaha mengatasi ketegangan emosional yang ada.


Jika hasil latihan menunjukkan penurunan tekanan darah, maka
dosis/takaran obat yang sedang digunakan sebaiknya dilakukan

penyesuaian (pengurangan).11
3) Perubahan pola makan
Mengurangi asupan garam
Pada hipertensi derajat I, pengurangan asupan garam dan
upaya penurunan berat badan dapat digunakan sebagai langkah
awal pengobatan hipertensi.Nasihat pengurangan asupan garam
harus

memperhatikan

memperhitungkan

jenis

kebiasaan
makanan

makan
tertentu

pasien,

dengan

yang

banyak

mengandung garam.Pembatasan asupan garam sampai 60 mmol per


hari, berarti tidak menambahkan garam pada waktu makan,
memasak tanpa garam, menghindari makanan yang sudah
diasinkan, dan menggunakan mentega yang bebas garam. Cara
tersebut diatas akan sulit dilaksanakan karena akan mengurangi
asupan garam secara ketat dan akan mengurangi kebiasaan makan
pasien secara drastis.11
Diet rendah lemak jenuh
Lemak dalam diet

meningkatkan

risiko

terjadinya

aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah.


Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan
yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak
jenuh secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan

63

makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan


tekanan darah.11
Memperbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan dan susu rendah
lemak.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa mineral
bermanfaat mengatasi hipertensi.Kalium dibuktikan erat kaitannya
dengan penurunan tekanan darah arteri dan mengurangi risiko
terjadinya

stroke.Selain

itu,

mengkonsumsi

kalsium

dan

magnesium bermanfaat dalam penurunan tekanan darah.Banyak


konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan mengandung banyak
mineral, seperti seledri, kol, jamur (banyak mengandung kalium),
kacang-kacangan (banyak mengandung magnesium). Sedangkan
susu dan produk susu mengandung banyak kalsium.11
4) Menghilangkan stres
Stres menjadi masalah bila tuntutan dari lingkungan hampir
atau

bahkan

sudah

melebihi

kemampuan

kita

untuk

mengatasinya.Cara untuk menghilangkan stres yaitu perubahan pola


hidup dengan membuat perubahan dalam kehidupan rutin sehari-hari
dapat meringankan beban stres. Perubahan-perubahan itu ialah:11
Rencanakan semua dengan baik. Buatlah jadwal tertulis untuk
kegiatan setiap hari sehingga tidak akan terjadi bentrokan acara
atau kita terpaksa harus terburu-buru untuk tepat waktu memenuhi

suatu janji atau aktifitas.


Sederhanakan jadwal. Cobalah bekerja dengan lebih santai.
Bebaskan diri dari stres yang berhubungan dengan pekerjaan.
Siapkan cadangan untuk keuangan
Berolahraga.
Makanlah yang benar.
Tidur yang cukup.
Ubahlah gaya. Amati sikap tubuh dan perilaku saat sedang dilanda

stres.
Sediakan waktu untuk keluar dari kegiatan rutin.
Binalah hubungan sosial yang baik.
Ubalah pola pikir. Perhatikan pola pikir agar dapat menekan
perasaan kritis atau negatif terhadap diri sendiri.

63

Sediakan waktu untuk hal-hal yang memerlukan perhatian khusus.


Carilah humor.
Berserah diri pada Yang Maha Kuasa.
b. Penatalaksanaan Farmakologis
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi
yang dianjurkan oleh Joint National Committee7 (JNC 7):8
1) Diuretic, terutama jenis Thiazide (Thiaz),Aldosteron Antagonist
(Ald Ant)
Beta Blocker (BB)
Calcium Channel Blocker atau Calcium Antagonist (CCB)
Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)
Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 Angiotensint Receptor

2)
3)
4)
5)

Blocker (ARB).
Tabel 2.3 Indikasi dan Kontraindikasi Kelas-kelas utama Obat Antihipertensi
Kelas obat

Indikasi
Mutlak

Diuretika

Kontraindikasi
Tidak mutlak
Kehamilan

Gagal
jantung
kongestif, usia lanjut,
isolated
systolic
hypertension,
ras
afrika

Gout

Diuretika (loop)

Insufisiensi
gagal
kongestif

ginjal,
jantung

Gagal
ginjal,
hiperkalemia

Diuretika
aldosteron)
penyekat

(anti

Gagal
jantung
kongestif,
pasca
infark miokardium
Angina
pectoris,
pasca
infark
myocardium
gagal
jantung
kongestif,
kehamilan, takiaritmia

Asma,
penyakit
paru
obstruktif
menahun,
A-V
block

Calcium Antagonist
(dihydropiridine)

Usia lanjut, isolated


systolic hypertension,
angina
pectoris,
penyakit
pembuluh
darah
perifer,
aterosklerosis karotis,
kehamilan
Angina
pectoris,
aterosklerosis karotis,
takikardia
supraventrikuler
Gagal
jantung
kongestif, disfungsi
ventrikel kiri, pasca
infark myocardium,

(Thiazide)

Calcium Antagonist
(verapamil,
diltiazem)
Penghambat ACE
(Angiotensin
Converting Enzyme)

Penyakit
pembuluh
darah
perifer,
intoleransi
glukosa,
atlit atau pasien yang
aktif secara fisik

Takiaritmia,
gagal
jantung kongestif

A-V block, gagal


jantung kongestif
Kehamilan,
hiperkalimea,
stenosis
arteri
renalis bilateral

63

non-diabetik
nefropati,
nefropati
Diabetes Mellitus tipe
1, proteinuria
Nefropati DM tipe 2,
mikroalbumiuria
diabetic, proteinuria,
hipertrofi
ventrikel
kiri, batuk karena
Angiotensin
Converting Enzyme
Inhibitor

Angiotensi
II
reseptor antagonist
(AT1-blocker)

-Blocker

Benigna
Prostat
Hyperplasia (BPH),
hiperlipidemia

Kehamilan,
hiperkalemia,
stenosis
arteri
renalis bilateral

Hipotensi ortostatis

Gagal
kongestif

jantung

Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4.Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006.

Tabel 2.4 Tatalaksana hipertensi menurut Joint National Committee 7 (JNC-7)


Klasifikasi
Tekanan
Darah
Normal

TDS
(mmH
g)
< 120

TDD
(mmHg)

Prehipertensi

120139

atau
80-89

Hipertensi
derajat 1

140159

Atau
90-99

Dan <80

Perbaik
an Pola
Hidup
Dianjur
kan
ya

Tanpa indikasi yang


memaksa

Dengan indikasi
yang memaksa

Tidak indikasi obat

Obat-obatan
untuk
indikasi
yang memaksa
Obat-obatan
untuk
indikasi
yang memaksa
Obat
antihipertensi lain
(diuretika, ACEI,
ARB, BB, CCB)
sesuai kebutuhan

ya

Diuretic jenis
Thiazide untuk
sebagian besar
kasus, dapat
dipertimbangkan
ACEI, ARB, BB,
CCB, atau
kombinasi
Hipertensi
160
Atau
ya
Kombinasi 2 obat
derajat 2
100
untuk sebagian
besar kasus
umumnya diuretika
jenis Thiazide dan
ACEI atau ARB
atau BB atau CCB
Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4.Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006.
TDS
TDD

: Tekanan Darah Sistolik


: Tekanan Darah Diastolik

ACEI
ARB
BB

: Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor


: Angiotensint Receptor Blocker
: Beta Blocker

63

CCB

: Calcium Channel Blocker


Masing-masing obat antihipertensi memliki efektivitas dan

keamanan dalam pengobatan hipertensi, tetapi pemilihan obat antihipertensi juga


dipengaruhi beberapa faktor, yaitu :8
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Faktor sosio ekonomi


Profil faktor resiko kardiovaskular
Ada tidaknya kerusakan organ target
Ada tidaknya penyakit penyerta
Variasi individu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi
Kemungkinan adanya interaksi dengan obat yang digunakan pasien

untuk penyakit lain


g. Bukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akan digunakan
dalam menurunkan resiko kardiovaskular.
Berdasarkan uji klinis, hampir seluruh pedoman penanganan
hipertensi menyatakan bahwa keuntungan pengobatan antihipertensi adalah
penurunan tekanan darah itu sendiri, terlepas dari jenis atau kelas obat
antihipertensi yang digunakan.Tetapi terdapat pula bukti-bukti yang menyatakan
bahwa kelas obat antihipertensi tertentu memiliki kelebihan untuk kelompok
pasien tertentu.Untuk keperluan pengobatan, ada pengelompokan pasien berdasar
yang memerlukan pertimbangan khusus (special considerations), yaitu kelompok
indikasi yang memaksa (compelling indication) dan keadaan khusus lainnya
(special situations).Indikasi yang memaksa meliputi:8
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Gagal jantung
Pasca infark miokardium
Resiko penyakit pembuluh darah koroner tinggi
Diabetes mellitus
Penyakit ginjal kronis
Pencegahan strok berulang.

Keadaan khusus lainnya meliputi :8


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Populasi minoritas
Obesitas dan sindrom metabolic
Hipertrofi ventrikel kanan
Penyakit arteri perifer
Hipertensi pada usia lanjut
Hipotensi postural
Demensia
Hipertensi pada perempuan

63

i. Hipertensi pada anak dan dewasa muda


j. Hipertensi urgensi dan emergensi.
Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara
bertahap, dan target tekanan darah dicapai secara progresif dalam beberapa
minggu. Dianjurkan untuk menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja
panjang atau yang memberikan efikasi 24 jam dengan pemberian sekali sehari.
Pilihan apakah memulai terapi dengan satu jenis obat antihipertensi atau dengan
kombinasi tergantung pada tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi.Jika
terapi dimulai dengan satu jenis obat dan dalam dosis rendah, dan kemudian darah
belum mencapai target, maka langkah selanjutnya adalah meningkatnya dosis obat
tertentu, atau berpindah ke antihipertensi lain dengan rendah. Efek samping
umumnya bisa dihindari dengan menggunakan dosis rendah, baik tunggal maupun
kombinasi. Sebagian besar pasien memerlukan kombinasi obat antihipertensi
untuk mencapai target tekanan darah, tetapi kombinasi dapat meningkatkan biaya
pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karena jumlah obat yang harus
diminum bertambah.8
Kombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien adalah :
a. ACEI

(Angiotensin

Converting

Enzyme

Inhibitor)

atau

ARB(Angiotensint Receptor Blocker)


b. CCB (Calcium Channel Blocker) dan BB (Beta Blocker)
c. CCB (Calcium Channel Blocker) dan ACEI (Angiotensin Converting
Enzyme Inhibitor) atau ARB (Angiotensint Receptor Blocker)
d. CCB (Calcium Channel Blocker) dan diuretika
e. AB (alfaBlocker)dan BB (Beta Blocker)
f. Kadang diperlukan tiga atau empat kombinasi obat.

Diuretika
Bloker

ARB

Bloker

CCB

ACEI

63

Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4 Jilid 2.Jakarta:
Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2005.

Gambar 2.2 Kombinasi obat antihipertensi.


ACEI
ARB
BB
CCB

10. Komplikasi
a. Stroke
Dapat terjadi

: Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor


: Angiotensint Receptor Blocker
: Beta Blocker
: Calcium Channel Blocker

hipertensi

kronik

apabila

arteri-arteri

yang

memperdarahi otak mengalami hipertropi dan menebal, sehingga aliran


darah ke daerah-daerah yang perdarahannya berkurang.Arteri-arteri
otak yang mengalami arterisklerosis dapat melemah sehingga
meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma. Gejala strok
adalah sakit kepala secara tiba-tiba, sperti orang bingung, limbung atau
bertingkah laku seperti orang mabuk, salah satu bagian tubuh terasa
lemah atau sulit di gerakkan (misalnya wajah, mulut atau lengan terasa
kaku, tidak dapat berbicara secara jelas) serta tidak sadarkan diri secara
mendadak.5
b. Infark Miokard
Dapat terjadi bila arteri koroner yang arterosklerosis tidak dapat
menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau terdapat thrombus yang
menghambat aliran darah melalui pembuluh darah melalui pembuluh
darah tersebut.Karena hiperteni kronik dan hipertensi ventrikel, maka
kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat terpenuhi dan
dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.5
c. Gagal Ginjal
Dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada
kapiler-kapiler ginjal,glomerulus. Dengan rusaknya glomerulus, darah
akan mengalir ke unit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu
dan dapat berlanjut menjadi hipoksia dan kematian. Dengan rusaknya
membrane glomerulus, protein akan keluar melalui urin sehingga

63

tekanan osmotic koloid plasma berkurang, menyebabkan edema yang


sering di jumpai pada hipertensi kronik. 5
d. Gagal Jantung
Ketidakmampuan jantung dalam
kembalinya

ke

jantung

dengan

memompa

cepat

darah

mengakibatkan

yang
cairan

terkumpulnya di paru-paru,kaki dan jaringan lain. Cairan di dalam


paru-paru menyebabkan sesak nafas, timbunan cairan di tungkai
menyebabkan kaki bengkak atau oedema.5
e. Ensefalopati
Tekanan yang tinggi mengakibatkan peningkatan tekanan kapiler
dan mendorong cairan kedalam ruang intertisium di seluruh susunan
syaraf pusat,dapat terjadi koma serta kematian.5

B. Teori H.L. Blum


Konsep hidup sehat H.L.Blum sampai saat ini masih relevan untuk
diterapkan.Kondisi sehat secara holistik bukan saja kondisi sehat secara fisik
melainkan juga spiritual dan sosial dalam bermasyarakat.Untuk menciptakan
kondisi sehat seperti ini diperlukan suatu keharmonisan dalam menjaga kesehatan
tubuh.H.L Blum menjelaskan ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat.Keempat faktor tersebut merupakan faktor determinan
timbulnya masalah kesehatan.3
Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku/gaya hidup (life style),
faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), faktor pelayanan kesehatan
(jenis cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetik (keturunan).Keempat faktor
tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat
kesehatan masyarakat. Diantara faktor tersebut faktor perilaku manusia
merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling sukar ditanggulangi,
disusul dengan faktor lingkungan.Hal ini disebabkan karena faktor perilaku yang
lebih dominan dibandingkan dengan faktor lingkungan karena lingkungan hidup
manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.3
Dengan demikian konsep paradigma sehat H.L. Blum memandang pola
hidup sehat seseorang secara holistik dan komprehensif. Masyarakat yang sehat

63

tidak dilihat dari sudut pandang tindakan penyembuhan penyakit melainkan upaya
yang berkesinambungan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.3
Dalam konsep Blum ada 4 faktor determinan yang dikaji, masing-masing
faktor saling keterkaitan berikut penjelasannya :
1. Perilaku masyarakat
Perilaku merupakan faktor kedua yang mempengaruhi derajat kesehatan
masyarakat karena sehat atau tidak sehatnya lingkungan kesehatan individu,
keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri. Di
samping itu, juga dipengaruhi oleh kebiasaan, adat istiadat, kebiasaan,
kepercayaan, pendidikan sosial ekonomi, dan perilaku-perilaku lain yang melekat
pada dirinya.3
2. Lingkungan
Lingkungan memiliki pengaruh yang dan peranan terbesar diikuti perilaku,
fasilitas kesehatan dan keturunan. Lingkungan sangat bervariasi, umumnya
digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu yang berhubungan dengan aspek fisik
dan sosial. Lingkungan yang berhubungan dengan aspek fisik contohnya sampah,
air, udara, tanah, ilkim, perumahan, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosial
merupakan hasil interaksi antar manusia seperti kebudayaan, pendidikan,
ekonomi, dan sebagainya.
Disamping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial yang berperan.
Sebagai mahluk sosial kita membutuhkan bantuan orang lain, sehingga interaksi
individu satu dengan yang lainnya harus terjalin dengan baik. Kondisi lingkungan
sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah kejiwaan.3
3. Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan merupakan faktor ketiga yang mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat karena keberadaan fasilitas kesehatan sangat menentukan
dalam

pelayanan

pemulihan

kesehatan,

pencegahan

terhadap

penyakit,

pengobatan dan keperawatan serta kelompok dan masyarakat yang memerlukan


pelayanan kesehatan. Ketersediaan fasilitas dipengaruhi oleh lokasi, apakah dapat
dijangkau atau tidak. Yang kedua adalah tenaga kesehatan pemberi pelayanan,
informasi dan motivasi masyarakat untuk mendatangi fasilitas dalam memperoleh
pelayanan serta program pelayanan kesehatan itu sendiri apakah sesuai dengan
kebutuhan masyarakat yang memerlukan.3

63

4.

Kependudukan/Keturunan
Keturunan (genetik) merupakan faktor yang telah ada dalam diri manusia

yang dibawa sejak lahir, misalnya dari golongan penyakit keturunan seperti
diabetes melitus dan asma bronehial.
Nasib suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Oleh sebab
itu kita harus terus meningkatkan kualitas generasi muda kita agar mereka mampu
berkompetisi dan memiliki kreatifitas tinggi dalam membangun bangsanya.
Dalam hal ini kita harus memperhatikan status gizi balita sebab pada masa
inilah perkembangan otak anak yang menjadi asset kita dimasa mendatang.
Namun masih banyak saja anakIndonesiayang status gizinya kurang bahkan
buruk. Padahal potensi alam Indonesia cukup mendukung. oleh sebab itulah
program penanggulangan kekurangan gizi dan peningkatan status gizi masyarakat
masih tetap diperlukan. Utamanya program Posyandu yang biasanya dilaksanakan
di tingkat RT/RW. Dengan berjalannya program ini maka akan terdeteksi secara
dini status gizi masyarakat dan cepat dapat tertangani.
Program pemberian makanan tambahan di posyandu masih perlu terus
dijalankan,

terutamanya

daeraha

yang

miskin

dan

tingkat

pendidikan

masyarakatnya rendah. Pengukuran berat badan balita sesuai dengan kms harus
rutin dilakukan. Hal ini untuk mendeteksi secara dini status gizi balita. Bukan saja
pada gizi kurang kondisi obesitas juga perlu dihindari. Bagaimana kualitas
generasi mendatang sangat menentukan kualitas bangas Indonesia mendatang.3
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat Tentang
Hipertensi
1. Pengertian
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yangdapat
diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak
luar.Perilaku

merupakan

respons

atau

reaksi

seseorang

terhadap

stimulus(rangsangan dari luar) sedangkan perilaku kesehatan adalah suatu


responsseseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan
sakit danpenyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman
sertalingkungan.3
Perilaku kontrol hipertensi merupakan suatu kegiatan atauaktivitas
penderita hipertensi untuk melakukan perawatan, kontrol danpengobatan,
baik dapat diamati secara langsung maupun tidak dapatdiamati oleh pihak

63

luar. Perilaku kontrol kesehatan menurutNotoatmodjo (2003), terdiri dari


persepsi (perception), responterpimpin (guided respons), mekanisme
(mekanisme) dan adaptasi(adaptation)
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
Keteraturan kontrol pada penderita hipertensi

adalah

bagian

dariperilaku kesehatan yang dilakukan oleh masyarakat. Menurut


LawrenceGreen (1980) dalam Notoatmodjo (2003) ada 3 faktor yang
berhubungandengan perilaku kesehatan, yaitu:
a) Faktor-Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)
1) Pengetahuan
Pengetahuan adalah perilaku yang berasal dari pengalamansendiri
atau pengalaman orang lain. Pengetahuan yang dimaksud dalam
penelitian

ini

adalahpengetahuan

penderita

tentang

hipertensi.Pengetahuan yang dimiliki oleh penderita hipertensi


sangatditentukan

oleh

pendidikan

yang

dimiliki.Karena

denganpendidikan yang baik, maka penderita hipertensi dapat


menerimasegala informasi dari luar terutama tentang pentingnya
keteraturanperilaku kontrol.Pengetahuan atau kognitif merupakan
domainyang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang
(overtbehavior).Pengetahuan

pasien

penderita

rendah

hipertensi

yang

tentangperawatan
yang

pada

dapatmenimbulkan

kesadaran yang rendah pula yang berdampak danberpengaruh pada


penderita hipertensi dalam mengontrol tekanandarah, kedisiplinan
pemeriksaan yang akibatnya dapat terjadikomplikasi berlanjut.3
2) Pendidikan
Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan
untukmenciptakan perilaku masyarakat yang kondusif untuk
kesehatan. Artinya pendidikan kesehatan berupaya agar masyarakat
menyadariatau mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatan
mereka,bagaimana menghindari atau mencegah hal hal yang
merugikankesehatan mereka dan kesehatan orang lain, kemana
seharusnyamencari pengobatan bilamana sakit, dan sebagainya.3
3) Sikap

63

Sikap merupakan penilaian (bisa berupa pendapat)seseorang


terhadap stimulus atau objek (dalam hal ini masalahkesehatan,
termasuk penyakit). Setelah seseorang mengetahuistimulus atau
objek, proses selanjutnya akan menilai atau bersikapterhadap
stimulus atau objek kesehatan tersebut. Oleh karena ituindikator
untuk sikap kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan kesehatan
seperti :3
Sikap terhadap sakit dan penyakit
Adalah bagaimana penilaian atau

pendapat

seseorang

terhadapgejala atau tanda-tanda penyakit, penyebab penyakit,


carapenularan

penyakit,

cara

pencegahan

penyakit

dan

sebagainya.
Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat
Adalah penilaian atau pendapat seseorang terhadap caracarapemeliharaan dan cara- cara (berperilaku) hidup sehat.
Sepertipendapat atau penilaian terhadap makanan, minuman,

olahraga,relaksasi atau istirahat cukup dan sebagainya.


Sikap terhadap kesehatan lingkungan
Adalah pendapat atau penilaian seseorang tehadap
lingkungandan

pengaruhnya

terhadap

kesehatan.Misalnya

pendapat ataupenilaian terhadap air bersih, pembuangan


limbah, polusi dansebagainya.
4) Kepercayaan
Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakekatau
nenek. Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkankeyakinan
tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu3
b) Faktor Pemungkin (Enabling Factor)
1) Tingkat Ekonomi
Keluarga yang sosial ekonominya rendah akan mendapat kesulitan
untuk membantu seseorang mencapai kesehatan yang optimal.
Sebaliknya dengan ekonomi keluarga yang meningkat, maka
kemampuan dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
keluarga juga meningkat.3
2) Fasilitas Kesehatan

63

Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan diwujudkan dalam


suatu

wadah

kesehatan.Upaya

pelayanan

kesehatan

penyelengaraan

yang

pelayanan

disebut
kesehatan

sarana
pada

umumnya dibedakan menjadi tiga, yaitu; sarana pemeliharaan


kesehatan primer (primary care) merupakan sarana yang paling
dekat dengan masyarakat. Misalnya Puskesmas, poliklinik, dokter
praktek swasta dan sebagainya; sarana pemeliharaan kesehatan
tingkat dua (secondary care) merupakan sarana pelayanan
kesehatan yang menangani kasus yang tidak atau belum ditangani
oleh sarana kesehatan primer karena peralatan atau keahlian belum
ada; sarana pemeliharaan kesehatan tingkat tiga (tertiary care)
merupakan sarana pelayanan kesehatan rujukan bagi kasus-kasus
yang tidak ditangani oleh sarana pelayanan kesehatan primer dan
pelayanan kesehatan sekunder. Misalnya Rumah sakit propinsi,
rumah sakit tipe B dan tipe A.3
c) Faktor-Faktor Penguat (Reinforcing Factor)
1) Sikap dan Perilaku Petugas Kesehatan
Sikap petugas kesehatan adalah suatu tindakan yang diberikan oleh
petugas kesehatan.Sedangkan perilaku petugas kesehatan adalah
respon yang diberikan petugas kesehatan terhadap klien (penderita
hipertensi).Sikap dan perilaku yang baik dari petugas kesehatan
akanmempengaruhi klien (penderita hipertensi) dalam mengikuti
anjuran yang diberikan oleh petugas kesehatan dalam pemberian
pelayanan kesehatan.3
2) Dukungan Sosial
Dukungan sosial yang dimaksud disini adalah dukungan yang
diperoleh dari para tokoh masyarakat baik formal (guru, lurah,
camat, dan petugas kesehatan), maupun informal (tokoh agama,
dan keluarga) yang berpengaruh dalam masyarakat.Dukungan dari
keluarga akan memainkan suatu peran penting dalam kepatuhan.
Walaupun demikian, perbedaan dalam bagaimana keluarga
menunjukkan dukungannya memainkan suatu peran dalam

63

menentukan apakah hal tersebut dapat menjadi kontributor


terhadap kepatuhan kontrol pada penderita hipertensi.3
D. Kerangka Teori
Perilaku:
Olah raga
Merokok
Sikap
Keturunan:
Usia
Jenis Kelamin

HIPERTENSI

Lingkungan:
Tingkat
Pendidikan
Tingkat Ekonomi
Pengetahuan
Dukungan sosial

Pelayanan Kesehatan:
Fasilitas kesehatan
Sikap dan perilaku
petugas kesehatan
Jaminan kesehatan
Gambar 2.3 Kerangka Teori

Keturunan:
Usia
E. Kerangka Konsep

Perilaku:
Merokok

HIPERTENSI

Lingkungan:
Pengetahuan

63

Gambar 2.4 Kerangka Konsep


F. Hipotesis
Ada hubungan yang bermakna antara faktor risiko dengan kejadian
hipertensi di wilayah RW VII yaitu RT 1, RT 2, RT 3 dan RT 4 Kelurahan
Mijen.

BAB III
METODE PENELITIAN

63

A. Ruang Lingkup Penelitian


1.
2.
3.
-

Ruang Lingkup Keilmuan: Ilmu kesehatan masyarakat


Ruang lingkup waktu
: 2 4 Desember 2013
Ruang Lingkup Tempat :
Letak Geografis
RW VII terletak di wilayah Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen,
Kota Semarang, Propinsi Jawa Tengah. RW VII terletak 230 meter di
atas permukaan air laut. RW VII terdiri atas 12 RT, yaitu RT 1, RT 2,
RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, RT 7, RT 8, RT 9, RT 10, RT 11 dan RT 12.
Dimana tempat penelitian difokuskan pada wilayah RT 1, RT 2, RT 3,
dan RT 4.

B. Jenis Penelitian dan Sampel


Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional, yaitu
melakukan

pengamatan

langsung

kepada

responden

dengan

melakukan

penyebaran kuesioner untuk dianalisis. Pemilihan sampel berkaitan dengan


bagaimana memilih responden yang dapat memberikan informasi yang mantap
dan terpercaya untuk mendapatkan data yang diperlukan. Penelitian ini dilakukan
dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari
dinamika hubungan antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara
pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada satu waktu (point
time approach). Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan
pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat
pemeriksaan.14
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi target penelitian adalah seluruh ibu rumah tangga di wilayah
Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang yang berjumlah 1329
kepala keluarga. Populasi terjangkau adalah ibu rumah tangga yang bertempat
tinggal di RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 di RW VII Kelurahan Mijen, Kecamatan
Mijen, Kota Semarang berjumlah 162 kepala keluarga.
2. Sampel

63

Ibu rumah tangga di wilayah RW VII RT 1, RT 2, RT 3 dan RT 4


Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, yang memenuhi kriteria
penelitian sebagai berikut:
a) Kriteria Inklusi:
1. Ibu rumah tangga di wilayah RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 di RW VII
Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang
2. Penghuni rumah merupakan warga RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 di RW
VII Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang
3. Penghuni rumah menyetujui untuk diwawancarai
b) Kriteria Eksklusi:
Penghuni rumah bukan penduduk asli warga RT 1, RT 2, RT 3, RT 4
di RW VII Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.
c) Cara Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling, yaitu
teknik memilih sampel dari kelompok-kelompok unit yang kecil.14
Langkah-langkah penentuan sampel adalah dengan memberi
nomor pada tiap rumah pada tiap RT yang akan dilakukan penelitian,
kemudian membuat undian dan diundi sebanyak sampel yang
dibutuhkan pada tiap RT.14
Besar sampel dihitung dengan rumus proporsi: 14

Keterangan:
n: besar sampel minimal
N: jumlah populasi
Z: standar deviasi normal dengan CI 90% 1,645 (5%= 1,96)
CI 95% 1,96 (10%= 1,645)
d: derajat ketetapan 90% = 0,1
p: proporsi target populasi 50%= 0,5
q: populasi tanpa atribut 1-p = 0,5

63

Besar sampel minimal pada penelitian ini adalah 60 ibu rumah tangga.
Dengan pembagian masing-masing RT 1 sebesar 24 ibu rumah tangga, RT 2
sebesar 12 ibu rumah tangga, RT 3 sebesar 12 ibu rumah tangga dan RT 4 sebesar
12 ibu rumah tangga.
D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel
terikat.
1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu :
a.Usia.
b. Pengetahuan tentang hipertensi
2. Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu kejadian hipertensi.

E. Definisi Operasional
Dalam penelitian ini, variabel yang diteliti didefinisikan sebagai berikut :
1. Hipertensi
Hipertensi adalah

meningkatnya tekanan darah diatas nilai normal

(tekanan darah sistolik 140 mmhg dan tekanan darah diastolik 90


mmhg).5
2. Usia
Usia adalah usia penderita ketika penelitian dilaksanakan. Skala usia
penderita diukur secara numerik. 14

63

3. Pengetahuan
Pengetahuan adalah tingkat pengetahuan penderita tentang hipertensi,
penyebab hipertensi, komplikasi hipertensi. Skala pengetahuan tentang
hipertensi diukur secara ordinal.
4. Perokok Pasif
Orang yang tidak merokok tetapi menghirup langsung asap rokok.
F. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kuesioner (daftar
pertanyaan), sphygmomanometer dan Komputer dengan program Statistical
Product and Service Solution (SPSS), sebagai alat bantu dalam mengumpul data
serta mengolah data hasil penelitian.14
G. Bahan dan Alat Pengumpulan Data
1. Data Primer
Pengambilan data penelitian dengan wawancara menggunakan kuesioner
dan pengamatan langsung, serta dilakukan pengukuran tekanan darah dengan
menggunakan sphygmomanometer di rumah responden yang berada di wilayah
RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 di RW VII, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota
Koordinasi
dengan adalah
pihak kelurahan
Mijen,
khususnya
RWdata
VII
Semarang.
Data dan
yangperijinan
dikumpulkan
data primer
yang
meliputi
kependudukan, status kesehatan, pengetahuan tentang penyakit, sikap tentang
penyakit, perilaku
lingkungan.
Observasikesehatan
lapangandan
(batas
wilayah RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 di RW VII
Kelurahan Mijen)
2. Data Sekunder
Data Survey
sekunder
yaitu profil
RW VII, Kelurahan
Kecamatan
kesehatan,
pengumpulan
data denganMijen,
panduan
kuesionerMijen,
Kota Semarang dan profil 10 besar penyakit di puskesmas Mijen Semarang.
H. Alur Penelitian / Pengumpulan
Tabulasi Data
data (statistika)
Analisa data (deskriptif)
Prioritas masalah (penyakit)
Analisa data (analitik)
Analisa penyebab masalah
Alternatif pemecahan masalah
Penyusunan Plan of Action

63

Gambar 3.2 Alur Penelitian

I. Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dan menggunakan komputer
melalui program Statistical Product and Service Solution (SPSS) for Windows
versi 18.0.
1. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan secara deskriptif dari masing-masing variabel
dengan tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel
dependent dan independent. Karena rancangan penelitian ini adalah cross
sectional hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen
digunakan uji statistik Odds Ratio (OR) memakai table 2x2, dengan tingkat

63

kepercayaan 90 % ( = 0,1). Berdasarkan hasil uji tersebut di atas ditarik


kesimpulan dengan kriteria sebagai berikut :14
a. Jika nilai p < maka Ho ditolak, berarti ada hubungan antara variabel
dependent dengan independent.
b. Jika nilai p maka Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara
variabel dependent dengan independent.

BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Kependudukan (Demografi) :
1. Jumlah Sampel RW VII Kelurahan Mijen
Jumlah sampel RW VII, Kelurahan Mijen yang terdiri dari 4 RT yaitu
RT 1, RT 2, RT 3 dan RT 4 sebanyak 60 sampel. Distribusi sampel terdapat
pada Tabel.
Tabel.4.1. Jumlah sampel dari hasil survei
No.

Jenis Penyakit

Jumlah

Persentase

1
2
3
4

RT 1
24
40 %
RT 2
12
20 %
RT 3
12
20 %
RT 4
12
20 %
Total
60
100 %
Sumber : Data primer hasil survei kesehatan masyarakat RT 1-4, RW VII
Kelurahan Mijen bulan Desember 2013

Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa sampel terbanyak yang


diambil pada RW VII, Kelurahan Mijen, Kota Semarang adalah sampel
pada RT 1.

63

2. Distribusi kependudukan
Distribusi karakteristik kependudukan sampel di RT 1 - 4 di RW VII
terdapat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.2. Karakteristik kependudukan
No.
1

Karakteristik
Kategori Umur Responden
1. <40 tahun
2. 40 tahun
Total
Pendidikan
1. Rendah (<SLTP)
2. Tinggi (>SLTP)
Total
Pekerjaan
1. Non PNS
2. PNS
Total
Penghasilan rata-rata per bulan
1. <1.200.000
2. 1.200.000
Total

21
39
60

35%
65%
100%

1
59
60

1,7%
98,3%
100%

53
7
60

88,3%
11,7%
100%

0
60
60

0%
100%
100%

Sumber : Data primer hasil survei kesehatan masyarakat RT 1-4, RW VII,


Kelurahan Mijen bulan Desember 2013

Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa penduduk RW VII paling


banyak adalah ibu dengan usia 40 tahun sejumlah 39 sampel (65 %),
dengan terbanyak memiliki Pendidikan tinggi sejumlah 59 sampel (98,3
%), pekerjaan Non - PNS sejumlah 53 sampel (88,3%), penghasilan ratarata perbulan 1.200.000 sejumlah 60 sampel (100%).
B. Status Kesehatan
1. Jumlah Kejadian Penyakit
Jumlah kejadianpenyakit di RW VII dalam satu bulan terakhir
terdapat 21 orang yang sakit (35%). Distribusi jenis penyakit di RW VII
terdapat pada Tabel.
Tabel 4.3. Jumlah kejadian penyakit dan berbagai jenis penyakit
No.

Jenis Penyakit

Jumlah

Persentase

Tidak sakit

39

65 %

Hipertensi

13

21,7 %

ISPA

6,7 %

Diare

5%

63

Lainnya

TOTAL

1,7 %

60

100%

Sumber : Data primer hasil survei kesehatan masyarakat RT 1-IV RW VII


Kelurahan Mijen bulan Desemberr 2013

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dari 60 sampel yang


tidak sakit sejumlah 39 sampel (65%). Di antara 21 jumlah kejadian
penyakit, penyakit terbanyak di RT 1 - 4, RW VII adalah hipertensi
sejumlah 13 sampel (21,7%).

C. Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku


1. Pengetahuan tentang hipertensi
Pengetahuan tentang hipertensi pada warga RT 1 - 4 di RW VII dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.4.Pengetahuan tentang hipertensi warga RW VII
Tingkat pengetahuan

Jumlah

Persentase

Tinggi

10

16,7 %

Rendah
Jumlah

50
60

83,3 %
100,00%

Sumber : Data primer hasil survei kesehatan masyarakat di RT 1 - 4, RW VII


Kelurahan Mijen bulan Desember 2013

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar warga


mempunyai pengetahuan yang rendah mengenai hipertensi sebanyak 50
sampel (83,3 %).
2. Umur Penderita hipertensi
Umur penderita hipertensi pada warga RT 1 - 4 di RW VII terlihat pada
Tabel.
Tabel 4.5.Umur Penderita hipertensi warga RT 1 - 4 di RW VII
Tingkat pengetahuan

Jumlah

Persentase

63

Usia < 40

7,69 %

Usia 40
Jumlah

12
13

92,31 %
100,00 %

Sumber : Data primer hasil survei kesehatan masyarakat RT 1-4 di RW VII,


Kelurahan Mijen bulan Desember 2013

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa penderita hipertensi


terbanyak pada usia 40 tahun sejumlah 12 sampel dari 13 penderita
hipertensi (92,31%).

3. Kebiasaan gaya hidup


Tabel 4.6. Kebiasaan gaya hidup warga RT 1-4 di RW VII
Gaya hidup

Nilai/frekuensi

Jumlah
keluarga
35

Persentase (%)

Tidak

25

41,7%

Jumlah

60

100 %

Ya
Paparan asap rokok

58,3 %

Sumber : Data primer hasil survei kesehatan masyarakat RT 1 - 4 di RW VII,


Kelurahan Mijen bulan Desember 2013

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa warga RT 1 - 4 di RW VII,


yang terpapar asap rokok sejumlah 35 (58,3%) dari 60 responden.
D. Analisis Hasil Penelitian
1. Hubungan usia dengan kejadian hipertensi
Tabel 4.7. Distribusi dan Hubungan antara usia dengan kejadian hipertensi
Fakto Risiko usia

Kategori Penyakit
Hipertensi
Tidak

40 tahun
< 40 tahun

12 (30,8%)
1 (4,8%)

Total

Hipertensi
27 (69,2%)
20 (95,2%)

Total

39 (100,0%)
21 (100,0%)

0,023

13 (21,7%)
47(78,3%)
60 (100,0%)
Sumber : Data primer hasil survei kesehatan masyarakat RT 1 - 4 RW VII
Kelurahan Mijen bulan Desemberr 2013

63

Hasil analisis hubungan faktor risiko usia dengan kejadian hipertensi


diperoleh bahwa dari 21 responden memiliki risiko rendah (< 40 tahun)
menderita hipertensi sebanyak 1 responden, dan dari 39 responden yang
memiliki risiko tinggi ( 40 tahun) ada 12 responden (30,8 %) yang
menderita hipertensi.
Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,023( p< 0.05) artinya ada
hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian hipertensi.

2. Hubungan antara pengetahuan dengan hipertensi


Tabel 4.8. Hubungan antara pengetahuan dengan hipertensi
Pengetahuan
Rendah
Tinggi
Total

Kategori Penyakit
Hipertensi
Tidak

Total

Hipertensi
13 (26%)
37(74%)
50 (100,0%)
0 (0%)
10 (100%)
10 (100,0%) 0,099
13 (21,7%)
47 (78,3%)
60 (100,0%)
Sumber : Data primer hasil survei kesehatan masyarakat RT 1-4 RW VII
Kelurahan Mijen bulan Desemberr 2013

Hasil analisis hubungan pengetahuan tentang hipertensi dengan


kejadian hipertensi diperoleh bahwa dari 50 responden yang berpengetahuan
rendah, ada 13 responden yang menderita hipertensi, dan dari 10 responden
yang berpengetahuan baik, tidak ada responden yang menderita hipertensi.
Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,099( p> 0.05) artinya tidak ada
hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang hipertensi dengan
kejadian hipertensi.
Hasil analisis pertanyaan P1 (Tahukah anda bahwa hipertensi
adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah?)
diperoleh dari 60 (100%) responden mengetahui jawabannya.
Hasil analisis pertanyaan P2 (Tahukah anda bahwa hipertensi dapat
disebabkan oleh gaya hidup seseorang seperti merokok, kegemukan, stress,

63

olahraga tidak teratur, makan makanan yang berlemak?), diperoleh 38


(63,3%) responden tahu dan 22 (36,7%) responden tidak tahu.
Hasil analisis pertanyaan P3 (Tahukah anda bahwa orang tua yang
hipertensi belum tentu anaknya hipertensi?), diperoleh hasil 37 (61,7%)
responden mengetahui dan 23 (38,3%) responden tidak mengetahui.
Hasil analisis pertanyaan P4 (Tahukah anda bahwa penderita
hipertensi penting memeriksakan tekanan darah dan minum obat
antihipertensi secara teratur?), diperoleh hasil 22 (36,7%) responden
mengetahui, dan 38 (63,3%) responden tidak mengetahui.
Hasil analisis pertanyaan P5 (Tahukah anda bahwa hipertensi dapat
menimbulkan penyait seperti stroke, jantung, dan ginjal?), diperoleh hasil
sebanyak 24 (40%) responden mengetahui dan 36 (60%) responden tidak
mengetahui.
3. Hubungan antara Paparan Asap Rokok dengan Hipertensi
Tabel 4.9. Hubungan antara Paparan Asap Rokok dengan Hipertensi
Terpapar
Ya
Tidak
Total

Kategori Penyakit
Hipertensi
Tidak

Total

Hipertensi
6 (17,1%)
29 (82,9%)
35 (100,0%)
7 (28,0%)
18 (72,0%) 25 (100,0%) 0,355
13 (55,6%)
47(44,4%)
60 (100,0%)
Sumber : Data primer hasil survei kesehatan masyarakat RT 1-4 RW VII
Kelurahan Mijen bulan Desemberr 2013

Hasil analisis hubungan paparan rokok dengan kejadian hipertensi


diperoleh bahwa dari 35 responden yang terpapar rokok, ada 6 responden
yang menderita hipertensi, dan dari 25 responden yang tidak terpapar
rokok, ada 7 responden yang menderita hipertensi.
Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,355( p> 0.05) artinya tidak
ada hubungan yang bermakna antara terpapar rokok dengan kejadian
hipertensi.
E. Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan hasil penelitian didasarkan pada hasil uji statistik, data dari
wawancara berdasarkan kuesioner dan dari tinjauan pustaka.Pembahasan
dilakukan untuk menemukan alasan-alasan yang mendukung hasil penelitian.

63

Hasil analisis hubungan faktor risiko usia dengan kejadian hipertensi


diperoleh nilai p = 0,023( p< 0.05) artinya ada hubungan yang bermakna antara
usia dengan kejadian hipertensi. Hipertensi erat kaitannya dengan usia, semakin
tua seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Usia lebih dari 40 tahun
mempunyai risiko terkena hipertensi. Dengan bertambahnya usia, risiko terkena
hipertensi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut cukup
tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 % diatas usia 60 tahun.
Arteri kehilangan elastisitasnya atau kelenturannya dan tekanan darah seiring
bertambahnya usia, kebanyakan orang hipertensi meningkat ketika usia 50.8
Hasil analisis hubungan pengetahuan tentang hipertensi dengan kejadian
hipertensi diperoleh nilai p= 0,099( p> 0.05) artinya tidak ada hubungan yang
bermakna

antara

pengetahuan

tentang

hipertensi

dengan

kejadian

hipertensi.Menurut teori pengetahuan atau kognitif merupakan domainyang sangat


penting dalam membentuk tindakan seseorang (overtbehavior).Pengetahuan
pasien

tentangperawatan

pada

penderita

hipertensi

yang

rendah

yang

dapatmenimbulkan kesadaran yang rendah pula yang berdampak danberpengaruh


pada

penderita

hipertensi

dalam

mengontrol

tekanandarah,

kedisiplinan

pemeriksaan yang akibatnya dapat terjadikomplikasi berlanjut.3


Dari hasil analisis, didapatkan responden kurang mengetahui pengetahuan
tentang pertanyaan P4 (Tahukah anda bahwa penderita hipertensi penting
memeriksakan tekanan darah dan minum obat antihipertensi secara teratur?)
dengan

hasil 38 (63,3%) responden tidak mengetahui, dan pertanyaan P5

(Tahukah anda bahwa hipertensi dapat menimbulkan penyait seperti stroke,


jantung, dan ginjal?), diperoleh hasil sebanyak 36 (60%) responden tidak
mengetahui.
Hasil analisis hubungan paparan asap rokok dengan kejadian hipertensi
diperoleh bahwa nilai p = 0,355( p> 0.05) artinya tidak ada hubungan yang
bermakna antara paparan asap rokok dengan kejadian hipertensi.
Menurut teori paparan asap rokok juga dihubungkan dengan hipertensi.
Hubungan antara paparan asap asap rokok dengan peningkatan risiko
kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. Orang yang tidak merokok tetapi
menghirup langsung asap rokok disebut dengan perokok pasif. Perokok pasif

63

memiliki risiko tinggi terkena hipertensi. Didalam rokok terdapat ribuan zat kimia
yang berbahaya bagi tubuh, yang paling berbahaya adalah tar, nikotin, dan karbon
monoksida, yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel
pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi.4,11
Berdasarkan hasil analisis secara statistik hanya variabel usia yang
memiliki hubungan dengan kejadian hipertensi. Namun secara teori variabel
pengetahuan dan paparan asap rokok di atas memiliki hubungan, hasil ini
mungkin disebabkan karena keterbatasan penelitian. Beberapa keterbatasan dan
kelemahan yang terdapat dalam penelitian ini adalah keterbatasan waktu dalam
melaksanakan survei dan pembuatan laporan, keterbatasan kepustakaan yang
menyebabkan kurang dalamnya pembahasan materi, keterbatasan instrumen
pengukuran yang digunakan dan keterbasan jumlah responden.14

63

BAB V
PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A. Identifikasi Masalah
Tabel 5.1.Jumlah kesakitandi RT 1, 2, 3, dan 4 RW VII Kelurahan Mijen
No.

Proporsi Penyakit

Jumlah (jiwa)

Persentase

a.

Tidak Sakit

39

65 %

b.

Hipertensi

13

21,7 %

c.

ISPA

6,7 %

d.

Diare

5,0%

e.

Lainya

1,7 %

60

100%

Jumlah

ISPA = Infeksi Saluran Pernapasan Akut


Lain-lain = Dismenorea
B. Prioritas Masalah
Daftar masalah
A
B
C
D

Hipertensi
Infeksi Saluran Pernapasan Akut
Diare
Lain-lain (Dismenorea)

Tabel 5.2 Kriteria urgency


KRITERIA URGENCY (MENDESAK)
A
B
C
D
Total Vertikal
Total Horizontal
TOTAL

B
A

C
C
C

D
A
B
C

0
2
2

0
1
1

2
1
3

0
0
0

Total Horizontal
2
1
1
0

63

Tabel 5.3 Kriteria Seriousness (kegawatan)


KRITERIA SERIOUSNESS (KEGAWATAN)
A
B
C
D
Total Vertikal
Total Horizontal
TOTAL

B
A

C
A
C

D
A
B
C

0
3
3

0
1
1

1
1
2

0
0
0

Total Horizontal
3
1
1
0

Tabel 5.4 Kriteria Growth (perkembangan)


KRITERIA GROWTH (PERKEMBANGAN)
A
B
C
D
Total Vertikal
Total Horizontal
TOTAL

B
A

C
A
C

D
A
B
C

0
3
3

0
1
1

1
1
2

0
0
0

Total Horizontal
3
1
1
0

Tabel 5.5. Prioritas Masalah


MASALAH

JUMLAH

PRIORITAS

A
B

2
1

4
1

3
1

9
3

I
III

II

Urutan Prioritas Masalah


1
2
3
4

Hipertensi
Diare
ISPA
Lain-lain (Dismenorea)

63

63

C. ANALISIS PENYEBAB MASALAH


Tabel 5.6. Analisis Penyebab Masalah
MASALAH
Hipertensi

LING-KUNGAN

Ada sebagian
responden yang
menjadi perokok
pasif (terkena
paparan asap rokok
di dalam rumah)
41,7%

PERILAKU

PENYEBAB MASALAH
YANKES
KEPENDUDUKAN
-

FAKTOR PREDISPOSISI

Sebagian besar responden berusia 40


tahun sebanyak 65%
Masih ada responden yang
pengetahuannya rendah mengenai
pentingnya pemeriksaan tekanan darah
dan minum obat anti hipertensi secara
teratur 63,3 %
Masih ada responden yang
pengetahuannya rendah mengenai
komplikasi pada penyakit hipertensi
seperti stroke, gangguan jantung, dan
ginjal sebesar 60%

63

Daftar Penyebab Masalah:


Sebagian besar responden berusia 40 tahun , sebanyak 65%
Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai
pentingnya pemeriksaan tekanan darah dan minum obat anti hipertensi

secara teratur sebanyak 63,3%


Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai
komplikasi pada penyakit hipertensi, seperti stroke, gangguan jantung

dan gangguan ginjal sebanyak 60%


Ada sebagian responden yang menjadi perokok pasif (terkena paparan

asap rokok didalam rumah) sebanyak 41,7%


Urutan penyebab masalah berdasarkan brain storming
Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai
pentingnya pemeriksaan tekanan darah dan minum obat anti hipertensi

secara teratur
Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai
komplikasi pada penyakit hipertensi, seperti stroke, gangguan jantung

dan gangguan ginjal


Ada sebagian responden yang menjadi perokok pasif (terkena paparan

asap rokok didalam rumah)


Sebagian besar responden berusia 40 tahun Ada anggota keluarga
yang merokok.

Untuk menyelesaikan suatu masalah yang berupa penyakit Hipertensi,


cukup menyelesaikan tiga penyebab saja berdasarkan brainstorming, yaitu:
1. Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai
pentingnya pemeriksaan tekanan darah dan minum obat anti hipertensi
secara teratur
2. Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai
komplikasi pada penyakit hipertensi, seperti stroke, gangguan jantung
dan gangguan ginjal
3. Ada sebagian responden yang menjadi perokok pasif (terkena paparan
asap rokok didalam rumah)
D. Alternatif Pemecahan Masalah
Tabel 5.7. Alternatif Pemecahan Masalah
MASALAH

TUJUAN

SASARAN

ALTERNATIF

63

Hipertensi

Mengendalikan
angka kesakitan
hipertensi

Seluruh warga
masyarakat
RT 1, 2, 3, dan
4 RW VII
Kelurahan
Mijen

Memberikan penyuluhan
penyakit hipertensi, definisi,
penyebab, factor resiko,
pengendalian, pengobatan dan
komplikasi.
Memberikan penyuluhan
tentang bahaya merokok
Pembagian leaflet tentang
faktor penyebab, gaya hidup
yang mendukung hipertensi dan
komplikasi hipertensi dan
pemeriksaan tekanan darah
gratis.

E. Pengambilan Keputusan
Dalam pengambilan keputusan kami menggunakan metode berdasarkan
kriteria mutlak dan kriteria keinginan, yang nanti akan diambil 1 (satu) kegiatan
yang akan dilaksanakan.
Tabel 5.8. Kriteria mutlak
Kegiatan

Man

Money

II

III

Input
Material

Output

Keterangan

Method

Marketing

Table 5.9. Kriteria Keinginan

Mudah (60)

Berkembang (40)

Berkelanjutan (20)

5x 60 =300

5x 40 = 200

6 x 20 = 120

620

II

5 x 60 = 300

5 x 40 = 200

5 x 20 = 100

500

III

6 x 60 =360

6x 40 = 240

6 x 20 = 120

720

Berdasarkan kriteria mutlak dan kriteria keingingan yang diambil dari suara
tujuh anggota kelompok kami sepakat dengan alternatif pemecahan masalah
yang akan diambil adalah Pembagian

leaflet tentang faktor penyebab,

gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet makanan yang

63

dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi dan pemeriksaan tekanan


darah gratis. yang kemudian akan disusun Plan of Action (POA).

63
F. Plan of Action
Tabel 5.10. Plan of Action
No

Kegiatan

Persiapan
(Perencanaan)

What
(Uraian)
1.
2.
3.

4.

Pelaksanaan

1.

Perizinan ketua RW dan RT


Mempersiapkan materi dan desain leaflet
Mempersiapkan alat kesehatan yang di
butuhkan
mencari waktu dan tempat pelaksanaan

Perizinan kepada RT dan RW.

2. Pelaksanaan pembagian leaflet dan


pemeriksaan tekanan darah gratis

Pengawasan
Pengendalian
Penilaian

Evaluasi langsung oleh Mahasiswa pelaksana

Sasaran
Warga RT 1, 2,
3, dan 4 RW
VII Kelurahan
Mijen

Warga RT 1, 2,
3, dan 4 RW
VII Kelurahan
Mijen
Warga RT 1, 2,
3, dan 4 RW
VII Kelurahan
Mijen

Where
(Tempat)

How Much
(Biaya)

Indikator

Who
(Pelaksana)

When
(Waktu)

Mahasiswa
kepaniteraan
klinik Ilmu
Kesehatan
Masyarakat FK
Unimus
(pemegang
program).
Mahasiswa
kepaniteraan
klinik IKM FK
Unimus
(pemegang
program).
Mahasiswa
kepaniteraan
klinik IKM FK
Unimus
(pemegang
program).

SabtuMinggu ,
7-8
Desember
2013

Labkesmas
UNIMUS

Iuran mahasiswa :
leaflet @500 x 100
= Rp. 50.000

Persiapan dapat
diselesaikan tepat
waktu sebelum hari
pelaksanaan

Senin, 9
Desember
2013

Balai
pertemuan
RW VII

Iuran mahasiswa :
Transportasi
Rp 10.000,00

Terlaksananya
pembagian leaflet dan
pemeriksaan tekanan
darah gratis di acara
pertemuan RW VII

Senin, 9
Desember
2013

Balai
pertemuan
RW VII

Terlaksananya
pembagian leaflet dan
pemeriksaan tekanan
darah gratis di acara
pertemuan RW VII

63

BAB VI
INTERVENSI KEGIATAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Intervensi Kegiatan
Intervensi dilakukan dalam bentuk pembagian leaflet tentang Hipertensi
meliputi penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet
makanan yang dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi dan pemeriksaan
tekanan darah gratis kepada ibu-ibu PKK RW VII di Balai Pertemuan warga RW
VII Kelurahan Mijen, yang dilakukan pada hari Senin, 9 Desember 2013 dari
pukul 16.00 WIB. Kegiatan selanjutnya dilakukan pada hari Rabu tanggal 11
Desember 2013 pukul 16.00 WIB dengan membagikan leaflet ke warga RW VII
terutama RT 1, 2, 3, dan 4 secara door to door disertai penyuluhan singkat
mengenai isi leaflet dan dilakukan pemeriksaan tekanan darah gratis.
B. Hasil Intervensi Kegiatan
Intervensi pada tanggal 9 Desember 2013 dilaksanakan di

Balai

Pertemuan Warga RW VII Kelurahan Mijen yang diikuti oleh 12 RT. Intervensi
kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu PKK RW VII sebanyak 39 orang. Indikator dari
kegiatan ini adalah terlaksananya pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan
darah gratis di acara pertemuan ibu-ibu PKK RW VII.
Pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan darah gratis disertai dengan
penyuluhan singkat kepada ibu-ibu PKK mengenai isi dari leaflet. Ibu-ibu PKK
yang dikunjungi memberikan respon cukup baik dari permulaan kegiatan sampai
akhirnya Ibu-ibu PKK yang hadir mengerti dan berusaha untuk melakukan seperti
apa yang dijelaskan selama proses acara. Respon ibu-ibu PKK diwujudkan
dengan adanya pertanyaan seputar masalah kesehatan. Dengan kegiatan ini
diharapkan masyarakat mengerti cara mengatasi permasalahan kesehatan yang
ada, sehingga dapat mencegah dan mengendalikan penyakit hipertensi.
Intervensi kegiatan tanggal 11 Desember 2013 dilaksanakan di wilayah
RW VII terutama Ibu rumah Tangga RT 1, 2, 3, dan 4 Kelurahan Mijen secara
door to door dengan leaflet yang tersisa dari kegiatan sebelumnya serta dilakukan
pemeriksaan tekanan darah secara gratis. Pembagian leaflet dan pemeriksaan

63

tekanan darah gratis kepada warga RT 1, 2, 3, dan 4 berjalan secara lancar dan
baik.
C. Pembahasan
Intervensi kegiatan diselenggarakan setelah disetujui dalam Musyawarah
Masyarakat Desa (MMD) pada hari jumat 6 Desember 2013. Kegiatan intervensi
berdasarkan hasil survey dan penelitian berupa Pembagian leaflet tentang faktor
penyebab, gaya hidup yang mendukung hipertensi dan komplikasi hipertensi, dan
pemeriksaan tekanan darah gratis. telah terlaksana. Tujuan dari kegiatan tersebut
adalah untuk menambah pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan
hipertensi sehingga diharapkan dapat mengendalikan dan menurunkan angka
kesakitan hipertensi di RW VII kelurahan Mijen. Kegiatan intervensi dilaksanakan
pada hari Senin 9 Desember 2013 di RW VII kelurahan Mijen. Metode yang
digunakan dalam pelaksanaan kegiatan adalah pembagian leaflet sekaligus
pemeriksaan tekanan darah gratis dan leaflet yang tersisa dibagikan pada warga
door to door disertai penyuluhan singkat mengenai isi leaflet dan dilakukan
pemeriksaan tekanan darah gratis pada hari Rabu, 11 Desember 2013 pukul 16.00
WIB.
Media yang digunakan untuk kegiatan intervensi adalah leaflet yang berisi
tentang penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet
makanan yang dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi. Leaflet tersebut
merupakan pesan yang diharapkan dapat dipahami oleh warga dan akhirnya dapat
menambah pengetahuan serta merubah gaya hidup warga sehingga dapat
mengendalikan, mengurangi dan mencegah bertambahnya jumlah warga yang
menderita hipertensi.
Pemilihan media menggunakan leaflet didasarkan karena tingkat
pendidikan dari responden rata-rata berpendidikan tinggi sebesar 98,3% ( > SLTP)
dan dilakukan pemeriksaan tekanan darah gratis karena disesuaikan dengan
masalah yang ditemukan pada RW VII yaitu hipertensi, sehingga kami melakukan
kegiatan sederhana seperti pemeriksaan tekanan darah gratis.

63

BAB VII
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan data hasil survei kesehatan di RW VII, Kelurahan Mijen,
Kecamatan Mijen, Kota Semarang, didapatkan masalah kesehatan antara
lain : Hipertensi (61,9%), Infeksi Saluran Pernafasan Akut (19,04%),
Diare (14,28%) dan Lain-lain (4,76%). Berdasarkan hasil survei kesehatan
distribusi penduduk menurut umur RW VII terbanyak pada usia 40 tahun
sebanyak 65 %, rata-rata memiliki pendidikan tinggi (>SLTP) sebanyak
98,3%, pekerjaan rata-rata adalah non PNS 88,3%, penghasilan rata-rata
perbulan diatas UMK 1.200.000 sebanyak 100%. Penderita hipertensi
terbanyak pada usia 40 tahun sejumlah 30,8%. Pengetahuan tentang
hipertensi pada warga RW VII disimpulkan bahwa ibu rumah tangga yang
menderita Hipertensi mempunyai pengetahuan yang kurang mengenai
hipertensi sebanyak 26%. Warga RW VII yang hipertensi dan terkena
paparan asap rokok sebanyak 17,1%.
2. Hipertensi merupakan penyakit yang menduduki peringkat ketiga di
Puskesmas Mijen pada tahun 2013 sebanyak 804 kasus. Berdasarkan hasil
survei kesehatan masyarakat didapatkan bahwa hipertensi merupakan
penyakit yang paling banyak diderita oleh warga di RT 1, 2, 3 dan 4 di RW
VII Kelurahan Mijen sebesar 61,9%. Setelah konfirmasi dengan dosen
pembimbing lapangan, maka kami memutuskan untuk mengambil
penyakit hipertensi sebagai prioritas masalah. Penyebab masalah
berdasarkan brain storming adalah Pengetahuan masyarakat tentang
hipertensi masih kurang.
3. Berdasarkan kriteria mutlak dan kriteria keingingan yang diambil dari
suara enam anggota kelompok kami sepakat dengan alternatif pemecahan
masalah yang akan diambil adalah Pembagian

leaflet tentang faktor

penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet makanan

63

yang dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi dan pemeriksaan


tekanan darah gratis. yang kemudian akan disusun Plan of Action (POA).
4. Telah dilakukan intervensi dalam bentuk pembagian leaflet tentang faktor
penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet makanan
yang dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi dan pemeriksaan
tekanan darah gratis. Pada kegiatan intervensi ini target dapat tercapai,
yaitu terlaksananya pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan darah
gratis di acara pertemuan ibu-ibu PKK

RW VII dan warga RW VII

terutama RT 1, 2, 3, dan 4 Kelurahan Mijen.


B. Saran
Bagi peneliti selanjutnya agar dapat mempersiapkan penelitian dengan
kuesioner yang lebih lengkap dan jumlah responden yang lebih banyak agar
hasilnya lebih baik. Perlu adanya upaya upaya peningkatan kesehatan dengan
cara meningkatkan pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD) oleh pihak
yang terkait (kader kesehatan, Forum Kesehatan Desa, Tenaga Kesehatan)
berkaitan dengan Hipertensi dalam hal meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan serta memberikan motivasi untuk hidup sehat kepada masyarakat
RW VII Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen Kota Semarang sehingga perilaku
hidup sehat dapat diterapkan dan meningkatkan derajat kesehatan.

63

DAFTAR PUSTAKA
1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Visi dan Misi Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia 2010 2014. Jakarta: Kementrian
Kesehatan

Republik

Indonesia.

Available

from

www.depkes.go.id/index.php/profil.visi-misi.html
2. Bustan, MN. 2000. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka
Cipta
3. Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta
4. Puskesmas Mijen. 2013. Data 10 Besar Penyakit. Semarang: Puskesmas
Mijen
5. Sudoyo, Aru. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV Jilid III.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
6. Riset Kesehatan Dasar. 2007. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar.
Semarang: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen
Kesehatan

Republik

Indonesia.

Available

from:

www.riskesdas.litbang.depkes.go.id
7. Subekti, I. 2004. Penegakkan Diagnosis Pasien Hipertensi Terpadu.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
8. Soegondo, S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
9. Gustaviani, Reno. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4. Jakarta:
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
10. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2006. Kondensus Pengelolaan
Hipertensi Di Indonesia. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro
11. Soegondo, S. 2005. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4. Jakarta:
Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia
12. Bickley, LS. 2007. Buku Saku Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan
Bates: Pemeriksaan Tekanan Darah. Jakarta: EGC
13. Aaronson, PI. 2010. At A Glance Sistem Kardiovaskular: Anamnesis dan
Pemeriksaan Fisik Kardiovaskular. Jakarta: EGC

63

14. Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi 1. Jakarta:


Rineka Cipta
15. Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2004. Pengembangan Media Promosi Kesehatan. Jakarta: Departemen
Kesehatan

Republik

Indonesia.

Available

from

www.depkes.go.id/index.php/promosi-kesehatan.html.
16. Tjokoadmidjojo. 1996. Perencanaan Pembangunan Kesehatan. Jakarta:
Gunung Agung