You are on page 1of 2

Patofisiologi

Kandung empedu memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cairan empedu
dan memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara mengabsorpsi air
dan elektrolit. Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel hati.
Pada individu normal, cairan empedu mengalir ke kandung empedu pada saat katup
Oddi tertutup. Dalam kandung empedu, cairan empedu dipekatkan dengan
mengabsorpsi air. Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh peningkatan konsentrasi
zat-zat padat. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi
progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut.
Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu,
stasis empedu, dapat menyebabkan infeksi kandung empedu. Jika pengobatan tertunda
atau tidak tersedia, dalam beberapa kasus kandung empedu menjadi sangat terinfeksi
dan bahkan gangren. Hal ini dapat mengakibatkan keracunan darah (septikemia), yang
sangat serius dan dapat mengancam hidup. mungkin komplikasi lain termasuk: kantong
empedu dapat perforasi (pecah), atau fistula (saluran) bisa terbentuk antara kandung
empedu dan usus sebagai akibat dari peradangan lanjutan.
Sembilan puluh persen kasus kolesistitis melibatkan batu di saluran kistik (kolesistitis
calculous ), dan 10% sisanya merupakan kasus kolesistitis acalculous . Kolesistitis calculous
akut disebabkan oleh tersumbatnya duktus sistikus hingga menyebabkan distensi kandung
empedu . Seiring membesarnya ukuran kantong empedu, aliran darah dan drainase limfatik
menjadi terganggu hingga menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis mukosa.
Sementara itu, mekanisme yang akurat dari kolesistitis acalculous tidaklah jelas ,
namun beberapa teori mencoba menjelaskan . Radang mungkin terjadi akibat kondisi
dipertahankannya konsentrat empedu, zat yang sangat berbahaya, di kandung empedu, pada
keadaan tertentu. Misalnya pada kondisi puasa berkepanjangan, kantong empedu tidak pernah
menerima stiimulus dari cholecystokinin ( CCK ) untuk mengosongkan isinya , dengan
demikian, empedu terkonsentrasi tetap stagnan di lumen.
Sebuah studi oleh Cullen dkk menunjukkan kemampuan endotoksin untuk
menyebabkan nekrosis , perdarahan , area pengendapan fibrin, dan hilangnya mukosa yang
luas , konsisten dengan iskemik akut. Endotoksin juga menghambat respon kontraktil kandung
empedu terhadap CCK, sehingga menyebabkan kondisi kandung empedu stasis.

Read more at: http://www.html Rizky Bella Mulyaningsasi NIM 132310101043 .medicinestuffs.com/2013/10/kolesistitis-cholecystitis-bagian.