You are on page 1of 3

KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN

Kecukupan gizi adalah rata-rata asupan gizi harian yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan gizi bagi hampir semua (97,5%) orang sehat dalam
kelompok umur, jenis kelamin, dan fisiologis tertentu. Nilai asupan zat gizi
harian yang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan gizi mencakup 50%
orang sehat dalam kelompok umur, jenis kelamin, dan fisiologis tertentu
disebut dengan kebutuhan gizi (Muchtadi 1989).
Standar kecukupan gizi di Indonesia pada umumnya masih menggunakan
standar makro, yaitu kecukupan kalori (energi) dan kecukupan protein,
sedangkan standar kecukupan gizi secara mikro seperti kecukupan vitamin
dan mineral belum banyak diterapkan di Indonesia. Kecukupan energi
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, jenis kelamin, ukuran tubuh,
status fisiologis, kegiatan, efek termik, iklim, dan adaptasi. Untuk kecukupan
protein dipengaruhi oleh faktor-faktor umur, jenis kelamin, ukuran tubuh,
status fisiologi, kualitas protein, tingkat konsumsi energi dan adaptasi
(Muchtadi 1989).
Angka kecukupan gizi rata-rata yang dianjurkan pada masing-masing
orang per hari bervariasi tergantung pada umur, jenis kelamin, dan keadaan
fisiologis individu tersebut. Pada anak usia 0-6 bulan, kecukupan energi dan
proteinnya masing-masing sebesar 550 Kalori dan 10 gram. Semakin
bertambah umur, kecukupan gizi makro berupa energi dan protein serta zat
gizi mikro juga bertambah.
Pada anak usia 7-9 tahun, kecukupan energinya meningkat menjadi
1800 Kalori dan kecukupan proteinnya sebesar 45 gram. Remaja dan dewasa
pria memiliki angka kecukupan gizi yang lebih besar dibandingkan dengan
wanita. Selain itu, keadaan fisologis juga sangat berpengaruh terhadap angka
kecukupan gizi individu. Pada wanita hamil, kecukupan energinya bertambah
180 Kalori pada saat trimester 1, dan pada trimester 2 serta 3 bertambah
300 Kalori dari kecukupan energi wanita yang tidak hamil pada usia yang
sama. Kecukupan protein pada wanita hamil juga mengalami kenaikan, yakni
sebesar 17 gram dari kecukupan protein wanita normal (Atmarita & Tatang
2004).
Perencanaan pemenuhan kebutuhan dan kecukupan zat gizi perlu untuk
dilakukan agar kecukupan dan kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi secara
optimal. Perencanaan pemenuhan kecukupan zat gizi dapat dilakukan melalui
beberapa langkah, di antaranya adalah dengan menentukan kebutuhan zat-zat

gizi masing-masing individu, memperhatikan zat gizi pada bahan pangan yang
akan dikonsumsi, serta upaya pemenuhan menu sesuai dengan pedoman umum
gizi seimbang (Azwar 2004).
Angka kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) adalah banyaknya masingmasing zat gizi esensial yang harus dipenuhi dari makanan mencakup hampir
semua orang sehat untuk mencegah defesiensi zat gizi. AKG dipengaruhi oleh
umur, jenis kelamin, aktivitas, berat badan, tinggi badan, genetika dan
keadaan fisiologis seperti ibu hamil dan menyusui.
Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended
Dietary Allowances (RDA) dalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang
berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan
hampir semua orang sehat di suatu negara. Kecukupan gizi dipengaruhi oleh
umur, jenis kelamin, aktivitas, berat dan tinggi badan, genetika, serta
keadaan hamil dan menyusui. Dalam perhitungan angka kecukupan gizi yang
dianjurkan sudah diperhitungkan faktor variasi kebutuhan individual, dimana
kebutuhan yang dianjurkan sudah mencakup hampir 97,5 % populasi, dan
untuk ekcukupan beberapa zat gizi seperti vitamin, mineral sudah
diperhitungkan sampai cadangan zat gizi dalam tubuh. Sehingga perhitungan
kecukupan zat gizi sudah memperhitungkan penambahan sebesar dua kali
simpang baku (standar deviasi) dari kebutuhan rata-rata penduduk yang
sehat (dr. I Wayan Sujana, M.Kes : Dasar Kebutuhan dan Kecukupan Gizi 14
April 2011).
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan didasarkan pada patokan
berat badan untuk masing-masing kelompok umur, gender, dan aktifitas fisik.
Dalam penggunaannya bila kelompok penduduk yang dihadapi mempunyai ratarata berat badan yang berbeda dengan patokan, maka perlu dilakukan
penyesuaian. Bila berat badan kelompok penduduk tersebut dinilai terlalu
kurus, maka AKG dihitung berdasarkan berat badan idealnya. AKG yang
dianjurkan tidak dipergunakan untuk perorangan atau individu, namun lebih
menggambarkan kelompok penduduk/masyarakat.
Angka Kecukupan gizi dianjurkan digunakan untuk tujuan seperti
1. Merencanakan dan menyediakan suplai pangan untuk penduduk atau
kelompok penduduk; perlu diketahui pola pangan dan distribusi
penduduk
2. Menginterpretasikan data konsumsi makanan perorangan atau
kelompok; perlu ditetapkan patokan berat badan untuk masing-masing

3.
4.

5.
6.
7.
8.

gender, dan bila menyimpang dari patokan berat badan dilakukan


penyesuaian
Perencanan pemberian makanan di institusi, seperti rumah sakit,
sekolah, industri, asrama, dan lain-lain
Menetapkan standar bantuan pangan; misalnya dalam keadaan darurat,
dan untuk kelompok penduduk yang berisiko seperti balita, anak
sekolah, ibu hamil
Menilai kecukupan persediaan pangan nasionaL
Merencanakan program penyuluhan gizi
Mengembangkan produk pangan baru di industry
Menetapkan pedoman untuk keperluan labeling gizi pangan

Langkah pertama dalam penyusunan AKG adalah menetapkan kebutuhan


faali rata-rata penduduk yang sehat dan mewakili tiap golongan umur dan
gender menurut kriteria yang telah ditetapkan. Untuk itu, perlu diketahui
perbedaan-perbedaan di dalam tiap golongan yang memungkinkan perkiraan
jumlah yang perlu ditambahkan pada kebutuhan rata-rata untuk memenuhi
kebutuhan sesungguhnya semua orang sehat. Karena alasan mahal dan perlu
waktu lama eksperimen tersebut tidak dilakukan, hanya digunakan perkiraan
kebutuhan dan variasinya berdasarkan informasi yang terbatas.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan AKG, seperti :
1. Adanya variasi individual masing-masing orang yang mempengaruhi
utilisasi zat gizi oleh tubuh
2. Adanya perbedaan komposisi zat gizi yang terkandung dalam setiap
sumber makanan
3. Adanya saling mempengaruhi antar zat gizi dalam tubuh
4. Adanya perubahan komposisi zat gizi akibat proses pemasakan, atau
pengolahan sampai makanan siap dikonsumsi.
Nilai AKG untuk semua zat gizi kecuali energi ditetapkan selalu lebih
tinggi daripada kecukupan rata-rata sehingga dapat dijamin, bahwa
kecukupan hampir seluruh penduduk terpenuhi. Oleh karena itu asupan
dibawah nilai AKG tidak selalu berarti tidak cukup, tetapi makin jauh di
bawah nilai tersebut risiko untuk memperoleh asupan tidak cukup meningkat.
Khusus untuk energi, nilai kecukupannya ditaksir setara dengan nilai pakainya
sebab asupan energi yang kurang maupun lebih dari nilai pakainya akan
memberikan dampak pada terganggunya kesehatan.