You are on page 1of 8

PILAR Jurnal Teknik Sipil, Volume 7, No.

2, September 2012

ISSN: 1907-6975

DISAIN SALURAN IRIGASI
Effendy
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Sriwijaya
Jln. Srijaya Negara Bukit Besar Palembang – 30139

ABSTRAK
Air merupakan benda yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluk hidup di permukaan bumi ini. Oleh manusia, air
digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti untuk memasak dan minum, mencuci, pembersihan, pengairan dan
irigasi, industri, sarana transportasi dan lain-lain. Oleh karena itu perlu pengelolaan sumber daya air, agar bermanfaat
yang sebesar besarnya serta tidak membawa dampak yang merugikan bagi kepentingan mahluk hidup lainnya. Salah
satu bentuk pengelolaan sumber daya air adalah pemanfaatannya secara teknis untuk keperluan pengairan atau irigasi,
yaitu dengan suatu usaha untuk mendatangkan air dengan membuat bangunan-bangunan dan saluran-saluran untuk
mengalirkan air guna keperluan pertanian, membagi-bagi air ke sawah-sawah atau ladang-ladang dengan cara teratur
dan jumlah yang cukup, kemudian membuang air yang tidak diperlukan lagi. Pekerjaan yang harus dilakukan untuk
usaha tersebut di atas adalah perencanaan saluran irigasi yang meliputi perencanaan saluran induk atau saluran
primer, saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kuarter. Perencanaan saluran yang dimaksud antara lain untuk
mendimensi saluran dan kemiringan dasar saluran dengan model pendekatan-pendekatan. Dalam tulisan ini, untuk
merencanakan saluran yang dimaksud digunakan standar dari Direktorat Jenderal Pengairan Kementerian Pekerjaan
Umum dalam buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknik Irigasi, Edisi Agustus 1980.
Kata kunci: disain, saluran, debit, irigasi, Manning.
PENDAHULUAN
Sejak zaman dahulu sampai sekarang bahkan
sampai mendatang kebutuhan makhluk hidup yang
paling utama adalah air. Air oleh manusia digunakan
untuk keperluan sehari-hari seperti untuk memasak dan
minum, mencuci, pembersihan, pengairan dan irigasi,
industri, sarana transportasi dan lain-lain. Oleh karena
itu perlu pengelolaan sumber daya air yang baik agar
tidak membawa dampak yang merugikan bagi
kepentingan makhluk hidup lainnya.
Dengan semakin pesatnya perkembangan
ilmu dan teknologi di era globalisasi ini yang diikuti
dengan pertambahan penduduk yang sangat pesat,
maka kebutuhan akan pangan, sandang dan papan
semakin meningkat. Untuk itu perlu adanya usahausaha untuk meningkatkan hasil-hasil pertanian
terutama hasil pangan serta perluasan lahan pertanian
tanaman pangan. Namun kadang-kadang jumlah lahan
yang layak untuk pertanian, ketersediaan airnya
terbatas. Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha untuk
memenuhi kebutuhan air secara efisien, sehingga tidak
akan merugikan bagi kepentingan itu sendiri.
Salah satu usaha yang dilakukan oleh
pemerintah guna pemenuhan kebutuhan pangan yaitu
dengan usaha peningkatan produksi pangan di bidang

Disain Saluran Irigasi……..(Effendy)

pertanian. Usaha pertanian yang paling produktif
adalah usaha untuk pemanfaatan air untuk irigasi guna
meningkatkan produktifitas di sektor pertanian. Untuk
itu pengelolaan dan pengadaan air secara tepat, teratur
dan cukup merupakan keharusan.
Irigasi dapat diartikan sebagai suatu usaha
untuk mendatangkan air dengan membuat bangunanbangunan dan saluran-saluran untuk mengalirkan air
guna keperluan pertanian, membagi-bagi air ke sawahsawah atau ladang-ladang dengan cara yang teratur dan
jumlah yang cukup, kemudian membuang air yang
tidak diperlukan lagi.
Salah satu pekerjaan yang dilakukan untuk
usaha-usaha tersebut di atas adalah perencanan saluran
irigasi. Saluran irigasi terdiri dari saluran induk atau
saluran primer, saluran cabang induk yang disebut
saluran skunder, saluran cabang sekunder yang disebut
saluran tersier dan saluran sawah yang disebut saluran
kuarter.

1

dimana Q = debit aliran dalam m3/detik (Chouw. September 2012 ISSN: 1907-6975 • Untuk daerah timbunan TINJAUAN PUSTAKA 1. seperti terlihat pada Tabel 1. skunder.00 . No. m. 1992). Selain dari pada itu juga digunakan kriteria dari sumber-sumber lain yang terdapat dalam literaturliteratur.00 .5 2 2. Di Indonesia pendekatan-pendekatan telah dibuat sebagai standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pengairan.50 7.(Effendy) W 2 mH + B W Wr fb h 1 H m B Gambar 1.050 0.11.7.5 3 3.3. atau kecepatan aliran tidak lebih dari 0.. dalam buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi. m = perbandingan sudut dalam saluran Ne = perbandingan sudut sebelah luar Nc = perbandingan sudut sebelah dalam Wr = lebar jalan inspeksi. m W = lebar atas tanggul. tersier dan kuarter berdasarkan buku standar diatas. dengan membatasi kecepatan aliran tidak lebih dari 0. Berikut ini kriteria perencanaan untuk saluran primer. Standar Perencanaan Standar perencanaan yang digunakan dalam merencanakan saluran irigasi adalah standar irigasi yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pengairan Kementerian Pekerjaan Umum.4. lebar dasar saluran minimum 30 cm. Disain Saluran Irigasi……. Perbandingan lebar dasar saluran dan tingi air (B/h) sangat tergantung dari besar debit yang akan mengalir. m.00 6. Bentuk penampang melintang saluran dipilih sebagai berikut.00 (B/h) 1 1. Bentuk penampang saluran di daerah galian Keterangan: B = lebar dasar saluran. Tabel 1.9.30 .50 4. H = tinggi total saluran.00 9.5 5 2 .50 . Bentuk penampang saluran di daerah timbunan • Untuk daerah galian 2mH + B Wr fb H 1 h m B Gambar 2. 2..45 Q0. Fortier dan Scobey juga membuat daftar kecepatan maksimal untuk berbagai jenis tanah atau lahan dengan debit yang direncanakan. m.5 4 4. fb = tinggi jagaan (freeboard). 1980. Saluran Primer dan Sekunder (a) Bentuk Penampang Pada prinsipnya bentuk penampang saluran direncanakan sebagai saluran terbuka (open channel) yang berbentuk trapesium.30 0. Sebagai contoh.50 1.40 m/detik agar nyamuk-nyamuk tidak berkembang (Robert Ch. akan dijumpai perhitungan dimensi dan kemiringan dasar saluran dengan cara pendekatan-pendekatan. telah dilakukan oleh Steevensz dengan rumus V = 0. murah dan memenuhi persyaratan hidrolis. Ada lagi pendekatan lain.50 .00 .00 3. 2. 1992).75 m/detik agar rumput-rumput tidak tumbuh. Kementerian Pekerjaan Umum dalam buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi. Volume 7. h = tinggi air. m.6. edisi Agustus 1980. 1980.50 . (b) Perbandingan lebar saluran dan tinggi air (B/h) Menurut buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi. Perbandingan (B/h) Debit saluran (m3/det) < 0. m. a. Rumus-rumus pendekatan didasarkan atas percobaan ataupun penelitian dalam jangka waktu yang lama. salah satu penelitian untuk mendapatkan kecepatan aliran yang optimum. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bentuk saluran yang stabil.1. Perencanaan Saluran Di dalam perencanaan saluran-saluran irigasi.225. tanpa lapisan pelindung.PILAR Jurnal Teknik Sipil.50 .

Tinggi jagaan.00 – 25.00 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi. 3 .00 . fb (m) < 0.0 1. Volume 7. Nc. m/det n = nilai koefisien kekasaran Manning R = jari-jari hidrolis.50 1.(Effendy) ISSN: 1907-6975 minimum untuk saluran menurut standar irigasi seperti pada Tabel 5. Untuk menghitung kecepatan aliran dan kemiringan saluran (gradien hidrolis).50 – 5. Tabel 2. dapat dihitung menurut rumus kontinuitas.60 15. seperti pada Tabel 6. dipakai rumus Manning. September 2012 11.5 1.8 3.0 1. Lebar atas tanggul dan berm Saluran Lebar atas tanggul Lebar berm. standar irigasi memberikan harga kemiringan lereng seperti pada Tabel 2. b. Perhitungan Saluran Primer dan Sekunder (a) Rumus Pengaliran Aliran yang terjadi di dalam saluran dianggap sebagai aliran seragam (uniform flow).0 1.00 – 15.00 6 15.0 1.50 0. W Wr.00 12 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi. A = luas penampang basah saluran. Harga kemiringan lereng dalam. (b) Nilai koefisien kekasaran dasar saluran menurut Manning dan Strickler Nilai koefisien kekasaran dasar saluran (n) menurut Manning tergantung dari kondisi saluran. fb Tinggi jagaan (freboard).40 0. 2. Table 6. maka lebar dan ukuran tanggul tersebut direncanakan sebagai jalan inspeksi.0 2.00 .30 0.00 1. (m) (m) Tersier < 1. V = kecepatan rata-rata aliran.0 1.PILAR Jurnal Teknik Sipil. Tabel 4. Q = A.5 Primer 2. Ne) Kemiringan lereng atau talud adalah perbandingan antara panjang garis vertikal yang melalui puncak saluran dan panjang garis horisontal yang melalui tumit saluran.00 8 25. Tinggi jagaan sebuah saluran.75 > 25.50 – 15.0 – 3.25.5 1.00 0.5 1. Kemiringan lereng atau talud juga tergantung dari jenis bahan atau material saluran yang digunakan.0 – 2.5 1. Namun bila jalan inspeksi tidak dibuat diatas tanggul. sehingga dalam menentukan besar kemiringan talud perlu dievaluasi terhadap stabilitas kelongsoran lereng.30 0.5 >3 1 : 1. m3/det. (e) Lebar atas tanggul Wr dan lebar berm W Bila tanggul saluran digunakan sebagai jalan inspeksi.0 – 5. Nc Kedalaman Nc galian. maka diperlukan kemiringan dalam (Nc) dan kemiringan lereng luar (Ne). Harga kemiringan lereng. Tinggi timbunan juga mempengaruhi terhadap stabilitas saluran. fb Debit saluran (m3/det) Tinggi jagaan.00 0.00 . Table 5. m Tanah biasa Batu cadas <3 1 : 1.5 1 : 0.V Dimana: Q = debit air yang mengalir. Tabel 3. Dalam hal ini besar kohesi tanah c dan sudut geser dalam tanah (φ) yang dapat menjaga kesetabilan lereng saluran.0 1 : 0.00 – 80.0 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi. No.0 0. m2.0 > 15. Ne Tinggi timbunan (m) Tanpa lapisan pelindung < 1.15. Untuk kondisi normal.. (c) Kemiringan lereng atau talud (m.00 0.30 – 0.0 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi.0 Sekunder > 1.00 10 40. maka tanggul dibuat sama seperti pada berm.5 2. (d) Tinggi jagaan (freeboard).40.00 2. m Debit saluran m (m3/det) Dengan lapisan Tanpa lapisan pelindung pelindung < 1. m S = kemiringan atau gradien hidrolis Debit yang mengalir di dalam saluran. Bila kedalaman galian lebih dalam dari tinggi saluran.5 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknik Irigasi. ditetapkan berdasarkan debit saat banjir. 1 2/3 1/2 V = R S n Dimana: V = kecepatan rata-rata aliran.50 5. fb yaitu jarak vertikal tanggul saluran dengan tinggi muka air saat debit maksimum. Tinggi jagaan Disain Saluran Irigasi……. Harga kemiringan lereng luar.00 1. m/det.5 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi.

misalnya adanya balokbalok.35 – 0.00 0.00 0.015 66. atau kecepatan tanpa pengendapan (non settling velocity) yaitu kecepatan aliran yang tidak menimbulkan pengendapan atau sedimentasi dan mendorong pertumbuhan tanaman air. Dari hasil percobaan menurut Strickler. (c) Kecepatan aliran di dalam saluran Untuk saluran yang tidak dilapisi. Kecepatan standar yang disarankan dapat dilihat pada Tabel 9.80 Saluran pasang batu 0.50 0. fb 1 H m h B Gambar 3.50 0.Beton 0. harga n atau Kst dilihat dari Tabel 7.022 45. Volume 7.50 0.debit: 1 – 5 m3/det 0. Kecepatan aliran standar Debit (m3/det) Kecepatan aliran standar (m/det) < 0.65 – 0.30 – 0.45 0.2 m3/det 0.60 Dimana: d = ukuran butir tanah saluran.Pipa beton 0.30 0.00 – 4. Penampang saluran primer dan sekunder Unsur-unsur geografis dari penampang saluran yang berbentuk trapesium adalah: A = luas penampang basah.50 . 2. 4.16 g   ) = (d1/6 ) : 25.45 – 0.90 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi.35 0.00 – 7. Kecepatan aliran yang diijinkan Jenis Saluran Minimum Maksimum m/det m/det Saluran tanah 0.55 1.PILAR Jurnal Teknik Sipil. maka perlu dibatasi kecepatan aliran.25 2.55 – 0.75 – 1. baik kecepatan maksimum maupun minimum.00 0. Hambatan di dalam saluran.50 – 9.60 – 0. 6. pilar jembatan dan lain-lain.40 0. Namun jika kecepatan standar ini menghasilkan gradien hidrolis yang tidak mungkin karena kondisi topografi yang terlalu datar. Untuk mendimensi saluran yang digunakan kecepatan standar irigasi. g = gravitasi bumi (g = 9.00 0.25 0.00 – 11.debit: > 10 m3/det 0.Pasangan batu 0. Pengendapan dan penggerusan.00 .020 50.debit: < 0. September 2012 Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai kekasaran tersebut.50 – 6.023 42.h) P = keliling basah.025 40. 5.40 – 0. No.00 .00 0.25 – 0.70 7. mm.Saluran tanpa pelindung .50 .60 3. (d) Dimensi saluran Saluran direncanakan sebagai saluran terbuka yang berbentuk trapesium.70 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi. Tabel 7.00 0.50 – 0.30 – 0. Ketidakteraturan saluran. m2 = h(B + m.60 – 0. Kekasaran permukaan saluran.15 – 0.15 0.2 – 1 m3/det 0.81 m/det2). Sedang menurut Strickler besarnya nilai kekasaran dasar saluran (Kst) tergantung dari ukuran butiran sedimen atau ukuran butiran-butiran tanah saluran.(Effendy) ISSN: 1907-6975 Tabel 8.75 0. maka dapat ditentukan kecepatan aliran yang memenuhi kecepatan minimum dan maksimum seperti di atas.013 76.25 – 0.00 .65 4. Disain Saluran Irigasi……. 3. sejauh hal ini masih memungkinkan dan layak. Saluran dengan pelindung .00 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi.70 6.50 0. Nilai koefisien kekasaran dasar saluran Koefisien Kondisi saluran kekasaran n Kst 1.debit: 0. baik untuk saluran alam maupun saluran buatan. Tabel 9. Trase saluran.debit: 5 – 10 m3/det 0.50 – 3.70 15.70 11.. antara lain: 1. m = B + 2h 1 + m 2 4 .70 9.40 0.00 – 25.50 0. Menurut standar irigasi.60 – 0.30 0.020 50. Kecepatan minimum yang diijinkan. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kapasitas saluran.00 Saluran beton 0.021 47.50 – 0. Sedangkan kecepatan maksimum yang diijinkan atau kecepatan tahan erosi (non erodible velocity) adalah kecepatan rata-rata terbesar yang tidak menimbulkan erosi pada tubuh saluran. 2.40 – 0. Kecepatan minimum dan maksimum yang diijinkan menurut standar irigasi seperti pada Tabel 8.40 – 0.60 – 0.70 .25 3.00 2. Ada tidaknya tanaman/tumbuhan dalam saluran.00 –15. diperoleh nilai Kst adalah: ( 1/6 Kst =  d  : 8.

= hb (Bb + m. perbandingan (B/h). m/det. maka dibuat dimensidimensi standar sehingga dimensi saluran yang direncanakan tidak terlalu banyak tipe. c.A Langkah-langkah untuk mendimensi saluran: (1) Bila debit rencana sudah ditetapkan.h)} : {(B + 2h 1 + m 2 )} Q = debit saluran. maka dibuat 5 (lima) tipe saluran seperti pada Tabel 11.h). kecepatan minimum dan kecepatan maksimum seperti pada Tabel 12. R = jari-jari hidrolis.20 m Lebar jalan tanggul (Wr) 2.h) di dapat nilai tinggi air yang baru.0 Tinggi jagaan minimum (fb) 0.hb) : (Bb + 2 hb 1 + m 2 (6) Tambahkan tinggi jagaan dari Tabel 5 yang sesusai dengan debit rencana.1/n .0 Talud dalam (m) 1. n.50 m 0. A. Saluran Tersier dan Kuarter (1) Bentuk penampang saluran Untuk saluran tersier dan kuarter. Hal ini dilakukan karena sering didapat nilai B dalam bentuk bilangan yang tidak bulat.0 .0 m 1. Dengan nilai lebar dasar saluran baru Bb. hal ini untuk menjamin terlayaninya sawah dengan memuaskan. m. Volume 7. seluruhnya direncanakan sebagai saluran terbuka (open channel) tanpa pasangan dan berbentuk trapesium. (4) Tentukan nilai lebar dasar saluran baru (Bb) yang sesuai. Nilai koefisien kekasaran Manning. Untuk itu ditetapkan besarnya kecepatan standar.025 atau Kst = 40. m =A:P = {h (B + m. Catatan: H adalah tinggi tanggul dari elevasi tanah asli (sawah) yang disyaratkan. digunakan rumus pengaliran seragam (uniorm flow) dari Manning. Dari rumus Q = V. (2) Disain hidrolis saluran Ada beberapa perhitungan dan asusmsi sebagai berikut: a.0 1. Tabel 10 Dimensi saluran tersier dan kuarter Uraian Tersier Kuarter Perbandingan (B/h) 1.30 m 0. V = kecepatan aliran standar.V S= 4/3 R Dimana: S = gradien hidrolis.. maka tinggi air (h) dapat ditentukan dan dilihat pula nilai lebar dasar saluran (B).V = A. maka perlu diperhatikan kecepatan pengaliran yang menyebabkan pengendapan maupun erosi. maka dari persamaan A = h(Bb + m. dapat ditentukan gradient hidraulik saluran. m3/det = V. maka: Q rencana A = V standar (3) Dari hubungan (B/h) seperti pada Tabel 1 dan luas penampang basah A = h(B + m. tidak boleh kurang dari 0.40 m Talud luar (n) . lihat Tabel 7. n = nilai koefisien kekasaran Manning. Q = A. maka diperoleh tinggi total saluran.A. b. Bentuk penampang saluran tersier-kuarter Besaran-besaran untuk dimensi saluran tersier dan kuarter seperti pada Tabel 10 berikut. (7) Untuk tujuan praktis.0 1.00 m Lebar tanggul (W) 0. Disain Saluran Irigasi……. agar praktis.(Effendy) ISSN: 1907-6975 W 2 mH W Wr fb 1: m 1: m H h B Gambar 4. 2. No. R2/3 . September 2012 R = jari-jari hidrolis. (5) Dari rumus Manning. Rumus pengaliran dan koefisien pengaliran Untuk mendimensi saluran.30 m. untuk saluran tersier dan kuarter diamnbil n = 0. Tabel 2 dan Tabel 9.0 1. S1/2 Pendimensian saluran sama dengan cara mendimensi saluran primer dan skunder. hb.untuk dh < 1.untuk dh > 1. pilih nilai kekasaran Manning (n).5 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi.0 m 1. 5 . Perhitungan dimensi saluran Untuk keperluan praktis baik perencanaan maupun pekaksanaan.PILAR Jurnal Teknik Sipil. Tabel 1. talud (m) dan kecepatan standar. sehingga susah nantinya dilaksanakan di lapangan. (2) Menghitung luas penampang basah. Dalam memilih tipe saluran tersier dan kuarter yang layak. maka S 2/3 n R 2 2 n .V 1 2/3 1/2 1/2 = V = R S .

PILAR Jurnal Teknik Sipil.50 m/det (lihat Tabel 9). V2 / R4/3 Dimana: n = 0. Mak. maka m = 1.42857 Disain Saluran Irigasi……. maka tinggi air yang baru dapat dicari sebagai berikut: A = (hb)(Bb + m.2857 = 13. Q = 24 m3/det.2857 = 10.75 m. Luas penampang basah.75 m (lihat Tabel 5). pilih kecepatan standar seperti pada Tabel 12.70)2 : (1. 368 m2. 1 : m = 1. Hitung gradien hidrolis.2857 = 0 Dengan rumus abc.50 m Tinggi saluran H = hb + fb = 1.h) 7.30 0. maka B = 3h dan m = 1.5493 m.25 – 0.5.20 0.5. Bb = 13 m.2531 + 0.hb) : (Bb +2hb 1 + m ) 2 = (2)(13 +2.2 1 + 2 = 34 : 21. Karena perbandingan (B/h) = 1 dan talud m = 1.648 m. fb = 0. Saluran Debit Kecepatan aliran.hb) 7. 2. (m) h. 2. Volume 7.(Effendy) ISSN: 1907-6975 h = 3.hb) 1.5 (lihat Tabel 2). minimum dan maksimum pada saluran tersier dan kuater. (m) I 0. V = kecepatan aliran standar.368 = hb(4 + 1.5. kemudian hitung A = Q/V.42857 = 1. Kemiringan saluran atau gradien hidrolis: S = n2V2 : R4/3 n = 0.0109 %.2857 = (hb)(13 +2. Kecepatan standar.637 h = 1.944 = 1. B/h = 8 (lihat Tabel 1).60 0.35 0.50 = 1.40 0. meliputi saluran primer. (m) fb.30 0.5493)4/3 = (0.368 = 0 Dengan rumus abc.279 m. Tinggi jagaan.279) = 3. A = Q : V = 24 : 0.30 III 0.60 0. S = gradien hidrolis.837 m. Dari nilai B/h = 3.581) = 12.20 0.5.50 = 7.70 0. R = jari-jari hidrolis. 2.5h) 7. Saluran Primer Debit rencana. 2 R = (hb)(Bb.000196) : (1..2857 m2.40 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi. Q = 3.hb + 2(hb)2 2(hb)2 + 13(hb) – 34. 1 : m = 2 (lihat Tabel 2). maka tinggi air yang baru dapat dicari sebagai berikut: A = hb(Bb + m.hb – 7.15 – 0. 6 .25 0. September 2012 Tabel 11 Tipe saluran. Tipe Lebar dasar Tinggi aliran Tinggi jagaan B.368 = h (3h + 1.684 m3/det.60 ≤ 0. PEMBAHASAN Berikut ini diberikan contoh perhitunganperhitungan dalam merencanakan saluran irigasi.2857 = h(8h +2h) 34. sehingga h = A/2 .684 : 0. 3. Kecepatan standar.7531 m.h2 h2 = 3.637 = 1.792726) = 0.50 0. Perbandingan B/h = 3 (lihat Tabel 1). B = 3h = (3)(1. lebar dasar.15 Kuarter 0.581 m.2) : (13 +2. V = 0. 1. B = 8h = (8)(1. S = (0. Kecepatan standar.50 0. maka m = 2.25. Tersier 0.hb) 34. Tabel 12.30 II 0. maka A= h (B +mh) = 2 h2. Bila debit rencana sudah diketahui. dari rumus: S = n2 .70 m/det (lihat Tabel 9). Perbandingan.40 0. Dari nilai B/h = 8. A = Q : V = 3.60 ≤ 0.75 = 2.30 0.hb) 34. m/det (m3/dt) Standar Min. dan m = 2 Sehingga A = h(B + m.70 = 34. Talud. diperoleh hb = 1. Luas penampang basah. diperoleh nilai hb = 2 m.30 Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi.h) 34.30 V 0. sekunder. Tinggi jagaan.hb2 + 4. fb = 0. Pilih tipe saluran yang sesuai dari Tabel 11. Ambil lebar dasar saluran baru. V = 0. tersier dan kuarter.m. Sehingga A = h (B + m.20 – 0.020 (lihat Tabel 7). Ambil lebar dasar saluran baru Bb = 4 m. maka B = 8h.368 = 4. Langkah-langkah untuk mendimensi saluran: 1. Tinggi saluran H = hb +fb = 2 + 0.10 0. 4.30 IV 0. Saluran Sekunder Debit rencana. Tabel 12.70 0.5 h2 2 h = 1.25 0. Talud. tinggi aliran dan tinggi jagaan.2531 m.020)2 (0. No.

40 + 1.022 (lihat Tabel 7) R = hb(Bb + m. KESIMPULAN Dari uraian-uraian tersebut diatas.60 m h = 0.60 m fb = 0. Air oleh manusia digunakan untuk keperluan seharihari seperti untuk memasak dan minum.166 : 0. 2.025)2 (0.0. Volume 7. dilakukan dengan pendekatanpendekatan..025 2 R = h(B +m.60(0.40 1 + 1 ) = 0. 2. Departemen Pekerjaan Umum. Kemiringan saluran.5761 m ∼ 0.664 m2.2266 m2 Disain Saluran Irigasi…….2531(4+1.2531) : (4+2. maka: A = h (B + m. V = 0.40) : (0. kecepatan aliran.5 2 ) = 0. Q = 0.32 : 1.166 m3/det. didapat saluran tipe V dengan: B = 0. kemiringan dasar saluran.40 m Dari Tabel 11 didapat saluran tipe II. irigasi.30 m Kemiringan saluran (gradien hidrolis).15 = 0.1.72 : 2.V2) : (R4/3) n = 0. S = (0.60 1 + 1 = 0.25)2 : (0.3134 m.hb) 1 + m Tinggi air. dengan: B = 0. Saluran Tersier Debit rencana. digunakan standar dari Direktorat Jenderal Pengairan. A = Q : V = 0. No.40 m.865 m.0183 %.5.0.60) : (0. 7 . tersier dan kuarter) adalah saluran terbuka (open channel) berbentuk trapesium tanpa lapisan pelindung (lining).025)2 (0.2266 2 = 0. h = 0.40 +2.50)2 : (0.15)2 : (0. 3. Perbandingan B/h = 1 (lihat Tabel 10).034 m3/det Kecepatan standar. S S = (n2V2) : (R4/3) n = 0.0113 %.h) = 2 h2 Sehingga: h = A/2 = 0. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.2089 m. dalam buku Pedoman Kriteria Pernencanaan Teknis Irigasi.5313 = 0. sekunder. mencuci.25 m/det (lihat Tabel 12). Saluran Kuarter Debit rencana.01468 %. pembersihan. 4. h = = 2 = 1. Dalam merencanakan saluran irigasi. m = 1 (lihat Tabel 10) Luas penampang basah. Luas penampang basah. Agustus 1980.(Effendy) ISSN: 1907-6975 A/2 0.2089)4/3 = 0. 4. industri. sarana transportasi dan lain-lain.15 m/det (lihat Tabel 12) Perbandingan B/h = 1 (lihat Tabel 10) Talud dalam.022)2 (0.h) = h (h +1. Talud dalam. yaitu dalam menentukan dimensi saluran. S = (0. Maka. Di Indonesia untuk merencanakan saluran irigasi.034 : 0.60 +2. Pada umumnya bentuk saluran irigasi (saluran primer.297 = 0.80 m.hb) : (Bb + 2.664/2 = 0.40 m.865)4/3 = 0.3134)3/4 = 0.30 m. Dari nilai B/h = 1 dan m = 1.1. S = (0. Maka. 2 R = h (B+mh) : (B+2h 1 + m 2 = 0.025 V = 0. serta menghitung debit aliran pada saluran.2531 1 + 1. V = 0.h) : (B+2h 1 + m 2 = 0. m = 1 (lihat Tabel 10). September 2012 Ambil H = 1. 5. S. 3. Salah satu usaha dari pemerintah untuk meningkatkan hasil-hasil pertanian adalah pemanfaatan air untuk irigasi guna peningkatan produksi pangan.25 = 0. Kemiringan saluran (gradien hidrolis). S = (n2.PILAR Jurnal Teknik Sipil. fb = 0.60 +1. A = Q : V = 0.0. Kecepatan standar. Q = 0.60 m Dari Tabel 11.40 (0.3366 m ∼ 0.15 m/det. S S = (n2 V2 ) : (R4/3) n = 0.

Robert Ch. Direktorat Jenderal Pengairan.com.. adalah Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Sriwijaya. Effendy. Chouw. Departemen Pekerjaan Umum. aktif di asosiasi profesi Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Cabang Palembang. Mekanika Tanah 1. No.susilo@ymail. Direktorat Jenderal Pengairan. Buletin Pengairan. Sub Direktorat Perencanaan Teknik. & Nensi Rosalina. Hidrolika Saluran Terbuka. Mata Kuliah yang diampu adalah Drainase. Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. Direktorat Irigasi. September 2012 ISSN: 1907-6975 DAFTAR PUSTAKA -----------------..T. email: effendy. -----------------. Standar Perencanaan Irigasi. Mekanika Tanah 2.(Effendy) 8 . 1992. Banjarmasin. No. Penerbit Erlangga. M. 1992.4 April 1984.T. Pedoman Kriteria Perencanaan Teknik Irigasi. 1986. Disain Saluran Irigasi……. Konstruksi Saluran Irigasi pada Tanah Gambut. Rekayasa Pondasi 1 dan Rekayasa Pondasi 2. Direktorat Jenderal Pengairan. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta. 2. Dengan profesi sebagai Profesional Ahli Madya.PILAR Jurnal Teknik Sipil. -----------------. V. 1980. RIWAYAT PENULIS Ir. Volume 7. 1984.