You are on page 1of 2

1.

Konflik anak-anak yang putus sekolah dikarenakan membantu orang
tuanya
Banyak anak usia wajib belajar yang putus sekolah karena harus bekerja. Kondisi itu
harus menjadi perhatian pemerintah karena anak usia wajib belajar mesti menyelesaikan
pendidikan SD-SMP tanpa hambatan, termasuk persoalan biaya. Berdasarkan data survei
anak usia 10-17 tahun yang bekerja, seperti dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik pada 2006,
tercatat sebanyak 2,8 juta anak telah menjadi pekerja. Dari hasil studi tentang pekerja anak,
ditemukan bahwa anak-anak usia 9-15 tahun terlibat dengan berbagai jenis pekerjaan yang
berakibat buruk terhadap kesehatan fisik, mental-emosional, dan seksual.
Awalnya membantu orangtua, tetapi kemudian terjebak menjadi pekerja permanen.
Mereka sering bolos sekolah dan akhirnya putus sekolah.
Bagi anak-anak miskin, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saja belum cukup.
Pemerintah dan sekolah juga mesti memikirkan pemberian beasiswa tambahan untuk
pembelian seragam dan alat tulis, serta biaya transportasi dari rumah ke sekolah agar anakanak usia wajib belajar tidak terbebani dengan biaya pendidikan.

2. Konflik tawuran antar pelajar
Konflik ini terjadi karena :
1. Dendam karena kekalahan dengan sekolah lain
Biasanya ini terjadi ketika adanya per tandingan bola antar sekolah. Dimana tim sekolah yang
satu kalah dengan sekolah yang lain. Hal ini menyebabkan adanya r asa kecewa dan celakanya
mereka ini biasanya melampiaskan rasa kekecewaan nya dengan mengajak berkelahi tim sekolah
lain tersebut. Hal ini tentunya merupakan bentuk ketidak spor tifan pelajar dalam mengalami
kekalahan.
2. Dendam akibat pemalakan dan perampasan
Apabila seorang siswa dari suatu sekolah menengah atas dipalak atau dirampas uang dan
hartanya, dia akan melapor kepada pentolan di sekolahnya. Kemudian pentolan itu akan
mengumpulkan siswa untuk menghampiri siswa dari sekolah musuh ditempat dimana
biasanya mer eka menunggu bis atau kendar aan pulang. Apabila jumlah siswa dari sekolah
musuh hanya sedikit, mereka akan balik memalak atau merampas siswa sekolah musuh
tersebut. Tetapi jika jumlah siswa sekolah musuh tersebut seimbang atau lebih banyak,
mereka akan melakukan kontak fisik.
3. Dendam akibat rasa iri akibat tidak dapat menjadi siswa di SMA yang diinginkan.
Ketika seorang siswa mendaftar masuk ke SMA negeri, tetapi ia malah tidak diterima di
sekolah tersebut. Dia akan masuk ke SMA lain bahkan ia bisa bersekolah di SMA swasta
yang kualitasnya lebih rendah. Disebabkan oleh dendam pada sekolah yang dulu tidak
menerimanya sebagai siswa, dia berusaha untuk membuat siswa yang bersekolah di sekolah
tersebut merasa tidak nyaman. Dia akan memprofokasikan dan mencari-cari kesalahan
sekolah tersebut agar akhirnya terjadi kontak fisik.

akan banyak kepentingan yang bermain di dalamnya. hingga kepentingan rakyat (pekerja) tentunya. Konsep otonomi daerah yang dianut oleh Indonesia telah memberikan kemungkinan bagi setiap daerah untuk melaksanakan pemilihan kepala daerah dan menentukan pemerintahannya masing-masing. Ditambah lagi tidak jelasnya peraturan perundangundangan yang menjadi dasar dari pilkada ini sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum. Sehingga konfilk bukan hal yang tabu lagi untuk dijumpai. Tapi akan dibahas tentang bagaimana mengolah isu konflik untuk menjadi suatu pembelajaran politik bagi rakyat untuk mengahadapi pertarungan bebas di kancah pertarungan pilkada (liberalisasi politik). siapa dan bagaimana para kepentingan mengintervensi politik di pilkada sehingga menimbulkan konflik. potensi dan keanekaragaman daerah. Konflik Politik Pilkada dan Liberalisasi Politik Salah satu implementasi dari Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah dilaksanakannya pemilihan kepala daerah secara langsung. Terjadinya konflik dan polemik ini dinilai diakibatkan oleh ketidaksiapan masyarakat Indonesia menghadapi liberalisasi politik mengingat watak masyarakat yang pada umumnya masih bersifat primordial dan feodalistis. Mulai dari kepentingan borjuasi internasional. Telah banyak konflik yang telah terjadi di negeri ini. pilkada ini justru menimbulkan polemik dan konflik yang cukup rumit penyelesaiannya. Merupakan suatu kepastian bahwa dalam setiap pertarungan politik. khususnya di pilkada. Namun di sisi lain. peluang dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. sebut saja konflik Pilkada Sulsel dan Maluku. .3. Di satu sisi ruang pilkada ini merupakan liberalisasi politik yang bertujuan agar efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah. Di tulisan ini tidak akan dibahas mengenai persolan apa. kepentingan borjuasi nasional.