You are on page 1of 6

UTIPAN


KUTIPAN
SEJARAH
TUBAN
a.
TUBAN
SAAT
PEMERINTAHAN
AIRLANGGA.
Rupanya hal ini disebabkan karena Tiongkok, di mana perniagaan luar negeri menjadi urusan
pemerintah, semata-mata berdagang dengan Sriwijaya seperti dahulu. Pelabuhan Tuban menurut
pengaturan jalan-jalan menghubungkan kota tersebut dengan pusat negara yang mungkin sekali
letaknya agak ke dalam. Sejumlah prasasti dari zaman Airlangga yang didapat di daerah Babat,
Ngimbang dan Ploso, menunjukkan bahwa justru daerah melalui jalan dari Tuban ke Babat
menuju ke Jombang mendapat perhatian yang besar dari Airlangga.
b.
BUKU
YING
YAI
SHENG
LAN.
Berita Tionghwa yang sangat penting, adalah uraian Ma Hua dalam bukunya Ying Yai Shing
Lan. Ma Huan adalah orang Tionghwa beragama Islam, yang mengiringi Cheng Ho dalam
perjalanannya yang ketiga (1413 —1415) ke daerah-daerah lautan selatan. Kecuali soal-soal
mengenai keadaan berbagai daerah yang ber-hubungan dengan kedudukan politiknya, yang
sangat menarik perhatian adalah uraian Ma Huan tentang keadaan kota Majapahit dan rakyatnya.
Kalau orang pergi ke Jawa, katanya, kapal-kapal lebih dahulu sampai ke Tuban. Kemudian
dengan melalui Gresik yang banyak penduduknya Tionghwa, orang tiba di Surabaya. Di sini
orang pindah ke perahu-perahu kecil berlayar ke Canggu. Melalui jalan darat, orang kemudian
pergi ke arah selatan dan tibalah orang di Majapahit, tempat kediaman sang raja. Kotanya
dikelilingi tembok tinggi yang dibuat dari bata, dan penduduknya sejumlah kira-kira 300.000
orang.
Sang raja kepalanya terbuka, atau tertutup dengan mahkota dari emas, memakai kain dan
selendang, tidak berterompah dan selalu membawa satu atau dua bilah keris. Kalau keluar ia naik
gajah atau kereta yang ditarik oleh lembu. Rakyatnya pun memakai kain dan baju, dan tiap orang
laki-laki mulai anak berumur 3 tahun memakai keris, yang hulunya indah sekali, terbuat dari
emas, cula badak atau gading. Kalau mereka bertengkar sekejap saja mereka sudah siap dengan
kerisnya. Mereka biasa makan sirih, senang mengadakan perang-perangan dengan tombak
bambu pada perayaan-perayaan, suka bermain-main bersama waktu terang bulan dengan disertai
nyanyian-nyanyian berkelompok dan bergiliran antara golongan wanita dan pria, gemar pula
menonton wayang beber (wayang yang adegan-adegan ceriteranya digambar di atas sehelai kain,
kemudian dibentangkan antara dua belah kayu.dan diceriterakan isinya oleh dalang).
Penduduk Majapahit terdiri atas tiga golongan ; orang-orang Islam yang datang dari barat dan
mendapatkan mata pencaharian di ibu kota, orang Tionghwa yang banyak pula memeluk agama
Islam dan rakyafcte- lebihnya yang menyembah berhala dan tinggal bersama dengan anjing
mereka.
c. BUKU
LING

WAI

TAl

TA
Dari hasil-hasil kesusasteraan dapat pula diketahui sedikit ba-gaimana keadaannya dalam zaman
Kediri. Tetapi masih menarik perhatian ialah keterangan-keterangan yang terdapat dalam beritaberita Tionghwa. Kitab Ling wai tai ta yang disusun oleh Chou Ku Fei dalam tahun 1178
memberikan gambaran yang tidak didapat dari lain sumber tentang pemerintahan dan masyarakat
Kediri. Dikatakan misalnya, bahwa orang-orang memakai kain sampai di bawah lutut, sedangkan
rambutnya diurai. Rumah-rumahnya sangat rapi dan bersih. Lantainya dari ubin yang berwarna
hijau dan kuning. Pertanian, peternakan dan perdagangan mengalami kemajuan dan perhatian
dari Pemerintah. Pun ada pemeliharaan ulat sutra dan kapas. Hukuman badan tidak ada, orang-

Dalam pemerintahan sang raja dibantu oleh 4 orang menteri terkemuka. kesukaannya ialah mengadu ayam. baru mengundurkan diri. . dan orang ber-perahu-perahu penuh kegembiraan. keluarga anak perempuan menerima maskawin berupa sejumlah emas. melainkan memohon sembuh kepada dewa-dewa dan kepada Budha Tiap bulan ke 2 diadakan pesta air. Mereka ini tidak menerima gaji tetap. Untuk perkawinan. rakryan mahamantri i rangga dan rakryan mahapatih. tiap bulan 10 perayaan ber-langsung di gunung dan orang berduyun-duyun ke sana untuk ber-senang-senang. Mata uangnya dibuat dari logam campuran tembaga. Tentang sang raja sendiri dikatakan. Sehabis sidang para pejabat itu menyembah tiga kali. bahwa ia berpakaian sutra.oleh Chau-Ju-Kau tahun 1225. Orang sakit bukan menggunakan obat. tetapi pada waktu-waktu tertentu menerima hasil bumi atau lainnya. Cikal Bakal Penguasa Negeri Tuban Cikal bakal yang menurunkan adipati di Tuban adalah Prabu Banjaransari. yaitu rakryan kanuruhan. kecuali pencuri dan perampok yang dibunuh. Alat-alat musiknya terdiri atas seruling gendang dan gambang dari kayu.000 mendapat bayarannya setengah tahun sekali pula dan besarnya gaji sesuai dengan pangkatnya. Rambutnya disanggul di atas kepala. bersepatu kulit dan memakai perhiasan-perhiasan dari emas. Alat pembayaran adalah mata uang dari perak. Maka ia duduk diatas . Karena beliau dikarunia banyak putra. rakryan maha mantri i hulu. 1984 :44). bahwa di Asia Tenggara ada dua kerajaan yang terkemuka dan terkaya. pertama ialah Jawa dan kedua Sriwijaya. gudang-gudang persediaan dan keperluan-keperluan para prajurit. naik gajah ataupun kereta. Di Jawa ada dua macam agama yaitu agama Budha dan agama para pertapa (maksudnya Hindu). ia diiringi 500 sampai 700 orang prajurit dan rakyat di tepi jalan semuanya jongkok sampai raja lewat. perak dan timah. Rakyatnya lekas naik darah dan berani berperang. yang memegang tata buku dan tata usaha : 1000 orang pegawai rendahan bertugas mengurus per-bentengan. perbendaharaan negara. singgasana yang berbentuk segi empat. Jika raja ke-luar. Dalam buku tersebut diceriterakan juga. Setiap hari ia menerima pejabat-pejabat dan mengurus pemerintahan. Panglima tentara setiap setengah tahun mendapat 10 tail emas dan para prajurit yang ber-jumlah 30. dan salah satu dari keturunannya yang dikemudian hari menurunkan silsilah adipati Tuban. Demikianlah keterangan yang diperoleh dari sumber Tionghwa. raja di Negeri Pajajaran (Atmodiharjo. Selanjutnya pemerintahan dilakukan oleh 300 orang pegawai. Hal-hal tersebut juga terdapat dalam Kitab Chu-fan-chi.orang yang bersalah didenda dan pembayaran berupa emas.

Stabilitas Kadipaten Lumajang Tengah sangat terjamin mengakibatkan keamanan dan kemakmuran rakyatnya terjaga. Raden Arya Randukuning terus berjalan menembus tebalnya hutan jati. Salah satu putra beliau adalah Raden Haryo Metahun. Kemasyhuran nama Prabu Banjaransari tidak hanya menjadi buah bibir rakyatnya saja. tak seorang pun berani mengambil yang bukan menjadi hak miliknya. Raden Arya Randukuning bergelar Kyai Ageng ( Kyai Gede Lebe Lontang). Kecamatan Jenu. tempat baru itu diberinya nama Kabupaten Gumenggeng. Jenu. Semenjak muda. Hewan-hewan piaraan berkembang biak dengan pesat. Setelah berhasil. Setelah menjadi adipati di Lumajang Tengah. Baginda raja juga dikaruniai banyak putra dan cucu. Sesampainya di kaki gunung Kalakwilis. Tak peduli siang atau malam. Sesampai di kaki pegunungan kapur Rengel. Prabu Banjaransari ketika mengetahui alasan cucunya mengembara untuk menyempurnakan ilmu dan menambah pengetahuan. Masyarakat kecil tidak kekurangan suatu apa. Raden Arya Randukuning bekerja keras membuka hutan Srikandi yang membentang di sepanjang daerah pantai. akan tetapi keharuman namanya telah merambah sampai ke negeri-negeri manca. Begitu pula para durjana sama sekali tidak bisa berkutik karena kewibawaan sang adipati. Raden Aryo Dhandhang Miring senang menjalankan tapa brata. Arya Bangah menolak untuk naik tahta menggantikan ayahnya sebagai adipati di Lumajang Tengah. Berkah dari perkawinannya. Kemakmuran dan keadilan benar-benar dirasakan oleh rakyat mulai dari ibukota kerajaan sampai ke pelosok-pelosok pedesaan. Raden Aryo Bangah saat menjalankan pemerintahan di Gumenggeng selama ±22 tahun lalu meninggal dunia. Sesudah ayahandanya mangkat. Atas kegigihan dan kesaktiannya. Suatu hari Raden Arya Randukuning meminta izin ayahanda dan ibundanya untuk mengembara jauh ke timur. Bekas Kadipaten Gumenggeng tersebut sekarang menjadi Pedukuhan Gumeng. Ia memilih berkelana bersama pengikutnya ke arah selatan. Sejak saat itu Raden Arya Randukuning meninggalkan kehidupan istana yang serba mewah. Tentu saja. Kyai Gede Lebe Lontang berhasil memimpin rakyatnya untuk menapaki kemakmuran. Desa Banjaragung. Raden Arya Bangah mempunyai seorang putra bernama Raden Aryo Dhandhang Miring. maka segeralah baginda memberinya restu. Prabu Banjaransari yang bertahta adalah sosok yang sangat bijaksana sehingga dielu-elukan oleh rakyatnya. ketika berkuasa di Lumajang Tengah. Kecamatan Rengel. hutan itu dalam waktu sekejap berhasil diubah menjadi perkampungan bahkan akhirnya menjadi sebuah kadipaten yang diberi nama Kadipaten Lumajang Tengah. Ketika melaksanakan tapa brata itulah Raden Aryo Dhandhang Miring mendapatkan ilham yaitu setelah ayahnya mangkat. Di dalam Babad Tuban dikisahkan. Ia memilih mengembara ke arah timur menyusuri daerah pesisir pantai utara Pulau Jawa. Walau hewan-hewan piaraan itu berkeliaran secara bebas. Raden Aryo Dhandang Miring tidak boleh melanjutkan pemerintahan . niatnya itu ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya. Kabupaten Lumajang Tengah itu. Haryo Metahun dikaruniai putra bernama Haryo Randukuning. R. Kyai Gede Lebe Lontang dikarunia seorang putra bernama Raden Arya Bangah. Namun. Hal itulah yang membuat para abdi pemerintah dengan penuh kesadaran menjalankan roda pemerintahan secara jujur. Kyai Gede Lebe Lontang berhasil menjalankan pemerintahan di Lumajang Tengah selama ±20 tahun. Arya Bangah dan para pengikutnya bahu-membahu membuka hutan untuk dijadikan perkampungan.Kala itu kerajaan Pajajaran yang berpusat di dekat Ciamis sedang mengalami puncak kejayaan. sekarang menjadi dusun yang bernama Banjar. Beliau mempunya budi pekerti yang amat luhur dan patut dijadikan teladan bagi para bawahannya. Siang dan malam Arya Bangah dan para pengikutnya bekerja keras untuk mewujudkan cita-citanya.

Barang-barang yang dipindahkan ke Demak tersebut termasuk adalah pusaka yang berbentuk Yoni. yang pada akhirnya oleh Pemerintah Kabupaten Tuban tanggal 12 Nopember dijadikan sebagai Hari Jadi Tuban. Setelah hutan tersebut menjadi pemukiman.dan jika dirangkaikan menjadi TUBAN. Guna memindahkannya. Menurut kebiasaan masyarakat Tuban yang mudah diarahkan untuk melaksanakan tugas guna membangun negerinya. Sifat-sifat seperti itu dalam bahasa Jawa disebut “Nges (Tu) ake kewaji (Ban). Tuban berasal dari kata Watu Tiban. tepatnya ketika peristiwa agung pelantikan RONGGOLAWE untuk menjadi adipati Tuban pertama oleh Raja Majapahit Raden WIJAYA. Daerah tempat jatuhnya batu pusaka tersebut kemudian diberi nama Tuban kependekan dari Wa (Tu) Ti (Ban). Selanjutnya Raden Aryo Dhandang Miring dan para prajuritnya menuju ke barat laut untuk membuka hutan bernama Ancer – Ancer. Menurut bahasa Jawa Kawi. Sementara itu sejarah pemerintahan Kabupaten Tuban diawali pada jaman Majapahit. Peristiwa pelantikan itu dilaksanakan pada tanggal 12 Nopember 1293. sepasang burung bangau itu tersinggung dan menjatuhkan barang bawaannya. Tersebutlah kisah. 1986:17) kata Tuban berasal dari kata Tubo yaitu sejenis tanaman yang dapat dibuat racun. maka dipercayakan kepada sepasang burung bangau. Segala cita-citanya baru berhasil jika putranya kelak membuka hutan bernama Papringan. burung-burung tersebut diolok-olok oleh anak-anak yang sedang menggembala. tanpa diduga – duga sebelumnya muncullah sebuah keajaiban dengan keluarnya air yang dalam istilah jawa disebut (meTu) dan (Banyune). Peristiwa itu oleh Raden ARYA DANDANG WACANA dijadikan sebagai tonggak sejarah dalam memberi nama tanah tersebut dengan nama TUBAN. Tampaknya. Tuban berarti Jeram (Wojowasito. 4. Hal ini dikaitkan dengan sebuah cerita bahwa ketika kekuasaan Majapahit berakhir. maka diberi nama Kadipaten Lumajang. Hal ini dibuktikan bahwa di sebelah barat kota Tuban terdapat daerah yang bernama Jenu. dan selanjutnya kita kenal dengan nama Kabupaten Tuban. Versi lain mengenai nama Tuban ini dapat kita lihat dalam buku Hari Jadi Tuban (1986:14) sebagai berikut: 1. Sesampai di Tuban. maka harta kekayaan Majapahit dipindahkan ke Demak. Menurutnya.ayahandanya di Gumenggeng karena cita-citanya yang mulia dan luhur tidak akan terlaksana. Prawiroatmojo diartikan sebagai air lata atau bisa berarti air terjun. . kata Jenu dan Tubo memiliki arti yang tidak jauh berbeda.” 3. Raden Aryo Dhandang Miring harus membuka areal hutan sendiri yang terletak di arah barat laut Gumenggeng. 2. Menurut pendapat Drs. Kata Jeram dalam Bau Sastra Djawa-Indonesia karangan S. 202). Soekarto (dalam Hari Jadi Tuban. Raden Aryo Dhandang Miring memerintah Kadipaten Lumajang selama ± 20 tahun. tatkala itu Raden ARYA DANDANG WACANA sedang membuka tanah yang masih berupa hutan bambu yang bernama Papringan.

sedang bentuk phisik kotanya hampir tidak disinggung sama sekali. Sesudah abad ke 16 itu memang pantai Tuban menjadi dangkal oleh endapan lumpur. SEJARAH DAN LEGENDA Nama ‘Tuban’ berasal dari sebuah sumber air tawar yang ditemukan di tempat tersebut2. yang pada th. Keadaan geografis seperti ini membuat kota Tuban dalam perjalanan sejarah selanjutnya sudah tidak menjadi kota pelabuhan yang penting lagi (Graaf. . Kota pelabuhan utama di pantai Utara Jawa yang kaya dan banyak penduduk Tionghoanya. waktu diadakan latihan Senenan (Gambar 1). Selain itu juga terdapat gambar dari alun-alun Tuban10 pada abad ke 16.1368-1644 ). Tapi buku tersebut lebih memuat tentang masalah pemerintahan serta pergantian penguasa di Tuban. Dulunya Tuban bernama Kambang Putih4. Peristiwa ini membuat orang menamakannya ‘me(tu) (ban)yu” (keluar air).TUBAN. Tuban disebut sebagai salah satu yang diteliti oleh De Graaf. Dalam berita itu disebutkan bahwa orang Belanda terkesan sekali oleh kemegahan Keraton Tuban (Graaf. Berita catatan tentang bentuk phisik kota Tuban secara samar-samar didapat dari berita kapal Belanda yang mendarat di Tuban yang dipimpin oleh Laksamana muda Van Warwijck (Tweede Schipvaert) pada bulan Januari th. 1292 datang menyerang Jawa bagian Timur (kejadian yang menyebabkan berdirinya kerajaan Majapahit) mendarat di pantai Tuban.Jawa untuk kembali ke negaranya6 (Graaf. Orang Cina menyebut Tuban dengan nama Duban atau nama lainnya adalah Chumin. 1985:163). Dari sana pulalah sisa-sisa tentaranya kemudian meninggalkan P. disebut sebagai salah satu sumber sejarah Tuban. 1985:164). 1985:170). Pasukan Cina-Mongolia (tentara Tatar). 1599. Tapi sejak abad ke 15 dan 16 kapal-kapal dagang yang berukuran sedang saja sudah terpaksa membuang sauh di laut yang cukup jauh dari garis pantai. Sudah sejak abad ke-11 sampai 15 dalam berita-berita para penulis China (pada jaman dinasti Song Selatan 1127-1279 dan dinasti Yuan (Mongol) 1271-1368 sampai jaman dinasti Ming th. Sehingga tempat tersebut kemudian dinamakan Tuban3.