You are on page 1of 30

TBC

A. Konsep Dasar Penyakit
1.

Pengertian Tuberkulosis
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi paru yang disebabkan oleh
Mycrobacterium Tuberkulosis (Sylvia A. Price, 1996 : 753). Tuberkulosis paru
adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycrobacterium Tuberkulosis
dengan gejala yang sangat bervariasi (Arief Masjoer, 1999 : 472).
Tuberkulosis paru adalah infeksi saluran nafas bawah yang disebabkan
oleh Mycrobacterium Tuberkulosis yang dapat ditularkan melalui droplet
orang

keorang,

mengkolonisasi

bronkhiolus

atau

alveoulus

(Elizabeth J. Corwin, 2000 : 414).
Penulis menarik kesimpulan bahwa Tuberkulosis paru adalah suatu
penyakit

menular

akibat

terinfeksinya

paru

oleh

Mycrobacterium

Tuberkulosis.

2.

Etiologi Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru disebabkan oleh Mycrobacterium Tuberkulosis yang
berbentuk kuman batang tahan asam yang dapat ditularkan melalui inhalasi
percikan ludah (dropet) orang ke orang, mengkolonisasi bronkhiolus atau
alveolus

Jenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 4 m
dan tebal antara 0,3 – 0,6 m. Sebagian besar kuman berupa lemak/lipid
sehingga kuman ini tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap fisik dan
kimiawi. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai daerah yang
banyak oksigen, dalam hal ini lebih menyenangi daerah yang tinggi
kandungan oksigennya yaitu daerah apikal paru, daerah ini menjadi prediksi
pada penyakit paru (Elizabeth J. Corwin, 2000 : 415).
3.

Tanda dan gejala Paru
a. Keluhan :
Yang dirasakan penderita tuberculosis dapat bermacam-macam atau
malah tidak tampak keluhan sama sekali. Tanda dan gejalanya adalah :
1) Demam
Biasanya subfebris menyerupai demam influensa kadang-kadang
panas badan dapat mencapai 40-410 C. demam ini hilang timbul,
sehingga penderita merasa tidak pernah terbebas dari serangan
influensa.
2) Batuk
Gejala paling sering ditemukan batuk terjadi karena iritasi pada
bronkus. Batuk-batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk
radang keluar, sifat batuk dimulai dari batuk kering (Non-produktif)
kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan

sputum). Keadaan yang lanjut berupa batuk darah karena terdapat
pembuluh darah yang pecah.
3) Sesak nafas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak
nafas karena sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah
lanjut.
4) Nyeri dada
Gejala ini agak jarang ditemukan, nyeri dada timbul bila influensa
radang sudah sampai pleura sehingga menumbulkan pleuritis.
5) Malaise
Penyakit tuberculosis bersifat radang yang menahun, gejala
malaise sering ditemukan berupa anoreksia, badan makin kurus (berat
badan turun) sakit kepala, panas dingin, nyeri otot dan keringat malam.
Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul
secara tidak teratur.
b. Pemeriksaan fisik
Kelainan jasmani yang mungkin didapat antara lain :
1) Tanda tanda adanya infiltrat atau konsolidasi, terdapat premitus (getaran
dada) mengeras, perkusi redup, suara nafas bronchial dengan atau tanpa
ronchi.
2) Tanda-tanda penarikan paru, diafragma, mediastinum atau pleura dada
asimetris.

3) LED meningkat terutama pada fase akut. Patofisologi Tuberkulosis Paru a.c. Pemeriksaan Radiologi Karakteristik radiologi yang menunjang diagnosis antara lain : 1) Bayangan lesi radiologi yang terletak lapangan atas paru. 2) Leukositosis ringan dengan predominasi limfosit. TB paru . 5) Bayangan milier e. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan darah tepi umumnya memperlihatkan adanya : 1) Anemia terutama penyakit berjalan menahun. Pemeriksaan Sputum (Dahak) Ditemukan kuman mycobacterium tuberculosis dari dahak penderita f. Uji tuberkulin positif terutama pada anak. sedang pada orang dewasa kurang bernilai.Uji Tuberkulin g. 4) Bayangan menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu. 4. 2) Bayangan yang berawan atau bercak. 3) Kelainan yang bilateral. d.

kelainan foto toraks menyokong TB. Pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai. 2001 : 473) 5. Patofisologi Tuberkulosis Paru . dan gejala klinis sesuai TB. Kelompok ini tidak perlu diobati. Bekas TB (tidak sakit) Ada riwayat TB pada pasien di masa lalu dengan atau tanpa pengobatan atau gambaran rontgen normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan septum BTA (-). b.1) BTA mikroskopis langsung (+) atau biakan (+). TB Paru tersangka Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA didapat (paling lambat 3 bulan). 2) BTA mikroskopis langsung atau biakan (-). Pasien dengan BTA mikroskopis langsung (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum lengkap. tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti TB (initial therapy) pasien golongan ini memerlukan pengobatan yang adekuat. tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB Paru. c. (Kapita Selekta.

gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkhus dan tidak menyebabkan penyakit. Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atas paru-paru atau bagian atas lobus bawah. (Silvia A. Kebanyakan infeksi Tuberkulosis terjadi melalui udara (air bone). Price. Basil tuberkel yang mencapai permukaan aslveolus biasanya diinhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil. yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Leukosit tampak pada empat tersebut dan memafagosit bakteri namun tidak membunuh organisme tersebut. 1998 : 753-754). Lesi primer paru-paru dinamakan fokus Ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening reginal dan lesi primer dinamakan komplkes Ghon. melibatkan makrofag yang diaktifkan di tempat infeksi oleh limfositnya. saluran pencernaan. dan luka terbuka pada kulit. Kerusakan pada paru akibat infeksi disebabkan oleh basil serta reaksi imun dan peradangan yang hebat. sedangkan limfosit (biasanya sel T) adalah sel imunoresponsifnya. Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Respon ini tersebut reaksi hipersensitivitas (lambat).Tempat masuk kuman Mycrobakterium Tuberkulosis adalah saluran pernafasan. Edema interestisial dan pembentukan . Sel efektornya adalah makrofag. basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan.

(Silvia A. dan mungkin tidak akan pernah muncul apabila tidak terjadi infeksi. Pembentukan jaringan parut dan tuberkel juga mengurangi luas permukaan paru yang tersedia untuk difusi gas sehingga kapasitas difusi gas menurun. (Elizabeth J. tetapi secara uji tes tuberkulin positif. Jaringan parut dapat menyebabkan penurunan compliance paru. berat badan menurun (Suryadi. Price. demam pagi hari. Manifestasi Klinik Tuberkulosis Paru Awal penyakit Tuberkulosis Paru dapat diketahui secara klinis. Corwin. 416). 754). 1998 . Gambaran klinis Tuberkulosis mungkin belum muncul pada infeksi awal. keringat pada amlam hari. Apabila penyakitnya cukup luas dapat menimbulkan vasokontriksi hipoksik arterior paru dan hipertensi paru. Gejala awalnya : Batuk yang hilang timbul.jaringan parut permanen di alveolus meningkatkan jarak untuk difusi oksigen dan karbon dioksida sehingga pertukaran gas menurun. 6. Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang dapat menyebabkan tuberkulosis milier. Pembentukan jaringan parut dan tuberkel juga mengurangi luas permukaan paru yang tersedia untuk difusi gas sehingga kapasitas difusi gas menurun. 2001 : 288). pasien biasanya memperlihatkan : batuk produktif disertai . malaise. Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak mikroorganisme masuk ke dalam vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh. anoreksia. Apabil timbul infeksi aktif. tanpa keluhan. 2000 .

Manajemen Medik Tuberkulosis Paru Pengobatan untuk individu dengan Tuberkulosis aktif memerlukan waktu yang lama karena hasil resisten terhadap bagian besar antibiotik dan cepat bermutasi apabila terpajan antibiotik semula masih efektif. 8. 1998 . 416). anorexia. selama enam sampai dengan sembilan bulan untuk membantu respon imun (Elizabeth J. Penderita Tuberkulosis dengan gejala klinis minimal harus mendapatkan dua obat untuk mencegah timbulnya basil yang resisten terhadap obat. demam biasanya pada malam hari. gejala flu. Individu yang memperlihatkan tes tuberkulin positif setelah sebelumnya negatif biasanya mendapatkan antibiotik. 1999 : 472). 750). Kombinasi obat-obat pilihan yaitu isoniazid. Gejala utama Tuberkulosis adalah batuk lebih dari empat minggu dengan atau tanpa sputum. demam derajat rendah. 2000 : 416). Tetapi untuk pasien yang terinfeksi aktif yaitu kombinasi empat obat yang berlangsung sembilan bulan dan biasanya lebih lama. malaise. nyeri dada dan batuk darah (Arief Mansjoer.nyeri dada. keringat malam. Price. Corwin. malaise. Komplikasi TB Paru . 7. sthambutol dan rifamficin serta streotomicin (Sylvia A. (Elizabeth J. 2000 . Corwin.

Komplikasi dini : a. Komplikasi dibagi dua yaitu komplikasi dini dan komplikasi lanjut. Karsinoma paru b.Penyakit TB Paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi. Efusi pleura c. Amiloidosis c. Tujuan pemberian OAT antara lain : 6) Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan bakterisid. Pleuritis b. 9. Penatalaksanaan TB Paru a. Obat anti TB (OAT) OAT harus diberikan dalam kombinsai sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga. Gagal nafas d. . Kerukan parenkin berat  Kor Pulmonal. Laringitis d. Empiema Komplikasi lanjut : a.

2) Fase lanjutan. dengan kegiatan bakterisid untuk memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat. rifamisin (R). Kesembuhan TB Paru yang baik akan memperlihatkan sputum BTA (-). pirazinamid (Z) dan streptomisin (S) yang bersifat bakterisid dan etambutol (E) yang bersifat bakteriostatis. adanya perbaikan radiologi dan menghilangnya gejala. . radiologi dan klinis. OAT yang bisa digunakan antara lain isoniazid (INH). Maka pengobatan TB dapat dilakukan melalui dua fase yaitu : 1) Fase awal intensif. melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau kegiatan bakteriostotik pada pengobatan konvensional. 8) Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis.7) Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi. Penilaian keberhasilan pengobatan didasarkan pada hasil pemeriksaan bakteriologi.

3 g Etambutol 15-30 mg/kg maks. 600 mg Pirazinamid 15-30 mg/kg maks 2 g 50-70 mg/kg maks.5 g 25-30 mg/kg maks 1 g OBAT Keterangan : Etambutol tidak dianjurkan untuk anak-anak < 6 tahun.5 g 50 mg. Sumber : Kapitas Selekta Kedokteran. 300 mg 15 mg/kg maks. .Kambuh BTA (+) . 600 mg 10 mg/kg maks.2 Dosis Obat Anti TB Paru SETIAP HARI DOSIS DUA KALI/MINGGU TIGA KALI/MINGGU Isoniazid 5 mg/kg maks.1 Panduan Obat TB Paru Panduan OAT Klarifikasi & tipe penderita BTA (+) baru Sakit berat : BTA (-) luar paru Kategori 1 - Kategori 2 Pengobatan ulang : .Gagal Kategori 3 Keterangan : - TB Paru BTA (+) TB Luar Paru Fase Awal Fase Lanjutan 2 HRZS(E) 2 RHZS(E) 4 RH 4 R3H3 2 RHZES/1 RHZE 2 RHZES/1 RHZE 5 RHE 5 R3H3E3 2 RHZ 2 RHZ/2 R3H3Z3 4 RH 4 R3H3 2HRZ = tiap hari selam 2 bulan 4RH = tiap hari selama 4 bulan 4H3R3 = tiga kali seminggu selama 4 bulan Sumber : Kapita Selekta Kedoteran Tabel 2.Tabel 2. karena gangguan penglihatan sulit dipantau (kecuali jika kuman penyebabnya resisten terhadap obat TB lainnya). 900 mg 15 mg/kg maks. 1 g 25-30 mg/kg maks 1. 900 mg Rifamisin 10 mg/kg maks.kg 25-30 mg/kg Streptomisin 15 mg/kg maks. 600 mg 10 mg/kg maks. 4 g 50-70 mg/kg maks. 2.

pengobatan dengan kategori – 1 harus dihentikan. Setelah fase awal / intensif diselesaikan harus diperiksa dua spesimen dahak untuk melihat terjadinya konvensi. fase intensif dilanjutkan 1 bulan lagi. Jika hasil BTA positif.b. c. Penatalaksanaan TB Paru di Rumah 1) Pencegahan penularan Tindakan pencegahan penularan yang dapat dilakukan oleh keluarga dengan TB Paru adalah : a) Menutup mulut b) Membuang ludah atau dahak pada wadah tertutup yang telah disediakan. misalnya kaleng yang telah diisi dengan cairan lisol atau pasir. Bila BTA negatif dilanjutkan dengan fase lanjutan. . Diet pada TB paru Untuk penatalaksanaan ini diberikan therapy diet TKTP I dan TKTP II. Bila BTA positif. Tujuan dari diet TKTP adalah untuk memberikan makan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan kalori dan protein yang bertambah guna mengurangi kerusakan dengan tubuh atau guna menambah berat badan hingga mencapai berat badan normal. c) Memeriksakan anggota keluarga. lainnya apakah juga terkena penularan TB Paru. d. Pemantauan kemajuan pengobatan dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak.

Dampak Resiko Tinggi TB Paru a. 3) Fungsi Pengontrol Anggota keluarga yang terkena TB paru menuntut perhatian dari yang lain sehingga perhatian tertuju pada anggota yang sakit. akibatnya perhatian terhadap anggota keluarga lainnya berkurang. 4) Fungsi Ekonomi Anggota keluarga yang terkena TB paru memerlukan pembiayaan dalam pengobatan dan pemeriksaan. e) Memisahkan alat makan dan minum penderita TB Paru. Keluarga TB Paru berdampak pada fungsi keluarga sebagai berikut : 1) Fungsi Efektif Keluarga akan merasa cemas dan bingung karena kondisi anggota keluarga yang dalam keadaan sakit. sehingga menuntut anggota keluarga yang lain untuk menambah penghasilan keluarga . 10. 2) Fungsi Sosial Penyakit TB Paru pada salah satu anggota keluarga mengakibatkan gangguan sosial dalam individu sendiri. sehingga individu cenderung menarik diri dan kehilangan harga dirinya.d) Makan makanan yang bergizi. sehingga berusaha mencari pertolongan dan perlindungan untuk mengatasi rasa cemasnya.

Keluarga resiko tinggi TB Paru harus dapat mengenal . Pengaruh terhadap tugas keluarga 1) Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit terutama pada penderita TB Paru akan terjadi penurunan fisik sehingga anggota keluarga yang lain harus memberikan perawatan semaksimal mungkin. hal ini erat kaitannya dengan fungsi keluarga sebagai fungsi ekonomi karena fungsi fisik akan optimal jika ada sarana yang tersedia dan untuk mendapatkannya maka fungsi ekonomi keluarga harus terpenuhi.5) Fungsi Fisik Keluarga berfungsi untuk memenuhi seluruh kebutuhan fisik anggota. 6) Fungsi Spiritual Pengobatan TB Paru yang lama dan memungkinkan keluarga menjadi tidak sabar untuk menjalaninya sehingga kemungkinan kurang menyadari pentingnya berdo’a untuk kesembuhan penyakitnya b. 3) Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarganya. Bila ada yang sakit maka pemenuhan kebutuhan fisiknya akan terganggu. 2) Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan sangat menunjang pada kepribadian anggota keluarga resiko tinggi TB Paru.

1. 1998 . Allen. Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi yang sistematis .dan dipahami masalah kesehatannya. 5) Mempertahankan hubungan timbal balik antar keluarga dan lembaga kesehatan lain. perencanaan. Penderita penyakit TB Paru membutuhkan pengobatan yang lama dan teratur sehingga harus tercipta hubungan timbal balik antara keluarga dengan petugas kesehatan dalam usaha memecahkan masalah kesehatan. a. implementasi dan evaluasi. 21). Pengkajian Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam mengumpulkan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam. B. 2001 . (Carol V. 17). diagnosa keperawatan. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Dasar Keperawatan adalah suatu metoda yang sistematis untuk mengkaji respon manusia terhadap masalah-masalah kesehatan dan membuat rencana keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah itu melalui penerapan lima tahap proses keperawatan yaitu pengkajian. 4) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi resiko tinggi anggota keluarga penderita TB Paru.

berat badan menurun (Elizabeth J. emam. 753). b) Riwayat Kesehatan Sekarang Biasanya pada klien Tuberkulosis Paru akan ditemukan gejala batuk yang hilang timbul. batuk produktif atau tidak produktif (Marlylinn Doenges. status perkawinan dan nomor keamanan sosial (Brenda Goodner. 1999 . 252). jenis kelamin. 1994 . . umur. suku bangsa. 241). c) Riwayat Kesehatan Dahulu Pengkajian data riwayat kesehatan dahulu sangat penting untuk mengetahui apakah klien pernah terpapar oleh penderita yang terinfeksi Tuberkulosis ? (Sylvia A. pekerjaan. orang terdekat. keluarga. 1998 .tentang klien termasuk kekuatan dan kelemahan klien. sesak nafas. agama. Data diperoleh dari klien. 2) Riwayat Kesehatan a) Keluhan Utama Pada klien dengan gangguan sistem pernafasan mengeluh sesak nafas. 416). Corwin. hilang nafsu makan. 2001 . 1) Biodata Data identitas klien meliputi nama. masyarakat dan rekam medik. Malaise. Price.

berat badan menurun. (Marilynnn Doenges. bronkhial. b) Pola eliminasi .d) Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah didalam keluarga klien ada anggota keluarga yang menderita penyakit gangguan sistem pernafasan atau penyakit Tuberkulosis ? e) Kebiasaan Hidup Apakah klien mempunyai kebiasaan merokok atau minum alkohol ? 3) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik digunakan untuk memperoleh data objektif yang dilakukan dengan cara inspeksi. Tanda-tanda yang dapat ditemukan : Peningkatan frekuensi pernafasan. ronkhi basah. ada penarikan otot-otot pernafasan. 240). Tetapi difokuskan pada sistem pernafasan. anoreksia. 1999 . 4) Data Biolgis a) Pola nutrisi dan cairan yang ditandai dengan kehilangan nafsu makan. sekret disaluraan pernafasan. tanda-tanda redup. auskultasi. (Arief Mansjoer. palpasi dan perkusi secara menyeluruh atau head to toe dengan melakukan pendekatan pengkajian sistem tubuh. 1999 . suara krekles karena adanya kavitas yang berlangsung pada bronchus. turgor kulit buruk. 472).

240). 416) pemeriksaan diagnostik yang dilakukan yaitu . 2000 . 240). 6) Data Sosial Apakah ada perasaan terisolisasi karena penyakit menular ? (Marilynn Doenges. 7) Data Spiritual Data spiritual meliputi bagaimana keyakinan klien tentang penyakitnya. 8) Pemeriksaan Diagnostik Menurut (Elizabeth J. atau berkeringat (Marilynn Doenges. 1999 . perasaan tidak berdaya. S240). 1995). a) Uji kulit positif untuk tuberkulosis memperlihatkan imunitas seluler dan membuktikan bahwa saluran nafas bawah pernah terpajan basil. cemas mudah terangsang ? (Marrilyn Doenges. .c) Pola istirahat dan tidur. (Marilynn Doenges. 5) Data Psikologis Apakah ada faktor stress lama. adanya kesulitan tidur malam hari karena demam. 1999 . Corwin. takut. d) Pola personal hygiene e) Pola aktivitas sehari-hari yang ditandai dengan keletihan dan kelemahan otot. 1999 . 1999 . 240). bagaimana hubungan klien dengan Tuhannya ? (Nasrul Efendy. mengigil.

kelainan foto toraks menyokong TB. d) Pemeriksaan laboratorium darah adanya peningkatan lekosit dan laju endap darah dari nilai normal. Pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai.b) Biarkan sputum dari pasien dengan infeksi aktif akan memperlihatkan basil. . Pasien dengan BTA mikroskopis langsung (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum lengkap. tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB Paru. (2) TB Paru tersangka Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA didapat (paling lambat 3 bulan). (b) BTA mikroskopis langsung atau biakan (-). c) Pemeriksaan sinar X akan memperlihatkan tuberkel lama dan paru. e) Klasifikasi (1) TB Paru (a) BTA mikroskopis langsung (+) atau biakan (+). tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti TB (initial therapy) pasien golongan ini memerlukan pengobatan yang adekuat. dan gejala klinis sesuai TB.

Corwin. Pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai. Doenges. 1999 . 416) Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada penderita Tuberkulosis yaitu : a) Kultur sputum positif untuk Tuberkulosis aktif b) Ziehl Neelsen postif untuk basil asam cepat c) Tes Tuberkulin reaksi positif menunjukan penyakit aktif d) Foto thorak dapat menunjukan infiltrasi lesi awal pada area paru atas.(3) Bekas TB (tidak sakit) Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA didapat (paling lambat 3 bulan). 2001 : 473) dan (Elizabeth J. . (Marilynn E. tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB Paru. 241-242. Pasien dengan BTA mikroskopis langsung (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum lengkap. berat dan kerusakan paru. gambaran foto yang menunjang diagnosis : a) Bayangan lesi terletak pada lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah. e) Pemeriksaan analisa gas darah dapat normal tergantung lokasi. 2000 .) Pada foto thorak lateral. (Kapita Selekta.

b) Bayangan berawan atau bercak c) Adanya kavitas tunggal atau ganda d) Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu e) Pada awal penyakit berupa bercak-bercak seperti awan dengan batas yang tidak tegas. cairan. 24). integritas ego. Menurut Arief Mansjoer (1999 . Masalah yang ditemukan pada klien Tuberkulosis yaitu aktivitas dan istirahat. 240). 1995 . 1998 . Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu peryataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan . 472) b. pernafasan dan penyuluhan (Marilynn E. Analisa Data Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep teori dan prinsip yang relavan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien (Nasrul Efendy. pada yang lebih lanjut bercak-bercak seperti awan menjadi lebih tegas. Doenges. nutrisi. 2.

mencegah dan merubah. membatasi. Diagnosa I pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan pada alveolus Intervensi : 1) Kaji dan pantau frekuensi serta kualitas pernafasan 2) Kaji warna kulit. 2001 . d. Gangguan pertukatan gas berhubungan dengan kerusakan pada alveolus b. cara perawatan dan pencegahan (Marilynn E. penetuan tujuan. Doenges. Resiko tinggi penyebaran infeksi sekunder berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi. 3. pelaksanan dan cara atau strategi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan meningkatnya metabolisme dan penurunan nafsu makan c. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. Diagnosa yang mucul pada pasien Tuberkulosis paru yaitu : a. identifikasi masalah. 41). a. 1998 . 242-244). Perencanaan Rencana asuhan keperawatan adalah pengkajian yang sistematis. penggunaan otot aksesoris pernafasan .memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan. (Nursalam. menurunkan.

anoreksia dan dispneu. Diagnosa II nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan keletihan. 4) Baringkan posisi semi fowler untuk mengoptimalkan fungsi paru 5) Pantau pemeriksaan gas darah.3) Auskultasi bunyi nafas. 1998 . Intervensi : 1) Dapatkan berat badan saat masuk dan pantau setiap hari 2) Kaji status nutirisi 3) Intake dan output makanan 4) Pertahankan diit tinggi kalori. b. 256). krekles. laporkan tanda kemajuan hipoksemia 6) Berikan terapi oksigen sesuai indikasi 7) Pantau hasil pemeriksaan rongga dada 8) Bantu dan ajarkan teknik nafas dalam dan batuk efektif 9) Berikan vaso dilator sesuai indikasi Keriteria hasil : 1) Pasien mempertahankan pertukaran gas adekuat 2) Gas darah dalam batas yang dapat diterima 3) Bunyi paru menunjukan peningkatan (Tuker et al. catat peningkatan atau penurunan ronchi. tinggi protein dengan makan sedikitsedikit tapi sering 5) Atur posisi semi fowler saat makan untuk mengurangi dispnoe .

. 1998 . 258-259) c. Diagnosa III kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi Intervensi : 1) Kaji tingkat pengetahuan mengenai proses penyakit. kecemasan dan salah persepsi 2) Jelaskan sifat penyakit. 1998 . tujuan perawatan dan tujuan pengobatan serta prosedur pengobatan. 258).6) Dorong untuk istirahat sebelum makan untuk mengurangi kelelahan 7) Berikan makan dalam porsi kecil tapi sering 8) Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan 9) Pantau adanya anoreksi. mual dan muntah Kriteria hasil : 1) Pasien akan mempertahankan status nutrisi yang adekuat 2) Berat badan tetap stabil dalam batasan normal (Tucker et al. cara perawatan. Kriteria hasil : 1) Klien memperlihatkan peningkatan tingkat pengetahuan mengenai perawatan diri. 2) Mengetahui penatalaksanaan perawatan diri (Tucker et al.

Intervensi : 1) Diskusikan tentang pentingnya mempertahankan isolasi pernapasan. Kriteria hasil : 1) Pasien mengalami penurunan resiko untuk menularkan penyakit kepada orang lain. Membuang tisu dengan tepat. 2) Ajarkan pasien agar batuk atau bersin tertutup. Diagnosa IV resiko tinggi penyebaran berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi. 256) 4. menggunakan masker bila tidak mampu melakukan instruksi. cara perawatan dan cara pencegahan infeksi sekunder. Implementasi . membuang dahak ditempat yang tertutup. 1998 .d. 3) Jelaskan pentingnya perawatan rawat jalan 4) Jelaskan apabila timbul kembali 5) Jelaskan tentang pentinya untuk tidak mengehentikan obat-obatan anti Tuberkulosis sampai diinstruksikan oleh dokter. hindari kontak langsung dengan sputum sampai tingkat pengobatan selesai. memalingkan kepala saat bersin dan batuk. 2) Penyebaran infeksi tidak terjadi (Tucker et al.

adalah pentalaksaan tindakan yang telah . 2001 . pencegahan penyakit. 63) 5. Catatan Perkembangan Catatan perkembangan adalah pencatatan pasien yang berisi hasil dari tindakan yang telah dievaluasi dan telah dilaksanakan sesuai intervensi yang direncanakan. I : Implementasi direncanakan. A : Assesment adalah analisa mengenai masalah pasien P : Planning adalah rencana tindakan yang disesuaikan dengan massalah klien. rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam. 2001). yang mencakup peningkatan kesehatan. (Nursalam. Keterangan: S : Subjektif adalah informasi yang didapat dari klien O : Objektif adalah informasi yang didapat berdasarkan pengamatan dan pemeriksaan fisik.Implementasi adalah inisiatif untuk melakukan tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik dan membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Catatan ini berisi data dan topik masalah informasi yang dicatatat dalam SOAPIER. 6. Evaluasi Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan.

LAPORAN PENDAHULUAN TB PARU Disusun Oleh : . 1995).E : Evalution adalah penilaian dari tindakan yang telah dilakukan R : Reassesment adalah mengkaji ulang tindakan yang belum tercapai (Nasrul Efendy.

YANI CIMAHI 2014 KUMPULAN TUGAS PRAKTIK KEPERAWATAN ANAK DI RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG GELOMBANG 1 KEPERAWAATAN ANAK TANGGAL 3 DESEMBER 2013 – 11 JANUARI 2014 .RIANDI ALFIN NIM 214113055 PROGRAM STUDY PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDRAL A.

YANI CIMAHI 2014 DAILLY REPORT KEPERAWATAN ANAK RSUP DR HASAN SADIKIN BANDUNG Disusun Oleh : .Disusun Oleh : RIANDI ALFIN NIM 214113055 PROGRAM STUDY PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDRAL A.

RIANDI ALFIN NIM 214113055 PROGRAM STUDY PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDRAL A.YANI CIMAHI 2014 .