You are on page 1of 2

Problematika Pembelajaran Matematika SD

Diposkan oleh Abdul Azis . 21 Mei, 2009
Label: Problematika Pembelajaran Matematika SD

Matematika Kelas Rendah
Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, penegtahuan, kepribadian, akhlak
mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (Mansur,
2007:29). Salah satu komponen untuk mencapai tujuan tersebut adalah pembelajaran matematika
tingkat sekolah dasar.
Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk susunan, besaran dan konsep-konsep
yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam jumlahnya terbagi dalam tiga bidang, yaitu
aljabar, analisis dan geometri.
Matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak sehingga dituntut kemampuan yang
besrsifat abstrak sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang
tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa (H.W. Fowlwer dalam Pandoyo,1997:1).
Untuk itu, diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk
mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
Pembelajaran matematika yang hanya menekankan pada pemerolehan informasi sebagai
kumpulan pengetahuan sebelumnya merupakan pandangan kaum behavioristik. Menurut kaum
behavioris, pengetahuan itu pengumpulan secara pasif dari subyek dan obyek yang diperkuat
oleh lingkungannya (Bettencourt dalam Suparno, 1997:62).
Berbeda dengan behaviorisme, konstruktivisme beranggapan pengalaman adalah hasil konstruksi
manusia melalui interaksi mereka dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka
(Suparno, 1997:28). Menurut konstruktivisme seorang harus menentukan dan mengkonstruk
pengetahuannya sendiri secara aktif. Bila behaviorisme menekankan ketrampilan sebagai tujuan
pengajaran, konstruktivisme lebih menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang
mendalam (Suparno, 1997:59).
Pembelajaran matematika yang terjadi selama ini adalah pembelajaran yang hanya menekan
pada perolehan hasil dan mengabaikan pada proses. Sehingga siswa mengalami kesulitan dalam
mengerjakan dalam bentuk soal yang lain. Akibat dari pembelajaran yang hanya menekankan
hasil adalah hasil yang dicapai tidak tahan lama atau anak akan mudah lupa pada materi
pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
Salah satu permasalahan yang terjadi di Pembelajaran Matematika kelas rendah adalah operasi
hitung yang bilangan pengurangya mengandung angka yang lebih besar. Misalnya 31 – 19 = …

Menggunakan media benda kongkret. 4. . 3. misalnya menggunakan kelereng. Pembelajaran yang kontekstual antara lain menggunakan soal cerita. Hal lain yang penting dalam pembelajaran matematika adalah mengkaitkan materi pembelajaran dengan lingkungan sekitar siswa atau lebih dikenal dengan pembelajaran kontekstual (Contekstual Learning). 5. Dengan demikian anak dapat menggunakan operasi hitung dalam kehupan sehari-hari. Menentukan hasil bilangan secara bersusun. Bermain peran. Menurut Peget pada usia siswa SD kelas rendah perkembangan intelektualnya pada tahap operasional kongkrit. buah-buahan dan lainnya. media. Oleh : Abdul Azis. yang pengembangan pemikirannya secara logis. 2. guru SDN Andonosari IV Kec. biji-bijian. Menentukan hasil pengurangan dengan cara panjang. Tutur Kab. 6. Menggunakan model pembelajaran STAD (Student Team Achiefment Devision). Soal cerita dibuat dengan menggunakan lingkungan sekitar sebagai obyek dalam mebuat soal cerita. Dengan pembelajaran pengurangan menggunakan media kongkrit ini anak tahu proses pengurangan secara lebih bermakna. kerang. Pasuruan. daerah penggunungan menggunakan buah-buahan dan sayuran. Dalam tahapan pemikiran kongkrit ini proses pembelajarannya memerkun media benda-benda yang kongkrit. Mengapa menggunakan media yang konkret untuk penaman konsep pengurangan? Sebab dalam usia siswa SD kelas rendah (7-9 tahun) tahap pemikiran anak adalah tahap pemikiran konkrit. Misalnya daerah panta menngunaka soal cerita menggunakan ikan. 1.Untuk memecahkan problematika pembelajaran tersebut maka guru perlu menggunakan. Menggunakan gambar benda kongkrit. dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi yang digunakan dalam pembelajaran. Secara lebih rinci untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah sebagai berikut. Melambangkan nilai bilangan dengan gambar benda kongkrit sehingga siswa dapat melakukan operasi matematika yang mengandung bilangan pengurang yang lebih besar.