You are on page 1of 13

1

EFEKTIVITAS MIDAZOLAM UNTUK PENCEGAHAN MUAL


MUNTAH PASCABEDAH PADA PROSEDUR LAPARASKOPI
THE EFFECTIVENNESS OF THE MIDAZOLAM FOR
PREVENTION OF POSTOPERATIVE NAUSEA VOMITING ON
LAPARASCOPIC PROCEDURES

Jamiludin1, Syafruddin Gaus1, Muhammad Ramli Ahmad1,


Ilhamjaya Patellongi2, Syafri Kamsul Arif 1
Bagian Anestesiologi, Perawatan Intensif dan Manajemen Nyeri, Fakultas
Kedokteran,Universitas Hasanuddin, Makassar
2
Bagian Ilmu Faal Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar
1

Alamat korespondensi:
dr. Jamiludin
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin
Makassar, 90245
HP: 08152552925
E-mail: jamiluddin81@gmail.com

Abstrak
Seluruh pasien yang menjalani pembedahan beresiko untuk mengalami mual dan muntah
pascabedah (PONV). Berbagai obat dengan mekanisme kerja berbeda, baik menggunakan agen
tunggal atau kombinasi obat yang berbeda, telah digunakan untuk mencegah dan mengatasi
terjadinya PONV ini. Mekanisme dari midazolam yang bekerja sebagai anti emetik secara
menyeluruh masih belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tentang
efektivitas pemberian midazolam 35 g/kgBB intravena dibandingkan dengan ondansetron 4 mg
intravena sebagai pencegahan mual muntah pascabedah. Penelitian ini dilakukan pada 48 pasien
dengan ASA PS I dan II yang akan menjalani prosedur pembedahan laparaskopi elektif dengan
prosedur anestesi umum. Subyek penelitian ini dibagi secara acak dalam dua kelompok yaitu
kelompok M yang mendapatkan midazolam 35 g/kgBB dan kelompok O yang mendapatkan
ondansetron 4 mg. Pada penelitian ini tidak terdapat pasien yang di drop out dari penelitian.
Pengamatan skor PONV dan skor sedasi pascabedah di amati selama 8 jam pasca anestesi selama
di ruang pemulihan dan di ruang perawatan. Pengamatan selama di ruang pemulihan dilakukan
selama 2 jam setiap 30 menit sedangkan selama di ruang perawatan dilakukan selama 6 jam
setiap1 jam. Data berupa skor PONV dan skor sedasi dilakukan analisis menggunakan uji Fischer
Exact dan Mann-Whitney U dengan tingkat kepercayaan 95% dan kemaknaan p<0,05. Tidak
didapatkan perbedaan yang bermakna tentang kejadian PONV serta skor sedasi diantara kedua
kelompok midazolam dan ondansetron. Dapat disimpulkan bahwa belum dapat dibuktikan bahwa
midazolam dosis 35 g/kgBB lebih efektif dari ondansetron dosis 4 mg sebagai pencegahan
PONV dan penggunaan midazolam dosis 35 g/kgBB tidak memberikan memanjangnya pulih
sadar pascabedah.
Kata kunci : midazolam, ondansetron, mual muntah pascabedah, skor sedasi.

Abstract
All patients undergoing surgery are at risk for experiencing postoperatif nausea and vomiting
(PONV). Various drugs with different mechanism of action, either by using a single agent or
combination of different drugs, has been used to prevent and overcome the occurrence of PONV.
Mechanism of midazolam that works as an anti emetic is still not known for sure. This research
aims to assess the effectiveness of intravenous midazolam 35 g/kgBW compared with intravenous
ondansetron 4 mg for prevention of postoperatif nausea and vomiting. This research was
conducted on 48 patients with ASA PS I and II which will be undergoing elective laparascopic
surgery with general anesthesia. Subject on this study were divided randomly in two groups, group
M get midazolam 35 g/kgBW and group O get ondansetron 4 mg. In this study there where no
patients undergoing drop out from research. Observation of PONV score and sedation score
postoperatif observed during 8 hours post anesthesia at recovery rooms and rooms care.
Observation at recovery rooms made during 2 hour every 30 menit, while over in rooms care
made during 6 hours every 1 hours. The data in the form of PONV score and sedation score
performed the analysis using Fischer Exact dan Mann-Whitney U test with a confidence level of
95% and the significance of p<0,05. Not obtained meaningful differences about the incident as
well as PONV score and sedation score between both group midazolam and ondansetron. This
research concluded that has yet to be proved that midazolam dose 35 g/kgBW more effective than
ondansetron dose 4 mg as prevention PONV and the use of midazolam dose 35 g/kgBW does not
provide extended recovered unconscious postoperatif.
Key words: midazolam, ondansetron, postoperatif nausea vomiting, sedation score.

PENDAHULUAN
Seluruh pasien yang menjalani pembedahan beresiko untuk mengalami
mual dan muntah pasca bedah (PONV) (Islam dkk., 2004). Didefinisikan sebagai
adanya trias tanda dan gejala, dimana meliputi tidak hanya keluhan fisik seperti
muntah dan retching tetapi juga perasaan subyektif yang tidak menyenangkan
berupa mual yang dirasakan oleh pasien dimana dapat terjadi pada periode dalam
24 jam setelah menjalani pembedahan (Cracken dkk., 2008).
Laparoskopi adalah suatu prosedur pembedahan minimal invasif yang
memungkinkan akses endoskopik ke dalam rongga peritoneum setelah insuflasi
gas karbon dioksida (CO2) (Gerges dkk., 2006). Insidensi terjadinya PONV
sekitar 53% pada keseluruhan kasus yang menjalani laparaskopi cholecystektomi
(Lichtor dkk., 2008). Pemanjangan durasi pembedahan dan anestesi juga
memberikan andil untuk terjadinya PONV. Selain itu terdapat faktor pasca
pembedahan yang meningkatkan insidensi terjadinya PONV seperti nyeri,
dizzines, ambulasi dan asupan oral lebih awal serta penggunaan opioid
pascabedah (Ali dkk., 2010).
Berbagai obat dengan mekanisme kerja berbeda, telah digunakan untuk
mencegah dan mengatasi terjadinya PONV (Ali dkk., 2010). Midazolam yang
merupakan golongan benzodiazepin, juga telah diteliti untuk pencegahan dan
terapi terjadinya PONV. Mekanisme midazolam yang bekerja sebagai anti emetik
secara menyeluruh masih belum diketahui secara pasti. Anti emetik midazolam
mungkin adalah bekerja pada chemoreseptor trigger zone (CRTZ) dengan
menurunkan sintesis, pelepasan dan efek pasca sinaptik dopamin (Rodola., 2010).
Pada beberapa tahun terakhir, midazolam dilaporkan terbukti efektif
sebagai profilaksis PONV setelah pembedahan strabismus pada pasien pediatrik
(Riad dkk., 2009), pembedahan bypass kardiopulmonar (Sanjay dkk., 2004),
pembedahan abdominal bawah dengan anestesi umum (Safavi dkk., 2009), bedah
myringoplasty (Jang dkk., 2012) dan pada pasien pasca bedah yang mendapat
patient controlled analgesia (PCA) menggunakan fentanyl (Kim dkk., 2012).
Dengan latar belakang diatas dan mengacu pada penelitian sebelumnya
maka peneliti ingin mengevaluasi efektivitas pemberian midazolam 35 g/kgBB

intravena dibandingkan dengan ondansetron 4 mg intravena sebagai pencegahan


PONV pada prosedur laparoskopi.

BAHAN DAN METODE


Lokasi dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan, dari bulan Mei 2013 sampai
dengan bulan Juni 2013 di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Penelitian
ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda (randomized double blind clinical
trial).
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah pasien yang akan menjalani prosedur
pembedahan laparaskopi elektif dengan prosedur anestesi umum inhalasi di RSUP
Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar selama masa penelitian. Sampel penelitian
sebanyak 48 orang yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien yang akan
menjalani prosedur bedah laparoskopi elektif dengan prosedur anestesi umum
inhalasi, usia 18-60 tahun, IMT 18 30, PS ASA 1 dan 2, setuju ikut serta dalam
penelitian dan menandatangani surat persetujuan penelitian serta ada persetujuan
dari dokter primer yang merawat.
Sampel dibagi secara acak menjadi dua kelompok yaitu kelompok
perlakuan ( M ) yaitu kelompok yang mendapatkan midazolam 35 g/kgBB
intravena dan kelompok

kontrol ( O ) yaitu kelompok yang mendapatkan

ondansetron 4 mg intravena.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan

data

dilakukan

setelah

sebelumnya

mendapatkan

rekomendasi persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan FK UNHAS.


Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu oleh peserta PPDS
Anestesiologi FK-UNHAS.
Data pasien mengenai skor PONV diobservasi pada 30 menit (P1), 60
menit (P2), 90 menit (P3), 120 menit (P4) pascabedah di ruang pemulihan, 3 jam
(P5), 4 jam (P6), 5 jam (P7) dan 6 jam (P8) pasca pembedahan di ruang
perawatan. Efek samping berupa perbedaan skor sedasi dinilai pada 30 menit

(P1), 60 menit (P2), 90 menit (P3), 120 menit (P4) pascabedah di ruang
pemulihan. Bila terjadi muntah 2 kali dalam 30 menit atau mual menetap selama
15 menit diberikan anti emetik tambahan berupa ondansetron 4 mg intravena.
Kemudian dilakukan pengumpulan dan analisa data.
Metode Analisis Data
Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan program SPSS 17 for
Windows. Hasil pengolahan data ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik dan
narasi. Karakteristik sampel (umur, berat badan, IMT, lama operasi) dianalisis
menggunakan independent sample t-test sedangkan sebaran jenis kelamin dan
ASA PS dianalisis dengan chi-square. Jumlah pemakaian fentanyl selama operasi
dianalisis dengan menggunakan independent sample t-test. Data berupa skor
PONV dianalisis menggunakan Fischer exact sedangkan komplikasi berupa skor
sedasi dianalisis menggunakan Mann-Whitney U test. Tingkat kemaknaan yang
digunakan adalah 5%, artinya bila p<0,05 maka perbedaan tersebut dinyatakan
bermakna secara statistik, dengan interval kepercayaan 95%.

HASIL
Karakteristik Sampel
Dari 48 pasien yang diikutkan dalam penelitian ini tidak ada pasien yang
dikeluarkan (drop-out) dari penelitian ini. Dari tabel 1 dan 2 dapat dilihat bahwa
tidak didapatkan perbedaan bermakna dari data karakteristik sampel pada kedua
kelompok penelitian.
Jumlah Pemakaian Fentanyl
Hasil analisis statistik tentang jumlah pemakaian fentanyl dapat dilihat
pada Tabel 3. Jumlah pemakaian fentanyl pada kelompok midazolam sebanyak
251,25 57,128 g dan pada kelompok ondansetron 246,67 67,545 g. Dari
hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan yang
bermakna diantara kedua kelompok tersebut dengan nilai p = 0,801 (p>0,05).
Skor PONV
Kejadian mual muntah setelah prosedur pembedahan laparaskopi pada
penelitian ini diukur menggunakan skor PONV. Seperti tampak pada tabel 4,

pengamatan kejadian PONV ini dilakukan dengan interval 30 menit selama di


ruang pemulihan dan setiap 1 jam di ruang perawatan selama 8 jam pascabedah.
Pada penilitian ini, diikuti oleh 48 pasien yang menjalani pembedahan laparaskopi
elektif yang terbagi atas kelompok midazolam sebanyak 24 pasien dan kelompok
ondansetron sebanyak 24 pasien.
Analisa secara stastistik perbandingan skor PONV yang tampak pada tabel
4, dimana pada penilitian ini menggunakan uji Fischer Exact tidak terdapat
perbedaan bermakna tentang perbedaan kejadian PONV yang diukur dengan skor
PONV diantara kelompok midazolam dan kelompok ondansetron dengan hasil
nilai p>0,05 pada semua waktu pengamatan.
Skor Sedasi
Pada penelitian ini diukur menggunakan skor ramsay. Seperti tampak pada
tabel 5, pengamatan sebaran skor sedasi dilakukan dengan interval 30 menit
selama di ruang pemulihan dan diuji menggunakan uji Mann-Whitney U. Pada
penelitian ini, tidak terdapat perbedaan yang bermakna diantara kedua kelompok
dengan hasil p>0,05 pada semua waktu pengamatan.

PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan yang
bermakna secara statistik tentang kejadian skor PONV dan skor sedasi pascabedah
pada aplikasi midazolam dan ondansetron sebagai pencegahan kejadian mual
muntah pasca prosedur laparaskopi.
Mual dengan atau tanpa disertai muntah, dapat menjadi salah satu faktor
penting yang memberikan konstribusi terhadap penundaan discharge pasien pasca
anestesi (Lichtor dkk., 2008). Berbagai faktor independen telah dihubungkan
dengan kejadian PONV itu sendiri. Hal ini dapat dibagi menjadi faktor yang
berkaitan dengan non anestetik, anestetik dan faktor-faktor yang berhubungan
dengan postoperatif (Cracken dkk., 2008).
Obat-obat anestetik seperti golongan opioid merupakan obat yang
mempunyai peranan penting dalam terjadinya mual muntah pascabedah (Apfel
dkk., 2002). Insidens kejadian dari mual muntah pada penggunaan opioid

tampaknya serupa terlepas dari jalur oral, intravena, intramuskular, subkutaneus,


transmukosal, transdermal, intratekal dan epidural. (Coda dkk., 2007). Opioid
yang lain dapat merangsang terjadinya mual dan muntah dengan menstimulasi
langsung CRTZ dan juga meningkatkan sensitifitas sistem vestibular (Apfel dkk.,
2002).
Pusat muntah terletak di medulla oblongata dan terdiri atas formasio
retikuler dan nukleus traktus solitarius bertanggung jawab terhadap kontrol dan
koordinasi mual dan muntah (Jang dkk., 2012). Pusat muntah ini dapat diaktifkan
ketika menerima input aferen dari traktus gastrointestinal, korteks serebral dan
thalamus, sistem vestibuler (terlibat dalam proses motion sickness) dan
Chemoreceptor Trigger Zone (CTRZ) (Kim dkk., 2012)
CRTZ adalah suatu kelompok sel yang terletak dekat dengan area postrema
di dasar ventrikel keempat yang terdiri dari kurang lebih 40 neurotransmiter (Kim
dkk., 2012). Namun hanya beberapa yang memegang peranan penting dalam
terjadinya mual muntah yaitu asetilkolin, histamin, dopamin dan 5-HT3 (5
Hydroxytriptamin).

Penggunaan

setiap

obat

yang

dapat

mengantagonis

neurotransmiter ini akan memberikan efek secara tidak langsung terhadap pusat
muntah untuk mengurangi mual dan muntah (Chandrakantan dkk., 2010).
Laparoskopi adalah suatu prosedur minimal invasif yang memungkinkan
akses endoskopik ke dalam rongga peritoneum setelah insuflasi gas CO2 untuk
menimbulkan ruang antara dinding abdomen anterior dan organ viseral (White
dkk., 2008). Pembedahan laparaskopi diketahui menurunkan morbiditas pasca
pembedahan, akan tetapi insidensi dari mual muntah pasca bedah pada
pembedahan laparaskopi cukup tinggi. Penyebab tingginya kejadian mual muntah
tersebut dapat disebabkan oleh gas yang digunakan untuk insuflasi rongga
abdomen. Insuflasi ini menyebabkan tekanan pada nervus vagus yang memiliki
hubungan dengan pusat muntah. Selain penyebab lain seperti teknik anestesi, jenis
kelamin, nyeri, perawatan pasca operatif dan data demografik pasien yang
berhubungan dengan pengaruh terjadinya emesis (Scuderi dkk., 2002).
Midazolam merupakan salah satu dari depresan sistem saraf pusat golongan
benzodiazepin yang larut dalam air. Dibandingkan dengan diazepam, midazolam

adalah dua sampai tiga kali lebih poten. Midazolam telah digunakan secara luas
sebelum prosedur medis atau sebelum tindakan anestesi sebelum pembedahan
untuk menyebabkan drowsiness, menghilangkan kecemasan dan menghasilkan
amnesia (Park dkk., 2013).
Pada beberapa penelitian, midazolam telah menunjukkan terdapat
peningkatan kenyamanan dan menurunkan kecemasan yang dialami oleh pasien.
Secara terpisah, midazolam telah dilaporkan mampu mengurangi keparahan dan
durasi mual dan muntah. Namun, midazolam juga dapat menghasilkan sedasi dan
efek anxiolitik yang tidak diinginkan lebih panjang daripada yang diharapkan
(Shahriari dkk., 2009).
Mekanisme midazolam sebagai anti emetik secara menyeluruh belum
diketahui secara sepenuhnya. Efek antiemetik midazolam karena bekerja pada
CRTZ dengan menurunkan sintesis, pelepasan dan efek pasca sinaptik dopamin
(Park dkk., 2013). Benzodiazepin mengurangi pelepasan dopamin secara sentral
dengan melakukan hambatan terhadap re-uptake dari adenosin. Adenosin reseptor
agonis juga menghasilkan inhibisi terhadap nigrostriatal melepaskan dopamin.
Adenosin juga menurunkan aktivitas neuronal dopaminergik dan pelepasan 5-HT3
ketika midazolam berikatan terhadap kompleks GABA (Alstrup dkk., 2011).
Dengan demikian, anxiolisis sebagai efek sekunder dapat juga berkonstribusi
sebagai anti emesis (Riad dkk., 2009). Midazolam menurunkan input psikis dari
thalamus yang dapat mempengaruhi secara langsung terhadap pusat muntah.
Sebagai tambahan, Van Den Bosch dkk (2005) dalam Chandrakantan dkk (2010)
menyatakan bahwa kecemasan pada periode perioperatif dapat mempengaruhi
angka kejadian PONV.
Aplikasi dari midazolam berhubungan dengan pemulihan kesadaran yang
cenderung lebih lama. Pemanjangan sedasi dapat terjadi sebagai efek potensiasi
ketika aplikasi bersama golongan opioid (Stoelting dkk., 2006). Akan tetapi, dosis
rendah midazolam adalah aman diberikan pada periode perioperatif (Tang dkk.,
2003).
Akan tetapi pada penelitian ini, belum berhasil menyimpulkan bahwa
midazolam lebih efektif dari ondansetron sebagai pencegahan kejadian mual

muntah pascabedah. Akan tetapi serupa dengan penelitian sebelumnya bahwa


kejadian mual muntah lebih rendah pada kelompok midazolam. Hal ini serupa
dengan penelitian yang oleh Riad dkk (2009), Sanjay dkk (2004), Safavi dkk
(2009), Jang dkk (2012) dan Kim dkk (2012). Hal ini disebabkan oleh input dari
thalamus yang berkaitan dengan kecemasan perioperatif pada kelompok
midazolam yang mempengaruhi secara langsung pada pusat muntah.
Penelitian ini juga tidak menemukan adanya perbedaan yang bermakna
dalam kejadian memanjangnya waktu pulih sadar. Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Kim dkk (2012). Tidak terjadinya pemanjangan
waktu pulih sadar disebabkan oleh dosis rendah midazolam yang digunakan pada
periode perioperatif.

KESIMPULAN DAN SARAN


Pada penelitian ini belum dapat disimpulkan bahwa midazolam lebih
efektif dalam mencegah terjadinya mual muntah pascabedah. Pada penelitian ini
tidak ditemukan pemanjangan waktu pulih sadar pada aplikasi midazolam sebagai
pencegah mual dan muntah.

Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang

penggunaan midazolam sebagai pencegahan PONV pada prosedur pembedahan


laparaskopi dengan jumlah sampel yang lebih besar.

UCAPAN TERIMA KASIH


Peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu terlaksananya penelitian ini; khususnya kepada dr.Alamsyah, Sp.An,
dr. Syafruddin Gaus, Ph.D, Sp.An-KMN-KNA, DR. dr. Muh. Ramli Ahmad,
Sp.An-KAP-KAP dan teman-teman sejawat peserta PPDS Anestesiologi FKUNHAS.

10

DAFTAR PUSTAKA
Ali Z., Ahmad T. & Ahmad I. (2010). Preoperative dexamethasone in
laparoscopic cholecystectomy patients. J Professional Med, 3:394-99.
Alstrup A.K.O, Simonsen M. & Landau AM. (2011). Type of anesthesia
influences positron emission tomography measurements of dopamine
D2/3 receptor binding in the rat brain. Scand J Lab Anim Sci, 38(3):195201.
Apfel C.C., Kranke P., Eberhart L.H., Roos A. & Roewer N. (2002). Comparison
of predictive models for postoperative nausea and vomiting. Brt J
Anaesth, 88: 23440.
Chandrakantan W. & Glass P.S. (2010). Multimodal therapies for postoperative
nausea and vomiting, and pain. Brt J Anaesth, 107:i27-i40.
Coda B.A. (2007). Opioids. In: Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK, editors.
Clinical anesthesia. New York: Lippincot William and Wilkins, 353-67.
Cracken G.M., Houston P. & Lefebvre G. (2008). Guidline for the management of
postoperative nausea and vomiting. SOGC Clinical Practice Guidline.
July.
Gerges F.J., Kanazi G.E & Jabbour-khoury S.I. (2006). Anesthesia for
laparoscopic. J Clin Anesth, 18: 67-68.
Islam S. & Jain P.N. (2004). Post operative nausea and vomiting (PONV): a
review article. Indian J Anaesth, 48(4):253-58.
Jang J.S., Lee J.H., Lee J.J., Park W.J., Hwang S.M., Lee S.K. & Lim S.Y.
(2012). Postoperative nausea and vomiting after myringoplasty under
continous sedation using midazolam with or without remifentanyl. Yonsei
Med J, 53(5):1010-13.
Kim D.S., Koo G.H., Baek C.W., Jung Y.H., Woo Y.C., Kim J.Y. & Park S.G.
(2012). The antiemetic effect of midazolam or/and ondansetron added to
intravenous patient controlled analgesia in patients of pelviscopic
surgery. Korean J Anesthesiol, 62(4):343-49.
Licthor J.L. & Kalghatgi S.V. (2008). Outpatient anesthesia. In: Longnecker DE,
Brown DDL, Newman MF, Zapol WM, editors. Anesthesiology. New
York: Mc Graw Hill, 1608-19.
Park E.Y., Lee S.K., Kang M.H., Lim K.J., Kim Y.S., Choi E. & Park Y.H.
(2013). Comparison of ramosetron with combined ramosetron and
midazolam for preventing postoperative nausea and vomiting in patient at
high risk following laparascopic gynaecological surgery. J of
International Med Research, 0(0):1-10.
Riad W., Altaf R., Abdulla A. & Oudan H. (2007). Effect of midazolam,
dexamethasone and their combination on the prevention of nausea and
vomiting following strabismus repair in children. Europ J of Anaesth,
24:697-701.
Rodola F. (2006). Midazolam as an antiemetic. Europ Rev for Medical and
Pharmacological Sciences, 10:121-6.

11

Safavi M.R. & Honarmand A. (2009). Low dose intravenous midazolam for
prevention of PONV in lower abdominal surgery. MEJ Anaesth,
20(1):75-82.
Sanjay O.P. & Tauro D.I. (2004). Midazolam: an effective antiemetic after cardiac
surgery-a clinical trial. Anesth Analg, 99:339-43.
Scuderi P. & Salem W. (2002). Postoperative nausea and vomiting: prevention
and treatment. Can J Anaesth, 49:241-46.
Shahriari A., Khooshideh M. & Heidari M.H. (2009). Prevention of nausea and
vomiting in cesarean section under spinal anaesthesia with midazolam or
metoclopramide?. J Pak Med Assoc, 59(11):756-59.
Stoelting R.K & Hillier S.C. (2006). Benzodiazepin. In: Pharmacology &
physiology in anesthetic practice. 4th Edition. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins, 104-8.
Tang J., Wang B., White P.F. & Gold M. (2003). Comparison of the sedation and
recovery profiles of Ro 48-6791, a new benzodiazepine and midazolam
in combination with meperidine for outpatient endoscopic procedures.
Anesth Analg, 89:893-8.
White P.F., Sacan O., Nuangchamnong N. & Sun T. (2008). The relationship
between patient risk factors and early versus late postoperative emetic
symptoms. Anesth Analg, 107: 459-63.

12

LAMPIRAN

Tabel 1. Karakteristik sampel


Midazolam

Ondansetron

Variabel

p
n

Mean

SD

Mean

SD

Umur

24

42.21

12.860

24

36.21

10.974

0.089

IMT

24

22.07

1.330

24

21.78

1.438

0.463

Lama operasi

24

82.04

21.936

24

78.79

24.73

0.632

Data disajikan dalam bentuk nilai rerata (mean), simpang baku (standart deviation); probabilitas
(nilai p) diuji dengan independent sample t-test, p<0,05 dinyatakan bermakna.

Tabel 2. Karakteristik sampel


Kelompok

Variabel
Laki-laki
Perempuan

Jenis Kelamin
Total

PS 1
PS 2

ASA PS
Total

Total

Midazolam

Ondansetron

5
19
24
5
19

7
17
24
4
20

12
36
48
9
39

24

24

48

0,505

0,712

Probabilitas (nilai p) diuji dengan chi-square test; p<0,05 dinyatakan bermakna

Tabel 3. Perbandingan jumlah konsumsi fentanyl pada kedua kelompok


Variabel
Kebutuhan
fentanyl

Midazolam

Ondansetron

Mean

SD

Mean

24

251.25

57.128

24

246.67

SD
67.545

p
0.801

Data disajikan dalam nilai median (minimum maksimum); probabilitas (nilai p) diuji dengan Uji
T test, p<0,05 dinyatakan bermakna

13

Tabel 4. Perbandingan sebaran skor PONV pada kedua kelompok


Waktu
Pengamatan
P1
P2
P3
P4
P5
P6
P7
P8

Skor 0

Kelompok

Skor 1-3

Total

Midazolam
Ondansetron
Midazolam
Ondansetron
Midazolam
Ondansetron
Midazolam
Ondansetron
Midazolam
Ondansetron
Midazolam
Ondansetron

20
20
23
18
22
22
24
23
24
23
23
23

83.3
83.3
95.8
75
91.7
91.7
100
95.8
100
95.8
95.8
95.8

4
4
1
6
2
2
0
1
0
1
1
1

16.7
16.7
4.2
25
8.3
8.3
0
4.2
0
4.2
4.2
4.2

24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24

100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100

Midazolam
Ondansetron

23
24

95.8
100

1
0

4.2
4.2

24
24

100
100

Midazolam

23

95.8

4.2

24

100

Ondansetron

24

100

4.2

24

100

p
1.000
0.097
1.000
0.999
0.999
1.000
0.999
0.999

Data dianalisis menggunakan Fischer Exact test, bermakna bila nilai p<0,05

Tabel 5. Perbandingan sebaran skor sedasi pada kedua kelompok


Skor Sedasi
Waktu
pengamatan
P1
P2
P3
P4

Skor 1

Kelompok

Skor 2

Skor 3

Midazolam
Ondansetron
Midazolam
Ondansetron
Midazolam
Ondansetron
Midazolam

0
3
0
2
0
0
0

0
12.5
0
8.3
0
0
0

20
19
20
21
21
24
23

83.3
79.2
83.3
87.5
87.5
100
95.8

4
2
4
1
3
0
1

16.7
8.3
16.7
4.2
12.5
0
4.2

Ondansetron

24

100

Data dianalisis menggunakan Mann-Whitney U test, bermakna bila nilai p<0,05

0.101
0.060
0.077
0.317