You are on page 1of 1

Toksisitas kronik a.

Mutagenesitas Dalam keadaan normal banyak anestetik modern dan
anestetik inhalasi konvensional tidak bersifat mutagen dan mungkin tidak bersifat karsinogenik.
Di lain pihak, anestetik konvensional yang mengandung gugus vinil (flureksin dan divenil eter)
mungkin bersifat mutagen. Preparat ini sudah jarang dan tidak dipakai lagi. b. Karsinogenisitas
Beberapa penyelidikan epidemiologic telah menggambarkan peningkatan angka kanker pada
petugas kamar operasi yang mungkin terpapar obat anestetik dalam konsentrasi rendah. Tetapi,
belum ada penelitian yang telah membuktikan adanya hubungan anatara obat anestetik dengan
terjadinya kanker. Kebanyakan kamar operasi tercemar obat anestetik dalam konsentrasi yang
amat rendah yang dilepaskan mesin anestesi ke udara luar melalui kipas angin. c.
Hematotoksisitas Kontak yang lama dengan nitrogen oksida akan menyebabkan anemia
megaloblastik karena aktivitas penurunan enzim metionin sintetase. Hal ini penting diketahui
petugas kamar operasi yang bekerja pada kamar operasi yang kurang ventilasi. b. Efek obat
anestetik intravena 1. Barbiturat kerja ultra singkat Walaupun terdapat berbagai jenis barbiturate,
thiopental merupakan obat terlazim yang dipergunakan untuk anestetik induksi dan banyak
dipergunakan sebagai kombinasi dengan anestetik inhalasi. Setelah pemberian secara intravena,
thiopental akan melewati sawar darah otak secara cepat, dan jika diberikan pada dosis yang
mencukupi, akan menyebabkan hypnosis dalam waktu sirkulasi. Efek yang sama akan terlihat
pada pemberian barbiturate dengan masa kerja ultra singkat lainnya seperti tiamilal dan
metoheksital. Pada semua barbiturate tersebut, keseimbangan plasma otak cepat terjadi (kira-kira
1 menit) karena kelarutan lemak yang tinggi. Thiopental cepat berdifusi keluar otak dan jaringan
lain yang sangat vascular serta akan didistribusikan ke dalam otot, lemak, dan seluruh jaringan
tubuh. Hal ini karena cepat dikelauarkan dari jaringan otak sehingga pemberian dosis tunggal
thiopental mempunyai masa kerja yang ultra singkat. Pada pemberian dosis tinggi, thiopental
akan menyebabkan penurunan tekanan arteri, curah balik, dan curah jantung. Hal ini dapat
menyebabkan depresi miokard dan meningkatkan kapasitas vena, serta sedikit perubahan pada
tahanan arteri perifer. Thiopental, seperti barbiturate lainnya mendepresi pusat pernafasan dan
menurunkan sensitivitasnya terhadap karbon dioksida. Metabolism otak dan penggunaan oksigen
akan menurun dalam proporsi terhadap tingkat depresi otak. Aliran darah otak juga akan
menurun, tetapi tidak mengurangi konsumsi oksigen otak. Hal ini merupakan pertimbangan
mengapa thiopental lebih banyak digunakan pada penderita dengan peradangan otak
dibandingkan anestetik inhalasi selamam tekanan intracranial dan volume darah otak tidak
meningkat.
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ