You are on page 1of 21

HORMONE REPLACEMENT THERAPY

SETELAH HISTEREKTOMI DAN


BISALPHINGO-OOPHOREKTOMI
(SURGICAL MENOPAUSE)

SURGICAL MENOPAUSE
Histerektomi dengan bilateral salpingo-oophorektomi (BSO) juga dikenal
sebagai surgical menopause (SM). Surgical menopause mengakibatkan
penurunan mendadak kadar estrogen, kenaikan mendadak follicle
stimulating hormone (FSH), dan berhentinya produksi hormon ovarium
termasuk androgen, estradiol, dan progesteron.

DAMPAK SURGICAL MENOPAUSE


Surgical Menopause dan
Osteoporosis

Surgical Menopause dan


Masalah Kardiovaskular

Surgical Menopause dan


Organ Prolaps

Surgical Menopause dan


Gangguan Elektrolit

Surgical Menopause dan


Gangguan Elektrolit

Surgical Menopause dan


Hypoactive Sexual Desire
Disorder (HSSD)

HORMONAL REPLACEMENT THERAPY /HRT


(TERAPI SULIH HORMON)
Terapi sulih hormon (HRT) mengandung estrogen untuk menghilangkan gejala
menopause, untuk perempuan yang masih memiliki rahim terapi sulih
hormon dikombinasikan dengan progestogen untuk melindungi endometrium.

Penelitian terkini menunjukan adanya peningkatan risiko kardiovaskular pada


perempuan yang menjalani bilateral salpingo-oophorectomy (BSO) pada usia
muda. Data menunjukan bahwa terapi estrogen dapat menurunkan risiko
kardiovaskular pada perempuan yang menjalani BSO sebelum usia 45
tahun.
Estrogen sering diberikan setelah BSO untuk mengobati gejala menopause dan
mengganti hilangnya hormon ovarium endogen. Namun percobaan acak
Womens Health Initiative menunjukkan bahwa conjugated equine estrogen
(CEE) tampaknya tidak mempengaruhi risiko penyakit jantung, tetapi
meningkatkan risiko stroke.

EVALUASI AKURAT PENELITIAN WHI : RESIKO & MANFAAT

EFEK
EFEKESTROGEN
ESTROGENBAIK
BAIKATAU
ATAUBURUK??
BURUK??

Menunjukkan sedikit peningkatan resiko penyakit kardiovaskular, kanker


payudara dan stroke pada wanita menopause yang menggunakan terapi
kombinasi estrogen dan progestin dibandingkan dengan kontrol yang tidak
diterapi. Namun efek estrogen menguntungkan pada tulang dan alat
uregenital adalah alasan untuk melanjutkan terapi estrogen.

TERAPI SULIH HORMON BIOIDENTIK (BHRT)

Uji praklinis telah menunjukkan jenis nongenomik dan genomik dari phytoestrogen
termasuk selektif, namun lemah, mengikat
reseptor estrogen

Secara teoritis, penggunaan fitoestrogen


untuk terapi penggantian hormon menopause
masih irasional

FITOESTROGEN
Isovalvon
Merupakan hormon yang identik secara
molekuler dengan hormon konvensional

Merupakan hormon yang identik secara


molekuler dengan hormon konvensional

PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS
Konsekuensi lain dari penuaan adalah hilangnya progresif kepadatan mineral
tulang, suatu proses yang cepat selama perimenopause dan meningkatkan
risiko patah tulang.

Satu studi telah menemukan bahwa wanita pascamenopause yang tinggi mengkonsumsi makanan kedelai
memiliki kepadatan tulang yang lebih baik femoralis dan /
atau lumbal dibandingkan dengan wanita yang
mengkonsumsi kedelai lebih sedikit

STATUS ORANG SAKIT


Ny. E, 42 tahun, P0A0, SMA, IRT, menikah 1x usia 25 tahun, datang ke poli ginekologi
RSUD dr. Pirngadi Medan, dengan:
KU

Telaah

Benjolan di perut bawah


:

Hal ini dialami sejak 2 tahun ini, awalnya kecil semakin lama

dirasakan semakin membesar, nyeri (-), riwayat keluar darah dari kemaluan diluar
siklus haid (-), riwayat haid memanjang (-), riwayat haid banyak (+), volume 10 x
ganti doek/hari disertai dengan gumpalan darah, riwayat keputihan (+), gatal (+),
warna putih kekuningan, riwayat campur berdarah (-), riwayat penurunan berat
badan dan nafsu makan (+), riwayat mual dan muntah (-), BAK/BAB (+) normal.

Riwayat penyakit terdahulu :

Riwayat operasi :

Riwayat pemakaian obat :

Riwayat KB :

Riwayat haid : Menarche usia 12 thn, teratur lama 5-7 hari, vol 5-6 x ganti
doek/hari (-). Haid terakhir bulan Desember 2014
BB/TB : 50 kg / 150 cm
PEMERIKSAAN FISIK
Status Presens
Sensorium

: Compos Mentis Anemis

Tek Darah

: 130/80

Nadi

: 82 x/i

Pernafasan
Suhu

Icterus

: 20 x/i

: 36,0 C

Cyasnosis
:

Dyspnoe

Oedem

Status Lokalisata
Kepala

: Mata: conj.palpebra inferior pucat (-)

T/H/M

: Dalam batas normal

Leher

: pembesaran KGB (-)

Thoraks
ST

: SP: vesikuler
: Tidak ada

Abdomen

: Soepel, teraba massa padat dengan pole atas 3 jari atas pusat,

dengan permukaan rata, pole bawah setentang simfisis, mobile, permukaan


rata, nyeri tekan (-).
P/V

: (-)

Status Ginekologi:
Inspekulo : Portio sulit dinilai, kesan tertarik ke arah anterior
VT : UT sulit dinilai, Teraba massa padat dengan pole atas 3 jari atas pusat,
dengan permukaan rata, pole bawah setentang simfisis, mobile, permukaan
rata , Parametrium kanan dan kiri lemas, Adneksa kanan dan kiri tidak teraba
massa, CD kesan menonjol terdorong massa
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium:
Hb/Ht/L/T

Chol. Total : 223

: 9,2/28,6/6450/361.000 HDL/LDL

SGOT/SGPT

: 32/16

Hbs Ag

Ur/Cr

CA 125

: 29,3

: 24/0,69

Albumin

: 46/161

: Negatif

: 4,3 EKG : Sinus Ritme

Na/K/Cl : 139/4,1/112
PT/INR/APTT

Foto Thoraks : Tidak tampak kelainan

: 12,8/1,02/22,7

KGD N/2 Jam PP : 107/158

Pap Smear

: Inflammatory Smear

BNO-IVP : Tidak tampak hidronefrosis,

USG TAS

KK terisi
Uterus sulit dinilai
Terlihat massa semi solid tidak terukur kaliper
Cairan bebas (-)
Kesimpulan : DD : Tumor adneksa semi solid
Mioma uteri
Konsul Divisi Bedah Digestif untuk joint operation karena perlengketan
Diagnosa

: DD : Tumor adneksa semi solid

Mioma uteri
Saran

: CT-Scan abdomen

CT Scan : Mioma uteri ukuran 14,06 x 22,1 x 24,27 cm yang meluas ke sisi
kanan abdomen, menekan dan mendorong organ intra abdomen +
Hepatomegali, SOL (-), Traktus bilier tak dilatasi + Hidroureter minimal dan
Hidronefrosis grade I kanan.
Konsul Divisi Bedah Urologi untuk penanganan Hidroureter minimal dan
Hidronefrosis grade I kanan.
Diagnosa
Saran

: Hidroureter minimal dan Hidronefrosis grade I kanan


: Saat ini tidak ada tindakan dari bagian Urologi

Konsul
Divisi
Hepatomegali
Diagnosa

Interna

Gastroenterohepatik

untuk

penanganan

: Hepatomegali + Tumor Adneksa semi solid

Saran : Tidak ada kelainan di bagina Penyakit dalam, karena hepatomegali


terjadi akibat adanya penekanan dari massa.
Rencana

: Persiapan penjadwalan operasi dengan prosedur Laparatomi

Salphigooophorectomy Unilateral

Laporan operasi TAH-BSO a/i Mioma uteri


Tanggal 24 Februari 2015

Ibu dibaring di meja operasi dengan infus dan kateter terpasang baik
Dibawah general anestesi dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada
lapangan operasi kemudian ditutup dengan doek steril kecuali lapangan
operasi
Dilakukan insisi midline mulai dari kutis, subkutis, fascia, otot, peritoneum
digunting ke atas dan ke bawah
Tampak uterus yang membesar dengan ovarium dan tuba kanan dan kiri
menempel pada bagian posterior uterus, kesan mioma uterus. Tampak
bagian posterior terdapat perlengketan dengan small bowel. Diputuskan
untuk melakukan total abdominal histerektomi dan bisalphigooophorectomy.
Dilakukan inform consent ulang terhadap keluarga untuk melakukan
penggangkatan rahim dan kedua indung telur, dan keluarga menyetujui.
Operasi dilanjutkan dengan melakukan pembebasan terlebih dahulu
pada plica vesicaurinari untuk menurunkan blass dan pembebasan massa
dengan small bowel secara perlahan-lahan dengan kassa terbuka.

Tampak ureter kanan yang naik ke atas dan melekat pada uterus dan massa,
kemudian dilakukan pembebasan terhadap ureter sepanjang 15 cm, dan ureter di
gantung dengan cateter terbuka warna merah.

Kemudian Lig. Rotundum kiri dan kanan di klem, di gunting dan diikat.

Lig. infundibulopelvicum kanan dan kiri di klem, di gunting dan diikat.

Arteri uterina kanan dan kiri di klem, di gunting dan diikat.

Identifikasi perdarahan (-)

Tampak puncak vagina yang sudah menggepeng dan tampak tertarik ke arah
massa. Kemudia dilakukan klem pada puncak vagina dan digunting
Dilakukan jahitan secara jelujur pada punctum vagina, evaluasi perdarahan: tidak
ada perdarahan.
Cavum abdomen dibersihkan kemudian dijahit lapis demi lapis mulai dari
peritoneum, otot, fascia, subcutis, dan kutis.

Luka operasi ditutup dengan sofratule, kasa steril, dan hypafix.

KU ibu post op: mulai sadar

Instruksi post op: awasi VS, tanda-tanda perdarahan, UOP

Cek darah rutin post op bila Hb < 10 gr%, transfusi sesuai kebutuhan
Jaringan hasil operasi berupa massa beserta uterus dan kedua ovarium kiri dan
kanan di bawa ke PA

TERAPI
Therapi:

IVFD RL 20 gtt/i

Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam

Inj. Gentamicin 80 mg/12 jam

Setelah dirawat selama 4 hari, os ganti


verband kesan kering. Pasien pulang
berobat jalan ke Poli Ginekologi.
Hasil Laboratorium Patologi Anatomi:

Inj. Transamin 500 mg/8 jam

Serviks
Nabothyan cyst

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam

Endometrium

Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam

Transfusi PRC sesuai kebutuhan

Ovarium
Albicans

Kanan

Ovarium Kiri

:
: Leiomioma
:

Corpus

: Corpus Albicans

ANALISA KASUS
DISKUSI : Berdasarkan hasil studi :
Surgical Menopause

Penurunan kadar estrogen


Kenaikan FSH

Berhentinya

hormon

ovarium

produksi
(androgen,

estradiol, dan progesteron.


Penurunan densitas tulang dan peningkatan
fraktur
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner
Pada usia muda juga memicu terjadinya
demensia dan penurunan fungsi kognitif

Gejala menopause seperti hot


flushes, penurunan libido, dan
kekeringan pada vagina

''Oleh karena onset gejala menopause dan peningkatan risiko osteoporosis serta
kardiovaskular maka perempuan yang menjalani surgical menopause membutuhkan
hormone therapy (HT)''

Dengan usia yang masih 42 tahun dan belum mengalami menopause tentu akan
mengakibatkan pasien ini mengalami menopause dini. Pada pasien ini dilakukan
TAH-BSO (surgical menopause).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chubaty A et al, perempuan yang tidak
mengkonsumsi HT cenderung lebih sering terkena hot flushes derajat sedang
hingga berat dibandingkan dengan perempuan yang mengkonsumsi HT.
Terapi medikamentosa yang dianjurkan pada pasien ini adalah dengan pemberian
estrogen konjugasi sampai rata-rata usia seorang wanita mengalami menopause
alami sekitar 51 tahun. Terapi sulih hormon saat ini adalah pengobatan yang
paling efektif untuk gejala vasomotor yang meresahkan. Suatu sistematik review
menunjukkan pengurangan frekuensi hot flush secara signifikan sekitar 18
minggu sebesar 87% dibandingkan dengan placebo.
Anjuran pada pasien ini sebaiknya tetap melakukan follow up rutin karena berbagai
risiko ooforektomi dapat terjadi karena pengaruh menopause dini yang akan
dialami oleh pasien tersebut.