You are on page 1of 2

2.

6 Patofisiologi Endophthalmitis
Terjadinya endoftalmitis, tingkat kerusakan, dan perjalanan klinisnya
bergantung pada rute infeksi, virulensi, dan jumlah patogen terinokulasi serta status
imunologis pasien dan waktu saat terdeteksi dalam pemeriksaan. Pada 29 43%
operasi katarak, kontaminasi intraokular terjadi dengan bakteri- bakteri patogenik
fakultatif dari permukaan mata tanpa terjadinya perkembangan endoftalmitis.
Mekanisme protektif, yang diringkas sebagai immune privilage of the eye terutama
efektif pada bagian anterior mata, berperan sebagai barier protektif dan dapat
membatasi reaksi inflamasi. Bila keistimewaan ini rusak, seperti pada defek kapsular
intra operatif dengan kehilangan vitrus, risiko endoftalmitis akan meningkat. ESCRS
Pada endoftalmitis bakterial, tiga fase infeksi dapat terlihat, yaitu fase
inkubasi, fase akselerasi, dan fase destruktif. Fase inkubasi yang tidak tampak secara
klinis terjadi setidaknya selama 16 18 jam, bahkan dengan mikroorganisme yang
virulen. Inokulasi bakteri di atas ambang batas kritis kemudian menyebabkan
kerusakan barier aqueus dengan eksudasi fibrin dan infiltrasi selular oleh granulosit
neutrofil.

Fase

inkubasi

ditentukan

terutama

dengan

kecepatan

patogen

bermultiplikasi dan karakter spesifik patogen seperti produksi toksin. Pada patogen
tersering Stafilokokus epidermidis dan Stafilokokus aureus, infiltrasi tertinggi terlihat
hanya tiga hari setelah infeksi. ESCRS & sidarta 2014
Pada kasus infeksi primer bagian posterior mata, inflamasi ruang anterior mata
dahulu dan disertai dalam waktu tujuh hari oleh respon imun spesifik makrofag dan
limfosit pada kavitas vitreus. Hanya setelah tiga hari infeksi intraocular, antibodi
spesifik pathogen dapat terdeteksi, di mana hal ini berkontribusi dalam eliminasi
pathogen dengan opsonisasi dan fagositosis dalam waktu kurang lebih 10 hari.
Keadaan ini dapat menghasilkan hasil kultur laboratorium negative tetapi ada
penyakit inflamasi berat dalam mata. Mediator inflamasi, terutama sitokin, tidak
hanya merekrut leukosit, tetapi juga dapat secara langsung menyebabkan efek
destruktif, kerusakan retina, dan proliferasi vitreoretinal (fase destruksi) ESCRS &
sidarta 2014
Penggunaan fakoemulsifikasi dapat menyebabkan peningkatan tekanan dalam
mata yang memaksa bakteri masuk ke dalam vitreus, ESCRS
Lensa-lensa intraocular merupakan vektor potensial bagi bakteri. Ada
perbedaan-perbedaan perlekatan bakteri terhadap bahan materi lensa. Stafilokokus
epidermidis menempel lebih kuat pada haptic polipropilen daripada polimetil

metakrilat (PMMA). Lensa dengan salut heparin hidrofilik menunjukkan perlekatan


yang rendah bagi stafilokokus. Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa
penggunaan lensa intra okular yang dapat dilipat melalui injektor steril menurunkan
insiden endoftalmitis post operasi. ESCRS
Pada keadaan mormal, barier darah okular memberikan daya tahan natural
terhadap patogen. Bakteri dalam darah dapat secara langsung menginvasi barier ini
(emboli septik) atau mengubah endotel vaskular yang disebabkan oleh mediator
inflamasi respon imun. Kerusakan barrier ini menyebabkan endoftalmitis endogen.
ESRS & sidarta 2014
2.7 Gejala Klinik Endophthalmitis (akbar)
peradangan yang disebabkan oleh bakteri akan memberikan gambaran klinis
nyeri okular yang hebat, penurunan penglihatan, kelopak mata merah dan bengkak,
kelopak sukar dibuka, konjungtiva komosis dan merah, korea keruh, kamera okuli
anterior keruh dan dapat terisi hipopion. Kekeruhan atau abses pada vitreus humor,
keadaan ini menyebabkan refleks pupil berwarna putih sehingga memiliki gambaran
seperti retinoblastoma atau pseudoretinoblastoma. Bila sudah terlihat hipopion,
artinya endoftalmitis ini sudah lanjut dan prognosisnya jauh lebih buruk. Sidarta
2014
Endoftalmitis akibat kuman kurang virulen tidak terlihat seminggu atau
beberapa minggu sesudah trauma atau pembedahan. Demikian pula pada infeksi
jamur dapat terlihat sesudah beberapa hari atau minggu. Sidarta 2014
Endoftalmitis pada kasus post operatif infeksi paling sering muncul kurang
lebih satu minggu setelah operasi ESCRS Sidarta 2014
1. ESCRS Endophthalmitis Study Group. Guidelines on Prevention, investigation
and management of post operative endophthalmitis. Barry P, Baumann WB,
Pleyer U, Seal D ;Editors. J Cataract Refract Surg. 2007. Hal 1- 28.
2. Ilyas SH, Yulianti SR. Endoftalmitis. Dalam : Ilmu penyakit mata. Edisi kelima.
Jakarta. Badan Penerbit FKUI. 2014. Hal 183-4.