You are on page 1of 14

FORENSIC ACCOUNTING & FRAUD EXAMINATION

Inquiring Method , Case Study, and Film Review


Disusun untuk memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Forensic Accounting &
Fraud Examination yang dibimbing oleh Gugus Irianto, SE. MSA. PhD. Akt.
Nama kelompok:
1. Fita Isfah Aini

125020301111007

2. Annina Maulida

125020301111017

3. Onwardani Retrianti A. Esthika

125020301111037

Kelas: CB Akuntansi

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

METODE PENYELIDIKAN DAN LAPORAN KECURANGAN


Pendahuluan
Dalam Metode Penyelidikan, Wawancara merupakan salah satu cara melakukan
penyilidikan terhadap tersangka atau saksi. Wawancara merupakan teknik untuk
menginvestigasi dan menyelesaikan kecurangan. Wawancara sendiri merupakan sesi tanya
jawab yang dirancang secara sistematis untuk mendapatkan informasi. Wawancara juga
membantu memperoleh:
1)
2)
3)
4)

Informasi yang menjadi elemen penting penjahat.


Petunjuk untuk mengembangkan kasus dan mengumpulkan bukti lainnya.
Kerja sama korban dan saksi.
Informasi mengenai latar belakang pribadi dan motif saksi.

Wawancara dilakukan terhadap korban, orang yang menyampaikan pengaduan, para


relasi, informan, klien atau pelanggan, tersangka, saksi ahli, aparat kepolisian, petugas
administrasi, petugas kebersihan, rekan kerja, supervisor, teman atau pasangan tersangka
yang merasa tidak puas, pemasok saat ini atau sebelumnya, dan siapapun yang mungkin
membantu dalam proses investigasi. Ada tiga tipe interviewee (setiap tipe ditangani secara
berbeda):
1) Ramah:
2) Netral
3) Bersikap memusuhi
Orang yang diwawancarai (Interviewee) yang ramah tidak hanya sekedar (atau
setidaknya tampak) membantu. Walaupun saksi yang ramah dapat membantu, investigator
yang berpegalaman akan berhati-hati untuk menentukan motif mereka. Dalam beberapa
motif, interviewee benar-benar berkeinginan tulus membantu. Namun, kemungkinan motif
yang lain adalah keinginan untuk mendapatkan tersangka atau mengalihkan perhatian dari
interviewee sebagai tersangka.
Interviewee yang netral tidak memiliki kepentingan atau tidak akan merasa dirugikan
dalam wawancara. Mereka tidak memiliki motif tersembunyi dan mereka biasanya
merupakan interiew yang objektif dan membantu di antara semua tipe interviewee.
Interviewee yan ramah dann netral dapat ditanyai kapan saja dan perjanjian dapat dibuat
sebelumnya.
Interviewee yang bersikap memusuhi merupakan tipe yang paling sulit untuk
diwawancarai.mereka sering kali memiliki hubungan dengan tersangka atau dengan tindak
kejahtan. Sebaiknya ditanyai tanpa pemberitahuan terlebih dahulu untuk memberikan waktu
yang lebih sedikit bagi Interviewee untuk mempersiapkan pembelaan.

Karakteristik Wawancara yang Baik


Wawancara yang baik biasanya memiliki karakteristik umum diantaranya,
1) Dilakukan secara mendalam untuk mengungkapkan fakta yang relevan dan
obyektif,
2) Berfokus pada informasi yang relevan dan segera mengalihkan pembicaraan dan
informasi yang tidak relevan,
3) Wawancara sebaiknya dilakukan sedekat mungkin dengan waktu terjadinya
peristiwa yang sedang diselidiki. Agar memori interviewee tentang peristiwa yang
sedang diselidiki tidak hilang, karena ketika ada jeda waktu dimungkinkan daya
ingat akan menjadi cacat dan rincian penting dapat hilang atau terlupakan.

Karakteristik Pewawancara yang baik


Pewawancara yang baik memiliki karakteristik yakni: memiliki kepribadian yang
ramah,tidak memotong pembicaraan interviewee serta berinteraksi baik dengan orang lain,
membantu orang-orang sekitar. Pewawancara yang sukses adalah orang yang dianggap
nyaman untuk tempat berbagi informasi dengan orang lain. Orang yang diwawancarai harus
memahami bahwa pewawancara berusaha untuk memperoleh fakta yang relevan saja dan
tidak di luar itu. Selainitu dibutuhkan Profesionalisme dalam wawancara, pewawancara
sebaiknya tepat waktu, berpakaian secara profesional dan adil dalam menangani responden.

Pemahaman terkait Reaksi terhadap Krisis


Gambar 1 Reaksi Terhadap krisis
Ekuilibrium
Psikologis

1. Penyangkalan

2. Kemarahan

3. Rasionalisasi

4. Depresi

Penerimaan

Ekuilibrium
Psikologis
Baru

Orang yang sedang mengalami krisis memiliki serangkaian reaksi yang dapat
diprediksi.pewawancara yang memahami reaksi-reaksi ini lebih efektif dibanding
pewawancara yang tidak memahaminya. Dari model klasik diatas dapat diketahui
pemahaman reaksi individu terhadap krisis. Model ini berguna ketika mewawancarai orangorang tertentu dalam kasus.
Tahap pertama adalah penyangkalan yang berfungsi sebagai penahan setelah orang
menerima berita yang tidak diharapkan atau mengejutkan. Pada tahap ini orang yang
berhubungan dengan kecurangan kemungkinan akan mengendalikan perasaan dan pikirannya
serta melakukan pembelaan yang tidak terlalu radikal.
Tahap kedua adalah kemarahan, dalam tahap ini kemarahan sulit di atasi karena
kemarahan biasanya ditujukan ke segala arah dan diproyeksikan ke dalam lingkungan. Tahap
ini adalahwaktu yang berbahaya untuk menyelesaikan kecurangan.
3

Tahap ketiga adalah rasionalisasi, dalam tahap ini orang berusaha untuk
menjustifikasi tindakan tidak jujur atau meinimalkan kejahtan yang mereka lakukan.
Wawancara dalam tahap ini sering kali tidak objektif dan dapat mengganggu upaya untuk
mengungkapkan kebenaran, atau membahayakan upaya tuntutan hukum di masa yang akan
datang.
Tahap keempat adalah depresi, depresi terjadi karena upaya untuk menyelesaikan
permaslahan gagal.
Tahap terakhir adalah penerimaan, dalam tahap ini setelah mengalami berbagai tahap
secara berbeda orang akan berusaha untuk menyesuaikan diri terhadap krisis kecurangan.
Dimana mereka tidak lagi merasa depresi atau marah namun mereka memiliki pemahaman
realitis mengenai apa yang terjadi. Tahap ini seringkali dipicu oleh pengetahuan terkait fakta
mengenai kecurangan, termasuk pengetahuan mengenai motivasi pelaku. Selama tahap ini
wawancara paling efektif dilakukan dan saksi merupakan orang yang palin korporatif.

Perencanaan Wawancara
Ketika akan melakukan wawancara,ikutilah rencana yang telah di buat untuk
memastikan bahwa pewawancara mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan yang
sesuai memungkinkan anda untuk mendapatkan banyak informasi dari wawancara yang
dilakukan dilakukan dan untuk meminimalisir penggunaan waktu. Perencanaan tersebut
termasuk memastikan sebanyak mungkin fakta yang ada sebelumnya terkait pelanggaran dan
intervewee, serta menentukan tempat dan waktu yang kondusif untuk dilakukan wawancara,
sehingga tujuan wawancara dapat tercapai.
Untuk memperoleh fakta mengenai pelanggaran dan Interview, lakukan tinjauan
terhadap dokumen yang relevan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi
lainmengenai faktor-faktor:
Pelanggaran
1)
2)
3)
4)
5)

Sifat hukum pelanggaran


Tanggal, waktu dan tempat kejadian
Cara kejahatan dilakukan
Motif yang memungkinkan
Semua bukti yang ada

Interviewee
1) Informasi latar belakang pribadi-usai, pendidikan, status perkawinan, dan sebagainya
2) Perilaku selama investigasi
3) Seluruh kondisi fisik atau mental, seperti penggunaan alkohol atau obat-obatan.
Biasanya, tempat yang paling baik untuk melakukan wawancara adalah dikantor atau
tempat interview, sehingga interviewee dapat mengakses dokumen, data dab bukti lain yang
dibutuhkan dengan nyaman.
4

Apabila menghadapi intervewee yang ramah atau netral, buatlah janji terlebih dahulu dan
gunakan waktu yang cukup untuk wawancara. Ketika anda membuat janji, identifikasi
informasi yang akan dibutuhkan interviewee. Usahakan untuk melakukan wawancara hanya
kepada satu orang pada satu waktu.

Sikap Pewawancara
1) Duduklah cukup dekat dengan interviewew tanpa meja atau apapun yang
menghalangi.
2) Jangan berbicara dengan nada yang merendahkan interviewee.
3) Lebih hati-hati dengan hal-hal yang sensitif terkait persoalan pribadi seperti: jenis
kelamin, ras, agama dan latar belakang etnis
4) Lakukan wawancara dengan cara profesional. Bersikap ramah untuk mencari
kebenaran.
5) Hindari sikap otoriter; jangan mendominasi selama wawancara berlangsung.
6) Bersikap simpatik dan menghormati.
7) Berterima kasih kepada saksi atas waktu dan usaha untuk berkerjasama.
8) Sebisa mungkin jangan memperlihatkan kertas dan pensil selama wawancara.
9) Akhiri setiap wawancra yang kooeratif dengan mengungkapkan apresiasi anda.
Bahasa wawancara
1) Gunakan pertanyaan pendek, terbatas pada satu topik yang dapat dipahami secara
jelas dan mudah
2) Tanyakan pertanyaan yang membutuhkan jawaban naratif: bila perlu, hindari
pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak
3) Hindari pertanyaan yang mengarahkan pada sesuatu yang menjadi bagian dari
jawaban, yang sering disebut sebagai pertanyaan pengarah.
4) Mintalah saksi mata unuk membeikan dasar faktual untuk seluruh kesimpulan yang
mereka nyatakan
5) Cegahlah saksi menjawab secara bertele-tele. Mintalah jawaban tegas dan pasti.
6) Jangan biarkan saksi mengarahkan anda untuk keluar dari topik.
7) Selama wawancara, kosentrasi lebih pada jawaban yang anda dengar, bukan pad
pertanyaan selanjutnya yang anda tanyakan.
8) Pahami setiap jawaban secara jelas sebelum anda melanjutkan.
9) Tetaplah memegang kendali sepenuhnya selama wawancara
10) Tunjukkan beberapa bukti tidak langsung tetapi jangan semuanya.
Jenis-Jenis pertanyaan
Dalam wawancara, pewawancara menanyakan lima jenis pertanyaan:
1) Perkenalan:
Dalam tahap ini pewawancara menggunakan pertanyaan dengan dua tujuan
yakni untuk memulai wawancara dan untuk membuat responden menyatakan
persetujuannya untuk bekerja sama. Disini pewawancara menyatakan tujuan
5

wawancara dan kemudian menanyakan pertanyaa yang mengarahkan responden


supaya bersedia memberikan informasi. Mekanisme Perkenalan:
Memberikan Perkenalan
Menciptakan Hubungan
Membuat Tema Wawancara
Mengamati Reaksi
Mengembangkan Tema Wawancara
1. Mulai dengan Pertanyaan terkait Latar Belakang
2. Mengamati Perilaku Verbal dan Non verbal
3. Menanyakan pertanyaan yang tidak mengarah
4. Mengajukan Pertanyaan sensitif secara berhati-hati

Metodologi
Membuat Kontak Fisik
Menentukan Tujuan Wawancara
Jangan Mewawancarai Lebih Dari satu Orang pada satu waktu
Melakukan Wawancara Pribadi
Menanyakan Pertanyaan yang Tidak Sensitif
Memperoleh Komitmen atas Bantuan
Membuat Pertanyaan Transional
Mencari Persetujuan yang Berkelanjutan
Jangan Melanggar Jarak Tubuh

2) Informatif
Setelah dibuat format wawancara yang sesuai, pewawancara mulai
mengumpulkan fakta. Disini pewawancara menanyakan secara berurutan pertanyaan
terbuka, tertutup dan arahan sesuai dengan kebutuhan. Jika pewawancara yakin bahwa
responden tidak jujur, buatlah wawancara selogis mungkin.
Pertanyaan terbuka: membutuhkan respon yang panjang dan dapat dijawab dalam
berbagia cara
Pertanyaan tertutup: membutuhkan jawaban pasti (Ya) dan perlu kehati-hatian
dalam menanyakan kepada responden.
Pertanyaan Pengaruh: berisi jawaban sebagai bagian dari pertanyaan yang
digunakan untuk mengkonfirmasi fakta yng telah diketahui.
Pertanyaan Negatif- Ganda: pernyataan yang menghasilkan jawaban yang
berlawanan dengan jawaban yang sebenarnya.
Pertanyaan Komplek: pernyataan yang tidak mudah dipahami, mengandung lebih
dari satu subjek atau topik, serta membutuhkan lebih dari satu jawaban.
Pertanyaan Perilaku: pertanyaan menegnai kondisi responden dan berkaitan
dengan perilakunya
3) Penilaian
6

Pertanyaan ini ditujukan untuk menentukan kredibilitas responden.Jika


pewawancara melihat dan menilai responden melakukan penipuan atau pernyataan
reponden tidak konsiten, berikan pertanyaan hipotesis dan tidak terkesan menuduh.

4) Penutup
Dalam hal ini pertanyaan tertentu akan ditanyakan untuk konfirmasi ulang
fakta, memperoleh informasi yang belum didapat dan menjaga kesesuaian sikap.
Menutup wawancara secara positif adalah suatu keharusan dalam wawancara
informatif.
5) Upaya memperoleh pengakuan.
Wawancara untuk memperoleh pengakuan ditujukan untuk individu yang
sudah pasti bersalah. Pertanyaan untuk memperoleh pengakuan diajukan dengan
urutan yang didesain untuk membebaskan orang yang tidak bersalah dan mendorong
orang terbukti bersalah untuk membuat pengakuan. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak
boleh melanggar hak dan dan keistimewaan.
Tahapan Wawancara untuk Memperoleh Pengakuan
1. Menuduh secara langsung
2. Mengamati reaksi
3. Mengulangi tuduhan
4. Menghentikan penyangkalan
5. Menunda
6. Interupsi
7. Pemberian alasan
8. Membuat rasionalisasi
9. Perlakuan yang tidak adil
10. Pengakuan yang tidak memadai
Elemen-elemen Percakapan
1) Ekspresi: Ekspresi yang natural (Spontan) dapat menjadi aset penting dalam
melakukan wawancara
2) Persuasi: Usaha untuk meyakinkan orang lain
3) Terapi: Dalam melakukan wawancara membuat interviewee merasa diri mereka baik
4) Budaya: beberapa aspek percakapan merupakan budaya
5) Pertukaran Informasi: merupakan tujuan utama dalam melakukan wawancara.
Penghambat Komunikasi
1) Pertimbangan penggunaan waktu
2) Ego yang terancam:beberapa responden memendam informasi karena terdapat
ancaman.
3) Etiket: pernyataan yang dirasa tidak sesuai.
4) Trauma: perasaan tidak menyenangkan terkait pengalaman terhadap krisis.
5) Lupa: ketidakmampuan responden untuk mengingat kembali informasi tertentu.
6) Kekacauan Kronologis: terjadi terkait mengulas riwayat kasus.
7

7) Perilaku yang Tidak Sadar: dalam hal ini terkait untuk memperolah informasi
mengenai perilaku tidak sadar seseorang
Pendukung Komunikasi
1) Pemenuhan Ekspektasi
2) Pengakuan
3) Pertimbangan Altruistis
4) Pemahaman Simpatis
5) Pengalaman Baru
6) Kataris
7) Kebutuhan akan Keberartian
8) Penghargaan Ekstrinsik

Mengamati reaksi Responden


Komunikasi Proksemik
Penggunaan ruang antar pribadi untukmenyampaikan maksud.( jarak saat wawancara)
Komunikasi Kronemik
Ketika interviewee tidak memiliki keterkaitan dalam wawancaradapat dilihat ketika
interviewee datangg terlambat.
Komunikasi Kinetik
Bagaimana gerakan tubuh menyampaikan makna.
Komunikasi Paralinguisti
Jadi perbedaan pernyataan makna tergantung bagaimana seseornagn mengatakannya
dengan volume, nada dan kualitas suara.
Uji Kejujuran
Metode lain yag juga dapat digunakan untuk mengumpelkan informasi mengenai
kejujuran seseorang.
1) Pengujian secara Tertulis: pengujian subyektif untuk memperoleh informasi
mengenai kejujuran dan kode etik pribadi seseorang.
2) Grafologi: ilmu tentang tulisan tangan untuk tujuan analisis karakter.
3) Analisis tekanan suara dan Poligraf: menetukan apakah seseorang berbohong atau
mengatakan kebenaran dengan menggunakan alat mekanis yang terhubung ke
orang tersebut.

STUDI KASUS 2
Soal
Ini adalah awal Senin pagi, dan Brian sedang bersiap untuk melakukan wawancara pertama
sebagai pemeriksa kecurangan. Ia akan bertemu dengan Sue, pekerja pabrik yang sedang
diinvestigasi perusahaan. Ia bukanlah tersangka atau diduga terkait dengan kecurangan.
Namanya muncul dalam wawancara dengan investigator lain sebagai sesorang yang mungkin
dapat memberikan informasi tambahan. Mereka telah merencanakan untuk bertemu di kantor
Brian, sehingga ia hanya mennggu kedatangannya.
Halo, ia mendengar seseorang berkata di pintunya yang setengah terbuka.Saya Sue
Masuklah ia menjawab dan tetap duduk di mejanya yang besar. Sue masuk dan mengambil
kursi kosong di meja seberang meja Brian. Biarkan Saya langsung ke poinnya adalah katakatanya selanjutnya. Apakah anda mengetahui beberapa bukti yang dapat dipercaya atau
masuk akal bahwa dugaan penggelapan di tempat Anda benar-benar dapat dipertahnkan?
Setelah terdiam sejenak dan melihat kegelisahan pada wajah Sue, Brian bertanya Apakah
Anda tahu apa yang dimaksud penggelapan?
Ya. Jawab Sue.
Baiklah. Apakah Anda tahu siapa yang telah menggelapkan dari pemberi kerja Anda?
Tidak.
Sue menjadi gugup saat melihat Brian melakukan pencatatan. Brian melanjutkan Secara
spesifik, apakah Anda melihat Ralph melakukan kecurangan?
Tidak
Apakah anda yakin? Anda tahu ini merupakan masalah besar, ia mengatakn sambil berdiri
dan berkeliling ruangan. Saya tidak bisa membayangkan mengapa sesorang mencuri dari
perusahaannya sendiri, tetapi ia pantas ditangkap jika terbukti melakukannya. Hal itu salah
dan buruk, dan hanya orang yang buruk yang akan melakukan tindakan seperti itu.
Saya yakin.
Pernahkah Anda menggelapkan?
Tidak. Jawab Sue lagi
Baiklah jika demikian. Saya tidak melihat alasan lain untuk melanjutkan. Selamat tinggal.
Sue berdiri, pamit, dan meninggalkan ruangan.
Pertanyaan
1. Apa saja yang dilakukan Brian secara salah dalam wawancara ini?
9

Jawaban:
Ada beberapa hal salah dilakukan oleh Brian dalam wawancaranya, diantaranya:
1. Sebagai pewawancara yang baik, Brian seharusnya
a. Memiliki kepribadian yang ramah. Namun, dalam ilustrasi kasus itu, ia terlihat
kasar pada Sue.
b. Pewawancara yang sukses adalah orang yang dianggap nyaman untuk tempat
berbagi informasi dengan orang lain, tetapi Brian tidak menunjukkan sikap
demikian yang justru mebuat Sue gugup dan gelisah ketika diberi pertanyaan.
c. Sue, sebagai orang yang diwawancarai seolah belum benar-benar memahami
bahwa ia adalah orang yang menjadi sumber untuk memperoleh fakta.
d. Brian tidak menunjukkan sikap profesional sebagai investigator.
2. Di dalam wawancara ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan Brian tidak
memperhatikannya. Hal tersebut ialah:
a. Sikap Pewawancara (Brian) tidak melakukan beberapa hal berikut:
Sikap yang seharusnya
Sikap yang ditunjukkan oleh Brian
Duduk
cukup
dekat
dengan Dalam kasus ini, Brian justru duduk
interviewew tanpa meja atau apapun sendiri membelakangi dan tidak
yang menghalangi.
menatap Sue.
Tidak berbicara dengan nada yang Brian bertanya langsung pada Sua
merendahkan interviewee.
tanpa pembuka, bahkan seolah
menuduh Sue secara langsung.
Lakukan wawancara dengan cara Brian
tidak
menunjukkan
profesional dan ramah.
profesionalitasnya, dan berkata cukup
kasar pada Sue
Pewawancara seharusnya
Brian
terlalu
mendominasi
menghindari sikap otoriter; jangan
wawancara, sehingga Sue hanya
mendominasi selama wawancara
menjawab dengan beberapa jawaban
berlangsung.
singkat dan menurut kami kurang
informatif
Bersikap simpatik dan menghormati. Tidak ditunjukkan sikap tersebut oleh
Brian, buktinya ia tidak peduli pada
Sue yang terlihat gelisah
Berterima kasih kepada saksi atas Brian mengakhiri wawancara begitu
waktu dan usaha untuk berkerjasama. saja tanpa ada ada kata terima kasih
pada Sue
Akhiri setiap wawancra yang Tidak ada aprsiasi apapun dari Brian
kooeratif dengan mengungkapkan kepada Sue
apresiasi anda.
b. Bahasa wawancara
Bahasa yang seharusnya
Bahasa yang digunakan oleh Brian
Tanyakan
pertanyaan
yang Banyak pertanyaan yang dijawab
10

membutuhkan jawaban naratif: bila dengan jawaban pendek oleh Sue dan
perlu, hindari pertanyaan dengan Brian langsung men-judge dengan
jawaban ya atau tidak
pertanyaan lain tanpa memperdalam
jawaban yang diberikan
Hindari
pertanyaan
yang Brian memberikan pertanyaan yang
mengarahkan pada sesuatu yang langsung menuduh Sue terlibat dalam
menjadi bagian dari jawaban, yang kasus
sering disebut sebagai pertanyaan
pengarah.
Mintalah
saksi
mata
untuk Tidak ada permintaan saksi atas
membeikan dasar faktual untuk jawaban yang diberikan oleh Sue
seluruh kesimpulan yang mereka
nyatakan
Selama wawancara, kosentrasi lebih Brian langsung melanjutkan ke
pada jawaban yang didengar, bukan pertanyaan selanjutnya meskipun ia
pada pertanyaan selanjutnya yang belum benar-benar mendapat jawaban
ditanyakan.
pasti dari Sue
Tetaplah
memegang
kendali Brian memang memegang kendali
sepenuhnya selama wawancara
wawancara, tetapi justru membuatnya
menguasai wawancara dan Sue tidak
mendapat kesempatan untuk berbicara
lebih
Tunjukkan beberapa bukti tidak Tidak ada bukti yang ditunjukkan
langsung tetapi jangan semuanya.
oleh Brian atas pertanyaan yang ia
berikan
c. Ada beberapa jenis pertanyaan yang harus dilakukan oleh pewawancara, yaitu:
Perkenalan, informatif, penilaian, penutup, upaya memperoleh pengakuan
Dalam wawancara antara Brian dan Sue, hal di atas tidak dilakukan perkenalan
langsung to the point dan tidak ada perkenalan sedikitpun, tidak menciptakan
hubungan, tidak ada pengamatan terhadap rekasi Sue. Begitu juga untuk penutup.
Wawancara ini tidak efektif dan pada akhirnya Brian hanya mendapatkan
informasi yang menurut kami kurang jelas dan tidak memberikan informasi yang
mendalam mengenai kasus yang sedang diselidiki.
d. Beberapa peghambat komunikasi yang tidak diperhatikan oleh Brian, yaitu:
8) Pertimbangan penggunaan waktu
9) Ego yang terancam
10) Etiket
Seharusnya Brian sudah paham mengenai hal-hal yang mungkin menghambat
dalam wawancara, tetapi ia tidak memperhatikannya dan tetap menjalankan
wawancara begitu saja.

11

Review Film Primal Fear


Sinopsis
Chicago sontak digegerkan oleh sangkaan pembunuhan Uskup Chicago oleh anak altar,
Aaron. Martin, sebagai pengacara terkemuka kota ini bersedia mendampingi Aaron tanpa
biaya. Sebagai tersangka Aaron tidak memiliki bukti kuat namun ia menyatakan dirinya
pingsan di TKP saat pembunuhan terjadi dan menduga ada orang ketiga. Pada persidangan
Martin menghadapi Jaksa Penuntut, Janet, mantan kekasih dan rekan kerjanya dahulu di
Kejaksaan Chicago. Berlalunya waktu muncul fakta walikota berniat mendirikan real estate
mewah di lingkungan sekitar Katedral Chicago. Aaron ternyata memiliki dua kepribadian,
anak altar yang santun dan anak jalanan yang kasar. Martin mengupayakan kliennya bisa
bebas dari persidangan dan hanya melalui proses evaluasi kejiwaan.
Modus Pelaku
Aaron disini berpura-pura memiliki dua kepribadian yaitu anak altar yang santun dan lugu
(Aaron) dan anak jalanan yang kasar (Roy). Ia menyembunyikan motif pembunuhannya
dengan cara mengaku bahwa dia pingsan saat kejadian dan dia meyakini bahwa dia melihat
sebuah bayangan seseorang ketika sang uskup telah terbaring di lantai. Kemudian setelah dia
melihat bayangan itu dia terjatuh pingsan. Dia membuat sebuah skenario bahwa yang
melakukan pembunuhan bukanlah dia tapi orang ke tiga yaitu Roy (kepribadiannya yang
lain). Pada akhir cerita terungkap bahwa sebenarnya semua itu hanyalah sebuah skenario
yang dibuat oleh Aaron. Aaron tidak memiliki dua kepribadian karena kepribadian Aaron
yang sebenarnya yaitu kasar dan pemarah yang tersimpan dalam dirinya.
Analisis Inquiry Methods Pada Filem Primal Fear
Pada Filem ini semua aspek Metode Penyelidikan sudah dilakukan sesuai prosedur mulai dari
memenuhi Karakteristik Wawancara yang Baik, Karakteristik Pewawancara yang baik,
melakukan Perencanaan Wawancara, Sikap Pewawancara, Bahasa Wawancara juga sudah
sesuai prosedur. Elemen-elemen Percakapan yang digunakan pun sudah terpenuhi semua
mulai dari Ekspresi, persuasi, terapi, budaya dan pertukaran informasi. Disini Interviewer
juga sudah melakukan usaha untuk mengatasi keterbatasan komunikasi yang ada pada
interviewee yaitu dengan cara meminta bantuan dari psikolog.
Namun ada beberapa hal yang salah dari wawancara tersebut yaitu tujuan awal dari
wawancara tersebut. Martin Vail (Richard Gere) merupakan seorang pengacara kondang dan
sukses yang sedang berada di puncak kariernya, karena dia telah memenangkan beberapa
kasus-kasus penting. Bahkan salah satu kliennya adalah seorang mafia terkenal di daerahnya
tersebut. Pada saat kasus pembunuhan uskup ini terjadi, Martin sedang mengadakan
wawancara dengan seorang reporter untuk keperluan profilnya yang akan ditampilkan di
sebuah majalah. Pada saat itu tiba-tiba Martin tertarik utk menangani kasus ini. Sebab
utamanya karena dia cukup senang dengan publikasi. Pembunuhan seorang publik figure yg
melibatkan seorang pemimpin agama pastinya mendapat atensi wartawan dan masyarakat
12

yang cukup banyak. Jadi tujuan wawancara tersebut salah, bukan semata-mata untuk
menolong Aaron tapi hanya untuk menaikkan pamor, yang mengakibatkan informasi yang
interviewer gali menjadi bias.
Selain itu hal yang kurang adalah interviewer tidak melakukan uji kejujuran sejak awal
karena interviewer terlalu percaya kepada Aaron bahwa dia tidak bersalah sehingga pada
akhirnya interviewer bisa dikelabui oleh interviewee (Aaron).
Pelajaran yang bisa diambil dari Filem Primal Fear

Pada filem Primal Fear terdapat scene dimana Marty mengakatan Why gamble with
money when you can gamble with peoples lives? That was a joke. All right, Ill tell
you. I believe in the notion that people are innocent until proven guilty. I believe in
that notion because I choose to believe in the basic goodness of people. I choose to
believe that not all crimes are committed by bad people. And I try to understand that
some very, very good people do some very bad things. Dari pernyataan di atas dapat
diketahui bahwa Marty terlalu percaya kepada Aaron bahwa ia innocent. Meskipun
Marty adalah pengacara Aaron tidak seharusnya Marty percaya 100% kepada Aaron,
meskipun penampilan Aaron terlihat sangat lugu. Seharusny Marty tetap menyimpan
rasa keraguan kepada Aaron agar dia tidak tertipu oleh wajah lugu Aaron.

Pelaku kejahatan ada dimana-mana dan tidak selalu dilakukan oleh orang yang jahat
bahkan orang yang baik pun bisa melakukan kejahatan.

Tingkat religiusitas seseorang bukanlah menjadi jaminan untuk tidak melakukan


kejahatan. Aaron adalah seorang anak altar dimana dia berada pada lingkungan yang
sangat religius dan hal itupun kurang lebih berdampak pada tingkat religiusitasnya.
Namun ternyata hal tersebut tidak menghalangi Aaron untuk melakukan tindak
kejahatan.

Banyak alasan yang menjadi latar belakang terjadinya kriminalitas. Dalam hal ini
Aaron mendapatkan tekanan dari Uskup Agung, dia diminta untuk melakukan
perbuatan tidak menyenangkan oleh Uskup Agung sehingga hal tersebut memicu
emosi Aaron untuk melakukan pembunuhan

13

Daftar Pustaka
Albecht, et al. (2006),Fraud Examination, South-Western, a division of Thomson learning
Eko. 2010. Primal Fear. (Online) (https://eanggadjaja.wordpress.com/2010/07/02/primalfear/, diakses pada Sabtu, 2 Mei 2010)
Priantara, Diaz. 2013. Fraud Auditing & Investigation. Jakarta: Penerbit Mitra Wacana
Media.

14