You are on page 1of 136

BUDIDAYA TANAMAN

SEMUSIM (AGT 223)


KELAS D
DOSEN PENGAMPU :
TRRIDJOKO AGUSTONO
PURWANTO

KONTRAK PEMBELAJARAN

STATUS DAN DESKRIPSI :


Status mata kuliah : Budidaya Tanaman Semusim
merupakan mata kuliah utama.
Deskripsi mata kuliah :
Mata kuliah Budidaya Tanaman Semusim merupakan
mata kuliah yang membahas tentang tanaman
semusim yang meliputi pengelompokan,
pewilayahan, biologi dan ekologi, sistem
pertanaman, dan teknik budidaya sejumlah tanaman
unggulan karena kontribusinya sebagai komiditas
pangan atau industri dan merupakan sumber
pendapatan keluarga petani dan dapat diekspor.
Mata kuliah ini hanya dapat ditempuh setelah
mahasiswa lulus mata kuliah Dasar-dasar Agronomi.

KOMPETENSI DAN MANFAAT :


Setelah lulus mata kuliah ini diharapkan :
mahasiswa dapat mengenali berbagai
kelompok tanaman semusim, mengetahui
pentingnya pewilayahan tanaman semusim,
mengetahui dan menjelaskan aspek biologis
dan ekologis tanaman semusim, melakukan
analisis kesesuaian suatu kawasan untuk
tanaman semusim, menjelaskan garis besar
teknik budidaya sejumlah tanaman semusim.

PROSES PEMBELAJARAN :
Proses pembelajaran meliputi tiga kegiatan
utama, yaitu :
Ceramah dan tanya jawab, dilakukan di kelas,
dosen menjelaskan teori dan atau konsep,
dilanjutkan dengan tanya jawab.
Praktikum, dilakukan di laboratorium atau
lapangan,
Mengerjakan tugas terstruktur yang
diberikan oleh masing-masing dosen, dapat
bersifat kelompok atau mandiri.

PENILAIAN HASIL BELAJAR :

Tugas terstruktur
Praktikum
Ujian Mid Semester
Ujian Akhir Semester

: 20 %
: 25 %
: 25 %
: 30 %

KRITERIA PENILAIAN :
A : X > 80,00
B : 66,00 79,99
C : 56,00 65,99
D : 46,00 55,99
E : X < 46,00

ATURAN PERKULIAHAN :
1. Bagi mahasiswa : Keterlambatan hadir
kuliah maksimum 15 menit. Apabila
melewati batas waktu tersebut, dimohon
kesadarannya untuk tidak masuk ruangan,
atau menutup pintu dari luar.
2. Bagi dosen : Dianggap tidak hadir apabila
15 menit sejak waktu awal kuliah belum
hadir tanpa pemberitahuan.
3. Kuliah yang kosong dengan kesepakatan
harus diganti hari lain.

ATURAN PRAKTIKUM :
Setiap mahasiswa wajib melaksanakan
seluruh acara praktikum dan
menandatangani daftar hasir.
Setiap mahasiswa wajib membuat dan
menyerahkan laporan seluruh acara
praktikum yang dilaksanakan sesuai batas
waktu yang telah ditentukan.
Setiap mahasiswa wajib mengikuti pretest
dan postest yang dilaksanakan.
Penilaian praktikum dilakukan untuk seluruh
tahap kegiatan dan merupakan suatu
kesatuan yang utuh.

ATURAN TUGAS TERSTRUKTUR :


Semua mahasiswa wajib mengerjakan dan
menyerahkan tugas terstruktur yang
diberikan oleh dosen.
Tugas terstruktur dapat bersifat kelompok
atau mandiri sesuai dengan perintah dosen
yang memberikan tugas.
Tugas harus diserahkan sesuai dengan batas
waktu yang telah ditentukan.
Apabila seorang mahasiswa tidak
menyerahkan tugas terstruktur sampai batas
waktu yang telah ditentukan, akan dinilai nol.

COURSE CONTENT :
I.
II.

Pendahuluan.
Botani dan Ekologi Tanaman
Semusim.
III. Analisis kesesuaian suatu kawasan
untuk tanaman semusim.
IV. Sistem Pertanaman.
V. Teknik Budidaya Tanaman Semusim
Unggulan.

I. PENDAHULUAN
Pengertian tanaman semusim : tanaman yang
setelah dalam hidupnya mencapai fase reproduktif
dan dipetik (dipetik sekali atau lebih) hasilnya lalu
mati atau dimatikan.
Dari segi umur, berkisar dari beberapa bulan sampai
2 tahun
Kalau umurnya sampai 1 tahun : annual crops, kalau
umurnya sampai 2 tahun : biannual crop.
Contoh tanaman semusim :
(1) satu kali panen : (a) umur < 1 tahun : jagung,
padi, kedelai, kacang tanah dsb., (b) umur 1 2
tahun : tebu, padi.
(2) dua kali panen atau lebih : tomat, cabai, dsb. (?)

FUNGSI DAN PERAN :


1. Sebagai penghasil pangan (untuk manusia) atau dan pakan (untuk ternak).
2. Sebagai penghasil bahan baku industri
(pangan, pakan, kosmetik dsb).
3. Sebagai penghasil bahan penyedap atau
berkhasiat obat.
4. Sebagai tanaman konservan (fungsi
pengawetan dan perlindungan).
5. Sebagai sumber pendapatan.

1. Penghasil pangan (manusia)


atau dan pakan (ternak).
Fungsi ini biasanya berhubungan dengan
kandungan nutrisi dan gizi yang dimiliki-nya,
misalnya kandungan karbohidrat, protein, lemak
dan vitamin, baik untuk kepentingan manusia
maupun ternak.
Sumber karbohidrat : serealia dan umbi-umbian.
Sumber protein : kedelai, dsb.
Sumber lemak/minyak : kacang tanah, dsb.
Sumber vitamin dan mineral : wortel, tomat,
bayam dsb.

Undang-undang RI No. 7 Th. 1996


Sistem pangan : segala sesuatu yang
berhubungan dengan pengaturan, pembinaan
dan pengawasan terhadap kegiatan atau
produksi pangan dan peredaran produksi
pangan sampai dikonsumsi manusia.
Ketahanan pangan : kondisi terpenuhinya
pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari
ketersediaan pangan yang cukup jumlah/mutu,
aman, merata dan terjangkau.

Pengertian Pangan :
Pangan : segala sesuatu yang berasal dari
sumber hayati dan air, diolah/tidak diolah.
Bentuk yang dikonsumsi : makanan atau
minuman.
Cakupan : bahan baku pangan, bahan
tambahan pangan dan bahan-bahan lain
yang digunakan dalam proses penyiapan,
pengolahan dan/atau pembuatan makan-an
atau minuman.

Batasan Tanaman Pangan :


Batasan untuk tanaman pangan adalah tanaman sumber karbohidrat dan protein.
Sering dibatasi : hanya tanaman semusim
sehingga sumber karbohidrat menjadi terbatas.
Saran : dimasukkan juga tanaman lain penghasil
karbohidrat tanpa dibatasi dengan kelompok
tanaman semusim.
Sehingga : tanaman umbian selain ubi kayu, ubi
jalar dan talas, yaitu ganyong, garut dan kimpul
juga termasuk tanaman pangan, termsuk sukun.

Syarat Komoditas Pangan :


Komoditas pangan harus mengandung zat gizi
yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak,
vitamin dan mineral yang berguna bagi
pertumbuhan dan kesehatan manusia.
Kelompok tanaman budidaya yang termasuk
komoditas pangan : tanaman pangan, tanaman
hortikultura nontanaman hias dan kelompok
tanaman lain penghasil bahan baku produk
yangmemenuhi batasan pangan.

2. Penghasil bahan baku


industri :
Ada bermacam-macam industri, misalnya
industri : makanan, pakan ternak, tekstil,
kosmetik, penyedap/bumbu masak, obatobatan, dsb.
Contoh tanaman : jagung dan kedelai (pangan,
pakan, minyak, kosmetik dsb), tebu (gula,
bumbu masak, spiritus dsb.), tembakau (rokok,
pestisida nabati dsb.), tanaman serat (tekstil,
karung dsb,), obat-obatan/antioksidan (bawang
merah, bawang putih, dsb).

3. Bahan penyedap & berkhasiat


obat :
Contoh tanaman penyedap : cabai,
bawang merah, bawang putih.
Tanaman berkhasiat obat karena
mengandung antioksidan : bawang
merah, bawang putih.

4. Tanaman konservasi :
Tanaman berfungsi untuk mengawetkan
tanah, baik dari segi fisik maupun kimiawi.
Contoh tanaman : tanaman semusim yang
termasuk dalam golongan
legume/kacang-kacangan (kedelai, orokorok, penutup tanah lain).

5. Sebagai sumber pendapatan :


Apapun fungsi teknis yang dimiliki, tanaman
semusim banyak yang memiliki nilai jual/nilai
ekonomi tinggi, oleh karena itu sejak skala
usahatani keluarga sampai perusahaan
pertanian, tanaman semusim dapat digunakan
sebagai sumber pendapatan dan mencari
keuntungan.
Contoh : jagung, kedelai, kacang tanah, cabai,
kentang, kol, bawang merah, bawang putih dsb.

6. Diversifikasi usahatani :
Berhubungan dengan sistem pertanaman
yang dikembangkan : tanaman monokultur, multiple cropping, alley cropping dsb.
Dengan diversifikasi tersebut ada banyak
manfaat yang diperoleh antara lain : keefisienan penggunaan waktu dan lahan,
meningkatkan variasi produk, menghilangkan sifat ketergantungan, manfaat konservasi, keberlanjutan usahatani, dsb.

II. A. ASPEK BOTANI


Klasifikasi :
Tanaman yang semusim dibudidayakan, secara
garis besar termasuk dalam dua, yaitu kelas
Dicotyledoneae dan Monocotyledoneae.
Dalam kelas Dicotyledoneae meliputi beberapa,
terutama : Solanaceae, Leguminosae,
Rosaceae, Pedaliaceae dsb.
Dalam kelas Monocotyledoneae, sebagian besar
termasuk kelas Gramineae

Dicotyledoneae :
1. Famili Solanaceae, misalnya :
Cabai (Capsicum annum)
Tomat (Solanum exculentum)
Kentang (Solanum tuberosum)
Terong (Solanum melongena)

Dicotyledoneae
2. Leguminosae misalnya :
Kedelai (Glycine max)
Kacang tanah (Arachis hypogaea)
Kacang hijau (Vigna radiata/Phaseolus radiatus)
3. Pedaliaceae, misalnya :
Wijen (Sesamum indicum, S. orientale)
4. Rosaceae, misalnya :
Strawberry (Fragaria annanosa)

Monocotyledoneae :
Famili Gramineae, misalnya :
Padi (Oryza sativa)
Jagung (Zea mays)
Sorghum (Sorghum vulgare)
Hermada (Sorghum bicolor)
Millet (Pennisetum millet)
Gandum (Triticum sp.)

Akar dan sistem perakaran


Fungsi akar :
(1) menunjang tegaknya tanaman.
(2) menyerap air dan unsur hara dari
dalam tanah.
(3) melakukan aktivitas metabolisme dan
membentuk berbagai persenyawaan yang
diperlukan oleh tanaman.
(4) tempat menyimpan cadangan
makanan.

Akar dan sistem perakaran


Kelas dikotil : merupakan akar tunggang yang
bercabang-cabang, terdiri dari cabang primer,
sekunder dan tertier, di seluruh permukaan akar
dapat tumbuh bulu-bulu akar rambut berfungsi
untuk menyerap air dan unsur hara yang
dibutuhkan oleh tanaman.
Selama perkembangannya, tidak ada yang
mengalami reduksi, akar terus tumbuh dan
berkembang sampai dewasa. Perkembangan
yang terjadi adalah pembentukan cabangcabang primer, sekunder dan tertier beserta
bulu-bulu akarnya.

Akar dan sistem perakaran


Akibatnya sistem perakaran tanaman
menjadi luas dan dalam, tergantung jenis
tanamannya, ukuran diameter sistem
perakaran dan kedalamannya bervariasi.
Faktor ini akan menentukan jarak tanam
yang digunakan dalam budidayanya.
Perkembangan sistem perakaran
dipengaruhi terutama oleh kodisi dalam
tanah lingkungan perakarannya.

Akar dan sistem perakaran


Pada kelompok tanaman monokotil, akar merupakan
akar serabut, pertumbuhan akar lebih dominan di
daerah tanah dekat permukaan, pertumbuhan ke
dalam kurang dominan, sangat tergantung pada
kondisi tanah, ter-utama struktur dan ketersediaan
air tanahnya.
Pertumbuhan akar dimulai dengan tumbuhnya akar
se-minal ketika biji berkecambah, akar seminal akan
mati ketika cadangan makanan dalam biji habis dan
diganti dengan akar-akar lateral yang tumbuh dari
ruas-ruas yang ada di bagian bawah batang, yang
selanjutnya berfungsi untuk menunjang tumbuhnya
tanaman selanjutnya.

Gambarkan !
Penampang melintang akar.
Penampang membujur akar.
Macam-macam sistem perakaran.
Pada kelompok monokotil maupun
kelompok dikotil dan bandingkan antar
keduanya !

Pentingnya mengenali sistem


perakaran :
Pada pengolahan tanah : berhubungan
dengan kedalaman dan intensitas
pengolahan tanah, pembuatan saluran irigasi
dan drainase, pengelolaan tata air.
Pada penanaman : cara menanam,
kedalaman tanam, jarak tanam.
Pada pemupukan dengan pupuk sintetik :
cara memupuk, kedalaman penempatan
pupuk, jarak penempatan pupuk dari
tanaman.

Habitus tanaman
Habitus atau bentuk tajuk tanaman ada bermacammacam.
Tanaman dari kelompok dikotil dapat berupa semak
atau terna (semak kecil). Tanaman terdiri dari batang
utama yang bercabang-cabang, Tingkat
percabangan ada yang hanya sampai tingkat primer,
ada yang sampai tingkat tertier atau lebih. Akibatnya
tanaman dapat tampak tumbuh rimbun, tergantung
pada banyaknya percabangan dan dedaunannya.
Tanaman dari kelompok monokotil, ada yang tumbuh
merumpun, ada yang tidak, sehingga hanya tampak
satu batang. Dedaunan tumbuh dari buku-buku
batang secara berseling. Habitusnya biasanya tidak
serimbun kelompok tanaman dikotil.

Gambarkan !
Habitus pertumbuhan kelompok
tanaman dikotil.
Habitus pertumbuhan kelompok
tanaman monokotil.
Bandingkan antar keduanya !

Manfaat mengenali habitus


tanaman :
Pada penanaman : dapat
memperhitung-kan jarak dan pola
bertanamnya.
Pada pemupukan : dapat mempertimbangkan cara pemupukan, penempatan
pupuk.
Pemeliharaan : mempertimbangkan
perlunya tindakan tertentu misalnya
pemangkasan.

Daun
Kelompok dikotil, bentuk helaian daunnya ber-macammacam, struktur pertulangannya terdiri dari tulang daun
utama yang bercanag-cabang, dengan percabangan yang
membentuk suatu jaringan. Ke-lompok tanaman ini
umumnya merupakan tanaman C3, dengan produk awal
fiksasi CO2 adalah PGA.
Kelompok monokotil, helaian daun berbentuk pita dengan
tulang-tulang daun yang sejajar. Orientasi daun dapat
tegak, intermediate atau terkulai. Kelom-pok tanaman ini
ada yang merupakan tanaman C3 (gandum, padi) ada juga
yang C4, produk awalnya asam malat dan aspartat (tebu,
jagung, sorghum).
Secara anatomis, struktur daun kedua kelompok tanaman
tersebut juga berbeda, hal ini membawa konsekuensi
pada perbedaan bentuk produk awal fiksasi CO2.

Gambarkan sketsa !
Helaian dan penampang melintang daun
untuk kelompok dikotil.
Helaian dan penampang melintang daun
untuk kelompok monokotil.
Bandingkan antar keduanya !

Manfaat mengenali daun :


Dapat mempertimbangkan lokasi penanaman untuk
suatu jenis tanaman, terutama dalam hal kebutuhan
cahaya matahari. Untuk tanaman Angiospermae
(berbiji), sebagian kecil merupakan tanaman C4,
sebagian besar C3)
Tanaman C4 seperti tebu, jagung dan sorghum
melakukan fotosintesis lebih efisien pada intensitas
cahaya tinggi dan menghasilkan lebih banyak
biomassa dibandingkan dengan tanaman C3 seperti
padi, gandum, rye..
Berhubungan dengan kebutuhan intensitas cahaya
adalah musim tanam, apakah musim penghujan atau
kemarau.

Batang
Batang kelompok dikotil bercabang-cabang,
membentuk habitus yang rimbun,
mempunyai struktur jaringan yang lebih kuat
karena berkayu, mempunyai sistem
pembuluh yang sinambung mengelilingi
empulur.
Batang kelompok monokotil umumnya
tumbuh merumpun tapi ada yang tunggal,
batangnya lurus tidak bercabang, terdiri dari
ruas dan buku, mempunyai sistem pembuluh
yang tidak sinambung, tidak mempunyai
empulur yang nyata.

Gambarkan !
Penampang melintang batang dikotil.
Penampang melintang batang
monokotil.
Bandingkan antar keduanya !

Manfaat mengenali batang :


Dapat membedakan batang kelompok
tanaman monokotil dan dikotil.
Dapat mengenali fungsi utama dari
batang monokotil dan dikotil.
Dapat memanfaatkan dalam sejumlah
tindakan dalam budidaya tanaman,
misalnya cara panen, pemanfaatan
sebagai bahan pupuk organik dsb.

Bunga
Kelompok dikotil umumnya membentuk
dompolan, struktur bagian-bagian bunga
lengkap dan jelas, umumnya merupakan
tanaman berumah satu, proporsi menyerbuk
dan menyerbuk silang seimbang.
Kelompok monokotil umumnya membentuk
malai atau tongkol, kadang-kadang ada
modifikasi struktur dan fungsi, mayoritas
menyerbuk sendiri, kecuali jagung.

Manfaat mengenali bunga


Dapat menduga sistem penyerbukan yang
dimiliki tanaman.
Dapat menentukan perlu atau tidaknya
isolasi jarak atau waktu untuk menjamin
kualitas.
Dapat memperkirakan hasil yang akan
dicapai.
Dapat memperkirakan tindakan-tindakan
tertentu misalnya pembumbunan,
pemupukan, penjarangan bunga.
Dan lain-lain.

5. Buah/biji
Buah tanaman dikotil dapat berbentuk
polong, atau buah dengan struktur lengkap
yang terdiri dari kulit, daging buah dan biji.
Biji tanaman dikotil, memiliki kotiledon yang
sebenarnya merupakan bagian dari embrio.
Untuk tanaman monokotil umumnya hanya
terdiri dari kulit dan biji.
Biji tanaman monokotil terdiri dari embrio
dan endosperm.

Gambarkan !
Buah kelompok dikotil dan monokotil.
Biji kelompok dikotil dan monokotil.
Bandingkan antara kedua kelompok
tersebut !

Manfaat mengenali buah/biji :


Membedakan tindakan-tindakan budidaya
kedua kelompok tanaman mulai persiapan
benih, persiapan tanah, menanam dan
selanjutnya.
Dapat melakukan proses-proses panen dan
penanganan pasca panen dengan baik,
memperkirakan daya simpan, menentukan
teknik penyimpanan, pengemasan dan
transportasi.
Dapat membandingkan langkah-langkah
tersebut pada kelompok monokotil dan
dikotil.

Bentuk crop yang diambil


Bentuk crop yang diambil dapat berupa
(1) umbi (merupakan modifikasi akar :
ubi jalar, ubi kayu, wortel, lobak, bit
atau batang : kentang), (2) umbi lapis
(bawang merah, bawang bombay),
(3) batang (tebu), (4) daun (tembakau),
(5) bunga (kol, brokoli) (6) buah (tomat,
cabai, mentimun), (7) biji (kedelai,
kacang tanah, padi, jagung),

Manfaat mengenali crop yang


diambil :
Dalam persiapan tanah, baik kedalaman
pengolahan maupun intensitasnya.
Dalam pemupukan : menentukan jenis, dosis,
saat, cara pemupukan.
Dalam pemeliharaan : penyiangan (saat,
cara), bumbun (saat, cara, jumlah), dsb.
Panen dan pasca panen : saat, cara, sortasi,
pengemasan, penyimpanan, transportasi
dsb.

II. B. LINGKUNGAN TUMBUH


B1 : TANAH
a) SIFAT FISIK.
b) SIFAT KIMIA.
c) SIFAT BIOLOGI TANAH.
B 2 : IKLIM
a) RADIASI MATAHARI
b) SUHU
c) CURAH HUJAN

B1. a). Sifat fisik tanah


1) Tekstur : proporsi antara fraksi-fraksi tanah yang
berupa pasir(fraksi paling besar/kasar), debu (fraksi
sedang), dan liat/lempung (fraksi paling kecil/halus).
2) Struktur : bagaimana fraksi-fraksi tanah menyusun
butiran-butiran tanah.
Keduanya akan menentukan
(1) besar-kecil dan banyak-sedikitnya pori-pori tanah
yang sangat mempengaruhi ketersediaan O2 dan air
tanah yang penting bagi pertum-buhan dan
perkembangan akar dalam tanah dan
(2) konsistensi tanah yang mempengaruhi beratringannya tanah untuk diolah.
(3) daya tembus dan luas/dalamnya sistem perakaran
dalam tanah.

B1. a). Sifat fisik tanah


Tekstur tanah dan struktur tanah dapat berbeda
antar jenis tanah, oleh karena itu jenis tanah juga
berpengaruh pada pertumbuhan dan hasil tanaman
semusim.
Berbagai pengkategorian tekstur tanah dapat dilihat
pada segitiga tekstur (baca dasar-dasar ilmu
tanah),misalnya pasir berdebu, debu berpasir,
lempung berdebu, debu berlempung dsb.
Makin banyak proporsi fraksi tanah yang berukuran
kecil, makin berat pengolahannya, akan tetapi makin
tinggi daya memegang airnya,
Struktur tanah dapat diperbaiki dengan memberikan
bahan organik,

B1. a). Sifat fisik tanah


Setiap jenis tanaman menghendaki tekstur dan struktur tanah
yang berbeda untuk pertumbuhan optimalnya.
Contoh :
Kedelai : berbagai jenis tanah, drainase baik, ketersediaan air
cukup, kurang baik pada tanah pasir.
Tebu : terutama tanah yang mempunyai tekstur lempung
berdebu yang mempunyai daya ikat air tinggi, akan tetapi
drainasenya baik (untuk tanah sawah) atau mempunyai
struktur ring-an bila di tanah tegalan.
Kacang tanah : lempung berpasir atau liat berpasir , struktur
remah.
Tembakau vorstenlanden : struktur remah, sedikit berpori,
pasir halus, aerasi baik.
Jagung : hampir semua tipe tanah, struktur ringan, drainase
baik,

B1. b) Sifat kimia tanah


Kandungan unsur hara (total/tersedia) :
menentukan kecukupan unsur hara tanaman
Kemasaman (pH) tanah : dapat menentukan
ketersediaan unsur hara, defisiensi atau
keracunan unsur hara tertentu yang jumlahnya
berlebihan.
Kapasitas tukar kation : menentukan ketersediaan unsur hara dalam larutan tanah, kemungkinan
keracunan atau defisiensi dsb.

B1. c). Sifat biologi tanah


Jenis mikrobia dalam tanah :
(1) menguntungkan karena cara hidupnya
(sebagai dekomposer bo, membantu
penyediaan unsur hara baik langsung
maupun tidak langsung melalui perbaikan
sifat kimia tanahnya, berperan dalam fiksasi
nitrogen dsb.) atau
(2) merugikan karena bersifat patogenik yang
menyebabkan penyakit (misal pada akar).
Populasi mikrobia dalam tanah, menentukan
intensitas kemanfaatan atau kerugian yang
ditimbulkan.

B2. a) Radiasi matahari


(1) Banyaknya radiasi matahari : menentukan
energi matahari total yang diterima oleh
tanaman selama masa pertumbuhannya.
(2) Intensitas radiasi matahari : banyaknya
radiasi matahari yang diterima per satuan
luas per satuan waktu tertentu.
(3) Lamanya penyinaran matahari : lamanya
tanaman menerima radiasi matahari.
(1) = (2) x (3), berhubungan dengan konsep
degree day.

B2. a) Radiasi matahari


Dalam hubungannya dengan pemanfaatan
radiasi matahari, dikenal ada :
(1) tanaman C3 (misal padi, gandum) yang
tidak efisien, dan
(2) tanaman C4 (misal tebu, jagung sorghum)
yang efisien dalam memanfaatkan intensitas
cahaya tinggi.
Produk awal fiksasi CO2 tanaman C4 : asam
malat dan asam aspartat (4C), sedang produk
awal fiksasi CO2 pada tanaman C3 : asam
fosfogliserat (phosphoglyceric acid = PGA,
3C).

B2. a) Radiasi matahari


Fotoperiodisitas : respon tanaman terhadap
panjang siang hari (lamanya penyinaran
matahari tiap hari).
Dikenal ada : tanaman hari panjang, tanaman
hari normal, dan tanaman hari pendek.
Hari : panjang > 14 jam, normal 12 jam,
pendek < 12 jam.
Pengaruhnya : fotosintesis, pembungaan
dsb. (baca Agroklimatologi).

B2. a) Radiasi matahari


Di daerah tropis, efek fotoperiodisitas terjadi
terutama untuk tanaman (sayuran) yang
banyak ditanam di dataran tinggi.
Tanaman dari daerah sedang dapat tumbuh
baik di daerah tropis karena sudah
beradaptasi, misal : padi.
Radiasi matahari akan berpengaruh pada
unsur iklim yang lain terutama suhu,
kelembapan udara, tekanan udara, angin dsb.

B2. b) Suhu
Terjadi karena efek radiasi matahari.
Dipengaruhi terutama oleh tinggi tempat,
makin tinggi tempat suhu makin rendah.
Pada tanaman, suhu udara berpengaruh
pada fotosintesis, respirasi, pembungaan.
Pada tanah, suhu berpengaruh pada
viscositas larutan air tanah,selanjutnya dapat
mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur
hara tertentu, kemampuan tanaman untuk
menyerap unsur hara, hardening akar dan
lain-lain.

B2. b) Suhu
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman
merupakan hasil proses kimia (kimia
organik) dalam sel.
Enzim adalah protein, keberadaan dan
aktifitasnya sangat dipengaruhi oleh suhu
(peka terhadap suhu).
Pada suhu yang ekstrim (terlalu tinggi/
rendah) dapat mengalami denaturasi, maka
suhu di lingkungan tajuk maupun perakaran
tanaman sangat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan hasil tanaman.

B2. b) Suhu
Keragaman fungsi organ tanaman,
keragaman varietas dan keragaman
spesies menyebabkan jenis-jenis
ensim sangat beragam baik menurut
jenis organ (akar, batang, daun, bunga,
buah, biji) maupun antar jenis tanaman.
Oleh karena itu tiap jenis tanaman
membutuhkan suhu kardinal yang
berbeda-beda.

B2. b) Suhu
Suhu kardinal tanaman :
1) Suhu minimum lethal, suhu di mana tanaman mati
karena denaturasi enzim oleh suhu rendah.
2) Suhu dasar tanaman, yaitu suhu lingkungan
terendah dimana pertumbuhan organ vegetatif
dimulai.
3) Suhu optimum tanaman, yaitu suhu lingkungan
tanaman yang memungkinkan pertumbuhan
tanaman optimum.
4) Suhu maksimum lethal, yaitu suhu lingkungan yang
menyebabkan tanaman mati karena denaturasi
protein oleh suhu tinggi.

B2. c) Curah hujan


Yang penting adalah jumlah dan sebaran
curah hujan.
Jumlah curah hujan menyangkut kebutuhan
curah hujan total selama tanaman tumbuh.
Sebaran curah hujan menyangkut bagaimana
curah hujan menyebar selama tanaman
tumbuh, sebarannya perlu selaras dengan
kebutuhan tanaman pada setiap stadia
pertumbuhannya.
Baik jumlah maupun sebaran curah hujan
yang dibutuhkan setiap jenis komoditas
tanaman akan berbeda-beda.

B2. c) Curah hujan


Hujan menentukan : (1) ketersediaan air, (2) penerimaan radiasi matahari, (3) suhu udara selama
pertumbuhan, (4) dinamika populasi serangga
hama dan patogen dsb.
Jumlah dan sebaran curah hujan mempengaruhi :
dinamika unsur-unsur iklim (suhu, kelembapan
udara, kecepatan angin dan sebagainya).
Hasil interaksi pengaruh masing-masing unsur
iklim akan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil
tanaman yang ditanam di suatu kawasan.

B2. c) Curah hujan


Reaksi tanaman apabila kekurangan air :
1) Drought escape : menyelesaikan siklus hidup
lebih cepat sebelum defisit air berkembang.
2) Drought avoidance : mempertahankan potensial air dalam tanaman tetap tinggi dengan
cara : meningkatkan penyerapan air atau
mengurangi kehilangan air.
3) Drought tolerance : bertahan hidup dan tetap
melakukan aktifitas fisiologik meski kondisi
potensial air tanaman rendah. Caranya :
dengan dehydration tolerance dan turgor
maintenance.

B2. c) Curah hujan


Jumlah kebutuhan air untuk tiap-tiap
stadia pertumbuhan berbeda-beda.
Umumnya selama stadia vegetatif
jumlah kebutuhan air lebih banyak
dibandingkan stadia reproduktif.
Sebaran curah hujan akan menentukan
cukup-tidaknya kebutuhan air untuk
tiap-tiap stadia pertumbuhan.

B2. c) Curah hujan


Kecukupan kebutuhan air pada tiaptiap stadia pertumbuhan akan menjamin keberhasilan budidaya.
Penentuan waktu tanam yang tepat
sangat diperlukan untuk menjamin
kebutuhan air pada tiap-tiap stadia
pertumbuhan.
Pengelolaan air pada masing-masing
stadia sangat diperlukan.

III. EVALUASI KESESUAIAN LAHAN


A.
1.
2.
3.
B.
1.
2.
3.
C.

Pendahuluan
Konsep evaluasi dan kesesuaian.
Klasifikasi kesesuaian.
Pendekatan dalam evaluasi.
Kualitas dan karakteristik lahan
Topografi
Iklim
Tanah
Prosedur evaluasi kesesuaian lahan

A.1. Konsep evaluasi dan


kesesuaian
Evaluasi lahan : proses penilaian
sumberdaya lahan untuk tujuan
tertentu dengan pendekatan/cara yang
sudah teruji.
Manfaat :memberi informasi/arahan
penggunaan lahan sesuai keperluan.

A.1. Konsep evaluasi dan


kesesuaian
Kesesuaian lahan : tingkat kecocokan
sebidang lahan untuk penggunaan
tertentu.
1) Kesesuaian lahan aktual, dinilai untuk
kondisi saat ini.
2) Kesesuaian lahan potensial, dinilai
setelah diadakan perbaikan.

A.1. Konsep evaluasi dan


kesesuaian
Kesesuaian lahan aktual : kesesuaian
lahan berdasarkan data sifat biofisik
tanah atau sumberdaya lahan sebelum
lahan tersebut diberi masukan yang
diperlukan untuk mengatasi kendala.
Data biofisik : (1) karakteristik lahan
dan (2) iklim yang berhubungan
dengan persyaratan tumbuh tanaman
yang dievaluasi.

A.1. Konsep evaluasi dan


kesesuaian
Kesesuaian lahan potensial :
menggambarkan kesesuaian yang akan
dicapai apabila dilakukan usaha-usaha
perbaikan.
Lahan yang dievaluasi :
a. hutan konversi,
b. lahan terlantar/tidak produktif,
c. lahan pertanian yang produktivitasnya
kurang memuaskan, tetapi masih dapat
ditingkatkan apabila komoditasnya diganti
dengan tanaman yang lebih sesuai.

A. 2. Klasifikasi kesesuaian
Struktur klasifikasi (FAO, 1976) menurut
tingkatannya : Ordo, Kelas, Subkelas dan
Unit.
Ordo : keadaan kesesuaian lahan secara
global. Pada tingkat ordo dibedakan menjadi
(1) sesuai (S = Suitable) dan
(2) tidak sesuai (N = Not suitable).
Kelas : keadaan tingkat kesesuaian lahan
dalam tingkat ordo.

A. 2. Klasifikasi kesesuaian
Berdasarkan tingkat detail skala pemetaan, kelas
kesesuaian lahan dibedakan menjadi :
(1) Untuk pemetaan tingkat semidetail (skala 1 : 25000
1 : 50000) pada tingkat kelas lahan yang sesuai (S)
dibedakan menjadi menjadi : sangat sesuai (S1),
cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3). Sedang
lahan yang tidak sesuai (N) tidak dibedakan menjadi
kelas-kelas,
(2) Untuk pemetaan tingkat tinjau (skala 1 : 100000
1 : 250000) pada tingkat kelas dibedakan menjadi
kelas : sesuai (S), sesuai bersyarat (CS) dan tidak
sesuai (N).

Penjelasan :
1) Kelas S1 : sangat sesuai. Lahan tidak
mempunyai faktor pembatas yang
berarti/nyata terhadap penggunaan secara
berkelanjutan, atau faktor pembatas
bersifat minor dan tidak akan berpengaruh
terhadap produktivitas lahan secara nyata.
2) Kelas S2 : cukup sesuai. Lahan mempunyai
faktor pembatas dan faktor pembatas ini
akan berpengaruh terhadap
produktivitasnya, memerlukan tambahan
masukan (input). Pembatas tersebut
biasanya dapat diatasi oleh petani sendiri.

Penjelasan :
3) Kelas S3 : sesuai marginal. Lahan punya
faktor pembatas yang berat dan faktor pembatas ini sangat berpengaruh ada produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan
yang lebih banyak dibandingkan lahan S2.
Untuk mengatasi pembatas pada lahan S3
diperlukan modal yang tinggi, sehingga perlu
bantuan/campur tangan pemerintah swasta.
4) Kelas N : tidak sesuai karena mempunyai
faktor pembatas yang sangat berat dan/ atau
sulit diatasi.

A. 3. Pendekatan dan evaluasi


Ada beberapa macam pendekatan :
1. Sistem perkalian parameter,
2. Sistem penjumlahan paramter,
3. Sistem pencocokan/matching,
antara kualitas lahan dan karakteristik
lahan dengan persyaratan tumbuh
tanaman.

B. Kualitas dan karakteristik


lahan
Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal
atau attribute yang bersifat kompleks dari
sebidang lahan.
Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan
(performance) yang berpengaruh terhadap
kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu
dan biasanya terdiri dari satu atau lebih
karakteristik lahan (land characterisics).
Kualitas lahan ada yang dapat diestimasi dan
diukur secara langsung di lapangan, tetapi
pada umumnya ditetapkan berdasarkan
karakteristik lahan (FAO, 1976).

Hubungan kualitas lahan dengan


karakteristik lahan
1) Temperatur (tc) : suhu rata-rata ( C)
2) Ketersediaan air (wa) : curah hujan
(mm), kelembapan (%), lamanya bulan
kering.
3) Ketersediaan oksigen (oa) : drainase.
4) Keadaan media perakaran (rc) :
tekstur, bahan kasar (%), kedalaman
tanah (cm).

Hubungan kualitas lahan dengan


karakteristik lahan
5) Retensi hara (nr) : KTK liat, kejenuhan
basa, pH.
6) Toksisitas (xc) : salinitas.
7) Bahaya erosi (eh) : lereng (%), bahaya
erosi.
8) Bahaya banjir (fh) : genangan.
9) Dan sebagainya.

Penjelasan :
Karakteristik lahan yang erat kaitannya
untuk keperluan evaluasi lahan dapat
dikelompokkan ke dalam 3 faktor
utama yaitu : topografi, tanah dan iklim.
Karakteristik lahan tersebut (terutama
topografi dan tanah) merupakan unsur
pembentuk satuan peta tanah.

B. 1. Topografi
Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah :
(1) bentuk wilayah (relief) atau lereng dan
(2) ketinggian tempat dari permukaan laut
(dpl).
Relief erat kaitannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi.
Ketinggian tempat dpl berhubungan dengan
persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan suhu udara dan radiasi
matahari.

Bentuk wilayah (relief) dan kelas


lereng (%)
Relief
Datar
Berombak/agak melandai
Bergelobang/melandai
Berbukit
Bergunung
Bergunung curam
Bergunung sangat curam

Lereng (%)
<3
3-8
8 - 15
15 - 30
30 - 40
40 - 60
> 60

Ketinggian tempat :
Diukur dari permukaan laut sebagai titik nol.
Dalam kaitannya dengan tanaman
dibedakan :
(1) dataran rendah (< 700 m dpl)
(2) dataran tinggi (> 700 m dpl).
Kesesuaian tanaman terhadap
ketinggian tempat berhubungan
dengan suhu dan radiasi matahari.

Ketinggian tempat :
Semakin tinggi tempat, baik suhu
maupun radiasi matahari cenderung
semakin menurun.
Ketinggian tempat dapat dikelaskan
sesuai kebutuhan tanaman.
Misal : teh dan kina lebih sesuai pada
daerah dingin atau daerah dataran
tinggi, sedang karet, sawit dan kelapa
sesuai di dataran rendah

B. 2. Iklim : Suhu udara


Apabila data suhu udara tidak tersedia, suhu
udara dapat diduga berdasarkan ketinggian
tempat dpl.
Semakin tinggi tempat semakin rendah suhu
udara rata-ratanya, dapat dihitung dengan
rumus Braak (1928) sbb :
26,3 C (0,01 x elevasi dalam meter x 0,6 C)
Suhu rata-rata di tepi pantai berkisar antara
25 - 27 C.

B. 2. Iklim : Curah hujan


Data curah hujan dapat diperoleh dari
stasiun penakar hujan.
Cara mengukur : manual dan otomatis.
Untuk keperluan penilaian kesesuaian
lahan, dasarnya :
(1) jumlah curah hujan tahunan,
(2) jumlah bulan basah dan
(3) jumlah bulan kering.

B. 2. Iklim : Curah hujan


Oldeman (1975) : mengelompokkan
wilayah berdasarkan jumlah bulan
basah dan jumlah bulan kering
berturut-turut.
(1) Bulan basah > 200 mm.
(2) Bulan kering < 100 mm.
Berguna untuk tanaman pangan,
terutama padi.
Ada 5 kelas utama : A, B, C, D dan E.

B. 2. Iklim : Curah hujan


Schmidt & Ferguson (1951) membuat
klasifikasi berdasarkan curah hujan :
bulan basah > 100 mm dan bulan
kering < 60 cm.
Lebih bersifat umum untuk pertanian,
biasanya digunakan untuk menilai kesesuaian lahan bagi tanaman tahunan.

B.3. Tanah

1)
2)
3)
4)
5)

Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat/karakteristik tanah :
Drainase tanah,
Tekstur tanah,
Kedalaman tanah,
Bahaya erosi,
Retensi hara (pH dsb.).

1). Drainase
Menunjukkan kecepatan meresapnya air
dari tanah atau keadaan tanah yang
menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh
air.
Dibedakan menjadi :
(a) Cepat, (b) Agak cepat, (c) Baik, (d) Agak
baik, (e) Agak terhambat, (f) Terhambat, dan
(g) Sangat terhambat.

2). Tekstur tanah


1) Sangat halus (sh) : liat (tipe mineral liat 2:1)
2) Halus (h) : liat berpasir, liat, liat berdebu.
3) Agak halus (ah) : lempung berliat, lempung
liat berpasir, lempung liat berdebu.
4) Sedang (s) : lempung berpasir sangat
halus, lempung, lempung berdebu, debu.
5) Agak kasar (ak) : lempung berpasir.
6) Kasar (k) : pasir, pasir berlempung.

3). Kedalaman tanah


Kedalaman tanah dibedakan menjadi :
Sangat dangkal : < 20 cm.
Dangkal : 20 cm 50 cm.
Sedang : 50 cm 75 cm.
Dalam : > 75 cm.

4). Bahaya erosi


Tingkat
Sangat ringan (sr)
Ringan (r)
Sedang (s)
Berat (b)
Sangat berat (sb)

Tanah yang
hilang (cm/tahun)
< 0,15
0,15 0,9
0,9 1,8
1,8 4,8
> 4,8

5). pH tanah
Kelas
Sangat masam
Masam
Agak masam
Netral
Agak alkalis
Alkalis

pH tanah
< 4,5
4,5 5,5
5,6 6,5
6,6 7,5
7,6 8,5
> 8,5

C. Prosedur evaluasi kesesuaian


lahan
Terdiri dari beberapa tahap, yaitu :
1) Penyusunan karakteristik lahan.
2) Penyusunan persyaratan tumbuh
tanaman
3) Proses evaluasi kesesuaian lahan
(matching).
4) Kesesuaian lahan terpilih/penentuan
arahan penggunaan lahan.

Bagan metode evaluasi


data peta ikl.
ch, suhu

data peta tanah


lereng, kark. tanah

peta topogtafi
relief, elevasi

karakteristik lahan

matching

kesesuaian lahan
utk komoditas prioritas
penggunaan lahan
aktual
arahan penggunaan lahan

persyaratan tanman
penggunaan lahan

Metode Klimogram :
1. Dasar pemikiran :
a) Pengaruh faktor iklim sangat penting.
b) Hubungan antara iklim dengan pertanian
mencakup segala aspek integrasi antara
unsur-unsur iklim dan tanaman.
c) Unsur-unsur iklim berpengaruh besar
terhadap pertumbuhan dan perkembangan
tanaman, dan setiap daerah mempunyai
kondisi dan karakteristik unsur-unsur iklim
yang berbeda.

Metode Klimogram :
2. Dasar analisis :
Data iklim dari pusat produksi tanaman
yang akan dikembangkan, terutama
data iklim yang merupakan faktor
pengendali utama bagi pertumbuhan,
perkembangan dan produksi tanaman
yang bersangkutan.

Metode Klimogram :
3. Prinsip dasar :
Klimogram merupakan grafik yang menunjukkan interaksi (perpotongan) antara dua
buah unsur iklim rata-rata bulanan dalam
suatu siklus (setahun).
Contoh : untuk membuat grafik klimogram
tanaman tebu dapat digunakan unsur iklim
suhu udara dan curah hujan. Karena suhu
udara dan curah hujan merupakan unsur
iklim yang paling besar pengaruhnya
terhadap kualitas dan kuantitas produksi
tanaman tebu.

Metode Klimogram :
Penggunaan klimogram : dalam skala titik/
daerah atau wilayah.
Dalam skala wilayah misalnya skala kabupaten, klimogram dapat digunakan untuk
memetakan kabupaten, yang dapat menjadi
alternatif daerah budidaya suatu tanaman.
Hasil analisis klimogram dapat digunakan
untuk membuat peta potensi agroklimat
suatu wilayah atau daerah.

Tahapan pembuatan klimogram :


1) Tentukan tanaman pertanian yang akan
dicari kesesuaian iklimnya.
2) Carilah 3 atau lebih daerah yang telah
menjadi sentra produksi selama lebih dari
10 tahun.
3) Tentukan unsur iklim yang paling berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas
produksi tanaman tersebut. Kalau ada lebih
dari satu unsur, maka dapat dibuat grafik
klimogram dari berbagai variasi hubungan
yang ada.

Tahapan pembuatan klimogram :


4) Lakukan inventarisasi data iklim
harian, terutama unsur-unsur iklim
yang paling berpengaruh selama
minimal 10 tahun. Kemudian buat
rata-rata bulanan (Januari sampai
Desember) dari setiap unsur iklim
tersebut. Data rata-rata iklim yang
telah diinventarisasi dirata-ratakan
dalam bentuk tabel.

Tahapan pembuatan klimogram :


5) Sebagai langkah awal pembuatan grafik
klimogram, tentukan dua unsur iklim, kemudian plotkan dalam bentuk grafik garis
yang saling berhubungan dari bulan Januari
sampai Desember.
6) Setelah grafik klimogram daerah sentra produksi selesai dibuat, tentukan daerahdaerah yang akan diuji apakah mempunyai
kesesuaian iklim terhadap tanaman yang
telah ditentukan.

Tahapan pembuatan klimogram :


7) Lakukan inventarisasi data iklim harian
daerah-daerah yang akan diuji, terutama
unsur-unsur iklim yang paling berpengaruh
selama 10 tahun. Kemudian buat rata-rata
bulanan (Januari sampai Desember) dari
setiap unsur iklim tersebut.
8) Plotkan dalam bentuk grafik yang saling
berhubungan dari bulan Januari sampai
Desember.

Tahapan pembuatan klimogram :


9) Lakukan overlay antara grafik klimogram
daerah sentra produksi dengan grafik dari
daerah yang diuji.
10)Dari hasil overlay dapat dilihat : jika antara
grafik klimogram sentra produksi dengan
grafik daerah yang diuji berhimpit, maka
daerah yang diuji tersebut secara iklim cocok untuk pengembangan/budidaya tanaman yang bersangkutan.

Bagan Metode Klimogram


tnm tplh

un-ik

ri-da-sen-pro

ten-da-kan-ji

lak-in-dat-ik

lak-in-dat-ik

plot-dat-sur-klim-da-pro
overlay

pit-la-ma

plot-dat-sur-klim-da-ji

IV. SISTEM PERTANAMAN


Penataan pertanaman (cropping system)
merupakan suatu cara bagaimana cara
mengaturdan memilih jenis tanaman yang
diusahakan pada sebidang lahan dalam jangka
waktu tertentu.
Penting karena menyangkut aspek teknik
biologik dan sosial ekonomik
Sangat penting diperhatikan karena akan sangat
menentukan Intensitas Penanaman (IP) dan
Intensitas Panen dari sebidang lahan, yang
berarti juga menentukan produktivitas lahannya.

Aspek-aspek teknik yang


berhubungan :
Teknik penanaman.
Teknik pengairan.
Teknik pengelolaan tanah.
Teknik pemupukan.
Teknik pengendalian OPT.
Teknik pemungutan hasil.
Dan sebagainya.

Pertanaman monokultur :
Pada sebidang lahan sepanjang waktu hanya
ditanami dengan satu jenis tanaman saja.
Keuntungan : (1) Persiapan tanam dan cara
pemeliharaan tanaman menjadi lebih mudah,
berbagai teknik budidaya dapat dilakukan dengan
lebih leluasa, baik tradisional maupun modern.
(2)
Perhitungan biaya input dan output juga lebih mudah
diperhitungkan. (3) Dsb.
Kerugiannya : (1) Sifat ketergantungan lebih besar
dan resiko kerugian yang terjadi tidak ada
kompensasinya. (2) Penggunaan lahan, waktu, sarana
dan prasarana kurang efektif dan efisien. (3) Dsb.

Pertanaman berganda
Disebut juga Multiple Cropping merupakan
usaha pertanaman untuk mendapatkan
panen lebih dari satu kali dari satu atau lebih
jenis tanaman dalam satu bidang tanah
dalam satuan waktu tertentu.
Berdasarkan cara orang mengatur pertanamannya, ada dua kelompok multiple cropping,
yaitu : (a) penataan berganda secara tunggal
(monokultur) dan (b) penataan berganda
secara campuran (catch cropping).

(a) Penataan berganda secara tunggal


(monokultur)
Di atas lahan tertentu dan dalam waktu tertentu
(sepanjang umur tanaman) hanya ditanami satu
jenis tanaman. Setelah itu lahan ditanami lagi
dengan jenis tanaman yang sama atau yang lain.
Variasinya :
(1). Bergiliran secara berurutan (crop rotation),
(2). Bergiliran secara berurutan dan glebagan,
(3). Bergiliran secara berjajar atau paralel, tidak
menganut sistim glebagan.

(1) Bergiliran secara berurutan


Dilakukan sebagai berikut :
Pada musim hujan ditanami padi,
Pada musim kemarau ditanami
palawija, padi atau bera tergantung
pada keadaan tanah, pengairan, iklim
dan sebagainya.

(2) Bergiliran secara berurutan dan


glebagan

1.
2.

Banyak dilakukan di daerah tadah hujan.


Untuk mengurangi resiko tidak memperoleh hasil
bumi yang ditanam bergiliran berurutan, petani
membagi sawah menjadi dua bagian.
Bagian pertama dikelola sebagai sawah, ditanami
dengan pergiliran tanaman.
Bagian kedua dikelola sebagai tanah kering (tegal)
dengan jenis-jenis tanaman yang cocok untuk
tanah kering.
Di atas tegal dilakukan sistem pertanaman tunggal
dan sistem tanaman bergiliran berurutan.
Setelah beberapa tahun, bagian sawah dijadikan
tegalan dan sebaliknya.

(3) Bergiliran secara sejajar atau paralel


Di sini tidak menganut sistem glebagan.
Sebidang sawah yang luas pada musim pengujan
seluruhnya ditanami padi.
Pada musim kemarau tanah dibagi menjadi 3 bagian
yaitu : (1) dikosongkan, (2) ditanami padi gadu, (3)
ditanami palawija.
Jadi ada penataan pertanaman jajaran dari berbagai
penataan pertanaman bergiliran berurutan.
Cara penataan tersebut dibedakan menjadi 2 yaitu :
a). Penataan pertanaman berladang dan b). Penataan
tanaman secara glebagan.

(b) Penataan berganda secara


campuran (catch cropping)
Azas : menanam beberapa jenis/varietas secara
bercampur/bersama-sama di satu bidang tanah.
Variasinya :
(1) Penanaman campuran acak-acakan (mixed
cropping) : bersamaan, tidak teratur, tidak terikat
waktu. Kurang tampak ada sstem pergiliran.
(2) Penataan tanaman secara tumpangsari (intercropping) : menanam dua atau lebih spesies/ varietas tanaman, umur tidak berbeda. Misal : padi biasa
+ padi ketan, padi umur panjang + padi umur pendek.
(3) Penataan pertanaman sela : merupakan penataan
pertanaman dua atau lebih jenis tanaman yang
berlainan dalam sifatnya, umur dan sebagainya.

Macam-macam penataan petanaman sela


a)

b)

Tumpangsari (intercropping) : penataan


pertanaman dari dua jenis atau lebih tanaman yang
umurnya tidak banyak berbeda. Tanaman ditanam
bersama-sama di tempat yang sama. Misal : di
antara baris-baris jagung ditanami dengan
beberapa baris kacang tanah.
Tanaman sela (interplanting) : merupakan
penataan pertanaman dari dua jenis tanaman
semusim yang berbeda umur, tetapi tidak ditanam
bersama-sama di tempat yang sama (misalnya
kacang tanah ditanam di sela-sela ketela pohon).

Macam-macam penataan petanaman sela


c) Tanaman sela budidaya (interculture) : merupakan
penataan pertanaman dari jenis tanaman semusim
yang ditanam di antara tanaman yang berumur
panjang (tahunan). Misalnya : padi gogo-karet,
jagung- kelapa, kedelai kelapa.
d) Tanaman sisipan (relay planting) : dua jenis
ditanam secara bersama di atas tanah yang sama,
tetapi waktu bertanam dan panennya tidak sama
(jagung di antara kedelai sebelum dipungut).
e) Tanaman tumpang gilir (sequential planting) :
penanaman suatu jenis tanaman segera setelah
tanaman sebelumnya dipanen.

Tujuan utama multiple cropping :


Untuk meminimalkan jumlah hari suatu
bidang tanah menganggur dan memaksimalkan laju pertumbuhan dan produktifitas tanaman yang ditanam di
atas lahan tersebut.
Ada sejumlah hal yang mungkin dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Hal-hal yang dapat dilakukan :


1) Membuat guludan untuk membantu
mengeringkan permukaan tanah ketika
tanaman ditanam pada musim penghujan.
2) Melakukan pengolahan tanah minimal ketika
mempersiapkan tanah di antara penanaman
yang berurutan, tidak memberikan peluang
kepada gulma untuk muncul.
3) Menanam tanaman keprasan.
4) Menanam hanya varietas-varietas unggul
yang berumur pendek dan paling efisien
dalam menggunakan energi matahari.

Hal-hal yang dapat dilakukan :


5) Menanam tanaman-tanaman yang dapat dipanen
sebelum masak, misalnya jagung manis, baby corn,
kedelai hijau, dsb.
6) Mengatur pola tanam sedemikian rupa sehingga
tanaman-tanaman yang toleran kekeringan ditanam
pada akhir musim hujan agar pada suatu stadia
perkembangan memungkinkan untuk menggunakan
kelembaban tanah yang tersedia sampai masak.
7) Menanam tanaman atau kombinasi tanaman yang
dapat memberikan stabilitas biologik dan ekonomik
maksimum.
8) Mendorong penggunaan relay planting.

Mixed cropping : Keuntungan


1) Mudah menanamnya.
2) Apabila ketersediaan benih suatu jenis tanaman
terbatas, dapat digantikan dengan lainnya yang ada.
3) Apabila banyak yang tidak tumbuh dapat diganti
dengan yang lain.
4) Ada jaminan terhadap kegagalan tanaman karena :
a. kekeringan, b. serangga, c. penyakit.
5) Keragaman bahan pangan memberikan keragaman
nilai, terutama untuk sumber protein dan vitamin.
6) Penyebaran tenaga kerja lebih baik : a. pada waktu
penanaman dan b. pada waktu panen.

Mixed cropping : Keuntungan


7) Merupakan salah satu cara untuk mempertahankan viabilitas biji.
8) Lebih efisien dalam memanfaatkan energi
radiasi.
9) Lebih efisien dalam menggunakan air tanah.
10)Lebih efisien dalam menggunakan nutrisi
dari tanah.
11) Menjamin kompetisi dan mengendalikan
gulma lebih baik.

Mixed cropping : Keuntungan


12) Bukti-bukti menunjukkan bahwa beberapa
kombinasi tanaman memberikan stabilitas
biologik terhadap serangan serangga dan
penyakit :
a. Kombinasi jagung-kacang tanah :
penggerek jagung.
b. Kombinasi tomat-kubis untuk diambond
back - moth.
c. Intersepsi spora yang terbawa udara oleh
tanaman yang tidak peka terbukti dapat
mencegah serangan untuk tanamantanaman yang peka.

Mixed cropping : Kerugian


1)

2)
3)
4)

Menggunakan banyak tenaga kerja, sulit untuk


mekanisasi :
a. penanaman,
b. pengolahan tanah,
c. pemanenan,
d. pemupukan.
Tidak menjamin untuk pelaksanaan teknologi baru.
Sulit bagi petani untuk mengembangkan ketrampilannya dalam produksi suatu jenis tanaman.
Berkurangnya volume untuk suatu jenis tanaman
menjadikan sulit bagi petani untuk mengembangkan sistem pemasaran yang efisien.

Intercropping, Interplanting,
Interculture
Masing-masing sistem pertanaman ini serupa
dengan mixedcropping.
Biasanya tanaman ditanam dalam barisan
berselang-seling atau agak acak.
Semua sistem yang lebih sophisticated ini
memiliki beberapa keuntungan yang lebih
dibandingkan dengan mixed cropping akan
tetapi juga memiliki segi baik-buruk masingmasing.

Keuntungan-keuntungan :
1) Mudah untuk dilakukan mekanisasi :
a. Pada persiapan tanah, karena tanaman
ditanam dalam barisan - barisan dan
tanaman yang baru dapat ditanam si selasela tanaman sebelumnya.
b. Budidaya tanaman, lebih mudah.
c. Pemungutan hasil.
d. Pemupukan untuk masing-masing tanaman.
2) Dapat lebih mudah mengendalikan populasi
tanaman dengan mengatur jarak barisan di
antara tanaman-tanaman.

Keuntungan-keuntungan :
3) Jumlah spesies yang ditanam lebih sedikit maka :
a. Perhatian yang diberikan kepada masing-masing
spesies lebih banyak.
b. Tanaman yang ditanam dapat disesuaikan iklim,
kesuburan tanah, dan struktur tanah.
c. Mempunyai volume yang lebih besar untuk dipasarkan atau untuk pakan ternak.
4) Resikonya lebih kecil dibandingkan dengan monokultur.
5) Mungkin merupakan sistem yang memberikan hasil
paling tinggi karena lebih efisien dalam menggunakan tanah dan energi matahari,

Kerugian-kerugian
1) Untuk mekanisasi tidak semudah tanaman
monokultur karena perbedaan dalam karakteristik
biji dan kebutuhan-kebutuhan fisiologik untuk sinar,
nutrien dan lamanya pertumbuhan.
2) Memerlukan lebih banyak waktu untuk penanaman
dan pemanenan.
3) Dapat mengurangi hasil tanaman pokok. Misalnya
kacang tanah yang diinterpanting dalam tebu
sedikit banyak dapat mengurangi hasil gulanya.
Sungguhpun demikian, total hasil kacang tanah dan
gula dapat lebih besar dibandingkan masingmasing.

Relay planting
Keuntungan :
a. Dapat menghemat waktu sekitar 3 sampai 4 minggu.
b. Hemat air. Hilangnya waktu juga berarti hilangnya
air yang sebenarnya merupakan faktor pembatas.
c. Meminimalkan persiapan tanah.
d. Mengurangi pertumbuhan gulma.
Kerugian :
a. Umumnya membutuhkan kerja tangan.
b. Beberapa tanaman tidak dapat mentolerir naungan
dan terjadi kompetisi pada awal stadia pertumbuhan.

Sequential Planting :
Lahan, air dan waktu merupakan modal utama
dalam bercocok tanam. Pemanfaatan yang
maksimum faktor-faktor tersebut sangat
penting. Namun kadang-kadang dalam jangka
waktu tertentu tanah terpaksa menganggur.
Sering kali hanya satu atau dua kali tanam padi
per tahun, sehingga masih cukup air dalam
tanah bagi gulma yang banyak tumbuh.
Maka waktu yang tersedia perlu dimanfaat-kan
dengan menanam tanaman ekstra.

Keuntungan :
1) Meminimalkan waktu antar periode
dengan menanam tanaman ekstra tiap
tahun, sehingga dapat meningkatkan
produksi pangan.
2) Mengurangi produksi gulma dan bijibiji gulma.
3) Meningkatkan keuntungan.

Kerugian :
1) Petani mungkin harus mengganti
varietas. Seorang petani mungkin
mempunyai varietas padi yang
berumur 120 hari atau kurang untuk
ditanam 3 kali dalam setahun.
2) Harus mengubah kebiasaan lama,
sehingga hanya sedikit waktu untuk
istirahat dan santai setelah panen.

Keuntungan Multiplecropping secara


umum:
1)

Pembagian curahan tenaga keluarga petani merata


sepanjang tahun.
2) Memperkecil resiko kegagalan usaha.
3) Mempertinggi frekuensi panen.
4) Mempertinggi pendapatan.
5) Diversifikasi pangan.
6) Mengurangi peluang pemberoan tanah.
7) Meningkatkan kesuburan tanah.
8) Mencegah timbulnya hama dan penyakit.
9) Menekan pertumbuhan gulma.
10) Membuka peluang usaha peternakan.

Penilaian keberhasilan tanaman ganda


LER = (HTG a / HTM a) + (HTG b / HTM b)
Bila :
LER 1 : Sistem tanaman ganda berhasil
LER < 1 : Sistem Tanaman ganda tidak berhasil