Kumpulan

Puisi
By: Enggar

Kumpulan berlarik-larik yang terserak

5/28/2015

Kata (9 September 2009)
Kenangan masa lalu itu memang muncul kembali.
Kadang tak sengaja terucapkan, dan kemudian sadar bahwa semuanya berbeda.
Tak ada yang salah, pun tak perlu kata andai.
Hanya satu tanyaku,
pernahkah dalam masa dan waktu aku tak bersamamu, kau pernah mengingatku, walau
mungkin hanya sekejab?

Tak Suka (7 Oktober 2009)
tak suka melihat kemunafikan di bumi ini.
Suara-suara dalam topeng kebaikan semu memamerkan keburukan di belakangnya.
saling berkejaran memburu simpati
yang kosong tanpa makna.
masih adakah dan terus ada
semua kebohongan itu.
tapi akan selalu ada kebaikan sejati
di tengah kehancuran sekalipun.
wujudnya yang sendiri senantiasa menghangatkan, untuk diri yang lelah dan sepi.
karena lakon tak pernah berhenti
dan perjuangan belumlah usai.

Cinta Sejati (2010)
Parasnya mampu membelokkan waktu
Matanya bagai kerlip bintang di langit
Senyumnya menawarkan kehangatan bagi jiwa yang sepi
Segala padanya membiusmu sampai ke langit tujuh
Dalam batas ruang dan waktu
Segalanya lenyap tak berbekas
Karena kesementaraan adalah milik bumi
Dan keabadian adalah hak sang empunya langit
Maka dimanakah cinta sejatimu?

Maha

(2010)

Aku bertanya padaMu tentang sebuah cinta
cinta yang tak mampu kupahami
Aliran rasa yang tak mampu kusibak
Terdiam dalam keheningan malam
dan haru biru kesunyian semesta
Munculkan Engkau dalam bayangku
Dalam wujud yang sempurna

Keabadian (2010)
Raga tak lagi menapak bumi
Menyelam ke dalam samudera ruh
Lepaskan ikatan gravitasi
Menepis angin memecah awan
Riuh bersama tarian bintang
Memintasi milyaran galaksi
Membidas cahaya
Inikah kebebasan?
Atau inikah keabadian?

Gerimis

(2010)

Gerimis kecil malam ini
Langit kelabu, kosong dan hampa
Dimanakah para bintang bersembunyi?
Dan kemanakah sang bulan bertahta?
Gerimis tak juga usai
Seberkas cahaya datang membelah langit
Meniupkan bunyi gemuruh memecah gelombang
Gerimis adalah hujan kecil-kecil
Yang menyampaikan sapanya kepada semesta
kepada semua yang ada di bumi

Kau

(2010)

Bayangmu ada pada langit malam
pada cerlang bintang
dan cahaya bulan
pada kesunyian
yang abadi
Rasaku kian membuncah
Dalam asa tak bertepi

Maya (6 Desember 2010)
Semalam aku bermimpi tentangmu
Tentang kita dan semua kenangan yang mengingatkanku akan dirimu
Semua tampak nyata, sebelum akhirnya memudar perlahan
Kau, tahukah?
Aku tak pernah membiarkan diriku hanyut dalam sebuah perasaan yang tidak bernama
ini
Aku benci setiap kali melihat sosokmu hadir dalam mimpi-mimpiku
Kau membuatku menangis diam-diam
Lucu
Entah apa yang kutangisi
Rasanya bukan dirimu
Lantas apa? Aku pun tak tahu jawabannya
Aku hanya tahu, ada masa di antara aku dan kau pernah bersama
Sebuah kenangan kecil yang terlalu biasa, sebenarnya
Seandainya aku bisa, ingin kutumpahkan semua tanya yang tertunda, semua rasa yang
pernah kita punya
Rinai hujan tak lagi menderas
Aku berharap melihat pelangi setelah hujan sesorean ini

Tanya (17 Desember 2010)
Kegelapan melingkupi sekelilingku
Hanya desau angin bertiup lembut
Kerlip bintang pun seakan enggan menampakkan sinarnya
Ada tanya yang membuncah. Entah
Resahku tak pernah lindap dalam putaran waktu
Mengejar ke segala arah
Aku harus bagaimana?

Debu
Aku adalah debu
Debu bintang
Anak bintang
Yang muncul dari sebuah ketiadaan
Dan kembali dalam ketiadaan

Di sini (6 April 2011. 2.29 pm)
Masihkah kau percaya langit itu sunyi?
sedang bintang riuh berkejaran
dan bulan pun tak henti berputar
langit masih tampak kosong
malam lesapkan senyap
dingin gigilkan tubuh
Di sini, aku menunggumu

Rindukah Kau? (6 April 2011. 12.54 pm)
Aku ingin meracau
tentang masa lalu
yang mungkin ingin kau pupus
aku tetap mengingat
Hanya dalam puisi
dalam larik tak bermakna
di sudut gelap
rindukah kau?

Aksara (6 April 2011. 6.09 pm)
Tak juga terlelap
Kata-kata berkelindan ke segala arah
Memenjarakanku
Aku tertawan oleh pesonamu, kau tahu itu?
Kata serupa rindu yang membuncah
Menari-nari di setiap hurufnya
Aku dan kata luruh dalam kebisuan

Langit Malam

(6 April 2011 - 7.46 pm)

Malam ini langit bertabur bintang
dan bulan naik sepenggalah, kuning keperakan
Kau lihatkah, langit semakin gelap
dan kerlip bintang mewujud cemerlang
pendar cahayanya tak lindap dalam pekat malam
seperti juga aku yang mencintaimu,
selalu

Titik

(6 May 2011)

menatah mimpi
di dinding hati

pecah berderak
dada gemeratap
lesap
senyap

Apa pedulimu? (May 18, 2011)
~ untuk semua bentuk ketidakpedulian
apa pedulimu jika jiwaku luka?
hatiku sesak
sedang kau tak peduli
sungguh tak peduli
apa yang bisa kusalahkan?
sedang tak ada yang salah
mungkin aku yang terlalu naif
atau bodoh?
mungkin sebaiknya aku hilang saja
lebur bersama kegelapan kosmik

Puisi #1

(May 19, 2011)

~~ puisi ini terinspirasi dari kisah hidupnya Van Gogh. Kalimat terakhirnya sebelum dia
bunuh diri adalah The sadness will last forever ~~
pernahkah kau tau
rasanya sepi dan sendiri
serta getir yang melintas
kekelaman menerkam
kesedihan seperti tak usai
tapi manusia selalu punya cara,
untuk mengatasi kegelisahannya sendiri

Tindarid (May 23, 2011)
Perahu-perahu siap berlayar
bergerak menjauhi daratan
deburan ombak memecah kapal
langit luas penuh bintang

satu dua kerlip menemani para pelaut
cahayanya tak lindap dalam pekat malam
konon, seorang dewa mengangkat putra kembarnya ke langit
agar mereka tetap bersama
tak terpisahkan
dan menjadi pelindung para pelaut

~ terinspirasi dari kisah Pollux dan Cator, simbol dari konstelasi gemini.~
Pollux dan Castor saudara kembar dari ibu yang sama, Queen Leda tapi ayah yang
berbeda. Pollux berayah dewa Zeus adalah abadi sedangkan Castor berayah Tindareus
tidak abadi. Ketika Castor mati Pollux meminta ayahnya untuk membagi keabadiannya
pada Castor, agar mereka tetap bersama. Zeus kemudian mengangkat mereka ke langit
dan menjadikannya rasi bintang gemini.

Sebuah Bintang Sebuah Matahari (May 25, 2011)
Tengoklah ke langit luas
Apa yang kau lihat?
Seberkas cahaya
berkedip
Pernah ku tanya
siapa dan darimana mereka
dari sebuah negeri yang asing?
di sebuah tempat
sinar merah membara
panas dan berpijar
bola panas itu matahari
dan ketika malam tiba
dari tempatku yang jauh
bara api itu menjelma menjadi bintang
kerlipnya memenuhi langit
memesona

Cinta (9 Juni 2011)

embun yang jatuh di dedaunan
kelopak bunga yang bermekaran
kupu dan sayap warna-warninya
ulat yang menggeliat di dedauanan
dan matahari yang hangat
segalanya mengalirkan cinta

Rahasia (8 Juli 2011)
Di suatu masa, bintang besar meledak, menumpahkan isi perutnya ke angkasa.
Ada aku, melayang-layang bersama serpihan lainnya.
Dan, di sinilah aku sekarang
Masih menyimpan kerinduan, pada bintang dan semesta
Pada segala rahasia hari dan malam
Pada yang tersembunyi

Jarak

(12 Agustus 2011)

Maka kita ciptakan jarak
tak saling ingin mengganggu
hanya memandang dalam kejauhan
sebab kita tak ingin saling melukai
Dan hanya menyimpan semua kata, dalam diam

Hampa (7 Oktober 2011)
sehelai daun mengabu, jatuh dari pucuk di ranting pohon
sisakan hampa di ujung senja

Angan (14 Oktober 2011)
Telah lama kuredam angan
hingga tak lagi nyata
samar mengabu
Sunyi dan hening

Di Sudut Hening

(28 Oktober 2011)

Suara adzan memecah kehampaan ruang
Jalanan sepi
Lampu-lampu dinyalakan
Malam bertambah kelam
Sepi dan getir meringkupi
Silih berganti

Keluhku, Ibu

(28 Oktober 2011)

Kemarin aku menangis di pelukanmu, Ibu
menuang segala rasa yang tak lagi mampu kutahan
katamu aku tak boleh menyesali segalanya
katamu aku harus selalu tabah dan tegar
Namun dadaku sesak
Hatiku perih
Mengapa aku tak bisa memaafkan?
Mungkin luka itu sudah tak mampu lagi kubendung

Tentang Suatu Masa

(28 Oktober 2011)

Berapa lama waktu memisahkan kita? 20? 25 tahun? mungkin juga lebih.
Sungguh bukan waktu yang sebentar.
Sudut sekolah, jalan-jalan menuju pulang dan pergi serta wajah teman-teman dan
keriangan masa kecil terkadang melintas dalam mimpi malam hari.
Ada masa di mana hati kita menjadi lebam. Terluka dan dilukai. Namun ada juga
kenangan indah, manis, dan tak terlupakan.
Kita adalah kanak yang ingin menjadi dewasa lebih awal
membenci kesendirian dan membutuhkan teman
mencari jati diri sepenuhnya
melalui kawan dan pertemanan
dengan buku dan kesunyian
melewati kekecewaan dan penolakan
Hidup kemudian mengajarkan arti dewasa yang sesungguhnya

untuk aku, untuk kamu
Kawan, tak selamanya kita searah dan sejalan
Namun persahabatan tidak pernah mengingkari apa yang telah kita tanam
Di manapun aku dan kamu berada, selamanya kita akan bersama
dalam sebuah ingatan, yang bernama kenangan.

Kosong

(9 November 2011)

Apa yang sedang aku perjuangkan?
Rasanya tak ada
sejak kau tak benar-benar menginginkanku
ah, aku salah
mungkin dulu
entah sekarang pun yang akan datang

Diam #1 (( November 2011)
….
….
Begitulah kita, hanya titik-titik

Diam #2

(9 November 2011)

Aku ingin bicara
berdua .. denganmu
tak perlu kata
hadirkan saja hatimu
cukup hatimu untukku sepenuhnya
tak kau dengarkah?
aku menunggumu…

Hampa (11 Januari 2012)
Bicara agama katamu
soal baik dan benar

pahala dan dosa
menyitir ayat suci tak pernah lupa
beribadat ritual selalu pertama
Tapi,
hatimu kotor
tanganmu berselimutkan lumpur
jiwamu tak terpuaskan
Entah, setan apa yang ada di kepala
Mungkin sebenarnya kau tak lagi punya jiwa
Hampa…
Mati

Pedar

(21 Februari 2012)

Apa yang ku tangisi?
kebekuanmu?
kepedihanku?
atau kekecewaan yang diam-diam menyelusup?
menyerpih bagai gelembung-gelembung sabun?
melayang untuk kemudian pecah,
menguap bersama angin?

Puisi Entah

(21 Februari 2012)

wajah palsu
senyum buatan
kebaikan imitasi
bertabur kata-kata manis semu
Ah.. artifisial. Kosong.
ada saat …
ketika kawan menjadi lawan
ketika kepunyaan menjadi ketiadaan
saat raja menjadi hamba
baru kau tahu.. rasanya

Cinta #1

(20 Maret 2012)

Cinta tak pernah menuntut
tak memerlukan pertanyaan
pun jawaban
ia hanya punya keikhlasan
dan penghormatan
serta menyimpan semua dalam diam

Memori #1

(20 Maret 2012)

Kusesap udara malam
aromanya memenuhi rongga dadaku
meniupkan sejumput kerinduan
padamu, pada kita yang dulu

Entah #1

(20 Maret 2012)

Angin malam meniupkan ingatan,
entah pada apa
Mungkin hanya sebuah perasaan
yang tak terdefinisikan
yang akan baik-baik saja
Bersama beranjaknya pagi

Keyakinan

(27 Juni 2012)

Ia ada di hati
Allah ada,
keberadaannya tak terpungkiri
tak perlu berdebat apa yang benar dan apa yang salah
cukuplah keyakinan bahwa Ia ada

Lebur

(28 Juni 2012)

Tatap lembut matamu
genggaman erat di tanganku
senyum kanak-kanak di lengkung sudut bibirmu
ciuman hangat di keningku
Tahukah kau?
Aku sayang padamu..
~28 Juni 2012~
Happy anniversary, dear …. semaksimakat trilyun kali :))

Luka

(24 Juli 2012)

Satu dua.. dan aku tak berhenti
tak ingin menyudahi luka
lukaku sendiri
bodohkah? Mungkin
tapi aku tak peduli
aku dan luka
kian menjadi teman
dalam sunyi, sepi dan kerinduan

Berlari

(25 Juli 2012)

Aku di pagimu
adakah?
bayangmu membisu. diam.
Aku berlalu
ingin berlari..
terlalu sangat ingin menghilang

Perpisahan

(25 Juli 2012)

Di ujung jalan itu kita berpisah
tanpa pelukan
tanpa kata-kata
hanya tanya menderas

salahkah aku?
salahkah cinta?

Terasing

(24 Agustus 2012)

Malam, ketika pandanganmu sepenuhnya menatap langit, dan cahaya bintang
berkeredap.
Akankah mereka menatapmu seperti kamu melihat mereka saat itu?
Apa yang mereka pikirkan tentangmu?
Tentang kita? Di sebuah dunia di luar sana yang kecil dan begitu tersendiri?
Melayang dan berputa-putar di dalam ruang hampa?
kemana kita akan pergi?
Dan kemana kita kelak akan kembali?

Kemarau (17 September 2012)
Debu-debu beterbangan di udara
membelah kelopak-kelopak bunga
menyesap embun di tepian daun
menguap menembus awan
meninggalkan tanah yang terpecah
dan daun-daun kering
meranggas
sebelum waktunya
~ dalam keheningan cahaya sore

Sandiwara

(19 September 2012)

Hidup hanyalah sandiwara
Aku dan kau adalah lakon yang sibuk menciptakan riap-riap gelombang warna-warni
Untuk sebuah kenangan yang begitu singkat.

Menyerpih

(25 September 2012)

Serpihan awan menarikku ke dalam kumparan waktu͵ saat kita masing-masing sibuk
menerka isi hati.

Sahabat

(15 Oktober 2012)

Baru kutahu kebencianmu
bahkan aku tak pernah menjelekkanmu sedemikian rupa
tidak juga membencimu walau aku tahu jarak kita membentang semakin jauh
Awalnya aku hanya kecewa namun kau sungguh berubah
bahkan mereka yang mendukungmu saat inipun memalingkan wajah
tapi kau tak merasa salah setelah sekian banyak terluka oleh sikapmu
aku memaafkan untuk semua perkataanmu yang menyakitkan
untuk semua perlakuanmu terhadapku
untuk semua prasangka yang kau timpakan padaku tak apa,
aku tak akan jatuh untuk segala yang kau kira tlah kau lumatkan untukku
semoga kau bahagia dan baik-baik saja

Sunyi

(16 Oktober 2012)

Terkadang kesunyian begitu merajam. Tinggal sayap-sayap terkoyak͵ beterbangan
membumbung ke udara. Lenyap dalam gumpalan awan putih.

Kemarau #2

(16 Oktober 2012)

Sementara itu, tanah meretak, daun-daun coklat berguguran.
Kemarau ini datang terlalu pagi.

Telah Lama Kuputuskan
melupakan amarah
meluputkan kebencian
membenamkan dendam
mengabaikan prasangka
mengalpakan sakit hati
melenyapkan kekecewaan
menghapuskan iri hati
dan berdamai…
dengan segenap hati dan jiwaku

(3 Desember 2012)

Getir itu

(5 Desember 2012)

ketika kau tak lagi mengacuhkanku
membuang hadirku
meredam sapaku
memunahkan asa
menyapu segala yang pernah ada

Kamu

(6 Desember 2013)

Cahaya lampu tertoreh
Di sudut kamar
Membentuk bayangan samar
Entah pada siapa

Aksara #2

(6 Desember 2013)

Lembar-lembar kata berserakan
Meniup ke berbagai arah
Cukup, kataku
Aksara menatap hampa
Membelitku sedemikian rupa

Kita Di sini (6 Desember 2013)
Ada yang berkelindan dalam pikiranku
Tentang semesta yang tercipta
Dan arti kita di sini

Bayang

(18 April 2014)

sungguhkah kau tak peduli?
tak merindukanku?
tak mengingatku?
kadang aku ingin memercayai hal itu

tapi mengapa bayangmu menjeratku sedemikian rupa?

Tuhan Menyamar

(6 Desember 2013)

"Kau ingat Aku?" tanya Tuhan
Aku menggangguk, ragu
tuhan kemudian merupa sebagai topeng emas bertahta mutiara
Aku melenggut pasti
Dan, Tuhan berlalu

Tuhan Lain

(7 Maret 2015)

Manusia membuat tuhan-tuhan lain
Yang mereka percayai seteguh hati
Membela buta kefasikan
Menelikung kebenaran
Melenyapkan kebaikan
Meruapkan kebencian
Sampai ... kapan?

Tuhan Tidak Pernah Tidur (17 Maret 2015)
Sebaiknya memang diam
Tak perlu bicara
Tak perlu mengatakan apapun
Demi tujuan baik? Ah, gombal lah itu
Setiap orang berhak melihat dari sisi yang berbeda
Kau pahamilah
Yang tak pernah kau mengerti adalah
Orang tak mencoba melihat dari sudu pandangmu
Tak perlu sakit hati
Sirami lukamu dengan doa
Karena, Tuhan tidak pernah tidur