You are on page 1of 40

RESPONSI

KPD 1 HARI PADA MULTIGRAVIDA HAMIL ATERM DALAM PERSALINAN
KALA 1 FASE LATEN DENGAN HIPERTENSI GESTASIONAL

Oleh:
Atika Puspita H.

G99131085

Rulita Ririn Prabawati

G99131086

Nurlatifah Febriana Wijayanti

G99141145

Aisya Fikritama Aditya

G99141150

Pembimbing:
dr. Nutria Widya Purna Anggraini, SpOG, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2015

KPD 1 HARI PADA MULTIGRAVIDA HAMIL ATERM DALAM PERSALINAN
KALA 1 FASE LATEN DENGAN HIPERTENSI GESTASIONAL
ABSTRAK
Pendahuluan:
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu kurang dari 3 cm dan pada
multipara kurang dari 5 cm dan/atau pecahnya ketuban sebelum umur kehamilan 37 minggu atau
sebelum dalam persalinan. Hipertensi gestasional merupakan hipertensi dalam kehamilan pada
wanita yang tekanan darah sebelumnya normal dan tidak disertai proteinuri. Gejala ini akan
menghilang dalam waktu < 12 minggu pasca persalinan.
Isi:
Seorang G4P1A2, 35 tahun, UK 39+5 minggu, riwayat fertilitas baik, riwayat obstetri pasien pernah
mengalami abortus 2 kali pada kehamilan pertama tahun 1989 dan kehamilan ketiga tahun 2009,
kehamilan kedua pada tahun 2006 diperoleh bayi laki-laki hidup lahir per vaginam BBL 2700
gram; teraba janin tunggal, intra uterin, punggung kanan, preskep, kepala masuk panggul < 1/3
bagian. HIS (+) 2x/10 menit/ 40 detik, DJJ (+) 145x/menit/reguler, portio lunak mendatar,  : 3
cm, eff: 50%, presentasi kepala, kepala turun di Hodge I-II, kulit ketuban & penunjuk belum
dapat dinilai.
Hasil:
Pasien didiagnosis dengan ketuban pecah dini 1 hari pada multigravida hamil aterm dalam
persalinan kala 1 fase laten dengan hipertensi gestasional.
Kesimpulan:
Tata laksana utama yang diberikan pada pasien adalah lanjut persalinan per vaginam, observasi
10, dan evaluasi 4 jam kemudian karena pasien sudah masuk dalam persalinan kala I fase laten,
sehingga pada pasien ini direncanakan persalinan per vaginam karena telah mencapai kehamilan
aterm dengan usia kehamilan 39+5 minggu. Lahir bayi perempuan per vaginam dengan berat
badan 2800 gram.
Kata kunci: ketuban pecah dini, hipertensi gestasional

2

BAB I
PENDAHULUAN
A. Ketuban Pecah Dini
Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih kontroversial
dalam ilmu kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada, selalu
berubah. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas
dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi.
Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat
kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan
partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan
konservatif.
Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif
terutama pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu sampai terjadinya proses
persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang berikutnya akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya infeksi. Sedangkan sikap konservatif ini sebaiknya dilakukan pada
KPD kehamilan kurang bulan dengan harapan tercapainya pematangan paru dan berat badan
janin yang cukup.
Terdapat 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD, yaitu : pertama, infeksi, karena
ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi.
Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada KPD, flora vagina yang normal ada bisa
menjadi patogen yang akan membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Oleh
karena itu membutuhkan pengelolaan yang agresif seperti diinduksi untuk mempercepat
persalinan dengan maksud untuk mengurangi kemungkinan resiko terjadinya infeksi ; kedua,
adalah kurang bulan atau prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang
bulan. Masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak nafas
atau respiratory Distress Syndrom (RDS) yang disebabkan karena belum masaknya paru.
3

B. Hipertensi dalam Kehamilan
Hipertensi pada kehamilan adalah penyakit yang sudah umum dan merupakan salah
satu dari tiga rangkaian penyakit yang mematikan, selain perdarahan dan infeksi, dan juga
banyak memberikan kontribusi pada morbiditas dan mortalitas ibu hamil. Pada tahun 2001,
menurut National Center for Health Statistics, hipertensi gestasional telah diidentifikasi pada
150.000 wanita, atau 3,7% kehamilan. Selain itu, Berg dan kawan-kawan (2003) melaporkan
bahwa hampir 16% dari 3.201 kematian yang berhubungan dengan kehamilan di Amerika
Serikat dari tahun 1991 - 1997 adalah akibat dari komplikasi-komplikasi hipertensi yang
berhubungan dengan kehamilan.5
Meskipun telah dilakukan penelitian yang intensif selama beberapa dekade, hipertensi
yang dapat menyebabkan atau memperburuk kehamilan tetap menjadi masalah yang belum
terpecahkan. Secara umum, preeklamsi merupakan suatu hipertensi yang disertai dengan
proteinuria yang terjadi pada kehamilan. Penyakit ini umumnya timbul setelah minggu ke-20
usia kehamilan dan paling sering terjadi pada primigravida. Jika timbul pada multigravida
biasanya ada faktor predisposisi seperti kehamilan ganda, diabetes mellitus, obesitas, umur
lebih dari 35 tahun dan sebab lainnya.5
Morbiditas janin dari seorang wanita penderita hipertensi dalam kehamilan
berhubungan secara langsung terhadap penurunan aliran darah efektif

pada sirkulasi

uteroplasental, juga karena terjadi persalinan kurang bulan pada kasus-kasus berat. Kematian
janin diakibatkan hipoksia akut, karena sebab sekunder terhadap solusio plasenta atau
vasospasme dan diawali dengan pertumbuhan janin terhambat (IUGR). Di negara
berkembang, sekitar 25% mortalitas perinatal diakibatkan kelainan hipertensi dalam
kehamilan. Mortalitas maternal diakibatkan adanya hipertensi berat, kejang grand mal, dan
kerusakan end organ lainnya.

4

5 g. Koitus. Servix yang tipis/kurang dari 39 mm h.7 Faktor predisposisi KPD menurut Moegni.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. g. yaitu menurut Rustam.5. adalah pecahnya ketuban sebelum in partu kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. termasuk:5 a.4 Menurut Evans dan Cunningham KPD adalah pecahnya ketuban sebelum umur kehamilan 37 minggu atau sebelum dalam persalinan. Perdarahan pervaginam e. Meningkatnya volume uterus (polihidramnion dan kehamilan multipel). Substansi tertentu. Flora vagina abnormal i. d.3. Kehamilan multiple b. dan vaginosis lain). seperti rokok. KETUBAN PECAH DINI 1. f. Koitus. Definisi Ada beberapa definisi ketuban pecah dini (KPD). 1999 :1 a. c. Etiologi Berbagai faktor dapat dihubungkan dengan kejadian KPD. pH vagina diatas 4. Fibronectin > 50 ng/ml 5 . Infeksi asenden dari saluran genital bawah merupakan faktor resiko yang sering terdapat pada KPD. Status sosioekonomi rendah. Infeksi (amnionitis. namun hal ini tidak merupakan predisposisi kecuali bila hygiene buruk d. cervicitis. e. Trauma maternal.7 b.5 2.5 h. Anomali fetal. Bakteriuria f. Riwayat persalinan preterm sebelumnya c. Perdarahan subkorionik.

Sebagian besar penelitian menyebutkan bahwa KPD terjadi karena berkurangnya kekuatan selaput ketuban. vaginal toucher (VT) yang berulang-ulang dan koitus. Adanya efek yang merugikan KPD pada hasil persalinan. MMP-3. peningkatan tekanan intrauterine maupun keduanya. MMP-2. Selaput ketuban dapat kehilangan elastisitasnya karena bakteri maupun his. Patogenesis KPD diduga terjadi karena adanya pengurangan kekuatan selaput ketuban. Kolagen amnion interstitial yang utama adalah tipe I dan III. Mekanisme infeksi ini belum diketahui pasti. Matriks Metaloproteinase (MMP) pada kelompok proteinase terlibat dalam remodelling jaringan normal dan khususnya dalam degradasi kolagen.1 Penelitian baru-baru ini menyebutkan bahwa patogenesis KPD berhubungan dengan meningkatnya komponen selular apoptosis pada membran janin. Air ketuban yang keluar dari vagina Diagnosis KPD dapat ditegakkan dengan mudah ketika ada cairan ketuban yang keluar dari vagina. Daya regang membran janin dipengaruhi oleh matriks ekstraselular pada amnion. and MMP-9 memiliki konsentrasi lebih tinggi pada cairan amnion pada kehamilan dengan KPD. Namun diduga hal ini terjadi karena aktivitas uteri yang tidak diketahui yang menyebabkan perubahan servix yang dapat memfasilitasi terjadinya penyebaran infeksi. Kadar CRH (Corticotropin Releasing Hormone) maternal tinggi 3. Pada beberapa penelitian diketahui bahwa bakteri penyebab infeksi adalah bakteri yang merupakan flora normal vagina maupun servix. yang diproduksi oleh sel mesenkimal dan komponen struktur yang paling penting untuk daya regang membran fetal. Diagnosis a. maka pasien dengan riwayat cairan merembes dari vagina atau sedikitnya volume cairan amnion pada pemeriksaan USG harus benar-benar dievaluasi. Faktor lainnya yang membantu penyebaran infeksi adalah inkompetent servix. begitu pula peningkatan protease pada membrane dan cairan amnion. 6 .j.3 4.

KPD biasanya berhubungan dengan volume cairan amnion yang sedikit. 7 . c. Kantung cairan biasanya lebih besar dari 2x2 cm. Pada kasus KPD. urin. d.0) merupakan bukti kuat adanya cairan amnion. lalu periksa gelas objek di bawah mikroskop.0-7. di mana lebih alkalis daripada sekret vagina normal (pH 4.5) (b) Sampel sekret vagina diusapkan pada kertas pH nitrasin. 2) Tes Nitrasin (a) Tes nitrasin terdapat pada pH cairan amnion (pH 7. gelas objek harus benar-benar kering. (c) Positif palsu dapat terjadi pada adanya darah. Laboratorium 1) Fern test (a)Fern tes adalah metode yang biasa digunakan untuk menentukan adanya KPD. Setelah dikeringkan dengan udara beberapa saat. (c)Positif palsu terjadi bila terdapat cairan salin kering dan atau terdapat mucus servik. (b)Sekret vagina dari forniks posterior diusap dengan menggunakan aplikator kapas yang steril dan diusap tipis pada gelas objek. semen. USG dapat membantu menegakkan diagnosis KPD 1) USG untuk memeriksa volume cairan amnion dapat membantu menegakkan diagnosis KPD. maka akan didapatkan gambaran seperti daun pakis. Untuk mencegah negatif palsu.5) atau biru (pH 7.5-5. 2) Penentuan bagian-bagian janin dan perkiraan berat janin dapat membantu dalam penatalaksanaan wanita dengan KPD. Pemeriksaan spekulum steril digunakan untuk membuktikan pecahnya ketuban dengan menggunakan cara sebagai berikut : forniks posterior harus diperiksa sebagai bukti adanya genangan air ketuban. USG serial untuk memeriksa pertumbuhan janin seharusnya dilakukan setiap 3-4 minggu sebagai pengukuran terhadap keadaan janin.5).b. atau agen antiseptik. Bila terdapat gambaran seperti daun pakis maka tes ini dianggap positif. Perubahan warna menjadi biru-hijau (pH 6.

Terdapat hubungan antara umur kehamilan dengan hyaline membrane disease dan chorioamnionitis yang terjadi pada pasien dengan KPD. air ketuban yang berbau busuk. b.5 5. Komplikasi KPD dapat menyebabkan beberapa komplikasi pada ibu:2. Sehingga untuk mengatasinya maka dilakukan sectio cesaria. Abruptio placenta Hal ini tergantung dari progresifitas penurunan fungsi plasenta yang mengakibatkan pelepasan plasenta. Diagnosis korioamnionitis dapat dilihat dari gejala klinisnya antara lain demam (37. angka risiko hyaline mebran disease lebih banyak dibandingkan risiko infeksi. yang mengakibatkan tingginya angka section cesaria pada pasien dengan KPD. uterus yang melembek. Infeksi Infeksi korioamniotik sering terjadi pada pasien dengan KPD.6 a. 2) Amniosentesis dapat digunakan utnuk menunjukkan adanya infeksi intramnion. dan sedikitnya dua gejala berikut yaitu takikardi baik pada ibu maupun pada janin. Hipoplasi pulmoner 8 . Hyaline membrane disease Beberapa penelitian menyebutkan bahwa hyaline memnrane disease sebagian besar disebabkan oleh ketuban pecah dini (KPD). Amniosentesis 1) Amniosentesis dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis KPD bila data-data yang ada kurang mendukung.8 0C). Fetal distress Hal ini dapat diketahui dari adanya deselerasi yang menggambarkan kompresi tali pusat yang disebabkan oleh oligohidramnion. atau kultur cairan amnion positif dapat mendukung diagnosis. pewarnaan gram positif. Gejala klinik yang terjadi adalah perdarahan pervaginam. maupun leukositosis. Beberapa komplikasi pada janin: a. b. Pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu. Konsentrasi glukosa cairan amnion di bawah 16-20 mg/dl.3.e. c.

7 Penderita dianjurkan untuk beristirahat di tempat tidur dan berikan obat-obat antibiotika profilaksis. termasuk hipoplasia pulmo dan kontraktur ekstremitas. 7 Lakukan induksi 9 . c. Persalinan diindikasikan pada 1) Koriamnionitis (demam maternal. dan roboransia dengan tujuan untuk mengundur sampai anak viabel. lakukan terminasi kehamilan segera. Kelainan kongenital 6.5 c. uterus lunak dan takikardi maternal atau fetal). berikan betametason IM untuk meningkatkan maturitas paru-paru fetus bila < 32 minggu.5 2) Preterm (24-36 minggu). Penatalaksanaan a.7 2) Kematian fetal 3) Ruptur plasenta dengan perdarahan per vaginam 4) Dilatasi servik dan/atau malpresentasi fetal dengan kemungkinan terjadinya prolaps tali pusat. Bila tidak terdapat infeksi. gunakan oksitosin atau prostaglandin. spasmolitika. Kecuali persalinan dilakukan segera. terapi konservatif. b. terapi antibiotik IV spektrum luas. Rawat di rumah sakit dan banyak istirahat. pasien harus dirawat di rumah sakit yang menyediakan perawatan neonatal yang adequat. penatalaksanaan dilakukan berdasarkan usia gestasional sebagai berikut : 1) Sebelum viabel (< 24 minggu). dan segera terminasi kehamilan. Cacat pada janin d.Hal ini terjadi bila ketuban pecah sebelum usia kehamilan 26 minggu dan fase laten terjadi lebih dari 5 minggu yang diketahui dari adanya distress respirasi yang berat yang terjadi segera setelah lahir dan membutuhkan bantuan ventilator. lakukan kultur servik. kultur servik serta ampicillin dan eritromisin profilaksis selama 7 hari.7 3) Aterm (> 36 minggu).4 Bayi akan sangat berisiko mengalami sejumlah komplikasi. 5 Bila terdapat korioamnionitis. induksi atau edukasi pasien untuk istirahat di rumah. Sehingga diperlukan pengiriman ke fasilitas perawatan tersier. bila kehamilan terus berlanjut sampai bayi viabel. bila dapat dilakukan persalinan per vaginam.

Medikamentosa a. Dosis antibiotik untuk memperpanjang latensi dan memperbaiki hasil persalinan adalah sebagai berikut : Ampicillin 2 g dan eritromisin 250 mg. Antibiotik Salah satu penelitian terbaik tentang penatalaksanaan KPD adalah penggunaan antibiotik untuk memperpanjang kehamilan. terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif. 10 . Ketuban pecah dini berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan. kortikosteroid antenatal dapat diberikan. dan necrotizing enterocolitis. c.partus 6-12 jam setelah lag phase dan berikan antibiotika profilaksis.4 7. Sedangkan lamanya persalinan lebih pendek dari biasa. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan disebut periode laten = LP = lag phase. Makin muda umur kehamilan makin memanjang LP-nya. Tujuan terapi Tujuan terapi antibiotik adalah untuk menyediakan perlindungan antimikroba spektrum luas. selanjutnya amoxicillin 250 mg dan eritromisin 333 mg per oral setiap 8 jam selama 5 hari. Terapi antibiotik pada terapi konservatif dapat : 1) Mengobati dan mencegah infeksi asenden 2) Mencegah korioamnionitis 3) Menurunkan kejadian sepsis neonatal 4) Memperpanjang periode latensi b. maka lakukanlah tindakan operatif.intravena setiap 6 jam dalam 48 jam pertama. Pada kasuskasus tertentu di mana induksi partus dengan PGE2 dan/atau drips sintosinon gagal. Kortikosteroid 1) Karena pasien dengan KPD berisiko cukup signifikan terhadap morbiditas perinatal. yaitu pada primi 10 jam dan multi 6 jam. sepsis dan sinderon distres pernapasan. Rangkaian tunggal ini dapat menurunkan insiden sindrom distress pernapasan neonatal.5 2) Kombinasi dengan ampicillin-sulbaktam pada KPD dapat menurunkan frekuensi total mortalitas neonatal. perdarahan intraventrikular.

Klasifikasi Hipertensi dalam Kehamilan Istilah hipertensi gestasional digunakan sekarang ini untuk menjelaskan setiap bentuk hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.5 B. dan yang menetap setelah 12 minggu pascasalin. 12 mg IM setiap 24 jam.11 2. Gejala ini akan menghilang dalam waktu < 12 minggu pascasalin.11 Hipertensi kronik adalah hipertensi pada ibu hamil yang sudah ditemukan sebelum kehamilan atau yang ditemukan pada umur kehamilan < 20 minggu. setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. 2 dosis.5 Wanita hamil dengan hipertensi secara luas dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu hipertensi kronis. (b) Dexametason. Definisi Hipertensi dalam Kehamilan Yang dimaksud dengan preeklamsi adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuri akibat kehamilan.3) Dosis yang digunakan sama dengan yang digunakan untuk indikasi lain : (a) Betametason. 6 mg IM selama 12 jam.11 Sedangkan yang dimaksud dengan eklamsi adalah kelainan akut pada preeklamsi dalam kehamilan. Hipertensi kronis yang diperberat oleh preeklamsi atau eklamsi adalah preeklamsi atau eklamsi yang timbul pada hipertensi kronis dan disebut juga Superimposed Preeclampsia. dan pre-eklamsi. atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dengan atau tanpa penurunan kesadaran (gangguan sistem saraf pusat). Istilah ini telah dipilih untuk menekankan hubungan sebab dan akibat antara kehamilan dan hipertensi – preeklamsi dan eklamsi. 4 dosis.11 Sedangkan hipertensi gestasional adalah timbulnya hipertensi dalam kehamilan pada wanita yang tekanan darah sebelumnya normal dan tidak disertai proteinuri. Menurut The International Society for the Study of Hypertension in Pregnancy (ISSHP) klasifikasi hipertensi pada wanita hamil dibagi menjadi : 11 . Betametason tidak mengubah level CRP ataupun respon leukosit terhadap infeksi. HIPERTENSI GESTASIONAL 1. Ada pula istilah eclamsia sine eclampsia adalah eklamsi yang ditandai oleh penurunan kesadaran tanpa kejang. hipertensi non-proteinuri (kadang dikenal sebagai pregnancy-induced hypertension). persalinan.

10 12 . - Hipertensi gestasional (tanpa proteinuria) - Proteinuria gestasional (tanpa hipertensi) - Hipertensi gestasional dengan proteinuria (pre-eklamsi) b. Preeklamsi c. Chronic hypertension (sebelum kehamilan 20 minggu) dan penyakit ginjal kronis (proteinuria sebelum kehamilan 20 minggu) - Hipertensi kronis (without proteinuria) - Penyakit ginjal kronis (proteinuria dengan atau tanpa hipertensi) - Hipertensi kronis dengn superimposed - Pre-eklamsi (proteinuria) c.2.18 Klasifikasi hipertensi pada kehamilan oleh Working Group of the NHBPEP (2000) dibagi menjadi 5 tipe. Diagnosis dan Gejala Klinis Hipertensi dalam Kehamilan Diagnosis dini harus diutamakan bila diinginkan angka morbiditas dan mortalitas rendah bagi ibu dan anaknya.7. Hipertensi kronis.5.16 3.4. yaitu : a. atau pada wanita hamil yang sebelumnya normotensi dan non-proteinuri. Hipertensi gestasional b. wanita hamil dianjurkan untuk duduk tenang 5-10 menit. persalinan. Adanya penekanan vena kava inferior oleh uterus gravid pada posisi berbaring dapat mengganggu pengukuran sehingga terjadi pengukuran yang lebih rendah.7. Unclassified hypertension dan/atau proteinuria d. Walaupun terjadinya preeklamsi sukar dicegah.12 Tekanan darah sebaiknya diukur pada posisi duduk dengan posisi cuff setinggi jantung. tetapi berat dan terdinya eklamsi biasanya dapat dihindari dengan mengenal secara dini penyakit tersebut dan dengan penanganan secara sempurna.a.5.10. Hipertensi gestasional dan/atau proteinuria selama kehamilan. Preeklamsi superimposed pada hipertensi kronis e. Eklamsi d. Sebelum pengukuran. Eklampsia.

dan tungkai.10. telah dianjurkan agar peningkatan tambahan tekanan diastolik 15 mmHg atau sistolik 30 mmHg digunakan sebagai kriteria diagnostik. Pada masa lalu.1. muka. Oedem telah ditinggalkan sebagai kriteria diagnostik karena hal tersebut juga banyak terjadi pada wanita hamil yang normotensi. bahkan apabila tekanan darah saat diukur di bawah 140/90 mmHg. 2004). Hipertensi gestasional disebut juga transient hypertension jika preeklampsia tidak berkembang dan tekanan darah telah kembali normal pada 12 minggu postpartum. oedem tidak selalu terdapat pada pasien preeklamsi maupun eklamsi. 13 . tekanan darah biasanya menurun pada trimester ke-II kehamilan dan tekanan diastolik pada primigravida dengan kehamilan normotensi kadang-kadang naik sebesar 15 mmHg. Kriteria tersebut sekarang ini tidak lagi dianjurkan karena bukti menunjukkan bahwa wanita tersebut tidak memiliki kecenderungan untuk mengalami efek samping merugikan saat kehamilan.7. Apabila tekanan darah naik cukup tinggi selama setengah kehamilan terakhir. fase ke V Korotkoff digunakan untuk menentukan tekanan darah diastolik. 3. Oedem dianggap patologis bila menyeluruh dan meliputi tangan. Sebagai tambahan. untuk pertama kalinya selama kehamilan tetapi tidak terdapat proteinuria.16 Alogaritma dalam membedakan penyakit hipertensi dalam kehamilan (Wagner. Hipertensi Gestasional Hipertensi gestasional didiagnosis pada wanita dengan tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih besar..5. Sebagai catatan.Hipertensi didiagnosa apabila tekanan darah pada waktu beristirahat 140/90 mmHg atau lebih besar.

2. juga meningkatkan kepastian tersebut. Dengan demikian.5 3. pemantauan secara terus-menerus gejala eklampsia. atau pada sampel urin secara acak menunjukkan 30 mg/dL (1 + dipstick) secara persisten. Nyeri ini sering disertai dengan peningkatan serum hepatik transaminase yang tinggi dan biasanya merupakan tanda untuk mengakhiri kehamilan.2. Proteinuria adalah suatu tanda dari penyakit hipertensi yang memburuk. 10% eklamsi berkembang sebelum proteinuria yang nyata diidentifikasi. Preeklamsi Proteinuria adalah tanda penting dari preeklampsia. Tingkat proteinuria dapat berubah-ubah secara luas selama setiap periode 24 jam. Proteinuria yang nyata dan terus-menerus meningkatkan risiko ibu dan janin. dan fungsi hematologi meningkatkan kepastian diagnosis preeklamsi. satu sampel acak bisa saja tidak membuktikan adanya proteinuria yang berarti.5 Kriteria Diagnosis pada hipertensi gestasional yaitu : - TD 140/90 mmHg yang timbul pertama kali selama kehamilan.5 Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas merupakan akibat nekrosis hepatocellular.hal ini berbahaya terutama untuk janin. walaupun proteinuria tidak pernah ditemukan. Proteinuria yaitu protein dalam urin 24 jam melebihi 300mg per 24 jam. seperti sakit kepala dan nyeri epigastrium.2. bahkan pada kasus yang berat. - TD kembali normal < 12 minggu postpartum.5 14 . Oleh karena itu. hepar. dan oedem yang merentangkan kapsul Glissoni. kriteria minimum untuk diagnosis preeklamsi adalah hipertensi dengan proteinuria yang minimal. jelas bahwa apabila tekanan darah mulai naik. - Diagnosis akhir baru bisa ditegakkan postpartum. ibu dan janin menghadapi risiko yang meningkat. Temuan laboratorium yang abnormal dalam pemeriksaan ginjal. dan Chesley (1985) menyimpulkan secara tepat bahwa diagnosis diragukan dengan tidak adanya proteinuria. - Mungkin ada gejala preeklampsia lain yang timbul. iskemia.5 Dengan demikian. Seperti yang ditegaskan oleh Chesley (1985). - Tidak ada proteinuria. terutama preeklampsia. Selain itu. contohnya nyeri epigastrium atau trombositopenia.

Peningkatan tekanan 15 .5 Kriteria diagnosis pada preeklamsi terdiri dari : Kriteria minimal. - Trombosit <100. - Nyeri kepala persisten atau gangguan penglihatan atau cerebral lain. . tetapi tekanan darah bukan merupakan penentu absolut tingkat keparahan hipertensi dalam kehamilan. - Nyeri epigastrium persisten. dan hal tersebut mungkin disebabkan oleh aktivasi dan agregasi platelet serta hemolisis mikroangiopati yang disebabkan oleh vasospasme yang berat. yaitu : . semakin besar kemungkinan harus dilakukan terminasi kehamilan.0 g/24 jam atau 2+ dipstick.5 Faktor lain yang menunjukkan hipertensi berat meliputi gangguan fungsi jantung dengan oedem pulmonal dan juga pembatasan pertumbuhan janin yang nyata. - Hemolisis mikroangiopati (peningkatan LDH).000/mm3. - peningkatan ALT atau AST. Semakin banyak ditemukan penyimpangan tersebut. sedangkan kebanyakan wanita dengan tekanan darah mencapai 180/120 mmHg tidak mengalami kejang.5 Beratnya preeklamsi dinilai dari frekuensi dan intensitas abnormalitas yang dapat dilihat pada Tabel 2.Proteinuria 300 mg/24 jam atau 1+ dipstick. - Kreatinin serum > 1.TD 140/90 mmHg pada kehamilan > 20 minggu. Kemungkinan terjadinya preeklamsi : - TD 160/110 mmHg. Perbedaan antara preeklamsi ringan dan berat dapat sulit dibedakan karena preeklamsi yang tampak ringan dapat berkembang dengan cepat menjadi berat. hemoglobinuria. - Proteinuria 2. Bukti adanya hemolisis yang luas dengan ditemukannya hemoglobinemia. Contohnya. pada wanita dewasa muda mungkin terdapat proteinuria +3 dan kejang dengan tekanan darah 135/85 mmHg.5 Meskipun hipertensi merupakan syarat mutlak dalam mendiagnosis preeklampsia. atau hiperbilirubinemi dan merupakan indikasi penyakit yang berat.2 mg/dL kecuali sebelumnya diketahui sudah meningkat.1.Trombositopeni adalah karakteristik dari preeklamsi yang memburuk.

sekitar 10% wanita eklamsi. Superimposed Preeclampsia Kriteria diagnosis Superimposed Preeclampsia adalah : . selama.darah yang cepat dan diikuti dengan kejang biasanya didahului nyeri kepala berat yang persisten atau gangguan visual. 4. 2002).1+ Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Normal Tidak ada Minimal Tidak ada Tidak ada ≥ 110 mmHg Persisten ≥ 2+ Ada Ada Ada Ada Ada Meningkat Ada Nyata Nyata Ada Tabel 2.3.5 3. serangan tidak muncul hingga 48 jam setelah postpartum. Konvulsi terjadi secara general dan dapat terlihat sebelum. Setelah perawatan prenatal bertambah baik.10. - Peningkatan tiba-tiba proteinuria atau tekanan darah atau jumlah trombosit <100. atau setelah melahirkan.19 16 . banyak kasus antepartum dan intrapartum sekarang dapat dicegah. terutama nulipara. Eklamsi Serangan konvulsi pada wanita dengan preeklampsia yang tidak dapat dihubungkan dengan sebab lainnya disebut eklamsi.4. dan studi yang lebih baru melaporkan bahwa seperempat serangan eklampsia terjadi di luar 48 jam postpartum (Chames dan kawankawan.7.5.5 Abnormalitas Tekanan darah diastolik Proteinuria Sakit kepala Nyeri perut bagian atas Oliguria Kejang (eklamsi) Serum Kreatinin Trombositopeni Peningkatan enzim hati Hambatan pertumbuhan janin Oedem paru < 100 mmHg Trace .1 Gejala Beratnya Hipertensi Selama Kehamilan 5 3.Proteinuria 300 mg/24 jam pada wanita dengan hipertensi yang belum ada sebelum kehamilan 20 minggu. Pada studi terdahulu.000/mm3 pada wanita dengan hipertensi atau proteinuria sebelum kehamilan 20 minggu.

- Hipertensi berlangsung lama setelah kelahiran. 1. - Hipertensi (≥ 140/90 mmHg) diketahui sebelum 20 minggu. obesitas dan diabetes adalah sebab umum lainnya.10.5 Hipertensi Kronis Diagnosis hipertensi kronis yang mendasari dilakukan apabila : - Hipertensi (≥ 140/90 mmHg) terbukti mendahului kehamilan. tekanan darah yang meningkat sebelum usia kehamilan 20 minggu mungkin merupakan tanda awal terjadinya preeklamsi. tetapi pada beberapa wanita hamil. Pada beberapa wanita.5 Hipertensi kronis dalam kehamilan sulit didiagnosis apalagi wanita hamil tidak mengetahui tekanan darahnya sebelum kehamilan. Pada beberapa kasus.19 Sebagian dari banyak penyebab hipertensi yang mendasari dan dialami selama kehamilan dicatat pada Tabel 2. kecuali bila ada penyakit trofoblastik. hipertensi kronis didiagnosis sebelum kehamilan usia 20 minggu.5 Hipertensi esensial Obesitas Kelainan arterial : Hipertensi renovaskular Koartasi aorta Gangguan-gangguan endokrin : Diabetes mellitus Sindrom cushing Aldosteronism primer Pheochromocytoma Thyrotoxicosis Glomerulonephritis (akut dan kronis) Hipertensi renoprival : Glomerulonephritis kronis Ketidakcukupan ginjal kronis 17 . hipertensi berkembang sebagai konsekuensi dari penyakit parenkim ginjal yang mendasari. Hipertensi esensial merupakan penyebab dari penyakit vaskular pada > 90% wanita hamil.3.2. Selain itu.

Diabetic nephropathy Penyakit jaringan konektif : Lupus erythematosus Systemic sclerosis Periarteritis nodosa Penyakit ginjal polikistik Gagal ginjal akut Tabel 2. 18 . khususnya setelah 24 minggu. b. Indikator tentang beratnya hipertensi sudah diperlihatkan pada Tabel 2. Jika disertai oleh proteinuria. Memiliki penyakit vaskular yang telah ada sebelumnya.1 dan digunakan juga untuk menggolongkan preeklamsi yang mendasari hipertensi kronis tersebut. Terpapar vili korialis untuk pertama kalinya.3. maka preeklamsi yang mendasarinya dapat didiagnosis.3 Klasifikasi Hipertensi Kronis 13 Pada beberapa wanita dengan hipertensi kronis.5 4. Terpapar vili korialis yang berlimpah. tekanan darah dapat meningkat sampai tingkat abnormal.13 Klasifikasi Normal Pre – hipertensi Hipertensi stadium I Hipertensi stadium II Sistolik (mmHg) < 120 120 – 139 140 – 159 ≥ 160 Diastolik (mmHg) < 80 80 – 89 90 – 99 ≥ 100 Tabel 2.2 Penyebab yang mendasari hipertensi kronis 5 Sedangkan klasifikasi hipertensi kronis berdasarkan JNC VII dapat dilihat pada tabel 2. dan hal ini cenderung akan menjadi lebih berat dan sering menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan janin. Preeklamsi yang mendasari hipertensi kronis ini sering berkembang lebih awal pada kehamilan daripada preeklamsi murni. pada gemeli atau mola hidatidosa. c. Etiologi Setiap teori yang memuaskan tentang etiologi dan patofisiologi preeklamsi harus menerangkan pengamatan bahwa hipertensi yang disebabkan oleh kehamilan jauh lebih memungkinkan terjadi pada wanita yang : a.

1. 1999). Perubahan patofisiologi pada preeklamsi berat menunjukkan bahwa perfusi yang buruk merupakan sebab utama perubahan fisiologis maternal dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal.5 Tulisan-tulisan yang menjelaskan tentang eklamsia telah dibuat pada tahun 2200 Sebelum Masehi (Lindheimer dan kawan-kawan. Pengaruh genetik. Dengan demikian tidaklah heran bahwa sejumlah mekanisme telah dikemukakan untuk menerangkan penyebabnya. tetapi tidak demikian untuk janin. sebab-sebab potensial yang mungkin menjadi penyebab preeklamsi adalah sebagai berikut : a. Invasi trofoblastik abnormal pembuluh darah uterus. c. d. Secara genetik memiliki predisposisi terhadap hipertensi yang berkembang selama kehamilan. Jika ada pertimbangan konservatif daripada persalinan. e.9 19 . Maladaptasi maternal pada perubahan kardiovaskular atau inflamasi dari kehamilan normal. Kesempatan untuk mengatasi preeklamsi dengan diuretik atau dengan menurunkan tekanan darah dapat menimbulkan perubahan patofisiologis. b. Faktor nutrisi. b. maka ditujukan untuk memperbaiki kondisi ibu agar janin dapat menjadi matur.d. Dasar terapi di bidang obstetrik untuk preeklamsi berdasarkan apakah janin dapat hidup tanpa komplikasi neonatal serius baik dalam uterus maupun dalam perawatan rumah sakit. c. Perubahan patogenik pada preeklamsi telah ada jauh sebelum diagnostik klinis timbul. menyediakan 3 panduan penatalaksanaan : a. Penemuan ini menunjukkan bahwa perubahan ireversibel terhadap kesejahteraan janin dapat terjadi sebelum diagnosis klinis. 5. Panduan Penatalaksanaan Laporan NHBPEP Working Group.5 Penatalaksanaan Hipertensi dalam Kehamilan 5. Intoleransi imunologis antara jaringan plasenta ibu dan janin. Menurut Sibai (2003). Persalinan merupakan terapi yang paling tepat untuk ibu.

trombosit. Pengukuran serum kreatinin. frekuensi pemeriksaan tergantung beratnya penyakit. b.5. dan serum enzim hati. Evaluasi secara sistematis meliputi : a. Jika terdapat hipertensi. Penanganan pra-kehamilan Setiap wanita harus dievaluasi sebelum konsepsi untuk menentukan kondisi tekanan darahnya.13 Perawatan di rumah sakit dipertimbangkan pada wanita dengan hipertensi berat.13 Pada umumnya. kerusakan target organ. Wanita hamil dengan tekanan darah yang tinggi (140/90 mmHg) akan dievaluasi di rumah sakit sekitar 2-3 hari untuk menentukan beratnya hipertensi. d. nyeri epigastrium. f. pandangan kabur. dan rencana strategis penatalaksanaannya. Evaluasi berkala tentang ukuran janin dan cairan amnion secara klinis dan dengan menggunakan ultrasonografi. penting diketahui mengenai penggantian medikasi anti hipertensi yang telah diketahui aman digunakan selama kehamilan. Wanita hamil dengan penyakit yang ringan dapat menjalani rawat jalan. dan penambahan berat badan secara cepat.13 Pada wanita penderita hipertensi yang merencanakan kehamilan. sebab sekunder yang mungkin.7. Analisis proteinuria saat masuk rumah sakit dan setiap 2 hari. hematokrit. Penimbangan berat badan saat masuk rumah sakit dan setiap hari setelahnya. frekuensi kunjungan antenatal menjadi sering pada akhir trimester untuk menemukan awal preeklamsi. Pengukuran tekanan darah dengan posisi duduk setiap 4 jam kecuali saat pertengahan tengah malam dengan pagi hari.2. c. Penghambat ACE dan ARB jangan dilanjutkan sebelum terjadinya konsepsi atau segera setelah kehamilan terjadi. dapat ditentukan beratnya. Kebanyakan wanita penderita hipertensi yang merencanakan kehamilan harus menjalani skrining adanya faeokromositoma karena angka morbiditas dan mortalitasnya yang tinggi apabila keadaan ini tidak terdiagnosa pada ante partum.5.4. terutama apabila terdapat hipertensi yang persisten atau bertambah berat atau munculnya proteinuria. seperti metildopa atau beta bloker. e.10 20 . Pemeriksaan detil diikuti pemeriksaan harian terhadap gejala klinis seperti sakit kepala. Wanita hamil dengan hipertensi yang berat akan dievaluasi secara ketat bahkan dapat dilakukan terminasi kehamilan.

Pembatasan garam tidak diperlukan asal tidak berlebihan.5. dan pemeriksaan elektrolit. tes antibodi antifosfolipid. latihan aerobik ringan harus dibatasi berdasarkan teori yang menyatakan bahwa aliran darah plasenta yang inadekuat dapat meningkatkan risiko preeklampsia dan penurunan berat badan seharusnya tidak dicoba bahkan pada wanita hamil yang obese. tekanan darah 21 . penampungan urin 24 jam untuk mengetahui total ekskresi protein dan klirens kreatinin. dan katekolamin urine. antibodi antinuklear. penyakit endokrin. tekanan darah > 160/110 mmHg pada awal kehamilan. Penatalaksanaan hipertensi kronis selama kehamilan Kebanyakan pasien dengan hipertensi kronis mempunyai hipertensi esensial. Peningkatan morbiditas dan mortalitas pada pasien-pasien ini adalah secara primer berhubungan dengan terjadinya preeklamsi superimposed dan solusio plasenta. termasuk funduskopi.3. Diet harus mengandung protein dan kalori dalam jumlah yang cukup.4 gram. dan koarktasio aorta tidak umum dalam kehamilan. Dalam setiap kunjungan. Faktor-faktor yang menempatkan pasien pada risiko tinggi untuk terjadinya preeklamsi superimposed adalah umur ibu lebih dari 40 tahun. Walaupun data pada wanita hamil bervariasi. rontgen thorax. Tirah baring total tidak diperlukan.15 Wanita dengan hipertensi tingkat I memiliki risiko rendah untuk komplikasi kardiovaskular selama kehamilan dan hanya menjalani terapi perubahan gaya hidup karena tidak ada bukti bahwa terapi farmakologis meningkatkan prognosis neonatal.5 5. Modifikasi gaya hidup.15 Evaluasi yang tepat memerlukan pemeriksaan fisik yang lengkap. Pemeriksaan laboratorium yang direkomendasikan meliputi urinalisis dan kultur urin. banyak ahli yang merekomendasikan restriksi intake garam sebesar 2. pasien juga dianjurkan mengurangi aktivitas sehari-harinya yang berlebihan. Beberapa pasien mungkin memerlukan pemeriksaan EKG. kardiomiopati.3. diabetes klas B-F. hipertensi lebih dari 15 tahun.14. Lebih lanjut lagi. Hipertensi akibat sekunder terhadap penyakit ginjal.15 Pasien dikontrol tiap 2 minggu sampai mencapai usia kehamilan 28 minggu dan kemudian setiap minggu sampai persalinan. begitu pula dengan pemberian sedatif. Penggunaan alkohol dan rokok harus dihentikan.Selain itu. dan penyakit ginjal atau autoimun.7. faeokromositoma. disamping itu hipertensi mudah di kontrol dengan atau tanpa medikasi. tekanan darah biasanya menurun pada awal kehamilan.

Pada semua kasus. Akan tetapi ada beberapa pendapat yang merekomendasikan pemberian obat anti hipertensi saat tekanan darah mencapai  180/110 mmHg. asam urat.sitolik dan diastolik harus dicatat dan dilakukan tes urin untuk mengetahui adanya glukosa atau protein.15 Wanita hamil dengan hipertensi kronis harus dievaluasi sebelum kehamilan sehingga obat-obat yang memiliki efek berbahaya terhadap janin dapat diganti dengan 22 . Evalusai tambahan dilakukan tergantung dari beratnya penyakit.5. Hubungan ini tidak tergantung pada tipe hipertensi. dan ekskresi protein 24 jam. terjadi proteinuria yang signifikan. Hospitalisasi diindikasikan apabila hipertensi memburuk. termasuk penggunaan monitor tekanan darah di rumah. tipe obat anti hipertensi.5. terapi harus dijalankan ketika tekanan darah mencapai 150-160 mmHg sistolik atau 100-110 mmHg diastolik untuk mencegah peningkatan tekanan darah pada tingkat yang sangat tinggi pada kehamilan. wanita dengan hipertensi kronis mempunyai faktor risiko lebih tinggi dalam memperburuk prognosis neonatal jika proteinuria didapatkan pada awal kehamilan.715 Bagaimanapun juga pada wanita hamil dengan kerusakan target organ atau yang lebih dulu memerlukan bermacam obat anti hipertensi untuk mengontrol tekanan darahnya.3. Peningkatan asam urat > 6 mg/dL seringkali merupakan tanda awal preeklamsi superimposed. klirens kreatinin. mengingat kematian janin mencapai 50% dan angka kematian maternal yang signifikan telah banyak dilaporkan. seperti pengukuran hematokrit.15 Penggunaan obat anti hipertensi pada wanita hamil penderita hipertensi kronis bervariasi pada beberapa pusat kesehatan. Pendekatan ini menggambarkan perhatian terhadap keamanan terapi obat anti hipertensi dalam kehamilan. Lebih jauh lagi. Sebuah meta-analisis terhadap 45 penelitian acak terkontrol tentang penatalaksanaan beberapa kelas obat anti hipertensi pada hipertensi tingkat 1 dan 2 selama kehamilan menunjukkan hubungan linier langsung antara penurunan tekanan darah rata-rata karena terapi dengan proporsi bayi KMK (Kecil Untuk Masa Kehamilan). dan peningkatan asam urat. dan lamanya terapi. medikasi anti hipertensi harus dilanjutkan untuk mengontrol tekanan darahnya. Kebanyakan prognosis paling buruk berhubungan dengan superimposed preeklamsi.7. serum kreatinin. Beberapa klinisi lebih suka menghentikan medikasi anti hipertensi ketika menjalankan observasi ketat. Penatalaksanaan yang agresif pada hipertensi kronis yang berat pada trimester pertama sangat penting.

Penatalaksanaan preeklamsi meliputi perawatan di rumah sakit.4. Faktor risiko untuk superimposed preeklamsi meliputi insufisiensi ginjal. Banyak wanita dengan preeklamsi mempunyai sejarah normotensi sebelumnya sehingga peningkatan tekanan darah secara akut bahkan pada tingkat terendah (150/100 mmHg) dapat menyebabkan simptomatologi yang signifikan dan memerlukan terapi. pengamatan intensif atau terminasi kehamilan jika ada indikasi. dan potensi kerusakan target organ. dan terminasi pada waktunya.5 Preeklamsi lebih umum diderita pada wanita dengan hipertensi kronis.15 6. dan hipertensi pada kehamilan sebelumnya. Pencegahan pada preeklamsi meliputi identifikasi wanita risiko tinggi. kontrol tekanan darah.5. Bila terdapat kontra indikasi (menginduksi kerusakan hepar) maka obat lain seperti nifedipin atau labetalol dapat digunakan. Akan tetapi diuretik harus dihentikan apabila terjadi preeklamsi atau tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat. Keputusan untuk memulai terapi anti hipertensi pada hipertensi kronis tergantung dari beratnya hipertensi. Metil dopa merupakan obat anti hipertensi yang umum digunakan dan tetap menjadi obat pilihan karena tingkat keamanan dan efektivitasnya yang baik. Penatalaksanaan tidak mengganggu patofisiologi penyakit. deteksi dini secara klinis dan laboratorium. berdasarkan laporan tentang stabilnya aliran darah uteroplasental dan hemodinamika janin dan ketiadaan efek samping yang buruk pada pertumbuhan anak yang terpapar metil dopa saat dalam kandungan. Pilihan obat anti hipertensi Tujuan utama dalam mengobati hipertensi kronis dalam kehamilan adalah menurunkan risiko maternal. dengan insidensi sekitar 25%. tetapi dapat memperlambat progresi penyakit dan menyediakan waktu bagi fetus untuk 23 . profilaksis konvulsi pada impending eklamsi. Obat lini pertama yang biasanya dipergunakan adalah metil dopa. ada tidaknya penyakit kardiovaskular yang mendasari. Terapi diuretik berguna pada wanita dengan hipertensi sensitif garam atau disfungsi diastolik ventrikel. riwayat menderita hipertensi selama 4 tahun atau lebih. Banyak wanita yang diterapi dengan diuretika. Terapi lini I yang banyak disukai adalah metil dopa.3.obat lain seperti metildopa dan labetalol. tetapi pemilihan obat anti hipertensi lebih memperhatikan keselamatan janin. akan tetapi apakah terapi diuretik dilanjutkan selama kehamilan masih menjadi bahan perdebatan.

Efek meningkatkan cardiac output penting karena dapat meningkatkan aliran darah uterus. atau IUGR atau gangguan maternal seperti hipertensi berat.20 Terapi anti hipertensi harus memperhatikan keamanan maternal. Hidralazine Merupakan obat pilihan. gangguan fungsi ginjal. pandangan kabur. Efek puncak tercapai dalam 30-60 menit dan lama kerja 4-6 jam. Seleksi obat anti hipertensi dan rute pemberian tergantung pada antisipasi waktu persalinan. haruslah memperhatikan masa gestasi fetus yang < 32 minggu. Preeklamsi kadang-kadang dapat sembuh sendiri walau jarang dan pada kebanyakkan kasus adalah memburuk sejalan dengan waktu. golongan vasodilator arteri secara langsung yang dapat menyebabkan takikardi dan meningkatkan cardiac output akibat hasil respon simpatis sekunder yang dimediasi oleh baroreseptor.5 Ketika persalinan mungkin dapat menjadi terapi yang tepat bagi ibu. Jika persalinan sudah akan terjadi. Hidralazin dimetabolisme oleh hepar. Efek samping seperti flushing. metil dopa oral lebih disukai karena keamanannya. dizziness. Anti hipertensi diberikan sebelum induksi persalinan untuk tekanan darah diastol 105-110 mmHg atau lebih dengan tujuan menurunkannya sampai 95-105 mmHg.6. Persalinan per vaginam lebih disukai daripada seksio untuk menghindari penambahan stress akibat operasi. pemberian parenteral adalah praktis dan efektif. hitung trombosit yang rendah. peningkatan enzim hati. dan angina.mencapai maturitas. Alternatif lain seperti labetalol oral dan beta bloker serta antagonis kalsium juga dapat dipergunakan.4. Dosis hidralazine adalah 5-10 mg setiap interval 15-20 menit sampai tercapai hasil yang memuaskan. hemolisis. Selain memperhatikan masa gestasi.7. dan sakit kepala. Jika persalinan terjadi lebih dari 48 jam kemudian.5. yaitu: a.5. yaitu tekanan darah diastol turun sampai 90-100 mmHg tetapi tidak terdapat penurunan perfusi plasenta. bila didapatkan tanda-tanda gawat janin intra uterin. palpitasi.15 Jenis-jenis obat yang dipergunakan dalam penanganan hipertensi dalam kehamilan. 24 .15 Hidralazine diberikan dengan cara intravena ketika tekanan diastol mencapai 110 mmHg atau lebih atau tekanan sistolik mencapai lebih dari 160 mmHg.

15 25 . menunjukkan bahwa dapat terjadi penurunan tekanan darah yang cepat sehingga dapat menyebabkan hipotensi. menurut penelitian yang dilakukan oleh Mabie dan kawan-kawan.15 Labetalol diberikan secara intravena. Pada sebuah penelitian yang membandingkan labetalol dengan hidralazine menunjukkan bahwa labetalol menurunkan tekanan darah lebih cepat dan efek takikardi minimal. Obat ini menginhibisi influk transmembran ion kalsium dari ECS ke sitoplasma kemudian memblok eksitasi dan kontraksi coupling di jaringan otot polos dan menyebabkan vasodilatasi dan penurunan resistensi perifer. Onset kerja adalah 5 menit. selanjutnya 80 mg. efek puncak 10-20 menit. Walaupun nifedipin tampak lebih potensial. tetapi hidralazine menurunkan tekanan arteri rata-rata lebih efektif. nifedipin tidak digunakan pada pasien dengan IUGR atau denyut jantung janin abnormal. pemberian labetalol tidak melebihi 220 mg tiap episode pengobatan. merupakan pemblok  1 dan non selektif β.15 b. Pemberian nifedipin secara sub lingual. pemberian diteruskan sampai dosis maksimal kumulatif mencapai 300 mg atau tekanan darah sudah terkontrol. maka diberikan 20 mg labetalol.5. Obat anti hipertensi lain NHBPEP merekomendasikan nifedipin (Ca channel blocker). Pemberian labetalol secara intra vena tidak mempengaruhi aliran darah uteroplasenter.Hidralazine telah terbukti dapat menurunkan angka kejadian perdarahan serebral dan efektif dalam menurunkan tekanan darah dalam 95% kasus preeklamsi. Labetalol Labetalol merupakan penghambat beta non selektif dan penghambat α1-adrenergik post sinaps yang tersedia dalam bentuk oral maupun intra vena. dan digunakan juga untuk mengobati hipertensi akut pada kehamilan. Jika tekanan darah belum turun dalam 10 menit. Protokol pemberian adalah 10 mg intravena. Nifedipin merupakan vasodilator arteriol yang kuat sehingga memiliki masalah utama hipotensi.5. obat ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk digunakan dalam kehamilan.15 c. Karena alasan ini. Menurut NHBPEP. dan durasi kerja 45 menit-6 jam. Obat ini mempunyai efek tokolitik minimal. Dosis 10 mg oral dan diulang tiap 30 menit bila perlu. Pengalaman membuktikan bahwa labetalol dapat ditoleransi baik oleh ibu maupun janin. Kemudian 10 menit berikutnya 40 mg.

Pemakaian obat anti hipertensi lain seperti verapamil lewat infus 5-10 mg per jam dapat menurunkan tekanan darah arteri rata-rata sebesar 20%. Metil dopa Merupakan agonis α-adrenergik.15 d. Efek samping terhadap janin adalah ileus mekonium. Sebagai tambahan. dapat berfungsi sebagai penghambat α-2 perifer lewat efek neurotransmitter palsu. Hal ini dinyatakan pada penelitian yang dilakukan oleh Belforts dan kawan-kawan. dan merupakan satu-satunya obat anti hipertensi yang telah terbukti keamanan jangka panjang untuk janin dan ibu. Obat ini menurunkan tekanan darah dengan menstimulasi reseptor sentral α-2 lewat α-metil norefinefrin yang merupakan bentuk aktif metil dopa. Trimethaphan merupakan pemblok ganglionik yang digunakan oleh ahli anestesi dalam menurunkan tekanan darah sebelum laringoskopi dan intubasi untuk anestesi umum. labetalol atau nifedipin.5. Obat ini sangat efektif dalam mengontrol tekanan darah dalam hitungan menit di ICU. Obat ini menurunkan resistensi total perifer tanpa menyebabkan perubahan pada laju jantung dan cardiac output. Onset kerja 1-2 menit. sering terjadi retensi cairan dan efek anti hipertensi yang berkurang. Rekomendasi penggunaan obat secara intra vena tidak lebih dari 30 menit pada ibu non parturien karena efek samping toksisitas sianida dan tiosianat pada janin. Obat lain seperti nimodipin dapat digunakan baik secara oral maupun infus dan terbukti dapat menurunkan tekanan darah pada wanita penderita preeklamsi berat. Obat ini merupakan anti hipertensi potensi sedang. Sodium nitroprussid dapat menyebabkan vasodilatasi arteri dan vena tanpa efek terhadap susunan saraf otonom atau pusat. dan lama kerja 3-5 menit. Nitroprusid tidak direkomendasikan lagi oleh NHBPEP kecuali tidak ada respon terhadap pemberian hidralazin. puncak kerja terjadi setelah 1-2 menit. Nitrogliserin diberikan secara intra vena sebagai vasodilator vena yang tampak aman bagi janin. Oleh karena itu. Puncak plasma terjadi 2-3 jam setelah pemberian. metil dopa biasanya dikombinasikan dengan diuretik untuk terapi pada pasien yang tidak hamil. Pemakaian ketanserin secara intra vena juga memberikan hasil yang baik menurut penelitian Bolte dan kawan-kawan. Dosis awal 250 mg 3 kali sehari dan ditingkatkan 2 gram/hari. Efek maksimal terjadi dlam 4-6 jam 26 . Paruh wakti 2 jam. Jika metil dopa digunakan sendiri.

Tekanan darah menurun 30-60 mmHg. Kebanyakan disekresi lewat ginjal. juga menurunkan resistensi vaskular akibat konsentrasi sodium interselular pada sel otot polos. Sampai sekarang belum ada penelitian besar yang mempelajari klonidin seperti metil dopa. Sekitar 90% ekskresi obat melalui kandung empedu ke dalam faeses. Prazosin menurunkan tekanan darah tanpa menurunkan laju jantung. Hal ini dapat dihindari dengan pemberian sebelum tidur.1 mg 2 kali sehari dan ditingkatkan secara incremental 0. Efek maksimal 2-4 jam dan lama kerja 6-8 jam. Efek samping adalah xerostomia dan sedasi. Penghentian klonidin dapat menyebabkan krisis hipertensi yang dapat diatasi dengan pemberian kembali klonidin.15 e. Percobaan binatang menunjukkan tidak ada efek teratogenik. Klonidin Merupakan agonis α-adrenergik lainnya.3.1-0. Terapi lama (6-12 bulan) dengan obat ini dapat menyebabkan anemia hemolitik dan merupakan indikasi untuk memberhentikan obat ini. Selama kehamilan. tetapi cardiac output menurun namun tetap berespon terhadap latihan fisik.5. Diuretik Obat ini memiliki efek menurunkan plasma dan ECF sehingga curah jantung dan tekanan darah menurun.2 mg/hari sampai 2.15 g. Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus dapat terjaga. Prazosin dapat menyebabkan hipotensi mendadak dalam 30-90 menit setelah pemberian. Efek samping yang sering dilaporkan adalah sedasi dan hipotensi postural. dan laju filtrasi glomerulus.15 f. 27 . curah jantung. Prazosin bukan merupakan obat yang kuat sehingga sering dikombinasikan dengan beta bloker. aliran darah ginjal. Terapi biasanya dimulai dengan dosis 0. absorbsi menjadi lambat dan waktu paruh menjadi lebih panjang. Dalam sebuah penelitian. Prazosin Merupakan pemblok kompetitif pada reseptor α1-adrenergik.4 mg/hari. Obat ini dapat menyebabkan vasodilatasi pada resistensi dan kapasitas pembuluh darah sehingga menurunkan preload dan afterload.setelah dosis oral. Obat ini dimetabolisme hampir seluruhnya di hepar. kadar puncak tercapai dalam 165 menit pada wanita hamil.

dimana volume tersebut sudah berkurang akibat preeklamsi dibandingkan dengan keadaan normal. diulangi setiap interval 20 menit. beri 40 mg setelah 10 menit dan 80 mg setiap 10 menit. Jika tekanan darah sudah terkontrol.9. Pemakaian furosemid saat ante partum dibatasi pada kasus khusus dimana terdapat edema pulmonal. diuretik tidak lagi digunakan untuk menurunkan tekanan darah karena dapat meningkatkan hemokonsentrasi darah ibu dan menyebabkan efek samping terhadap ibu dan janin. Labetalol Dosis maksimal 20 mg IV atau 30 mg IM Dimulai dengan dosis 20 mg IV secara bolus. Jika tidak optimal.25 µg/kg/menit sampai dosis maksimal 5µg/kg/menit.15 8.13 OBAT Hydralazin REKOMENDASI Dimulai dengan dosis 5 mg IV atau 10 mg IM. Tidak diperbolehkan penggunaan nifedipine kerja singkat dalam Sodium terapi hipertensi Hanya digunakan pada kasus hipertensi yang tidak berespon nitroprussid terhadap obat yang terdaftar disini. Gunakan mdosis maksimal 220 mg. Hindari pemberian labetalol pada Nifedipine wanita dengan asma atau gagal jantung kongestif Dimulai dengan 10 mg oral dan ulangi setiap 30 menit bila perlu. dam lisinopril. Obat diuretika seperti triamterene dihindari karena merupakan antagonis asam folat dan dapat meningkatkan risiko defek janin. Dimulai dengan dosis 0. Contoh obat ini seperti captopril. tanpa penurunan curah jantung. Jika tekanan darah tidak terkontrol.Obat diuretika yang poten dapat menyebabkan penurunan perfusi plasenta karena efek segera meliputi pengurangan volume intravaskular. Oleh karena itu. obat ini juga meningkatkan sintesis prostaglandin vasodilatasi dan menurunkan inaktivasi bradikinin (vasodilator poten). Penghambat ACE Obat ini menginduksi vasodilatasi dengan menginhibisi enzim yang mengkonversi angiotensi 1 menjadi angiotensin 2 (vasokonstriktor poten). Fetal sianida 28 . ulangi bila perlu (biasanya tiap 3 jam). enalapril. Sebagai tambahan.

yaitu : a. dan penurunan volume plasma sehingga dapat menganggu pertumbuhan janin.15 29 . Efek Samping Obat Efek samping obat-obat anti hipertensi antara lain. hiperurikemi. ACE inhibitor Digunakan pada trimester dua dan tiga telah menyebabkan disfungsi ginjal pada fetus yang mengakibatkan oligohidramnion dan anuria. Diantara golongan penghambat beta. Tabel 2. Diuretika Memiliki efek samping terhadap ibu maupun janin.15 c. Efek terhadap janin adalah gangguan elektrolit. hiponatremia. Pada kebanyakan penelitian.15 b. berhubungan dengan pertumbuhan janin terhambat pada beberapa penelitian yang tidak terkontrol dan sebuah penelitian kecil. 2) Metil dopa kemungkinan aman selama pemberian ASI.1. ACE inhibitor telah dihubungkan dengan hipoplasia pulmoner. atenolol Terutama ketika dimulai pada awal kehamilan. dimana tingkat plasma yang rendah ditemukan pada janin. yaitu : 1) Diuretik thiazide sebaiknya dihindari karena dapat menurunkan produksi ASI dan digunakan untuk mensupresi laktasi. Efek maternal seperti hipokalemia.4 Panduan Obat Anti Hipertensi 15 6. trombositopeni.13 Beberapa efek obat anti hipertensi terhadap pemberian ASI. kelainan ginjal dan hipoplasia lain pada tulang tengkorak.terjadi jika digunakan lebih dari 4 jam. 3) Beta bloker lain selain propranolol ditemukan dalam konsentrasi besar dalam susu ibu daripada plasma ibu. dan IUGR. pertumbuhan terhambat. hiperlipid. hiperglikemi. Hal yang sama terdapat pada ACE inhibitor. penyebab asal dari hubungan tersebut tidak jelas karena beberapa obat telah digunakan bersama-sama atau karena ketidakmampuan untuk membedakan apakah ini adalah efek dari patofisiologi ibu atau efek dari obat. 4) Klonidin ditemukan dalam jumlah sedikit di ASI.

gerakan janin masih dirasakan. Identitas Penderita Nama : Ny. Keluhan Utama Rembes-rembes sejak 1 hari yang lalu.CM : 01298044 Berat badan : 60 Kg Tinggi Badan : 160 cm 2. 3.BAB III STATUS PENDERITA A. lakmus (+). 30 . ANAMNESIS Tanggal 20 April 2015 Pukul 00. tekanan darah 150/100 mmHg. Riwayat Penyakit Sekarang Datang seorang G4P1A2. air kawah dirasakan keluar sejak 1 hari SMRS.30 1. kenceng-kenceng teratur sudah dirasakan. usia kehamilan 39+5 minggu datang kiriman RS dengan keterangan G4P1A2. V Umur : 35 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Ibu rumah tangga Agama : Islam Alamat : Pasar Kliwon. Surakarta Status Perkawinan : Menikah 1x/ 26 tahun HPMT : 15 Agustus 2014 HPL : 22 April 2015 UK : 39+5 minggu Tanggal Masuk : 20 April 2015 No. Pasien merasa hamil 9 bulan. lendir darah (+). 35 tahun.

Riwayat Haid - Menarche : 13 tahun 31 . 7. Riwayat Fertilitas dan Obstetri Riwayat fertilitas baik. pertama kali periksa ke puskesmas pada usia kehamilan 1 bulan. Kehamilan pertama tahun 1989 mengalami abortus pada usia kehamilan 7 minggu dan dikuret. Kehamilan saat ini pasien mengandung anak keempat.4. Kehamilan kedua tahun 2006 mengalami diperoleh bayi laki-laki hidup yang sekarang berumur 8 tahun. 8. Riwayat Ante Natal Care (ANC) Teratur. Riwayat Penyakit Keluarga  Riwayat Hipertensi : Disangkal  Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal  Riwayat DM : Disangkal  Riwayat Asma : Disangkal  Riwayat Alergi Obat/makanan : Disangkal 6. Riwayat Penyakit Dahulu  Riwayat Hipertensi : Disangkal  Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal  Riwayat DM : Disangkal  Riwayat Asma : Disangkal  Riwayat Alergi Obat/makanan : Amoxicilin  Riwayat Minum Obat Selama Hamil : Disangkal 5. Pasien telah hamil 4 kali. lahir normal per vaginam dengan BBL 2700 gram. Kehamilan ketiga pada tahun 2009 mengalami abortus pada usia kehamilan 7 minggu dan dikuret.

- Lama menstruasi : 6-7 hari - Siklus menstruasi : 28 hari 9. Status Interna Keadaan Umum : Baik. PEMERIKSAAN FISIK 1. 26 tahun 10..6 0C Kepala : Mesocephal Mata : Conjunctiva Anemis (-/-). Sklera Ikterik (-/-) THT : Tonsil tidak membesar. areola mammae hiperpigmentasi (+) Cor : Inspeksi : IC tidak tampak Palpasi : IC tidak kuat angkat Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal. gizi kesan cukup Tanda Vital : Tensi : 160/90 mmHg Nadi : 88 x / menit Respiratory Rate : 20 x/menit Suhu : 36. bising (-) Pulmo : Inspeksi : Pengembangan dada ka = ki Palpasi : Fremitus raba dada ka = ki 32 . Riwayat Perkawinan Menikah 1 kali. limfadenopati (-) Thorax : Normothorax. Pharynx hiperemis (-) Leher : Pembesaran kelenjar tiroid (-). Gld. Mammae dalam batas normal. CM. Riwayat Keluarga Berencana (-) B. reguler.

kepala masuk panggul < 1/3 bagian. Status Obstetri Inspeksi Kepala : Mesocephal Mata : Conjungtiva Anemis (-/-). presentasi kepala. stria gravidarum (+) Palpasi : Supel. wheezing (-/-) Abdomen: Inspeksi : Dinding perut > dinding dada Stria gravidarum (+) Palpasi : Supel. Ronki basah kasar (-/-). hepar lien tidak membesar Perkusi : Tympani pada bawah processus xiphoideus. air ketuban (+) Ekstremitas : Oedema - - Akral dingin - - 2. his (+). aerola mammae hiperpigmentasi (+) Abdomen : Inspeksi : Dinding perut > dinding dada. Pemeriksaan Leopold I : TFU setinggi 30 cm. intra uterin. nyeri tekan (-). redup pada daerah uterus Auskultasi : Peristaltik (+) normal Genital : Lendir darah (+). NT (-). DJJ (+) 145x/menit/regular.Perkusi : Sonor/Sonor Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+). teraba bagian lunak dan bulat. punggung kanan. sclera ikterik (-/-) Wajah : Kloasma gravidarum (+) Thorax : Glandula mammae hipertrofi (+). memanjang. kesan bokong janin 33 . teraba janin tunggal.

jaringan (-). STLD (+).II : teraba punggung di sebelah kanan. lendir darah (+). mendatar. kepala turun di Hodge I-II. presentasi kepala. dinding vagina kesan dalam batas normal. dinding vagina kesan dalam batas normal. kulit ketuban & penunjuk belum dapat dinilai. tumor (-) Ekstremitas : Oedema - - Akral dingin - - Pemeriksaan Dalam : Inspekulo : vulva/uretra tenang. eff: 50%. UPD : promontorium tidak teraba linea terminalis teraba < 1/3 bagian spina ischiadica tidak menonjol arcus pubis > 900 kesan : panggul ginekoid normal C. redup pada daerah uterus Auskultasi : DJJ (+) 12-13-12/reguler Genital eksterna : Vulva/uretra tidak ada kelainan. AK (+). PEMERIKSAAN PENUNJANG 34 . OUE terbuka. portio livide.  : 3 cm. dan bagian kecil sebelah kiri III : teraba 1 bagian keras kesan kepala janin IV : kepala janin masuk panggul Perkusi : Tympani pada bawah processus xipoideus. peradangan (-). lendir darah (+). VT : vulva / uretra tenang. portio lunak.

presentasi kepala. 35 . punggung kanan. memanjang. 2. 35 tahun.1. UK 39+5 minggu. eff: 50%. DJJ (+).03 cm FL : 7. riwayat obstetri pasien pernah mengalami abortus 2 kali pada tahun 2006 dan 2009. kulit ketuban & penunjuk belum dapat dinilai.9 cm AC : 29. STLD (+). KESIMPULAN Seorang G4P1A2. riwayat fertilitas baik. DJJ 145x/menit/reguler.54 cm EFBW : 2877 gram Plasenta berinsersi di corpus Grade II Air ketuban kesan cukup Tak tampak jelas kelainan kongenital mayor Kesimpulan: saat ini janin dalam keadaan baik D. kepala masuk panggul < 1/3 bagian.03 x 103/uL Antal Leukosit : 14. preskep. his (+) 2x/10 menit/ 40 detik. punggung kanan. Laboratorium Darah tanggal 20 April 2015: Hemoglobin : 10. intrauterin.8 x 103/uL Antal Trombosit : 391 x 103/uL GDS : 91 mg/dL Golongan Darah :A HbS Ag : non reaktif Proteinuri : kualitatif (-) Ultrasonografi (USG) tanggal 20 April 2015 Tampak janin tunggal. dengan biometri: Janin I BPD : 9. kepala turun di Hodge I-II. portio lunak mendatar. intra uterin. AK (+).9 gr/dl Hematokrit : 34 % Antal Eritrosit : 4. presentasi kepala.  : 3 cm. teraba janin tunggal.

DJJ (+) 150x / menit / reguler Genital : darah (+).E. 35 tahun. preskep.40 G4P1A2. memanjang. punggung kanan. CM. portio tidak teraba. pasien merasa ingin mengejan KU : baik. 36 . presentasi kepala. teraba janin tunggal. kepala masuk panggul >1/3 bagian.30) Evaluasi 20 April 2015 jam 02. intra uterin.  : lengkap. UK 39+5 minggu S: pasien mengeluh kenceng-kenceng. his (+). penunjuk di jam 12. kepala turun di Hodge III+. gizi kesan cukup VS : T = 170/100 mmHg N = 90x/menit Rr = 20 x/ menit S = 36. STLD (+). Diagnosa : KPD 1 hari pada multigravida hamil aterm dalam persalinan kala 1 fase laten dengan hipertensi gestasional. kulit ketuban (-). discharge (-) VT : vulva/uretra tenang. AK (+). dinding vagina dalam batas normal. DIAGNOSA AWAL Ketuban pecah dini 1 hari pada multigravida hamil aterm dalam persalinan kala 1 fase laten dengan hipertensi gestasional. 35 tahun.70 C Mata : Conjungtiva Anemis (-). F. nyeri tekan (-). PROGNOSA Dubia G. eff: 100%. TERAPI - Mondok VK - Lanjut persalinan pervaginam - Observasi 10 - Evaluasi 4 jam lagi (04. Sklera Ikterik (-) Thoraks : C/P dalam batas normal Abdomen : Supel.

anus (+). kelainan kongenital (-).pimpin persalinan.Cefadroxil 2x500 . bentuk cakram.persiapkan resusitasi neonatus 20 April 2015 jam 02. SI (-/-) Thorax : cor/pulmo dbn Abdomen : Supel. ukuran 20x20x2cm. nyeri tekan (-). Dilakukan insersi IUD. lokia (-) Diagnosa : PPS pada multigravida hamil aterm dengan hipertensi gestasional Terapi : . kontraksi uterus (+) Genital : darah (-). panjang badan 48 cm. CM VS : T: 150/110 mmHg N: 81 x/ menit Rr: 20 x/ menit S: 36.50 Outcome Lahir bayi perempuan dengan berat badan 2800 gram. AS 8-9-10.Terapi : . Lama persalinan Jumlah perdarahan kala I : 9 jam Kala II : 10 menit Kala III : 10 menit Total : 9 jam 20 menit kala I : 10 cc Kala II : 100 cc Kala III : 20 cc Total : 130 cc Follow up 2 jam post partum: Kel :- KU : baik. TFU 2 jari di bawah pusat. Plasenta lahir kesan lengkap. injeksi vitamin K (+).Nifedipin 3x10 mg 37 .20C Mata : CA (-/-). Dilakukan repair perineum.Asam mefenamat 3x500 . diperingan dengan vaccum ekstraksi .

Vit C 2x1 .Vit C 2x1 .SF 1x1 38 .Metildopa 2x250 mg . lokia (+) Diagnosa : PPS pada multi gravida hamil aterm dengan hipertensi gestasional DPH 1 Terapi : ..Nifedipin 3x10 mg . CM VS : T: 140/85 mmHg N: 81 x/ menit Rr: 20 x/ menit S: 36.SF 1x1 Follow up tanggal 21 April 2015 Kel :- KU : baik.70C BC: -600 Mata : CA (-/-).Asam mefenamat 3x500 . kontraksi (+) Genital : darah (-). . SI (-/-) Thorax : cor/pulmo dbn Abdomen : Supel.Metildopa 2x250 mg .Cefadroxil 2x500 . nyeri tekan (-). TFU 2 jari di bawah pusat.

KPD adalah pecahnya ketuban sebelum umur kehamilan 37 minggu atau sebelum dalam persalinan. air kawah dirasakan keluar sejak 1 hari SMRS. 39 . pembukaan ( : 3 cm) dan lendir darah. dilakukan observasi 10. pasien mengaku mengalami rembes-rembes sejak 1 hari SMRS. Menurut Evans dan Cunningham. Sedangkan hipertensi gestasional merupakan hipertensi dalam kehamilan pada wanita yang tekanan darah sebelumnya normal dan tidak disertai proteinuri. dan evaluasi per 4 jam kemudian. kenceng-kenceng teratur dirasakan. lendir darah dirasakan. Pada pasien ini dilakukan tatalaksana mondok VK. Gejala ini akan menghilang dalam waktu < 12 minggu pascasalin. Pada pemeriksaan abdomen dan genitalia didapatkan adanya tanda-tanda persalinan seperti adanya HIS (+) 2x/10 menit/ 40 detik. Berdasarkan anamnesis. Ketuban pecah dini didiagnosis berdasarkan Rustam.8 x 103/uL). adalah pecahnya ketuban sebelum in partu kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. lanjut persalinan pervaginam. Pada pasien ini didapatkan tekanan darah 160/90 mmHg tanpa adanya proteinuria menyokong diagnosis hipertensi gestasional.BAB IV ANALISIS KASUS Pada kasus ini didapatkan pasien dengan keluhan utama rembes-rembes sejak 1 hari SMRS. 35 tahun dengan usia kehamilan 39+5 minggu. Dari pemeriksaan urin tidak didapatkan proteinuria sedangkan dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan penurunan hemoglobin (10. gerakan janin masih dirasakan. Pasien merasa hamil 9 bulan. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan diagnosis ketuban pecah dini 1 hari pada multigravida hamil aterm dalam persalinan kala 1 fase laten dengan hipertensi gestasional. penurunan eritrosit (4. Dari anamnesis. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 160/90.03 x 103/uL ) dan penurunan leukosit (14.9 gr/dl). Pada pasien ini air ketuban pecah sejak 1 hari SMRS dalam persalinan kala I fase laten. Pasien merupakan seorang G4P1A2.

1995. Sindroma HELLP dalam Ilmu Kedokteran Maternal. Haryono Roeshadi. Ilmu kandungan. Surakarta. Jakarta.. Editor: Delfi Lutan. Edisi ke-2. Fakultas Kedokteran UNAIR. Abdul Bari S. (1995). RS dr. Lab/UPF Obstetri dan Ginekologi FK UNAIR/RSUD Dr.Hasan Sadikin. Dikman Angsar.. Hacker. George Moore. Obstetri Patologi. Clark. George andriaanzs. Budiono Wibowo.. Jakarta. Gulardi HW. Kelompok Kerja Penyusunan “Pedoman Pengelolaan Hipertensi dalam Kehamilan di Indonesia”. EGC. Sarwono Prawirohardjo dan Wiknjosastro. Himpunan Kedokteran Fetomaternal. Esensial Obstetri dan Ginekologi.Inc. 2003. 1999. Neville. Djoko W. Jakarta.2005. Jakarta. RSUP dr. William’s Obstetrics 20th Prentice-Hall International. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi. 2000. Mac Donald. FKUI. Loekmono Hadi. 1995. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.DAFTAR PUSTAKA Abdul Bari S. Rijanto Agung. Gant. Kuliah Dasar Hipertensi dalam Kehamilan (EPH-Gestosis). Cunningham. Surabaya. Catatan kulih Obgyn. FK UI. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Padjajaran. UNS. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Levono. J. Surabaya. Jakarta. Jakarta. Hanskin. Tinjauan Kepustakaan : Sindroma HELLP. Rustam Mochtar. Hipokrates. M. 2003. Gilstrap. 1997. (1999). Pre eklampsia. 2001. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi. S. Penerbit: SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Univ. Obstetri Patologi. Moewardi. Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI. Hidayat W. Sutomo. F. PB POGI. Sastrawinata. Bandung. Anonim. 1998.Hasan Sadikin. RSUP dr.. 2003. Protokol Penanganan Kasus Obstetri dan Ginekologi. (2004). Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi. Pre eklampsia dan Eklampsia dalam Ilmu Kebidanan. 40 ..