You are on page 1of 5

ACARA II : MEMASANG TITIK TITIK POLIGON PERAPATAN

Hari dan Tanggal Pelaksanaan


Lokasi

: Kamis, 9 Oktober 2014


: Padukuhan Cokrowijayan Desa Banyuraden

A. Dasar Teori
Pengukuran awal dari pekerjaan pemetaan adalah pengadaan titik
titik kerangka dasar pemetaan (TKDP) yang cukup merata di daerah yang
akan dipetakan. TKDP ini akan dijadikan ikatan dari detil detil yang
merupakan obyek dari unsur unsur yang ada di permukaan bumi yang akan
digambarkan dalam peta. Apabila kerangka peta ini baik, dalam arti bentuk,
distribusi dan ketelitiannya sesuai dengan yang diharapkan, maka bisa
diharapkan bahwa peta yang akan dihasilkan juga baik. Namun sebaliknya,
apabila kerangka dasar pemetaannya tidak baik, peta yang dihasilkan juga
diragukan kualitasnya.
Kerangka dasar (kontrol) dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu
kerangka horizontal (planimetris) dan kerangka vertikal (tinggi). Kerangka
dasar pemetaan horizontal bermacam macam, pemilihan dan pemakaiannya
ditentukan oleh banyak faktor, antara lain luas daerah yang dipetakan,
ketersediaan peralatan dan kemudahan perhitungan. Adapun kerangka peta
yang umum dipakai dalam bidang geodesi dapat dibuat dengan cara berikut :
-

Triangulasi, yaitu cara penentuan posisi horizontal banyak titik,


dengan cara menghubungkan titik satu dengan lainnya sehingga
membentuk jaringan atau rangkaian segitiga. Selanjutnya pada

setiap segitiga diukur ketiga sudutnya.


Trilaterasi, cara ini sama dengan triangulasi, namun yang diukur

adalah jarak semua sisi sisinya.


Rangkaian segitiga, yang diukur semua sudut sudutnya dan jarak

sebuah sisi-sisinya.
Jaringan segitiga, yang diukur semua sudut sudutnya dan jarak

sebuah sisinya.
Poligon atau traverse.
Pemotongan ke muka
Pemotongan ke belakang

Dalam bidang pengukuran tanah atau plane surveying, cara poligon


umumnya lebih disukai daripada cara yang lain, karena kerangka ini memiliki
banyak keuntungannya, antara lain sebagai berikut :

Bentuknya mudah disesuaikan dengan daerah yang akan dipetakan


Pengukurannya sederhana
Peralatannya mudah didapat
Perhitungannya mudah

Pada kegiatan praktikum ini digunakan metode poligon dalam


membuat kerangka peta. Poligon berasal dari kata poli yang berarti banyak
dan gonos yang berarti sudut. Secara harfiahnya, poligon berarti sudut banyak.
Namun arti yang sebenarnya adalah rangkaian titik titik secara berurutan,
sebagai kerangka dasar pemetaan. Sebagai kerangka dasar, posisi atau
koordinat titik titik poligon harus diketahui atau ditentukan secara teliti.
Karena akan digunakan sebagai ikatan detil, pengukuran poligon harus
memenuhi kriteria persayaratan tertentu.
Poligon ada bermacam macam. Poligon dibedakan berdasarkan pada
kriteria tertentu. Berdasarkan titik ikat, poligon dapat dibedakan menjadi :
1. Poligon Terikat Sempurna
Suatu poligon yang terikat sempurna dapat terjadi pada poligon
tertutup ataupun poligon terbuka, suatu titik dikatakan sempurna
sebagai titik ikat apabila diketahui koordinat dan jurusannya
minimum 2 buah titik ikat dan tingkatnya berasa diatas titik yang
akan dihasilkan.
2. Poligon Terikat Tidak Sempurna
Suatu poligon yang terikat tidak sempurna dapat terjadi pada
poligon tertutup ataupun poligon terbuka, dikatakan titik ikat tidak
sempurna apabila titik ikat tersebut diketahui koordinat atau hanya
jurusannya.
3. Poligon Tidak Terikat/Bebas
Pada poligon tidak terikat/bebas akan terjadi pada daerah daerah
yang tidak ada titik tetapnya dan sulit melakukan pengukuran baik
dengan cara astronomis maupun dengan satelit. Poligon semacam
ini dihitung dengan orientasi lokal artinya koordinat dan azimuth
awalnya di misalkan sembarang.

Berdasarkan bentuk, poligon dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :


1. Poligon Terbuka
Poligon terbuka adalah poligon yang titik awal dan titik akhirnya
merupakan titik yang berlainan (tidak bertemu pada satu titik).

2. Poligon Tertutup
Poligon tertutup atau kring adalah poligon yang titik awal dan titik
akhirnya bertemu pada satu titik yang sama. Pada poligon tertutup,
koreksi sudut dan koreksi koordinat tetap dapat dilakukan
walaupun tanpa tiik ikat.

3. Poligon Bercabang
Poligon bercabang adalah suatu poligon yang dapat mempunyai
ssatu atau lebih titik simpul, yaitu dimana cabang itu terjadi.

4. Poligon Kombinasi
Bentuk poligon kombinasi merupakan gabungan dua atau tiga dari
bentuk poligon yang ada.

Berdasarkan dasar alat yang digunakan untuk pengukuran,


poligon dapat dibedakan menjadi :
1. Poligon Teodolit
Pada poligon teodolit, semua sudut sudutnya dihitung. Sudut
sudut ini akan dipakai nantinya untuk mencari sudut jurusan

atau azimut dari sisi sisi poligon yang berikutnya dengan


menggunakan alat ukur teodolit.
2. Poligon Kompas
Pada Poligon Kompas, setiap arah yang dibidik akan terbaca
sudut jurusannya (azimut kompas).
Titik Dasar Teknik Perapatan dibuat dengan alasan tidak
dimungkinkannya dilakukan pengikatan langsung suatu bidang tanah
dari TDT orde 0,1,2,3 atau 4. Untuk itu diperlukan titik titik bantu
yang merapatkan TDT tersebut dan bersifat sementara, atau dengan
kata lain harus dipergunakan pada saat pengukuran bidang tanah
dilaksanakan. Dalam praktek di lapangan, TDT Perapatan dibuat
dengan bahan sederhana yang tersedia di daerah setempat., misalnya
patok kayu dan paku seng. Bahan bahan ini nantinya tidak
digunakan untuk waktu yang cukup lama karena pada dasarnya
walaupun pengikatan suatu bidang tanah dilakukan dari TDT
Perapatan, pekerjaan rekonstruksi batas tetap dilaksanakan dengan
mengikatkan TDT orde 0,1,2,3 atau 4.

B. Prosedur Kerja
Langkah langkah yang dilaksanakan dalam memasang titik
titik poligon perapatan yaitu :
1. Memastikan lokasi pemasangan titik poligon perapatan sesuai
dengan perencanaan di lapangan dengan melihat kondisi nyata di
lapangan.

Pada tahap ini, setiap titik yang akan dipasang di

lapangan dan titik yang akan dipakai sebagai titik ikatan TDT Orde
4 harus ditinjau kondisi fisiknya. Titik titik poligon perapatan
yang dipasang dan diukur dengan pengukuran terrestrial haruslah
memenuhi kriteria kriteria sebagai berikut :
a.Setiap titik pada poligon perapatan yang akan dibuat harus
dapat terlihat dengan titik sebelum dan sesudahnya
b. Sudut yang akan diukur harus tidak lancip (sudut tidak kurang
dari 300) dan tidak terlalu tumpul (sudut tidak lebih dari 3300)
c.Jarak antara titik poligon perapatan tidak lebih dari 70 meter
dan tidak kurang dari 25 meter.
d. Tidak berada pada tanah dengan kemiringan yang curam serta
tidak berawa.

2. Jika kriteria kriteria untuk pemasangan titik poligon perapatan


tersebut telah dipenuhi, maka selanjutnya pasanglah titik titik
poligon perapatan dengan bahan yang tersedia seperti patok kayu
atau paku seng;
3. Titik titik poligon perapatan telah ditentukan dan diberi tanda.
Selanjutnya dapat dilaksanakan pengukuran jarak maupun
sudutnya.
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini
diantaranya :
a.
b.
c.
d.

Total Station/Theodolite
Meteran
Tanda Patok/Paku
Pilox