You are on page 1of 16

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Harta bukan tujuan, melainkan sarana beribadah kepada Allah SWT. Harta
yang membawa kebaikan dan keberkahan, selain dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan hidup, juga wajib dizakati dan diinfakkan di jalan Allah SWT. Banyak
harta idealnya mendorong seseorang untuk lebih banyak beribadah kepada-Nya. Harta
yang dijadikan sebagai bekal dan sarana ibadah, berarti harta yang bermanfaat dan
akan membuahkan berkah kepada harta dan kehidupan yang bersangkutan.
Ibadah harta (ibadah maliyah) merupakan investasi amal yang tidak akan
berhenti pahalanya, walaupun yang bersangkutan sudah meninggal dunia, yang
dikenal dengan Amal Jariyah.Jenis-jenis ibadah harta antara lain zakat, sedekah, dan
udhiyyah (kurban). Ada juga akikah (tanda syukur menyambut anak yang baru
dilahirkan). Ibadah harta yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja dengan
jumlah berapa saja adalah infak-sedekah. Allah SWT menjanjikan pelipatgandaan
bagi mereka yang berinfak-sedekah di jalan Allah menolong sesama, menyantuni
fakir-miskin dan yatim-piatu, mendanai dakwah atau syiar Islam, dan sebagainya.
Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa
dengan sebutir bibit yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir: seratus biji.
Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas
karunia-Nya dan Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 261).

Perumpamaan

orang-orang yang menginfakkan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk
keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang
disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika
hujan lebat tidak menyiramnya, maka hujan gerimis (pun memadai). Allah Maha
Melihat apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 265).
B. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana
kita sebagai muslim lebih memahami apa makna dari ibadah maliyah, macam-macam
ibadah maliyah, urgensi dan manfaatnya.
C. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah agar mahasiswa khususnya saya sendiri
dapat mempelajari dan mengetahui definisi dan makna serta pelaksanaan ibadah
maliyah.
D. Manfaat penulisan
1. Meningkatkan pemahaman kepada pembaca mengenai arti dari ibadah
amaliyah
2. Mengetahui macam-macam ibadah amaliyah

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ibadah Maliyah
Ibadah maliyah adalah amalan-amalan ibadah yang lebih banyak dilakukan
dengan sarana harta benda atau ibadah yang diwujudkan dalam bentuk pemberian
3

harta atau terkait dengan harta : Yaitu menggunakan harta yang Allah karuniakan
untuk apa-apa yang Allah cintai dan ridhai. Seperti zakat, infaq dan shodaqoh, dll.
Ibadah harta (ibadah maliyah) merupakan investasi amal yang tidak akan
berhenti pahalanya, walaupun yang bersangkutan sudah meninggal dunia, yang
dikenal dengan Amal Jariyah. Harta yang dititipkan kepada manusia harus dijadikan
sebagai bekal kepada Allah SWT. Banyak harta, harus mendorong seseorang untuk
lebih banyak beribadah kepadaNya.

Harta yang dijadikan sebagai bekal dan sarana ibadah, berarti harta yang

bermanfaat dan akan membuahkan berkah kepada harta dan kehidupan yang
bersangkutan. Dan kewajiban syukur atas nikmat harta harus dibuktikan dengan cara
menggunakan harta tersebut sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT.
Pelaksanaan tugas ibadah kepada Allah tidak hanya diwujudkan dalam bentuk
ibadah fisik saja, tetapi juga harus diwujudkan dalam bentuk ibadah harta. Investasi
amal yang tidak akan berhenti pahalanya, walaupun yang bersangkutan sudah
meninggal dunia adalah harta yang disumbangkan untuk amal jariah. Ibadah maliah
atau ibadah dengan harta termasuk bagian penting dalam syariat Islam. Dalam rukun
Islam pun nampak bahwa rukun yang lima itu terdiri dari ruknul qalbi, ruknul badani
dan ruknul mali.
B. Macam-Macam Ibadah Maliah
a. Zakat
Zakat menurut lughot artinya suci dan subur. Sedangkan menurut
istilah syara: mengeluarkan dari sebagian harta benda atas perintah Allah,
sebagai shadaqah wajib kepada mereka yang telah ditentukan oleh hukum
Islam. Secara harfiah zakat berarti "tumbuh", "berkembang", "menyucikan",
atau "membersihkan". Sedangkan secara terminologi syari'ah, zakat merujuk
pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan
tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan. Zakat terbagi atas
dua tipe yakni: Zakat Fitrah, zakat yang wajib dikeluarkan Muslim menjelang
Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram

makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.. Zakat Maal (Zakat Harta )
zakat kekayaan yang harus dikeluarkan dalam jangka satu tahun sekali yang
sudah memenuhi nishab mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan,
hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak serta hasil kerja
(profesi). Masing-masing tipe memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.
Harta benda yang wajib dikeluarkan zakatnya yaitu :
a) Emas, perak dan mata uang .
Zakat emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya berdasarkan
firman Allah: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan
perak(tidak dikeluarkan zakatnya) dan tidak membelanjakanya
di jalan Allah, Maka beritakanlah kepada mereka, (bahwa
mereka akan mendapat) azab yang pedih.(QS_ At Taubah :
34 )
b) Nishab harta perniagaan
Barang

(harta)

perniagaan

wajib

dikeluarkan

zakatnya

mengingat firman Allah :


Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah)
sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari
apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah
kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan
daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya
melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya (QS AlBaqarah : 267).
c) Zakat binatang ternak
Dasar wajib mengeluarkan zakat binatang ternak ialah:
Diberitahukan oleh Bukhari dan muslim dari Abi Dzar,
bahwasanya

Nabi

Saw,

bersabda

sebagai

berikut:

Seorang laki-laki yang mempunyai unta,sapi, atau kambing


yang tidak mengeluarkan zakatnya maka binatang binatang itu
nanti pada hari Qiyamat akan datang dengan keadaan yang
lebih besar dan gemuk dan lebih besar dari pada didunia,lalu
hewan hewan itu menginjak-nginjak pemilik dengan kakikakinya. setiap selesai mengerjakan yang demikian, bintangbinatang itu kembali mengulangi pekerjaan itu sebagaimana
semula:dan demikianlah terus menerus sehingga sampai selesai
Allah menghukum para manusia. ( HR: Bukhari )
Binatang ternak yang wajib dikeluarkan zakatnya ialah : unta,
lembu dan kerbau, kambing dan biri-biri .
d) Zakat hasil bumi
Hasil bumi yang wajib dikeluarkan zakatnya yaitu yang
dapat dijadikan makanan pokok seperti: padi, jagung,gandum,
dan

sebagainya.Sedangkan

buah-

buahan

yang

wajib

dikeluarkan zakatnya ialah :gandum, Syar zabib dan kurma.


Buah-buahan yang wajib dikeluarkan zakatnya sebagaimana
sabda Rasulullah Saw sebagai berikut:
Tidak ada sedekah(zakat ) pada biji dan kurma kecuali apabila
mencapai lima wasaq( 700kg) . (H.R Muslim)
e) Zakat

barang

tambang

dan

barang

temuan

hasil tambang yang wajib dikeluarkan zakatnya ialah emas dan


perak yang diperoleh dari hasil pertambangan. Rikaz ialah harta
benda orang orang purbakalayang berharga yang ditemukan
oleh orang orang pada masa sekarang,wajib dikelurkan
zakatnya.Barang rikaz itu umumnya berupa emas dan perak
atau benda logam lainnya yang berharga.
f) Zakat fitrah .

Zakat fitrah dilihat dari komposisi kalimat yang membentuknya


terdiri dari kata zakat dan fitrah. Zakat secara umum
sebagaimana dirumuskan oleh banyak ulama bahwa dia
merupakan hak tertentu yang diwajibkan oleh Allah terhadap
harta kaum muslimin menurut ukuran-ukuran tertentu (nishab
dan khaul) yang diperuntukkan bagi fakir miskin dan para
mustahiq lainnya sebagai tanda syukur atas nikmat Allah SWT.
Dengan ayat Al-Quran tersebut dapat dijelaskan bahwa orang
yang berhak menerima zakat itu ialah sebagai berikut:
Fakir yaitu orang yaang tidak mempunyai harta atau
usaha yang dapat menjamin 50% kebutuhan hidupnya
untuk sehari-hari
Miskin yaitu orang yang mempunyai harta dan usaha
yang dapat menghasilkan lebih dari 50% untuk
kebutuhan hidupnya tetapi tidak mencukup.
Amil yaitu panitia zakat yang dapat dipercayakan
untuk mengumpulkan dan membagi-bagikannya kepada
yang berhak menerimanya sesuai dengan hukum Islam.
Muallaf yaitu orang yang baru masuk Islam dan belum
kuat imannya dan jiwanya perlu dibina agar bertambah
kuat imannya supaya dapat meneruskan imannya
Hamba sahaya yaitu yang mempunyai perjanjian akan
dimerdekakan oleh tuan nya dengan

jalan menebus

dirinya.
Gharimin yaitu orangyang berhutang untuk sesuatu
kepentingan yang bukan maksiat dan ia tidak sanggup
untuk melunasinya

Sabilillah yaitu orang yang berjuang dengan suka rela


untuk menegakkan agama Allah
Musafir yaitu orang yang kekurangan perbekalan dalam
perjalanan dengan maksud baik, seperti menuntut ilmu,
menyiarkan agama dan sebagainya.
Sedangkan yang tidak berhak menerima zakat :
Orang

kaya.

Rasulullah

bersabda,

"Tidak

halal

mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang kaya dan


orang yang mempunyai kekuatan tenaga." (HR Bukhari).
Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau
tanggungan dari tuannya.
Keturunan

Rasulullah.

Rasulullah

bersabda,

"Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait)


mengambil sedekah (zakat)." (HR Muslim).
Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya
anak dan istri.
Orang kafir.

b. Fidyah.
Fidyah adalah menempatkan sesuatu pada tempat lain sebagai tebusan
(pengganti) nya, baik berupa makanan atau lainnya. Fidyah juga berarti
kewajiban manusia mengeluarkan sejumlah harta untuk menutupi ibadah yang
ditinggalkannya. Fidyah shaum wajib dilakukan oleh seseorang yang tak
sanggup karena kepayahan dalam melakukan shaum fardhu khususnya di
bulan Ramadhan, sebagai salah satu bentuk rukhsah (dispensasi) yang
8

diberikan Allah kepada mereka. Karena Allah SWT tidak membebani hambahamba-Nya melainkan sesuai dengan kemampuannya. Selain itu juga Allah
tidak pernah menjadikan syariat yang diturunkan-Nya menyulitkan hambahamba-Nya. Landasan normatif yang dititahkan Allah SWT mengenai hal ini
adalah firman-Nya dalam Al Quran: dan wajib bagi orang-orang yang berat
melakukan shaum (jika mereka tidak shaum) memberi fidyah, yaitu dengan
memberi makan satu orang miskin. (Q.S. Al Baqarah, 2:184).
Hukum fidyah, sebagaimana firman Allah SWT di atas adalah wajib,
apabila :
1. Tidak mampu melakukan shaum, seperti karena lanjut usia.
2. Orang sakit permanen yang kesembuhannya sangat sulit.
3. Perempuan hamil atau perempuan yang sedang menyusui (yang
bersangkutan boleh memilih antara qadha shaum atau fidyah).
4. Jumlah fidyah adalah sejumlah makanan yang dikonsumnsi yang
bersangkut pada bulan Ramadhan. Setiap hari tidak puasa diganti
dengan fidyah makan sehari untuk seorang miskin.
c. Udhiyyah
Udhiyyah adalah menyembelih binatang tertentu pada Hari Raya
Qurban (Idul Adha) atau Hari Tasyriq (11,12 dan 13 Dzulhijjah) dengan niat
taqarub atau qurban (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Udhiyyah
(qurban) sebenarnya sudah menjadi syariat para Nabi dan Rasul Allah. Setiap
Nabi melakukan ibadah qurban. Putra Nabi Adam as (Qabil dan Habil) pernah
melakukan ibadah qurban. Dan yang diabadikan secara khusus adalah qurban
yang menjadi syariat Allah SWT yang dibawa Nabi Ibarahim as. Kemudian
syariat itu dilestarikan menjadi syariat Nabi Muhammad saw atas legitimasi
dan perintah Allah SWT yang diabadikan-Nya dalam al Quran surat Al
Kautsar, 108:2.
Syarat-syarat berqurban/udhiyyah :
9

1. Waktu pelaksanaan qurban/udhiyyah


Pada Hari raya Adha/Qurban (10 Dzulhijjah) setelah shalat sunnat Idul
Adha dan Hari Tasyriq (11,12 dan 13 Dzulhijjah).
2. Binatang qurban ialah unta, sapi atau kerbau, kambing, biri-biri atau
domba.
Binatang-binatang tersebut hendaknya :
Tidak cacat (cacat mata, sakit, pincang, kurus dan tak berdaya,,
rusak/pecah sebelah tanduknya atau telinganya).
Bulu binatang (kambing) lebih disukai yang berwarna putih
mulus atau bulu, mulutnya, bulu kakinya dan bulu di sekitar
matanya berwarna hitam.
Sudah berumur satu tahun. Bila kesulitan mendapatkan
binatang berumur satu tahun boleh kambing jadzaah (berumur
sekitar 9-11 bulan, tetapi gemuk, sehat tanpa cacat).
Dilakukan sendiri setelah usai melaksanakan shalat sunat Idul
Adha.
Satu ekor kambing berlaku untuk satu orang atau satu keluarga.
Satu ekor unta atau sapi atau kerbau berlaku bagi 7 orang.
d. Aqiqah
Aqiqah adalah binatang (kambing atau domba) yang disembelih dalam
rangka menyambut anak yang baru dilahirkan. Aqiqah dilaksanakan pada saat
bayi berumur 7 hari, sekaligus dicukur habis rambutnya (digunduli kepalanya)
dan disyiarkan namanya. Apabila pada hari ke 7 tidak bisa dilaksanakan
aqiqah, boleh diundurkan sampai hari ke 14 atau hari ke 21. Pelaksanaan
aqiqah setelah waktu tersebut menjadi ihtilaf para ulama. Ada yang
berpendapat, bahwa aqiqah tetap dianjurkan, akan tetapi ada pendapat lain
10

yang menyatakan tidak usah dilaksanakan, lebih baik berkurban saja pada
tanggal 10 Dzulhijjah atau pada hari-hari tasyriq (11, 12 dan 13 dzulhijjah).
Pembagian daging aqiqah boleh dibagikan daging mentahnya dan boleh
dimasak terlebih dahulu di rumah yang melakukan aqiqah kemudian dimakan
bersama keluarga, tetangga dan handai taulan.

e. AlHadyu
AlHadyu adalah melakukan penyembelihan binatang ternak (domba)
sebagai pengganti pekerjaan wajib haji yang ditinggalkan, atau sebagai denda
karena melanggar hal-hal yang terlarang mengerjakannya dalam prosesi
ibadah umrah atau haji atau bagi mereka yang memiliki kemampuan
melakukannya, atau bagi mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran
terhadap larangan-larangan tertentu dalam ibadah haji. Alhadyu juga bisa
mencakup segala bentuk penyembelihan binatang yang dilakukan di Tanah
Haram, baik sebagai pemenuhan dam, maupun karena hal-hal lainnya seperti
nadzar

atau

qurban.

Bagi

mereka

yang

melakukan

Haji

Tamattu

(mendahulukan umrah sebelum haji) atau haji Qiran (melaksanakan haji dan
umrah secara bersama-sama) wajib melakukan alhadyu. Kalau tidak
melakukan alhadyu, maka wajib berpuasa 10 hari, yang pelaksanaan puasanya
3 hari di tanah Suci dan 7 hari di luar tanah suci.
f. Dam
Dam adalah menyembelih binatang tertentu sebagai sangsi terhadap
pelanggaran atau karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan dalam
rangka pelaksanaan ibadah haji dan umrah atau karena mendahulukan umrah
daripada haji (haji tamattu) atau karena melakukan haji dan umrah secara
bersamaan (haji qiran). Dam juga diidentikkan dengan alhadyu, sekalipun
tidak selalu sama. Dalam suatu hal alhadyu bisa lebih umum daripada dam dan
dalam hal lain dam bisa lebih umum daripada alhadyu. Dam dilakukan bukan

11

untuk membuat sesuatu yang rusak (batal) menjadi sah atau yang kurang
menjadi lengkap. Dam dilakukan sebagai salah satu bentuk ketaatan kepada
Allah SWT sekaligus juga sebagai salah satu bentuk penghapusan atau kifarat
atas pelanggaran dalam pelaksanaan ibadah dan atau umrah.
C. Urgensi Ibadah Maliyah
Ibadah maliah sangat penting dilihat dari berbagai segi, antara lain: pertama,
membersihkan harta dari kotoran kebakhilan, keserakahan, kekejaman dan kezaliman
terhadap kaum fakir miskin. Kedua, adalah berfungsi ekonomi, membantu makanan
bagi yang miskin atau memerlukan, Ketiga, memiliki fungsi sosial, dengan
memberikan zakat kepada fakir miskin bisa menjaga keseimbangan hidup atau
kesenjangan dan menghindari ketidak adilan sosial. Memupuk rasa kasih sayang dan
kecintaan orang kaya (aghniya) kepada yang tidak memiliki harta sehingga terjalin
keterpaduan antara orang miskin dan orang kaya, karena kalau telah terjadi
keterpaduan diantara keduanya, mudah-mudahanan bisa mengantisipasi dan akan
mengikis segala bentuk kejahatan yang bisa terjadi dalam masyarakat akibat
kesenjangan dan ketidakadilan sosial.
Dalam Al-Qur'anil karim, zakat dan shalat banyak sekali dijadikan dalam satu
ayat. Jadi artinya digandengkan. Ini menunjukkan bahwa urgensi zakat sama dengan
urgensi shalat. Abu Bakar Shiddiq yang biasanya kebijakan-kebijakannya selalu
lunak, pada saat ada kasus sejumlah umat Islam yang rajin shalat tetapi tidak mau
membayar zakat, kontan beliau melakukan sebuah sikap yang sangat keras dengan
sumpah, "Demi Allah. Saksikan oleh kalian, demi Allah, saya akan berperang dengan
orang-orang yang sudah rajin shalat, tetapi tidak mau membayar zakat." Mungkin
karena kebijakan ini dan sikap Abu Bakar yang begitu tegas, mereka segera
membayar zakat.
Perintah itu ditujukan kepada para penguasa Muslim untuk turut campur,
supaya memerintahkan kepada umat Islam yang wajib zakat mengeluarkan zakat.
Allah SWT. berfirman dalam sebuah hadits qudsi. "Anfiq, unfiq." (Infakkan hartamu !
Keluarkan zakatmu ! Allah yang akan menggantinya.) Barangsiapa yang membuka
keran rezeki untuk kepentingan agama dan kemanusiaan. Allah akan membuka
keran rezeki yang lebih besar, kontan di dunia sekarang. Nabi SAW menyatakan, tidak
akan berkurang harta karena sedekah dan zakat, dijamin tidak akan ada orang menjadi
12

sengsara gara-gara infak dan zakat, tidak akan ada orang menjadi menderita garagara infak dan zakat.

Barang

siapa

yang

memberikan infak atau zakat atau sedekah kepada orang yang memerlukannya, berarti
dia lelah menghutangkan sesuatu kepada Allah, Allah yang bertanggung jawab untuk
membayarnya.
Dari sumber lain mengatakan urgensi ibadah maliah sebagai berikut :
1. Perintahnya digabung dengan perintah shalat.
2. Dengan Ibadah Maliyah berarti telah menjalankan salah satu dari
Rukun Islam yang mengantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan
dan keselamatan dunia dan akhirat.
3. Merupakan sarana bagi hamba untuk taqarrub (mendekatkan diri)
kepada Allah, menambah keimanan karena keneradaannya yang
memuat beberapa macam ketaatan.
4. Merupakan sarana pengahapus dosa.
5. Harta yang tidak dikeluarkan zakatnya disebut sebagai harta yang
kotor.(QS 9:103)
6. Tidak mengeluarkan dianggap sebagai merampas hak orang lain dan
mendapatkan dosa besar.
7. Kewajibannya juga kepada para nabi terdahulu.(QS 2:40,43. 19:30-31)

D. Hikmah Ibadah Maliyah


1. Sebagai perwujudan iman kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat-Nya,
menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi,
menghilangkan sifat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus
mengembangkan harta yang dimiliki. Selain itu, zakat juga bisa dijadikan sebagai
neraca, guna menimbang kekuatan iman seorang mukmin serta tingkat
13

kecintaannya yang tulus kepada Rabbul izzati. Sebagai tabiatnya, jiwa manusia
senantiasa dihiasi oleh rasa cinta kepada harta,
2. Menolong, membantu dan membina kaum dhuafa (orang yang lemah secara
ekonomi) maupun mustahiq lainnya ke arah kehidupannya yang lebih baik dan
lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan
layak, dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya kekufuran,
sekaligus memberantas sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul ketika
mereka (orang-orang fakir miskin) melihat orang kaya yang berkecukupan
hidupnya tidak memedulikan mereka.
3. Sebagai sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang
dibutuhkan oleh ummat Islam, seperti saran ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial
dan ekonomi, sekaligus sarana pengembangan kualitas sumber daya manusia
(SDM) muslim.
4. Untuk mewujudkan keseimbangan dalam kepemilikan dan distribusi harta,
sehingga diharapkan akan lahir masyarakat makmur dan saling mencintai
(marhammah) di atas prinsip ukhuwah Islamiyyah dan takaful ijtima'i.
5. Menghilangkan kebencian, iri, dan dengki dari orang-orang sekitarnya kepada
yang hidup berkecukupan, apalagi kaya raya serta hidup dalam kemewahan.
Sementara, mereka tidak memiliki apa-apa, sedang tidak ada uluran tangan dari
orang kaya kepadanya.
6. Dapat menyucikan diri dari dosa, memurnikan jiwa (tazkiyatun nafs),
menumbuhkan akhlak mulia, murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan, dan
mengikis sifat bakhil atau kikir serta serakah. Dengan begitu, suasana ketenangan
batin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan,
akan selalu melingkupi hati.
7. Ibadah mliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau
pemerataan karunia Allah SWT dan merupakan perwujudan solidaritas sosial,
rasa kemanusiaan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan umat dan
bangsa, sebagai pengikat batin antara golongan kaya dengan golongan miskin dan

14

sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat
dengan yang lemah.
8. Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera, di mana hubungan seseorang
dengan yang lainnya menjadi rukun, damai, dan harmonis yang akhirnya dapat
menciptakan situasi yang aman, tenteram lahir batin.
9. Menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsipprinsip: umatan wahidah (umat yang bersatu), muswah (umat yang memiliki
persamaan derajat dan kewajiban), ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), dan
takful ijtimai (sama-sama bertanggung jawab).

15

DAFTAR PUSTAKA

Ash Shideiqy,H,Z.Kuliyah Ibadah. PT Pustaka Rizki putra.Semarang. 2000


Qardawi, Yusuf. 1997. Hukum Zakat. Jakarta. Litera Antar Nusa.
Rasjid, Sulaiman. Fiqih Islam. Bandung. Sinar Baru Algensindo.
Zuhaili, Wahbah. 1997. Fiqh al Islam wa adillatuh. Beirut. Dar al Fikr.

16