You are on page 1of 205

616.

9
Ind
p

Pedoman Pelaksanaan

Kewaspadaan Universal
di Pelayanan Kesehatan

616.9
Ind
p

jldDim-j ....

Departemen Kesehatan Republik Indonesia


nl Pemberantasan Penyaklt Menular dan Penyehatan Ungkungan
CatakanW

2010

It
It

i\U I ' .

DE*,:

:.

K. r.
K.J.:.::>W:iA r A r<.
.

T ;,

It

616.9
Ind
p

It
It
It
It
It

e
e

.
1

e..

J'

Pedoman Pelaksanaan

anan Kesehatan

K
e
w
a
s
p
a
d
a
a
n
U
n
i
v
e
r
s
a
l

.............................

Departemen Kesehatan Republik Indonesia


Dif-eirtorat lenderal Pemberantasan Penyaklt Menular dan P.enyehatan Ungkungan
Cetakan III

Pelay

2010

Katalog Dalam Terbltan. Departemen

616.9
Ind

I
D

Kesehatan RI

L
i
n
g
k
u
n
g
a
n
P
e
d
o
m
a
n
p
e
la
ks
a
n
a
a
n
ke
w
a
sp
a
d
a
a
n
u
n
iv
e
rs
a
l
d
i
p
e
la
ya
n
a
n
k
e
s
e
h
a
ta
n
.

-- Jakarta : Departemen

p
1. Judul

Kesehatan, 2005

1. CROSS INfECTION

2. INfeCTION

CONTROL

Kata Pengantar
Prosedur

untuk

menanggulangi

penularan penyakit di rumah sakit


(Hospital Acquired
infections = HAl) yang dikenal sebagai Kewaspadaan
Universal (Universal Precautions) telah banyak dikaji ulang akhir-akhir
ini. mengingat bahwa telah berjangkit banyak penyakit yang ditularkan
lewat darah (blood bom diseases) seperti misalnya AIDS, hepatitis-B.
hepatitis-C. Demikian pula halnya telah berkembang berbagai alat medis
baru dan perkernbangan
rnasalah tanggung jawab petugas kesehatan
ierhadap mfeksi yang terjadi disarana kesehatan.
Penyusunan
modul pelatihan Kewaspadaan Universal rnerupakan
bagian dari upaya melaksanakan
pendidikan pelatihan serta diseminasi
infcrrnasi mengenai
pengcndalian
infeksi untuk
tenaga
kesehatan,
institu si mau pun masyarakat. Upaya tersebut merupakan tugas pokok
Rumah Sakit Penyakii !nfeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso di .Jakarta, sebagai
pusat rujukan nasional dalam Penatalaksanaan
penderita
penyakit
menuJar dan infeksi lamnya.
Untuk maksud tersebut Rumah Sakit penyakit lnfeksi Prof. Dr.
Sulianti
Saroso
telah
mengadopsi
dan
berupaya
menerapkan
pelaksanaan Kewaspadaan Universal sebagai bagian penting dan upaya
pelayanan
kesehatan.
Berbagai bagian
terlibat
dalam
penerapan
Kewaspadaan
Universal, antara
lain bagian
pelatihan
yang telah
merencanakan
pelatihan para petugas kesehatan agar mereka dapat
menerapkan
Kewaspadaan
Universal dalam
pelaksanaan
tugasnya,
disamping itu pemantauan
terhadap keterarnpilan dan kepatuhan para
petugas perlu dilaksanakan
terus .uenerus serta penyediaan sarana
penunjang
berupa
penyediaan
bah an dan
alat
kesehatan
perlu
diperhatikan.
Sebagai langkah pertarna dalam penerapan Kewaspadaan universal
adaJah penyediaan perangkat lunaknya yang berupa
buku pedoman
yang memadai. Untuk itu Rumah Sakit Penyakit infeksi Prof. Dr. Sulianti
Saroso
Lelah menugaskan
Tim Penyusun
untuk
menyusun
buku
pecloman tersebut. Tim terse but telah berhasil menyusun Buku Pedoman
yang antara lain berisi kurikulum dan penjelasan dalam bentuk yang
pari puma,
dengan
menekankan
segi praktek
sehari-hari.
Dalarn
membantu pelaksanaan
tugas pokok para dokter dan paramedis, Buku
Pedoman tersebut
telah disusun
sedemikian
rupa
sehingga mudah
dipelajari dan dimengerti.
Semoga buku ini bermanfaat dalarn upaya pengendalian
khususnya infeksi yang terjadi di Rumah Sakit di Indonesia.
Jakarta,

infeksi

Oescmber 2001
Editor

Direktur

Sambutan
Jenderal Pemberantasan
Penyakit
Dan Penyehatan Lingkungan

Menular

Penyakit infeksi dan penyakil menular masih merupakan masaJah kesehatan di


Indonesia. Infeksi terjadi karena adanya interaksi antara mikroorganisme dcngan tubuh
yang rentan. Pada umumnya di Indonesia pasien yang datang ke rumah sakit sudah
dalam keadaan lemah atau parah. Oleh karena itu seringkali diperlukan tindakan
'invasive' dan tindakan medis ini dapat memudahkan masuknya Mikroorganisme
penyebab infeksi ke dalam tubuh pasien. Keadaan ini akan semakin memperparah
penyakit yang diderita dan bahkan dapat menyebabkan kernatian.
lnfeksi silang (infeksi Nosokomial) dapat terjadi melalui penularan dan pasien
kepada petugas, dari pasien ke pasien yang lain, dari pasien kepada pengunjung atau
keluarga maupun perugas kepada pasien, melalui kontak langsung ataupun melalui
peralatan atau bahan yang sudah terkontaminasi dengan darah ataupun cairan tubuh
lainnya.
Selain menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortaJitas, Infeksi
Nosokomial juga menyebabkan kerugian lain balk bagi pihak pasien maupun pihak
rumah sakit. Pengendalian infeksi nosokomial rnendapat perhatian khusus di sarana
kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada pasien melalui usaha yang disebut
Kewaspadaan Universal (Universal Precaution), Apalagi dengan mcrebaknya epidemi
HIV I AIDS dan hepatitis B, usaha pengendalian infeksi nosokomial semakin penting.
Upaya pencegahan ini melibatkan semua unsur, mulai dari unsur pimpinan sampai
kepada staf. Peran pimpinan yang diharapkan adalah menyiapkan sistern, sarana dan
prasarana penunjang lainnya di sarana kesehatan. Sedangkan peran staf adalah
sebagai pelaksana langsung daJam upaya pencegahan terjadinya infeksi silang terse but
harus memenuhi prosedur tetap yang telah ditentukan.
.
Keberhasilan pengendalian infeksi nosokomial sangat dipengaruhi oleh pengetahuan
dan perilaku perugas kesehatan. Sehingga perlu dilakukan penekanan dalam upaya
pencegahan penularan untuk merubah perilaku petugas dalam memberikan pelayanan.
Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam merubah perilaku petugas
adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan
petugas. Sehingga perlu adanya penyediaan sarana penunjang untuk rneningkatkan
pengetahuan dan keterampilan petugas seperti buku pedoman (S.oP) pelaksanaan
kewaspadaan universal di sarru:a kesehatan serta birnbingan dan monitoring.

F Achmadi
130520334

II

It

Daftar lsi
KATA PENGANTAR

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PEMBERANTASAN PENYAKIT


MENULAR DAN I'ENYEIIA TAN LINGKU 'GAN
,

DAFTAR lSI
OAFTAR TABEL

III

UAFTAR GAMBAR

VI

DAFTAR PROSEDUR

VII

DAFTAR KONTRIBUTOR

VIII

DArrAH ISTILAH DAN SINGKATAN


1. PENDAHULUAN

IX
I

1.1.

SEJARAH PERKEMBANGAN KEWASPADAAN UNIVf.R$AL ..................................

1.2.

ALASAN DA$AR PENERAPAN KEWA$PADIIAN UNIVERSAL

1.3.
IA.

KEBIJAKAN DEPARTEMEN KESt;HATAN

RI

KEII'ASPADAAN UNIVERSAL SEBAGAI BMiiAN DARI UPAYA


PENc.;I;ND.~UAN INFEKSI

(PIN) DI SARANA KESEHATAN

Peron Pimpinan do/am Pengendalian lrfeks!


Peron Tenaga Kesehatan do/am Pengendalian lnfeksi
Peron Pasien dan Keluarganya dalam Pengendalian lnfeksi

2.
3.

5
6
6
6

TUJUAN DAN SASARAN BUKU I'EDOMAN

KEWASPADAAN UNIVERSAL

3.1.

3.2.

3.3.

cuel TANGAN
Indikasi Cuci Tongan
Sarana Cuci Tongan

10

ALIIT PELINDUNG

17

Jcnis-Jenis Alat Pelindung


lndikasi Pemakaian A/at Pellndung

17
17

PENGELOLAAN

10

ALA'!' KGSUI-IATAN

3.5.

28

29

Dekontaminasi
Pencucian Alol
Disinfeksi dan Sterilisast
l'envimpanan Alat Kesehaian
3.4.

34

36
57

p~'1G~!.o!.AANl..lMBAH

59

Pen/italian
Penanganan
Penompungan Semen/ora
Pembuangan I Pemusnahan

61
61
61
62

KECP.I,IIKAAK KERJ!\

64

III

Penataloksanoan
3.6.

"

64

,.,
,

terhadap Penularan Melalui Udara


terhadap Penularan Melalui Percikan
terhadap Penularan Melalui Kontak

,71

7J
72

73
KEWASl'ADAAN UNIVERSAL DENGAN SARANA TERBATAS
76
4.1.
PENGIlNfJALiAN KONTA!( PERNAPASAN, LANGSUNG, dAN T A!( LANGSUNG
76
4.2.

S.

KEWASPADAAN KIIUSUS

Kewaspadaan
Kewaspadaan
Kewaspadaan

4.

Pajanan

PlliliAN

PENGATURAN DAN TATA RUANG


5.1.
SISTEMVENTILASI
Ruang Rawat lntensi]
Ruang

5.2.

78
78

(leu = intensive

78

care unit)

lsolast ..,.,

Bagian Onkologi
R

77

KEWASPADAAN SEBELUM DIAGNOSIS PASTI

"
,

78
,

79

Operasi
,
,.. ,
,.
,
,
79
LALUUNT
AS
MANUSIA
" ,",
"

80

6.

Tempat-tempat yang Tidak Boleh Dikunjungi Tamu

82

KEW ASPADAAN UNIVERSAL Dl UNIT TERTENTU


6.1.
BEDAB DAN ANESTESI

83
83

Persiapan Lingkungan Komar Bedah


Pembagion Daerah Sekitar Komar Operas!

84

Pembagian Daerah Dalam Kamar Bedah


Persiapan Petugas
,
"

"
,

89

,.. ,

Persiapan Alat Kesehatan


Persiapan Pasien
6.2.

6.4.

",

85
85
89

,",

90

KAMAR
BERSALIN

92

RUANO
RAWA')'
PERlNATOL
OGI
,

97

Unit Hemodialisis

100

,.,

Pasien dengan Daya Tahan Tubuh Menurun

6.6.

Alai Kesehatan dan Pengelolaannya


6.7.

l 03

UNIT PELA Y ANAN GIGI

UNIT PELAY ANAN LABORATORIUM

Manajemen Keamanan Kerja Laboratorium. "


Pengelolaan dan Pengiriman Spesimen ."
"

"

"

103
104
".108
I

""
"

"

11
115

6.5.
6.3.

RUANG RAWAT INTENSIF ,


,
"
UNIT I'ELAYANAN PENYAKIT DAI.AM

PEL" YANAN STERILISASI DAN DISlNFEKSI

94
1

,
"

6.8.
6.9.
6.10.

UNIT

6.11.

PEMlJLASARAAN JENAZAN "

6.12.

AMBULANS GAII'AT DARURAT, PEMADAM KEBAKARAN, POLISI OAN

UNIT ['EtAY ANAN BINATU ."


UNIT PEl.A YANAN GIZI "

""

"

RUJUKAN

"

119

"

"
"

"

"

"

""

123

"

125
127

130

SARANA UMUM

7.

132
IV

t
Daftar Gambar
Gambar 1: R
Gambar 2: R
C

Gambar 3:

Cambar 4:
Gambar 5:
Gambar 6:
Gambar 7:
Garnbar

8'

Gambar 9:
Gambar 10:
Gambar I I:

n
g
a
n
H
i
g
i
e
n
i
s
1
4
Alat
Pelindung
17
Bagan Alur
Pemilihan
.Jems Sarung
Tangan
21
Cara Memakai
Sarung Tangan
Steril
22

Cara Melepas
Sarong
Tangan
23
Memakai
Gaun Bedah
Untuk Diri
Sendiri
27
Memakaikan
Gaun Bcdah
Pada Orang
Lain
27
Bagan Alur
Pengelolaan
Alat
Kesehatan
28

Carnbar

12: Cara Menutup (recapping) Jarum dengan Satu Tangan

Garnbar 13: lnsinerator

tipe Malaysia

58
63

Gambar 14: Cara Menimbun Sampah Medis

64

Gambar 15: Skema Dasar Pembagian Daerah Sekitar Operasi.

86

Gam bar 16: Garnbar Kemasan Spesimen Laboratorium

116

VI

Daftar Prosedur
Prosedur 1:

Cue. Tangan Higienis / Rutin

14

Prosedur 2:

Cue. Tangan Aseptik

15

Prosedur 3:

Cuci Tangan Bedah

15

Prosedur 4:

Alternatif Cuci Tangan Higienis

16

Prosedur 5:

Pemakaian Sarung Tangan Steril..

22

Prosedur 6:

Melepas Sarung Tangan

23

Prosedur 7:

Penggunaan Gaun Pelindung

26

Proscdur 8:

Dekontaminasi Alat Kesehatan

32

Prosedur 9:

Dekontaminasi Tumpah Darah I Cairan l'ubuh

33

Prosedur 10: Dekcntaminasi


Prosedur 11: Dekontaminasi

Meja Kerja / Operas


Khusus

"

33
34

Prosedur 12: Disinfeksi Tingkat Tinggi Dengan Merebus

45

Prosedur 13: OTT Dengan Bahan Kimia

46

Prosedur 14: OTT Dengan Uap

47

Prosedur 15: Sterilisasi Fisik dengan Uap Panas Bertekanan

49

Prosedur 16: Sterilisasi Fisik dengan Uap Panas Kering

50

Prosedur 17: Sterihsasi Fisrk dengan Cairan

51

Prosedur 18: Stenlisasi Kimia Glutaraldehid

53

Prosedur 19: Tatalaksana Pajanan

65

Prosedur 20: Prosedur Kerja di Unit Pelayanan Gizi

126

Prosedur 21:

Persia pan Untuk Pemindahan dan Penanganan Jenazah

128

Prosedur 22:

Pemulasaraan Jenazab di Karnar Jenazah

129

VIJ

HlV

leu
IUD

II
n
H

K
e
M

K3
MRSA

NICU
OPIM
P2MPL
PCR

HB14
Pencucian

PEP

PINI DALIN
PMS
PPP
RNA

RO
Stcrilisasi

TBe
Teknik asepsis

aseptic

UP
UV
Virus Marburg

e
r
h
a
d
a
p

b
H
e

m
e
t
i
s
i
l
i
n
Neonatal
lntensive
Unit

Care

Other Posentially
Infectious
Material Bahan

lain yang
memiliki

potensl
menularkan
infcksi seperti
semen, cairan
vagina
Pemberantasan
Penyakit
Menular dan
Penyehatan
Lingkungan
P
ol
y
m
er
as
e
C
ha
in
R
ea
cti
on
:

M
et
od
e
P
e
m
er
ik
sa
a
n
M
ik
ro

a
h
,
c
a
i
r
a
n
t
u
b
u
h
d
a
n
b
e
n
d
a
a
s
i
n
g
l
a
i
n
n
y
a
s
e
p
e
r
t
i
d
e
b
u
,
k
o
t
o
r
a
n
y
a
n
g

P
o

P
P
P
R
i

R
S
d
a
T
u

S
d
a
m
U
n

U
T
e

meningkatkan penularan penyaklt kepada dJrI mereka.


<Ian masyarakai luas. yakm :
I.

Cuct

'paslen yan,l! dllayanl

iangan yang tidak benar

2. Penl'(gunaan sarung tangan yang tldak tepat


3.

Penulupan

kernbali jarum sunUk secara udak arnan

4. Pembuangan peralatan tajam secara udak aman


5. Teknlk dekontaminast dan stertllsast peralatan lidak tepat

6. Praktek kebersthan

ruangan yang belum mernadat

Hal tersebut dapat sala rnemngkatkan risiko petugas kesehatan tertular karena
iertusuk jarurn atau terpajan darah/catran
lubuh yang tertnfekst, Sernenta ra
pasten dapat tertular melalui peralatan yang terkonlaminasi atau rnenenrna damh
.uau produk darah yang rnengandung
virus.

AGel PENYAXlT INfUSl

~.

Jam ... IIrus.

'R_~_s_~_._~P~

~
_J

PElAMU REHTAN
~;Pasa
-;

Man
larvtan;

...... baIcar. Penyakl


khtonik; Bayi; lansia

TI
TEMPAT MASUK

1'!'MP t.T KELUAR

Laplsan mukosa: lub; Sal.


Cerna; Sal. Kemih; Sal. Nfas

'Cb

El<.sI<ret.1 ; SWot; Droplet

CJoAA PENULARAN
I(ontak (Iongsung. t<lk. L.lngsoog. dan
_1); Mel. Udara; Mel. _;

Vo,"",

Gambar 1 : Ra"W

Penulanlll

InCebf Df Sara.na Keaehatan

lUBUH MANUSIA
(RESERVOIR)

CAiran tubuh spt darah,


cairan vaQlna 5e,ret
etau caltan manl

(petugas
kesehaUsn yang

pfjAMl)

renlClI't)

t..

Tusukan )aMn, luK.a dl


kullt, luka t~rk'ISI perclkan ke
permukaan mu);osa

Gambar 2 ; Rantai Penularan

1.3 Kebijakan

Departemen

HIV

Kesehatan

I Hepatitis

I C

RI

Kewaspadaan Universal rnerupakan salah satu upaya pengendalian infeksi


dJ rumah sakit yang oleh Departemen Kesehalan telah dikembangkan sejak
tahun 1980an
melalui
Program di Sub.Direktorat
Isolasi di bawah
Drr e ktor ar
Epidemiologi dan lmunisasi Ditjen P3M saat itu. Dalam
perkernbangannya program pengendalian Infeksi 'Nosokomial dikendalikan oleh
Sub-Direktorat Surveilans di bawab Direktorat yang sama. Mulai tahun 2001
Depkes telah memasukkan Pengendalian Infeksi Nosokomial sebagai salah 5a(U
tolok ukur akreditasi rurnah sakit (tolok ukur 12) di mana termasuk
di
d alarnnya adalah penerapan Kewaspadaan Universal.
Dengan maraknya epidemi HIV/ AIDSdi Indonesia yang programnya dikelola
oleh Sub Direktorat AIDS dan PMS. maka kegiatan kewaspadaan universal
dipandang sangat strategik untuk mengendalikan infeksi HIV/ AIDS di saran a
pelayanan kesehatan, sebab kecuali memberikan perlindungan kepada pasien
lain di sarana pelayanan kesehatan terhadap bahaya infeksi HN/ AlDSjuga akan
melindungi petugas
kesehatan
sehingga
tidak perlu khawatir
dalam
mernberlkan pelayanan kepada semua pasien
termasuk
pasien yang
diketahui menderita HIV/AIDS. Hal ini akan meningkatkan pelayanan pasien
infeksi HIV/ AIDS di sarana pelayanan kesehatan dan diharapkan berdampak
positif pada upaya penanggulangan infeksi-Hlv / AIDS di Indonesia.

1.4 Kewaspadaan Universal Sebagai Bagian dari Upaya


Pengendalian lnfeksi di Sarana Kesehatan
Penerapan Kewaspadaan Universal merupakan bagian pengendalian infeksi
yang tidak terlepas dari peran rhaslng-rnaslng pihak yang terlibat didalamnya

yaitu

pimpinan

terrnasuk

staf

administrasi,

staf

pelaksana

pelayanan

termasuk star penunjangnya dan juga para pengguna pelayanan yaitu pasien
dan pengunjung sarana kesehatan tersebut, Program ini hanya dapat berjaJan
bila masmg-rnasing pihak menyadari dan memahami peran dan kedudukan
masmg-rnasing.

Peran Pimpinan

dalam Pengendallan

Infeksi

Untuk dapat bekerja secara rnaksimal, tenaga kesehatan harus selalu mendapat
perlindungan dari risiko tertular penyakit. Pimpinan berkewajiban menyusun
kebijakan mengenai kewaspadaan universal, memantau dan memastikan bahwa
kewaspadaan universal dapat dilaksanakan tenaga kesehatan dengan baik.
Pimpinan bertanggung jawab atas penganggaran dan ketersediaan sarana untuk
menunjang
kelancaran
pelaksanaan
kewaspadaan universal di unit yang
dipimpinnya.

Peran

Tenaga

Kesehatan

dalam

Pengendalian

Infeksi

Tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan


dirinya dan
orang lain serta bertanggung
jawab sebagai pelaksana
kebijakan yang
ditetapkan
pimpinan.
Tenaga kesehatan juga bertanggung jawab dalam
menggunakan sarana yang disediakan dengan balk dan benar serta memelihara
saran a agar selalu siap pakal dan dapat dipakai selama mungkin.
Seeara rinci kewajiban dan tanggungjawab

tersebut meliputi

Bercanggung jawa b melaksanakan


dan menjaga keselamatan
kerja di
hngkungannya, wajib mematuhi instruksi yang diberikan dalam rangka
ke se ha tan dan ke serarnatan kerja, dan membantu
mempertahankan
lingkungan bersih dan aman.
2. Mengctahui
kebijakan
dan menerapkan
prosedur kerja,
infeksi, dan mematuhinya dalam pekerjaan sehari-hari.

peneegahan

3. Tenaga kesehatan yang menderita penyakit yang dapat meningkatkan


risiko penularan infeksi baik dari dirinya ke pada pasien atau sebaliknya
sebaiknya tidal< merawat pasien secara langsung.
4. Sebagai eontoh misalnya, pasien penyakit kulit yang basah seperti ekaim,
bemanah, harus menutupi kelainan kulit tersebut dengan plester kedap air, bila
tidal<memungkinkan maka tenaga tersebut sebaiknya tidal<merawat pasien.
5.. Bagi tenaga kesehatan
untuk memberitahu
pelaksanaan
pekerjaan
pasien, misalnya tenaga
eksirn

yang mengidap HIV mempunyai kewajiban moral


atasannya
tentang
status
serologi bila dalam
status serologi tersebut dapat menjadi risiko pada
kesehatan dengan status HIV positif dan menderita

basah.

Pe ran Paalen

dan Keluarganya

dalam

PengendaUan

Infe11lsi

Se tiap orang berhak ata s privasi dan seksligus


berkewjiban
menjaga
keselamatan orang lain. Dengan demlkian bila seorang pasien yang mengetahui
dengan pasti rnenderita penyakit yang dapat menular pada orang lain.

It
It
It
It

It
It
It

..

mora) untuk memberitahukannya. Terutama bila terjadi kecelakaan kerja pada


petugas misalnya luka tusuk atau terkena alat tajarn lain bekas pasien, maka
pasien seperti diatas sebaiknya memberi informasi atau izin untuk pemeriksaan
darah guna membantu tindak lanjut bagi tenaga kesehatan yang mengalami
kecelakaan tersebut. Dalam hal ini petugas kesehatan wajib memberikan
penyuluhan yang jelas tentang penerapan kewaspadaan universal tanpa
berlebihan dan tidak menyinggung perasaan pasien agar dapat membangkitkan
rasa tanggung jawab pasien mengenai risiko yang sedang mereka hadapi.
Dengan demikian pasien akan dengan suka rela membuka diri, memberi
informasi serta memberikan izin pemeriksaan yang diperlukan, lebih-Iebih
pada persia pan tindakan yang berisiko.
Ikatan kekerabatan di Indonesia dikenal sangat kuat. Bila salah satu
anggotanya ada yang dirawat, anggota keluarga yang lain akan membantu
dengan cara menunggu di rumah sakit ataupun dengan cara menjenguknya secara
teratur atau setiap saat. Para penunggu atau pengunjung terse but potensial untuk
menjadi sarana penyebaran infeksi, Dengan demikian peran keluarga dalam
pengendalian infeksi tersebut menjadi penting pula. Keluarga perlu dilibatkan
dalam setiap upaya penyembuhan ataupun upaya 'Iain yang terkait dengan
perawatan pasien. Banyak informasi yang dapat digali dari keluarga dalam
upaya memberikan pelayanan ataupun upaya pencegahan infeksi pada
umumnya. Anggota keluarga pasien berhak untuk
tidak mendapatkan
penularan infeksi selarna mcreka menjalankan fungsi sosialnya, baik
sebagai penunggu ataupun sebagai pengunjung. Oleh karena itu mereka
berhak pula untuk mendapatkan informasi secukupnya agar dapat melindungi
diri mereka dari infeksi tanpa mengabaikan hak pasien untuk tetap terjaga
kerahasiaannya.

2. Tujuan dan Saaaran Buku Pedoman


Buku pedoman Penerapan Kewaspadaan Universal dirnaksudkan untuk
meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan dan untuk membantu para petugaa
kesehatan dalam mengurangi risiko infeksi pada diri sendiri, paslen dan
masyarakat.
Secara khusus maka Buku pedoman ini bertujuan untuk:
I. Menjadi
pen un fun
bagi
tcnaga
kesehatan
bingga
mampu
memberikan pelayanan kesebatan dimana resiko teIjadinya infeksi dapat
ditekan.
2. Menjadi aeuan bagi para penentu
di sarana kesehatan.
3. Menjadi aeuan dikalangan
infeksi dalam pekeIjaannya.

kebijakan dalam pereneanaan

iogistik

non-media yang mempunyai risiko terpajan


.

4. Menjadi bahan acuan tenaga keschatan dalam memberikan penyuluhan


kcpada paeierr/kliennya tcntang tlndakan peneegaban infeksi.
Buku Pedoman berisl pctunjuk speaifik yang dapat diimplcmcntasikan di
berbagai sarana kesehatan dl Indonesia dan juga dapat digunakan oleh kalangan
laln yang membutuhkannya aepertl keluarga paalen, petugas kepolialan, petugas
pengurus jcn8.2ah dan masyarakat eerta kalangan non-media lain yang
berisiko terpajan.

3. Kewaspadaan Universal
Seperti dikemukakan di atas bahwa Kewaspadaan Universal merupakan bagian
dan upaya pengendalian
infeksi di sarana pelayanan kesehatan.
Upaya lain
yang merupakan
komponen pengendalian
infeksi di sarana pelayanan adalah
Survei.lans, penanggulangan
KLB, pengembangan kebijakan dan prosedur kerja
serta pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan
dalam hal pencegahan
infeksi, yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Penerapan Kewaspadaan Universal didasarkan
dan cairan tubuh san gal potensial menularkan
dan pasien maupun petugas kesehatan.

pada keyakinan bahwa darah


penyakit, baik yang berasal

Prosedur
Kewaspadaan
Universal
101 juga
dapat
dianggap
sebagai
pendukung program K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
bagi petugas kesehatan.
Prinsip utama Prosedur Kewaspadaan Universal pelayanan kesehatan adalah
menjaga higie ne sanitasi
individu , higienc sanitasi
ruangan
dan sterilisasi
peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan rnenjadi 5 (lima) kegiatan pokok
yaitu:
1. Cuci tangan
2.

guna

rnencegah

Silang,

Pemakaian alat pelindung di antaranya


pcrnakaian sarung tangan
rnencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain,

3. Pengelolaan alat keschatan


4.

infcksi

Pengelolaan jarum

5. Pengelolaan limbah

guna

bekas pakai,

dan alat tajam


dan sanitasi

untuk

mencegah

perlukaan,

ruangan

3.1 Cud Tanpn


Mikroorganisme
pada kulit manusla
dapat diklasifikasikan
dalam dua
kelompok.
yaitu
nora .. siden
dan nora tr an sien , Flora risiden
adalah
mikroorgarusrne
yang
seeara
konsisten dapat
diisolasi
dari
tangan
manusia,
ridak mudah
dihilangkan
dengan
gesekan
mekanis,
yang telah
beradaptasi
pada kehidupan
tangan
manusia.
Flora transien
yang juga
disebut
nora transien
atau nora kontamina.si,
jenisnya
tergantung
dari
lingkungan
tempat
bekerja.
Mikroorganisme
ini dengan
mudah
dapat
dihilaogkan dari permukaan dengan gesekan mekanis dan pencucian dengan
sabun atau deterjen.
Oleh karena
itu cuci tangan adalah cara pencegahan
infeksi yang sangat penting.
Cuci tangan harus selalu dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah
melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau ala!
pelindung lain untuk menghilangkan/mengurangi
mikroorganisme
yang ada
di tangan
sehingga penyebaran
penyakit dapat dikurangi dan Iingkungan
terjaga dari infeksi. Taogan harus dicuci sebelum dan sesudah memakai sarong
Iangan.

Cuci tangan

tidak dapat

Tiga cara cuci tangan


I.

oleh pemakaian

yang dilaksanakan

sesuai

sarung

dengan

Cuci tangan higienik atau rutin: mengurangi kotoran


tangan dengan menggunakan sabun atau deterjen

2. Cuci tangan
menggunakan
3.

digantikan

aseptik : sebelum
antiseptik

tindakan

aseptik

Cuci tangan
bedah (surgical handscrub) : sebelum
bedah cara aseptik dengan antiseptik dan sikat steril.

Prosedur

Cuci Tangan

Indikaai

Cuci

dapat

dilihat

pada halaman

tangan.

kebutuhan,

yaitu :

dan nora yang ada di


pada

pasien

melakukan

16 Prosedur

dengan
tindakan

Tengen

Cuci tangan
harus
dilakukan
pada saar yang diperkirakan
mungkin
akan terjadl perpindahan
kuman melalui tangan, yaitu sebelum melakukan
suatu
tindakan
yang seharusnya
dilakukan
secara
bersih
dan setelah
melakukan tindakan yang kemungkinan terjadi pencemaran, seperti:

1. Sebelum

melakukan
tlndakan,
misalnya: mernulai pekerjaan
(baru tiba di
kantor);
saat akan merneriksa
(kontak langsung
dengan
pasien);
saat
akan memakai
sarung
tangan
steril at au sarung
tangan
yang telah
didesinfeksi
tingkat tinggi (OTT) untuk melakukan
suatu tindakan;
saat
akan memakai peraJatan yang telah di-DTT; saat akan me1akukan injeksi;
saat hendak pulang ke rumah;

2. Setelah
melakukan
tlndakan
yang kemungkinan
terjadi pencernaran,
misalnya: setelah memeriksa pasien; setelah memegang alat-atat bekas pakai
dan bahan-bahan
lain yang berisiko terkontaminasi;
setelah menyentuh
selaput
mukosa.
darah
atau cairan
tubuh
lainnya;
setelah
membuka
sarong tangan (cuci tangan sesudah membuka sarong tangan perlu di lakukan
karena ada kemungkinan
sarung tangan berlubang
atau robek}; setelah
dari toilet/kamar
kecil; setelah bersin atau batuk.
Sarana

Cuel

Tangan

1. Air mongalir
Sarana
utama
untuk
cuci tangan
adalah
air mengalir
dengan
saluran
pembuangan
atau
bak penampung
yang memadai.
Dengan
guyuran
air
mengalir terse but maka mikroorganisme yang terlepas karena gesekan mekanis
atau kimiawi saat cuci tangan
akan terhalau
dan tidak menempellagi
di
permukaan kulit, Air mengalir tersebut dapat berupa kran atau dengan cara
mengguyur dengan gayung. namun earn mengguyur dengan gayung memiliki risiko
cukup besar untuk terjadinya pencemaran, baik melalui gagang gayung ataupun
percikan air bekas cucian kembali ke bak penampung
air bersih. Air kran
bukan berarti harus dar! PAM. namun dapat diupayakan secara sederhana dengan
tangki berkran
di ruang
pelayananj'perawatan
kesehatan
agar
mudah
dijangkau oleh para petugas kesehatan yang memerlukannya.

10

MIL1K

PR:?I'USTAKAANj

DBP: KI:;.'>uHA T AM

Gambar 3 : Contoh Sarana Cuel Tangan


Selain air mengallr ada. 2 [ents bahan peneuel tangan
yaltu: sabun atau deterjen dan
antlseptik

tw:utan

yang d1butubkan

2. Sabun dan DeterJen


Bahan tersebut
Udak membunuh
mtkroorgaruame
tetapt menghambat
dan mengurangt Jumlah mlkroorgantsme dengan Jalan mengumngl
tegangan
pennukaan sehingga mfkrocrgarusme terlepas darl permukaan kullt dan mudah
terbawa oleh alr. Jumlhll
mtkroorgarusme
semakin
berkurang
dengan
men1ngkatnya fre.kuensl cuct tangan, namun dtlaln plhak dengan sertngnya
menggunakan sabun atau detetjen maka laplsan lemak kul.It akan b1Iang dan
membuat kuIlt menJadi kertng dan peeah-peeah. HUangnya laplsan lemak
akan member! peluang untuk tumbuhnya kembaU mtkroorgamsme.
3. larutan Antlseptlk
Larutan anttsepuk atau d1sebut Juga anttmikroba topikal. dlpakal pada
kuUt atau janngan htdup Ialnnya untu'k mcnghambat aktivttas atau membunuh
mtkroorgarusme pada kuUt.Antlseptlk mcmUtldbahan klmia yang memungk1nkan
untuk dtgunakan pada kullt dan seJaput mukosa. Antlseptik memtllld keragaman .
dalam hal efektlVltas. aktrvttas, akibat dan rasa pada Irulit seteJah dJpakal sesuai
dengan keragaman jenls antlsepttk tersebut dan reaksl kuJlt mastng-masing
IndJvidu.
KuHt manusta

tldak dapat dtstertlkan. TuJuan yang tngtn dicapat adalah


mikroorgan1sme pads kullt secara makslmal terutama kuman
transfen. Krlterla memillh anUsepttk adalah sbb:

penurunan jumlah

I. Memllikl efek yang luas, menghambat atau merusak mtkroorgantsme


secara luas (gram posltlf dan gram negatlf. virus IIpofllik. basUus dan
tuberkulosts, fungi. endospora).
2.

EfektlJltas

3. Kecepatan aktlfltas awal


4. Efek

restdu,

pertumbuhan

aksl

yang

lama

setelah

J1

pemakaJan untuk

rneredam

5. Tidak mengakibatkan iritasi kulit


6. Tidak menyebabkan alergi
7. Efektif sekali pakai, tidak perlu diulang-ulang
8. Dapat diterima secara visual maupun estetik
Pada Tabel 1 di halaman berikut ini tertera bermacam jenis antiseptik yang
sering dipakai

12

~
~
Z

IX

~0

c:

m
.s:

il

""

ii"
Ec

~~
a.~

'"
~

"

li

x0

.3

..

..
0

.E...

~t

.10

~~

'6

.cD
" ~
~

s:S M
~~

O.c

:<:

~:x

'"

I2"

,hi

'"

''';

'"
'!3

eo

s:

~~

-!!1

,';l

!;

~~

a" "
~.8

~2'

.c
1!1
: >:

~I

.,><

t'

'" .,

I II

."t,

I..

..

:<:1l

<>
c:

>c

:<:

l::

><

"E

j as

..
'

'"

~
ti

il

...

s:

.. . .

-c

'"
,I

~
E"

- ..

c.

i
2'

..
v

c .

.z

'"

..

.!3

s<>

..

'$

(")

..

e.

.~
- '"

.. ..

+
+

<0

.t:

.ill.

II>

.5.

:S-

,Q

'ii
:E (:.

VI

~'

+
+

....

I!l

.... ..
+
.. ..
+

'If:

...! '!'
0

0
<D

+
+

'#
0
-e-

..+

. . ..
+

#.

+
if.

+
~
N

'"

..

'"

II

<>

&

!J

;.;

z0,

'6. ~. ~

.. -

><

s:
>

Il

~
'is
~ ~

'0

<>

t!

..

"

<;:

iij2

's"
c,

:I:

~
e:

"1!'

<;:

- I
+

i ;

f~ l
~

x
s:

. s

~
a.

-E :,: ~
~~
v:r

e-

Prolledur 1 : Cud Tancan H1Cfent./Rutln

Sarana cud tangan dlSiapkan dl setlap ruang penderlta dan tempat lain misalnya ruang
bedah, koridor.

Air bersih yang mengallr (dan kran, cere! atau Stlmber lain)

Sawn sebalknya dalam bentuk sabun calr

Lap kertas atau kain yang leering

Kuku dijaga selalu pendek

Basahi tangan setlnggl pertengahan lengan bawah dengan air mengalir

Taruh sawn dl baglan telapak tangan yang telah basah. Buat busa 5eOJkupnya tanpa
percikan

Gerakan cud tangan terdin dari gosolcan kedua telapak tangan, gosokan telapak tangan
kanan diatas punggung tangan kin dan sebaliknya, gosok kedua telapak tangan dengan
jali
saling mengait, gosok kedua Ibu jari dengan cara menggenggam dan memutar, gosok
pergelangan tangan
Proses berlangsung selama 1015 detik
Bilas kemball dengan air sarTJpai berSih.

Keringkan tangan dengan handuk atau kertas yang berSih atau tisu atau handuk katun sekali

pakai

Matikan kran dengan kerta.s atau tisu.

Pada cud tangan aseptjk/bedato dlikuti larangan menyentIJh permukaan yang lldak steril.

_--

~I~

..?

~
~

'-

~
6

~
7

#-' M
9

12

11

Gambar 4 : Prolledur Cuel Tanaan Higlenl.

14

10

Proaedur

2 : Cue! T"DITaD Aaeptik

Cuci tangan aseptik biasanya dilakukan saat akan melakukan tindakan aseptik
pada pasien atau saat akan kontak dengan penderita pada keadaan tertentu
misalnya penderita dengan imunitas rendah, Persiapan dan prosedur pada cuci
tangan aseptik sama dengan persiapan dan prosedur pada cuci tangan higienis
hanya saja bahan deterjen atau sabun diganti dengan anitseptik dan setelah
mencuci tangan tidak boleh menyentuh bahan yang tidak steril.

Proaedur

AI! mengalir

Slkat SU!ri1 &. Spans

3 : Cuel tanltao bedah

steriI
o

SabI.rl AIlIlseptil<. misafnya PQYIdon )'Odiool. ~

lap kaIn alllu handuk steril

!(Uku dlJaga se!alu pendek dan bersihkan dengan alat berupa batang kayu kedl yang lunak

Lepaskan semua peltliasan tangsn

Nyalalcan kran

Basahl ta"9"" dan Iengan ~

Taruh sabun antisEptik di bagian telapak tangon yang telah basah. Suat busa secukupya tanpa pertikan.

Sikat baglan bawah kuku dengan Sikat lembut

Boat gerakan mcncuci tangan seperti CIJci tangon blasa dengan waklu leblh lama. GOSOk tangan dan
!eng"n

saw per saw secara bergantian dengan

gerakan mellngkar.

Sikat tembut hanya digcnakan unt\lIt memberShkan


brena depot rneIukainya.

dengan air

IJnt1j( met

kuku saja buIcan untuk menyikat IaJIlt yang lain oIeh

IggOSOIt bAit depot

df900akan

setcaII

pakaI

Ptoses cud tangan bedah betIangi50ng se!arna 3 Ilingga S menlt dengan pnnSip sependeI< rnungkin
cuklJp memadai untuk mengurangl Jumlah bakter1 Y.:O\lITlef1!mpel

spans 5Ief1I

taIli

ell ta"9""

Sclarna cucI tangan jaga agar letak tangan lebih Hnggl dan slku agar air mengallr daM arah tangan ke
wastafel

Jangan sentuh wastafel, kran atau gaun peUnclung

KeringI<an tangan dengan IapSU!l1l

GosoI< dengan alllllol 70% atau c:ampuran

al1<ohcI 70% dan Ido<IleIcsedin 0.5% seIama S menit dan

keMngkan kembaD

Kenakan gaun pelindung dan sarung rangan steriJ


Calalan : kenakan sarung tangan setelah tangan be!uIbetul kering, jangan kenatan sarung langan
saat tangan maslh basah.

15

Proaedur 4 : Alternatif Cuei TaIlCaJ1 Hillenl.


Hanya

mengganti

tangan

bedah.

cuci tangan

cuci tangan

higieniaj'rutin,

Dikerjakan hanya

secara

tidak dapat menggantikan cuci

bila tidak memungkinkan

standar, misalnya tidak ada air mengalir.

GosoIdah sedllclt cairan pada kedua tang"" secata merata

16

untuk

rnelakukan

..
~

akan rnenangani pasien yang lain. Hindari kontak pada benda-benda lain selain
yang berhubungan dengan tindakan yang sedang dilakukan, misalnya
membuka pintu selagi masih memakai sarung tangan, dsb.
Beberapa jenis sarung tangan dapat dicuci dan didisinfeksi atau disterilkan
sebelum digunakan kembali, namun sarung tangan yang diproses kembali
dengan OIT atau disterilkan sebaiknya tidak dipakai ulang sampai lebih dan 3
kali. Pemrosesan berulang akan memperbesar terjadinya lubang pada sarung
tangan. Oleh karena itu setiap kali pencucian dilakukan pemilahan terhadap
sarung tangan yang bocor atau sarung tangan yang telah diproses untuk yang
ke tiga kalinya, untuk dibuang karena tidak lagi layak pakai.
Tidak dianjurkan menggunakan sarung tangan rangkap bila tidak benarbenar diperlukan karena tidak meningkatkan perlindungan, bahkan akan
meningkatkan risiko kecelakaan karena menurunkan kepekaan (raba).
Sarung tangan rumah tangga dapat dicuci dan digunakan berkali-kali untuk
membersihkan peralatan, pencucian linen, membersihkan ceceran darah atau
cairan tubuh lain, namun tidak dipakai untuk perawatan lainyang menyentuh
kulit pasien secara langsung.
Prosedur pernakaian dan
halaman 24 dan halaman 25

pelepasan sarung tangan dapat

dilihat pada

Kadang-kadang perlu dipakai sarung tangan ganda pada keadaan khusus,


seperti pada:
.
1. Tindakan yang memakan waktu lama (lebih dan 60 menit) dan atau
melakukan tindakan operasi di area sempit dengan kemungkinan besar
robekan sarung tangan oleh alat tajam seperti jarum, gunting atau penjepit.
2. Tindakan ',yang berhubungan dengan jumlah darah atau cairan tubuh yang
banyak seperti operasi cecar, persalinan dll,
<i'
3, Bila memakai sarung tangan pakai ulang yang seharuenya sekali pakai.
Sarung tangan tidak perlu dikenakan untuk tindakan tanpa kernungkinan
terpajan darah atau cairan tubuh lain, Contoh mernberi makan pasien,
membantu minum obat, membantu jalan, dll.

20

Proaedur 5 : Pemakala'nSa~1
..
~II

Tangan Sterll

.,;
. .

.. <

~ ~

.JeflIs san.ng tangan

Ku1cu dijaga agor seIalu peOdek

sesual

!eM

dndalcan

teoas dndn don pernlasan lain

0lC:I tangon sesu<l1prosedur standar

.. ai_d.

"

0.JCi tangon

Siapkan area yang rukup luas, beIsih dan kerlng untuk membuka paket sarung tangan. Pema~kan
tempat menaruhnya (steril atau minimal OTT).

Buka pembung1ws sarong tangan, minta bantuan peW,;i!S lair. untuk membulca pembungkus san.ng
Iangao), let.akkan sarong tango. dengan baglon te!apak tangon menghadap k. alas (1).

" Ambit salah satu sarung tangon dengan memegang pada slsl sebelah oaiam llpatannya, yoltu baglan
yang akan bersentuhan dengan kulit tangan saat dipakal (2).

Posisikan sarung tangan setInggt pinggang dan menggantung ke 1MtaI,

sehInWa baglao

lubang jaII.jaII

Iang ....nya teruka. MaSJJkkantang an Ooga saruno tangan supaya tetap tldax menyentuh pennukallll (3).

Ambfl sarung tangan ke dlJa dengan cera menyellpkan Jart-Ja~ t.angan yong sudah memakal sarung
tangan xe baglan Ilpatan, yalw bagion yang tidax akan bersentuMn dengan twllt tangan saat dipakai
(~).

Pasang sarung tangon yang

kedua

dengan car. memasukkan ja~.jaI1 tangan yang belum memakal

sarung tangan, xemudlon luruskan llpatan, dan atur posIsl sarung tangan sehlngga terasa pas dan coak
di tangon (5).

GaJnbar 7 : Can Memakai SaruDI Tang ... SterU

22

Prosedur 6 : MeJepaa Sarong Tangan

'

...I....n

Larutan K1or1n0.5% cIalam wadah yang culwp be..ar


5arana CUd tangan
Kantung

penampung

Nmbah meds

Pranlfur

Masuklcan 53""'9 tangan yang masih dipakal ke dalam larutan kIorin, 9OSOklcanuntuk mengangkat
bercak darah atau calran ttlbuh lainnya yang menempel (1).

Pegang salah satu sarung tangan pada lipatan lalu tarlk ke arah ujung jari-jan tangan sehlngga baglan
dalam dan sanung pertama menjadi slslluar (2).

"

lang.n dibllka sampallerlepas sama sel<ali, blarkan sebaglan masih berada pad. tangan sebelum
meIepas sa~

Ian9an yang ke dua.

terbu1<a dengan

permulCaan sebeIah

Hal ini penting untu1<

terpajannya kullt langan yang

Iuar sarung langan.

BiaI1<an sarung tangan yang (ler1ama sampai disekJtar Iarijari, lalu pegang sanung ttngan yang ke dua

pada lipatannya lalu IaMk ke arah ujung jad hlngga bagIan dalam sarung tangan menjadi sisliuar.
Demiklan dllakukan secara bergantlan (3).

Pada atNr setelah hllmlllr dl ujung jarl, maka secera be<samilan dan dengan sanga! hatlhaU sarung
tangan tad! d,lepas (4).

""00 diperlJatikan twlllWa tangan yang terbul<a hanya boIeh menyentuh bagian dalam sarong langan.
CUd tangan selelah sarong langan diiepas, ada kem<Jngldnan sarong tangan ber1ubang namun sangat
k.eOI

dan tidak

terllllat. llndakan menax:i tangan setelah meIepas sarong

tangan

lni ibn

mempet1cecil riSiko terpajan.

Gambar 8 : Can. MeJepu Sarong Tangan

23

2. Pelindung Wajah (masker dan kaca mata)


Pelindung wajah terdiri dari dua macarn pelindung yaitu masker dan kaca
rnata, dengan berbagai macam bentuk, yaitu ada yang terpisah dan ada pula
yang menjadi satu. Pemakaian pelindung wajah tersebut dimaksudkan untuk
melindungi selaput lendir hidung, mulut dan rnata selama melakukan tindakan
atau perawatan pasien yang memungkinkan terjadi percikan darah dan cairan
tubuh lain. termasuk tindakan bedab ortopedi atau perawatan gigi.
Jenis alat yang digunakan meliputi, masker, kacamata atau pelindung
wajah digunakan sesuai kemungkinan percikan darah selama tindakan
berlangsung. Masker, kacamata dan pelindung wajah digunakan sedemikian
rupa sehingga tidak mengganggu lapangan dan ketajaman pandangan.
Petugas yang rnelaksanakan tindakan berisiko tinggi terpajan lama oleh
darah dan cairan tubuh lainnya harus memperhatikan perlunya
perlindungan maksimal, lapangan pandangan dan kenyamanan kerja,
Masker tanpa kacamata hanya digunakan pada seat tertentu misalnya
merawat pasien tuberkolosis terbuka tanpa luka dibagian kulitj'perdarahan.
Masker digunakan bila berada dalam jarak I meter dan pasien.
Masker, kacamata dan pelindung wajah seeara bersamaan digunakan
petugas yang melaksanakan atau membantu melaksanakan tindakan berisiko
tinggi terpajan lama oleh darah dan cairan tubuh lainnya an tara lain
pembersiban Iuka, membalut luka, mengganti kateter atau dekontaminasi alat
bekas pakai.
Bila ada indikasi untuk memakai ketiga macam alat pelindung tersebut,
maka masker selalu dipasang dahulu sebelum memakai gaun pelindung atau
sarung tangan, bahkan sebelum melakukan cuci tangan bedah.
Petugas yang menggunakan masker dan kaeamata/pelindung
akan terlindung dari infeksi yang ditularkan lewat darah/cairan

wajah
tubuh

lain serta infeksi yang ditularkan lewat udara

3. Penutup kepala
Tujuan
pemakaian
penutup
kepala
adalah
mencegah jatuhnya
mlkroorganisme yang ada dirambut dan kulit kepala petugas terhadap atatalat/ daerah steril dan juga sebaliknya untuk melindungi kepala /rambut
petugas dari percikan bahan-bahan dan pasien.
Pada keadaan tertentu misalnya pada saat pembedahan atau di ruang rawat
intensif (ICU) petugas maupun pasien harus menggunakan penutup kepala
yang menutupi kepala dengan baik.
4. Gaun I Baju Pelindung

Gaun pelindung atau jubah atau celemek, rnerupakan salah satu jenis
pakaian kerja. Seperti diketahui babwa pakalan kerja dapat berupa seragam

24

Tabel 3 : Pcmllihan Alat Pellndung Sesuai Jenis Pajanan

.., ; ,;Je!I"

'

"

. .:.:.",.::.1.

"

,_I

.,:..,;~;~

.1

Rlsiko rendah

dengan kulit
TIdak terpajan datah

I(ontal<

'-

lnjelcsl

SaIUlg tanga~ tidak esenslal

Perawatan Iuka ringan

Risiko sedang

Kemungkinan terpajan darah


nernun ijdak ada clpratan

0
0

Rlslko tinggl
Kemungkinan terpajan darah
dan kemungklnan terdprat
Perdarahan massif

0
0
0

l'emeliksaan pelvis
InsetSllUD
Melepas IUD
Pemasan9"n katetet intta vena
I'enan9"nan speslmen
laboratortum
Petawaton Iuka beral

0
0

Sarung tangan
Mungkln perlu ~aun
pelindung atau celemek

G!re'an da"'"

Sarung tllloan

TIndakan bedah ma~


8edah muM
Persallnan pervaglna

celemek

Masker

Kacamata peJlndung

Proaedur 7 : Penggunaan Gaung PeUndung


.~

.:s=;

c'

..., V~~:;,

"

co:

Hanya baglan luar gaun saja yang ten<ontaminasl, karena tujuan pemakaian 9"un untuk mellndungi
pemakai dari infeksi
Hanya bagian depan atas gaun bedah (dl etas ping9ar,~) sala yang dJan99ap steri: dan baleh
bersinggungan dengan lapangan
Cera memakal gaun bedah mengikuG proses tanpa singgung. yaltu dongan mengusahakan agar baglan
luar gaun tidak bersinogungan Iangsung d

Gaun dapat dipakaf sendI~ oIeh pemakaf atau dlpakallcan oIeh cnng lain
0

Selalu di1<enakandalam kamat bedah dan tidak tibawa kelual ke<:uaIl untuk dicucl, tetmasuk ke ruang
makarl atau lalnnya

Saw gaun pelindung dlkenakan untuk menanganl satu pasjen

Celemek kedap air dlpalUll dl sebelah dalam gaun pellndlJllg bedah

.~""pan.~,,""".I..n "'~U#!I
0

Handul</Iap stern

Gaun pelindung steril

Sarung !angan steril

COOtangan ~k

Pembedahan

::~T"i~:q~~:0;:";","" !!.),F;'. M~F5

26

"a.lllur

Ket1ngkan tangan dan lengan satu per satu bergantlan dlmulal dali tangan kemudlan lengan bawah

memakai llaIlduk sterii.


)1108 agar tangan tldak menyenllJh gaun pellndung steril. Taruh handuk bekas pada suatu wadah

Ambil gaun pelindung dengan memegang baglan dalam yaltu pada bagian pundaJc. Siar1<an oaun
pe(ond<Jng _,
masuIckan tangan-tangan ke daIam hJOang. PosIsI ~n dlletakkan ~
ctada,
menJauh dari tuboh.

Gerakkan leng_n dan tang_n ke dalam lubal1g 90un pelindung

Baglan belakang gaun ditutup/dilkat dengan bantuan petugas lain yang tidak steril

Gambar 9 : Memakaf Gaun Bedah

if

Gambar 10 : Memakai GauD Bedah den&an Bantuan

27

3.3 Pengelolaan Alat Kesehatan


Pengelolaan alat-alat bertujuan untuk

mencegah penyebaran infeksi

melalui alat kesehatan, atau untuk menjamin a1at tersebut dalam kondisi steril
dan siap pakai. Semua alat, bahan dan obat yang akan dimasukkan kedalam
jaringan .di bawah kulit harus dalam keadaan ateril. Proses Penalalaksanaan
peralatan dilakukan melalui 4 (empat) tahap kegiatan yaitu :
I. Dekontaminasi

2. Pencucian
3. Sterillsasi atau OIT dan
4. Penyimpanan
Oekontlmln .. i

Rendam dalam IalVtan Idarin 0.5% S(>iama10 menlt

CUd berslh dan lirfskan


Pakal salVng tangan dan pellndung l~ap
objek tajam

,"'''''.''
Pemo_n

UlP

.. rt.bn.n

KlIrfng
110' C

Tlnggi-OWkl.,
121' C
106 kPI (I olm)
20-30_

se.ma

.o-

I, '*111fW111ngDt,....1

,-J

--i_ '

KlmlaWl

-lOmilwl
Rend.m IIOlam

U1p

dlstnfelctln 10 -

Ilrut1n

larutan

rend"" dalam

24 )1m

dlsWtlclJn 20

60

ment

..-

AIlIu

GosEnl

Pendlnolnan Penyimponan
Slap paical

_1 1 1

Rebut

u ap ,I r

TutlJp dallm

.fT n14!rldl<jlh
BlINn dal.m

_mo20

me

calalan :

1. Alat yang terbunglws dalam bungkusan !terll dapat d1simpan SM'pal saw
mInggu bila tetap k.eriIlg dan pemblllglws utuII
2_ AIat yang tIdak terbung!ws haNs

disImpan

dalam tempat (tromoI) S1eftJ

3. Alat yang diolah dengan dlslnfe!tsi tinglcat tinggl dislmpan dalam wadah
tertutup yang Udak mudah terbuka atau segera cfipakal

Gambar 11 : Baean AIm Pengelolaan Alat Keaehatan

28

seamo 20
."...

kemudian setelah keamanan dan efektifltas terpenuhi. Yang dipertimbangkan


dalam hal keamanan adalah antisipasi terjadinya kecelakaan atau penyakit
pada petugas kesehatan yang mengelola benda-benda terkontaminasi dan
melakukan proses dekontaminasi. Kebanyakan. alat kesehatan tersebut
terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh yang membawa berbagai
organisme penyebab penyakit terutama HlV, virus hepatitis B, dan hepatitis C.
Oleh karena itu petugas kesehatan yang bekerja dengan risiko terpajan oleh
darah dan cairan tubuh harus mengenakan alat pelindung yang memadai,
melaksanakan prosedur kerja yang meminimalkan risiko pajanan terhadap
lapisan mukosa dan kontak parentral melalui bahan-bahan terkontaminasi.
lnstitusi yang bersangkutan dianjurkan untuk memberikan vaksinasi hepatitis
B kepada para petugasnya, dan melakukan tindak lanjut pada setiap pajanan
darah atau cairan tubuh yang terjadi.
Sedapat mungkin pemilahan dilakukan oleh si pemakai di tempat segera
setelah pemakaian, selagi mereka masih mengenakan alat pelindung yang
memadai seperti di ruang operasi, sehingga pajanan pada petugas dapat
diminimalkan. Apabila pemilahan harus dilakukan diluar tempat pemakai maka
harus dibatasi pada pemilihan antara alat yang akan di proses lebih lanjut dan
alat sekali pakai. Pemilahan meliputi pelepasan alat dari engsel dan kuncinya
agar mudah dibersihkan namun hams dijaga agar alat tersebut tetap berada
dalam satu bungkus untuk memudahkan pada pemasangan kembali kala akan
digunakan nanti.
Perhatian: jangan merendam alat dari logam anti karat didalam !arutan
NaCI atau larutan natrium hipoklorit terlalu lama. Ion klorit dari kedua
larutan terse but dapat menyebabkan korosi logam

30

~'~

lJ'I!PIeAW
~lU

..~. 1fO

'"

..

..
+

-+

..

..

..

..

..

..

:~ -,~1W1d

,-- . IAIIII

to

.....

..

..

....

..

.. +

..

...

-+

.++-+

.. ..

.. .. .. ..

..
~

..

+I

.
.

.. +

+
+

Proaedur

I~"'l ;...n
.

I.!..l..:, .A.

J, :_;.
ji'~. '"tt,.:.

11 : Dekontamioui

~:
~ , i1
~~ ~~
.'1

"

..

, ...

',

Khusua

,
t @ ~ ~
~ ;\i ~
_/

.. ",;

J.",m Semprit
(sebaiknya jarum &. semprit
tldaJ(

dlpakal wno)

':L

.)

...

._..

'~,~:",;.;,.~~.v~.li
~;",~~\

Siaplcan"wadah yang !.than l\Isubn I~ dengan kiorln 0.5%, 1$1 jarum &. semprlt dengan
larutan Idortn dan sem~n,
lakukan $ebOnyak 3 kalt.
Renclam dalam Illrutan idorfn selama 10 m!nR. atau dllnsinerasf bersama wadahnya.

Slrung tlngen

Sebetum melepa5 sarung tangan, celupkan [angan dal.3m larutan klortn O,S% untuk

_lain palotl : buang saruI10


tangan bokas pikal dI tempat
penampungan Ilmbah medls
palall "lang: tilmp""o sarung

membersihkan permukaan luir sanmg tiflgCln da" menghJla~kan darah dan @Irao
tubuh yang laIn
Lepas saruog tingan tanpa men't'entuh permukaan luamya deogan tangan telanjang
dan 5egera cud tangan

yang b!rtUtIJp menunggu untuk


dllal:l.bn delcontaml .. "
bel'Slma-sama

Rendam S&olVngtcIngan dalatlt iarutan klorin 0,5'% dan b1arkan selama 10 mena
sebelum dlald

.tan~n daam wildahsementara

Untvk mE!OClOgasha""o tongan robek dan ber1~ng selama proses dekOOOlmlnasl,


tempatkan $ar\l"9 tangan dalam wadah yang bei'beda deogao wadah yang dJpakal
untuk penlatan tajaM

Wadilh untuk Penyimp.:nan


PerlJ.tan

1$1wadah dengan larutan )dOM 0,5% dan biatkan .selama 10 mef'lt sebelum
dlbM:Ihkan
Bllas dan CUd dengan segera

PIIInnuDan
berporJ

GunaJtan $arut)g tanga" rumah tan09a dan celemek k.eclap air sast menge!jakannya

meja y.,ng tidak

Siapkan IaNlan kiorln 0.05% d.lam .Ia' penyemprot (~I"'"


Semprottan larutan tersebOt pacSa oermukaan yang ak.lo cf:I deltontomlnaSl; blarkan 10
men~
Kemudl,n lap deng.n lap be sa h yao """'h borulang k.allhlngga Iaru'M ido<ln
'etangkat

PeocuoiaD Alat
Setelah dekontaminasi
dilakukan pembersihan yang merupakan langkah
penting yang harus dilakukan. Tanpa pembersihan yang memadai maka pada
umumnya proses disinfeksi atau sterilisasi selanjutnya menjadi tidak efektif.
Kotoran yang tertinggal dapat mempengaruhi fungsinya atau menyebabkan
reaksi pirogen bila masuk ke dalam tubuh pasien.
Pada alat kesehatan yang tidak terkontaminasi dengan darah, misalnya
kursr roda, alat pengukur tekanan darah, infuse pump, dsb.
cukup dilap
dengan larutan deterjen, namun apabila jelas terkontaminasi dengan dara:h
maka diperlukan disinfektan.
Pembersihan dengan cara mencuci adalah menghilangkan segala kotoran
yang kasat mata dari benda dan permukaan benda dengan sabun atau deterjen,
air dan sikat,
Kecuali menghilangkan
kotoran, pencucian 'akan semakin
menurunkan jumlah mikroorganisme yang potensial menjadi penyebab infeksi
melalui alat kesehatan atau suatu permukaan benda, dan juga mempersiapkan
permukaan
alat untuk
kontak langsung dengan disinfektan atau
bahan
sterilisasi sehingga proses dapat berjaJan secara sempuma. Jika tidak dicuci
lebih dahulu, proses sterilisasi atau OTTmenjadi tidak efektif.
Pada pencucian digunakan deterjen dan air. Pencucian harus
dilakukan
dengan teliti sehingga datah aUiu cairan tubuh lain, janngan, bahau organik
dan kotoran betul-betul hilang dan permukaan alat tersebut. Peralatan ypng
sudah dicuci, dibilas dan dikeringkan dahulu sebelum diproses lebih Janjut.

34

Pencucian yang hanya menggunakan air tidak dapat menghilangkan protein,


minyak dan partikel-partikel.
Deterjen dipakai dengan cara mencampurkannya dengan air dan digunakan
untuk membersihkan partikel dan minyak serta kotoran lainnya.
Tidak dianjurkan
untuk
menggunakan sabun
cud
biasa
untuk
membersihkan peralatan, karena sabun yang bereaksi dengan air akan
meninggalkan residu yang sulit dihilangkan. Hindarkan juga penggunaan abu
g090k karena akan menimbulkan goresan pada alar yang bisa menjadi tempat
bersembunyi mikroorganisme dan juga memudahkan terjadinya karat.
Tabel 7 : Cara Pencuclan Perala tan Menurut Jenlsnya

Jarum & Semprit yang

dtpakal ufang

Pisahkan io"""

& semprlt lolu cuci oengan deterjen dan air hangat untuk

mengl'olangkan

semua parokel yang rndeI<at

BerslhI<an bekuan darah atau janngan dengan menggunakan kawa!


halus yang dima1c.<ulckanke dalam Jarum

Pasang """'ballj.rum

& semprit dan bilas menggunakan air ber>ih

dengan cara dl semprotkan sedikitnya tig. kali

Pem.tikan ujung )arum untuk mem.slikan bahwa seluruhnya lelah


berslh, uju09ny. tldak bengkok dan tidak rusak

SanIng Tangan

Valdnkan bahwa pengaman dan huruf pada semprlt masih terbaca

Keringkan jarum dan semprit dengan ell angio-angi .... n

Untuk menghIndatI robek, pertaWkan sarong tangon dengan hatl-hali.


langan gunakan slkat dan selalu pisahkan dan perolatan yang lain

Cud sarung tangan dengan detet]eo dan air hangat

Bilas denQill10lr ber>ih sampal semua deterjen hllang

Cck adanya lubang pada sarung tangan deng.n menlupkan uda ... lalu
memega09ny. dalom air, atau mengisl sarung tangan dengan air 'olu
lihat apakah ada air yang keluar

Permukaan

Keringkan bagian diJlom dan Ioar dengan handuk/kaln yang berslh


atau
diangin-anginkan

Pennukaon meja, meja operasl, dlOOI09, lantai dan lalnnya vang


kernungkin.n terl<ontamlnaSi darah atau calran tubuh, harus segera
dldekontaminasi deng"n larutan KI"rin 0,5% selama 10 menlt

Setelah)O
lakukan
pencucian
dengan
deterjen
Bilas
deng.n menlt
air sampal
ber>ih,
kerlngkan
dengan
kain bersih

35

Dlslnfeksl dan Sterill ... 1


Seperti telah diuraikan pada Bab I gam bar I dan 2 bahwa infeksi yang
terjadi di saran a kesehatan salah satu faktor risikonya adalah pengelolaan alat
kesehatan atau cara dekontarninasi dan disinfeksi yang kurang tepat. Meskipun
tidak semua alat kesehatan yang digunakan dalam pelayanan medis kepada
pasien harus disterilkan, tetapi pengelolaannya hams dengan cam yang benar
dan tepat, dalarn hal ini harus diidentifikasi apakah alat perlu dieuei saja, atau
harus didisinfeksi atau perlu disterilkan. Penentuan tersebut tergantung pada
bagaimana alat tersebut akan digunakan dan juga ketersediaan sumber daya,
termasuk biaya.
Definisl dan Gambaran Umum
Seperti terlihat pada Tabel 4 dihalaman
31 tentang Pemilihan Cara
Pengelolaan Alat Kesehatan Sesuai Risiko Infeksi dan Jenis Penggunaan Alat di
halaman 29 dipaparkan bahwa pengelolaan alat dikategorikan menjadi 3, sesuai
risiko infeksinya yaitu tinggi, sedang dan rendah.
Riaiko Tinggl
Suatu alat termasuk dalam kategori risiko tinggi karena penggunaan alat
tereebut berisiko tinggi untuk
menyebabkan
infeksi apabila alat tersebut
terkontaminasi oleh mikroorganisme, atau spora bakterial. Alat tersebut mutlak
perlu dalarn keadaan steril karena penggunaannya menembus jaringan atau
sistem pembuluh darah yang steril. yang masuk kategori ini melipuli alat
kesehatan bedah, kateter jantung dan alat yang ditanam (implanl). Alat-alat ini
harus
dalarn
keadaan
steril pada
saar pembelianya atau
bila muogkin
disterilkan dengan otoklaf. Apabila alat tersebut tidak tahan
panas maka
sterilisasi dilakukan dengan etilen oksida atau kalau terpaksa apabila cara lain
tidak
memungkinkan,
dilakukan
sterilisasi
kirniawi
sepertt
dengan
glutaraldehide
2% atau
hidrogen peroksida
6%. Cara
tersebut
harus
memperhatikan persyaratan yang harus dipenuhi yaitu pencucian yang cermat
sebelumnya, kandungan zat organik, temperatur, dan pH.
Risiko Sedang
Alat yang digunakan untuk menyentuh lapisan mukosa atau kulit yang
tidak uruh, harus bebas dari semua mikroorganisme kecuali spora. Lapisan
mukosa yang utuh pada umumnya dapat menahan infeksi spora tetapi tetap
rentan terhadap infcksi basil tuberkulosa, dan virus. Yang termasuk dalam
kategori risiko sedang antara lain alat untuk terapi pernapasan, alat anestesi,
endoskopi dan ring diafragma. Alat berisiko sedang memerlukan paling tidak
disinfeksi tingkat tinggi, baik secara pasteurisasi
atau kimiawi. Pemilihan
proses disinfeksi harus mernperhatikan efek sampingnya, seperti klorin tidak
dipakai karena
sifat korosifnya.. Laparaskopi dan artroskopi yang dipakai
dengan menembus jaringan steril, idealnya harus disterilkan terlebih dahulu,
namun biasanya hanya dilakukan disinfeksi tingkat tinggi saja. Disarankan
agar sernua alat dibilas dengan air steril untuk
menghindari kontaminasi
dengan
mikroorganisme
yang
berasal
dari
air
seperti
mikobakteria
nontuberkulosa
dan L.egionella. Bila tidak tersedia air steril dapat dengan air

36

Masing-masing
disinfektan tersebut
mempunyai karakteristik
sendiri dan
tidak dapat saling mengganti satu sarna lain. Oleb karena itu para pengguna
perlu meneari
informasi dari maslng-masing
disinfektan
tersebut
untuk
dipelajari agar dapat memilib dengan tepa! dan memperoleh efektifitas yang
optimal. Pemiliban yang kurang tepat akan disinfektan atau konsentrasi yang
digunakan akan mengakibatkan
biaya yang terlalu tinggi dan efektifitas yang
rendah. Juga perlu dipertimbangkan
penyakit kulit yang mungkin timbul pada
para pekerja akibat pajanan
dengan diainfektan. seperti pada formaldehid,
glutaraldehid,
klorin, sehingga perlu menggunakan alat pelindung yang dapat
meminimalkan pajanan terhadap disinfektan dan menurunkan risiko tersebut,
Karakteristik

4.
5.

yan, idea)

!uas
6.
Membunuh kuman secara cepat
M
Tidak dipengaruhi faktor lingl<ungan,
yaitu tetap aktif dengan adanya zat
organik seperti darah, sputum, fesee,
tidak rusak oleb sabun, deterien, dan
zat kimia lain yang mungkin digunakan
bersama.
Tidak toksis
Tidak korosif atau rnerusak bahan

I. Bersektrurn

2.
3.

disinfektan

antimikrobiai pada
permukaan yang
diproses

7. Mudah pemakaiannya
8. Tidak berbau
9. Ekonomis
lO.Larul dalarn air
.
11.Stabil daiam konsentrasi aktifnya
12.Mempunyai e[ek pembersih

A. Dlainfektan Kimiawi

a. Alkohol
Merupakan disinfektan yang juga antiseptik bisa dalam bentuk etil alkohol,
atau isopropil
alkohol.
Bekerja cepat sebagai bakterisidal,
tuberkulosidal,
fungisidal.
dan virusidal,
tetapi
tidak membunuh
spora
baktcrial
pada
konsentrasi 60 - 90% dan efektifitasnya menu run tajam di luar konsentrasi
tersebut. Cara bekerja alkohol adalah dengan cara denaturasi protein. Alkohol
absolut
(100%) mempuyai efek bakterisidal lebih rendah dari alkohol yang
mengandung
air dengan
konsentrasi
seperti di alas, oleh karena
air akan
mempereepat proses denaturasi protein tersebut. Metilalkohol mempunyai efek
bakterisidal yang paling lemah, oleh karena itu tidak pemah digunakan sebagai
disinfektan.
Eti! alkohol atau isopropil alkohol kecuali merniliki efek bakterisidal juga
memiliki efek virusidal yang cukup kuat, yaitu dapat menginaktifasi virus dalam
waktu I menit. Isopropil a1kohol tidak efektif terhadap enterovirus non lipid. Eti!
alkohol maupun
alkohol juga efektif untuk virus hepatitis
B (HBV), herpes
simpleks (HSV), HIV, rotavirus, echovirus, dan astrovirus.

38

Alkohol tidak digunakan


untuk sterilisasi alat-alat medis atau bedab, oleh
karena
tidak
memihki
efek sporisidal.
Alkohol efektif
untuk
disinfeksi
termometer oral maupun rektal, juga serer optik endoskop. Tisu alkohol juga
sudah lama digunakan
untuk mendisinfeksi permukaan
kecil seperti tutup
karet botol obat dosis ganda, atau botol vaksin, sering juga dipakai pada
diainfeksi
permukaan
luar peralatan
seperti stetoskop,
ventilator,
manekin
resusitasi-jantung-paru
, atau dacrah suntikan.
Perlu diperhatikan
bahwa alat
halus seperti tonometer
bila terus menerus diusap alkohol setiap kali akan

mudah terbakar, oleh karena itu penyimpanan harus ditempat yang sejuk dan
berventilasi
Alkohol
cepat menguap
sehingga
sullt adalah
mencapaizat waktu
dipakai
dapatbaik.rusak
dan juga
berbahaya
bila dipakai.
Alkohol
yang
kontak yang lama pada konsentrasi efektifnya.
b. 100M dan Ikatan 100M
Hipoklorit adalah disinfektan yang telah digunakan
secara luas di rumah
sakit. tersedia dalam bentuk cairan (contohnya natrium hipoklorit] atau dalam
bentuk
padat
(contah:
kalsium
hipoklorit,
natrium
diklcroieoeianurat].
Hipoklorit memiliki aktivitas antimikrobial dengan spektrum cukup luas, murah
dan bekerja cepat. Sifat mikrobiosidal dari klorin dibawa oleh adanya klorin
bebas HOCI dan OCI. Larutan klorin yang berasal
dari tablet natrium
dikloroi sosianu rat (NaDCC) beraifat
lebih stabil
dan
memiliki
aktivitas
mikrobiosidal lebih besar dibanding dengan larutan natrium hipoklorit.
Care kerja klorin dalam mcmbunuh
bakteri belum sepenuhnya
dapat
dijelaskan, diduga dengan cara menghambat reaksi ensimatik yang esensial di
dalam sci, denarurasi
protein, dan dengan
eara inaktivasi
asam nukleat.
Konsentrasi aktif dari klorin dapat di lihat pada Tabel 5, Macarn-macam
dan Karakteristiknya di halarnan 3 L
Disinfektan
Maeam-macam
konsentrasi
klorin
seperti tertera pada tabel dibawah.

dapat

mcmiliki

Tabel 8 : ECek lOorin daJam Konaentraal

I,'

MUuoo.;.~

klonn

Mikoplasma dan bakterf

vegetatir

aereus

w.ktu
',.

25 ppm

Be~rapa detik

100 ppm

5 menit

Agen mlkotlk

1 jam

100 ppm

10 merOt

Beberapa macam virus


termasuk HIV, HOV.

200 ppm

10 meni!

Mycobacterium tuberculOSis

1000 PPM

S_

Salmonella

Pseudomonas ileroglnosa

_esuIs

39

berbeda,

yang Berbeda
. ,

"

biosidal

5 ppm)

Spora Badllus sUJcilN.


0

~tn...,ektif

efek

71

Sediaan klorin berupa cairan pernutih rumah tangga mengandung natrium


hipoklorit 5,25% atau 52.500 ppm klorin bebas, dengan pengenceran 1 : 999
akan rnendapatkan 50 ppm klorin bebas dan pengenceran 1 : 9 akan
menghasilkan 5000 ppm.

41

Klorin digunakan untuk dekontaminasi permukaan meja atau lantai seharihari atau setiap saat diperlukan. Juga dapat dipakai untuk dekontaminaei
tonometer. Untuk pereikan darah dianjurkan menggunakan klorin dari bahan
pemutih 5,25% dengan pengenceran I: 10 sampai I: I00. Cara ini akan
meminimalkan risiko petugas kesehatan terpajan oleh darah atau cairan tubuh
melalui alat yang terkontaroinasi. Efektifitas hipoklorit atau disinfektan lain
diturunkan seeara bermakna oleh darah, maka dianjurkan darah atau cairan
tubuh lain dibersihkan dahulu dengan lap atau kertas yang menyerap sebelurn
di dekontaminasi dengan cairan
hipoklorit 0,5%, atau
0.05%, atau
dekontaminasi dilakukan dua kali. Setidaknya diperlukan kontak dengar; 500
ppm klorin bebas selama 10 menit.
Sudah lama klorin digunakan untuk pengelolaan air (water treatmen~,
dengan cara hiperklorinasi untuk dapat membersihkan air limbah. Agar lebih
tahan lama maka larutan klorin disimpan dalam wadah plastik atau polietilin
yang kedap sinar.
c. Formaldehid

Formaldehid digunakan sebagai diainfektan dan juga untuk sterilisaei baik


bentuk cair ataupun gas. Di pasar formaldehide dijual dalam bentuk
cairan yang disebut formalin, yang mengandung formaldehid 37% dari beratnya.
Formaldehid memiliki daya bakterisidal, tuberkulosidal, Iungisidal, virusidal
dan sporisidal, namun juga bersifat karsinogenik, sehingga petugas kesehatan
harus membatasi din kontak dengan formaldehid tersebut. Keadaan tersebut
juga membatasi peranan forlmaldehide sebagai bahan disinfeksi ataupun
sterilisasi.
dalam

Cara kerja formaldehid adalah melalui reaksi alkilasi asam amino atau
protein. Mikroorganisme yang rentan terhadap formaldehid adalah virus polio
(dalam konsentrasi formaldehid 8% selama 10 menit), naroun kebanyakan virus
lain hanya perlu formaldehid 2%, M. tuberculosis, S typhi-(2 menit), Bacillus
anthracis (2 jam).
Meskipun formeldehid-alkohol dapat dipakai pada sterilisaei kimiawi dan
formaldehid pada disinfeksi tingkat tinggi, namun karena etek iritasi dan
karsinogeoik serta memberikan bau yang sangat merangsang maka tidak
lagi dipergunakan.
Penggunaan formaldehide saat ini terbatas pada p
pembalsam jenazah,
pengawet kadaver untuk
kedokteran.

mahasiswa
Paraformaldehid, bentuk
padat polimer dari formaldehid yang mudah
menyublim pada suhu tinggi, dipakai untuk dekontaminasi laminair flow dan
bicJlogicsafety cabinet pada saat-saat tertentu.

40

dalam kantung tersebut yang dapat mencemari lingkungan. Namun hal tersebut
temyata tidak mengurangi angka kejadian bakteriuri yang berhubungandengan
pemasangan kateter (infeksi nosokomial).
Meskipun H202 dalam konsentrasi 6-25% dapat digunakan untuk sterilisasi
tetapi tidak diterapkan
pada endoskop karena akan merusak alat tersebut
akibat oksidasi yang terjadi.
.
f. Yodofora
Dahulu dikenal larutan yodium atau tingtur sebagai antiseptik
atau jaringan,
kini dikenal yodofora yang dapat dipakai sebagai
maupun disinfektan.

bagi kulit
antiseptik

Yodofora adalah kombinasi yodin dan zat pelarut, yang menghasilkan suatu
ikatan yang dapat melepas cadangan yodin secara berkelanjutan dengan sedikit
yod bebas dalam larutan air. Yang saat ini populer adaJah poviodin yodin, suatu
ikatan
polivinilpirolidon
dengan
yodin. Larutan
ini disukai
karena
tidak
meninggalkan bercak dan tidak toksik maupun iritatif.
Yodin dapat menembus dinding sel mikroorganisme
kerusakan protein dan asam nukleat sehingga sel mati.

secara

cepat,

terjadi

Mikroorganisme yang rentan terhadap yodofora adalah bakteri, mikobakteria


dan virus, untuk fungi dan spora memerlukan waktu kontak yang lebih lama.
Selain sebagai
dalam konsentrasi

disinfektan yodofor juga


yang lebih rendah.

dipakai

sebagai

antiseptik

namun

g. A.am Parasetat
Asam
parasetat
atau
asam
peroksiasetat
mernpunyai
kemampuan
membunuh kuman
seeara cepat termasuk spora daJam konsentrasi
rendah.
Keuntungan dari asam parasetat ini adalah tidak ada zat sisa yang berbahaya
bagi lingkungan
(asam asetat,
air, oksigen dan hidrogen peroksida), tidak
meninggalkan residu serta tetap efektif meskipun ada zat organik dan spora,
dan dalam suhu rendah.
Asaro parasetat dapat menimbulkan
korosi atas
tembaga, kuningan,
perunggu, baja, dan besi galvanis, namun
efek dapat
dikurangi dengan mengubah pH lingkungan. Sayangnya tidak stabil, terutama
bila diencerkan,
contohnya,
larutan
1% akan kehilangan kekuatan
hingga
separuh dalam waktu 6 hari sedang larutan 40% hanya kehilangan kekuatan
1-2% saja setiap bulannya .
. Cara kerja belum diketahui dengan pasti, namun diduga seperti zat oksidan
lain, yaitu dengan
denaturasi
protein,
merusak permeabilitas
dinding sel,
mengoksidasi ikatan sulfhidril - sulfur dalam protein, enzirn, dan metabolit lain.
Mikroorganisme yang rentan bakteria Gram-positif, bakteria Gram-negatif,
fungi, dan yeast (5 menit dalam 100 - 500 ppm), virus (12- 2250 ppm), spora (15
detik - 30 menit dalam 500 - 10.000 ppm).
Kombinasi asam parasetat dan hidrogen peroksida dipakai untuk disinfeksi
alat hemodialisis. Oi Amerika untuk disinfeksi alat kesehatan medis, bedah dan
gigi dipakai mesin otomatis yang menggunakan asarn parasetat.

42

h. Fenol
Fenol telah berperan
lama dalam perumah
sakitan, yaitu sejak Lister
mernpelopor i praktck bedah antisepsis. Nama yang dahulu populer adalah asma
karbol atau
liso!. Namun telah banyak
mengalami perkernbangan
dengan
mengganti satu atom hiclrogen dari cincin aromatiknya
dengan bahan aktif
seperti alkil, fenil, benzil, halogen. Derifat fenol yang banyak dipakai sebagai
disinfektan
di rumah
sakit
adalah
orto-fenil-fcncl
dan
orto-benzil-paraklorofenol atau heksaklorofen yang merupakan disinfektan kuai.

Fencl dalam konsentrasi linggi bekerja sebagai zat racun yang menembus
protoplasma,
merusak
dinding
sel dan menggumpalkan
protein
seI. Pada
konsentrasi
rendah
turunan
(enol membunuh
kuman
dengan
menghambat
kerja ezim dan menyebabkan kebocoran hasil metabolisme sel melalui dinding
sel.
Turunen fenol efektif untuk semua
Efektifitas terhadap virus bervariasi,

bentuk mlkroorganisme
contohnya
fenol tidak

kecuali
efektif

spora,
untuk

HJV.

membunuh
untuk

virus

coxsackie

84, echovirus

1]

dan virus polio

1, namun

efektif

Kombinasi turunan
fenol dengan deterjen digunakan untuk dekontaminasi
lingkungan rumah sakit, termasuk
permukaan meja, lantai laboratorium dan
aiat kesehatan risiko rendah lainnya. Fencl tidak dianjurkan untuk disinfeksi
alat kesehatan risiko sedang dan linggi oleh karena meninggalkan residu, lebihlebih pada bahan yang berpori yang akan mengakibatkan
iritasi kulit atau
jaringan meskipun telah dibilas dengan sebaik-baiknya.
Pemakaian deterjen
fenol di kamar bayi juga patut dipertanyakan
karena
sering menimbulkan
hiperbilirubinemia
pada bayi yang dirawat, sehingga tidak
dianjurkan untuk disinfeksi ember mandi, inkubator maupun meja rawat bayi.
Untuk pembersihan lantai harus diencerkan sesuai anjuran pabriknya

g. lkatan Amonlum Kuartemer


Ikatan amonium kuartemer
adalah disinfektan tingkat rendah. lkatan ini
adalah bahan pembersih yang baik tetapi bahan tenun akan menyerap bahan
aktif yang ada sehingga menurunkan
efektifitasnya secara bermakna. Beberapa
bahan
kimia ikatan
amonium yang biasa dipakai
di rumah
sakit adalah
alkildimetil-benzil-amonium-klonda,
alkil-didesil-dimetil-amonium-klorida.
Ikatan ini mempunyai efek bakterisidal,
fungisidal, dan virusidal
(virus
lipofilik]. namun tidak ada efek sporisidal dan tuberkulosidal.
Ikatan ini hanya
digunakan
untuk
kegiatan
sanitasi
lingkungan yang biasa seperti
lantai,
. perabot rumah tangga, dan dinding.
B. Cara Dislnfeksi lain
Q.

Radlasl dengan Sinar mtra

Violet

Tidak isolasi
ada data
rnendukung
efektifitas Radiasi
violetinfeksi
(UV)
atau yang
di kamar
bedah. Dinys.takan
bahwa I';inar
angka ultra
kejadian
diruang
luka operasi tidak terpengaruh sarna sekali oleh penggunaan sinar UV tersebut.
Sinal' ultra violet (UV) merusak
DNA. Efektifitas sinar UV dalam membunuh

~
~
~
~

43

mikroorganisme di pengarubi oleh panjang gelombangnya bahan organik, jenis


media, suhu, jenis mikroorganisme, dan intensitas sinar UV. lntensitas Sinar
UV sendiri di pengaruhi oleh jarak dan kebersihan tabung sinarnya. Panjang
gelombang yang paling efektif adalah 240-280 nm, yaitu panjang gelombang
yang maksimun diserap oleh DNA. Satuan enersi yang dipakai adalah dalam
mikrowat/luas
pajanan, dan dosis yang diperlukan untuk dapat membunuh
bakteri adalah
1800 - 6500 mikrowatt/cm2.
sernentara spora membutuhkan
dosis 10 kalinya. Sinar UV terutama hanya digunakan untuk mengeridalikan
infeksi yang ditularkan melalui udara pada ruangan kult.ur jaringan,
Sinar UV tidak dapat menernbus cairan dan mernpunyai
efek sam ping
merusak retina dan sel berrnitosis sehingga tidak diperbolehkan
bekerja di
bawah sinar UV. Selain itu sinar UV juga bersifat mutagenik.
b. Pasteurisasl
Pasteurisasi
bukanlah
proses
sterilisasi,
tujuannya
adalah
merusak
mikroorganisme patogen yang rnungkin ada tanpa merusak spora bakteri, Suhu
dan waktu yang digunakan pasteurisasi biasanya adalah 77"C dalam 30 rnenit.
Sebagai alternatif dari disinfeksi kirniawi bagi alat terapi pernapasan
dan
anestesi.
Disinfeksi dengan air panas ini ternyata
dipakai ulang. Di sarana kesehatan biasanya
77'C.

efektif untuk alat anestesr


dilakukan dengan merebus

yang
pada

c, Mesin Disinfektor (Flushing and Washer Disinfectors)


Mesin pencuci tersebut adalah alat yang dirancang untuk bekerja seeara
otomatik dan tertutup, biasa dipakai tl:ntuk mencuci atau mernbersihkan dan
disinfeksi alai dari pispot. waskom hingga alat kesehatan
bedah dan pipa
anestesi. Benda seperti pispot dan urinal dapat di bersihkan dan di disinfeksi
dengan flushing
disinfector {spoel hok} tersebut. Alat tersebut bekerja dalam
beberapa menit untuk
setiap putarannya.
Pertama pembersihannya
dengan
guyuran air hangat, ada pula yang menggunakan deterjen kernudian disinfeksi
dengan air panas 90C atau uap. Dengan demikian tidak perlu lagi menyentuh
perala tan seperti piSPOI dan urinal dengan tangan. Sehingga mernerlukan alat
sekali pakai atau zat disinfektan kimia lebih sedikit. Alat bedah dan anestesi
yang lebih sulit proses pembersiharmya dapat dikerjakan dengan menggunakan
Washer Disinfector dan bila menggunakan deterjen akan makan waktu sedikit
lebih lama kira-kira 20-30 menit. Mesin tersebut juga menggunakan air panas
kira-kira 90C.
2. Dlslnfeksi Tingkat TiDggl (DTT)
Disinfeksi tingkat tinggi (OTI) merupakan altematif penatalaksanaan
alat
kesehatan apabila sterilisator tidak tersedia atau tidak mungkin diJaksanakan.
DTI dapat membunuh semua mil<roorganisme termasuk virus hepatitis B dan
HIV, namun
tidak dapat mernbunuh
endospora dengan
sempurna
seperti
tetanus
atau
gas gangren.
Pada situasi
dirnana
tetanus
masih
sering
diternukan, semua peralatan harus disterilisasi.
Selarna masih dapat
tingkat tinggi (DTI)

melakukan

sterilisasi

44

jangan

lakukan

disinfeksi

Prosedur 13 : DIT dCDgkD Bkhan Kimia


PeraIa""n

_1iIi

Dekontaminasi clan CUd alat kesehiltan yang akan dI orr clan keriogkan ak dan alat kesehatan, karena

PrOMd"r

.iI

~, ~ .

olat
yang basah nceri<an
dap
menge

r,r;

""

~ like

...

menggunakan

at

larullln desln(ektan clan dapat mengurangi cfektifitas.

larutan glutaraldehyde:

Slapkan glutaraldehyde sesuai d<!ngan InstrukSl cIa~ pab<tk; atau gur>akan larutan yang sudah dlslapl<an
sebelumnya, sepanjang masih lampak jernlll (tldak ke",h) clan befum meJewati betas waktu efektif.

Tempall<an larutan clalam wadah ber>ih yang ada tutupnya. TlJIiskan tanggal penyfapanlarutan dan t~1
kedaluwarsanya.

llka mengllunakan

larutan khlorln :

LaMan baru harus disiapkan setlap han (bahkan Iebih c:epa1. ~ka IanJtan menjadi keruh). Siapkan larutan

clalam wacIah yang ada turupnya.

Pisahkan peralatan yang terdiri dan beberaJ'B baolan, buka tvtup (kalau ada). Rendam alat kesehatan
sedemlkian rupa, seIIlngga selun.hnya Wacla (libawall ~ukaan

larutan. Tempall<an mangkuk dan

wadah menghadap ke etas, bukan ke bawah dan dilsllaruta.n.

Tutup wadall dan bla",an alat kesehatan terendom selama 20 meniL langan mengambil etau
menambahkan peralatan dalam kurun waktu Inl.

Keluarkan alat xesenatan dangan penjepit yang telall dl orr dan kenng.
Bllas dang.n air yang te!ah dididihkan, unwk menghllangkan slsa-5Isa larutan klmla pada peralatan,
bahan resou Inl bersttat toI<sikterhadap kullt clan jarlngan.

Gunakan peralatan segera atau disimpan clal.m wadah yang

telah di orr dalam keaclaan kenng dan

wtIltup palong lama 1 mInggu.

Inll.t : larutan khlorin tidak bisa dlgunal<an untuk orr

46

peralatan iaparosIoopI.

Prosedur 14: OTTSarung Tangan dengan Uap

lsi dandang paling bawah dengan air, tempatllan Mgsan I kukusan dlatasnya.
Lipat sarung tangan berpasangan, baglan pangkal dlbai!k unwk menyatukan. lsi 515 pasang sarung
tangan pada satu nampan, jika dlatur daJam 2 lapisan atau leblh, tumpuk secara silang untuk
memungkinkan

aUran

uap

... Tutup dandanq dan panaskan sampal


Pertahankan

sampai 20 rnenit, gunakan timer untuk mencarat,

lepaskan nampan yang beris> sarung tangan, govangkan untuk membuang keleblhan air. Jangan
meletakkan oamoan laogsung (selalu diatas namapan air) karena ada lobang yang memungklnkan
kontamlnasl.

gunakan paling lama 1 mlnggu.

It
It

It
It
It

It

Air mendidih dltandai dengan kctuamYiI vap dal\ tutup,

It

It

rnendidih.

kecilkan api, jaga agar uap masih tetap keluar (Ianda masih mendidih).

semua oermukaan.

Letakkan nampak bensi sarung tangan dialas angsan.

It
It

mengenai

Gunakansegera, atau biarl<ankenng dludara selsma 46 Jam

Penyimpanan : Simpan datam nampan yang ditutl:~, arau simcan dalam wadah yang telah di OTT dan

3. Sterilisasi
SterUisasi
adalah suatu
proses untuk
menghilangkan seluruh
mikroorganisme dari alat kesehatan termasuk endospora bakteri. Sterilisasi
biasanya dilaksanakan di rumah sakit baik secara fisik maupun secara kimiawi.
Cara dan zat yang sering digunakan unt uk sterilisasi di rumah sakit adalah uap
panas, bertekanan, pcmanasan kering. gas ctilin oksida, zat kimia cair. IsWah
steril rnengandung arti rnutlak berarti semua bentuk dan jenis mikroorganisme
betul-betul musnah. Ada zar kirnia yang dapat rnernbunuh sernua jenis dan
bentuk mikroorganisme. Bila masa kontak dengan bahan kimia tersebut lebih
singkat maka hanya sebagian mikroorganisme saja yang mati dan proses
tersebut disebut disinfeksi. Jadi tidak ada istilah 'semi steril".
Sterilisasi adalah proses pengelolaan suaru alat atau bah an dengan tujuan
mematikan semua mikroorganisme termasuk endospora. Sterilisasi adaJab cara
yang paling aman dan paling efektif untuk pengelolaan alat kesehatan yang
berbubungan langsung dengan darah atau jaringan di bawah kulil yang secara
normal bersifat steril.

t
t
t

47

Macam-macam

aterillsasl

Sterilisasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara :


c

fislk, seperti pemanasan atau radiasi, filtrasi

klmlawl,

menggunakan bahan kimis dengan cara merendam (mis.: dalam


larutan glutaraldehid) dan menguapi dengan gas kirnia (di antaranya dengan
gas etilin oksida)

A. SterUlsasl

secara fisik

a. Pemanasan
basah - uap panas bertekanan tinggi (otoklaf). Sterilisasi terjadi
melalui koagulasi dan denaturasi protein. Perlu diingat di sini babwa
merebus bukan cara untuk sterilisasi, namun cara untuk disinfeksi.
Sterilisasi dengan otoklaf adalah cara yang paling efisien karena suhu yang
dicapai melebihi titik didih air, yaitu setinggi 121'C dengan membutuhkan
waktu sterilisasi selama 20 menit - 30 menit, dihitung sejak .tt:rcapainya
suhu
121C. Untuk mengawasi kualitas sterilisasi maka digunakan
indikator spora tahan panas seperti: Bacillus stearothennophilus. Sterilisator
harus dikalibrasi setiap 6 bulan.
Pemanasan

kering-dryheat,
menggunakan oven, sinar infra
Sterilisasi terjadi melalui proses oksidasi dan denaturasi protein.
Pemanasan

merah.

Pada pemanasan dengan oven dibutuhkan panas setinggi 150- 170C dengan

waktu yang lebih lama dari otoklaf. Sebagai gambaran untuk mematikan
spora dibutuhkan waktu 2 jam dengan suhu 180C

Prosedur sterilisasi panas basah dan panas kering dapat dilihat di halaman
34142
b.

Radlasl

Radiasi dengan menggunakan sinar Gama, namun cara ini tidak sesuai
untuk sterilisasi skala kecil seperti rumah sakit, apalagi puskesrnaa karena
sangat mahal. Cara ini hanya digunakan untuk industri besar dalam jumlah
besar, seperti jarum suntik dan semprit sekali pakai, alat infus.
e.

Penyarln,gaD

(Filtrasl)

Merupakan cara yang dipakai untuk larutan yang tidak tahan panas seperti
serum, plasma, atau vaksin. Sterilisasi ini menggunakan saringan atau filter
yang terbuat dari selulosa berpori. Ukuran penyaring untuk sterilisasi
adalah 0,22 11m,yang berarti lebih kecil dari bakteri.

48

41

Prosedur 16 : Sterillaaai Fisik dengan Uap panal kering

Oven IIstrik

Bahan pembu1l9kus da~ alimunJum fOil atau kaln katun

Nampan tahan panas

Hanya peratatan yang !:emua! dan kaca tahan panas dan logam yang dapat dlsterillsasl dengan cara inl.

i:p~lir

,.,

Oekontamlnasl, 0Jd dan keringkan semua aJat kesehatan dan perolotan yang !kan dlsterllisasl

Bungkus aJat kesehatan atau peralatan lain dengan allm\Rllum foil atau dua lapiS katon/kaln, atau taNh
peralatan yang tidak dlbungkus pade nampan, atau taNh peralatan pada Vladah logam.

Karena sterilisasi panas bel<elja de1l9an menlngkatkan sohu saluM peralatan, maka tidek perlu uotuk

Letakan alat kesehatan dalam

oven dan panaskao sampat temperatur yang dilglnkan. Gunakan suhu dan

170"C (340'F)
160'C (3200f)
150'C (3000f)

2
J
2

140'C (28S'F)

Katerancan

Waktu dimaksud adalah lamanya panas mencapai tingkat yang dilnginkan. Pada
kenyatsan, untuk sterilisasi ini mungkin dibutuhkan waktu 2 kali lipat, yaitu waktu
untuk mencapai suhu yang diinginkan dan waktu yang dibutuhkan
untuk
pendinginan.

Jangan mensteritisasi jarum dan benda :s,jam lainnya pada sum, lebih dari 160C
karena dapat membuat tumpul

Biarkan alat kesehatan dan peralatan menjadl ding!n sebelum d!ambU. Ounakan alat
ateril untuk mengangkat peraletan yang tJdak dibungkua.

Segera dlpakai atau disimpan

Simpan alat kesehatan dalam wadah eteril, kerlng dan terrutup. Untuk peralatsn
yang dibungkus, tetsp sterll selama bungkuanya tetap utuh dan kering. Untuk
peralatsn yang tidak dibungku8 gunakan sebelum 1 mlnggU.

50

Prosedur

17

BteriU.asl C1.ik dcngan Cairan

PenlaPlin
a
I

cairan (misalnya air) hanya c!apat dlsterilkall dongan otoklaf,

Udak dapat dong"n panas kering atau

menggunal<anba han klmla,

"

Cairan haNs <isterilkan terpisah c!arI peraiatan lain, mlsalnya alaI kesehatan dan linen

it . ,.

Prosedur

TempatklJn calrsn dalam boItlI yang terouat dart kaca rahan panas (mlsaJnya Pyrex) dengan b.JtUp,

clan IakuIcan steriI1sasI pada


106 kPa 11 atm).

yang

temperaILl' dan lekanan

bIasa digunalcan(121"(/25001)

pada telcanan

Waktu yang dlbutuhkan unwk melakulcan stcrlllS<lsldlpengar\Jhl o!eh banyak taktor, yang tcrpenting
adalah VOlume<airan yang distl!rllkan.secera umum woktu yang cisaranl<anadalah sebago; benkul ;

Volume cal,.n
75100 ml

20 mernt

250-500 mI

25 menlt

1.000 mI

30 menil

1.500 ml

35 menlt

2000

Waktu StertU1U14

mI

~Omenll

BegilUsterilisasl seIeSaI, telcanan dlturunkan dengan pertahanlahan, paling S<!dlkldt alam 1015 meoil
Penur\Jnan tekanan secara mendadok dopat menyebabkan calran mendidih dan dapat menyebabkan
IU!UPbotol ter1empar atau boto! meledak. Bulca

tutup otoklat sedlklt dan blarkan calren menjadl

dJngln (kurang lebih )0 mentt) sebelum d,keluarkan.

B, SterUi ... i Idmiawi


Bahan

kimia

yang

sering

larutan clutaraldehfd dan


mahal

dan dipakai

untuk

digunakan

,aI

untuk

sterilisasi
di antaranya
adalah
(ETC). Bahan-bahan
ini sangat
bahan-bah
an yang tidak tahan panas.

etUen ouida

mensterilkan

a. Glutaraldehid
Larutan
glutaraldehid
2% digunakan
urnuk merendam
alat kesehatan
[rnis.
Cidex
) selama
8-10
jam,
kemudian
dibilas
dengan
air
sterll.
Selain
glutaraldehide
dapat
pula
menggunakan
laru Ian
formaJdehid
8% selama
minimal
24 jam.
Harga
formaldehid
lebih murah
tetapi
lebih toksik.
Kedua
maeam zat kimia tersebut
juga mengiritasi
kulit, mata dan juga saluran
nafas,
Cide,," (yang mengandung
glutaraldehid)
merupakan
larutan
yang umum
lersedia
untuk
proses
sterilisasi.
Ketika
mensterilisasi
dengan
larutan
ini
pakailah
sarong
tangan,
batasi
waktu
kontak
dan lakukan
sterilisasi
pada
ruangan
dengan
ventilasi
yang baik. Umur efektif glutaraldchid
yang tersedia
dipasaran
berkisar
antara
1430 han (periksa
instruksi
dari pabrik}.
Larutan
hams segera diganti setiap saar, begitu warnanya menjadi
kcruh.

51

Beberapa hal yang perlu diingat dalam melakukan sterilisasi kimia, antara
lain formaldehid merupakan
senyawa karsinogenik dan bersifat
iritatif berat
terhadap
kulit,
mala,
hidung,
dan saluran
pernafasan:
Oleh karena
iru
pemakaian
rutin
dari Iorrnaldehid untuk
sterilisasi
alat kesehatan
atau
peralatan lain sudah tidak dianjurkan lagi.
Selalu gunakan

sarung

tangan

ketika bekerja dcngan

larutan

kimia

Sterilisasi dengan cara perendaman dalam bahan kimia tidak dianjurkan


karena hasil aterilisasi tidak dapat dimonitor seeara biologis.

Alat yang telah disterilkan harus diperlakukan


seeara khusus
yaitu:
disentuh secara aseptik, dibilas dengan air steril, dikeringkan dengan
hand uk steril, harus segera dipakai kalau tidak dapat dibungkus atau
disirnpan dalam wadah steril

b. Gaa Etilln okaida


Etilin oksida adalah gas racun yang efektif unluk dipakai sebagai bahan
sterilisasi. Memerlukan pembersihan alat yang sangat teliti. sampai ke bagian
yang sekecil-kecilnya, juga harus betul-betul kering, karena kalau tidak maka
akan terbentuk lapisan
etilin glikol yang sangat toksik di permukaan
alat
tersebut. Diperlukan penghawaan yang cukup, minimal selama 12 jam sejak
selesai proses, guna membuang gas bebas yang toksis. Dapat digunakan pada
semua alat atau bahan yang tidak tahan panas. Alat yang biasa disterilisasi
dengan gas ETO tsb, adalah a1at yang terbuat dari bah an dari karet, poli-etilen
dan plastik, barang elektronik dan kabel, alat kesehatan optik dan suku cadang
mikroskop.
PersyarataD

u,Dtuk sterWsasl

Kelembaban

gaa ETC

20 - 40% kelernbaban

relatif

Kepckatan

540 mg/liter- 900 mg/liter

Ternperarur

50C

Siklus dan waktu

penghawaan:

16 jam

52

Proaedur 18 : Sterillsasi Kimla Glutaraldehld

R.... I.pan

,""-

,
'

",~~-

.;.

~;-;-

";

OeI<onlamlnasi, cud dan kenngkan semua alaI _tan


dan alai lain yang akan dlsterillsasi.
Air dart alat lcesehatan yang basall meogencerlcan 1<epekatan lorutan, sehingga dapat menurunkan
efektifitas proses sterilis"sl

Larutan glutaraldehid atau larutDn klmla lalnnya


0

Wadah val1(l be<sih b<!rtutuo

Pros.dur
0

0
0

..,

Y,'

'.;'

Slapl<an glutaraklehid atau laMan Iomla I.. nnya sesuai dengan InstruIcsi dan pabril<, alau gunakan
laMan yang sudah clisiapkan sebelumnya, sepanjang masln tlImpak jemih (tidak keruh) dan belum
melewad batas waktu efektif
Te01patkan larutan dalam wadah berslh. Tuliskan tanggal penylapan larutan dan ta"9gal
kadaluwarsanya.
Pisahluon peralalan yang lel'dlrt dM beberapa bagian. buka tIJlUpnya (kalau _)_
Rendam alaI kesehatan atau peratalM sedemw.n rupa. sehlngga sellIruhnya _a
dibawah
permOOan larulan.
Tempatkan mangkuk dan wadah mer,~had~p ke atas, bukan ke bow"h dan dilsi larutan.
Lama perendaman disesuaikan dengan Instruksi pabrlk. Sec.no umum untuK larutan glutaraldehid,
tutup wadah dan blarkan peralatan Icrendam paling tldak selama 10 Jam.
Jangan menambahkan atau mer.gambll ala! kesehatan begllu perhltungan waktu suda" dlmulai.
AmbWalat keseilatan dengan menggunakari forsep yang sterU dan cukup besar,
BlIas dongan air steril van 9 diaUrlcan. untuk mengIliIangkan resldu yang dItinggalkan oIeh larutan kimla.
.I'" be<sifat (Oksik untuk Wit dan jaringan 1aOmya.
catatan : air yang telah dldldlhkan bukan merupakan afr stertl, karena proses pendkllhan
tidak menjamln lerbunuhnya semua endospora.

PemlUhan Can Sterillanl

Pemilihan cara sterilisasi bergantung pada jenis dan tujuan alat yang akan
disterilisasi, Contoh:
"

Alat jenis keras dan digunakan intravena atau memasuki rongga tubuh
misalnya alat bedah, disterilisasi dengan uap bertekanan tinggi, ETO,
larutan glutaraldehid; Blat yang keras dan tidak mudah berkarat dengan larutan glutaraldehid 8-10 jam, larutan klorin dioksida 6 jam,
larutan hidrogen peroksida 6% atau asam parasetat,

ICateterjbahan karet dan plastik dengan ETO

Cara steritisasi pemanasan basah dengan otoklaf atau dengan uap


bertekanan (dapat dilakukan dengan pressure cookerj, harus memperhatikan
kering
kering. Cara yang dianjurkan baik pada pemanasan baaah atau
besar tekanan, ternperatur dan lamanya. Beglru pula pada sterilisasi dengan
pemanasan
tertera pada tabel berikut.

53

Tabel 9 : Cara sterillsui

dengan uap bertekaflRn dan pemanasan

10
15
20
30

kerlng

116
121

30
20

126

10

135

Sila steMl1sas1dengan pemanasan basah tidak memungkinkan, dapat dilakUk.an


disinfeksi tingkat tlnggl de~gan perebusan dalam air mendidih selarna 20 menit
Peman.",,"

kering (conb)h : oven IIstrlk atau gas)

160
170

120
60

180

30

Keterangan:
psi: pound per square Inch (Ib/sq In)

pada keIIngglan yangleblh. lekanan yang terllhat pada alat uleurdapat leblh tlnggl darl pada tekanan pada
temperatur yang tertera pada lobel dlatas
Seluruh waktu yang dibu!J.lhkan untuk ster\lIsast dengan otoklaf. tenmasuk waKtu Ufltuk mencapai
temperatur yang dlpersyaratkan "ntuk sterlllsa~. lama sterillsasl dan lama pendlnginan sebelum dibuka.
dapat mencapai leblh darl90 menll Sebaiknya 151otoklaf tldak leblh darl 75% kapasllos makslmtll.

Pemantauan

Proses SterUi ... l

Pemantauan proses sterilisasi dapat dibagi dalam 3 cara yang berbeda:


Cara Meunis

: gambar atau grafik suhu dan waktu, dalam bentuk tercetak

Cara Kimlawl

: pita, bilah atau pi!. yang peka terhadap waktu/

Cara Blologl.

: bilah atau botol kecil berisi spora

atau kelembaban

suhu dan/

Ada silang pendapat tentang pemantauan proses sterilisasi cairan, Pada saat
sekarang pemantauan secara biologis untuk proses sterilisasi cairan kimia
dengan menggunakan cara konvensional tidak mungkin dilakukan.
Pemantauan secara mekanis dan seeara kimiawi semata-rnata merupakan
indikator seeara visual bahwa waktu, temperatur, dan tekanan yang
dipersyaratkan untuk proses steril telah tercapai.

54

Tabel 11 : Can Pencelolaan Alat Ke.ehatan tertentu

-.-BronkOSkOpi : N..

Longklh

.,,_
..

tJJo.miIosis,

_lmiall1l*

&
a

lUlU _

Ilri dengan uelm


bo<te_ .,.;alIA

pij)a

LoPlro,I<opl dan

II1I'OII<Dt>

Semen_ Inl d"epalcatl cukup dengan dlslnl'el<slunokat unggl

,..;w <Ienoln proses ~

_n
~
::IIIi'Jgm

0JIcup eltICtt .....

II ..... AQOknyl glubltaldehld 2%


IoJmIn yong sortng ....

a,

alat
Tonometer, rtno

tdMcMt\JS, HIV

Virus herpes Slmpleks,

Ujung alat kO~t:an

harus dit_apbers'~,

DIs:nfcksl se14m1t()-1S m~1t dengan sa"h satu dlsfnfekUln dl


bawall

C_Bdwl

_5000

pen>Ic$Ida 3'10

ppm

, etilllkollOl 70'110
ISOJlf~ltllk_

-~

AI

.t nslko unggl

70%

meta .. denoon air

Keduanva hIM dl!.1El1llsasJlcaseaap 1aI1i halliS lfipakal ltau

otoudlptkll

cAb.uang. Alit"VJt)g tidak tahan panas d"n tktak dapat cJi@'p.lS

_5

sebalknYll Udlk dlp_ka~

torseP. sca.lpd,

_,

dI/$<I, .<aIeI;bor

OiSlrltksl kI_1

_.

AIM rtsIkD

unwk_

Udak dlanjUJ1<ln untuk perala .. n glgi. Yong

_1oom9-

-l'II:

cIIan)obft -

Ju9t

BIIn -.

01_

panH"""_'

_.

uap

a1at~atMInl.

semprtt air

Alat yang Udlk .. No pano. haNS dldlSlnfeksi ""ap gand


paslE!tf

.......

-yong
..",.,

tonPi Mup
seperU tombol

tombol, senter

AlItyong

H8V,

Ilia cIIopIs d4ngIn _


hadhad digor<j _

_terseb<Jt

HIVdan

tedop lit mo1aI selJIJung diIepao


ganti pageo. <lin
n yang

Ud_k perlu dld15lnr~ pad

gaod

pasieo namun hl.nJS tetap dk;il$lntek.sl pad, saat ilkhlr.

tuMmlla$l$

DISinrekSltlngbt tll'llOl culwp oIel(tJf unruk membunuh kAt ago


J<!nIS Hi~nI5me

56

b!1>eb<Jt.


f
f
Perlu diperbatikan dengan cermat ketika menggunakan jarum suntik atau
benda tajam lainnya. Setiap petugas kesehatan bertanggung jawab atas jarum
dan alat tajam yang digunakan sendiri, yaitu sejak pembukaan paking,
.penggunaan, dekontaminasi hingga ke penampungan semen tarn yang berupa
wadah tahan tusukan, Untuk menjamin ketaatan prosedur tersebut maka perlu
rnenyediakan wadah limbah. t~am/tempat pembuangan alat tajam di setiap
ruangan, misalnya pada ruang tindakan atau perawatan yang mudah dijangkau
oleh petugas.
Seperti prosedur pengelolaan alat kesehatan lainnya maka petugas harus
selalu mengenakan sarung tangan tebal, misalnya saat mencuci alat dan alat
~am.
Riaiko kecelakaan sering terjadi pada saat memindahkan alat tajam darl
satu orang ke orang lain, oleh karena itu tidak dianjurkan menyerahkan alat
tajam secara Iangsung, melainkan menggunakan teknik tanpa sentuh (hands
free) yaitu menggunakan nampan atau alat perantara dan membiarkan petugas
mengambil sendiri dari tempatnya, terutama pada prosedur bedah. Risiko
perlukaan dapat ditekan dengan mengupayakan situasi kerja dimana perugas
kesehatan mendapatkan pandangan. bebas tanpa haJangan, dengan cara
meletakkan pasien pada posisi yang mudah dilihat dan mengatur sumber
pencahayaan yang baik. Pada dasarnya adalah menjalankan prosedur kerja
yang legeartis, seperti pada penggunaan forsep atau pinset saat mengerjakan
penjahitan.
Kecelakaan yang sering terjadi pada prosedur penyuntikan adaJah pada saat
petugas berusaha memasukkan kembali jarum suntik bekas pakai ke dalam
tutupnya. Oleh karena itu sangat tidak dianjurkan untuk menutup kembali
jarum suntik terse but melainkan langsung saja di buang ke tempat
penampungan sementaranya, tanpa menyentuh atau memaniputasi bagian
tajamnya seperti dibengkokkan, dipatahkan atau ditutup kembali. Jika jarum
terpaksa ditutup
kembali (recappin9l, gunakanlah cara penutupan jarum
dengan saru tangan (single handed recapping met1wdj untuk mencegah jari
tertusuk jarum seperti di bawah ini.

Bila IuIl4> sudah menu!\JP


u;.ng janan. gunaI<an tanoan
yang lain untuk

rnengencanglcana

Oambar 12 :

ear.

Menutup (nrcappfng) Jarum dengan

58

Satu tancan

Sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir atau tempat pemusnahan,


maka diperlukan suatu wadah penampungan sementara yang bersifat kedap air
dan tidak mudah boeor serta tahan tusukan. Wadah penampung jarum suntik
bekas pakai hams dapat-dipergunekan
dengan satu tangan, agar pada waktu
memasukkan jarum tidak usah memeganginya dengan tangan yang lain. Wadah
tersebut ditutup dan diganti setelah 3/.
dapat dibuka kembali sehingga isi tidak tumpah. Hal tersebut dimaksudkan
bagian terisi, dan setelah ditutup tidak
untuk menghindari perlukaan pad a pengelolaan sampah selanjutnya. Limbah
tajam ditangani bersama Iimbah media. Wadah benda tajam merupakan limbah
medis dan hams
dimasukkan
ke dalam kantong medis sebelum Insinerasi.
Idealnya semua benda tajam dapat diinsinerasi, tetapi bila tidak mungkin dapat
dikubur dan dlkaporisasi bersama Umbah lain. Apapun metode yang digunakan
haruslah tidak memberikan kemungkinan perlukaan benda tajam,
Peeaban

kaea

Peeahan kaca dikategorikan sebagai bend a tajam. Pecahan kaca potensial


mcnyebabkan
perlukaan yang akan memudahkan
kuman rnasuk ke datam
aliran darah.
Untuk
itu perlu diperlakukan
seeara
hati-hati dengan cara
pembuangan yang aman,
seperti, menggunakan
sarung tangan tebal pada seat
rnembersihkannya, ditambah dengan penggunaan kertas koran dan kertas tebal
untuk mengumpulkan
dan meraup pecahan gelas tersebut. Untuk membawa
pccahan gelas dianjurkan dengan cara membungkusnya dalarn gulungan kertas.
yang digunakan untuk
meraup sebelumnya dan memasukkannya
ke dalam
kardus dan diberi label hati-hati peeahan kaca.

3.4

Pengelolaan

Limbah

Secara umum limbah dapat dibedakan menjadi limbah cair dan Iimbah
padat. Limbah padat biasa disebut juga sampah, tidak semua sampah rumah
sakit berbahaya. Petugas yang menangani sampah ada kemungkinan terinfeksi,
terutama disebabkan karena luka benda tajam yang terkontaminasi.
Limbah yang
dibedakan atas:

1. Limbah rumah
kontak dengan
rendah.
2.

berasal

dan

rumah

tangga, atau Iim~


darah atau cairan

sekitj sarana

kesehatan

seeara

umum

non-media, yaitu limbah yang tidak


tubuh sehingga disebut sebagai risiko

Limbah medis, yaitu bagian dari sampah rumah sakitj sarana kesehatan
yang berasal dari bahan yang mengalami kontak dengan darah atau cairan
tubuh pasien dan dikategorikan sebagai Iimbah berisiko tinggi dan bersifat
menularkan penyakit. Limbah medis dapat berupa:
a.

Limbah k1inis

b.

Limbah labolatorium

59

3. Limbah berbahaya, adalah limbah kimia yang mempunyai sifat beracun,


Limbah jenis ini meliputi produk pembersih, diainfektan obat-obatan
sitotoksik dan senyawa radio aktif.
Upaya penanganan limbah di pelayanan kesehatan meliputi penanganan
limbah cair dan limbah padat (sampah). Adapun teknik penanganan sampah
meliputi pemisahan, penanganan, penampungan sementara dan pembuangan
1, Limbah umum atau Sampah Rumah Tangga
Semua limbah yang tidak kontak dengan tubuh pasien umumnya dikenal
sebagai sampah non-rnedik, yakni sampah-sampah yang dihasilkan dari
kegiatan di '"\lang tunggu pasien atau pengunjung, ruang administrasi dan
kebun. Sampah jenis ini meliputi sisa makanan, sisa pembungkus makanan,
plastik dan sisa pembungkus obat. Sampah jenis ini dapat langsung dibuang
melalui pelayanan pengelolaan sampah kota.
2. Limbah Klinis
Limbah klinis merupakan tanggung jawab rumah sakitj'sarana kesehatan
lain dan memerlukan perlakuan khusus.
Karena berpotensi menularkan
penyakit, maka dikategorikan sebagai limbah berisiko tinggi.
Llmbah kllnis antara lain:
o

Darah atau cairan tubuh lainnya, material yang mengandung darah


kering seperti perban, kassa dan benda-benda dari kama.r bedah

o
o

eara
e

Sampah organik misalnyajaringan, potongan tubuh dan plasenta.


Benda-benda tajam bekas pakai, misalnya jarum suntik, jarum jahit,
pisau bedah, tabung darah, pipet atau jenis gelas lainnya yang bersifat
infeksius (contoh, sediaan apus darah).
penanganaJ1 1imbah kUnIa:

Sebelum dibawa ke tempat pembuangan -akhirj'pembakaran (insinerator)


semua jenis limbah klinis ditampung dalam kantong kedap air. biasanya
berwama kuning
Ikat secara rapal kantong yang sudah berisi 2/3 peouh

3. Llmbah laboratorlum

Setiap jenis limbah yang berasal dari labcratcrium dikelompokkan scbagai


limbah berisiko tinggi
eara
o

penanganan

Ilmbah laboratorlum:

Sebclum keluar dari ruang laboratorium dilakukan sterillsasl dengan


otoklaf selanjutnya ditangani secara prosedur pembuangan limbah klinis

60

Gunakan wadah yang mudah dicuci, tidak mudah bocor, wadah dapat
dan jenis plastik atau yang paling baik logam galvanis sebab tidak
mudah bocor dan korosif.

Dilengkapi dengan tutup, lebih baik jika tersedla wadah yang dilengkapi
dengan pedal pembuka.

"

Tempatkan wadah limbah padat di tempatyang sesuai


Kosongkan wadah setiap han atau saat 3/4 bagiannya audah penuh dan
jangan memungut limbah media tanpa menggunakan sarong tangan
Cucilah wadah limbah medis den.gan larutan desinfektan dan bilas
dengan air setiap han atau lebih sering bila kelihatan kotoran/
kontaminan setelah dipakai
Cucilah sarung tangan dan
limbah medis

tangan setelah melakukan penanganan

Wadah Penampung Llmbah Benda TeJam


e

Tahan bocor dan tahan tusukan

"

Harus mempunyai pegangan yang dapat dijinjing dengan satu tangan

"

Mempunyai penutup yang tidak dapat dibuka lagi

Bentuknya dirancang agar dapat digunakan dengan satu tangan

Ditutup dan diganti setelah 3/4 bagian terisi dengan limbah

"

Ditangani bersama limbah medis

Pembuaqan

/ Pemuanahan

Seluruh sampah yang dihasilkan pada akhltnya harus


dilakukan
pembuangan atau pemusnahan. Sistem pemusnahan yang dianjurkan adalah
dengan pembakaran (insinerasi). Pembakaran dengan 81,1hu tinggi akan
membunuh mikroorganisme dan mengurangi volume sampah sampai 90%.
Pembuangan Limbah Cair
Pengelolaan Iimbah cair harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah dalam
pengelolaan (pembuangan) Iimbah cair antara lain :
o

Sistem penyaluran harus tertutup.

Kerniringan saluran 2-4 untuk menjaga endapan dalam saluran

Belokan (e/bow) saluran harus lebih besar dari 90

Bangunan penampung (septic tankj harus kedap air, kuat, dilengkapi


dengan mainhole dan lubang hawa (ventilaai).

Penempatan lokasi harus mempertimbangkan keadaan muka air tanah


dan jarak dari sumber air.

62

Paaar

G1lmbu

PenpIIWI

14: Cart menlmbun aampah

media

3.5 Kecelakaan Kerja

Pajanan darah atau cairan tubuh dapat terjadi secara parenteral melalui
tusukan, luka, percikan pada mukosa rnata, hidung atau mulut dan percikan
pada kulit yang tidak utuh, misalnya pecah. terkikis atau kulit eksematosa.
Kejadian seperti tersebut
harus dicegah dan kcselamatan petugas harus
diutamakan.
Apabila kecelakaan terjadi harus didokumentasikan dan dilaporkan kepada
atasan, kepada panitia Keseiamatan dan Kesehatan Kerja (K3)dan pada panitia
infeksi nosokomial secepatnya, sehingga dapat dilakukan tindakan seianjutnya.
imunisasi dapat dilakukan apabila tersedia, diberikan kepada semua staf yang
berisiko mendapat perlukaan karena benda tajam. Setelab terjadi kecelakaan
harus diberikan konseling.

Penatalak.anaan

PaJanan

Apabila terjadi kecelakaan kerja berupa perlukaan seperti tertusuk jarum


auntik bekas pasien atau terpercik bahan infeksius maka perlu pengelolaan
yang cermat dan tepat Berta efektif untuk mencegab semaksimal mungkin
terjadinya infeksi nosokomial yang tldak diinginkan. Yang terpenting dj sini
adalah segera mencucinya dengan sabun antiseptik, dan usahakan untuk
meminimalkan kuman yang masuk ke dalam aliran darah dengan menekan
luka hingga darah keluar. Bila darah mengenai mulut, ludahkan dan kumurkumur dengan air beberapa kali, bila mengenai mata cucilah mata dengan air
mengalir (irigasi) atau garam fisiologis, atau bila percikan mengenai hidu.ng
bembuskan keluar hidung, dan bersihkan dengan air.
Tindakan pertama pads setiap pajanan adalah: eucl dengan air menCaUr
dan aabUD antUeptik

64

Status lnfelui
Tentukan status
"
e

"
"
e

infelul sumber pajanan (bila belum diketahui]

HbsAG Positif
HCV positif
HIV positif
Untuk sumber yang tidak diketahui, pertimbangkan risiko yang linggi
alas ketiga infeksi di atas
Jangan melakukan pemeriksaan [laboratorium) jarum bekas

Kerentanan

Tentukan kerentanan orang yang terpajan


e
Pernahkan mendapat valcsinasi Hepatitis B
" Status serologi terhadap HBVbila pemah mendapatkan vaksin.
" Anti HCV dan ALT
" Antibody HIV

Langkah 3
Berlkan 'Profilakals Pa.ca P~anan (PPP) kepada terpajan
yang bert.lko
tla.ggl mendapat InCelu1
HBV - llhat tabel 12
e
8erikan PPP sesegera mungkin, terutama daJam 24 jam pertama
e
PPP boleh diberikan juga kepada ibu hamU
Hev ppp tidak dianjurkan

HIV
e

Mulai PPP daJam beberapa jam seteJah pajanan berupa pemberian ARV
jangka pendek untuk menurunkan risiko terjadinya infeksi HIV pasea
pajanan.
PPP merupakan bagian dari pelaksanaan paket Kewaspadaan Universal
yang merninimalkan risiko penularan dari bahan infeksius di tempat
kerja,

Perlu di ingat bahwa peneegahan pajanan yang tidak di inginkan merupakan


eara yang paling efektif untuk mengurangi rislko penularan HIV pada petugas
kesehatan. Prioritas utarna adaJah meningkatkan pemahaman petugas
kesehatan
tentang kewaspadaan
universal dan menyediakan saran a
peneegahan yang memadai. Petugas
kesehatan diharapkam
memiliki
pemaharnan tentang risiko mendapatkan infeksi HJV seeara bubungan seks,
tabu manfaat dan mudah mendapatkan kondom, serta pelayanan pengobatan
IMSyang bersifat rahasia.
Pelakaanaan

penanganan

p~anan

HIV d.l tempat

kerja

La.ksanakan langkah 1 dan 2 seperti tertera di atas, dan lihat dibawah.


e
Sumber pajanan perlu di evaluasi untuk kemungkinan adanya infeksi
HIV. Tes HJV pada orang sumber hanya dapat di laksanakan setelah di
berikan konseling pra-tes dan mendapatkan persetujuan (informed
consent), dan tersedia runjukan untuk konseling serta dukungan
selanjutnya. Kerahasiaan harus dijaga.

66

It

EvaJuasi k1inik dan tes terhadap petugas yang terpajan hanya


clilaksanakan setelah diberikan konseling dan mendapatkan persetujuan
(informed consent).
Konseling tentang cara mengurangi pajanan yang berisiko terkena HIV
serta menilai urutan pajanan yang mendahuluinya dengan cara penuh
perhatian dan tidak menghakimi.
Perlu di buat laporan pajanan seperti yang telah di sebutkan pada
langkah I eli atas.

PembenaD

Paaca P~anaDdeDgaD ARV

Profilaluis

PPP di rnulai sesegera mungkin setelah pajanan, sebaiknya dalam waktu 24


jam.
Pengobatan kombinasi dianjurkan karena
Iebih efektip daripada
pengobatan tunggaJ. Pengobatan dua atau tigajenis obat sangat dianjurkan,
Pengobatan didasarkan atas riwayat pengobatan sebelumnya pada pasien
sumber dan kemungkinan adanya resistensi silang dengan obat yang berbeda,
juga akan didasarkan atas tingkat keseriusan pajanan dan ketersediaan ARV.
Kombinasi dan dosis yang direkomendasi tanpa adanya resistensi terhadap
Zidovudinen (AZT) atau Lamivudine (3TC) pada pasien sumber adalah :.

ZOV250 - 300 mg 2x per hari


Lamividune 150 mg 2x per hari

Obat ketiga yang dapat ditambahkan:

Efavirenz 600 mg hanya sekali sehari (tidak dianjurkan


hamill atau Nelfinavirs750 mg 3 x sehari

unruk wamta

Sebaiknya pemberian ARV tersebut didasarkan pada protokol yang ada, dapat
juga disediakan satu "kit" yang berisi ARV yang direkomendasikan, atau
berdasar konsultasi dengan dokter ahli. Konsultasi dengan dokter ahli eangat
penting bila eli duga ada resistensi terhadap ARV.Penting sekali tersedia jumlah
ARVyang cukup untuk pernberian satu bulan penuh sejak awal pemberian PPP.
Pengobatan dianjurkan diberikan daJam jangka minimal 2 minggu dan paling
lama sampai 4 rninggu.

Obat ARV untuk ProfUakaill Pasca ~anan

2 Obat : AZT+ 3TC

3 Obat
Efavirius

: AZT

3TC

indinavir atau. nelfinavir + EFV

NV? (nevirapin) tidak dianjurkan untuk PPP

Anjuran pengobatan selama 4 minggu dengan dosis

67

AZT: 3 kali sehari @ 200 mg, atau 2 kali sehari @ 300 mg


3TC : 2 kali sehari @ ISO mg
'Indi-Van--ir-: 3-x-s-e-hari@800mgljamsebelumma.kanatau2jamsetelah
makan dan banyak minum, diet rendah lemah
[_

Nclfinavir :
_.

3 kali schari @ 750 mg oral, bersama makanan atau snack


Ket. : Mat

tt($}i(l

di.!!ln~d!!..~!!i.~

_j

Erell: Samping

Efek sam ping yang sering terjadi dengan pemberian ARV adalah mual dan
perasaaan book enak. Pengaruh lainnya kemungkinan sakit kepaJa, lelah,
mual, dan diare.

Langkah4
Laksanakan Tea (Laboratorium) Lanjutan dan berikan Konseling
Sarankan untuk segera memeriksakan kesehatannya setiap terjadi gejala
penyakit apapun selama tindak lanjut tersebut
Tabel 12 : Protnakai.

Pa.ca Pa.lanan (PPP) UDtuk RepaUti.

Anti-NBS terpajan ~

Tldakperlu ppp

I wkup Ifdak cukup PPP


I tidak wkup - J dosis
HBfG + VilkSlil /xJsIer

Or'.Q 161>9 _yd


".,.".h ~t
met>d.>P6(kM ~
("sa P6jMMn
(PPI')
Htpotltis 8 _
.. _

OosIs immlJfle VIobuIltlIfepilt/lJs 8: 0,0; ml/kQ /11_

AntiNBS terpajan ..

I CiJkup - tidak cukup PPP


I tidak CiJkup- 1 dosis
HBlG + VIIksin /xJsIer

~t.ra.&a-" :

~.ng
~
MIMI or61>9Yif19 _I
kM/lr .fIIII>cd}' 1"fM1Ids Y61>9<uk", c1I ddillm SMJm fYlilV .. If H8s >
10 mUlml); SMng non~
_
S>taf19J'ifI9 ~.n
_
kll~
pMIo pemberidn v_

f-'

.n/!body t_1I&sA9 ny. c 10 mU/mi


perlu dibM 2 dO$I$ H81G.

_m.

/If1tuk /]iIf'1 _.~


dosf k. J v_".sinYi,

Do5Is
_ i>/IJd"." dO.
JeIJf/J I1dI/r _

B>gl _

dO$I$ /fedIn

pM. 1 /)<1"'" kem(!(//I.

HBIG tIInv_
"'119 SIf. s&I bI/O _
bolum .."",., JrI)"'_n
menil6{rJrIHJ_
.. d"" $Ar. iMgk:1IPd.JtJ tfd6k

)'in9 ~"h

di_n

68

.-

;;

CD
II
C

:z::

..

..e;".,

..

.c

""
~.o

i.

-II

..

~
0.

0.

'"

J <

c
~

-;

..

".":el

""
c

~III

>

.,'

.Q.
lIQ.
I-Q.

:l..,

8.

J<

~Q.
lIQ.
I-Q.

~
j

8.

""

,~

E~
~Q.

..'"
1=

~~

EQ.

::lQ.

::lQ.

...
01

'Q.
:::I

l:

Q.Q.
II.Q.

..

Q.Q.
Q.o..

.Q.

Cl.C

..

l.

::;.~

'o
C
1':1

01

"

t~o -2

:;

::s

8.9.

1;"1"6'-

~3

I
I.e".

i
1':1

~~

.><"'1

l~l:!

.5~
.=:z::
1 ':1

.lC

VI

'

"

1':1

1=

_-... .

!!
VI

.Jt

:!::N

IV

III ..

e .
;:

..

11

~~

~~ ~

8.f

.'

::I '

ftI

Cl.

~~1l
"' 11
~j

I
~

"
ftI

Q.

8.!
e,

.c
C

ftI

ftI

.!
0

0111

8.

Q.

8. R:

Q,.lC

Q.

>1:11

~ '" y

::::I

~.., '"

:z::j::
::I

c:i

1 y
go

<.., '"

::I
ftI
II)

....

.." ...
..
IV

..,

0..

"
c:

....

"r

!
0..

..,

""

:: ::I

I~

ftI

I'll

~i j Ii li j

-i

_c

0..

Q.

Cl.

:It

ftI

e,

E
a,.lC

>g'

!
0..

0..

~ I!

ftI

a,

.0

III

0"

c 0..

~~ ~

xt=

tl

II

"

r
o

. !

.I

:::I

Cl. '"

-~

Cl.

..IC

III

Q.

ftI

Cl. '"

:l

ftI

"

l!!

C
ftI

\..

lD

i'f

.!!

c
''i"'

Q.

._

. ..

I)

..tIaC '~ -III

Q.

CD

co
G I

.a

il!
'----"-'

~1 (/)

ftI

ftI
ftI

l!!

01)

:J

IV

l-

!
~

.
~,

lJI:

oJ

Q.

'-'-

41

Tabel 14 ; Rejlmen ARVuntuk Profilakals Pascapajanan

.-.,/~
Rl!iko menengab

(Kemungkinan

ada

Risiko terjadi infeksi)

R
eA

4
1

Z
d
4

A
ddll x400 mg +d4T

Rlslko Iinggi
(Risiko lerjadi infeksi yang nyata,

misalnya pajanan dengan darah volume


luka
K.. "",,,,, :

41

Rejimen kombinasi
contohnya:
AZT/lTC

3 obat,

+ NNR TI (EPV I x 600 mg)2

AZTI3TC NfV (3x750 mg) araa IDR (3


x 800 mg)
A2T/)TClIDV Ir

RejirntD P.P'Ppenu diKIuailcan dc:opn mmgunakaD abet yang tidak rcsisicn tcrbadap sumbcr paJIlNtQ (bib diketallui)

Ef.virem Jdrib. blik dari pacta NVP tapi tidak dii.qjurbn UnttIk pemn:puan bamil Telab di1apofbft 2 l:.t1nalian dati petups
kcscb.acan dcngan toksiw hati ),1IlI8 ICfbit dtnpn PPP YlAg l:'I!leogaDdungNVP. ~h brelJl itu ddl.1( diill\iurbn

3,6 Kewaapadaan Khu.ua


Seperti telah dikemukaan di Bab I bahwa upaya pencegahan infeksi di
rumah sakit terdiri dari penerapan 2 tingkat kewaspadaan, yaitu Kewaspadaan
Universal dan Kewaspadaan Khusus.
Kewaspadaan khusus tersebut
merupakan tambahan pada kewaspadaan universal, yang terdiri dan tiga jenis
kewaspadaan, yaitu:
c

Kewaapadaan terhadap penularan meWul udani (airbO.meJ

Kewaapildaan terhadap penuiaran melalui percikan (droplet)

Kew.. padaan terhadap penularan meWul kontak

Dalam penerapannya maka dapat berupa kombinasi dari kewaspadaan


universal dan salah satu jenis kewaspadaan khusus tersebut sesuai dengan
indikasinya
Kewaa}NI.datnel'had~p Penuluan Melalul Udara
Sebagai tambahan dan Kewaspadaan Universal. Kewaspadaan terhadap
Penularan Melalui. Udara digunakan untuk pasien.yang diketahui atau
diduga menderita penyalcit serius dengan penuJaran melalui percikan halus di
udara.

70

41

It
It

It

It

It

It

Kewaspadaan ini bertujuan untuk menurunkan penularan peoyakit melalui


udara, baik yang berupa
bintik pereikan di udara (airborne droplet nuclei,
ukuran 5 um. atou lebih kecin atau partikel debu yang berisi agcn infeksi.
Organisme

yang

ditularkan

bersama dengan aliran udara.


Contoh

dengan

cara

ini dapat

menyebar

seeara

luas

penyaklt

Cam pak

Varisela (termasuk herpes

Tuberkulosis

Penempatan

zoster yang menyebar / diseminated)

paalen :

Ternpatkan pasien pada tempat yang: (1) tekanan negatif yang terpantau, (2)
minimal pergantian udara enam kali setiap jam, dan (3) pembuangan udara

keluar yang memadai. atau

bila tidak terpasang pada ruang isolasi, gunakan

filler udara tingkat tinggi termonitor sebelum


udara
rumah sakit. Jagalah
agar pimu tetap tertutup dan
ruangan.

beredar ke seluruh
pasien tetap dalam

Bila tidak ada tempat tersendiri, ternpatkan pasien dalam ruangan dengan
pasien lain yang terinfeksi mikroorganisme yang sarna tetapi tidak ada
infeksi lain.
Proteksi

respiresi

Gunakan
pelindung
pemapasan
waktu masuk
ke ruang
pasien yang
diketahui atau diduga
mengidap tuberkulosis.
Jangan
masuk
ruangan
pasien yang diketahui atau diduga menderita eampak atau varisela bagi
orang yang rentan terhadap infeksi tersebut.
Penganglrutan

pasien

Batasi pemindahan
atau pengangkutan pasieo hanya untuk hal-hal yang
penting
saja.
Bila pemindahan
atau
pengangkutan
pasien
memang
diperlukan, hindari penyebaran droplet nukleus dengan memberi pasien
masker bedah.
Kewaspadaan

terhadap

Penularan

Melalui Percikan

Sebagai tambahan
dari Kewaspadaan Universal, Kewaspadaan
terhadap
Penularan Melalui Percikan ditujukan untuk pasien yang diketahui atau diduga
menderita penyakit serius dengan penularan melalui pereikan partikel besar.
Transmisi percikan terjadi bila partikel percikan yang besar (diameter >5 I'm)
dari orang yang terinfeksi rnengenai lapisan
mukosa hidung, mulut atau
konjungtiva mate orang yang reman.
Percikan dapat
terjadi pada waktu seseorang
berbicara,
ataupun
pada
waktu
pemeriksaan
jalan
napas
seperti
bronkoskopi.

batuk,
bersin
intubasi
atau

It

It

It

Transmisi
melalui udara

melalui
karena

percikan besar berbeda dengan


transmisi
pada transrnisi percikan memerlukan kontak

71

penularan
yang dekat

antara sumber don penerima, karena percikan besar tidak dapat bertahan
di udara dan hanya dapat berpindah dan dan ke ternpat yang dekat.

lama

Contoh penyakit :
I.

H. influenzae invasif tipe B, tenn.asuk

2. N. meningitidis invasif, tennasuk

meningitis, pneumonia

meningitis, pneumonia

3. S. pneumoniae
pneumonia,
4.

Bakteri
a.
b.
c.
d.
e.

invasif
multidtug
resisten,
sinusitis, dan otitis media.

infcksi saluran

nafas lain dengan

dan sepsis

dan sepsis

tennasuk

meningitis,

transmisi droplet:

Diphtheria (faringeal)
Mycoplasma pneumoniae
Pertusis

Pneumoniae plague
Streptococcal pharyngitis, pneumonia, atau scarlet fever pada bayi dan

anak
5.

Infeksi virus serius


a.
b.

dengan

trasmisi

percikan, termasuk

Adenovirus

c.

Influenzae
Mumps

d.

Parvovirus 819

e. Rubella
Penempatan pa.ien :
Tempatkan pada ruang tersendiri atau bersama pasien lain dengan
aktif organisme yang sarna dan tidak ada infeks! lain. Bila tidak ada
tersendiri, tempatkan dalam ruangan aecara kohort, dan bila ruang
kohort tidak mernungkinkan,
buatlah jarak pemisah
minimal
)m
pasien terinfeksi dengan pasien lain dan pengunjung.
PemakpJ.n

maeker :

Pakailah masker
pasien.
Transport

infeksi
kamar
untuk
antara

N95 bila berada/bekerja


.

dengan jarak kurang

dari 1m dan

pa.ien :

Batasi pemindahan dan transport pasien hanya untuk keperluan mendesak.


Bila terpaksa memindahkan pasien, gunakan masker bedah untuk pasien.

Kewaspadaan

terhadap

Penularan

Melaluf Kontak

Sebagai
tambahan
dan Kewaspadaan
Universal. Kewaspadaan
terhadap
Penularan Melalui Kontak e1igunakan untuk pasien yang diketahui atau diduga
menderita penyakit yang e1itularkan melalui kontak langsung (misalnya kontak
tangan atau kulit ke kulit) yang terjaeli selama perawatan rutin. atau kontak tak
langsung (persinggungan) dengan benda eli lingkungan pasien,

72

"

Pasien harus ditempatkan di ruang tersendiri bila


tersedia, dapat di bangsal umum dengan pasien sejenis.

mungkin.

Bila

tidak

Sarung tangan hams


dipakai sebagai pencegahan, sebagaimana
pada
kewaspadaan universal terhadap kontak dengan darah dan bahan tubuh. Pada
kewaspadaan terhadap penularan melalui kontak ini sarung tangan harus
diganti setelah menyehtuh bahan yang mengandung mikroorganisme dengan
konsentrasi tinggi (misalnya tinja atau cairan luka). Sarung tangan harus
dibuka sebelum meninggalkan ruangan dan kernudian hams
cuci tangan
dengan bahan pencuci antiseptik.
Gaun pelindung yang bersib dan nonsteril hams dipakai bila diduga terjadi
kontak yang cukup rapat dengan pasien, bila pasien tidak dapat menahan
buang air besar (inkontinensia) atau bila ada luka basah yang tidak dapat
ditahan
dengan
pembalut.
Gaun
pelindung
harus
dilepas
sebelum
meninggalkan ruangan.
Contoh

penyakit

I.

lnfeksi gastrointestinal, respirasi, kulit atau luka atau kolonisasi bakteri


yang multidrug resistant sesuai pedoman program pemberantasan.

2.

lnfeksi enterik
termasuk:

dengan

dosis

infeksi

rendah

atau

berkepanjangan

a.

Clostridium difficile

b.

Enterohemorrhagic E. Coli, Shigella, hepatitis A, atau

rota virus

pada

pasien inkontinensla.
3.

RSV. virus
anak

4.

lnfeksi kulit yang sangat


kering, termasuk :
a.
b.
c.
d.

parainfluenza,

atau

infeksi enteroviral pada

menular

atau

yang

bisa

bay; dan

timbul

pada

anakkulit

Difteri (kulit)
Herpes simpleks (neonatus atau mukokutaneus)
Impetigo
Abseil besar, selulitis atau dekubitus

e. Pedikulosis
f. Skabies
g. Staphylococcal furunculosis pada bayi dan anak-anak
h. Staphylococcal scalded skin syndrome
i, Zoster (diseminata atau immunocompromised host)

5. Viral hemorrhagic conjunctivitis


6.

Viral hemorrhagic fever (demam Lassa atau virus Marburg)

Penempatan

paalen

Tempatkan pada kamar tersendiri atau bersama pasien lain dengan infeksi
aktif organisme yang sarna dan tanpa infeksi lain. Bila kamar tersendiri tidak
tersedia, tempatkan dalam ruangan seeara kohort.

73

Sarung tangan dan cud tangan :


Pakailah sarung
tangan
waktu masuk dan selama dalam ruang pasien.
Lepas kembali waktu akan meninggalkan ruangan, cud dan gosok tangan
dengan bah an anti septik. Setelah mcmbuka sarung tangan dan cuci langan,
usahakan agar tangan tidak menyentuh permukaan atau barang apapun yang
bcrpotensi terkoruaminasi.
Pemakaian

gaun pelindung

Pakailah gaun pelindung waktu masuk kamar pasien bila diperkirakan


(pakaian) seseorang yang masuk tersebut akan bersentuhan dengan paslen atau
dengan alat-alat di sekitar pasien, bila pasien yang dirawat diare, inkontinensia
atau pasien iliostomi, dan bila pasien yang dirawat luka basah tanpa pembalut.
Lepaslah gaun saat akan meninggalkan ruangan. Setelah membuka gaun
pelindung, usahakan
agar pakaian tidak lagi menyentuh permukaan yang
berpotensi terkontaminasi.
Tramport

paaten :

Batasi pemindahan dan transport pasien hanya untuk


terpaksa harus memindahkan
keluar karnar, usahakan
kewaspadaan dengan mengenakan alat pelindung.
Parawatan

lingkungan

hal yang penting. Bila


tetap melaksanakan

Usahakan agar alat perawatan pasien, peralatan di sekitar tempat


pasien dan permukaan lain yang sering tersentuh dibersihkan setiap han.
Peralatan

perawatan

tidur

pulen

Bila mu ngkin , gunakan peralatan pasien non-kritis dan peralatan seperti


stetoskop, tensimeter,
termometer rektaJ masing-masing
satu untuk
setiap
pasien atau sckelompok pasien kohort untuk menghindan pemakaian bersarna.
Bila pemakaian bersama tidak dapat dihindari, peralatan tersebut harus selalu
dibersihkan
dan didisinfeksi sebelum dipakai untuk
satu atau sekelompok
pasien lain.

74

4. Kewaspadaan Universal Dengan Sa.rana Terbata.s


Sarana
kesehatan
yang memiliki surnber daya terbatas,
biasanya
tidak
merniliki sarana cuci tangan, alat pelindung, alat kesehatan,
tempat sampah
dan ruangan
isolasi yang memadai. Hal ini sering menghabiskan
banyak
surnber daya unruk tindakan
pengendalian
infeksi yang tidak efektif seperti
desinfeksi udara dengan menggunakan sinar ultraviolet, pengambilan sampel
udara
bulanan,
penyernprotan
(fogging)
ruang-ruang
Isotasi
dengan
formaldehida, pernakaian masker dan topi yang berlebihan di ruang perawatan
umum, penggunaan
desmfektan
dan antibiotik yang berlebihan.
Dianjurltan
untuk tidak meneruskan
tindakan
yang tidak efektif tersebut
dan menitik
beratkan pada upaya perbaikan sarana cuci tangan, dengan deterjen carr dan
lap kertas atau kain lap kecil-kecil sekali pakai kemudian dicuci ulang. Para.
praktisi DALIN sebaiknya mengubah konsep yang lebih masuk aka! sehingga
sumber daya dapat digunakan dengan lebih efcktif dan efisien.
4.1

Pengendalian Kontak Pernapaslln, Langsung Dan Tak


Langsung

Merujuk pada Bab 3.2 yang menjelaskan


pentingnya ruang isolasi untuk
pelaksanaan pengendalian kontak pernatasan langsung dan tak langsung, make
apabila sarana
isolasi ini lidak memadai, ada beberapa petunjuk
pokok yang
haru s diinga I :
Untuk mcngendalikan
1

TempaLkan pasien

kontak pernapasan :

dl ruang

rerpisah

atau

scjauh

penutup

hidung

dan

mungkul

dan

pasien

lamnya.

2.

Pakailah
dengan

masker
pas len ,

3, Buanglah

atau

sputum

kain

sesuai

rnulut

bila

Bab 3

4.

Instruksikan

pada pasien untuk

menutup

mulut saar batuk.

5.

Batasi pasien

keluar

perawatan

dan batasi

dari ruang

pengunjung

Untuk mcngendalikan

kontak langsung

I.

Cucilah

baik sebelum

2,

Luka harus

3,

Pengelolaan alat kesehatan sekurang-kurangnya


sesuai dengan prosedur di Bab 3 di atas.

harus

dilakukan

4,

Buanglah

yang

arnan,

tangan

dengan

berdekatan

dan sesudah

kontak

dengan

pasien

selalu tertutup

pembalut,

cairan

tubuh

dengan

sampah medis,

75

cara

yaitu

diainfeksi
sebagai

Untulr; monlondaUk,n

I.

kol1tak tak langsung

Cucilah tangan dengan baik sebelum dan sesudah kontak dcngan pasien

2. Cud semua
alat
dekontaminasi.

dan

linen

dengan

baik

dengan

melalui

proses

3. Jauhkan benda-benda yang berhubungan dengan pasien isalasi dari pasienpasien lain
4. Untuk mengendalikan kontak mel~ui vector
o

Pakailah keJambu atau kawat nyamuk untuk kamar pasien

Cegah adanya air tergenang dan air bersih pada alat-alat rumah tangga
yang memungkinkan berkembang biaknya nyamuk vektor malaria dan
vektor demam berdarah Dengue di seluruh sarana kesehatan.

4.2 PUlhan Kewaapaciaa.n Khuaull Sebelum Dlapoata

Putl

Seperti telah diuraikan di bab terdahulu bahwa kewaspadaan universal


harus diterapkan secare konsisten kepada semua pasien yang datang meski
diagnosis belum ditegakkan, kalau ada indikasl ditambahkan penerapan
kewaspadaan khUSU8.
Oi bawah ini tabel sebagai aeuan
pemllihan
kewaspadaan kbusue sebelum diagnosis pasti ditegakkan, berdasarkan atas
gejaJa atau tanda klinlk yang dijumpai pada saat Itu.

76

Tabel 1S : Pillhan Kewaapadaan Khuaua Sebelum Diapoaia

Dlare
" Diare akut. dengan kemungklnan Infe1<spi ada

Ent6,Opatogen

paslen yang memakai popok atau penderlta

Paati Ditegaakan

PenUlaran melatui

kontak

Inkontinensia

"

Dalre pad. orang dewasa yang baru saja

OostIfdium difficJ/e

menggunakan antiblotfk

Menl"llitis

Penularan melalui
kontak

Neisseria meningitkJis

Penularan melalul
perdkan

Ruam atau eksantem pada umumnya,


penyebab Udak dlketabul
Petekial/ekimosis dengan demam

NeIsseria meningitldis

PeIluiarall melalul

"

Vesikuiar

Varisela

Penularan melalul Udara

Makulcipapular dengan korisa dan demam

Rubeola (measleS)

Penularan melalui

Perclkan
dan kontak
udara
Intteksl pemapesan
e

Batuk, demam, Infillra! lobus atas paru pada

Myco/Jactetium

Penularan meIalui

paslen HIV-senonegatif (paslen dengan fisiko


rendah HIV)

tubercu!csis

udara

MyrobacJeriilm
/vberctJJosis

Penularan melalul
udara

8cfrIeleUa perWsls

PeIluwan melalui

" Batuk, demam, Infiltrat di senua baglan paru


pada paslen tennrekS HIV (paslen clengan

rislko tinggl HIV)

"
"

Batuk paroksismalatau batuk parah yang terus


menerus selama pertusis aktif
InfeksI saluran naf es, tenutama bronklliolitis
dan coop pada bayl dan anak ke.iI

Rf!!;/J/faloty syndlialj

udara
Penularan Udara

viNS paralnnU806a

Ri.iko ad.nya mlkroorganl .... e yang kebal


terhadap barbagal obat

" pemah terinfeksi atau ter1<olonlsasloleh

Baktert resiSten

organlsme yang kebal terhadap berbagal oba!

"

InFeksIkull~ luka atau saluran kemlll pada

kontak
Bakteri reslsten

pasien yang baru dJrawal di rumah sakit yang


pemall dijumpal organlsme kebal obat

Intelaii kulit alau lula!


Abses atau luka yang terbuka

Penularan.melalul
Penularan melalul
kontak

Sf4phrfrx:rx:r:vs
8IJ<I!US, group A
slreptoctx;t;vs

77

PeIlularan
melalul kO<\tak

5. Pengaturan

dan Tata Ruang

5.1 Sistem Ventilasi


Mikroorganisme

yang

ada di udara

merupakan

salah

satu

;umber

infeksi

nosokomial, misalnya Mycobacterium tuberculosis, Aspergilus sPP. virus campak


dan varisela, Sistem ventilasi yang dibutuhkan tcrgantung dan keadaan pasien
yang dirawat dan kualitas udara disekitar ruangan.
Ruang Rawat Intenalf (leU = Intensive c....e unit)
Faktor yang rnempengaruhi
infeksi nosokomial terutarna
pasien, sumber
daya manusia,
Iingkungan
dan prosedur
pcnanganan
pasien.
Walaupun
pengaruh ventilasi di ICU sulit dievaluasi, kebanyakan institusi
menerapkan
aistern ventilasi, paling tidak menggunakan AC.
Tidak ada standar
untuk sistem venblasi di ICU, tetapi untuk resirkulasi
udara dan pengadaan 100% udara segar ke dalam ruangan
memakan banyak
biaya karena harus menggunakan filter HEPA (high-efficiency particulate air).
Meskipun 100% udara segar ke dalam ruangan
memakan banyak biaya.
Demikian juga dengan resirkulasi udara, karena itu digunakan filter HEPA.
Filter HEPA adalah suatu filter yang dapat menghambat
99,97% partikel
dioktil phtalat
yang dihembuskan
dengan cara erosol berdiameter
0.3 1J1ll.
penggantian udara minimal 6 kali dalam satu jam juga menjamin udara bersih
dan partikel.
Ruang Isolaal

Sistem ventilasi
dengan
terinfeksi virus, luberkulosis,

tekanan negatif diperlukan


virus campak dan varisela.

untuk

pasien

yang

Tekanan
negatif diciptakan dengan memasang "exhaust exceedinq supply"
sekitar 15% atau 50 feet3/min. udara dari ruangan langsung dialirkan keluar.
Resirkulasi boleh dilakukan tetapi perlu filter HEPA sebelum masuk kembali ke
ruangan.
Paling eedikit 6 kali pergantian udara per jam. Kebanyakan rumah
sakit mengganti udara sebanyak
12 kali per jam di ruang Isolasi, Tetapi setelah
12-15 kali penggantian tidak ada perbedaan terhadap kualitas udara.

Beberapa unit menggunakan


2 sistem ventilasi supaya bisa dirubah dan
tekanan negatif ke tekanan
positif. Tetapi harus dijaga jangan sampai tekanan
berubah tidak sesuai dengan yang dibutuhkan.
Penggunaan
sinar
ultra
violet mcrupakan
pilihan
tambahan
untuk
mengurangi konsentrasi
bakteri eli udara. Sinar ultra violet harus diarahkan
kedinding supaya tidak terkena mata petugas kesehatan, misalnya 2 meter dan
lantai.

78

Kegagalan dalam
memelihara sistem
keseimbangan
udara
akan
meningkatkan debu pada filter sehingga menghambat aJiran udara dan fungsi
exhaust berkurang, akibatnya sistem tekanan udara jadi positif.
Filter harus diganti dengan hati-hati tanpa menyebarkan sumber infeksi.
Filter jenis baru lebih cocok karena bisa diangkat semuanya. Manometer harus
berfungsi baik agar tahu kapan filter perlu diganti. Selain itu kipas, kumparan
pendingin dan kondensator harus mudah dibersihkan dan diperbaiki.
Untuk mengantisipasi keadaan harus dibuat rencana yang baik misalnya
bila sistem tidak berfungsi atau sedang dalarn pemeliharaan. Pemeliharaan
harus diatur dengan baik supaya keamanan pasien maupun petugas terjaga.
Jika kondisi tidak memungkinkan untuk membuat ruangan dengan
tekanan negatif bagi penderita tuberkulosis paru jangan gunakan AC, tetapi
pasien dirawat daJam ruangan dengan udara yang masuk dan jendela.
Jika tidak tersedia ruang bertekanan negatif, maka dapat digunakan kamar
dengan satu tempat tidur atau ruangan bersama yang diisi pasien yang
mengidap penyakit sejenis. Ruangan tersebut bisa menggunakan AC. DaJamhal
ini penting diperhatikan adalah : pemakaian sarong tangan dan masker.
Bagian Onkologl

Pasien transplantasi tulang sum-sum biasanya dirawat dalam ruangan yang


seluruh dindingnya diberi filter HEPA. Ruangan seperti itu biasanya mendapat
pergantian udara 100 kali perjam, sehingga ruangan nyaman dan tidak bising.
Penggunaan ruangan semacam itu ter~atas karena biayanya mahal.
A1ternatif adalah menggunakan sistem ventilasi dengan mengganti udara
sebanyak 15 kaJi perjam dalam ruangan tertutup dan menggunakan filter
HEPA, tekanan positif dan mengalirkan udara langsung ke koridor keluar.
Penyebar udara harus diletakan pada langit-langit dan mengarah langsung
kebawah.

Organisme yang menyebarkan infeksi pada saat operasi biasanya berasal


dari pasietl itu sendiri. Faktor yang mempengaruhi adalah umur, kondisi luka,
teknik bedah, panjangnya sayatan, lamanya prosedur operasi, keadaan nutrisi
pasien dan penyakit diabetes.
Surnber infeksi dari luar pasien biasanya dikontrol dengan penerapan
prosedur yang tepat, seperti cuci tangan, pemakaian masker, sarung tangan
steril, gaun, topi dan sistern ventilasi yang baik. Desain ruang operasi harus
menjarnin terjaganya sterilitas ruang operasi.
A1iranudara harus selalu berasal dan ruangan yang bersih ke ruangan yang
kurang bersih. Sistem ventilasi dan pengatur udara (AC)harus terjamin dan
menciptakan kondisi udara yang nyaman bagi pasien, dokter dan staf.

79

Masuknya udara melalui diffuser (alat penyebar) pada ruangan. dan melalur
. exhaust yang berada di dinding, tepat di atas lantai, udara keluar, sistim
ventilasi harus mencakup persyaratan bcrikut :
e

Temperatur berkisar antara 20 - 24' C

Kelembaban udara antara 50 - 60%

Tekanan udara dijaga agar tetap POSilif

Alat yang menunjukkan tekanan udara dalarn ruangan. Seluruh


dinding, langit-langit maupun lantai benar-benar tertutup agar
tekanan udara tetap terjaga.

Ada indikator kelembaban dan termometer yang mudab dilihat

Ada filter sekunder 211matau kurang dengan efisiensi 95% diletakan


di dalam sebuab kisi-kisi/lubang masuk ; terminal HEPA filler 0,3
u.m dengan efisiensi 99,7% untuk hasil sangat bersih seperu kamar
bedab onopaedi

Suplai udara dari langit-langit disirkulasikan melaJui exhaust yang


letaknya paling tidak 75mm diatas lantai, Tipe diffuser sebaiknya
tipe satu arah. Hindari langit-langit dengan high induction atau
diffuser pada bagian dinding.

Minimal udara diganti sebanyak 15 kaJi perjam untuk sistem udara


bersih 100%. Dan 25 kali perjam untuk sistem udara airkutasi.

Kecepatan udara 0,1 - 0,3 mjdetik.

Tekanan positif pada area disekrtarnya.

Pemeliharaan rutin sangat penting unruk menghindari kesalahan dalam


sistem ventilasi, Akumulasi debu pada filter menyebabkan udara tidak
seimbang, dan menurunkan kemampuan mengeluarkan udara, Hal ini bisa
merubah keseimbangan udara yang negatif menjadi positif.
Filter, kecepatan udara dan lain-lain harus selalu dipantau sccars rutin.
Harus telah disiapkan suatu rencana baku apabila sewaktu-waktu slstern tidak
berlungsi. misaJriya dlalapkan atat cadangan portabLe atau tnenghehtilUln
semen tara kegiatan merawat pasien sarnpai slstem berfungsi kembali.
Seluruh
perneliharaan, perbaikan, konstruksi
dikoordinasikan
untuk
menjarnln terlaksananya
kesehatan untuk pasien maupun personil rumah sakit
5.2 Lalulinta. Manu. La

d
s

Di tempat di mana banyak orang bertemu, risiko penyebaran infeksi dan


penyakit akan meningkat. Mikroba dengan cepat akan menyebar luas karena
konlak antar orang dengan orang. namun sulit sekali bahkan tidak mungJon
dapat mencan orang yang menjadi sumber penyebar organisme patologrs Oleh
karena itu lebih baik melakukan pengawasan dan pengendahan sebatas
kemungkinan jumlah orang yang melakukan kontak saru dengan yang Jam
dalam rumah sakit,

80

It

Oi lingkungan rumah sakit harus diadakan batas dan pernisahan antara


tempat yang bersih dan yang terkontaminasi. Panitia Infeksi Nosokomial harus
rnembuat pedoman ten tang pengawasan
lalu-lintas orang. Harus dikembangkan
kebijakan yang mengatur lalulintas di rumah sakit. Jika peraturan ini dipatuhi
dengan ketal
akan
dapat
membantu
pengendallian
penyebaran
infeksi.
Pengunjung/tamu
yang minum tidak memakai gelas pasien, tidak meletakan
pakaian diatas
ternpat tidur pasien.
atau duduk
diatasnya
karen a dapat
menularkan
mikroorganisme
dari luar rumah sakit kepada pasien. Perilaku
.semacarn ini sebaiknya ditegur dengan sopan tetapi tegas oleh petugas.

Peraturan Umum bagi Pengunjung/Tamu


Dalam mengembangkan
kebijakan
memperhatikan catatan dibawah ini:
I.

,2.

bagi

para

tamu/pengunjung,

perlu

Tamu pengunjung setiap pasien perIu dibatasi jumIahnya. Ini merupakan


tindakan
pencegahan
yang baik. Kebijakan harus
menentukan
bahwa
jurnlah pengunjung untuk setiap tamu pada waktu bersamaan
tidak boleh
lebih dari dua atau tiga tamu, namun perlu pula mempertimbangkan
keaneka-ragaman
budaya pada daerah tertentu di negara ini.
Anak-anak dibawah 12 tahun
ruang atau unit perawatan.

sebaiknya

tidak

diijinkan

berkunjung

ke

3. Waktu berkunjung

sebaiknya dibatasi sesuai dengan ketentuan tentangjam


dan lama kunjungan yang diatur oleh masing-masing rumah sakit supaya
tidak mengganggu perawatan rutin dan gawat darurat terhadap pasien.

4.

Untuk pasien tertentu dan unit- tertentu,


menurut dokter jaga atau sifat unltnya.

jam

kunjungan

dapat

berbeda

Ketentuan Tambahan Untuk Para Tamu


1.
! 2.

Sebaiknya
sakit.

para

tamu

mematuhi

peraturan

yang 'ditetapkan

Sebaiknya para tamu dilarang merokok kecuali di luar rumah

oleh

rumah

sakit.

3.

Tidak dibenarkan
seorang tamu duduk,
apalagi merebahkan
diri diatas
tempat tidur pasien, atau berkerumun di tempat perawatan pasien.

4.

Tamu tidak dibenarkan


memang dianjurkan

5.

Tarnu tidak dibenarkan rneletakan


lainnya di atas tempat tidur pasien

i 6.

7.

Perlengkapan
oleh tamu

pasien

Sedapat mungkin,
tidak menggunakan

membawa

seperti

makanan
jaket,

buku

atau
atau

minuman,
barang

gelas minum, tidak dibenarkan

tersedia toilet yang


toilet pasien.

81

terpisah

kecuali

bila

milik pribadi
untuk

bagi pengunjung

dipakai
sehingga

Te.mpat-Tempat Yang Tic1ak Boleh Di.kunjungi Tamu


Pada tempat-tempat
dimana dilakukan perawatan
tertentu pengunjung
harus
dibatasi
seminimaJ mungkin, dan harus
berdasarkan
IJm dokter
jagajbertugas
atau perawat yang sedang bertugas. Ruang tersebut d.a.:
I.

Ruang rawat intensif (ICU)

2.

Unit terapi kimiawi kanker, unit luka baka&.-unit transportasi dan kamar
bedah/ operasi.
Orang yang tidak terkait langsung dengan tugas operasi tidak diijinkan
masuk kamar operasi. Juga kunjunge.n mendadak oleh petugas ahli rumah
sakit harus dilarang, kecuali ditempat pengamatanj observasi yang lerpisah
dari ruang operasi dengan dinding kaca. Demikian juga Kunjungan oleh
mereka yang tidak terlibat daJam perawatan pasien ke ruang pemulihan.

3.

Unit sterilisasi

4.

Ruang bayi biasanya hanya boleh dikunjungi oleh orang tua dari 8i bayi,
dan itupun
bila bayi tidak dapat dibawa keluar dari ruang perawatan.
Kedua orang
tua harus
melakukan
cud
tangan
yang seksama dan
mengenakan gaun pelindung yang disediakan khusus untuk itu sebelum
menyentuh
bayi. Sedangkan tamu lalnnya hanya diperbolehkan
untuk
melihat bayi lewat jendela.

5.

Unit perawatan pasca persalinan dan ruang perawatan bayi biasanya hanya
boleh dikunjungi oleh keluarga dekat pasien, misalnya suami, orang tua dan
keluarga dekat lainnya. Perhatian 'khusus harus diberikan apabila sang bayi
sekarnar dengan ibunya. Ketentuan lain yang barns
diperhatikan
oleh
pengunjung ruang bersalin dan tempat perawatan bayi adaJah:
a.

6.

sentraJ dan disinfeksi (CSSlJI

Sebelum masuk ruang perawatan


selama 2 menit dengan larutan
perawat,

b. Sebelum mencuci tangan


perhiasan di tangan harua
c.

harus mencuci tangan sampai siku


antiseptic yang tersed.ia di ruang

lengan baju harus


ditanggaJkan.

dilipat

sampai

siku

dan

Pakai gaun pelindung.

Pasien anak biasanya boleh dilrunjungi oleh kedua orang tuanya tanpa
banyak larangan dan pembatasan. Tetapi saudara sekandung atau anak
lain dibawah umur 12 tidak diijinkan. Bila terpaksa, maka harus dibawah
pengawasan petugas.

82

6. Kewaspadaan

Universal

di Unit Tertentu

6.1 Bedah dan Anestesi


Penerapan kewaspadaan universal mutlak harus dijalankan pada seluruh
kegiatan di unit Bedah untuk semua pasien. Pemeriksaan atau tes HIV dan
HBV tidak perlu diJakukan sebelurn tindakan bedah, karena
tidak mampu
memberikan perlindungan yang sempuma mengingat:
c
a

Tes lidak dapat

mendeteksi infeksi HIV ataupun

HBV 100%

Banyak mikroorganisme patogen selain HIV dan


ditularkan melalui darah atau cairan tubuh.

HBV yang

dapat

Oleh sebab itu semua pasien harus dianggap berpotensi untuk menularkan
infeksi sehingga perlu diambil langkah pencegahan yang memadai. Sebaiknya
semua petugas yang karena tugasnya kemungkinan berkontak dengan darah
atau cairan tubuh harus mendapatkan imunisasi hepatitis B hingga mencapai
ambang titer antibodi yang memiliki daya lindung optimal.
Tindakan bedah
mencakup
semua
tindakan
invasif termasuk
tindakan
diagnostik ataupun teraupetik yang melibatkan penetrasi dan fungsi kulit, atau
insersi suatu instrumen atau benda asing ke dalam jaringan, rongga atau organ
tubuh, an tara lain prosedur pernbedahan, prosedur intravenaj arterial, dialisis
ginjal, persalinan normal dan bedah sesar, aborsi atau prosedur obstetrik lainya
yang memungkinkan perdarahan,
Kewaspadaan
universal
yang.
harus
diJaksanakan
petugas
adalah
mengantisipasi
percikan darah. Tindakan dikerjakan secara
legeartis untuk
menyediakan dan mempertahankan
Jingkungan yang asepsis.
Prinsip tindakan adalah memperlakukan
sebagai bahan Infeksius
KetentUan
c

darah

dan cairan

tubuh

lainnya

Umum

Oilarang makan, minum dan merokok di dalam kamar

bedah

Tangan: dilarang
pendek dan bersih

Rambut panjang harus

Cuci tangan sebelum bekerja, sebelum memakai sarung


membuka sarong tangan dan sebelum keluar ruangan

OiJarang bekerja bila menderita luka terbuka pacta kullt tangan dan
lengan
bawah,
luke
harus
diobati
sampai
sembuh
sebelum
diperkenankan
bekerja. Luke lecet ringan harus ditutupi dengan plester

memakai cincin, jam


dan tanpa cat kuku

tangan,

gelang,

kuku

selalu

tangan,

setelah

diikat dan ditutupi

kedap air.

83

Sunglrup muka,

gudel airway yang dipakai

untuk

anestesi

umum

harus

didekontaminasi
dengan
meredam dalam
larutan
chlorine sebelum
dicuci untuk kemudian didisinfeksi dengan merendam dalam larutan
glutaraldehida
selama . J 5 menit. Sebelum digunakan biJaslah dahulu
dengan air bersih (air matang) untuk mencegah iritasi.
e

Gagang laringoskop dibungkus dan bunglrusnya dicuci- dengan larutan


deterjen sebelum digunakan lagi pada pasien lain. Pisau laringoskop
didekontaminasi
sebelum
dicuci
dan
disinfeksi
dengan
larutan
glutaraldehida. Bilas dengan air bersih (air matang) sebelum digunakan,

Pips endotrakheal atau alat lain yang digunakan pada lapisan mukosa
pasien sebaiknya digunakan sekaJi pakai atau dibuang setelah dipakai,
namun bila akan dipakai ulang hams melaJui proses pengelolaan yang
balk meJiputi dekontaminasi,
pencucian dan disinfeksi tingkat tinggi
dengan g1utaraJdehida atau disterilkan dengan otoklaf sebelum dipakai
lagi.

Pips
bergelombang
(non klngking) harus
selaJu
dekontaminasi
dan didisinfeksi setiap ganti pasien
tercernar darah atau cairan tubuh lainnya.
Internal circuit
secara berkala,

hralapaa
a

pada

mesin

aneeteei

juga

harus

diganti
atau
di
atau setiap kali
selalu

dibersihkan

L1aeJruncu Kamar Bodah

Kamar
bedah,
dirancang
sedemikian
kontaminasi dapat diperkecil yaltu:
Arus IaJU lintas

rupa

agar

kemungkinan

diatur

Jumlah petugas dibatasi


Aliran udara
a

Dilarang menaruh

diatur
barang

pribadil milik pasien di dalam

" . Tumpahan bahanjcalTan harus


kembali dengan disinfektan
a

segera didekontaminasi

Sampah medis yaitu darah,


cairan tubuh
terkontaminasi darah ditangani sesuai dengan

kamar

bedah

dan dibersihkan

dan jaringan serta kasa


prosedur dekontaminasi

. Pengertien "kamar operasi" adalah seluruh ruangan yang digunakan untuk


seluruh prosedur pembedahan dan pendukungnya, termasuk ruang persiapan,
ruang tunggu, administrasi
bedah dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud
dengan "kamar bedah" ruangan tempat dUakukannya pembedahan itu sendiri,
yang hams dalam kondisi sucihama.

84

..

Pembagian

Oaerah Sekil:ar Kamar Operasl

Meskipun daerah atau ruangan-ruangan disekitar karnar operasi tidak


secara langsung dipakai untuk pembedahan, tetapi secara tidak langsung ikut
dalam proses terse but. Daerah sekitar karnar operas; terbagi dalam
Daerah Publik

Daerah ini misalnya : ruang tunggu, koridor, serarnbi depan kompleks kamar

Daerah yang boleh dikunjungi oleh semua orang, tanpa ada syarat khusus.
operasi.

it

Oaerah Seml-Publik

Daerah yang hanya boleh dimasuki oleh orang tertentu, yaitu para petugas
(biasanya tertulis: Dilarang Masuk Selain Petugas), dan sudah ada pembatas
temang jerus pakaian yang dipakai para petugas. Dacrah ini sudah berada
dalam tanggung jawab petugas khusus karnar operasi yang rnengawasi lalu
lintas orang yang rnemasr.kinya.
Daerah Aseptik

Daerah kamar bedah itu sendiri, yang hanya boleh dimasuki oleh orangorang yang berhubungan langsung dengan kegiatan pembedahan saat itu.
Daerah ini harus dijaga kesterilannya. Daerah in; sermg juga. disebut daerah
high aseptic' atau daerah lebih aseptik, yaitu lapangan operasi itu sendiri.
Pembagian

Daerab Datam Kamar Bedah

Umumnya daerah ase otic ini terdiri dan


1.

2.

Daerah

AsepUk-O

pembedahan.

yairu

lapangan operasi, dacrah tempat dilakukannya

Daerah Aseptik-l
yaitu daerah tempat digunakannya gaun operasi, daerah
tempat duk/kain steril, tempat instrumen dan tempat para perawat
insrrumen mengarur dan mernpersiapkan alat,

3. Daerah Aseptik-2
yaitu tempat cuci tangan, koridor penderita masuk,
daerah sekitar ahli anastesi.

85

41

41

41

Lingkungan rumah sakit

41

Daerah sekitar kamar operas! (daerah publik)


Daerah kamar operas! (semi publik)

Kamar bedah (daerah aseptic)


Aseptik-l
Aseptik-O
Aseptlk-2

Gambar liS: Skema Duar Pemb-.Ian Daerah Seldtar Opera.'


PemeUharaan lramar bedah uepUk
o

Tim operator harus


menaruh perbatlan khusus atas peme1iharaan
lingkungan aseptik kamar bedah, tempat penampungan atau peletakan
benda-benda tereemar sedemikian rupa sebingga tidak berceceran dan
tidak
mencemari
lingJcungan,
terutama
sehubungan
dengan
pembuangan dan penanganan benda-bend a yang tercemar darahjcairan
tubuh pasien, sepe-rti: semuajenis kasa bekas darah.

Sarung tangan bekas pakai harus langsung ditempatkan


penampung sampah medis yang tersedia dengan kantung
kuning.

A1at kesehatan bekas pakai harus dipilah-pilah dengan hati-hati untuk


didekontaminasi sebelum diproses lebih lanjut.

Linen bekas pakai dilepas dan langsung dilrumpulkan daJam wadah


kedap air (ember besar) yang dilapisi kantong plastik, tutup dengan erat
dan segera dibawa keluar kamar bedah ke binatu untuk mendapatkan
penanganan layaknya linen tercernar.

dalam wadah
plastik wama

Bila diantisipasi
ada Iimpahan darahycairan tubuh
dalam jumlah
banyak ataupun sedikit, misalnya pada bedah sesar, bedah urologi,
bedah syaraf, maka harus dilakukan persiapan khusus sebelumnya
dengan menyediakan tempst penampungan sedemikian rupa sehingga
cairan tidak melimpah ke lantai kamar bedah tapi !angsung tertampung
daIam wadah tersebut yang telah diisi pula dengan cairan disinfektan
bila dianggap perlu.

86

Pemeliha.raan perabotan

dan alat

Meja dan kursi pasien dsb, ditutup dengan plastik dan harus
dilap dengan sabun dan air setiap ganti pasien

Peralatan tidak boleh dipegang dengan sarung tangan yang juga dipakai
untuk melaksanakan rindakan invasif

"

Pernilahan

sarnpnh

atau

limbah sesuai

dengan

pedornan

selalu

pengelolaan

lirnbah.
Meja bedah

"
e

MeJa bedah harus selalu dalam keadaan rapi dan bersih


Meja operasi dibersihkan dengan disinfektan sebelum dan sesudah
dipakai (natrium hipoklorit 0,05% atau larutan hidrogen peroksida 3%)

Ceeeran darah atau eairan tubuh bila hanya scdikit di siram dulu
dengan larutan natrium hipoklorit 0.5% sampai 0.05% dan diamkan
selarna 10 menit. baru kemudian dibersihkan dan bilas dengan air biasa
dan sabun hlngga seluruh cairan klorin terangkat,

"

Untuk tumpahan damh/cairan tubuh yang agak banyak diserap dulu


dengan kertas koran dan diperlakukan sebagai sampah medis,
kemudian lakukan disinfeksi seperti di atas dan cuci seluruh ruangan
bedah dengan sabun dan air {tihat Prosedur Dckontaminasi Darah/
Cairan Tubub di Bab 3.

Pada akhir
drbersrnkan

kegiatan setlap han seluruh


dengan air dan sabun

ruangan dan

lantai

harus

Pemantauan mikrobioiol'ii
"

Lakukan biakan secara berkala dari usap setiap perrnukaan yang


mungkin menjadi sarang debu di kamar bedah, seperti: AC, meja
operasi, monitor, dan lampu.

Korldor

"

Koridor sekitar kamar operas; yang memanjang di belakang kamar


bedah. terhubung
dengan semua bagian dikomplek karnar operasi.
Sampah medis dari karnar bedah, linen dan benda kotor lain
dikeluarkan
dari kamar
bedah
melalui
koridor
terse but. Koridor
biasanya menunju pada serambi alat steril. Oleh karena itu daerob
tersebut harus pula dijaga konctisi aseptiknya. Petugas pengguna koridor
rersebut harus memakai gaun pelindung khusus yang ctipakai di daerah
kamar operasi dan ridak boleh dlpakai keluar, mereka udak boleh
bedah
selalu

kecuah

saat

barang

mcmasuki kamar bedah. Pintu yang menghubungkan koridor dan


kamar
harus
tertutup,
mengeluarkan
dan ruangan bedah. Exhaust fan di korrdor kotor hams bekerja
.cpllnjllllR hari.

87

Pemel1haraan

kamer

bedah aeptik (bedah kotor)

Bedah kotor dilaksanakan di ruang bedah lain yaitu khusus


kotor (bedah sepstik). Yang dianggap kasus septik misalnya.:
a

Kasus yang bemanah

Kasus untuk

Kasus non elektif

untuk

bedah

debridement

Kamar
bedah
tersebut
memitild sarana
untuk
ditutup
rapat untuk
keperluan fumigasi. Bila kamar bedah tersebut sedang ditutup unruk a1asan
tertentu, maka kasus septik dikerjakan sebagai kasus paling akhir pada hari itu
di kamar bedah utama
Sebagai Iangkalr tambahan

yang harus

dilakukan pada katnar

bedah kotor:

Gunakan peraJatan sesedikit mungkin.

Keluarkan semua peralatan dan kamar bedah yang


dapat disterilkan atau didisinfeksi dengan baik, atau
digunakan pada tindakan bedah.

Ben alas atau tutup pada meja bedah dan sandaran tangan dcngan
pelapis plastik yang sesudahnya dibuang aebagai sampah medis setelah
pembedahan selesai.

Sediakan wadab yang cukup


kamar bedah tersebut

Angkat semua
pera!atan bekas pakai atau
tangan yang terpakai pada proses pembedahan,

Tempatkan seorar.g petugae yang siap di luar kamar


bedab
membantu
mengeluarkan
dan mengambil peraiatan
tambahan
dibutuhkan.

Setelah
dengan
semua
dengan

untuk

menampung

semua

sekiranya tidak
alat yang tidak

benda kotor dari

telah tersentuh
dengan forsep,

sarung
untuk
yang

tindakan bedab usa! perawat tetap tinggal di kamar bedah


tetap mengenakan
sarung
tangan
dan memaetikan
bahwa
benda kotor telah dikumpulkan dengan hati-hatl dan ditangani
balk.

88

..
.
Peralapan Pasien
Hal yang perlu disiapkan

a.

a.

Pencucian,
pencukuran
mernperkecil kemungkinan

b.

Pembuatan

c.

Prosedur pembedahan

d.

Penutupan

e.

Sesudah operas;

Pencukuran
c

"
c

luka secara

..

daerah operasi

Pencukuran di lakukan
sebelum operasi
Bahan: gunting yang
kecil, handuk

pada han

tajam,

operasi, yaitu

sabun

antiseptik,

kurang

dan

8 jam

air hangar, waskom

Cuci tangan, keringkan


Buka daerah yang akan dicukur,
kain untuk menjaga privasi

tutupi

bagian

Usap daerah

Bersihkan lagi dengan larutan alkohol 70%

Pembuatan

tubuh

operasi dengan larutau betadin

lapangan

Pasang kain steril diatas

permukaan yang rata (meja dlL)

"

A1at steril diletakkan di atas kain oleh petugas tidak steril

Petugas steril menyusun

alat
lapangan

..

..
..

..
..

atcril

Pasang kain steril di sekeliling


tempat tindakan invasif

..
..

Prosedur

lain dengan

dan disenfeksi seperlunya

Disinfeksi kulit:

untuk

legeartis

c.

ram but
dan
disinfeksi
kulit
kontaminasi kuman patogen

lapangan steril

didekontaminasi

b.

pada pasien adalah

pembedahan

luka

atau

pembedahan

Petugas yang melakukan


tindakan invasif termasuk
menyuntik,
memasang infus, pipa endotrakeal harus memakai sarung tangan

steril

90
c

Basahi

dan buat busa pada daerah

"

Gunting secara

Bilas kulit

Keringkan dengan handuk

Taruh

dan

..

yang akan dicukur

berurutan

bereskan

kembaJi

alat

ketempatnya

setelah


6.2 Unit Kamar Bers.alin
Secara umum
tindakan di kamar bersalin harus mengacu pada kamar
bedah karena kemungkinan kontak dcngan darah dan cairan tubuh sama besar
di kedua tempat
tersebut. Setiap spesimen darah dan cairan
tubuh
harus
mendapat perlakuan sebagai bahan infeksius.
Prosedur kerja di kamar

"

bersalin adalah

Perawatan alat rumah

tangga

Lantai

4 kali dalarn

dipel

minimal

harus

sebagai berikut.:
teliti.
24 jam

dengan menggunakan

lisol,

dan minimal satu kali sehari


cukup.

dibersihkan

dengan deterjen dan air yang

Setiap ada percikan atau tumpahan darah sedikit atau banyak harus
segera didekontaminasi
dengan larutan klorin 0.5% selama 10 menit,
lalu dilap bingga kering dan dipel kembali dengan deterjen dan air.

Lingkungan dijaga selalu dalam keadal!-" bersihjdari debu.

Setiap hari tempat


dengan air.

tidur dUap dengan larutan

Linen dijaga selalu


atau ganti pasien.

bersih

Cara kerja hlglenia

untuk

klorin

eli kamar beraalln

Dilarang makan, minum dan mcrokok di dalam kamar

Rambut panjang harus

"

dan dibilas

setiap pasien, diganti bila tampak kotor

0.05%

bersalin

diikat dan ditutupi

Cuci tangan sebelum bekerja, sebelum memakai sarong


membuka sarung tangan dan sebelum keluar ruangan

tangan,

setelah

Selalu memakai alat pelindung berupa sarung tangan steril, masker,


kaeamata dan gaun pelindung pacta saat menangani persalinan atau
tindakan lain
Penggunaan alat tajam misalnya skalpel, jarum,
gunting
dengan posisi bagian runcing alat menjauhi tubuh petugas

dilakukan

Dilarang bekerja bila menderita luka terbuka pada kulit. Luka harus
diobati sampai sembuh sebelum diperkenankan bekerja. Luka tergores
ringan hams ditutupi dengan plester kedap air.

Petugaa
D

Patuh

menerapkan

kewaspadaan

Cuei tangan

Petugas yang menderita

universal.

sebelum dan sesudah me1akukan tindakan.

boleh melakukan

luka terbuka atau

lesi terbuka pada kulit tidak

tirrdakan invasif kepada pasien.

92

6.3 Ruang Rawat Intensif


Desaln Ruangan

"

Ruang antara tempat tidur harus cukup longgar untuk


pasien dan mudah untuk rnencapai peralatan

menernpatkan

"

Ruang
kubikel
tertutup
hanya
digunakan
untuk
pasien
yang
memerlukan
isolasi,
seperti
tuberkulosis
terbuka,
anthrax, demam
perut, kolera, kolonisasi atau infeksi MRSA, atau infeksi organisme lain
dengan resistensi obat multipel.
Harus menerapkan
tatalaksanan
rumah tangga dengan baik, seperti
pembersihan
ruangan
dan
pengepelan
lantai,
perawatan
alat,
penggantian linen dan gordin secara rutin. Pembersihan lantai minimal
4 kali sehari.

Aturan

umum yang harus

Cuci tangan:

diikuti oleh semua

masalah cud tangan

petugas:

perlu ditekankan

Kewaspadaan universal: harus dipatuhi oleh semua petugas selama


merawat pasien dan menangani sediaan
laboratorium.
Memakai
gaun pelindung plastik dan sarung tangan untuk setiap tindakan.
Ganti dan buang
segera sarung
tangan
untuk
setiap pasien.
Gunakan selalu sarung tangan setiap kali kontak pasien. Selalu
pakai masker setiap kali memeriksa pasien dengan diagnosis yang
belum pastL
SterUiaasl

dan dlslnfeksl

Lihat halaman 38 pada pembahasan sterilisasi dan disinfeksi


pedoman ini, dengan beberapa penekanan sebagai berikut :
o

dari

buku

Sinar lampu ultraviolet diusahakan dapat mencapai setiap sudut dari


ruang isolasi selama 30 men it setiap kali akan digunakan oleh pasien
baru.
Peralatan medis yang dipakai

sebaiknya alat kesehatan

sekali pakai.

Termometer satu untuk


setiap pasien, demikian pula dipakai
alat
resusitaei yang berbeda untuk setiap pasien, dan harus
didisinfeksi
setelah dipakai oleh pasien.

Untuk
cukup

tindakan yang dilakukan di ternpat (tidur) alat


diletakkan di atas kereta dorong (troli).

kesehatan

yang

Apabila ada sarana hemodialisis di ruang rawat intensif maka sebelum


mengisi tanki
air untuk
keperluan
hemodialisis,
pastikan
bahwa
tutupnya
tertutup
rapat
serta
pastikan
bahwa
tankinya
telah
didisinfeksi dengan baik dalam kurun waktu tidak "lebih dari 10 hari
sebelumnya.
Ada kemungkinan
masih tertinggal lapisan
hipoklorit di
dasar tanki, oleh karena itu perlu dibilas bersih dengan air. Periksa
kadar klorin dari bilasannya dan bila negatif isi tanki dengan air yang
sudah disaring dengan metode reverse osmosis (RQ).

94

It

SeteJah selesai melaksanakan hemodialisis dengan lengkap, buang air


dari tanki dan seluruh pipa, tuangkan 20 liter larutan kJorin 2% ke
dalam tanki dan tutup. Pastikan bahwa seluruh katup tertutup rapat.

Cara dislnfeksl
o

ta.nkl. a.ir hemodialisls

Ta.nki diisi dengan 20 liter larutan klorin 2% dan biarkan selama 30-45
menit. Kemudian buka katupnya untuk membilas pipanya. Usahakan
larutan klorin tersebut menggenangi pipa selama 30-45 menit. Baru
kemudian dibilas seluruhnya dengan air panas hingga 2-3 kali. Buang
dan bilas bersih seluruh tanki dan pipa.
Dalam keadaan tidak terpakai tanki dibiarkan terisi dengan
larutan klorin 20%.

20 liter

Ruailg Pullh
e

Semua petugas di ruang pulih harus bebas dari penyakit yang menuJar
melalui pernapasari/ udara dan bebas dari luka terbuka.

Prosedur kewaspadaan universal harus dipatuhi dengan merujuk pada


kewaspadaan terhadap penularan melalui darah,

Sebelum memasuki ruang


perawatan intensif
semua
petugas
diharuskan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang khusus dipakai
untuk kerja diruang intesif termasuk alas kaki. Pakaian tersebut tidak
diperbolehkan dibawa keluar ruangan, dan pakaian dari luar tidak
diperbolehkan dibawa rnasuk.
Semua pengunjung diharuskan mengenakan gaun pelindung dan alas
kaki pelindung yang disediakan sebelum memasuki ruangan.
Jalan

masuk petugas lain seperti petugas binatu, gizi, pusat sterilisasi


untuk keperluan tersebut.

rnelalui jalur khusus

Petugas diharuskan selalu cud tangan dengan sabun biasa atau dengan
setiap kali kontak dengan pasien.
c
o
o

antiseptik
Semua tindakan harus mengikuti prosedur asepsis.
Pembersihan lantai dilakukan minimal 4 kali dalam 24 jam atau 6 jam
sekaJi.
Seperti ruang rawat intensif, ruang putih juga dilakukan pemantauan
mikrobiologi rutin setiap bulan dengan mengumpulkan sample usap dari
tempat debu biasa menernpel seperti AC, monitor dan larnpu.

Pedoman urnum
berikut:
a
o

dalam

melaksanakan

tindakan

invasif

adalah

sebagai

Wajib cuci tangan sebelum dan di antara 2 tindakan mcdis atau pasien
Penerapan kewaspadaan universal harus cliikuti secara ketat pada setiap
tindakan medis invasif atau pernasangan alat yang menetap,

It

dengan larutan klorin

95

Lakukan pemilahan dan pembuangan


dengan benar

Di.infekai
c

ventUator

limbah dari setiap

tindakan

Untuk pipa ventilator sebailmya diganti setiap 24 jam,


humidifier di sterilkan dengan otoklaf setiap 12 jam

sedang

botol

Setiap
pasien
menggunakan
Bain's
circuit
masing-masing
yang
digunakan selama fisioterapi atau penghisapan
endotrakeal.
Alat-alat
tersebut diganti setiap hari dengan yang baru dan disterilisasi dengan
sterilisasi gas.

Kateter penghisap yang sudah


baru setiap han.

Ruang tersendiri atau


dengan
penyakit menular
berikut:

ruang isolasi
atau diduga

Penyakit rnenular yang memerlukan


Infeksi usus

dibuang

dan diganti

dengan

kadang diperlukan untuk


kasus
terinfeksi, seperti kasus sebagai
tindakan operasi,

Luka basah dengan mikroorganisme patogen yang menular


udara, staphylococcus dan beta-haemolytic streptococcus

Luka basah

dengan

infeksi proteus,

E. coli atau Pseudomonas

Gas gangren
Infeksi hepatitis B / C yang memerlukan
Kasus tetanus

dengan

Abortus septik
Trauma

multiple, m
i
keberaihannya

telah

menerima

yang

perforasi.

dengan

medis

clan pipa-pipanya

terpakai

tindakan operatif

tindakan

operasi.

melalui

pada
kecelakaan
lalullntas
atau yang
tindakan
dan
luar
yang
tidak
terjamin

Kasus kebidanan dengan komplikasi


yang tidak jelas. kebersihannya
Pemantauan
Ruang

rawat

.eeara

yang

diberi

tindakan

di luar

mUuobiologia

intensif

dan

ruang

pulih

memerlukan

pemantauan

mikrobiologis secara berkala. Sediaan usap untuk biakan diambil dari tempattempat debu biasa menempel dan dari alat pengatur udara (air conditioningj
minimal sekali setiap bulan. Pemeriksaan mikrobiologis secara berkala juga
dilakukan terhadap air dari alat reverse osmosis (RO).

96

..

Pablan

Kelja

Pakaian pelindung dikenakan dalam ruang rawat saja dan tidak boleh
dipakai keluar. Sebaiknya pakaian kerja berlengan pendek agar dapat selalu
cuci Langan dengan mudah. Gaun pelindung berlengan panjang perlu
dikenakan pada saat mengangkal dan membawa bayi di ruang isolasi atau pada
saat tindakan invasif, Kewaspadaan universal perlu selalu diterapkan terutarna
pada saat menangani bah an berupa darah atau cairan tubuh lain.
PemeUharaan alat media
lnkubator harus disteriikan sebelum dipakai atau setiap ganti pasien
mengacu pada petunjuk dan pabrikoya. Apabila tidak tersedia sterilisator
untuk inkubator tersebut, maka paling tidak dicuci dan didekontaminasi
dengan disinfektan yang eukup balk. Hal tersebut dikeIjakan setiap ganti
pasien atau sedikitnya setiap 72 jam bila pasien dirawat lebih lama.

Demikian juga untuk ventilator harus didekontaminasi secara berkala.


Humidifier diganti setiap hari. Penyaring udara pada inkubator diganti setiap 3
bulan.

Formula Ma.kanan Bay!


Makanan formula disiapkan secara aseptik dan dilakukan pcmantauan
mikrobiologi seeara berkala (seliap 7 hari] untuk memastikan lidak terdapat
organisme '> 25/ml. termasuk botol dan alat.
Keber.lhan Dan Pembenihan

Pembersihan ruangan dilakukan setiap han minimal 4 kaIi dalam 24 jam


dengan lap pel basah. Pennukaan dilap dengan larutan disinfektan seperti
lazimnya dengan perhatian khusus sebagai berikut.:
o
o

Tidak melakukan tindakan invasif pada saat dilakukan pembersihan


Petugas kebersir.an mengenakan gaun pelindung

Boks bayi dibersihkan setiap han dan dengan menggunakan larutan


lisol 7% sebelum dipakai oleh penghuni baru

Sebaiknya kasur dijemur seminggu sekali,


seminggu bila memungkinkan

Setiap ganti petugas bak cue! tangan


digosok dengan deterjen.

Leman es penyiropan susu dicuci setiap han dan lemari lainnya dicuci
setiap minggu. Buang obat yang telah lama dan tidak dipakai, juga
spesimen, botol cairan serebrospinal yang tidak dipakai.

Botol, air, dan pipa humidifier diganti dan dicuei setiap han, mesldpun
tidak dipakai, begitu juga bila akan dipakai bayi lain.

lebih

baik

(wastafel) harus

lagi 2 kali
dicucl bersih

98

RuaD& bowl

Seharusnya tersedia ruang isolasi khusus di perawatan perinatologi, yang


digunakan apabila ibu atau bayinya didiagnosis penyakit inIeksi tertentu,
seperti:
e

Varisela

..

Rubela kongenital

..

Herpes simpleks

..

Gastroenteritis

lnfeksi stafilokokal yang luas

6.5 Unit Pelayanan

neonatal

Penyakit

Dalam

Unit Hemodialials
Pada dasarnya penerapan Kewaspadaan Universal di unit dialJsis mutiak
hams dilaksanakan
secara ketal. Pencegahan infeksi di unit dialisis dapat
dibagi dalam 3 bagian besar, yaitu:

Pencegahan
terhadap penularan agen patogen melalui darah
(IIIV,
Hepatitis B dan C) dati pasien ke pasien, dari pasien ke petugas dan
sebaliknya. Teknik hemodialisis sendiri dapat memJliki risiko terjadinya
penularan agen patogen, oleh karen a itu:
a.

Petugas yang bekerja di unit hemodialisis harus mendapat imunlsasi


yang lengkap dengan vakaln hepatitis B dengan titer antibodi dratas
ambang daya Iindung.

b.

Petugas harus
mendapat pendidikan dan
tentang
peneegahan
penularan
hepatitis
mendapat supervisi.

c.

Petugas barus
selalu mengenakan alat pelindung, seperti, sarung
tangan, masker dan gaun pelindung atau celemek selama merawat
pasien. Gunakan alat pelindung yang baru untuk
setiap pasien.
Sarung tangan selalu dikenakan pada saat mengukur tekanan darah,
memberikan
suntikan
salin
maupun
heparin,
atau
pad a saar
menyentuh tombol mesln dialisis.

d.

Cud tangan sebelum memakai dan setelah melepas alat pelindung.

e.

Semua sediaan laboratorium yang berasal dari cairan


dan darah
diperlakukan
sebagai bahan
infeksius,
dengan label "Biohazard'

f.

Hindari kecelakaan keIja


darah
atau cairan
tubuh
terbuka dari pasien.

g.

BUa terjadi percikan atau


tumpaban
darah/cairan
tubuh
di
pennukaan,
harus segera dilakukan dekontaminasi sesuai proaedur
(lihat prosedur dekontaminasi atau tumpahan darah/cairan
tubuh di
halaman 35 Prosedur 9.

pelatihan yang cukup


B, C, dan
HIV, dan

seperti tusukan jarum


serta hindari kontak

100

tubuh pasien
dan dikemas

suntik, percikan
dengan lea; kulit

h.
i.

Mesin dialisis hams selalu dibersihkan dengan seksama


setiap
selesai dan sebelum dipakai kembali oleh pasien yang lain.
Usahakan

prosedur,
rusukan.

selalu
bends

memakai
alat sekali pakai dan dibuang
tajam dikumpulkan
dalam wadah khusus

kali
sesuai
tahan

j.

Alar-alar akan dipakai ulang dikirirn dalam kantong kuning ke sentral


srerilisasi dan disinfeksi, sarung tangan tidak boleh dipakai ulang
dan dibuang sebagai sampah media dalam kantong kuning.

k.

Tidak

ruangan

diperkenankan
hernodialisis.

rnembawa

rnakanan

ataupun

minuman

di

Sebaiknya semua pasien yang akan menjalani hemodialis diperiksa HBsAG.


antibodi HCV dan antibodi HIV kecuali dalam keadaan darurat.Pasien
yang
pos.t.f dapat diJayani di tempat dan alar yang terpisah oleh petugas yang
Juga
HBsAG
dan
anti
HBs positif.
Untuk
menghindari
Lerjadinya
pemindahan
virus secara tidak sengaja,
perugas yang sedang melayani
pasien pengidap
hepatitis B tidak diperkenankan melayani pasien lain yang
negatif pada waktu yang sarna.
Pasien yang negatif terhadap
lengkap sesuai anjuran.

HBsAG sebaiknya diberikan imunisasi

seeara

Pasien
pengidap
HN
biasanya tidak
dianjurkan
untuk
menjalani
hemodialisis
rurnatan.
Namun
bila terjadi gagal ginjal atau diperlukan
hemodialisis
sebagai
persiapan
operasi
maka
dilakukan
hemodialisis
suportif. Mungkin cara hemodialisis rumatan
yang lebih sesuai bagi pen
gidap HN adalah CAPO. Bila perlu-dilakukan dialisis suportif pada seorang
pengidap HN maka hams mengikuti prosedur di bawah ini:
o

Ben tanda pada semua dokumennya, seperti


diahsis, dsb. dengan stiker Biohazard"

Pisahkan

pasien tersebut dengan


boleh
digunakan
oleh
dekontaminasr dengan seksarna.
udak

menggunakan
pasien
lain

Tunjuk petugas khusus yang Lelah terampil,


lain pad a saar yang Sarna.

lkuti

prosedur a) hingga

Pencegahan
[cimino].

terhadap

status,

lembar

pemantauan

mesin tertentu yang


sebelum
dila1rukan

yang tidak

melayani

pasien

k) di atas.

penyebaran

infeksi

mikrobial

pada

daerah

pintasan

Perhatian
khusus
terhadap
infeksi
Staphylococcus
terutarna
MRSA
mengingat
mikroorgartisme
tersebut
merupakan
'penyebab
infeks!
nosokomiaJ melalui
akses vaskuler yang tersering
di unit hemodialisis,
infeksi mungkin terjadi antar paaien. Untuk mencegah hal tersebut,
perlu
dilakukan:

101


a. Pemakaian alat pelindung seperti masker, gaun pelindung, dan sarung
tangan pada saat merawat daerah pintasan dan dilakukan secara
aseptik
b. Cuci tangan aseptik sebelum membuka daerah pintasan atau sebelum
pindah ke pasien lain.

c. Tindakan dilakukan secara steril dengan membersihkan daerah tersebut


dengan antiseptik
d. Balut dengan kasa steril
e. Gunakan alat terspisah untuk setiap pasien
f.

Bila pasien pernah didapatkan MRSApada pemeriksaan biakan, maka


kewaspadaan terhadap penularan melalui kontak harus diterapkan pada
pasien terse but.
Semua permukaan dan tempat tidur yang pernah tersentuh pasien
dibersihkan dengan disinfektan (larutan klorin 0.5%). linen direndam
klorin 0.5% sedildtnya 10 menit sebelum proses pencucian lebih lanjut.
Masker, sarung tangan tidak boleh dipakai ulang, dibuang sebagai
sampah medis ditampung da1am kantung plastik kuning. Petugas yang
melayani pasien tersebut tidak boleh melayani pasien lain pada waktu
yang sama. Petugas harus mandi dan ganti seluruh pakaiannya sebelum
melayani pasien berikutnya.

3. Pemeliharaan kualitas air dalam batas standar biologiyangaman.


Kualitas air harus terjaga baik secara mikrobiologismaupun secara kimiawi.
Perlu dipakai alat pemrosesan' air yang menggunakan cara penyaringan
dengan filter. softener dan metode reverse osmosis (RO) untuk menjaga
mutu air yang akan dipakai da1ampelayanan hemodialisis. Reverse osmosis
(RO)juga efektif untuk meminimalkan jumlah bakteri rnaupun endotoksin
dalam air.
Namun penampungan, belokan dan lengkungan pipa-pipa,
penggunaan bikarbonat dan pemanasan hingga 37'C, meningkatkan risiko
kontaminasi air kembali.
Dianjurkan untuk mengikuti prosedur perawatan alat dari pabrik dengan
sebaik-baiknya sehingga pencemaran dapat diminimalkan, juga prosedur
seperti:
a. Menggunakan sinar UV(253,7 nm) sebagai bagian dari sistem
b. Pakai ultra filter pada ujung keluar dari sumber air
masuknya air ke da1am mesin dialisis.
c.

dan

pangkal

Pembersihan dan disinfeksi mesin dialisis secara berkala termasuk


semua bagian pemrosesan airnya

d. Desain yang sesuai untuk menghindari tekukan mati dari pipa, sehingga
aliran air Iancar tidak ada air yang tertampung atau terbendung di satu
tempat.
e. Disinfeksi sistem saluran air secara rutin dan berkala, juga uji kualitas
air dengan biakan mikrobiologisecara berkala.

102

Puleo

dengan Daya Tahan Tubuh Menurun

Keadaan yang dimaksud adalah pasicn dcngan daya tahan tubuh menurun.
Kcadaan tersebut mcncakup
pasien yang mengalami penurunan
daya iahan
akibat suatu pengobatan.
bag) penyakit utarnanya
dan disebut supresi imun
dan
(lmmunosuppresseal misalnya pengobatan streoid dosis tinggi, snostatika
lain-lain. Keadaan lainnya adalah pasien yang rnenderita penurunan
daya tahan
akibat penyakitnya
misalnya
granulositopenia
atau keadaan
lain termasuk
AIDS. Kcdua kelompok pasien tersebu, memiliki risiko terinfeksi dari petugas
kesehatan
atau
pcngujung.
Kategori
pasien
terse but
adalah
sebagai
compromised /tost infection precaution (CHIP).
Prosedur

tetap perawatan

pasien

tersebut

adalah

sebagai

berikut:

Pasien diternpatkan di ruangan


terpisah dan pasien
diketahui menderita penyakit menular atau infeksi

Setiap petugas
pasien

"

Setiap petugas dan pengunjung yang mcnderita influenza dan herpes


dilarang
masuk
ruang rawat. Bila sangat perlu harus mengenakan
masker

Perawat dinas tidak rnerangkap perawat dari isolaai lain

Pelayanan

Ruangan

harus

penunjang

mencuci

tangan

sebelurn

bagi pasien didahulukan

pasien
dibersihkan
Kewaspadaan Universal.

secara

dan

sesudah

sebelum

rutin

Jain yang

pasien

dengan

telah

rnerawat

lainnya

mempcrhatikan

kaidah
Alat makan, alat tenun, tensimeter, termometer, stetoskop.
pembalut,
spesimen
laboratorium,
buku atau rekam medik
tindakan khusus, ditangani sarna seperti pasien lain.

6.6 Unit Pelayanan

spuit, kasa
tidak perlu

Gigi

Pelayanan
gigi dan mulut
merupakan
tindakan
yang berisiko
cairan tubuh pasien. Risiko tersebut sernakin jeJas dengan penemuan
mikroorganisme
dan cairan oral. Petugas kesehatBn
yang menangani
gigj dan rnulut secara
rutin
mengalami pajanan
yang beruJang
rnikroorganisrne yang ada dalam daran dan air liur. sehingga angka
penyakit infeksi tertentu lebih tinggi pada kalangan perugas kedokteran
perawat gigi dibandingkan dengan kelompok lainnya.
Penularan
D

mikroorganisme

Koruak langsung
yang terinfeksi

terjadi dengan

dengan

cara
atau

dengan

"

Penularan

Percikan atau tumpahan


darah, air liur, sekret
pada kulit yang tidak utuh atau selaput lendir

Penularan

tidak Jangsung

lesi terinfeksi

terpajan
berbagai
daerah
terhadap
kejadian
gigi dan

air liur atau darah

melalui alat terkontamlnsi

lewat udara atau seeara aerosol

103

nasofaringeal

langsung

Penerapan kewaepadaan universal dl kUnile gig! tidak hanya melindungi


petugas darl rislko terpajan infeksi, namun juga melindung! pasien yang
mempunyal kecenderungan
renlan torhadap segala macam infekei yang
mungkin
terbawa oleh petugas. Termasuk mencegah infeksi lain yang
bersifat nosokomial, terutama untuk Infekai yang ditutarkan
melalui
darah/cairan
tubuh seperti Hepatitis S, Hepatitis C dll.
Beberapa hal yang harus diperhatikan
universal tetap terjaga adalah melaksanakan

dl Klinik Oigi agar kewaspadaan


prosedur yang dianjurkan :

Pa.ieD
e

Pemakaian gaun pelindung kedap air pada pasien

"

Kumur

"

Pemberian

sebelum diperiksa
antiseptik

pada gigi yang akan diperiksa

Petu
a

CUci tangan dengan sabun aelama 10-15 detik,


dengan handuk sekali.pakai atau diangin-anginkan.

"

Ounakan

kemudian

keringkan

a1at pelindung

tangan

Sarung

Ounakan
aarung tangan beraih untuk sekali pakai dan diganti untuk
setiap paslen atau setelah dlpakai aelama 60 menlt dan tidak dipakai
uiang atau dlcuci.

CUci tangan selalu dila.kukan


melepas.kan sarung tangan.

aetlap

aebelum

memakai

dan

setelah

Pelindung wajah.
Pelindung
mata
dan masker
yang menutup
sampai ke dagu.
Digunakan
untuk
melindungi selaput mukosa
mala, hldung dan
rnulut setama kegiatan perawatan pasien ber1angsung yang mungkin
dapat memberikan pajanan air ludah, darah, dll.
Gaun

pelindung.

Gunakan gaun pelindung bersih


selama kegiatan berlangsung.

A1at ke..,hataD

untuk

melindungi

kulit dan pakaian

daD pengelolaannya

SebeluDl tlndakaD
"

Gelas untuk kumur didisinfeksi dan dicuci dengan


alir mengalir
sebelum digunakan atau dipakai oleh pasien ben'kutnya

"

Gunakan
larutan
hipokJorit 0,5% untuk dekontaminasi
tumpahan
darah/cairan
tubuh dan bilas dengan air menggunakan lap basah.

104

Ounakan larutan hipoklorit 0,05% untuk dekontaminasi permukaan


meja periksa I permukaan lain yang tidak berpori.

Handpieces, lihat tabel dibawah.

Pengelolaan alat kesehatan sezelah tindakan sesuai


pengelolaan alat kesehatan bekas pakai eli halaman 28.

bagan

alur

Dekontarninasi (lihat prosedur]


Pembersihan dan
pencucian, yang
terbaik
menggunakan ultrasonic cleaning bila terseclia.

adalah

dengan

Sterilisasi atau dismfeksi tingkat tinggi (lihat tabel dibawah].


Menggunakan saru alai pemeriksaan gigi untuk setiap pasien, atau
dekontammasi
dan diaenfeksi dulu sebelum dipakai pada pasien
lamnya.

e
c

Jika harus meninggalkan ruangan, lepaskan sarung tangan dan


gami dengan yang baru ketika melanjutkan.
Pastikan selama jam pelayanan ruangan dalam keadaan bersih.
Sebelum klinik ditutup semua peralatan clipastikan dalam keadaan
steril dan tersimpan rapi dalam lad penyimpanan.

105

Tabcl 16 : SterllJ.tuJ dan DlalDteb1lDatrumen.

Baban daD

Jan., MriD, dJpabl pada PelayaDaD


p

Nama.Al.t

Jr.odDf

Uq

IIImInI

otIId&

m,s.
N'

siee:
1Wlg.tOOl-carolde
Condenaor

-+

-+

++

+
+

++

++
++

++
++

+
++

++
++
++

++
++

Dapen dlaiwl

Endodontic lnatrumenl
(broach_ lIlea. f"OIlJDeR)

..

++

++

-.-.
I: I

+
BUl1i
Carbon steel

'3'

IlIIDInI

IOftaI

Angle .. ttaclunenl'

Beberapa Alat

++

++
++

-+

Buang
Buan,
BU&l\l

++

f1uor1de gel tray

..
StaJnleaa oteeI w/pluUc bandte. ++
++
Non-heat- ..... lalant pluUc

H"'l-reslalant
01

lab

Hand tnatrumenta

plaatlc

++

x
x++

++
++

BU&I\I 1+.)

Carbon ItreU

StaJnI... Steel
Handplc:ca
Contra-angela
Prophyaxlx-angJea
fdlaposble prderredl

Aiumunlum "'etal
Chromo plated
Custom acrylSc resin
Plasuc
Inal.rUment
In Paclu;
'noll'UlDetll In<)' ee tup
_raUve
or aUrgJcaI

++
1000kial de""",
++

++
+.
bahan IdmIawt (na1r'1UIl n

++

++
I.)'

-+

++

++

++
x

++
++

(H)'

-+

x
x

x
x

++

++

Paket KI:dI

Mfror

Needles
DIsposable

106

++
++
++

++

..

++
-++
+-+

-+

BU&I\I 1+.1

Buang (_)

LdlIh_~I++)

x
++
PaI<et KI:dI
++
-++

..
x

J.,.,.

Buang (++1
cIIpoJcaIlaI!J

TabcI 16 (lanJutan)

0I0kW

ItmIaC

u.p

aDell
0bIda

at

M'

..

)rea)

sseeee

Noee

Hoses
Orthodotk: pUers
Hlghquallty sUnk ...
LowqualIty stlnl ...
WIth plutlc paN
Plugger. and ConcIen8or

wbeel and

dJ,o);

(-I-

(++)-

I-I-

1++)-

++
++

++

++

++

++

.+

++

"+

x
++

"+

++
++

PoIJahIng

Gamet and cuttl.

Rag

++

Rubber
Prostheses, n:movabl.

++

Punches
eteei clam""

..

++

++

++

Plasue
StalnJ ...

++
++

..

rram ..

Metal frames

...

Rubber and eglpment

Carbon steel clam""

++

..

(,+1"
1.1"

++
++

.+

BuulgI++)
BuulgI")

++

cu""

<-eIWI

Prophllaxla
Sallva cva<:Uatora. ejector (pIuUCI

S""='
psl<alI
Dlamond

Pollahln&

Nitrous Oxidt:

Rubber.tem

...........

n"

Sharpening
Surgical mstrumtnta
ateel
UttnsoDloe acaJlIng U""
Wa..,.. a1r ayrtnge U""
'n'ay equipment
PIuUc film bolder
CoDtmaHog devlcea

Sta_

++
++
+
++
++

++

++

++

1_)-

++

.+
++

..

++

++

"+

++

+-

x
x

..

++

(+,-

Buangl-I

x
KetennpD:
+
Oteb karena bahan yang d1pakai SBllgat banyak macamnya maka perlu kon1lrm.ui
dengan pabJ1k penibuat alat tersebut terutama peralatan tangan dan alat
tambabannya
++ ; Cara yang eCeId1fdan dJutamakan

earn yang eCektll dan d1perbolehkan


earn yang eCeId1f tap! ber1aIko merusak ba.h.an
= earn yang tldak eCeId1f dan merusak alaL

=
X

Sumber

: ADA InfecUon Control Reoomendatlon.

107

1992.

6.7 Unit Pelayanan Laboratorlum


Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Iaboratorium sangat penting
laboratoriurn
merupakan tempat yang berisiko tinggi untuk penularan
HlV, hepatitis dan agen lainnya.
Ketentuan
lakukan

umum

di laboratorium

setiap spesimen

sebagai

adalah

mengan;;gap

dan

karena
infen!

memper-

bahan infeksius

Petugas laboratorium aering kali memiliki risiko terpajan yang paling tinggi.
Keinginan memperoleh hasil yang cepat, beban kerja yang besar dan rutinitaa
pekerjaan mendorong ke arah aituas! yang membahayakan
k:arena kemudian
mengabaikan prosedur kerja yang benar. Maaih ada laboratorium yang tidak
memperhatikan
atau memilild sarana keamanan
kerja yang ba.ik dan lengkap.
Risika yang tinggi tersebut elitunjang pula oleh kurangnya
kesadaran
bAhwa
kegjatan eli Iaboratorium dapat member! bahaya bagi lingkungannya.
Cam mengurangi

risiko infeksi ada1ab sebagai berlkut

Can brja bJcleDfa


a

Cue! tangan sebelum bekerja, aebelum memakai sarong tangan, setelah


membuka sarong tangan, dan sebelum keluar ruangan Iaboratorium
Selalu
memakai
alat pelindung
berupa
sarung
tangan
dan gaun
pelindung! jas Iaboratorium serta masker pada saat menangani darah
atau cairan tubub 1ainnya. Bila persediaan
sarung tangan tidak ada,
sarong tangan dapat clihapus dengan desinfektan sesering mungkin dan
eligunakan kembali sepanjang hari
Pengbisapan c:fua.kukan secara
mekanik,
deng-m
pipet atau
pengbisap. Hindari terbentuknya aerosol, percikan dan tumpahan

Hindari penggunaan
gunting

Jarum suntik dan benda ~am lainnya diletakkan


tuauk. Jangan
menutup,
membengkokkan
atau
secara manual.

Spesimen
racks)

dikirim

alat ~am

di laboratorium,

ke laboratorium

dalam wadah

misalnya

pipa

skalpel, jarum,

daIam wadah tahan


mematahkan
jarum

yang kua\

(enamel tray,

Spesimen
rujukan harue diberi label yang jelas, dibungkus
dua lapis
atau elitempatkan
dalam wadah kedua yang tertutup
rapat, tahan
tusukan dan anti boeor.

Tata tertib

dJ daJa.m Jaboratorium

Dilarang

makan, minum,

Rambut

panjang

harus

dan merokok di dalam 1aboratorium


cliikat dan ditutupi

108

Tatuuan&

daD auaua

dl laboratorlulD

Rualle:1Ul
o

Seluruh ruangan laboratorium harus mudah dibenlihkan

Pertemuan antara
melengkung

Permukaan meja kerja harus kedap air, tahan asam, bua, larutan
organik dan panas yang sedang. Tepi meja dibuat lengJru.ng.(bulatl

Perabot yang digunakan harus terbuat dan bahan yang kuat.

Ada jarak antara


dibersihkan.

dua dinding atau antara dinding dan lantai dibuat

meja

kerja.

lemari

dan

alat

sehiJlgga

mudah

Ada dinding pernisah antara ruang pasien dan ruang .aboratorium

Penerangan harus cukup

Permukaan dinding, lantai dan langit-langit harus rata dan agar mudah
dibersihkan di1apisi dengan bahan kedap air dan tahan terhadap
disinfektan
TeT8Cdia bak cud tangan dengan air mengaJir di setlap
laboratorlum yang mudah dijangkllu/didekat pintu keluar

ruang

Pintu laboratorlum sebaiknya dUengkapi dengan aJat penutup pintu


otomatla dan diberl label BAHAYAlNPEKSI (BIOHAZARD)P. intu
untuk maauk dan untuk keluar harua terpisah dan diberi tanda yang
jew sehingga tidak terjadi tabrakan

Denah

ruang laboratorium lengkap menggambarkan letak telepon, a1at


pemadam kebakaran, pintu keluar darurat, digantunglcan
di beberapa
tempat yang mudah dilihat

Tersedia ternpat sarnpah bertutup dilcngkapl kantung plaatik dan


dlpisahkan antara sampah media dan aampab rumah tangga Iainnya
dengan warna yang eesuai dan letak mudah dijangiQl.u
Tidak diperkenankan
laboratorium

ada tanaman

dan hewan peliharaan

di ruang

Roddor. ,ane, lantaJ dan tan"a


o

Lantai harus beraih, kering tidak licin.


Koridor dan gang harus bebae halangan dengan penerangan yang cukup
dan tidak dipakai untuk menyimpan atau menimbun harang
Tangga yang lebih dari 4 anak tangga harua dilengkapi dengan pegangan
tangan dengan permukaan anak tangga yang rata dan tidak licin

110

KeweJlban Petueu/Tim

Keamanan

Kcrja daJam Laboratorium

Petugas/ttrn keamanan. kerja dalam


sebagai berikut :

laboratorium rnernpunyai kewajiban

L Melakukan pemeriksaan dan pengarahan secara berkaJa terhadap


metodej prosedur dan pelaksanaan bahan habis pakai dan peraJatan
kerja, terrnasuk untuk kegiatan penelitian.
2. Memastikan sernua perugas
menghindari bahaya infeksius.

laboratorium

memahami

dan

dapat

3. Melakukan penyelidikan semua kecelakaan eli dalam laboratorium yang


mernungkinkan terjadinya pelepasan/kebocoran/penyebaran
bahan
infektif.
4. Melakukan
pengawasan
dan
memastikan
semua
tindakan
dekontaminasi telah diJakukan jika ada tumpahanJpercikan bahan
infektif.
5. Memastikan bahwa tindakan desinfeksi telah
peraJatan laboratorium yang akan eliperbaiki.

elilakukan terhadap

6. Menyediakan kepustakaan/rujukan keamanan kerja yang sesuai dan


infonnasi untuk petugas laboratorium ten tang perubahan prosedur,
metoda teknis dan pengenaJan pada aJat yang baru.
7.

Menyusun jadwaJ dan


laboratorium.

kegiatan pemeliharaan

kesehatan

petugas

8. Memantau petugas laboratorium yang sakit atau absen jika hal tersebut
mungkin berhubungan dengan pekerjaan di Iaboratorium dan
rnelaporkannya pada pimpinan laboratorium.
9. Memastikan bahwa bahan bekas pakai dan limbah infektif dibuang
secara aman setelah menjalani proses dekontaminasi sebelumnya.
10. Mengembangkan sistem peneatatan : tanda terima, perjalanan dan
pernbuangan bahan patogenik dan mengembangkan prosedur untuk
pemberitahuan kepada petugas laboratorium tentang adanya bahan
infektif yang baru didalam laboratorium.
11. Mcmberitahu kepala petugas laboratorium mengenai keberadaan setiap
mikroorganisme yang harus diJaporkan kepada pejabat kesehatan
setempat ataupun nasional dan badan tertentu.

12. Membuat sistem panggil untuk keadaan darurat yang timbul eli luar jam
kerja.

Sistem

Pencatatan

dan PeJaporan adanya bahaya di dalam Laboratorlum

Jika teJjadi bahaya akibat pekerjaan di laborarorium, perugas laboratorium


memberitahukan kepada penanggung jawab harian dan Tim Keamanan KeIja
Laboratorium, untuk segera dilaporkan kepada Kepala Laboratorium. Tim
Keamanan Kerja Laboratorium harus meneatat secara rinci setiap kccelakaan
kerj~ yang terjadi di Laboratorium Genis spesimen, identitas' pasien dan petugas

112

t
t
t

TiU>e118 : Peralatan

Laborntorium,

Penllatan
Laboratorium

bahayo. d&D cara meocataainya

CaraMe!)gatul
Jarum semprit

1
Tusukan,
aerosol,
tumpahan

Gunakan jarum semprit deng<.n sistem pengund untuk


mencegah tet1epasnya jarum clarl semprit, Jlka n1Ungkin
gUllilkan alat sunbk sekaIi pakal. Sedot bahan pemeriksa
dengan hall-hat! untuk mengul1lngl gelembung udara.
Ungkarl Jarum dengan kapas dlsinfektan seat menarlk )arum
clan botol scesimeo.
Jlka mungkln, lakukan clalam
biosafety cabinet. Semprit harus steriUcan dengan otoklaf
sebeJum
dibuang, )arum sebalknya dibakar cWlgan 1nsInetator.

Sentrif1Jsala!
pemusing

Aerosol,
perdkan, tabung
pecah

Jika dlduga ada tabung pecah s.lat sentrifugasi, matikan


mesin dan Jangan dibuka setama 30 menit. llka tabung
pecah selama mesln berhentl, sentrifus harus dltutup
kemball dan biarkan selama 30 menit. llIpockan kejadlan
Inl kepada petugas keamanan ~a. Gonakan s.lrung
tangan kare! lebal dan forsep untuk mengambll
pecahan kaca. Tabung yang pecah, pecahan gelas dan
selongsong serta rotor harus dldlSlnfeksl. Tabung tldak
pecall
terplsall. Ruang clalam sentrifus (Chamber)
secara dldeslnfeksi
dldesinteksi, dlblarlcan s.ltu malam. !!jlas cWlgan air clan
kerlngkan.

Alat
homogenlsbs
clan atat
pengaduk (stIrre<)

Aernsol,
keboool1ln

Alai pemecah

AerOsol,
dipegang ja rlngan (g" nder)
keboooran
atat penggUnalng
(shaker)
Aerosol,
perdkan
Alat IIofolls.lsi
Aerosol, kontak
langsung,
untuk kontaminasi

Gunakan ala! homogenesasl yang temuat darl Teflon.


Tabung dan tutup alat harus dalam keadaan balk. Saat
bei<etja, tutup alat cWlgan plastik. Sebaiknya peketjaan
dilakukan dalam tJiosdf~ cabinee.
Operator harus memakai sarung tangan dan alat
dengan bahan absorben yang lunak.
Gonakan tabung yang tertutup rapat, dilengkapi der>gan
fi~er pada mulut tabung.
Gunakan filter untuk udara antara pompa dan claerall
hampa udara. Gunakan konekto< berbentuk andn 0
rnenutup seluruh
unit Lengkapl dengan penyartng
kelembaban yang terbuat clan iogam. Peril<sa semua
saluran hampa udara yang teIt>uat dan gelas, terhadap
adanya kerusakan. Gunakan hanya alat gelas yang
dlrancang untuk alat Inl. Pakal dislnfektan yang balk seperti
diSlr.fektan Idmlll.

Penangas air
( waf6ttll)

Pertumbuhan
mlkroorganlsme

Lalwkan dislnfeksl (jangan gunakan distnrektan yang


bersifat koroslf) clan penggantlan air seca13 beri<ala. Tabung
haNS tertutup lika menggun&k.>n penangas air berguncang
(shaking watertlath)

Ultraslntrifus

MrosoI, blbung
peeah

Pasang "Iter HEPA dlantllra sent""'s clan pompa vakum.


euat buku catabln untuk mencatat jam penggunaan setlap
rotor dIn tlndakan pemellharaan a!at, untuk mengurangl
risike kegagalan mekanl\(

Alat sonlnkaSl

Ganoouan
pendengaran

Pilsang Inwlator peredam wara untuk mellndungl terhadap


ketldak keblsingan suar.

Sumber : Laboratory BIosafety Manual, 2....edltlon, WHO Geneva 1993

1 14

Pengemallan,
tl'ansporaal

Pemberlan

Label

dan

Dokumentaal

untuk

keperluan

Syarat kernasan menurut rekornendasi dari UN adalah rnenganut basic triple


sistem kemasan tiga lapis. Sistern kernasan tersebut
dapat dijurnpai di pasaran.

packaging system atau


Kemaaan

dan Dokumentaal

Sistern kernasan
terdiri ataa.

tersebut

terdiri

dari

tiga lapis

yahg

dari

dalam

ke luar

I. Wadah

lapis pertama, adalah suatu


wadahjbotol
berisi spesimen,
berlabel yang kedap air, tertutup rapat dan anti bocor. Wadah tersebut
kemudian dibungkus seluruhnya dengan bahan yang bersifat rnenyerap
air, untuk menjaga kernungkinan wadah pecah.
.

2. Wadah lapis kedua, suatu wadah yang keras, awet, tertutup rapat, anti
bocor. Di dalamnya berisi wadah lapis pertama yang terbungkus oleh
bantalan absorben yang cukup banyak untuk rnenghisap semua cairan
spesimen yang mungkin bocor.

3. Wadah kernasan luar. Wadah untuk melindungi isi kernasan terhadap


pengaruh luar, seperti kerusakan oleh karena benturan fisik dari hiar
atau air selama dalam perjalanan. Oleh karen itu wadah luar terse but
terdiri dan suatu wadah bertutup rapat anti pecah dan anti bocor.
Pada kernasan
pengirirn.

luar

tertempel label biohazard, alamat

tujuan,

dan

alamat

Gambar 16: Kem.asan Spesimen Laboratorium


(triple packaging system)

t
116

Bahan infeksius dikategorikan sebagai bahan berbahaya Kemasan berisi


bahan tersebut harus diberi label yang jelas. Salinan dan formulir berisi data
ten tang spesimen, sural atau informasi lain yang menerangkan tentang jenis
spesimen, alamat pengirim dan penerima ditempel pada bagian luar wadah
kedua. Dua lembar salinan lain masing-masing dikirirn kepada laboratorium
penerima dan arsip si pengirirn. Hal ini memungkinkan laboratorium penerima
untuk
mengidentifakasi spesimen dan menentukan cara menangani dan
memeriksanya.
Jika bahan terkirim dalam nitrogen cair atau dengan pelindung lain
terhadap suhu tinggi. semua wadah harus dapat menahan suhu rendah.
Kemasan pertama dan kedua harus dapat menahan perbedaan tekanan sampai
98 kPa danperbedaan suhu antara 40C dan +50'C,
Jika bahan mudah rusak, cantumkan peringatan pada dokumen pengiring,
SIMPANDALAMKEADAANDlNGIN.ANTARA+2'C dan +4 C.

rmsalnya

Ada beberapa label yang dapat dicantumkan pada kemasan tersebut sesuai
dengan jenis spesimen dan perlakuan yang diinginkan terhadap spesirnen
tersebut, sebagai berikut:

1.

Label untuk bahan infeksius

2.

Label untuk spesimen yang


disertai C02 beku (dry ice):

3.

Label untuk cairan nitrogen

117


4. Label untuk bahan biakan cair,
yang memberi petunjuk arah
bagian atas kemasannya

Ukuran label paling kecil 100 x 100 mm atau 50 x 50 mm untuk kemasan


kecil dengan warna hitam putih.

Penilrlmlln
Pengiriman bahan infeksius membutuhkan koordinasi yang baik antara
pengirim, pemberi jasa transportasi dan laboratorium penerima, untuk
menjamin bahwa spesimen dapat diterirna dengan aman dan dalam keadaan
baik.
Sebelum mengirimkan spesimen maka
langkah sebagai berikut:

perlu

melaksanakan

langkah-

a. Hubungi pemberi jasa transportaai dan pihak penerima (lewat telepon


atau fax) untuk menjamin agar spesimen diantar dan diperiksa segera.
b. Siapkan dokumen pengiriman. ,
c. Atur rute
langsung.

pengiriman, jika " mungkin menggunakan

penerbangan

d. Kirimkan informasi secara rinci ten tang semua data transportasi kepada
pihak penerima.
Bahan infeksius seharusnya tidak dikirim sebelum ada kesepakatan di
antara pengirim, pemberi jasa transportasi dan penerima atau sebelum pihak
penerirna memastikan dengan yang berwenang bahwa bahan tersebut boleh
dimasukkan ke daerah tersebut dengan sah serta tidak akan terjadi
keterlambatan dalarn pengiriman paket ke tujuannya.
Tanggungjawab dari penerima adalah:
a. Mendapatkan izin yang diperlukan dan yang berwenang'.
b. Mengirimkan izin impor, surat yang diperlukan.atau dokumen lain yang
di syaratkan oleh pejabat dan tempat asal spesimen.
c. Segera mernberitahukan

pihak

pengirim jika

diterima.

bahan

kiriman telah

118

Kecelakaan yang berhubungan


dengan
dan pengamanan pada keadaan darurat.

tranportaai:

cara

penanganan

Jika kernasan yang bensi bahan infeksius rusak dalam pengmman atau
diduga bocor atau cara pengcrnasan yang digunakan salah, maka pemberi jasa
transportasi harus menghubungi pihak pengirim dan pejabat yang berwenang.
Pada sear yang sama, lakukan tindakan pengamanan sementara terhadap paket
dengan prosedur sebagai bcrikut
a. Jika terlihat pecahan gelas atau
serokan debut sikat / forsep.
b

Gunakan
kanrong

obyek tajam,

kumpulkan

dengan

sarung tangan dan ambil kema san tersebut, tempatkan


plastik yang ukurannya mernadai.

dalam

c. Buang sarong tangan yang telah dipakai kedalam kantong plastik yang
sarna.

d. Tutup kamong plastik tersebut.


e. Cuci tangan dengan baik,
f. Hubungi pengirim atau penerima untuk mengurus paket.
g. Jika tidak dapat dihubungi, kirimkan paket ke laboratorium terdekat
yang dapat menangani paket tersebut,
6.8 Unit Pelayanan Sterilisasi dan Dislnfeksl
Tujuan dari unit sterilisasi dan disinfeksi adalah menyediakan sernua bahan
stern yang diperlukan untuk perawatan pasien, baik di ruang rawat atau di
ruang bedah.
Fungsi

unit sterilisasr dan disinfeksi meliputi pengumpulan dan penerimaan

pemrosesan,
menyimpan
mendistribusikannya
ke seluruh
bahan
dan mensterilkan,
alat bekas pakai
pada dan
perawatan
pasien,
dekontaminasi,
bagran di rumah sakit,
eenda benda steril yang biasa dikelola di unit sterilisasi dan disinfeksi
adalah seperti:
o

e
o
o
o

Sernprit

Jarum suntik
Paket alat untuk operasi minor/ mayor
Sarung tangan
Kasa stern, kasa pembalut, dab

Sterilisasi

semua

a1at bedah,

linen,

peralatan

lain

untuk

keperluan

perawatan
pasien merupakan
salah satu
kebutuhan
dasar dalam
infeksi nosokomial.
Namun penyediaan
alat-alat
steri! untuk
pasien pencegahan
tidak hanya
tergantung dari efektifitas proses sterilisasi itu sendiri, namun juga tergantung

119

pada sebaik apa sarana di rancang, perilaku petugas kesehatan dalam


pengendalian infeksi, kendali mutu yang efektif, aspek lain pada pemrosesan
bahan dan alat kesehatan sebelum, seJama dan sesudah sterilisasi. Lebih
lanjut, teknologi, tingkat pendidikan sumber daya manusianya, keamanan dan
produktifitas juga memegang peranan penting dalam operasionalisasi unit
sterilisasi dan disinfeksi secara efisien.
Unit sterilisas! dan disinfeksi terdiri atas beberapa area, seperti, area
penerirnaan, area untuk pembersihan dan dekontaminasi, penyiapan dan
pembungkusan, area untuk sterilisasi danpenyimpanan. Penataan ruangan dari
unit sterilisasi dan disinfeksi tergantung sistem distribusi yang akan dianut. Di
negara rnaju sistem distribusi dapat menggunakan conveyor veritakal atau
horisontal, pernakaian mesin-mesin dapat mengurangi jumlah petugas yang
tentu saja akan mengurangi risiko kontaminasi dan kecelakaan kerja. Namun di
Indonesia kebanyakan masih dikerjakan secara manual.
Suhu di ruangan kerja sebaiknya dapat dijaga sekitar 18 . 22' C dengan
ke!embaban relatif sekitar 35 - 70%. Sistem ventilasi dirancang sedemikian rupa
hingga aliran udara terjadi dan daerah bersih kearah area yang relatif lebih
kotor dan dikeluarkan dengan melalui filtered partial circulating system dengan
aliran udara tidak kurang dan 6 kali putaran per jam.
Letak sarana cuci tangan harus senyaman mungkin atau dekat dengan area
dekontarninasi penyiapan, sterilisasi dan penyimpanan bahan dan alat steril.
Keaelamatan

Petugas

Unit Sterilisas!

dan DI.s!nfeka!

Perlu diperhatikan risiko petugas untuk mendapatkan infeksi nosokomial,


seperti HIV, hepatitis B, hepatitis G dan penyakit lain yang ditularkan melalui
darah dan cairan tubuh lainnya, mengingat petugas di unit ini selalu
berhubungan dengan alae-alat yang terpajan.
Risiko tidak hanya datang dari aspek mikrobiologis tap' Juga dan aspek
kimia sehubungan dengan penggunaan zat-zat kimia pada proses disinfeksi dan
sterilisasi. Etilin dioksid sebagai zat pensteril dikenal sebagai zat yang cukup
toksik, oleh karena itu harus diperlakukan secara aman, hindarkan pajanan
kronik terhadap zat terse but bagi pekerja ataupun lingkungan dengan alat-alat
pelindung yang rnernadai, dan jaga kemungkinan kebocoran alat, api dan
ledakan.
Residu yang tertinggal pada alat kesehatan yang disteriJkan dengan gas
etilen dioksida dapat membahayakan pasien, oleh karena itu dalam prosesnya
perlu aerasi (penganginan) yang cukup agar uapnya tidak mengering dan
menempel pada alat kesenatan tersebut. Untuk menjaga keselamatan kerja,
maka cara aerasi dilakukan secara mekanik dalam kabinet yang tertutup yang
dilengkapi dengan a1at yang mengatur suhu dan aliran udara secara amen
langsung keluar ruangan. Lama dan suhunya tergantung dari banyak hal,
seperti, jenis alat yang disterilkan, pembungkusan, jumlah dan berat alat dsb.
Agar amannya maka prosedur yang tertulis dalam buku manual alat sterilisasi
dengan g9;setilen dioksida harus dipelajari dan diilruti dengan seksama,

120

Tempat Penyimpanan
Tempat penyimpanan
bahan-alat
steril sebaiknya dekat dengan
tempat
sterilisator, namun
terpisah, tempat tertutup, jalan masuk
yang terbatas,
dengan ventilasi yang cukup, serta terlindung dari debu, kelembaban, serangga
atau binatang lain. Terjaga dari suhu dan derajat kelembaban yang ekstrem,
suhu berkisar antara
18' -22'C, sedang derajat kelembaban yang dianjurkan
adalah
35 - 50%, untuk
menghlndari
pengeringan yang berlebihan dan
kerusakan alat atau bungkusnya.
Peletakan bahan-alat steril pada rak atau lernari tertentu yang sebaiknya
berjarak 20-30 em dj atas lantai dan 50 em di bawah langit-langit, serta 10 em
dan dinding sebelah
luar. Letakkan bahan alat terse but sedemikian rupa
sehingga tidak sating menumpuk,
tidak tertekuk, saling berdesakan, saling
menusuk sehingga sterilitasnya dapat terjamin. Jangan
menyimpan di luar
tempat yang telah ditentukan, seperti di atas lantai, di jendela atau lainnya.
Rak dapat terbuka atau tertutup bahkan dalam bentuk laci, namun bila
dalam lad harus dijaga jangan sampai bahan-alat atau bungkusnya rusak atau
tereepit. Setiap bungkus perlu diberi label yang berisi nomor kode yang
menunjukkan
eara sterilisasi yang dipakai, tanggal disterilkan dan tanggal
batas kedaluwarsa.
Dalam hal tanggal kedaluwarsa tidak ada patokan yang
jelas untuk macam-macam jenis steril.isasi, oleh karena semua tergantung dari
cara pembungkusan,
bahan pembungkus yang dipakal, suhu, kelembaban dan
faktor lain.
Hal yang perlu !diperhatikan
adalah
setiap
kerusakan
dari
pembungkus
harus
dianggap
telah terjadi kontaminasi
sehingga
perlu
disterilisasi ulang terutama bahan-al~t' untuk keperluan tindakan bedah atau
invasif.
Pengangkutan bahan-alat steril ke kamar bedah atau ke tempat pelayanan
lain harus dilengkapi dengan selubung tambahan yang dibuka persis pada saat
mau masuk kamar bedah agar debu yang terbawa sepanjang perjalanan tidak
terbawa ke dalam ruang steril. Semua perlengkapan untuk pengangkutan
ini
disediakan oleh unit sterilisasi dan disinfeksi.
Pemellharaan
Hal yang tidak kalah penting adalah pemeliharaan alat-alat yang dipakai
pada unit stertlisasi dan disinfeksi. Alat-alat dan me sin harus dirawat secara
rutin oleh petugas yang mahir dengan menggunakan
pedoman dari pabrik
sebagai rujukan. Sterilisator harus diperiksa dan dibersihkan setiap hari atau
secara berkala sesuai anjuran
pabrik, untuk menghindari penumpukan residu
kimia yang mungkin terjadi di dalam tankinya. Alat pemantau
suhu dan
tekanan uap harus
dikalibrasi setiap kali habis diperbaiki, atau sedikitnya
setiap 6 bulan sekali.

411

411

122

t
t
t

Linen yang tercemar oleh darahj cairan tubuh berisiko menularkan Hlv,
hepatitis B dan C. MRSAdsb. dapat dikontaminasi dengan merendam larutan
klorin 0.5-1% selama 5-10 menit, dan pastikan bahwa linen terendam
seluruhnya. Bila tidak tersedia larutan klorin dapat dengan larutan lisol 7%
selama sedikitnya I jam, baru kemudian pemilahan dapat dilakukan oleh
petugas yang mengenakan alat pelindung yang memadai,
Perendaman dila~kan dalam bak dan dengan memasukkan kantong
kanvas atau kantong plastik yang sudah dibuka ikatannya sehinga cairan
perendam dapat rnasuk dengan rata.
Pencuctan
Proses pencucian yang baik dapat menghilangkan noda dan mengurangi
jurnlah mikroorganisme hingga batas normal. Narnun demikian, belum ada
standar yang dapat dipakai sebagai patokan. Walter dan Schillinger mengatakan
bahwa yang disebut dengan bersih dari patogen adalah : bila linen mengandung
maksimum 20 koloni per 100 ems, sedangkan Christian dan kawan-kawan
berpendapat bahwa penurunan jumlah hingga 106 - 107 dapat dikatakan efektif.
Dalam keadaan biasa, penilaian tingkat mikroorganisme pada linen bersih
secara berkala tidaklah perlu, kecuali bila ada kejadian luar biasa yang ada
hubungannya dengan linen.
Pada saat ini, mencuci dengan temperatur tinggi banyak dilakukan di
rumah sakit. Beberapa penelitian menunjukan bahwa dengan menggunakan
. suhu rendah ditambah dengan bahan kimia, jumlah mikroorganisme yang
dihiJangkan sama dengan bila menggunakan temperatur tinggi.
Pada suhu 220C dapat dihilangkan 3-log bakteri dan dapat dihilangkan 3log lagi dengan pembilasan pemutih 50-150 ppm.
Pengurangan jumlah bakteri bukan saja tergantung pada tiogginya suhu.
Faktor-faktor lainnya yang memberikan efek tambahan adalah : pengadukan,
pengenceran, penarnbahan pemutih dan pengeringan.
Jadi pencucian dengan temperatur rendah ditambab dengan bahan kimia
untuk membilas, sama amannya dengan pencucian temperatur tinggi dan dapat
menghemat energi dan biaya.
Penyimpanan

Tempat penyimpanan linen; bersih harus selalu dalam keadaan bersih.


Leman, dinding dan lantai harus bebas dm debu, oleh karena itu harus
dibersihkan setiap han dengan earn dipel atau dengan penyedot debu. Linen
bersih hendaknya diberi penutup atau dibungkus selama pengangkutan urrtuk
mencegah kontaminasi. Demildan pula tempat penyimpanan linen di setiap
ruang perawatan harus dijaga selalu bersih. Linen dalam penyimpanan
hendaknya diberi pelindung sampai dengan digunakan oleh pasien.

124

Karyawan gi.zi harus terlatlh mengenal hygiene perorangan agar ttdak


mencernart makanan yang dikelolanya, AJat pellndung harus tersedla
dan dikenakan dengan patuh dan selaJu dlpantau.

Proses rinel dapat dtlthat di bawah Inl.


Prosedur 20 : Prosedur Kerja di Unit Pelayanan Gizi

Tujuon
o

Menycdiakan malcanan yang aman bag! pasien dan p8l5(M1iI Nmall salOl dengan m8I1jage kebersihan.
sani1asl dan tel1\Pal penyimpenan dan peralatan yang tepat uotUK menangani suplai makanan,

Unluk mengurangi kontamina.1 makenan dan mlnuman 010". Mlkrooroanisme dan bah.n klmla yang bisa
menyebabkan

keracunan

maknnan,

Alai yang dlperlukan

Bahan pemberslh (soda, delergon dan lalnlaln)

Ail panas dan cflngin

Oa.rah k.~. yang cukup Iuas

Kompor yang tidal< berasap

Pando walen. bald. peralatan masak dan lalnlaln

Cud panel, wa)an peralatan masak dan bal<i dei1gan ....-

Segera hlclangkan makanan se.elah _

Hindari konlal< rangen dengan makanan, harus menggunakan petalatan yang sasual untuk menyiapkan

menggynal<an

air dan detergen

dimasak

makanan dan menyajjkan

Jangan blorl<an karyawan yang mengldap penyakit menular sopertf sakit

cemaoasan.

infaksi kullt

roonanganl makanan dan pcralalan. Atur ladwal untuk pemorlkaaan karyawan yang bOka~a dl dapur

S<!diakan tempa. yang cukUp unluk menylmpan makanan. Sisekan 1001S em dlatas tantal .OM lanlai bIsa

cibersihkan

Ciptakan
mencegah

"" Jangan
a

prooedur pembarslhan yang bail< untuk daorah penyimpanan


kontaminasi oleh tikus. "rangga

makanan dan .bahan unlUl<

dan keJembaban.

gUr\8kan 181ur yang (elak etau busuk un1uk menghJndarl kontaminasi Sa1monella

Penanganon

bakl dan peroJatan

dan pasien

yang punya

pcnyakl1 mcnutar

h~rlJJ, t'l.jlakukan tMpisah.

Gunakan do,lnf.lrtan yang mengandung Idorin bebas sebagol perondam,


a

Buang aemua

Gunakan kompor yang tidal< bcrasaP un!uk menc:egab k8Iyawan .orIcena kornpIibsI pemapasan.

Slsa.

makanan

126

Prosedur

21 : Peralapan

unto Pemlndahan

dan PeJUUlganan Jenuah

Sarung tangan latok. unwk .. mua yang akaI1 menanganllonuah

Gaunpe1indung

KaIn b6csIh penurup Jonazah

Klem dan gunting

CI

Plester kedap air

"

Kapas atau kasa absorbon

'"

Pembalul

Wadah barang barllarga

Brankat )8naull

Prosecrur .

CUd tangan
Semua pelugal dill koluarga yang al<an menangan1 lenauh Iwua mengenakan aarung langan dan gaun
pol1ndung kedap II,

Kanal<an muke, clan pallndung mala bill Ida kemungklnan I.~adl perclk."

Lapaskan .. lang Intul dan Iang laltlnya dar! tubuh, blla pertu monggunakan klam dan gunllng, buang dl
wadah khu.u. unluk ...nIplh medl. bart label 'bahan Intlkelull"

Luka baku ..

L.~

Lepukan pembalUliuka, dan I&ruh ell dalam _

Tarull ka&a ~UI

lang

Intul dl"'tup deng." p1osta, kedap ai,

paJcalItI 1<0101, dan tempall<an dalam Wldah untuk anonlpekaian kotor


aampah

media bersama

;""'' 8' 111.

banda

' ' '"'"IamI ....

oe.o<t>en dl doera.'
ro.. tkan dengan pI8SIer kedap at,
Lallld<an IlIIIZ8h dltam poaIllletleniang deogan IltIg8n dlllll ltau ta/lipal dl dacla

Teruh handuk koell dl blwlh kepata uotuk .... nampung i.."blaan daroh

TUI"p kelopak mata lee"a


dongan kapal den ....

B6I8ihkan jenazah
TuIup1 jenaZah dengan ga"n dan kaIn batIlh unlUk dl.... lken kaluarga

Selolah

paaang III:IeIpeng>aI peda pergelangan kaklatau Ibu lart !WI jenazah

TempaIk&n

Ialnnya

par!ahan-Iahan, alau IUIUpldlngan kapaa lembab, lUIup lellnga dan mul"1

keluatV& mlnyaka1k&n

1_, gaun dapli dllepu

jenazah datam bronke, dan anlarkan ka kamII jenauh


CUci langen .. I.'ah .... lepel aa,ung tangan.

128

Pro.edur22 : Pcmuluaran JellU!h dJ Kemar Jenazah


-;

.v

Alat pelindung untuk $<Imua petugas

Waskom bcrisi air dan sab4Jn

Sarung tang"" katel yang panjang sampai sil<u

Pleste,

Sebail<nya memakaJ _IU bot sampai krtut

Kapas

PeSisw atau sikel

1.1_

penlllUp mulul dan hldung

ke<1ap air

Kacamat8

Gaunlcotemeklshort

Pewangl

T empat mandi }onazah

Wadah be,eng berharga

Branka, Jenazeh

Waslap

Handuk

Mencuci

tanoan dengan

aabun sebelum memakal sarung tangan

Petugas memekal peUnc!ung

Jenazah dimendiken oloh petugas kamar jenazah yang lalah memehaml cara membersihkanlmemandiken
jenazah. dengan mamperhatlken beberape hal :

Cuci tangan dongon sabun sebelum dan sesooan memakel .arung langan

Segera moneuel kulil dan permukeaJllain ~.ngan ai, blla ter1<enadarah atau cairan tubuh lain

Setelah selesal dimandlkan keringken dengall handuk

Ganti pembalut

.)

dl daerah perineum dengan yang baN dan kering. rekellOltt dengan "",st .. kedap

air

Ganci lUIup kelopak mOlll, juga letioga


kedap air

yang tranoparan

dan _

deOOaJl kepes dan kess, kemuclian tuIup dengall plaster

Letakken [enazah dalam poolsl tarlentang dongan tang .. dl slsl atau lertipal dl dada

T~ruh handuk keeil dl bawah kepela untuk menampung rembesan darah

Sampeh dan bahan larkonlamlnasllainnya ditempalkan dalam tas plasUk

Pembuangan &ampah dan bahan lerkontaminasi dilaJwkan aesuaJ dengan tujuan mencegah 1"1aksl

Satiap percikan ltaU tumpehan darah dI pennukean aeoara dibersihkan dengan taMan Idorin 0,5%

Petalallin yang akan cigunakan kernball horus dprooes

Bungkus jenazah dengan kefan ateu kain pembunokus lain sesuai dengan kepen;ayaan f agamanya

Cuci tangan setatah membuke atal pelindung dan sarung langan.

dengan

UMan : dekontamOnasl. pembersihan.

d!sintel<si dan sl8rU!sul

Calalan:
Jenazah yang tel8h dlbungkus lidak bol<>hdibuka lagl.
Jenazah Udak boleh dibaJsam. dlsuntlk uotuk pengawetan stau diolQllSi kecuaO oIeh petugu khusus.
Dalam hallertontu

oropll

hanya dapal dilalwkan ael6lah mendapel persaluluan

129

dan

p;mpinan Rumah Said'.


6.12

Ambulans
Sarana

Gawat Darurat, Pemadam Kebakaran, Polisi, dan

UmlHD

Pajanan darah dan cairan tubuh lain dapat juga terjadi pada petugas lain
yang bekerja di ambulans gawat darurat, petugas pemadam kebakaran, polisi,
petugas penjaga pantai, wasit pada cabang olah raga tertentu, pramuka,
penjaga keamanan,
petugas hotel dan lain-lain. Untuk mengurangi risiko
terinfeksi
maka
para
petugas
tersebt juga
harus
menerapkan
kaidah
Kewaspadaan Universal.
Penanganan

pasien dilakukan

dengan memperlakukan

darah

dan

cairan

tubuh sebagai bahan infeksius.


Cara kerja hicicai.
o

Dilarang makan, minurn, dan merokok di dalam ambulans,


pemadam kebakaran dan kendaraan dinas polisi

Selalu memakai alat pelindung pada saat menangani pasienjkorban


minimal sarung tangan steri! dan kacamata. Dalam keadaan darurat
tangan dapat dilindungi plastik. bahan tidak tembus cairan lainnya

Cuei tangan sebelum bekerja, sebelum memakai


setelah membuka sarung tangan

sarung

kendaraan

tangan

dan

Dilarang menoJong pasienj korban bila menderita luka sayat terbuka


pada kulit. Luka harus obati sampai sembuh sebelurn diperkenankan
bekerja. Luka lecet ringan harus ditutupi dengan plester kedap air.
Petugas yang be ram but p~jang
dengan topi

harue- rnengikat rambut dan menutupi

Pakaian kerja petugaa


o

Setiap kali dinas selalu memakai pakaian kerja yang bersih

Pakaran kerja digariti bila terkena kotoran, darah, dan eairan tubuh

Kendaraan ambulana, pemadam kebakaran, dan polisl


c

Digunakan selalu dalarn keadaan rapih dan bersih

Bagian belakang. penumpang,


brankar
desinfektan sebelum dan selesai digunakan

Tumpahan

bahanj cairan harus

harus

dibersihkan

segera didekontaminasi

dengan

dan setelah itu

di bersihkan kern bali dengan desinfektan


o

Perlengkapan P3K dan Ambu-bag tersedia


pemadam kebakaran. Untuk kendaraan dinas
perJengkapan P3 K

41

41
dalam ambulans
dan
polisi minimal tersedia

Bila perlu resusitasl


sedapatnya
lakukan dengan ambu-bag, tidak
dilakukan tindakan mulut ke mulut, bila terpaksa mulut penolong dan
penderita harus dibatasi kain

130

Suudah mcnolong pulen

I korban

Lakukan dekontaminasi pada alat sekali pakai kemudian dikubur atau


segera dibakar dalarn insinerator, sesuai prosedur penanganan sampah
medis

Lakukan dekontaminasi untuk

"

Pakaian kerja yang tercennar darah direndam dalam larutan disinfektan


30 menit atau larutan klorin 0.5% selarna 10 menit ciicuci sesuai

dilakukan sterilisasi

alat yang akan dipakai kembali dan

prosedur.

131

M1LCK PBRPUSTAKAAN
DEP; KBS.8HA TAN

7. RUJUKAN

1.

Bartelett

JG. Gallant JE. 2()()()'200J Medical Management of HlV infection.


Baltimore, Maryland: John Hopkins University School of Medicine, 2000

2.

Oepartemen

3.

.Depanemen of Community

4.

Ojojosugito MA, Roeshadi


0, Pusponegoro
AD. Supardi
Penqendalian tnfeksi Nosokomialdi Rumah Saki!. Jakarta:

Kesehatan

UrUversal. Jakarta:

RI. Kurikulum dan Mcdu1 Pelatihan


Direktorat Jenderal PPM & PL, 2000

Kewaspadaan

Serdces and Health. Infection Control Guideline. AIDS


and related condition. Australian National Council on AIDS Bulletin NO.7
1997.
I. Buku

marwaI

IKABl, 2001

5. Komite

Nasional
Penanggulangan
HIV/ AIDS. Subpokja Pengobatan dan
Perawatan. Pedontan. Penatalaksanaan, Perau.atan, Pengobatan Dalam
Rangka ~lallgaJ'lAIDS.
Jakarta: Oepartemen Kesehatan RI. 1997

o.

Mayhall

CG. Editor. Hospital E:pidemJlogy And Infection


William and Wilkins. 1996

7.

Shaeffer

8.

Sidemen A, Alchosih HY,Tries Anggraini, Sugeng Purwanto 0, Eddy Rahrujo HR,


Sutanto
OS, Dharmayanda
R. Pedoman Pelaksanaan
Universal
Precautions di Puskesmas. Boston: Initiatives Inc., 2000

9.

Sutoto,

SO, Garzon

LS Heroux

OL, Korniewicz

Control. Baltimore:

OM. Infection Prevention And

SaJe Practice. St. Louis: Mosby Year Book Co., 1996

Lis Surachmiati,
Sri Pandam, dkk. Prosedur Slandar Keu.ospodaan
UrU..ersal terha.dap in/eksi HlV/ AIDS dan Lainnya di Sarona Kesehatan
di Indonesia. Jakarta:
Direktorat Jendersl PPM & PLP Depkes Rl., 1998
Universal

10. Suwahyudi,

Pelayanan Kesehatan:
Irian
Jays:
Santoso. Editor.
Pedomon Pelaksano:an

dalam

Budi

Kesehatan , Kantor

WiJayah Propinsi

Departemen
Kewaspadaan

Irian jaya, 1997

11. Vijay Samuel

Richard, Elisabeth Mathai, Thomas Cherian, et al, editor, Hospital


Control Manual. Vellore, Tamil Nadu, South India: Hospital
Infection control Committee, Christian Mec:licalCollege & Hospital, 2000
infeaior:

12. World

Health
Orgaruzauon.
Guideline for the Safe TrwtSport of Infectious
Subtanoes and DiagnDSnc Specimens. CAvision oj Emerging and Other
ComtnullIcable DIseases Surveillance and Control WHO/EM/97.3, 1997

13. World

Health

Organization.

Guideline For Preventing HlV, HBV, and Other

lnfeaion ill the Health Core Semng. New Delhi, India: Regional office for

South- East Asia, 1996


14. Mehtar,

S. Hospifallnfection Control, Setting Up A Cost


Oxford University Press, New York. 1992

Effective

Programme.

IS. Health Canada, Laboratory Centre for Disease Control. Hand washing, Qeaning,
Disinfecrion and Slerilizatian in Health Care, Infection Control Guidelines.
Canada Communicable Disease Report, Vol 24S8, Supplement, 1998,

132

I-

.,

..

PERPUSTAKAAN
DEPARTEMEN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

1111111111111111111111111111
002004932