You are on page 1of 56

Hama dan Penyakit Kelapa Sawit

Pengendalian hama dan penyakit tanaman


A. Penyakit
1. Penyakit Akar (Blast disease)
Gejala serangan :
- Tanaman tumbuh abnormal dan lemah
- Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning
Penyebab :
Jamur (Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.)
Cara pengendalian :
- Melakukan kegiatan persemaian dengan baik
- Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman
2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)
Gejala serangan:
-

Daun berwarna hijau pucat


Jamur yang terbentuk sedikit
Daun tua menjadi layu dan patah
Dari tempat yang terinfeksi keluar getah

Penyebab :
Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma
pseudofferum.
Cara pengendalian dan pencegahan :
- Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar
- Melakukan pembumbunan tanaman
3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)
Gejala serangan:
- Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati
- Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
- Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan
Penyebab :
Jamur Fomex noxius.
Cara pengendalian :
- Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan membuang bagian
tanaman yang terserang
- Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka
4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang (Dry basal rot)

Gejala serangan :
Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah.
Penyebab :
Jamur Ceratocytis paradoxa.
Cara pengendalian :
Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya dibakar.

5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)


Gejala serangan:
Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan.
Penyebab :
Belum diketahui dengan pasti.
Cara pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang
6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)
Gejala serangan :
- Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut
- Aroma kuncup yang terserang berbau busuk
Penyebab :
Bakteri Erwinia.
Cara pengendalian :
Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.
7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)
Gejala serangan:
Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di bagian
tengahnya berwarna cokelat.
Penyebab :
Jamur Fusarium oxysporum
Cara pengendalian :
Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Hal ini bertujuan
agar serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman muda dapat berkurang.
8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose)

Gejala serangan :
- Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun
- Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
- Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang
Penyebab :
Jamur Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia palmarum.
Cara pengendalian :
- Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur dan pemupukan
berimbang
- Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit
dari persemaian ke pembibitan utama.
Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.
9. Penyakit Tajuk (Crown disease)
Gejala serangan :
Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek.
Penyebab:
Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk.
Cara pengendalian :
Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier penyakit ini.
10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)
Gejala serangan:
Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau pangkal pelepah
daun.
Penyebab :
Jamur Marasmius palmivorus.
Cara pengendalian :
Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi kebun, terutama
pada musim hujan.
Pengaplikasian difolatan 0,2 %.
B. Hama
1. Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)
Gejala serangan :
- Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak
- Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.

Cara pengendalian:
- Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar
- Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit
2. Tungau (Oligonychus sp.)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna perunggu mengkilat
(bronz).
Cara pengendalian :
Pengaplikasian akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75,2 g/l.
3. Pimelephila ghesquierei
Gejala serangan :
Serangan menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun banyak yang
patah.
Cara pengendalian :
- Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang terserang
- Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.
4. Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya daun hanya tersisa tulang
daunnya saja.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85 % dan
klorpirifos 200 g/l.
5. Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan Crematosphisa pendula)
Gejala serangan:
- Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi
- Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan insektisida
berbahan aktif triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2 kg/ha. 6. Belalang Valanga
nigricornis dan Gastrimargus marmoratus
Gejala serangan:
Terdapat bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang.
Cara pengendalian :

Pengendalian dapat dilakukan dengan mendatangkan burung pemangsanya.


7. Kumbang Oryctes rhinoceros
Gejala serangan :
Daun muda yang belum membuka dan pada pangkal daun berlubang-lubang.
Cara pengendalian :
Menggunakan parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium anisopliae dan virus
Baculovirus oryctes.
Melepaskan predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung.
8. Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah)
Gejala serangan:
Terdapat lubang-lubang pada buah muda dan buah tua.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 g/l atau
andosulfan 350 g/l.
9. Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus sp.)
Gejala serangan:
- Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal
- Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.
Cara pengendalian :
Melakukan pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan predator tikus,
seperti kucing, ular dan burung hantu.

BeberapaPenyakitpadaDaunKelapa
Sawit
OPINI|16April2013|13:58

Dibaca:816

Komentar:0

Adabeberapapenyakityangseringmenyerangdaunkelapasawit.Diantaranyaadalah:
PenyakitBercakDaun(PBD).
PenyakitBusukDaunAntroksa(PDA).
PenyakitKaratDaun(PKD).
PenyakitTajukDaun(PTD)
PenyakitBusukKuncup(PBK)
1.PenyakitBercakDaun.
Penyakitbercakdaunkelapasawit disebabkanolehbeberapaspesiesjamur,antaralain Curvularia
eragrostidis, Curvularia spp., Drechslera halodes, Cochliobolus carbonus, Cochliobolus sp, dan
Pestalotiopsissp.Jamurjamurtersebutmenyebardengansporamelaluihembusananginataupercikan
airyangmengenaibercak.
Penyakitinibiasanyamenyerangtanamanbibitkelapasawit yangmasihmuda.Pemicunyaadalah
kelembabanudarayangterlalutinggi,sehinggasporamudahtumbuhberkembang.Selainitu,kurang
bersihnyalapanganpembibitandarigulmajugamenjadi pendorongdatangnyawabahpenyakitini.
Sejenisgulmadarikeluargagramineaemerupakaninangsementarayangpotensialbagijamurpatogen
ini.Karenaitu,bersihkanlahlahanpembibitandanlahandisekitarnya.
Bila aada dijumpai serangan ini pada tanaman sawit anda, maka janganlah menyiram bibit pada
daunnya,tetapiusahakanagarlangsungkepermukaantanahdalampolibagnya.Selainitu,kurangijuga
volumepenyiramanuntuksementarawaktu.Bilajarakantarpolibagkurangdari90cm,makalakukan
penjarangan.Guntingdanbakardaunbibityangterserangpadatingkatringandansedang.Adapun

bibityangsudahmasukkategori kritisatauterserangberat,makaharusdimusnahkandengancara
dibakar.Selainitu,bibitbibityangterserangharusdiisolasi,jangansatukandengantanamanlainyang
masihsehat.
Aplikasi:
Disemprotdenganfungisidathibenzol,captanatauthiramdengankonsentrasi0,10,2%tiap1014hari.
2.PenyakitbusukDaunAntroksa.
Penyakitbusukdaunantroksaumumnyamenyerangbibitkelapasawityangmasihmuda.Penyakit
antroksasendirisebenarnyamerupakansekumpulannamapenyakitatauinfeksipadadaunbibitbibit
muda,yangdisebabkanoleh3jenisjamurpatogenik,yaituBotryodiplodiaspp..,Melanconiumelaeidis
dan Glomerellacingulata. Sporadihasilkandidalam piknidiaatauaservuli,danmenyebardengan
bantuananginataupercikanairsiramanatauhujanPenyakitinitelahdilaporkanterdapatdiberbagai
perkebunankelapasawitdiIndonesia.
Gejala.
Terutamamenyerangbibitpadaumur23bulan.Kadangkadangdijumpaibersamaandengangejala
transplantingshock(cekamanpindahtanam).Gejalabiasanyadijumpaipadabagiantengahatauujung
daun,berupabintikterangyangselanjutnyamelebardanmenjadikuningdancoklatgelap.Jaringan
sakitselanjutnyanekrosis,bercakmeluasdenganbatasantarabercakdenganjaringansehatberwarna
kuning.Bercakkadangkalamemanjangsejajartulangdaun.
AdapunfaktorpendorongterjadinyaseranganPDAiniadalahsamadenganfaktorpendorongpada
seranganPBD.Karenanya,selainpembersihananlahan,penjarangan,pemangkasan,pengisolasiandan
pemusnahanbibityangsudahkolaps,lakukanjugapenguranganteduhandiataspembibitan.Cahaya
mataharibisamembantumengurangikecepatanpertumbuhanjamurpatogen.
Lakukan penyemprotan dengan fungisida ziram, thiram, captan, cuman atau triadimenol dengan
konsentrasi 0,10,2% dengan pusingan 710 hari, atau dengan thibenzol dengan konsentrasi 0,1%
denganpusingan1014hari.
3.PenyakitKaratDaun.
Penyakitkaratdauninibiasanyamenyerangtanamanyangsudahmulaiberproduksisampaitanaman
ygsudahtua.PenyakitkaratdaundisebabkanolehalgaCephaleurosvirescen.Gejalapenyakitberupa
pembentukan karat berwarna kemerahan pada pelepahpelepah tua (bagian bawah). Ini membuat
seluruhdaunpadapelepahpelepahbawahmenjadikeringlalumati.
Tindakanpengendalianyangdapatdilakukandiantaranya:
Melakukanpenunasanpelepahbawahsecarateratur.
Melakukan penyemprotan dengan fungisida tembaga, sperti dengan Kurproxat 345SC (produksi
NufarmIndonesia)ataububurBordeaux,C.O.C.,danCobox.b.dengandosis2,55gram/2literair
denganintervalpenyemprotansatuminggu.
4.PenyakitTajukDaun(CrownDisease)
Gejalaserangan:
Helaidaunbagiantengahpelepahberukurankecilkecildansobek.
Penyebab:
Sifatgenetikyangditurunkandaritanamaninduk.
Carapengendalian:Melakukanseleksiterhadaptanamanindukyangbersifatkarierpenyakitini.
Artinya,pohonyangmengalamipenyakitinitidakbolehdijadikanindukan.

Sampaisaatinibelumditemukancaraefektifuntukmengatasipenyakitini.Penyakitinitermasuk
cacatbawaan.
busuk
5.PenyakitBusukKuncup(Spearrot)
Gejalaserangan:
Jaringanpadakuncup(spear)membusukdanberwarnakecokelatan.
Penyebab:jamurMarasmiuspalmavirus.
Sampaisaatinibelumditemukanfungisidaataubiopestisidalainyangdapatmengendalikanjamur
marasmuspalmavirusini.
Namunpenggunaanfungisidadanbakterisidadapatdicoba.
Carapengendalian:Memotongbagiankuncupyangterserang

Hama dan Penyakit Kelapa Sawit


Pengendalian hama dan penyakit tanaman
A. Penyakit
1. Penyakit Akar (Blast disease)
Gejala serangan :
- Tanaman tumbuh abnormal dan lemah
- Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning
Penyebab :
Jamur (Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.)
Cara pengendalian :
- Melakukan kegiatan persemaian dengan baik
- Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman
2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)
Gejala serangan:
-

Daun berwarna hijau pucat


Jamur yang terbentuk sedikit
Daun tua menjadi layu dan patah
Dari tempat yang terinfeksi keluar getah

Penyebab :
Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan

Ganoderma pseudofferum.
Cara pengendalian dan pencegahan :
- Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar
- Melakukan pembumbunan tanaman
3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)
Gejala serangan:
- Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati
- Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
- Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan
Penyebab :
Jamur Fomex noxius.
Cara pengendalian :
- Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan
membuang bagian tanaman yang terserang
- Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka
4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang (Dry basal rot)
Gejala serangan :
Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah.
Penyebab :
Jamur Ceratocytis paradoxa.
Cara pengendalian :
Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya
dibakar.
5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)
Gejala serangan:
Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan.
Penyebab :

Belum diketahui dengan pasti.


Cara pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang
6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)
Gejala serangan :
- Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut
- Aroma kuncup yang terserang berbau busuk
Penyebab :
Bakteri Erwinia.
Cara pengendalian :
Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.
7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)
Gejala serangan:
Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di
bagian tengahnya berwarna cokelat.
Penyebab :
Jamur Fusarium oxysporum
Cara pengendalian :
Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Hal ini
bertujuan agar serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman
muda dapat berkurang.
8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose)
Gejala serangan :
- Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun
- Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
- Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan
yang terserang
Penyebab :
Jamur Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia

palmarum.
Cara pengendalian :
- Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur
dan pemupukan berimbang
- Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu
pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.
Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.
9. Penyakit Tajuk (Crown disease)
Gejala serangan :
Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek.
Penyebab:
Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk.
Cara pengendalian :
Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier
penyakit ini.
10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)
Gejala serangan:
Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau
pangkal pelepah daun.
Penyebab :
Jamur Marasmius palmivorus.
Cara pengendalian :
Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi
kebun, terutama pada musim hujan.
Pengaplikasian difolatan 0,2 %.
B. Hama
1. Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)
Gejala serangan :

- Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak


- Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.
Cara pengendalian:
- Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar
- Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit
2. Tungau (Oligonychus sp.)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna
perunggu mengkilat (bronz).
Cara pengendalian :
Pengaplikasian akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon
75,2 g/l.
3. Pimelephila ghesquierei
Gejala serangan :
Serangan menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun
banyak yang patah.
Cara pengendalian :
- Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang
terserang
- Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.
4. Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta)
Gejala serangan :
Daun yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya daun hanya
tersisa tulang daunnya saja.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril
85 % dan klorpirifos 200 g/l.
5. Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan
Crematosphisa pendula)

Gejala serangan:
- Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi
- Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan
insektisida berbahan aktif triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2
kg/ha. 6. Belalang Valanga nigricornis dan Gastrimargus
marmoratus
Gejala serangan:
Terdapat bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang.
Cara pengendalian :
Pengendalian dapat dilakukan dengan mendatangkan burung
pemangsanya.
7. Kumbang Oryctes rhinoceros
Gejala serangan :
Daun muda yang belum membuka dan pada pangkal daun
berlubang-lubang.
Cara pengendalian :
Menggunakan parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium
anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.
Melepaskan predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung.
8. Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah)
Gejala serangan:
Terdapat lubang-lubang pada buah muda dan buah tua.
Cara pengendalian :
Pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon
707 g/l atau andosulfan 350 g/l.
9. Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus sp.)
Gejala serangan:

- Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal


- Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.
Cara pengendalian :
Melakukan pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan
predator tikus, seperti kucing, ular dan burung hantu.

PenyakitPenyakitPentingPada
TanamanKelapaSawitYangJuga
TerdapatPadaKelapa
WrittenbyAdministrator

Penyakit busuk pucuk kelapa sawit, penyakit


layu Fusarium (Marchitez disease), penyakit cincin merah (Red ring disease) dan penyakit
daun menguning adalah penyakit-penyakit penting pada tanaman kelapa sawit yang juga
terdapat pada kelapa.

Penyakit busuk pucuk kelapa sawit

Penyakit ini dapat menyerang tanaman kelapa sawit dengan gejala mengering bagian pucuk
dan bila dibela akan mengeluarkan bau yang busuk. Penyakit ini menyerang tanaman yang
akan memasuki masa produksi dan yang telah produksi. Penyakit ini dapat menyebabkan
kematian tanaman, dan berlangsung sangat cepat bila serangan masuk ke titik tumbuh.
Penyebab penyakit sama dengan penyebab penyakit busuk pucuk dan gugur buah pada
tanaman kelapa yaitu Phytophthora palmivora.

Penyakit Layu Fusarium (Marchitez disease)


Penyebab penyakit diidentifikasi sebagai Fusarium oxysporum f. sp. elaeidis, yang
merupakan patogen vaskular. Gejala pada serangan berat akan sangat bervariasi yang
muncul pada daun muda dan dewasa. Penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium
oxysporum f.sp. elaeidis adalah patogen vaskular yang umum ditemukan di banyak negara
Afrika, dan juga pada beberapa daerah di Amerika Selatan, di mana diyakini dalam menanam
bahan berasal dari Afrika. Gejalanya sangat bervariasi antara daun pelepah yang muda,
tetapi biasanya hanya beberapa daun dari gejala menunjukkan menguning dan mengering.

Penyakit cincin merah (Red ring disease)

Tanaman kelapa sawit menunjukkan gejala akut oleh serangan penyakit cincin merah dan
tanaman mati dan terjadi hanya dalam beberapa bulan. Gejala serangan berat daun mengecil
dan nampak bercak kuning-oranye pada petiol dan daun tombak daun muda yang
menguning. Bentuk cincin pada jaringan pada sawit dipengaruhi oleh cincin merah. Jenis
cincin tidak selalu muncul sebagai berbeda dan menempati seluruh panjang batang.
Umumnya ditemukan bukan cincin, tapi bintik hitam tersebar dan membentuk pola cincin.
Penyakit ini disebabkan oleh nematoda Bursaphelenchus cocophilus dan ditularkan oleh
kumbang Rhynchophorus. Penyakit ini juga banyak ditemukan pada tanaman kelapa tapi
Indonesia sampai saat ini belum pernah dilaporkan.

Penyakit daun Menguning yang disebabkan oleh Potyvirus


Tanaman kelapa sawit menunjukkan gejala layu yang di mulai dari daun yang lebih rendah
dengan gejala berubah warna menjadi coklat dari ujung dan kering. Gejala klorosis daun
yang berbentuk cincin yang disebabkan oleh potyvirus. Gejala lain termasuk mosaik stripe
kuning (daerah hijau bergantian dengan beberapa kuning). (Arie A Lolong/Balit Palma).

Bercak Daun

Bercak Daun

Penyakit-penyakit yang termasuk ke dalam kelompok bercak daun adalah yang


disebabkan oleh jamur-jamur patogenik dari genera Curvularia, Cochiobolus,
Drechslera dan Pestalotiopsis (Turner, 1981). Bercak daun yang disebabkan oleh
Curvularia lebih dikenal sebagai hawar daun curvularia. Penyakit ini terdapat di
berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia, tetapi tingkat serangannya beragam
tergantung pada kondisi lingkungan setempat dan tindakan agronomik yang
dijalankan (Purba, 1996 ; 1997 dan 2001).
Gejala
Umumnya dijumpai di PU tetapi gejala awal bisa jadi telah dimulai sejak di PA.
Serangan dapat terjadi selama periode kering dan basah. Gejala awal tampak berupa
bintik kuning pada daun tombak atau yang telah membuka, bercak membesar dan
menjadi agak lonjong dengan panjang 7-8 mm berwarna coklat terang dengan tepi
kuning atau tidak, bagian tengah bercak kadang kala tampak berminyak. Pada gejala
lanjut bercak menjadi nekrosis, beberapa bercak menyatu membentuk bercak besar
tak beraturan. Pada beberapa kasus bagian tengah bercak mengering, rapuh, berwarna
kelabu atau coklat muda .
Penyebab

Penyakit bercak daun kelapa sawit disebabkan oleh beberapa spesies jamur, antara
lain Curvularia eragrostidis, Curvularia spp., Drechslera halodes, Cochliobolus
carbonus, Cochliobolus sp, dan Pestalotiopsis sp. Jamur-jamur tersebut menyebar
dengan spora melalui hembusan angin atau percikan air yang mengenai bercak
(Turner, 1971 dan 1981 ; Domsch et al., 1980 ; Ellis, 1976 ; Hanlin, 1990).
Faktor pendorong
Populasi bibit per satuan luas terlalu tinggi atau terlalu rapat (< 90 cm), atau keadaan
pembibitan yang terlalu lembab. Kelebihan air siraman dan cara penyiraman yang
tidak tepat. Kebersihan areal pembibitan yang kurang terpelihara. Banyak gulma
yang merupakan inang alternatif bagi patogen, terutama dari keluarga Gramineae di
dalam atau di sekitar areal pembibitan. Aktivitas pekerja di pembibitan.
Pengendalian
Menjarangkan letak bibit menjadi 90 cm. Mengurangi volume air siraman sementara
waktu. Penyiraman secara manual menggunakan gembor lebih dianjurkan, dan
sebaiknya diarahkan ke permukaan tanah dalam polibek, bukan ke daun. Mengisolasi
dan memangkas daun-daun sakit dari bibit yang bergejala ringan-sedang, selanjutnya
disemprot dengan fungisida thibenzol, captan atau thiram dengan konsentrasi 0,10,2% tiap 10-14 hari, daun pangkalan harus dibakar. Memusnahkan bibit yang
terserang berat.
Selain dua penyakit penting di atas masih ada beberapa penyakit lain antara lain:
penyakit busuk akar, penyakit busuk pupus, penyakit busuk pangkal atas, penyakit
marasmius dan penyakit karat daun. Penyakit-penyakit ini keberadaannya kurang
merugikan di perkebunan kelapa sawit.
Sumber : klinik sawit
Diposkan oleh Waryanto di 20.12 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke
Facebook
Busuk Pangkal Batang

Busuk Pangkal Batang

(Genoderma boninense)

Biologi
Penyakit ini memiliki banyak nama di seluruh dunia, tetapi selalu menjadi penyakit
yang mematikan pada kelapa sawit. Busuk pangkal batang kelapa sawit disebabkan
oleh jamur Ganoderma. Jamur Ganoderma lebih dikenal sebagai obat herbal di China,
Korea dan Jepang. Ganoderma tergolong dalam kelas Basidiomycetes, penyebab
utama penyakit akar putih pada tanaman berkayu dengan menguraikan lignin yang
mengandung selulosa dan polisakarida. Ganoderma dapat tumbuh dengan baik pada
media buatan dengan memproduksi organ somatif. Pengisolasiannya dapat dilakukan
dengan menanam jaringan sakit atau bagian dari jaringan korteks basidiokarp.
Ganoderma yang ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar) dapat
tumbuh lebih baik daripada yang ditumbuhkan di media MA (Malt Agar), MEA (Malt
Extract Agar), CMA (Corn Meal Agar), dan CDA (Czapeks Dox Agar). Media LBA
(Lima Bean Agar) lebih baik dibandingkan RDA (Rice Dextrose Agar), sama dengan
PDA.
Basidiospora akan berkecambah 30 jam setelah dipindahkan dari permukaan tubuh
buah dengan tingkat germinasi sekitar 31.5 64%. Ganiderma boninense dapat
tumbuh lebih baik jika pada media ditambahkan sumber karbon seperti dekstrosa,
fruktosa, galaktosa, sakarosa, maltose, laktosa dan selulosa. Pertumbuhannya juga
dipengaruhi dengan sumber nitrogen yang digunakan. Setiap isolat memberikan
respon yang berbeda terhadap perbedaan sumber nitrogen diantaranya NaNO2,
NaNO3, NH4NO3, (NH4)2HPO4, asparagin, glisin, dan pepton. Suplemen biotin
dapat meningkatkan perkecambahan basidiospora. Miselia G. boninense dapat

tumbuh dan membentuk basidiokarp pada media serbuk batang kelapa sawit, serbuk
batang kelapa sawit + biotin, potongan akar kelapa sawit, dan potongan akar kelapa
sawit + biotin. Bakal basidiokarp mulai terbentuk 30 hari setelah inokulasi, dan
tumbuh sempurna setelah 90 hari.
Di Indonesia, Ganoderma boninense dapat tumbuh pada pH 3-8.5 dengan temperature
optimal 30oC dan terganggu pertumbuhannya pada suhu 15oC dan 35oC, dan tidak
dapat tumbuh pada suhu 40oC (Abadi dan Dharmaputra, 1988; Dharmaputra et al.,
1993). Penyebab busuk pangkal batang pada kelapa sawit berbeda di tiap negara. Di
Afrika Selatan, busuk pangkal batang disebabkan oleh G. lucidum Karst. sedangkan
di Nigeria disebabkan oleh G. zonatum, G. encidum, G. colossus, dan G. applanatum.
Di Malaysia, 4 spesies teridentifikasi sebagai penyebab busuk pangkal batang yaitu G.
boninense, G. miniatocinctum, G. zonatum dan G. tornatum. Jamur yang paling sering
ditemukan umumnya ialah G. boninense, sementara G. tornatum hanya ditemukan
tumbuh di pedalaman dan dataran tinggi dengan curah hujan tinggi. Di Indonesia, G.
boninense teridentifikasi sebagai spesies yang paling umum menyerang (Abadi, 1987;
Utomo, 2002).
Jamur Ganoderma tergolong ke dalam kelas basidiomycetes. Famili ganodermataceae
telah dikenal luas sebagai patogen di banyak tanaman termasuk kelapa sawit. Jamur
lignolitik umumnya termasuk dalam jamur busuk putih yang digolongkan ke dalam
basidiomycetes. Karena itulah, jamur ini lebih aktif menghancurkan lignin
dibandingkan golongan lainnya. Komponen pembentuk dinding sel tanaman adalah
lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Dengan demikian, untuk menyerang tanaman,
jamur harus menghancurkan ketiga komponen tersebut dengan enzim ligninase
peroxidase, selulose dan hemiselulose. Beberapa spesies Ganoderma memproduksi
enzim amylase, ekstraseluler, oksidase, invertase, koagulase, protease, renetase,
pektinase, dan selulose. Berdasarkan mekanisme infeksi, Ganoderma diklasifikasikan
kedalam jamur busuk putih. Jamur busuk putih ini diklasifikasikan berdasarkan
kecepatan dan produksi dari enzim lignolitik (Ward et al., 2004).
G. lucidum memproduksi manganese peroksidase (MnP), dan lakase; sama dengan
enzim dari G. boninense yang menyerang kelapa sawit tetapi masih memerlukan
penelitian lebih lanjut (Corley dan Tinker, 2003). Jamur busuk putih memproduksi
sistem lignolitik yang tidak spesifik terdiri dari peroksidase dan lakase (phenol
oksidase: LAC), yang melakukan proses oksidasi (Peterson, 2007). Tiga peroksidase
telah diobservasi yaitu: LIP, MnP dan versatile peroksidase (VP). Biodegradasi dari

komponen selulosa tidak berbeda nyata untuk dibandingkan dengan yang dibentuk
oleh b-1,4-glucosidic, ikatan sederhana dari glukosa. Miller et al. (2000)
mengemukakan bahwa Ganoderma merupakan saprobic dan hanya menyerang
tanaman inang yang lemah, sehingga dikategorikan sebagai parasit atau patogen
sekunder. Penjelasan lain dari jamur ialah sebagai saprofit fakultatif. Ganoderma juga
hidup sebagai endofit dalam kelapa (Abdullah, 2000).
Gejala Penyakit
Gejala awal penyakit sulit diidentifikasi dikarenakan perkembangannya yang
lambat dan dikarenakan gejala eksternal berbeda dengan gejala internal. Sangat
mudah untuk mengidentifikasi gejala di tanaman dewasa atau saat telah membentuk
tubuh buah, konsekuensinya, penyakit jadi lebih sulit dikendalikan. Gejala utama
BSR adalah terhambatnya pertumbuhan, warna daun menjadi hijau pucat dan busuk
pada batang tanaman (Gambar 2 dan 3). Pada tanaman belum menghasilkan, gejala
awal ditandai dengan penguningan tanaman atau daun terbawah diikuti dengan
nekrosis yang menyebar ke seluruh daun. Pada tanaman dewasa, semua pelepah
menjadi pucat, semua daun dan pelepah mengering, daun tombak tidak membuka
(terjadinya akumulasi daun tombak) dan suatu saat tanaman akan mati (Purba, 1993).
Gejala ditandai dengan mati dan mengeringnya tanaman dapat terjadi bersamaan
dengan adanya serangan rayap. Dapat diasumsikan jika gejala pada daun terlihat,
maka setengah batang kelapa sawit telah hancur oleh Ganoderma. Pada tanaman
belum menghasilkan, saat gejala muncul, tanaman akan mati setelah 7 sampai 12
bulan, sementara tanaman dewasa akan mati setelah 2 tahun. Saat gejala tajuk
muncul, biasanya setengah dari jaringan didalam pangkal batang sudah mati oleh
Ganoderma. Sebagai tambahan, gejala internal yang ditandai dengan busuk pangkal
batang muncul. Dalam jaringan yang busuk, luka terlihat dari area berwarna coklat
muda diikuti dengan area gelap seperti bayangan pita, yang umumnya disebut zona
reaksi resin (Semangun, 1990).
Secara mikroskopik, gejala internal dari akar yang terserang Ganoderma sama dengan
batang yang terinfeksi. Jaringan korteks dari akar yang terinfeksi berubah menjadi
coklat sampai putih. Pada serangan lanjutan, jaringan korteks menjadi rapuh dan
mudah hancur. Jaringan stele akar terinfeksi menjadi hitam pada serangan berat
(Rahayu, 1986). Hifa umumnya berada pada jaringan korteks, endodermis, perisel,
xilem dan floem. Klamidospora sering dibentuk untuk bertahan hidup pada kondisi

ekstrim. Tanda lain dari penyakit ialah munculnya tubuh buah atau basidiokarp pada
pangkal batang kelapa sawit (Gambar 4).
Gejala penyakit Ganoderma di lahan gambut memiliki perbedaan dengan di lahan
mineral. Perbedaan ekologi antara tanah gambut dengan tanah mineral, keistimewaan
dan karakteristik lahan menentukan perbedaan keistimewaan, karakteristik dan
mekanisme persebaran Ganoderma. Tingginya kemunculan penyakit Ganoderma pada
lahan gambut kemungkinan besar disebabkan oleh basidiospora sebagai agen
penyebar, dan lahan gambut umumnya cocok untuk perkembangan Ganoderma. Pola
kemunculan gejala pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut juga berbeda.
Gejala serangan buruk batang atas lebih sering terjadi, bahkan sampai lebih dari 63%.
Fakta ini terlihat dari sampel yang diambil dari Labuhan Batu, dengan perbandingan
BSR:USR sebesar 37%:63% (Susanto et al., 2008). Perbandingan busuk pangkal
batang dan busuk batang atas sangat berhubungan dengan jenis lahan gambut dan
tergenang atau tidaknya dalam satu tahun. Saat tanah gambut mulai mendekati tanah
mineral, busuk pangkal batang akan meningkat, sebaliknya busuk batang atas akan
menurun. Lahan tergenang akan menyebabkan Ganoderma mati dan memperkuat
mekanisme busuk batang atas. Pola penyebaran basidiospora melalui udara membuat
busuk batang atas sebagai gejala penyakit Ganoderma.
Arti Ekonomi
Penyakit busuk pangkal batang adalah penyakit penting yang menyebabkan kerugian
besar di perkebunan kelapa sawit (Semangun, 1990; Treu, 1998), terutama di
Indonesia dan Malaysia (Turner, 1981; Darmono, 1998b). Di beberapa perkebunan di
Indonesia, penyakit ini telah menyebabkan kematian tanaman sampai lebih dari 80%
dari seluruh populasi kelapa sawit, dan menyebabkan penurunan produk kelapa sawit
per unit area (Susanto, 2002; Susanto et al., 2002b). Dahulu G. boninense dipercaya
hanya menyerang tanaman tua, namun demikian, saat ini telah dipahami bahwa
patogen ini juga menyerang tanaman tanaman belum menghasilkan (< 1 tahun).
Gejala penyakit muncul lebih cepat dan lebih berat pada generasi ketiga dan keempat
(Gambar 6). Insiden penyakit di tanaman belum menghasilkan pada generasi pertama,
kedua, ketiga dan keempat berturut-turut adalah 0, 4, 7 dan 11%. Sedangkan insiden
penyakit di tanaman menghasilkan pada generasi pertama, kedua dan ketiga secara
berturut-turut adalah 17, 18 dan 75% (Susanto et al., 2002a). Tingginya insiden
penyakit menyebabkan banyak pekebun lebih cepat melakukan tanam ulang walaupun

tanaman masih berusia 17 tahun (tanaman sehat sebenarnya masih produktif hingga
berusia 25-30 tahun).
Kerugian yang disebabkan oleh Ganoderma dapat terjadi secara langsung maupun
tidak langsung. Kerugian secara langsung berupa rendahnya produksi sampai
kematian tanaman, sedangkan kerugian tidak langsung berupa penurunan bobot
batang terhadap tandan kelapa sawit. Tanaman terserang Ganoderma akan menderita
akibat menurunnya bobot batang sehingga tanaman akhirnya tidak mampu
memproduksi tandan. Untuk membantu menggambarkan kerugian yang disebabkan
penyakit ini, pada perkebunan seluas 200.000 hektar yang memasuki generasi
penanaman ke tiga dan ke empat, 1000 tanaman mati atau sekitar 6 hektar tidak
menghasilkan. Kerugian akan semakin besar tahun demi tahun secara akumulasi.
Sebagai contoh, saat tahun pertama terserang 6 hektar; tahun kedua terserang 12
hektar; dan seterusnya. Karena itu, potensi kerugian meningkat seiring semakin
tuanya tanaman, dan semakin produktifnya tanaman.
Saat ini, pertumbuhan penyakit Ganoderma di perkebunan kelapa sawit terutama
dipicu oleh generasi perkebunan. Semakin tinggi generasi perkebunan, semakin parah
serangan penyakit hingga menyerang tanaman belum menghasilkan. Pada perkebunan
kelapa sawit di lahan gambut, perkembangan infeksi Ganoderma cenderung
meningkat (Tabel 1), yang disebabkan oleh mekanisme pemencaran melalui
basidiospora.
Spesies Ganoderma yang bersifat patogenik pada kelapa sawit memiliki kisaran inang
yang luas. Pada habitat alaminya di hutan, jamur ini dapat menyerang tanaman
berkayu. Selain menyerang E. guineensis dan Albizia sp., G. boninense dapat
menyerang anggota palem-paleman seperti Cocos nucifera, Livistona subglobosa,
Casuarina tolurosa, dan Areca spp (Gambar 8). Di daerah pesisir, dua spesies palempaleman, dikenal dengan nibung (Oncosperma filamentosa) dan serdang (Livistona
cochichinensis), juga terserang penyakit. Telah dilaporkan juga bahwa G. boninense
dapat menyerang Acacia mangium. Berdasarkan pengamatan, jamur ini juga dapat
tumbuh pada tunggul tanaman karet dan kakao.
Penyakit busuk pangkal batang terutama menyebar melalui kontak akar dari tanaman
sehat dengan sumber inokulum yang dapat berupa akar atau batang sakit. Selain
batang kelapa sawit, akar yang terinfeksi merupakan inokulum utama penyakit
Ganoderma pada kelapa sawit (Hasan, 2005). Mekanisme ini didukung oleh pola
persebaran penyakit yang mengelompok. Tanaman sakit biasanya dikelilingi oleh

tanaman sakit dengan gejala lebih ringan. Banyak sekali kelapa sawit yang mati
akibat busuk pangkal batang ketika sistem under planting digunakan. Di sisi lain,
basidiospora juga telah dinyatakan memainkan peranan penting dalam menyebarkan
penyakit (Sanderson et al., 2000; Pilotti et al., 2003; Sanderson, 2005). Basidiospora
tidak selalu membentuk miselium sekunder dan tubuh buah karena memerlukan tipe
perkawinan yang sama.

Percobaan kesesuaian vetetatif dan teknik

Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat menunjukkan bahwa Ganoderma pada area
tertentu memiliki perbedaan tipe perkawinan (Pilotti et al., 2003). Begitu juga dengan
agen pembeda molekuler (PCR). Jika disebabkan oleh kontak akar, Ganoderma yang
tumbuh pada tanaman yang berdekatan seharusnya memiliki tipe yang sama.
Basidiospora dibebaskan dan menyebar secara besar-besaran pada pukul 22.00-06.00,
dan lebih sedikit pada pukul 12.00-16.00. Pemencaran ini juga dibantu oleh kumbang
Oryctes rhinoceros yang larvanya umum ditemukan pada batang kelapa sawit yang
busuk. S. nigrescens memainkan peranan paling penting dalam membantu
penyebarannya di Indonesia.
Perkebunan yang banyak tunggul tanaman karet, kelapa sawit, kakao atau tanaman
hutan lainnya rawan terhadap penyakit ini. Tunggul dapat menjadi sumber inokulum
Ganoderma yang potensial. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memindahkan
tunggul seluruhnya pada saat melakukan tanam ulang. Lahan budidaya sebelum
tanam ulang juga mempengaruhi penyakit ini. Semakin tua tanaman, semakin besar
kerusakan yang disebabkan oleh penyakit ini. Kerugian yang meningkat berhubungan
dengan peningkatan siklus penanaman di perkebunan, yang menunjukkan bahwa
substrat semakin melimpah atau populasi inokulum semakin banyak. Lokasi
perkebunan tidak terlalu penting karena penyakit ini dapat ditemukan pada daerah
pesisir dan pedalaman. Ganoderma dapat menyerang tanaman di seluruh tipe tanah
seperti podsolik, hidromorfik, alluvial, dan gambut. Luka dapat disebabkan oleh
beberapa faktor biologi seperti gigitan tikus, tupai, babi hutan dan serangga. Faktor
kedua adalah luka mekanik yang disebabkan oleh parang, cangkul atau alat berat.
Tindakan Pengendalian
Teknik Budidaya dan Mekanis
Untuk menurunkan serangan Ganoderma, pangkal batang kelapa sawit perlu ditimbun
dengan tanah. Hal ini untuk mencegah infestasi basidiospora ke batang kelapa sawit.
Penggalian tanah disekeliling tanaman terinfeksi dapat megurangi terjadinya kontak
akar antara tanaman sakit dengan tanaman sehat. Penimbunan dapat memperpanjang

usia produksi sampai lebih dari 2 tahun (Ho dan Hashim, 1997). Pendekatan ini dapat
menemui kegagalan dikarenakan letak akar terinfeksi tidak diketahui. Pengurangan
jumlah sumber inokulum di perkebunan dilakukan dengan mengoleksi dan membakar
tubuh buah Ganoderma. Sebelum penanaman tanaman baru, batang kelapa sawit lama
dihancurkan secara mekanis ataupun secara kimiawi (Chung et al., 1991).
Pengendalian Kimiawi
Pengendalian kimiawi telah dilakukan di perkebunan kelapa sawit dengan metode
adsorpsi atau penyiraman tanah. Berdasarkan hasil di laboratorium, hampi semua
fungisida dapat menekan G. boninense, tetapi tidak pada aplikasi lapangan. Fungisida
golongan triazole yang meliputi triadimenol, triadimefon dan tridemorph efektif
dalam menekan pertumbuhan miselia G. boninense pada konsentrasi 5, 10 dan 25
g/ml. Fungisida hexaconazol dengan aplikasi bertekanan tinggi tidak dapat
mengendalikan pertumbuhan Ganoderma. Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa
fungisida hanya efektif untuk menunda serangan Ganoderma, tetapi kemampuannya
untuk mengatasi permasalahan penyakit ini di perkebunan kelapa sawit masih harus
diteliti.
Pengendalian Hayati
Turner (1981) menyatakan bahwa Trichoderma sp., Pennicilium sp., dan Gliocladium
sp. bersifat antagonis terhadap Ganoderma dan memiliki potensi untuk dijadikan
sebagai agen pengendali hayati. Keefektifan Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.
dalam menekan pertumbuhan beberapa penyakit tanaman telah dilaporkan, terutama
untuk patogen tular tanah. Trichoderma spp. telah banyak digunakan sebagai agen
pengendali hayati untuk penyakit layu Fusarium oxysporum pada tomat, melon dan
kapas. Selain itu juga digunakan untuk mengendalikan Rhizoctonia solani, Phytium
ultimum, Sclerotium rolfsii, Verticillium dahlia, Altenaria, dan Armillaria mellea.
Gliocladium sp. sebagai agen pengendali hayati telah digunakan untuk menekan
pertumbuhan R. solani, Sclerotinia sclerotiorum, dan S. rolfsii (Campbell, 1989;
Papavizas, 1992).
Trichoderma spp. dan Gliocladium spp. diuji secara in-vitro dan in-vivo pada batang
kelapa sawit untuk menekan pertumbuhan G. boninense. Kedua agen hayati memiliki
potensi yang bagus dalam pengendalian G. boninense (Abadi, 1987; Dharmaputra
1989; Hadiwiyoni et al., 1997; Abdullah dan Ilias, 2004). Di Indonesia, kelapa sawit
memiliki kadar oksigen yang rendah pada akar yang menyebabkan penggunaan
Trichoderma menjadi kurang efektif (Widyastuti, 2006). Meskipun demikian, Soepena

et al. (2000) berhasil memformulasikan fungisida hayati menggunakan Trichoderma


koningii untuk mengendalikan BSR pada kelapa sawit. Akhir-akhir ini, Trichoderma
telah digunakan untuk mengendalikan Ganoderma di lapangan walaupun hasilnya
belum konsisten (Susanto et al., 2005).
Pengendalian Penyakit Terpadu
Sistem lubang dalam lubang (sistem menggali lubang di dalam lubang [panjang 3.0m
x lebar 3.0m x dalam 0.8m] dengan lubang tanam standard [0.6m x 0.6m x 0.6m]
didalamnya (Gambar 10)) ditambah aplikasi Trichoderma spp. sebagai agen
pengendali hayati (400g per lubang) dan aplikasi tandan kosong (400kg per lubang
per tahun) dapat digunakan sebagai tindakan pengendalian untuk mengurangi tingkat
infeksi Ganoderma (Susanto, 2002). Hal ini dikarenakan sumber inokulum berupa
akar sakit telah dipindahkan karena pada dasarnya akar tanaman kelapa sawit hanya
tumbuh sampai kedalaman 80cm, dan sisa dari penyakit BSR pada lubang tanam akan
dihancurkan oleh agen pengendali hayati Trichoderma spp. Sistem ini dapat
mengurangi kemungkinan terjadinya kontak akar. Bagaimanapun juga, sumber infeksi
potensial masih dapat ditemukan dari tanaman hidup yang berupa jaringan akar,
bonggol dan batang (Flood et al., 2000).
Penanaman ulang dengan sistem lubang dalam lubang bertujuan untuk meningkatkan
hasil kelapa sawit di tanah mineral yang kurang nutrisi dan bercurah hujan rendah
atau karena lahan tersebut telah terexploitasi. Martoyo et al. (1996) melaporkan
bahwa penggunaan sistem ini mampu memberikan peningkatan produktivitas yang
nyata.
Insiden penyakit BSR pada sistem lubang dalam lubang lebih rendah (Tabel 3)
dibandingkan sistem tanam dengan lubang standard (0.73%, 2003; 0.73%, 2004; dan
1.37%, 2005) pada usia tanaman 10 tahun. Pada pengamatan tahun 2003, insiden
penyakit BSR mencapai 0.29%. Pengamatan di tahun 2004 dan 2005 juga
menunjukkan nilai yang sama dengan pengamatan di tahun 2003. Insiden penyakit
mencapai 0.29% dan 0.86% berturut-turut (Susanto et al., 2006). Di lokasi penanaman
lain juga menunjukkan hasil yang sama (Prasetyo et al., 2008).
Sumber : klinik sawit

MenghitungPopulasiTanamanKelapa
Sawit
byMuhdanSyarovy|on13Jun,2013

Foto:Sacikeas
Kelapasawitmerupakantanamanprimadonabagisebagianorangyanginginberwirausahadibidang
perkebunan.Namunterkedangdalamcarapenanamanbanyakperbedaanyangsangatmencolokantara
perkebunanyangdikelolasecaraprofesionaldenganperkebunanrakyat.Halyangpalingmencolok
adalahsistempertanamannyadimanakelapasawitrakyatmenggunakansistembujursangkar.Saya
sendiriseringmelihatperkebunankelapasawitsepanjangjalanlintasSumateraUtaradaninilahyang
sayatemukan.
Sistempertanamankelapasawityangdianjurkanadalahsegitigasamasisikarenasisteminilebih
efisiensekitar14%daripadasistembujursangkardenganjarakyangsama.Alasanlainnyaadalah
kelapasawitmemilikitajukyangberbentuklingkaran.
Bagaimanacaramenghitungnya?
1.Bujursangkar:
Perhitungannyasamadengantanamanyangmempunyaisistempertanamansegiempat,yaitu:
Rumus:

Perhitungan:

LuasAreal:1Ha

JarakTanam:9mx9m

2.Segitiga

Gambar:oilpalmmekarsari
Untuklebihmudahmemahamiperhitunganjumlahpopulasikelapasawit,makagambarlahsegitiga
samasisiyangmewakilijarakantartanamankelapasawit:

Dimana:

a:Jaraktanam

b:Jarakantarbarisyangakandicari

Rumus:

Perhitungan:

LuasAreal:1Ha

JarakTanam:9mx9mX9m

Selaincaradiatas,adacarasimpelyangdigunakanuntukmenghitungjumlahpopulasiyangdikutip
daribukuIyungPahan:

Kredit:IyungPahan
Berikutjugahasilbeberapaperhitungankelapasawitdariberbagaijaraktanam:

Jumlahpopulasikelapasawitberdasarkanjaraktanam,kredit:IyungPahan
Kesimpulan:
Dariperhitungandiatastentunyasistemsegitigasamasisilebihmenguntungkankarenajumlah
populasiyanglebihbanyak.selainitudalamhalpersainganterutamacahayamatahari,tentunyasistem
segitigalebihunggulkarenatajuktidaksalingmenutupi.

Busuk Pupus
Thursday, 24 February 2011 00:29 administrator

Penyakit busuk pupus disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora. Tanaman terserang
akan mengalami pembusukan pada bagian pucuk yang dapat menyebabkan patahnya
pucuk tanaman. Pada tanaman muda, pucuk yang busuk mudah dicabut dan terdapat
massa bakteri berwarna keputihan (berlendir).

Gambar 1. Tanaman dewasa yang terserang busuk pupus

Gambar 2. Pangkal pucuk yang terserang busuk pupus pada tanaman muda
Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan diantaranya:
Menuangkan campuran formulasi fungisida dan bakterisida (antibiotik)
Untuk tanaman yang baru pulih disarankan memberi ekstra pupuk N dan Mg
sebesar 25%

Mengendalikan kumbang moncong (Rhynchoporus sp) secara manual atau


kimiawi

Busuk Pangkal Batang


Friday, 18 March 2011 00:00 administrator
Biologi
Penyakit ini memiliki banyak nama di seluruh dunia, tetapi selalu menjadi penyakit
yang mematikan pada kelapa sawit. Busuk pangkal batang kelapa sawit disebabkan
oleh jamur Ganoderma. Jamur Ganoderma lebih dikenal sebagai obat herbal di China,
Korea dan Jepang. Ganoderma tergolong dalam kelas Basidiomycetes, penyebab
utama penyakit akar putih pada tanaman berkayu dengan menguraikan lignin yang
mengandung selulosa dan polisakarida. Ganoderma dapat tumbuh dengan baik pada
media buatan dengan memproduksi organ somatif. Pengisolasiannya dapat dilakukan
dengan menanam jaringan sakit atau bagian dari jaringan korteks basidiokarp.
Ganoderma yang ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar) dapat
tumbuh lebih baik daripada yang ditumbuhkan di media MA (Malt Agar), MEA (Malt
Extract Agar), CMA (Corn Meal Agar), dan CDA (Czapeks Dox Agar). Media LBA
(Lima Bean Agar) lebih baik dibandingkan RDA (Rice Dextrose Agar), sama dengan
PDA.

Gambar 1. Tubuh buah Ganoderma boninense


Basidiospora akan berkecambah 30 jam setelah dipindahkan dari permukaan tubuh
buah dengan tingkat germinasi sekitar 31.5 64%. Ganiderma boninense dapat
tumbuh lebih baik jika pada media ditambahkan sumber karbon seperti dekstrosa,
fruktosa, galaktosa, sakarosa, maltose, laktosa dan selulosa. Pertumbuhannya juga
dipengaruhi dengan sumber nitrogen yang digunakan. Setiap isolat memberikan
respon yang berbeda terhadap perbedaan sumber nitrogen diantaranya NaNO2,
NaNO3, NH4NO3, (NH4)2HPO4, asparagin, glisin, dan pepton. Suplemen biotin
dapat meningkatkan perkecambahan basidiospora. Miselia G. boninense dapat
tumbuh dan membentuk basidiokarp pada media serbuk batang kelapa sawit, serbuk
batang kelapa sawit + biotin, potongan akar kelapa sawit, dan potongan akar kelapa
sawit + biotin. Bakal basidiokarp mulai terbentuk 30 hari setelah inokulasi, dan
tumbuh sempurna setelah 90 hari.
Di Indonesia, Ganoderma boninense dapat tumbuh pada pH 3-8.5 dengan temperature
optimal 30oC dan terganggu pertumbuhannya pada suhu 15oC dan 35oC, dan tidak
dapat tumbuh pada suhu 40oC (Abadi dan Dharmaputra, 1988; Dharmaputra et al.,
1993). Penyebab busuk pangkal batang pada kelapa sawit berbeda di tiap negara. Di
Afrika Selatan, busuk pangkal batang disebabkan oleh G. lucidum Karst. sedangkan
di Nigeria disebabkan oleh G. zonatum, G. encidum, G. colossus, dan G. applanatum.

Di Malaysia, 4 spesies teridentifikasi sebagai penyebab busuk pangkal batang yaitu G.


boninense, G. miniatocinctum, G. zonatum dan G. tornatum. Jamur yang paling sering
ditemukan umumnya ialah G. boninense, sementara G. tornatum hanya ditemukan
tumbuh di pedalaman dan dataran tinggi dengan curah hujan tinggi. Di Indonesia, G.
boninense teridentifikasi sebagai spesies yang paling umum menyerang (Abadi, 1987;
Utomo, 2002).
Jamur Ganoderma tergolong ke dalam kelas basidiomycetes. Famili ganodermataceae
telah dikenal luas sebagai patogen di banyak tanaman termasuk kelapa sawit. Jamur
lignolitik umumnya termasuk dalam jamur busuk putih yang digolongkan ke dalam
basidiomycetes. Karena itulah, jamur ini lebih aktif menghancurkan lignin
dibandingkan golongan lainnya. Komponen pembentuk dinding sel tanaman adalah
lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Dengan demikian, untuk menyerang tanaman,
jamur harus menghancurkan ketiga komponen tersebut dengan enzim ligninase
peroxidase, selulose dan hemiselulose. Beberapa spesies Ganoderma memproduksi
enzim amylase, ekstraseluler, oksidase, invertase, koagulase, protease, renetase,
pektinase, dan selulose. Berdasarkan mekanisme infeksi, Ganoderma diklasifikasikan
kedalam jamur busuk putih. Jamur busuk putih ini diklasifikasikan berdasarkan
kecepatan dan produksi dari enzim lignolitik (Ward et al., 2004).
G. lucidum memproduksi manganese peroksidase (MnP), dan lakase; sama dengan
enzim dari G. boninense yang menyerang kelapa sawit tetapi masih memerlukan
penelitian lebih lanjut (Corley dan Tinker, 2003). Jamur busuk putih memproduksi
sistem lignolitik yang tidak spesifik terdiri dari peroksidase dan lakase (phenol
oksidase: LAC), yang melakukan proses oksidasi (Peterson, 2007). Tiga peroksidase
telah diobservasi yaitu: LIP, MnP dan versatile peroksidase (VP). Biodegradasi dari
komponen selulosa tidak berbeda nyata untuk dibandingkan dengan yang dibentuk
oleh b-1,4-glucosidic, ikatan sederhana dari glukosa. Miller et al. (2000)
mengemukakan bahwa Ganoderma merupakan saprobic dan hanya menyerang
tanaman inang yang lemah, sehingga dikategorikan sebagai parasit atau patogen
sekunder. Penjelasan lain dari jamur ialah sebagai saprofit fakultatif. Ganoderma juga
hidup sebagai endofit dalam kelapa (Abdullah, 2000).
Gejala Penyakit

Gambar 2.
Akumulasi daun tombak dan pengeringan pelepah
Gejala awal penyakit sulit diidentifikasi dikarenakan perkembangannya yang
lambat dan dikarenakan gejala eksternal berbeda dengan gejala internal. Sangat
mudah untuk mengidentifikasi gejala di tanaman dewasa atau saat telah membentuk
tubuh buah, konsekuensinya, penyakit jadi lebih sulit dikendalikan. Gejala utama
BSR adalah terhambatnya pertumbuhan, warna daun menjadi hijau pucat dan busuk
pada batang tanaman (Gambar 2 dan 3). Pada tanaman belum menghasilkan, gejala
awal ditandai dengan penguningan tanaman atau daun terbawah diikuti dengan
nekrosis yang menyebar ke seluruh daun. Pada tanaman dewasa, semua pelepah
menjadi pucat, semua daun dan pelepah mengering, daun tombak tidak membuka
(terjadinya akumulasi daun tombak) dan suatu saat tanaman akan mati (Purba, 1993).

Gambar 3. Tanaman kelapa sawit yang tumbang karena Ganoderma


Gejala ditandai dengan mati dan mengeringnya tanaman dapat terjadi bersamaan
dengan adanya serangan rayap. Dapat diasumsikan jika gejala pada daun terlihat,
maka setengah batang kelapa sawit telah hancur oleh Ganoderma. Pada tanaman
belum menghasilkan, saat gejala muncul, tanaman akan mati setelah 7 sampai 12
bulan, sementara tanaman dewasa akan mati setelah 2 tahun. Saat gejala tajuk
muncul, biasanya setengah dari jaringan didalam pangkal batang sudah mati oleh
Ganoderma. Sebagai tambahan, gejala internal yang ditandai dengan busuk pangkal
batang muncul. Dalam jaringan yang busuk, luka terlihat dari area berwarna coklat
muda diikuti dengan area gelap seperti bayangan pita, yang umumnya disebut zona
reaksi resin (Semangun, 1990).
Secara mikroskopik, gejala internal dari akar yang terserang Ganoderma sama dengan
batang yang terinfeksi. Jaringan korteks dari akar yang terinfeksi berubah menjadi
coklat sampai putih. Pada serangan lanjutan, jaringan korteks menjadi rapuh dan
mudah hancur. Jaringan stele akar terinfeksi menjadi hitam pada serangan berat
(Rahayu, 1986). Hifa umumnya berada pada jaringan korteks, endodermis, perisel,
xilem dan floem. Klamidospora sering dibentuk untuk bertahan hidup pada kondisi

ekstrim. Tanda lain dari penyakit ialah munculnya tubuh buah atau basidiokarp pada
pangkal batang kelapa sawit (Gambar 4).
Gejala penyakit Ganoderma di lahan gambut memiliki perbedaan dengan di lahan
mineral. Perbedaan ekologi antara tanah gambut dengan tanah mineral, keistimewaan
dan karakteristik lahan menentukan perbedaan keistimewaan, karakteristik dan
mekanisme persebaran Ganoderma. Tingginya kemunculan penyakit Ganoderma pada
lahan gambut kemungkinan besar disebabkan oleh basidiospora sebagai agen
penyebar, dan lahan gambut umumnya cocok untuk perkembangan Ganoderma. Pola
kemunculan gejala pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut juga berbeda.
Gejala serangan buruk batang atas lebih sering terjadi, bahkan sampai lebih dari 63%.
Fakta ini terlihat dari sampel yang diambil dari Labuhan Batu, dengan perbandingan
BSR:USR sebesar 37%:63% (Susanto et al., 2008). Perbandingan busuk pangkal
batang dan busuk batang atas sangat berhubungan dengan jenis lahan gambut dan
tergenang atau tidaknya dalam satu tahun. Saat tanah gambut mulai mendekati tanah
mineral, busuk pangkal batang akan meningkat, sebaliknya busuk batang atas akan
menurun. Lahan tergenang akan menyebabkan Ganoderma mati dan memperkuat
mekanisme busuk batang atas. Pola penyebaran basidiospora melalui udara membuat
busuk batang atas sebagai gejala penyakit Ganoderma.
Arti Ekonomi
Penyakit busuk pangkal batang adalah penyakit penting yang menyebabkan kerugian
besar di perkebunan kelapa sawit (Semangun, 1990; Treu, 1998), terutama di
Indonesia dan Malaysia (Turner, 1981; Darmono, 1998b). Di beberapa perkebunan di
Indonesia, penyakit ini telah menyebabkan kematian tanaman sampai lebih dari 80%
dari seluruh populasi kelapa sawit, dan menyebabkan penurunan produk kelapa sawit
per unit area (Susanto, 2002; Susanto et al., 2002b). Dahulu G. boninense dipercaya
hanya menyerang tanaman tua, namun demikian, saat ini telah dipahami bahwa
patogen ini juga menyerang tanaman tanaman belum menghasilkan (< 1 tahun).
Gejala penyakit muncul lebih cepat dan lebih berat pada generasi ketiga dan keempat
(Gambar 6). Insiden penyakit di tanaman belum menghasilkan pada generasi pertama,
kedua, ketiga dan keempat berturut-turut adalah 0, 4, 7 dan 11%. Sedangkan insiden
penyakit di tanaman menghasilkan pada generasi pertama, kedua dan ketiga secara
berturut-turut adalah 17, 18 dan 75% (Susanto et al., 2002a). Tingginya insiden
penyakit menyebabkan banyak pekebun lebih cepat melakukan tanam ulang walaupun

tanaman masih berusia 17 tahun (tanaman sehat sebenarnya masih produktif hingga
berusia 25-30 tahun).
Kerugian yang disebabkan oleh Ganoderma dapat terjadi secara langsung maupun
tidak langsung. Kerugian secara langsung berupa rendahnya produksi sampai
kematian tanaman, sedangkan kerugian tidak langsung berupa penurunan bobot
batang terhadap tandan kelapa sawit. Tanaman terserang Ganoderma akan menderita
akibat menurunnya bobot batang sehingga tanaman akhirnya tidak mampu
memproduksi tandan. Untuk membantu menggambarkan kerugian yang disebabkan
penyakit ini, pada perkebunan seluas 200.000 hektar yang memasuki generasi
penanaman ke tiga dan ke empat, 1000 tanaman mati atau sekitar 6 hektar tidak
menghasilkan. Kerugian akan semakin besar tahun demi tahun secara akumulasi.
Sebagai contoh, saat tahun pertama terserang 6 hektar; tahun kedua terserang 12
hektar; dan seterusnya. Karena itu, potensi kerugian meningkat seiring semakin
tuanya tanaman, dan semakin produktifnya tanaman.
Saat ini, pertumbuhan penyakit Ganoderma di perkebunan kelapa sawit terutama
dipicu oleh generasi perkebunan. Semakin tinggi generasi perkebunan, semakin parah
serangan penyakit hingga menyerang tanaman belum menghasilkan. Pada perkebunan
kelapa sawit di lahan gambut, perkembangan infeksi Ganoderma cenderung
meningkat (Tabel 1), yang disebabkan oleh mekanisme pemencaran melalui
basidiospora.
Spesies Ganoderma yang bersifat patogenik pada kelapa sawit memiliki kisaran inang
yang luas. Pada habitat alaminya di hutan, jamur ini dapat menyerang tanaman
berkayu. Selain menyerang E. guineensis dan Albizia sp., G. boninense dapat
menyerang anggota palem-paleman seperti Cocos nucifera, Livistona subglobosa,
Casuarina tolurosa, dan Areca spp (Gambar 8). Di daerah pesisir, dua spesies palempaleman, dikenal dengan nibung (Oncosperma filamentosa) dan serdang (Livistona
cochichinensis), juga terserang penyakit. Telah dilaporkan juga bahwa G. boninense
dapat menyerang Acacia mangium. Berdasarkan pengamatan, jamur ini juga dapat
tumbuh pada tunggul tanaman karet dan kakao.
Penyakit busuk pangkal batang terutama menyebar melalui kontak akar dari tanaman
sehat dengan sumber inokulum yang dapat berupa akar atau batang sakit. Selain
batang kelapa sawit, akar yang terinfeksi merupakan inokulum utama penyakit

Ganoderma pada kelapa sawit (Hasan, 2005). Mekanisme ini didukung oleh pola
persebaran penyakit yang mengelompok. Tanaman sakit biasanya dikelilingi oleh
tanaman sakit dengan gejala lebih ringan. Banyak sekali kelapa sawit yang mati
akibat busuk pangkal batang ketika sistem under planting digunakan. Di sisi lain,
basidiospora juga telah dinyatakan memainkan peranan penting dalam menyebarkan
penyakit (Sanderson et al., 2000; Pilotti et al., 2003; Sanderson, 2005). Basidiospora
tidak selalu membentuk miselium sekunder dan tubuh buah karena memerlukan tipe
perkawinan yang sama.

Percobaan kesesuaian vetetatif dan teknik

Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat menunjukkan bahwa Ganoderma pada area
tertentu memiliki perbedaan tipe perkawinan (Pilotti et al., 2003). Begitu juga dengan
agen pembeda molekuler (PCR). Jika disebabkan oleh kontak akar, Ganoderma yang
tumbuh pada tanaman yang berdekatan seharusnya memiliki tipe yang sama.
Basidiospora dibebaskan dan menyebar secara besar-besaran pada pukul 22.00-06.00,
dan lebih sedikit pada pukul 12.00-16.00. Pemencaran ini juga dibantu oleh kumbang
Oryctes rhinoceros yang larvanya umum ditemukan pada batang kelapa sawit yang
busuk. S. nigrescens memainkan peranan paling penting dalam membantu
penyebarannya di Indonesia.
Perkebunan yang banyak tunggul tanaman karet, kelapa sawit, kakao atau tanaman
hutan lainnya rawan terhadap penyakit ini. Tunggul dapat menjadi sumber inokulum
Ganoderma yang potensial. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memindahkan
tunggul seluruhnya pada saat melakukan tanam ulang. Lahan budidaya sebelum
tanam ulang juga mempengaruhi penyakit ini. Semakin tua tanaman, semakin besar
kerusakan yang disebabkan oleh penyakit ini. Kerugian yang meningkat berhubungan
dengan peningkatan siklus penanaman di perkebunan, yang menunjukkan bahwa
substrat semakin melimpah atau populasi inokulum semakin banyak. Lokasi
perkebunan tidak terlalu penting karena penyakit ini dapat ditemukan pada daerah
pesisir dan pedalaman. Ganoderma dapat menyerang tanaman di seluruh tipe tanah
seperti podsolik, hidromorfik, alluvial, dan gambut. Luka dapat disebabkan oleh
beberapa faktor biologi seperti gigitan tikus, tupai, babi hutan dan serangga. Faktor
kedua adalah luka mekanik yang disebabkan oleh parang, cangkul atau alat berat.
Tindakan Pengendalian
Teknik Budidaya dan Mekanis

Untuk menurunkan serangan Ganoderma, pangkal batang kelapa sawit perlu ditimbun
dengan tanah. Hal ini untuk mencegah infestasi basidiospora ke batang kelapa sawit.
Penggalian tanah disekeliling tanaman terinfeksi dapat megurangi terjadinya kontak
akar antara tanaman sakit dengan tanaman sehat. Penimbunan dapat memperpanjang
usia produksi sampai lebih dari 2 tahun (Ho dan Hashim, 1997). Pendekatan ini dapat
menemui kegagalan dikarenakan letak akar terinfeksi tidak diketahui. Pengurangan
jumlah sumber inokulum di perkebunan dilakukan dengan mengoleksi dan membakar
tubuh buah Ganoderma. Sebelum penanaman tanaman baru, batang kelapa sawit lama
dihancurkan secara mekanis ataupun secara kimiawi (Chung et al., 1991).
Pengendalian Kimiawi
Pengendalian kimiawi telah dilakukan di perkebunan kelapa sawit dengan metode
adsorpsi atau penyiraman tanah. Berdasarkan hasil di laboratorium, hampi semua
fungisida dapat menekan G. boninense, tetapi tidak pada aplikasi lapangan. Fungisida
golongan triazole yang meliputi triadimenol, triadimefon dan tridemorph efektif
dalam menekan pertumbuhan miselia G. boninense pada konsentrasi 5, 10 dan 25
g/ml. Fungisida hexaconazol dengan aplikasi bertekanan tinggi tidak dapat
mengendalikan pertumbuhan Ganoderma. Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa
fungisida hanya efektif untuk menunda serangan Ganoderma, tetapi kemampuannya
untuk mengatasi permasalahan penyakit ini di perkebunan kelapa sawit masih harus
diteliti.
Pengendalian Hayati
Turner (1981) menyatakan bahwa Trichoderma sp., Pennicilium sp., dan Gliocladium
sp. bersifat antagonis terhadap Ganoderma dan memiliki potensi untuk dijadikan
sebagai agen pengendali hayati. Keefektifan Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.
dalam menekan pertumbuhan beberapa penyakit tanaman telah dilaporkan, terutama
untuk patogen tular tanah. Trichoderma spp. telah banyak digunakan sebagai agen
pengendali hayati untuk penyakit layu Fusarium oxysporum pada tomat, melon dan
kapas. Selain itu juga digunakan untuk mengendalikan Rhizoctonia solani, Phytium
ultimum, Sclerotium rolfsii, Verticillium dahlia, Altenaria, dan Armillaria mellea.
Gliocladium sp. sebagai agen pengendali hayati telah digunakan untuk menekan
pertumbuhan R. solani, Sclerotinia sclerotiorum, dan S. rolfsii (Campbell, 1989;
Papavizas, 1992).

Trichoderma spp. dan Gliocladium spp. diuji secara in-vitro dan in-vivo pada batang
kelapa sawit untuk menekan pertumbuhan G. boninense. Kedua agen hayati memiliki
potensi yang bagus dalam pengendalian G. boninense (Abadi, 1987; Dharmaputra
1989; Hadiwiyoni et al., 1997; Abdullah dan Ilias, 2004). Di Indonesia, kelapa sawit
memiliki kadar oksigen yang rendah pada akar yang menyebabkan penggunaan
Trichoderma menjadi kurang efektif (Widyastuti, 2006). Meskipun demikian, Soepena
et al. (2000) berhasil memformulasikan fungisida hayati menggunakan Trichoderma
koningii untuk mengendalikan BSR pada kelapa sawit. Akhir-akhir ini, Trichoderma
telah digunakan untuk mengendalikan Ganoderma di lapangan walaupun hasilnya
belum konsisten (Susanto et al., 2005).
Pengendalian Penyakit Terpadu
Sistem lubang dalam lubang (sistem menggali lubang di dalam lubang [panjang 3.0m
x lebar 3.0m x dalam 0.8m] dengan lubang tanam standard [0.6m x 0.6m x 0.6m]
didalamnya (Gambar 10)) ditambah aplikasi Trichoderma spp. sebagai agen
pengendali hayati (400g per lubang) dan aplikasi tandan kosong (400kg per lubang
per tahun) dapat digunakan sebagai tindakan pengendalian untuk mengurangi tingkat
infeksi Ganoderma (Susanto, 2002). Hal ini dikarenakan sumber inokulum berupa
akar sakit telah dipindahkan karena pada dasarnya akar tanaman kelapa sawit hanya
tumbuh sampai kedalaman 80cm, dan sisa dari penyakit BSR pada lubang tanam akan
dihancurkan oleh agen pengendali hayati Trichoderma spp. Sistem ini dapat
mengurangi kemungkinan terjadinya kontak akar. Bagaimanapun juga, sumber infeksi
potensial masih dapat ditemukan dari tanaman hidup yang berupa jaringan akar,
bonggol dan batang (Flood et al., 2000).
Penanaman ulang dengan sistem lubang dalam lubang bertujuan untuk meningkatkan
hasil kelapa sawit di tanah mineral yang kurang nutrisi dan bercurah hujan rendah
atau karena lahan tersebut telah terexploitasi. Martoyo et al. (1996) melaporkan
bahwa penggunaan sistem ini mampu memberikan peningkatan produktivitas yang
nyata.
Insiden penyakit BSR pada sistem lubang dalam lubang lebih rendah (Tabel 3)
dibandingkan sistem tanam dengan lubang standard (0.73%, 2003; 0.73%, 2004; dan
1.37%, 2005) pada usia tanaman 10 tahun. Pada pengamatan tahun 2003, insiden
penyakit BSR mencapai 0.29%. Pengamatan di tahun 2004 dan 2005 juga

menunjukkan nilai yang sama dengan pengamatan di tahun 2003. Insiden penyakit
mencapai 0.29% dan 0.86% berturut-turut (Susanto et al., 2006). Di lokasi penanaman
lain juga menunjukkan hasil yang sama (Prasetyo et al., 2008)

Bercak Daun
Thursday, 24 February 2011 00:26 administrator

Penyakit-penyakit yang termasuk ke dalam kelompok bercak daun adalah yang


disebabkan oleh jamur-jamur patogenik dari genera Curvularia, Cochiobolus,
Drechslera dan Pestalotiopsis (Turner, 1981). Bercak daun yang disebabkan oleh
Curvularia lebih dikenal sebagai hawar daun curvularia. Penyakit ini terdapat di
berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia, tetapi tingkat serangannya beragam
tergantung pada kondisi lingkungan setempat dan tindakan agronomik yang
dijalankan (Purba, 1996 ; 1997 dan 2001).
Gejala
Umumnya dijumpai di PU tetapi gejala awal bisa jadi telah dimulai sejak di PA.
Serangan dapat terjadi selama periode kering dan basah. Gejala awal tampak berupa
bintik kuning pada daun tombak atau yang telah membuka, bercak membesar dan
menjadi agak lonjong dengan panjang 7-8 mm berwarna coklat terang dengan tepi
kuning atau tidak, bagian tengah bercak kadang kala tampak berminyak. Pada gejala
lanjut bercak menjadi nekrosis, beberapa bercak menyatu membentuk bercak besar
tak beraturan. Pada beberapa kasus bagian tengah bercak mengering, rapuh, berwarna
kelabu atau coklat muda .
Penyebab
Penyakit bercak daun kelapa sawit disebabkan oleh beberapa spesies jamur, antara
lain Curvularia eragrostidis, Curvularia spp., Drechslera halodes, Cochliobolus
carbonus, Cochliobolus sp, dan Pestalotiopsis sp. Jamur-jamur tersebut menyebar
dengan spora melalui hembusan angin atau percikan air yang mengenai bercak
(Turner, 1971 dan 1981 ; Domsch et al., 1980 ; Ellis, 1976 ; Hanlin, 1990).

Gambar. Gejala hawar daun Curvularia pada bibit


Faktor pendorong
Populasi bibit per satuan luas terlalu tinggi atau terlalu rapat (< 90 cm), atau keadaan
pembibitan yang terlalu lembab. Kelebihan air siraman dan cara penyiraman yang
tidak tepat. Kebersihan areal pembibitan yang kurang terpelihara. Banyak gulma
yang merupakan inang alternatif bagi patogen, terutama dari keluarga Gramineae di
dalam atau di sekitar areal pembibitan. Aktivitas pekerja di pembibitan.
Pengendalian
Menjarangkan letak bibit menjadi 90 cm. Mengurangi volume air siraman sementara
waktu. Penyiraman secara manual menggunakan gembor lebih dianjurkan, dan
sebaiknya diarahkan ke permukaan tanah dalam polibek, bukan ke daun. Mengisolasi
dan memangkas daun-daun sakit dari bibit yang bergejala ringan-sedang, selanjutnya
disemprot dengan fungisida thibenzol, captan atau thiram dengan konsentrasi 0,10,2% tiap 10-14 hari, daun pangkalan harus dibakar. Memusnahkan bibit yang
terserang berat.
Selain dua penyakit penting di atas masih ada beberapa penyakit lain antara lain:
penyakit busuk akar, penyakit busuk pupus, penyakit busuk pangkal atas, penyakit

marasmius dan penyakit karat daun. Penyakit-penyakit ini keberadaannya kurang


merugikan di perkebunan kelapa sawit.

Busuk Daun Antraknosa


Thursday, 24 February 2011 00:20 administrator

Antraknosa
Penyakit antraknosa merupakan sekumpulan nama infeksi pada daun bibit-bibit muda,
yang disebabkan oleh 3 genera jamur patogenik, yaitu Botryodiplodia spp.,
Melanconium elaeidis dan Glomerella cingulata. Spora dihasilkan di dalam piknidia
atau aservuli, menyebar dengan bantuan angin atau percikan air siraman atau hujan
(Turner, 1971 dan 1981 ; Barnet dan Hunter, 1972 ; Domsch, Gams dan Anderson,
1980). Penyakit ini telah dilaporkan terdapat di berbagai perkebunan kelapa sawit di
Indonesia (Turner, 1981 ; Purba dan Sipayung, 1986 ; Purba, 1996d, 1996f, 1997d dan
1999a).
Gejala
Terutama menyerang bibit pada umur 2 bulan. Kadang-kadang dijumpai bersamaan
dengan gejala transplanting shock (cekaman pindah tanam). Gejala biasanya dijumpai
pada bagian tengah atau ujung daun, berupa bintik terang yang selanjutnya melebar
dan menjadi kuning dan coklat gelap. Jaringan sakit selanjutnya nekrosis, bercak
meluas dengan batas antara bercak dengan jaringan sehat berwarna kuning.Bercak
kadangkala memanjang sejajar tulang daun.

Gambar 1. Gejala antraknosa yang disebabkan oleh jamur Botryodiplodia sp.


Faktor pendorong
Jarak antar bibit yang terlalu rapat (< 90cm). Keadaan pembibitan yang terlalu
lembab.Kelebihan air siraman dan naungan di PA. Pemindahan bibit dari PA ke PU
dan penggemburan tanah yang kurang hati-hati.
Pengendalian
Mengurangi penyiraman dan naungan di pembibitan awal, sehingga mengurangi
kelembaban. Pemindahan bibit dan penggemburan tanah harus dilakukan dengan hatihati. Menjarangkan letak bibit menjadi 90 cm. Mengisolasi dan memangkas daundaun sakit dengan gejala ringan-sedang, selanjutnya disemprot dengan fungisida
ziram, thiram, kaptan atau triadimenol dengan konsentrasi 0,1-0,2% dengan pusingan
7-10 hari, atau dengan thibenzol dengan konsentrasi 0,1% dengan pusingan 10-14
hari, daun-daun pangkasan harus dibakar. Memusnahkan bibit yang terserang berat.

Karat Daun
Thursday, 24 February 2011 00:12 administrator

Penyakit karat daun disebabkan oleh alga Cephaleuros virescen. Gejala penyakit
berupa pembentukan karat berwarna kemerahan pada pelepah-pelepah tua (bagian
bawah).

Gambar 1. Gejala tanaman terserang karat daun

Gambar 2. Permukaan daun kelapa sawit yang tertutup karat daun yang dilihat secara
makroskopis (A) dan karat daun yang tampak tumbuh individual apabila dilihat secara
mikroskopis (B)

Gambar 3. Penampang mikroskopik C. virescens. (A) sporangium C. virescens; (B)


sporangiofor C. virescens; (C) lubang keluar spora pada sporangium; (D) penampang
membujur epidermis daun kelapa sawit sakit karat daun yang tidak tertembus oleh
C. virescens; (E) penampang melintang epidermis daun kelapa sawit yang bagian
atasnya rusak akibat C. virescens
Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan diantaranya:

Menunas pelepah secara teratur dan benar

Melakukan penyemprotan dengan fungisida tembaga dengan dosis 2,5- 5 gram


/ 2 liter air dengan interval penyemprotan satu minggu

Busuk Tandan
Thursday, 24 February 2011 00:24 administrator

Busuk tandan
Penyakit busuk tandan disebabkan oleh Marasmius palmivorus.

Gambar 1. Tandan yang terserang M. palmivorus.

Gambar 2. Perbedaan buah terserang (A) dan buah sehat (B)


Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan untuk penyakit busuk tandan
diantaranya:

Mengurangi kelembapan udara dengan penunasan secara teratur

Membuang tandan yang telah busuk

Menyemprotkan dengan fungisida sikloheksimid, kaptafol dengan konsentrasi


0,1-0,2% dan dengan dosis 300 liter/ ha.

Penyakit Eksotis
Thursday, 24 February 2011 00:06 administrator
Penyakit eksotis merupakan penyakit kelapa sawit yang telah ditemukan di luar
negeri, tetapi belum ditemukan di Indonesia. Penyakit-penyakit tersebut diantaranya:
1. Penyakit kelapa sawit oleh Phytoplasma
Penyakit Lethal wilt. Lethal wilt merupakan penyakit baru yang menyerang tanaman
kelapa sawit di Kolombia bagian timur dengan gejala penyakit yang berbeda dari
gejala penyakit yang pernah ada di Amerika selatan. Penyakit ini dilaporkan pertama
kali pada tahun 1999 meskipun bukti-bukti awal munculnya penyakit ini telah
terdeteksi pada tahun 1994. Untuk menghindari meluasnya penyakit ini, areal
pertanaman kelapa sawit seluas 400 ha telah dieradikasi. Tanaman yang terinfeksi
menunjukkan gejala yang komplek dimana pada daun-daun muda terjadi klorosis,
sedangkan daun-daun bagian tengah dan bawah mengering dengan cepat serta terjadi
pembusukan pada tandan buah dan akar (Acosta et al., 2001). Perkembangan penyakit
ini sangat cepat dimana tanaman akan mati dalam waktu 3-6 bulan setelah gejala awal
tampak. Cenipalma (Pusat Penelitian Palma, Kolombia) telah meneliti penyebab
penyakit ini dan mengarah pada dua kemungkinan penyebab penyakit yaitu bakteri
pembusuk akar dan Phytoplasma-like organism. Peneliti lain, Alvarez dan Claroz
(2004) telah berhasil mengisolasi penyebab penyakit ini dan menyimpulkan bahwa
penyebab penyakit ini adalah Phytoplasma yang diklasifikasikan dalam 16 SrI grup
aster yellows dimana hasil sekuensing partial dari bagian ribosomal 16Sr Phytoplasma
tersebut telah didepositkan di NCBI (GenBank) dengan Accession Number AY739023
dan AY739024.
Penyakit Kerala wilt. Di India, penyakit ini merupakan penyakit endemik pada
tanaman kelapa di propinsi Kerala. Penyebab penyakit Kerala wilt adalah
Phytoplasma dimana penyakit ini telah ditularkan dan menyerang tanaman kelapa
sawit yang dibudidayakan di Kerala melalui vektor serangga Proutista moesta

(Homoptera:Derbidae) dan Stephanitis typica (Heteroptera:Tingidae). Gejala awal


terlihat pada daun termuda yang mengalami klorosis kemudian diikuti nekrosis pada
daun muda tadi, janur yang muncul membusuk dan ukuran daun lebih kecil dari
normal, selain itu munculnya pembungaan tertahan sehingga produktivitas turun
secara drastis. Penyakit ini di propinsi Kelara telah mematikan sebanyak 15.000
tanaman kelapa sawit dan hingga saat ini tanaman yang terinfeksi penyakit ini tidak
dapat diselamatkan (Rethinam, 2000). Untuk menghindari penyebaran penyakit ini
lebih lanjut ke daerah lain di India telah dikeluarkan peraturan untuk melarang
membawa keluar tanaman palma dari propinsi Kerala. Selain menyerang tanaman
kelapa sawit, penyakit kerala wilt terbukti juga menyerang tanaman pinang.
Penyakit Kalimantan wilt. Pada tahun 1933, Muller telah melaporkan
terjadinya ledakan penyakit layu pada tanaman kelapa di Kalimantan barat dekat
Pontianak dimana pada waktu itu penyakit layu (wilt) tersebut telah mematikan
sebanyak 30.000 tanaman kelapa. Gejala serupa juga dilaporkan terjadi di Kalimantan
Tengah di daerah Samuda dan Sampit, di antara ketiga daerah tersebut, penyebab
penyakit layu pada kelapa yang telah diidentifikasi sebagai Phytoplasma adalah yang
berasal dari daerah Samuda dimana Phytoplasma penyebab penyakit layu tersebut
diklasifikasikan dalam 16 SrXI dalam grup rice yellow dwarf (Jones and Warokka,
2004). Hingga kini penyakit ini belum dilaporkan dapat menyerang tanaman kelapa
sawit, tetapi tidak tertutup kemungkinan penyakit ini akan pindah ke tanaman sawit.
Untuk itu, para pekebun kelapa sawit yang berdekatan dengan ketiga daerah tersebut
agar memonitor ada tidaknya gejala penyakit yang tidak umum pada tanaman kelapa
sawit, hal ini untuk mengantisipasi pada kasus penyakit Kerala wilt yang dapat
menyerang tanaman sawit.
Potensi resiko. Kelapa sawit sebagai tanaman tamu yang dibudidayakan di habitat
baru, dalam proses adaptasinya di daerah baru, kelapa sawit kerapkali mendapat
serangan penyakit lokal yang berasal dari tanaman palma terutama tanaman kelapa.
Salah satu jenis penyakit kelapa oleh Phytoplasma yang telah diteliti secara intensif
adalah lethal yellowing (LY) yang terdapat di Amerika Tengah dimana penyakit
kelapa ini terbukti dapat juga menyerang berbagai jenis palma lain sebanyak 35
spesies palma (Harrison et al., 1999). Penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa
phytoplasma penyebab penyakit LY ini telah ditemukan pada jaringan embrionik

benih kelapa (Cordova et al., 2003). Mengingat luasnya kisaran inang penyakit LY,
tidak tertutup kemungkinan tanaman kelapa sawit juga dapat tertular penyakit LY ini.

2. Penyakit layu pembuluh Fusarium (Fusarium vascular wilt disease).


Layu pembuluh Fusarium disebabkan oleh Fusarium oxysporium f.sp. elaeidis
merupakan penyakit yang mematikan pada tanaman kelapa sawit di negara-negara
Afrika Barat dan Afrika Tengah seperti Pantai Gading, Ghana, Benin, Nigeria,
Kamerun dan Kongo, tetapi penyakit ini telah menyebar dan menyerang tanaman
kelapa sawit di Brasil pada tahun 1983 (Van de Lande, 1984), di Ekuador tahun 1986
(Renard and Franqueville, 1989) dan mungkin telah menyebar ke Kolombia dan
Suriname.
Gejala penyakit. Pada tanaman muda daun tampak berwarna kuning kecoklatan pada
salah satu daun di tengah tajuk kemudian menyebar pada daun disebelahnya dan
selanjutnya ke daun-daun di bawahnya. Tanaman kemudian total mengering dan mati
dalam waktu 2 bulan setelah gejala pertama tadi terlihat. Pada tanaman tua ada dua
tipe gejala, pertama gejala akut (typical) dimana daun-daun bagian bawah mengering
dan pelepah daun patah pada bagian tengah atau pada sepertiga dari batang.
Pertumbuhan daun-daun muda sangat lambat dan berwarna kekuningan. Kedua
dengan gejala kronis, gejala ini yang sering dijumpai di lapang dimana daun-daun
bagian bawah mengering dan patah sehingga tinggal 2-4 daun pucuk yang tidak
membuka. Gejala internal ditujukkan dengan bercak-bercak coklat kehitaman bila
batang tanaman sakit dibelah, hal ini karena penyumbatan jaringan xilem akibat tilosis
dan pembentukan gum sehingga aliran air dan nutrien sangat terganggu, pada
serangan berat bercak-bercak tersebut ditemukan sampai pada pelepah (Franqueville
dan Diabate, 2005).
Potensi resiko. Di Afrika, kehilangan produksi akibat penyakit ini dapat mencapai 30
% pada tanaman yang berumur 15-20 tahun, sedangkan di Pantai Gading pada
varietas-varietas kelapa sawit yang rentan tiap tahunnya terjadi kematian tanaman
hingga 10.000 pohon (Desmier de Chenon et al., 2005). Jamur ini dapat membentuk
struktur spora berdinding tebal yang dikenal sebagai klamidospora dimana spora ini
tahan terhadap kekeringan dan dapat bertahan di tanah selama bertahun-tahun.
Klamidospora ini dapat terbawa angin dan dapat menempel pada benih kelapa sawit

maupun paking benih kelapa sawit, karena itu untuk benih impor, karantina antara
diperlukan selain untuk mentreatment benih juga untuk mengganti paking.
Kontaminasi benih kelapa sawit dengan spora jamur ini telah dilaporkan pertama kali
oleh Locke and Colhoun (1973), kemudian Flood et al (1990) menemukan bahwa
selain pada permukaan luar benih, jamur ini juga ditemukan di dalam benih, tepatnya
pada permukaan inti sawit (kernel) selain itu tepung sari (pollen) bisa juga
terkontaminasi oleh jamur ini. Untuk mengeradikasi benih dari penyakit ini dapat
dilakukan dengan metoda vaccum infiltration dengan captafol atau prochloraz plus
carbendazim (Flood et al., 1994), hal ini penting untuk program pemuliaan tanaman
kelapa sawit di Asia Tenggara yang kadang-kadang masih memerlukan plasmanutfah
dari daerah asal (Afrika).
Berjangkitnya penyakit Fusarium wilt ini di Brasil dan Ekuador memberi indikasi
bahwa penyakit ini bisa ditularkan lintas benua dan bersifat seed-borne. Penyebab
penyakit di Amerika selatan ini mempunyai sifat kemiripan genetis dengan tempat
asal benih yaitu Pantai Gading yang dibuktikan dengan uji restriction fragment length
polymorphism (RFLP) dan vegetative compatibility (Flood et al., 1992). Dua
hipotesis dapat dikemukan tentang perpindahan penyakit ini ke Amerika Selatan,
yaitu melalui benih kelapa sawit langsung (Flood, 2005) atau terbawa benih Pueraria
javanica yang terkontaminasi spora jamur ini (Franqueville dan Diabate, 2005) yang
pada tahun 1970an diimpor dalam skala besar oleh kedua negara di Amerika Selatan
ini, karena bukan benih utama diperkirakan treatment terhadap benih kacangan ini
kurang diperhatikan.

3. Penyakit busuk umbut (Bud rot, Pudricion del cogollo)


Penyakit ini merupakan penghambat utama pengembangan perkebunan kelapa
sawit di Amerika Tengah dan Selatan. Kerusakan berat akibat penyakit ini sering
dilaporkan di beberapa kebun sawit, sebagai contoh pada tahun 1990 luas perkebunan
kelapa sawit di Suriname 5.425 ha tetapi pada tahun 2000 tinggal 40 ha, di Ekuador
gejala penyakit ini muncul pada tahun 1992-1993 di tanaman muda di kebun
Shushufindi (5000 ha) dan Huashito (5000 ha) dan pada tahun 2000 kedua kebun
tersebut telah porak-poranda akibat penyakit ini (Franqueville, 2001). Kerusakan
akibat penyakit ini dapat bersifat: mematikan (lethal) terutama dijumpai di Ekuador,

Brasil dan Suriname dan yang bersifat tidak mematikan (non-lethal) dimana tanaman
kelapa sawit yang menderita akibat penyakit ini dapat pulih kembali, gejala ini
dijumpai di Kolombia.
Gejala penyakit. Penelitian untuk mengidentifikasi penyebab penyakit ini telah
dilakukan sejak 25 tahun yang lalu tetapi hingga kini penyebab penyakit ini belum
diketahui. Kontroversi mengenai penyebab penyakit apakah disebabkan oleh faktor
biotik (patogen) atau abiotik (gangguan fisiologis) masih terus berlangsung terutama
adanya gejala yang bersifat mematikan (lethal) yang diduga disebabkan oleh patogen
dan gejala yang bersifat tidak mematikan (non-lethal) dimana dengan perbaikan
drainase dan pemupukan berimbang tanaman dapat sembuh kembali (Gomez et al.,
2005). Gejala penyakit pertama kali ditandai klorosis pada daun-daun muda yang
belum membuka (Swinburne, 1993) kemudian disusul dengan pembusukan daundaun tersebut dengan tesktur busuk basah yang merambat mengarah pada jaringan
meristem titik tumbuh. Bila pembusukan tidak sampai pada titik tumbuh, tanaman
dapat bertahan dan sembuh kembali yang ditandai munculnya daun-daun baru yang
kerdil.
Potensi resiko. Dalam kasus penyakit busuk umbut yang hingga kini belum dapat
ditentukan penyebab penyakitnya namun penyakit ini mempunyai pola penyebaran
mirip layaknya penyakit yang disebabkan oleh patogen sehingga penyakit ini perlu
selalu diwaspadai penyebarannya.
4. Penyakit Sudden wilt
Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama antara lain penyakit Marchitez, Hartrot
maupun Fatal wilt. Penyakit ini sebelumnya dikenal sebagai Hartrot disease pada
tanaman kelapa pada tahun 1908 kemudian ditemukan pada kelapa sawit di Suriname
tahun 1923 dan di Kolombia pada tahun 1963 dan kini telah menyebar di Ekuador,
Peru, Venezuela, Brasil, Nikaragua dan Kosta Rika (Desmier de Chenon et al., 2005).
Penyakit ini bersifat mematikan (lethal) dan segala umur tanaman kelapa sawit dapat
diserang, tetapi yang paling rentan tanaman umur antara 3-5 tahun. Kerugian berupa
kehilangan hasil akibat serangan penyakit ini bisa mencapai 80 % (Gomez et al.,
1996).
Gejala penyakit. Gejala spesifik ditandai dengan perubahan warna daun-daun bagian
bawah yang berwarna coklat kemerahan kemudian menyebar ke seluruh daun

sehingga tanaman tampak seperti terbakar. Penyakit ini dapat menyerang tandan buah
dimana buah kelapa sawit menjadi busuk dan berguguran, selain itu juga terjadi
pembusukan pada bunga jantan maupun akar tanaman kelapa sawit. Tanaman yang
terserang penyakit ini mengakibatkan kematian setelah 1-2 bulan sejak gejala
penyakit pertama kali terlihat (Martinez, 1985). Penyakit ini disebabkan oleh
Phytomonas staheli ( Dollet et al., 1996) jenis protozoa berflagela dan sebagai
vektornya berupa serangga kepik dari famili Pentatomidae yaitu Linchus spp
(Desmier de Chenon et al., 2005).
Potensi resiko. Di Amerika Selatan, Phytomonas dapat hidup pada tumbuhan gulma
famili Euphorbiaceae dan beberapa spesies gulma tersebut dijumpai di Asia Tenggara,
antara lain Euphorbia heterophylla dan E. hirta dimana kedua gulma tersebut
direkomendasikan di perkebunan kelapa sawit sebagai sumber nektar bagi musuh
alami terutama parasitoid (Desmier de Chenon et al., 2005). Untuk itu penggunaan
gulma tersebut di perkebunan kelapa selalu di monitor.

5. Penyakit red ring.


Penyakit ini telah menyebar ke semua perkebunan kelapa sawit yang berada di
Amerika Tengah dan Selatan, khususnya di Kolombia penyakit ini dilaporkan di San
Alberto pada tahun 1984 dan telah mematikan tanaman kelapa sawit lebih dari 500
ha (Gomez et al., 2005).
Gejala penyakit. Daun-daun bagian bawah menguning kemudian menjalar ke
daun-daun bagian atasnya, pelepah daun di bagian tengah mengering, patah dan
menggantung. Pertumbuhan daun-daun muda terhambat sehingga daun-daun muda
yang muncul menjadi kerdil-kerdil (little leaf symptom). Gejala spesifik dapat dilihat
bila tanaman yang sakit batangnya dibelah melintang akan terlihat cincin berwarna
merah kecoklatan, begitu juga bila pelepah di potong melintang akar terlihat bercakbercak berwarna merah salmon (Gomez et al., 2005). Penyebab penyakit ini adalah
nematoda Bursaphelenchus cocophilus (sinonim: Radinaphelenchus cocophilus)
dimana nematoda ini dapat ditularkan ke tanaman kelapa sawit lainnya oleh kumbang
moncong Rhynchophorus palmarum.
Potensi resiko. Kemungkinan terbawanya nematoda melalui benih hampir
tidak mungkin, tetapi nematoda ini dapat hidup pada palma hias seperti Sabal

palmetto dan Phoenix canariensis (Desmier de Chenon et al., 2005) ataupun mungkin
pada beberapa palma hias lainnya, untuk itu lalu lintas palma hias dari daerah wabah
harus diawasi dengan ketat. Serangga vektor yaitu Rhynchophorus di Asia Tenggara
tersedia berlimpah