You are on page 1of 7

Tinjauan Fiqh Pentasharufan Zakat

TINJAUAN FIQH PENTASHARUFAN ZAKAT


Oleh:
Prof.Dr.KH. Sjeichul Hadi Permono, SH., MA

I. SASARAN PENTASHARUFAN ZAKAT

Sasaran pentasharufan zakat, dalam kajian fiqh terkenal dengan sebutan:


Mustahiq al-zakat atau ashnaf.
Q.S. 9 Al-Taubah: 60 menyebutkan delapan ashnaf :

  
 

 


   



 
  

 
    
   
  
 

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan
untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang
diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

1. Fakir-miskin
adalah mustahiq yang mempunyai satu atau dua ciri : a). kelemahan dalam
bidang fisik, b). kelemahan dalam bidang harta benda. Keduanya (fakir dan
miskin) sama-sama, kebutuhannya (pengeluaranya) lebih besar daripada
harta benda (pendapatan) nya. Perbedaanya, fakir, pendapatannya kurang
daripada separuh pengeluaran, sedangkan miskin, pendapatannya lebih besar
daripada separuh pengeluaran.
2. Amilin
adalah semua orang yang diangkat oleh imam (kepala negara) atau
pembantunya, dalam perlengkapan administrasi urusan zakat, baik urusan
pengumpulan, pemeliharaan, ketatausahaan, perhitungan, pendayagunaan
dan seterusnya.
3. Al-Muallafah qulubuhum
adalah mereka yang perlu dijinakkan hatinya agar cenderung untuk beriman
atau tetap beriman kepada Allah, dan mencegah agar mereka tidak berbuat
jahat bahkan diharapkan mereka akan membela atau menolong kaum
muslimin. Mereka itu ada dua golongan : 1). Golongan orang Islam, 2).
Golongan non Islam.

1
Tinjauan Fiqh Pentasharufan Zakat

Golongan orang Islam: 1). Mereka yang lemah imannya, dengan diberi zakat,
agar imannya menjadi kuat, 2). Mereka yang di harapkan kemanfaatannya
untuk umum.
Golongan non Islam : 1). Orang-orang yang diharapakan beriman dengan
dijinakkan hatinya, 2). Orang-orang yang dikhawatirkan kejahatannya.
4. Ar-Riqab
adalah Budak yang dengan jatah zakat itu mereka dapat memerdekakan
dirinya. Untuk memerdekakan lawanan muslim dari kekuasaan musuh kafir.
Untuk memerdekakan bangsa yang terjajah oleh kolonialis. Alasan hukum
yang terkandung dalam pengertian ar-riqab adalah adanya sifat eksploitasi
dari manusia atas menusia yang harus dibebaskan.
5. Al-Gharimin
adalah orang atau Rechtpersonnen (badan hukum) :
• Berhutang untuk kepentingan pribadi diluar maksiat.
• Berhutang untuk kepentingan masyarakat (mashalih ammah)
6. Sabilillah
adalah semua kemaslahatan Syari’iyyah secara umum, yang mencakup
urusan agama dan negara.
Ada tiga pandangan tentang sabilillah :
• Mempunyai arti perang, pertahanan dan keamanan Islam.

• Kepentingan keagaman Islam. ( ‫) نصرة السلم واعلء كلمتة فى الرض‬


• Kemaslahatan umum
7. Ibnus Sabil Yaitu
• Orang yang mau bepergian.
• Orang yang di tengah perjalanan.

II. DASAR PEMIKIRAN KEBIJAKSANAAN PENDAYAGUNAAN ZAKAT

Berangkat dari Q.S. 9 Al-Taubah: 60 tersebut diatas, terungkaplah pemikiran-


pemikiran sebagai berikut :
1. Allah SWT tidak menetapkan perbandingan yang tetap antara bagian
masing-masing delapan pokok alokasi zakat (ashnaf).
2. Allah SWT tidak menetapkan delapan ashnaf harus diberi semuanya.
Allah SWT hanya menetapkan zakat dibagikan kepada delapan ashnaf, tidak
boleh keluar daripada delapan ashnaf.

2
Tinjauan Fiqh Pentasharufan Zakat

3. Allah SWT tidak menetapkan zakat harus dibagikan dengan segera


setelah masa pungutan zakat.
4. Allah Swt tidak menetapkan bahwa semua hasil pungutan zakat (baik
sedikit maupun banyak) harus dibagikan semuanya.
5. Allah SWT tidak menetapkan bahwa yang diserah terimakan itu berupa
in cash (uang tunai) atau in kind (natuna)

III. KEBIJAKSANAAN PENDAYAGUNAAN ZAKAT ANTARA LAIN


SEBAGAI BERIKUT :

1. Pembagian zakat harus bersifat educatif, ekonomis dan produktif,


sehingga pada akhirnya penerima zakat (mustahiq) menjadi tidak
memerlukan zakat lagi bahkan menjadi wajib zakat (muzakki).
2. Hasil pengumpulan zakat, selama belum dibagikan kepada para
mustahiq dapat merupakan dana yang disimpan dalam bank-bank Islam
(Syari’ah), yang diinvestasikan pada proyek-proyek yang produktif.
3. Proyek-proyek produktif tersebut merekrut tenaga kerja dari golongan
fuqara’ dan masakin, termasuk sarjana-sarjana yang belum kerja dan kaum
pengangguran.
4. Proyek-proyek produktif tersebut setelah berkembang dapat di go
publikan kepada para karyawan yakni dibagikan saham-sahamnya kepada
para karyawan sehingga proyek-proyek produktif tersebut menjadi milik para
karyawan. Dengan demikian, mereka terpacu untuk kerja keras dan disana
tidak terjadi gejolak dengan demo dan sebagainya. Seterusnya, sumber
penggalian zakat menjadi tambah besar, karena mereka berubah menjadi
para muzakki (wajib zakat).
5. Untuk mengarah pada dayaguna yang tepat cepat, serbaguna, dan
produktif, perlu perencanaan, pengarahan dan pembinaan bagi sasaran zakat
(para mustahiq), baik mustahiq yang bersifat pribadi maupun yang bersifat
umum atau badan hukum.
6. Distribusi zakat secara konsumtif itu mempunyai kecenderungan untuk
menimbulkan inflasi, karena sebagian besar dari delapan kategori mustahiq
termasuk dalam strata sosial golongan ekonomi lemah yang mempunyai
kecenderungan konsumtif yang lebih tinggi, sehingga menyebabkan naiknya
permintaan dan tingginya harga penawaran. Agar supaya terpelihara dari

3
Tinjauan Fiqh Pentasharufan Zakat

bahaya seperti itu, ide “Surplus Zakat Budget” rasanya dapat diterima.
Surplus Zakat Budget adalah tidak semua zakat yang terkumpul dibagikan
semua, namun dibagikan sebagian dan besarnya diinvestasikan dalam
proyek-proyek produktif. Surplus Zakat Budget system dapat mempunyai
pengaruh untuk mengurangi jumlah permintaan dalam ekonomi dan oleh
karenanya dapat mengurangi tingkat harga.

IV. BENTUK-BENTUK KEBIJAKAN PER KATEGORIAN MUSTAHIQ

1. Fakir Miskin
Untuk mereka yang jompo dan cacat fisik, jatah mereka didayagunakan
oleh suatu badan hukum yang bergerak dalam bidang-bidang produktif,
dibawah pembinaan, pengarahan dan pengawasan Badan Amil Zakat.
Untuk mereka yang lemah dalam bidang harta benda, tapi fisiknya
mampu bekerja, mendapatkan bagian secara produktif , secara langsung,
dengan pengarahan, pembinaan dan pengawasan, atau mereka diperkejakan
dalam suatu proyek yang produktif yang dimodali oleh Badan Amil Zakat.
Mereka mendapatkan penghasilan tetap berupa gaji, kemudian mereka diberi
saham dalam perusahan itu, sehingga mereka berubah menjadi muzakki.
Dapat juga, bagi mereka yang mampu kerja, mereka diberi modal uang,
alat-alat kerja, dan barang dagangan, seperti diangkat menjadi sopir taksi
milik suatu perusahan yang dibiayai oleh Badan Amil Zakat, atau seorang
petani diberi kerja mengelola traktor. Mereka diberikan pekarangan yang
hasilnya cukup buat penghidupannya.
Untuk pelayanan pendidikan dan pengobatan bagi orang fakir-miskin,
latihan kejuruan dan ketrampilan.
Untuk membangun bengkel, lokakarya, perindustrian rakyat : peternakan,
pertanian, mendirikan kios-kios ditempat-tempat yang cocok dengan
usahanya, kaki lima, ice box, untuk menjual makanan-makanan ringan,
perumahan ekonomis dan sehat dengan biaya ringan, atau sewa murah.
Perawatan medis dan kesehatan : membangun rumah sakit, apotik,
penyediaan dokter, air bersih dan lain-lain, dengan cuma-cuma, atau dengan
bayaran untuk fakir miskin.
Ringkasnya, kebijaksanaan pendayagunaan zakat jatah fakir miskin dapat
diarahkan ke segala usaha dan segala bidang yang menyangkut kebutuhan

4
Tinjauan Fiqh Pentasharufan Zakat

manusia seutuhnya, lahiriyah dan batiniyah, bagi golongan fakir miskin,


untuk menyelamatkannya dari jerit ketidakcukupan, dan meningkatkan
harkat serta martabat manusiawinya.
2. Al-Amilin
Jumlah dana untuk amilin sangat tergantung kepada kebutuhan dan
pertimbangan yang wajar. Jatah amil adalah sebagai upah kerja. Tolok ukur
gaji/honor amilin adalah prestasi kerja dan pertimbangan kecukupan yang
wajar bagi amil bersama keluarganya. Para petugas zakat boleh menerima
hasil pengumpulan zakat, meski kaya, sebab apa yang mereka terima
merupakan upah dari jerih payahnya. Perbandingan gaji antara petugas yang
satu dengan yang lain diukur menurut kedudukan dan prestasi kerjanya.
3. Muallafah
Illah (alasan hukum) jatah muallafah adalah untuk menjinakkan hati
mereka terhadap Islam. Apabila alasan hukum (illah) itu ada maka wujudlah
hukum (jatah ta’lif), akan tetapi apabila alasan hukum itu tidak ada, maka
hukumpun tidak terwujud.
Jatah muallafah dapat berupa dana bantuan penyantunan dan pembinaan
orang-orang yang baru masuk Islam, pembiayaan lembaga dakwah,
pembinaan mental terhadap kaum non muslim, daerah-daerah yang belum
beragama, suku-suku terasing, untuk penyiaran keislaman. Untuk negara-
negara non muslim, agar berdiri dibarisan orang-orang Islam, untuk suku-
suku bangsa agar mereka senang kepada Islam atau mendukung orang-
orang Islam.
Dus, alokasi muallafah, pendayagunaannya diarahkan kepada mereka
yang hatinya perlu dijinakkan agar :
a. cenderung untuk beriman, atau
b. tetap beriman, atau
c. menolong umat Islam, atau
d. membela Islam, atau
e. tidak berbuat jahat kepada Islam dan umat Islam.
4. Ar-Riqab
Alasan hukum yang terkandung di dalam pengertian jatah ar-Riqab adalah
untuk membebaskan eksploitasi atau pemerasan oleh manusia atas manusia,
baik sebagai individual maupun sebagai komunal. Kebijaksanaan
pendayagunaan zakat jatah ar-Riqab dapat berbentuk antara lain :

5
Tinjauan Fiqh Pentasharufan Zakat

a. menebus orang-orang Islam yang ditawar oleh musuh.


b. membantu negara Islam untuk melepaskan diri dari belenggu
perbudakan modern kaum penjajah modern.
c. pembebasan pekerja kontrak dan ikatan kerja yang tidak
wajar.
d. pembebasan pedagang, pengusaha kecil, petani, nelayan
kecil, dan sebagainya dari ketergantungan lintah darat dan pengijon.
(butir d, ini dapat dimasukkan dalam kategori gharim, bukan riqab)
5. Al-Gharimin
Jatah al-garimin dapat disalurkan kepada :
a. orang yang dinyatakan pailit dalam usahanya.
b. pedagang kecil untuk melepaskannya dari pemerasan kaum
rentenir.
c. pedagang kecil dipasar, yang meperdagangkan barang orang
lain, yang dapat musibah umpamanya kebakaran, atau dagangannya
dirampas orang kaum preman.
d. orang-orang yang mendapat musibah bencana alam, banjir,
kebakaran dan lain sebagainya.
e. orang atau badan, lembaga, atau yayasan yang berhutang,
untuk kemaslahatan umum : yatim-piatu, pondok pesantren, rumah sakit,
jalan, jembatan dan seterusnya.
f. orang yang meninggal dunia dan mempunyai hutang,
sedangkan harta peninggalannya tidak cukup untuk melunasi hutangnya.
6. Sabilillah
Untuk mengetrapkan tiga pengertian sabilillah sesuai dengan kondisi dan
tuntutan situasi, maka pendayagunaan jatah zakat sabilillah dapat disalurkan
pada :
a. peningkatan dakwah.
b. untuk pertahanan Islam dan keamanan umat Islam dan hal-
hal yang terkait.
c. Peningkatan ilmu pengetahuan, ketrampilan, keperluan
beasiswa, penelitian, penerbitan buku pelajaran, dan majalah-majalah
ilmiah.
d. peningkatan pembangunan fisik atau proyek menumental ke-
islaman.

6
Tinjauan Fiqh Pentasharufan Zakat

e. nafahah orang-orang yang sibuk dengan tugas agama.


f. peningkatan pengetahuan kader-kader Islam
g. peningkatan nilai fisik bangunan-bangunan keagamaan :
masjid, madrasah, dan lain sebagainya.
7. Ibnus Sabil
Alokasi ibnus sabil dapat disalurkan pada :
a. rehabilitasi jalan-jalan dan pembuatan jalan.
b. santunan wisatawan religius
c. pembangunan penginapan gratis bagi wisatawan religius
atau biaya murah.
d. Pengiriman mahasiswa keluar negeri.
e. ekspedisi ilmiah.
f. pengiriman utusan konferensi, seminar ilmiah dan agama.
g. penyediaan indekost murah bagi pelajar dan mahasiswa dari
luar daerah.
h. kelancaran arus lalu lintas.