You are on page 1of 6

RESTRAIN PADA ANAK DAN BALITA

Kel Pratikum I Kelas A


Nama : Adeline Stephani
Fitri Rahmawati
Muchtarul Fadhal
Riris Wijayanti
Torangso Sagala
PENGERTIAN RESTRAINT
Restraint secara harfiah berarti menahan gerakan fisik anak yang tidak pantas selama
perawatan gigi. Teknik ini dapat dilakukan dengan tangan, sabuk, selimut, dan beberapa
armamentaria yang diproduksi. Teknik ini digunakan biasanya pada anak yang tidak
terkontrol tindakannya. Pada restraint, biasanya juga dilakukan pembiusan. Teknik restraint
ini kadang-kadang berbahaya dan memerlukan biaya mahal.
Perawat perlu mengkaji apakah restraint di perlukan atau tidak. Restraint seringkali
dapat dihindari dengan persiapan anak yang adekuat, pengawasan orang tua atau staf
terhadap anak, dan proteksi adekuat terhadap sisi yang rentan seperti alat infus. Perawat
perlu mempertimbangkan perkembangan anak, status mental, ancaman potensial pada diri
sendiri atau orang lain dan keamanannya.
RESTRAINT PADA ANAK
Restraint dapat melibatkan orang lain dalam membatasi gerakan anak, dengan atau
tanpa menggunakan bantuak mekanik. Saat pelaksanaan restraint dapat menggunakan
peralatan-peralatan untuk menjamin anak tidak bergerak diluar area yang diharapkan.
Penggunaan teknik restraint memiliki potensi untuk menyebabkan konsekuensi yang serius
pada anak, seperti kerusakan fisik atau psikologis, kehilangan martabat dan pelanggaran hakhak dari pasien anak. Karena adanya resiko dan konsekuensi yang mungkin timbul terkait
penggunaan restraint, maka tenaga kesehatan didorong untuk mengevaluasi penggunaannya
secara menyeluruh kepada setiap pasien dan sebaiknya memilih alternatif lain untuk
mengatasi perilaku tidak kooperatif anak bila masih memungkinkan. Pemantauan secara hatihati dan terus menerus kepada pasien anak adalah hal yang wajib selama restraint dilakukan.
Restraint sebagian atau menyeluruh kepada pasien anak kadang-kadang diperlukan untuk
melindungi pasien, praktisi, staf, atau orangtua dari cedera saat memberikan perawatan gigi.
Restraint dapat dilakukan oleh dokter gigi, staf kesehatan, atau orang tua dengan atau tanpa
bantuan perangkat restraint.
Indikasi dari penggunaan teknik restraint pada pasien anak adalah:
1

Pasien anak memerlukan diagnosis dalam keadaan darurat dan tidak dapat bersikap
kooperatif dikarenakan tidak bersikap dewasa atau kecacatan mental ataupun fisik
2 Ketika keamanan dari pasien, dokter gigi, staff kesehatan maupun orang tua dapat
terancam jika tidak dilakukan restraint
3 Untuk mengurangi gerakan yang tidak diinginkan pada pasien yang disedasi
4 Pada saat sedasi dan pembiusan total tidak dapat dilakukan atau mendapatkan izin dari
orangtua pasien anak

Kontra indikasi dari penggunaan teknik restraint yaitu:


1. Jika pasien anak kooperatif
2. Tidak mendapatkan izin tertulis dari orangtua pada prosedur yang akan dilakukan
3. Pasien anak yang tidak bisa di-restraint dengan aman dikarenakan ada komplikasi fisik
atau mental
4. Pasien anak yang telah memiliki trauma fisik ataupun psikologis terhadap teknik restraint
( kecuali tidak ada alternatif lain)
5. Pasien yang tidak disedasi atau yang tidak memerlukan perawatan darurat yang
memerlukan beberapa kali kunjungan
HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
Kebutuhan untuk mengdiagnosa, memberi perawatan, dan melindungi pasien anak,
dokter gigi, staff kesehatan dan orang tua pasien harus dianggap penting dalam penggunaan
teknik restraint. Sehingga keputusan untuk menggunakan teknik restraint harus
mempertimbangkan hal-hal berikut:
1. Adakah alternatif manajemen perilaku lain yang masih bisa digunakan
2. Perawatan gigi yang diperlukan oleh pasien anak
3. Efek dari restraint terhadap kualitas perawatan yang diberikan
4. Perkembangan emosional dari pasien anak
5. Pertimbangan dari kondisi fisik pasien anak
Menurut sebuah studi yang dialakukan oleh Connick et al. [2000] ada lima hal yang
harus diperhatikan dalam menggunakan restraint, yaitu:
1. Restraint hanya boleh digunakan jika benar-benar diperlukan oleh pasien anak
2. Alternatif yang dipilih haruslah alternatif yang paling sedikit menyiksa pasien anak
3. Restraint tidak boleh dijadikan sebagai hukuman pada pasien anak
4. Restraint tidak boleh digunakan semata-mata hanya untuk kepentingan tertentu
5. Para staff harus selalu memonitor penggunaan teknik ini
Teknik restraint tidak boleh dilakukan secara sembarangan pada pasien anak,
restraint hanya boleh digunakan jika:
1. Ketika strategi yang lain telah gagal; bahkan ketika restraint diperlukan, harus terdiri dari
satu komponen dari seluruh rencana perawatan untuk pasien
2. Ketika dalam situasi yang darurat dimana resiko dari gerakan yang tidak diharapkan
melebihi resiko dari penggunaan restraint
3. Digunakan dengan pemaksaan yang minim
4. Digunakan dalam waktu sesingkat-singkatnya
5. Demi kebaikan dari pasien sendiri atau mencegah agar tidak merugikan orang lain
6. Dilakukan oleh staff yang telah memiliki pelatihan khusus dan hanya menggunakan teknik
yang mereka pelajari dimana mereka telah mendapat persiapan untuk latihan (tanggung
jawab staff)
7. Dilakukan untuk meminimalisasi resiko cedera fisik dan kehilangan martabat
8. Dilakukan untuk menghindarkan kontak fisik yang bisa dianggap sebagai pelecehan
seksual
9. Dilakukan dengan pembekalan kepada staff, dan bila memungkinkan kepada pasien
10. Dilakukan dengan pencatatan dan pelaporan secara formal
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan jika pada akhirnya diputuskan untuk

menggunakan teknik restraint, diantaranya :


1. Rekam medic dari pasien anak harus benar-benar dibaca secara seksama agar jika
ada kondisi medis (mis. asma) yang dapat mempersulit pernapasan
2. Keeratan dan durasi dari restraint harus dimonitor dan dinilai kembali secara
berkala
3. Restraint pada anggota gerak dan bagian dada tidak boleh menghambat sirkulasi
darah ataupun pernapasan
4. Restraint harus segera dihentikan secepat mungkin pada pasien yang mengalami
stress berat ataupun histeris untuk mencegah trauma fisik atau psikologis yang
mungkin terjadi
Syarat-syarat yang harus dipenuhi saat akan melakukan restraint kepada anak, yaitu:
1.

2.
3.
4.

Penjelasan kepada pasien anak mengapa restraint diperlukan saat perawatan


berlangsung, juga dengan harapan memberikan kesempatan kepada pasien anak
agar memahami bahwa prosedur perawatan yang akan diberikan adalah sesuai
dan aman bagi pasien anak maupun keluarga pasien tersebut
Memunyai izin baik secara verbal maupun tertulis dari psikiater yang akan
menjelaskan pentingnya jenis restraint yang boleh digunakan berdasarkan
indikasi-indikasi yang muncul dari pasien
Ada dokumen yang menjelaskan kepada orangtua pasien anak maupun pihak
keluarga pasien anak yang bersangkutan mengapa teknik restraint diperlukan
dalam perawatan
Ada penilaian dari rumah sakit dari pasien anak yang sudah pernah menjalani

restraint yang memastikan bahwa prosedur tersebut telah diaplikasikan dengan benar dan
memastikan integritas kulit dan status neurovaskular pasien tetap dalam keadaan yang baik
PENGGUNAAN TEKNIK PENGENDALIAN FISIK (RESTRAINT)
Penggunaan teknik restraint pada anak, dalam penatalaksanaannnya harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
1. Mendapatkan izin dari orangtua disertai adanya dokumen yang menjelaskan kepada
orangtua pasien anak mengapa pengendalian fisik (restraint) dibutuhkan dalam
perawatan.
2. Tidak dilakukan pada anak yang kooperatif.
3. Biasa dilakukan pada anak usia 3 tahun atau lebih kecil dari 3 tahun yang belum
mempunyai kemampuan berkomunikasi yang memadai.
4. Adalah teknik yang digunakan sebagai upaya terakhir jika cara-cara lain tidak mempan.
5. Teknik ini tidak digunakan sebagai hukuman.
6. Ketika perawatan sedang dilakukan, bicarakan dengan pelan ke telinga si anak, dan
jelaskan jika si anak bertindak kooperatif, segala pengendalian fisik akan dilepaskan.
7. Ketika si anak sudah tenang, pelepasan teknik restraint diikuti dengan pemberian katakata pujian/ hadiah.
8. Teknik restraint ini sebaiknya jangan digunakan pada anak yang takut, bagi anak seperti
ini, desensitiasi atau metode-metode lain akan lebih tepat.

JENIS-JENIS RESTRAINT
1. Pengendalian fisik (physical restraint) dengan menggunakan alat.
Pengendalian fisik dengan menggunakan alat merupakan bentuk pengendalian dengan
menggunakan bantuan alat bantu untuk menahan gerakan tubuh dan kepala pasien maupun
menahan gerakan rahang dan mulut pasien.Berikut adalah alat bantu untuk menahan gerakan
tubuh dan kepala pasien:
a. Sheet and ties
Penggunaan selimut untuk membungkus tubuh pasien supaya
tidak bergerak dengan cara melingkarkan selimut ke seluruh
tubuh pasien dan menahan selimutnya dengan perekat atau
mengikatnya dengan tali.
b. Restraint Jaket
Restraint jaket digunakan pada anak dengan tali diikat dibelakang
tempat tidur sehingga anak tidak dapat membukanya. Pita panjang
diikatkan ke bagian bawah tempat tidur, menjaga anak tetap di dalam
tempat tidur. Restrain jaket berguna sebagai alat mempertahankan anak
pada posisi horizontal yang diinginkan.
c. Papoose board
Papoose board merupakan alat yang biasa
digunakan untuk menahan gerak anak saat
melakukan perawatan gigi. Cara penggunaannya
adalah anak ditidurkan dalam posisi terlentang di
atas papan datar dan bagian atas tubuh, tengah
tubuh dan kaki anak diikat dengan menggunakan
tali kain yang besar. Pengendalian dengan
menggunakan papoose board dapat diaplikasikan dengan cepat untuk mencegah anak
berontak dan menolak perawatan.Tujuan utama dari penggunaan alat ini adalah untuk
menjaga supaya pasien anak tidak terluka saat mendapatkan perawatan.
d. Restraint Mumi atau Bedong
Selimut atau kain dibentangkan diatas tempat tidur dengan salah satu ujungnya dilipat ke
tengah. Bayi diletakkan di atas selimut tersebut dengan bahu berada di lipatan dan kaki ke
arah sudut yang berlawanan.Lengan kanan bayi lurus kebawah rapat dengan tubuh, sisi
kanan selimut ditarik ke tengah melintasi bahu kanan anak dan dada diselipkan dibawah
sisi tubuh bagian kiri. Lengan kiri anak diletakkan lurus rapat dengan tubuh anak, dan sisi
kiri selimut dikencangkan melintang bahu dan dada dikunci dibawah tubuh anak bagian
kanan. Sudut bagian bawah dilipat dan ditarik kearah tubuh dan diselipkan atau
dikencangkan dengan pin pengaman.

e. Pedi-wrap
Pedi-wrap merupakan sejenis perban kain yang dilingkarkan pada
leher sampai pergelangan kaki pasien anak untuk menstabilkan tubuh

anak serta menahan gerakan tubuh anak. Pedi-wrap mempunyai berbagai variasi ukuran
sesuai dengan kebutuhan.
Alat bantu untuk menahan gerakan mulut dan rahang pasien
a. Molt Mouth Prop
Molt mouth prop merupakan salah satu alat yang paling
penting dalam melakukan perawatan gigi. Alat ini
biasanya digunakan dalam anestesi umum untuk
mencegah supaya mulut tidak tertutup saat perawatan dilakukan. Alat ini juga sangat
cocok dalam penanganan pasien yang tidak bisa membuka mulut dalam jangka waktu
lama karena suatu keterbatasan.
Penggunaan molt mouth prop harus memperhatikan posisi rahang pasien saat pasien
membuka mulutnya, supaya tidak terjadi dislokasi temporomandibular. Sebagai
tambahan, dokter gigi harus memindahkan molt mouth prop dari mulut pasien setiap
sepuluh hingga lima belas menit agar rahang dan mulut pasien dapat beristirahat.
b. Molt Mouth Gags
Molt mouth gags juga merupakan salah satu alat bantu yang dapat
digunakan untuk menahan mulut pasien.

c. Tongue Blades
Tongue blades merupakan alat bantu yang digunakan untuk
menahan lidah pasien supaya tidak mengganggu proses
perawatan.

2. Pengendalian fisik (physical restraint) tanpa bantuan alat (dengan bantuan orang
lain)
Pengendalian fisik tanpa bantuan alat merupakan bentuk pengendalian fisik tanpa
menggunakan bantuan alat, pengendalian bentuk ini merupakan bentuk pengendalian yang
menggunakan bantuan perawat maupun bantuan orang tua atau pihak keluarga pasien.
a. Pengendalian fisik dengan bantuan tenaga kesehatan.

Pengendalian fisik dengan menggunakan bantuan tenaga kesehatan merupakan


bentuk pengendalian fisik dimana diperlukan tenaga kesehatan, misalnya perawat untuk
menahan gerakan pasien anak dengan cara memegang kepala, lengan, tangan ataupun kaki
pasien anak.
b. Pengendalian fisik dengan bantuan orang tua pasien
Pengendalian fmisik dengan bantuan orang tua sebenarnya sama
dengan pengendalian fisik dengan bantuan tim medis (tenaga
kesehatan). Hanya saja peran perawat digantikan oleh orang tua
pasien anak. Cara pengendalian dengan menggunakan bantuan
orang tua lebih disukai anak apabila dibandingkan dengan
menggunakan bantuan tim medis, sebab anak lebih merasa
aman apabila dekat dengan orang tuanya.
DAFTAR PUSTAKA
1. York KM, Mlinac ME, Deibler MW, Creed TA, Ganem I. Pediatric Behavior
Management Techniques: A Survey of Predoctoral Dental Students. Journal of Dental
Education 2007;71 : 532, 535-536.
2. Braham RL, Morris ME, eds. Textbook of Pediatric Dentistry. Baltimore: Waverly
Press,Inc,1980: 393.
3. Rahayu
RDC.
Restraint
pada
Bayi
dan
Anak.
http://kumpulanaskep3209.blogspot.com/2012/05/restraint-pada-bayi-dan-anak.html. (30 november
2012).
4. Pinkham JR, ed. Pediatric Dentistry Infancy through Adolescence. Philadelphia:
W.B.Saunders Company, 1988: 272.
5. Mathewson RJ, Primosch RE, eds. Behaviour Management. In: Fundamentals of
Pediatric Dentistry. Carol Stream: Quintessence Publishing Co,Inc, 1995: 142.
6. Budiyanti EA, Heriandi YY. Pengelolaan Anak Nonkooperatif pada Perawatan Gigi
(Pendekatan nonfarmakologik). Dentika Dent.J.2001;6:16-17
7. Wright, Gerald Z. Behaviour Management in Dentistry for Children. Philadelphia:
W.B.Saunders Company, 1975:103
8. Andlaw RJ, Rock WP. Perawatan Gigi Anak (a Manual of Pedodontics). Alih bahasa.
Djaya A.Jakarta: Widya Medika, 1992: 18-19.
9. Roberts JF,Curzon MEJ, Koch G, Martens LC.Review: Behaviour Management
Techniques in Paediatric Dentistry. European Archives of Paediatric Dentistry. 2010:
166,171-173
10. Clinical Affairs Committee. Guideline on Behaviour Guidance for the Pediatric
Dental Patient. Reference Manual 2012/2013; 34(6): 170-182.
11. Wright G Z. Behaviour Management in Dentistry for Children. London: W. B.
Saunders Company, 1975: 97-103.